Japan Trip 2016 (2): Hiroshima Peace Memorial Museum

2 12 2016

Dear kawan,

Aku lanjutkan catatan perjalanan ini dengan perjalanan hari kedua di Jepang. Sesuai rencana, hari Minggu pagi kami check out dari hotel dan persiapan menuju ke Hiroshima. Oya, karena dari Hiroshima nanti kami langsung ke Kansai untuk menginap di sana, maka untuk tidak memberati perjalanan kami mengirim koper lebih dulu ke Hotel di Kansai. Ini adalah pengalaman pertama buatku mengirim koper dari hotel ke hotel, dan alhamdulillah tidak ada kesulitan. Kebetulan aku sudah memegang voucher Hotel Nikko Kansai Airport, jadi aku bilang ke Hotel di Matsuyama untuk mengirimkan koper kami ke Hotel di Kansai. Biaya pengiriman untuk satu kopernya adalah 1500-an yen. Pihak Hotel di Matsuyama akan mengontak Hotel di Kansai untuk pengiriman koper kami.

Menunggu Superjet bersama Maeyama Sensei

Menunggu Superjet bersama Maeyama Sensei

Dan sesuai rencana pula, Maeyama Sensei menjemput kami berempat ke hotel dan mengantar kami ke Matsuyama Port. Rizal dan Verda akan langsung naik densha ke pelabuhan. Kami akan mencoba naik kapal Superjet menuju Hiroshima. Feri Superjet berangkat setiap jam. Sebetulnya kami berencana mengambil superjet jam 9, itu makanya Sensei menjemput kami jam 8 dari Hotel. Tetapi rupanya Rizal tidak bisa mendapat densha jam 7.40 dari rumahnya, sehingga kami ngga bisa mengambil feri jam 9, karena mereka baru bisa sampai port jam 9.30an. Oke deh, ngga papa, kami sih ngga buru-buru.. tapi sempat kasihan sama Sensei pagi-pagi harus jemput kami. Semalam waktu farewell party  pasti beliau tidak berani minum banyak-banyak hehe…. takut drunken dan ngga bisa driving dengan baik. Dan aku harus bersyukur karena selama study di Jepang mendapat professor yang baik hati, bahkan sampai sekarangpun, limabelas tahun setelah aku lulus S3. Ketika aku sampaikan pada Sensei bahwa kami baru akan berangkat jam 10 dan jika Sensei ada acara lain silakan jika akan pulang dulu, Sensei bersikeras menunggu di pelabuhan sampai kami berangkat, bahkan sampai melambaikan tangan saat Feri Superjet kami mulai bergerak. Istilah jawanya mau “nguntapke”Oh, ontoni arigatou gozaimasu, Sensei.

Abis turun dari Superjet di Pelabuhan Hiroshima

Abis turun dari Superjet di Pelabuhan Hiroshima

Feri Superjet membawa kami membelah lautan menuju Pelabuhan Hiroshima dalam waktu 1,5 jam. Sebetulnya ada jenis Feri lain yang lebih murah, tetapi waktu tempuhnya lebih lama, yaitu 3 jam. Jadi kami piih yang lebih cepat. Ini menjadi moda transportasi kelima yang kami coba. Alhamdulillah, karena kami orang asing dan membawa passport, kami dapat harga special menjadi separuhnya, yaitu menjadi 3850 yen per orang. Wah, lumayan bingiit. Sayangnya Rizal dan Verda walaupun orang asing tetapi tidak bawa passport maka tidak bisa dapat potongan harga. Zan nen neee…. !!

Kereta lokal dari stasiun Hiroshima menuju Peace Memorial Museum

Kereta lokal dari stasiun Hiroshima menuju Peace Memorial Museum

Cuaca hari itu tidak begitu bersahabat, karena hujan turun seharian walau tidak deras. Tapi karena ramalan cuaca di Jepang hampir selalu tepat, hal ini sudah kami prediksi sehari sebelumnya. Jadi kami mesti bawa payung. Namun demikian, rinai hujan tidaklah menyurutkan semangat kami menjelajah di tujuan utama kami yaitu Hiroshima Peace Memorial Museum, yang dikenal dengan nama museum bom atom, untuk mengenang jatuhnya bom atom di Hiroshima tanggal 6 Agustus 1945. Dari Pelabuhan Hiroshima kami naik kereta lokal menuju museum dengan ongkos 160 yen/orang.

Di depan A-Bomb Dome di Peace Memorial Park

Di depan A-Bomb Dome di Peace Memorial Park

Sebelum masuk ke Museumnya, kami mengitari lebih dahulu Hiroshima Peace Memorial Park, atau taman di sekitar museum. Di situlah setiap tahunnya pada tanggal 6 Agustus diselenggarakan Peace Memorial Ceremony. Ada satu bangunan yang sangat khas dan menjadi tempat kunjungan favorit para pendatang, yaitu A-Bomb Dome atau Genbaku Dome. A-Bomb Dome dulunya adalah Hiroshima Prefectural Industrial Promotion Hall, satu-satunya gedung yang paling dekat dengan hiposenter jatuhnya bom dan masih tersisa pada saat itu. Sisa gedung itu kemudian dikonservasi dan menjadi saksi sejarah tragedy bom atom, dan bahkan mulai tanggal 7 Desember 1996 ditambahkan dalam daftar UNESCO World Heritage.  Waktu kami datang kesana, kami berjumpa banyak rombongan anak-anak SMP dan SMA bersama gurunya yang juga berkunjung ke sana sebagai bagian dari tugas sekolahnya.

Kapsi, Tabi dan Jeksi jalan-jalan ke Hiroshima

Kapsi, Tabi dan Jeksi jalan-jalan ke Hiroshima

Si Jeksi, kapsi dan Tabi tidak lupa juga lho berpose dengan latar belakang A-bomb Dome hehehe…..  Dari taman, kami masuk ke Museumnya. Ongkos masuknya cukup murah meriah, hanya 200 yen/orang dan untuk anak SMP gratis. Karena Hannisa masih SMP, jadi tidak kena biaya masuk museum. Museum ini didirikan pada tahun 1955 untuk menjadi media edukasi dan memorabilia tentang bom atom yang meluluh-lantakkan Hiroshima dan sebagai media advokasi tentang  perdamaian dunia. Museum ini mengkoleksi berbagai pernak-pernik (baju, sepatu, jam, dan alat-alat lainnya) dari korban bom atom yang tertinggal, foto, dan benda-benda lain yang tersisa dari tragedi bom atom, untuk menggambarkan betapa horornya suasana saat itu. Ada juga gambaran korban dengan kondisi mengenaskan akibat terkena bom atom dengan tangan meleleh. Selain itu juga ada tayangan kesaksian dari korban-korban bom atom yang masih hidup hingga sekarang, di mana saat kejadian mereka berumur sekitar 20 sampai 25-an tahun. Museum serupa sekarang sudah mulai bermunculan juga di negara kita, misalnya Museum Merapi di Yogya dan Museum Tsunami di Aceh, yang kebetulan pernah aku kunjungi.

Capek mengitari museum, kami cari makan siang dan menuju stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Osaka. Rizal dan Verda akan langsung balik ke Matsuyama, dan kami mencoba berpetualang berempat menuju Kansai Osaka. Kali ini kami memang berencana menggunakan Shinkansen, kereta api super cepat Jepang. Ini moda transportasi ke enam yang kami coba di Jepang.

Di Jepang, shinkansen termasuk moda transportasi yang banyak digunakan. Di sana, ada lima jalur shinkansen utama:

Tokaido Shinkansen, ini merupakan jalur paling penting dan padat, yang menghubungkan Tokyo dan Shin-Osaka (termasuk Nagoya dan Kyoto), dioperasikan oleh JR Central.

Sanyō Shinkansen, sambungan dari Osaka ke Fukuoka (meliputi Kobe dan Hiroshima), dioperasikan oleh JR West.

Tohoku Shinkansen, jalur Tokyo ke Utara hingga paling ujung pulau, dioperasikan JR East.

Hokkaido Shinkansen, ini sambungan dari Tohoku Shinkansen, yang menghubungkan Shin-Aomori dan Hakodate Hokuto melewati Seikan Tunnel bawah laut.  Dengan kereta Shinkansen Hayabusa membuat jalur kereta ke Pulau Hokkaido semakin ringkas.

Hokuriku Shinkansen, menyambung Tokyo ke Kanazawa (semula cuma sampai Nagano.

Afan dan Hannisa di depan moncong Shinkansen

Afan dan Hannisa di depan moncong Shinkansen

Untuk jalur Tokaido, yang paling ekspress dinamakan Nozomi yaitu paling sedikit berhentinya sehingga lebih cepat sampai. Di bawahnya adalah jenis Hikari, dan terakhir yang berhenti di semua stasiun adalah jenis Kodama. Kami mengambil shinkansen Tokaido dengan jurusan Hiroshima – Shin-Osaka. Ongkos shinkansen tidak jauh berbeda dengan pesawat. Dari Hiroshima ke Shin-Osaka ongkosnya 10.440 yen/orang, dengan waktu tempuh 1,5 jam. Kami menggunakan shinkansen Nozomi yang termasuk yang paling cepat, dengan kecepatan 270-300 km/jam, yang hanya berhenti di sedikit stasiun saja, yaitu Okayama dan Shin-Kobe. Kami beli yang reserved tiket karena itu hari minggu dan kuatir tidak dapat tempat duduk. Di Jepang, untuk shinkansen maupun kereta cepat, tersedia pilihan reserved dan non-reserved. Jika kita pilih non-reserved, nanti tidak mendapatkan nomor kursi dan bisa berebutan jika kebetulan ramai, dan kalau tidak beruntung bisa saja berdiri sepanjang perjalanan. Gerbong utk reserved dan non-reserved juga berbeda. Karena kami pendatang yang baru pertama menggunakan shinkansen, bawa anak-anak pula, aku pilih yang reserved yang buatku lebih terjamin waktu dan tempatnya. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga naik shinkansen. Dulu 15 tahun yang lalu, 3 tahun di Jepang tapi tidak sempat naik shinkansen. Maklum, masa mahasiswa itu masa pengiritan.. hehe..

Senengnya nemu udon halal di Kansai Airport

Senengnya nemu udon halal di Kansai Airport

Sesampai di stasiun Shin-Osaka, kami sempat bingung untuk mencari kendaraan lanjutannya. Akhirnya setelah bertanya-tanya, kami mengambil kereta Rapid dengan reserved seat menuju Kansai, dengan ongkos 2850 yen/orang. Cukup nyaman, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam sampai di Kansai Airport. Kami bersyukur memilih hotel Nikko Kansai Airport di dekat Terminal 1  karena tempatnya nyaman, dan akses kemana-mana sangat mudah dan dekat. Hampir semua moda transportasi standar tersedia langsung dari Kansai menuju ke berbagai kota lain di Jepang. Kami berhenti di Terminal 1, lalu tinggal naik satu lantai ke lantai 2, sampailah ke depan Hotel Nikko Kansai Airport. Di hotel kami disambut dengan ramah, dan koper kami pun sudah sampai dan langsung diserahkan kepada kami. Dan karena perut sudah berontak minta diisi, setelah chek in kami langsung menuju restoran Udon halal yang ada satu lantai dengan hotel, di terminal domestik Kansai Airport.  Alhamdulillah, Kansai Airport sekarang sudah semakin moslem friendly… sudah tersedia mushola juga serta ada restoran yang menjual makanan halal. Boleh dicoba tuh !!

Demikianlah catatan perjalananku hari kedua di Hiroshima sampai Kansai. Malam itu kami istirahat dengan nyaman, dan bersiap-siap untuk berpetualang ke Kyoto esok harinya. Nantikan cerita selanjutnya yaa…





Japan Trip 2016 (1): Matsuyama, I’m coming (again) !

1 12 2016

Dear kawan,

Akhirnya tahun ini aku berkesempatan lagi (atau tepatnya mencari kesempatan) untuk bisa berkunjung lagi ke negara matahari terbit alias Jepang. Kali ini aku bersama lagi dengan bu Triana (seperti perjalanan sebelumnya ke Korea dan China) plus dua anakku, Afan dan Hannisa. Aku memang punya target untuk minimal sekali setahun harus pergi ke luar negeri untuk menambah pengalaman dan wawasan. Dan sebagai dosen yang pekerjaannya sak-dos dan gajinya sak-sen (tapi tetap bersyukur hehe..), tentu harus punya strategi untuk bisa berjalan-jalan dengan paket hemat tanpa mengurangi kenyamanan…  Untuk itu aku harus mengikuti conference/pertemuan ilmiah dan presentasi di sana, sehingga bisa mendapat financial support dari unirvesitas. Jepang menjadi pilihan karena kebetulan bu Triana belum pernah ke Jepang, dan anak-anakku juga penyuka makanan dan budaya Jepang. Oya, aku juga tertarik ke Matsuyama karena ingin bertemu juga dengan Maeyama Sensei (profesorku dulu) yang tahun depan akan pensiun. Kapan lagi berkesempatan ke Jepang sebelum sensei pensiun. Selain itu di Matsuyama ada Rizal dan istri yang bisa jadi guide. Oiya, tentu saja untuk anak-anak aku harus merogoh kantong pribadi agak dalam walau ada juga sumbangan dari sponsor hehe… tapi kadang kekayaan itu tidak hanya berupa tumpukan uang, tapi juga pengalaman dan pengetahuan… Jadi kekayaan kita tidak berkurang, hanya berubah bentuknya. Jadi the show must go on….!  Aku menuliskan ini sebagai dokumentasi pribadiku untuk perjalanan kali ini. Tulisan ini akan diterbitkan dalam beberapa seri biar ngga kepanjangan dan jadi ditunggu-tunggu kelanjutannya… hehe. Begitu saran salah satu pembaca setia blog ini..

Sebuah event Pharmacological Meeting di Matsuyama (kota tempat belajarku dulu) menjadi salah satu destinasinya. Setelah urusan administrasi beres, termasuk visa dan lain-lain, berangkatlah kami berempat ke Matsuyama via Osaka. Kami sudah berencana untuk mengunjungi beberapa kota selama di Jepang, biar anak-anak pada punya pengalaman baru menaiki berbagai moda transportasi di sana. Cuaca di beberapa kota yang akan kami kunjungi sudah aku cek melalui ramalan cuaca, dan nampaknya cukup nyaman, berkisar antara 12-16 derajat di siang hari. Aku tidak ingin mengulang pengalaman salah kostum di Korea hehe… pakai baju seadanya pada suhu 1 derajat… !!

Perjalanan

Yeaayy! Komik Apoteker Cilik udah sampai Kansai Osaka

Yeaayy! Komik Apoteker Cilik udah sampai Kansai Osaka

Matsuyama adalah salah satu kota di Jepang yang berlokasi di Pulau Shikoku. Tidak ada penerbangan langsung kesana dari Indonesia jadi kami harus melalui Kansai International Airport di Osaka. Kami berangkat dari Yogya melalui Denpasar pada hari Kamis malam tanggal 24 November 2016, dan sampai di Kansai Airport keesokan harinya jam 8.30 waktu setempat. Perbedaan waktu antara Jepang dan Indonesia adalah 2 jam dengan Jepang lebih cepat. Alhamdulillah, urusan imigrasi cukup lancar. Oya, aku tidak lupa membawa Komik kami Apoteker Cilik… aku ingin membawanya berjalan-jalan di Jepang hehe…  Lucu aja kami berpose di beberapa kota di Jepang dengan si Jeksi, Kapsi dan Tabi di buku.

Dari Kansai kami melanjutkan perjalanan ke Itami Airport di Osaka, sebuah Bandara utk penerbangan domestik di Jepang. Dari Kansai sebetulnya ada pesawat ke Matsuyama, tetapi jadwalnya terlalu malam. Jadi lebih baik pindah bandara. Kami naik bus dari Kansai ke Itami secara gratis karena kami punya tiket penerbangan Itami-Matsuyama dan tiket penerbangan internasional ke Kansai. Lumayan bingiit ! Perjalanan dari Kansai ke Itami memerlukan waktu 70 menit. Yang selalu aku kagumi dari transportasi di Jepang adalah ketepatan waktunya. Semuanya bisa diprediksi dengan lebih tepat. Kansai Aiport sendiri berada di sebuah pulau buatan yang khusus dibuat menjadi bandara. Hm.. Jepang, apa sih yang ngga bisa dibuat… ! O,ya, bus adalah moda transportasi kedua yang kami naiki di Jepang setelah pesawat.

Matsuyama, I’m coming again !!

Pesawat All Nippon Airlines berbaling-baling membawa kami ke Matsuyama selama kurang lebih 55 menit. Cuaca hari itu cerah sekali sampai kami bisa melihat jembatan panjang Shimanami Kaido yang membentang gagah dari Pulau Honshu ke Shikoku. Matsuyama tidak begitu banyak berubah dari sejak terakhir aku datang 2 tahun yang lalu. Kami menginap di APA Hotel dekat Matsuyama castle. Anak-anakku excited sekali megunjungi Jepang yang sebelumnya hanya di lihat di TV atau movie, dan menikmati makanan Jepang yang asli di sana. Tapi untuk urusan makanan memang harus berhati-hati memilihnya, karena tidak semua halal dimakan. Untungnya kemasan makanan Jepang cukup detail mencantumkan ingredient-nya sehingga bisa diketahui isinya. Untuk urusan ini aku mengandalkan Rizal yang sudah lama tinggal di Jepang dan bisa membaca kanji.

Di depan Okaido

Di depan Okaido

Kami naik taksi ke hotel, dan ini menjadi moda transportasi ketiga yg dicoba di Jepang. Sesampainya di Hotel dan meletakkan koper, cuaca masih cukup terang dan sayang untuk dilewatkan. Jadilah kami putuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel. Untungnya hotel kami berada di pusat kota, jadi dekat jika mau kemana-mana. Kami jalan-jalan menuju shopping arcade di Okaido dan Gintengai. Ini bukan tempat asing buatku karena dulu sekali menjadi tempat andalanku untuk sekedar cuci mata saat liburan ngelab.  Oya, kalau waktu di Korea aku salah kostum, maka kali ini aku salah sepatu…uff! Sebelum pergi sempat bingung mencari sepatu yang bisa untuk acara resmi sekaligus untuk jalan-jalan di musim gugur, dan cocok untuk kakiku yang tidak bisa dibilang jenjang…  Kriteria inklusi yang sulit bukan? Akhirnya aku memakai sepatu yang ternyata bikin sakit untuk jalan-jalan. Terpaksalah aku mesti mencari alternatifnya di Okaido.. (modus dot com untuk beli sepatu baru .. hehehe).

Toko 100-yen Daiso masih jadi andalan untuk belanja. Tapi jangan salah…. walaupun kelihatannya murah. tapi toko 100-yen itu “menipu” lho…. Karena merasa murah, tahu-tahu keranjang kita udah penuh dengan aneka belanjaan karena barang di sana unik-unik dan lucu… !!  Gludak deeh… !! Ujung-ujungnya tetap saja menguras kantong !! Saat ini kurs yen adalah 128 rupiah per 1 yen.  Tapi jangan coba-coba hitung-hitung kurs sewaktu belanja di Jepang yaa, bisa-bisa kalian stress sendiri dan kepengin balik ke Indonesia.. Jalan-jalan sore ditutup dengan makan malam kare kambing halal jualannya orang Nepal. Rasanya seperti di surga saja bisa makan daging halal di Jepang… karena tidak banyak yang menyediakan…

Scientific part

Suasana saat presentasi

Suasana saat presentasi

Sabtu pagi aku dan bu Triana dijemput Maeyama Sensei di Hotel untuk dibawa ke venue acara yaitu di Universitas Matsuyama. Peserta seminar berasal dari berbagai kota di Jepang, dan tersedia tempat untuk presentasi oral dan poster, semuanya di bidang farmakologi. Entah kenapa jadwal presentasi kami dibuat seperti sandwich…. Aku di bagian awal, jam 9.00, bahkan urutan pertama, sedangkan bu Triana kebagian pada sesi terakhir jam 15.40an. Mungkin biar kami tidak langsung menghilang yaa.. hehehe…  Baiklah, akupun menjalankan tugas presentasiku selama kurang lebih 11 menit. Ada 2 pertanyaan dari audiens yang aku terima. Presentasi-presentasi berikutnya disampaikan dalam Bahasa Jepang, tapi dalam slide-nya masih terlihat beberapa yg bisa kami pahami dan semuanya sudah di tingkat advanced. Agak kecil hati sedikit sih, tapi ga papa lah… kan ini dari developing country hehe.. maklum. Kami memilih untuk tidak membuat rambut dan lidah makin keriting dengan bahasa dan tulisan kanji, maka setelah beberapa saat kami keluar, untuk kembali lagi nanti sorenya waktu presentasi bu Triana.

Traditional Japanese Food and autumn scenery in Dogo Koen

Siang itu aku janjian untuk bertemu Kyoko-san, teman Jepangku, di stasiun Okaido. Kyoko adalah gadis Jepang dari kota Imabari (1 jam dari Matsuyama)  lulusan jurusan Bahasa Inggris, jadi dia senang berteman dengan banyak orang asing untuk mepraktekkan Bahasa Inggrisnya. Tidak banyak aku jumpai orang Jepang yang Bahasa Inggrisnya bagus. Yang banyak adalah yang Bahasa Inggrisnya beraksen Jepang bingit yang bikin jidat berkerut karena harus berpikir keras memahaminya. Singkat cerita, bertemulah kami di Okaido shopping arcade, dan destinasi pertama adalah restoran Jepang. Kali ini kami naik trem (densha) menuju Okaido dengan biaya 160 yen/orang (jauh dekat sama).  Ini adalah moda transportasi ke-empat yang dicoba.

Traditional Japanese culinary yang cantik

Traditional Japanese culinary yang cantik

Restoran Jepang ini bukan yang menjual “sekedar” ramen atau udon, tetapi makanan Jepang yg lebih tradisional. Jadilah kami masing-masing memesan 1 set, yang berisi beberapa items. Sayangnya aku lupa namanya, karena semuanya ditulis dalam huruf kanji dan lupa aku memfoto menunya. Hmm…. Sajian makanan Jepang selalu cantik dalam penampilannya. Rasanyapun enak. Makanan ini semuanya berunsur sea food dan vegetables. Jangan tanya harga ya… nanti kalian ngga doyan makan hehehe….  O,ya, di Jepang itu, walaupun kalian diajak makan oleh orang Jepang, jangan terlalu berharap dibayarin… jadi tetap saja bayar sendiri-sendiri. Betsu-betsu istilahnya…. alias BDD (bayar dhewe-dhewe)

Suasana musim gugur dalam kolase buatan Kyoko

Suasana musim gugur dalam kolase buatan Kyoko

Destinasi berikutnya siang itu adalah ke Dogo Koen (Dogo Park). Taman Dogo ini menjadi tempat favorit terutama pada musim sakura, karena banyak pohon-pohon sakura di sana. Sedangkan pada musim gugur ini semua pohon sakura menjadi gundul, tetapi sebagai gantinya adalah pohon momiji (maple) yang daunnya memerah indah. Kyoko membawa kami ke taman ini untuk menikmati keindahan momiji. Dan ini juga yang membuatku bersemangat mengajak anak-anak supaya mereka bisa menikmati suasana musim gugur yang tidak pernah dijumpai di Indonesia.

Dari Dogo park, kami berjalan menuju Dogo onsen yang tidak jauh dari situ. Tapi sayangnya tidak banyak waktu tersisa karena kami harus kembali ke tempat seminar jam 3, sementara anakku Afan juga masih punya tanggungan membuat laporan praktikum yang harus diselesaikan dan dikirimkan ke Indonesia hari itu juga. Jadilah kami berpisahan di Dogo Koen. Anak-anak balik ke hotel diantar Rizal dan Verda, Kyoko kembali ke Imabari, sementara aku dan bu Triana kembali ke venue seminar di Matsudai.

bersama Maeyama Sensei dan anak-anak dalam acara Farewel party di Hotel JAL

bersama Maeyama Sensei dan anak-anak dalam acara Farewel party di Hotel JAL

Malamnya kami diundang untuk acara farewell party dari Seminar tersebut di Hotel JAL Matsuyama. Pada acara itu diumumkan para pemenang presenter dan poster terbaik, serta penutupan acara secara resmi. Wah, pestanya terlihat sangat resmi, hampir semua yang hadir menggunakan jas dan berdasi. Tersedia aneka makanan dan minuman, tapi sayangnya tidak banyak yang bisa kami makan. Tapi cukuplah untuk memiliki pengalaman mengikuti pestanya orang Jepang buat anak-anak. Untungnya di depan hotel ada convenient store Seven Eleven, jadi kalo kelaperan bisa beli onogiri di situ hehehe…

Demikianlah cerita hari pertama di Jepang. Malamnya kami akan bersiap-siap menuju Hiroshima besok pagi. Jadi tunggu cerita selanjutnya yaa….