Mengenal meningitis..

9 02 2015

Dear kawan.

tulisan ini adalah re-publish dari tulisanku duluuu di blog yg sama dan di Harian Tribun, dengan sedikit modifikasi.

Sudah hampir setahun komedian terkenal Olga Syahputra diberitakan dirawat di RS di Singapura, yang katanya terkena meningitis dan kanker getah bening. Demikian juga penyanyi Ashanty, pernah diberitakan masuk RS karena meningitis. Beberapa pasien ada yang bertahan hidup setelah terinfeksi meningitis, sementara pasien yang lain meninggal. Kok menyeramkan ya? Apa itu meningitis? Bisakah kita menghindarinya? Bagaimana pengobatannya ? Artikel ini mencoba mengupasnya.

Radang selaput otak dan penyebabnya

Infeksi ardangs elaput otak

Infeksi radang selaput otak

Meningitis adalah isitlah medis dari radang selaput otak, yaitu radang pada selaput yang melingkupi otak dan korda spinalis (bagian dari sistem saraf pusat). Umumnya disebabkan oleh virus atau bakteri. Sangat penting untuk mengetahui penyebabnya apakah karena virus atau bakteri, karena keparahan penyakit dan pengobatannya akan berbeda tergantung penyebabnya. Meningitis akibat virus biasanya klebih ringan dan dapat hilang sendiri tanpa treatment spesifik. Tetapi meningitis akibat bakteri umumnya sangat parah dan dapat menyebabkan kerusakan otak, hilangnya pendengaran, dan gangguan belajar. Pada meningitis akibat bakteri, sangat penting pula mengetahui macam bakteri penyebabnya, sehingga dapat dipilihkan antibiotika yang sesuai.
Sebelum tahun 1990an, Haemophilus influenzae type b (Hib) merupakan bakteri penyebab utama meningitis bakterial. Karena itu, pada anak-anak umumnya perlu diberikan vaksinasi Hib. Adanya vaksinasi Hib ini sekarang telah banyak menurunkan jumlah kasus infeksi Hib pada selaput otak. Dan sekarang, penyebab utama meningitis adalah Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis. Selain itu, bakteri penyebab ketiga meningitia adalah Listeria monocytogenes (listeria), yang dapat ditemukan di banyak tempat, misalnya dalam debu dan makanan yang terkontaminasi, seperti keju, hot dog dan daging sandwich yang mana bakteri ini berasal dari hewan lokal (peliharaan). Belakangan bakteri Listeria ini sedang cukup ramai dibicarakan karena diberitakan mengkontaminasi beberapa jenis apel asal Amerika Serikat, yakni apel Gala dan Granny Smith.

Apa tanda dan gejala meningitis?

Gejala meningitis yg perlu diwaspadai

Gejala meningitis yg perlu diwaspadai

Gejala meningitis awalnya agak sulit dibedakan dengan gejala flu, sehingga kadang orang sering salah mengenali. Gejala umum meningitis pada mereka yang berusia di atas 2 tahun adalah demam tinggi, sakit kepala, dan kekakuan leher. Gejala ini bisa berkembang dari beberapa jam, atau mungkin sampai 1-2 hari. Gejala lain bisa berupa mual, muntah, tidak nyaman dengan cahaya terang, bingung, dan mengantuk. Pada bayi yang baru lahir atau anak-anak di bawah 2 tahun, gejala klasik seperti sakit kepala dan leher kaku seringkali agak sulit terdeteksi, karena mereka belum bisa menyampaikan keluhannya. Bayi dengan meningitis biasanya menunjukkan gejala lesu (kurang aktif), muntah, rewel, dan tidak mau makan. Dengan berjalannya waktu dan penyakit, maka pada pasien meningitis ( di segala usia) akan timbul gejala berupa kejang-kejang.

Bagaimana diagnosa dan pengobatannya?
Diagnosis dan pengobatan secara dini sangat penting. Untuk mendiagnosis adanya bakteri penyebab meningitis, perlu dilakukan pengambilan sampel dari cairan spinal dengan cara tertentu (spinal tap). Jika bakteri penyebab telah diketahui, maka dokter akan memilihkan antibiotika yang paling sesuai untuk membunuh bakteri tersebut.
Beberapa antibiotik yang sering diresepkan oleh dokter pada kasus meningitis yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis antara lain golongan Cephalosporin (ceftriaxone atau cefotaxime). Sedangkan untuk meningitis yang disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes, pilihan antibiotikanya adalah Ampicillin, Vancomycin dan Carbapenem (meropenem), Chloramphenicol atau Ceftriaxone.
Pengobatan lainnya adalah untuk mengatasi gejala yang timbul, misalnya sakit kepala dan demam dengan analgesik-antipiretik, kejangnya dengan diazepam atau fenitoin, dan lain sebagainya.

Apakah infeksi bakteri tersebut dapat menular?
Ya, beberapa jenis bakteri meningitis dapat menular. Bakteri dapat menyebar dari satu orang ke yang lain utamanya melalui kontak dengan cairan respirasi atau tenggorakan (ludah, ingus, dll), misalnya dengan batuk-batuk, bersin, atau berciuman. Untungnya, tidak ada bakteri meningitis yang dapat menular semudah penularan virus flu. Juga tidak mudah menular hanya dengan sekedar berdekatan dengan pasien meningitis. Namun demikian, orang yang merawat pasien meningitis dalam waktu lama dan sering ada kontak langsung dengan pasien, apalagi jika ada kontak langsung dengan cairan dari mulut pasien, maka ada resiko untuk terkena bakteri yang sama. Untuk itu, jika perlu bagi keluarganya diberikan vaksinasi Hib.
The Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) merekomendasikan vaksinasi meningitis pada mereka berusia 11-18 tahun. Usia praremaja (11-12 th) merupakan usia terbaik sebelum dewasa untuk menerima vaksinasi meningitis. Karena kejadian meningitis dapat meningkat pada usia dewasa, mereka yang belum pernah divaksinasi meningitis disarankan mendapat vaksinasi seawal mungkin.

Apa itu meningitis viral?
Meningitis viral adalah meningitis yang disebabkan oleh virus, dan ini merupakan jenis terbanyak dari meningitis. Meningitis viral disebut juga meningitis aseptik karena tidak ditemukan adanya bakteri dalam darah pasien. Meningitis jenis ini umumnya ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7-10 hari, dengan memperkuat daya tahan tubuh. Namun karena gejalanya mirip dengan meningitis bakterial, maka jika ada gejala-gejala serupa seperti yang disebutkan di atas, segera saja dibawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Ada beberapa jenis virus yang dapat menyebabkan meningitis viral, antara lain enterovirus (meliputi enteroviruses, coxsackieviruses, dan echoviruses), virus cacar, herpes virus (Epstein-Barr virus, herpes simplex viruses, dan varicella-zoster virus) virus campak, dan juga virus influenza. Namun untuk mengetahui apakah meningitis disebabkan oleh virus atau bakteri, tetap harus dilakukan uji kultur yang berasal dari cairan spinal pasien.
Pasien dengan meningitis viral umumnya tidak perlu pengobatan khusus, dan disarankan untuk istirahat total (bed rest), minum banyak cairan, dan pengobatan untuk mengatasi gejala saja, seperti analgesik antipiretik untuk mengilangkan rasa sakit (sakit kepala), dan menurunkan demam.

Apakah virus penyebab meningitis bisa menyebar?
Ya, virus-virus ini bisa menyebar dengan cara yang berbeda-beda. Enterovirus, yang merupakan virus penyebab meningitis terbanyak, paling sering tersebar melalui tinja penderita. Selain itu, virus ini dan virus lainnya seperti virus campak dan varicella-zoster juga dapat menyebar melalui kontak langsung maupun tak langsung dengan cairan pernafasan (air liur, ingus, dahak) dari pasien yang terinfeksi. Waktu yang dibutuhkan dari mulai terinfeksi virus sampai muncul gejala umumnya sekitar 3-7 hari.

Bagaimana caranya menghindari infeksi virus meningitis?
Beberapa cara di bawah ini dapat membantu menghindarkan dari infeksi virus meningitis:
1. Cuci tangan dengan baik dan sering, terutama mereka yang merawat atau berada berdekatan dengan pasien meningitis
2. Bersihkan permukaan-permukaan yang bisa terkontaminasi (misalnya handel pintu, remote TV, etc) dengan sabun dan air kemudian bilas dengan desinfektan atau cairan pemutih yang mengandung chlorine utk mencegah penyebaran virus
3. Tutupi mulut saat batuk, dengan tissue atau tangan. Jika menggunakan tissue, buang tisue ke tempat sampah, Jika menggunakan tangan, segera cuci tangan.
4. Hindarkan mencium pasien, atau berbagi gelas minuman, atau hal-hal yang mungkin menyebabkan penyebaran virus
5. Lakukan vaksinasi meningitis
Apa saja jenis vaksin meningitis?

Salah satu jenis vaksin meningitis

Salah satu jenis vaksin meningitis

Saat ini terdapat beberapa jenis vaksin untuk menangkal infeksi kuman Neisseria meningitidis, seperti misalnya jenis vaksin meningitis polysacharide (MPSV4) dan jenis vaksin meningitis conjugate (MCV4). Baik jenis vaksin dari MPSV4 ataupun yang dari jenis MCV4, keduanya adalah vaksin quadrivalent yang mengandung antigen untuk 4 jenis serotype kuman Neisseria penyebab penyakit meningitis, yaitu jenis serotype A, C, Y dan W135. Sedangkan serotype B yang juga dapat menyebabkan penyakit meningtis (sepertiga kasus penyakit meningitis disebabkan oleh serotype B ini) belum tercakup dalam semua jenis vaksin anti meningitis yang sudah beredar saat ini. Penelitian sedang giat dilakukan untuk nantinya ditambahkan antigen serotype B ini kedalam vaksin anti meningitis yang sudah mengandung 4 serotype (quadrivalent meningitis vaccines) ini.
Kelemahan dari vaksin jenis polisakharida ini adalah tidak bersifat T cell dependent immunity, sehingga mempunyai efektifitas yang rendah untuk bayi dan anak kecil berusia dibawah 2 tahun, juga tidak mempunyai efektifitas yang dapat bertahan lama (efek booster vaksin atau long term immunologic memory). Akibatnya vaksin meningitis jenis polisakharida ini hanya bisa diberikan pada anak yang telah berusia diatas 2 tahun dan orang dewasa, juga usia lanjut hingga diatas usia 55 tahun.

Demikian sekilas info tentang meningitis. Semoga bermanfaat.





Selalu ada blessing in disguise buat yang mau berpikir: Selamat Tahun Baru 2015

27 12 2014

Dear kawan,
Tahun 2014 hampir berlalu.. Tahun ini buatku adalah tahun yang penuh rahmat, baik yang terang maupun tersembunyi.. Bukan berarti semua berjalan mulus dan sempurna, bahkan banyak hal-hal baru dan berat.. Tapi alhamdulillah semua masih berjalan di bawah lindunganNya. Lesson learned yang kudapat adalah bahwa sesuatu yang kadang kita takutkan akan sulit dijalani, ternyata setelah harus dilalui tidak sesulit yang dibayangkan. Dan aku selalu bersyukur untuk itu karena masih diberiNya kemudahan, dan itulah memang doa yang selalu kupanjatkan. Beberapa catatan penting untukku tahun ini kudokumentasikan di sini..

Me and family year
Tahun ini lebih banyak kugunakan untuk menjalani kegiatan dan pekerjaan pribadi, karena tidak banyak terlibat lagi dalam birokrasi di kampus. Pekerjaan penelitian lumayan padat dengan beberapa proyek yang harus dikerjakan. Alhamdulillah, 2 dari manuskrip paperku sudah dipublikasi di jurnal internasional, dan 2 lagi harus aku submit ulang. Buku baruku Farmakologi Molekuler juga sudah released sekitar bulan September. Undangan-undangan dari teman-teman di seluruh Indonesia berdatangan hampir setiap bulan, dan itupun butuh pengaturan. Tahun ini aku berkunjung ke Medan, Palembang, Pontianak, Palangkaraya, Samarinda, Banjarmasin, Kendari, Makasar, dan beberapa kota lain di Jawa. Antara senang dan merasa tersanjung karena mendapat kepercayaan, sekaligus juga kadang berat harus meninggalkan anak-anak terutama si kecil Hanna yang baru berusia 2-3 tahun. Selain itu, masih pula ada kegiatan rutinitasku yang lain untuk mengajar dari S1 sampai S3, pembimbingan thesis/disertasi, dan menulis artikel-artikel kesehatan di suratkabar harian, dll.
Diantara semua momen, yang paling mengesankan tentu adalah perjuangan mencarikan Dhika, anakku yang ketiga, sekolah SD. Sebagai anak spesial, Dhika memerlukan sekolah yang sesuai dengan kebutuhannya. Dua SD sebelumnya ternyata tidak bisa menerima Dhika karena keterbatasan space. Tapi alhamdulillah, kami datang pada saat yang pas di SD INTIS (International Islam School) untuk mendaftarkan Dhika. Tinggal ada satu kursi untuk anak berkebutuhan khusus, dan kami segera saja booking tempatnya. Dan alhamdulillah, kami tidak salah pilih… dengan sistem kelas kecil (12 orang per kelas dengan 2 educators), Dhika mendapatkan perhatian yang cukup dari teman-teman dan gurunya. Yang cukup mengharukan adalah bahwa kelak teman-temannya semua sangat baik dan sayang pada Dhika di kelas, dan memahami keterbatasan Dhika.

My special son
Dhika adalah anugerah luar biasa dalam keluarga kami. Dengan keterbatasannya karena dikaruniai gangguan autisme, dia mengajari kami arti kesabaran, pengorbanan, perjuangan dan kepasrahan kepada Sang Pencipta. Dhika juga yang mengajariku kekuatan, karena Dia tidak akan memberikan beban yang tidak mampu dipikul oleh ummatNya. Sungguh aku tidak berani membayangkan sebelumnya seperti apa jika Dhika masuk SD untuk pertama kalinya nanti (yang pasti dia memang menangis keras-keras..hehe..). Belum lagi sekolahnya yang sangat jauh dari rumah. Kami harus berangkat jam berapa dari rumah, apakah Dhika bisa bangun pagi, siapa yang antar jemput Dhika jika aku tidak bisa, kasihan nanti kalau Dhika kepanasan di jalan kalau dijemput naik motor, apakah Dhika bisa mengikuti pelajaran, bagaimana terapinya, dll.
Namun alhamdulillah, ketika harus mulai dijalani… semuanya tidak sesulit yang dibayangkan. Memang tidak instan, butuh usaha dan waktu, tetapi juga tidak terlalu kesulitan. Hari pertama memang Dhika menangis dan memberontak. Aku khusus menunggunya sejak pagi sampai pulang, sambil berkenalan dengan para educatornya. Tapi alhamdulillah, hari-hari berikutnya Dhika berangsur tenang dan tidak ada masalah. Bisa bangun pagi dan segera mandi, dan aku antar ke sekolah bersama kakaknya yang juga baru masuk sekolah baru (SMP) yang tempatnya tidak begitu berjauhan. Jadilah ritme kegiatanku menjadi berubah, yakni keluar rumah jam 6:15 pagi untuk antar anak-anak sekolah. Setelah itu baru ke kampus untuk rutinitas pekerjaan yang juga butuh konsentrasi tinggi. Dan sore kembali menjemput sekolah Dhika, karena Dhika hanya mau diantar dan dijemput ibu. Sekali waktu ketika aku harus pergi keluar negeri seperti ke China dan Jepang, aku sempat bingung bagaimana harus meninggalkan Dhika. Tapi sekali lagi, alhamdulillah… semuanya dimudahkanNya.. Dhika tidak rewel dan manut sama Bapak dan pengasuh di rumah, mau diantar dan dijemput bapak atau mbak. Dhika juga mendapat pseudo-teacher yang baik dan sangat membantu. Yang aku takpernah membayangkan sebelumnya adalah bahwa Dhika juga bisa sholat dengan lancar.. hafalan suratnya sudah cukup banyak.. dan sekarang karena saking hafalnya, sholatnya suka ngebut… eit!… ga boleh ituu hehe.. Aku belajar bahwa kemajuan sekecil apapun pada Dhika, jika selalu disyukuri, akan menjadi kebahagiaan tersendiri.. Secara tidak sengaja pula aku mendapat informasi tentang tempat terapi yang bisa memenuhi keperluan Dhika, dan itu dekat sekolahnya, sehingga sangat memudahkan pelaksanaannya.. Dhika menjalani terapi sensori-integrasi, terapi wicara dan okupasi di Rumah Sahabat.

My daughter’s accident

Hasil rontgen Hannisa, patah tulang paha kiri

Hasil rontgen Hannisa, patah tulang paha kiri

Momen kedua yang takterlupakan adalah peristiwa kecelakaan Hannisa, anakku yang kedua. Siang itu ketika aku sedang bersiap akan sholat dhuhur karena sebentar lagi akan mengikuti sebuah rapat di kampus, sebuah panggilan telepon masuk ke HP-ku. “Ibu, bisa jemput Dhika tidak?” sebuah suara dari seberang sana, dari asisten rumahtanggaku yang siang itu aku minta tolong menjemput Dhika dan Hanni dari sekolah. “Lha, kamu kenapa?” jawabku. “Aku kecelakaan sama kakak Hani. Di jalan Veteran”.. Segera saja aku memacu mobilku dari kampus menuju TKP, sambil sebelumnya menjemput Dhika di sekolah. Info terakhir, mereka sudah dibawa ke RS Hidayatullah, yang kebetulan dekat dengan lokasi kecelakaan. Akupun segera menelpon suami untuk segera datang ke RS. Sesampai di RS, mereka sedang menjalani pemeriksaan rontgen… dan astgahfirullah…. tulang paha kiri Hani patah, sementara tulang selangka Irah (asisten RT-ku) pun patah ! Aku tidak bisa membayangkan kejadian kecelakaannya, tapi tentunya cukup berat jika melihat akibatnya. Tidak tahan aku melihat Hani kesakitan ketika akan dipasang spalk sementara untuk mengimobilisasi kakinya di UGD. Siang itu juga setelah dikonsulkan ke dokternya, diputuskan bahwa mereka akan menjalani operasi pemasangan pen malamnya. Saat itu juga mereka diminta untuk berpuasa untuk persiapan operasi. Perasaanku campur aduk antara sedih, cemas, dan berharap semoga semuanya akan baik-baik saja.

Tulang paha Hannisa setelah dipasang pen

Tulang paha Hannisa setelah dipasang pen

Alhamdulillah, operasi pemasangan pen keduanya berjalan lancar. Jahitannya cukup panjang, sekitar 15 cm. Saat ini Hannisa harus berjalan menggunakan kruk untuk 2-3 bulan ke depan. Betapapun berat, tetap selalu ada yang aku syukuri… Untungnya saat kecelakaan tidak kena kepala yang bisa menimbulkan cedera, untungnya segera dibawa ke RS dan mendapat penanganan, untungnya baru selesai ujian sekolah jadi tidak ada ujian yang tertinggal, untungnya lagi liburan jadi tidak banyak membolos sekolah…. dan masih banyak untung-untung yang lain. Untungnya lagi yang mengoperasi adalah dokter Adam Sp.Bedah Orthopedi yang juga berpraktek di RS Akademik UGM sehingga kami cukup kenal baik, sehingga ketika konsultasi berikutnya biayanya dikasih free hehe….( ini sih bukan yg utama, tapi cukup menghibur…) Dengan berlokasi di dekat sekolahnya, banyak teman-teman hannisa yang menjenguk di RS. Juga banyak kawan yang meluangkan waktu menengok kami.. ini sangat membesarkan hati.
Yah, tentu banyak pengorbanan dan kerugian dari kecelakaan ini… Rencana liburan yang batal, kenikmatan berjalan yang dibatasi, harus menjalani pengobatan, rehabilitasi medis, dll.. tapi alhamdulillah, Hani anak yang kuat dan tegar. Tak pernah mengeluh sedikitpun dengan kondisinya, dan ia menjalaninya dengan santai. Justru ada satu hal yang terungkap dari kecelakaan ini… yakni bahwa berdasarkan pemeriksaan sebelum operasi, kadar gula Hanni agak tinggi, sedikit di atas normal. Yah, aku bisa memaklumi karena memang Hanni agak gemuk dan suka makan. Dan kami juga punya riwayat keluarga Diabetes. Untuk memastikan lagi, maka dua minggu setelah operasi aku periksakan lagi kadar gula Hani, terutama kadar gula darah puasa (GDP) dan dua jam setelah puasa (GD pp). Kadar GDP masih lumayan tinggi (di atas 100 mg/dL), tetapi belum tergolong DM. Sementara kadar GD post prandial masih normal.  Bahkan kondisi Hani ini menambah ilmu baru buatku tentang prediabetes dan Acanthosis nigrican, sebuah bentuk hiperpigmentasi pada daerah-daerah tertentu di kulit, seperti leher, lipatan ketiak, lipatan siku, dll. Aku baru sadar bahwa warna agak gelap di leher Hani ternyata pertanda insulin yang tinggi dalam darah dan itu adalah gejala prediabetes. Kelebihan insulin akan menyebabkan sel kulit yang normal terbentuk dengan kecepatan lebih tinggi, dan sel ini mengandung melanin lebih banyak sehingga memberikan warna kulit yang gelap. Yah, apapun.. ini adalah informasi yang berharga agar nantinya bisa mengatur lagi pola makan dan aktivitasnya supaya tetap sehat dan terjauh dari penyakit DM. Aku harus lebih berdisiplin mengatur pola makannya.

Blessing in disguise = rahmat yang tersembunyi
Begitulah kawan, momen-momen utamaku tahun ini, di samping aktivitas harian yang datang silih berganti. Hidup tidak selalu mulus dan lancar, tetapi pada setiap peristiwa hidup selalu ada pelajaran dan hikmah, ada blessing in disguise/rahmat yang tersembunyi, buat yang mau memikirkannya. Semua takdir manusia telah tertulis di Lauhul mahfuz, tetapi kita tak pernah mengetahuinya sebelum itu terjadi. Dan saat belum terjadi, manusia masih bisa “memilih” sebagian takdirnya karena hidup penuh dengan pilihan-pilihan. Bisa jadi yang tertulis adalah semacam suatu rumus… “jika A, maka B… Jika C, maka D…wallauhua’lam.. Dan hasil akhirnya adalah suatu resultante dari berbagai hal..
Tetap selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa di setiap ketetapanNya, walau kelihatannya tidak menyenangkan, ada pelajaran yang baik. Bahwa kadang Allah menetapkan suatu kejadian tertentu, untuk memberikan kejadian lain yang lebih baik, yang di luar pengetahuan manusia. Dengan tahun yang baru ini, semoga menambah semangat baru untuk hidup lebih baik, move on dari keburukan dan kelalaian… menyambut kebahagiaan yang hakiki. Amiiien…
Selamat tahun baru, kawan…





Bahayanya obat herbal yang dicampur BKO, 51 produk ditarik oleh BPOM

30 11 2014

Dear kawan,

jamu-bpom-dlmTulisan ini adalah reposting tulisanku di harian Tribun Yogya hari ini. Sayangnya yang di koran tidak menampilkan daftar tabel 51 obat yang diumumkan oleh BPOM mengandung BKO karena keterbatasan space. Karena itu aku repost di sini disertai link yang bisa dibuka mengenai daftar obat herbal tersebut..

Belakangan ini jamu atau obat herbal menjadi primadona dan pilihan masyarakat sebagai alternatif pengobatan, karena dipandang aman dan harganya lebih murah. Hal ini membuat maraknya pertumbuhan industri obat tradisional dengan aneka produknya. Sayangnya, alih-alih memproduksi obat herbal yang manjur dan aman, beberapa di antara mereka berbuat curang dengan mencampurkan komponen obat herbalnya dengan obat-obat kimia, dengan tujuan agar efeknya lebih ces-pleng. Hal ini tidak dibenarkan dalam peraturan pendaftaran dan produksi obat tradisional di Indonesia. Setelah melakukan pengawasan sejak bulan November 2013 sampai Agustus 2014, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) menemukan sebanyak 51 produk Obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat (OT-BKO), dimana 42 diantaranya merupakan produk OT tidak terdaftar (ilegal). Karena itu, pada tanggal 26 November 2014 yang baru lalu, BPOM menyampaikan siaran pers mengenai beberapa produk jamu yang masuk dalam kategori tersebut dan membatalkan nomor ijin produk-produknya.  Daftar produk yang masuk kategori tersebut dapat dilihat pada tautan ini..
Berdasarkan siaran pers tersebut, diketahui bahwa obat tradisional yang dicampur dengan bahan kimia obat didominasi oleh jamu penghilang rasa sakit (pegel linu, rematik) dan herbal penambah stamina (obat kuat). Obat kimia yang paling sering dicampurkan adalah parasetamol, fenilbutason, deksametason, antalgin, sildenafil dan tadalafil sitrat. Artikel ini akan membahas bahayanya jika obat-obat kimia tersebut dicampur dalam sediaan jamu/herbal dan digunakan secara jangka panjang.
Parasetamol atau asetaminofen

metabolisme parasetamol/asetaminofen membentuk NAPQI

metabolisme parasetamol/asetaminofen membentuk NAPQI

Parasetamol adalah obat penghilang sakit (analgesik) yang sebenarnya aman jika digunakan sesuai aturannya. Obat ini banyak dijumpai pada komponen obat flu maupun sakit kepala. Jika dicampurkan ke dalam jamu, misalnya jamu pegel linu atau jamu rematik, tentu akan meningkatkan kemanjuran jamu tersebut. Jika hanya dipakai sekali dua kali memang tidak berbahaya bagi kesehatan. Tetapi masalahnya, masyarakat pada umumnya menganggap jamu itu aman dan mereka cenderung mengkonsumsi setiap hari. Jika dipakai setiap hari, maka parasetamol akan terakumulasi dalam tubuh. Pada dosis besar, parasetamol dapat merusak hati/liver menyebabkan gangguan liver. Di dalam tubuh, parasetamol akan dimetabolisir menghasilkan zat radikal bebas yang bernama N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI). Dalam keadaan normal, NAPQI akan didetoksikasi secara cepat oleh enzim glutation dari hati. Pada dosis berlebih, hati tidak mampu lagi mendetoksikasinya, dan zat radikal bebas tersebut justru dapat merusak hati.

Pet Health Care Phenylbutazone Bute Banned

Peringatan pelarangan penggunaan fenilbutazon untuk manusia

Fenilbutason
Fenilbutason juga merupakan obat penghilang sakit (analgesik) seperti parasetamol, tetapi memiliki sifat yang berbeda. Obat ini sebenarnya sudah tidak banyak digunakan lagi karena efek sampingnya yang besar. Obat ini banyak digunakan untuk binatang seperti kuda.  Di Amerika, obat ini bahkan sudah ditarik dari peredaran karena banyak obat baru yang lebih aman. Efek samping khas dari fenilbutason adalah penekanan pada sumsum tulang belakang yang berfungsi menghasilkan sel-sel darah putih, sehingga menyebabkan turunnya jumlah sel darah putih. Penurunan sel darah putih menyebabkan seseorang mudah terkena infeksi. Selain itu, fenilbutason juga menyebabkan efek samping pada lambung, karena menghambat prostaglandin yang dibutuhkan untuk perlindungan selaput lendir lambung. Penggunaan yang terus-menerus dalam bentuk jamu tentu akan memberikan efek samping yang berbahaya, bahkan bisa menyebabkan perdarahan lambung. Repotnya, pasien tidak merasakan sakit pada lambungnya karena tertutupi efek fenilbutazon sebagai penghilang rasa sakit, namun tahu-tahu mengalami anemia atau tinjanya berwarna hitam (melena) akibat mengandung darah yang sudah kering.

gastrointestinal-bleeding_3

Ilustrasi perdarahan lambung yang bisa disebabkan karena pemakaian obat kortikosteroid secara kronis

Deksametason
Deksametason adalah obat golongan kortikosteroid yang memilliki efek anti radang yang kuat. Jika digunakan sesuai aturannya, obat kortikosteroid memiliki banyak kegunaan, terutama pada penyakit-penyakit peradangan, seperti rematik, asma, alergi, dan penyakit autoimun seperti lupus, sindrom nefrotik, artritis rematoid, dll. Namun di sisi lain, efek sampingnya cukup luas, antara lain adalah meningkatkan kadar gula darah (meningkatkan resiko diabetes), keropos tulang (osteoporosis), menghambat pertumbuhan anak-anak, menyebabkan gemuk pada bagian tubuh tertentu (wajah bulat/moon face, bahu seperti berpunuk), menyebabkan garis-garis merah di perut (striae), menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena infeksi, meningkatkan resiko hipertensi karena menahan garam di dalam tubuh, menyebabkan gangguan lambung (perdarahan lambung), dll. Penggunaan obat ini tidak boleh sembarangan dan perlu pengawasan tenaga kesehatan yang berwenang. Jika digunakan sesuai aturan, tentu efek-efek samping ini dapat dikelola agar tidak membahayakan. Penghentiannya pun tidak boleh secara tiba-tiba, karena juga dapat membahayakan kesehatan. Mengapa demikian ? Karena selama penggunaan kortikosteroid dari luar, produksi hormon ini secara alami dari tubuh akan terhenti. Jika penggunaan dari luar tiba-tiba dihentikan, tubuh akan kekurangan hormon ini secara normal dan akan terjadi reaksi-reaksi yang tidak diinginkan, seperti: kadar gula darah turun, tekanan darah turun drastis dari posisi duduk ke berdiri (hipotensi ortostatik), dehidrasi (kekurangan cairan), lemah, lesu, dll. Penggunaan yang tidak terkontrol dalam bentuk jamu tentu dapat meningkatkan risiko kesehatan bagi pasien. Alih-alih sehat, malahan masuk rumah sakit akibat menggunakan jamu bercampur dengan obat kimia.

Antalgin
Antalgin adalah obat penghilang rasa sakit yang juga banyak dipakai masyarakat. Ia bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin yang berperan sebagai mediator nyeri. Hampir sama dengan fenilbutazon, efek samping antalgin yang berat adalah gangguan darah yang disebut agranulositosis, yang berarti berkurangnya jumlah sel darah putih, khususnya neutrofil granulosit. Gejala agranulositosis adalah gampang terkena infeksi, tubuh terasa lemah (tidak enak badan, lemah, pusing, sakit otot), diikuti dengan terjadinya tukak pada membran mukosa, demam dan denyut jantung meningkat.

Sildenafil dan tadalafil
Sildenafil dan tadalafil adalah obat yang digunakan untuk mengatasi gangguan ereksi pada pria. Masyarakat mengenalnya sebagai obat kuat untuk pria. Banyak jamu atau obat herbal yang ditujukan untuk meningkatkan stamina pria mengandung sildenafil sebagai campurannya. Sildenafil dan tadalafil adalah obat keras yang semestinya diperoleh dengan resep dokter. Dia bekerja dengan cara melebarkan pembuluh darah penis, sehingga aliran darah ke organ tersebut lancar, sehingga menguatkan ereksi. Tetapi jika dipakai secara berlebihan, apalagi oleh orang-orang yang sedang menggunakan obat-obat antihipertensi yang bekerja melebarkan pembuluh darah juga (vasodilator), maka akan terjadi penurunan tekanan darah secara drastis dan pasien bisa pingsan, bahkan bisa menimbulkan kematian. Efek samping lain obat ini adalah buta warna, sakit kepala, pusing, hidung tersumbat, sampai dengan sakit pada kandung kemih. Alih-alih perkasa, pasien justru bisa terkapar tidak berdaya akibat efek samping obatnya.
Hati-hati memilih produk obat herbal
Dengan paparan di atas, maka dapat dipahami bahayanya mengkonsumsi obat-obat herbal yang dicampur dengan obat kimia tanpa aturan yang benar. Apalagi masyarakat sering berpendapat bahwa jamu itu aman dan bisa digunakan dalam jangka panjang. Efek obat herbal atau jamu memang pada umumnya terjadi secara bertahap (perlahan). Jika terlalu cepat atau terlalu kuat, justru boleh dicurigai adanya campuran dengan obat kimia. Kami menghimbau masyarakat untuk berhati-hati memilih dan membeli obat herbal. Belilah di apotek atau toko obat yang dipercaya. Pilihlah obat herbal yang diproduksi oleh industri farmasi yang sudah cukup dikenal, mereka biasanya tidak berani bertindak kriminal dengan mencampurkan bahan kimia obat ke dalam produk obat herbalnya.





Mengenal virus Ebola yang mendunia

10 11 2014

Dear kawan,

Tulisan ini adalah reposting dari tulisanku yang terbit di Harian Tribun Yogya hari minggu kemarin.

Belakangan ini berita tentang virus Ebola banyak dijumpai di media masa, baik di televisi atau suratkabar. Berita tentang adanya seorang Indonesia yang suspected (diduga) terinfeksi Ebola karena dia baru pulang dari Liberia, daerah Afrika di mana virus Ebola sedang menjadi endemik cukup mengejutkan dan menyebabkan kita perlu mengenal lebih dalam mengenai virus ini. Artikel ini mengupas tentang apa itu virus Ebola, gejala penyakit yang ditimbulkannya, bagaimana penularan dan pencegahannya, dan bagaimana pengatasannya. Memang kekuatiran tentang Ebola tidak sebesar seperti ketika berita tentang virus MERS dari Arab merebak, karena orang Indonesia yang datang dan pergi ke Benua Afrika tidaklah sebanyak jamaah haji dan umroh yang bepergian ke Arab Saudi. Namun demikian, pengetahuan dan kewaspadaan tentang virus Ebola ini harus ditingkatkan. Tidak kurang RS Sardjito Yogyakarta juga sudah menyiapkan fasilitas untuk kemungkinan merawat pasien dengan penyakit Ebola.

Apa Virus Ebola itu?
ebolaVirus Ebola adalah sejenis virus yang berasal dari keluarga Filoviridae, genus Ebolavirus. Ada 5 jenis virus Ebola yang telah teridentifikasi, yaitu: Virus Ebola (Zaire ebolavirus), Virus Sudan (Sudan ebolavirus), virus Tai Forest (Tai Forest ebolavirus), virus Bundibugyo, dan virus Reston. Virus ini dijumpai pada beberapa negara Afrika, dan pertamakali ditemukan di Kongo pada tahun 1976, di dekat sungai Ebola, yang menjadi nama virus ini. Peneliti sejauh ini menduga kuat bahwa virus ini berasal dari hewan, utamanya kelelawar.

 

Wabah virus Ebola
Tahun 2014 ini tercatat dalam sejarah sebagai tahun wabah virus Ebola terbesar, terutama di Afrika barat, dan menjangkiti puluhan orang dari berbagai negara Afrika. Sampai tanggal 29 Oktober 2014, tercatat 67 kasus dilaporkan di Kongo (negara asal virus), dan 48 diantaranya meninggal. Tiga kasus Ebola yang melibatkan 3 orang Amerika yang baru pulang dari negara Afrika menyebabkan virus Ebola menjadi perhatian seluruh negara di dunia, karena adanya kemungkinan penyebaran ke negara lain. Saat ini semua negara menyiapkan kewaspadaannya untuk mencegah masuknya virus Ebola melalui penduduknya yang baru pulang dari negara-negara Afrika, terutama di negara yang sedang terjangkit virus Ebola.

Seperti apa sih penyakit Ebola?
symptom ebolaPenyakit yang disebabkan oleh virus Ebola disebut penyakit Ebola, yang dulunya disebut demam berdarah Ebola (Ebola hemorrhagic fever). Gejala penyakit Ebola adalah demam, sakit kepala berat, nyeri otot, lemah, lelah, diare, mual, sakit perut, dan perdarahan atau lebam pada kulit. Gejala dapat muncul sejak 2 sampai 21 hari sejak terpapar virus Ebola, dengan rata-rata 8-10 hari. Virus Ebola dapat menyebabkan perdarahan dengan tingkat kematian 50%. Penyebab utama kematian karena rusaknya lapisan endothelium pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan. Kerusakan ini tidak secara langsung disebabkan oleh virus Ebola, tetapi disebabkan karena terlalu aktifnya sistem pertahanan tubuh dalam mengantisipasi keberadaan virus yang masuk ke dalam tubuh. Aktivitas sistem pertahanan yang berlebihan tersebut justru mengakibatkan rusaknya beberapa organ tubuh yang penting.Kesembuhan penyakit Ebola tergantung pada terapi suportif yang diberikan serta daya tahan tubuh pasien. Pasien yang sembuh dari penyakit Ebola akan menjadi kebal terhadap virus Ebola sedikitnya untuk 10 tahun ke depan.

Bagaimana cara penyebarannya?
Karena mahluk pembawa (host retramsisi ebolaservoir) virus Ebola alami belum teridentifikasi, maka cara bagaimana virus pertama kali muncul pada manusia pada awal wabah tidak diketahui. Namun, para ilmuwan percaya bahwa pertama kali pasien menjadi terinfeksi melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar buah atau primata (kera dan monyet). Penularan dari orang-ke-orang selanjutnya akan terjadi dan dapat menyebabkan sejumlah besar orang terinfeksi. Ketika infeksi terjadi pada manusia, virus dapat menyebar dalam beberapa cara kepada orang lain. Virus Ebola dapat menular melalui kontak langsung (melalui kulit rusak atau selaput lendir, misalnya, mata, hidung, atau mulut), dengan darah atau cairan tubuh (termasuk urin, air liur, keringat, tinja, muntah, ASI, dan air mani), atau melalui benda yang telah terkontaminasi dengan virus (seperti jarum suntik). Ebola tidak menyebar melalui udara atau air, atau pun makanan. Namun, di Afrika, Ebola dapat menyebar sebagai akibat dari penanganan daging satwa liar (binatang liar diburu untuk makanan) dan kontak dengan kelelawar yang terinfeksi. Tidak ada bukti bahwa nyamuk atau serangga lainnya dapat menularkan virus Ebola. Hanya beberapa spesies mamalia (misalnya, manusia, kelelawar, monyet, dan kera) yang bisa terinfeksi dan menyebarkan virus Ebola.

Petugas kesehatan yang merawat pasien Ebola, maupun keluarga dan teman yang kontak dengan pasien berada pada risiko tertinggi untuk tertular, karena itu harus sangat berhati-hati, menggunakan perlindungan yang memadai, seperti masker, baju khusus, sarung tangan, serta pelindung mata. Setelah seseorang pulih dari Ebola, mereka tidak bisa lagi menyebarkan virus. Namun, virus Ebola dapat ditemukan dalam air mani sampai 3 bulan. Karena itu, direkomendasikan untuk menghindari hubungan seks (termasuk oral seks) minimal 3 bulan untuk mencegah penyebaran virus Ebola.

Bagaimana pengobatannya?
Sampai saat ini belum ada obat antivirus maupun vaksin yang tersedia untuk Ebola. Penyakit Ebola diatasi sesuai dengan gejala yang muncul. Misalnya untuk demam tinggi diberi obat turun panas, untuk diarenya diberi tambahan cairan untuk mengurangi dehidrasi, untuk nyeri-nyerinya diberi analgesik/obat anti nyeri, dll. Selain itu terapi suportif harus diberikan misalnya cairan infus yang sesuai untuk menyeimbangkan elektrolit, menjaga status oksigen dan tekanan darah, dan mengatasi infeksi lain jika terjadi.
Namun beberapa peneliti dalam suatu jurnal menyebutkan bahwa melatonin, suatu hormon yang secara alami diproduksi oleh kelenjar pineal mampu mengurangi terjadinya perdarahan pada penderita penyakit Ebola. Hormon melatonin sendiri mempunyai fungsi antara lain dalam pengaturan pola tidur. Namun selain hal tersebut melatonin mempunyai efek pula sebagai penangkap radikal bebas, sehingga melatonin dapat mengurangi stress oksidatif dan inflamasi yang terjadi pada lapisan dalam dari pembuluh darah. Melatonin telah dibuktikan mampu memperbaiki permebilitas pembuluh darah dan mencegah terjadinya kebocoran plasma pada pembuluh darah. Dengan demikian akan mencegah terjadinya perdarahan. Melatonin mungkin tidak dapat mencegah atau mematikan virusnya tetapi paling tidak mampu mencegah terjadinya perdarahan sehingga memungkinkan penderita penyakit Ebola mempunyai kesempatan lebih baik untuk tetap hidup.

Sumber melatonin alami selain dari kelenjar pineal terdapat pada beberapa makanan, misalkan oatmeal, jagung manis, pisang, nanas, tomat, apel, jeruk dan stroberi. Kita dapat memperkuat pertahanan tubuh dengan mengkomsumsi makanan-makanan tersebut. Beberapa herbal yang dapat menekan respon imun, seperti sirih hijau atau sirih merah mungkin dapat pula membantu mengurangi aktivitas sistem imun agar tidak meningkat secara berlebihan.

Bagaimana pencegahannya?
Karena belum ada pengobatannya, maka pencegahan menjadi sangat penting. Usahakan untuk menghindari dulu bepergian ke negara-negara yang sedang terkena wabah Ebola seperti Liberia, Guinea, Sierra Leone (penyebaran paling luas), dan Kongo. Jika Anda harus bepergian ke daerah yang sedang terkena wabah Ebola, pastikan untuk melakukan hal berikut:
1. Jaga kebersihan, misalnya, mencuci tangan dengan sabun dan air atau pembersih tangan berdasar alkohol pembersih dan menghindari kontak dengan darah dan cairan tubuh.
2. Jangan bersentuhan dengan barang-barang yang mungkin telah kontak dengan darah atau cairan tubuh orang yang terinfeksi (seperti baju, selimut, jarum, dan peralatan medis). Termasuk barang-barang yang berasal dari mayat orang yang meninggal karena Ebola.
3. Hindari kontak dengan kelelawar dan primata non-manusia atau darah, cairan, dan daging mentah yang diolah dari hewan-hewan ini.
Setelah Anda kembali, pantau kesehatan Anda selama 21 hari dan mencari perawatan medis segera jika Anda mengalami gejala Ebola. Beritahu petugas kesehatan jika Anda memiliki kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh dari orang yang sakit Ebola. Virus ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit rusak atau selaput lendir tidak terlindungi, misalnya, mata, hidung, atau mulut.

Demikian sekilas tentang Ebola. Walaupun nampaknya jauh di Afrika sana, tetapi dengan kemajuan teknologi transportasi dan dinamika masyarakat yang mengharuskan pergi dan pulang ke dan dari luar negeri, termasuk para tenaga kerja Indonesia (TKI), maka kewaspadaan dan pengetahuan tentang penyakit Ebola ini tidak boleh diremehkan.





My Note (2) : Wonderful Mt. Ishizuchi and omoshiroi Yayoi Kusama

27 10 2014

Dear kawan,
Catatan perjalananku kali ini adalah tentang kegiatanku selama week end ini. Hari Sabtu pagi aku masih menyelesaikan sedikit eksperimenku di lab, dan siangnya sudah direncanakan untuk pergi bersama Maeyama Sensei dan istri ke Gunung Ishizuchi. Hari Minggunya aku sudah janjian dengan teman Jepangku Kyoko Shibata untuk jalan-jalan di sekitar Dogo Matsuyama. Begini ceritanya….
Ke Gunung Ishizuci

Puncak gunung Ishizuchi dan warna-warni daun di musim gugur

Puncak gunung Ishizuchi dan warna-warni daun di musim gugur

Gunung Ishizuchi adalah gunung tertinggi di kawasan Jepang barat,  berlokasi di selatan Matsuyama, di antara perfecture Ehime dan Kochi. Jangan bayangkan seperti gunung Merapi yang tingginya di atas 3000 m, gunung ini “hanya” setinggi 1982 m, itu pun bukan gunung yang aktif. Dulu ketika masih kuliah, dalam perjalanan ke kampus aku sering melihatnya dari kejauhan puncaknya berselimut salju di musim dingin. Puncaknya mirip seperti ujung pedang samurai dan menjadi salah satu tempat pemujaan di Jepang dan dianggap sebagai tempat bermukimnya dewa. Kali ini aku berkesempatan ke sana bersama Maeyama Sensei dan istri, dan Rizal. Kata Sensei, aku akan bisa menikmati perubahan warna daun di musim gugur ini.

 

 

Bersama Bu Maeyama sebelum berangkat

Bersama Bu Maeyama sebelum berangkat

Kami berangkat berempat selepas dhuhur dari kampus menggunakan mobil Bu Maeyama. Bu Maeyama sendiri yang menyetir, dan cara menyetirnya halus dan enak. (aku perlu tekankan ini karena Maeyama Sensei sendiri nyetirnya kurang halus dan membuat Rizal mengalami motion sickness saat pulang hehe… ).  Beliau orangnya ramah dan penuh perhatian. Dibawakannya bekal jaket dan minuman dan snack untuk diminum di sana. Jika perjalanan jauh, beliau dan Sensei bergantian menyetir. Sepanjang perjalanan mata dimanjakan oleh pemandangan yang cantik suasana musim gugur. Yang selalu mengesankan aku jika jalan-jalan keluar kota di Jepang adalah jalan-jalan yang mulus, bersih, dan tidak jarang  jalannya menembus gunung melalui terowongan. Salah satu terowongan/tunnel yang kami lalui bahkan panjangnya 3097 m. Bayangkan susahnya ngebor gunung sepanjang itu…! Jadi perjalanan bisa lebih cepat karena seperti pakai shortcut. Ah, di Jepang itu apa yang ngga bisa dibuat… bawah laut pun digali untuk dibuat terowongan yang menghubungkan dua pulau… !!

Di Tsuchi-goya Hut, mendekati puncak gunung Ichizuchi

Melihat pemandangan sekitar puncak gunung bersama Maeyama Sensei dan ibu

Melihat pemandangan sekitar puncak gunung bersama Maeyama Sensei dan ibu

Kami parkir di sebuah parking area mendekati puncak gunung, yang disebut Tsuchi-goya Hut yg berada 1492 meter di atas permukaan laut . Dari situ perjalanan ke puncak bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 2,5 jam naik, dan 2 jam untuk turun. Tapi kami berhenti di situ saja, tidak naik ke puncak. Ga kuaat… !! Suhu di situ sekitar 14 derajat, lumayan dingin. Tau tidak.… aku sempat ketemu serombongan orang yang baru turun gunung Ishizuchi… dan itu rombongan bapak-ibu yang sudah sepuh-sepuh, tapi masih kelihatan sehat dan kuat !! Perjalanan mendaki gunung Ishizuchi sering dianggap sebagai sebuah perjalanan spiritual untuk pemujaan. Ada sebuah kuil semacam tempat peribadatan di situ, yaitu Ishizuchi shrine yang masih sering dipakai untuk upacara-upacara peribadatan.

Puncak Ishizuchi dari kejauhan... sedikit tersaput awan

Puncak Ishizuchi dari kejauhan… sedikit tersaput awan

Kami berhenti untuk sekedar minum teh dan melihat pemandangan dari atas. Beruntung cuaca cukup cerah, sehingga saat kami turun, kami sempat melihat puncak Ishizuchi yang sedikit tersaput awan. Kami sempatkan untuk mengambil gambar dengan latar belakang puncak Ishizuchi.

Menikmati serangkaian menu dengan menu utama sushi

Menikmati serangkaian menu dengan menu utama sushi

Perjalanan dari gunung ditutup dengan menikmati traditional Japanese food di sebuah restoran di Matsuyama. Kami sampai di Matsuyama hampir jam 6 sore, dan langsung meluncur ke sebuah restoran tradisional Jepang. Maeyama Sensei dan ibu mengajak kami untuk menikmati dinner di sana. Beliau tahu bahwa selama di Jepang kami tidak berani sembarang makan daging atau ayam (karena takut tidak halal karena tidak tahu cara menyembelihnya), jadi Sensei memilihkan kami makan sushi yang berisi ikan-ikan. Orang Jepang itu makan tidak hanya dengan lidahnya, tetapi juga dengan matanya… hehe.. karena itu ketika menyusun sajian untuk dimakan pasti indah dan nyeni.. Beberapa terasa agak aneh di lidah.. apalagi kalau ikan mentah. Tapi overall hmm.. oishikata… enak !! Sungguh sabtu yang berkesan… Bukan sekedar karena melihat suasana musim gugr di pegunungan yang indah, tetapi lebih pada hospitality Maeyama Sensei dan ibu yang sangat bersahabat…..

Dogo onsen dan Yayoi Kusama
Hari Minggu aku sudah janjian dengan Kyoko Shibata untuk jalan-jalan bareng. Kyoko adalah temanku orang Jepang yang suka berteman dengan orang asing. Aku mengenalnya sejak kuliah dulu di sini 14 tahun yang lalu. Kebetulan dia sarjana di bidang bahasa Inggris, jadi bahasa Inggrisnya cukup bagus. Buat aku yang tidak trampil bahasa Jepang, tentu ini sangat membantu. Tidak gampang loh mendengarkan orang Jepang berbahasa Inggris. Karena karakter konsonan mereka tidak mengenal huruf “F” dan “L”, maka pronounciation bahasa Inggris mereka kadang jadi tidak jelas, kecuali yang memang belajar dengan benar..hehe.. Sebagai contoh, ketika pertama kali aku datang ke Jepang, Sensei menjelaskan sesuatu yang aku dengar seperti kata “ Barius”…. Aku berpikir keras memahami apa yang dikatakan.. setelah agak lama barulah aku tahu bahwa yang dimaksudkan adalah “values”hadeeeh.… !! Mereka juga tidak punya vokal “E” seperti pada kata “emas”. Jadi ketika pronounce “Water”.. mereka akan menyebutnya “ Wota”.. Super menjadi supa, menyebut “color” menjadi “kara”…

Di depan Dogo Onsen yang sudah berumur ribuan tahun

Di depan Dogo Onsen yang sudah berumur ribuan tahun

Dogo onsen atau Dogo hotspring adalah tempat pemandian air panas khas Jepang yang tertua di Jepang, yakni berusia lebih dari 1000 tahun. (gila bener ya.. bisa bertahan ribuan tahun)… Di Jepang, banyak hot spring yang berasal dari air panas alami. Aku sendiri selama di Jepang belum pernah mencoba mandi air panas di onsen. Kali ini pun bukan untuk mandi, tetapi untuk melihat satu art performance di hotel Takaraso yang berlokasi di seputaran Dogo. Kebetulan saat ini sedang ada suatu penampilan seni dari seniman Jepang terkenal yang bernama Yayoi Kusama. Ia seorang disainer serbabisa yang terkenal dengan pola polkadot dan bentuk labu/pumpkin. Terus terang aku juga baru dengar sekarang ini hehe… Di Jepang itu ada saja hal-hal yang kadang tidak terbayang sebelumnya… Apa sih bagusnya pola polkadot dan labu? Tetapi ketika dijadikan suatu karya seni ternyata menarik juga…

Di kamar yag didekorasi dengan polkadot merah

Di kamar yang didekorasi dengan polkadot merah

Untuk menyaksikan hasil karyanya kami harus pesan tempat dulu dan mendapat waktu pukul 12.20 waktu setempat, bayarnya 1000 yen. Akhirnya aku dan Kyoko mendapat kesempatan masuk ke kamar yang dimaksud selama 15 menit bersama 3 orang pengunjung lain… Dan…woww... menarik dan tidak terbayang sebelumnya di kepalaku… ! Seisi kamar didekorasi dengan indah dan unik dengan pola polkadot dan pumpkin.. Tapi aku sih tidak kebayang bisa tidur di kamar hotel yang didekorasi semacam ini hehe….. Nampaknya sih seniman ini memang orangnya unik dan “gila”. Selain dekorasi kamar, ia juga mendisain baju atau T-shirt dengan motif-motif polkadot dan pumpkin yang tidak biasa… Anyway, sungguh menarik… !!

Pola polkadot dan pumpkin yg unik

Pola polkadot dan pumpkin yg unik

Salah satu ciri khas Yayoi Kusama adalah pumpkin

Salah satu ciri khas Yayoi Kusama adalah pumpkin

Selepas dari sana, Kyoko mengajakku makan siang di sebuah restoran tradisional Jepang, dan makanannya Jepang banget. Tapi jangan dikira aku ditraktir ya… kalau yang ini kami bayar sendiri-sendiri hehe.. tapi tak apalah, sudah senang bisa diajak jalan-jalan ke tempat menarik. Sorenya aku pulang naik densha ke kampus. Sayangnya aku belum sempat ketemu bapak penjaga stasiun Kume yang dulu, setiap aku lewat, beliau tidak kelihatan jadi aku belum sempatkan mampir.
Well, untuk kali ini cukup dulu ceritanya. Pekerjaan di lab menanti lagi….





My Note (1): Napak tilas ke Ehime Daigaku

24 10 2014

Dear kawan,
It is exciting time untuk menginjakkan kaki lagi ke negeri sakura, tepatnya di Ehime, tempatku belajar untuk program doktoral 14 tahun yang lalu.. Sebenarnya ini adalah kali ketiga aku berkunjung ke Ehime lagi sejak aku lulus S3 th 2001 yang lalu, yaitu tahun 2005, tahun 2009, dan kali ini. Prof Maeyama (aku menyebutnya Maeyama sensei) mengundangku tahun ini untuk visiting Ehime lagi melalui grant dari Fujii. Sebenarnya Sensei mengundangku pada bulan Juli yang lalu, tapi aku menawar untuk bulan Oktober ini. Di samping ada kesibukan lain, bulan Juli adalah bulan puasa. Berpuasa sendirian di musim panas yang siangnya lebih panjang dari malamnya di negeri orang… hadeuuuh… kalau bisa ngga usah deh… Beraat !!  :)   Aku pilih bulan Oktober karena sudah masuk musim gugur dan hawanya sejuk….

Sampai juga ke Matsuyama
Persiapan yang terberat sebelum pergi ke Jepang bukanlah apa yang harus kukerjakan di sana, tetapi menyiapkan hati untuk meninggalkan keluarga dalam waktu sekitar 2 mingguan. Terutama si bungsu Hanna yang baru 3 tahun dan selalu lengket denganku, dan kakak si bungsu, Dhika, yang setiap hari aku antar dan jemput sekolah. Belum lagi ayahnya juga baru pergi ke Turki untuk seminar dan baru pulang di hari yang sama dengan aku berangkat.. Tapi akhirnya sampai jugalah pada hari aku harus berangkat, tgl 20 Oktober 2014.
Tangisan heboh Hanna di Bandara Adisucipto mengiringi keberangkatanku ke Osaka via Denpasar. Sempat sedih dan ngga tega.. but the show must go on. Alhamdulillah, sesampai di Denpasar aku pantau kondisi rumah via BBM, anak-anak sudah tenang… Bandara Ngurah Rai menurutku kurang begitu nyaman untuk transit jika pergi keluar negeri, karena jarak antara bandara domestik dan internasionalnya cukup jauh. Lumayan ngos-ngosan juga aku berjalan, karena aku mendarat di Ngurah Rai sudah hampir jam 23, sementara boarding time untuk perjalanan ke Osaka adalah pukul 00.30 waktu setempat. Jadi tak sempat istirahat barang sejenak karena untuk mencapai gate-nya pun butuh waktu lama meskipun sudah dibantu naik golf-car. Namun syukurlah… akhirnya sang Garuda Indonesia pun melayang membawaku ke negeri sakura dan mendarat mulus di Kansai International Airport Osaka. Bersyukur juga bahwa proses imigrasi lancar sekali padahal aku pakai paspor hijau (soalnya 5 tahun lalu koperku sempat diperiksa padahal pakai paspor biru/dinas). Si petugas sekilas membaca dokumenku dan menanyakan apakah aku baru pertama ke Jepang, “Hajimete desu ka?” Aku bilang “Iie… Nihon ni bengkyo shimashita”… (tidak, dan aku pernah belajar di sini). “Sensei desu ka?” tanyanya ramah (tumben, biasanya serem-serem). “Haik, so desu ” jawabku… dan loloslah dari imigrasi… Dari Bandara Kansai aku segera naik bus ke Itami Airport, bandara domestik di mana aku akan terbang satu kali lagi menuju Matsuyama.

Yang paling kuharapkan saat sampai di Itami Airport adalah tetap keep connected dengan keluarga. Ternyata di Kansai maupun Itami tidak semudah di Bandara Incheon Korea yang di mana-mana wifi mudah didapatkan. Di Itami, ada tertulis free wifi, tapi sayangnya ketika kucoba ada password yang harus dientry-kan. Udah gitu Blackberry-ku low batt gara-gara sebelum berangkat Jogja mati lampu dan belum sampat ngecas, dan colokan yang kubawa tidak fit dengan colokan di Jepang yang ujungnya gepeng. Sempat desperate, tetapi untungnya kemudian menemukan public computer yang terkoneksi dengan internet sekaligus berfungsi sebagai charger. Tapi ngga gratis loh... per 10 menit kita bayar 100 yen. Untungnya aku bawa recehan yen sisa perjalanan sebelumnya. Yah, yang penting bisa segera berkabar ke rumah dan mendapat kabar pula dari rumah. Alhamdulillah, anak-anak semua manis dan manut selama ibu pergi…. Akhirnya aku tetap menggunakan nomor Indosatku selama di sini setelah aku set untuk dapat paket promo selama di luar negeri karena tidak mudah ternyata mencari nomer lokal di sini untuk pemakaian short term. Pasti kena roaming deh… tapi gak papalah sudah diniati, dan itu adalah bayaran untuk tetap keep in touch dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia, untuk urusan rumah dan pekerjaan..

Yang selalu aku kagumi dari Jepang adalah industri jasanya yang nomer satu. Pelayanan sangat ramah di mana-mana. Ketika di Bandara Itami aku menanyakan pada petugas tentang password wifi yang katanya free, dan mereka tidak tahu, mereka berusaha menanyakan pada yang tahu. Ketika akhirnya tetap tidak bisa connected, mereka meminta maaf dengan ramah atas ketidaknyamanannya. Bela-belain mendatangiku di tempat dudukku untuk menyampaikannya. Juga di saat lain ketika ke toko elektronik mencari spare part alat cukur jenggot pesanan suamiku, penjaga tokonya dengan ramah dan telaten melayani sampai aku mendapatkan apa yang kubutuhkan. Dalam urusan berjualan, mereka bahkan lebih Islami dari pada pedagang yang mengaku Islam… Dengan jujur mereka akan menyebutkan bahwa barang ini kurang baik atau lebih mahal, dan mencarikan altenatif lain. Atau jika ada makanan atau buah yang sudah mendekati expired time-nya, mereka memberi harga diskon. Kebiasaan yang terakhir ini yang sering aku manfaatkan dulu ketika masih tinggal di sini… Kalau belanja kebutuhan makanan, aku datang pada sore atau malam sepulang dari kampus, jadi bisa dapat harga-harga murah dengan kualitas masih memadai hehe... Maklumlah, pelajar miskin harus pandai-pandai mengirit…

Bersama Maeyama Sensei di Matsuyama Airport

Bersama Maeyama Sensei di Matsuyama Airport

Sebuah pesawat kecil berbaling-baling membawaku dari Itami Airport ke Matsuyama. Sayangnya badanku sedang tidak begitu fit, bahu dan leher pegal-pegal sampai merambat ke kepala. Sedikit pening, jadi aku tertidur saja saat di pesawat. Sesampai di Matsuyama Airport, Maeyama Sensei dan Rizal sudah menjemput. Setelah makan udon sebentar untuk lunch, aku diantar ke Guest House di Ehime Univ School of Medicine, kampusku dulu. Tidak sangat banyak yang berubah di sepanjang perjalanan dari Airport ke kampus. Suasana musim gugur sudah mulai terasa, tetapi belum sangat berbeda. Pohon-pohon yang biasanya daunnya merah di musim gugur baru terlihat kuning. Aku masih mengingat jalan-jalan yang dulu pernah kami lalui dengan bersepeda di jaman kuliah… Beberapa masih sama, namun ada yang sudah berubah. Tapi yang paling berubah adalah kampusku sendiri. Guest house yang kutinggali adalah bangunan baru. Banyak renovasi-renovasi yang dilakukan yg mempercantik kampus.
Hari pertama di Matsuyama

Guest house tempat aku menginap, berlokasi di belakang kampus

Guest house tempat aku menginap, berlokasi di belakang kampus

Guest house tempatku menginap cukup nyaman dan lengkap. Lima tahun yang lalu ketika aku datang ke sini, aku menginap di Hotel kecil di depan kampus. Guest house atau semacam asrama ini diperuntukkan untuk mahasiswa luar kota dan juga ada kamar untuk tamu. Letaknya di bagian belakang kampus dekat stasiun. Oya, kalau aku pergi kemana-mana, yang tidak boleh lepas dari perhatian adalah toiletnya..hehe.. Bagaimanapun itu adalah salah satu hajat penting dalam kehidupan manusia. Untunglah toilet di negara-negara Asia seperti Jepang, Korea dan China yang pernah kukunjungi masih menggunakan air untuk bersih-bersih. Toilet di guest house juga bagus, ada alat penyemprot air elektrik yang harus ditekan untuk menyemburkan air, dan bisa diatur kecepatan maupun arahnya. Paling tidak enak adalah kalau ke Eropa, yang model toiletnya kering dan hanya pakai tissue… haduuh, pasti harus sangu botol buat persiapan bebersih… Untuk urusan cuci baju, di depan ruangku ada ruang umum untuk mencuci baju dengan mesin cuci ber-coin.

Ehime University School of Medicine.. dua pohon itu adalah pohon Ginkgo biloba

Ehime University School of Medicine.. dua pohon itu adalah pohon Ginkgo biloba

Pada hari pertama, rasanya kaya de javu balik ke kampus lagi.  Kampus tampak lebih cantik dengan banyak renovasi. Sayangnya musim gugur masih awal, kalau sudah menjelang musim dingin, daun pohon-pohon Ginkgo biloba di sekitar kampus akan berubah warna menjadi kuning, cantik sekali. Ketika masuk Lab (Pharmacology), sempat pangling juga. Lay out di lab juga jauh berubah. Yang surprising, Maeyama Sensei sendiri yang membereskan sebagian ruangannya dan menyiapkan meja untukku selama aku di sini.. Hadeuuh, hontoni arigatou gozaimasu, Sensei…!! Jadi ketika aku datang ke lab , aku mendapat meja di ruang Maeyama Sensei. Ada nyaman dan tidaknya … soalnya satu ruangan sama Sensei. Sungkan juga kalau pas Sensei ada aktivitas di ruangannya. Di Jepang, satu profesor membawahi satu Department/Laboratory, dan bertanggung-jawab penuh terhadap kegiatan penelitian di Lab, termasuk mencarikan dana penelitian. Semakin aktif Profesornya dan semakin banyak mahasiswanya, makin makmur lab-nya. Di Lab Maeyama Sensei ada satu associate professor dan satu assistant professor. Selebihnya adalah mahasiswa bimbingannya yang mengambil S2 atau S3.  Penelitian utama Sensei adalah tentang histamine research dan seputarnya.

Bekerja dengan kultur sel fibroblast di Lab

Bekerja dengan kultur sel fibroblast di Lab

Hari pertama itu aku mulai persiapan untuk penelitian. Oya, di sini aku mengerjakan satu penelitian sederhana untuk melihat pengaruh suatu ekstrak terhadap sintesis kolagen pada kultur sel fibroblast. Untung ada Rizal yang membantu menumbuhkan sel fibroblast sebelum aku datang, jadi bisa langsung kerja. Rizal adalah mahasiswa bimbingan skripsiku dulu yang pernah kuminta bantuannya mengerjakan satu proyek penelitian kerjasama dengan sensei di Ehime, dan akhirnya malah mendapat kesempatan S2 dan S3 di sini. Aku memang sudah mengkomunikasikan sebelumnya apa yang akan aku kerjakan selama di sini. Wah, rasanya excited sekali bisa ngelab lagi di sini, dengan kondisi lab yang lengkap dan ready for use, khususnya untuk bekerja dengan kultur sel. Hari itu aku menginkubasi sel fibroblast dengan ekstrak herbal yang aku bawa dari Indonesia, dan menunggu 48 jam.
Napak tilas ke Gintengai
Hari kedua aku masih menunggu inkubasi kultur sel, jadi punya waktu untuk jalan-jalan sebentar mencari pesanan. Oya, letak kampusku di daerah Shigenobu yang terletak di pinggir kota. Jadi kalau mau ke kota Matsuyama harus naik bus atau kereta (densha). Hari ini aku ditemani Rizal naik densha ke arah kota. Harga tiket kereta bahkan masih hampir sama seperti harga tiket 14 tahun yang lalu.. Bayangkan..!! Hanya naik sedikit, yang dulunya 450 yen sekarang jadi 475 yen. Aku masih selalu terheran-heran dengan harga di Jepang. Harga-harga hampir tidak pernah berubah berpuluh tahun. Harga o-sake bento (nasi dan lauk ikan salmon) kesukaanku harganya masih di angka 300-305 yen sejak tahun 2000 dulu. Sementara di negara kita, hampir tiap bulan tidak terasa harga beranjak naik, tau-tau sudah sekian kali lipat jika dilihat dari beberapa tahun sebelumnya.

Di shopping arcade Okkaido.. masih agak sepi karena bukan hari libur

Di shopping arcade Okkaido.. masih agak sepi karena bukan hari libur

Tempat belanja semacam shoping arcade yang terkenal di Matsuyama adalah Okkaido dan Gintengai. Di sana kita bisa jalan atau naik sepeda menyusuri pertokoan yang ada di kiri kanannya. Gintengai tidak banyak berubah dari yang terakhir aku kunjungi lima tahun yang lalu. Yang menarik di sini adalah Toko 100 yen. Ada beberapa toko 100-yen yang menjual aneka macam pernik-pernik dengan harga 100 yen. Wah, toko 100-yen ini kadang membuat nafsu belanja jadi menggila…hehe.. soalnya rasanya murah, dan banyak pernik-pernik unik yang ngga ada Indonesia.. Kreatif banget dan ngga terpikir deh di Indonesia, misalnya korok kuping dari bambu yang cantik dan nyeni bentuknya, kapas penyerap ingus yg disertai mentol untuk yg lagi pilek dan buntet, semacam penjepit untuk memperlebar rongga hidung untuk mencegah ngorok, dll… hehe... Kayaknya oleh-oleh korok kuping bagus juga buat yang pada suka ngga mau denger nasihat hahaha….. simbolik dan fungsional !!

Ujung dari Gintengai adalah Matsuyama-shi Eki atau stasiun kota Matsuyama. Selesai menyusuri Gintengai, aku pun pulang ke kampus Shigenobu menggunakan densha. Ketika tadi berangkat dan melewati stasiun Kume, aku melihat Bapak tua Penjaga Stasiun Kume ternyata masih ada. Wah, padahal 14 tahun yang lalu saja beliau sudah sepuh, entah berapa umurnya sekarang. Stasiun Kume adalah stasiun langgananku dulu jika berangkat ke kampus, karena kami dulu tinggal di sekitar Kitakume. Lima tahun yang lalu aku sengaja menjumpai beliau di stasiun Kume untuk berfoto. Tapi tadi aku belum sempat menemui beliau lagi. Ngomong-omong tentang usia orang Jepang, rata-rata usianya panjang bahkan mencapai 90-an. Di mana-mana sering kujumpai simbah-simbah sedang naik densha sendiri atau belanja di supermarket.. Ibu dari Maeyama Sensei bahkan sudah 97 tahun.. Apa ngga bingung yaa mau ngapain ….
Oke, sampai sini dulu ceritaku hari ini… besok disambung lagi kalau sudah ada cerita baru…





Hati-hati menggunakan antibiotika agar tidak terjadi resistensi bakteri

5 10 2014

Dear kawan,

ini reposting tulisanku di Harian Tribun hari ini…. satu halaman penuh loh.. :)

Baru-baru ini, dalam sebuah kesempatan Ibu Menteri Kesehatan dr. Nafsiah Mboi meminta kepada Apoteker untuk tidak sembarangan memberikan atau menjual antibiotik tanpa resep dokter, karena penggunaan antibiotika yang tidak tepat dapat memicu terjadinya resistensi bakteri. Sebuah himbauan yang simpatik, tetapi Penulis berpendapat bahwa masalah resistensi bakteri tidak hanya melibatkan peran apoteker sebagai penyedia obat, tetapi juga ada dua faktor utama yang lain, yaitu pola peresepan oleh dokter yang tidak selalu tepat dan perilaku pasien sendiri yang salah dalam menggunakan antibiotika. Tulisan kali ini lebih ditujukan kepada masyarakat luas untuk lebih mengenali bakteri, obat-obat antibiotika dan cara penggunaannya yang tepat, sehingga dapat turut mencegah terjadinya risiko resistensi bakteri. Lebih mudah mengedukasi masyarakat, daripada mengingatkan dokter yang pintar-pintar hehe….

Apakah bakteri itu?

Macam-macam bakteri

Macam-macam bakteri

Bakteri adalah organisme yang sangat kecil dan berukuran mikron, yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop, sehingga disebut juga mikroorganisme. Mikroorganisme sendiri ada bermacam-macam jenisnya, antara lain adalah virus, jamur, parasit, termasuk bakteri. Bakteri dapat dijumpai di hampir semua tempat, seperti tanah, air, udara, hidup bersama dengan organisme lain (ber-simbiosis), bahkan dalam tubuh manusia. Sebagian dari mereka bersifat merugikan dan dikenal sebagai penyebab infeksi dan penyakit pada manusia, sedangkan sebagian lain ada yang bermanfaat misalnya di bidang pangan, pengobatan dan industri. Bakteri yang menyebabkan penyakit pada manusia, maupun pada hewan dan tumbuhan, disebut bakteri patogen. Beberapa contoh bakteri patogen dan penyakit yang ditimbulkannya adalah seperti di bawah ini:
No. Nama bakteri Penyakit yang ditimbulkan
1. Salmonella typhi :  Tifus
2. Shigella dysenteriae : Disentri basiler
3. Vibrio cholera : Kolera
4. Haemophilus influenza : Influensa
5. Diplococcus pneumoniae : Pneumonia (radang paru-paru)
6. Mycobacterium tuberculosis : TBC paru-paru
7. Clostridium tetani : Tetanus
8. Neiseria meningitis : Meningitis (radang selaput otak)
9. Neiseria gonorrhoeae : Gonorrhaeae (kencing nanah)
10. Treponema pallidum : Sifilis atau Lues atau raja singa
11. Mycobacterium leprae : Lepra (kusta)
12. Treponema pertenue : Puru atau patek

Bakteri masih dapat terbagi lagi berdasarkan kemampuannya mengikat pewarna Gram, sehingga ada yang digolongkan sebagai bakteri Gram negatif dan Gram positif. Kemampuannya mengikat pewarna Gram ini ditentukan oleh perbedaan struktur dinding sel bakteri. Perbedaan ini dapat menyebabkan perbedaan sensitivitas bakteri terhadap jenis antibiotika golongan tertentu. Ada antibiotika yang lebih poten terhadap bakteri Gram negatif daripada positif, atau sebaliknya, atau bisa membunuh dua-duanya.

Antibiotika dan macamnya
antibioticsGolongan obat yang bisa membunuh bakteri disebut dengan golongan obat antibiotika. Terdapat sedikitnya 4 golongan antibiotika berdasarkan mekanisme kerjanya dalam membunuh bakteri, yaitu:
1. Yang bekerja menghambat pembentukan dinding sel bakteri, contoh : golongan Penisilin dan Sefalosporin, misalnya amoksisilin, ampisilin, sefotaksim, sefiksim, seftriakson
2. Yang bekerja menghambat tanskripsi dan replikasi DNA bakteri, contoh: golongan kuinolon (siprofloksasin), rifampisin, aktinomisin
3. Yang bekerja menghambat sintesis protein bakteri, contohnya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin), aminoglikosida, tetrasiklin, kloramfenikol, dll
4. mengantagonis asam folat yg diperlukan untuk pertumbuhan bakteri, contohnya : golongan sulfa

Dari sini dapat diketahui bahwa macam antibiotika itu cukup banyak, dan masing-masing memiliki spesifikasi dan potensi terhadap jenis bakteri tertentu. Ketika seorang pasien didiagnosa terkena infeksi bakteri, maka dokter akan memilihkan antibotika yang sesuai dengan kondisi pasien (jenis penyakit, macam bakteri penginfeksi, sensitivitas kuman terhadap antibotika).

Mengapa bakteri bisa resisten/kebal terhadap antibiotika?

Proses berkembangnya bakteri yg resisten

Proses berkembangnya bakteri yg resisten

Yang dimaksud dengan resistensi bakteri adalah kondisi ketika suatu strain bakteri menjadi resisten (kebal) terhadap antibiotik. Resistensi ini berkembang secara alami melalui mutasi yang terjadi secara perlahan dan acak dan juga bisa disebabkan oleh pemakaian obat antibiotik yang tidak tepat sebagai adaptasi bakteri terhadap tekanan lingkungan. Setelah gen resisten dihasilkan, bakteri kemudian dapat mentransfer informasi genetik secara horisontal (antar individu) dengan pertukaran plasmid. Mereka kemudian akan mewariskan sifat itu kepada keturunannya, yang akan menjadi generasi resisten. Bakteri bisa memiliki beberapa gen resistensi, sehingga disebut bakteri multiresisten atau “superbug”. Resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia. Resistensi bakteri memang seperti tidak terasakan secara langsung akibatnya oleh pasien, namun baru akan terasakan dampaknya ketika seseorang terinfeksi dan tidak sembuh-sembuh setelah diberi antibiotika. Hal ini bisa terjadi jika pasien tersebut terinfeksi oleh bakteri yang resisten antibiotik, sehingga pengobatannya menjadi lebih sulit dan harus menggunakan obat yang lebih kuat dan lebih mahal dengan lebih banyak efek samping. Jika kejadian ini terakumulasi dalam sekelompok masyarakat, maka biaya kesehatan menjadi sangat meningkat.

Seperti apa penggunaan antibiotika yang tidak tepat?
Walaupun hubungan langsungnya tidak sangat jelas, tetapi banyak laporan menunjukkan bahwa ada hubungan antara penggunaan antibiotika yang tidak tepat dengan kejadian resistensi bakteri. Bakteri adalah organisme yang memiliki daya adaptasi yang tinggi, sehingga resistensi terhadap antibiotika bisa merupakan respon bakteri terhadap lingkungannya, termasuk terhadap paparan antibiotika. Alih-alih terbunuh, sebagian dari mereka justru berkembang menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut. Beberapa contoh penggunaan antibiotika yang tidak tepat dan memicu resistensi antibiotik adalah :
1. Penggunaan antibiotik berlebihan
Antibiotika tidak bisa membunuh virus. Beberapa penyakit yang sering kita jumpai seperti flu, batuk, diare, sebagian besar disebabkan oleh virus. Namun seringkali dokter meresepkan atau juga pasien berinisiatif untuk menggunakan antibiotik. Semestinya antibiotik hanya diperlukan bila flu dan pilek sudah ditumpangi infeksi sekunder oleh bakteri, dan itu dapat terlihat dari adanya tanda-tanda infeksi. Penggunaan yang tidak tepat seperti ini bisa menyebabkan bakteri yang semula “lemah” akan ber-evolusi menjadi bakteri yang “kuat” dan resisten.
2. Penggunaan antibiotik yang terputus/tidak habis
Sering terjadi pasien menghentikan penggunaan antibiotika jika sudah merasa sembuh, padahal penggunaan antibiotika seharusnya dilakukan sampai jangka waktu tertentu, misalnya 5 hari atau 7 hari. Antibiotik harus habis diminum walaupun sudah merasa nyaman. Penggunaan yg tidak habis akan membunuh bakteri yang sensitif saja, dan meninggalkan bakteri yang masih “kuat’. Selanjutnya bakteri yang masih hidup menjadi resisten/kebal dan berkembang biak, dan memerlukan antibiotik yang lebih kuat (dan biasanya lebih mahal) ketika mengalami infeksi berikutnya.

Bagaimana seharusnya?

stop penggunaan antibiotika berlebihan

stop penggunaan antibiotika berlebihan

Mengetahui hal ini maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menekan kejadian resistensi bakteri:
1. Dokter sebaiknya lebih berhati-hati dalam meresepkan antibiotika, jangan terlalu mudah meresepkan antibiotika untuk penyakit-penyakit yang lebih banyak disebabkan oleh virus. Hal ini yang kemudian sering ditiru oleh masyarakat, di mana ketika merasakan sakit yang diduga sama, dan karena dulu pernah mendapatkan resep antibiotika, maka masyarakat mencoba mengobati sendiri dengan antibiotika.

2. Tenaga kesehatan selain dokter seperti bidan, perawat, mantri, juga semestinya tidak mudah memberikan antibiotika kepada pasien.

3. Apoteker lebih berhati-hati memberikan/menjual antibiotika. Jangan memberikan/menjual antibiotika sembarangan tanpa resep dokter. Jangan gantungkan rezeki Anda di sini, Insya Allah ada sumber lain yang lebih bermaslahat bagi masyarakat. Jika menyiapkan resep antibiotika untuk pasien, sebaiknya berikan edukasi secukupnya mengenai cara penggunaan obatnya yang tepat, misalnya : harus habis, dll.
4. Masyarakat/pasien sebaiknya tidak mudah pula mengobati diri sendiri dengan antibiotika. Karena penyakit yang nampaknya sama, belum tentu demikian, sehingga sebaiknya mendapatkan diagnosa yang tepat dari dokter. Apotek menjual antibiotika tanpa resep karena ada permintaan pasien. Rangkaian proses ini perlu diputuskan. Jangan mudah apalagi memaksa membeli antibiotik di Apotek tanpa resep dokter. Jangan menggunakan antibiotik pada penyakit-penyakit ringan akibat virus seperti flu, batuk, pilek, diare.
5. Dokter dan apoteker sebagai sesama tenaga kesehatan perlu meningkatkan komunikasi yang lebih efektif terkait dengan penggunaan antibiotika. Apoteker lebih memahami mengenai antibiotik dan indikasinya, sementara dokter juga terbuka untuk diingatkan jika meresepkan antibiotika secara kurang rasional.

Demikian, semoga bermanfaat….








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 516 pengikut lainnya.