Menikmati Eksotisme Italy..

24 09 2017

Dear kawan,

Kali ini aku mencoba mendokumentasikan perjalananku ke Italy melalui blog ini. Catatan ringan saja, tetapi bisa menjadi kenangan di kemudian hari. Yang menarik, jadwal keberangkatanku yang sudah disiapkan beberapa bulan sebelumnya hampir bersamaan dengan hiruk pikuk kehebohan akibat pil PCC yang mengggemparkan jagad kefarmasian. Sebelum berangkat aku sempat mengupload tulisan lamaku di blog (tulisan tahun 2008) tentang Somadril yang merupakan salah satu merek obat carisoprodol yang menjadi sumber kehebohan. Tak ayal tulisanku mungkin pas mendapat momentum yang tepat sehingga di-share kawan-kawan sampai ratusan kali. Dan begitulah, tak lama kemudian beberapa wartawan dari beberapa media meminta ulasanku tentang PCC. Bahkan sampai saat habis check in di Bandara Soetta pun masih melayani wawancara “on air” di radio Elshinta Jakarta. Sekarang biarlah sekarang yang berwajib yang mengurusnya, aku mau cerita tentang perjalananku ke Italy saja hehehe….

Very long trip

Perjalananku ke Italy kali ini judulnya adalah mengikuti sebuah symposium internasional yang diselenggarakan oleh Phytochemical Society of Europe (PSE) di Francavilla el Mara, Chieti, Italy. Dengan back ground penelitian di bidang farmakologi, cukup mudah bagiku untuk menyesuaikan dengan topik yang disediakan di sana, yang penting menggunakan medicinal plants sebagai salah satu sumber yang diteliti. Sekaligus ini adalah salah satu kewajibanku untuk mendapatkan luaran penelitian berupa keikutsertaan dalam seminar internasional yang aku janjikan dalam proyek penelitian RAPID (Riset Andalan Perguruan Tinggi dan Industri) yang sedang kujalankan. Sengaja aku tuliskan ini di bagian awal supaya pembaca tahu bahwa aku pergi menjalankan tugas hehehe…. walaupun tentu saja ada efek samping yang menyenangkan yaitu bisa menikmati pengalaman baru di negeri orang. Apalagi Italy terkenal sebagai negeri yang indah dan penuh dengan wisata sejarah. Begitulah, kali ini aku kembali berangkat bersama Bu Triana, partner perjalananku untuk ke empatkalinya untuk mengikuti seminar di luar negeri. Kami memang punya angan-angan, minimal setahun sekali harus bisa ikut seminar internasional di luar negeri, untuk menambah wawasan dan pengalaman…

Kami bersyukur bahwa UGM banyak menyediakan kesempatan (dan dana tentunya) untuk kegiatan diseminasi hasil penelitian ke luar negeri. Kali ini kamipun mendapatkan dana dari BPP UGM. Dan untuk bepergian seperti ini, sekarang aku lebih senang menggunakan paspor hijau karena tidak terlalu ribet menunggu surat ijin Setkab dan paspor dinas. Apalagi urusan visa juga dibiayai. Terimakasih, UGM..!! Untuk ke Italy ini aku harus mengurus visa Schengen, di mana aku harus datang sendiri ke Jakarta untuk cap jari. Setelah semua urusan dokumen beres, berangkatlah kami pada tanggal 16 September 2016 lalu.

Alhamdulillah, Komik Apoteker Cilik udah sampe Roma

Total perjalanan yang kami tempuh dari Jogja sampai ke Francavilla mencapai 30-an jam. Lumayan melelahkan, padahal kami pilih Turkish Air yang durasi perjalanannya paling pendek dan waktunya paling sesuai dengan kebutuhan. Route perjalananan kami adalah Jogja – Jakarta – Istambul – Roma – Francavilla al Mare. Oya, sesampai di Roma, kami memutuskan untuk beli data untuk internet dengan nomor Italy, agar tetap get connected dan bisa update berita dengan keluarga di rumah. Karena kalau bertahan dengan nomor Indonesia untuk sekitar 5 hari.. hadeeh, roamingnya lumayan boo…. !! Tidak lupa aku membawa Komik Apoteker Clikku dua seri untuk ikut berjalan-jalan ke Roma hehehe…

Dari Fiumicino Aeroporto di Roma menuju ke Francavilla kami menggunakan bus selama 3 jam. Beruntunglah Panitia sangat helpful, dibuatnya WA group untuk para peserta sehingga kami bisa berkomunikasi dan bertanya hal-hal yang kurang jelas, termasuk urusan transportasi. Francesco, demikian nama ketua Panitianya, menyarankan kami untuk menggunakan bus dan booking via online untuk memastikan dapat tiketnya. Jadilah kami naik Prontobus, dengan biaya 24 Euro/orang. Francavilla al Mare adalah kota kecil di pinggir pantai di bagian timur laut Italia. Perjalanan darat dari Airport ke Francavilla sungguh indah dengan pemandangan unik khas Italia. Sepanjang jalan kami melihat banyak pohon olive dan pepohonan lain yang tidak dijumpai di Indonesia. Lucunya, kami tidak pernah menjumpai sapi di padang rumput seperti di Belanda, tetapi lebih banyak kambing yang ada. Bukit-bukit sepanjang perjalanan bervariasi, dari bukit yang subur sampai dengan bukit kapur yang gundul tak berpohon tapi indah dari kejauhan. Mirip-mirip gletser dari jauh.

Di depan peta kota Pescara

Bus kami berakhir di terminal bus Pescara, kota sebelah yang lebih besar, di mana dari situ kami masih perlu naik taksi ke hotel di Francavilla. Biaya taxi dari Terminal Bus Pescara ke Francavilla adalah 20 Euro. Hmmkalo udah di negeri orang jangan suka mengkurs mata uang yaa… nanti stress sendiri hehehe…  Sampailah kami di hotel pada pukul 18-an waktu setempat, yang berbeda 6 jam, lebih lambat dari waktu di Indonesia. Mulai jetlag deh…. Suasana masih sore, tetapi badan kami adalah badan jam 11 malam… udah capek dan mengantuk. Oya, hotelnya merupakan tempat di mana symposium diselenggarakan. Kamarnya cukup lega sebenarnya, nyaman untuk tinggal. Sayangnya kurang satu hal penting… tidak ada alat pemanas air untuk memasak air panas !! Hal ini agak terasa karena dari Indonesia kami membawa bekal mie instan, bubur, oatmeal yang butuh air panas. Air panas dari tap water memang bisa diminum katanya, tapi kan kurang panas. Yah, tapi bagaimana lagi… hari pertama datang perut belum diisi. Keciaan... jauh-jauh ke Italy, makannya mie instan hehehe….

PSE Symposium

PSE Symposium sudah dimulai tgl 17 September, saat kami datang, tetapi kami baru bisa mengikuti pada hari ke 2, tgl 18 September. Dengan kebaikan hati Francesco, aku bisa me-reschedule jadwal presentasi yang semula tgl 19 September menjadi tgl 18 September, sehingga bisa selesai pada hari pertama. Symposium diikuti oleh kurang lebih 100-an peserta dari berbagai negara, terutama dari negara-negara Eropa, tetapi ada pula yang dari Mesir, Pakistan, dll., termasuk Indonesia. Alhamdulillah, tugas presentasi oral sudah kami laksanakan dengan baik sebelum lunch time.

Bersama Prof Elvira Gille dari Rumania

Di acara itu kami berkenalan dengan seorang professor dari Rumania yang sangat ramah, namanya Prof Elvira Gille.  Gile deh pokoknya hehehe… beliau baik dan suka bercerita, jadi kami merasa nyaman juga bersama beliau. Beliau menceritakan bagaimana kegiatan risetnya di Rumania dan bagaimana mendorong junior-juniornya untuk maju. Beliau sangat menghargai anak-anak muda yang berprestasi. Awalnya kami berkenalan saat lunch, karena sepertinya beliau melihat kami agak bingung memilih-milih makanan halal yang bisa kami makan. Lalu beliau mencoba jelaskan bahwa makanan ini tidak mengandung babi, bla bla bla… Anyway, thanks, Madame… walaupun sebenarnya masalahnya tidak cuma babi saja hehehe….

Excursion ke Pescara

Hari kedua acara PSE Symposium diawali dengan excursion ke Cantina Zaccagnini di Bolognano, sebuah pabrik anggur. Semula kami berpikir akan ikut excursion tersebut, tetapi setelah kami pikir-pikir lagi, sepertinya nanti di sana kami malah tidak banyak bisa ngapa-ngapain, serba ngga enak nanti kalau diminta nyicip wine dan kami menolak.. hehe.. jadi kami memutuskan untuk berpetualang sendiri. Iya, bisa dibilang “berpetualang” karena susahnya di Italy itu adalah tulisannya sebagian berbahasa Italy, udah gitu orang-orangnya juga tidak banyak yang bisa Bahasa Inggris, terutama di kota kecil macam yang kami kunjungi. Jadi memang kadang harus sedikit gambling ketika mengambil keputusan mau kemana, karena tidak mudah untuk bertanya-tanya. Akhirnya kami putuskan untuk berpetualang ke Pescara saja, kota sebelah yang lebih besar dari Francavilla. Aku mencoba searching di internet dan menemukan ada tempat bernama Ponte del Mare di Pescara. Jadilah kami naik taksi dengan tujuan Ponte del Mare.

di Jembatan Ponte del Mare, sebelah kiri terbentang kota, sebelah kanan lautan..

Ponte del Mare adalah sebuah jembatan indah sepanjang 172 m di pinggir laut yang sering dikunjungi untuk berjalan-jalan. Ada jalur untuk pejalan kaki dan pesepeda. Pemandangan sangat indah dari atas jembatan, di mana kami bisa melihat laut di sisi kanan, sementara kota dan bukit di sisi kiri.  Cuaca di Pescara dan suhunya sangat bersahabat. Dengan suhu sekitar 23-24 derajat sungguh nyaman untuk berjalan-jalan.  Turun dari jembatan kami menuju ke pusat kota menyusuri jalan-jalan yang berada di sepanjang pantai dengan pasir putihnya. Tidak banyak yang bisa kami beli di Pescara karena tidak banyak toko souvenir khusus, jadi kami lebih banyak melihat-lihat saja.

Ke Chieti

Pescara tidak begitu besar, jadi kami memutuskan pergi ke kota lain yang cukup dekat untuk melihat suasana yang lain dan mencoba naik kereta. Setelah melihat-lihat di peta serta harga tiket kereta di mesin tiket, kami memutuskan pergi ke Chieti. Waktu itu ada kereta pukul 14.30an, dengan harga tiket 1.9 Euro. Perjalanan ke Chieti kira-kira 30 menit. Sempat agak bingung ketika mau naik kereta karena kurang jelas tulisannya di jalur berapa, semuanya tertulis dalam Bahasa Italy, dan kalaupun ada pengumuman juga disampaikan dalam Bahasa Italy. Untunglah ada anak muda yang baik hati, walaupun Bahasa Inggrisnya tidak lancar, dia bahkan mengejar kami ketika kami berada pada jalur yang salah. Dia sampaikan bahwa barusan ada pengumuman bahwa kereta ke Chieti beralih di jalur 4 (padahal kami ada di jalur 2), . Alhamdulillaah…

Menu di kedai Kebab halal di Chieti

Di perjalanan menuju ke Chieti, aku coba searching lagi di intenet tempat yang bisa dikunjungi di sana, dan ketemulah tempat yang sepertinya menarik, yaitu Corso Marrucino, sepertinya semacam pusat kota begitu dengan tempat perbelanjaan. Oya… breakfast kami di hotel tadi pagi “hanya” roti, buah dan telur… ngga ada nasi goreng atau bubur ayam hehehe… Siang ini kami sudah kelaparan. Sesampai di stasiun Chieti kami keluar, dan wow… kami menemukan kedai makanan halal berupa kebab, pizza, dll. Tidak mudah mencari restoran halal di kota kecil di Italy. Maka mampirlah kami kesana mengisi perut. Alangkah nikmatnya bisa makan daging halal… Kedai itu milik orang Pakistan. Sekalian kami bertanya bagaimana caranya untuk bisa ke Corso Marrucino. Dan syukurlah karena dari stasiun itu juga ada halte bus yang jalurnya ke Corso Marrucino. Sepanjang perjalanan naik bus ke Corso Marrucino, pemandangan cukup menarik, karena Chieti ternyata kota yang berbukit-bukit, macam kota Semarang, ada kota atas dan bawah. Kota atas nampaknya merupakan kota yang lama, sedangkan di bawah adalah perluasannya. Ini terlihat dari jenis bangunan di kota atas yang berupa bangunan-bangunan kuno ala Eropa yang tinggi-tinggi dengan jalan yang sempit-sempit, sementara di kota bawah nuansanya lebih modern. Aku sempat berharap agak kurusan dikit sepulang dari Eropa karena banyak berjalan, tetapi sepertinya harapanku ini sia-sia belaka. Tetap banyak berjalan, tapi kok lemak tetap bertumpuk di badan kiri kanan… huaa….!!

Di Corso Marrucino kami berjalan berkeliling saja melihat-lihat kemegahan bangunan kuno ala Eropa. Dan waktu mau kembali ke stasiun kereta, kami kembali bingung bagaimana caranya mendapatkan tiket busnya. Alhamdulillah, secara coba-coba kami masuk ke sebuah cafeteria menanyakan apakah mereka menjual tiket bus, ternyata ada, harganya 1,2 Euro. Kamipun segera kembali ke stasiun karena akan kembali ke Pescara. Walaupun capek, tetapi senang karena kami sudah punya pengalaman baru naik kereta api di Italia hehehe… 

Mejeng di depan kereta yg ditungguin… akhirnyaa.. ketinggalan kereta !!

Nah, di sini ada pengalaman lucu. Lagi-lagi karena masalah bahasa, kami tidak begitu well informed mengenai jalur kereta yang akan kami naiki. Singkat cerita, kami membeli tiket kereta dengan jadwal jam 16.40 untuk kembali ke Pescara. Waktu itu sudah jam 16.15an. Karena petugas yang di stasiun sedang sibuk melayani orang lain, akhirnya kami sok pede menuju jalur 2 yang arahnya berkebalikan dengan kereta kami tadi siang dari Pescara. Kamipun menunggu kereta menuju Pescara di situ. Waktu ada kereta lewat dan berhenti di stasiun di jalur 1, kami tidak ingin melewatkan kesempatan berfoto dengan latar belakang kereta yang baru datang. Jepret sana jepret sini, begitulah dua orang yang memang narsis bergantian berfoto…. Setelah kereta tersebut berjalan kembali.. gludaak… barulah kami sadar bahwa itu adalah kereta jam 16.40 ke Pescara yang kami tunggu-tunggu hahahaha…… kami menunggu di jalur 2, kereta datang di jalur 1. Tapi masih ngga sadar, malah berfoto-foto….  Singkatnya kami ketinggalan kereta !!  Segera kami melihat jadwal kereta lagi, dan kereta berikutnya baru akan datang jam 17.35. Tapi untunglah ketika kami tanyakan ke petugas stasiun, tiket kami yg tadi tetap bisa dipakai walaupun untuk jam yang berbeda. Ya sudah… dinikmatin ajah…… kami masih tergeli-geli kalau ingat…

Gala Dinner

Walaupun sempat ketinggalan kereta di Chieti, alhamdulillah kami masih bisa sampai Pescara sebelum jam 18.45. Hal itu penting karena itu saatnya acara  Penutupan Symposium. Kami sempat menghadiri acaranya, dan malamnya bersiap untuk Gala Dinner yang undangannya jam 20.30. Walaupun tubuh kami sudah mulai beradaptasi dengan waktu di Italy,  tetap saja jam 20.30 itu rasanya sudah mengantuk karena di Indonesia sudah jam 02.30 pagi. Bayangin, kami baru mau makan malam jam segitu.

Hidangan pembuka Gala Dinner

Untuk Gala Dinner sedikit istimewa dibandingkan acara dinner sebelumnya, karena kali ini diiringi live music. Makanannya pun lebih banyak dan bervariasi. Tapi lagi-lagi ngga ketemu nasi hehe…. Tapi untunglah, semua makanannya adalah berbahan sea food karena memang di kota pantai, jadi kami bisa makan tanpa kuatir. Dengan model round table, kami duduk bersama peserta dari Mesir. Dinner diawali dengan makanan pembuka berupa irisan ikan salmon, udang, potongan ikan dan cumi berisi keju.  Hidangan berikutnya adalah hidangan utama, berupa pasta dengan saos carbonara ditambah potongan ikan. Berikutnya keluar lagi makanan berupa kentang yang sudah diolah dicampur bayam dibentuk seperti finger, dimasak dengan saus kepiting dberi potongan cumi. Terakhir setelah udah cukup kekenyangan, datang hidangan penutup berupa ikan yang dimasak ditambah kacang. Maaf, aku tidak tahu nama-nama makanannya… semua aneh-aneh hehehe…. Akhirnya Gala dinner yang penuh perjuangan karena ngantuk dan kenyang berakhir juga pukul 23.30-an waktu setempat.

Malam itu juga kami packing barang karena besok paginya akan berangkat ke Roma untuk pulang ke Indonesia.

Roma, the beautiful city

Di jembatan depan hotel di Fiumicino yang menghadap ke muara

Kami berangkat menuju Fiumicino  dari Pescara station pukul 7.30 pagi menggunakan Prontobus seperti saat berangkatnya. Sama seperti saat berangkat, waktu tempuhnya sekitar 3 jam untuk sampai ke Fiumicino Aeroporto. Tapi kami  berencana untuk menjelajahi Roma di hari itu sebelum balik ke Indonesia esok paginya, jadi dari Aeroporto kami naik taksi ke Hotel di Fiumicino. Oya, international airport Roma tepatnya berlokasi di Fiumicino, sebuah kota kecil di selatan Roma.  Karena belum saatnya check in, kami menitipkan barang-barang kami di hotel. Hotel di Fiumicino cukup unik, karena merupakan hotel kecil berlantai dua dengan disain konvensional. Hotelnya terletak dipinggir sungai yang berada di muara. Ada satu jembatan di depan hotel yang menghubungkan dengan sisi seberang sungai di mana kami akan naik bus ke Roma.

Ya, siang itu kami berencana menjelajahi Roma. Destinasi pertama kami adalah Colosseo Roma yang sangat bernilai historis. Ini destinasi wajib deh.… Kami mendapat info dari pelayan Tabaccheria di tempat kami membeli tiket (ketika kami bilang ingin ke Colosseo Roma), bahwa dari Fiumicino kami harus naik bus ke arah Magliana. Sesampai di terminal Magliana, nanti kami harus naik metro ke arah Colosseo. Tabaccheria adalah semacam kedai yang menjual rokok, minuman, dan pernik-pernik lainnya, termasuk tiket bus dan metro. Jadilah kami naik bus ke Magliana dan nyambung metro ke Colosseo.

Colosseo Roma

Dengan latar belakang Colosseo Roma yang kolosal dan bersejarah

Alhamdulillah, sampailah kami di stasiun metro persis di sebelah Colosseo. Colosseo, adalah sebuah bangunan besar dan bersejarah yang terletak di tengah kota Roma. Bangunan ini dibangun pada masa Kaisar Vespasian. Selesai dibangun pada 80 Masehi, bangunan ini mempunyai (kurang lebih) 50.000 tempat duduk penonton untuk menonton berbagai macam pertunjukan…seperti “gladitorial contest” dan “public spectacles”. Sebenarnya jika akan masuk Collosea, kita bisa membeli tiket dan memilih yang dengan guide atau tidak. Tetapi kami tidak punya banyak waktu di Roma, jadi memutuskan untuk tidak masuk ke dalamnya, yang paling tidak memerlukan waktu 2 jam untuk berjalan-jalan di dalamnya. Cukuplah kami udah pernah melihat sendiri bangunan yang sangat Romawi ini dan berfoto-foto di luarnya. Di samping lumayan mahal, kami juga masih ingin ke tempat lain yang tidak kalah terkenalnya di Italia, yaitu ke Vatican city.

Keluar dari Colosseo, kami mencoba naik Roma Hop-on Hop-off Sightseeing bus yang berlaku utk 12 jam dengan harga 18 Euro/orang. Ada 8 bus stop yang dimulai dari 1. Via Marsala (Termini station), 2. Santa Maria Maggiore (Basilica), 3. Colosseo (Colosseum and Ancient Rome), 4. Circo Massimo (Circus Maximus), 5. Piazza Venezia (Capitoline Museums, Pantheon), 6. Vaticano (Vatican City), 7. Fontana di Trevi (Trevi Fountain), 8. Piazza Barberini, dan kembali ke Termini.  Dengan bus ini, kita bisa berhenti di berbagai bus stop untuk turun dan melihat-lihat, dan kembali lagi naik bus berikutnya yang akan lewat setiap 15 atau 20 menit. Sepanjang perjalanan kami mendengarkan penjelasan via earphone yang dibagikan, mengenai tempat-tempat yang dilewati. Sungguh kami sangat takjub melihat kota Roma yang penuh dengan bangunan-bangunan indah, bersejarah dan kolosal. Sangat eksotis. Menyisakan peradaban yang maju beratus-ratus tahun yang lalu. Bangunan yang bersejarah masih sangat terjaga baik, sementara bangunan-bangunan tua lainnya sebagian masih digunakan untuk aktivitas, baik untuk kegiatan perdagangan atau perkantoran. Kami naik dari pemberhentian ke 3 yaitu dari Colosseo. Dan karena kepingin ke Vatican, maka kami turun di pemberhentian ke 6 yaitu Vaticano.

Bersama bu Triana di Vatican City

Vatican juga merupakan tempat yang sangat bersejarah dan terkenal karena merupakan tempat di mana Paus, pimpinan tertinggi ummat Katholik, tinggal. Kita ketahui bahwa Vatikan merupakan sebuah negara yang dikelilingi tembok di dalam kota Roma. Dengan luas area sekitar 44 hektar, dan populasi sebesar 842 jiwa, Negara Kota Vatikan merupakan negara independen terkecil di dunia, baik area maupun populasinya, yang diakui secara internasional. Uniknya, walaupun itu merupakan negara sendiri, sepertinya para wisatawan cukup mudah untuk berada di sekitarnya.  Tapi kami memang tidak masuk ke dalamnya sih…  Di Roma kami sering diingatkan untuk berhati-hati, karena di sana banyak pick pocket. Tapi alhamdulillah, selama kami di sana baik-baik saja.

Grande Moschea Roma

Setelah berfoto-foto sebentar di Vatican, kami ingin berkunjung ke Mesjid Besar Roma atau Grande Moschea Roma yang katanya merupakan Mesjid terbesar di Eropa. Sekalian kami ingin sholat di sana, karena kebetulan itu adalah waktunya sholat ashar. Kalau tidak di Masjid, tidak kebayang kami harus sholat di mana, karena tidak ada mushola berserak seperti di Indonesia hehe.. Setelah menanyakan mbah Google, kami menemukan alamat Masjid tersebut yang berlokasi di sebelah utara Roma, tepatnya di Viale della Moschea, 85. Daripada bingung naik apa dan untuk menghemat waktu, kami memutuskan naik taksi kesana dari Vatican. Kami perlu menunjukkan map kami pada sopir taksi karena takut juga dia tidak tahu, karena kami maklum mereka pasti jarang ke masjid hehehe…

Bersama Imam dan Takmir Masjid Agung Roma

Alhamdulillah, sampailah kami di Masjid Besar tersebut walaupun kami harus jalan dulu beberapa ratus meter karena jalannya hanya satu arah dan taksi tidak bisa sampai kesana. Tak apalah, yang penting udah ketemu masjid udah seneng banget. Sampai di Masjid, kami bertemu dengan Imam dan takmir Masjid tersebut yang berasal dari Mesir. Alhamdulillah, rasanya hommy sekali bisa ketemu masjid dan sholat di sana. Lalu Imam Masjid tersebut mengantarkan kami ke Masjid bagian atas, untuk memperlihatkan isi masjid yang indah. Imam Masjid menjelaskan bahwa pada saat sholat Jumat maupun pada hari-hari besar Islam, termasuk bulan Ramadhan, masjid sangat penuh dengan jamaah dan Masjid dapat menampung sekitar 40.000 jamaah. Sayangnya taman masjid nampak tidak terlalu terawat, mungkin karena cukup luas dan hanya sedikit yang bertugas di sana. Maklum, masjid ini berdiri di atas lahan seluas 30 ribu meter persegi. Luas bukaan?

Dari Masjid kami akan kembali ke Roma Termini lagi untuk pulang ke hotel. Untunglah Imam Masjid menjelaskan kepada kami rute yang harus kami tempuh. Jadi, sekitar 200 meter dari Masjid ada stasiun metro kecil, yaitu  Monte Antenne, di mana kami harus naik metro jurusan Flaminio, lalu naik kereta lagi ke Termini. Alhamdulillah, di sekitar stasiun Roma Termini kami menemukan restoran India halal setelah seharian belum makan apa-apa. Hmm… sedapnyeee….. akhirnya ketemu nasi lagi setelah beberapa hari ngga makan nasi. Dan makanannya cukup enaak…. Nasi biryani udang yang sedap…!!

Setelah bertenaga lagi, kami teringat masih punya karcis bus Hop-on Hop-off yang masih berlaku dan kami belum memutari semua pemberhentian tadi. Akhirnya kami putuskan untuk menghabiskan waktu yang tersisa untuk naik bus Hop-on Hop-off dari dekat Termini, dan berputar sampai kembali ke Termini lagi. Roma di malam hari sungguh indah dengan lampu-lampu di gedung-gedung tua. Suasana cukup ramai di jalanan ketika kami menyusuri jalan-jalan di Roma menggunakan bus Hop-on Hop-off.  Ngomong-ngomong tentang transportasi di Italy, ngga tertib-tertib amat, seperti di Indonesia hehehe…. Salah satu taksi yang kami tumpangi di Pescara, sopirnya nyetir sambil nelpon hampir sepanjang perjalanan. Taksi yang lain sopirnya nyetir sambil nonton film di smartphone-nya. Hadeehh….

Dan akhirnya, sampailah kami di ujung petualangan di Roma. Kami kembali ke Hotel di Fiumicino dekat Airport menggunakan bus, dengan rasa capek tetapi puas.

Pulang ke tanah airku Indonesia

Tanggal 21 September pagi kami bersiap menuju Fiumicino Aeroporto untuk kembali pulang ke tanah air. Alhamdulillah, setelah 3 jam perjalanan Roma – Amsterdam dan 12 jam nonstop Amsterdam – Jakarta, plus Jakarta-Jogja, sampailah aku di rumah kembali dengan selamat dan bersyukur masih diberi kesempatan mengunjungi belahan bumi lain dari ciptaan Allah. Semoga kelak masih bisa berkunjung ke belahan bumi lainnya. Amiin.  

Iklan




Menangkap Momentum : Story behind the Comic

30 09 2016

Dear kawan,

the-real-comicAda beberapa hal yang mendorongku untuk bercengkerama lagi dalam tulisan di blog ini, yang telah lama tak tersentuh. Pertama, aku ingin berbagi cerita tentang komik baruku yang ternyata secara mengejutkan cukup fenomenal di jagad kefarmasian.  Cetakan pertama sebanyak 1000 exp nyaris habis dalam waktu dua minggu setelah terbit. Alhamdulillah… Ini di luar prediksi kami.  Kedua, dan ini sebenarnya pendorong utama… seorang pembaca setia ternyata merindukan tulisan-tulisanku lagi hehe…. Dorongannya untukku menulis lagi di blog ini membuatku jadi semangat.  Katanya, menulislah pendek-pendek saja, tapi rutin, jadi bisa meluangkan waktu untuk menulis… Dan kalau pendek-pendek, pasti akan dinanti kelanjutannya oleh para pembaca setia…  Hmm.. bener juga ya… baiklah akan kucoba…

Sesuai judulnya tentang momentum… tulisan ini adalah sedikit cerita betapa kadang sesuatu itu bisa berhasil ketika mendapatkan momentum yang tepat. Yang kumaksud adalah tentang Komik Apoteker Cilik yang kami gagas… yang alhamdulillah mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat.

Program memperkenalkan tentang profesi apoteker pastinya sudah banyak digagas dan dijalankan teman-teman sejawat di berbagai daerah. Melalui kelas inspirasi, penyuluhan oleh mhs KKN, pengabdian masyarakat para apoteker, dll. Tapi entah kenapa, program Apoteker Cilik yang kami gagas justru yang tertangkap oleh media dan masyarakat, dan seolah-olah itu adalah hal baru. Itu bisa dilihat dari banyaknya pemberitaan di media suratkabar/media online tentang “Dosen UGM gagas Apoteker Cilik “. Begitu kira-kira bunyinya di media. Padahal sebenarnya itu bukanlah ide baru, hanya mungkin kemasannya saja yang berbeda. Salah satu yang menonjol adalah adanya Komik Apoteker Cilik yang kami garap secara serius, yang sebenarnya hanya merupakan salah satu alat saja dalam program Apoteker Cilik. Momentumnya adalah era teknologi informasi yang membuat kita bisa dengan mudah menyebarluaskan informasi dan gagasan… sehingga ketika kita membuat sesuatu yang biasa, mungkin bisa menjadi luar biasa ketika dilepas pada saat yang pas… Juga momentum berkumpulnya para apoteker se Indonesia di Jogja dalam rangka Pekan Ilmiah Tahunan IAI, ini juga kami incar sebagai momen launching komik… yang sayangnya saat Pameran berlangsung  komiknya malah sudah mulai habis karena banyaknya pesanan sebelumnya.

Sampel bagian dalam Komik

Sampel bagian dalam Komik

Tapi  momentum saja tentu tidak cukup..  produknya juga harus bagus. Alhamdulillah,  banyak yang menyebut komik kami enak dibaca, bahasanya mudah dipahami, dan gambarnya bagus. Kebahagiaan penulis itu adalah ketika karyanya diterima. Segala jerih lelah terbayar rasanya.

             The story behind the comic bukanlah hal yang pendek dan mudah. Pertama, kami harus meyakinkan penerbit bahwa komik ini dibutuhkan dan akan disukai masyarakat, terutama sasaran kami yaitu anak-anak. Penerbit juga melakukan studi kelayakan pasar dulu sebelum akhirnya memutuskan akan menerbitkan komik ini. Kedua, kami harus mencari illustrator yang bagus karena aku sendiri ngga bisa menggambar. Tahu tidak.. untuk mencari illustrator yang bagus, aku sampai membuat semacam audisi. Dari sekian banyak illustrator yang ikut audisi, akhirnya kami  mendapatkan satu illustrator yang cocok dengan selera kami. Semula kami berpikir bahwa sebaiknya ilustratornya punya back ground farmasi supaya lebih paham dengan konten komiknya tentang obat.  Tapi sayangnya yang punya background farmasi gambarnya tidak begitu sesuai dengan keinginan kami. Akhirnya  kami mendapatkan satu illustrator yang cocok, tanpa latar belakang farmasi. Tapi justru ada blessing in disguise….. yaitu bahwa dengan background non-farmasi justru memaksa kami untuk bisa menjelaskan  dengan bahasa yang awam, karena selama proses menggambar  illustratornya kebetulan juga banyak bertanya sehingga  kami dituntut bisa menjelaskan tentang obat dengan bahasa yang sederhana dan mudah.   Ketiga, tidak mudah membuat kalimat-kalimat pendek tapi bisa menyampaikan pesan yang diinginkan. Kesulitannya adalah keterbatasan space dalam balon-balon yang berisi kalimat… tidak boleh terlalu panjang, juga mengatur urutan balon supaya percakapan mengalir baik. Juga ada keterbatasan halaman komik sendiri secara keseluruhan supaya tidak terlalu tebal.

Over all, pembuatan komik ini sendiri sungguh suatu pengalaman unik dan berbeda… karena biasa berbicara dan menulis dengan bahasa ilmiah yang tinggi di kampus, tiba-tiba bahasanya harus dikonversi  menjadi bahasa awam, apalagi dalam bentuk komik untuk anak-anak. Terimakasih banyak untuk yang telah terlibat : bu Triana (co-author), Mas Wahyu (illustrator), Mbak Flora (editor), dan juga adik-adik mahasiswa PIOGAMA yang membantu membuat prototype-nya pada awal ide ini digulirkan. Alhamdulillah, rasanya excited banget setelah komik jadi dan ternyata banyak yang suka.  Oiya, tadinya mau dibuat langsung 3 seri lho.… tapi akhirnya Penerbit memutuskan satu seri dulu untuk uji pasar. Jika respon pasar positif terus seperti ini, insya Allah akan ada seri berikutnya… amiin.

Demikianlah sedikit saja tulisanku, memenuhi saran pembaca setiaku hehe….  Bagian penutup ini aku pakai untuk promosi saja.  Buku Komik Apoteker Cilik dengan judul “Yuk, Kenali Obat”, dengan harga Rp 35.000,- dapat diperoleh pada showroom Penerbit Kanisius, di toko-toko buku, atau bisa dipesan melalui aku sendiri.Nantinya juga bisa dipesan di PIOGAMA. Jika pesan melalui aku, silakan pesan melalui WA no 08156854012, buku akan dikirim ke alamat. Komik kami dalam dua minggu setelah terbit sudah tersebar ke pembacanya di seluruh Indonesia, mulai dari Pulau Sumatra sampai Papua. Mohon maaf bagi yang belum kebagian komik pada cetakan pertama, saat ini sudah proses cetakan kedua. Terimakasih buat yang sabar indent dan menanti kiriman. Semoga komik kami bermanfaat. Amiiin… .

Sampai ketemu di postingan lain yaa…

Thanks to my sunshine for the encouragement





My Note (2) : Wonderful Mt. Ishizuchi and omoshiroi Yayoi Kusama

27 10 2014

Dear kawan,
Catatan perjalananku kali ini adalah tentang kegiatanku selama week end ini. Hari Sabtu pagi aku masih menyelesaikan sedikit eksperimenku di lab, dan siangnya sudah direncanakan untuk pergi bersama Maeyama Sensei dan istri ke Gunung Ishizuchi. Hari Minggunya aku sudah janjian dengan teman Jepangku Kyoko Shibata untuk jalan-jalan di sekitar Dogo Matsuyama. Begini ceritanya….
Ke Gunung Ishizuci

Puncak gunung Ishizuchi dan warna-warni daun di musim gugur

Puncak gunung Ishizuchi dan warna-warni daun di musim gugur

Gunung Ishizuchi adalah gunung tertinggi di kawasan Jepang barat,  berlokasi di selatan Matsuyama, di antara perfecture Ehime dan Kochi. Jangan bayangkan seperti gunung Merapi yang tingginya di atas 3000 m, gunung ini “hanya” setinggi 1982 m, itu pun bukan gunung yang aktif. Dulu ketika masih kuliah, dalam perjalanan ke kampus aku sering melihatnya dari kejauhan puncaknya berselimut salju di musim dingin. Puncaknya mirip seperti ujung pedang samurai dan menjadi salah satu tempat pemujaan di Jepang dan dianggap sebagai tempat bermukimnya dewa. Kali ini aku berkesempatan ke sana bersama Maeyama Sensei dan istri, dan Rizal. Kata Sensei, aku akan bisa menikmati perubahan warna daun di musim gugur ini.

 

 

Bersama Bu Maeyama sebelum berangkat

Bersama Bu Maeyama sebelum berangkat

Kami berangkat berempat selepas dhuhur dari kampus menggunakan mobil Bu Maeyama. Bu Maeyama sendiri yang menyetir, dan cara menyetirnya halus dan enak. (aku perlu tekankan ini karena Maeyama Sensei sendiri nyetirnya kurang halus dan membuat Rizal mengalami motion sickness saat pulang hehe… ).  Beliau orangnya ramah dan penuh perhatian. Dibawakannya bekal jaket dan minuman dan snack untuk diminum di sana. Jika perjalanan jauh, beliau dan Sensei bergantian menyetir. Sepanjang perjalanan mata dimanjakan oleh pemandangan yang cantik suasana musim gugur. Yang selalu mengesankan aku jika jalan-jalan keluar kota di Jepang adalah jalan-jalan yang mulus, bersih, dan tidak jarang  jalannya menembus gunung melalui terowongan. Salah satu terowongan/tunnel yang kami lalui bahkan panjangnya 3097 m. Bayangkan susahnya ngebor gunung sepanjang itu…! Jadi perjalanan bisa lebih cepat karena seperti pakai shortcut. Ah, di Jepang itu apa yang ngga bisa dibuat… bawah laut pun digali untuk dibuat terowongan yang menghubungkan dua pulau… !!

Di Tsuchi-goya Hut, mendekati puncak gunung Ichizuchi

Melihat pemandangan sekitar puncak gunung bersama Maeyama Sensei dan ibu

Melihat pemandangan sekitar puncak gunung bersama Maeyama Sensei dan ibu

Kami parkir di sebuah parking area mendekati puncak gunung, yang disebut Tsuchi-goya Hut yg berada 1492 meter di atas permukaan laut . Dari situ perjalanan ke puncak bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 2,5 jam naik, dan 2 jam untuk turun. Tapi kami berhenti di situ saja, tidak naik ke puncak. Ga kuaat… !! Suhu di situ sekitar 14 derajat, lumayan dingin. Tau tidak.… aku sempat ketemu serombongan orang yang baru turun gunung Ishizuchi… dan itu rombongan bapak-ibu yang sudah sepuh-sepuh, tapi masih kelihatan sehat dan kuat !! Perjalanan mendaki gunung Ishizuchi sering dianggap sebagai sebuah perjalanan spiritual untuk pemujaan. Ada sebuah kuil semacam tempat peribadatan di situ, yaitu Ishizuchi shrine yang masih sering dipakai untuk upacara-upacara peribadatan.

Puncak Ishizuchi dari kejauhan... sedikit tersaput awan

Puncak Ishizuchi dari kejauhan… sedikit tersaput awan

Kami berhenti untuk sekedar minum teh dan melihat pemandangan dari atas. Beruntung cuaca cukup cerah, sehingga saat kami turun, kami sempat melihat puncak Ishizuchi yang sedikit tersaput awan. Kami sempatkan untuk mengambil gambar dengan latar belakang puncak Ishizuchi.

Menikmati serangkaian menu dengan menu utama sushi

Menikmati serangkaian menu dengan menu utama sushi

Perjalanan dari gunung ditutup dengan menikmati traditional Japanese food di sebuah restoran di Matsuyama. Kami sampai di Matsuyama hampir jam 6 sore, dan langsung meluncur ke sebuah restoran tradisional Jepang. Maeyama Sensei dan ibu mengajak kami untuk menikmati dinner di sana. Beliau tahu bahwa selama di Jepang kami tidak berani sembarang makan daging atau ayam (karena takut tidak halal karena tidak tahu cara menyembelihnya), jadi Sensei memilihkan kami makan sushi yang berisi ikan-ikan. Orang Jepang itu makan tidak hanya dengan lidahnya, tetapi juga dengan matanya… hehe.. karena itu ketika menyusun sajian untuk dimakan pasti indah dan nyeni.. Beberapa terasa agak aneh di lidah.. apalagi kalau ikan mentah. Tapi overall hmm.. oishikata… enak !! Sungguh sabtu yang berkesan… Bukan sekedar karena melihat suasana musim gugr di pegunungan yang indah, tetapi lebih pada hospitality Maeyama Sensei dan ibu yang sangat bersahabat…..

Dogo onsen dan Yayoi Kusama
Hari Minggu aku sudah janjian dengan Kyoko Shibata untuk jalan-jalan bareng. Kyoko adalah temanku orang Jepang yang suka berteman dengan orang asing. Aku mengenalnya sejak kuliah dulu di sini 14 tahun yang lalu. Kebetulan dia sarjana di bidang bahasa Inggris, jadi bahasa Inggrisnya cukup bagus. Buat aku yang tidak trampil bahasa Jepang, tentu ini sangat membantu. Tidak gampang loh mendengarkan orang Jepang berbahasa Inggris. Karena karakter konsonan mereka tidak mengenal huruf “F” dan “L”, maka pronounciation bahasa Inggris mereka kadang jadi tidak jelas, kecuali yang memang belajar dengan benar..hehe.. Sebagai contoh, ketika pertama kali aku datang ke Jepang, Sensei menjelaskan sesuatu yang aku dengar seperti kata “ Barius”…. Aku berpikir keras memahami apa yang dikatakan.. setelah agak lama barulah aku tahu bahwa yang dimaksudkan adalah “values”hadeeeh.… !! Mereka juga tidak punya vokal “E” seperti pada kata “emas”. Jadi ketika pronounce “Water”.. mereka akan menyebutnya “ Wota”.. Super menjadi supa, menyebut “color” menjadi “kara”…

Di depan Dogo Onsen yang sudah berumur ribuan tahun

Di depan Dogo Onsen yang sudah berumur ribuan tahun

Dogo onsen atau Dogo hotspring adalah tempat pemandian air panas khas Jepang yang tertua di Jepang, yakni berusia lebih dari 1000 tahun. (gila bener ya.. bisa bertahan ribuan tahun)… Di Jepang, banyak hot spring yang berasal dari air panas alami. Aku sendiri selama di Jepang belum pernah mencoba mandi air panas di onsen. Kali ini pun bukan untuk mandi, tetapi untuk melihat satu art performance di hotel Takaraso yang berlokasi di seputaran Dogo. Kebetulan saat ini sedang ada suatu penampilan seni dari seniman Jepang terkenal yang bernama Yayoi Kusama. Ia seorang disainer serbabisa yang terkenal dengan pola polkadot dan bentuk labu/pumpkin. Terus terang aku juga baru dengar sekarang ini hehe… Di Jepang itu ada saja hal-hal yang kadang tidak terbayang sebelumnya… Apa sih bagusnya pola polkadot dan labu? Tetapi ketika dijadikan suatu karya seni ternyata menarik juga…

Di kamar yag didekorasi dengan polkadot merah

Di kamar yang didekorasi dengan polkadot merah

Untuk menyaksikan hasil karyanya kami harus pesan tempat dulu dan mendapat waktu pukul 12.20 waktu setempat, bayarnya 1000 yen. Akhirnya aku dan Kyoko mendapat kesempatan masuk ke kamar yang dimaksud selama 15 menit bersama 3 orang pengunjung lain… Dan…woww... menarik dan tidak terbayang sebelumnya di kepalaku… ! Seisi kamar didekorasi dengan indah dan unik dengan pola polkadot dan pumpkin.. Tapi aku sih tidak kebayang bisa tidur di kamar hotel yang didekorasi semacam ini hehe….. Nampaknya sih seniman ini memang orangnya unik dan “gila”. Selain dekorasi kamar, ia juga mendisain baju atau T-shirt dengan motif-motif polkadot dan pumpkin yang tidak biasa… Anyway, sungguh menarik… !!

Pola polkadot dan pumpkin yg unik

Pola polkadot dan pumpkin yg unik

Salah satu ciri khas Yayoi Kusama adalah pumpkin

Salah satu ciri khas Yayoi Kusama adalah pumpkin

Selepas dari sana, Kyoko mengajakku makan siang di sebuah restoran tradisional Jepang, dan makanannya Jepang banget. Tapi jangan dikira aku ditraktir ya… kalau yang ini kami bayar sendiri-sendiri hehe.. tapi tak apalah, sudah senang bisa diajak jalan-jalan ke tempat menarik. Sorenya aku pulang naik densha ke kampus. Sayangnya aku belum sempat ketemu bapak penjaga stasiun Kume yang dulu, setiap aku lewat, beliau tidak kelihatan jadi aku belum sempatkan mampir.
Well, untuk kali ini cukup dulu ceritanya. Pekerjaan di lab menanti lagi….





My Note (1): Napak tilas ke Ehime Daigaku

24 10 2014

Dear kawan,
It is exciting time untuk menginjakkan kaki lagi ke negeri sakura, tepatnya di Ehime, tempatku belajar untuk program doktoral 14 tahun yang lalu.. Sebenarnya ini adalah kali ketiga aku berkunjung ke Ehime lagi sejak aku lulus S3 th 2001 yang lalu, yaitu tahun 2005, tahun 2009, dan kali ini. Prof Maeyama (aku menyebutnya Maeyama sensei) mengundangku tahun ini untuk visiting Ehime lagi melalui grant dari Fujii. Sebenarnya Sensei mengundangku pada bulan Juli yang lalu, tapi aku menawar untuk bulan Oktober ini. Di samping ada kesibukan lain, bulan Juli adalah bulan puasa. Berpuasa sendirian di musim panas yang siangnya lebih panjang dari malamnya di negeri orang… hadeuuuh… kalau bisa ngga usah deh… Beraat !!  🙂   Aku pilih bulan Oktober karena sudah masuk musim gugur dan hawanya sejuk….

Sampai juga ke Matsuyama
Persiapan yang terberat sebelum pergi ke Jepang bukanlah apa yang harus kukerjakan di sana, tetapi menyiapkan hati untuk meninggalkan keluarga dalam waktu sekitar 2 mingguan. Terutama si bungsu Hanna yang baru 3 tahun dan selalu lengket denganku, dan kakak si bungsu, Dhika, yang setiap hari aku antar dan jemput sekolah. Belum lagi ayahnya juga baru pergi ke Turki untuk seminar dan baru pulang di hari yang sama dengan aku berangkat.. Tapi akhirnya sampai jugalah pada hari aku harus berangkat, tgl 20 Oktober 2014.
Tangisan heboh Hanna di Bandara Adisucipto mengiringi keberangkatanku ke Osaka via Denpasar. Sempat sedih dan ngga tega.. but the show must go on. Alhamdulillah, sesampai di Denpasar aku pantau kondisi rumah via BBM, anak-anak sudah tenang… Bandara Ngurah Rai menurutku kurang begitu nyaman untuk transit jika pergi keluar negeri, karena jarak antara bandara domestik dan internasionalnya cukup jauh. Lumayan ngos-ngosan juga aku berjalan, karena aku mendarat di Ngurah Rai sudah hampir jam 23, sementara boarding time untuk perjalanan ke Osaka adalah pukul 00.30 waktu setempat. Jadi tak sempat istirahat barang sejenak karena untuk mencapai gate-nya pun butuh waktu lama meskipun sudah dibantu naik golf-car. Namun syukurlah… akhirnya sang Garuda Indonesia pun melayang membawaku ke negeri sakura dan mendarat mulus di Kansai International Airport Osaka. Bersyukur juga bahwa proses imigrasi lancar sekali padahal aku pakai paspor hijau (soalnya 5 tahun lalu koperku sempat diperiksa padahal pakai paspor biru/dinas). Si petugas sekilas membaca dokumenku dan menanyakan apakah aku baru pertama ke Jepang, “Hajimete desu ka?” Aku bilang “Iie… Nihon ni bengkyo shimashita”… (tidak, dan aku pernah belajar di sini). “Sensei desu ka?” tanyanya ramah (tumben, biasanya serem-serem). “Haik, so desu ” jawabku… dan loloslah dari imigrasi… Dari Bandara Kansai aku segera naik bus ke Itami Airport, bandara domestik di mana aku akan terbang satu kali lagi menuju Matsuyama.

Yang paling kuharapkan saat sampai di Itami Airport adalah tetap keep connected dengan keluarga. Ternyata di Kansai maupun Itami tidak semudah di Bandara Incheon Korea yang di mana-mana wifi mudah didapatkan. Di Itami, ada tertulis free wifi, tapi sayangnya ketika kucoba ada password yang harus dientry-kan. Udah gitu Blackberry-ku low batt gara-gara sebelum berangkat Jogja mati lampu dan belum sampat ngecas, dan colokan yang kubawa tidak fit dengan colokan di Jepang yang ujungnya gepeng. Sempat desperate, tetapi untungnya kemudian menemukan public computer yang terkoneksi dengan internet sekaligus berfungsi sebagai charger. Tapi ngga gratis loh... per 10 menit kita bayar 100 yen. Untungnya aku bawa recehan yen sisa perjalanan sebelumnya. Yah, yang penting bisa segera berkabar ke rumah dan mendapat kabar pula dari rumah. Alhamdulillah, anak-anak semua manis dan manut selama ibu pergi…. Akhirnya aku tetap menggunakan nomor Indosatku selama di sini setelah aku set untuk dapat paket promo selama di luar negeri karena tidak mudah ternyata mencari nomer lokal di sini untuk pemakaian short term. Pasti kena roaming deh… tapi gak papalah sudah diniati, dan itu adalah bayaran untuk tetap keep in touch dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia, untuk urusan rumah dan pekerjaan..

Yang selalu aku kagumi dari Jepang adalah industri jasanya yang nomer satu. Pelayanan sangat ramah di mana-mana. Ketika di Bandara Itami aku menanyakan pada petugas tentang password wifi yang katanya free, dan mereka tidak tahu, mereka berusaha menanyakan pada yang tahu. Ketika akhirnya tetap tidak bisa connected, mereka meminta maaf dengan ramah atas ketidaknyamanannya. Bela-belain mendatangiku di tempat dudukku untuk menyampaikannya. Juga di saat lain ketika ke toko elektronik mencari spare part alat cukur jenggot pesanan suamiku, penjaga tokonya dengan ramah dan telaten melayani sampai aku mendapatkan apa yang kubutuhkan. Dalam urusan berjualan, mereka bahkan lebih Islami dari pada pedagang yang mengaku Islam… Dengan jujur mereka akan menyebutkan bahwa barang ini kurang baik atau lebih mahal, dan mencarikan altenatif lain. Atau jika ada makanan atau buah yang sudah mendekati expired time-nya, mereka memberi harga diskon. Kebiasaan yang terakhir ini yang sering aku manfaatkan dulu ketika masih tinggal di sini… Kalau belanja kebutuhan makanan, aku datang pada sore atau malam sepulang dari kampus, jadi bisa dapat harga-harga murah dengan kualitas masih memadai hehe... Maklumlah, pelajar miskin harus pandai-pandai mengirit…

Bersama Maeyama Sensei di Matsuyama Airport

Bersama Maeyama Sensei di Matsuyama Airport

Sebuah pesawat kecil berbaling-baling membawaku dari Itami Airport ke Matsuyama. Sayangnya badanku sedang tidak begitu fit, bahu dan leher pegal-pegal sampai merambat ke kepala. Sedikit pening, jadi aku tertidur saja saat di pesawat. Sesampai di Matsuyama Airport, Maeyama Sensei dan Rizal sudah menjemput. Setelah makan udon sebentar untuk lunch, aku diantar ke Guest House di Ehime Univ School of Medicine, kampusku dulu. Tidak sangat banyak yang berubah di sepanjang perjalanan dari Airport ke kampus. Suasana musim gugur sudah mulai terasa, tetapi belum sangat berbeda. Pohon-pohon yang biasanya daunnya merah di musim gugur baru terlihat kuning. Aku masih mengingat jalan-jalan yang dulu pernah kami lalui dengan bersepeda di jaman kuliah… Beberapa masih sama, namun ada yang sudah berubah. Tapi yang paling berubah adalah kampusku sendiri. Guest house yang kutinggali adalah bangunan baru. Banyak renovasi-renovasi yang dilakukan yg mempercantik kampus.
Hari pertama di Matsuyama

Guest house tempat aku menginap, berlokasi di belakang kampus

Guest house tempat aku menginap, berlokasi di belakang kampus

Guest house tempatku menginap cukup nyaman dan lengkap. Lima tahun yang lalu ketika aku datang ke sini, aku menginap di Hotel kecil di depan kampus. Guest house atau semacam asrama ini diperuntukkan untuk mahasiswa luar kota dan juga ada kamar untuk tamu. Letaknya di bagian belakang kampus dekat stasiun. Oya, kalau aku pergi kemana-mana, yang tidak boleh lepas dari perhatian adalah toiletnya..hehe.. Bagaimanapun itu adalah salah satu hajat penting dalam kehidupan manusia. Untunglah toilet di negara-negara Asia seperti Jepang, Korea dan China yang pernah kukunjungi masih menggunakan air untuk bersih-bersih. Toilet di guest house juga bagus, ada alat penyemprot air elektrik yang harus ditekan untuk menyemburkan air, dan bisa diatur kecepatan maupun arahnya. Paling tidak enak adalah kalau ke Eropa, yang model toiletnya kering dan hanya pakai tissue… haduuh, pasti harus sangu botol buat persiapan bebersih… Untuk urusan cuci baju, di depan ruangku ada ruang umum untuk mencuci baju dengan mesin cuci ber-coin.

Ehime University School of Medicine.. dua pohon itu adalah pohon Ginkgo biloba

Ehime University School of Medicine.. dua pohon itu adalah pohon Ginkgo biloba

Pada hari pertama, rasanya kaya de javu balik ke kampus lagi.  Kampus tampak lebih cantik dengan banyak renovasi. Sayangnya musim gugur masih awal, kalau sudah menjelang musim dingin, daun pohon-pohon Ginkgo biloba di sekitar kampus akan berubah warna menjadi kuning, cantik sekali. Ketika masuk Lab (Pharmacology), sempat pangling juga. Lay out di lab juga jauh berubah. Yang surprising, Maeyama Sensei sendiri yang membereskan sebagian ruangannya dan menyiapkan meja untukku selama aku di sini.. Hadeuuh, hontoni arigatou gozaimasu, Sensei…!! Jadi ketika aku datang ke lab , aku mendapat meja di ruang Maeyama Sensei. Ada nyaman dan tidaknya … soalnya satu ruangan sama Sensei. Sungkan juga kalau pas Sensei ada aktivitas di ruangannya. Di Jepang, satu profesor membawahi satu Department/Laboratory, dan bertanggung-jawab penuh terhadap kegiatan penelitian di Lab, termasuk mencarikan dana penelitian. Semakin aktif Profesornya dan semakin banyak mahasiswanya, makin makmur lab-nya. Di Lab Maeyama Sensei ada satu associate professor dan satu assistant professor. Selebihnya adalah mahasiswa bimbingannya yang mengambil S2 atau S3.  Penelitian utama Sensei adalah tentang histamine research dan seputarnya.

Bekerja dengan kultur sel fibroblast di Lab

Bekerja dengan kultur sel fibroblast di Lab

Hari pertama itu aku mulai persiapan untuk penelitian. Oya, di sini aku mengerjakan satu penelitian sederhana untuk melihat pengaruh suatu ekstrak terhadap sintesis kolagen pada kultur sel fibroblast. Untung ada Rizal yang membantu menumbuhkan sel fibroblast sebelum aku datang, jadi bisa langsung kerja. Rizal adalah mahasiswa bimbingan skripsiku dulu yang pernah kuminta bantuannya mengerjakan satu proyek penelitian kerjasama dengan sensei di Ehime, dan akhirnya malah mendapat kesempatan S2 dan S3 di sini. Aku memang sudah mengkomunikasikan sebelumnya apa yang akan aku kerjakan selama di sini. Wah, rasanya excited sekali bisa ngelab lagi di sini, dengan kondisi lab yang lengkap dan ready for use, khususnya untuk bekerja dengan kultur sel. Hari itu aku menginkubasi sel fibroblast dengan ekstrak herbal yang aku bawa dari Indonesia, dan menunggu 48 jam.
Napak tilas ke Gintengai
Hari kedua aku masih menunggu inkubasi kultur sel, jadi punya waktu untuk jalan-jalan sebentar mencari pesanan. Oya, letak kampusku di daerah Shigenobu yang terletak di pinggir kota. Jadi kalau mau ke kota Matsuyama harus naik bus atau kereta (densha). Hari ini aku ditemani Rizal naik densha ke arah kota. Harga tiket kereta bahkan masih hampir sama seperti harga tiket 14 tahun yang lalu.. Bayangkan..!! Hanya naik sedikit, yang dulunya 450 yen sekarang jadi 475 yen. Aku masih selalu terheran-heran dengan harga di Jepang. Harga-harga hampir tidak pernah berubah berpuluh tahun. Harga o-sake bento (nasi dan lauk ikan salmon) kesukaanku harganya masih di angka 300-305 yen sejak tahun 2000 dulu. Sementara di negara kita, hampir tiap bulan tidak terasa harga beranjak naik, tau-tau sudah sekian kali lipat jika dilihat dari beberapa tahun sebelumnya.

Di shopping arcade Okkaido.. masih agak sepi karena bukan hari libur

Di shopping arcade Okkaido.. masih agak sepi karena bukan hari libur

Tempat belanja semacam shoping arcade yang terkenal di Matsuyama adalah Okkaido dan Gintengai. Di sana kita bisa jalan atau naik sepeda menyusuri pertokoan yang ada di kiri kanannya. Gintengai tidak banyak berubah dari yang terakhir aku kunjungi lima tahun yang lalu. Yang menarik di sini adalah Toko 100 yen. Ada beberapa toko 100-yen yang menjual aneka macam pernik-pernik dengan harga 100 yen. Wah, toko 100-yen ini kadang membuat nafsu belanja jadi menggila…hehe.. soalnya rasanya murah, dan banyak pernik-pernik unik yang ngga ada Indonesia.. Kreatif banget dan ngga terpikir deh di Indonesia, misalnya korok kuping dari bambu yang cantik dan nyeni bentuknya, kapas penyerap ingus yg disertai mentol untuk yg lagi pilek dan buntet, semacam penjepit untuk memperlebar rongga hidung untuk mencegah ngorok, dll… hehe... Kayaknya oleh-oleh korok kuping bagus juga buat yang pada suka ngga mau denger nasihat hahaha….. simbolik dan fungsional !!

Ujung dari Gintengai adalah Matsuyama-shi Eki atau stasiun kota Matsuyama. Selesai menyusuri Gintengai, aku pun pulang ke kampus Shigenobu menggunakan densha. Ketika tadi berangkat dan melewati stasiun Kume, aku melihat Bapak tua Penjaga Stasiun Kume ternyata masih ada. Wah, padahal 14 tahun yang lalu saja beliau sudah sepuh, entah berapa umurnya sekarang. Stasiun Kume adalah stasiun langgananku dulu jika berangkat ke kampus, karena kami dulu tinggal di sekitar Kitakume. Lima tahun yang lalu aku sengaja menjumpai beliau di stasiun Kume untuk berfoto. Tapi tadi aku belum sempat menemui beliau lagi. Ngomong-omong tentang usia orang Jepang, rata-rata usianya panjang bahkan mencapai 90-an. Di mana-mana sering kujumpai simbah-simbah sedang naik densha sendiri atau belanja di supermarket.. Ibu dari Maeyama Sensei bahkan sudah 97 tahun.. Apa ngga bingung yaa mau ngapain ….
Oke, sampai sini dulu ceritaku hari ini… besok disambung lagi kalau sudah ada cerita baru…





Lebaran sehat dan nyaman: Selamat Hari Raya Idul Fitri

26 07 2014

Dear kawan,

Kami sekeluarga menguapkan Selamat Hari raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin

Kami sekeluarga menguapkan Selamat Hari raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin

Lebaran sebentar lagi. Persiapan mudik dan acara di kampung halaman pastinya sudah disusun rapi. Ijinkan saya mengucapkan Selamat hari raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin. Namun di balik suka ria Lebaran, kadang terjadi berbagai gangguan kesehatan yang membuat acara menjadi sedikit kacau. Beberapa gangguan yang sering terjadi menjelang dan saat Lebaran antara lain adalah mabuk perjalanan saat mudik dan gangguan pencernaan seperti diare atau maag. Tulisan ini adalah kompilasi beberapa tulisanku sebelumnya, dengan versi lebih singkat, terutama terkait dengan aneka gangguan kesehatan mendekati lebaran, sebagai tips agar Lebaran kita sehat dan nyaman. Jangan lupa ya membawa obat-obatan pribadi supaya tidak repot di jalan atau di kampung halaman kalau …

Mabuk jalan
Mabuk jalan ini adalah suatu gangguan yang disebabkan oleh adanya gerakan, yang ditandai dengan dengan rasa mual, pusing, atau bahkan muntah ketika berada dalam perjalanan. Penyakit ini merupakan gangguan yang tejadi pada telinga bagian dalam (labirin) yang mengatur keseimbangan, dan disebabkan karena gerakan yang berulang, seperti gerak ombak di laut, pergerakan mobil, perubahan turbulensi udara di pesawat, dll. Beberapa orang bisa mengalami mabuk perjalanan jika menumpang mobil, bus, kapal, atau pesawat udara.
Bagaimana pengatasan mabuk perjalanan?
Jika Anda termasuk yang gampang mabuk perjalanan, ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan untuk mencegah mabuk jalan:
1. Naiklah kendaraan di bagian di mana mata Anda akan melihat gerakan yang sama dengan yang dirasakan oleh tubuh (jadi jangan duduk menghadap ke belakang misalnya, atau di samping, yang tidak searah dengan gerakan mobil). Kalau di mobil atau bus, duduklah di depan dan lihat ke depan. Sebagian orang akan mengalami mabuk perjalanan jika menumpang mobil, tapi tidak mabuk ketika menyopir. Mengapa? Karena pada saat menyopir pandangannya bisa fokus ke satu arah. Kalau di kapal, pergilah ke dek dan melihat gerakan horizon. Kalau di pesawat, duduklah dekat jendela dan melihat keluar. Juga duduklah di bagian dekat sayap, di mana gerakan terasa paling minimal. Jika di kereta api, pilihlah tempat di bagian depan dan dekat jendela.
2. Jangan membaca di kendaraan yang sedang berjalan, ini bisa memicu mabuk jalan. Termasuk juga main game menggunakan tablet atau iPad. Lebih baik mendengarkan lagu dengan mata tertutup.
3. Jangan melihat atau bicara dengan orang lain yang juga gampang mabuk jalan. Kadang mabuk jalan ini bisa “menular”
4. Hindari bau-bauan yang kuat yang bisa memicu mual
5. Hindarkan makan makanan berat, berbumbu tajam dan berlemak, terutama sebelum dan selama perjalanan.
6. Gunakan obat anti mabuk. Obat yang paling sering dipakai untuk mengatasi mabuk jalan adalah golongan antihistamin. Obat ini bisa mencegah mual, muntah, dan pusing akibat mabuk jalan. Antihistamin yang sering dipakai adalah dimenhidrinat (ada berbagai nama paten) atau meklizin. Obat sebaiknya diminum sebelum perjalanan dimulai. Ada studi melaporkan bahwa jahe bisa mengurangi mabuk jalan, jadi bisa juga dicoba minum wedang jahe atau mengulum permen jahe, walaupun mungkin hasilnya akan bervariasi antar orang.

Diare
Diare termasuk gangguan yang sering dijumpai menjelang atau pada saat Lebaran, yang biasanya disebabkan karena paparan makanan yang kurang higienis, baik dalam perjalanan mudik atau pada saat Lebaran. Diare ditandai dengan peningkatan frekuensi buang air besar (BAB) disertai konsistensi tinja yang cair, sehingga dapat menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan) dan kekurangan nutrisi. Jika terjadi dehidrasi yang berat, perlu waspada karena dapat berakibat pada kematian. Dehidrasi berat dapat dilihat dari tanda-tandanya antara lain: penderita terlihat sangat mengantuk/diam saja, atau bahkan tidak sadar, matanya cekung, tidak bisa minum atau minum sangat sedikit, jika dicubit, kembalinya kulit ke keadaan normal sangat pelan (lebih dari 2 detik). Kalau seperti ini tentu harus dibawa ke UGD dan mendapat terapi cairan secepatnya menggunakan infus.
Tapi untungnya sebagian besar diare itu merupakan self limiting disease, artinya dapat sembuh sendiri, dan terutama disebabkan karena virus yaitu rotavirus. Karena disebabkan oleh virus, maka penggunaan antibiotika sebenarnya tidak diperlukan. Untuk membedakan antara diare karena virus dengan diare karena bakteri secara sederhana dapat dilihat dari ada/tidaknya darah pada feses/tinja. Jika tinja diare mengandung darah, mungkin disebbakan karena bakteri, dan segeralah konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Bagaimana pertolongan pertama untuk diare?
Berikan cairan oralit sebagai pengganti cairan yang hilang, ditambah dengan makanan-makan yang berkuah seperti sop, sayur bening, atau air tajin. Pada bayi yang masih minum ASI, perkerap memberikan ASI, atau berikan susu yang lebih encer dua kali dari konsentrasi biasanya. Usahakan tetap memberikan makanan pada anak, untuk mengganti nutrisi yang terbuang. Makanan sebaiknya diberikan dalam porsi kecil tetapi lebih sering, dengan bentuk yang mudah dicerna. Hindari dulu makanan terlalu manis karena dapat meningkatkan keparahan diarenya. Oralit dapat dibeli di apotek, dan sebaiknya disediakan di rumah. Jika tidak ada oralit, bisa digantikan dulu dengan larutan gula-garam. Cara membuatnya, setengah liter air matang ditambah dengan sejimpit garam dan satu sendok teh gula. Aduk rata dengan sendok yang bersih. Sebaiknya dicicipi dulu, kira-kira rasanya adalah seperti airmata. Jika ada, berikan suplemen Zinc. Mulai tahun 2004, WHO-UNICEF merekomendasikan suplemen Zinc untuk terapi diare karena diketahui dapat mengurangi keparahan dan lamanya diare. Zinc sebaiknya diberikan sampai 10-14 hari, walaupun diarenya sudah sembuh. Zinc dapat diperoleh di apotek dalam bentuk sirop maupun tablet.

Maag
Keasyikan makan makanan tertentu apalagi yang asam dan pedas pada saat Lebaran dapat juga menyebabkan sakit maag kambuh. Sakit maag adalah istilah yang sering dipakai untuk menyebut gangguan pada lambung, walaupun sebenarnya gangguan lambung itu bervariasi dari sekedar iritasi, radang, sampai terjadi perlukaan atau bahkan sampai bocor. Radang lambung (gastritis) dapat disebabkan oleh adanya infeksi, iritasi, gangguan autoimun, atau aliran balik empedu ke lambung. Infeksinya bisa disebabkan oleh bakteri atau virus, sedangkan iritasi lambung bisa disebabkan karena makanan atau obat-obatan. Beberapa obat bisa menyebabkan iritasi lambung, seperti aspirin dan obat-obat anti inflamasi non-steroid (NSAID) seperti diklofenak, piroksikam, fenilbutazon, dll. Makanan yang terlalu asam dan terlalu pedas juga bisa menyebabkan iritasi lambung buat mereka yang peka. Beberapa iritan lambung yang lain antara lain adalah: alkohol, asam lambung yang berlebihan, dll.
Pengobatannya bervariasi tergantung penyebab spesifiknya. Jika disebabkan karena penggunaan aspirin atau obat lain, maka hentikan obatnya. Namun pada sebagian besar kasus gangguan maag, menetralkan asam lambung dengan antasid atau mengurangi produksi asam lambung dengan obat-obat penekan asam lambung biasanya sangat membantu mengatasi gejala.

Apa saja obatnya?
Beberapa obat yang sering digunakan untuk menetralkan asam lambung dan mengurangi produksi asam lambung antara lain adalah:
1. Antasid
Obat ini umumnya berisi Al hidroksida dan Mg hidroksida, ada juga yang berisi CaCO3 yang bersifat basa, dengan tujuan menetralkan keasaman lambung. Obatnya ada yang berupa suspensi (cairan) dan ada yang berupa tablet kunyah. Untuk obat bentuk suspensi, jangan lupa kocok dahulu sebelum diminum supaya homogen. Untuk tablet kunyah, kunyah hingga halus sebelum ditelan agar efeknya lebih cepat. Sebaiknya tidak dipakai lebih dari 2 minggu, jika nyeri masih berlanjut, periksakan ke dokter. Antasid umumnya cukup poten untuk gangguan lambung yang masih ringan.
2. Antagonis histamin H2
Golongan berikutnya adalah yang bekerja memblok reseptor histamin. Histamin adalah senyawa dari dalam tubuh yang bisa memicu sekresi asam lambung. Jika reseptornya diblokade, maka histamin tidak bisa bekerja, dan produksi asam lambung berkurang. Contoh obatnya adalah : simetidin, ranitidin, famotidin, dan nizatidin. Saat ini yang lebih banyak dipakai adalah ranitidin dan famotidin, karena simetidin memiliki lebih banyak efek samping dan lebih banyak berinteraksi dengan obat-obat lain.
3. Penghambat pompa proton
Obat ini bekerja pada pompa proton yang merupakan tempat keluarnya proton (ion H) yang akan membentuk asam lambung. Karena bekerja langsung di pompa proton, obat ini lebih poten daripada golongan antagonis H2, contohnya adalah: omeprazol, lansoprazol, dan pantoprazol. Obat-obat ini harus diperoleh dengan resep dokter. Obat ini umumnya diminum 2 kali sehari, pagi dan malam sebelum makan. Obat ini lebih poten daripada antagonis histamin H2 karena langsung memblok pada pompa pengeluaran asam.
4. Pelindung mukosa lambung dan duodenum
Ada obat yang bekerja melapisi permukaan mukosa lambung, sehingga melindunginya dari asam lambung. Contoh obatnya adalah sukralfat dan sediaan bismuth.

Apa yang perlu diperhatikan penderita gangguan lambung?
1. Perhatikan faktor perusak lambung, dan sebisa mungkin dihindarkan, seperti pemakaian obat-obat NSAID, alkohol, steroid, dll
2. Hindarkan makanan-makanan yang terlalu pedas atau asam. Kurangi makanan yang mengandung protein hewani karena dapat memicu produksi asam lambung
3. Perhatikan waktu minum obatnya. Sebagai contoh, obat yang mengandung sukralfat akan mengurangi absorpsi obat lain. Karena itu, minumlah obat lain dulu, baru gunakan sukralfat 30 menit kemudian.
4. Dalam kondisi kronis, tukak lambung sering kambuh sehingga harus sering minum obat. Tidak perlu terlalu kuatir efek sampingnya, karena manfaat obatnya melebihi risiko efek sampingnya. Jika memang ada efek samping yang tidak bisa ditoleransi, sampaikan pada dokter untuk memberikan alternatif obatnya.

Demikian beberapa gangguan kesehatan yang sering terjadi semasa Lebaran dan cara pengatasannya. Semoga Lebaran Anda tetap nyaman tanpa gangguan.





Catatan dari Farmasi Mencari Bakat: otak kiri vs otak kanan, mitos apa realita?

12 10 2013

Dear kawan,

Hari ini aku didapuk menjadi salah satu juri untuk sebuah ajang pencarian bakat tingkat fakultas “Farmasi Mencari Bakat (FMB)” dalam rangka Dies Fakultas Farmasi UGM tahun ini. Wah, suer… sebuah pengalaman asyik bisa menikmati dan menggali bakat-bakat seni para mahasiswa farmasi yang kadang tak terduga. Sungguh, even semacam ini bener-bener  menyegarkan, mengingat bahwa ruang lingkup kegiatan mahasiswa Farmasi pada umumnya hanya berkisar dari kuliah, pretest, praktikum, bikin laporan, dan ujian, wajahnya serius-serius, sampai bentuknya segi-enam kayak cincin benzena… hehe..

Dalam ajang ini ada berbagai performance, baik yang perseorangan dan berkelompok. Beberapa yang menarik aku tuliskan catatannya di sini. Maaf, ngga terulas semua, karena lupa dan ngga punya catatan….

Para penampil FMB

Penampilan yang cukup koplak disajikan oleh Cynthia Goceng… Aduh anak ini pe-de abis… nama panggungnya saja sudah konyol. Lebih cocok jadi komedian ketimbang penyanyi, walaupun dia mendaftarkan diri untuk menyanyi. Suaranya emang ngga masuk hitungan haha…. tapi penguasaan panggungnya oke banget dan penampilannya menyegarkan. Mungkin nanti bisa bergabung sama Opera van Java bareng Sule cs…

Penampilan group Sweet memory yang apik

Penampilan group Sweet memory yang apik

Penampilan seru lainnya ditunjukkan oleh group Sweet memories, yang akhirnya memang menjadi juara pertama. Diawali dengan tembang Pangkur yang indah dan merdu sekali, group ini kompak banget membawakan beberapa lagu daerah. Penguasaan alat musik dan panggungnya juga oyeeRuarr biasaa…!!!

Penampil yang lain ada yang menunjukkan bakatnya main wushu, berteater ria, drama, dan menari. Semuanya asyik-asyik… memang ada yang kurang latihan jadi kelihatan kurang kompak, tapi dari segi semangat dan kreativitasnya semuanya bagus. Untuk dance, kayaknya goyang a la Caesar yang lagi jadi favorit… beberapa grup menampilkan tarian Caesar yang dipadukan dengan tari lainnya.

Nah, penampilan yang terakhir menurutku sangat memukau. Mahasiswa angkatan 2013, Dandi, dengan suara bass-nya yang luar biasa sangat menghibur. Aduuh, Afgan dan Cakra Khan lewat deeeh…. Di awal ia memainkan keyboard sendiri sambil menyanyi. Wuih, suaranya bikin merinding… bagus banget. Dan akhirnya para penonton malah minta lagi dan lagi… dan akhirnya artis dadakan kita ini menyanyikan dua lagu lagi yang keduanya sangat ciamik….

Begitulah, acara berjalan seru dan mengesankan. Aku tidak boleh lupa menyebutkan juga bahwa penampilan duo MC-nya sangat asyik juga dalam membawakan acara dan menyegarkan suasana. Good job, guys!

Kegiatan-kegiatan semacam ini kurasa sangat perlu, untuk dapat menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan…. Kita sering mendengar bahwa orang yang dominan “otak kiri”-nya akan memiliki personalitas sebagai pemikir, logis dan berorientasi pada detail dan analitis, sedangkan orang “berotak kanan” lebih berperilaku kreatif, nyeni, penuh pertimbangan, dan subyektif. Wait…. tapi apa emang benar tuh ada istilah otak kiri dan otak kanan yang fungsinya berbeda?

Otak kanan vs otak kiri : mitos belaka

Otak adalah organ tubuh yang sangat penting untuk menerima suatu input, mengolahnya dan menjadikannya suatu output yang mempengaruhi seluruh aktivitas tubuh kita, baik disadari atau tidak. Selama bertahun-tahun dalam budaya populer, istilah berotak kiri dan berotak kanan digunakan untuk merujuk pada tipe kepribadian, dengan asumsi bahwa sebagian orang lebih banyak menggunakan sisi kanan otak mereka, sementara sebagian lagi  lebih banyak menggunaan otak kiri, dan itu tercermin dalam kepribadiannya.

Pemahaman ini berangkat dari penemuan seorang pemenang Nobel  di bidang fisiologi kedokteran pada tahun 1981, Roger Sperry, yang menyatakan bahwa otak manusia terbagi menjadi dua hemisphere, kanan dan kiri, yang memiliki fungsi yang berbeda. Tentang hal ini sudah pernah aku tuliskan pada tulisanku empat tahun yang lalu ketika kami menggelar konser di fakultas.. (klik di sini). Namun ternyata, pemahaman mengenai adanya perbedaan peran otak kiri dan otak kanan nampaknya harus direvisi saat ini. Lha kok?

Teori otak kanan vs otak kiri perlu direvisi

Teori otak kanan vs otak kiri perlu direvisi

Setelah studi selama dua tahun, Jeff Andersen, peneliti neurosains dari Universitas Utah telah mematahkan mitos tentang otak kiri dan kanan dengan mengidentifikasi jaringan tertentu di otak kiri dan otak kanan yang memproses lateralisasi fungsional. Lateralisasi fungsi otak maksudnya adalah bahwa ada proses mental tertentu yang terutama terjadi pada otak kiri atau otak kanan.Selama studi, peneliti menganalisis hasil scan otak dalam kondisi istirahat dari 1.011 orang berusia antara tujuh sampai dua puluh sembilan tahun. Pada setiap orang, timnya mempelajari lateralisasi fungsional dari otak diukur pada ribuan daerah otak, dan menemukan bahwa tidak ada hubungan  preferensi seseorang utk lebih sering menggunakan jaringan otak kiri atau otak kanan.

Jeff Anderson mengatakan “ Memang benar bahwa beberapa fungsi otak terjadi pada satu atau sisi tertentu dari otak. Misalnya fungsi bahasa cenderung berada di sebelah kiri, sedangkan perhatian lebih di sebelah kanan. Tetapi orang tidak cenderung memiliki jaringan otak kanan atau kiri yang lebih kuat. Nampaknya lebih ditentukan oleh koneksi antar jaringan.” Penelitian Pak Anderson ini telah diterbitkan bulan Agustus 2013, dengan judul  “An Evaluation of the Left-Brain vs. Right-Brain Hypothesis with Resting State Functional Connectivity Magnetic Resonance Imaging.”

Dalam penelitian ini, subyek direkam aktivitas otaknya menggunakan MRI. Otak kemudian dibagi ke dalam 7000an area, dan peneliti mengamati area otak mana yang lebih terlateralisasi fungsinya. Semua jaringan di otak diukur. Dan semua kombinasi yang mungkin dihubungkan dengan setiap bagian otak yang sudah dilaterisasi kiri dan kanan. Hasilnya menunjukkan bahwa suatu koneksi otak mungkin bisa terlaterisasi secara kuat pada kanan atau kiri. Tetapi tidak ada hubungan bahwa seseorang itu lebih sering menggunakan otak kiri atau otak kanan. Dan singkatnya, menurut hasil penelitian ini tipe personality  tidak ada hubungannya dengan hemisphere otak mana yang lebih aktif, kuat atau terkoneksi.

So?

Well, hasil penelitian ini memang jadi mematahkan teori tentang fungsi otak kiri dan otak kanan kaitannya dengan personality seseorang. Tapi itu ngga ngaruh kaan? Maksudku, terlepas dari teori otak kiri atau kanan, tetap dalam hidup itu yang paling bagus itu adalah jika ada keseimbangan… antara ilmiah dan seni, antara logika dan rasa, antara jiwa dan raga…. Biar hidup ngga miring, kering dan garing…..

Ayoo, gali terus bakat-bakat seni yang terserak supaya hari-hari di Farmasi UGM menjadi lebih semarak…

Ciao…. !!

Sumber: http://www.medicalnewstoday.com/articles/264923.php

http://www.livescience.com/39373-left-brain-right-brain-myth.html





Catatan Perjalanan: A Long Way to Bumi Lorosae

25 08 2013

Dear kawan,

IMG-20130823-00482Undangan kali ini kepadaku sebagai Pemateri pada acara Sertifikasi Kompetensi Profesi Apoteker (SKPA) yang diselenggarakan PD Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Nusa Tenggara Timur (NTT) sedikit berbau nepotisme… Lho kenapa?..Ya, karena yang mengundang adalah kawanku satu angkatan kuliah dulu, yaitu Yoseph Nahak Klau, putra Timor asli yang sekarang menjadi Ketua PD IAI NTT. Whatever deh… ini kan bagian dari membangun jejaring dan (saling) memanfaatkan teman hehe… Aku sendiri senang bisa mengunjungi Kupang untuk yang pertama kalinya. Tentunya aku juga berharap kawan sejawat disini bisa memanfaatkan materi yang aku sampaikan selama SKPA. Tulisan ini adalah catatan perjalananku sebagai bagian dari dokumentasi hidup dan cerita buat anak cucu..

Good lesson: ketinggalan pesawat !!

Tiket sudah dikirim beberapa hari sebelumnya oleh Panitia. Materi seminar sudah aku siapkan dan aku kirimkan ke panitia beberapa hari sebelum acara. Anak-anak dan ayahnya sudah aku beritahu bahwa week end ini aku ngamen ke Kupang. Terutama aku juga harus menyiapkan si bungsu untuk ditinggal dua malam tiga hari bersama mbak pengasuhnya. Everything looks smooth and well… Sampailah di hari H. Pagi-pagi tgl 22 Agustus  jam 06.15 aku berangkat ke bandara diantar suami sekalian mengantar anakku sekolah. Perjalanan ke Kupang akan aku jalani dengan pesawat Garuda via Denpasar.

Pesawat Garuda yang membawaku ke Denpasar berangkat on time dari Yogya. Nah, di sini aku sudah mulai agak ceroboh nih... aku boarding paling belakangan karena keasyikan kirim-kirim e-mail saat menunggu di ruang tunggu. Untungnya ngga sampai ditinggal pesawat. Pesawat mendarat di Denpasar sekitar jam 10:15an. Bandara Ngurah Rai sedang berbenah dan direnovasi, sehingga terlihat masih agak semrawut.

Di pesawat aku ketemu kawan Pengurus Pusat IAI, Pak Nunut Rubiyanto, yang juga akan bertugas pada acara SKPA di Kupang. Nah, disini terjadilah lagi “kecerobohan” atau tepatnya “kesantaian” kedua… Boarding time untuk pesawat ke Kupang adalah pk 10.45 WITA. Tapi waktu itu kami, aku dan Nunut, malah mampir ke lounge dulu untuk sekedar minum, dan berpikir bahwa nanti kan ada panggilan masuk pesawat. Akhirnya ketika ada panggilan akhir masuk pesawat, beranjaklah kami ke gate 20.

Pesawat Garuda yg nyaris membawaku ke Surabaya

Pesawat Garuda yg nyaris membawaku ke Surabaya

Gate 20 utk pesawat menuju ke Kupang bersebelahan dengan gate 19 untuk pesawat ke Surabaya. Karena kami memang boarding belakangan, saat tiket kami di-screen barcode-nya sudah tidak banyak lagi penumpang yg menuju ke Kupang. Aku pun masuk lewat gate 20. Tapi suer…. di situ tidak ada petunjuk dan petugas yang mengarahkan atau menunjukkan harus kemana, sementara di sebelah kami melihat barisan penumpang yang masuk via gate 19. Antara jalur gate 20 dan 19 ada pembatas namun agak terbuka. Dengan pede saja aku dan Nunut mengikuti barisan penumpang yang terlihat, yang akan diangkut menggunakan bus menuju pesawat. Kamipun naik bus sampai ke pesawat Garuda dan aku bahkan sudah naik pesawat. Semuanya nampak baik-baik saja, sampai ketika aku sudah duduk sesuai dengan nomor tiket.. terdengar pengumuman ”Selamat datang pada penerbangan Garuda GA sekian sekian  menuju Surabaya”… Whattss ??!!! Ke Surabaya??? Aku kan mau ke Kupang… Buru-buru aku turun, dan Nunut kebetulan masih di luar pesawat karena menyadari lebih dulu bahwa kami salah pesawat. Nah, masalahnya di sini…. ketika terjadi kejadian tersebut, petugas yang in charge di situ tidak tanggap dan tidak segera melakukan tindakan yang seharusnya, misalnya segera kontak ke bagian pemberangkatan untuk menahan dulu pesawat ke Kupang misalnya, karena pesawat ke Kupang masih ada di bandara. Kami dibawa lagi ke gate 20 dengan mobil, tapi nampak sekali petugasnya tidak melakukan aksi yang diperlukan. Malah dikatakan bahwa pesawatnya sudah mulai jalan. Sementara yang mengherankan juga, kenapa pesawat ke Kupang tetap berangkat sementara masih ada dua penumpang yang tertinggal dan kami juga tidak dipanggil atau dikontak. Singkat cerita…kami ketinggalan pesawat, sodara-sodara !!

Aduuh,…. agak lemes dan panik juga aku, dan pastinya kecewa dan menyesal. Sempat kepikir juga.. coba kalau tadi  langsung boarding aja, ngga usah santai-santai masuk lounge pasti ngga akan kejadian seperti ini. Tapi yah… kemudian aku mencoba berpikir positif bahwa ini jalan yang diijinkanNya terjadi padaku saat ini. Kalau Allah masih ijinkan aku ikut pesawat Garuda, pasti tadi tetap bisa terbawa, karena selisih waktunya sebenarnya masih bisa kalau ada tindakan yang tepat dan cepat dari petugas, wong pesawatnya masih di bandara. Pasti ada maunya Dia mengijinkan ini terjadi. Untung juga aku bareng Nunut yang berani ngeyel. Kami menuntut Garuda untuk mengganti penerbangan kami ke Kupang, karena peristiwa tadi bukanlah semata-mata kesalahan kami, tapi karena tidak ada petunjuk yang jelas dan tindakan yang adekuat ketika terjadi peristiwa nyasar tadi. Dan kami kan juga bukan orang yang baru sekali dua naik pesawat…hehe.. Setelah cukup ngotot, akhirnya pihak Garuda mau mencarikan penerbangan pengganti. Sayangnya flight ke Kupang dengan Garuda sudah tidak ada lagi, jadi kami harus pakai maskapai lain. Setelah sempat harap-harap cemas, alhamdulillah akhirnya kami bisa mendapat penerbangan ke Kupang menggunakan Merpati, pukul 15.15 WITA. Duuh, lega banget lah… karena kan penerbangan ke Kupang frekuensinya tidak banyak.. aku sudah kuatir juga membayangkan harus menginap di bandara kalau ngga dapat pesawat.

Sungguh pengalaman yang sedikit menegangkan… tapi benar-benar menjadi pelajaran yang berharga, bahwa aku harus lebih cermat, tidak menyepelekan waktu, dan tidak segan bertanya untuk konfirmasi mengenai apa yang akan kujalani terkait dengan perjalananku seperti jurusan bus di bandara, pesawat, waktu, dan lain-lain. Untunglah kami tidak harus rugi finansial, hanya rugi waktu saja karena perjalanan jadi tertunda sekitar 4 jam.

Sampai di Bumi Lorosae

Merpati melayang mulus membawa kami menuju bumi Lorosae. Kawan-kawan di Kupang menjemput kami di Bandara El Tari Kupang. Ada Aji dan Mbak Fatmawati Blegur, yang semuanya adalah alumnus S2 dari UGM, dan mbak Fatma bahkan bimbinganku thesis ketika belajar di Magister Farmasi Klinik. Mentari sudah semburat jingga hampir terbenam ketika aku menginjakkan kakiku pertama kali di Kupang. Alhamdulillah, akhirnya….sampai juga aku ke Pulau Timor yang jauh. Tak kusangka…

Pantai indah di belakang restoran Nelayan

Pantai indah di belakang restoran Nelayan

Pagi dan siang harinya aku sempat berkeliling sebentar di kota Kupang. Kotanya berbukit-bukit di pinggir laut, dan ternyata berada di atas batu-batu karang. Tidak banyak pohon yang bisa tumbuh baik disitu. Yang menarik, ada pohon spesial yang bisa tumbuh di atas tanah berkarang, yaitu pohon gamal (Gliricidia sepium). Sayangnya aku datang pada bulan yang tidak tepat, karena saat ini pohon gamal belum berbunga. Aku hanya menjumpai satu dua pohon gamal yang mulai berbunga.  Hanya pohon dengan dahan, tanpa daun, dipenuhi bunga-bunga berwarna pink keputihan.., mirip bunga sakura. Di sepanjang jalan dari/menuju Bandara, aku melihat deratan panjang pohon gamal yang sudah tua, membentuk semacam kanopi hidup. Aku sudah bisa membayangkan betapa indahnya saat pohon gamal berbunga. Mungkin seperti musim sakura di Jepang.  Berada di Kupang aku merasa bukan seperti di Indonesia hehe…. seperti di negara empat musim saja. Kata Aji, kawan di sana, di Kupang memang ada 4 musim, yaitu musim hujan, sedikit hujan, panas, dan sedikit panas… 🙂  Saat aku datang ini termasuk sedang musim panas, jadi terlihat gersang karena rumput-rumput menjadi kering kecoklatan, pohon-pohon meranggas menggugurkan daun-daunnya. Tapi katanya pada bulan-bulan tertentu ada musim angin yang cukup kencang yang berasal dari Australia. Walau tidak sempat mampir lama-lama, aku sempat melihat keindahan pantai Kupang yang masih asri dan bersih dan tidak lupa mengabadikan keindahannya.

Acara Seminar, SKPA, dan Kuliah Pakar

Acara SKPA dan Seminar yang diselenggarakan oleh kawan-kawan IAI PD NTT pada tanggal 23-24 Agustus di Hotel T-More cukup ramai dan meriah. Di awali dengan tarian khas Timor untuk menyambut tamu, dan sambutan-sambutan yang lumayan berderet  🙂 , akhirnya acara inti dimulai. Yang menarik, aku dan beberapa tamu Pengurus IAI dan narasumber lain disambut dengan kalungan selempang khas Timor, yang itu merupakan budaya dalam menyambut kedatangan tamu. Aku memberikan materi mengenai Farmakoterapi pada Infeksi Saluran Pernafasan, meliputi common cold, sinusitis, pharyngitis, bronkitis, pneumonia, dan TB, yang menjadi bahan ujian kompetensi apoteker dalam SKPA tersebut. Bersama aku ada dokter spesialis THT yang juga menjadi narasumber. Selain materi utama, ada materi tambahan mengenai malaria dari pakar malaria di NTT. Aku sangat mengapresiasi semangat dan kerja keras panitia dan juga semangat peserta dalam mengikuti acara ini, yang dikuti oleh sekitar 170 orang peserta SKPA. Acara agak molor, tapi overall semuanya berjalan sukses dan lancar. Senang juga aku bisa bertemu beberapa kawan sealmamater, adik kelas, mantan mahasiswa, dan juga kawan-kawan baru di sini.

Bersama Pengurus IAI Pusat, IAI PD NTT, Kepala Dinkes, narasumber, dan panitia

Bersama Pengurus IAI Pusat, IAI PD NTT, Kepala Dinkes, narasumber, dan panitia

Pada tanggal 24 Agustus, sembari kawan-kawan apoteker peserta SKPA mengerjakan ujian kompetensi, aku diundang oleh STIKES Citra Husada Mandiri Kupang (CHMK)  untuk memberikan kuliah pakar. STIKES CHMK adalah salah satu sekolah tinggi bidang kesehatan di Kupang yang memiliki prodi D3 kebidanan dan S1 Keperawatan, dan rencananya (dalam proses) pendirian prodi S1 Farmasi. Ketika aku diundang kesana via Yoseph, aku agak bingung juga karena audiens-nya kan mahasiswa bukan farmasi. Akhirnya kupilih topik yang menurutku cukup pas yaitu Interprofesional education – strategi pendidikan kesehatan terkini. Aku ingin mendorong kawan-kawan yang bekerja dalam pendidikan tenaga kesehatan bahwa pendidikan antarprofesi ini sangat perlu dimulai untuk mendasari kerjasama kolaboratif  antar profesi nantinya jika sudah ada di lapangan kerja.

Aku cukup surprised ketika sampai di STIKES CHMK, ternyata peserta kuliah tamunya banyak sekali.. mereka mahasiswa Prodi S1 keperawatan dan D3 kebidanan, semua menggunakan seragam hijau. Dan mereka menyambutku dengan hangat dan meriah, pakai tepuk tangan dan berdiri, kaya menyambut menteri aja hehe…. mungkin memang budayanya gitu yaa… Ketua/Direktur STIKES CHMK Drg. Jefrey, MKes sendiri yang langsung membuka acara dan memandu diskusi acara. Dan alhamdulillah, topik yang kusampaikan mendapat sambutan dan tanggapan yang baik, karena memang pas untuk membangun mindset pendidikan antar-profesi ini. Dan STIKES adalah tempat yang tepat jika ingin memulai karena mereka merupakan institusi pendidikan kesehatan yang diatur oleh satu manajemen. Tinggal political will-nya bagaimana dari pimpinan.

Yang menarik, ketika aku tanya kepada para mahasiswa peserta kuliah pakar…. “Di antara tenaga kesehatan : dokter, perawat, apoteker, bidan, dll, mana yang levelnya paling tinggi?” … Beberapa spontan menjawab : “Dokter!”. Aku bilang “ Itu tidak tepat, semuanya selevel… hanya berbeda kewenangan dan kompetensinya dalam memberikan pelayanan kesehatan. Dan semestinya antar tenaga kesehatan saling berbagi peran dalam memberikan pelayanan kesehatan, dan tidak perlu ada arogansi salah satu profesi atau sebaliknya kurang confidence-nya profesi lain.”

Wisata kuliner

Seperti biasanya jika pas ada undangan ke luar kota, apalagi yang jauh dan beda budaya, wisata kuliner adalah bagian yang paling kusukai..hehe.. jadi harap maklum kalau ngga bisa kurus-kurus. Malam ketika pertama datang, kami diajak ke restoran Nelayan, salah satu restoran sea food yang ada di pinggir laut. Aneka makanan sea food pun dihidangkan. Yang khas di Kupang adalah tumis atau ca bunga pepaya, serta masakan ikan kuah asam.  Masakannya enaak…!! Sebelum berangkat ke Kupang, aku sudah diberi info oleh suami bahwa katanya yang paling enak itu ikan kerapu hitam bakar dan salad tuna, aku harus mencoba…. hmmm… (alhamdulillah, kedua makanan tersebut sempat aku temukan dan cicipi pada hari terakhir, siang sebelum ke bandara. Mak nyusss !!).

Ikan kerapu hitam bakar..

Ikan kerapu hitam bakar..

Malam kedua, kami dibawa dining out lagi pada restoran lainnya. Kali ini aku mencicipi ca sei. Sei adalah daging asap khas Kupang. Pokoknya kalau sudah urusan kuliner pasti deh aku cobain semua… Anakku pesan supaya dibawain ikan kerapu hitam bakar untuk oleh-oleh.. Dan alhamdulillah, dapat juga oleh-oleh pesanan itu dari Mbak Fatmawati. Terimakasih yaa….

Singing and dining

Singing and dining

Satu yang menarik adalah di kedua tempat kami makan malam, ada organ tunggal yang mengiringi penyanyi menghibur tetamu. Langsung deh, “naluri penyanyi kamar mandi”-ku timbul dan jadilah aku menyanyi beberapa lagu hehe… Di samping adalah hobby, itu sebenarnya adalah salah satu cara asyik supaya tidak kebanyakan makan dan menjadi gendut hehe… Jadi, dalam wisata kuliner, yang penting semua makanan udah dicicip, tapi tetap harus dibatasi biar tidak kebanyakan….

Kembali ke Yogya

Demikianlah catatan perjalananku ke Kupang yang cantik. Terimakasih atas keramahan dan sambutan teman-teman di Kupang. Pastinya tidak akan kapok untuk datang lagi ke Kupang suatu saat nanti. Sabtu siang aku pun meninggalkan Kupang dengan aneka kenangan manis. Kali ini aku perhatikan betul jadwal pesawat supaya tidak ketinggalan. Waktu 3 jam transit di Bandara Ngurah Rai aku habiskan di lounge sambil menyicil catatan perjalanan ini….

Kini waktunya kembali lagi ke dunia nyata dengan daftar pekerjaan yang panjang. Insya Allah bertemu lagi dalam catatan perjalanan berikutnya.. Jadwal long  journey terdekat yang sudah confirmed adalah ke Padang, Insya Allah….