Waspadai obat penggemuk badan: mau gemuk malah remuk… !

27 10 2013

Dear kawan,

loving-our-bodiesSemua orang tentu ingin punya bentuk tubuh yang ideal. Di samping lebih sehat, tentu akan lebih percaya diri. Yang merasa terlalu gemuk kepengin kurus, dan yang merasa terlalu kurus ingin gemuk… Aku sendiri pengen turun berat badan barang 5 kg lagi deh…tapi susahnyaaa setengah mati…. Akhirnya pasrah lah, yang penting sehat..hehe… Kadang orang mau melakukan apa saja demi mencapai impiannya mendapatkan tubuh ideal, termasuk menggunakan obat-obatan. Eit, tapi tunggu dulu… jangan gegabah mengkonsumsi sembarang obat. Alih-alih mencapai bentuk tubuh ideal, yang terjadi malah badan jadi amburadul karena efek samping obat.

Beberapa waktu lalu aku mendapatkan pertanyaan mengenai obat gemuk yang baik. Apa saja sebenarnya obat yang bisa untuk membuat gemuk? Seberapa aman obat pembuat gemuk? Tulisan ini akan mengulas tentang obat-obat penggemuk badan.

  1. Pil penggemuk badan

Di internet banyak ditawarkan pil penggemuk badan dari China yang katanya berisi aneka herbal alami. Sebuah pil penggemuk badan misalnya, diiklankan berisi herbal seperti : Ginseng, Semen Cusculae, Fructus Crataegus, Fructus Hordel Germinatus, Fructus Quisqualis,  Radix Astragali, dan Rhizoma Atractylodis Mak. Jika ditelusuri, herbal-herbal ini umumnya berefek pada saluran pencernaan, misalnya memperbaiki fungsi pencernaan sehingga makanan lebih banyak yang terserap, meningkatkan nafsu makan, melancarkan peredaran darah, mengatur metabolisme lemak, dll. Jika memang hanya berisi herbal, sebenarnya baik-baik dan aman-aman saja. Pada umumnya efek obat herbal tidak terjadi secara cepat namun bertahap dan  perlahan-lahan. Tapi jika kemudian obat tersebut mengklaim efeknya sangat manjur, seperti yang disebutkan dalam salah satu iklan obat gemuk, bahwa “Dalam waktu 1 minggu berat badan Anda akan bertambah 5-7 Kg”, maka kita perlu waspada. Jangan-jangan pada obat herbal tersebut ada campuran obat sintetik yang efeknya membuat gemuk dengan cepat, tapi efek sampingnya berbahaya. Obat yang sering  dicampurkan dalam obat penggemuk badan adalah golongan kortikosteroid. Sebuah peringatan dari FDA menegaskan hal ini. Bisa diklik di sini: http://www.fda.gov/Drugs/DrugSafety/ucm421211.htm

  1. Obat kortikosteroid

Obat golongan kortikosteroid termasuk golongan obat yang penting dalam dunia pengobatan, karena memiliki aksi farmakologi yang luas, sehingga sering digunakan dalam berbagai penyakit, sampai-sampai ada yang menyebutnya “obat dewa”, obat segala penyakit. Tapi di sisi lain, karena tempat aksinya luas, efek sampingnya pun luas dan tidak kurang berbahayanya. Penasaran kan tentang kortikosteroid ? Apakah itu?

Obat ini tergolong sebagai obat anti radang yang poten, dan sering digunakan untuk gangguan radang seperti alergi, asma, eksim, dan juga penyakit-penyakit autoimun seperti Lupus, rheumatoid arthritis, dll, karena efeknya yang bisa menekan kerja sistem imun yang berlebihan. Contoh obatnya adalah: deksametason, betametason, hidrokortison, triamcinolon, dll.

Obat ini memberikan efek “kelihatan” gemuk karena memiliki efek menahan air dalam tubuh, sehingga berat badan bertambah. Kemudian ia juga mempengaruhi metabolisme lemak tubuh dan distribusinya, sehingga menyebabkan pertambahan lemak di bagian-bagian tertentu tubuh, yaitu di wajah (jadi membulat), bahu, dan perut. Wajah bulat akibat penggunaan steroid sering disebut “moon face”. Pada orang yang sering menggunakan steroid, wajahnya akan tampak membulat. Orang yang kepengin gemuk mungkin akan merasa senang dengan efek ini. Tetapi gemuk yang dihasilkan bukanlah gemuk yan sehat. Selain itu, masih banyak pula efek samping yang bisa timbul dari pemakaian kortikosteroid. Apa saja?

a. Penekanan sistem pertahanan tubuh

Karena obat ini bisa menekan sistem imunitas/pertahanan tubuh, maka jika terluka akan lebih lama sembuhnya. Selain itu juga lebih mudah tertular infeksi. Termasuk juga banyak tumbuh jerawat dan gangguan kulit akibat infeksi jamur.

b. Meningkatkan risiko diabetes

Golongan obat ini meningkatkan proses glukoneogenesis, yaitu pembentukan glukosa dari protein,  sehingga beresiko meningkatkan kadar gula darah. Karena itu, orang dengan riwayat diabetes dapat mengalami kenaikan kadar gula darah yang nyata jika mengkonsumsi obat ini.

c. Meningkatkan risiko hipertensi

Karena obat ini bersifat menahan cairan tubuh, maka akan meningkatkan volume darah, dan bisa berpotensi menaikkan tekanan darah

d. Meningkatkan risiko osteoporosis/keropos tulang

Obat ini memiliki efek katabolik, yaitu mengurai protein sehingga mengurangi pembentukan protein, termasuk protein yang diperlukan untuk pembentukan tulang. Akibatnya terjadi osteoporosis atau keropos tulang, karena matriks protein tulang menyusut. Efek ini juga menyebabkan gangguan pertumbuhan jika digunakan pada anak-anak dalam jangka waktu lama.

e. Cushing syndrome

Gejala-gejala Cushing Syndrom akibat akumulasi steroid dalam tubuh

Gejala-gejala Cushing Syndrom akibat akumulasi steroid dalam tubuh

Obat golongan steroid yang digunakan dalam waktu lama akan menyebabkan gangguan yang disebut Cushing syndrome, yaitu efek-efek yang terjadi akibat akumulasi/penumpukan kortikosteroid di dalam tubuh, dengan tanda-tanda: terjadi garis-garis kemerahan di kulit terutama perut dan paha (disebut striae), jerawat, kumpulan lemak seperti punuk sapi/kerbau di bahu (buffalo hump), perdarahan bawah kulit/lebam, moon face, hipertensi, perdarahan lambung, keropos tulang, dll.

Jadi nampaknya potensi untuk menjadi gemuk dengan obat golongan steroid tidaklah sepadan dengan bahaya efek samping yang ditimbulkannya. Perlu berhati-hati jika Anda menggunakan obat yang katanya herbal alami, tetapi kemudian timbul efek-efek seperti di atas, maka kemungkinan besar pada herbal tersebut ditambah dengan obat golongan steroid. Jika Anda menyadari adanya steroid dalam jamu/herbal penggemuk badan yang anda gunakan, hentikanlah perlahan-lahan. Penggunaan obat golongan kortikosteroid tidak boleh dihentikan secara mendadak karena akan mengganggu adaptasi tubuh. Penghentian harus perlahan-lahan dengan dosis yang makin lama makin berkurang. Mengapa demikian ? Karena selama penggunaan kortikosteroid dari luar, produksi hormon ini secara alami dari tubuh akan terhenti, maka jika penggunaan dari luar tiba-tiba dihentikan, tubuh akan kekurangan hormon ini secara normal dan akan terjadi reaksi-reaksi yang tidak diinginkan, seperti: kadar gula darah turun, tekanan darah turun drastis dari posisi duduk ke berdiri (hipotensi ortostatik), dehidrasi (kekurangan cairan), lemah, lesu, dll.

3. Antihistamin (Siproheptadin dan ketotifen)

Obat golongan antihistamin sebenarnya ditujukan untuk mengatasi gangguan alergi, baik alergi kulit, saluran nafas, atau bagian tubuh lain. Namun efek samping obat ini adalah meningkatkan nafsu makan, sehingga juga sering “disalahgunakan” untuk meningkatkan nafsu makan pada anak-anak yang sulit makan, termasuk juga dicampurkan pada jamu penggemuk badan. Penggunaan siproheptadin atau ketotifen sebagai peningkat nafsu makan pada anak-anak dapat digolongkan sebagai penggunaan obat “off-label”, di mana obat digunakan dengan tujuan/indikasi di luar indikasi yang resmi dan disetujui oleh badan otoritas di bidang pengawasan obat, seperti FDA di Amerika atau Badan POM di Indonesia.

Bagaimana untuk menggemukkan badan?

Lalu, bagaimana cara yang tepat dan sehat untuk menggemukkan badan?  Yang pertama tentunya mengatur pola makan. Makanlah dengan porsi yang lebih besar dengan komponen lemak dan protein yang lebih tinggi. Makanlah yang disukai, sehingga bisa habis banyak. Gemuk yang bagus adalah dengan massa otot yang banyak, bukan sekedar lemak, apalagi air. Karena itu, perlu juga diimbangi dengan olah raga yang dapat meningkatkan massa otot.

Jika akan menggunakan obat, lebih aman menggunakan obat herbal, tetapi waspadai adanya kemungkinan obat herbal yang dicampuri bahan kimia obat yang berbahaya. Informasi seperti itu seringkali tidak tercantum dalam iklan dan promosi produknya. Apalagi jika menggunakan produk China yang tidak melalui pendaftaran di Badan POM dan dijual bebas melalui media online, maka perlu ada kehati-hatian. Sebuah temuan oleh Badan otoritas pengawasan obat dan makanan di Arab Saudi menunjukkan bahwa pil Kianpi yang berasal dari China dan beredar luas di banyak negara termasuk Indonesia, mengandung betametason dan siproheptadin, (cek di sini)  yang bisa menimbulkan efek samping berbahaya jika digunakan dalam jangka waktu lama. Efek obat herbal biasanya tidak sangat drastis, tetapi lebih bertahan. Karena itu, jangan berharap efek yang terlalu cepat, namun lebih baik diikuti dengan asupan makanan yang bergizi dan sehat.

Iklan




Penyalahgunaan Trihex : Tindakan kreatif atau bodoh?

14 10 2013

Dear kawan,

Jidatku agak berkerut sedikit ketika asisten rumahtanggaku bertanya,” Ibu, Trihex itu obat apa sih?” Rupanya di TV sedang ditayangkan berita tentang penyalah-gunaan Trihex yang mulai marak belakangan. Aku jadi agak heran, setahuku Trihex atau nama lengkapnya Triheksifenidil (trihexyphenidyl) atau sering disingkat lagi dengan nama THP, adalah obat untuk mengatasi gejala Parkinson, dan juga digunakan untuk mengurangi efek samping obat antipsikotik pada pasien gangguan jiwa/skizoprenia. Wah, kok kreatif banget to…. sampai-sampai obat untuk or-gil juga disalahgunakan…

Untuk lebih paham obat ini, ayo kita kenali tentang obat ini dan penggunaannya yang benar.. Kita bahas dulu penyakit2 di mana obat ini dipakai…

Penyakit Parkinson’s

Penyakit Parkinson’s adalah penyakit degenerasi syaraf atau penurunan fungsi syaraf yang bersifat progresif (berkembang terus) yang umumnya terjadi pada usia lanjut, di atas 50 tahun. Gangguannya terjadi pada sistem saraf dopaminergik, yang berperan dalam fungsi gerakan, jadi penyakit ini ditandai dengan gangguan gerakan, misalnya tremor/gemetar, gerakan melambat dan kaku, dan seringkali terjadi ketidakstabilan postur. Pasien mengalami kekurangan neurotransmiter dopamin dalam sistem syarafnya.  Gejala Parkinson akan muncul ketika sudah terjadi kematian  50-80% saraf dopaminergik.

Ketidakseimbangan aksi dopamin dan asetilkolin menyebabkan gejala penyakit Parkinson's

Ketidakseimbangan aksi dopamin dan asetilkolin menyebabkan gejala penyakit Parkinson’s

Kekurangan dopamin ini menyebabkan ketidakseimbangan aksi neurotransmiter lain yaitu asetilkolin, yang menjadi berlebihan. Kelebihan aksi asetilkolin ini menyebabkan efek-efek yang disebut aksi kolinergik, seperti keluarnya air liur berlebihan (salivasi), otot-otot menjadi kaku sehingga wajah penderita Parkinson itu seperti memakai topeng.

Penyakit ini tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa diperlambat perkembangannya dengan obat-obatan. Obat-obat yang dipakai adalah obat yang bisa meningkatkan ketersediaan dopamin, seperti levodopa, dan obat yang bisa mengaktifkan reseptor dopamin seperti apomorfin dan bromokriptin. Di sisi lain, untuk mencegah aksi kolinergiknya, digunakanlah obat  seperti triheksifenidil, seperti yang disebut di judul posting ini. Triheksifenidil adalah tergolong obat antikolinergik atau antimuskarinik, yang bekerja menghambat reseptor asetilkolin muskarinik.

Skizoprenia

Penyakit ini merupakan gangguan jiwa kronis yang ditandai dengan adanya gejala halusinasi, delusi (waham), disorganisasi pikiran, dan juga kadang disertai paranoid, menarik diri dari lingkungan, dll. Secara patofisiologi, penyakit ini disebabkan karena ketidak-seimbangan neurotransmiter dopamin di otak, di mana terjadi kelebihan aksi dopamin pada bagian mesolimbik, dan kekurangan dopamin pada bagian mesokortis. Karena itu, salah satu pengobatan skizoprenia adalah menggunakan obat-obat yang bisa menekan reseptor dopamin, yang disebut golongan obat antipsikotik. Contohnya adalah haloperidol, klorpromazin, dll. Nah, karena kerja obat-obat ini menekan aksi dopamin, maka efek samping obat ini mirip seperti kondisi kekurangan dopamin dan kelebihan aksi asetilkolin  pada pasien Parkinson, yang diistilahkan sebagai pseudoparkinson atau Parkinson semu. Gejala-gejalanya antara lain kekakuan otot yang nyeri, tremor, dan gerakan-gerakan tubuh yg tidak terkendali, yang disebut juga  efek samping ekstrapiramidal. Gejala-gejala ini sering membuat pasien tidak patuh pada pengobatan, padahal mereka harus menggunakan obat-obat tersebut dalam jangka panjang. Karena itu, untuk mecegah dan mengatasi efek samping tersebut, pasien sering diberi obat seperti triheksifenidil/THP ini. Jadi, obat THP digunakan bersama-sama dengan obat antipiskotik tipikal untuk mencegah efek samping ekstra piramidal.

Triheksifenidil

Salah satu merk obat triheksifenidil yg dikenal sbg pil kuning

Salah satu merk obat triheksifenidil

Seperti apa sih triheksifenidil? Seperti yang disebutkan di atas, obat ini tergolong obat antikolinergik atau antimuskarinik. Obat ini bekerja memblok aksi asetilkolin pada reseptornya, sehingga menghasilkan efek mengurangi kekakuan otot, pengeluaran air liur yang berlebihan, tremor, dan meningkatkan kemampuan mengatur gerakan yang biasanya terjadi pada pasien Parkinson atau pada pasien skizoprenia yang menggunakan obat antipsikotik. Ia juga turut mengatur pelepasan dopamin.

Obat ini tersedia dalam bentuk tablet  dosis 2 dan 5 mg, dan sediaan sirup/elixir yang mengandung 2 mg/5 ml. Untuk mengatasi gejala-gejala di atas, THP digunakan mulai pada dosis 1-2 mg per oral 2-3 kali sehari, atau sesuai kebutuhan, dengan dosis maksimum 15 mg sehari.

Mengapa obat ini bisa disalahgunakan?

Seperti yg telah disampaikan, obat ini bekerja menghambat reseptor asetilkolin. Diduga, sistem kolinergik terlibat dalam pengaturan mood seseorang, yang menyebabkan peningkatan perasaan.  Ada beberapa laporan yang mengatakan bahwa obat golongan antikolinergik yang beraksi sentral (di otak) memiliki efek meningkatkan mood (euforia), walaupun efek ini tidak selalu terjadi dan seringkali tidak terkontrol. Sebenarnya efek halusinogenik yang mungkin ditimbulkan oleh obat ini termasuk jarang, yaitu 2-4% pasien saja yg akan mengalami, dan pada lansia kejadiannya bisa mencapai 19%. Sedangkan efek euforia baru akan tercapai pada dosis tinggi.

Tindakan bodoh…

Dengan fenomena penyalahgunaan yang makin kreatif ini, memang perlu dilakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap peredaran obat-obatan. Sebenernya penyalah-guna obat adalah orang yang BODOH, karena tidak memperhitungkan efek-efek lain yang bakal ditimbulkan dengan penggunaan obat yang diharapkan memberikan efek euforia. Padahal efek-efek lain dari THP cukup banyak, antara lain mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, kebingungan, gangguan urinasi, mual muntah, palpitasi, amnesia, insomnia, dll., yang itu bisa melebihi efek euforia yang diharapkan.  Ketika efek euforia tercapai, efek-efek lain yang berbahaya mungkin sudah duluan menghinggapi, dan bahkan bisa berakibat fatal ketika sudah mencapai dosis toksiknya. Dan orang sehat yang mau memakai obat untuk “orang gila” pastinya gila juga…..

Demikian, sekilas info, semoga bermanfaat…





Catatan dari Farmasi Mencari Bakat: otak kiri vs otak kanan, mitos apa realita?

12 10 2013

Dear kawan,

Hari ini aku didapuk menjadi salah satu juri untuk sebuah ajang pencarian bakat tingkat fakultas “Farmasi Mencari Bakat (FMB)” dalam rangka Dies Fakultas Farmasi UGM tahun ini. Wah, suer… sebuah pengalaman asyik bisa menikmati dan menggali bakat-bakat seni para mahasiswa farmasi yang kadang tak terduga. Sungguh, even semacam ini bener-bener  menyegarkan, mengingat bahwa ruang lingkup kegiatan mahasiswa Farmasi pada umumnya hanya berkisar dari kuliah, pretest, praktikum, bikin laporan, dan ujian, wajahnya serius-serius, sampai bentuknya segi-enam kayak cincin benzena… hehe..

Dalam ajang ini ada berbagai performance, baik yang perseorangan dan berkelompok. Beberapa yang menarik aku tuliskan catatannya di sini. Maaf, ngga terulas semua, karena lupa dan ngga punya catatan….

Para penampil FMB

Penampilan yang cukup koplak disajikan oleh Cynthia Goceng… Aduh anak ini pe-de abis… nama panggungnya saja sudah konyol. Lebih cocok jadi komedian ketimbang penyanyi, walaupun dia mendaftarkan diri untuk menyanyi. Suaranya emang ngga masuk hitungan haha…. tapi penguasaan panggungnya oke banget dan penampilannya menyegarkan. Mungkin nanti bisa bergabung sama Opera van Java bareng Sule cs…

Penampilan group Sweet memory yang apik

Penampilan group Sweet memory yang apik

Penampilan seru lainnya ditunjukkan oleh group Sweet memories, yang akhirnya memang menjadi juara pertama. Diawali dengan tembang Pangkur yang indah dan merdu sekali, group ini kompak banget membawakan beberapa lagu daerah. Penguasaan alat musik dan panggungnya juga oyeeRuarr biasaa…!!!

Penampil yang lain ada yang menunjukkan bakatnya main wushu, berteater ria, drama, dan menari. Semuanya asyik-asyik… memang ada yang kurang latihan jadi kelihatan kurang kompak, tapi dari segi semangat dan kreativitasnya semuanya bagus. Untuk dance, kayaknya goyang a la Caesar yang lagi jadi favorit… beberapa grup menampilkan tarian Caesar yang dipadukan dengan tari lainnya.

Nah, penampilan yang terakhir menurutku sangat memukau. Mahasiswa angkatan 2013, Dandi, dengan suara bass-nya yang luar biasa sangat menghibur. Aduuh, Afgan dan Cakra Khan lewat deeeh…. Di awal ia memainkan keyboard sendiri sambil menyanyi. Wuih, suaranya bikin merinding… bagus banget. Dan akhirnya para penonton malah minta lagi dan lagi… dan akhirnya artis dadakan kita ini menyanyikan dua lagu lagi yang keduanya sangat ciamik….

Begitulah, acara berjalan seru dan mengesankan. Aku tidak boleh lupa menyebutkan juga bahwa penampilan duo MC-nya sangat asyik juga dalam membawakan acara dan menyegarkan suasana. Good job, guys!

Kegiatan-kegiatan semacam ini kurasa sangat perlu, untuk dapat menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan…. Kita sering mendengar bahwa orang yang dominan “otak kiri”-nya akan memiliki personalitas sebagai pemikir, logis dan berorientasi pada detail dan analitis, sedangkan orang “berotak kanan” lebih berperilaku kreatif, nyeni, penuh pertimbangan, dan subyektif. Wait…. tapi apa emang benar tuh ada istilah otak kiri dan otak kanan yang fungsinya berbeda?

Otak kanan vs otak kiri : mitos belaka

Otak adalah organ tubuh yang sangat penting untuk menerima suatu input, mengolahnya dan menjadikannya suatu output yang mempengaruhi seluruh aktivitas tubuh kita, baik disadari atau tidak. Selama bertahun-tahun dalam budaya populer, istilah berotak kiri dan berotak kanan digunakan untuk merujuk pada tipe kepribadian, dengan asumsi bahwa sebagian orang lebih banyak menggunakan sisi kanan otak mereka, sementara sebagian lagi  lebih banyak menggunaan otak kiri, dan itu tercermin dalam kepribadiannya.

Pemahaman ini berangkat dari penemuan seorang pemenang Nobel  di bidang fisiologi kedokteran pada tahun 1981, Roger Sperry, yang menyatakan bahwa otak manusia terbagi menjadi dua hemisphere, kanan dan kiri, yang memiliki fungsi yang berbeda. Tentang hal ini sudah pernah aku tuliskan pada tulisanku empat tahun yang lalu ketika kami menggelar konser di fakultas.. (klik di sini). Namun ternyata, pemahaman mengenai adanya perbedaan peran otak kiri dan otak kanan nampaknya harus direvisi saat ini. Lha kok?

Teori otak kanan vs otak kiri perlu direvisi

Teori otak kanan vs otak kiri perlu direvisi

Setelah studi selama dua tahun, Jeff Andersen, peneliti neurosains dari Universitas Utah telah mematahkan mitos tentang otak kiri dan kanan dengan mengidentifikasi jaringan tertentu di otak kiri dan otak kanan yang memproses lateralisasi fungsional. Lateralisasi fungsi otak maksudnya adalah bahwa ada proses mental tertentu yang terutama terjadi pada otak kiri atau otak kanan.Selama studi, peneliti menganalisis hasil scan otak dalam kondisi istirahat dari 1.011 orang berusia antara tujuh sampai dua puluh sembilan tahun. Pada setiap orang, timnya mempelajari lateralisasi fungsional dari otak diukur pada ribuan daerah otak, dan menemukan bahwa tidak ada hubungan  preferensi seseorang utk lebih sering menggunakan jaringan otak kiri atau otak kanan.

Jeff Anderson mengatakan “ Memang benar bahwa beberapa fungsi otak terjadi pada satu atau sisi tertentu dari otak. Misalnya fungsi bahasa cenderung berada di sebelah kiri, sedangkan perhatian lebih di sebelah kanan. Tetapi orang tidak cenderung memiliki jaringan otak kanan atau kiri yang lebih kuat. Nampaknya lebih ditentukan oleh koneksi antar jaringan.” Penelitian Pak Anderson ini telah diterbitkan bulan Agustus 2013, dengan judul  “An Evaluation of the Left-Brain vs. Right-Brain Hypothesis with Resting State Functional Connectivity Magnetic Resonance Imaging.”

Dalam penelitian ini, subyek direkam aktivitas otaknya menggunakan MRI. Otak kemudian dibagi ke dalam 7000an area, dan peneliti mengamati area otak mana yang lebih terlateralisasi fungsinya. Semua jaringan di otak diukur. Dan semua kombinasi yang mungkin dihubungkan dengan setiap bagian otak yang sudah dilaterisasi kiri dan kanan. Hasilnya menunjukkan bahwa suatu koneksi otak mungkin bisa terlaterisasi secara kuat pada kanan atau kiri. Tetapi tidak ada hubungan bahwa seseorang itu lebih sering menggunakan otak kiri atau otak kanan. Dan singkatnya, menurut hasil penelitian ini tipe personality  tidak ada hubungannya dengan hemisphere otak mana yang lebih aktif, kuat atau terkoneksi.

So?

Well, hasil penelitian ini memang jadi mematahkan teori tentang fungsi otak kiri dan otak kanan kaitannya dengan personality seseorang. Tapi itu ngga ngaruh kaan? Maksudku, terlepas dari teori otak kiri atau kanan, tetap dalam hidup itu yang paling bagus itu adalah jika ada keseimbangan… antara ilmiah dan seni, antara logika dan rasa, antara jiwa dan raga…. Biar hidup ngga miring, kering dan garing…..

Ayoo, gali terus bakat-bakat seni yang terserak supaya hari-hari di Farmasi UGM menjadi lebih semarak…

Ciao…. !!

Sumber: http://www.medicalnewstoday.com/articles/264923.php

http://www.livescience.com/39373-left-brain-right-brain-myth.html





Catatan perjalanan: Melanglang ranah Minang…

6 10 2013

Dear kawan,

Mejeng dulu sebelum on stage

Mejeng dulu sebelum on stage

Undangan menjadi salah satu pemakalah utama pada sebuah Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Andalas kusambut dengan agak excited. Yang pertama, ini adalah sebuah kehormatan, pengakuan, dan kepercayaan kepadaku bahwa aku dipandang cukup layak menjadi salah satu pembicara utama dalam seminar tersebut. Apalagi Fakultas Farmasi Andalas termasuk Fakultas Farmasi senior di kawasan Sumatera, dan banyak pakar-pakar kefarmasian yang lahir dari sana. Yang kedua, well… tentu saja aku senang, karena aku belum pernah ke Padang. Jadi nanti aku bisa “menancapkan bendera” di kota ketiga di Pulau Sumatra, setelah Batam dan Banda Aceh, sebagai kota yang pernah aku kunjungi untuk ngamen. Sudah kebayang sih masakan Padang itu seperti apa karena di Yogya juga banyak RM Padang.. tapi pasti tetap lebih asyik makan masakan Padang yang made in Padang asli hehe….

Topik yang berat : Tinjauan molekuler herbal imunomodulator

Topik yang diminta oleh panitia kepadaku adalah “Tinjauan molekuler herbal imunomodulator”. Suer,.. itu topik yang ngga ringan. Setidaknya ada tiga “kata kunci” yang harus dipahami lebih dulu… Yang pertama, imunomodulator. Berbicara tentang imunomodulator tentu harus memahami dulu tentang sistem imun. Dan sistem imun adalah sistem paling kompleks dalam tubuh kita karena melibatkan berbagai sel-sel inflamatori dan puluhan protein mediator, seperti sitokin, limfokin, dll.  Yang kedua, obat herbal. Ini adalah sebuah tantangan tersendiri karena sediaan herbal berisi berbagai senyawa yang masing-masing juga memiliki aksi sendiri. Dan bicara tentang penelitian herbal di Indonesia, aku melihat satu tingkat penelitian yang sifatnya “nanggung” dan masih superfisial sekali. Yang sampai ke penelitian uji klinik hingga dipercaya penggunaannya oleh klinisi masih sangat sedikit, sementara di sisi lain yang advanced sampai ke tingkat molekuler juga sangat terbatas. Yang ada adalah kajian diversifikasi efek sediaan herbal yang baru dalam tataran preklinik, atau bahkan in vitro. Akhirnya yang muncul adalah suatu informasi bahwa satu macam sediaan herbal memiliki efek A, B,C,D, sampai Z.  Dan ketika kita kejar sampai klinis ternyata tidak terbukti, sementara dikejar ke aras molekuler juga tidak bisa. Namun demikian ini adalah tantangan kita bersama. Kata kunci ketiga adalah kajian molekuler. Ini juga bukan kajian yang simple karena melibatkan aneka molekul sebagai second messenger, melalui berbagai transduksi signal, sampai dicapainya suatu efek seluler.

Namun demikian aku berusaha untuk memaparkan sebisaku, dan memberikan contoh beberapa herbal beserta mekanisme molekulernya sebagai imunomodulator. Istilah imunomodulator sendiri merujuk pada suatu agen yang dapat mengembalikan dan memperbaiki sistem imun yang fungsinya terganggu, atau menekan yang fungsinya berlebihan. Pada kondisi di mana sistem imun hiperreaktif, baik terhadap paparan dari luar maupun dari dalam tubuh, maka diperlukan suatu imunosupresan. Sebaliknya, jika sistem imun terlalu lemah dan kurang reaktif sehingga tidak mampu melawan patogen yang masuk, maka diperlukan suatu imunostimulan. Telah banyak obat-obat sintetik yang bekerja sebagai imunomodulator, baik sebagai imunostimulan maupun imunosupresan. Herbal dapat pula menjadi sumber senyawa imunomodulator. Sebagian telah digunakan secara empirik oleh masyarakat dan dipercaya sebagai penguat daya tahan tubuh. Beberapa diantaranya adalah Curcuma sp, Rhododendrum spiciferum, Caesalpinia sp, Panax ginseng, Echinacea purpurea, Calendula officinalis, dll.

Hingga saat ini, tinjauan terhadap mekanisme aksi herbal sampai dengan tingkat molekuler masih sangat terbatas. Hal ini dipersulit dengan banyaknya komponen fitokimia dalam suatu sediaan herbal. Efek seluler suatu sediaan obat herbal umumnya merupakan efek beberapa senyawa secara simultanpada berbagai target, yang saling komplementer. Padahal, mekanisme molekuler hanya menggambarkan interaksi satu senyawa aktif dengan satu molekul target. Mekanisme molekuler bisa menjelaskan aktivitas farmakologi tertentu suatu obat herbal dengan asumsi bahwa hanya ada satu senyawa yang beraksi, dan senyawa lain tidak berinteraksi. Namun karena faktanya sediaan herbal itu multikomponen, maka mekanisme molekuler satu komponen obat herbal pada satu target molekuler tidak selalu menggambarkan overall effect suatu obat herbal pada sistem biologis.

Dalam mengkaji mekanisme molekuler suatu imunodilator dari herbal, kesulitan lebih banyak dijumpai karena signaling pada sistem imun sangat kompleks dan saling kait mengait. Target molekuler yang telah banyak dipelajari adalah NFkB, suatu regulator transkripsi gen, yang berperan penting dalam regulasi ekspresi gen pro-inflammatory pada berbagai sel. NF-κB teraktivasi tinggi di tempat inflamasi pada berbagai penyakit imunitas dan menginduksi transkripsi berbagai molekul pro-inflamatory seperti sitokin, chemokin, molekul adhesi, oksida nitrat, matriks metaloproteinase, dll. Dalam paparan ini hanya akan dibahas dua macam herbal imunomodulator yang telah banyak diteliti, yaitu Curcuma sp mewakili golongan imunosupresan, dan Echinacea sp mewakili golongan imunostimulan.

Curcumin sebagai inhibitor jalur signaling NFKB

Curcumin sebagai inhibitor jalur signaling NFKB

Curcumin sebagai senyawa aktif dari Curcuma sp telah banyak dilaporkan memiliki aktvitas antiinflamasi, anti alergi, antioksidan, antikanker, dll. Curcumin menjalankan aksinya melalui beberapa mekanisme molekuler, salah satunya dalam menghambat aktivitas NFkB, dengan cara memblok signal yang mengaktifkan IkB kinase (IKK), yang pada gilirannya akan menghambat sintesis berbagai mediator inflamasi.  Selain itu, penelitian lain melaporkan bahwa curcumin juga bekerja menghambat aktivasi limfosit T dengan cara memblok mobilisasi Ca dan menghambat aktivasi NFAT (nuclear factor of activated T cells). Aksi-aksi ini memperantarai aktivitas curcumin sebagai imunosupresan.Sebaliknya, Echinacea sudah banyak dilaporkan memiliki efek imunostimulan dan digunakan secara empirik oleh masyarakat, terutama di Amerika sebagai tempat asalnya. Di tingkat seluler, Echinacea beraksi mengaktifkan proses fagositosis oleh makrofag, memobilisasi leukosit, dan meningkatkan produksi beberapa sitokin, seperti IL-1, IL-6, IL-10, dan TNF-alpha, serta memicu proliferasi limfosit. Echinacea mengandung banyak komponen fitokimia, namun yang dilaporkan memiliki efek imunostimulan adalah senyawa alkylamide, karena itu untuk standarisasi Echinacea disarankan menggunakan senyawa alkylamide-nya. Di tingkat molekuler, Gertsch et al (2004) melaporkan untuk pertamakalinya bahwa senyawa alkilamide dari Echinacea dapat memodulasi ekspresi gen TNF-alpha melalui aktivasi reseptor cannabinoid CB2 dan beberapa transduksi signal lainnya.

Demikian paparan singkatku dalam seminar ini mengenai tinjauan molekuler obat herbal yang digunakan sebagai  imunomodulator. Masih banyak penelitian yang perlu dilakukan untuk mengungkap berbagai mekanisme molekuler obat herbal, namun demikian tetap tidak boleh dilupakan untuk menguji overall effect-nya dengan uji klinik pada manusia jika memang ingin dikembangkan menjadi herbal unggulan yang dapat dimanfaatkan untuk kesehatan.

Perjalanan, Sate Padang dan Es Durian

Kamis siang itu, 3 Oktober 2013, pesawat Garuda yang membawaku dari Yogyakarta – Jakarta dan Jakarta – Padang melayang mulus membelah angkasa. Waktu transit sekitar 3 jam di Bandara Soetta kuisi dengan baca-baca lagi bahan presentasiku di Lounge BNI yang nyaman dan full makanan… Cuaca cerah sekali bahkan cenderung panas ketika aku berada di atas awan. Pesawat mendarat tepat waktu di Bandara international Minangkabau. Bangunan khas Minang dengan atap seperti tanduk kerbau kujumpai di beberapa tempat selama perjalanan menuju Hotel. Aku dijemput bu Ayu, salah satu staf Fak Farmasi Unand, dan langsung diantar ke Hotel Grand Zuri. Di sepanjang perjalanan kulihat ada beberapa puing bangunan akibat gempa besar di Padang th 2009 yang lalu, tetapi sebagian besar sudah dibangun kembali. Di Hotel Grand Zuri, ada 3 pembicara tamu yang diinapkan termasuk aku, yaitu bersama Pak Dr. Suharyono dari Unair, dan dr. Zuraida dari BPTO.

Sate Padang Danguang-danguang dan es duren

Sate Padang Danguang-danguang dan es duren

Malamnya, kami dijemput untuk menikmati makan malam yang khas Padang. Sate Padang “Danguang-danguang” yang mak nyuss dan es durian andalan menyambut kami di acara makan malam bersama Pak Dekan, Dr. Muslim, bersama staf dosen Farmasi Unand lainnya. Wuih, kenyaang.. ! Lalu kami diajak untuk putar-putar sebentar di kota Padang, melintasi pelabuhan, Jembatan Siti Nurbaya yang terkenal di sana, menyusuri jalan sepanjang pantai Padang yang penuh dengan wisata kuliner aneka sea food.

Hari H dan special dinner

Jumat pagi, kami dijemput di Hotel untuk kemudian dibawa ke Convention Hall Univ Andalas di mana acara seminar dilaksanakan. Kampus Andalas cukup unik dengan gedung-gedung yang warnanya nyaris seragam, yaitu abu-abu beton tanpa cat. Katanya sih untuk menghemat biaya pemeliharaan, tidak perlu ngecat-ngecat lagi… Tapi kata salah satu temanku yang orang Padang, itu sih karena orang Padang malas-malas untuk membersihkan hehe… maap. Peserta seminar cukup banyak yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Aku dapat giliran ketiga untuk presentasi setelah Dr Suharjono dari Unair dan Ibu Dra. Dara, MM Apt. dari Ditjen Binfar. Agak grogi sedikit di awal, tapi biasanya sih kalau udah on stage udah lupa ….. Alhamdulillah, semua lancar.

narsis bentar dengan bu prof Armenia di pinggir Pantai Muaro

narsis bentar dengan bu prof Armenia di pinggir Pantai Muaro

Abis lunch di Fak Farmasi Andalas dengan masakan asli Padang (pastinyo), kami jalan bentar keliling kota aja sambil makan es durian lagi (gimana ngga endut?), menyusuri jalan Pantai Muaro dan ke tempat kerajinan Padang dan sekitarnya. Kali ini Bu Prof Armenia yang berbaik hati menemani jalan (makasih, Prof).  Kerajinan yang khas di Padang adalah bordir kerancang halus khas Bukittinggi, yakni bordiran halus dengan “lubang lubang” yang terbentuk dari jalinan benang bordir. Lubang lubang inilah yang disebut dengan “kerancang”. Sebuah mukena dengan bordir kerancang yang kulihat kemarin harganya rp 2 juta. Wekkss….. ! Kapan makainya yaa… rasanya sayang mau dipakai hehe…

Malam harinya kami peserta dan pembicara seminar diundang acara makan malam oleh Gubernur Sumbar di kantor dinasnya. Acara cukup meriah diramaikan dengan tari-tarian dan lagu-lagu. Masakannya enak pastinyo…

On stage.. berduet dengan pak Dekan

On stage.. berduet dengan pak Dekan

Dan yang berkesan, aku sempat berduet menyanyi dengan Pak Dekan di acara dinner tersebut atas permintaan Bapak Rektor Univ Andalas hehe…. Tentu kesempatan ini tidak aku sia-siakan karena memang aku suka menyanyi…  Kalau udah nyanyi suka lupa diri hehe..

Menemui si Malin Kundang

Kebahagiaan jadi guru itu kalau masih dikenang dan disayang muridnya.. Dan itu aku rasakan ketika di Padang, salah satu mahasiswaku dulu mengontak ingin bertemu. Terus terang sebelum ketemu aku ngga ingat sama-sekali yang mana orangnya, lagipula dia mahasiswa di Universitas Muhamadiyah Surakarta (UMS) yang dulu aku pernah mengajar di sana pada sekitar tahun 2007-an. Jadi kami hanya bertemu satu semester. Tapi rupanya dia masih mengingatku.  Surprised juga ketika akhirnya dia sekeluarga menemuiku di hotel, bahkan mengantarku berkeliling Padang. Semula ia ingin mengajakku ke Bukittinggi, tapi itu terlalu jauh sementara pesawatku ke Jogja adalah pukul 14.00.

Bersama Vonna (Unsyiah) dan Nia plus her kids di Teluk bayur

Bersama Vonna (Unsyiah) dan Nia plus her kids di Teluk bayur

Akhirnya aku dan satu kawan dari Unsyiah Aceh, Vonna, diajak keluarga Nia jalan-jalan ke Pantai Teluk Bayur dan Pantai Air Manis. Sebenarnya alam Padang itu indah sekali… sayang nampak kurang terawat. Tapi anyway, senang sekali bisa sampai di Teluk Bayur yang selama ini hanya dikenal dari lagu lama Ernie Johan…hehe.. Kami sempat melihat monyet-monyet berkeliaran di pinggir jalan sepanjang pantai. Berikutnya, keluarga Nia membawa kami ke Pantai Air Manis atau yang dikenal dengan nama Pantai Malin Kundang. Aduuh, penasaran banget dengan batu Malin Kundang yang sangat terkenal legendanya sejak aku kecil…  Siapa yang tak kenal si Malin Kundang anak durhaka itu? Sewaktu SD aku sempat punya komiknya, dan tergambar si Malin Kundang dikutuk menjadi batu oleh ibunya. Dalam komik tersebut, seingatku, Malin Kundang digambarkan berdiri…Akhirnya setelah menaiki dan menuruni bukit, sampailah kami di Pantai Air Manis. Langsung kami menuju arah batu Malin Kundang. Ketika sampai di sana, kucari-cari yang mana, tidak ada yang nampak seperti patung orang, sampai akhirnya mas Amrul suami Nia menunjukkan seonggok batu berbentuk orang tengkurap… dan itulah si Malin Kundang!!

Bersama Malin Kundang yang tengkurap membatu

Bersama Malin Kundang yang tengkurap membatu

Huaaaaaa…… setengah geli jadinya, karena rasanya jadi antiklimaks hehe…. “cuma” begitu ternyata…. Tapi boleh juga imaginasinya hehe… Tapi kembali seperti yang kusebut tadi, sebenarnya batu Malin Kundang dan legendanya ini bisa lebih dirawat dan dimaksimalkan penampilannya. Jika perlu dibuat berpagar dengan ada tulisan atau penjelasan tentang legenda Malin Kundang. Tentu akan lebih menarik bagi para wisatawan…Anyway, sungguh suatu pengalaman menarik dari perjalananku ke Padang. Dari sana kami segera melaju lagi ke Padang karena aku harus mengejar pesawat jam 2, jangan sampai ketinggalan lagi… Keluarga Nia masih membawa kami untuk lunch dulu di warung sea food pinggir laut  yang bernama Fuja. Wah, enak sekali makan sambil dibuai semilir angin di pinggir pantai. Akhirnya kesampaian juga makan di Fuja setelah seorang kawan, yaitu Bu Wirda Zein, sudah pesan sebelum aku ke Padang, bahwa aku nanti harus mencoba makan ikan bakar di Fuja. Dan rekomendasinya ini tidak salah, karena memang enak dan cepat pelayanannya. Oya, buat bu Wirda, terimakasih juga oleh-oleh rendang keringnya. Bu Wirda ini jauh-jauh di Samarinda (Kepala Balai POM Samarinda) masih menyempatkan kirim oleh-oleh juga dari Padang untuk aku via saudara beliau di Padang. So touching… !!

Alhamdulillah, semua sudah terlaksana … terimakasih banget buat Mbak Nia dan mas Amrul berserta kedua putranya yang telah menemani kami di hari terakhir di padang dengan sangat baik dan hangat. Bahkan akupun dioleh-olehi rendang paling enak di Padang… Subhanallah… Akhirnya kamipun berpisah di Bandara Internasional Minangkabau dengan kenangan yang berkesan…

Demikian catatan perjalananku ke Padang. Sungguh aku bersyukur diberi kelancaran, keselamatan, dan kemudahan selama dalam perjalanan. Aku percaya, Insya Allah jika kita menanamkan kebaikan, Allah akan memberi kita kebaikan pula dari sisi yang tidak kita sangka-sangka… seperti aku mendapatkan kebaikan dari keluarga Mbak Nia dan teman-teman lain di Padang yang sama sekali tidak aku sangka sebelumnya.

Sampai jumpa pada catatan perjalananku berikutnya, Insya Allah next destination adalah Pontianak, tanggal 9 – 10 November 2013.