Story behind the scene : meraih momentum…

9 03 2009

Dear kawan,

Ijinkanlah aku menulis sebuah “story behind the scene” dalam satu episode hidupku, untuk melepaskan beban hati, dan untuk dipahami bahwa pada dalam setiap diri manusia ada sisik meliknya… yang seringkali tidak tampak seperti kelihatannya.

Beberapa minggu telah berlalu sejak aku menerima SK sebagai guru besar. Ucapan selamat berdatangan disertai ungkapan yang membesarkan hati… Kelihatan begitu hebat, excellent….. Terimakasih atas atensi teman-teman. Tapi dalam lubuk hatiku terdalam… ada perasaan gundah dan tak percaya… “ Is it true that I am now a professor ?…. Pantaskah ? Benarkah kau sudah siap membebani dirimu dengan gelar seberat itu sekarang?”

Kalau dibilang menyesal, tentu orang akan bilang aku belagu amat.. atau tidak bersyukur. Tapi sungguh ada perasaan miris…. mampukah? Kemaren aku mendapat SMS dari pegawai di Majelis Guru Besar (MGB) UGM. Katanya,” Selamat siang, Prof. SK Guru Besar panjenengan sudah turun dan tanggal 20 Maret akan diperkenalkan di pleno MGB…dst.” Duh….. hatiku jadi ciut. Aku yakin pak pegawai yang meng-SMS aku tadi tidak pernah membayangkan “profesor”-nya seperti apa. Aku membayangkan orang akan bilang,”.. Iki profesore kok ora meyakinkan….” atau…”Profesor kok kayak gini…. kok kayak gitu.”

Aku mencoba mengingat-ingat lagi pertimbanganku ketika aku akan mengajukan kenaikan pangkat untuk guru besar. Sungguh, sebelumnya aku tidak kepikiran untuk segera menjadi profesor. Tapi seorang seniorku waktu itu, mungkin basa-basi saja, sempat bertanya ringan,”… Kapan nih ngajuin guru besarnya?” Aku waktu itu hanya senyum-senyum saja, dan menjawab,” Ah… masih jauh, Pak…. nunggu sampai golongan IV/b dulu” (waktu itu aku masih golongan III/d).

Tapi pertanyaan itu tadi jadi menggelitikku,… kok Bapak tadi menanyakan gitu ya… memangnya aku sudah wangun jadi profesor. Coba ah, aku hitung-hitung lagi kum (kredit poin)-ku, untuk kegiatan pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan penunjang. Wah…. kok ya ternyata cukup.

Tapi aku masih ragu-ragu. Akupun minta pertimbangan sekaligus ijin pada suami. ” Mas, kalau aku mau ngajuin guru besar duluan gimana ya?” Kata suamiku sih nggak papa. “Ya, nggak papa. Memangnya kalau jadi profesor nanti Adik jadi berubah? Enggak kan?”….. Iya juga sih, naik pangkat itu kan hal biasa dalam pekerjaan. Malah wajib, kata seorang sesepuh senior di Fakultas, sebagai pertanggung-jawaban terhadap pekerjaan kita. Oke, restu suami sudah diperoleh. Kum sudah cukup. Tinggal keputusanku sendiri kapan akan mengajukan kenaikan pangkat menjadi guru besar.

O,ya… proses pengajuan kenaikan pangkat sendiri butuh waktu, bisa berbulan-bulan. Just for your info, … pertama setelah menyusun kum dalam form yang sudah ditentukan (aku waktu itu menyusun sendiri dibantu “sekretaris pribadi”ku hehe…), pengusulan diajukan ke Bagian dan akan dievaluasi oleh para senior di Bagian. Jika oke, diajukan ke Senat Fakultas. Di sini yang paling berat, karena akan dinilai oleh Komisi II Senat yang memang bertugas dalam penilaian angka kredit dalam pengajuan kenaikan pangkat. Bisa jadi terjadi pengurangan nilai kum dari yang diusulkan jika memang dianggap kurang layak. Karena anggota Komisi II ini adalah beliau-beliau yang ahli dalam bidangnya, maka beliau-beliau ini akan mudah melihat kekurangan-kekurangan substantif dari usulan yang diajukan. Jika lolos, maka akan diajukan ke Majelis Guru Besar UGM untuk dievaluasi lagi. Katanya sih tahap ini relatif lebih ringan, karena secara substansi sudah diACC di fakultas. Setelah lolos lagi dari MGB, maka akan dikirim ke Jakarta, untuk dievaluasi akhir. Dan jika OK, maka SK akan segera ditanda-tangani. Pengalamanku sendiri, butuh waktu satu tahunan, mulai dari awal proses pengajuan di Bagian sampai SK turun.

Waktu itu awal tahun 2008……  Aku belum lama menggenapi usiaku jadi 39 tahun. Aku masih menimbang-nimbang kapan aku akan mengajukan kenaikan pangkat. Terus terang, aku masih merasa belum matang benar dan belum pantas mendapat gelar jabatan akademik tertinggi itu. Tunggulah 3-4 tahun lagi…. tambahlah lagi beberapa paper, kalau bisa di jurnal internasional. Begitu saran sebagian hatiku. Tapi kata sisi hatiku yang lain berbeda. “Jeng, …. ini momentum yang bagus. Kamu ingin sedikit istimewa… atau biasa-biasa saja? Kalau nunggu 3-4 tahun atau 5-6 tahun lagi….. nilainya mungkin akan sama saja jika kamu mengajukan 9-10 tahun lagi. Usia 40 tahun itu monumental lho…… kata orang – Live begins at forthy..— Kalau kamu bisa meraih gelar itu pada usia 40 tahun, kamu pasti akan punya monumen yang akan kamu kenang seumur hidup, dan bisa kau ceritakan pada anak cucu….. jadi ajukanlah sekarang juga. Prosesnya lama. Mudah-mudahan Desember nanti sudah kelar, sehingga pada ulangtahunmu ke 40 nanti, kamu bisa menghadiahi dirimu sendiri dengan gelar baru. Dan mudah-mudahan ini bisa menjadi spirit dan inspirasi buat teman-teman muda yang lain”.   Begitulah….. suatu pertimbangan sentimentil dari sisi hatiku yang sentimentil….

Akhirnya, dengan pertimbangan sentimentil itu aku beranikan diri mengajukan kenaikan pangkat menjadi guru besar. Kukatakan pertimbangan sentimentil, karena memang pertimbangannya kurang menggunakan logika. Belum dipikir nanti bebannya seperti apa dengan gelar seberat itu, yang baru terasakan sekarang….(uff..!). Walaupun akhirnya pada ulangtahunku di bulan Desember aku belum bisa menghadiahi diriku dengan SK itu, SK yang kuterima bulan Pebruari ini mulai berlaku sejak 1 Oktober 2008. Jadi memang kucapai juga satu momentum hidupku, menjadi profesor sebelum 40 tahun (kurang sedikit). Sungguh sentimentil bukan ?

 Jadi kawan, ……

Ketika aku mengajukan kenaikan pangkat menjadi guru besar itu, bukanlah berarti aku merasa sudah pantas. Tapi lebih untuk meraih suatu momentum berharga dalam kehidupanku. Seperti bayi yang lahir prematur, perlu dimasukkan inkubator,… begitulah rasanya keprofesoranku. Jadi aku masih harus menginkubasi diriku sampai menjadi cukup mature. Mudah-mudahan tidak mengurangi kewibawaan “korps” guru besar yang identik dengan kepakaran, wisdom, kematangan….. Jadi maafkan kalo aku masih suka “pecicilan”…atau terlalu ‘gaul”..

Tau tidak pertanyaan polos anakku ketika aku ceritakan bahwa ibu sekarang jadi profesor ? Dia tanya, “ Memangnya ibu menemukan apa kok bisa jadi profesor? “ Aku jadi sedikit tercekat. Aku tertawa saja, tapi juga jadi mikir. Iya juga, ya….. pada pemahaman orang awam termasuk anak kecil, profesor itu orang hebat, punya penemuan sesuatu yang hebat… dst. Ah….. ! Cukup berat beban harapan di hadapan…… Tapi sudahlah, enjoy saja….. wong sudah terjadi. Biarkan mengalir saja…

Akhirnya aku hanya bisa memohon kekuatan pada Allah semoga bisa menjalankan amanah ini dengan baik dan menjadi barokah. Dijauhkan dari kesombongan dan takabur. Mohon doa restunya saja dari teman-teman. Don’t expect too much, ya….

Jadi kawan,

Kalian pun bisa meraih momentum apapun dalam hidupmu, yang akan membuat hidupmu terasa lebih berharga…. Jangan lewatkan kesempatan, karena ia kerapkali tak datang dua kali….

Begitulah…….


Aksi

Information

14 responses

19 10 2009
Dundil

Baca ini jadi kangen sama Mbak Lies.
Smg senantiasa dalam lindungan Allah SWT ya Mbak, amin.
Love u Mbak.

19 10 2009
nova

Inspiring story…
Sejak menjadi murid bu zullies, saya kagum sama ibu..masih muda tapi sudah S3. Waktu itu saya menebak…pasti bentar lagi bakal jadi professor…ternyata doa kami terkabul..hehehe. Selamat…barakallah…

28 05 2009
Santi UMP

Ass. Selamat ya Bu, sungguh2 sangat menginspirasi. Semoga terus menjadi saluran pembelajaran buat kmi para junior🙂

29 04 2009
afifah

that’s great….
walaupun terlambat tapi saya juga mau mengucapkan selamat……
semoga ilmu yang bu zullies miliki mendatangkan keberkahan.Amin
hal yang paling saya takuti adalah punya ilmu, tapi ilmu itu tidak berkah… jadi kalau melihat bu zullies wah…. jadi kepingin juga,punya ilmu yang bisa bermanfaat…. tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang banyak….
semoga sukses selalu….

Jawab:
Amien…. terimakasih, Mbak Afifah.

29 03 2009
juwita

asss.wr.wb
kecil-kecil cabe rawit,,pedes sekali, cocok banget u ibu yang pintar, lincah and bahagia
selamat bu prof,,
semoga kami juga dapat termotivasi ” semangat”

25 03 2009
nuke

Aku ngga tau apa Yulis inget ngga ama aku, but the thing is that..reading this entry..made me feel so proud of you..i could tell my hubby that i know someone..being prof in very young age..

Selamat ya..Jeng, mungkin rada telat le ngucapin tapi ngga popo you..

Sukses…

Jawab:
Halo Nuke, tentu aku masih ingat kamu… sekarang di mana nih?

19 03 2009
desy

alhamdulillah.. selamat ya bu atas gelar yang ibu dapatkan
walaupun saya bukan S1 farmasi ugm, saya cukup bangga dengan predikat yang ibu raih dan bisa jadi motivasi calon2 farmasis lainnya.. saya baru 1 bulan belajar di profesi ugm tapi saya suka gaya ibu mengajar….
doakan kami ya bu smoga suatu saat kami bisa mengikuti jejak langkah ibu di masa mendatang…

Jawab:
makasih, jeng… saling mendoakan saja, semoga diberikan jalan lapang

17 03 2009
Ridho

penyakit orang indonesia kayaknya masih menjangkiti bu zullies, penyakit membatasi diri, apa iya saya bisa??? apa saya mampu???
bukkannya sok tau nggih bu, tapi dengan adanya SK itu kan njenengan udah dinilai layak disebut Prof. jadinya pede aja, ga usah terbeban, just do the best lah.. hahahhaah

Smangat ya bu….🙂

Jawab:
makasih semangatnya, mas Ridho. Tapi memang lho, rasanya belum pede, …. Lagi diusahakan hehe…

12 03 2009
Ayah Nissa

Menyambung masalah kredit point. Dengan melihat pencapaian kredit point yang telah dikumpulkan oleh Ibu, bisa dibayangkan betapa rajinnya Ibu mengumpulkan kredit poin tersebut. Pasti Ibu sibuk sekali, tidak hanya mengajar saja namun ditambah dengan penelitian maupun banyak menulis ya (kelihatan dari blognya yang tidak pernah sepi dari artikel). Penilaian kredit point benar benar fair sesuai aturan MenPan, sehingga memotivasi para dosen. Sepertinya kalau tidak ada aturan naik pangkat minimal 2 tahun, bisa bisa dosen naik pangkat tiap tahun bahkan 1 semester ya. Kebetulan jabatan saya juga fungsional di salah satu departemen, sehingga untuk kenaikan pangkat harus memenuhi angka kredit tertentu. Hanya saja kalau aturan MenPan diterapkan kasihan yang di kota kecil, karena volume pekerjaan sedikit maka angka kreditnya kecil sementara di kota besar pekerjaan banyak maka angka kreditnya besar. Untuk mengatasi itu maka penilaian angka kredit dibuat rata rata yang penting tiap 4 tahun naik pangkat, kecuali ada prestasi luar biasa (diakui eselon I/ Dirjen) baru bisa 3 tahun. Hal itu sudah berjalan selama 17 tahun. Jadi kalau melihat penilaian angka kredit di lingkungan dosen yang fair, bisa jadi penyemangat. Namun apa daya untuk sementara rajin ngga rajin angka kredit sama, he he he. Demikian sedikit sharing.

Jawab:
betul, Pak… saya hanya kebetulan saja ada kesempatan untuk mengumpulkan kum …..

11 03 2009
Yoseph Nahak

Selamat teman atas raihan yang karir yang luar biasa itu. Semoga menjadi bermanfaat bagi banyak orang.
Terima kasih, ceritanya memotifasi kita yang membaca

Jawab:
Makasih, Yoseph… Kapan nih reunian lagi?

10 03 2009
Agung

Selamat Mbak Zullies, semoga tetap selalu berkarya di bidang kefarmasian. Seiring dengan kenaikan pangkat maka semangat/gelora untuk berkarya juga akan semakin besar pula.
Ibu yang satu ini termasuk Guru Besar Termuda di Fakultas Farmasi UGM, dan satu-satu GB perempuan di bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi UGM.

Jawab:
hehehe…..

10 03 2009
Ayah Nissa

Kalau boleh tahu syarat untuk menjadi guru besar itu apa hanya kredit point mencukupi ya. Unsur unsur di kredit point itu apa saja, terus minimal golongannya berapa. Apakah setelah jadi guru besar, golongan otomatis jadi IV/e (golongan tertinggi dalam karir PNS). Terima kasih infonya.

Jawab:
Persyaratan formal Guru Besar adalah memenuhi kredit point sebesar 850 kum. Kredit point itu berasal dari unsur Tri Dharma, yaitu : pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, dan penunjang. Nilai kredit point itu ada di SK MenPAN, yang merinci kegiatan apa kumnya berapa. Setelah jadi Guru Besar, tidak langsung golongannya naik, untuk naik golongan harus tetap berurut, tidak bisa lompat. Untuk yang kum-nya memenuhi, naik golongan bisa setiap dua tahun tanpa perlu mengumpulkan kum lagi. Tapi jika kumnya belum memenuhi ya harus pakai kum. Golongan saya sekarang masih IV/a, itupun baru per Okt 2008. Tapi karena kum saya sudah cukup untuk sampai ke tingkat Guru Besar gol IV/e (kum saya 1070, untuk gol IV/e diperlukan 1050), nanti untuk kenaikan golongan ke IV/b dan seterusnya, saya tidak perlu mengumpulkan kum lagi, cukup diusulkan oleh fakultas. Untuk mencapai IV/e saya masih perlu waktu 8-10 tahun lagi. Masih lama…… Begitu sekilas info..😉

9 03 2009
Lutfi Chabib

Semangat Bu Zullies…
Ibu Sudah Melakukan Lompatan Yang Terbaik Dibandingkan Langkah Biasa.
Mario Teguh ” Jalan-Jalan Kebaikan Adalah Jalan Tuhan, Sehingga Orang Yang Berjalan Dalam Kebaikan Maka Anda Sudah Berjalan Dengan Tuhan”
Sukses Selalu

9 03 2009
nora

ibu..
mgkn ibu gk knl sy,,sy mahasiswa ibu yg di uii..

seneng baca blog ibu,kyk ngebaca semacam cerpen yg amat menarik..
selamat buat gelarnya ya bu,saya bangga prnh di ajar ibu..

Jawab:
trims atensinya… senang juga pernah mengajar kamu🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: