Ujian seorang ibu…

25 12 2009

 Dear kawan,

Sebenarnya minggu ini banyak peristiwa spesial buatku… tapi perasaanku sedang tumpul untuk memaknainya. Mungkin karena pikiran sedang agak penuh, sementara aktivitas pekerjaan tidak berkurang sedikitpun, dan sedang malas berpikir sentimentil. Kok? Iya, menulis ini pasti menjadikan aku sentimentil….. (siap-siap tissue deh). Tapi ….kayaknya kok sayang untuk melewatkannya begitu saja tanpa terdokumentasi di blog ini…. Bagaimanapun itu adalah satu mozaik dalam kehidupanku. Okelah, kau mau tau kawan… peristiwa apa saja?

Ulang tahun Dhika

Dhika sedang tiup lilin ultahnya

Tanggal 21 Desember 2009, Dhika si bungsu kami genap 4 tahun. Teringat olehku betapa leganya setelah ia lahir, dan surprised bahwa ternyata laki-laki! Karena sampai detik-detik mau melahirkan, aku masih berpikir bahwa bayiku perempuan… hehe. Dhika-ku tumbuh sehat dengan tubuh bongsor dan kulit putih, wajahnya pun menggemaskan. Tapi di balik itu semua, Allah sedang mencobai kami dengan kenyataan… bahwa Dhika tumbuh tidak sesempurna kakak-kakaknya….. Di usianya yang ke 4 ini bicaranya masih terbatas, interaksi sosial yang masih kurang dari semestinya, dan ada kecenderungan sifat autistik. Astaghfirullohaladziim…. ! Sebuah peringatan Allah yang sering membuat aku menangis di balik hingar bingar aktivitas. Kadang ada perasaan “guilty” sebagai seorang ibu. Sudahkah aku memberikan yang terbaik untuk Dhika? Sudahkah aku berusaha sekeras mungkin untuk Dhika? Aku tidak minta excuse…. sungguh tidak ringan beban yang kupanggul, untuk bisa membagi perhatian dan waktu secara cukup, dengan beban pekerjaan yang datang silih berganti. Tapi alhamdulillah, aku selalu bersyukur bahwa selalu ada kemajuan kecil Dhika, walau kadang masih berfluktuasi. Dan selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa yang telah diijinkanNya terjadi…. Sungguh sangat mudah bagi Dia untuk membalikkan peristiwa jika Dia menghendakinya. Aku yakin, selama kita memohon dan berusaha, Insya Allah Dia akan mendengarkan dan mengabulkan. Doakan ya, semoga Dhika bisa tumbuh optimal dan sempurna. Amien.

Sayangnya Play group Dhika sudah mulai libur, jadi rencana merayakan ultahnya di sekolah terpaksa dibatalkan. Aku belikan saja sekotak kue tart brownies dan lilin berangka 4, kami rayakan sederhana sekali di rumah, yakni sekedar tiup lilin. Sendiri saja dengan kakak-kakaknya. Soalnya Dhika juga belum begitu paham makna merayakan ulang tahun. Yang penting doanya, semoga Dhika selalu sehat, tambah pandai dan bisa mengejar ketertinggalannya, dan tentu menjadi anak sholeh yang berbakti pada Allah dan orang tua. Amieen.

Hari Ibu

Peristiwa berikutnya adalah hari ibu, tanggal 22 Desember 2009. Terus terang, sama sekali tidak ada yang istimewa terjadi hari itu. Hari berjalan seperti biasa sekali. Pagi mengantar Afan si sulung ke sekolah, langsung ke kampus. Di kantor kebetulan aktivitas full benar sampai sore. Sorenya sepulang kantor Hani anakku kedua menyapaku ceria, “Ibu, hari apa hari ini?…. hari Ibu kan?”….. lalu cium pipi. Sudah. Hm… sekali lagi, aku jadi mempertanyakan bagaimana peranku sebagai ibu. Ah, kayaknya masih jauuuh… sekali dari gambaran ibu yang ideal. Aku masih sering terlalu sibuk dengan urusan pekerjaanku. Aku teringat ibuku tercinta yang jauh di kampung halaman. Tahun lalu, 23 Desember, di blog ini juga, aku menulis tentang ibuku dan kekuatan doanya (klik di sini). Suerr, … tidak ada yang kuragukan sama sekali tentang peran ibuku dalam kehidupanku, dalam pencapaianku selama ini. Aku jadi teringat,… aku pernah ditanya-tanya sebagai responden penelitian seorang kandidat doktor psikologi, “Apa kiat-kiat atau hal-hal yang mendorong Anda memperoleh pencapaian seperti ini….. (profesor di usia muda)?”. Aku paling bingung kalau ditanya begini, soalnya semuanya buatku hanya mengikuti aliran air belaka. Jawabanku yang paling jujur ya… ini karena kekuatan doa ibu, dorongan ayah, dan ijin Allah. That’s all !! Aku hanya berharap, bahwa kelak anak-anakku akan mengenangku seperti aku mengenang ibuku dan semua perjuangan ibu untuk anak-anaknya. Selamat hari ibu!

Rapot anak-anak

Peristiwa ketiga adalah pengambilan rapot anak-anak, tanggal 24 Desember 2009. Sebuah peristiwa biasa, tetapi menjadi spesial juga karena itu juga mengingatkanku terhadap tugas seorang ibu. Karena ada dua anak yang harus diambil rapotnya, kami berbagi tugas. Aku ambil rapot Afan di SMP, bapaknya ambil rapot Hani di SD. Hasilnya? Yah….. alhamdulillah,… lumayan. Tidak sangat tinggi, tapi juga tidak sangat rendah. Apapun, itu adalah hasil terbaik yang sudah diupayakan oleh mereka. Sungguh, seringkali aku tergoda untuk membandingkan hasil rapotku dulu waktu SD dan SMP dengan rapot anak-anakku sekarang. Tapi aku tau persis, keadaannya sudah sangat jauuh.. berbeda. Aku tidak bisa menuntut mereka untuk menjadi sepertiku dulu.

Potongan berita di sebuah majalah anak-anak waktu itu... culun banget yah!!

Bayangin deh, .. aku dulu sampai menjadi pelajar teladan SD ke 2 tingkat propinsi Jawa Tengah hehe…. Ranking kelas tak pernah lebih dari angka 3. Demikian pula waktu SMP. Tapi saat itu kan belum ada TV swasta, belum ada Face Book, game online, dan lain-lain. Hiburanku adalah buku bacaan, dan aku suka sekali membaca. Paling aku cuma godain saja anak-anakku kalau sedang menemani mereka belajar dan harus repot-repot dulu menyuruh mereka belajar….” Wah, uti (maksudnya eyang uti mereka) pasti dulu senang sekali yaa…… ngga usah repot-repot suruh anaknya belajar, anaknya sudah belajar sendiri….”  Yah, dan kalau aku cerita begitu pada anak-anak, itu sekadar untuk memberi motivasi saja, ….. tidak bermaksud untuk membebani mereka dengan harapan terlalu besar…

Yah, … bagaimanapun, setiap anak memiliki keunikan dan kelebihan/kekurangannya sendiri. Seni menjadi orangtua adalah mengarahkan mereka untuk mengoptimalkan apa yang mereka punya, termasuk Dhika, dan itu yang masih terus harus aku pelajari… Dan semua ini adalah ujianku sebagai seorang ibu…. Ya Allah, berilah hamba kekuatan dan petunjukMu, untuk mendidik anak-anak kami sesuai dengan garisMu. Amien..

Jadi ingat puisi Kahlil Gibran yang sangat terkenal tentang anak… dan itu masih relevan…

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri

Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu

Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu Karena mereka memiliki ikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka, Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan





Parasetamol, seberapa amankah?

18 12 2009

Dear kawan,

Sudah dua minggu sejak posting terakhir aku belum sempat nulis lagi. Banyak deadline yang harus dikejar, sampai pusing dan keriting deeh…. ! Nah, sekarang aku sempatkan menulis sedikit. Kalau belum lama ini aku membahas tentang aspirin, maka sekarang aku coba ngerasani parasetamol alias asetaminofen. Obat yang cukup aman, tapi bagaimanapun obat adalah racun. Jadi kalau dipakai dalam dosis besar bisa jadi berbahaya juga.

Siapa yang belum kenal parasetamol? Mereka yang pernah sakit kepala atau demam, atau nyeri yang lain, pasti pernah menggunakan obat ini. Ya, obat ini tergolong obat analgetik anti piretika, yaitu penghilang rasa sakit dan penurun panas. Obat ini termasuk aman untuk berbagai keadaan, termasuk untuk anak-anak dan ibu hamil/menyusui, sepanjang dipakai dalam dosis terapinya. Dan katanya tablet parasetamol bisa untuk obat KB lho…! Masa iya?

Ada cerita lucu tentang parasetamol sebagai obat KB. Waktu itu di sebuah restoran hotel di Amsterdam, kami lagi menyantap breakfast sambil berbincang. Bersamaku ada dua profesor dari Fak Kedokteran UGM, dan satu profesor dari Fak Farmasi…. Kami berbincang berbagai hal. Aku sendiri termasuk tidak pandai ngobrol, jadi aku cuma menimpali sesekali… Kulontarkan bahwa “Sekarang parasetamol bisa sebagai obat KB, lho..”… “O,ya.. bagaimana mekanismenya?” kata salah seorang dengan antusias. “Dikempit di paha…” kataku. Dan meledaklah tawa semua… haha….. Bisa aja!! Yah, sebenarnya sih ini joke kuno di Fak Farmasi UGM, …. sudah sering dilontarkan, tapi ternyata masih saja mengundang tawa… Nah, kembali ke parasetamol… Hm, yang benar parasetamol nggak bisa jadi obat KB, tapi malah jadi “alat” bunuh diri. Nah, kalau yang ini beneran loo….. Lho, kok bisa? Katanya parasetamol termasuk obat yang aman?

Yah, meskipun aman, semua obat adalah racun jika digunakan dalam dosis besar. Karena relatif mudah diperoleh, parasetamol merupakan salah satu obat yang sering dipakai untuk bunuh diri. Pada tahun 2001, 64 pusat keracunan di AS menerima 112,809 telepon mengenai paparan parasetamol, baik secara tunggal atau dalam bentuk kombinasi. Telepon yang berhasil ditindaklanjuti melaporkan bahwa 59.087 kasus dapat ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan, dan 238 kasus menimbulkan kematian. Sebagian dari kasus kematian (43%) disebabkan karena usaha bunuh diri atau penyalahgunaan, sisanya disebabkan karena ketidaksengajaan dan biasanya karena digunakan bersama obat lain.

Apa yang terjadi jika parasetamol dikonsumsi dalam dosis besar, baik secara sengaja maupun tidak? Seberapa besar dosis parasetamol dinyatakan sebagai dosis toksik? Bagaimana mekanisme toksisitas parasetamol?

Overdosis parasetamol dan mekanisme toksisitasnya

Overdosis parasetamol dapat terjadi pada penggunaan akut maupun penggunaan berulang. Overdosis parasetamol akut dapat terjadi jika seseorang mengkonsumsi parasetamol dalam dosis besar dalam waktu 8 jam atau kurang. Kejadian toksik pada hati (hepatotoksisitas) akan terjadi pada penggunaan 7,5-10 gram dalam waktu 8 jam atau kurang. Kematian bisa terjadi (mencapai 3-4% kasus) jika parasetamol digunakan sampai 15 gram.

Pada dosis terapi (500-2 gram), 5-15% obat ini umunya dikonversi oleh enzim sitokrom P450 di hati menjadi metabolit reaktifnya, yang disebut N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI). Proses ini disebut aktivasi metabolik, dan NAPQI berperan sebagai radikal bebas yang memiliki lama hidup yang sangat singkat. Meskipun metabolisme parasetamol melalui ginjal tidak begitu berperan, jalur aktivasi metabolik ini terdapat pada ginjal dan penting secara toksikologi. Dalam keadaan normal, NAPQI akan didetoksikasi secara cepat oleh enzim glutation dari hati. Glutation mengandung gugus sulfhidril yang akan mengikat secara kovalen radikal bebas NAPQI, menghasilkan konjugat sistein. Sebagiannya lagi akan diasetilasi menjadi konjugat asam merkapturat, yang kemudian keduanya dapat diekskresikan melalui urin.

Pada paparan parasetamol overdosis, jumlah dan kecepatan pembentukan NAPQI melebih kapasitas hati dan ginjal untuk mengisi ulang cadangan glutation yang diperlukan. NAPQI kemudian menyebabkan kerusakan intraseluler diikuti nekrosis (kematian sel) hati, dan bisa juga menyebabkan kegagalan ginjal (walaupun lebih jarang kejadiannya). Suatu studi populasi terhadap metabolisme parasetamol menunjukkan bahwa proporsi populasi yang mengalami aktivasi metabolik bervariasi dari 2-20% pada subyek ras kaukasian (orang kulit putih). Orang-orang yang mengalami kanker hati dan hepatitis kronis B nampaknya memiliki kapasitas aktivasi metabolik parasetamol yang relatif tinggi (abnormal tinggi). Orang-orang yang demikian diduga memiliki ambang toksisitas parasetamol yang lebih rendah dan mungkin juga lebih rentan terhadap karsinogen dari lingkungan.

Bagaimana pengatasannya?

Saat ini, pengatasan overdosis parasetamol yang cukup terbukti ampuh adalah dengan penggunaan N-acetylcystein, baik oral atau secara intravena. Antidot (antiracun) ini mencegah kerusakan hepar akibat keracunan parasetamol dengan cara menggantikan glutation dan dengan ketersediaannya sebagai prekursor. Rekomendasi regimen dosis untuk N-asetilcysteine secara per-oral adalah dengan loading dose sebesar 140 mg/kg, diikuti dengan 70 mg/kg BB setiap 4 jam untuk 17 kali dosis, dengan total durasi terapi adalah 72 jam. 

Demikian dulu sekilas info… Semoga bermanfaat. Bagaimanapun obat adalah racun. Lebih baik mencegah penyakit daripada mengobati.





Munajah seorang hamba di pertambahan usia

6 12 2009

Kawan,

Hari ini genap 41 tahun usiaku. Terimakasih banyak atas ucapan teman-teman, terutama lewat Face Book yang sangat membesarkan hati. Alhamdulillah, banyak yang sayang dan semoga kita akan terus saling menyayangi…..  Ini doaku di hari ini, sekedar sebagai pengingat untuk aku sendiri, semoga banyak yang mau mengamini dan Allah mengijabahi, dan kita semua mendapat limpahan dan tumpahan dari doa ini…. Amien.

Ya Allah ya Rabb,

Alhamdulillah, segala puji kupanjatkan padaMu Sang Penguasa Hidup…

Hari ini Kau genapkan usiaku ke empatpuluh satu…

Sungguh tiada habis-habis rasa syukurku

atas semua kesempatan yang Kau berikan sepanjang usiaku

Orangtua yang sangat menyayangi dan mencurahkan semua waktu

Suami yang sholeh yang menjadi penuntun jalanku

Anak-anak menyenangkan yang membinarkan cahaya mataku

Saudara-saudara yang penuh cinta dan kasih sayang

Teman-teman yang mendukung dan menyemangatkan

Kesempatan-kesempatan istimewa dalam hidup yang tak terbayangkan

nikmat iman dan takwa,  walaupun masih jauh dari kesempurnaan

perlindunganMu dari segala keburukan yang mempermalukan

Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang akan kau dustakan?

Ya Rabb,

Lidahku kelu,… aku teramat malu…

Mengapa masih saja ada bangga diri padahal semua ini hanyalah kemurahanMu..

yang bisa saja Engkau cabut sewaktu-waktu…

Jauhkan hamba dari takabur dan sombong, atas semua yang telah Engkau titipkan

Jadikanlah hamba menjadi hambamu yang selalu bersyukur atas semua kenikmatan

Ya Rabb, tempat hamba bergantung….

Hamba menyadari, semakin tinggi hamba Engkau tempatkan, semakin banyak kan ada ujian…

Beri hamba kekuatan untuk menghadapi segala cobaan, baik yang berupa kesusahan atau kesenangan…. yang sangat nyata atau yang nyaris tidak terasakan…

Beri kami kemudahan atas segala urusan…

Ikatlah hamba dengan taliMu, ya Rabb….  untuk selalu berjalan menuju kepadaMu..

Jauhkan hamba dari orang-orang atau apapun yang akan menjauhkan hamba dariMu

Dan dekatkanlah hamba dengan orang-orang yang Kaumuliakan, dan apapun yang akan mendekatkan hamba kepadaMu..

 Berilah hamba selalu kekuatan untuk menjalankan semua tugas-tugas di dunia..

Menjadi seorang ibu, istri, wanita bekerja yang juga banyak mengemban amanah…

Limpahkanlah kami rezeki yang barokah

Jadikanlah anak-anak kami menjadi anak sholih-sholihah

Taburi kami dengan ilmu yang bermanfaat

Hiasi kami dengan kecantikan batin yang melekat

Jagalah kami dari segala penyakit, musibah, dan kejahatan mahlukMu

Ampunilah segala dosa-dosa hamba, yang sekarang maupun yang dahulu…

Jadikanlah kamu menjadi mahlukMu yang semakin sujud dari waktu ke waktu….

Amien…amien…..amien, Ya Rabbal aalamiin….





My note(5): a little bit about Pharmacy in Japan

5 12 2009

Dear kawan,

Tulisan ini sebenarnya sudah aku siapkan sejak malam terakhirku di negeri sakura. Waktu itu aku menghabiskan such a lonely night di Nikko Hotel di Kansai International Airport Osaka. Yah, …. siangnya aku baru terbang dari Matsuyama ke Osaka (Itami Airport), dan menempuh lagi 70 menit perjalanan menggunakan bus limousine ke Kansai Airport untuk terbang esoknya ke Indonesia. Tapi di sana aku belum sempat upload tulisan ini di blog, karena tidak ada fasilitas internet di dalam kamar. Ada sih, tapi di lobby…. masa harus stay sampai larut malam di lobby hotel… jadi baru sempat aku upload sekarang.

Well, ini adalah catatan perjalananku yang terakhir sebelum pulang. Berakhirlah sudah kunjunganku selama 11 hari di Matsuyama memenuhi undangan Profesor Maeyama. It was wonderful journey for me…. alhamdulillah. It’s very honoured to stand and giving “lecture” in front of Japanese Pharmacological Society members…. Ngga kebayang sebelumnya, walaupun itu juga ngga hebat-hebat amat, lebih karena kebaikan hati sensei mengundangku….

Ada beberapa kegiatan yang kulakukan dalam tiga hari terakhir di sini yang kucoba dokumentasikan. Ada teman yang meminta aku menulis tentang bagaimana pelayanan farmasi di Jepang. Hm… mohon maaf, aku tidak punya banyak data tentang itu. Informasi yang kuperoleh hanya berasal dari Ehime Univ Hospital yang mungkin tidak selalu berlaku sama di seluruh Jepang. Tapi akan aku coba setahuku saja. Maklumlah, Nihon-go (bahasa Jepangku) terbatas banget, padahal banyak informasi tertulis dalam bahasa Jepang, pakai huruf kanji lagi. Jadi tidak bisa utuh menangkap informasi.

Farmasi di Ehime University Hospital

Hari Senin dan Selasa lalu, aku coba memanfaatkan waktu untuk mengunjungi Hospital Pharmacy di Ehime University Hospital. Maeyama Sensei memperkenalkan aku kepada Prof. Hiroaki Araki, Director of Hospital Pharmacy, Ehime University Hospital, pada saat acara dinner banquet Pharmacological Meeting hari Jumat yang lalu, dan kami janjian untuk bertemu. Jadilah, Senin siang kami mengunjungi ruang kerja Prof. Araki. Oya, sebelumnya aku pernah melihat bahan presentasi Prof Araki pada Asian Conference in Clinical Pharmacy di Seoul, jadi aku sudah punya gambaran tentang beliau, cuma baru kali ini bertemu. Prof Araki mengajakku menuju ke ruang-ruang pekerjaan kefarmasian.

Pekerjaan kefarmasian di RS di Jepang pada umumnya sama dengan di Indonesia. Mulai dari pengelolaan perbekalan farmasi, penyiapan obat dan distribusinya, pelayanan informasi obat dan konseling pada pasien. Hanya saja, Hospital Pharmacy pada Ehime Univ Hospital hanya melayani obat untuk pasien rawat inap saja, sedangkan pasien rawat jalan tetap mendapat pemeriksaan di RS, tetapi obatnya harus mereka peroleh di Apotek (community pharmacy). Terus terang aku masih belum begitu jelas alasan tentang hal ini, kata Prof Araki ini adalah keputusan Pemerintah dan lebih bersifat politis. Ada 2 RS pemerintah di Matsuyama yang menerapkan hal ini, dan 2 lagi RS swasta tetap melayani obat untuk in-patient maupun out-patient.

Pengelolaan perbekalan farmasi

Mesin "auto ampoule dispenser"...

Di Ehime Univ Hospital, pengelolaan perbekalan farmasi sangat dibantu oleh adanya sistem teknologi informasi yang canggih. Semua bagian di RS terhubung dengan jaringan intranet, sehingga sangat memudahkan komunikasi. Salah satunya adalah mesin penyiapan sediaan injeksi secara otomatis (automatic ampule dispenser).  Jadi, jika dokter meresepkan satu bentuk injeksi tertentu, ia akan menuliskan di komputer, dan informasi itu segera sampai di mesin automatis tadi dan menyiapkan obat yang diminta, dalam bentuk satu unit dosis. Farmasis tinggal mengecek kebenarannya sesuai dengan resep. Menurut Prof Araki, tidak semua RS memiliki mesin semacam itu, karena beliau mengembangkan sendiri mesin tersebut. Lalu setelah semua sediaan injeksi siap, mereka akan mengirimkannya ke bangsal (ward) di mana pasien berada.

Keranjang yg akan mendistribusikan obat ke ward secara computerized

Jangan dibayangkan ada nurse yang mengambil atau ada AA yang mengantar ke bangsal, obat-obat tadi diantar dengan semacam keranjang yang dijalankan dengan semacam ban berjalan. Lalu secara computerized akan diset kemana keranjang tadi harus diantarkan, baru di sana nurse akan menerima dan membagikannya sesuai dengan nama pasien. Keranjang yang sudah kosong akan dikembalikan lagi ke Farmasi menggunakan ban berjalan yang sama. Dan katanya sistem ini pun tidak semua RS memilikinya. Sebagian masih dilakukan secara manual. Wah…. apotekernya santai dong hehe…..!!

Dispensing di farmasi RS

Untuk dispensing sediaan per-oral masih sama saja dengan di Indonesia, yaitu secara manual oleh farmasis. Oya, just for your info…. di Jepang tidak mengenal adanya asisten apoteker. Jadi semua yang mengerjakan dispensing adalah apoteker. Di Ehime Univ Hospital, dengan jumlah bed sekitar 600 bed, jumlah farmasisnya adalah 27 orang plus 2 orang Director and Vice Director of Hospital Pharmacy.

Therapeutic Drug Monitoring

Seorang pharmacist sdg menejlaskan ttg mesin TDM dg metode chemiluminscent

Salah satu pelayanan farmasi yang masih sulit dilakukan di Indonesia karena keterbatasan biaya dan alatnya adalah Therapeutic Drug Monitoring (TDM). TDM di hospital ini dilakukan atas dasar permintaan dokter. Selain itu, farmasis juga dapat mengusulkan dilakukannya TDM jika mereka memandang perlu adanya pemantauan kadar obat dalam darah untuk pasien tertentu. Tentu tidak semua obat di-TDMkan. Di hospital ini beberapa obat yang hampir selalu mendapatkan pemantauan melalui TDM adalah tacrolimus, siklosporin, anti epileptic drug dan anti MRSA drug. Dari sini hasilnya akan dilaporkan kepada dokter dan digunakan menjadi dasar adjusment dosis pada terapi. O,ya…. alat untuk TDM disini udah canggih banget, boo…. alat TDX yang lama sudah nggak digunakan lagi. Sekarang mereka menggunakan mesin khusus dengan metode chemiluminescence assay, di mana pemeriksaan jadi lebih sensitif dan cepat. Dan pemeriksaannya cepet lho….. katanya dokter juga umumnya meminta hasil yang cepat, jadi mereka bisa memberikan hasil TDM pasien dalam waktu 30 menit – 1 jam setelah sampel dikirim ke farmasi !!

Konseling dan informasi obat

Pharmacist sedang memberikan konseling pada pasien di bedside

Pelayanan kefarmasian di Jepang juga sudah mulai beranjak menuju patien-oriented. Mulai sejak 3-4 tahun yang lalu, pasien diberi konseling pada saat masuk dan pada saat di rumah sakit. Aku diajak oleh salah seorang farmasis di sana untuk melihat bagaimana konseling dilakukan kepada pasien. Oya, karena keterbatasan jumlah apoteker dan juga pertimbangan uang jasa pelayanan kefarmasian, di hospital ini konseling dan sekaligus pemantauan terapi pasien dilakukan sekali seminggu untuk tiap pasien. Jadi jika dia dirawat selama 3 minggu, dia akan mendapat 3 kali konseling. Namun ada juga yang mendapat pemantauan setiap hari, terutama pada pasien-pasien yang mendapatkan antibiotik khusus seperti anti MRSA (Methicillin resistant Staphylococcus aureus), quinolon yang baru, golongan penem, dan anti fungi. Mereka akan memantau dari hasil pemeriksaan lab pasien, dan jika diperlukan mendatangi pasien untuk menanyakan efek-efek samping yang mungkin dialami pasien. Dalam hal pelayanan informasi obat, farmasis menyiapkan data base lengkap mengenai obat-obat yang dipakai di RS (sekitar 2000 item yang dipilih), sehingga dokter dengan mudah dapat memperoleh informasi yang diperlukan dengan mengklik di komputernya masing-masing jika misalnya akan menulis resep. Jika diperlukan, mereka akan menanyakan pada apoteker.

Pendidikan farmasi di Matsuyama University

Mahasiswa tingkat 4 sedang praktikum dispensing

Aku tidak bisa mengatakan secara umum tentang pendidikan farmasi di Jepang,karena aku hanya mengunjungi satu institusi saja, yaitu Matsuyama University. Matsuyama University adalah satu-satunya universitas swasta di Ehime yang memiliki pendidikan farmasi, itupun masih baru, baru sampai tahun ke empat. Secara umum terdapat perubahan sistem pendidikan di Jepang, dari yang semula hanya 4 tahun, menjadi 6 tahun, dengan penambahan muatan pada farmasi klinik. Pendidikan farmasi di Jepang juga lebih mengarah pada farmasi pelayanan. Mereka harus menjalankan PKL selama 2,5 bulan di rumah sakit dan 2,5 bulan di apotek. Isi kuliahnya sih aku kira sama saja dengan pendidikan farmasi di Indonesia. Mereka juga berlatih mereview resep, melakukan dispensing, memberikan konseling, dll.

Farewell Lunch

Menikmati sushi dan sashimi bersama Sensei dan istri di farewell lunch

Begitulah kawan, sekilas yang dapat kubagikan mengenai farmasi di Jepang. Tidak banyak, selintas saja. Bagaimanapun aku harus berterimakasih pada Maeyama Sensei yang telah mengantarku dan memperkenalkanku pada farmasis di sana, padahal beliau sendiri juga baru kenal (Prof Maeyama adalah seorang dokter).  Dan di akhir kunjunganku di Matsuyama, Maeyama Sensei dan istri sengaja menundangku untuk sekadar lunch perpisahan di sebuah restoran khusus sushi dan sashimi…..  Sebuah kunjungan yang mengesankan. Katanya sih Sensei akan mengundangku lagi tahun depan. Aku bilang, waktu yang paling asyik berkunjung ke Jepang adalah musim semi atau musim sakura, dan musim gugur seperti sekarang ini hehe…..  Mudah-mudahan masih ada kesempatan. Hontoni, iro-iro arigatou ghozaimashita….!!