Catatan perjalanan (1): Jogja-Groningen

23 03 2009

Dear kawan,

Alhamdulillah, sampai juga aku dan rombongan di Belanda, mengingat bahwa sebelumnya kami sempat senam jantung dalam persiapannya, bahkan in the last minute sebelum berangkat. Kami pergi dalam acara benchmarking (semacam studi banding-lah), tentang University Teaching Hospital di Groningen. University Medical Center Groningen ini termasuk yang yang cukup terbuka untuk dipelajari, dan UGM khususnya Fakultas Kedokteran sudah memiliki hubungan kerjasama yang baik dan cukup lama. Saya sendiri dari Fak Farmasi kebetulan menjadi salah satu anggota tim Pengembangan University Teaching Hospital UGM. Tim kami berisi lima orang, terdiri dari dokter, farmasis, ahli bidang laboratorium, ahli teknologi informasi dan arsitek, semuanya dosen UGM.

berpose-di-sudut-universitas-groningenBerpose di salah satu sudut Universitas Groningen

Rencana benchmarking bisa dibilang cukup mendadak diputuskan, karena hasilnya ini sangat dibutuhkan untuk rencana pembangunan bulan April, dan kita bergabung dengan delegasi Fakultas Kedokteran UGM yang memang sudah direncanakan lama berkunjung ke Groningen. Hanya ada waktu 20 hari untuk persiapannya, termasuk menyusun proposal benchmarking untuk mengeluarkan dana, menyusun TOR untuk benchmarking termasuk indicators apa saja yang mau dilihat, pengurusan exit-permit (ijin keluar negeri) karena kami memakai paspor dinas, dll.

Lumayan ketar-ketir juga ketika dana baru turun dua hari sebelum kami berangkat, exit-permit baru selesai sehari sebelum berangkat. Puncaknya adalah pada hari keberangkatan, tanggal 21 Maret. Route yang direncanakan adalah Jogja-Jakarta, Jakarta-Singapore-Amsterdam, Amsterdam-Groningen. Tapi apa yang terjadi ?

Perubahan rute pesawat

Hari Sabtu, cuaca yang sejak pagi terlihat cerah, siang berubah mendung. Jam 14, ketika aku berangkat ke Bandara, hujan turun deras sekali. Menjelang jam keberangkatan (mestinya jam 14.55), bandara Adi Sucipto bahkan ditutup karena derasnya hujan dan landasan tergenang air. Pesawat yang akan mendarat di Jogja dialihkan ke Surabaya. Kami harap-harap cemas menunggu, takut terlambat, karena pesawat Jakarta-Singapore dijadwalkan jam 19.00. Tapi….. sampai pukul 17an, tidak ada kepastian apakah Garuda GA 211 yang akan membawa kami jadi berangkat atau tidak. Sedangkan Garuda schedule berikutnya sudah full-booked. Untunglah, kami melihat ada Garuda Yogya-Singapore yang akan berangkat jam 18.30an. Akhirnya kami putuskan untuk ambil rute Jogya-Singapore, dan terpaksa harus beli tiket baru. Kami harus segera sampai ke Singapore, karena pemberangkatan ke Amsterdam adalah pukul 23.50 waktu setempat. Waduuh….. untuk ganti route itu setengah mati juga kalangkabut, karena waktunya sudah sangat mepet. Sampai tidak sempat bernafas. Masalah sempat muncul ketika salah satu anggota kami berangkat dari Jakarta, padahal tiket kami adalah group. Beliau mendapat kesulitan berangkat ke Singapura karena teman dalam groupnya (yaitu kami) tidak jadi memakai tiket Jakarta-Singapore. Jadilah beliau harus membeli tiket baru Jakarta-Singapore, untuk segera bertemu kami di Singapore.

Bandara Changi Singapore sangatlah luasnya. Kami berlari-lari lumayan jauh setelah mendarat, untuk menuju check in counter untuk keberangkatan ke Amsterdam. Belum lagi salah satu anggota tim yang berangkat dari Jakarta belum ketemu. Wah, pakai acara mencari dan menunggu juga. Pokoknya heroik deh…. Alhamdulillah, in the last minute sebelum boarding menuju Amsterdam, kami bisa kumpul semua dan masuk pesawat dengan selamat.

Penerbangan ke Amsterdam

Penerbangan ke Amsterdam memakan waktu sekitar 12 jam dari Singapore. Waduuh…… pantat sampai panas dan sakit duduk terlalu lama. Kami berangkat malam hari, dan malam hari yang dilalui terasa sangat panjang. Tentu saja, karena kami terbang menuju belahan barat, sehingga yang dilewati menjadi malam terus. Agak kurang nyaman, karena untuk tidur tentu juga tidak mudah di pesawat.

Aku ingat kejadian sebaliknya pada tahun 2000 dulu, waktu aku dan suami berangkat siang hari dari Jepang ke Italia, siangnya pun jadi sangat panjang…. 12 jam juga siang terus. Dan perjalanan menjadi asyik, karena kami bisa melihat pemandangan menakjubkan ketika kami berada di atas pegunungan salju di wilayah Rusia…

Alhamdulillah, perjalanan panjang akhir berakhir dengan pendaratan di Bandara Schipol Amsterdam pukul 6.40 waktu setempat. Perbedaan waktu dengan Indonesia adalah 6 jam, dengan waktu di Belanda 6 jam lebih lambat daripada di Indonesia. Di Amsterdam, kami dijemput seorang sopir yang sudah ditugaskan, untuk membawa kami ke Groningen. Perjalanan darat masih harus ditempuh lagi selama 2,5 jam. Aduh…. capek duduk terus.

Pemandangan di luar sepanjang jalan banyak dihiasi dengan kincir angin dan ladang-ladang yang luas. Rumah-rumah khas Belanda sesekali terlihat, dengan sapi-sapinya. Oya, cuaca saat ini malam hari bisa mencapai 1 derajat Celcius, dan siang mencapai 8-10 derajat Celcius. Akhirnya sampai juga kami di sebuah hotel di kota Haren (tetangganya Groningen) untuk beristirahat. Badan terasa mulai pegal-pegal… Untunglah kami bisa mendapatkan koneksi internet dengan membeli kartu Hot spot dari T-mobile, dengan harga 15 Euro untuk 3 jam koneksi. Lumayanlah….. masih bisa posting di blog dan mengirim soal ujian mid ke Indonesia karena sebelum berangkat tidak sempat membuat hehe……

Begitulah catatan perjalananku yang pertama…. Aku menulis ini pukul 3 pagi waktu setempat hari Senin. Lhah… malam rasanya lama sekali, badanku masih badan untuk jam 9 pagi waktu Indonesia Bagian Barat hehe….

Semoga bisa ketemu di next posting…

See what’s happened in the next 5 days here..


Aksi

Information

3 responses

10 01 2015
chiropractic jogja | My Blog

[…] Catatan perjalanan (1): jogja-groningen | zullies ikawati […]

19 10 2012
networking cables walmart

We are a group of volunteers and starting a new scheme in our community.

Your website offered us with valuable information to work on.
You have done a formidable job and our entire community will be grateful to you.

23 03 2009
Yus

Wah, laporan langsung dari negeri kincir angin. Semoga kegiatan yang dilakukan berjalan dengan lancar. Saya menemukan sekilas cerita kota Groningen di novel Edensornya Andrea Hirata. Kota Groningen merupakan kota paling utara Belanda. Tempat asal dari Jon Pieter Zoon Coen, Deandles dan Westeling yang merupakan orang orang yang tidak asing di negeri kita. Kita tunggu cerita selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: