Catatan Lebaranku bersama Sindrom Skeeter dan PLC/Pleva

24 08 2012

Dear kawan,

Judul postingku kali ini sedikit aneh ya… apa hubungannya lebaran dengan istilah-istilah asing itu? Hmm..kalau mau tau, ikuti saja tulisanku kali ini. Oya, tapi sebelumnya, sebelum terlambat, …. dengan keikhlasan dan kerendahan hati, kami sekeluarga mengucapkan “Selamat hari Raya Idul Fitri 1433 H… Mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah Ramadhan kita diterima olehNya, dan kita digolongkan menjadi orang-orang yang memperoleh kemenangan. Amien. “

Bagaimana nih kabar mudik lebarannya buat yang mudik? Pasti menyenangkan dan seru ya… Tapi suer deh…lebaran kali ini aku sangat repot…. hampir-hampir tidak bisa menikmati suasana liburan Lebaran… Bagaimana tidak? Hanna, putri bungsuku yang baru berusia 10 bulan baru saja mengalami lebaran pertamanya… It means that.. aku benar-benar harus full time untuknya, karena Hanna lengkeeet.. terus kaya perangko, tidak mau dengan siapapun kecuali emaknya ini, karena mbak pengasuhnya juga mudik ke rumah ortunya. Kalau saja gampang maemnya, pasti hidupku akan terasa lebih indah dan mudah… tapi aduuh, urusan maem Hanna aja sudah bikin stress tersendiri… Tapi yah, dinikmati saja sebagai bagian dari lelakon seorang ibu…

Udah gitu…. ada satu masalah lagi yang muncul pada Hanna selama di Purwokerto terkait dengan masalah kulitnya. Pembaca setia blog ini mungkin sudah membaca posting sebelumnya tentang sakit cellulitis Hanna beberapa waktu yang lalu. Ternyata di rumah eyang uti, gangguan kulit Hanna masih berlanjut, hanya saja berbeda bentuknya. Aku tidak tahu apakah karena kebetulan saja terjadi di Purwokerto, atau akan terjadi juga jika kami tidak mudik. Ceritanya masih terkait dengan gigitan serangga, khususnya nyamuk.

Digigit nyamuk (lagi)

Benjol krn  gigitan nyamukPerjalanan mudik Jogja-Purwokerto pada tanggal 16 Agustus 2012 cukup lancar.. Ini adalah perjalanan jauh Hanna yang pertama kali dalam hidupnya. Alhamdulillah, di jalan tidak rewel. Sampai di rumah uti (eyang putri), ia sudah bobo, dan langsung aku baringkan di kasur. Everything looks very well… sampai pagi-pagi, aku lihat di tangannya ada dua bekas gigitan nyamuk dan benjolnya cukup besar, bukan sekedar bentol. Aku mulai risau, dan kuatir kalau-kalau terjadi seperti sebelumnya, yakni cellulitis.  Benjolnya lumayan besar dengan ada vesikel berisi cairan di tengahnya. Hari berikutnya nambah di tangan yang satunya, dengan bentuk sama. Wah, benar-benar kulit Hanna sensitif sekali. Hanya saja, jika aku pelajari lagi… bengkak yang sekarang ini sifatnya lebih akut/segera, dan lebih terlokalisir pada sekitar gigitan nyamuknya. Hal ini berbeda dengan bengkak sebelumnya yang sifatnya tertunda, dan lebih meluas lokasinya.

Aku segera kontak dokter Niken, dan beliau menyarankan untuk diberi salep antiradang saja, seperti mometason, dan kalau ada luka garukan, segera disalep dengan antibiotik seperti asam fusidat, untuk mencegah infeksi. Berbekal pengalaman yang lalu, aku lebih tenang walaupun sempat risau juga dan kasian melihat dia yang gelisah karena merasa gatal dan ingin menggaruk-garuk.  Pada saat sempat, aku coba googling, dan menemukan satu istilah baru yang nampaknya sesuai dengan kondisi Hanna, yaitu Sindrom Skeeter. Apa pula itu?

Sindrom Skeeter

Sindrom Skeeter adalah reaksi alergi terhadap gigitan nyamuk, yang ditandai oleh proses inflamasi dan demam. Kondisi ini berkembang karena adanya polipeptida yang bersifat alergenik yang terdapat pada air liur nyamuk. Sindrom Skeeter berkembang dalam hitungan jam sejak digigit, yang hal ini berbeda dengan cellulitis (yang dialami Hanna sebelumnya) yang berkembang dalam beberapa hari sejak paparan. Untuk memastikan diagnosisnya, diperlukan riwayat kejadian yang detail. Selain itu, ada penanda khas yaitu IgE dan IgG, suatu antibody yang terbentuk ketika terjadi alergi gigitan nyamuk.

Aku tidak tau persis apakah yang dialami Hanna termasuk sindrom Skeeter atau bukan karena tidak ada pemeriksaan khusus, tapi keliatannya memang mirip dengan apa yang dijelaskan pada sumber informasi tadi. Selain itu, dalam keluarga kami memang ada bakat/riwayat alergi (bakat kok alergi yaa…. mbok bakat nyanyi, gitu… kan bisa buat cari uang…hehe…). jadi memang relevan.  Gejalanya yaitu terjadi bengkak di sekitar gigitan nyamuk dalam hitungan jam, jika digaruk nanti akan berkembang menjadi benjolan berwarna merah. Kemudian terbentuk vesikel/lepuh kecil-kecil berisi cairan.  Hanna tidak sampai demam sih, tapi bengkaknya jika disentuh terasa panas. Yang jelas, aku melihat benjolan ini tidak sama dengan bentol gigitan nyamuk yang biasanya hanya kecil dan segera hilang. Bengkak Hanna terjadi sampai beberapa hari walaupun aku olesin salep antiradang setiap hari. Tapi alhamdulillah, … pada Hanna tidak ada reaksi yang lebih berat, seperti sesak nafas ataupun syok anafilaksis/pingsan, yang bisa juga terjadi walau sangat jarang kejadiannya.

Apa obatnya?

Pengatasan sindrom Skeeter adalah dengan pemberian obat antihistamin per-oral (untuk mengatasi gatal dan alerginya) serta salep steroid untuk antiradangnya.  Untuk Hanna aku memberinya cetirizin syrup, salep hidrokortison, dan siap-siap mengolesinya dengan salep asam fusidat pada luka bekas garukannya untuk mencegah infeksi. Yah, … memang butuh waktu untuk sembuh, tapi alhamdulillah… luka bekas garukannya segera kering dan sembuh, tidak sampai terjadi infeksi seperti dulu.

Sindrom Skeeter kejadiannya cukup jarang, jadi tentu hanya orang-orang istimewa dan terpilih saja yang akan mengalaminya hehe…. Begitulah aku berprasangka baik padaNya yang menciptakan… pasti Hanna adalah bayi istimewa. Walaupun nampaknya merepotkan dan merisaukan, pasti ada tambahan ilmu yang akan diberikanNya dengan berbagai pengalaman yang kita alami, termasuk menghadapi penyakit.

PLC/Pleva

Istilah aneh apa lagi ini? Kisah berikutnya ini masih terjadi pada saat lebaran. Kali ini berasal dari sebuah e-mail yang aku terima, pada hari ketiga lebaran. Aku kutipkan sesuai aslinya, kecuali namanya yg aku samarkan.

Selamat malam Prof..
Sebelumnya saya haturkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H..
Minal Aidzin wal Faidzin,mohon maaf lahir dan bathin..
Perkenalkan,nama saya Ali. Mohon maaf atas kelancangan saya,saya mengetahui alamat email Prof. Zullies Ikawati dr situs UGM dan website anda..
Saya mau minta tolong Prof..
Sudah 1 tahun lebih saya mengalami gangguan kulit,dan sudah saya periksa ke dokter spesialis manapun, tetapi belum sembuh juga.. Dr analisa dokter yg terakhir memeriksa saya,dilihat dr bentuk lesi di permukaan kulit saya (bekasnya seperti mika), dipastikan penyakit saya adalah PLC.. Sbg orang awam di bidang kesehatan,saya tidak mengerti itu jenis penyakit apa,dan apa penyebabnya.. Ironisnya,ketika saya tanyakan ke dokter yg memeriksa saya pun jg tdk bs menjelaskan scr detail apa penyebabnya.. Selama ini saya hanya diberikan obat antibiotik eritromisin,namun krn lambung saya tidak kuat,akhirnya dihentikan, dan diberikan salep racikan.. Namun penyakit kulit saya jg tidak kunjung sembuh..
Dr faktor genetika,saya mempunyai bawaan alergi kulit,dan ketika saya SMA jg sempat terkena virus herpes dan kadang kambuh sampai dg saat ini..
Dari cerita singkat saya td,saya berharap Prof dpt memberikan penjelasan apakah ada obatnya utk penyakit PLC tersebut? Sudah hampir 3 bln ini tdk saya periksakan kembali ke dokter,krn disamping biaya yg tdk sedikit,saya jg sdh sedikit putus asa..
Demikian Prof yg dapat saya sampaikan..
Atas perhatian dan perkenan Prof,saya haturkan banyak terima kasih..
Salam,

Maaf kawan,

bukannya aku sok pintar dan sok tahu. Tapi surat semacam ini (dan aku sering menerima e-mail/surat serupa untuk kasus-kasus yang lain) selalu menyentuh hatiku dan membuatku ingin berbuat sebisaku. Aku memang bukan ahli penyakit kulit, tapi paling tidak aku bisa mencari sumber informasi yang bisa dipercaya dan kubagikan lagi informasi itu dengan bahasa yang lebih mudah. Semoga itu bisa membantu.

Nah, mas Ali dan kawan-kawan… Sengaja jawabannya aku share-kan di blog ini, mungkin ada manfaatnya. Memang kadang penyakit-penyakit seperti ini jarang kejadiannya, tapi sering kali justru dekat sekali dengan kita.  Dan yang seperti aku sampaikan tadi, buat yang berpenyakit jarang seperti ini, jangan berkecil hati,…. justru Anda adalah orang-orang pilihan, yang diberiNya keistimewaan, yang pasti ada hikmah dan pelajarannya.

Apa itu PLC?

PLC adalah singkatan dari pityriasis lichenoides chronica, suatu jenis penyakit kulit berupa ruam yang jarang diketahui penyebabnya. Kondisinya dapat berkisar dari bentuk kronis yang relatif ringan sampai serangan akut yang lebih parah. Bentuk kronis ringan, yang dikenal sebagai PLC tadi, ditandai dengan perkembangan secara bertahap dari tanpa gejala sampai adanya papula kecil yang akan merata sendiri dan hilang dalam beberapa minggu. Di sisi lain, bisa juga terjadi kondisi akut, di mana papula akan berkembang menjadi lepuh dan kulit menjadi berwarna merah-coklat, berbintik. Bentuk akutnya disebut pityriasis lichenoides et varioliformis acuta (PLEVA).
Penyakit ini paling sering terjadi pada remaja dan dewasa muda, biasanya muncul sebelum usia 30, dan nampaknya lebih sering terjadi pada laki-laki.
Penyebab lichenoides pityriasis belum diketahui, tetapi ada 3 teori utama:
■ Suatu reaksi inflamasi dipicu oleh agen infeksi
■ Suatu bentuk gangguan proliferasi/perbanyakan sel T (suatu sel dalam system imun)
■ Suatu reaksi hipersensitivitas kulit

Jadi, pada intinya, penyakit ini adalah semacam penyakit karena gangguan sistem imun tubuh yang bereaksi secara abnormal berlebihan. Dan melihat penyebabnya ini, penyakit ini relatif kronis dan bertahan cukup lama, dan mungkin tidak bisa sembuh sepenuhnya kecuali kondisi sistim imun membaik dan menjadi normal.

PLC sendiri memiliki perjalanan klinis yang lebih ringan daripada PLEVA. Lesi PLC mungkin muncul selama beberapa hari, minggu atau bulan. Lesi pada berbagai tahap dapat terjadi pada satu waktu.
■ Awalnya papul merah muda kecil terjadi yang berubah menjadi coklat kemerahan
■ Biasanya terdapat suatu lapisan seperti mika menempel pada pusat spot, yang dapat terkelupas dan menyebabkan permukaan kulit mengkilap berwarna coklat kemerahan.
■ Selama beberapa minggu tempat lesi mendatar secara spontan dan meninggalkan tanda coklat, yang memudar selama beberapa bulan.
PLC paling sering terjadi pada batang tubuh, pantat, lengan dan kaki, tetapi juga dapat terjadi pada tangan, kaki, wajah dan kulit kepala. Berbeda dengan PLEVA, lesi PLC tidak menyakitkan, gatal atau iritasi. Seringkali pasien dengan PLC mengalami kekambuhan, yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Bagaimana pengobatannya?

Mas Ali dan kawan-kawan, penyakit Lichenoides pityriasis mungkin tidak selalu berespon baik terhadap pengobatan dan kekambuhan sering terjadi jika pengobatan dihentikan. Jika ruam tidak menyebabkan gejala, sebenernya tidak diperlukan pengobatan. Dalam kasus di mana pengobatan diperlukan, ada beberapa terapi yang tersedia. Saat ini direkomendasikan terapi lini pertama meliputi:
Paparan sinar matahari, dapat membantu untuk mengatasi lesi namun sengatan matahari harus dihindari.
Steroid topikal untuk mengurangi iritasi. Namun, belakangan mulai muncul kekuatiran terhadap adanya potensi efek samping, sehingga mulai ada saran untuk memberikan  Immunomodulators topikal nonsteroid.
Immunomodulators topikal seperti tacrolimus atau pimekrolimus. Salep tacrolimus dioleskan dua kali sehari telah berhasil digunakan untuk mengobati pasien dengan PLC.
Oral antibiotik. Antibiotik yang paling umum digunakan adalah eritromisin dan tetrasiklin. Antibiotik ini telah digunakan untuk mengobati baik PLC maupun PLEVA. Antibiotik digunakan untuk mencegah infeksi yang mungkin terjadi akibat lesi-lesi di kulit tersebut.

Terapi lini kedua digunakan jika lini pertama tidak berhasil, yang meliputi:
Fototerapi, yaitu pengobatan dengan radiasi ultraviolet buatan dengan UVB atau PUVA, dan telah digunakan dengan berbagai keberhasilan baik pada pasien dengan PLEVA dan PLC.

Terapi lini ketiga diberikan jika kondisinya sudah cukup berat, yang meliputi:
Pemberian steroid sistemik, methotrexate (suatu penekan system imun) diberikan secara oral atau melalui suntikan IM,  acitretin, dapson, atau ciclosporin.

Apakah bisa disembuhkan?

Sulit untuk memastikannya, tetapi pada sebagian pasien penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya, jika system imun menjadi normal lagi. Namun perkembangan penyakit ini sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Mungkin ada yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sembuh atau mengalami resolusi, dan ada yg bertahun-tahun. Ada yang sering kambuh, dan ada yang jarang-jarang kambuh. Pengobatan yang ada cenderung untuk mengatasi gejala saja, sehingga jika tidak ada gejala yang mengganggu, pengobatan tidak diperlukan. Jadi, lebih baik berpikir positif tentang penyakit ini. Stress emosional kadang justru memicu kekambuhan. Jadi kalau menurut aku ya dijalani saja… memang sebaiknya tetap dikonsultasikan ke dokter jika memungkinkan dari segi biayanya. Buat Mas Ali, jangan putus asa ya… sakit itu adalah cara Allah mengingatkan kita akan kebesaranNya, apalagi dengan sakit yang jarang, berarti anda orang yang terpilih. Dia memilih Anda menjalani ini, karena Dia tau bahwa Anda akan bisa melaluinya, karena Dia tidak akan memberi beban yang melebihi kemampuan hambaNya memikulnya. Dengan diberi sakit, adalah cara Dia agar kita makin mendekat kepadaNya. Insya Allah.

Penutup

Demikian kawan, catatan lebaranku tahun ini. Semoga ada manfaatnya. Aku ingat tahun lalu catatan lebaranku diwarnai dengan penyakit hepatitis yang diderita salah seorang sahabatku, yang bahkan sampai merenggut kehidupannya. Semoga kita senantiasa dikarunia kesehatan dan kekuatan, untuk menjadi semakin bermanfaat bagi sesama. Amien.

sumber bacaan:

http://www.simple-remedies.com/health-tips-3/allergic-reaction-to-mosquito-bites.html

http://dermnetnz.org/scaly/pityriasis-lichenoides.html





Cellulitis, infeksi kulit yang perlu diwaspadai….

11 08 2012

Dear kawan, …apa kabar?

Selamat menunaikan ibadah puasa bulan Ramadhan, yaa… Semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT, dan diampuniNya segala dosa kita. Amien…

Lama sekali tidak jumpa di blog ini ya, Kawan….. aku sudah tidak punya alasan baru kecuali sibuk dan malas  untuk menulis. Tapi bener kok….hampir tak punya “me time” lagi untuk menulis, dan sekarang aku memang lebih banyak meluangkan waktu untuk “baby time”.. Maklum, si Hanna, bungsu kecilku masih 10 bulan… Setelah seharian ditinggal bekerja, sore sampai ia tidur adalah waktuku untuknya, tentu untuk kakak-kakaknya juga. Kalau terpaksa ada tugas yang harus kukerjakan, aku harus ambil waktu malam saat semua sudah lelap, baru bisa buka laptop atau kerja lainnya. Kalau tidak ada kerjaan mendesak, mendingan aku ikut bobok aja…. mengistirahatkan jiwa raga..hehe…. Ada sedikit cerita kecil tentangnya yang ingin kubagi di sini…. Sekedar mendokumentasikan kejadian, dan mungkin ada yg mengalami hal yang sama….

 Berawal dari bentol digigit serangga (nyamuk?)

Beberapa waktu lalu bagian atas depan pergelangan kaki kanan Hanna ada bentol seperti bekas gigitan serangga, tapi entah pastinya karena  apa. Kupikir akan segera lenyap, tapi ternyata bertahan agak lama. Karena sering digaruknya, bentol itu jadi lecet, dan daerah sekitarnya memerah. Aku masih tenang-tenang saja, karena aku kira akan segera hilang. Aku beri salep obat gatal. Tapi ternyata luka bekas garuk itu ngga kering-kering, bahkan kadang seperti berair. Aku masih tenang-tenang saja, mungkin hampir satu mingguan, sampai akhirnya pada hari Minggu, tgl 5 Agustus kemarin, sekeliling luka dan dan selingkaran pergelangan kaki Hanna membengkak dan merah. Badannya panas dan jadi rewel, tidak mau makan. Saat itu aku mulai sedikit cemas. Udah gitu, kok ya hari Minggu, tidak ada dokter kulit yang buka praktek. Aku masih berharap bengkak segera berkurang ketika aku oleskan salep mometason. Tapi ternyata tidak, dan demamnya masih tinggi. Akhirnya dengan pertolongan seorang kawan yang memberitahukan padaku nomer telpon salah satu dokter kulit kenalannya (Trims, dik Ika), malam itu aku bawa Hanna ke dokter kulit, yang kebetulan mau menerima kami di rumahnya (terimakasih, dokter Niken). Setelah memeriksa kondisi Hanna, dokter Niken menduga bahwa itu disebabkan oleh penyebab eksogen, bukan berasal dari dalam tubuh seperti alergi. Mungkin saja gigitan serangga. Dokter meresepkan puyer metilprednisolon dan CTM, serta salep berisi asam fusidat sebagai salep antibiotik, walaupun waktu itu belum bisa dipastikan apakah ada bakteri atau tidak.

 Menjalar melalui aliran darah?

Hari Senin aku sedikit lega, karena nampaknya Hanna tidak rewel lagi. Demamnya turun, setelah aku beri obat turun panas. Yah…paling sedih itu kalau bayi sakit.. Belum bisa bicara dan mengeluhkan perasaannya. Jadi kita tidak tau apakah dia merasa gatal atau sakit dengan bengkaknya itu. Karena itu aku memberinya sirup ibuprofen, untuk turun panas dan anti radangnya, sekaligus mengurangi rasa sakit. Bengkaknya masih terlihat, tapi kata dokter memang butuh waktu untuk menghilangkan bengkaknya. Yang penting Hanna sudah tidak demam dan terlihat lincah lagi, aku cukup lega. Ini penting karena hari Selasanya aku harus ke Bandung untuk presentasi proposal penelitian yang aku ajukan ke DIKTI dan lolos desk-evaluation. Sebagai ketua peneliti tentu aku harus datang dan memang tidak boleh diwakilkan.

Hari Selasa pagi, dengan sedikit berat hati aku pergi meninggalkan Hanna ke kantor dan siangnya akan langsung terbang ke Bandung. Tangan mungilnya menjulur minta ikut ketika aku mau berangkat, tapi kutahan saja perasaanku (Maafkan ibu, Sayang…ibu harus pergi dulu..). Aku cukup lega karena Hanna terlihat baik pagi itu. Memang masih merah dan bengkak, tapi tidak demam lagi.

Pesawat kecil berbaling-baling yang membawaku dari Jogja ke Bandung cukup mulus melayang, dan cuaca pun cerah. Everything looks run so smoothly sampai tiba-tiba…… saat aku berada di taksi yang membawaku dari bandara Hussein Sastranegara ke Hotel Harris tempat pertemuan diadakan….sebuah panggilan telepon masuk ke HP-ku. “Ibu, dokter yang kemarin itu bisa didatangi lagi tidak? Di mana? Ini Hanna badannya panas lagi, dan bengkaknya sekarang malah naik, meluas sampai ke betis. Anaknya rewel dari tadi. Bengkaknya juga terasa panas dan kalo dipegang keras,” mbak yang momong Hanna menelponku dengan nada cemas. Sontak aku pun jadi panik. Aku telepon suami di kantor supaya bisa menengok Hanna dan bisa membawanya ke dokter atau RS. Aku pun tidak kalah sibuk mencoba menelpon dokter Niken.

Selama mengikuti acara presentasi di Hotel, perasaanku tidak tenang. Sebentar-sebentar keluar menelpon suami menanyakan keadaan Hanna. Sore itu Hanna dibawa ke RS Panti Rapih karena kupikir pelayanannya cukup lengkap. Tapi ternyata disana Hanna hanya diperiksa dokter umum, dan dokter memberikan resep sirup antibiotik sefadroksil dan salep antibiotik gentamycin. Saat kutelpon, Dokter Niken menyarankan untuk membawa Hanna ke RS Sardjito tempat beliau praktek esok paginya, untuk mendapatkan pemeriksaan yang lebih detail dan lengkap. Malamnya aku sulit tidur, membayangkan Hanna sedang sakit dan aku tidak ada di sampingnya….. sedih sekali…!!

Keesokan paginya, Hanna dibawa oleh bapaknya ke RS Sardjito bagian poli kulit. Kondisinya masih sama, demam cukup tinggi, dan bengkaknya katanya terlihat makin menjalar ke atas. Salah seorang dokter yang memeriksa menduga bahwa penyebab bengkak itu masuk ke aliran darah dan menyebarkan gejala itu melalui pembuluh darah. Cairan pada gelembung-gelembung pada bengkak kaki Hanna diambil untuk diperiksa, dan ternyata steril, artinya tidak ada bakteri atau virus. Yang menarik, bengkak pertama pada pergelangan kaki sudah mulai mengempis, sementara bagian atas justru lagi besar-besarnya. Hanna sempat diambil darahnya untuk diperiksa pula. Gejalanya lumayan membuat bingung para dokter yang memeriksa, karena katanya kasus ini agak jarang dijumpai. Dokter Niken menyarankan pemberian antibiotik (sefadroksil) diteruskan plus salep antibiotik berisi asam fusidat.

Lesson learnt : cellulitis, SSSS, ETs…..

Alhamdulillah, saat tulisan ini dibuat, Hanna sudah membaik. Tinggal gatal-gatalnya di bekas bengkaknya yang bikin ia rewel dan jengkel. Yang menarik, banyak pelajaran yang bisa kuperoleh untuk menjaga Hanna di kemudian hari. Ketika kontrol Hanna terakhir kemarin, kebetulan kami bertemu dengan “suhunya” dokter spesialis kulit, Prof. Hardyanto, beliau menanyakan apakah ada riwayat alergi. Aku bilang, iya, kami punya riwayat alergi keluarga. Artinya, kulit Hanna memang cukup  sensitif terhadap gigitan serangga, termasuk nyamuk. Mungkin itu awalnya yang membuat dia jadi terlalu keras menggaruk dan membuat luka. Berarti harus lebih hati-hati agar jangan sampai ada luka semacam itu lagi.

Yang kedua, dalam percakapan para dokter kemarin ketika membahas kasus Hanna, aku menyerap beberapa istilah-istilah baru buatku di bidang penyakit kulit. Ada impetigo, cellulitis, S4, dll. Dokter Niken sempat menyebut bahwa diagnose untuk Hanna adalah cellulitis. Apa itu cellulitis?

Cellulitis

Cellulitis adalah suatu penyakit infeksi atau peradangan di daerah jaringan bawah kulit (subkutan). Jika penyakit ini tidak ditangani maka bakteri akan menyebar ke daerah tubuh lainnya, namun yang paling sering bakteri ini menyerang daerah wajah dan tungkai bagian bawah. Cellulitis ini disebabkan oleh bakteri Staphylococus aureus atau Streptococcus. Dalam keadaan normal, pada kulit kita terdapat berbagai macam jenis bakteri. Akan tetapi kulit yang utuh serta terjaga kebersihannya merupakan penghalang efektif, yang dapat mencegah proses atau masuk dan berkembangnya bakteri di dalam tubuh kita. Nah, jika kulit mengalami luka, maka bakteri dapat masuk dan berkembang biak di dalam tubuh, yang dapat menyebabkan infeksi dan peradangan. Hal ini terutama dapat terjadi jika sistem imun tubuh sedang turun… atau pada bayi/anak-anak yang sistem pertahanan tubuhnya belum sempurna.

 Apa tanda dan gejalanya ?

Menurut teori, gejala awalnya berupa ngga enak badan, menggigil, dan demam yang mendadak sebelum terjadinya lesi, dan kemerahan di daerah yang terinfeksi. Pada Hanna, karena masih bayi umur 10 bulan, ia belum bisa menyampaikan apa yg dirasakan, hanya terlihat rewel dan demam. Jika telah terjadi infeksi dapat ditemukan lepuhan kecil berisi cairan (vesikel) atau lepuhan besar berisi cairan (bula) yang terasa panas serta bengkak, dan tampak seperti kulit jeruk yang mengelupas (peau d’orange), lesi terasa nyeri jika terkena rabaan. Pada saat itu Hanna memang selalu menangis jika bagian kakinya tersentuh. Dan pada bagian bengkaknya terdapat bula yang berisi cairan.

Bagaimana diagnosanya?

Pada pemeriksan fisik akan ditemukan daerah pembengkakan yang terlokalisir (edema), kadang ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening. Pada hasil pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih dan adanya infeksi bakteri. Bila perlu, bisa dilakukan pembiakan darah. Memang sampai saat tulisan ini dibuat, hasil kultur darah Hanna belum keluar. Hanya saja gejalanya memang mengarah ke cellulitis.

Khusus untuk kasus Hanna, bakteri S. aureus yang diduga menginfeksi nampaknya menghasilkan toksin. Aku baca-baca lagi, toksin yang terkait dengan S. aureus yang sering menjadi masalah pada kulit adalah exfoliative toxins (ETs). Toksin ini ternyata cukup seram, karena merupakan penyebab terjadinya gangguan kulit yang disebut staphylococcal scalded skin syndrome (SSSS). Waktu dokter Niken menjelaskan bahwa jika infeksi berlanjut bisa terjadi S4, aku cuma manggut-manggut, karena belum paham. Dokter Niken hanya bilang bahwa jika terjadi S4, akan terjadi lesi lepuh yang meluas ke bagian tubuh lain yang jauh dari tempat infeksi, dan itu cukup berbahaya. Setelah aku googling, barulah aku tau bahwa S4 yang disebut-sebut dokter Niken adalah SSSS tadi..

SSSS sedikit berbeda dengan impetigo bulosa  (ini juga sempat disebut-sebut oleh dokter sebagai dugaan awal), di mana pada impetigo bulosa terjadinya reaksi toksin terbatas pada daerah yang terinfeksi saja, dan bisa ditemukan bakteri di dalam lesi/bula. Sedangkan pada SSSS, reaksi toksin bisa terjadi pada daerah yang jauh dari tempat infeksi, dan bakteri bisa djumpai pada aliran darah. Impetigo juga merupakan infeksi kulit, tetapi pada kulit yang lebih dangkal, dan umumnya lebih kurang berbahaya daripada cellulitis.

Singkat cerita… kemungkinan besar Hanna memang terkena gigitan serangga atau apa gitu, dan terluka oleh garukan. Dari luka itulah sang penyusup datang, alias bakteri yang diduga adalah Staphylococcus aureus. Yang istimewa, sang bakteri dapat menghasilkan toksin yang cukup berbahaya. Sehingga, walaupun bakterinya sudah mati, ternyata toksinnya masih ada dan berjalan terus mengikuti aliran darah dan menjalarkan reaksi bengkak dan merah.

Hanna Alhamdulillah, Hanna bisa segera mendapat penanganan yang cepat dan tepat, sehingga reaksi merah dan bengkaknya tidak sampai menyebar terlalu luas. Saat ini kondisi Hanna sudah membaik, tinggal pemulihan saja, dan tidak sampai meluas seperti yang dikuatirkan. Walaupun sudah sempat terlihat bercak merah di atas lutut, namun untungnya segera hilang. Tinggal gatal-gatalnya saja dan kulit yang mengelupas pada bagian yang bengkak kemarin. Tapi harus tetap dijaga agar tidak digaruk dan menimbulkan luka.

Sungguh suatu pengalaman dan pembelajaran yang penting untuk perawatan anak-anak selanjutnya. Tentu ada harga yang harus dibayar, yakni biaya pemeriksaan, obat, serta rasa cemas,…  tapi tentu ada manfaat yang dapat dipetik, dan aku coba bagikan ke kawan-kawan untuk berhati-hati terhadap luka di kulit, apalagi pada anak-anak/bayi yang sistem imunnya masih lemah. Jika ada luka di kulit, baik karena luka garuk, lecet, atau terkena cedera lainnya,  beri antiseptik dan lindungi dengan plester supaya tidak menjadi tempat masuknya bakteri penyusup.

Demikian kawan, sekedar sharing… Semoga bermanfaat..

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan semoga Allah senantiasa mengaruniai kita semua dengan kesehatan…. Amien..

bacaan:

http://emedicine.medscape.com/article/788199-overview  http://kidshealth.org/parent/infections/skin/cellulitis.html