Herpes zoster sama cacar air, ada hubungannya ngga yaa?

27 08 2010

Dear kawan,

Belakangan ini, beberapa teman yang kukenal menderita cacar air (hm…. semoga lekas sembuh yaaa).. Selain itu, ada pula yang kena herpes. Sama-sama gangguan ruam-ruam pada kulit yang cukup mengganggu. Aku sendiri pernah kena cacar air juga waktu kelas 4 SD. Satu dua bekasnya masih ada loh…!  Nah, salah satu kenalanku tadi menanyakan apa benar informasi bahwa herpes itu ada hubungannya dengan cacar air yang pernah didapat waktu kecil. Lalu pengobatannya gimana? Oke deh, … tulisan kali ini mencoba mengangkat tentang herpes zoster dan cacar air, yang ternyata disebabkan oleh virus yang sama, yaitu varicella zoster virus (VZV). Lalu apa bedanya? Oya, …. kalau dalam bahasa Inggris, herpes zoster ini disebut shingles, dan cacar air adalah chickenpox.

Apakah herpes zoster (Shingles) itu?
Herpes zoster adalah ruam kulit yang menyakitkan yang disebabkan oleh virus varicella zoster (VZV). VZV adalah virus yang sama yang menyebabkan cacar air. Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus tetap dalam tubuh. Biasanya virus ini tidak menyebabkan masalah, namun, virus bisa muncul kembali beberapa tahun kemudian, menyebabkan herpes zoster. Tapi mohon diingat, herpes zoster tidak disebabkan oleh virus yang sama yang menyebabkan herpes genital loh… (suatu penyakit menular seksual).

Seperti apa sakit herpes zoster itu?

herpes zoster, di daerah dahi

Herpes zoster biasanya dimulai sebagai ruam di satu sisi wajah atau tubuh. Dimulai sebagai ruam lepuh yang berkeropeng setelah 3 sampai 5 hari. Ruam ini biasanya hilang dalam waktu 2 sampai 4 minggu. Sebelum ruam berkembang, sering ada rasa sakit, gatal, atau kesemutan di daerah di mana ruam akan berkembang. Gejala lain dari herpes zoster antara lain termasuk demam, sakit kepala, menggigil, dan gangguan lambung.

Apakah ada efek jangka panjang dari herpes zoster?
Herpes zoster umumnya jarang sekali menimbulkan efek jangka panjang. Namun pada orang-orang tertentu yang mungkin cukup parah penyakitnya, herpes dapat menyebabkan pneumonia, masalah pendengaran, kebutaan, radang otak (ensefalitis) atau bahkan kematian. Satu dari  5 orang mungkin masih akan merasakan sakit walaupun ruamnya sudah hilang. Nyeri ini disebut neuralgia pasca-herpes. Pasien usia lanjut lebih berisiko mengalami neuralgia pasca-herpes, dan bahkan lebih parah.

Siapa yang bisa kena herpes zoster?
Siapapun yang telah sembuh dari cacar air dapat mengalami herpes zoster, termasuk anak-anak. Namun, herpes zoster paling sering terjadi pada orang berusia 50 tahun dan lebih tua. Risiko mendapatkan herpes zoster meningkat dengan usia. Selain itu orang-orang yang sistem imunnya tertekan, seperti pada pasien kanker, leukemia, limfoma, dan human immunodeficiency virus (HIV), atau orang yang menerima obat imunosupresif, seperti steroid dan obat-obatan diberikan setelah transplantasi organ juga berisiko lebih besar untuk mendapatkan herpes zoster.

Seberapa sering seseorang bisa mendapatkan herpes?
Umumnya seseorang hanya mengalami satu episode herpes zoster seumur hidupnya. Namun meskipun jarang, mungkin ada yang mengalami herpes kedua dan ketiga dalam hidupnya.  

Apakah herpes zoster dapat menyebar ke orang lain?
Herpes zoster tidak dapat berpindah dari satu orang ke orang lain. Namun, virus yang menyebabkan herpes zoster, VZV, dapat menyebar dari seseorang dengan herpes zoster aktif kepada seseorang yang belum pernah menderita cacar air melalui kontak langsung dengan ruam. Orang yang terkena akan mengalami cacar air, bukan herpes zoster. Virus ini tidak tersebar melalui bersin, batuk, tetapi seseorang dengan herpes zoster dapat menyebarkan penyakit saat ruam berada dalam fase-melepuh. Setelah ruam kering, orang tersebut tidak lagi menularkan. Seseorang tidak menularkan sebelum lepuh muncul atau dengan neuralgia pasca-herpes (sakit setelah ruam hilang).

Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran herpes zoster?
Risiko penyebaran herpes zoster lebih kecil bila ruam tertutup. Karena itu, orang dengan herpes zoster harus menjaga ruam supaya tetap tertutup, tidak menyentuh atau menggaruk ruam, dan sering mencuci tangan mereka untuk mencegah penyebaran VZV.

Apakah ada pengobatan untuk herpes zoster?
Beberapa obat, acyclovir (Zovirax), valacyclovir (Valtrex), dan famsiklovir (Famvir), tersedia untuk mengobati herpes zoster. Obat-obat ini harus dimulai sesegera mungkin setelah ruam muncul dan akan membantu memperpendek lama penyakit berlangsung dan mengurangi keparahan penyakit ini. Obat analgesik juga dapat membantu untuk mengatasi nyeri yang disebabkan oleh herpes zoster. Obat antibiotika yang ditujukan untuk membunuh bakteri tentu tidak tepat jika diberikan kepada pasien herpes, kecuali jika sudah ada kemungkinan terjadi komplikasi yang melibatkan bakteri.

Lalu, apakah cacar air (chickenpox) itu?

Cacar air adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus varicella-zoster, yang menghasilkan ruam melepuh seperti, gatal, kelelahan, dan demam. Ruam muncul pertama kali pada batang dan wajah, tetapi bisa tersebar di seluruh tubuh menyebabkan antara 250-500 lepuh gatal pada orang yang tidak divaksinasi.

Bagaimana orang bisa terinfeksi cacar air?
Cacar air sangat menular dan menyebar dari orang ke orang melalui kontak langsung atau melalui udara dari orang yang terinfeksi batuk atau bersin atau dari virus yang berasal dari ruam kulit. Seseorang dengan cacar air sudah bisa menularkan virus 1-2 hari sebelum ruam muncul, sampai semua lepuh telah kering. Dibutuhkan 10-21 hari setelah terpapar bagi seseorang untuk menderita cacar air.

Bisakah Anda mendapatkan cacar air jika Anda telah divaksinasi?
Ya. Sekitar 15% -20% dari orang-orang yang telah menerima satu dosis vaksin cacar air masih mungkin mengalami cacar air jika mereka terpapar oleh virus, tapi penyakit mereka biasanya ringan.

 Seperti apa penyakit cacar air itu?

cacar air pada anak-anak

Pada anak-anak yang tidak divaksinasi, cacar dapat menyebabkan penyakit yang berlangsung sekitar 5-10 hari. Anak-anak biasanya kehilangan 5 atau 6 hari sekolah karena cacar air dan memiliki gejala seperti demam tinggi, gatal parah, ruam tidak nyaman, dan dehidrasi atau sakit kepala. Selain itu, sekitar 1 dari 10 anak yang tidak divaksinasi yang mendapat penyakit ini akan memiliki komplikasi dari cacar air yang serius, meliputi lesi kulit yang terinfeksi, infeksi lain, dehidrasi karena muntah atau diare, atau komplikasi yang lebih serius lainnya, seperti pneumonia dan ensefalitis. Pada anak-anak divaksinasi, penyakit cacar air biasanya ringan, kadang tanpa gejala sama sekali.  
  
Apa komplikasi serius dari cacar air?
Komplikasi serius dari cacar air adalah infeksi bakteri yang dapat melibatkan banyak tempat di tubuh termasuk kulit, jaringan bawah kulit, tulang, paru-paru (pneumonia), sendi, dan darah. komplikasi serius lainnya adalah akibat langsung infeksi virus varicella-zoster, meliputi pneumonia virus, masalah, perdarahan dan infeksi otak (ensefalitis

Apakah cacar air dapat dicegah?
Ya, vaksinasi dengan vaksin varicella (vaksin cacar) dapat mencegah cacar air.

Bisakah seseorang mendapatkan cacar air lebih dari sekali?
Ya, tapi kejadian tersebut jarang terjadi. Bagi kebanyakan orang, satu infeksi tampaknya memberi kekebalan seumur hidup. Cacar air pada anak-anak biasanya tidak serius, dan lebih ringan daripada yang terjadi pada orang dewasa. Mengapa tidak membiarkan anak-anak mendapatkan penyakit ini? Yah, … hal ini tidak mungkin, karena sulit untuk memprediksi siapa yang akan mengalami kasus ringan dan siapa yang akan berkembang jadi parah atau bahkan mematikan. Apalagi sekarang ada vaksin yang aman dan efektif, jadi sebaiknya dicegah dengan vaksinasi. Jika sudah terjadi, pengobatannya sama dengan herpes zoster.

Demikian kawan, semoga dengan tambahnya wawasan tentang ini, bisa turut mencegah penularan cacar air pada sesama kita.

Sumber informasi dapat dirunut kembali pada:

http://www.cdc.gov/vaccines/vpd-vac/shingles/dis-faqs.htm

http://www.cdc.gov/vaccines/vpd-vac/varicella/dis-faqs-gen.htm

Iklan




Apa bedanya selesma (common cold) dan influenza?

22 08 2010

Dear kawan,

Sehat semuanya? Semoga ya, di sepuluh hari pertama Ramadhan ini kita diberi kesehatan dan kekuatan menjalankan ibadah puasa. Amien. Apa ada yang kena selesma? Atau influenza? …. hm… sama ngga sih antara selesma dan influenza? Kawan, selesma yang aku maksudkan di sini adalah terjemahan dari “common cold”. Common cold sering kita terjemahkan sebagai “flu”, sehingga agak rancu dengan “influenza”, padahal mereka serupa tapi tak sama.

Apa bedanya selesma dengan flu (influenza)?

Bedanya virus selesma (cold) dan virus flu (influenza)

Memang antara selesma dan flu itu mirip sekali, yaitu bahwa mereka mempengaruhi saluran pernafasan dan memiliki gejala yang mirip, yaitu tenggorokan sakit, hidung tersumbat atau pun meler, batuk, dll. Namun secara umum, gejala selesma jauh lebih ringan daripada gejala flu. Gejala flu (influenza) bisa meliputi demam tinggi, menggigil, badan pegal-pegal, dan kelelahan. Selesma dan flu disebabkan oleh virus yang berbeda. Jika selesma disebabkan oleh virus selesma (cold virus atau rhinovirus), influenza disebabkan oleh virus influenzae yang memiliki berbagai type, yaitu type A, B, dan C. Susahnya, virus ini gampang bermutasi, dan bisa menyebabkan aneka penyakit flu yang mematikan, termasuk flu burung, flu babi, flu Hongkong, flu Singapura, dll. Berbagai strain virus tersebut beredar di seluruh dunia sepanjang tahun dan menyebabkan wabah lokal. Di Kanada misalnya, musim influenza biasanya berlangsung dari November hingga April dan diperkirakan 10-25% orang Kanada mendapatkan influenza setiap tahun. Sebuah studi memperkirakan 6.700 orang Kanada pertahun meninggal akibat komplikasi influenza terkait dan sekitar 70.000 hingga 75.000 orang dirawat di rumah sakit.

Di bawah ini disajikan perbedaan antara selesma dan Influenza, yang diambil dari http://www.publichealthgreybruce.on.ca/Communicable/Influenza/FactSheets/Flu_vs_Colds.htm

GEJALA SELESMA INFLUENZA
Demam Jarang Tiba-tiba, seringkali demam tinggi, berakhir dalam 3-4 hari
Sakit kepala jarang Sering
Nyeri dan pegal Ringan Biasa terjadi, dan sering sangat sakit
Lemah jarang/lemah Sedang sampai berat, bisa sampai satu bulan
Terbaring di tempat tidur jarang Sering, bisa sampai 5-10 hari
Pilek sering kadang-kadang
bersin-bersin biasa kadang-kadang
Tenggorokan sakit biasa kadang-kadang
Batuk kadang-kadang, ringan-sedang Biasa, bisa menjadi parah
Komplikasi yang bisa terjadi Sinus atau infeksi telinga Pneumonia, gagal ginjal, gagal hati, dapat mengancam jiwa

Apa macam virus influenza?

Sedikit lebih jauh, mari kita coba mengenali virus influenza. Virus influenza terdiri dari 3 tipe, yaitu A, B, dan C. Virus Influenza Tipe A dapat menginfeksi manusia, kuda, babi, anjing laut, ikan paus dan binatang lainnya. Namun burung liar adalah tempat tinggal alamiah mereka.Virus tipe A ini dibagi dalam beberapa Sub-tipe berdasar dua (2) jenis protein pada permukaannya. Protein ini disebut sebagai Hemaglutinin (HA) dan Neuroaminidase (NA). Terdapat 15 jenis sub-tipe HA dan 9 sub-tipe NA, dan berbagai kombinasi dari kedua jenis protein ini dapat ditemukan. Hanya beberapa Virus Flu tipe A yang umumnya saat ini menyerang manusia, yaitu H1N1, H1N2, dan H3N2. Sedangkan beberapa sub-tipe umumnya terdapat pada hewan, misalnya H7N7 dan H3N8 yang menyebabkan penyakit flu pada kuda. Sub-tipe Virus Flu tipe A dinamakan berdasar jenis protein HA dan NA, misalnya H1N2 adalah Virus Influenza tipe A yang mempunyai jenis protein HA 1dan protein NA2. Sehingga Virus Avian H5N1 adalah Virus Influenza Tipe A yang mempunyai protein HA 5 dan NA 1. Virus Influenza Tipe B umumnya ditemukan di manusia. Namun tidak seperti Virus Tipe A, Virus ini tidak diklasifikasi berdasar sub-tipe. Walaupun Virus tipe B ini dapat menyebabkan epidemi, tetapi tidak dapat menyebabkan pandemi. Virus Influenza Tipe C menyebabkan sakit ringan pada manusia dan tidak menyebabkan epidemi atau pandemi. Virus ini juga tidak diklasifikasi berdasar sub-tipe.

Strain

Virus Influenza B dan beberapa Sub-tipe Virus A dibagi lagi kedalam Strain. Ada berbagai Strain pada Virus Tipe B dan Sub-tipe A. Strain baruVirus Flu akan menggantikan strain yang lama. Perubahan Strain ini terjadi secara “shift” atau “drift”. Ketika strain Virus baru ini muncul, maka sel pertahanan tubuh (antibody) yang terbentuk karena infeksi virus Flu strain yang lama, tidak dapat memberikan perlindungan lagi kepada infeksi strain baru.Jadi Vaksin Flu harus diperbarui setiap tahun untuk mengikuti perubahan strain dari Virus Flu. Akibatnya, orang yang ingin melakukan vaksinasi Flu harus mengulang vaksinasinya secara teratur setiap tahun, karena proses perubahan strain virus flu tadi.

Mengapa tidak ada vaksin selesma?

Virus penyebab selesma lebih banyak lagi, mencapai hampir 250 jenis virus yang berbeda. Sehingga sulit bagi para saintis untuk menyiapkan vaksin utk sekian jenis virus selesma. Selain itu, selesma cenderung ringan dan tidak menyebabkan komplikasi serius, sehingga kebutuhan vaksin dianggap tidak urgen.

Bagaimana mencegah penularan selesma maupun influenza?

Karena virus dapat menyebar dengan mudah melalui kontak fisik secara langsung ataupun melalui udara atau cairan tubuh, maka perlu dilakukan upaya pencegahan.

1. Harus rajin cuci tangan dengan sabun, apalagi jika baru menyentuh atau kontak dengan orang yang terkena influenza atau selesma

2. Makan-makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap virus

3. Gunakan masker jika sedang ada wabah flu di lingkungan kita

4. Upayakan gaya hidup sehat, tidak merokok, minum alkohol, stress, istirahat cukup, dll.

Demikian sekilas info, semoga bermanfaat.





Perlukah vaksinasi untuk orang dewasa?

17 08 2010

Dear kawan,

Tulisan ini sedikit istimewa karena ditulis pada tanggal 17 Agustus, bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia tercinta, dan sekaligus posting pertamaku pada bulan Ramadhan tahun ini. Merdekaa!! Dan selamat menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan, semoga dengan amal ibadah dan kekhusyukan kita menjalaninya, Insya Allah kita juga akan dimerdekakan oleh Allah dari api neraka. Amien…

 Kawan,

Ngga ada hubungannya dengan puasa dan hari merdeka, posting kali ini masih membahas tentang vaksin seperti posting sebelumnya. Nanggung sih,… sekalian dibahas saja biar lebih lengkap informasinya. Kebetulan dari respon terhadap posting kemarin ada kawan yang menanyakan tentang apakah ada vaksin utk orang dewasa.. Oke, aku coba sarikan dari berbagai sumber…

Di negara maju seperti Amerika, cukup banyak vaksin yang direkomendasikan untuk orang dewasa, antara lain vaksin influenza, pneumokokus, MMR, cacar (chickenpox), DPT, Hepatitis A, Hepatitis B, Human papilloma virus (HPV), herpes Zoster, Meningococcal, dan polio. Sebagiannya direkomendasikan pada usia lanjut (di atas 60 tahun), sebagian lagi direkomendasikan bagi usia-usia yang lebih muda.

Mengapa orang dewasa perlu mendapatkan vaksinasi?

Di bawah ini adalah beberapa fakta yang muncul di Amerika, yang mungkin saja bisa dijumpai di negara kita, walaupun dengan tingkat yang berbeda. Inilah beberapa faktanya:

• Influenza menyebabkan rata-rata 36.000 kematian dan lebih dari 200.000 orang harus dirawat di RS di Amerika Serikat setiap tahun.

• Sekitar 4.500 orang Amerika meninggal karena penyakit pneumokokus invasif per tahun. Bakteri pneumokokus dapat menyerang paru-paru, aliran darah, otak dan saraf tulang belakang, mengakibatkan sejumlah penyakit yang berbeda, termasuk pneumonia dan meningitis.

• Dua dari strain human papillomavirus (HPV) menyebabkan sekitar 70 persen dari kanker serviks. Setidaknya setengah dari seluruh orang dewasa yang aktif secara seksual akan terinfeksi HPV pada masa hidupnya; 80 persen dari semua wanita dapat terinfeksi pada umur 50.

• Sekitar 90 persen dari ibu rumah tangga yang tidak divaksinasi yang kontak dengan orang yang terkena cacar air akan terinfeksi cacar air.

• Begitu terinfeksi, tidak ada pengobatan khusus untuk virus hepatitis B. Hepatitis B adalah penyakit yang “diam-diam” yang sering mempengaruhi orang tanpa membuat mereka merasa sakit. Jika Anda sakit hepatitis B, mungkin merasa seperti gejala flu. Hepatitis B membunuh lebih dari 5.000 orang Amerika setiap tahun. Ini merupakan penyebab utama sirosis hati kronis dan kanker hati.

• Sekitar 15 persen orang dengan hepatitis A memerlukan rawat inap di Amerika Serikat setiap tahunnya. Sekitar 20 persen dari mereka yang campak mengalami satu atau lebih komplikasi. Komplikasi lebih sering terjadi di antara orang dewasa berusia di atas 20 tahun.

• Sekitar satu juta orang Amerika menderita herpes zoster setiap tahun, setidaknya dua dari 10 orang akan mendapatkan herpes zoster di masa hidup mereka. Walaupun lebih umum terjadi pada orang tua, herpes zoster dapat terjadi juga pada orang muda yang sehat dan bahkan pada anak-anak. Rasa sakit yang terkait dengan herpes zoster mungkin mulai dua sampai empat hari sebelum ruam muncul dan dapat berlangsung selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah ruam sembuh.

 • Ibu merupakan sumber untuk hampir sepertiga dari kasus batuk rejan (pertusis) pada bayi di bawah usia 1 tahun. Bayi berada pada resiko kematian dari batuk rejan.  

• Tetanus biasanya disebut “rahang terkunci” karena menyebabkan kejang otot dan mengunci rahang. Kira-kira 16 persen kasus tetanus yang dilaporkan bersifat fatal.

Karena fakta-fakta itulah, maka orang dewasapun perlu mendapat vaksinasi untuk mencegah terinfeksinya penyakit, terutama penyakit2 yang memang bisa dicegah dan pengobatannya cukup sulit. Apalagi pada orang tua, yang sistem imunnya sudah mulai berkurang dayanya.

Seberapa sering vaksin perlu diberikan ?

Beberapa vaksin ada yang perlu diberikan setiap tahun; ada pula yang cukup diberikan hanya sekali dan dapat memberikan perlindungan seumur hidup. Berikut ini adalah beberapa pedoman umum untuk seberapa sering vaksin perlu diberikan dan berapa banyak dosis yang diperlukan:

Vaksin influenza

Vaksin influenza disarankan diberikan setiap tahun, bisa kapan saja terutama jika ada musim influenza. Kalau di negeri 4 musim, disarankan pada musim gugur atau musim dingin. Vaksin ini diberikan pada segala usia dewasa. Vaksin ini dikontraindikasikan bagi mereka yang alergi/hipersensitif terhadap vaksin, atau terhadap telur. Khusus utk vaksin influenza jenis LAIV (live attenuated influenza vaccine), dikontraindikasikan bagi wanita hamil, orang dengan penyakit gangguan pernafasan, kardiovaskuler, ginjal, hati, hematologi, gangguan metabolik termasuk diabetes, dan mereka yang sistem imunnya tertekan (misalnya pada pasien HIV atau yg mendapat terapi imunosupresan).

Vaksin pneumococcal

Vaksin ini untuk mencegah penyakit pneumonia yang menyerang paru-paru. Disarankan terutama bagi usia lanjut (65 tahun ke atas), juga pada mereka yang berusia lebih muda tetapi berisiko terhadap penyakit ini seperti yang memiliki riwayat Penyakit paru obstruksi kronis,asma, hepatisis kronis, peminum alkohol, perokok, dan diabetes. Vaksin ini cukup diberikan sekali saja, tetapi bagi usia lanjut sebaiknya ada revaksinasi setelah 5 tahun vaksinasi yang pertama.

Vaksin HPV (human papilloma virus)

Vaksin ini untuk mencegah kanker serviks. Direkomendasikan bagi wanita berusia mulai 26 tahun dan yang belum pernah divaksin. Vaksin diberikan dalam rangkaian 3 dosis dalam waktu 6 bulan, yaitu vaksin pertama, vaksin kedua diberikan 2 bulan setelah vaksin pertama, dan vaksin ketiga diberikan pada bulan ke enam setelah vaksinasi pertama. Sebaiknya gunakan vaksin dari produk yang sama. Vaksin dikontraindikasikan pada wanita hamil.

Vaksin Tetanus / difteri / pertusis (batuk rejan):

Semua orang dewasa di atas 19 tahun dan lebih tua harus mendapatkan satu dosis booster tetanus / difteri (Td) setiap 10 tahun. Orang dewasa di bawah usia 65 tahun yang belum pernah mendapat tetanus / difteri / pertusis (Tdap) perlu mendapatkan vaksin untuk dosis booster Td berikutnya, lalu lanjutkan dengan dosis Td setiap 10 tahun.

Hepatitis B:

Untuk mencegah infeksi hepatitis. Diberikan pada usia 18 tahun atau lebih, terutama yang berisiko tinggi seperti orang yang sering kontak dengan penderita hepatitis, pengguna narkoba suntik, petugas kesehatan yang sering kontak dengan spesimen penderita hepatitis B, penderita HIV, pasien liver kronis, dll. Vaksin sebaiknya diberikan 3 kali selama enam bulan, yaitu pada bulan ke 0, 1 dan 6, atau bisa juga pada bulan ke 0, 2, dan 4.

Vaksin Herpes Zoster:

Untuk mencegah penyakit herpes. Disarankan bagi orang-orang berusia 60 tahun ke atas yang rentan terhadap kejadian herpes. Diberikan cukup sekali.

Vaksin meningococcal

Untuk mencegah penyakit meningitis. Direkomendasikan bagi mereka yang berusia 11-18 tahun, mereka yang berusia lebih tua dan belum pernah divaksin, orang yang akan pergi ke daerah endemik meningitis misalnya di daerah Sahara (Afrika), petugas kesehatan yang secara rutin sering terpapar bakteri/virus (misalnya petugas lab mikrobiologi), juga mereka akan menunaikan ibadah haji. Cukup diberikan sekali saja.

Vaksin cacar

Disarankan buat mereka yang belum pernah divaksin, atau belum pernah terkena sakit cacar. Diberikan dua kali dengan interval 4-8 minggu.

Demikian kawan, sedikit tambahan informasi tentang vaksin pada dewasa. Silakan menentukan sendiri apakah akan divaksin atau tidak. Semoga bermanfaat.

Informasi lengkap bisa dilihat di sini : http://www.adultvaccination.com/vaccine_preventable_disease_infection_vaccination_immunization.htm





Bagaimana sih vaksin dibuat, kok ada yang dinyatakan haram?

7 08 2010

Dear kawan,

Tulisanku yang lalu tentang seluk beluk vaksin cukup banyak mengundang komentar dan pertanyaan. Salah satunya yang menarik adalah mengenai pembuatan vaksin. Sebenernya bagaimana sih? Kok sampai-sampai beberapa waktu yang lalu MUI memfatwakan haram pada sebuah merk vaksin meningitis yang diperlukan untuk jamaah haji (untungnya kemudian ada dua merk vaksin meningitis yang dinyatakan halal bagi umat Islam). Unsur babinya masuk pada tahap mana? Tulisan ini mencoba mengupas sedikit tentang pembuatan vaksin, khususnya vaksin terhadap virus. Aku bukan ahli tentang vaksin, hanya mengumpulkan informasi dari beberapa sumber dan mencoba menyajikannya lagi dalam bahasa sederhana. Silakan jika ada yang akan memberi masukan.

Bagaimana sih riwayat adanya vaksin?

Vaksin pertama diproduksi oleh Edward Jenner pada tahun 1796 dalam upaya untuk memberikan perlindungan terhadap cacar. Pada saat itu Jenner mengamati bahwa tukang pemerah susu yang pernah tertular cacar sapi, infeksi yang relatif tidak berbahaya, tampaknya menjadi tahan terhadap penyakit cacar manusia, penyakit pada manusia yang secara rutin mencapai tingkat epidemi dengan tingkat kematian sangat tinggi pada saat itu. Jenner berteori (yang ternyata benar) bahwa cacar sapi, suatu penyakit hewan, sama dengan cacar pada manusia. Dia menyimpulkan bahwa reaksi manusia untuk suntikan virus cacar sapi akan mengajarkan tubuh manusia untuk menanggapi kedua virus ini, tanpa menyebabkan penyakit berat atau kematian.

Vaksin banyak dibuat terhadap virus

Vaksin memang lebih banyak ditujukan untuk menangkal virus, bukan bakteri, karena virus lebih sulit dibasmi ketimbang bakteri yang bisa dibunuh dengan antibiotika. Antivirus jenisnya terbatas dan harganya mahal. Virus adalah jasad renik berukuran mikroskopik yang menginfeksi organisme biologis. Virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Dalam sel inang, virus merupakan parasit obligat dan di luar inangnya menjadi tak berdaya. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi ketiganya. Genom virus menyandi baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya.

Biasanya ada beberapa variasi atau strain virus tertentu. Tergantung pada jumlah varietasnya, para ahli biologi mengelompokkan virus berdasarkan  jenis atau strain. Vaksin sering dibuat terhadap satu grup virus yang masih satu golongan; reaksi preventif untuk vaksinasi multivalent mungkin akan menyebabkan kekebalan terhadap hampir semua varian kelompok, atau setidaknya terhadap varian mungkin akan menginfeksi seseorang. Pemilihan golongan virus tertentu untuk digunakan dalam vaksin diputuskan dengan pertimbangan yang hati-hati. Yang sulit adalah jika strain virus gampang berubah, seperti yang terjadi pada virus influenza. Produsen vaksin harus mengakomodasi dan siap membuat vaksin-vaksin baru jika dijumpai adanya strain-strain virus baru.

Bagaimana vaksin anti virus dibuat?

Pembuatan vaksin anti-virus saat ini merupakan proses rumit, apalagi pada saat mengkonversi dari skala lab menjadi skala produksi.  Adapun tahapannya adalah sebagai berikut:

Menyiapkan “benih” virus

Pembuatan vaksin dimulai dengan memilih benih virus yang akan dijadikan vaksin pada sebuah medium. Virus harus bebas dari kotoran, termasuk virus lain yang sejenis dan bahkan variasi jenis virus yang sama. Selain itu, benih itu harus disimpan di bawah kondisi”ideal”, biasanya pada kondisi beku, yang mencegah virus menjadi lebih kuat atau lebih lemah dari yang diinginkan. Benih yang disimpan dalam gelas kecil atau kontainer plastik, dengan volume sebesar 5 atau 10 ml tetapi mengandung ribuan-jutaan virus, akan menghasilkan beberapa ratus liter vaksin. Freezer dijaga pada suhu tertentu yang dikontrol secara otomatis.

Penumbuhan virus

Setelah diambil dari tempat penyimpanannya, bibit virus dicairkan dan dihangatkan secara hati-hati pada keadaan tertentu. Sejumlah kecil sel virus ditempatkan dalam sebuah “pabrik sel”, yaitu sebuah mesin kecil yang, dengan penambahan media yang sesuai, memungkinkan sel virus untuk berkembang biak. Setiap jenis virus tumbuh baik dalam media khusus untuk itu, yang mengandung protein dari mamalia, misalnya  protein murni dari darah sapi. Media juga mengandung protein lainnya dan senyawa organik yang mendorong reproduksi sel virus. (Nampaknya proses  ini  memungkinkan unsur babi masuk dalam tahap pembuatan vaksin, jika protein yang dipakai berasal dari babi).

Selain suhu, faktor-faktor lain harus dipantau, termasuk pH campuran. pH adalah ukuran keasaman atau kebasaan, diukur pada skala dari 0 hingga 14, dan virus harus disimpan pada pH yang ditentukan dalam pabrik sel. Virus dari pabrik sel ini kemudian dipisahkan dari medium, dan ditempatkan dalam medium kedua untuk pertumbuhan tambahan. Pertumbuhan sel virus sangat dirangsang dengan penambahan enzim ke medium, di mana yang paling umum digunakan adalah tripsin. Enzim adalah protein yang juga berfungsi sebagai katalis dalam metabolisme dan pertumbuhan sel. Tripsin dapat diperoleh dari pankreas sapi atau babi, sehingga unsur babi juga bisa masuk pada proses ini jika dipakai tripsin yang berasal dari babi. Virus yang sedang tumbuh disimpan dalam wadah yang lebih besar tapi mirip dengan pabrik sel untuk mengoptimalkan pertumbuhannya.

Pemisahan dan pemilihan strain virus
Bila sudah cukup banyak virus yang ditumbuhkan, mereka kemudian dipisahkan dari mediumnya, misalnya dengan filtrasi dan kemudian sentrifugasi, atau dengan teknik lain.  Vaksin akan dibuat dari virus yang dilemahkan atau dibunuh. Apakah hanya akan dilemahkan atau dibunuh antara lain tergantung dari sifat kekuatan virus atau virulensinya. Vaksin rabies, misalnya, karena cukup virulen, maka merupakan virus yang dibunuh.
Untuk vaksin yang berasal dari virus yang dilemahkan, virus biasanya dilemahkan sebelum menjalani proses produksi. Strain virus yang dipilih secara hati-hati lalu ditumbuhkan berulang kali di berbagai media. Ada jenis virus yang benar-benar menjadi kuat saat mereka tumbuh. Strain ini jelas tidak dapat digunakan untuk pembuatan vaksin. Strain lainnya yang menjadi terlalu lemah karena mereka dibudidayakan berulang-ulang juga tidak bisa diterima untuk penggunaan vaksin. Perlu dipilih strain virus yang tumbuh dengan kekuatan yang “tepat” seperti yang diinginkan untuk dijadikan vaksin.Virus ini kemudian dipisahkan dari medium tempat mereka ditanam, lalu dibuat menjadi sediaan vaksin. Vaksin dapat terdiri dari kombinasi beberapa jenis virus yang dipilih sebelum kemudian dikemas, dengan menggunakan media pembawa yang sesuai dengan kadar yang sudah ditentukan.

Nah, dari prosedur umum di atas, kita bisa mengetahui kira-kira pada tahap mana ada kemungkinan unsur babi bisa masuk? Yakni mungkin pada enzym tripsin  dan/atau protein yang digunakan pada media untuk membantu pertumbuhan virus. Vaksinnya sendiri mestinya sudah tidak lagi mengandung unsur babi. Apakah vaksinnya menjadi haram? Aku tidak dalam kapasitas untuk menjawabnya, dan sudah ada yang berwenang merumuskannya.

Namun untuk unsur kehati-hatian terhadap masalah halal dan haramnya, memang ada baiknya  untuk menghindarkan penggunaan unsur babi sejak awal pembuatannya. Dan teman-teman muslim tidak perlu kuatir, untuk vaksin meningitis yang sempat diramaikan haram, itu hanya vaksin yang berasal dari GlaxoSmithKline. Masih tersedia dua merk vaksin yang dinyatakan halal, yaitu dari Novartis dan Tian Yuan (dari China).

Demikian sekedar info lanjutan mengenai proses pembuatan vaksin, semoga bermanfaat.

Sumber bacaan dari : http://www.madehow.com/Volume-2/Vaccine.html





Seluk-beluk vaksinasi : apa, mengapa, kapan, bagaimana?

5 08 2010

Dear kawan,

Sehat semua kan? Maap, deh…. blog ini sudah agak lama kosong setelah pemiliknya sibuk berkutat dengan urusan kesehatan hati hehe…. Mudah-mudahan, ya, semua sehat jiwa dan raganya. Bicara soal sehat raga, maka harus ada upaya-upaya untuk mencapainya, antara lain upaya preventif (pencegahan) terhadap gangguan kesehatan, kuratif (penyembuhan) terhadap penyakit yang sudah terjadi, dan rehabilitatif (pemeliharaan) untuk menjaga kesehatan buat mereka yang baru sembuh dari sakit. Tulisan kali ini akan membahas tentang tindakan preventif, yaitu melalui vaksinasi. Ini adalah request beberapa teman, dan aku pikir cukup menarik karena belum pernah aku tulis di blog ini.

Apa vaksinasi itu dan untuk apa?

Dalam hal penyakit, lebih bijaksana untuk mencegah daripada mengobati. Salah satu caranya adalah dengan memberikan vaksinasi. Vaksinasi sangat membantu untuk mencegah penyakit-penyakit infeksi yang menular baik karena virus atau bakteri, misalnya polio, campak, difteri, pertusis (batuk rejan), rubella (campak Jerman), meningitis, tetanus, Haemophilus influenzae tipe b (Hib), hepatitis, dll.

Maha besar Sang Pencipta. Sebenarnya setiap anak lahir dengan sistem kekebalan penuh terdiri dari sel, kelenjar, organ, dan cairan yang berada di seluruh tubuh nya untuk melawan bakteri dan virus menyerang. Sistem kekebalan mengenali kuman yang memasuki tubuh sebagai penjajah “asing”, atau antigen, dan menghasilkan zat protein yang disebut antibodi untuk melawan mereka. Suatu sistem kekebalan tubuh yang sehat dan normal memiliki kemampuan untuk menghasilkan jutaan antibodi untuk membela serangan terhadap ribuan antigen setiap hari. Mereka melakukannya secara alami sampai-sampai orang bahkan tidak menyadari mereka sedang diserang dan membela diri. Ketika serangan sudah terlalu banyak dan tubuh tidak mampu bertahan, barulah orang akan merasakan sakit atau berbagai gejala penyakit. Banyak antibodi akan menghilang ketika mereka telah menghancurkan antigen menyerang, tetapi sel-sel yang terlibat dalam produksi antibodi akan bertahan dan menjadi “sel memori.” Sel memori ini dapat mengingat antigen asli dan kemudian mempertahankan diri ketika antigen yang sama mencoba untuk kembali menginfeksi seseorang, bahkan setelah beberapa dekade kemudian. Perlindungan ini disebut imunitas.

Vaksin mengandung antigen yang sama atau bagian dari antigen yang menyebabkan penyakit, tetapi antigen dalam vaksin adalah dalam keadaan sudah dibunuh atau sangat lemah. Ketika mereka yang disuntikkan ke dalam jaringan lemak atau otot, antigen vaksin tidak cukup kuat untuk menghasilkan gejala dan tanda-tanda penyakit, tetapi cukup kuat bagi sistem imun untuk menghasilkan antibodi terhadap mereka. Sel-sel memori yang menetap akan mencegah infeksi ulang ketika mereka kembali lagi berhadapan dengan antigen penyebab penyakit yang sama di waktu-waktu yang akan datang. Dengan demikian, melalui vaksinasi, anak-anak mengembangkan kekebalan tubuh terhadap penyakit yang mestinya bisa dicegah.

Namun perlu juga diingat bahwa karena vaksin berupa antigen, walaupun sudah dilemahkan, jika daya tahan anak atau host sedang lemah, mungkin bisa juga menyebabkan penyakit. Karena itu pastikan anak/host dalam keadaan sehat ketika akan divaksinasi. Jika sedang demam atau sakit, sebaiknya ditunda dulu untuk imunisasi/vaksinasi.

Mengapa Vaksin Anak Jadi Penting?

Memang benar bahwa bayi baru lahir yang kebal terhadap banyak penyakit karena mereka memiliki antibodi yang mereka dapatkan dari ibu mereka. Namun, durasi imunitas ini dapat berlangsung hanya untuk sekitar sebulan sampai setahun. Selanjutnya, anak-anak muda tidak memiliki kekebalan ibu terhadap beberapa penyakit yang mestinya dapat dicegah dengan vaksin. Jika seorang anak tidak divaksinasi dan terkena kuman penyakit, tubuh anak mungkin tidak cukup kuat untuk melawan penyakit ini.

Mengimunisasi anak-anak juga membantu individu untuk melindungi kesehatan masyarakat sekitar, terutama bagi orang-orang yang tidak/belum diimunisasi. Orang yang tidak diimunisasi antara lain adalah orang-orang yang terlalu muda untuk divaksinasi (misalnya, anak-anak kurang dari satu tahun tidak dapat menerima vaksin campak tapi dapat terinfeksi oleh virus campak), mereka yang tidak dapat divaksinasi karena alasan medis (misalnya, anak-anak dengan leukemia), dan mereka yang belum berrespon secara memadai terhadap vaksinasi. Imunisasi juga memperlambat atau berhenti wabah penyakit.

Kapan vaksinasi diberikan ?

Vaksin bekerja dengan baik ketika mereka diberikan pada usia tertentu. Sebagai contoh, vaksin campak biasanya tidak diberikan sampai anak paling sedikit 1 tahun. Jika diberikan lebih awal dari itu, mungkin tidak bekerja dengan baik. Di sisi lain, vaksin DPT harus diberikan selama periode waktu, dalam serangkaian pemberian dengan jeda yang tertentu.

Apa vaksin anak yang direkomendasikan, dan berapa usia mereka harus diberi?

Berikut ini adalah macam-macam vaksin yang direkomendasikan untuk diberikan menurut Center of Disease Prevention and Control US. Ada beberapa vaksin yang belum populer diberikan di Indonesia, namun akan lebih baik juga jika diberikan, seperti vaksin rotavirus dan human papiloma virus. beberapa vaksin tertentu perlu diberikan beberapa kali untuk meningkatkan efektivitas perlindungannya.

Vaksin Hepatitis B untuk mencegah penyakit hepatitis

1.Pemberian pertama pada saat lahir sampai 2 bulan

2.Pemberian kedua pada 1 sampai 4 bulan

3.Pemberian ketiga pada 6 sampai 18 bulan

Vaksin Hib untuk mencegah infeksi virus hemophilus influenza tipe B

 1. Pemberian pertama pada 2 bulan

2. Pemberian kedua pada 4 bulan

3. Pemberian ketiga pada 6 bulan

4. Pemberian keempat pada 12 sampai 15 bulan

Vaksin polio untuk mencegah polio

1. Pemberian pertama pada 2 bulan

2. Pemberian kedua pada 4 bulan

3. Pemberian ketiga pada 6 sampai 18 bulan

4. Pemberian keempat pada 4-6 tahun

Vaksin DPT untuk mencegah diphteri, pertussis (batuk rejan) dan tetanus

 1.Pertama pemberian pada 2 bulan

2. pemberian kedua pada 4 bulan

3. pemberian ketiga pada 6 bulan

4. pemberian keempat pada 15 sampai 18 bulan

5. pemberian kelima pada 4-6 tahun

6. juga dianjurkan pada 11 tahun

Vaksin pneumokokus untuk mencegah infeksi saluran nafas karena bakteri (pneumonia)

1. pemberian pertama pada 2 bulan

2. pemberian kedua pada 4 bulan

3. pemberian ketiga pada 6 bulan

4. pemberian keempat pada 12 sampai 18 bulan

Vaksin rotavirus untuk mencegah infeksi saluran cerna seperti diare yang sering terjadi pada anak-anak:

1. pemberian pertama pada 2 bulan

2. pemberian kedua pada 4 bulan

3. pemberian ketiga pada 6 bulan

Vaksin hepatitis A:

1. pemberian pertama pada 12 bulan

2. pemberian kedua pada 18 bulan

Vaksin Influenza:

1. pemberian pertama pada usia 6 bulan (memerlukan satu bulan booster setelah vaksin awal)

2. Setiap tahun sampai 5 tahun (kemudian tahunan jika ditunjukkan atau diinginkan, menurut risiko)

Vaksin MMR (measles, mumps and rubella) untuk mencegah sakit campak dan campak jerman

1. Pemberian kedua pada 12 sampai 15 bulan

2. Pemberian kedua pada 4-6 tahun

Vaksin varicella untuk mencegah cacar air:

1.  Pemberian pada pertama 12 sampai 15 bulan

 2. Pemberian kedua pada 4-6 tahun

Vaksin meningokokus untuk mencegah infeksi meningitis:

1. Pemberian tunggal pada 11 tahun

 Vaksin Virus Human papilloma (untuk remaja perempuan saja) untuk mencegah kanker serviks

1. Pemberian pertama pada 11 tahun

2.Kedua pemberian dua bulan setelah pemberian pertama

3.Ketiga pemberian enam bulan setelah pemberian pertama

Apakah efek samping dari vaksinasi?

Seperti halnya obat, tidak ada vaksin yang bebas dari risiko efek samping. Namun keputusan untuk tidak memberi vaksin juga lebih berisiko untuk terjadinya penyakit atau lebih jauh menularkan penyakit pada orang lain. Risiko komplikasi serius dari vaksin selalu jauh lebih rendah daripada risiko jika anak Anda jatuh sakit dengan salah satu penyakit.

Alergi terhadap vaksin kejadiannya jarang. Vaksin terhadap difteri, tetanus, batuk rejan, polio dan Hib dapat menyebabkan area merah dan bengkak di tempat vaksinasi. Hal ini akan hilang dalam beberapa hari. Anak Anda mungkin mendapatkan demam pada hari suntikan dan hingga 10 hari kemudian. Efek samping yang paling sering terkait dengan vaksin pneumokokus adalah reaksi di tempat suntikan (seperti rasa sakit, nyeri, kemerahan atau bengkak), demam dan lekas marah. Anak Anda mungkin juga mengantuk.

Vaksin MMR dapat menyebabkan reaksi singkat yang dapat dimulai dari beberapa hari sampai tiga minggu setelah vaksinasi. Anak Anda mungkin mendapatkan gejala-gejala ringan seperti penyakit yang sedang divaksinasi terhadap, misalnya dingin, reaksi kulit, demam atau kelenjar ludah membengkak. Penelitian intensif selama beberapa tahun terakhir telah menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara vaksin MMR dengan penyakit Crohn dan autis belum terbukti.

Vaksin meningitis C mungkin mempunyai efek sebagai berikut. Bayi: beberapa pembengkakan dan kemerahan di tempat suntikan diberikan. Balita selama 12 bulan: beberapa pembengkakan dan kemerahan di tempat suntikan diberikan. Sekitar satu dari empat anak mungkin telah terganggu tidur. Sekitar 1 dari 20 anak mungkin mengalami demam ringan Anak-anak Pra-sekolah: sekitar 1 dalam 20 mungkin memiliki beberapa bengkak di tempat suntikan. Sekitar 1 dalam 50 mungkin mengalami demam ringan dalam beberapa hari vaksinasi. Anak-anak dan remaja: sekitar satu dari empat mungkin memiliki beberapa pembengkakan dan kemerahan di tempat injeksi. Sekitar 1 dalam 50 mungkin mengalami demam ringan. Sekitar 1 dari 100 mungkin mengalami sakit pada lengan yang diinjeksi, yang bisa berlangsung satu atau dua hari. Efek samping yang paling sering  berkaitan dengan vaksin HPV adalah rasa sakit, kemerahan dan bengkak di tempat suntikan.

Efek samping umum lainnya antara lain adalah: sakit kepala, sakit otot atau sendi, kemerahan dan bengkak di tempat suntikan, demam, pusing iritasi kulit, seperti gatal dan ruam, gangguan usus, seperti mual dan muntah, diare, sakit perut.

Sampai berapa lama perlindungan karena vaksinasi bertahan?

Difteri dan tetanus: setidaknya selama 10 tahun, atau mungkin lebih lama.
Batuk rejan: setidaknya selama tiga tahun. Namun, ini masih sedang dipelajari.

Meningitis: perlindungan jangka panjang.
Polio: perlindungan seumur hidup.
Campak, mumps dan rubella (campak Jerman): menawarkan perlindungan yang tahan lama yang sangat mungkin seumur hidup.
Meningitis C:  menawarkan perlindungan yang tahan lama yang sangat mungkin seumur hidup.
Kanker serviks: studi menunjukkan bahwa perlindungan berlangsung setidaknya selama lima tahun. Penelitian lebih lanjut sedang berlangsung untuk membuktikan apakah booster akan dibutuhkan.
 

Well, kiranya sudah cukup banyak informasinya. Mudah-mudahan bermanfaat. Nah, selain vaksinasi untuk penyakit raga, kayaknya perlu juga deh vaksinasi untuk “kesehatan hati”….. antara lain dengan banyak bersyukur, berserah diri dan selalu memohon kekuatan dari Sang Pencipta untuk menjalani perintahNya dan menjauhi laranganNya, Insya Allah hati pun menjadi sehat. Amien……

Oya, sebagian besar tulisan bersumber dari : http://www.cdc.gov/vaccines dan sumber-sumber lain.