Catatan perjalanan (6): pulang ke Yogya

27 03 2009

 

Dear teman,

 

Posting ini kutulis di Amsterdam di malam hari menjelang kepulangan ke tanah air. Besok pulaaang..! Pulsaku menggunakan telpon Belanda habis, jadi belum sempat kontak ke rumah lagi. Wah, kangen berat……

Tadi sore kami sampai di Amsterdam, setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam dari Groningen menggunakan bus. Hampir sama dengan saat berangkat,di sepanjang  jalanan Groningen – Amsterdam terhampar tanah-tanah luas, dengan sesekali ada perumahan khas Belanda. Mendekati Amsterdam, banyak kincir-kincir angin berputar sebagai salah satu pembangkit tenaga listrik di sini.

 

Setelah sampai hotel untuk transit, kami sempatkan menjelajahi Bandara Schipol untuk cuci mata. Dari Hotel Ibis tempat kami menginap, ada shuttle bus gratis yang mondar-mandir dari Bandara ke beberapa hotel untuk mengangkut penumpang datang dan pergi. Lumayanlah, lihat-lihat shopping centre… sambil menghabiskan recehan Euro hehe…..  Bandara Schipol selalu ramai dengan frekuensi penerbangan yang kerap ke berbagai belahan dunia. Tidak cuma itu, Bandara Schipol juga merupakan pusat belanja yang mudah diakses dari luar. Artinya, bukan penumpang pesawat pun bisa mampir belanja di situ. Ada banyak transportasi umum yang bisa mengantarkan kita ke Schipol. Saat kami meninggalkan Schipol kembali menuju hotel, lampu-lampu berpendaran bagai kunang-kunang raksasa mengitari lampu……

 

Apakah misi benchmarking kami ke Groningen telah terpenuhi semua ?

Yah, mungkin belum sepenuhnya, apalagi dengan persiapan yang cukup singkat waktunya. Tapi mungkin perlu dipahami bahwa benchmarking itu bukan sekedar jalan-jalan lho….. kita mempelajari dan membandingkan apa yang kita miliki dengan keadaan benchmarking partner, dan mengambil pelajaran dari situ, dan merencanakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Benchmarking sendiri tidak hanya berhenti pada sekali site visit, tetapi diharapkan akan terjalin satu kerjasama yang berkesinambungan antara dua institusi yang telah berpartner tersebut. Pembicaraan secara langsung sesekali memang sangat diperlukan, selain pembicaraan jarak jauh melalui e-mail. Dengan perencanaan yang matang, suatu site visit benchmarking akan memberikan informasi yang kita perlukan, apalagi jika ada hal-hal yang harus dilihat secara langsung.

 

Jadi, kalau aku cerita tentang jalan-jalannya, atau shoping-shoping-nya…. itu hanya bumbu perjalanan saja hehe… Untuk laporan detailnya terkait dengan tugas benchmarking tentu tidak perlu aku muat di blog ini.

                         

Oke, mungkin ini catatan perjalananku yang terakhir yang kutulis dari Belanda. Besok sudah terbang pulang ke Jogja via Singapore dan Jakarta. Semoga saja perjalanan lancar tak kurang suatu apa. Amien. Dan insya Allah ketemu lagi dalam posting berikutnya dari Yogya.

 

Salam

 





Catatan perjalanan (5): Restoran Tijdloos

26 03 2009

 

Dear kawan,

 Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di penghujung hari Kamis. Tinggal sehari lagi di sini, besok siang kami leaving Groningen for Amsterdam, dan hari Sabtu kami balik kampung lewat Singapore. Oh… the time goes so slowly……!! 

 Restoran Tijdloos berada di pinggir kanal di dekat gerbang kota. Yang menarik, di kanal, banyak kapal-kapal, yang ternyata menjadi rumah tinggal. Banyak penduduk Groningen suka berumah di atas kapal yang tertambat di kanal, di mana pada musim panas, mereka bisa jalan-jalan dengan kapal tersebut menyusuri kanal, bahkan bisa ke laut lepas. Tadi aku sempat melihat peta Groningen tempo dulu. Ternyata kota Groningen dikelilingi oleh kanal yang dahulu sengaja dibuat oleh orang tempo dulu, mungkin untuk tujuan transportasi, atau melindungi kota dari serangan dari luar.  

restoran Tidjloos di Groningen

restoran Tidjloos di Groningen

Semalam, bersama rombongan dari FK-UGM, kami diundang dinner di restoran Tijdloos, di pojok kota Groningen. Restorannya tidak besar, terletak di pinggir kanal, dengan menu yang dimasak secara khas. Bukan Dutch food, tapi lebih merupakan masakan etnis suatu campuran kelompok etnik tertentu….  Rasanya agak sedikit aneh di lidah, but it was nice ! Makanan pembukanya adalah beberapa potong ikan catfish, dengan saus khas, dan dikucuri dengan sirop raspberry.  Hm… Lalu hidangan utamanya adalah potongan ikan lain (aku tak tahu namanya), dengan risotto Italia bercampur keju dan shrimps. Hidangan ditutup dengan dessert yang terdiri dari ice cream blueberry, cheese cake, dan semacam puding. Hmm… nyam-nyam…. Tapi aku kangen makan nasiii..!!

 

robot berkomputer untuk latihan clinical skills

robot berkomputer untuk latihan clinical skills

Hari ini aku dan Prof Sunartini dijadwalkan menemui dr Doting yang in charge dalam pendidikan spesialis dokter. Kami sempat menengok skills center yang sangat canggih, dengan manekin/boneka yang computerized, dengan ruangan yang well-equipped, yang dibuat semirip mungkin dengan real hospital life. Wah..wah…. bikin iri saja. Selanjutnya kami bergabung dengan rombongan FK UGM untuk bertemu dengan Dean dan Vice Dean for Research.

Sorenya setelah acara selesai, kami sempat diantar ke pusat kota, untuk cuci mata dan bela-beli. Sayangnya cuaca Groningen tidak begitu bagus. Dingin, disertai rintik hujan…. Tak banyak yang ingin dibeli, dan kami pun segera kembali ke hotel naik taksi. Dan akupun menulis posting ini….. dan bersiap untuk tidur.

 





Catatan perjalanan (4): Farmasi di Belanda

25 03 2009

 

Dear kawan,

 

Satu malam lagi telah berlalu. Malam selalu terasa berjalan terlalu lambat di sini. Memang, pada bulan Maret seperti ini, matahari berada di selatan khatulistiwa, sehingga malam di bagian utara khatulistiwa menjadi lebih lama. Matahari terbit pada pukul 6.35.

 

Hari ini kami dijadwalkan menjumpai Head of Pharmacy Department di University Medical Center Groningen (UMCG). Beberapa pertanyaan mengenai pelayanan kefarmasian kami tanyakan pada beliau. Hm… pelayanan kefarmasian di Belanda mirip seperti yang kita jalankan sekarang. Artinya, tidak terlalu banyak berhubungan langsung dengan pasien. Bayangkan dengan jumlah bed sebesar 1044 bed di UMCG, hanya ada 10 hospital pharmacists. Dan mirip dengan kita, farmasis di Belanda dibantu juga oleh sekian banyak asisten apoteker. Ya, tentu saja mirip….. karena kan sistem kita banyak mengadopsi atau merupakan warisan jaman Belanda dulu, termasuk istilah apotek dan apoteker.

Namun jangan dianggap apoteker di Belanda tidak memantau pasien. They do in different system, katanya, jika dibandingkan dengan system di Amerika atau Inggris, di mana farmasis have more direct contact with the patients. Apoteker di Belanda bahkan tidak memberikan pelayanan informasi obat mapun konseling langsung kepada pasien, tetapi lebih banyak menyediakan informasi yang mungkin dapat dimanfaatkan oleh nurse atau physician untuk memberikan informasi kepada pasien.

Mereka memang tidak banyak berkomunikasi langsung dengan pasien, tetapi, ….. dengan sistem teknologi informasi yang sudah canggih, mereka bisa langsung mendapat akses terhadap electronic health record sesuai kebutuhan. Resep dokter ditulis melalui komputer dan akan dikirim kepada farmasis di Instalasi melalui sistem IT, yang kemudian mereka bisa mereview peresepan, dan bisa memberikan saran atau intervensi jika diperlukan. Selain itu, mereka juga melakukan pemantauan kadar obat dalam darah (therapeutic drug monitoring/TDM), baik atas perintah dokter, ataupun berdasarkan prioritas pasien yang membutuhkan.

 

Yang menarik, mereka memiliki fasilitas produksi obat yang memenuhi standar GMP (Good Manufacturing Practice), baik untuk produksi steril maupun non steril. Mereka cukup banyak memproduksi obat, terutama yang digunakan untuk uji klinik, serta yang persyaratan khusus (dosis, bentuk sediaan, dll).  Laboratoriumnya? Jangan ditanya deh…… Mereka memiliki lab terbesar di seluruh Belanda untuk suatu Instalasi Farmasi Rumah Sakit, yang digunakan untuk melakukan uji kualitas produksinya, maupun untuk TDM dan pemeriksaan intoksikasi suatu senyawa.

 

Nah, pelayanan kefarmasian kita is still growing, menuju tahap yang lebih baik, I hope. Kita tidak harus mengacu pada Belanda, tapi nampaknya akan lebih banyak “berkiblat” pada Amerika atau Australia/Inggris. Namun demikian, tentu kita tidak boleh meninggalkan ciri keIndonesiaan. Seperti apa, mari kita upayakan bersama.

 

Kembali ke suasana Groningen….. hari ini Groningen diwarnai dengan hujan rintik-rintik di pagi hari sampai siang harinya. Pagi tadi sebelum ke UMCG, kami sempat berjalan menembus rintik hujan mencari toko yang menjual souvenir universitas Groningen. Tidak banyak benda bagus di sana. Pulangnya naik taksi, dan sopir taksinya berbaik hati mengantarkan kami ke bagian menarik dari Groningen, yaitu sebuah daerah dengan bangunan-bangunan tua, yang dulu sempat selamat dari Perang Dunia. Wah, berada di sana seperti terlempar ke sebuah waktu di masa lampau hehe……  dengan bangunan-bangunan tua yang masih awet hingga sekarang. Yang menarik lagi, aku menemukan banyak kata-kata yang tidak asing ditelinga kita sehari-hari…. seperti : Gratis…, Kamer (= kamar), dan de Brug (=jembatan).

 

Oke, sekian dulu catatan hari ini. Aku mau siap-siap untuk menghadiri undangan dinner dulu ya…..





Catatan perjalanan (3): Grote Markt

24 03 2009

Dear kawan,

Hari efektif kedua di Groningen diawali dengan breakfast di hotel. Kali ini kami minta driver menjemput lebih awal, karena salah seorang teman perlu beli sepatu. Sepatunya menjadi korban dingin dan keringnya cuaca, sampai-sampai solnya hampir lepas. Aku mengontak liaison officer menanyakan di mana sebaiknya kami berhenti, dan ia bilang di Grote Markt, di pusat kota.

Kami sampai di Grote Markt pukul 08.45. Di Grote Markt ada gereja Martini tua dengan menaranya yang khas. Kami diturunkan di dekat situ, dan nanti akan dijemput lagi jam 9.30an, karena akan kembali beraktivitas di UMCG.

Cuaca sangat dingin, dan sialnya….. belum satupun toko buka di sekitar situ. Di Groningen, dan sebagian besar daerah lain di Belanda, toko umumnya buka pukul 9 atau 9.30, dan tutup jam 18 sore. Bahkan hari Senin, toko biasanya buka pukul 11 siang. Wah, jan.. kok ora niat temen le dodolan…. !!

Akhirnya kami cuma berjalan-jalan di sekitar situ. Kebetulan di dekat situ ada satu area luas dan ada beberapa tenda-tenda yang berjualan beberapa macam jenis jualan, seperti tas, kain, baju-baju. Tapi aku cuma lihat-lihat saja, karena harganya lumayan mahal, dan tak ada yang sesuai selera.

rumah-khas-belandaRumah khas Belanda

 

Groningen adalah kota kecil di bagian utara Belanda dengan jumlah penduduk sekitar 180 ribu jiwa. Rumah-rumahnya khas dengan warna batu-bata merah yang berjajar teratur, dan di bagian tertentu kota ada kanal yang dilewati kapal-kapal. Jalan di sini sempit-sempit, dan tidak terlalu ramai. Masih banyak lahan kosong yang ditumbuhi pohon-pohon. Tadi kulihat ada pohon tulip pendek-pendek berwarna ungu dan putih mulai bermekaran, cantik sekali. Di dekat universitas, kendaraan utama adalah sepeda, selain ada bis umum serta mobil pribadi. Oya, orang Groningen ini tinggi-tinggi. Tadi aku berada di dalam lift dengan seorang Belanda, yang aku hanya setinggi pusarnya hehe…. Kata seorang teman yang sudah dua tahun studi di Groningen, orang Groningen ini memang yang paling tinggi di Belanda, jika dibandingkan dengan orang-orang dari kota-kota lainnya seperti Amsterdam atau Maastrich.

 

Well, kembali ke laptop hehe…. . Tanpa mendapatkan apapun, jam 9.30 kami dijemput lagi oleh driver, untuk dibawa ke UMCG. Acara diisi dengan diskusi-diskusi, dan kami mendapat kesempatan bertemu dengan Director of Medical Affair UMCG untuk menanyakan berbagai hal tentang pengelolaan hospital. Setelah diskusi-diskusi lagi, kami dijemput pukul 16.30an. Sebelumnya, kami sudah janjian dengan liaison officer bahwa kami pengen jalan-jalan dulu sebelum pulang ke hotel, mumpung toko-toko belum tutup. Jadilah kami kembali menyusuri Grote Markt, dengan waktu yang lebih leluasa. Cuaca dingin masih menemani… tapi semangat belanja mengalahkan rasa dingin yang ada hehe …. Tidak sempat bela-beli banyak karena waktunya terbatas, tapi lumayanlah…. sudah dapat sedikit buah tangan untuk yang di rumah.

 

Sampai ke hotel sudah pukul 6.30an sore. Setelah bersih-bersih badan dan hitung-hitung belanjaan ….. aku mulai membuat soal untuk UTS minggu depan untuk kukirim ke Indonesia, dan tulisan ini…..

Demikianlah catatanku perjalananku hari ini…





Catatan perjalanan (2): ke UMCG

24 03 2009

Dear kawan,

Hari pertama setelah menginap semalam di hotel diawali dengan breakfast a la Belanda banget. Roti yang keras dengan butter, sereal dan susu, scrambled egg, serta ikan dan salad. Yah, lumayan lah…… tapi tetap saja rasanya kaya belum makan karena tidak makan nasi. Dasar perut jawa…..hehe….

 

Kami dijemput di hotel pukul 9.45 menuju University Medical Center Groningen (UMCG). UMCG adalah suatu institusi di bawah universitas Groningen yang merupakan merger antara Fakultas Kedokteran dengan Groningen Hospital. Di seluruh Belanda, ada sedikitnya 8 buah University Medical Center, serupa yang di Groningen ini. Perjalanan pagi itu diiringi hujan rintik-rintik dan cuaca dingin menggigit. Sesampai di UMCG, kami dibawa ke ruang pertemuan. UMCG sendiri sangat luas (untuk ukuranku, karena kami harus jalan agak jauh menuju ruang pertemuan). Yang unik adalah, antara hospital dengan fakultas Kedokteran, ada semacam bangunan yang menjadi jembatan antar kedua institusi yang sekarang merger tersebut. Pada jembatan (de Brug) tersebut, para staf memiliki ruang kerjanya masing-masing. Yang unik lagi, di sebuah bagian tertentu di UMCG, ada patung anjing dan kucing besar-besar berjejeran. Katanya itu adalah simbol masing-masing institusi….. dan simbol bahwa anjing dan kucing pun bisa akur hehe….. menarik sekali!

 

Di dalam ruangan kami bertemu dengan delegasi dari Fak Kedokteran yang sudah berangkat duluan. Singkat cerita kami diberi paparan tentang aneka hal, dan juga tour keliling RS. Wah, yang ini agak sulit untuk tidak iri…… fasilitasnya lengkap! Sayangnya hari pertama ini aku belum sempat berkunjung ke bagian farmasinya.

 

Capek boo..! begitulah yang dirasakan hari pertama. Oya…. kami makan siang di kantin UMCG. Kantinnya besar dan penuh orang bule… Ya iyya laah…. namanya juga di Belanda hehe…. Agak susah cari makanan yang enak dan halal. Tapi ada sih beberapa menu vegetarian dan sayuran lainnya. Aduh… pokoknya kalau urusan makan, agak repot mencari yang pas dengan selera tapi halal.

 

di-antara-gedung-tuaDi antara gedung tua


Jam 16.30an waktu setempat, kami sudah masuk lagi ke hotel. Oya, hotel kami ini agak di pinggir kota, di tepi ladang luas. Toko-toko di Belanda buka jam 9 pagi sampai jam 6 sore. Wah, kalau dah masuk hotel, repot kalau mau keluar-keluar lagi… dan sebentar lagi toko tutup. Ya sudah, kami istirahat saja di hotel. Badanku masih badan dengan waktu indonesia nih hehe….. jam 6 sore (yang berarti jam 12 malam WIB) aku dah ngantuk, dan bobok manis. Terbangun jam 00.30 waktu setempat, yang berarti jam 06.30 pagi WIB, dan menulis posting ini serta sedikit laporan.

 

Well, kita tunggu apa yang terjadi besok pagi…..





Catatan perjalanan (1): Jogja-Groningen

23 03 2009

Dear kawan,

Alhamdulillah, sampai juga aku dan rombongan di Belanda, mengingat bahwa sebelumnya kami sempat senam jantung dalam persiapannya, bahkan in the last minute sebelum berangkat. Kami pergi dalam acara benchmarking (semacam studi banding-lah), tentang University Teaching Hospital di Groningen. University Medical Center Groningen ini termasuk yang yang cukup terbuka untuk dipelajari, dan UGM khususnya Fakultas Kedokteran sudah memiliki hubungan kerjasama yang baik dan cukup lama. Saya sendiri dari Fak Farmasi kebetulan menjadi salah satu anggota tim Pengembangan University Teaching Hospital UGM. Tim kami berisi lima orang, terdiri dari dokter, farmasis, ahli bidang laboratorium, ahli teknologi informasi dan arsitek, semuanya dosen UGM.

berpose-di-sudut-universitas-groningenBerpose di salah satu sudut Universitas Groningen

Rencana benchmarking bisa dibilang cukup mendadak diputuskan, karena hasilnya ini sangat dibutuhkan untuk rencana pembangunan bulan April, dan kita bergabung dengan delegasi Fakultas Kedokteran UGM yang memang sudah direncanakan lama berkunjung ke Groningen. Hanya ada waktu 20 hari untuk persiapannya, termasuk menyusun proposal benchmarking untuk mengeluarkan dana, menyusun TOR untuk benchmarking termasuk indicators apa saja yang mau dilihat, pengurusan exit-permit (ijin keluar negeri) karena kami memakai paspor dinas, dll.

Lumayan ketar-ketir juga ketika dana baru turun dua hari sebelum kami berangkat, exit-permit baru selesai sehari sebelum berangkat. Puncaknya adalah pada hari keberangkatan, tanggal 21 Maret. Route yang direncanakan adalah Jogja-Jakarta, Jakarta-Singapore-Amsterdam, Amsterdam-Groningen. Tapi apa yang terjadi ?

Perubahan rute pesawat

Hari Sabtu, cuaca yang sejak pagi terlihat cerah, siang berubah mendung. Jam 14, ketika aku berangkat ke Bandara, hujan turun deras sekali. Menjelang jam keberangkatan (mestinya jam 14.55), bandara Adi Sucipto bahkan ditutup karena derasnya hujan dan landasan tergenang air. Pesawat yang akan mendarat di Jogja dialihkan ke Surabaya. Kami harap-harap cemas menunggu, takut terlambat, karena pesawat Jakarta-Singapore dijadwalkan jam 19.00. Tapi….. sampai pukul 17an, tidak ada kepastian apakah Garuda GA 211 yang akan membawa kami jadi berangkat atau tidak. Sedangkan Garuda schedule berikutnya sudah full-booked. Untunglah, kami melihat ada Garuda Yogya-Singapore yang akan berangkat jam 18.30an. Akhirnya kami putuskan untuk ambil rute Jogya-Singapore, dan terpaksa harus beli tiket baru. Kami harus segera sampai ke Singapore, karena pemberangkatan ke Amsterdam adalah pukul 23.50 waktu setempat. Waduuh….. untuk ganti route itu setengah mati juga kalangkabut, karena waktunya sudah sangat mepet. Sampai tidak sempat bernafas. Masalah sempat muncul ketika salah satu anggota kami berangkat dari Jakarta, padahal tiket kami adalah group. Beliau mendapat kesulitan berangkat ke Singapura karena teman dalam groupnya (yaitu kami) tidak jadi memakai tiket Jakarta-Singapore. Jadilah beliau harus membeli tiket baru Jakarta-Singapore, untuk segera bertemu kami di Singapore.

Bandara Changi Singapore sangatlah luasnya. Kami berlari-lari lumayan jauh setelah mendarat, untuk menuju check in counter untuk keberangkatan ke Amsterdam. Belum lagi salah satu anggota tim yang berangkat dari Jakarta belum ketemu. Wah, pakai acara mencari dan menunggu juga. Pokoknya heroik deh…. Alhamdulillah, in the last minute sebelum boarding menuju Amsterdam, kami bisa kumpul semua dan masuk pesawat dengan selamat.

Penerbangan ke Amsterdam

Penerbangan ke Amsterdam memakan waktu sekitar 12 jam dari Singapore. Waduuh…… pantat sampai panas dan sakit duduk terlalu lama. Kami berangkat malam hari, dan malam hari yang dilalui terasa sangat panjang. Tentu saja, karena kami terbang menuju belahan barat, sehingga yang dilewati menjadi malam terus. Agak kurang nyaman, karena untuk tidur tentu juga tidak mudah di pesawat.

Aku ingat kejadian sebaliknya pada tahun 2000 dulu, waktu aku dan suami berangkat siang hari dari Jepang ke Italia, siangnya pun jadi sangat panjang…. 12 jam juga siang terus. Dan perjalanan menjadi asyik, karena kami bisa melihat pemandangan menakjubkan ketika kami berada di atas pegunungan salju di wilayah Rusia…

Alhamdulillah, perjalanan panjang akhir berakhir dengan pendaratan di Bandara Schipol Amsterdam pukul 6.40 waktu setempat. Perbedaan waktu dengan Indonesia adalah 6 jam, dengan waktu di Belanda 6 jam lebih lambat daripada di Indonesia. Di Amsterdam, kami dijemput seorang sopir yang sudah ditugaskan, untuk membawa kami ke Groningen. Perjalanan darat masih harus ditempuh lagi selama 2,5 jam. Aduh…. capek duduk terus.

Pemandangan di luar sepanjang jalan banyak dihiasi dengan kincir angin dan ladang-ladang yang luas. Rumah-rumah khas Belanda sesekali terlihat, dengan sapi-sapinya. Oya, cuaca saat ini malam hari bisa mencapai 1 derajat Celcius, dan siang mencapai 8-10 derajat Celcius. Akhirnya sampai juga kami di sebuah hotel di kota Haren (tetangganya Groningen) untuk beristirahat. Badan terasa mulai pegal-pegal… Untunglah kami bisa mendapatkan koneksi internet dengan membeli kartu Hot spot dari T-mobile, dengan harga 15 Euro untuk 3 jam koneksi. Lumayanlah….. masih bisa posting di blog dan mengirim soal ujian mid ke Indonesia karena sebelum berangkat tidak sempat membuat hehe……

Begitulah catatan perjalananku yang pertama…. Aku menulis ini pukul 3 pagi waktu setempat hari Senin. Lhah… malam rasanya lama sekali, badanku masih badan untuk jam 9 pagi waktu Indonesia Bagian Barat hehe….

Semoga bisa ketemu di next posting…

See what’s happened in the next 5 days here..





Mengapa dekstrometorfan sering disalahgunakan?

15 03 2009

Dear kawan,

Alhamdulillah, sebuah perjalanan telah dilalui dengan selamat. Pagi tadi aku pergi ke Salatiga memenuhi undangan teman sejawat untuk memberi materi pada pertemuan Rakerda ISFI Jawa Tengah. It was nice,…. ketemu teman-teman lama dan para sejawat (senior maupun junior) yang masih penuh semangat memperjuangkan keharuman nama profesi apoteker.

Perjalanannya sendiri cukup lancar, cuaca cerah mengiringi kepergian dan kepulanganku. Kegagahan gunung Merapi dan Merbabu terlihat sangat jelas sampai ke puncaknya. Baru pertama kali lho aku melihat Merapi dengan sangat jelas dari sisi timur laut. Jalan-jalan dihiasi oleh kibaran bendera aneka parpol dan poster wajah-wajah caleg yang berharap dicontreng pada Pemilu nanti…. oh!

Acara Rakerdanya sendiri cukup ramai. Hanya saja, karena acara sedikit mundur, waktuku untuk berbicara lumayan terbatas. Tapi nggak apalah. Aku bersama sejawat Pak Partana yang ahli hukum berada pada satu sesi diskusi panel. Aku meninjau dari sisi farmakoterapi (seperti permintaan panitia), dan Pak Partana dari sisi hukumnya.

Ada satu pertanyaan dari sejawat yang terasa olehku sendiri tidak memuaskan jawabannya karena keterbatasan waktu dan ilmu. Untuk itu aku ingin mencoba mengupas lagi dalam posting ini. Sejawat Santi menceritakan bahwa penyalahgunaan Dekstrometorfan (DMP) akhir-akhir ini meningkat. Pertanyaannya, mengapa ia sering disalahgunakan?

Dekstrometorfan (DMP) adalah suatu obat penekan batuk (anti tusif) yang dapat diperoleh secara bebas, dan banyak dijumpai pada sediaan obat batuk maupun flu. Dosis dewasa adalah 15-30 mg, diminum 3-4 kali sehari. Efek anti batuknya bisa bertahan 5-6 jam setelah penggunaan per-oral. Jika digunakan sesuai aturan, jarang menimbulkan efek samping yang berarti.

Dalam seminar tadi, aku menyebut desktrometorfan adalah sejenis senyawa opiat,namun lemah. Sebagian literatur memang menyebutnya demikian. Secara kimia, DMP (D-3-methoxy-N-methyl-morphinan) adalah suatu dekstro isomer dari levomethorphan, suatu derivat morfin semisintetik. Walaupun strukturnya mirip narkotik, DMP tidak beraksi pada reseptor opiat sub tipe mu (seperti halnya morfin atau heroin), tetapi ia beraksi pada reseptor opiat subtipe sigma, sehingga efek ketergantungannya relatif kecil. Pada dosis besar, efek farmakologi DMP menyerupai PCP atau ketamin yang merupakan antagonis reseptor NMDA. DMP sering disalahgunakan karena pada dosis besar ia menyebabkan efek euforia dan halusinasi penglihatan maupun pendengaran. Intoksikasi atau overdosis DMP dapat menyebabkan hiper-eksitabilitas, kelelahan, berkeringat, bicara kacau, hipertensi, dan mata melotot (nystagmus). Apalagi jika digunakan bersama dengan alkohol, efeknya bisa sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian.

Penyalahguna DMP menggambarkan adanya 4 plateau yang tergantung dosis, seperti berikut:

 

 

Plateau

Dose (mg)

Behavioral Effects

1st

100–200

Stimulasi ringan

2nd

200–400

Euforia dan halusinasi

3rd

300– 600

Gangguan persepsi visual dan hilangnya koordinasi motorik

4th

500-1500

Dissociative sedation

 

Peran apoteker

Nah, untuk itu memang sejawat apoteker perlu mulai mewaspadai dan mengontrol ketat penggunaan obat-obat ini. Di banyak negara, penyalahgunaan DMP banyak dilaporkan, dan DMP banyak dikombinasi dengan obat-obat adiktif lain. Sampai saat ini memang belum ada regulasi yang mengatur penggunaan DMP, termasuk di Amerika. Namun dengan peningkatan penyalahgunaan DMP, lembaga berwenang di Amerika yaitu DEA (Drug Enforcement Administration) sedang mereview kemungkinan untuk melakukan kontrol terhadap penggunaan DMP. Infonya bisa ditengok pada http://www.deadiversion.usdoj.gov/drugs_concern/dextro_m/dextro_m.htm. Saya rasa kita pun harus memulainya.

Penutup

Begitulah, kawan, ….. mudah-mudahan bermanfaat. Dan kayaknya sekarang aku sedikit beralih profesi menjadi “wanita panggilan”…. hehe… Dalam bulan ini sudah ada dua undangan lagi menanti untuk menjadi pembicara di acara sejawat apoteker di Cilacap dan Solo. Buat sejawat di Salatiga, terimakasih oleh-oleh dan souvenir lukisannya… Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.