Ujian kenikmatan yang sering melalaikan..

22 07 2010

Dear kawan,

Ramadhan sebentar lagi tiba. Alhamdulillah, …..semoga kita masih bisa menyambutnya. Masih jauh,… tapi bau wanginya telah tercium. Semoga akan menggantikan bau asap-asap pekat yang melekat. Meluruhkan segala amarah, merontokkan debu dan daki  kekhilafan, menggantinya dengan bau harum dan wajah bersih yang penuh kesyukuran. Amien.

Kawan, tulisan kali ini jauh dari urusan ilmiah, tapi lebih pada refleksi perjalanan hati yang penuh dinamika, yang kerapkali terjadi tanpa pernah bisa diprediksi sebelumnya.

Sungguh, di setiap perjalanan manusia ada sisik meliknya, dan dunianya bisa berputar seperti roda. Kadang di atas, saat lain di bawah. Kadang terlihat begitu cemerlang layaknya bintang, di saat berikutnya terjatuh di titik nadirnya. Kalau saja manusia  selalu mau berpikir sebelum melakukan perbuatan apapun, mempertimbangkan risiko dan manfaatnya, benar dan tidaknya, baik dan buruknya, bagaimana akibatnya bagi sesamanya, niscaya dunia akan aman-aman dan damai sentosa. Tapi sayangnya tidak. Dan di situlah letak ujiannya, yang nanti akan menjadi pembeda, mana mereka yang akan selamat dan mana yang harus mendapat mudharat.

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata : ‘kami beriman’, padahal mereka belum di uji. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah betul-betul mengetahui orang yang benar, dan sesungguhnya Ia betul-betul mengetahui orang-orang yang berdusta “ (QS. Al- Ankabut :2,3)

Ya, dan setiap diri akan mendapatkan ujiannya masing-masing. “Seseorang mendapatkan ujian sesuai dengan tingkat keagamaannya. Bila agamanya kuat akan bertambah ujian baginya “ ( HR. Bukhari ).

Begitulah kawan, setiap kita akan mendapatkan ujian untuk menentukan apakah kita akan naik kelas atau tidak, atau ada di kelas mana. Dan seringkali kita jumpai, banyak orang lebih kuat menghadapi ujian penderitaan daripada ketika menghadapi ujian kenikmatan. Ketika diberi ujian kekurangan, kemiskinan, kesulitan, manusia lebih mudah mendekat kepadaNya dengan berlinang air mata dan alunan doa-doa. Mereka akan lebih tabah dan kuat menghadapinya dan akhirnya lulus ujian. Tapi ketika diberi ujian berupa kenikmatan, manusia lebih mudah tergelincir. Ketika Dia mengijinkan manusia mendapatkan banyak kenikmatan, baik harta,  keluarga, jabatan, prestasi, penghargaan, puja-puji, dan apapun yang berupa kesenangan, mereka lebih mudah lalai dan kurang bersyukur, seolah bahwa itu sudah semestinya mereka peroleh. Lalu ingin memperoleh yang lebih dan lebih lagi, bahkan kalaupun itu bukan haknya sekalipun. Atau kalau harus berlaku dzalim terhadap orang lain pun. Inilah yang sering terjadi. Yang berharta, ingin lebih banyak lagi hartanya bagaimana pun caranya, dan lupa bahwa pada hartanya terdapat  hak orang fakir dan miskin. Yang punya jabatan, ingin lebih tinggi lagi menjabat, walaupun harus menyuap atau menjatuhkan sesamanya. Yang sering mendapat puja-puji, menjadi sombong dan mengira bahwa itu adalah semata-mata karena kemampuan dirinya, sehingga mudah merendahkan lainnya.  Astaghfirullohal’adziim…. ampunilah hambaMu ya Allah…

Akhirnya, kunci pada ujian kenikmatan adalah rasa syukur. Mudah diucapkan, tapi sungguh tak ringan menjalankan… Aku sendiri masih terus belajar untuk bersyukur dan terus mensyukuri… masih terus belajar dan berinstrospeksi … dan harus diakui, masih banyak sekali kekurangan diri. Mudah-mudahan diberi kemampuan menjalani. Amien.

Tapi manusia memang tempatnya lalai dan salah. Tiada satupun yang bersih dari salah dan khilaf. Sangat mungkin manusia tak lulus ujian dan terjatuh dalam kubangan. Tapi untunglah, ….  Allah masih memberi jalan keluar bagi hambaNya yang menghendaki, untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. 

Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Ali Imron 39)

Semoga Allah akan mengampuni kita jika kita bersungguh-sungguh memintanya. Amien.

Demikianlah kawan, sebuah renungan kecil, untuk peringatan bagi diriku sendiri dalam mengarungi kehidupan yang semakin penuh tantangan dan godaan. Semoga Allah memberi kekuatan lahir dan batin. Insya Allah, selalu ada kesempatan bagi mereka yang ingin perbaikan. Kenapa manusia menghakimi sesamanya, sementara Allah sendiri sangat luas ampunanNya?

Apakah buku diri ini selalu hitam pekat?
Apakah dalam sejarah orang mesti jadi pahlawan?
Sedang Tuhan di atas sana tak pernah menghukum
dengan sinar mataNya yang lebih tajam dari matahari

Ke manakah sirnanya nurani embun pagi
yang biasanya ramah kini membakar hati?
Apakah bila terlanjur salah
akan tetap dianggap salah?
Tak ada waktu lagi benahi diri
Tak ada tempat lagi untuk kembali

Kembali dari keterasingan ke bumi beradab
ternyata lebih menyakitkan dari derita panjang
Tuhan, bimbinglah batin ini agar tak gelap mata
dan sampaikanlah rasa inginku kembali bersatu

(By : Ebiet G Ade, Kalian dengarkanlah keluhanku)

Iklan




Coto Makasar dan pemetaan polimorfisme genetik

20 07 2010

Dear kawan,

Coto Makassar

Apakah ada yang tahu hubungannya antara Coto Makassar dengan pemetaan polimorfisme genetik? Hm…. memang nggak ada hehe…. Tapi Coto Makassar hari Senin kemarin menjadi menu sarapanku ketika aku bertandang ke Makassar untuk menyiapkan penelitianku mengenai pemetaan polimorfisme genetik pada sebuah enzim pemetabolisme obat pada populasi suku Bugis Makassar.  Yah, kawan…. akhirnya memang aku memutuskan untuk mengerjakan hampir sebagian besar penelitian ini di Makassar karena lebih mudah mencari subyek penelitiannya. Makassar pun menjadi semakin familiar di mataku, walau aku baru pernah 3 kali ini pergi kesana. Makassar bagiku sangat ramah dan hangat dengan teman-teman yang helpful dan bersahabat (terimakasih buat mbak Suwarti Wasugai yang udah direpotkan dengan kehadiranku… beliau ini dulu mantan mahasiswa bimbinganku ketika mengerjakan thesisnya untuk Program S2 Magister Farmasi Klinik)

Yaa, …..kemarin aku pergi ke Makasar dalam kunjungan yang cukup heroik, karena berangkat pagi dan pulang malamnya. Perjalanan Jogya-Makassar-Yogya sangat convenient sekarang, karena ada flight pagi jam 6 WIB dari Yogya, dan jam 18.30 WITA dari Makassar. Jadilah dengan pengaturan waktu yang efisien, alhamdulillah, urusan setting penelitian bisa selesai. Pembicaraan dengan Prof Nasrum di FK Unhas menghasilkan kesepakatan kerjasama yang Insya Allah sangat fruitful. Aku rasa ini starting point yang bagus (padahal aku cuma modal nekad doang… hehe..).  Aku juga sempat bertandang ke Fak Farmasi Unhas dan bertemu teman-teman dosen di sana. Dan hanya dengan 1-2 jam pertemuan saja, ada juga hasilnya. Ada salah satu staf dosen Fak farmasi Unhas yang katanya pingin terlibat dalam penelitian ini untuk program S3-nya dengan aku sebagai salah satu promotornya. Hmm… alhamdulillah, ada gunanya aku datang. Beliau nanti juga akan turut membantu mencari subyek penelitian yang berupa orang suku Bugis asli sampai 3 turunan ke atas, dan akan mengembangkan lebih jauh penelitian ini untuk menjadi bagian dari disertasinya. Semoga.

Buat teman-teman yang ada di Makassar dan sekitarnya, kalau ada yang merasa suku Bugis asli sampe kakek nenek, usia 18-50 tahun, sehat, silakan loh kalau ada yang mau ikutan jadi sukarelawan penelitian….  Nanti bisa mendaftar pada Akbar Bahar di alamat e-mail ochank_1986@yahoo.com  atau langsung temui sendiri beliau di Fak Farmasi Universitas Hasanuddin. Nanti Anda akan dapat hasil general check up gratis, dan sebagai gantinya, kami nanti mau minta sedikit saja sampel darah Anda untuk kami analisis DNAnya untuk penelitian ini.

Makan Coto Makassar bersama ketupat

Siangnya aku masih ketemu lagi dengan Coto Makassar di kantin RS Wahidin Makassar, ditraktir Prof Nasrum.  Hm.. tau ngga bedanya soto yang di yogya sama Coto Makassar? Bedanya… Soto dibuat dari daging dan jeroan Sapi, sedangkan Coto dibuat dari daging dan jeroan Capi….. hehe…  Hm, nyam-nyam deh…  Sorenya aku masih sempat mampir ke Instalasi Farmasi RS Wahidin, bertemu teman-teman apoteker di sana. Di sini sempat dibincangkan kemungkinan menyelenggarakan Pelatihan Farmasi Klinik untuk teman-teman yang ada di Indonesia bagian timur, bekerja sama dengan Magister Farmasi Klinik UGM. Semoga bisa terealisasi  deh tahun depan.

Keluar dari RS Wahidin jam 4 sore, segera meluncur mencari otak-otak ikan tengiri kesukaanku untuk dibawa pulang ke Jogja. Selepas itu langsung cabut ke Bandara, dan tidak menunggu lama, sang Merpati pun membawaku kembali ke Yogyakarta. Demikian catatan perjalanan heroikku seharian berada di Makassar. Mudah-mudahan membuahkan hasil yang bermanfaat. Amien.





Penggunaan obat off-label : apa dan mengapa?

17 07 2010

Dear kawan,

Pernah dengar ngga bahwa sertralin (suatu obat anti depresan) bisa digunakan untuk mengatasi ejakulasi dini pada pria? Atau bahwa ketotifen (suatu anti histamin) sering diresepkan sebagai perangsang nafsu makan untuk anak-anak? Atau amitriptilin (suatu obat anti depresi juga) dipakai untuk mengobati nyeri neuropatik? Ini adalah contoh-contoh penggunaan off-label. Apa tuh penggunaan obat off-label?

Obat Off-label

Penggunaan obat off-label adalah penggunaan obat di luar indikasi yang disetujui oleh lembaga yang berwenang. Lembaga berwenang itu kalau di Amerika adalah Food and Drug Administration (FDA), sedangkan di Indonesia adalah Badan POM. Tetapi karena umumnya obat-obat yang masuk ke Indonesia adalah obat impor yang persetujuannya dimintakan ke FDA, maka bisa dibilang bahwa indikasi yang dimaksud adalah indikasi yang disetujui oleh FDA.

Perlu diketahui bahwa sebelum obat dipasarkan, mereka harus melalui uji klinik yang ketat, mulai dari fase 1 sampai dengan 3. Uji klinik fase 1 adalah uji pada manusia sehat, untuk memastikan keamanan obat jika dipakai oleh manusia. Uji klinik fase 2 adalah uji pada manusia dengan penyakit tertentu yang dituju oleh penggunaan obat tersebut, dalam jumlah terbatas, untuk membuktikan efek farmakologi obat tersebut. Uji klinik fase 3 adalah seperti uji klinik fase 2 dengan jumlah populasi yang luas, biasanya dilakukan secara multi center di beberapa kota/negara. Jika hasil uji klinik cukup meyakinkan bahwa obat aman dan efektif, maka produsen akan mendaftarkan pada FDA untuk disetujui penggunaannya untuk indikasi tertentu.  

Mengapa obat digunakan secara off-label?

Satu macam obat bisa  memiliki lebih dari satu macam indikasi atau tujuan penggunaan obat. Jika ada lebih dari satu indikasi, maka semua indikasi tersebut harus diujikan secara klinik dan dimintakan persetujuan pada FDA atau lembaga berwenang lain di setiap negara. Suatu uji klinik yang umumnya berbiaya besar itu biasanya ditujukan hanya untuk satu macam indikasi pada keadaan penyakit tertentu pula. Nah… seringkali,…  ada dokter yang meresepkan obat-obat untuk indikasi-indikasi yang belum diujikan secara klinik.  Itu disebut penggunaan obat off-label. Atau bisa jadi, obat mungkin sudah ada bukti-bukti klinisnya, tetapi memang tidak dimintakan approval kepada lembaga berwenang karena berbagai alasan (misalnya alasan finansial), maka penggunaannya juga dapat digolongkan penggunaan obat off-label.

Penggunaan obat-obatan off-label cukup banyak terjadi. Seperlima dari semua obat yang diresepkan di Amerika adalah bersifat off-label. Dan pada obat-obat untuk gangguan psikiatrik, penggunaan obat off-label meningkat sampai 31%.  Contohnya risperidon, yang diindikasikan sebagai obat antipsikotik untuk pengobatan penyakit skizoprenia/sakit jiwa, banyak digunakan untuk mengatasi gangguan hiperaktifitas dan gangguan pemusatan perhatian pada anak-anak, walaupun belum ada persetujuan dari FDA untuk indikasi tersebut. Selain itu, uji klinik biasanya tidak dilakukan terhadap anak-anak, sehingga diduga 50-75% dari semua obat yang diresepkan oleh dokter anak di AS adalah berupa penggunaan off-label, karena memang indikasinya untuk penggunaan pada anak-anak belum mendapat persetujuan FDA.

Mengapa dokter meresepkan obat off-label?

Bisa jadi karena obat-obat yang tersedia dan approved tidak memberikan efek yang diinginkan, sehingga dokter mencoba obat yang belum disetujui indikasinya. Beberapa alasannya antara lain adalah adanya dugaan bahwa obat dari golongan yang sama memiliki efek yang sama (walaupun belum disetujui indikasinya), adanya perluasan ke bentuk yang lebih ringan dari indikasi yang disetujui, atau perluasan pemakaian untuk kondisi tertentu yang masih terkait (misalnya montelukast untuk asma digunakan untuk Penyakit paru obstruksi kronis), dll. Atau memang dokternya ingin coba-coba walaupun belum ada bukti klinik yang mendukung.

Penggunaan obat off-label yang sering terjadi adalah pada pengobatan kanker. Sebuah studi tahun 1991 menemukan bahwa sepertiga dari semua pemberian obat untuk pasien kanker adalah off-label, dan lebih dari setengah pasien kanker menerima sedikitnya satu obat untuk indikasi off-label. Sebuah survei pada tahun 1997 terhadap sebanyak 200 dokter kanker oleh American Enterprise Institute dan American Cancer Society menemukan bahwa 60% dari mereka meresepkan obat off-label. Hal ini karena umumnya uji klinik untuk obat kanker dilakukan pada satu jenis kanker tertentu, sehingga indikasi yang disetujui adalah hanya untuk jenis kanker tertentu. Tetapi kenyataannya, dokter sering mencoba obat kanker tersebut untuk jenis kanker yang lain yang belum disetujui penggunaannya. Maka ini termasuk juga penggunaan obat off-label.

Apa saja contoh penggunaan obat off-label?

Penggunaan obat off-label sendiri ada dua jenis. Yang pertama, obat disetujui untuk mengobati penyakit tertentu, tapi kemudian digunakan untuk penyakit yang sama sekali berbeda. Misalnya amitriptilin yang disetujui sebagai anti depresi, digunakan untuk mengatasi nyeri neuropatik. Yang kedua, obat disetujui untuk pengobatan penyakit tertentu, namun kemudian diresepkan untuk keadaan yang masih terkait, tetapi di luar spesifikasi yang disetujui. Contohnya adalah Viagra, yang diindikasikan untuk mengatasi disfungsi ereksi pada pria, tetapi digunakan untuk meningkatkan gairah sexual buat pria walaupun mereka tidak mengalami impotensi atau disfungsi ereksi.

Beberapa contoh lain penggunaan obat off-label antara lain adalah:

  • Actiq (oral transmucosal fentanyl citrate), digunakan secara off-label untuk mengatasi nyeri kronis yang bukan disebabkan oleh kanker, meskipun indikasi yang disetjui oleh FDA adalah untuk nyeri kanker.
  • Carbamazepine, suatu obat anti epilepsi, banyak dipakai sebagai  mood stabilizer
  • Gabapentin, disetujui sebagai anti kejang dan neuralgia (nyeri syaraf) post herpes, banyak dipakai secara off-label untuk gangguan bipolar, tremor/gemetar, pencegah migrain, nyeri neuropatik, dll.
  • sertraline, yang disetujui sebagai anti-depressant, ternyata banyak juga diresepkan off-label sebagai pengatasan ejakulasi dini pada pria.

Golongan obat yang sering digunakan secara off-label

Dan masih banyak lagi, yang mungkin pada satu negara dengan negara lain terdapat jenis-jenis penggunaan obat off-label yang berbeda. Beberapa golongan obat populer yang sering dipakai off-label antara lain adalah obat-obat jantung, anti kejang, anti asma, anti alergi, dll. seperti tertera dalam gambar.

Apa pentingnya mengetahui ini?

Penggunaan obat off-label sah-sah saja dan seringkali bermanfaat. Bisa jadi bukti klinis tentang efikasinya sudah ada, tetapi belum dimintakan approval kepada lembaga berwenang karena berbagai alasan. Tetapi perlu diketahui juga bahwa karena obat ini digunakan di luar indikasi yang tertulis dalam label obat, maka jika obat memberikan efek yang tidak diinginkan, produsen tidak bertanggung-jawab terhadap kejadian tersebut. Kadang pasien juga tidak mendapatkan informasi yang cukup dari dokter jika dokter meresepkan obat secara off label. Dan jika terdapat penggunaan obat off-label yang tidak benar, maka tentu akan meningkatkan biaya kesehatan. Faktanya banyak penggunaan obat off-label yang memang belum didukung bukti klinis yang kuat. Lebih rugi lagi adalah bahwa obat-obat yang diresepkan secara off-label umumnya tidak dicover oleh asuransi, sehingga pasien harus membayar sendiri obat yang belum terjamin efikasi dan keamanannya.

Bagi sejawat apoteker, pengetahuan tentang obat-obat off-label sangat penting untuk memahami pengobatan seorang pasien. Jika dijumpai suatu obat yang nampaknya tidak sesuai indikasi, sebaiknya tidak serta merta menyatakan bahwa pengobatan tidak rasional (atau malah bengong karena bingung… hehe), karena bisa jadi ada bukti-bukti klinis baru mengenai penggunaan obat tersebut yang belum dimintakan persetujuan dan masih dalam tahap investigational. Sejawat apoteker perlu memperluas wawasan dan selalu meng-update pengetahuan mengenai obat-obat baru maupun bukti-bukti klinis baru yang sangat cepat perkembangannya.

Demikian sekilas info, semoga bermanfaat.





Stevens-Johnson Syndrome: bahkan Paul si octopuss pun tak bisa memprediksinya…

10 07 2010

Dear kawan,

Kenal sama Stevens Johnson? Yang jelas Steven Johnson di sini bukanlah nama pemain bola World Cup 2010 atau pemain basket (kalau ada loh…). Dia bahkan bukan nama satu orang, tetapi nama dua orang, yaitu pak Stevens dan pak Johnson, yang kemudian diabadikan namanya menjadi suatu nama penyakit, yang kini dikenal sebagai Stevens-Johnson Syndrome (SJS). Lalu, apa hubungannya sama gurita Paul?… Hmm, nggak ada sih…. hehe…. cuma buat seru-seruan aja dalam bikin judul supaya eye-catching (suka-suka aku kaan….? ). Hubungannya hanya bahwa penyakit ini sulit diprediksi sebelumnya, termasuk oleh si Paul yang katanya bisa meramal hasil pertandingan Piala Dunia 2010….

Syndrome sendiri artinya adalah sekumpulan gejala (symptom), di mana pada penyakit ini terdapat aneka gejala, baik yang ringan sampai berat, dan kadang bahkan mematikan. Tulisan ini adalah request dari seorang teman (mudah-mudahan bisa menambah ilmu ya,  Mas Ikhlas). Walaupun aku yakin sudah banyak sekali tulisan tentang SJS di berbagai website, gak ada salahnya aku tuliskan kembali dengan versiku sendiri, dengan mengacu dari berbagai sumber.

Riwayat Stevens-Johnson syndrome

Pada tahun 1922, pak Stevens dan Pak Johnson menjumpai dua orang anak laki-laki (umur 7 dan 8 tahun) yang mengalami penyakit kulit misterius. Dua anak tersebut sebelumnya didiagnosa menderita penyakit campak yang parah disertai perdarahan (hemorrhagic measles). Duo dokter ini menggambarkan keadaan dua bocah ini sebagai “luar biasa” (extra ordinary). Dua bocah lelaki itu mengalami pembengkakan (inflamasi) pada selaput lendir di dalam mulut  (buccal mucosa) dan bintik-bintik berisi nanah pada selaput konjungtiva di matanya, di samping adanya lesi-lesi/luka/bintik kemerahan di bagian kulit lainnya. Selanjutnya, lesi di kulit tadi disebut erythema multiforme.  Namun ternyata erythema multiforme bukanlah satu-satunya gejala pada kedua bocah itu, karena masih ada gejala- gejala lain di luar kejadian erythema multiforme (EM), antara lain: lesi yang lebih parah daripada EM, demam tinggi terus menerus, dan kulit yang mengering. Akhirnya duo dokter itu menyadari bahwa ada sejenis penyakit kulit lain yang penyebabnya tidak diketahui, yang kemudian sekarang disebut Stevens-Johnson Syndrome (SJS) sebagai dedikasi terhadap “penemu”nya.

Apa saja gejala SJS?

aneka gejala pada SJS

Gejala awalnya berupa demam, lemah, sakit jika menelan, nyeri otot, dll, yang sangat bervariasi. Kemudian timbul lesi pada kulit berupa bintik2 seperti kulit melepuh hampir di seluruh tubuh. Selain itu timbul peradangan pada berbagai membran mukosa (selaput lendir), mulai dari mulut, membran hidung, anus dan rektum, vulva dan vagina, dll. Mata juga menjadi salah satu sasaran penyakit ini dengan terjadinya pembengkakan, radang conjunctiva, dll, yang bahkan jika cukup berat dapat menyebabkan kebutaan. Penampilan klinisnya memang cukup “mengerikan”, demikian pula dampaknya, bisa fatal jika tidak mendapat penanganan yang tepat.

Apa penyebabnya?

Penyebabnya pada umumnya tidak diketahui dan sulit diprediksikan sebelumnya, namun pada umumnya berkaitan dengan respon imun tubuh yang berlebihan terhadap zat asing. Hampir seperti reaksi alergi, tetapi bentuknya khas dan lebih berat. Secara patofisiologi, mekanisme terjadinya alergi tidak sama dengan mekanisme SJS, dalam hal antibodi yang terlibat dan mediatornya.  Jika reaksi alergi “biasa” melibatkan antibodi imunoglobulin E (IgE), SJS melibatkan IgG dan IgM dan merupakan reaksi imun yang kompleks.  Beberapa obat dilaporkan dapat menyebabkan reaksi SJS, terutama adalah obat-obat anti inflamasi non steroid (NSAID) dan golongan sulfa.  Selain itu unsur makanan, cuaca, infeksi (jamur, virus, bakteri) juga didiuga dapat merupakan faktor penyebab. Aku sendiri pernah mendapat cerita dari seorang mahasiswa yang pernah mengalami SJS akibat penggunaan obat natrium diklofenak, suatu obat anti radang. Sedangkan teman yang me-request tulisan ini, putrinya mengalami SJS karena penggunaan parasetamol. Sulit untuk diprediksi sebelumnya jika belum kejadian.

Bagaimana pengatasannya?

Tidak ada obat yang spesifik untuk mengatasi SJS, sehingga pengobatannya adalah berdasarkan gejala yang ada. Umumnya keadaan umum pasien cukup berat, hingga perlu diberi cairan dan elektrolit, serta kalori dan protein secara parenteral. Karena infeksi  juga merupakan salah satu penyebab SJS terutama pada anak-anak,  maka diberi pula antibiotik dengan spektrum luas, yang kemudian dilanjutkan dengan antibiotik yang sesuai dengan kuman penyebab. Untuk menekan sistem imun, digunakan pula kortikosteroid, walaupun penggunaannya masih kontroversial, terutama bentuk sistemik. Contohnya adalah deksametason dengan dosis awal 1mg/kg BB bolus, kemudian selama 3 hari 0,2-0,5 mg/kg BB tiap 6 jam. Untuk gatalnya bisa diberi anti histamin jika perlu.  Untuk perawatan lesi pada mata diberi antibiotika topikal. Kulit yang melepuh ditangani seperti menangani luka bakar. Lesi kulit yang terbuka dikompres dengan larutan saline atau Burowi.  Lesi di mulut bisa dimanage dengan antiseptik mulut. Dan jika nyeri bisa diberikan anestesi topikal (info sebagian diambil dari http://www.pediatrik.com/pkb/061022023053-dkjm139.pdf).

Bagaimana pencegahannya?

Jika belum pernah terjadi, sulit untuk mencegahnya karena tidak bisa diprediksikan. Bahkan aku kira Paul si octopuss pun tidak bisa meramalkan hehehe…… Tetapi jika sudah pernah terjadi sekali saja, maka upayakan untuk mengenali faktor penyebab, dan sebisa mungkin menghindar dari faktor penyebab tersebut. Jika disebabkan karena obat, perlu dikenalpasti nama obat tersebut dalam nama generik, dan hindarkan penggunaan obat yang sama dalam berbagai nama paten yang ada. Kadang masyarakat kurang menyadari nama generik obat dan hanya mengenal nama patennya sehingga hanya menghindari obat dengan nama paten tersebut, padahal bisa jadi obat pemicu SJS tersebut terdapat pula pada merk obat yang lain.

Demikian sekilas info tentang SJS, semoga bermanfaat.





My trip journal (2): scientific day…(cape deeh…)

3 07 2010

Dear kawan,

Hari ini acara hanya diisi dengan kegiatan saintifk, alias mengikuti kongress sejak pagi hingga malam. Hari kedua ini diawali dengan bangun “kesiangan”, padahal jam baru menunjukkan pukul 3.45 waktu setempat. Kok kesiangan? Ya.. bagaimana tidak, jam 3.45 hari sudah agak terang…. mungkin waktu sholat shubuh udah lewat deh… Tapi ya kami tetap aja langsung sholat shubuh. Ngga kebayang kalau musim dingin seperti apa ya?… pasti suasananya berbeda 180 derajat. Malam yang panjang dan dingin menusuk tulang….

Setelah sarapan pagi  a la Russia dengan semangkuk cereal dan susu, telor ceplok, roti plus butter, ditutup dengan yoghurt, kami bersiap-siap menuju tempat Congress dilaksanakan, yaitu di St Petersburg State University, tepatnya di Mendeleev centre. Kami jalan kaki saja ke sana, karena tidak terlalu jauh dari hotel, mungkin sekitar 20 menit. Yang repot adalah mencari ruang seminarnya, yang ternyata agak “nyelempit” di antara gedung-gedung tua. Untunglah kami bertemu dengan seorang peserta dari Yordan di Ac. Sakharov Square, kalau ngga….wah bakalan muter-muter berjam-jam mencari tempat seminarnya. Jangan dibayangkan seperti di Yogya, kalau ada seminar internasional pasti ada spanduk atau informasi yang cukup meriah. Di sini informasi petunjuk ke arah Mendeleev centre hanya menggunakan kertas ukuran folio saja dengan arah panah. Udah gitu, jarang sekali tulisan berbahasa Inggris, termasuk papan-papan nama gedung. Semua tertulis dalam bahasa dan huruf Russia.

di ruang Mendeleev... serba coklat

Ruang Mendeleev merupakan ruang utama tempat pembukaan Congress dan beberapa plenary lectures. Hm… memasuki ruangan itu seperti terlempar ke abad 19, karena ruangan tersebut memang dibangun sekitar awal tahun 1900-an. Bentuknya berundak-undak dengan meja-meja kayu coklat tua yang kokoh, dan di bagian depan ada meja untuk pembicara dan papan tulis. Kesan tuanya terasa sekali. Di dinding bagian depan atas terpampang tabel Mendeleev. Ada yang belum tahu Mendeleev? Siapa sih dia itu?

Mendeleev atau lengkapnya Dmitriy Ivanovich Mendeleyev) (1834-1907) ialah seorang ahli kimia dari Kekaisaran Rusia yang menciptakan tabel periodik berdasarkan peningkatan bilangan atom. Bilangan ini menunjukkan jumlah proton yang terdapat dalam inti atom. Jumlah proton sama dengan jumlah elektron yang mengelilingi atom bebas. Ia menemukannya sewaktu menyiapkan sebuah buku pelajaran untuk mahasiswanya. Ia menemukan bahwa jika ia menata unsur-unsur menurut kenaikan massa atom, unsur dengan sifat yang mirip akan muncul dengan selang yang berskala. Ia berhasil menyajikan hasil kerjanya pada Himpunan Kimia Rusia di awal 1869, yang kemudian terkenal dengan nama Tabel periodik unsur Mendeleev. Keren banget ya? Di negara tertutup ini banyak dilahirkan ilmuwan-ilmuwan besar yang sampai sekarang masih kita pakai warisan ilmunya.

Suasana Congress

Kongres diikuti oleh para saintis di bidang medinal plants dari banyak negara (kecuali kami, ini mah pelancong…. hehe..), antara lain Jerman, Italia, Finlandia, Austria, Belanda, Turki, Iran, Yordan, India, Indonesia, dan Russia sendiri. Banyak presentasi yang bagus-bagus, tetapi ada juga yang relatif sederhana dan kurasa hampir sama dengan yang dilakukan di Indonesia, terutama skrining berbagai efek farmakologi dari berbagai tanaman obat yang dipakai secara empiris oleh masyarakat. Selain itu, penelitian tentang perlakuan pasca panen tanaman obat juga dipaparkan dengan sangat detail oleh seorang peserta dari Jerman.

Satu yang menarik adalah plenary lecture dari Prof. Alexander Shikov dari Russia (termasuk orang penting dalam kongres ini) mengenai “Agar capsules – alternative to soft gelatin capsules”. Disampaikan bahwa agar-agar yang berasal dari rumput laut merupakan alternatif yang baik untuk membuat cangkang kapsul lunak, sebagai alternatif cangkang kapsul yang umumnya berasal dari gelatin, baik sapi atau babi. Dia menekankan konsern-nya terhadap mereka yang mungkin punya masalah dengan cangkang kapsul yang berasal dari hewan, misalnya pada orang vegetarian atau petimbangan kehalalan bagi orang Muslim atau Yahudi Kosher. Menarik, karena yang menyampaikan adalah orang Russia, yang kebanyakan adalah tidak mengenal agama.

Jadwal presentasiku sendiri adalah pada jam 17.45 di Small Hall, dan suamiku presentasi lebih awal di ruang yang sama. Aku memaparkan tentang hasil studi toksisitas pada kombinasi ekstrak yang sedang aku kembangkan menjadi obat anti alergi (Insya Allah) bekerja sama dengan sebuah industri farmasi di Indonesia. Suamiku mempresentasikan pengaruh unsur hara terhadap senyawa aktif salah satu tanaman obat yang aku pakai dalam kombinasi tersebut. Yah…. pokoknya sudah selesai deh tugas kami. Satu pertanyaan datang dari peserta dari India, dan aku jawab dengan baik. Alhamdulillah.

Suasana kuliner

The main course untuk lunch.... ikan salmon dengan saus dan kentang kukus halus..

Ini adalah bagian yang kusukai jika aku jalan-jalan ke tempat-tempat baru…. menikmati kuliner khas daerah setempat hehe…. Selama kongres, ada dua kali cofee break dan satu kali lunch. Kudapan pada saat cofee break pagi cukup menarik, yaitu sepotong roti dengan ikan salmon mentah di atasnya. Jadi ingat sushi-nya orang Jepang, hanya saja mereka pakai nasi. Wah, selama di sini belum sempat ketemu nasi deh…. Lunch-nya lebih unik lagi. Untuk peserta, lunch disediakan di sebuah restoran yang masih ada dalam lingkungan universitas tetapi terdapat di gedung lain. Makan siang diawali dengan appetizer berupa salad sayuran dengan potongan roti. Lumayan enak. Diikuti dengan sop krim jamur a la Russia. Enak juga. Nah, main course-nya adalah ikan salmon dengan saus khusus berwarna kuning dengan kentang kukus yang dihaluskan. Hm… enak dan aku suka.

Malamnya atau tepatnya sorenya (karena jam 19.00 di sini suasananya masih seperti jam 3 sore), setelah penutupan acara kongres, diselenggarakan acara farewell dinner berupa banquet dinner. Menunya ternyata tidak begitu jauh beda dengan lunch tadi, tetapi appetizernya lebih beraneka rupa. Aneka salad sayuran dan buah, buah-buah segar (anggur, plum, cherry, apel, dll), dan aneka minuman beralkohol. Selain itu ada performance berupa tarian khas St Petersburg. Ah, tapi terus terang aku tidak begitu menikmati suasana banquet ini….. terasa asing, dan makanannya juga asing. Di sekitar kami orang-orang bercakap dengan bahasa Russia. Selain itu juga sudah capek, seharian berada di situ, sejak jam 9 pagi hingga 21 malam. Akhirnya kami pulang dengan tubuh letih, walaupun lega karena tugas telah tertunaikan..

Time to leave….

Hari ini hari terakhir aku di sini. Singkat sekali, ya…. ngga “cucuk” dengan perjalanannya yang memakan waktu sehari semalam. Yah, namanya juga perjalanan dinas, bukan melancong….. Pagi ini kami berencana sight seeing di seputar St Petersburg sambil lihat-lihat barangkali ada yang menarik untuk dibawa pulang hehe….. Tapi jangan berharap terlalu banyak loh….. kalau ngga nyasar saja udah bagus, mudah-mudahan nanti semuanya lancar. Sore ini kami akan meninggalkan StPetersburg dengan membawa sejuta kenangan dan pengalaman. Insya Allah ketemu lagi pada next posting dari Jogja.





My trip journal (1): Long way to Russia…

2 07 2010

Dear kawan,

Setelah menembus gumpalan awan agak tebal yang membuat pesawat sedikit goyang, alhamdulillah, pesawat Rossiya Airlines yang membawa kami mendarat dengan mulus di Bandara Polkovo, Saint Petersburg, Russia pukul 14.45 waktu setempat. Wah,… ngga kebayang deh bisa menginjakkan kaki di negeri yang dulu terkesan menyeramkan ini (dan sekarang juga masih terasa). Yah, saat ini kami (aku dan suami) berkesempatan berkunjung ke Saint Petersburg untuk menghadiri sebuah International Congress “Phytopharm 2010” yang diselenggarakan di St-Petersburg State University (informasi dapat dilihat di sini). Kebetulan kami masing-masing berkesempatan untuk mempresentasikan sebagian dari hasil penelitian masing-masing di forum ini.

Perjalanan panjang yang melelahkan

Rencana pergi ke Russia mulai muncul ketika kami pingin punya waktu khusus jalan-jalan berdua ke tempat yang jauh dan gratis hehe…. Setelah berkutat dengan aktivitas rutin dan dinamika hidup yang cukup memeras pikiran dan perasaan, kayaknya perlu refreshing deh… Tapi agar bisa gratis, harus ada akal. Hmm… aku coba searching di internet, mencari even ilmiah internasional yang bisa cukup luas coverage-nya, sehingga bisa presentasi bersama. Eh, alhamdulillah  menemukan informasi tentang even ini, yaitu suatu International Congress di bidang obat herbal, yang meliputi : Food and medicinal plants: application and efficacy; Resources and cultivation of medicinal plants, Phytotechnology and quality control of herbal medicinal products, Pharmacology and ethnopharmacology, Novel formulations and efficacy of herbal medicinal products, dan Natural peptides and its future. Jadilah kami mendaftar, mengajukan abstrak hasil penelitian untuk presentasi oral, dan syukurlah keduanya diterima. Selanjutnya kami mengajukan permohonan kepada Universitas untuk membiayai perjalanan kami.

Pesawat KLM yang membawa kami ke Amsterdam sblm ke St Petersburg

Perjalanan dari Jogja sampai St Petersburg boleh dibilang memakan waktu 30 jam termasuk transit-transitnya. Keluar rumah jam 12.00 siang tanggal 30 Juni, sampai di St Petersburg jam 15.00 waktu setempat tanggal 1 Juli, atau jam 18.00 WIB, dengan transit di Jakarta, Kuala Lumpur, dan Amsterdam. Duuh…. perjalanan yang melelahkan.  Pesawat KLM yang membawa kami dari Jakarta butuh waktu 14 jam (mampir Kuala Lumpur sebentar) untuk sampai di Amsterdam. Pantat sampai tipis kelamaan duduk di pesawat hehe…. Transit selama 4 jam di Bandara Schiphol Amsterdam lumayanlah buat meluruskan badan, sambil checking e-mail masuk biar tetap well-informed. Yang menarik, walaupun Belanda cukup jauh juga, kami masih merasa dekat dan ada dalam “peradaban” karena masih bisa paham ketika mereka bicara bahasa Inggris. Tetapi ketika mulai masuk pesawat Rossiya yang akan membawa kami ke ke St-Petersburg, suasana asing terasa sekali… seperti masuk dunia lain hehe… pengumuman di pesawat disampaikan dalam bahasa Russia yang cepat, semua tulisan di majalah dan informasi tertulis dalam huruf Russia yang aneh dan menurutku terbalik-balik, dan bahasa Inggris mereka pun aksennya Russia banget dan cepat, sulit ditangkap.

Kesan “seram” di Petersburg

Dari Bandara Polkovo kami naik taksi ke hotel menggunakan taksi bandara. Ternyata cukup jauh juga perjalanan dari bandara menuju hotel, hampir satu jam. Memasuki St Petersburg rasanya memasuki tempat yang sangat jauh dan terisolasi, karena ngga ada informasi yang bisa dibaca dengan huruf kebaliknya itu. Parahnya lagi, orang Russia tidak banyak yang bisa bahasa Inggris. Sudah gitu, sebagian besar toko tidak menerima pembayaran dengan Euro, padahal semula kami pikir cukup bawa mata uang Euro saja. Lengkaplah sudah keterasingan kami. Untungnya perginya berdua, ngga kebayang deh kalo harus pergi sendiri kesana. Oya, sempet salah forecast juga….. sebelum pergi, aku check ramalan cuaca di internet, katanya suhu di sini sekitar 18-20 derajat, eh….  ketika kami datang, suhu lagi lumayan tinggi, yakni 27 derajat. Wah, salah bawa kostum deh…hehe…

Sejak di bandara, petugas di counter taksi bilang bahwa ongkos taksi ke hotel sekitar 22 euro. Sampe di hotel, sopir taksi yang sudah agak tua dan bertampang kurang bersahabat tidak mau dibayar recehan 2 euro, maunya uang kertas. Itupun ngomongnya pake bahasa Rusia, kami hanya mencoba menginterpretasikan saja sebisanya. Jadilah kami beri dia uang kertas terkecil yang kami punya yaitu 5 euro, jadi kami bayar 25 euro. Hm…. itu kesan “seram” yang pertama.

 

Di depan pintu Hotel Shelfort yang selalu tertutup

Hotel Shelfort tempat kami menginap sudah kami booking beberapa hari sebelumnya melalui internet. Waktu itu kami cari hotel yang lokasinya cukup dekat dengan Universitas St Petersburg dengan harga yang masih terjangkau (maklum kami cuma dapat lumpsum untuk dua hari). Sampai di depan hotel, kami bingung cara masuknya. Tampak depannya sama sekali jauh dari bayangan kami tentang sebuah hotel berbintang tiga. Hanya ada tulisan hotel Shelfort pada pintu besar coklat yang tertutup. Ketika kami pencet bel, ada bunyi bip-bip, tapi tak ada orang yang keluar. Sampai beberapa kali dan nyaris putus asa, untunglah kemudian seseorang wanita keluar dari pintu. Dia bilang, mestinya kalau sudah ada bunyi bip-bip, dorong aja pintunya. (Wah, mana kami tau, mbaaak….! ) Hm…ini kesan “seram” kedua, serba tertutup. Jadi memang betul itu hotelnya, dan pintu depan selalu tertutup. Itupun masih berlapis, ada dua  pintu besar lagi yang harus kami lalui untuk menuju resepsionis, di mana untuk membuka pintu yang satu harus pencet bel dulu. Entah karena faktor keamanan atau peninggalan budaya ketertutupan jaman dulu, bentuk toko-toko pun serba tertutup dari luar, tidak keliatan. Orang harus masuk dulu melalui pintu besar yang sering kali tertutup, baru masuk ke dalam toko. Buat orang asing seperti kami, apalagi yang gak bisa baca hurufnya, sulit untuk tahu itu toko apa. Alhamdulillah, setelah masuk, hotelnya cukup nyaman, walau lebih sederhana daripada hotel bintang 3 di Indonesia. Buatku yang terpenting adalah ada internet gratis hehe…. supaya bisa tetap terhubung dengan dunia luar…

Menikmati senja yang lama di Petersburg

Kami datang di musim panas, jadi matahari bersinar jauh lebih lama. Kota St Petersburg berada di garis 59,56 lintang utara, hampir segaris dengan Oslo di Norwegia dan Stockholm di Swedia. Sudah hampir dekat kutub utara hehe….. jadi bisa dibayangkan jika musim panas, matahari berada di bumi belahan utara dan itu bisa bersinar lama sekali. Hari ini matahari terbenam di St Petersburg pada pukul 22.45 lebih waktu setempat. Waduh, nunggu sholat maghribnya lama sekali, sampe ketiduran. Ngga kebayang juga kalau pas berpuasa Ramadhan di musim panas di sini……

suasana jam 20.0an "malam" di Petersburg.... masih benderang

Setelah “balas dendam” dengan mandi sepuasnya di hotel setelah selama 24 jam lebih ngga mandi selama dalam perjalanan, sorenya kami gunakan waktu untuk menikmati suasana Petersburg. Sempat diguyur hujan sejenak, untungnya segera cerah lagi. Jam 19.30 waktu setempat kami keluar hotel berjalan kaki menyusuri jalan-jalan Petersburg. Suasananya masih terang seperti masih jam 4 sore. Kami berjalan sambil mencari lokasi pertemuan esoknya supaya besok tidak nyasar. Tidak terlalu jauh, tapi lumayan capek juga. Susahnya, peta kota Petersburg juga pake huruf kebalik-balik, nama-nama jalan di sini juga gak bisa dibaca (maksudnya, kami yang ngga bisa baca). Aduuh….. lumayan repot…

Gedung-gedung di Petersburg hampir seragam warnanya, yang menurutku warna yang suram, yaitu sebagian besar berwarna krem dan coklat, dan ada yang abu-abu. Kesan bangunan tuanya terasa sekali. Tua, kokoh, tapi nampak dingin dan tak bersahabat. Ada beberapa gereja tua di tempat-tempat tertentu. Ada juga tempat yang khusus buat jalan-jalan, di mana banyak kafe-kafe bertebaran. Yang menonjol adalah hampir di mana-mana lihat tempat jualan vodka atau orang bawa botol vodka atau gin…..

Di tepi sungai Neva....

Yang indah adalah sungai Neva yang membelah kota. Banyak turis yang menggunakan kapal menyusuri sungai, tapi kami belum sempat mencoba, baru berfoto-foto saja. Kami jalan sampai pukul 22 waktu setempat, yang suasananya masih terang. Sebenernya mau mencari makan malam, tapi sialnya kami belum sempat menukar uang rubel, jadi ngga bisa beli apa-apa. Duh…. kacian deeh… punya duit tapi ngga bisa buat beli. Akhirnya cuma makan malam seadanya di hotel, pesan omelet dan scramble egg yang sederhana sekali. Kalau anakku lihat pasti dia bilang bahwa itu cuma telor dadar dan telor acak. Iiih,…. jauh-jauh ke Petersburg cuma mau makan telor hehe….. Dan malamnya kami tidur pulas kecapekan.

Begitulah hari pertamaku di sini. Hari kedua ini adalah hari H untuk presentasi paper kami. Semoga semuanya lancar, amien.