Apa sih Dumolid itu? Kok sampe bisa bikin artis ditangkap polisi?

6 08 2017

Dear kawan,

Lama tidak menulis lagi di blog ini. Aku repost saja tulisanku di harian Tribun hari ini untuk dokumentasi blog ini ya.. biar blog-ku juga dikunjungi hehe..  Disertai tambahan komentar dan ilustrasi untuk menambah penjelasan.

Baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan tertangkapnya pasangan artis Tora dan Mieke atas kepemilikan tablet Dumolid. Berita ini sangat cepat tersebar dengan berbagai versinya. Beberapa berita menyebutnya sebagai sebagai golongan narkotik dan menyamakannya dengan obat-obat semacam shabu atau ecstasy. Aku tidak memasalahkan aspek hukumnya, biar bapak-bapak polisi yang berwenang yang menetapkannya, tetapi akan membahas dari aspek obatnya. Tulisan ini mencoba meluruskan dan mengupas tentang Dumolid, kegunaannya, potensinya disalahgunakan dan bagaimana seharusnya memperlakukannya.

 Berisi nitrazepam

Gugus Benzene dan Diazepine menjadi kerangka obat golongan benzodiazepin

Dumolid adalah nama dagang untuk obat yang bernama nitrazepam. Selain Dumolid, obat lain yang berisi nitrazepam adalah Mogadon. Nitrazepam sendiri secara kimia adalah termasuk obat golongan benzodiazepine yang bekerja menekan system syaraf pusat. Istilah benzodiazepine berasal dari struktur kimia golongan obat ini yang memiliki gugus cincin “benzen” dan  “diazepin”. Obat ini memiliki khasiat antara lain sebagai obat penenang, obat tidur, dan anti kejang. Dalam regulasi penggolongan obat, nitrazepam (Dumolid) dan obat-obat golongan benzodiazepin tadi termasuk obat psikotropika, yaitu obat yang bisa mempengaruhi psikis/kejiwaan seseorang. Sepertinya halnya obat golongan narkotika, pengaturan peredarannya sangat ketat karena berpotensi untuk disalahgunakan.

 

Obat golongan benzodiazepine

Ada baiknya mengetahui bahwa selain Dumolid (nitrazepam), ada banyak obat lain yang tergolong obat benzodiazepine.  Jadi Nitrazepam tidak sendirian. Obat-obat lain yang tergolong benzodiazepine antara lain adalah diazepam, alprazolam, midazolam, klonazepam, estazolam, klordiazepoksid, dll, yang terdapat dalam berbagai nama dagang. Mereka berbeda dalam hal kecepatannya menimbulkan efek, berapa lama efeknya, dan tujuan obat digunakan. Beberapa yang termasuk memiliki aksi pendek adalah midazolam dan klorazepat dengan durasi 3-8 jam. Sedangkan yang beraksi sedang adalah lorazepam dan alprazolam, dengan durasi 11-20 jam. Sementara nitrazepam bersama diazepam, klonazepam dan klordiazepoksid termasuk yang memiliki aksi panjang, sampai 1-3 hari.

 Obat yang legal

Dumolid, obat keras dengan tanda lingkaran merah dan huruf K

Tidak seperti ecstasy, shabu, heroin, kokain yang sering digunakan untuk obat rekreasional (mencari kesenangan) yang bersifat illegal dan tidak untuk pengobatan, Dumolid dan obat benzodiazepine lainnya adalah obat legal yang digunakan dalam pengobatan. Obat ini bertanda lingkaran merah berisi huruf K pada kemasannya, menandakan bahwa mereka tergolong obat keras yang harus diperoleh dengan resep dokter. Gangguan penyakit yang diterapi dengan obat golongan ini antara lain adalah kecemasan, insomnia (tidak bisa tidur), kejang, gejala putus alcohol, dan untuk relaksasi otot. Penyakit-penyakit tersebut disebabkan karena aktivitas syaraf pusat yang berlebihan, karena itu memerlukan obat yang dapat menekan aktivitas system syaraf.

 Bagaimana kerjanya?

GABA receptor, tempat aksi obat benzodiazepin

Obat golongan benzodiazepin termasuk Dumolid bekerja pada reseptor GABA di sistim syaraf pusat manusia. GABA adalah suatu senyawa penghantar di otak (neurotransmitter) yang bekerja menekan system syaraf pusat sebagai penyeimbang stimulasi syaraf.  Obat-obat golongan benzodizepin bekerja meningkatkan efek GABA untuk menekan aktivitas otak/sistim syaraf pusat. Dengan demikian diperoeh efek menenangkan (sedatif), menidurkan, juga mengurangi kejang/kekakuan otot.

Apakah bisa menyebabkan kecanduan?

Ya, obat-obat psikotropika sejenis benzodiazepine ini berpotensi untuk disalahgunakan dan menyebabkan kecanduan. Efeknya yang menenangkan dan menidurkan membuatnya sering dicari orang yang mengalami masalah kecemasan atau gangguan tidur sebagai solusi tercepat. Jika penderita gangguan semacam itu pergi ke dokter, dokter akan memeriksa dan memutuskan apakah seseorang memerlukan obat atau cukup dengan tindakan-tindakan non-obat seperti psikoterapi, perubahan pola hidup, dll. Tentunya perlu dicari akar penyebab masalahnya dulu sebelum diputuskan menggunakan obat. Salah satu obat yang paling sering diresepkan adalah obat golongan benzodiazepine ini, termasuk Dumolid.

Namun demikian, banyak orang yang kemudian mencoba mendapatkan obat-obat ini secara illegal, dengan berbagai modus, tanpa indikasi medis untuk disalahgunakan. Mungkin saja ia diperoleh dari pasar gelap atau dari oknum di Apotek atau oknum yang memiliki akses terhadap obat tersebut. Karena jika diperoleh secara legal, peraturannya cukup ketat, misalnya harus pakai resep asli tidak boleh menggunakan copy resep. Copy resep hanya boleh digunakan jika memang ada obat yang belum diberikan dari resep aslinya. Apotek pun harus memberikan laporan penjualan obat psikotropika setiap bulannya ke Dinas Kesehatan.

Obat golongan benzodiazepine berpotensi menyebabkan toleransi dan kecanduan, terutama pada penggunaan yang lama.   Awalnya obat ini akan menyebabkan toleransi, yaitu diperlukan dosis yang semakin meningkat untuk mendapatkan efek yang sama. Jika semula cukup dengan 5 mg untuk mendapatkan efek, maka berikutnya diperlukan 10 mg untuk mendapatkan efek yang sama. Hal ini diduga karena reseptor GABA menjadi semakin kurang sensitive terhadap obat dan saraf makin beradaptasi dengan obat. Hal ini akan menyebabkan penderita cenderung meningkatkan dosisnya untuk mendapatkan efek yang sama, bahkan sampai mencapai dosis maksimalnya. Toleransi ini akan meningkatkan risiko  ketergantungan, di mana ketika obat dihentikan pemakaiannya, pengguna akan merasakan gejala-gejala semacam gejala putus obat (sakaw). Gejala putus obat juga dapat terjadi setelah pemberian benzodiazepine pada dosis normal yang diberikan pada jangka pendek.

Toleransi terhadap nitrazepam dapat berkembang dalam waktu 3-14 hari pada penggunaan terus menerus. Karena itu regimen pengobatannya harus diatur sependek mungkin dan sebaiknya hindari peresepan berulang. Batas toleransi pasien satu dengan yang lain bisa bervariasi sangat besar, apalagi dengan pasien yang sudah mengalami gangguan otak atau jantung dan pernafasan.

Apa efek penyalahgunaan obat benzodiazepine?

Jika dipakai pada dosis terapi sesuai kebutuhannya, sebenarnya obat-obat ini relatif aman dan memberikan efek yang diharapkan, yaitu menenangkan dan membantu tidur. Tetapi jika dosisnya makin meningkat, apalagi jika sampai over dosis, maka dapat muncul efek-efek lain akibat penekanan system syaraf pusat, seperti : bingung, nggliyeng, gangguan penglihatan, kelemahan, bicara melantur, gangguan koordinasi, susah bernafas, bahkan bisa sampai koma.

Yang menarik, gejala penyalahgunaan obat benzodiazepine secara kronis dapat menyerupai gejala-gejala yang merupakan indikasi/tujuan penggunaan obat ini pertama kali, yaitu kecemasan, tidak bisa tidur (rebound insomnia), tidak doyan makan, sakit kepala, lemas. Hal ini menyebabkan penderita cenderung mengkonsumsi lebih banyak lagi.

Gejala-gejala putus obat benzodiazepin

Hal yang sama juga dapat terjadi ketika obat tiba-tiba dihentikan, akan terjadi gejala putus obat (Sakaw). Beberapa gejala umum ketika terjadi putus obat golongan obat benzodiazepine adalah kecemasan, gangguan tidur, kekakuan otot, gelisah. Gejala lain yang lebih jarang terjadi adalah mual, lemah, mimpi buruk, gangguan koordinasi otot, dll. Dapat juga terjadi kejang akibat putus obat benzodiazepine, terutama pada mereka yang menggunakan dalam dosis tinggi , waktu lama, dan ada penggunaan obat lain yang menurunkan ambang kejang. Karena itu, sebaiknya penghentian obat benzodiazepine tidak dilakukan secara tiba-tiba, tetapi bertahap.

Bagaimana penggunaan yang tepat?

Lebih baik mencegah dari pada mengobati setelah kecanduan

Yang pasti obat ini harus digunakan di bawah pengawasan dokter. Lama penggunaan obat ini harus sependek mungkin yang tetap bisa memberikan efek terapi sesuai dengan indikasinya, tetapi tidak boleh lebih dari 4 minggu, termasuk waktu penghentiannya secara bertahap. Setelah 4 minggu, terapi sebaiknya tidak diteruskan sebelum dilakukan evaluasi terhadap kondisi pasien.  Jika memang diperlukan terapi jangka panjang, maka kebutuhan pasien harus dipantau secara reguler.

Pada dasarnya obat golongan benzodiazepine bisa membantu penderita yang membutuhkan, tetapi harus berhati-hati untuk tidak menjadi tergantung kepadanya. Lebih baik menghindari dari pada mengobati ketika sudah kecanduan.





Persiapan obat-obatan untuk Lebaran sehat dan nyaman

20 06 2017

Contoh saja, bukan endorsment 🙂
sumber: Winda carmelita

Bulan Ramadhan sudah berjalan 3 minggu, sebagian masyarakat sudah mulai bersiap-siap menyambut tradisi Lebaran.  Mudik ke kampong halaman bertemu dengan sanak saudara menjadi ritual tahunan yang tidak ingin dilewatkan. Aneka makanan tradisi keluarga disajikan untuk melengkapi kebersamaan. Namun di balik kegembiraan Lebaran, kadang terjadi berbagai gangguan kesehatan  yang membuat acara menjadi kacau. Padahal biasanya dokter praktek dan apotek tutup. Selama gangguannya ringan, dapat di atas dengan obat-obat tanpa resep yang bisa disimpan dalam persediaan. Jika penyakitnya berat tentu harus diperiksakan ke dokter atau RS. Obat-obat apa yang perlu disiapkan selama proses lebaran supaya Lebaran kita sehat dan nyaman?

Obat-obat untuk penyakit kronis

Penyakit kronis adalah penyakit yang berjangka lama dan umumnya membutuhkan penggunaan obat jangka panjang secara rutin, seperti hipertensi, diabetes, asma, nyeri sendi, epilepsy, dll. Buat Anda yang menderita penyakit ini jangan lupa membawa obat-obat pribadinya. Periksalah persediaan obat Anda, apakah masih tersedia cukup sampai liburan lebaran dan beberapa hari setelahnya. Jika dirasa akan habis, sampaikan ke dokter saat kontrol untuk mendapatkan resepnya sebelum libur lebaran. Khusus untuk penderita asma, jangan lupa membawa obat inhaler pelega nafasnya, karena suasana mudik yang padat dan melelahkan bisa saja menjadi pemicu kekambuhan asma.

Obat-obat untuk penyakit ringan

Beberapa gangguan kesehatan ringan bisa juga terjadi selama mudik lebaran, karena itu ada baiknya juga membawa perbekalan obat-obatan yang mungkin diperlukan.

  1. Obat Pereda nyeri (analgesik)

Selama mudik atau libur lebaran, sangat mungkin terjadi gangguan nyeri, entah sakit kepala, sakit gigi, nyeri haid, atau terluka karena jatuh atau kecelakaan ringan. Obat-obat yang perlu disediakan adalah obat pereda nyeri yang dapat dibeli bebas di apotek atau toko obat, yaitu yang berisi parasetamol atau ibuprofen. Merk yang tersedia bermacam-macam, silakan pilih berdasarkan selera dan ukuran kantung anda. Pada dasarnya selama isinya dan dosisnya sama, kemanjurannya sama. Obat parasetamol dan ibuprofen dapat juga digunakan untuk penurun panas pada saat terjadi demam.  Obat ini bisa digunakan untuk berbagai jenis nyeri ringan.

  1. Obat diare

Diare termasuk gangguan yang sering dijumpai menjelang atau pada saat Lebaran, yang biasanya disebabkan karena paparan makanan yang kurang higienis, baik dalam perjalanan mudik atau pada saat Lebaran. Diare ditandai dengan peningkatan frekuensi buang air besar (BAB) disertai konsistensi tinja yang cair, sehingga dapat menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan) dan kekurangan nutrisi. Jika terjadi dehidrasi yang berat, perlu waspada karena dapat berakibat pada kematian. Dehidrasi berat dapat dilihat dari tanda-tandanya antara lain: penderita terlihat sangat mengantuk/diam saja, atau bahkan tidak sadar, matanya cekung, tidak bisa minum atau minum sangat sedikit, jika dicubit, kembalinya kulit ke keadaan normal sangat pelan (lebih dari 2 detik). Kalau seperti ini tentu harus dibawa ke UGD dan mendapat terapi cairan secepatnya menggunakan infus.

Sebagian besar diare adalah disebabkan karena virus dan dapat sembuh dengan sendirinya.  Untuk membedakan antara diare karena virus dengan diare karena bakteri secara sederhana dapat dilihat dari ada/tidaknya darah pada feses/tinja. Jika tinja diare mengandung darah, mungkin disebabkan karena bakteri, dan segeralah konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Untuk diare yg tidak berdarah, obat yang dapat disiapkan untuk diare adalah Oralit dan sediaan Zinc.

suplemen Zinc tersedia dalam bentuk tablet dan sirup

Oralit tersedia dalam beberapa merk juga, dan ada yang menyediakan dalam beberapa rasa yang enak. Pilihlah sesuai selera. Oralit berfungsi untuk mengembalikan cairan dan elektrolit yang terbuang akibat diare. Jangan lupa gunakan suplemen Zinc untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap virus. Suplemen Zinc tersedia dalam bentuk sirop untuk anak-anak, dan tablet untuk dewasa. Gunakan sampai 2 minggu sejak pertama diare. Jangan lupa perbanyak minum untuk menghindari dehidrasi.

  1. Obat mabuk jalan

Obat anti mabuk andalan

Banyak orang yang sensitif terhadap gerakan dalam perjalanan sehingga mengalami mabuk jalan. Beberapa orang bisa mengalami mabuk perjalanan jika menumpang mobil, bus, kapal, atau pesawat udara. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah mabuk jalan antara lain adalah naik kendaraan di depan dengan pandangan lurus ke depan, jangan membaca di kendaraan, menghindari bau-bauan yang memicu mual. Namun jika hal-hal demikian tidak bisa membantu, anda butuh obat mabuk jalan. Obat mabuk jalan yang tersedia di pasaran adalah golongan antihistamin. Merk yang tersedia tidak begitu banyak. Obat ini bisa mencegah mual, muntah, dan pusing akibat mabuk jalan. Antihistamin yang sering dipakai adalah dimenhidrinat (merk terkenal yang sepertinya belum banyak saingannya adalah Antimo. Thanks buat teman2 di Phapros. Bukan endorse loh hehe…. ). Obat sebaiknya diminum sebelum perjalanan dimulai. Obat ini menyebabkan mengantuk sehingga mungkin menjadi lebih nyaman karena bisa berisitirahat dalam perjalanan. Ada penelitian yang melaporkan bahwa jahe bisa mengurangi mabuk jalan, jadi bisa juga dicoba minum wedang jahe atau mengulum permen jahe, walaupun mungkin hasilnya akan bervariasi antar orang.

  1. Obat maag/lambung

Keasyikan makan makanan tertentu apalagi yang asam dan pedas pada saat Lebaran dapat juga menyebabkan sakit maag kambuh.  Maag bisa terjadi jika terjadi peningkatan produksi asam lambung. Asam lambung yang meningkat bisa menyebabkan perih di lambung, Jika gangguannya masih ringan, maka dapat digunakan obat-obat yang bisa menetralkan asam lambung atau mengurangi produksi asam lambung. Beberapa obat yang sering digunakan untuk menetralkan asam lambung dan mengurangi produksi asam lambung antara lain adalah golongan antacid dan anti histamin H2.

Obat antasid umumnya berisi Al hidroksida dan Mg hidroksida, ada juga yang berisi CaCO3 yang bersifat basa, dengan tujuan menetralkan keasaman lambung. Obatnya ada yang berupa suspensi (cairan) dan ada yang berupa tablet kunyah. Untuk obat bentuk suspensi, jangan lupa kocok dahulu sebelum diminum supaya homogen. Untuk tablet kunyah, kunyah hingga halus sebelum ditelan agar efeknya lebih cepat. Sebaiknya tidak dipakai lebih dari 2 minggu, jika nyeri masih berlanjut, periksakan ke dokter. Antasid umumnya cukup poten untuk gangguan lambung yang masih ringan.

Jika antacid kurang manjur, bisa dikombinasi dengan obat yang bisa menghentikan produksi asam lambung yaitu golongan antihistamin H2, seperti simetidin dan ranitidin. Obat ini biasanya digunakan sebelum tidur dan sebelum makan.  Jika nyeri berlanjut, periksakan ke dokter.

  1. Obat anti alergi

Alergi bisa kambuh secara tiba-tiba, entah karena makanan atau lingkungan. Pada suasana lebaran yang biasanya berbeda dari biasanya, mungkin saja kita terkena paparan pemicu alergi sehingga alergi kambuh. Untuk alergi ringan seperti gatal-gatal atau ruam, dapat digunakan obat anti histamine yang dioleskan atau diminum. Obat yang bisa disediakan antara lain adalah CTM, cetirizine atau loratadin. Dua obat terakhir dapat dibeli di Apotek dengan resep dokter.

  1. Obat-obat lain

Obat-obat lain yang perlu disiapkan antara lain minyak gosok, obat oles (sesuai dengan kebiasaan masing-masing), plester penutup luka, dan obat antiseptik untuk luka.

Tips membawa obat dalam perjalanan

  1. Siapkan dompet atau kotak khusus untuk obat-obatan.
  2. Letakkan di tempat yang mudah dicari, tetapi cukup aman dari jangkauan anak-anak
  3. Letakkan di tempat yang teduh, jangan terkena panas langsung dari matahari atau mesin kendaraan.
  4. Jika perlu, untuk masing-masing oba dimasukkan dalam kantung sendiri dan diberi tulisan identitas obat dan untuk obat apa.

 Demikian beberapa obat yang perlu disiapkan selama libur lebaran., Semoga Lebaran Anda tetap nyaman tanpa gangguan. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.





Mengapa orang bisa kecanduan NAPZA?

23 05 2016

Dear kawan,

seandainya waktu sehari bisa lebih dari 24 jam, pastilah blog ini bisa lebih terawat. Sebenarnya sedih juga membiarkannya kosong sekian lama, tapi memang akhirnya harus membuat skala prioritas untuk berbagai pekerjaam yang ada, termasuk pekerjaan domestik di rumah. Dan maaf yah... blog ini masuk di nomor buncit dari daftar prioritas…

Okay, baiklah… tidak usah mendayu-dayu… langsung saja deh kalau mau menulis hehe…. Postingan kali ini adalah re-publish dari tulisanku di Harian Tribun hari Minggu tanggal 22 Mei kemarin, dengan slight modification. Tulisan ini berangkat dari keprihatinan mengapa berita tentang jatuhnya sekian banyak korban miras masih saja terulang…. juga berita artis ini atau pejabat itu yang terlibat penggunaan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lain)… Dan tentu saja itu hanyalah fenomena gunung es di mana kasus yang sebenarnya jauh lebih banyak dari yang diberitakan. Kebetulan pula beberapa waktu yang lalu aku diundang oleh Subdit Pengawasan Prekursor, Direktorat Pengawasan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif BPOM untuk menjadi narasumber dalam sebuah pertemuan di Pontianak, di mana aku diminta berbicara tentang farmakologi dari obat-obat yang sering disalahgunakan. Dan tau tidak kawan… karena narkotika dan psikotropika sudah makin ketat pengawasannya, para abuser mencoba mencari obat-obat lain yang disalahgunakan, yaitu tramadol, haloperidol, amitriptilin, triheksifenidil dan klorpromazin. Miris bukan? Obat-obat ini sekarang digolongkan menjadi Obat-obat Tertentu (OOT) yang harus makin diperketat pengawasannya.

Mengapa sih orang susah lepas dari jeratan NAPZA ketika sudah terperangkap ke dalamnya?  Mereka mencoba menggunakan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan barang haram itu demi memenuhi kebutuhannya. Sekalinya mereka terperangkap dalam cengkeraman NAPZA, nampaknya sulit sekali untuk keluar dan hidup normal. Mengapa ya orang-orang yang jatuh dalam kubangan NAPZA seringkali kesulitan untuk menghentikan kebiasaannya walaupun tahu dampak buruknya? Itulah yang namanya “kecanduan” atau adiksi.   Tulisan ini mencoba mengupas dari aspek kesehatan, apa yang terjadi dengan otak manusia ketika sudah dipengaruhi NAPZA.

Alasan pertama kali mencoba NAPZA

Banyak  macam alasan orang untuk pertama kalinya mencicipi NAPZA. Mulai dari yang karena penasaran, karena ajakan teman, untuk bersenang-senang,  untuk meningkatkan stamina, supaya percaya diri, sampai untuk melarikan diri dari masalah hidup. Alasan ini sangat bervariasi antar individu. Sebenarnya penggunaan pertama ini tidak serta merta menyebabkan penyalahgunaan, dan tidak ada batasan tertentu sampai sebanyak apa penggunaan miras atau NAPZA bisa menyebabkan masalah kecanduan. Tidak semua pengguna miras akan berkembang menjadi pecandu alkohol, demikian pula pengguna NAPZA. Masalahnya bukan pada jumlah atau frekuensi penggunaan, tetapi pada efek obat dan alkohol didalam tubuh seseorang. Sehingga, meskipun hanya mengkonsumsi sedikit, sebagian pengguna alkohol atau NAPZA dapat berkembang menjadi pecandu dan penyalahguna obat.

Kecanduan adalah masalah di otak

Orang sering berpikir bahwa penyalahgunaan obat atau miras adalah sekedar masalah sosial atau budaya akibat iman dan moral yang lemah. Dan sebagian dari masyarakat juga yakin bahwa sebenarnya hanya perlu kesadaran dan kehendak yang kuat untuk bisa keluar dari jeratan NAPZA. Namun sebenarnya masalahnya tidaklah sesimpel itu. Mengapa? Karena masalah kecanduan dan penyalahgunaan adalah suatu proses yang mempengaruhi kerja otak. Obat dan miras dapat mempengaruhi kerja otak sehingga menghentikan kecanduan obat dan miras bukan lagi hanya masalah kemauan. Seringkali diperlukan perlakuan dan pengobatan khusus untuk membantu orang berhenti dari kecanduan dan dapat melanjutkan kehidupan yang produktif.

Apa definisi Kecanduan Obat?

drug addictionKecanduan obat adalah suatu penyakit otak kronis yang bersifat kambuhan di mana penderita akan terdorong untuk mencari obat/alkohol dan menggunakannya, meskipun mengetahui bahayanya. Kecanduan obat digolongkan sebagai penyakit otak karena penyalahgunaan obat/alkohol dapat mempengaruhi struktur dan fungsi otak. Jadi, walaupun benar bahwa keputusan pertama kali penggunaan NAPZA adalah sukarela dengan berbagai alasan di atas, tapi lama-lama ketika NAPZA makin sering digunakan, ia akan mempengaruhi otak sehingga pengguna akan kehilangan kontrol diri dan kemampuan membuat keputusan dalam hal menggunakan NAPZA, dan bahkan akan  otak akan membuat dorongan yang kuat untuk menggunakan NAPZA.

Apa yang terjadi pada otak ketika menggunakan NAPZA?

Golongan NAPZA adalah senyawa kimia yang dapat masuk dan mempengaruhi system komunikasi di otak dan dapat mengganggu aktivitas sel syaraf untuk mengirim, menerima dan memproses informasi secara normal. Ada sedikitnya dua cara di mana obat-obat dan alkohol melakukan hal ini. Yang pertama adalah mereka bertindak menyerupai senyawa alami di otak yang disebut neurotransmitter, yaitu senyawa penghantar pesan di otak. Yang kedua, obat/alkohol dapat mempengaruhi “ reward system di otak dengan meningkatkan aktivasi dari sistem reward.

Sistem reward adalah satu system di otak yang mengatur rasa senang, sehingga ketika diaktifkan kita merasa senang, dan ingin mengulang dan mengulang lagi. Peristiwa ini melibatkan mesolimbic reward pathway  yaitu jalur terdiri atas neuron dopaminergik yang berasal dari Vental Tegmental Area (VTA)   menuju ke nucleus accumbens  (NA) dan diteruskan ke otak bagian  prefrontal cortex. Sistem ini memerlukan keberadaan neurotransmitter dopamin untuk mengaktifkannya.

Reward pathway yang melibatkan jalur dopaminergik

Reward pathway yang melibatkan jalur dopaminergik

Banyak hal yang bisa mengaktifkan system reward di otak. Stimulus alami bagi system reward adalah makanan, minuman, sex, kasih sayang, semua ini menyebabkan rasa nyaman dan senang. Kita tidak pernah bosan dengan makan, minum, kasih sayang, dan selalu ingin mengulangi dan mengulang lagi untuk mendapatkannya. Obat-obat NAPZA dan alkohol juga dapat mengaktifkan system reward di otak dengan berbagai mekanisme.

Ganja dan heroin misalnya, memiliki struktur yang mirip dengan senyawa alami di otak yaitu endorphin, sehingga bisa mengaktifkan reseptornya di otak dan “mengakali” otak sehingga mengirim pesan yang abnormal ke system reward, sehingga membuat perasaan senang.  Obat lain seperti kokain dan Ecstassy, bekerja dengan cara meningkatkan pelepasan neurotransmitter dopamine dan serotonin dari ujung saraf, dan mencegah kembalinya neurotransmiter ini ke saraf. Hal ini menyebabkan peningkatan kadar neurotransmitter yang berlebih di tempat aksinya dan mengaktifkan system reward.

Hampir semua obat golongan NAPZA yang sering disalahgunakan, termasuk alkohol (dan bahkan rokok – nikotin), bekerja secara langsung maupun tidak langsung mengaktifkan system reward dengan meningkatkan ketersediaan dopamin di otak. Dopamin adalah satu jenis neurotransmitter di otak yang bekerja mengontrol gerakan, emosi, motivasi, dan perasaan senang. Stimulasi yang berlebihan pada system reward, yang normalnya adalah berespon terhadap stimulus alami  menghasilkan efek euphoria ketika menggunakan NAPZA. Reaksi ini kemudian membentuk suatu pola di otak yang mendorong orang untuk melakukan dan melakukan lagi perilaku ini (penggunaan NAPZA) untuk memperoleh kesenangan.

Sebagian besar NAPZA bekerja meningkatkan kadar dopamin otak

Sebagian besar NAPZA bekerja meningkatkan kadar dopamin otak

Jika orang tersebut terus menerus menggunakan NAPZA, maka otak akan beradaptasi terhadap keberadaan dopamin yang tinggi dengan cara mengurangi produksi dopamin atau mengurangi reseptor dopamin. Hal ini menyebabkan pengguna NAPZA berusaha untuk terus menggunakan NAPZA untuk menjaga agar fungsi dopamin kembali ke “normal”, atau berusaha menambah dosis NAPZA untuk mencapai kadar dopamin yang tinggi untuk mencapai “tingkat kesenangan” yang diinginkan. Tidak jarang pula mereka mencoba jenis NAPZA yang lain dan dicampur dengan alkohol dan aneka tambahan lain untuk mendapatkan efek kesenangan yang diharapkan.

Penggunaan yang terus menerus akan menyebabkan perubahan pada system dan sirkuit di otak. Penelitian menunjukkan bahwa pada penderita kecanduan NAPZA terjadi perubahan area di otak pada bagian yang mengatur kemampuan menilai, pengambilan keputusan, belajar dan mengingat serta control perilaku. Bersamaan dengan itu, perubahan fungsi otak ini juga mendorong pengguna untuk mencari dan menggunakan obat terus menerus, yang kita kenal dengan istilah kecanduan obat atau adiksi obat. Mereka tidak mempedulikan lagi bahayanya jika terjadi overdosis maupun efek-efeknya terhadap organ tubuh lainnya, bahkan sampai kematian pun mereka tidak pikirkan. Jika mereka tidak mendapatkan obat, tubuh mereka akan “sakaw” karena pada saat tidak mendapat obat, otak mereka akan kekurangan dopamin sehingga  mengakibatkan berbagai gejala fisik maupun psikis. Hal ini yang menyebabkan mereka terus terdorong untuk mendapatkan obat bagaimanapun caranya. Manifestasi “sakaw” dari masing-masing obat berbeda tergantung dari jenis obatnya.

Mengapa sebagian orang bisa kecanduan dan yang lain tidak?

Tidak ada faktor tunggal yang bisa memprediksi apakah seseorang akan mengalami kecanduan NAPZA atau tidak. Risiko terjadinya kecanduan dipengaruhi oleh sifat biologis orang itu sendiri, kondisi sosial ekonomi, lingkungan sosial, dan usia atau tahapan perkembangan. Semakin banyak faktor risikonya, semakin besar kemungkinan seseorang menjadi pencandu.

Faktor biologi. Tidak bisa dipungkiri, faktor genetik yang dikombinasi dengan pengaruh lingkungan, merupakan penentu dari separuh kerentanan seseorang terhadap kecanduan obat. Selain itu, jenis kelamin, etnik, dan adanya gangguan kejiwaan lain bisa mempengaruhi risiko terjadinya penyalahgunaan obat dan kecanduan

Lingkungan. Lingkungan keluarga dan teman sampai status sosial ekonomi dan kualitas hidup adalah beberapa faktor lingkungan umum yang bisa mempengaruhi kejadian kecanduan obat. Faktor lain yang khusus antara lain adalah tekanan dari teman, stress, pola asuh orangtua, dll.

Tahap perkembangan. Semakin dini usia seseorang menggunakan NAPZA untuk pertamakalinya, makin mungkin berkembang untuk menjadi kecanduan yang serius. Dan karena otak remaja itu masih dalam kondisi perkembangan, maka remaja paling berisiko untuk menjadi pencandu.

Bagaimana pengatasan kecanduan NAPZA?

Pada tahap tertentu, kecanduan NAPZA perlu mendapatkan penatalaksanaan yang tepat. Sebagian besar diawali dengan detoksifikasi dan terapi terhadap kondisi “sakaw” jika diperlukan. Detoksifikasi adalah suatu proses dimana tubuh membersihkan diri dari obat, dan perlu diatur secara khusus untuk mencegah efek-efek fisiologis akut yang mungkin terjadi ketika obat dihentikan tiba-tiba.   Proses detoksikasi kadang memerlukan obat-obat tertentu untuk mengatasi gejala-gejala putus obat yang kadang juga berbahaya bagi penderita. Gejala putus obat heroin misalnya akan diatasi dengan metadon. Gejala putus obat diazepam bisa diatasi dengan lorazepam. Tatalaksana ini harus dilakukan di bawah pengawasan dokter yang kompeten, dan dilakukan di tempat pelayanan kesehatan yang sesuai. Setelah itu, detoksifikasi harus dilanjutkan dengan suatu penilaian terhadap kondisi pasien dan tatalaksana terhadap kecanduan.  Program mengatasi kecanduan juga melibatkan terapi perilaku dan terapi lainnya yang mendukung. Hasil yang diharapkan adalah penderita dapat berhenti menyalahgunakan NAPZA, bisa bertahan bebas NAPZA dan hidup normal dengan lebih produktif.

Pencegahan adalah Kunci Utama

Dari uraian di atas, kita dapat memahami bahwa mengapa tidak mudah orang lepas dari jeratan NAPZA ketika mereka sudah terperangkap di dalamnya, karena NAPZA memang bisa mengubah kemampuan seseorang untuk berpikir dan mengambil keputusan. Namun demikian, kecanduan NAPZA adalah penyakit yang bisa dicegah. Karena itu, program pencegahan menjadi kunci utama. Perlu terus menerus dilakukan kampanye-kampanye pencegahan penyalahgunaan NAPZA untuk mengurangi semakin banyaknya kasus-kasus kecanduan NAPZA. Penelitian telah menunjukkan bahwa program pencegahan yang melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan media cukup efektif dalam mengurangi penyalahgunaan NAPZA. Meskipun banyak peristiwa dan faktor budaya mempengaruhi tren penyalahgunaan NAPZA, ketika pemuda menganggap penyalahgunaan NAPZA adalah berbahaya, diharapkan mereka mengurangi penggunaan obat mereka atau bahkan tidak mau mencoba memulainya.

Jadi, JANGAN SEKALI-SEKALI MENCOBA JIKA TIDAK INGIN TERJERAT NAPZA.. !!

 





Jangan takut (jika harus) kemoterapi…

27 09 2015

Dear kawan,

Tulisan ini aku dedikasikan pada kawan-kawanku  yang diuji Allah dengan penyakit kanker…. Baik yang sudah tiada (Ade Azka, mbak Bintang), yang masih berjuang dengan kemoterapi (mbak Lesti, bu Wara), dan yang alhamdulillah survive dari kanker (bu Aris)..  Juga untuk semua penderita kanker … Semoga bisa menginsipirasi untuk tidak takut dengan kemoterapi… Bagaimanapun ikhtiar yang benar adalah wajib, hasilnya hanya kepadaNyalah kita berserah diri…

Berbicara tentang kemoterapi, tentu tidak lepas dari masalah penyakit kanker. Dan berbicara tentang kanker, tak dipungkiri banyak orang merasa ngeri dan takut. Yah, tidak heran karena kanker termasuk salah satu penyakit yang cukup mematikan. Namun demikian, banyak pula orang-orang yang berhasil sembuh dari kanker (survivor kanker) dan bisa menjalani kehidupan dengan normal kembali. Salah satu pendukung kesembuhan pasien kanker adalah pengobatan yang tepat, di mana salah satu terapi utama kanker adalah kemoterapi. Banyak orang takut menjalani kemoterapi karena mendengar cerita tentang macam-macam efek sampingnya, padahal dengan menunda kemoterapi perkembangan kankernya akan terus berjalan. Artikel ini akan mengupas tentang apa itu kemoterapi, pentingnya untuk pengatasan kanker, efek samping dan cara pengatasannya.

Penyakit kanker

Perkembangan sel kanker

Perkembangan sel kanker

Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan abnormal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker akibat terjadinya mutasi. Dalam perkembangannya, sel-sel kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya yang disebut metastase, sehingga dapat menyebabkan kematian. Masyarakat sering kurang pas menggunakan istilah kanker dan tumor, karena tidak semua tumor adalah kanker. Tumor adalah segala benjolan tidak normal atau abnormal. Tumor dibagi dalam 2 golongan, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Kanker adalah istilah umum untuk semua jenis tumor ganas.
Kanker dapat menimpa semua orang, pada setiap bagian tubuh (termasuk darah dan limfa), dan pada semua gologan umur, namun lebih sering menimpa orang yang berusia 40 tahun. Umumnya sebelum kanker meluas atau merusak jaringan di sekitarnya, penderita tidak merasakan adanya keluhan ataupun gejala. Bila sudah ada keluhan atau gejala, biasanya penyakitnya sudah lanjut. Jenis-jenis kanker yang cukup banyak dijumpai di Indonesia adalah : kanker leher rahim (kanker serviks), kanker payudara, penyakit Trofoblas ganas, kanker kulit, kanker nasofaring, kanker paru, kanker hati, kanker kelenjar getah bening (Limfoma Malignum), kanker usus besar dan kanker darah (Leukemia).
Yayasan Kanker Indonesia mengingatkan adanya 7 gejala yang perlu diperhatikan dan diperiksakan lebih lanjut ke dokter untuk memastikan ada atau tidaknya kanker, dengan akronim WASPADA, yaitu:
1. Waktu buang air besar atau kecil ada perubahan kebiasaan atau gangguan.
2. Alat pencernaan terganggu dan susah menelan.
3. Suara serak atau batuk yang tak sembuh-sembuh
4. Payudara atau di tempat lain ada benjolan (tumor).
5. Andeng-andeng (tahi lalat) yang berubah sifatnya, menjadi semakin besar dan gatal.
6. Darah atau lendir yang abnormal keluar dari tubuh
7. Adanya koreng atau borok yang tak mau sembuh-sembuh.
Pengobatan kanker
Jika seseorang telah terdiagnosa kanker oleh dokter ahli, maka akan dilakukan tindakan pengobatan atau tindakan medis untuk menghilangkan kanker tersebut. Tindakan tersebut bisa salah satu kombinasi dari beberapa prosedur berikut, yaitu pembedahan (operasi), penyinaran (Radioterapi), pemakaian obat-obat pembunuh sel kanker (sitostatika/kemoterapi), peningkatan daya tahan tubuh (imunoterapi), pengobatan dengan hormone atau transplantasi organ. Kemoterapi merupakan salah satu prosedur penting dalam pengobatan kanker.
Apa itu kemoterapi?
Obat kemoterapi adalah obat anti kanker yang bertujuan untuk menghentikan berkembangnya sel-sel kanker, baik di tempat asalnya maupun yang mungkin sudah menyebar ke organ lain. Kemoterapi juga digunakan untuk mengurangi resiko munculnya kembali (recurrence) kanker maupun mengecilkan ukuran dari tumor/ kanker. Dengan ukuran tumor yang mengecil dari kanker maka berbagai macam gejala yang tidak enak yang dirasakan oleh pasien diharapkan juga ikut berkurang. Jika ukuran kanker mengecil, prosedur lain juga akan lebih mudah dilakukan dan tingkat keberhasilannya meningkat.
Pada umumnya, pengobatan dengan cara kemoterapi paling efektif jika menggunakan kombinasi dari beberapa jenis obat. Pemberian beberapa obat secara sekaligus, dapat meningkatkan kekuatan obat dalam membunuh sel kanker. Apa dan berapa dosis obat-obat yang akan diberikan ditentukan oleh dokter berdasarkan beberapa faktor, antara lain: umur pasien, jenis kanker, dan stadium dari kankernya. Untuk masing-masing jenis kanker ada regimen kemoterapinya sendiri.
Di bawah ini adalah daftar beberapa obat yang sering diberikan dalam regimen kemoterapi.
1. Cyclophosphamide (Cytoxan)
2. Doxorubicin (Adriamycin) atau Epirubicin (Ellence)
3. 5-fluorouracil (Adrucil)
4. Methotrexate (Rheumatrex)
5. Paclitaxel (Taxol) or Docetaxel (Taxotere)
Kapan dan bagaimana kemoterapi diberikan?

Pasien sedang menjalani kemoterapi

Pasien sedang menjalani kemoterapi

Kemoterapi yang diberikan sesudah operasi pengambilan tumor disebut adjuvant chemotherapy, atau kalau diberikan sebelum operasi dinamakan neoadjuvant chemotherapy. Beberapa obat anti-kanker ada yang diberikan secara per oral (diminum) atau disuntikkan (ke otot, bagian tubuh dimana ada jaringan lemak, atau dibawah kulit). Akan tetapi, sebagian besar obat anti kanker diberikan dengan disuntikkan melalui vena (infus). Lokasi pemberian obat obat anti-kanker ini bisa di rumah pasien, di tempat praktek dokter, atau di rumah sakit, bergantung pada tipe kemoterapi yang diberikan.
Untuk kanker yang menjalani tindakan operasi pengangkatan, kemoterapi biasanya dimulai dalam kurun waktu antara 4-12 pekan sesudah operasi pengangkatan tumor. Untuk yang tidak ada tindakan pengangkatan, kemoterapi bisa segera dimulai jika pasien sudah terdiagnosa kanker. Kemoterapi umumnya diberikan dalam siklus 21-28 hari, artinya satu tindakan kemoterapi dengan kemoterapi selanjutnya berjarak 21-28 hari. Pemberian obat kemo (anti-kanker) bisa diberikan setiap pekan atau tiga pekan sekali, dengan ‘masa istirahat’ untuk memberikan kesempatan pada tubuh untuk pulih kembali dari efek kemoterapi. Lamanya siklus pengobatan dengan kemoterapi tergantung dari jenis obat yang diberikan. Lama keseluruhan waktu pengobatan bisa bervariasi, tetapi sering sampai 3-6 bulan.

Apa saja efek samping kemo?
Obat-obat kemo bersifat tidak selektif, sehingga di samping membunuh sel kanker, ia bisa juga mempengaruhi pertumbuhan sel normal. Karena itu, kemoterapi dapat menyebabkan beberapa efek samping. Di bawah ini adalah beberapa efek samping obat kemoterapi berserta pengatasannya.
1. Mual dan muntah.
Mual dan muntah adalah efek samping yang tersering dijumpai pada penggunaan obat kemo. Mual dan muntah bisa terjadi segera setelah kemo, atau mungkin baru muncul sehari setelah kemo, atau bahkan lebih. Beberapa orang mungkin bahkan akan mual atau muntah sebelum kemo karena faktor psikologis. Untuk mengatasai hal ini, dokter biasanya akan memberikan obat anti mual/muntah (golongan anti-emetik) untuk bisa mengurangi atau mencegah rasa mual dan muntah yang bisa timbul selama pengobatan dengan kemoterapi. Obat anti emetic ada yang disertakan bersama kemoterapi dan ada yang digunakan setelah kemoterapi. Gunakan sesuai petunjuk dokter. Selain itu, makan beberapa kali dalam sehari dengan porsi yang kecil bisa membantu menolong keadaan ini.
2. Rambut rontok (alopecia atau kebotakan).
efek botakKarena sel rambut juga merupakan sel yang aktif membelah, maka ia juga menjadi sasaran obat kemoterapi. Selama pengobatan, rambut bisa saja menipis atau rontok sama sekali, bergantung pada obat anti-kanker apa yang di berikan. Alis, bulu mata dan rambut di bagian tubuh lain juga bisa rontok. Rambut akan tumbuh kembali begitu pengobatan berakhir. Rambut yang baru saja tumbuh sesudah kemoterapi selesai, biasanya mempunyai tekstur dan warna yang lain dari rambut sebelum kemoterapi.Selama pengobatan, jika rambut tidak rontok sama sekali dan hanya menipis, gunakan shampoo yang lembut, sisir yang halus dan atur pengering rambut yang digunakan pada panas yang paling rendah. Beberapa perempuan memilih untuk memotong pendek rambutnya menjelang kemoterapi, agar supaya merasa lebih baik dengan merasa mengontrol keadaan yang dihadapi. Jika memillih memakai rambut palsu (wig), kebih baik disiapkan sebelum rangkaian kemoterapi dimulai, sehingga warna dan style wig bisa disesuaikan dengan rambut asli.
3. Menopause dini (keadaan dimana menstruasi berhenti secara dini).
Banyak perempuan tidak mendapatkan menstruasi lagi selama dan sesudah kemoterapi, dan pada saat yang bersamaan timbul gejala menopause seperti rasa panas yang timbul di wajah, bagian tubuh lainnya atau seluruh tubuh (hot flashes).
Gejala lain yang timbul adalah vagina menjadi lebih kering dari biasanya.Bagi mereka yang sudah dekat dengan usia menopause (45 tahun atau lebih tua dari 45 tahun), gejala-gejala ini bisa menetap. Sementara bagi mereka yang lebih muda, gejala-gejala ini bisa hanya sementara, yang di tandai dengan kembalinya menstruasi.
4. Letih dan lemah.
Kelelahan adalah efek samping yang sangat biasa terjadi pada orang yang sedang menjalani kemoterapi. Sampaikan kepada dokter jika anda mengalami hal ini untuk bisa memastikan penyebabnya. Jika ada anemia misalnya, dokter akan menangani secara tepat. Tanyakan juga pada dokter anda apakah ada obat yang bisa menolong untuk mengurangi rasa letih. Olahraga ringan dan diet yang sehat dan seimbang akan menolong meningkatkan energy. Istirahat yang banyak dan minta anggota keluarga dan teman untuk menolong mengerjakan pekerjaan sehari-hari Anda..
5. Neutropenia dan mudah terkena infeksi.

berkurangnya neutrofil akibat kemoterapi

berkurangnya neutrofil akibat kemoterapi

Orang yang sedang menjalani kemoterapi mudah terkena infeksi karena kemoterapi mengakibatkan turunnya jumlah sel darah putih (neutrophil) dalam darah yang merupakan “pasukan” pelawan bakteri/kuman. Penurunan jumlah sel darah putih ini (disebut neutropenia) umumnya terjadi pada minggu kedua setelah kemo dan dapat dilihat dengan pemeriksaan darah. Karena itu sebaiknya hindarkan berdekatan dengan orang yang dengan sakit menular. Lebih sering mencuci tangan dengan sabun bisa mencegah infeksi. Jika terluka, segera bersihkan luka dengan air bersih/anti septik.
Jika anda mengalami tanda-tanda infeksi setelah kemoterapi seperti demam tinggi, sariawan berat, radang di mulut, batuk dan sesak, radang sinus, dll, segera sampaikan ke dokter. Jika neutropenia Anda cukup berat (neutrophil kurang dari 500 cell/ml) mungkin anda perlu dirawat di RS dan mendapatkan pengobatan khusus seperti pemberian obat golongan granulocyte colony-stimulating factors (G-CSF) seperti filgrastim untuk meningkatkan kembali jumlah neutrophil Anda. Sebelum kemoterapi berikutnya, dokter Anda akan/harus selalu minta Anda melakukan uji/tes darah di laboratorium, untuk memastikan jumlah neutrophil anda cukup tinggi sehingga aman untuk menerima kemoterapi.
6. Luka/sariawan di mulut dan tenggorokan/kerongkongan (mucositis oral)
Karena jenis sel yang ada di mulut dan tenggorokan/kerongkongan adalah jenis sel yang tumbuh, berkembang dan berganti dengan cepat, dan obat-obat kemoterapi mudah merusak sel-sel jenis ini, maka daerah mulut dan tenggorokan/kerongkongan menjadi mudah luka atau kering. Karena itu, lakukan pemeriksaan (check-up) gigi sebelum memulai kemoterapi. Selama terapi, bersihkan gigi dan gusi setiap kali selesai makan dan sebelum tidur menggunakan sikat gigi yang lunak. Penggunaan pasta gigi dengan soda dan peroksida akan sangat membantu. Hindari obat kumur berkadar alkohol tinggi. Jika pasta gigi menyebabkan rasa sakit, bisa diganti dengan berkumur dengan air garam. Perbanyak minum air putih.
7. Berat badan bertambah.
Meskipun penyebab pastinya belum jelas, sejumlah perempuan mengalami kenaikan berat badan selama kemoterapi. Makan makanan yang sehat dan bergizi akan membantu mempertahankan berat badan yang ideal.
8. Kuku yang rapuh.
Beberapa jenis obat anti-kanker dapat menyebabkan kerapuhan pada kuku jari tangan dan jari kaki. Kuku bisa mudah pecah dan rusak, bahkan terasa sakit dan lalu lepas. Seperti rambut yang rontok, masalah dengan kuku ini hanya sementara saja.
9. Diare atau sembelit
Beberapa kemoterapi bisa menyebabkan efek samping diare atau sebaliknya sembelit. Efek samping ini bisa diatasi dengan mengatur pola makan yang sesuai seperti pada kondisi tanpa kanker.

Jangan takut kemoterapi, jika bisa segerakan !!
Bagi penderita kanker, sampai saat ini kemoterapi merupakan salah satu terapi standar untuk kanker di hampir semua negara. Berbagai uji klinik sudah menunjukkan keberhasilannya. Efek samping di atas yang nampaknya merugikan ini jika dihitung jauh lebih kecil daripada manfaat kemoterapi. Jangan sampai ketakutan terhadap efek samping kemoterapi menyebabkan pasien menunda dan bahkan mencari pengobatan alternative yang belum bisa dijamin keberhasilannya. Penundaan menjalani kemoterapi hanya akan menyebabkan sel-sel kanker tumbuh semakin banyak dan ketika akan dikemo sudah masuk dalam stadium lanjut yang akan mengurangi keberhasilan kemoterapi. Sebaliknya semakin awal dilakukan kemoterapi, maka tingkat keberhasilan penyembuhan semakin besar.
Terapi lain seperti peningkatan system imun, radioterapi dan lain-lain juga bisa dilakukan secara bersamaan sesuai dengan petunjuk dokter. Memang pada akhirnya hanya kepada Tuhan yang Maha Kuasa kita serahkan hasil kesembuhannya, tetapi ikhtiar yang benar adalah suatu kewajiban manusia.

 

(dari berbagai sumber)





Cermat menggunakan suplemen kesehatan stamina pria

6 09 2015

Dear kawan,

tulisan ini adalah reposting dari tulisanku di Harian Tribun Yogya hari ini…

Baru-baru ini, tepatnya tanggal 24 Agustus 2015 yang lalu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI mengumumkan penemuannya terkait adanya berbagai suplemen kesehatan khususunya untuk stamina pria yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO).

Berdasarkan hasil pengawasan Badan POM di seluruh Indonesia dari bulan November 2014 sampai dengan Agustus 2015, ditemukan sebanyak 50 OT dan SK stamina pria mengandung BKO, dengan 25 di antaranya merupakan produk OT tidak terdaftar (ilegal). Permasalahan ini bukan hanya menjadi isu di Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia. Berdasarkan informasi melalui Post-Marketing Alert System (PMAS), sebanyak 18 OT dan SK mengandung BKO juga ditemukan di ASEAN, Australia, dan Amerika Serikat. Untuk itu, Badan POM mengeluarkan peringatan/public warning sebagaimana terlampir, dengan tujuan agar masyarakat lebih waspada dan tidak mengonsumsi OT dan SK mengandung BKO karena dapat membahayakan kesehatan.
Bahan Kimia Obat (BKO) yang teridentifikasi dicampur dalam produk OT dan SK stamina pria hasil temuan periode November 2014 hingga Agustus 2015 didominasi oleh sildenafil dan turunannya. Sildenafil sendiri merupakan obat yang diindikasikan untuk mengobati disfungsi ereksi dan hipertensi arteri pulmonal. Obat ini umum dikenal dengan nama Viagra dan paling dominan digunakan sebagai obat disfungsi ereksi pada pria. Sildenafil dan turunannya termasuk golongan obat keras yang hanya boleh digunakan sesuai petunjuk dokter. Jika digunakan secara tidak tepat, bahan kimia obat ini dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan, seperti kehilangan penglihatan dan pendengaran, stroke, serangan jantung, bahkan kematian.
Tulisan kali ini mengajak Anda mengenal sildenafil dan turunannya, dan bahayanya jika digunakan sembarangan seperti yang dicampurkan pada suplemen kesehatan stamina pria.
Riwayat penemuan sildenafil

Viagra alias Pil Biru

Viagra alias Pil Biru

Tahukah anda bahwa penemuan sildenafil (Viagra) adalah tidak sengaja? Kisahnya pada tahun 1991, Dr. Nicholas Terret dan timnya di perusahaan farmasi Pfizer sedang meneliti sildenafil (molekul UK-92, 480) sebagai obat hipertensi dan angina pektoris. Angina pektoris adalah penyakit jantung di mana terjadi penyempitan/kontraksi pembuluh darah jantung (vasokonstriksi). Namun ternyata efek sildenafil terhadap angina pektoris sangat minimal. Hasil yang didapat justru di luar dugaan. Beberapa relawan yang menggunakan sildenafil justru merasakan ereksi pada penisnya. Menurut hipotesis, ereksi merupakan efek samping sildenafil. Dari situ kemudian obat ini justru dikembangkan menjadi obat untuk mengatasi disfungsi ereksi pada pria. Kok bisa ya obat untuk jantung malah jadi obat untuk penis?

Bagaimana Viagra bisa membantu penis ereksi?
Mekanisme fisiologis ereksi pada penis pada saat ada stimulasi seksual melibatkan pelepasan suatu senyawa, yaitu oksida nitrat (NO) dari bagian penis yang disebut corpus cavernosum. NO ini akan mengaktifkan enzim guanilat siklase (GC), yang menyebabkan peningkatan senyawa siklik guanosin monofosfat (cGMP), yang selanjutnya menyebabkan pelebaran pembuluh darah di sekitar corpus cavernosum. Dengan pelebaran pembuluh darah di sekitar penis, maka darah dapat mengalir ke penis dan menyebabkan pembesaran penis. Senyawa cGMP ini bisa dirusak oleh oleh enzim yang namanya fosfodiesterase-5 (PDE5). Sildenafil bekerja menghambat enzim tersebut sehingga kadar cGMP tetap banyak dan dapat menyebabkan ereksi penis.

Mekanisme aksi Sildenafil mengatasi disfungsi ereksi

Mekanisme aksi Sildenafil mengatasi disfungsi ereksi

Belakangan diketahui bahwa enzim ini justru banyak terdapat di otot pembuluh darah penis dan paru-paru, bukan di jantung. Itulah mengapa obat ini tidak begitu efektif untuk angina pectoris (penyempitan pembuluh darah jantung), tapi justru lebih poten pengatasan untuk disfungsi ereksi dan penyempitan pembuluh darah paru-paru (hipertensi pulmonary).
Kembali ke cerita penemuan tadi, dengan adanya efek tak disangka-sangka tesebut, akhirnya pada tahun 1994, Pfizer memutuskan untuk melanjutkan uji klinik untuk lebih menggali potensi sildenafil sebagai obat disfungsi ereksi. Ian Osterloh adalah peneliti Pfizer yang amat berperan dalam penemuan sildenafil untuk indikasi disfungsi ereksi, sedangkan Peter Dunn dan Albert Wood adalah yang berjasa mensintesis sildenafil dalam bentuk pil. Sildenafil mendapat ijin FDA sejak 27 Maret 1998 dengan nama Viagra dan kini menjadi obat yang sangat laris dalam pengobatan disfungsi ereksi. Sekitar 600.000 dokter meresepkan sildenafil di 110 negara. Viagra adalah tergolong obat keras yang harus diperoleh dengan resep dokter.
Namun sayangnya dengan kepopulerannya ini, Viagra menjadi obat yang sangat banyak disalahgunakan, dan juga diedarkan secara illegal. Seperti yang disebutkan di awal tulisan ini, Viagra banyak dicampurkan dalam suplemen kesehatan stamina pria. Selain itu Viagra juga banyak dijual secara illegal di kios-kios khusus yang menawarkan “Pil Biru” atau secara online yang rawan terhadap penipuan atau pemalsuan.
Turunan sildenafil

Keluarga inhibitor PDE-5

Keluarga inhibitor PDE-5

Selain Viagra (sildenafil), ada pula turunan sildenafil yang juga sering dicampurkan dalam suplemen kesehatan stamina pria. Apa saja mereka? Mengekor kesuksesan Viagra, para ahli kemudian mengembangkan obat disfungsi ereksi yang masih satu keluarga dengan sildenafil, yaitu tadalafil (Cialis), vardenafil (Levitra), dan avanafil (Stendra). Karena masih satu golongan, mekanisme kerja mereka sama, yaitu sebagai penghambat enzim fosfodiesterase-5, sehingga mencegah degradasi siklikGMP yang berperan dalam proses ereksi penis.

Lalu apa perbedaannya dengan Viagra?
Cialis (tadalafil) bisa berada lebih lama di dalam tubuh daripada Viagra, karena memiliki waktu paruh jauh lebih panjang yaitu 17,5 jam (Viagra hanya 4 jam). Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan oleh obat untuk menjadi separuhnya. Artinya, dalam waktu 4-5 jam, kadar Viagra dalam tubuh tinggal separonya, karena separonya yang lain sudah mulai dieliminasi/dikeluarkan dari tubuh. Sedangkan Cialis, dia baru akan tinggal separonya dalam waktu 17,5 jam. Implikasinya adalah bahwa durasi aksi Cialis menjadi lebih lama, sampai kurang lebih 36 jam, dibandingkan dengan Viagra yang aksinya hanya maksimal sekitar 12 jam. Tapi tentu ada konsekwensinya juga, dengan obatnya tinggal lebih lama di dalam tubuh, maka efek samping yang mungkin dialami pasien juga akan lebih lama. Bedanya lagi, efek Viagra akan berkurang jika dikonsumsi dengan makanan yang mengandung lemak, sedangkan Cialis efeknya tidak dipengaruhi oleh adanya makanan. Efek samping khas dari tadalafil adalah nyeri otot dan nyeri punggung.
Levitra termasuk saudara Viagra, yang tergolong baru dalam pengobatan disfungsi ereksi. Waktu paruhnya sebanding dengan Viagra yaitu 4 jam. Tapi kelebihannya adalah ia lebih poten dari Viagra, sehingga bisa dipakai dalam dosis lebih kecil dari Viagra (10% dosis Viagra). Namun sama dengan Viagra, efektivitas Levitra juga dipengaruhi oleh adanya makanan dan memiliki efek samping khas yaitu gangguan penglihatan.

perbandingan Viagra Cialis dan Levitra

perbandingan Viagra Cialis dan Levitra

Avanafil (Stendra) merupakan anggota keluarga sildenafil yang terbaru, yang baru disetujui peredarannya pada tahun 2012 di Amerika. Kelebihan analafil dibandingkan pendahulunya adalah efeknya lebih cepat. Jika Viagra membutuhkan waktu 30-60 menit untuk menghasilkan efeknya, maka avanafil hanya perlu 15-30 menit. Efek samping avanafil juga lebih sedikit karena bekerja lebih spesifik pada enzim PDE5.

Apa efek samping umum sildenafil dan turunannya?
Walaupun ada efek samping spesifik untuk masing-masing obat, tetapi keluarga sildenafil/Viagra ini memiliki efek samping umum, yang meliputi : sakit kepala (10-16 %), wajah memerah dan terasa panas (5-12%), gangguan pencernaan (4-12%), hidung tersumbat (1-10%) dan nggliyeng (2-3%) dan gangguan penglihatan. Karena aksi obat ini adalah dengan melebarkan pembuluh darah, maka penggunaan berlebih bisa menurunkan tekanan darah. Sehingga, pasien hipertensi maupun gangguan jantung yang sedang menggunakan obat-obat anti hipertensi atau obat pelebar pembuluh darah seperti golongan nitrat, harus hati-hati menggunakannya, karena bisa menyebabkan tekanan darah turun drastis, syok, dan bahkan bisa berakibat pada kematian.
Hati-hati menggunakan suplemen kesehatan stamina pria
Dalam keadaaan memang diperlukan terutama untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, suplemen kesehatan stamina pria memang sangat membantu. Namun demikian, perlu berhati-hati menggunakannya. Gangguan ereksi sendiri bisa disebabkan karena kondisi kesehatan yang menurun, atau gangguan psikologis. Tentu gangguan ini perlu diatasi lebih dahulu, temasuk jika ada gangguan piskologis. Menjaga kesehatan secara umum dengan olahraga dan makanan sehat serta vitamin bisa membantu mendapatkan tubuh yang bugar. Untuk penggunaan suplemen kesehatan khusus untuk stamina pria, perlu berhati-hati memilihnya. Pilihlah merk dari industri farmasi yang sudah cukup besar yang umumnya lebih tertib dalam pembuatan produknya terkait adanya pencampuran dengan bahan kimia obat. Jika ada tanda-tanda efek samping seperti di atas, ada kemungkinan suplemen tersebut dicampur sildenafil atau turunannya.

Jika anda memiliki gangguan hipertensi atau jantung, dan sedang mengkonsumi obat-obat hipertensi atau jantung, jangan sembarangan mengkonsumsi suplemen obat kuat ini karena bisa berbahaya. Siapa yang tahu berapa kadar obat sildenafil yang dicampurkan? Siapa yang akan membatasi penggunaannya? Jangan pula mudah membeli di kios-kios kecil penjual obat kuat maupun secara online. Pembelian melalui jalur illegal rawan terhadap pemalsuan obat. Tentu sayang membuang uang banyak untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Kalau hanya sekedar membuang uang mungkin masih tidak apa, bagaimana jika sampai mengorbankan kesehatan lainnya jika terkena efek samping atau efek toksik yang tidak dikehendaki atau mendapat obat palsu yang berbahaya? Obat-obat sildenafil dan turunannya semestinya diperoleh melalui resep dokter dan digunakan dengan dosis sesuai kebutuhan. Jika memang ada gangguan fungsi ereksi secara organik, sebaiknya diperiksakan ke dokter ahlinya untuk mendapatkan penanganan yg tepat.

Demikian semoga bermanfaat..





Bahayanya obat herbal yang dicampur BKO, 51 produk ditarik oleh BPOM

30 11 2014

Dear kawan,

jamu-bpom-dlmTulisan ini adalah reposting tulisanku di harian Tribun Yogya hari ini. Sayangnya yang di koran tidak menampilkan daftar tabel 51 obat yang diumumkan oleh BPOM mengandung BKO karena keterbatasan space. Karena itu aku repost di sini disertai link yang bisa dibuka mengenai daftar obat herbal tersebut..

Belakangan ini jamu atau obat herbal menjadi primadona dan pilihan masyarakat sebagai alternatif pengobatan, karena dipandang aman dan harganya lebih murah. Hal ini membuat maraknya pertumbuhan industri obat tradisional dengan aneka produknya. Sayangnya, alih-alih memproduksi obat herbal yang manjur dan aman, beberapa di antara mereka berbuat curang dengan mencampurkan komponen obat herbalnya dengan obat-obat kimia, dengan tujuan agar efeknya lebih ces-pleng. Hal ini tidak dibenarkan dalam peraturan pendaftaran dan produksi obat tradisional di Indonesia. Setelah melakukan pengawasan sejak bulan November 2013 sampai Agustus 2014, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) menemukan sebanyak 51 produk Obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat (OT-BKO), dimana 42 diantaranya merupakan produk OT tidak terdaftar (ilegal). Karena itu, pada tanggal 26 November 2014 yang baru lalu, BPOM menyampaikan siaran pers mengenai beberapa produk jamu yang masuk dalam kategori tersebut dan membatalkan nomor ijin produk-produknya.  Daftar produk yang masuk kategori tersebut dapat dilihat pada tautan ini..
Berdasarkan siaran pers tersebut, diketahui bahwa obat tradisional yang dicampur dengan bahan kimia obat didominasi oleh jamu penghilang rasa sakit (pegel linu, rematik) dan herbal penambah stamina (obat kuat). Obat kimia yang paling sering dicampurkan adalah parasetamol, fenilbutason, deksametason, antalgin, sildenafil dan tadalafil sitrat. Artikel ini akan membahas bahayanya jika obat-obat kimia tersebut dicampur dalam sediaan jamu/herbal dan digunakan secara jangka panjang.
Parasetamol atau asetaminofen

metabolisme parasetamol/asetaminofen membentuk NAPQI

metabolisme parasetamol/asetaminofen membentuk NAPQI

Parasetamol adalah obat penghilang sakit (analgesik) yang sebenarnya aman jika digunakan sesuai aturannya. Obat ini banyak dijumpai pada komponen obat flu maupun sakit kepala. Jika dicampurkan ke dalam jamu, misalnya jamu pegel linu atau jamu rematik, tentu akan meningkatkan kemanjuran jamu tersebut. Jika hanya dipakai sekali dua kali memang tidak berbahaya bagi kesehatan. Tetapi masalahnya, masyarakat pada umumnya menganggap jamu itu aman dan mereka cenderung mengkonsumsi setiap hari. Jika dipakai setiap hari, maka parasetamol akan terakumulasi dalam tubuh. Pada dosis besar, parasetamol dapat merusak hati/liver menyebabkan gangguan liver. Di dalam tubuh, parasetamol akan dimetabolisir menghasilkan zat radikal bebas yang bernama N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI). Dalam keadaan normal, NAPQI akan didetoksikasi secara cepat oleh enzim glutation dari hati. Pada dosis berlebih, hati tidak mampu lagi mendetoksikasinya, dan zat radikal bebas tersebut justru dapat merusak hati.

Pet Health Care Phenylbutazone Bute Banned

Peringatan pelarangan penggunaan fenilbutazon untuk manusia

Fenilbutason
Fenilbutason juga merupakan obat penghilang sakit (analgesik) seperti parasetamol, tetapi memiliki sifat yang berbeda. Obat ini sebenarnya sudah tidak banyak digunakan lagi karena efek sampingnya yang besar. Obat ini banyak digunakan untuk binatang seperti kuda.  Di Amerika, obat ini bahkan sudah ditarik dari peredaran karena banyak obat baru yang lebih aman. Efek samping khas dari fenilbutason adalah penekanan pada sumsum tulang belakang yang berfungsi menghasilkan sel-sel darah putih, sehingga menyebabkan turunnya jumlah sel darah putih. Penurunan sel darah putih menyebabkan seseorang mudah terkena infeksi. Selain itu, fenilbutason juga menyebabkan efek samping pada lambung, karena menghambat prostaglandin yang dibutuhkan untuk perlindungan selaput lendir lambung. Penggunaan yang terus-menerus dalam bentuk jamu tentu akan memberikan efek samping yang berbahaya, bahkan bisa menyebabkan perdarahan lambung. Repotnya, pasien tidak merasakan sakit pada lambungnya karena tertutupi efek fenilbutazon sebagai penghilang rasa sakit, namun tahu-tahu mengalami anemia atau tinjanya berwarna hitam (melena) akibat mengandung darah yang sudah kering.

gastrointestinal-bleeding_3

Ilustrasi perdarahan lambung yang bisa disebabkan karena pemakaian obat kortikosteroid secara kronis

Deksametason
Deksametason adalah obat golongan kortikosteroid yang memilliki efek anti radang yang kuat. Jika digunakan sesuai aturannya, obat kortikosteroid memiliki banyak kegunaan, terutama pada penyakit-penyakit peradangan, seperti rematik, asma, alergi, dan penyakit autoimun seperti lupus, sindrom nefrotik, artritis rematoid, dll. Namun di sisi lain, efek sampingnya cukup luas, antara lain adalah meningkatkan kadar gula darah (meningkatkan resiko diabetes), keropos tulang (osteoporosis), menghambat pertumbuhan anak-anak, menyebabkan gemuk pada bagian tubuh tertentu (wajah bulat/moon face, bahu seperti berpunuk), menyebabkan garis-garis merah di perut (striae), menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena infeksi, meningkatkan resiko hipertensi karena menahan garam di dalam tubuh, menyebabkan gangguan lambung (perdarahan lambung), dll. Penggunaan obat ini tidak boleh sembarangan dan perlu pengawasan tenaga kesehatan yang berwenang. Jika digunakan sesuai aturan, tentu efek-efek samping ini dapat dikelola agar tidak membahayakan. Penghentiannya pun tidak boleh secara tiba-tiba, karena juga dapat membahayakan kesehatan. Mengapa demikian ? Karena selama penggunaan kortikosteroid dari luar, produksi hormon ini secara alami dari tubuh akan terhenti. Jika penggunaan dari luar tiba-tiba dihentikan, tubuh akan kekurangan hormon ini secara normal dan akan terjadi reaksi-reaksi yang tidak diinginkan, seperti: kadar gula darah turun, tekanan darah turun drastis dari posisi duduk ke berdiri (hipotensi ortostatik), dehidrasi (kekurangan cairan), lemah, lesu, dll. Penggunaan yang tidak terkontrol dalam bentuk jamu tentu dapat meningkatkan risiko kesehatan bagi pasien. Alih-alih sehat, malahan masuk rumah sakit akibat menggunakan jamu bercampur dengan obat kimia.

Antalgin
Antalgin adalah obat penghilang rasa sakit yang juga banyak dipakai masyarakat. Ia bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin yang berperan sebagai mediator nyeri. Hampir sama dengan fenilbutazon, efek samping antalgin yang berat adalah gangguan darah yang disebut agranulositosis, yang berarti berkurangnya jumlah sel darah putih, khususnya neutrofil granulosit. Gejala agranulositosis adalah gampang terkena infeksi, tubuh terasa lemah (tidak enak badan, lemah, pusing, sakit otot), diikuti dengan terjadinya tukak pada membran mukosa, demam dan denyut jantung meningkat.

Sildenafil dan tadalafil
Sildenafil dan tadalafil adalah obat yang digunakan untuk mengatasi gangguan ereksi pada pria. Masyarakat mengenalnya sebagai obat kuat untuk pria. Banyak jamu atau obat herbal yang ditujukan untuk meningkatkan stamina pria mengandung sildenafil sebagai campurannya. Sildenafil dan tadalafil adalah obat keras yang semestinya diperoleh dengan resep dokter. Dia bekerja dengan cara melebarkan pembuluh darah penis, sehingga aliran darah ke organ tersebut lancar, sehingga menguatkan ereksi. Tetapi jika dipakai secara berlebihan, apalagi oleh orang-orang yang sedang menggunakan obat-obat antihipertensi yang bekerja melebarkan pembuluh darah juga (vasodilator), maka akan terjadi penurunan tekanan darah secara drastis dan pasien bisa pingsan, bahkan bisa menimbulkan kematian. Efek samping lain obat ini adalah buta warna, sakit kepala, pusing, hidung tersumbat, sampai dengan sakit pada kandung kemih. Alih-alih perkasa, pasien justru bisa terkapar tidak berdaya akibat efek samping obatnya.
Hati-hati memilih produk obat herbal
Dengan paparan di atas, maka dapat dipahami bahayanya mengkonsumsi obat-obat herbal yang dicampur dengan obat kimia tanpa aturan yang benar. Apalagi masyarakat sering berpendapat bahwa jamu itu aman dan bisa digunakan dalam jangka panjang. Efek obat herbal atau jamu memang pada umumnya terjadi secara bertahap (perlahan). Jika terlalu cepat atau terlalu kuat, justru boleh dicurigai adanya campuran dengan obat kimia. Kami menghimbau masyarakat untuk berhati-hati memilih dan membeli obat herbal. Belilah di apotek atau toko obat yang dipercaya. Pilihlah obat herbal yang diproduksi oleh industri farmasi yang sudah cukup dikenal, mereka biasanya tidak berani bertindak kriminal dengan mencampurkan bahan kimia obat ke dalam produk obat herbalnya.





Hati-hati menggunakan antibiotika agar tidak terjadi resistensi bakteri

5 10 2014

Dear kawan,

ini reposting tulisanku di Harian Tribun hari ini…. satu halaman penuh loh.. 🙂

Baru-baru ini, dalam sebuah kesempatan Ibu Menteri Kesehatan dr. Nafsiah Mboi meminta kepada Apoteker untuk tidak sembarangan memberikan atau menjual antibiotik tanpa resep dokter, karena penggunaan antibiotika yang tidak tepat dapat memicu terjadinya resistensi bakteri. Sebuah himbauan yang simpatik, tetapi Penulis berpendapat bahwa masalah resistensi bakteri tidak hanya melibatkan peran apoteker sebagai penyedia obat, tetapi juga ada dua faktor utama yang lain, yaitu pola peresepan oleh dokter yang tidak selalu tepat dan perilaku pasien sendiri yang salah dalam menggunakan antibiotika. Tulisan kali ini lebih ditujukan kepada masyarakat luas untuk lebih mengenali bakteri, obat-obat antibiotika dan cara penggunaannya yang tepat, sehingga dapat turut mencegah terjadinya risiko resistensi bakteri. Lebih mudah mengedukasi masyarakat, daripada mengingatkan dokter yang pintar-pintar hehe….

Apakah bakteri itu?

Macam-macam bakteri

Macam-macam bakteri

Bakteri adalah organisme yang sangat kecil dan berukuran mikron, yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop, sehingga disebut juga mikroorganisme. Mikroorganisme sendiri ada bermacam-macam jenisnya, antara lain adalah virus, jamur, parasit, termasuk bakteri. Bakteri dapat dijumpai di hampir semua tempat, seperti tanah, air, udara, hidup bersama dengan organisme lain (ber-simbiosis), bahkan dalam tubuh manusia. Sebagian dari mereka bersifat merugikan dan dikenal sebagai penyebab infeksi dan penyakit pada manusia, sedangkan sebagian lain ada yang bermanfaat misalnya di bidang pangan, pengobatan dan industri. Bakteri yang menyebabkan penyakit pada manusia, maupun pada hewan dan tumbuhan, disebut bakteri patogen. Beberapa contoh bakteri patogen dan penyakit yang ditimbulkannya adalah seperti di bawah ini:
No. Nama bakteri Penyakit yang ditimbulkan
1. Salmonella typhi :  Tifus
2. Shigella dysenteriae : Disentri basiler
3. Vibrio cholera : Kolera
4. Haemophilus influenza : Influensa
5. Diplococcus pneumoniae : Pneumonia (radang paru-paru)
6. Mycobacterium tuberculosis : TBC paru-paru
7. Clostridium tetani : Tetanus
8. Neiseria meningitis : Meningitis (radang selaput otak)
9. Neiseria gonorrhoeae : Gonorrhaeae (kencing nanah)
10. Treponema pallidum : Sifilis atau Lues atau raja singa
11. Mycobacterium leprae : Lepra (kusta)
12. Treponema pertenue : Puru atau patek

Bakteri masih dapat terbagi lagi berdasarkan kemampuannya mengikat pewarna Gram, sehingga ada yang digolongkan sebagai bakteri Gram negatif dan Gram positif. Kemampuannya mengikat pewarna Gram ini ditentukan oleh perbedaan struktur dinding sel bakteri. Perbedaan ini dapat menyebabkan perbedaan sensitivitas bakteri terhadap jenis antibiotika golongan tertentu. Ada antibiotika yang lebih poten terhadap bakteri Gram negatif daripada positif, atau sebaliknya, atau bisa membunuh dua-duanya.

Antibiotika dan macamnya
antibioticsGolongan obat yang bisa membunuh bakteri disebut dengan golongan obat antibiotika. Terdapat sedikitnya 4 golongan antibiotika berdasarkan mekanisme kerjanya dalam membunuh bakteri, yaitu:
1. Yang bekerja menghambat pembentukan dinding sel bakteri, contoh : golongan Penisilin dan Sefalosporin, misalnya amoksisilin, ampisilin, sefotaksim, sefiksim, seftriakson
2. Yang bekerja menghambat tanskripsi dan replikasi DNA bakteri, contoh: golongan kuinolon (siprofloksasin), rifampisin, aktinomisin
3. Yang bekerja menghambat sintesis protein bakteri, contohnya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin), aminoglikosida, tetrasiklin, kloramfenikol, dll
4. mengantagonis asam folat yg diperlukan untuk pertumbuhan bakteri, contohnya : golongan sulfa

Dari sini dapat diketahui bahwa macam antibiotika itu cukup banyak, dan masing-masing memiliki spesifikasi dan potensi terhadap jenis bakteri tertentu. Ketika seorang pasien didiagnosa terkena infeksi bakteri, maka dokter akan memilihkan antibotika yang sesuai dengan kondisi pasien (jenis penyakit, macam bakteri penginfeksi, sensitivitas kuman terhadap antibotika).

Mengapa bakteri bisa resisten/kebal terhadap antibiotika?

Proses berkembangnya bakteri yg resisten

Proses berkembangnya bakteri yg resisten

Yang dimaksud dengan resistensi bakteri adalah kondisi ketika suatu strain bakteri menjadi resisten (kebal) terhadap antibiotik. Resistensi ini berkembang secara alami melalui mutasi yang terjadi secara perlahan dan acak dan juga bisa disebabkan oleh pemakaian obat antibiotik yang tidak tepat sebagai adaptasi bakteri terhadap tekanan lingkungan. Setelah gen resisten dihasilkan, bakteri kemudian dapat mentransfer informasi genetik secara horisontal (antar individu) dengan pertukaran plasmid. Mereka kemudian akan mewariskan sifat itu kepada keturunannya, yang akan menjadi generasi resisten. Bakteri bisa memiliki beberapa gen resistensi, sehingga disebut bakteri multiresisten atau “superbug”. Resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia. Resistensi bakteri memang seperti tidak terasakan secara langsung akibatnya oleh pasien, namun baru akan terasakan dampaknya ketika seseorang terinfeksi dan tidak sembuh-sembuh setelah diberi antibiotika. Hal ini bisa terjadi jika pasien tersebut terinfeksi oleh bakteri yang resisten antibiotik, sehingga pengobatannya menjadi lebih sulit dan harus menggunakan obat yang lebih kuat dan lebih mahal dengan lebih banyak efek samping. Jika kejadian ini terakumulasi dalam sekelompok masyarakat, maka biaya kesehatan menjadi sangat meningkat.

Seperti apa penggunaan antibiotika yang tidak tepat?
Walaupun hubungan langsungnya tidak sangat jelas, tetapi banyak laporan menunjukkan bahwa ada hubungan antara penggunaan antibiotika yang tidak tepat dengan kejadian resistensi bakteri. Bakteri adalah organisme yang memiliki daya adaptasi yang tinggi, sehingga resistensi terhadap antibiotika bisa merupakan respon bakteri terhadap lingkungannya, termasuk terhadap paparan antibiotika. Alih-alih terbunuh, sebagian dari mereka justru berkembang menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut. Beberapa contoh penggunaan antibiotika yang tidak tepat dan memicu resistensi antibiotik adalah :
1. Penggunaan antibiotik berlebihan
Antibiotika tidak bisa membunuh virus. Beberapa penyakit yang sering kita jumpai seperti flu, batuk, diare, sebagian besar disebabkan oleh virus. Namun seringkali dokter meresepkan atau juga pasien berinisiatif untuk menggunakan antibiotik. Semestinya antibiotik hanya diperlukan bila flu dan pilek sudah ditumpangi infeksi sekunder oleh bakteri, dan itu dapat terlihat dari adanya tanda-tanda infeksi. Penggunaan yang tidak tepat seperti ini bisa menyebabkan bakteri yang semula “lemah” akan ber-evolusi menjadi bakteri yang “kuat” dan resisten.
2. Penggunaan antibiotik yang terputus/tidak habis
Sering terjadi pasien menghentikan penggunaan antibiotika jika sudah merasa sembuh, padahal penggunaan antibiotika seharusnya dilakukan sampai jangka waktu tertentu, misalnya 5 hari atau 7 hari. Antibiotik harus habis diminum walaupun sudah merasa nyaman. Penggunaan yg tidak habis akan membunuh bakteri yang sensitif saja, dan meninggalkan bakteri yang masih “kuat’. Selanjutnya bakteri yang masih hidup menjadi resisten/kebal dan berkembang biak, dan memerlukan antibiotik yang lebih kuat (dan biasanya lebih mahal) ketika mengalami infeksi berikutnya.

Bagaimana seharusnya?

stop penggunaan antibiotika berlebihan

stop penggunaan antibiotika berlebihan

Mengetahui hal ini maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menekan kejadian resistensi bakteri:
1. Dokter sebaiknya lebih berhati-hati dalam meresepkan antibiotika, jangan terlalu mudah meresepkan antibiotika untuk penyakit-penyakit yang lebih banyak disebabkan oleh virus. Hal ini yang kemudian sering ditiru oleh masyarakat, di mana ketika merasakan sakit yang diduga sama, dan karena dulu pernah mendapatkan resep antibiotika, maka masyarakat mencoba mengobati sendiri dengan antibiotika.

2. Tenaga kesehatan selain dokter seperti bidan, perawat, mantri, juga semestinya tidak mudah memberikan antibiotika kepada pasien.

3. Apoteker lebih berhati-hati memberikan/menjual antibiotika. Jangan memberikan/menjual antibiotika sembarangan tanpa resep dokter. Jangan gantungkan rezeki Anda di sini, Insya Allah ada sumber lain yang lebih bermaslahat bagi masyarakat. Jika menyiapkan resep antibiotika untuk pasien, sebaiknya berikan edukasi secukupnya mengenai cara penggunaan obatnya yang tepat, misalnya : harus habis, dll.
4. Masyarakat/pasien sebaiknya tidak mudah pula mengobati diri sendiri dengan antibiotika. Karena penyakit yang nampaknya sama, belum tentu demikian, sehingga sebaiknya mendapatkan diagnosa yang tepat dari dokter. Apotek menjual antibiotika tanpa resep karena ada permintaan pasien. Rangkaian proses ini perlu diputuskan. Jangan mudah apalagi memaksa membeli antibiotik di Apotek tanpa resep dokter. Jangan menggunakan antibiotik pada penyakit-penyakit ringan akibat virus seperti flu, batuk, pilek, diare.
5. Dokter dan apoteker sebagai sesama tenaga kesehatan perlu meningkatkan komunikasi yang lebih efektif terkait dengan penggunaan antibiotika. Apoteker lebih memahami mengenai antibiotik dan indikasinya, sementara dokter juga terbuka untuk diingatkan jika meresepkan antibiotika secara kurang rasional.

Demikian, semoga bermanfaat….