Bijak menyikapi penemuan pembalut wanita berklorin

12 07 2015

Dear kawan,

Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 7 Juli 2015, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyampaikan penemuan mereka tentang adanya berbagai merk pembalut wanita yang mengandung klorin. Sontak hal ini menghebohkan masyarakat, terutama kaum wanita, karena merk-merk yang disiarkan tersebut merupakan merk-merk terkenal dan sering mereka pakai. Apa sebenarnya senyawa klorin, mengapa bisa dijumpai pada pembalut wanita, apa dampaknya bagi kesehatan, dan cukup amankah pembalut wanita yang beredar di pasaran, begitulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang muncul di masyarakat.  Walaupun tidak kurang Dirjen Yanfar dari Kementrian Kesehatan sudah menjamin bahwa pembalut wanita yang beredar masih aman, masyarakat tidak serta merta percaya karena tidak diikuti dengan penjelasan detailnya. Apalagi sebagian masyarakat kadang ada yang skeptis dengan pernyataan Pemerintah. Tulisan ini mencoba menganalisis dan membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut, dengan harapan akan mengurangi kecemasan masyarakat.

Apa sih senyawa klorin itu ?

gas klorin

gas klorin

Klorin adalah unsur kimia dengan simbol Cl dan nomor atom 17. Unsur ini merupakan kelompok halogen dan merupakan halogen ringan kedua setelah fluor. Pada kondisi standar, klorin berupa gas berwarna kuning-hijau, di mana ia membentuk molekul diatomik (Cl2). Klorin memiliki afinitas elektron tertinggi dan elektronegativitas tertinggi ketiga dari semua elemen reaktif. Karena itulah klorin termasuk agen pengoksidasi kuat.
Senyawa klorin terdapat dalam berbagai bentuk ketika atom Cl berikatan dengan berbagai atom yang lain membentuk senyawa ionik. Ketika Cl berikatan dengan atom Natrium, jadilah NaCl, yaitu garam dapur yang kita kenal sehari-hari. Klorin dalam bentuk ion juga terdapat dalam tubuh kita, yang jika berikatan dengan atom H (hydrogen) akan menjadi HCl atau asam lambung. Jadi unsur klorin adalah unsur yang kita temui sehari-hari.

Klorin untuk pemutih

Klorin untuk pemutih

Potensi oksidasi unsur klorin yang tinggi menyebabkan ia dapat digunakan sebagai agen pemutih dan disinfektan (menghilangkan kuman). Ia juga banyak digunakan sebagai reagen penting dalam industri kimia, termasuk dalam pembuatan berbagai macam produk konsumen, seperti polyvinyl chloride, juga menjadi zat antara untuk produksi plastik dan produk akhir lainnya. Unsur klorin dalam bentuk senyawa Ca(ClO)2 alias kaporit banyak digunakan untuk pembersih dan disinfektan air di kolam renang atau air PAM. Pemutih pakaian yang sering kita pakai adalah senyawa klorin juga, dalam bentuk NaClO atau natrium hipoklorit.

Bagaimana klorin bisa dijumpai pada pembalut wanita?
Untuk menjawab ini perlu diketahui dahulu bahan pembuat pembalut wanita. Pembalut wanita dan tampon (termasuk diaper bayi) yang banyak beredar saat ini umumnya terbuat dari katun, rayon, atau campuran rayon dan kapas. Rayon terbuat dari serat selulosa yang berasal dari pulp kayu. Nah, untuk mendapatkan bahan baku rayon untuk tampon dan pembalut ini, umumnya perlu dilakukan proses pemutihan pulp kayu (bleaching) dan pemurnian. Di bawah ini ada beberapa cara pemutihan:
1. Pemutihan menggunakan gas klorin. Proses ini dapat menghasilkan dioksin sebagai produk sampingannya. Proses ini digunakan oleh pemasok bahan baku rayon untuk tampon di masa lalu. Diperlukan beberapa proses berikutnya untuk menghilangkan dioksin. Di Amerika, proses ini tidak boleh lagi digunakan oleh produsen pembalut wanita atau tampon dan sanitary napkins lainnya karena kekuatiran terbentuknya dioksin yang beracun.
2. Pemutihan dengan metode yang bebas elemen klorin (elemental chlorine-free). Pemutihan ini tidak menggunakan gas klorin, tetapi menggunakan Chlorine dioxide. Proses ini tidak menghasilkan dioksin sebagai kontaminan, sehingga sering pula disebut proses pemutihan bebas dioksin. Kalaupun ada dioksin terbentuk, itu sudah dalam kadar sangat kecil yang bisa bermakna memberikan efek. Namun pada proses ini masih memungkinkan meninggalkan trace element berupa senyawa klorat atau klorit sebagai hasil sampingnya.  (bisa dibaca di sini : http://www.epa.gov/ogwdw/mdbp/pdf/alter/chapt_4.pdf ).
3. Pemutihan dengan metode Totally chlorine free (TCF) , yaitu pemutihan menggunakan bahan non-chlorin, misalnya menggunakan hidrogen peroksida (H2O2) dan ozon atau asam perasetat. Proses ini dipastikan tidak menghasilkan senyawa dioksin sama sekali.

chloracne akibat dioksin

chloracne akibat dioksin

Sebenarnya kekuatiran utama dalam hal proses pemutihan ini adalah terbentuknya senyawa dioksin yang merupakan polutan lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan. Penelitian telah menunjukkan bahwa mereka dapat mempengaruhi sejumlah organ dan system tubuh. Setelah dioksin memasuki tubuh, mereka bertahan lama karena stabilitas kimia dan kemampuan mereka untuk diserap oleh jaringan lemak, di mana mereka kemudian disimpan dalam tubuh. Waktu paruh mereka di dalam tubuh diperkirakan 7-11 tahun. Paparan jangka pendek dioksin kadar tinggi pada manusia dapat mengakibatkan lesi kulit, seperti chloracne (sejenis jerawat akibat paparan senyawa halogen, termasuk dioksin) dan penggelapan warna kulit, dan gangguan fungsi hati. Sedangkan paparan jangka panjang menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh, perkembangan sistem saraf, sistem endokrin dan fungsi reproduksi. Paparan kronis dioksin pada hewan telah mengakibatkan beberapa jenis kanker. Yang pengen tahu lebih banyak tentang dioksin bisa baca di sini : http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs225/en/

Karena itu, sebagian besar industry pulp (termasuk yang menghasilkan bahan baku pembalut) kini beralih menggunakan metode kedua yaitu pemutihan secara elemental chlorine-free (ECF). Walaupun disebut sebagai bebas elemen klorin, tetapi sebenarnya masih menggunakan senyawa yang mengandung unsur klor yaitu Chlorine Dioxide (klorin dioksida). Cara ketiga yaitu TCF yang menggunakan ozon dan H2O2 nampaknya kurang ekonomis. Selain itu dari hasil riset beberapa universitas di Gothenburg dan Stockholm Swedia, diperoleh bahwa efek terhadap lingkungannya tidak berbeda nyata, (baca di sini : http://www.aet.org/reports/communication_resources/pamphlets/experts_final.pdf) sehingga banyak industry memilih menggunakan metode ECF. Ketika Kemenkes mengundang pada industry produsen pembalut yang dilaporkan mengandung klorin, semua menyatakan bahwa mereka menggunakan bahan baku yang diproses dengan metode ECF. Dengan demikian, klorin yang ditemukan dalam pembalut tersebut diduga merupakan trace elemen dari hasil pemutihan menggunakan Klorin dioksida pada metode ECF.

Kontroversi bentuk klorin yang ditemukan dalam pembalut
YLKI menyebutkan bahwa senyawa klorin yang ditemukan dalam pembalut adalah dalam bentuk klorin bebas, dan mereka menyebutnya adalah Cl2. Mereka menggunakan metode spektrofotometri dalam deteksinya. Hal ini kurang bisa dipastikan ketepatannya karena metode yang digunakan tidak bisa membedakan asal senyawa klorinnya, apakah senyawa hipoklorat (HClO), hipoklorit (ClO) dan gas Klorin (Cl2), semuanya akan terhitung sebagai klorin total.  Senyawa-senyawa  tersebut dapat larut dalam air, sehingga jika metodenya dengan “mengekstraksi” senyawa klorin dari pembalut sebelum ditetapkan kadarnya, kemungkinan semuanya akan terhitung. Jika mengacu pada peraturan Menteri Kesehatan RI no: 472/Menkes/PER/V/9/1996 tentang Pengamanan Bahan berbahaya bagi Kesehatan, memang disebutkan bahwa gas klorin adalah senyawa racun dan iritan yang berbahaya. Masalahnya apakah benar yang ditemukan adalah gas klorin (Cl2)? Bisa jadi memang ada gas Cl2 yang terperangkap di dalam pembalut. Tetapi karena dalam bentuk gas tentu jumlahnya sedikit karena mudah menguap. Pada air minum, kadar klorin bebas umumnya berkisar antara 0.2 – 2.0 mg/L Cl2, meskipun aturan masih memperbolehkan kadar sampai 4.0 mg/L atau 4 ppm.

Apa sih bahayanya klorin ?
Gas klorin adalah termasuk gas yang toksik/beracun, di mana ia bersifat menyebabkan iritasi dan bersifat korosif. Jika terhirup dalam jumlah tertentu tentu akan menyebabkan kerusakan pada paru-paru. Demikian pula jika tertelan, klorin dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan pada saluran pencernaan. Namun hubungan klorin dengan kejadian kanker pada manusia masih sangat sedikit dilaporkan. Sebagian melaporkan mengenai hubungan konsumsi air yang terklorinasi dengan kejadian kanker, namun bukan melalui pembalut. Environment Protection Agency (EPA) sejauh ini tidak menggolongkan klorin sebagai senyawa penyebab kanker atau karsinogen.

Seberapa bahaya klorin yang ada pada pembalut wanita?
Saat ini yang diatur mengenai batas aman klorin adalah pada air minum. Hal ini karena air minum banyak yang didisinfeksi/disterilkan menggunakan senyawa klorin, baik dalam bentuk kaporit ataupun Klorin dioksida, sehingga tentunya menghasilkan residu klorin. Selain itu klorin dalam air minum jelas-jelas masuk ke dalam tubuh sehingga bisa masuk ke semua organ tubuh. Environment Protection Agency (EPA) dan WHO mensyaratkan residu klorin maksimal pada air minum adalah 4 mg/L atau 4 ppm.  (yang pengen tau lebih banyak tentang klorat dan korit pada air minum bisa baca di sini: http://www.who.int/water_sanitation_health/dwq/chemicals/chlorateandchlorite0505.pdf). Di sisi lain, kadar klorin kurang dari 0,2 ppm akan menyebabkan fungsinya sebagai disinfektan berkurang atau hilang, sehingga air berisiko tercemar bakteri. Artinya, jika diasumsikan seorang minum air yang mengandung klorin dalam sehari 2 liter, maka kandungan klorin yang masih dipandang aman untuk kesehatan adalah 8 mg.
Mari kita bandingkan dengan temuan klorin pada pembalut oleh YLKI. Kadar tertinggi yang ditemukan pada pembalut merk tertentu adalah 54,73 ppm (anggaplah 55 ppm), yang artinya adalah 55 mg dalam 1000 gram pembalut. Jika berat satu pembalut adalah 10-20 gram, maka kandungan klorin yang ada dalam setiap pembalut adalah 0,55-1 mg. Angka yang cukup jauh di bawah batas aman yang dibolehkan jika ditakar dari klorin yang boleh dikonsumsi orang melalui air yang 8 mg. Itupun hanya bersentuhan dengan kulit, tidak terasup masuk ke dalam tubuh. Kecuali yang sensitif, mungkin akan mengalami reaksi iritasi terhadap adanya klorin tersebut.
Sebagian orang masih menanyakan kemungkinan klorin masuk ke dalam tubuh lewat vagina  melalui penguapan menjadi gas. Sebagai informasi, Agency for Toxic Substance and Disease Registry menyatakan bahwa senyawa hipoklorit dapat terdekomposisi/terurai menjadi gas klorin jika bereaksi dengan air. Namun demikian, proses dekomposisi tersebut memerlukan suhu tertentu, dimana untuk NaClO memerlukan suhu di atas 40 derajat C, sedangkan Ca(ClO)2 memerlukan suhu 100 derajat C. Jika diasumsikan residu pada pembalut itu berupa senyawa hipoklorit , maka mereka belum akan menguap pada suhu tubuh manusia yang sekitar 37 derajat C, kecuali sedang demam tinggi. Apalagi dengan kadar sekecil itu dalam pembalut, maka semakin kecil lagi yang menguap. Di sisi lain, fungsi klorin sebagai disinfektan sebenarnya justru membantu mensterilisasi pembalut dari kuman.

Jadi, apa kesimpulannya?
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pembalut wanita yang mengandung klorin dalam jumlah seperti dilaporkan oleh YLKI masih aman digunakan. Kekuatiran menyebabkan kanker bisa ditepis dengan sifat klorin yang bukan karsinogenik. Apalagi dengan jumlah yang sangat kecil yang ada dalam pembalut, dengan kemungkinan kecil menjadi gas Cl2. Jika memang yang ditemukan berupa gas Cl2, maka jumlahnya relatif kecil. Jika sebagian wanita ada yang memiliki kulit sensitif, mungkin bisa mengalami iritasi. Untuk itu, mereka perlu kiranya mempertimbangkan pemilihan pembalut yang tidak menyebabkan iritasi, misalnya yang berkadar klorin rendah. Yang kepengin kembali ke pambalut kain juga silakan saja sesuai keyakinannya. Kita tetap perlu mendukung YLKI untuk memberikan perlindungan kepada konsumen, namun kita himbau agar dikuatkan dengan aspek penjelasan secara ilmiah sehingga tidak menimbulkan keresahan masyarakat. Untuk bisa memuaskan semua pihak, memang perlu diatur kembali batas aman klorin, dioksin maupun residu lain di dalam pembalut wanita, diaper bayi, dan pampers orang tua atau yg sejenis.  Tapi terus terang sampai tulisan ini diturunkan, saya belum menemukan literatur yang relevan tentang batas aman tersebut.

Disclaimer :

Tulisan ini hanya upaya menambah informasi mengenai klorin dalam pembalut wanita, jika ada yang salah saya masih terbuka pada koreksi, tidak bermaksud mendiskreditkan siapapun, dan tidak disponsori oleh siapapun. murni dari panggilan hati…





Heboh pembuatan nata de coco dengan pupuk ZA, what’s the truth?

2 04 2015

Dear kawan,
Sebagai penggemar nata de coco, aku sedikit kaget juga ketika malam-malam mendapat SMS dari wartawan sebuah harian… “Bu, saya dari harian Tribun Yogya, bolehkah saya telpon sebentar untuk meminta pendapat terkait penemuan di Sleman, nata de coco dicampur pupuk ZA?”… Kebetulan aku belum baca/dengar berita penggrebekan sebuah industri kecil pembuat nata de coco yang katanya ilegal dan menggunakan pupuk ZA sebagai salah satu bahan tambahannya. Terus terang aku bukan ahli pengolahan bahan pangan, jadi aku harus baca-baca dulu sebentar sebelum menjawab. Aku minta wartawan menelpon lima belas menit lagi. Hmm.. seperti apa sih sebenarnya kasus ini sampai sedemikian heboh? Aku coba tulis ulasanku di sini..

Pupuk ZA

Pupuk ZA

Pupuk ZA

Pupuk ZA adalah pupuk kimia buatan yang dirancang untuk memberi tambahan hara nitrogen dan belerang bagi tanaman. Nama ZA adalah singkatan dari istilah bahasa Belanda, zwavelzure ammoniak, yang berarti amonium sulfat (NH4SO4). Wujud pupuk ini butiran kristal mirip garam dapur dan terasa asin di lidah. Jadi, isinya adalah amonium sulfat.

Pembuatan nata de coco
Cara pembuatan Nata de coco ini aku ambil dari sumber ini dan sumber lain. Nata de coco yang berbentuk padat, berwarna putih transparan, berasa manis dan bertekstur kenyal ini termasuk bahan pangan hasil penerapan bioteknologi konvensional, yang merupakan hasil fermentasi air kelapa dengan bantuan mikroba Acetobacter xylinum. Bakteri Acetobacter xylinum akan dapat membentuk serat nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah diperkaya dengan karbon dan nitrogen melalui proses yang terkontrol. Dalam kondisi demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim selulose yang dapat menyusun zat gula(glukosa) menjadi ribuan rantai serat atau selulosa. Dari jutaan mikroba yang tumbuh pada air kelapa tersebut, akan dihasilkan jutaan lembar benang-benang selulosa yang akhirnya nampak padat berwarna putih hingga transparan, yang disebut sebagai nata. Mau buat? ini bahan dan caranya…

Bahan yang diperlukan:
a. Air kelapa murni 5 liter
b. Gula putih 250 gr
c. Amonium sulfat/ZA
d. Asam cuka/ asam asetat
e. Asam nitrat
f. Bibit nata de coco (bakteri Acetobacter xylinum)

lapisan nata yang terbentuk

lapisan nata yang terbentuk

Cara Membuat:
1. Air kelapa mentah di saring, dan dimasukkan ke dalam panci stenless ukuran 5 liter di masak sampai mendidih 100 derajat celcius
2. Setelah mendidih masukkan gula putih 250 gr, ZA 0,5 gr, cuka 50 cc.
3. Campuran air kelapa yang sudah mendidih dimasukan ke dalam baki plastik yang bersih atau steril.
4. Tutuplah baki-baki tersebut dengan kertas koran steril yang sudah dijemur dengan panas matahari.
5. Baki-baki ditutup rapat dan disusun di atas rak baki secara rapi dan ditiriskan sampai dingin untuk diberi bibit nata de coco
6. Pembibitan dilakukan pada pagi hari dan hasil pembibitan ditutup kembali
6. Baki hasil pembibitan tidak boleh terganggu atau tergoyang
7. Biarkan baki pembibitan itu selama satu minggu dan jangan terganggu atau tergoyang oleh apapun.
8. Buka hasil pembibitan setelah berumur satu minggu.

Cara Panen:
1. Nata yang terbentuk diambil dan dibuang bagian yang rusak (jika ada),lalu dibersihkan dengan air (dibilas). Kemudian direndam dengan air bersih selama 1 hari.
2.Pada hari kedua rendaman diganti dengan air bersih dan direndam lagi selama 1 hari.
3.Pada hari ketiga nata dicuci bersih dan dipotong bentuk kubus (ukuran sesuai selera) kemudian direbus hingga mendidih dan air rebusan yang pertama dibuang.
4.Nata yang telah dibuang airnya tadi, kemudian direbus lagi dan ditambahkan dengan satu sendok makan asam sitrat.

Ada yang mau membuat ? nanti aku dibagi yaah…

Apa gunanya ZA dalam pembuatan nata de coco?
Seperti disebut di atas, ZA adalah untuk menambah hara nitrogen bagi tanaman. Demikian pula bakteri Azetobacter xylinum, untuk hidup dan aktivitasnya dia membutuhkan sumber nitrogen sebagai makanannya. Jadi memang dalam pembuatan nata de coco diperlukan ZA sebagai sumber nitrogen. Sebuah studi  yg dipublikasi di World J Microbiol Biotechnol (2008) (klik di sini) melaporkan bahwa ketebalan nata maksimal dapat diperoleh dengan konsentrasi optimum sukrosa sebanyak 10% dan amonium sulfat/ZA sebanyak 0,5%. Kondisi ini akan menghasilkan nata dengan kualitas yang bagus, permukaan yang halus dan tekstur kenyal. Sebetulnya ada sumber-sumber lain penghasil nitrogen, seperti bahan-bahan berprotein tinggi, tapi tentu harganya jadi mahal. Jika tidak ada ZA, bisa juga digunakan senyawa urea yang kaya akan unsur nitrogen. Tapi perlu dicatat bahwa dalam proses pembuatan nata itu pada akhir fermentasi ada proses-proses pencucian, sehingga sisa-sisa bahan yang digunakan telah dihilangkan. Jadi dalam produk natanya semestinya sudah tidak ada lagi ZA atau bahan-bahan lainnya.

Apa pengaruh ZA dalam kesehatan?
Amonium sulfat atau ZA termasuk bahan pangan yang aman menurut FDA. Bisa dilihat daftarnya di sini. Ia bisa digunakan sebagai pengatur keasaman dalam makanan, dan menguatkan adonan tepung dalam pembuatan roti. Jika tertelan atau terhirup, amonium yang terserap ke dalam tubuh akan ditransport ke hati dan di metabolisme menjadi urea, dan dibuang melalui urin. Amonium sendiri juga dijumpai dalam tubuh sebagai ion yang menjaga keseimbangan asam-basa tubuh. Sulfat-nya juga merupakan senyawa normal dalam tubuh dalam metabolisme senyawa sulfat endogen. Ia akan dibuang dalam bentuk tidak berubah atau terkonjugasi melalui urin. Tentu saja jika digunakan dalam dosis yang besar akan membahayakan kesehatan. Seberapa besar yg bisa membahayakan?
Ammonium sulfat termasuk yang memiliki toksisitas akut rendah (sumber di sini). Dosis yang bisa memberikan 50% kematian pada tikus secara per-oral (dimakan) adalah 2000-4500 mg/kg berat badan (jika dikonversi ke dosis manusia berat 70 kg adalah 22,5 gram), yang berarti cukup besar dosis untuk bisa mematikan.
Bahaya potensial lainnya antara lain :
Mata : menyebabkan iritasi
Kulit : iritasi kulit, menyebabkan kemerahan.
Tertelan : mual, muntah, diare
Terhirup : iritasi saluran nafas, batuk, sesak nafas

So, masalahnya ?
Jadi dalam hal penggunaan pupuk ZA sebagai bagian dari proses pembuatan nata de coco sebenarnya tidak salah-salah amat. Pastinya juga ada alasan ekonomis mengapa produsen menggunakan pupuk ZA (apalagi kalau yang bersubsidi hehehe...) untuk pembuatan nata de coco. Hanya saja kalau kita mendengar istilah pupuk, yang kebayang adalah barang yang kotor, tidak higienis. Gitu kok dimakan? Lha siapa bilang kita mau makan pupuk? Media juga ngawur kalau bikin headline berita… “nata de coco oplosan dengan pupuk ZA”…. sangat menyesatkan, seolah-olah nata de coco-nya dicampur sama pupuk ZA… Seolah-olah konsumen akan makan nata de coco yang dioplos dengan pupuk….

Namun satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa tentunya kualitas sediaan ZA yang ditujukan sebagai pupuk tidak sama dengan sediaan yang memang khusus untuk makanan, karena mungkin ada pencemar dan mungkin dapat memberikan efek kurang baik bagi kesehatan.. Concern yang besar perlu diarahkan terhadap kemungkinan adanya cemaran logam berat atau cemaran lain dari hasil sintesis pupuk ZA. Perlu diingat bahwa batas maksimal yg dibolehkan untuk cemaran pada pupuk tentu jauh lebih besar daripada batasan pada senyawa kimia untuk pangan (food grade), apalagi untuk obat (pharmaceutical grade).

Sebagai perbandingan, batas maksimum logam berat pada pupuk  dan pada pangan adalah sbb:
Arsen :  ≤ 10 ppm  (pupuk)  vs  ≤ 2 ppm (pangan)
Kadmium:  ≤ 10 ppm (pupuk) vs  ≤ 0,3 ppm (pangan)
Merkuri:  ≤ 1 ppm (pupuk) vs  ≤ 1 ppm (pangan)
Timbal :  ≤ 50 ppm  (pupuk) vs ≤ 2 ppm (pangan)

Dampak dari cemaran logam berat (jika ada) pada kesehatan juga sulit untuk dibuktikan segera karena umumnya jumlahnya sangat kecil dan butuh waktu lama untuk manifestasinya. Jadi perlu ada pemeriksaan terhadap cemaran, karena jika hanya mengandalkan dampaknya terhadap kesehatan, mungkin belum akan terlihat. Tapi terus terang untuk hal ini aku tidak tahu persis, dan perlu diteliti dan dikonfirmasi lebih lanjut, apakah memang dalam produk nata yg sudah jadi masih ada bahan pencemar atau bahkan sisa dari ZA-nya seperti yang dihebohkan… Kalau memang tidak ada cemaran yang dikuatirkan, atau sisa ZA-nya pada produk akhir nata de coco, ya berarti tidak ada yang perlu dimasalahkan… Masalahnya justru apakah ZA food grade tersedia di pasaran, dan berapa harganya agar bisa memproduksi secara ekonomis…

Hasilnya menunjukkan tidak ada cemaran logam berat seperti dikuatirkan

Hasilnya menunjukkan tidak ada cemaran logam berat seperti dikuatirkan

Satu kelompok petani nata de coco di Banten menghubungiku dan menunjukkan hasil ujinya terhadap produksi nata de coco-nya yang selama ini dibuat menggunakan pupuk ZA. Ini hasil uji thn 2010 sih, tapi sudah bisa memberi gambaran bahwa hasil akhir produksi nata de coco mereka bebas dari cemaran logam berat yang dikuatirkan. Dengan asumsi tidak banyak perubahan cara produksinya, dan mungkin justru makin baik peralatannya, aku menduga hasilnya di tahun 2015 ini tidak banyak berbeda. Walaupun tetap sebaiknya memang ada pengujian lagi, termasuk kandungan residu ZA jika masih ada.

Sejauh yang diketahui, belum tersedia ZA khusus pangan dengan spesifikasi tertentu. Sebenarnya menurutku Pemerintah semestinya memfasilitasi penyediaan ZA khusus pangan tersebut, dengan menaikkan sedikit “kelas” pupuk dengan proses pemurnian satu atau dua tahap lagi, dan diberi label “food grade”, dengan harga terjangkau.  Dengan begitu petani nata tidak lagi menggunakan pupuk ZA atau urea, yang memang secara persepsi memberikan kesan yang “mengerikan”… pupuk kok dicampur makanan? Dan ini pasti akan menjadi promosi buruk tentang produk pangan Indonesia ke dunia internasional.

numpang tenar sebentar

numpang tenar sebentar

Kayaknya sih kasus penggrebekan industri produsen nata de coco di Jogja lebih karena sifatnya yang ilegal/tidak berijin. yang berasal dari laporan warga… tapi entahlah, kita tunggu saja perkembangan kasusnya.  Kalau tidak terbukti membahayakan kesehatan misalnya, bisa jadi dakwaannya jadi penimbunan pupuk bersubsidi atau masalah ijinnya.. hehe.. Oya, kasus ini sempat bikin aku numpang lewat di Metro TV hehehe… dimintai pendapat tentang kasus ini… yah,  numpang tenar sebentar deh…. Tapi dasar selebriti kampung, nongolnya cuma ‘mak nyuk’, hebohnya seharian hehe…

Demikian sekedar analisisku, semoga sedikit memberi pencerahan.





Demam berdarah atau Tifus ? Waspadai gejalanya yang hampir serupa

22 03 2015

Disclaimer : ini versi koran dari tulisanku sebelumnya tentang penyakit DBD. Aku repost kembali di blog ini.

Musim hujan seperti sekarang ini merupakan musim wabah demam berdarah dengue (DBD). Beberapa daerah di Yogya dilaporkan menjadi daerah endemik sehingga warga harus meningkatkan kewaspadaannya. Banyaknya genangan air yang menjadi tempat bertelurnya nyamuk Aedes Aegepti menyebabkan mereka mudah berkembang biak. Minggu lalu penulis baru saja menjadi salah satu korban sang nyamuk demam berdarah, bahkan harus rawat inap beberapa hari di RS. Namun yang menarik, ternyata gejala demam berdarah tidak selalu spesifik sampai penulis tidak menyadarinya, dan tahu-tahu trombosit sudah tinggal 64 ribu (dari normalnya 150 – 450 ribu). Gejalanya hampir-hampir seperti gejala tifus. Tulisan ini mencoba mengupas tentang penyakit demam berdarah dengue dan tifus, gejala demam berdarah dan apa bedanya dengan tifus, serta bagaimana pengatasannya.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit Demam Berdarah Dengue atau disingkat DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti betina. Nyamuk berkaki belang-belang putih ini umumnya menggigit manusia di siang hari. Virus dengue terdiri dari empat jenis (strain), yakni dengue tipe 1, 2, 3 dan 4. Namun tipe yang dominan di Indonesia adalah tipe 3. Virus dengue menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan sistem pembekuan darah sehingga mengakibatkan perdarahan, yang jika parah dapat menimbulkan kematian. Setelah nyamuk ini menggigit dan menularkan virus dengue, masa inkubasinya sekitar 3-14 hari, setelah masa inkubasi, penderita akan mengalami demam tinggi.
Apa gejalanya?
Gejala penyakit DBD sering tidak terduga. Namun secara umum, penyakit ini memiliki ciri seperti panas tinggi, pusing, bahkan muntah darah. Namun sayangnya, gejala yang sama sering ditemukan pada penyakit lain. Beberapa gejala yang khas dari penyakit DBD antara lain:
1. Mendadak panas tinggi selama 2 – 7 hari, tampak lemah lesu suhu badan antara 38ºC sampai 40ºC atau lebih.
2. Tampak bintik-bintik merah pada kulit dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang
3. Kadang-kadang perdarahan di hidung ( mimisan)
4. Mungkin terjadi muntah darah atau berak darah
5. Tes Torniquet positif
6. Bila sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin berkeringat
7. Hematemesis atau melena (muntah atau berak darah)

Ini adalah gejala-gejala yang sering kita baca-baca di tulisan-tulisan tentang demam berdarah, terutama yang terjadi pada anak-anak. Namun demikian, yang penulis alami agak jauh berbeda, dan bahkan lebih mirip dengan tifus. Kemungkinan besar memang ini adalah gejala-gejala pada orang dewasa yang secara daya tahan tubuh lebih kuat daripada anak-anak. Gejala-gejala yang penulis alami adalah:
1. Badan pegal-pegal dan kepala pusing
2. Tidak ada demam tinggi, hanya badan terasa hangat saja
3. Tidak nafsu makan, jika makan lidah terasa pahit
4. Berkeringat dingin, dan sering berkeringat bahkan di ruangan ber-AC
5. Rasa lemah, mudah lelah
6. Perut terasa mual
7. Ada sedikit batuk-batuk kering
Gejala-gejala ini penulis alami hampir 6 hari dan semula penulis kira semacam sakit flu/selesma biasa. Ketika penulis berkonsultasi ke dokter dan dirujuk untuk pemeriksaan laboratorium, baru ketahuan hasilnya bahwa trombosit sudah tinggal 64 ribu, dari normalnya 150-450 ribu. Dan setelah dibawa ke RS dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, tegaklah diagnosa demam berdarah.

Bagaimana dengan sakit tifus dan gejalanya ?
Jika DBD disebabkan oleh virus dengue, penyakit tifus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang bernama Salmonella typhi. Bakteri ini akan berkembang cepat pada tempat-tempat yang kotor. Penyebarannya dibantu oleh serangga-serangga pembawa bakteri, seperti lalat atau serangga lainnya. Jika lalat pembawa bakteri ini hinggap di makanan atau minuman yang mengandung bakteri ini, lalu kita memakan atau meminumnya, maka bisa menyebabkan terkena tifus.
Gejala tifus antara lain adalah:
1. Pada awalnya demam tak begitu tinggi dan akan terus naik hingga mencapai lebih dari 38 derajat Celcius.
2. Pada malam hari, suhu tubuh akan meningkat dan akan kembali turun pada pagi harinya.
3. Sakit perut, mual, dan muntah
4. Lidah berwarna putih/kotor
5. Rasa lemah lesu, badan menggigil, sakit kepala
6. Urin berwarna agak kecoklatan
7. Denyut nadi melambat
8. Nyeri otot, badan pegal-pegal
9. Hilang nafsu makan

Apa beda gejala yang khas antara DBD dengan tifus?
Sebenarnya yang paling khas bedanya adalah pola demamnya. Pada penderita DBD, gejala panas tinggi terjadi secara mendadak. Gejala lainnya adalah tampak bintik-bintik merah pada kulit, dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang. Sedangkan pada tifus, penyakit ini memiliki pola panas yang berbeda. Untuk penderita tifus, biasanya panas timbul pada sore dan malam hari. Pagi menjelang siang sudah mulai turun, lalu sore harinya kembali panas. Tifus juga mengenai saluran cerna, jadi selain ada gejala demam tinggi juga masalah di saluran pencernaan. Ciri khas lain demam dengue adalah pada hari kelima biasanya demamnya turun.Tapi hati-hati, walaupun demamnya turun tapi bukan berarti semakin baik. Ini merupakan fase yang berbahaya karena merupakan fase kritis. Sementara pada pasien tifus demam yang turun artinya penyakitnya makin baik.

Demam pada DBD mempunyai siklus demam yang khas disebut siklus demam pelana kuda. Ciri-ciri demam DBD atau demam pelana kuda :
Hari 1-3 Fase Demam Tinggi
Demam mendadak tinggi dan disertai sakit kepala hebat, sakit di belakang mata, badan ngilu dan nyeri, serta mual/muntah, terkadang disertai bercak merah di kulit (tidak selalu).
Hari 4-5 Fase Kritis
Fase demam turun drastis dan sering mengecoh seolah terjadi kesembuhan. Namun inilah fase kritis kemungkinan terjadinya “Dengue Shock Syndrome”
Hari 6-7 Fase Masa Penyembuhan
Fase demam kembali tinggi sebagai bagian dari reaksi tahap penyembuhan.

Hal terpenting yang harus dilakukan adalah pada hari ketiga (Fase Demam Tinggi) sebelum terjadinya pola pelana, penderita sudah diperiksakan ke dokter untuk memastikan kemungkinan DBD. Bila menunggu terjadinya pola pelana yang biasanya terjadi pada hari kelima, maka kadang sudah terlambat untuk ditangani.
Pada Fase Kritis, kejadian syok/dengue syok syndrome dipercepat oleh dehidrasi (kekurangan cairan). Kondisi ini dapat terjadi karena trombosit turun yang mengakibatkan kelainan pada pembuluh darah. Karena darah bocor, maka kebanyakan kasus kematian penderita DBD adalah akibat dari pendarahan yang berlanjut dari kondisi syok tersebut. Namun bila penanganannya cepat dan benar maka diharapkan masuk pada Fase Masa Penyembuhan.

Harus cek laboratorium
Karena gejala kadang tidak sangat khas seperti yang penulis alami (tidak demam tinggi), maka pemastian diagnosanya tetap harus didasarkan pada pemeriksaan laboratorium. Pada Demam dengue, ciri khasnya adalah dengan turunnya jumlah trombosit, suatu komponen darah yang bekerja untuk pembekuan darah. Karena itulah kalau jumlahnya turun dapat menyebabkan risiko perdarahan. Trombosit yang menurun, biasanya kurang sari 100.000/ul umumnya mengindikasikan adanya demam berdarah. Jika terjadi panas tinggi 3 hari berturut-turut, sebaiknya diperiksakan ke dokter dan dilakukan pemeriksaan laboratorium terhadap jumlah trombosit dan hematokrit. Selain itu, untuk memastikan diagnosa infeksi virus dengue dapat dilakuan pemeriksaan lain, seperti IgG/IgM Dengue dan NS1 Ag Dengue.
Pemeriksaan IgG/IgM Dengue adalah untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap virus dengue. Ada dua antibodi yang dideteksi yaitu Imunoglobulin G dan Imunoglobulin M, dua jenis antibodi ini muncul sebagai respon tubuh terhadap masuknya virus ke dalam tubuh penderita. Imunoglobulin G akan muncul sekitar hari ke-4 dari awal infeksi dan akan bertahan hingga enam bulan pasca infeksi. Karena itu, antibodi ini menunjukkan kalau seseorang pernah terserang infeksi virus dengue, setidaknya dalam enam bulan terakhir. Imunoglobulin M juga diproduksi sekitar hari ke-4 dari infeksi dengue, tetapi antibodi jenis ini lebih cepat hilang dari tubuh. Adanya Imunoglobulin M dalam tubuh seseorang menandakan adanya infeksi akut dengue atau dengan kata lain menunjukkan kalau penderita sedang terkena infeksi virus dengue. Sensitivitas dan spesifitas pemeriksaan ini cukup tinggi dalam menentukan adanya infeksi virus dengue.
Namun demikian, pemeriksaan IgG/IgM anti dengue tidak bisa mendeteksi virus dengue secara dini. Karena yang diperiksa adalah antibodi terhadap virus dengue dan antibodi yang baru muncul hari keempat pasca infeksi, maka pemeriksaan ini seringkali tidak dapat mendeteksi infeksi virus dengue pada penderita yang mengalami gejala panas hari ke-0 hingga hari ke-4.

Nah baru-baru ini telah dikembangkan pemeriksaan NS1 Ag, yaitu pemeriksaan yang mendeteksi bagian tubuh virus dengue sendiri. Karena mendeteksi bagian tubuh virus dan tidak menunggu respon tubuh terhadap infeksi maka pemeriksaan ini dilakukan paling baik saat panas hari ke-0 hingga hari ke -4, karena itulah pemeriksaan ini dapat mendeteksi infeksi virus dengue bahkan sebelum terjadi penurunan trombosit. Setelah hari keempat kadar NS1 antigen ini mulai menurun dan akan hilang setelah hari ke-9 infeksi. Angka sensitivitas dan spesifisitasnya pun juga tinggi. Bila ada hasil NS1 yang positif menunjukkan kalau seseorang ‘hampir pasti’ terkena infeksi virus dengue. Sedangkan kalau hasil NS1 Ag dengue menunjukkan hasil negatif tidak menghilangkan kemungkinan infeksi virus dengue dan masih perlu dilakukan observasi serta pemeriksaan lanjutan. Ini terjadi karena untuk mendeteksi virus dengue diperlukan kadar yang cukup dari jumlah virus dengue yang beredar, sedangkan pada fase awal mungkin belum terbentuk cukup banyak virus dengue tetapi apabila pengambilan dilakukan setelah munculnya antibodi maka kadar virus dengue akan menurun.

Pada pemeriksaan tifus akan dilakukan dengan tes Widal. Tes ini bisa mengetahui apakah Anda terkena tifus atau tidak. Tes yang dilakukan adalah apakah pada darah mengandung bakteri Salmonella typhi atau tidak. Selain itu, tes juga bisa dilakukan dengan memeriksa tinja. Di tinja penderita tifus akan mengandung bakteri Salmonella typhi.

Bagaimana pengobatannya?
Jika tanda-tanda DBD di atas telah ditemukan, maka langkah terpenting dari pengobatannya adalah terapi suportif. Pertolongan pertama yang dapat diberikan untuk penderita adalah memberi minum sebanyak-banyaknya. Dapat berupa air masak yang dibubuhi garam oralit atau gula, susu, air kelapa, jus buah-buahan atau air teh. Untuk demamnya diberi obat penurun panas parasetamol, jika mual diberi obat anti mual. Terapi utama untuk DBD adalah terapi cairan untuk mengganti kehilangan cairan plasma akibat kebocoran pembuluh darah dan (jika ada) perdarahan. Pasien dengan demam dengue ringan dengan penurunan trombosit yang tidak telalu banyak (masih di atas 100.000) dengan gejala tanpa komplikasi dapat dirawat di rumah. Pasien perlu banyak minum dengan cairan yang mengandung elektrolit. Pasien dengan kondisi yang lebih berat harus dirawat di RS untuk mendapatkan pengawasan yang ketat, karena perkembangan penyakitnya seringkali sulit diprediksikan. Pasien mendapat cairan infus, misalnya NaCl fisiologis atau Ringer Laktat.
Sedangkan untuk tifus, selain harus istirahat total untuk mempercepat penyembuhan, pengaturan makanan yang sesuai dengan tingkat keparahan pasien (pantang sayuran dengan serta kasar), perlu diberikan antibiotik untuk membunuh bakterinya. Obat-obat pilihan pertama adalah kloramfenikol, ampisilin/amoksisilin dan kotrimoksasol. Obat pilihan kedua adalah sefalosporin generasi III. Obat-obat pilihan ketiga adalah meropenem, azithromisin dan fluorokuinolon. Obat-obat ini umumnya diresepkan untuk 14 hari. Penderita tifus yang berat disarankan dirawat di RS.
Penutup
Demikian, semoga dengan tulisan ini pembaca akan lebih waspada jika mengalami demam tinggi dan gejala-gejala lain, sehingga segera mendapatkan pemastian diagnosa dan penanganan yang tepat. Demam tinggi yang tidak turun dalam tiga hari perlu mendapatkan kewaspadaan, apalagi jika ada faktor lingkungan yang mendukung, baik untuk DBD maupun tifus.





Terkapar oleh si Dengue: Waspadai, gejala tidak selalu spesifik…!

16 03 2015

Dear kawan, Sebuah peristiwa tak terduga menghampiriku beberapa hari yang lalu…. aku terkapar tak berdaya dengan selang infus di tangan… gara-gara ulah si virus Dengue. Yang menarik, gejala-nya bener-bener tidak spesifik, sehingga aku nyaris “kecolongan”. Untuk meningkatkan kewaspadaan, aku coba share pengalamanku berurusan dengan si Dengue ini… semoga bermanfaat.

Kronologi gejala : pegel dan meriang

Hari Rabu, tanggal 4 Februari 2015. Sore itu aku masih cukup sehat dan semangat pada penutupan acara workshop Good Clinical Practice yang kami selenggarakan di Hotel Harper Yogyakarta. Satu-satunya keluhanku adalah sedikit batuk-batuk, yang aku duga karena flu. Namun malamnya seluruh badan terasa pegal-pegal dan sedikit pusing. Aku pikir flu biasa dan minum parasetamol saja, walaupun tidak begitu membantu.

Hari Kamis pagi masih tidak begitu fit, badan pegal dan kepala pusing. Namun karena harus memberi kuliah pagi di prodi S2, aku berangkat pagi-pagi setelah pamit agak terlambat. Seusai memberi kuliah selama kurang lebih 2 x 2 SKS, badanku serasa menggigil. Nggreges, bahasa Jawanya. Menggigil dan lemas. Akhirnya aku putuskan pulang saja dan istirahat di rumah. Seharian itu aku berbaring karena tidak enak badan. Badan sedikit hangat saja, tidak sampai demam tinggi. Yang paling terasakan adalah pegel-pegel dan pusing. Aku nambah asupan vitamin C saja, imunostimulan, dan minum obat flu. Hari Jumat. Badan masih tidak terasa fit. Karena ada rapat pagi, aku tetap masuk kantor. Mulai tidak doyan makan dan ada sedikit rasa mual. Aku sampai beli biskuit untuk ngemil di kantor agar perut tidak kosong,”Yang penting ada yang masuk, sedikit-sedikit tapi kerap,” begitu pikiranku. Setiap kali makan rasanya hanya dominan asin dan pahit. Kayaknya tasty buds-ku juga eror dan tidak berfungsi baik, terutama pencecap rasa manis. Aku masih belum ngeh… aku pikir masuk angin biasa. Sampai-sampai minta dikeroki juga oleh asisten rumahku… Hadeeh, bahaya ya.. bayangin.. trombosit dah lagi turun mungkin, malah dikerok sampe merah-merah…hehe... untungnya ngga kenapa-napa…

Hari Sabtu. Badan masih berasa pegal dan agak pusing, parasetamol tidak banyak membantu. Nafsu makan masih hilang. Sampai aku harus membayangkan makanan-makanan paling enak yang ingin kumakan… tetapi tetap saja tidak menggugah selera makan. Sepulang belanja di pasar, aku beli bubur ayam yang kayanya cukup menarik… Tapi hanya kumakan dua sendok, setelah itu malas makan lagi. Akhirnya aku mencoba ibuprofen untuk pegal dan pusingku. Ajaibnya, dalam waktu satu jam setelah minum obat… pegal dan pusing langsung lenyap. Catat, ini “bahaya’ yang kedua ya… NSAID dan aspirin bukanlah pilihan yang tepat untuk demam berdarah, karena bisa meningkatkan risiko perdarahan. Tapi alhamdulillah, aku masih baik-baik saja.. mungkin saat itu trombositku masih belum terlalu turun.

Hari Minggu. Nafsu makan masih ancur-ancuran. Tersiksa sekali, karena lapar, tapi ngga ada makanan yang bisa masuk. Bela-belain suami ngajak ke McDonald untuk menikmati big breakfast yang enaak.. eh, sampai sana aku cuma pesan pancake dengan sirup maple, itu saja cuma habis satu saja. Aku sengaja pilih makanan manis karena makanan yang asin akan terasa lebih asin.. Hari itu gejala yang terasa adalah badan keluar keringat dingin terus. Bahkan di kamar ber-AC, badan keringatan terus. Habis mandi, badan keringatan lagi. Rasanya juga lemah dan cepet capek. Tapi pegel dan pusingnya sudah tidak terasa, sehingga kupikir aku akan segera membaik.

Hari Senin. Badan masih tidak fit, nafsu makan belum pulih, namun aku masih percaya diri akan membaik. Pagi itu masih masuk kantor karena ada rapat. Ada beberapa mahasiswa yg datang untuk konsultasi skripsi dan thesis. Untungnya tidak ada jadwal kuliah, karena ternyata aku merasakan bahwa baru bicara sebentar sudah merasa capek. Badanku juga berkeringat terus. Siang setelah jemput anak sekolah, aku pulang dan istirahat lagi di rumah. Aku hanya bisa berdoa saja semoga diberikan kesembuhan dan petunjuk menuju kesembuhan.

Hari Selasa. Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, aku putuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Ilmuku udah mentok hehe.. aku baca-baca bahwa keringat dingin kemungkinan disebabkan oleh berbagai hal. Selasa pagi aku ke Gadjah Mada Medical Center untuk periksa dokter. Siapa tahu tensiku drop atau kadar gulaku turun. Dokter merujukku untuk pemeriksaan laboratotium, diantaranya adalah pemeriksaan darah lengkap dan pemeriksaan Widal (untuk typhus). Aku sempat menduga bahwa aku terkena typhus, walaupun juga gejala ke arah perut tidak ada sama-sekali, kecuali mual ringan saja. Selasa siang itu kondisiku makin terasa ngga fit. Setelah jemput sekolah anak, aku langsung pulang sambil menunggu hasil pemeriksaan lab yang katanya akan dikirim via e-mail.

Hasil Labku awal di GMC. Trombosit tinggal 64 ribu.

Hasil Labku awal di GMC. Trombosit tinggal 64 ribu.

Begitulah, jam 14an ada e-mail masuk lewat HP-ku… dan ..ya ampyuun…. ternyata trombositku sudah di angka 64 ribu dari yang seharusnya 150-450 ribu, sementara test widal-ku negatif semua. Alhamdulillah, inilah petunjuk Allah… bahwa penyebab badanku meriang-meriang selama ini adalah karena proses turunnya trombosit dan aksi virus di tubuhku. Ngga mengira sama sekali… !! Sorenya langsung aku minta diantar ke RS JIH untuk konsultasi dokter dari hasil lab yang kuperoleh. Dan benarlah.. dokter menyarankan untuk langsung opname saja karena aku perlu mendapatkan terapi cairan melalui infus. Saat akan dipasang infus, aku sekalian diambil sampel darah untuk pemeriksaan.

IgG anti dengue positif

IgG anti dengue positif

Dan benarlah, ternyata memang terbukti Anti dengue IgG-ku positif, yang memastikan bahwa aku memang terinfeksi virus Dengue. IgM negatif karena mungkin infeksinya sudah berlalu cukup lama sehingga sudah tidak terdeteksi lagi. Di sisi lain fungsi hatiku juga terganggu, yang ditunjukkan dengan peningkatan level AST dan AST di atas normal. Aku mencoba lagi baca-baca teori-nya tentang Demam Berdarah. Yang menarik, gejala khas DBD ternyata tidak semua kualami.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Menurut terorinya, penyakit Demam Berdarah Dengue atau disingkat DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk berkaki belang-belang putih ini umumnya menggigit manusia di siang hari. Virus dengue terdiri dari empat jenis (strain), yakni dengue tipe 1, 2, 3 dan 4. Namun tipe yang dominan di Indonesia adalah tipe 3.

Apa gejala spesifiknya?

Secara umum, penyakit ini memiliki ciri seperti panas tinggi, pusing, bahkan muntah darah. Beberapa gejala lain yang khas dari penyakit DBD antara lain: 1. Mendadak panas tinggi selama 2 – 7 hari, tampak lemah lesu suhu badan antara 38ºC sampai 40ºC atau lebih. 2. Tampak bintik-bintik merah pada kulit dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang. 3. Kadang-kadang perdarahan di hidung ( mimisan). 4. Mungkin terjadi muntah darah atau berak darah 5. Tes Torniquet positif 7. Bila sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin Berkeringat 8. Hematemesis atau melena (muntah darah dan tinja berdarah) Gejala di atas nampaknya memang gejala khas yang banyak dijumpai pada DBD pada anak-anak. Sementara yang aku alami tidak khas, bisa jadi karena terjadi pada orang dewasa dengan daya tahan yang sudah cukup kuat. Justru gejala-gejalanya lebih mirip ke typhus ketimbang DBD. Dokter yang merawatku juga bilang bahwa memang sekarang mulai ada kecenderungan kejadian DBD pada orang dewasa, sementara pada beberapa dekade lalu panyakit ini lebih banyak dijumpai pada anak-anak. Dan kayaknya nyamuknya juga sudah makin canggih hehe... daya terbangnya sudah lebih tinggi daripada dulu… Ngga lagi cuma berani sama anak-anak, … profesor aja dia gigit hehehe…

Apa bedanya dengan gejala typhus?

Gejala DBD sering agak mirip dengan typhus. Penyakit tifus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang bernama Salmonella typhi. Bakteri ini akan berkembang cepat pada tempat-tempat yang kotor. Penyebarannya dibantu oleh serangga-serangga pembawa bakteri, seperti lalat atau serangga lainnya. Jika lalat pembawa bakteri ini hinggap di makanan atau minuman yang mengandung bakteri ini, lalu kita memakan atau meminumnya, maka bisa menyebabkan terkena tifus. Gejala tifus antara lain adalah: 1. Pada awalnya demam tak begitu tinggi dan akan terus naik hingga mencapai lebih dari 38 derajat Celcius. 2. Pada malam hari, suhu tubuh akan meningkat dan akan kembali turun pada pagi harinya. 3. Sakit perut, mual, dan muntah 4. Lidah berwarna putih 5. Rasa lemah lesu 6. Urin berwarna agak kecoklatan 5. Denyut nadi melambat

Apa beda gejalanya  yang khas ?

Sebenarnya yang paling khas bedanya adalah pola demamnya. Pada penderita DBD, gejala panas tinggi umumnya terjadi secara mendadak. Gejala lainnya yang umum adalah tampak bintik-bintik merah pada kulit, dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang. Sedangkan pada tifus, penyakit ini memiliki pola panas yang berbeda. Untuk penderita tifus, biasanya panas timbul pada sore dan malam hari. Pagi menjelang siang sudah mulai turun, lalu sore harinya kembali panas. Tifus juga mengenai saluran cerna, jadi selain ada gejala demam tinggi juga masalah di saluran pencernaan. Ciri khas lain demam dengue adalah pada hari kelima biasanya demamnya turun.Tapi hati-hati, demamnya turun tapi bukan semakin baik. Ini justru merupakan fase yang berbahaya. Sementara pada pasien tifus demam yang turun artinya penyakitnya makin baik.

Harus cek laboratorium

Namun demikian, karena gejala kadang tidak sangat khas seperti yang aku alami (tidak demam tinggi), maka pemastian diagnosanya tetap harus didasarkan pada pemeriksaan laboratorium. Pada Demam dengue, ciri khasnya adalah dengan turunnya jumlah trombosit, suatu komponen darah yang bekerja untuk pembekuan darah. Karena itulah kalau jumlahnya turun dapat menyebabkan risiko perdarahan. Trombosit yang menurun, jika kurang dari 100.000/ul umumnya mengindikasikan adanya demam berdarah. Jika demam berdarah pada satu hari belum bisa diketahui karena jumlah trombosit masih normal, maka periksalah ke dokter lagi jika masih demam untuk memeriksa apakah darah mengandung virus dengue atau tidak. Ada semacam pemeriksaan terhadap adanya virus Dengue dalam tubuh, untuk lebih memastikan diagnosanya. Untuk yang masih awal, bisa dilakukan pemeriksaan NS1 antigen. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan terhadap hematokrit, di mana kenaikan hematokrit di atas 20% mengindikasikan juga adanya kebocoran pembuluh darah. Pada pemeriksaan tifus akan dilakukan dengan tes widal. Tes ini bisa mengetahui apakah Anda terkena tifus atau tidak. Tes yang dilakukan adalah apakah pada darah mengandung bakteri Salmonella typhi atau tidak. Selain itu, tes juga bisa dilakukan dengan memeriksa tinja. Di tinja penderita tifus akan mengandung bakteri Salmonella typhi.

Bagaimana pengobatannya?

Pada dasarnya terapi Demam berdarah bersifat suportif, tidak ada terapi khusus. Untuk demamnya diberi obat penurun panas parasetamol, jika mual diberi obat anti mual. Terapi utama untuk DBD adalah terapi cairan untuk mengganti kehilangan cairan plasma akibat kebocoran pembuluh darah dan (jika ada) perdarahan . Pasien dengan demam dengue ringan dengan penurunan trombosit yang tidak telalu banyak (masih di atas 100rb) dengan gejala tanpa komplikasi dapat dirawat di rumah. Pasien perlu banyak minum dengan cairan yang mengandung elektrolit. Pasien dengan kondisi yang lebih berat harus dirawat di RS untuk mendapatkan pengawasan yang ketat, karena perkembangan penyakitnya seringkali sulit diprediksikan. Pasien mendapat cairan infus, misalnya NaCl fisiologis atau Ringer Laktat.

Akhir cerita

Alhamdulillah, setelah dirawat selama dua hari dua malam, akhirnya hari Kamis pagi hasil pemeriksaan trombositku menunjukkan perbaikan, sudah mencapai angka 102 ribu. Obat-obat yang aku peroleh di RS hanyalah terapi cairan saja, dan sekali aku minum domperidon karena agak mual. Sempat diresepkan injeksi Medixon dan Acran (ranitidin), tetapi aku menolak karena menurutku tidak diperlukan untuk kondisiku saat kemarin. Hari Kamis sore aku sudah dibolehkan keluar rumah sakit.

Memenuhi undangan kawan-kawan Cirebon hari Sabtu

Memenuhi undangan kawan-kawan Cirebon hari Sabtu

Oya, perhatian dan doa teman-teman tentu sangat membesarkan hati, baik yang sempat menengok maupun yang mendoakan dari jauh. Terimakasih sekali ya.. Banyak juga saran yang masuk terkait penggunaan angkak merah, sari kurma dan minum yang banyak. Adapula yang membawakan angkak merah, dan dengan senang hati aku minum. Aku belum tau persis bagaimana clinical evidence-nya, tetapi pengalaman pribadiku menunjukkan bahwa angkak ini sangat membantu meningkatkan jumlah trombosit. Hari Jumat pagi aku periksa lab lagi dan trombositku sudah di angka 179 ribu, alhamdulillah… Aku cukup tenang walaupun badan masih agak lemah, karena malamnya aku harus berangkat menempuh malam menuju Cirebon. Sabtu pagi aku sudah dijadwalkan mengisi seminar IAI PC Cirebon. Alhamdulillah, perjalanan lancar dan aku dikuatkan untuk memenuhi amanah tersebut. Malamnya aku pulang dengan selamat dan hari Minggu benar-benar take a full rest.

Demikian sekedar berbagi pengalaman dihajar oleh si Dengue.. Bulan-bulan musim hujan seperti ini harus lebih waspada lagi…





Mengenal meningitis..

9 02 2015

Dear kawan.

tulisan ini adalah re-publish dari tulisanku duluuu di blog yg sama dan di Harian Tribun, dengan sedikit modifikasi.

Sudah hampir setahun komedian terkenal Olga Syahputra diberitakan dirawat di RS di Singapura, yang katanya terkena meningitis dan kanker getah bening (note: tgl 27 Maret kmrn diberitakan telah dipanggil Allah SWT ke haribaanNya). Demikian juga penyanyi Ashanty, pernah diberitakan masuk RS karena meningitis. Beberapa pasien ada yang bertahan hidup setelah terinfeksi meningitis, sementara pasien yang lain meninggal. Kok menyeramkan ya? Apa itu meningitis? Bisakah kita menghindarinya? Bagaimana pengobatannya ? Artikel ini mencoba mengupasnya.

Radang selaput otak dan penyebabnya

Infeksi ardangs elaput otak

Infeksi radang selaput otak

Meningitis adalah istilah medis dari radang selaput otak (meninges = selaput otak), yaitu radang pada selaput yang melingkupi otak dan korda spinalis (bagian dari sistem saraf pusat). Umumnya disebabkan oleh virus atau bakteri. Sangat penting untuk mengetahui penyebabnya apakah karena virus atau bakteri, karena keparahan penyakit dan pengobatannya akan berbeda tergantung penyebabnya. Meningitis akibat virus biasanya lebih ringan dan dapat hilang sendiri tanpa pengobatan spesifik. Tetapi meningitis akibat bakteri umumnya sangat parah dan dapat menyebabkan kerusakan otak, hilangnya pendengaran, dan gangguan kognitif, bahkan kematian. Pada meningitis akibat bakteri, sangat penting pula mengetahui macam bakteri penyebabnya, sehingga dapat dipilihkan antibiotika yang sesuai.
Sebelum tahun 1990an, Haemophilus influenzae type b (Hib) merupakan bakteri penyebab utama meningitis bakterial. Karena itu, pada anak-anak umumnya perlu diberikan vaksinasi Hib. Adanya vaksinasi Hib ini sekarang telah banyak menurunkan jumlah kasus infeksi Hib pada anak-anak. Dan sekarang, penyebab utama meningitis adalah Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis. Selain itu, bakteri penyebab ketiga meningitia adalah Listeria monocytogenes (listeria), yang dapat ditemukan di banyak tempat, misalnya dalam debu dan makanan yang terkontaminasi, seperti keju, hot dog dan daging sandwich yang mana bakteri ini berasal dari hewan lokal (peliharaan). Belakangan bakteri Listeria ini sedang cukup ramai dibicarakan karena diberitakan mengkontaminasi beberapa jenis apel asal Amerika Serikat, yakni apel Gala dan Granny Smith.

Apa tanda dan gejala meningitis?

Gejala meningitis yg perlu diwaspadai

Gejala meningitis yg perlu diwaspadai

Gejala meningitis awalnya agak sulit dibedakan dengan gejala flu, sehingga kadang orang sering salah mengenali. Gejala umum meningitis pada mereka yang berusia di atas 2 tahun adalah demam tinggi, sakit kepala, lemah, dan kekakuan leher. Gejala ini bisa berkembang dari beberapa jam, atau mungkin sampai 1-2 hari. Gejala lain bisa berupa mual, muntah, tidak nyaman dengan cahaya terang, bingung, dan mengantuk. Pada bayi yang baru lahir atau anak-anak di bawah 2 tahun, gejala klasik seperti sakit kepala dan leher kaku seringkali agak sulit terdeteksi, karena mereka belum bisa menyampaikan keluhannya. Bayi dengan meningitis biasanya menunjukkan gejala lesu (kurang aktif), muntah, rewel, dan tidak mau makan. Dengan berjalannya waktu dan penyakit, maka pada pasien meningitis ( di segala usia) bisa timbul gejala berupa kejang-kejang.

Bagaimana diagnosa dan pengobatannya?
Diagnosis dan pengobatan secara dini sangat penting. Untuk mendiagnosis adanya bakteri penyebab meningitis, perlu dilakukan pengambilan sampel dari cairan spinal dengan cara tertentu (spinal tap). Jika bakteri penyebab telah diketahui, maka dokter akan memilihkan antibiotika yang paling sesuai untuk membunuh bakteri tersebut.
Beberapa antibiotik yang sering diresepkan oleh dokter pada kasus meningitis yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis antara lain golongan Cephalosporin (ceftriaxone atau cefotaxime). Sedangkan untuk meningitis yang disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes, pilihan antibiotikanya adalah Ampicillin, Vancomycin dan Carbapenem (meropenem), Chloramphenicol atau Ceftriaxone.
Pengobatan lainnya adalah untuk mengatasi gejala yang timbul, misalnya sakit kepala dan demam dengan analgesik-antipiretik, kejangnya dengan diazepam atau fenitoin, dan lain sebagainya.

Apakah infeksi bakteri tersebut dapat menular?
Ya, beberapa jenis bakteri meningitis dapat menular. Bakteri dapat menyebar dari satu orang ke yang lain utamanya melalui kontak dengan cairan respirasi atau tenggorakan (ludah, ingus, dll), misalnya dengan batuk-batuk, bersin, atau berciuman. Untungnya, tidak ada bakteri meningitis yang dapat menular semudah penularan virus flu. Juga tidak mudah menular hanya dengan sekedar berdekatan dengan pasien meningitis. Namun demikian, orang yang merawat pasien meningitis dalam waktu lama dan sering ada kontak langsung dengan pasien, apalagi jika ada kontak langsung dengan cairan dari mulut pasien, maka ada resiko untuk terkena bakteri yang sama. Untuk itu, jika perlu bagi keluarganya diberikan vaksinasi Hib.
The Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) merekomendasikan vaksinasi meningitis pada mereka berusia 11-18 tahun. Usia praremaja (11-12 th) merupakan usia terbaik sebelum dewasa untuk menerima vaksinasi meningitis. Karena kejadian meningitis dapat meningkat pada usia dewasa, mereka yang belum pernah divaksinasi meningitis disarankan mendapat vaksinasi seawal mungkin.

Apa itu meningitis viral?
Meningitis viral adalah meningitis yang disebabkan oleh virus, dan ini merupakan jenis terbanyak dari meningitis. Meningitis viral disebut juga meningitis aseptik karena tidak ditemukan adanya bakteri dalam darah pasien. Meningitis jenis ini umumnya ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7-10 hari, dengan memperkuat daya tahan tubuh. Namun karena gejalanya mirip dengan meningitis bakterial, maka jika ada gejala-gejala serupa seperti yang disebutkan di atas, segera saja dibawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Ada beberapa jenis virus yang dapat menyebabkan meningitis viral, antara lain enterovirus (meliputi enteroviruses, coxsackieviruses, dan echoviruses), virus cacar, herpes virus (Epstein-Barr virus, herpes simplex viruses, dan varicella-zoster virus) virus campak, dan juga virus influenza. Namun untuk mengetahui apakah meningitis disebabkan oleh virus atau bakteri, tetap harus dilakukan uji kultur yang berasal dari cairan spinal pasien.
Pasien dengan meningitis viral umumnya tidak perlu pengobatan khusus, dan disarankan untuk istirahat total (bed rest), minum banyak cairan, dan pengobatan untuk mengatasi gejala saja, seperti analgesik antipiretik untuk mengilangkan rasa sakit (sakit kepala), dan menurunkan demam.

Apakah virus penyebab meningitis bisa menyebar?
Ya, virus-virus ini bisa menyebar dengan cara yang berbeda-beda. Enterovirus, yang merupakan virus penyebab meningitis terbanyak, paling sering tersebar melalui tinja penderita. Selain itu, virus ini dan virus lainnya seperti virus campak dan varicella-zoster juga dapat menyebar melalui kontak langsung maupun tak langsung dengan cairan pernafasan (air liur, ingus, dahak) dari pasien yang terinfeksi. Waktu yang dibutuhkan dari mulai terinfeksi virus sampai muncul gejala umumnya sekitar 3-7 hari.

Bagaimana caranya menghindari infeksi virus meningitis?
Beberapa cara di bawah ini dapat membantu menghindarkan dari infeksi virus meningitis:
1. Cuci tangan dengan baik dan sering, terutama mereka yang merawat atau berada berdekatan dengan pasien meningitis
2. Bersihkan permukaan-permukaan yang bisa terkontaminasi (misalnya handel pintu, remote TV, etc) dengan sabun dan air kemudian bilas dengan desinfektan atau cairan pemutih yang mengandung chlorine utk mencegah penyebaran virus
3. Tutupi mulut saat batuk, dengan tissue atau tangan. Jika menggunakan tissue, buang tisue ke tempat sampah, Jika menggunakan tangan, segera cuci tangan.
4. Hindarkan mencium pasien, atau berbagi gelas minuman, atau hal-hal yang mungkin menyebabkan penyebaran virus
5. Lakukan vaksinasi meningitis
Apa saja jenis vaksin meningitis?

Salah satu jenis vaksin meningitis

Salah satu jenis vaksin meningitis

Saat ini terdapat beberapa jenis vaksin untuk menangkal infeksi kuman Neisseria meningitidis, seperti misalnya jenis vaksin meningitis polysacharide (MPSV4) dan jenis vaksin meningitis conjugate (MCV4). Baik jenis vaksin dari MPSV4 ataupun yang dari jenis MCV4, keduanya adalah vaksin quadrivalent yang mengandung antigen untuk 4 jenis serotype kuman Neisseria penyebab penyakit meningitis, yaitu jenis serotype A, C, Y dan W135. Sedangkan serotype B yang juga dapat menyebabkan penyakit meningtis (sepertiga kasus penyakit meningitis disebabkan oleh serotype B ini) belum tercakup dalam semua jenis vaksin anti meningitis yang sudah beredar saat ini. Penelitian sedang giat dilakukan untuk nantinya ditambahkan antigen serotype B ini kedalam vaksin anti meningitis yang sudah mengandung 4 serotype (quadrivalent meningitis vaccines) ini.
Kelemahan dari vaksin jenis polisakharida ini adalah tidak bersifat T cell dependent immunity, sehingga mempunyai efektifitas yang rendah untuk bayi dan anak kecil berusia dibawah 2 tahun, juga tidak mempunyai efektifitas yang dapat bertahan lama (efek booster vaksin atau long term immunologic memory). Akibatnya vaksin meningitis jenis polisakharida ini hanya bisa diberikan pada anak yang telah berusia diatas 2 tahun dan orang dewasa, juga usia lanjut hingga diatas usia 55 tahun. Buat yang sudah menunaikan ibadah haji dan umroh bisa nyicil ayem karena pastinya sudah mendapatkan vaksinasi meningitis sebelum berangkat.

Demikian sekilas info tentang meningitis. Semoga bermanfaat.





Selalu ada blessing in disguise buat yang mau berpikir: Selamat Tahun Baru 2015

27 12 2014

Dear kawan,
Tahun 2014 hampir berlalu.. Tahun ini buatku adalah tahun yang penuh rahmat, baik yang terang maupun tersembunyi.. Bukan berarti semua berjalan mulus dan sempurna, bahkan banyak hal-hal baru dan berat.. Tapi alhamdulillah semua masih berjalan di bawah lindunganNya. Lesson learned yang kudapat adalah bahwa sesuatu yang kadang kita takutkan akan sulit dijalani, ternyata setelah harus dilalui tidak sesulit yang dibayangkan. Dan aku selalu bersyukur untuk itu karena masih diberiNya kemudahan, dan itulah memang doa yang selalu kupanjatkan. Beberapa catatan penting untukku tahun ini kudokumentasikan di sini..

Me and family year
Tahun ini lebih banyak kugunakan untuk menjalani kegiatan dan pekerjaan pribadi, karena tidak banyak terlibat lagi dalam birokrasi di kampus. Pekerjaan penelitian lumayan padat dengan beberapa proyek yang harus dikerjakan. Alhamdulillah, 2 dari manuskrip paperku sudah dipublikasi di jurnal internasional, dan 2 lagi harus aku submit ulang. Buku baruku Farmakologi Molekuler juga sudah released sekitar bulan September. Undangan-undangan dari teman-teman di seluruh Indonesia berdatangan hampir setiap bulan, dan itupun butuh pengaturan. Tahun ini aku berkunjung ke Medan, Palembang, Pontianak, Palangkaraya, Samarinda, Banjarmasin, Kendari, Makasar, dan beberapa kota lain di Jawa. Antara senang dan merasa tersanjung karena mendapat kepercayaan, sekaligus juga kadang berat harus meninggalkan anak-anak terutama si kecil Hanna yang baru berusia 2-3 tahun. Selain itu, masih pula ada kegiatan rutinitasku yang lain untuk mengajar dari S1 sampai S3, pembimbingan thesis/disertasi, dan menulis artikel-artikel kesehatan di suratkabar harian, dll.
Diantara semua momen, yang paling mengesankan tentu adalah perjuangan mencarikan Dhika, anakku yang ketiga, sekolah SD. Sebagai anak spesial, Dhika memerlukan sekolah yang sesuai dengan kebutuhannya. Dua SD sebelumnya ternyata tidak bisa menerima Dhika karena keterbatasan space. Tapi alhamdulillah, kami datang pada saat yang pas di SD INTIS (International Islam School) untuk mendaftarkan Dhika. Tinggal ada satu kursi untuk anak berkebutuhan khusus, dan kami segera saja booking tempatnya. Dan alhamdulillah, kami tidak salah pilih… dengan sistem kelas kecil (12 orang per kelas dengan 2 educators), Dhika mendapatkan perhatian yang cukup dari teman-teman dan gurunya. Yang cukup mengharukan adalah bahwa kelak teman-temannya semua sangat baik dan sayang pada Dhika di kelas, dan memahami keterbatasan Dhika.

My special son
Dhika adalah anugerah luar biasa dalam keluarga kami. Dengan keterbatasannya karena dikaruniai gangguan autisme, dia mengajari kami arti kesabaran, pengorbanan, perjuangan dan kepasrahan kepada Sang Pencipta. Dhika juga yang mengajariku kekuatan, karena Dia tidak akan memberikan beban yang tidak mampu dipikul oleh ummatNya. Sungguh aku tidak berani membayangkan sebelumnya seperti apa jika Dhika masuk SD untuk pertama kalinya nanti (yang pasti dia memang menangis keras-keras..hehe..). Belum lagi sekolahnya yang sangat jauh dari rumah. Kami harus berangkat jam berapa dari rumah, apakah Dhika bisa bangun pagi, siapa yang antar jemput Dhika jika aku tidak bisa, kasihan nanti kalau Dhika kepanasan di jalan kalau dijemput naik motor, apakah Dhika bisa mengikuti pelajaran, bagaimana terapinya, dll.
Namun alhamdulillah, ketika harus mulai dijalani… semuanya tidak sesulit yang dibayangkan. Memang tidak instan, butuh usaha dan waktu, tetapi juga tidak terlalu kesulitan. Hari pertama memang Dhika menangis dan memberontak. Aku khusus menunggunya sejak pagi sampai pulang, sambil berkenalan dengan para educatornya. Tapi alhamdulillah, hari-hari berikutnya Dhika berangsur tenang dan tidak ada masalah. Bisa bangun pagi dan segera mandi, dan aku antar ke sekolah bersama kakaknya yang juga baru masuk sekolah baru (SMP) yang tempatnya tidak begitu berjauhan. Jadilah ritme kegiatanku menjadi berubah, yakni keluar rumah jam 6:15 pagi untuk antar anak-anak sekolah. Setelah itu baru ke kampus untuk rutinitas pekerjaan yang juga butuh konsentrasi tinggi. Dan sore kembali menjemput sekolah Dhika, karena Dhika hanya mau diantar dan dijemput ibu. Sekali waktu ketika aku harus pergi keluar negeri seperti ke China dan Jepang, aku sempat bingung bagaimana harus meninggalkan Dhika. Tapi sekali lagi, alhamdulillah… semuanya dimudahkanNya.. Dhika tidak rewel dan manut sama Bapak dan pengasuh di rumah, mau diantar dan dijemput bapak atau mbak. Dhika juga mendapat pseudo-teacher yang baik dan sangat membantu. Yang aku takpernah membayangkan sebelumnya adalah bahwa Dhika juga bisa sholat dengan lancar.. hafalan suratnya sudah cukup banyak.. dan sekarang karena saking hafalnya, sholatnya suka ngebut… eit!… ga boleh ituu hehe.. Aku belajar bahwa kemajuan sekecil apapun pada Dhika, jika selalu disyukuri, akan menjadi kebahagiaan tersendiri.. Secara tidak sengaja pula aku mendapat informasi tentang tempat terapi yang bisa memenuhi keperluan Dhika, dan itu dekat sekolahnya, sehingga sangat memudahkan pelaksanaannya.. Dhika menjalani terapi sensori-integrasi, terapi wicara dan okupasi di Rumah Sahabat.

My daughter’s accident

Hasil rontgen Hannisa, patah tulang paha kiri

Hasil rontgen Hannisa, patah tulang paha kiri

Momen kedua yang takterlupakan adalah peristiwa kecelakaan Hannisa, anakku yang kedua. Siang itu ketika aku sedang bersiap akan sholat dhuhur karena sebentar lagi akan mengikuti sebuah rapat di kampus, sebuah panggilan telepon masuk ke HP-ku. “Ibu, bisa jemput Dhika tidak?” sebuah suara dari seberang sana, dari asisten rumahtanggaku yang siang itu aku minta tolong menjemput Dhika dan Hanni dari sekolah. “Lha, kamu kenapa?” jawabku. “Aku kecelakaan sama kakak Hani. Di jalan Veteran”.. Segera saja aku memacu mobilku dari kampus menuju TKP, sambil sebelumnya menjemput Dhika di sekolah. Info terakhir, mereka sudah dibawa ke RS Hidayatullah, yang kebetulan dekat dengan lokasi kecelakaan. Akupun segera menelpon suami untuk segera datang ke RS. Sesampai di RS, mereka sedang menjalani pemeriksaan rontgen… dan astgahfirullah…. tulang paha kiri Hani patah, sementara tulang selangka Irah (asisten RT-ku) pun patah ! Aku tidak bisa membayangkan kejadian kecelakaannya, tapi tentunya cukup berat jika melihat akibatnya. Tidak tahan aku melihat Hani kesakitan ketika akan dipasang spalk sementara untuk mengimobilisasi kakinya di UGD. Siang itu juga setelah dikonsulkan ke dokternya, diputuskan bahwa mereka akan menjalani operasi pemasangan pen malamnya. Saat itu juga mereka diminta untuk berpuasa untuk persiapan operasi. Perasaanku campur aduk antara sedih, cemas, dan berharap semoga semuanya akan baik-baik saja.

Tulang paha Hannisa setelah dipasang pen

Tulang paha Hannisa setelah dipasang pen

Alhamdulillah, operasi pemasangan pen keduanya berjalan lancar. Jahitannya cukup panjang, sekitar 15 cm. Saat ini Hannisa harus berjalan menggunakan kruk untuk 2-3 bulan ke depan. Betapapun berat, tetap selalu ada yang aku syukuri… Untungnya saat kecelakaan tidak kena kepala yang bisa menimbulkan cedera, untungnya segera dibawa ke RS dan mendapat penanganan, untungnya baru selesai ujian sekolah jadi tidak ada ujian yang tertinggal, untungnya lagi liburan jadi tidak banyak membolos sekolah…. dan masih banyak untung-untung yang lain. Untungnya lagi yang mengoperasi adalah dokter Adam Sp.Bedah Orthopedi yang juga berpraktek di RS Akademik UGM sehingga kami cukup kenal baik, sehingga ketika konsultasi berikutnya biayanya dikasih free hehe….( ini sih bukan yg utama, tapi cukup menghibur…) Dengan berlokasi di dekat sekolahnya, banyak teman-teman hannisa yang menjenguk di RS. Juga banyak kawan yang meluangkan waktu menengok kami.. ini sangat membesarkan hati.
Yah, tentu banyak pengorbanan dan kerugian dari kecelakaan ini… Rencana liburan yang batal, kenikmatan berjalan yang dibatasi, harus menjalani pengobatan, rehabilitasi medis, dll.. tapi alhamdulillah, Hani anak yang kuat dan tegar. Tak pernah mengeluh sedikitpun dengan kondisinya, dan ia menjalaninya dengan santai. Justru ada satu hal yang terungkap dari kecelakaan ini… yakni bahwa berdasarkan pemeriksaan sebelum operasi, kadar gula Hanni agak tinggi, sedikit di atas normal. Yah, aku bisa memaklumi karena memang Hanni agak gemuk dan suka makan. Dan kami juga punya riwayat keluarga Diabetes. Untuk memastikan lagi, maka dua minggu setelah operasi aku periksakan lagi kadar gula Hani, terutama kadar gula darah puasa (GDP) dan dua jam setelah puasa (GD pp). Kadar GDP masih lumayan tinggi (di atas 100 mg/dL), tetapi belum tergolong DM. Sementara kadar GD post prandial masih normal.  Bahkan kondisi Hani ini menambah ilmu baru buatku tentang prediabetes dan Acanthosis nigrican, sebuah bentuk hiperpigmentasi pada daerah-daerah tertentu di kulit, seperti leher, lipatan ketiak, lipatan siku, dll. Aku baru sadar bahwa warna agak gelap di leher Hani ternyata pertanda insulin yang tinggi dalam darah dan itu adalah gejala prediabetes. Kelebihan insulin akan menyebabkan sel kulit yang normal terbentuk dengan kecepatan lebih tinggi, dan sel ini mengandung melanin lebih banyak sehingga memberikan warna kulit yang gelap. Yah, apapun.. ini adalah informasi yang berharga agar nantinya bisa mengatur lagi pola makan dan aktivitasnya supaya tetap sehat dan terjauh dari penyakit DM. Aku harus lebih berdisiplin mengatur pola makannya.

Blessing in disguise = rahmat yang tersembunyi
Begitulah kawan, momen-momen utamaku tahun ini, di samping aktivitas harian yang datang silih berganti. Hidup tidak selalu mulus dan lancar, tetapi pada setiap peristiwa hidup selalu ada pelajaran dan hikmah, ada blessing in disguise/rahmat yang tersembunyi, buat yang mau memikirkannya. Semua takdir manusia telah tertulis di Lauhul mahfuz, tetapi kita tak pernah mengetahuinya sebelum itu terjadi. Dan saat belum terjadi, manusia masih bisa “memilih” sebagian takdirnya karena hidup penuh dengan pilihan-pilihan. Bisa jadi yang tertulis adalah semacam suatu rumus… “jika A, maka B… Jika C, maka D…wallauhua’lam.. Dan hasil akhirnya adalah suatu resultante dari berbagai hal..
Tetap selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa di setiap ketetapanNya, walau kelihatannya tidak menyenangkan, ada pelajaran yang baik. Bahwa kadang Allah menetapkan suatu kejadian tertentu, untuk memberikan kejadian lain yang lebih baik, yang di luar pengetahuan manusia. Dengan tahun yang baru ini, semoga menambah semangat baru untuk hidup lebih baik, move on dari keburukan dan kelalaian… menyambut kebahagiaan yang hakiki. Amiiien…
Selamat tahun baru, kawan…





Bahayanya obat herbal yang dicampur BKO, 51 produk ditarik oleh BPOM

30 11 2014

Dear kawan,

jamu-bpom-dlmTulisan ini adalah reposting tulisanku di harian Tribun Yogya hari ini. Sayangnya yang di koran tidak menampilkan daftar tabel 51 obat yang diumumkan oleh BPOM mengandung BKO karena keterbatasan space. Karena itu aku repost di sini disertai link yang bisa dibuka mengenai daftar obat herbal tersebut..

Belakangan ini jamu atau obat herbal menjadi primadona dan pilihan masyarakat sebagai alternatif pengobatan, karena dipandang aman dan harganya lebih murah. Hal ini membuat maraknya pertumbuhan industri obat tradisional dengan aneka produknya. Sayangnya, alih-alih memproduksi obat herbal yang manjur dan aman, beberapa di antara mereka berbuat curang dengan mencampurkan komponen obat herbalnya dengan obat-obat kimia, dengan tujuan agar efeknya lebih ces-pleng. Hal ini tidak dibenarkan dalam peraturan pendaftaran dan produksi obat tradisional di Indonesia. Setelah melakukan pengawasan sejak bulan November 2013 sampai Agustus 2014, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) menemukan sebanyak 51 produk Obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat (OT-BKO), dimana 42 diantaranya merupakan produk OT tidak terdaftar (ilegal). Karena itu, pada tanggal 26 November 2014 yang baru lalu, BPOM menyampaikan siaran pers mengenai beberapa produk jamu yang masuk dalam kategori tersebut dan membatalkan nomor ijin produk-produknya.  Daftar produk yang masuk kategori tersebut dapat dilihat pada tautan ini..
Berdasarkan siaran pers tersebut, diketahui bahwa obat tradisional yang dicampur dengan bahan kimia obat didominasi oleh jamu penghilang rasa sakit (pegel linu, rematik) dan herbal penambah stamina (obat kuat). Obat kimia yang paling sering dicampurkan adalah parasetamol, fenilbutason, deksametason, antalgin, sildenafil dan tadalafil sitrat. Artikel ini akan membahas bahayanya jika obat-obat kimia tersebut dicampur dalam sediaan jamu/herbal dan digunakan secara jangka panjang.
Parasetamol atau asetaminofen

metabolisme parasetamol/asetaminofen membentuk NAPQI

metabolisme parasetamol/asetaminofen membentuk NAPQI

Parasetamol adalah obat penghilang sakit (analgesik) yang sebenarnya aman jika digunakan sesuai aturannya. Obat ini banyak dijumpai pada komponen obat flu maupun sakit kepala. Jika dicampurkan ke dalam jamu, misalnya jamu pegel linu atau jamu rematik, tentu akan meningkatkan kemanjuran jamu tersebut. Jika hanya dipakai sekali dua kali memang tidak berbahaya bagi kesehatan. Tetapi masalahnya, masyarakat pada umumnya menganggap jamu itu aman dan mereka cenderung mengkonsumsi setiap hari. Jika dipakai setiap hari, maka parasetamol akan terakumulasi dalam tubuh. Pada dosis besar, parasetamol dapat merusak hati/liver menyebabkan gangguan liver. Di dalam tubuh, parasetamol akan dimetabolisir menghasilkan zat radikal bebas yang bernama N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI). Dalam keadaan normal, NAPQI akan didetoksikasi secara cepat oleh enzim glutation dari hati. Pada dosis berlebih, hati tidak mampu lagi mendetoksikasinya, dan zat radikal bebas tersebut justru dapat merusak hati.

Pet Health Care Phenylbutazone Bute Banned

Peringatan pelarangan penggunaan fenilbutazon untuk manusia

Fenilbutason
Fenilbutason juga merupakan obat penghilang sakit (analgesik) seperti parasetamol, tetapi memiliki sifat yang berbeda. Obat ini sebenarnya sudah tidak banyak digunakan lagi karena efek sampingnya yang besar. Obat ini banyak digunakan untuk binatang seperti kuda.  Di Amerika, obat ini bahkan sudah ditarik dari peredaran karena banyak obat baru yang lebih aman. Efek samping khas dari fenilbutason adalah penekanan pada sumsum tulang belakang yang berfungsi menghasilkan sel-sel darah putih, sehingga menyebabkan turunnya jumlah sel darah putih. Penurunan sel darah putih menyebabkan seseorang mudah terkena infeksi. Selain itu, fenilbutason juga menyebabkan efek samping pada lambung, karena menghambat prostaglandin yang dibutuhkan untuk perlindungan selaput lendir lambung. Penggunaan yang terus-menerus dalam bentuk jamu tentu akan memberikan efek samping yang berbahaya, bahkan bisa menyebabkan perdarahan lambung. Repotnya, pasien tidak merasakan sakit pada lambungnya karena tertutupi efek fenilbutazon sebagai penghilang rasa sakit, namun tahu-tahu mengalami anemia atau tinjanya berwarna hitam (melena) akibat mengandung darah yang sudah kering.

gastrointestinal-bleeding_3

Ilustrasi perdarahan lambung yang bisa disebabkan karena pemakaian obat kortikosteroid secara kronis

Deksametason
Deksametason adalah obat golongan kortikosteroid yang memilliki efek anti radang yang kuat. Jika digunakan sesuai aturannya, obat kortikosteroid memiliki banyak kegunaan, terutama pada penyakit-penyakit peradangan, seperti rematik, asma, alergi, dan penyakit autoimun seperti lupus, sindrom nefrotik, artritis rematoid, dll. Namun di sisi lain, efek sampingnya cukup luas, antara lain adalah meningkatkan kadar gula darah (meningkatkan resiko diabetes), keropos tulang (osteoporosis), menghambat pertumbuhan anak-anak, menyebabkan gemuk pada bagian tubuh tertentu (wajah bulat/moon face, bahu seperti berpunuk), menyebabkan garis-garis merah di perut (striae), menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena infeksi, meningkatkan resiko hipertensi karena menahan garam di dalam tubuh, menyebabkan gangguan lambung (perdarahan lambung), dll. Penggunaan obat ini tidak boleh sembarangan dan perlu pengawasan tenaga kesehatan yang berwenang. Jika digunakan sesuai aturan, tentu efek-efek samping ini dapat dikelola agar tidak membahayakan. Penghentiannya pun tidak boleh secara tiba-tiba, karena juga dapat membahayakan kesehatan. Mengapa demikian ? Karena selama penggunaan kortikosteroid dari luar, produksi hormon ini secara alami dari tubuh akan terhenti. Jika penggunaan dari luar tiba-tiba dihentikan, tubuh akan kekurangan hormon ini secara normal dan akan terjadi reaksi-reaksi yang tidak diinginkan, seperti: kadar gula darah turun, tekanan darah turun drastis dari posisi duduk ke berdiri (hipotensi ortostatik), dehidrasi (kekurangan cairan), lemah, lesu, dll. Penggunaan yang tidak terkontrol dalam bentuk jamu tentu dapat meningkatkan risiko kesehatan bagi pasien. Alih-alih sehat, malahan masuk rumah sakit akibat menggunakan jamu bercampur dengan obat kimia.

Antalgin
Antalgin adalah obat penghilang rasa sakit yang juga banyak dipakai masyarakat. Ia bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin yang berperan sebagai mediator nyeri. Hampir sama dengan fenilbutazon, efek samping antalgin yang berat adalah gangguan darah yang disebut agranulositosis, yang berarti berkurangnya jumlah sel darah putih, khususnya neutrofil granulosit. Gejala agranulositosis adalah gampang terkena infeksi, tubuh terasa lemah (tidak enak badan, lemah, pusing, sakit otot), diikuti dengan terjadinya tukak pada membran mukosa, demam dan denyut jantung meningkat.

Sildenafil dan tadalafil
Sildenafil dan tadalafil adalah obat yang digunakan untuk mengatasi gangguan ereksi pada pria. Masyarakat mengenalnya sebagai obat kuat untuk pria. Banyak jamu atau obat herbal yang ditujukan untuk meningkatkan stamina pria mengandung sildenafil sebagai campurannya. Sildenafil dan tadalafil adalah obat keras yang semestinya diperoleh dengan resep dokter. Dia bekerja dengan cara melebarkan pembuluh darah penis, sehingga aliran darah ke organ tersebut lancar, sehingga menguatkan ereksi. Tetapi jika dipakai secara berlebihan, apalagi oleh orang-orang yang sedang menggunakan obat-obat antihipertensi yang bekerja melebarkan pembuluh darah juga (vasodilator), maka akan terjadi penurunan tekanan darah secara drastis dan pasien bisa pingsan, bahkan bisa menimbulkan kematian. Efek samping lain obat ini adalah buta warna, sakit kepala, pusing, hidung tersumbat, sampai dengan sakit pada kandung kemih. Alih-alih perkasa, pasien justru bisa terkapar tidak berdaya akibat efek samping obatnya.
Hati-hati memilih produk obat herbal
Dengan paparan di atas, maka dapat dipahami bahayanya mengkonsumsi obat-obat herbal yang dicampur dengan obat kimia tanpa aturan yang benar. Apalagi masyarakat sering berpendapat bahwa jamu itu aman dan bisa digunakan dalam jangka panjang. Efek obat herbal atau jamu memang pada umumnya terjadi secara bertahap (perlahan). Jika terlalu cepat atau terlalu kuat, justru boleh dicurigai adanya campuran dengan obat kimia. Kami menghimbau masyarakat untuk berhati-hati memilih dan membeli obat herbal. Belilah di apotek atau toko obat yang dipercaya. Pilihlah obat herbal yang diproduksi oleh industri farmasi yang sudah cukup dikenal, mereka biasanya tidak berani bertindak kriminal dengan mencampurkan bahan kimia obat ke dalam produk obat herbalnya.








Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 596 pengikut lainnya.