Japan Trip 2016 (2): Hiroshima Peace Memorial Museum

2 12 2016

Dear kawan,

Aku lanjutkan catatan perjalanan ini dengan perjalanan hari kedua di Jepang. Sesuai rencana, hari Minggu pagi kami check out dari hotel dan persiapan menuju ke Hiroshima. Oya, karena dari Hiroshima nanti kami langsung ke Kansai untuk menginap di sana, maka untuk tidak memberati perjalanan kami mengirim koper lebih dulu ke Hotel di Kansai. Ini adalah pengalaman pertama buatku mengirim koper dari hotel ke hotel, dan alhamdulillah tidak ada kesulitan. Kebetulan aku sudah memegang voucher Hotel Nikko Kansai Airport, jadi aku bilang ke Hotel di Matsuyama untuk mengirimkan koper kami ke Hotel di Kansai. Biaya pengiriman untuk satu kopernya adalah 1500-an yen. Pihak Hotel di Matsuyama akan mengontak Hotel di Kansai untuk pengiriman koper kami.

Menunggu Superjet bersama Maeyama Sensei

Menunggu Superjet bersama Maeyama Sensei

Dan sesuai rencana pula, Maeyama Sensei menjemput kami berempat ke hotel dan mengantar kami ke Matsuyama Port. Rizal dan Verda akan langsung naik densha ke pelabuhan. Kami akan mencoba naik kapal Superjet menuju Hiroshima. Feri Superjet berangkat setiap jam. Sebetulnya kami berencana mengambil superjet jam 9, itu makanya Sensei menjemput kami jam 8 dari Hotel. Tetapi rupanya Rizal tidak bisa mendapat densha jam 7.40 dari rumahnya, sehingga kami ngga bisa mengambil feri jam 9, karena mereka baru bisa sampai port jam 9.30an. Oke deh, ngga papa, kami sih ngga buru-buru.. tapi sempat kasihan sama Sensei pagi-pagi harus jemput kami. Semalam waktu farewell party  pasti beliau tidak berani minum banyak-banyak hehe…. takut drunken dan ngga bisa driving dengan baik. Dan aku harus bersyukur karena selama study di Jepang mendapat professor yang baik hati, bahkan sampai sekarangpun, limabelas tahun setelah aku lulus S3. Ketika aku sampaikan pada Sensei bahwa kami baru akan berangkat jam 10 dan jika Sensei ada acara lain silakan jika akan pulang dulu, Sensei bersikeras menunggu di pelabuhan sampai kami berangkat, bahkan sampai melambaikan tangan saat Feri Superjet kami mulai bergerak. Istilah jawanya mau “nguntapke”Oh, ontoni arigatou gozaimasu, Sensei.

Abis turun dari Superjet di Pelabuhan Hiroshima

Abis turun dari Superjet di Pelabuhan Hiroshima

Feri Superjet membawa kami membelah lautan menuju Pelabuhan Hiroshima dalam waktu 1,5 jam. Sebetulnya ada jenis Feri lain yang lebih murah, tetapi waktu tempuhnya lebih lama, yaitu 3 jam. Jadi kami piih yang lebih cepat. Ini menjadi moda transportasi kelima yang kami coba. Alhamdulillah, karena kami orang asing dan membawa passport, kami dapat harga special menjadi separuhnya, yaitu menjadi 3850 yen per orang. Wah, lumayan bingiit. Sayangnya Rizal dan Verda walaupun orang asing tetapi tidak bawa passport maka tidak bisa dapat potongan harga. Zan nen neee…. !!

Kereta lokal dari stasiun Hiroshima menuju Peace Memorial Museum

Kereta lokal dari stasiun Hiroshima menuju Peace Memorial Museum

Cuaca hari itu tidak begitu bersahabat, karena hujan turun seharian walau tidak deras. Tapi karena ramalan cuaca di Jepang hampir selalu tepat, hal ini sudah kami prediksi sehari sebelumnya. Jadi kami mesti bawa payung. Namun demikian, rinai hujan tidaklah menyurutkan semangat kami menjelajah di tujuan utama kami yaitu Hiroshima Peace Memorial Museum, yang dikenal dengan nama museum bom atom, untuk mengenang jatuhnya bom atom di Hiroshima tanggal 6 Agustus 1945. Dari Pelabuhan Hiroshima kami naik kereta lokal menuju museum dengan ongkos 160 yen/orang.

Di depan A-Bomb Dome di Peace Memorial Park

Di depan A-Bomb Dome di Peace Memorial Park

Sebelum masuk ke Museumnya, kami mengitari lebih dahulu Hiroshima Peace Memorial Park, atau taman di sekitar museum. Di situlah setiap tahunnya pada tanggal 6 Agustus diselenggarakan Peace Memorial Ceremony. Ada satu bangunan yang sangat khas dan menjadi tempat kunjungan favorit para pendatang, yaitu A-Bomb Dome atau Genbaku Dome. A-Bomb Dome dulunya adalah Hiroshima Prefectural Industrial Promotion Hall, satu-satunya gedung yang paling dekat dengan hiposenter jatuhnya bom dan masih tersisa pada saat itu. Sisa gedung itu kemudian dikonservasi dan menjadi saksi sejarah tragedy bom atom, dan bahkan mulai tanggal 7 Desember 1996 ditambahkan dalam daftar UNESCO World Heritage.  Waktu kami datang kesana, kami berjumpa banyak rombongan anak-anak SMP dan SMA bersama gurunya yang juga berkunjung ke sana sebagai bagian dari tugas sekolahnya.

Kapsi, Tabi dan Jeksi jalan-jalan ke Hiroshima

Kapsi, Tabi dan Jeksi jalan-jalan ke Hiroshima

Si Jeksi, kapsi dan Tabi tidak lupa juga lho berpose dengan latar belakang A-bomb Dome hehehe…..  Dari taman, kami masuk ke Museumnya. Ongkos masuknya cukup murah meriah, hanya 200 yen/orang dan untuk anak SMP gratis. Karena Hannisa masih SMP, jadi tidak kena biaya masuk museum. Museum ini didirikan pada tahun 1955 untuk menjadi media edukasi dan memorabilia tentang bom atom yang meluluh-lantakkan Hiroshima dan sebagai media advokasi tentang  perdamaian dunia. Museum ini mengkoleksi berbagai pernak-pernik (baju, sepatu, jam, dan alat-alat lainnya) dari korban bom atom yang tertinggal, foto, dan benda-benda lain yang tersisa dari tragedi bom atom, untuk menggambarkan betapa horornya suasana saat itu. Ada juga gambaran korban dengan kondisi mengenaskan akibat terkena bom atom dengan tangan meleleh. Selain itu juga ada tayangan kesaksian dari korban-korban bom atom yang masih hidup hingga sekarang, di mana saat kejadian mereka berumur sekitar 20 sampai 25-an tahun. Museum serupa sekarang sudah mulai bermunculan juga di negara kita, misalnya Museum Merapi di Yogya dan Museum Tsunami di Aceh, yang kebetulan pernah aku kunjungi.

Capek mengitari museum, kami cari makan siang dan menuju stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Osaka. Rizal dan Verda akan langsung balik ke Matsuyama, dan kami mencoba berpetualang berempat menuju Kansai Osaka. Kali ini kami memang berencana menggunakan Shinkansen, kereta api super cepat Jepang. Ini moda transportasi ke enam yang kami coba di Jepang.

Di Jepang, shinkansen termasuk moda transportasi yang banyak digunakan. Di sana, ada lima jalur shinkansen utama:

Tokaido Shinkansen, ini merupakan jalur paling penting dan padat, yang menghubungkan Tokyo dan Shin-Osaka (termasuk Nagoya dan Kyoto), dioperasikan oleh JR Central.

Sanyō Shinkansen, sambungan dari Osaka ke Fukuoka (meliputi Kobe dan Hiroshima), dioperasikan oleh JR West.

Tohoku Shinkansen, jalur Tokyo ke Utara hingga paling ujung pulau, dioperasikan JR East.

Hokkaido Shinkansen, ini sambungan dari Tohoku Shinkansen, yang menghubungkan Shin-Aomori dan Hakodate Hokuto melewati Seikan Tunnel bawah laut.  Dengan kereta Shinkansen Hayabusa membuat jalur kereta ke Pulau Hokkaido semakin ringkas.

Hokuriku Shinkansen, menyambung Tokyo ke Kanazawa (semula cuma sampai Nagano.

Afan dan Hannisa di depan moncong Shinkansen

Afan dan Hannisa di depan moncong Shinkansen

Untuk jalur Tokaido, yang paling ekspress dinamakan Nozomi yaitu paling sedikit berhentinya sehingga lebih cepat sampai. Di bawahnya adalah jenis Hikari, dan terakhir yang berhenti di semua stasiun adalah jenis Kodama. Kami mengambil shinkansen Tokaido dengan jurusan Hiroshima – Shin-Osaka. Ongkos shinkansen tidak jauh berbeda dengan pesawat. Dari Hiroshima ke Shin-Osaka ongkosnya 10.440 yen/orang, dengan waktu tempuh 1,5 jam. Kami menggunakan shinkansen Nozomi yang termasuk yang paling cepat, dengan kecepatan 270-300 km/jam, yang hanya berhenti di sedikit stasiun saja, yaitu Okayama dan Shin-Kobe. Kami beli yang reserved tiket karena itu hari minggu dan kuatir tidak dapat tempat duduk. Di Jepang, untuk shinkansen maupun kereta cepat, tersedia pilihan reserved dan non-reserved. Jika kita pilih non-reserved, nanti tidak mendapatkan nomor kursi dan bisa berebutan jika kebetulan ramai, dan kalau tidak beruntung bisa saja berdiri sepanjang perjalanan. Gerbong utk reserved dan non-reserved juga berbeda. Karena kami pendatang yang baru pertama menggunakan shinkansen, bawa anak-anak pula, aku pilih yang reserved yang buatku lebih terjamin waktu dan tempatnya. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga naik shinkansen. Dulu 15 tahun yang lalu, 3 tahun di Jepang tapi tidak sempat naik shinkansen. Maklum, masa mahasiswa itu masa pengiritan.. hehe..

Senengnya nemu udon halal di Kansai Airport

Senengnya nemu udon halal di Kansai Airport

Sesampai di stasiun Shin-Osaka, kami sempat bingung untuk mencari kendaraan lanjutannya. Akhirnya setelah bertanya-tanya, kami mengambil kereta Rapid dengan reserved seat menuju Kansai, dengan ongkos 2850 yen/orang. Cukup nyaman, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam sampai di Kansai Airport. Kami bersyukur memilih hotel Nikko Kansai Airport di dekat Terminal 1  karena tempatnya nyaman, dan akses kemana-mana sangat mudah dan dekat. Hampir semua moda transportasi standar tersedia langsung dari Kansai menuju ke berbagai kota lain di Jepang. Kami berhenti di Terminal 1, lalu tinggal naik satu lantai ke lantai 2, sampailah ke depan Hotel Nikko Kansai Airport. Di hotel kami disambut dengan ramah, dan koper kami pun sudah sampai dan langsung diserahkan kepada kami. Dan karena perut sudah berontak minta diisi, setelah chek in kami langsung menuju restoran Udon halal yang ada satu lantai dengan hotel, di terminal domestik Kansai Airport.  Alhamdulillah, Kansai Airport sekarang sudah semakin moslem friendly… sudah tersedia mushola juga serta ada restoran yang menjual makanan halal. Boleh dicoba tuh !!

Demikianlah catatan perjalananku hari kedua di Hiroshima sampai Kansai. Malam itu kami istirahat dengan nyaman, dan bersiap-siap untuk berpetualang ke Kyoto esok harinya. Nantikan cerita selanjutnya yaa…





Japan Trip 2016 (1): Matsuyama, I’m coming (again) !

1 12 2016

Dear kawan,

Akhirnya tahun ini aku berkesempatan lagi (atau tepatnya mencari kesempatan) untuk bisa berkunjung lagi ke negara matahari terbit alias Jepang. Kali ini aku bersama lagi dengan bu Triana (seperti perjalanan sebelumnya ke Korea dan China) plus dua anakku, Afan dan Hannisa. Aku memang punya target untuk minimal sekali setahun harus pergi ke luar negeri untuk menambah pengalaman dan wawasan. Dan sebagai dosen yang pekerjaannya sak-dos dan gajinya sak-sen (tapi tetap bersyukur hehe..), tentu harus punya strategi untuk bisa berjalan-jalan dengan paket hemat tanpa mengurangi kenyamanan…  Untuk itu aku harus mengikuti conference/pertemuan ilmiah dan presentasi di sana, sehingga bisa mendapat financial support dari unirvesitas. Jepang menjadi pilihan karena kebetulan bu Triana belum pernah ke Jepang, dan anak-anakku juga penyuka makanan dan budaya Jepang. Oya, aku juga tertarik ke Matsuyama karena ingin bertemu juga dengan Maeyama Sensei (profesorku dulu) yang tahun depan akan pensiun. Kapan lagi berkesempatan ke Jepang sebelum sensei pensiun. Selain itu di Matsuyama ada Rizal dan istri yang bisa jadi guide. Oiya, tentu saja untuk anak-anak aku harus merogoh kantong pribadi agak dalam walau ada juga sumbangan dari sponsor hehe… tapi kadang kekayaan itu tidak hanya berupa tumpukan uang, tapi juga pengalaman dan pengetahuan… Jadi kekayaan kita tidak berkurang, hanya berubah bentuknya. Jadi the show must go on….!  Aku menuliskan ini sebagai dokumentasi pribadiku untuk perjalanan kali ini. Tulisan ini akan diterbitkan dalam beberapa seri biar ngga kepanjangan dan jadi ditunggu-tunggu kelanjutannya… hehe. Begitu saran salah satu pembaca setia blog ini..

Sebuah event Pharmacological Meeting di Matsuyama (kota tempat belajarku dulu) menjadi salah satu destinasinya. Setelah urusan administrasi beres, termasuk visa dan lain-lain, berangkatlah kami berempat ke Matsuyama via Osaka. Kami sudah berencana untuk mengunjungi beberapa kota selama di Jepang, biar anak-anak pada punya pengalaman baru menaiki berbagai moda transportasi di sana. Cuaca di beberapa kota yang akan kami kunjungi sudah aku cek melalui ramalan cuaca, dan nampaknya cukup nyaman, berkisar antara 12-16 derajat di siang hari. Aku tidak ingin mengulang pengalaman salah kostum di Korea hehe… pakai baju seadanya pada suhu 1 derajat… !!

Perjalanan

Yeaayy! Komik Apoteker Cilik udah sampai Kansai Osaka

Yeaayy! Komik Apoteker Cilik udah sampai Kansai Osaka

Matsuyama adalah salah satu kota di Jepang yang berlokasi di Pulau Shikoku. Tidak ada penerbangan langsung kesana dari Indonesia jadi kami harus melalui Kansai International Airport di Osaka. Kami berangkat dari Yogya melalui Denpasar pada hari Kamis malam tanggal 24 November 2016, dan sampai di Kansai Airport keesokan harinya jam 8.30 waktu setempat. Perbedaan waktu antara Jepang dan Indonesia adalah 2 jam dengan Jepang lebih cepat. Alhamdulillah, urusan imigrasi cukup lancar. Oya, aku tidak lupa membawa Komik kami Apoteker Cilik… aku ingin membawanya berjalan-jalan di Jepang hehe…  Lucu aja kami berpose di beberapa kota di Jepang dengan si Jeksi, Kapsi dan Tabi di buku.

Dari Kansai kami melanjutkan perjalanan ke Itami Airport di Osaka, sebuah Bandara utk penerbangan domestik di Jepang. Dari Kansai sebetulnya ada pesawat ke Matsuyama, tetapi jadwalnya terlalu malam. Jadi lebih baik pindah bandara. Kami naik bus dari Kansai ke Itami secara gratis karena kami punya tiket penerbangan Itami-Matsuyama dan tiket penerbangan internasional ke Kansai. Lumayan bingiit ! Perjalanan dari Kansai ke Itami memerlukan waktu 70 menit. Yang selalu aku kagumi dari transportasi di Jepang adalah ketepatan waktunya. Semuanya bisa diprediksi dengan lebih tepat. Kansai Aiport sendiri berada di sebuah pulau buatan yang khusus dibuat menjadi bandara. Hm.. Jepang, apa sih yang ngga bisa dibuat… ! O,ya, bus adalah moda transportasi kedua yang kami naiki di Jepang setelah pesawat.

Matsuyama, I’m coming again !!

Pesawat All Nippon Airlines berbaling-baling membawa kami ke Matsuyama selama kurang lebih 55 menit. Cuaca hari itu cerah sekali sampai kami bisa melihat jembatan panjang Shimanami Kaido yang membentang gagah dari Pulau Honshu ke Shikoku. Matsuyama tidak begitu banyak berubah dari sejak terakhir aku datang 2 tahun yang lalu. Kami menginap di APA Hotel dekat Matsuyama castle. Anak-anakku excited sekali megunjungi Jepang yang sebelumnya hanya di lihat di TV atau movie, dan menikmati makanan Jepang yang asli di sana. Tapi untuk urusan makanan memang harus berhati-hati memilihnya, karena tidak semua halal dimakan. Untungnya kemasan makanan Jepang cukup detail mencantumkan ingredient-nya sehingga bisa diketahui isinya. Untuk urusan ini aku mengandalkan Rizal yang sudah lama tinggal di Jepang dan bisa membaca kanji.

Di depan Okaido

Di depan Okaido

Kami naik taksi ke hotel, dan ini menjadi moda transportasi ketiga yg dicoba di Jepang. Sesampainya di Hotel dan meletakkan koper, cuaca masih cukup terang dan sayang untuk dilewatkan. Jadilah kami putuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel. Untungnya hotel kami berada di pusat kota, jadi dekat jika mau kemana-mana. Kami jalan-jalan menuju shopping arcade di Okaido dan Gintengai. Ini bukan tempat asing buatku karena dulu sekali menjadi tempat andalanku untuk sekedar cuci mata saat liburan ngelab.  Oya, kalau waktu di Korea aku salah kostum, maka kali ini aku salah sepatu…uff! Sebelum pergi sempat bingung mencari sepatu yang bisa untuk acara resmi sekaligus untuk jalan-jalan di musim gugur, dan cocok untuk kakiku yang tidak bisa dibilang jenjang…  Kriteria inklusi yang sulit bukan? Akhirnya aku memakai sepatu yang ternyata bikin sakit untuk jalan-jalan. Terpaksalah aku mesti mencari alternatifnya di Okaido.. (modus dot com untuk beli sepatu baru .. hehehe).

Toko 100-yen Daiso masih jadi andalan untuk belanja. Tapi jangan salah…. walaupun kelihatannya murah. tapi toko 100-yen itu “menipu” lho…. Karena merasa murah, tahu-tahu keranjang kita udah penuh dengan aneka belanjaan karena barang di sana unik-unik dan lucu… !!  Gludak deeh… !! Ujung-ujungnya tetap saja menguras kantong !! Saat ini kurs yen adalah 128 rupiah per 1 yen.  Tapi jangan coba-coba hitung-hitung kurs sewaktu belanja di Jepang yaa, bisa-bisa kalian stress sendiri dan kepengin balik ke Indonesia.. Jalan-jalan sore ditutup dengan makan malam kare kambing halal jualannya orang Nepal. Rasanya seperti di surga saja bisa makan daging halal di Jepang… karena tidak banyak yang menyediakan…

Scientific part

Suasana saat presentasi

Suasana saat presentasi

Sabtu pagi aku dan bu Triana dijemput Maeyama Sensei di Hotel untuk dibawa ke venue acara yaitu di Universitas Matsuyama. Peserta seminar berasal dari berbagai kota di Jepang, dan tersedia tempat untuk presentasi oral dan poster, semuanya di bidang farmakologi. Entah kenapa jadwal presentasi kami dibuat seperti sandwich…. Aku di bagian awal, jam 9.00, bahkan urutan pertama, sedangkan bu Triana kebagian pada sesi terakhir jam 15.40an. Mungkin biar kami tidak langsung menghilang yaa.. hehehe…  Baiklah, akupun menjalankan tugas presentasiku selama kurang lebih 11 menit. Ada 2 pertanyaan dari audiens yang aku terima. Presentasi-presentasi berikutnya disampaikan dalam Bahasa Jepang, tapi dalam slide-nya masih terlihat beberapa yg bisa kami pahami dan semuanya sudah di tingkat advanced. Agak kecil hati sedikit sih, tapi ga papa lah… kan ini dari developing country hehe.. maklum. Kami memilih untuk tidak membuat rambut dan lidah makin keriting dengan bahasa dan tulisan kanji, maka setelah beberapa saat kami keluar, untuk kembali lagi nanti sorenya waktu presentasi bu Triana.

Traditional Japanese Food and autumn scenery in Dogo Koen

Siang itu aku janjian untuk bertemu Kyoko-san, teman Jepangku, di stasiun Okaido. Kyoko adalah gadis Jepang dari kota Imabari (1 jam dari Matsuyama)  lulusan jurusan Bahasa Inggris, jadi dia senang berteman dengan banyak orang asing untuk mepraktekkan Bahasa Inggrisnya. Tidak banyak aku jumpai orang Jepang yang Bahasa Inggrisnya bagus. Yang banyak adalah yang Bahasa Inggrisnya beraksen Jepang bingit yang bikin jidat berkerut karena harus berpikir keras memahaminya. Singkat cerita, bertemulah kami di Okaido shopping arcade, dan destinasi pertama adalah restoran Jepang. Kali ini kami naik trem (densha) menuju Okaido dengan biaya 160 yen/orang (jauh dekat sama).  Ini adalah moda transportasi ke-empat yang dicoba.

Traditional Japanese culinary yang cantik

Traditional Japanese culinary yang cantik

Restoran Jepang ini bukan yang menjual “sekedar” ramen atau udon, tetapi makanan Jepang yg lebih tradisional. Jadilah kami masing-masing memesan 1 set, yang berisi beberapa items. Sayangnya aku lupa namanya, karena semuanya ditulis dalam huruf kanji dan lupa aku memfoto menunya. Hmm…. Sajian makanan Jepang selalu cantik dalam penampilannya. Rasanyapun enak. Makanan ini semuanya berunsur sea food dan vegetables. Jangan tanya harga ya… nanti kalian ngga doyan makan hehehe….  O,ya, di Jepang itu, walaupun kalian diajak makan oleh orang Jepang, jangan terlalu berharap dibayarin… jadi tetap saja bayar sendiri-sendiri. Betsu-betsu istilahnya…. alias BDD (bayar dhewe-dhewe)

Suasana musim gugur dalam kolase buatan Kyoko

Suasana musim gugur dalam kolase buatan Kyoko

Destinasi berikutnya siang itu adalah ke Dogo Koen (Dogo Park). Taman Dogo ini menjadi tempat favorit terutama pada musim sakura, karena banyak pohon-pohon sakura di sana. Sedangkan pada musim gugur ini semua pohon sakura menjadi gundul, tetapi sebagai gantinya adalah pohon momiji (maple) yang daunnya memerah indah. Kyoko membawa kami ke taman ini untuk menikmati keindahan momiji. Dan ini juga yang membuatku bersemangat mengajak anak-anak supaya mereka bisa menikmati suasana musim gugur yang tidak pernah dijumpai di Indonesia.

Dari Dogo park, kami berjalan menuju Dogo onsen yang tidak jauh dari situ. Tapi sayangnya tidak banyak waktu tersisa karena kami harus kembali ke tempat seminar jam 3, sementara anakku Afan juga masih punya tanggungan membuat laporan praktikum yang harus diselesaikan dan dikirimkan ke Indonesia hari itu juga. Jadilah kami berpisahan di Dogo Koen. Anak-anak balik ke hotel diantar Rizal dan Verda, Kyoko kembali ke Imabari, sementara aku dan bu Triana kembali ke venue seminar di Matsudai.

bersama Maeyama Sensei dan anak-anak dalam acara Farewel party di Hotel JAL

bersama Maeyama Sensei dan anak-anak dalam acara Farewel party di Hotel JAL

Malamnya kami diundang untuk acara farewell party dari Seminar tersebut di Hotel JAL Matsuyama. Pada acara itu diumumkan para pemenang presenter dan poster terbaik, serta penutupan acara secara resmi. Wah, pestanya terlihat sangat resmi, hampir semua yang hadir menggunakan jas dan berdasi. Tersedia aneka makanan dan minuman, tapi sayangnya tidak banyak yang bisa kami makan. Tapi cukuplah untuk memiliki pengalaman mengikuti pestanya orang Jepang buat anak-anak. Untungnya di depan hotel ada convenient store Seven Eleven, jadi kalo kelaperan bisa beli onogiri di situ hehehe…

Demikianlah cerita hari pertama di Jepang. Malamnya kami akan bersiap-siap menuju Hiroshima besok pagi. Jadi tunggu cerita selanjutnya yaa….





Menulis itu katarsis…..

9 11 2016

Judul postinganku kali ini agak ngga biasanya yaa hehe.. ..Yah, kata orang membuat judul tulisan itu harus “eye catching”, biar orang tertarik membacanya…  Aku sedang teringat saja bahwa bulan ini blog ini sudah berusia 8 tahun lebih dikit. Aku memulainya bulan Oktober 2008. Ternyata sudah cukup lama juga menemani perjalanan hidupku, mendokumentasikan isi kepalaku. Aku buka lagi postingan awal, yang kadang hanya pendek-pendek saja, kadang cerita keseharian dan pengalaman, atau sekedar pendapat. Banyak cerita yang sudah kutulis, baik tulisan ringan tentang perjalanan, atau tulisan serius tentang obat dan kesehatan. Sungguh, menulis itu sebenarnya suatu katarsis…. suatu pelepasan…. bagi ide, pikiran, perasaan….  Rasanya plong kalau sudah menulis, entah itu dipublikasikan atau hanya untuk kalangan terbatas… Menulis juga mengasah untuk berpikir sistematis dengan alur logis…

Dulu waktu masih rajin menulis, aku targetkan dalam seminggu harus ada satu tulisan. Tetapi semakin kesini, tuntutanku terhadap tulisanku sendiri semakin besar. Follower dan pembaca makin banyak, aku tidak mau juga asal menulis karena nanti akan menjadi referensi pembaca. Dan ternyata untuk menulis juga butuh membaca lagi.  Jadinya malah blog-ku lama kosong tanpa tulisan…  Dan “sibuk” menjadi alasan klasik… hmm….
Makanya aku coba menulis lagi, yang ringan-ringan saja…supaya blog ini tidak kehilangan ruhnya..  dan juga sebagai katarsis…

Alhamdulillah, urusan tulis menulis, beberapa genre buku sudah aku hasilkan. Dari yang serius dan ilmiah untuk referensi kuliah macam buku Farmakologi Molekuler (yang menurutku merupakan masterpiece-ku),  buku ilmiah popular semacam Bijak Memahami Masalah Kesehatan, sampai Komik Apoteker Cilik utk anak-anak (yang cukup fenomenal)..hehe..  Tapi sebetulnya ada satu cita-cita yang belum kesampaian yaitu menulis cerita fiksi semacam cerpen atau bahkan novel. Aku selalu terkagum-kagum dengan para penulis novel dengan imajinasinya yang luar biasa, seperti Andrea Hirata dan Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik). Aku memiliki hampir semua novelnya yang selalu best seller.  Mereka bisa menulis setting cerita dengan sangat detail dan akurat sampai seolah-olah kita berada di dalamnya dan bisa membayangkannya… Ceritanya juga kadang tidak terprediksi ending-nya…. Asyik banget bacanya..

Tapi sebetulnya … ehm…. aku punya sedikit bakat sastra juga lho….. Dulu waktu SMA sering ikut lomba baca puisi.. Nulis puisi dikit-dikit juga bisa. Jadi ingat salah satu puisiku yang beraliran romantik saintifik hehe.. ini aliran puisi ciptaanku sendiri… yg kutulis di salah satu artikelku tentang Science of Love  sekitar 7 tahun yang lalu. Mau baca lagi?

Duhai separuh jiwaku,

Memandangmu, adrenalinku terpacu

Mengaktivasi saraf-saraf simpatisku..

Takikardi, salivasi terhenti…

Dopamin pun mengiringi

membuatku addiksi

tak ingin kau pergi..

Serotonin berkurang

wajahmu tak mau hilang

Catatan: Ini puisi ala dosen mata kuliah Farmakoterapi Sistem Syaraf Pusat hehe…. jadi penuh dengan neurotransmitter..

Udah dulu ah… mau fokus yang berat-berat lagi nii list to do-nya udah panjang..

Sampai ketemu di postingan lain…

sunshine-north-stairs





Menangkap Momentum : Story behind the Comic

30 09 2016

Dear kawan,

the-real-comicAda beberapa hal yang mendorongku untuk bercengkerama lagi dalam tulisan di blog ini, yang telah lama tak tersentuh. Pertama, aku ingin berbagi cerita tentang komik baruku yang ternyata secara mengejutkan cukup fenomenal di jagad kefarmasian.  Cetakan pertama sebanyak 1000 exp nyaris habis dalam waktu dua minggu setelah terbit. Alhamdulillah… Ini di luar prediksi kami.  Kedua, dan ini sebenarnya pendorong utama… seorang pembaca setia ternyata merindukan tulisan-tulisanku lagi hehe…. Dorongannya untukku menulis lagi di blog ini membuatku jadi semangat.  Katanya, menulislah pendek-pendek saja, tapi rutin, jadi bisa meluangkan waktu untuk menulis… Dan kalau pendek-pendek, pasti akan dinanti kelanjutannya oleh para pembaca setia…  Hmm.. bener juga ya… baiklah akan kucoba…

Sesuai judulnya tentang momentum… tulisan ini adalah sedikit cerita betapa kadang sesuatu itu bisa berhasil ketika mendapatkan momentum yang tepat. Yang kumaksud adalah tentang Komik Apoteker Cilik yang kami gagas… yang alhamdulillah mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat.

Program memperkenalkan tentang profesi apoteker pastinya sudah banyak digagas dan dijalankan teman-teman sejawat di berbagai daerah. Melalui kelas inspirasi, penyuluhan oleh mhs KKN, pengabdian masyarakat para apoteker, dll. Tapi entah kenapa, program Apoteker Cilik yang kami gagas justru yang tertangkap oleh media dan masyarakat, dan seolah-olah itu adalah hal baru. Itu bisa dilihat dari banyaknya pemberitaan di media suratkabar/media online tentang “Dosen UGM gagas Apoteker Cilik “. Begitu kira-kira bunyinya di media. Padahal sebenarnya itu bukanlah ide baru, hanya mungkin kemasannya saja yang berbeda. Salah satu yang menonjol adalah adanya Komik Apoteker Cilik yang kami garap secara serius, yang sebenarnya hanya merupakan salah satu alat saja dalam program Apoteker Cilik. Momentumnya adalah era teknologi informasi yang membuat kita bisa dengan mudah menyebarluaskan informasi dan gagasan… sehingga ketika kita membuat sesuatu yang biasa, mungkin bisa menjadi luar biasa ketika dilepas pada saat yang pas… Juga momentum berkumpulnya para apoteker se Indonesia di Jogja dalam rangka Pekan Ilmiah Tahunan IAI, ini juga kami incar sebagai momen launching komik… yang sayangnya saat Pameran berlangsung  komiknya malah sudah mulai habis karena banyaknya pesanan sebelumnya.

Sampel bagian dalam Komik

Sampel bagian dalam Komik

Tapi  momentum saja tentu tidak cukup..  produknya juga harus bagus. Alhamdulillah,  banyak yang menyebut komik kami enak dibaca, bahasanya mudah dipahami, dan gambarnya bagus. Kebahagiaan penulis itu adalah ketika karyanya diterima. Segala jerih lelah terbayar rasanya.

             The story behind the comic bukanlah hal yang pendek dan mudah. Pertama, kami harus meyakinkan penerbit bahwa komik ini dibutuhkan dan akan disukai masyarakat, terutama sasaran kami yaitu anak-anak. Penerbit juga melakukan studi kelayakan pasar dulu sebelum akhirnya memutuskan akan menerbitkan komik ini. Kedua, kami harus mencari illustrator yang bagus karena aku sendiri ngga bisa menggambar. Tahu tidak.. untuk mencari illustrator yang bagus, aku sampai membuat semacam audisi. Dari sekian banyak illustrator yang ikut audisi, akhirnya kami  mendapatkan satu illustrator yang cocok dengan selera kami. Semula kami berpikir bahwa sebaiknya ilustratornya punya back ground farmasi supaya lebih paham dengan konten komiknya tentang obat.  Tapi sayangnya yang punya background farmasi gambarnya tidak begitu sesuai dengan keinginan kami. Akhirnya  kami mendapatkan satu illustrator yang cocok, tanpa latar belakang farmasi. Tapi justru ada blessing in disguise….. yaitu bahwa dengan background non-farmasi justru memaksa kami untuk bisa menjelaskan  dengan bahasa yang awam, karena selama proses menggambar  illustratornya kebetulan juga banyak bertanya sehingga  kami dituntut bisa menjelaskan tentang obat dengan bahasa yang sederhana dan mudah.   Ketiga, tidak mudah membuat kalimat-kalimat pendek tapi bisa menyampaikan pesan yang diinginkan. Kesulitannya adalah keterbatasan space dalam balon-balon yang berisi kalimat… tidak boleh terlalu panjang, juga mengatur urutan balon supaya percakapan mengalir baik. Juga ada keterbatasan halaman komik sendiri secara keseluruhan supaya tidak terlalu tebal.

Over all, pembuatan komik ini sendiri sungguh suatu pengalaman unik dan berbeda… karena biasa berbicara dan menulis dengan bahasa ilmiah yang tinggi di kampus, tiba-tiba bahasanya harus dikonversi  menjadi bahasa awam, apalagi dalam bentuk komik untuk anak-anak. Terimakasih banyak untuk yang telah terlibat : bu Triana (co-author), Mas Wahyu (illustrator), Mbak Flora (editor), dan juga adik-adik mahasiswa PIOGAMA yang membantu membuat prototype-nya pada awal ide ini digulirkan. Alhamdulillah, rasanya excited banget setelah komik jadi dan ternyata banyak yang suka.  Oiya, tadinya mau dibuat langsung 3 seri lho.… tapi akhirnya Penerbit memutuskan satu seri dulu untuk uji pasar. Jika respon pasar positif terus seperti ini, insya Allah akan ada seri berikutnya… amiin.

Demikianlah sedikit saja tulisanku, memenuhi saran pembaca setiaku hehe….  Bagian penutup ini aku pakai untuk promosi saja.  Buku Komik Apoteker Cilik dengan judul “Yuk, Kenali Obat”, dengan harga Rp 35.000,- dapat diperoleh pada showroom Penerbit Kanisius, di toko-toko buku, atau bisa dipesan melalui aku sendiri.Nantinya juga bisa dipesan di PIOGAMA. Jika pesan melalui aku, silakan pesan melalui WA no 08156854012, buku akan dikirim ke alamat. Komik kami dalam dua minggu setelah terbit sudah tersebar ke pembacanya di seluruh Indonesia, mulai dari Pulau Sumatra sampai Papua. Mohon maaf bagi yang belum kebagian komik pada cetakan pertama, saat ini sudah proses cetakan kedua. Terimakasih buat yang sabar indent dan menanti kiriman. Semoga komik kami bermanfaat. Amiiin… .

Sampai ketemu di postingan lain yaa…

Thanks to my sunshine for the encouragement





Farmasi Klinik… riwayatmu dulu, dan perkembanganmu sekarang…

13 07 2016

Dear kawan,

clin farmBeberapa waktu belakangan ini muncul diskusi-diskusi hangat antara pembagian peran dokter dan apoteker. Sempat ada pula yang menyebut bahwa penyebabnya adalah “farmasi klinik”, yang membuat apoteker jadi “ikut-ikutan” berhubungan langsung dengan pasien. Bukannya apoteker itu pekerjaannya cuma ada di balik etalase obat ? begitu pendapat sebagian. Bahkan sebagian apoteker masih ada yang berpendapat bahwa Apoteker adalah tenaga kesehatan, tetapi bukan kategori jenis tenaga medis. Sehingga Apoteker tidak berhubungan langsung dengan pasien terkait dengan proses penyembuhan penyakit….

Well, tentu kesimpangsiuran pendapat ini perlu diluruskan… Dan mau tak mau perubahan paradigma apoteker menjadi berorientasi pasien harus dijelaskan lagi, yang mana kemudian dikenal dengan istilah Farmasi Klinik. Mungkin sebagian masyarakat termasuk tenaga kesehatan banyak yang masih awam dengan istilah farmasi klinik. Tulisan ini adalah re-writing tulisanku tahun 2008 yang mencoba menguraikan sejarah munculnya Farmasi Klinik, yang mulai muncul di tahun 1960-an di Amerika. Riwayat detail perkembangan farmasi klinik di Amerika dapat dilihat di sini : https://pharm.ucsf.edu/history-cp/1965-1972   di mana salah satu pioneernya adalah School of Pharmacy UCSF.

Salah satu penerus “gerakan” Farmasi Klinik di Amerika adalah ibu Koda Kimble, yang pernah menjadi Dekan pada School of Pharmacy University of California di San Francisco) pada tahun 1998 – 2012.  Menurut beliau,  praktek apoteker di Amerika pada saat itu (1960-an) bersifat stagnan. Pelayanan kesehatan sangat berpusat pada dokter. Kontak apoteker dengan pasien sangat minimal. Ada istilah yang digunakan beliau untuk menggambarkan lulusan farmasi pada saat itu yaitu : Over-educated, Underutilized, Apathetic, Isolated, Inferiority complex. Itu keadaan di Amerika tahun 1960-an. (Lho…kok mirip seperti keadaan di Indonesia sekarang ya……. hehe.. pliss deh!… Mudah-mudahan enggak lah.) Karenanya, para pioneer Farmasi Klinik saat itu memunculkan suatu wacana baru untuk pekerjaan kefarmasian. Upaya-upaya awal yang akan dilakukan adalah:

Focus on the Patient

  • Pharmaceutical centers
  • Patient record systems
  • OTC counter-prescribing
  • Counseling on prescription drugs
  • Emergence of continuing education

Therapeutic approach

Pathophysiology

Symptom management

Tapi saat itu wacana itu juga tidak mudah diterima. Mengapa? Belum ada role model!

Tapi para pioneers tersebut tidak mudah menyerah. Pada tahun 1965, farmasis di UCSF mengusulkan suatu proposal ke pimpinan rumah sakit sbb:

  • School will establish a staff “Drug Stations” on the hospital wards
  • Will relieve nurses of certain drug-related duties
  • Will make it possible for the physician, if he so wishes, to discuss drug usage with the pharmacist at the time the decision is being made
  • Will provide students with experience in applying classroom knowledge to practical aspects of drug usage in therapeutic situations

Seperti apa kesan-kesan yang muncul  ketika program ini pertama kali dilaksanakan?

Bu Koda Kimble menggambarkan sebagai berikut :

  • Physician confusion

Pharmacist presence on the wards

Pharmacist intrusion on drug prescribing

Dokter-dokter agak bingung, “ lho… kok apoteker masuk ke bangsal-bangsal?” Kok apoteker ikut campur urusan peresepan obat ya ?”

  • Nurse enthusiasm

Quick access to medicines

Pharmacist drug expertise

Tapi para perawat malah senang dan antusias, karena mereka bisa lebih cepat mendapatkan pelayanan obat, sudah siap pakai lagi, karena disiapkan oleh apotekernya. Perawat juga merasakan bahwa urusan obat memang keahliannya apoteker, jadi mereka bisa lebih focus pada perawatan pasien.

  • Pharmacist exhaustion

Long hours, rapidly expanding roles, new knowledge

“Continual mental pressure to perform at a very high level at all times.”

Tapi apotekernya lumayan kecapekan….. waktu kerjanya jadi lebih lama, perannya jadi bertambah dan berubah dengan cepat, perlu pengetahuan baru. Selain itu juga terdapat semacam tekanan mental juga, karena mereka mesti berada pada kondisi prima dalam pelayanan. Mesti siap setiap kali dibutuhkan.

  • Visitors dubious

Impressed

An “ivory tower” phenomenon

Pasien atau pengunjung masih ragu-ragu, tapi mereka terkesan. Apoteker yang semula seperti ada di “menara gading” kini mulai turun ke bumi……

Singkat cerita, setelah melalui perjuangan yang berdarah-darah, maka kini profesi apoteker mendapat tempat yang sangat layak di sana. Dan “gerakan” farmasi klinik ini makin menyebar luas ke berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Sayangnya, nampaknya wacana farmasi klinik ini belum banyak dipahami, apalagi diterima, oleh sebagian dokter. (walaupun alhamdulillah, aku mengenal beberapa dokter yang sangat kooperatif dan bisa menerima farmasi klinik).  Mereka memandang apoteker tidak perlu ikut-ikut campur menemui pasien. Apalagi turut dalam proses terapi. Persis deh..kayak dokter-dokter jaman dulu di Amerika hehe…… (jadi kayaknya kita nih hidup seperti keadaan di AS 50-an tahun yang lalu…). Tapi tentunya apoteker juga harus introspeksi….   jangan berharap dokter bisa segera menerima keberadaan apoteker, kalau performa apoteker sendiri masih meragukan….. jangan-jangan apotekernya sendiri  juga belum siap berubah dan mengambil peran baru yang lebih signifikan dalam pelayanan pada pasien. Atau sebaliknya, ada sebagian dokter menjadi gerah karena apotekernya kepedean dan kebablasan menangani pasien…  Haloo, bagaimana nih sejawat ??

Nah, seperti yang sering disebut-sebut, maka filosofi pelayanan farmasi klinik adalah “pharmaceutical care” (asuhan kefarmasian). Care itu bisa berarti peduli….. artinya, seorang apoteker mesti  peduli dan penuh empati pada pasien, sehingga pasien bisa merasakan manfaat keberadaannya. Asuhan kefarmasian ini sebenarnya bisa dilaksanakan di mana-mana, di RS, apotek, atau di tempat lain. Yang perlu dipahami adalah apoteker dan dokter memiliki kewenangan masing-masing, yang bertujuan sama mulianya yaitu untuk mendapatkan outcome terapi yang optimal bagi pasien. Perlu kehati-hatian untuk tidak sampai seperti “berebut wewenang dan berebut lahan”, karena semuanya memang memiliki persamaan sasaran yaitu  pasien. Sebaiknya bisa mengubah mindset menjadi “berbagi risiko dan tanggung-jawab” sekaligus berbagi rezeki… hehe...

Dalam hal peran apoteker bagi pasien, aku punya sedikit cerita… Suatu hari beberapa tahun lalu, seorang mahasiswa bimbingan thesisku, bu Nurjanah namanya, datang menemuiku untuk konsultasi thesisnya. Ia mahasiswa Magister Farmasi Klinik UGM yang berasal dari Sulawesi Tenggara. Oya, thesisnya mengambil topik Kajian penggunaan obat antihipertensi pada pasien jantung di sebuah RS di Kendari. Waktu konsultasi thesis, sempatlah dia ngobrol tentang pengalamannya selama mengerjakan thesis. Katanya, gara-gara dia mengerjakan thesisnya, ia malah sekarang jadi laris dicari pasien untuk konsultasi obat hehe…. Ceritanya, dalam mengambil data, ia langsung mewawancarai pasien. Suatu kali ada pasien subyek penelitiannya yang mengeluhkan bahwa setelah mengkonsumsi sekian macam obat antihipertensi, kok sekarang “ayam jagonya” jadi ngga bisa berkokok lagi, alias impoten. Pasien itu menduga bahwa ada salah satu obat  yang menyebabkan impotensi tadi, dan ia pun berkonsultasi pada apoteker kita tadi, bagaimana jika ia menghentikan obat tersebut, boleh apa tidak. Bu Nurjanah lalu memeriksa macam obat-obat yang diterima pasien, dan ternyata memang ada sejenis antihipertensi golongan beta bloker yang memang sering dilaporkan menyebabkan impotensi. Beliau menyarankan kepada pasien utk berkonsultasi ke dokter, bagaimana jika mengurangi dosis obat tersebut. Apa yang terjadi ? Seminggu kemudian, sang pasien menemui ibu kita tadi dengan sumringah, dan katanya, “Terimakasih, bu…. saya sekarang sudah hidup lagi…”   hehe……

Aku rasa, ini adalah salah satu bentuk pelayanan kefarmasian yang bisa bermanfaat bagi pasien. Aku turut bangga, teman-teman sejawat sudah mulai banyak menggunakan ilmunya untuk membantu pasien, yang pada gilirannya akan memberikan kesan positif terhadap keberadaan apoteker. Dan apoteker di Sulawesi Tenggara bolehlah dicontoh semangatnya, katanya saat ini sedang memperjuangkan untuk mendapatkan insentif dari Gubenur dengan besaran yang sama dengan dokter dan dokter gigi, tentunya setelah kinerjanya memberikan asuhan kerfarmasian dirasakan gunanya. Dan satu hal lagi… Kepala Dinas Kesehatannya apoteker loo…!  Jadi, siapa bilang apoteker tidak diperlukan lagi ?

Kaitannya dengan peranan farmasis klinik dalam menghemat biaya pengobatan pasien, aku juga punya cerita lain. Tapi kali ini berasal dari penelitian sejawat, yaitu bu Fita. Penelitiannya menjumpai bahwa ternyata banyak “unnecessary drug therapy” yang dijumpai di RS. Oya, untuk menentukan bahwa suatu obat benar-benar diperlukan pasien atau tidak, beliau bekerja sama dengan klinisi (dokter) senior untuk meng-assess, yaitu dengan mengamati kondisi medis riil pasien dan mengecek obat-obatan yang digunakan. Dan begitulah…. ternyata banyak obat yang diresepkan yang sebenernya tidak benar-benar diperlukan, dan jika itu dikonversi ke biaya, tenyata banyak biaya-biaya pemborosan yang mungkin memberatkan pasien. Kalau saja farmasi kliniknya sudah aktif, dokternya mau bekerja sama dengan apoteker dalam proses  terapi pasien, mungkin akan banyak biaya-biaya yang bisa dihemat. That’s still a dream…… I hope it will come true….

O,ya… paragraf bagian sini adalah iklan hehe…… Sebagai Ketua Program Studi Magister Farmasi Klinik UGM, kami mengundang sejawat untuk sama-sama menambah bekal ilmu dan meningkatkan ke-pede-an dengan belajar di Magister Farmasi Klinik UGM, supaya nanti bisa lebih pede dan profesional dalam menjalankan pekerjaan kefarmasiannya.  Di era akreditasi RS versi JCI, peran apoteker klinis semakin dibutuhkan. Mereka wajib turut mengases pasien sesuai dengan kompetensinya dalam hal obat. Jangan sampai kesempatan untuk berperan tadi menjadi kontraproduktif ketika apoteker salah dalam menjalankannya karena kekurangan ilmu. Farmasis klinik, gitu loh…… !!  Kita akan bersama-sama mendorong gerbong pharmaceutical care di Indonesia…  Bismillah.. semoga Allah meridhoi… Amiin





Mengapa orang bisa kecanduan NAPZA?

23 05 2016

Dear kawan,

seandainya waktu sehari bisa lebih dari 24 jam, pastilah blog ini bisa lebih terawat. Sebenarnya sedih juga membiarkannya kosong sekian lama, tapi memang akhirnya harus membuat skala prioritas untuk berbagai pekerjaam yang ada, termasuk pekerjaan domestik di rumah. Dan maaf yah... blog ini masuk di nomor buncit dari daftar prioritas…

Okay, baiklah… tidak usah mendayu-dayu… langsung saja deh kalau mau menulis hehe…. Postingan kali ini adalah re-publish dari tulisanku di Harian Tribun hari Minggu tanggal 22 Mei kemarin, dengan slight modification. Tulisan ini berangkat dari keprihatinan mengapa berita tentang jatuhnya sekian banyak korban miras masih saja terulang…. juga berita artis ini atau pejabat itu yang terlibat penggunaan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lain)… Dan tentu saja itu hanyalah fenomena gunung es di mana kasus yang sebenarnya jauh lebih banyak dari yang diberitakan. Kebetulan pula beberapa waktu yang lalu aku diundang oleh Subdit Pengawasan Prekursor, Direktorat Pengawasan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif BPOM untuk menjadi narasumber dalam sebuah pertemuan di Pontianak, di mana aku diminta berbicara tentang farmakologi dari obat-obat yang sering disalahgunakan. Dan tau tidak kawan… karena narkotika dan psikotropika sudah makin ketat pengawasannya, para abuser mencoba mencari obat-obat lain yang disalahgunakan, yaitu tramadol, haloperidol, amitriptilin, triheksifenidil dan klorpromazin. Miris bukan? Obat-obat ini sekarang digolongkan menjadi Obat-obat Tertentu (OOT) yang harus makin diperketat pengawasannya.

Mengapa sih orang susah lepas dari jeratan NAPZA ketika sudah terperangkap ke dalamnya?  Mereka mencoba menggunakan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan barang haram itu demi memenuhi kebutuhannya. Sekalinya mereka terperangkap dalam cengkeraman NAPZA, nampaknya sulit sekali untuk keluar dan hidup normal. Mengapa ya orang-orang yang jatuh dalam kubangan NAPZA seringkali kesulitan untuk menghentikan kebiasaannya walaupun tahu dampak buruknya? Itulah yang namanya “kecanduan” atau adiksi.   Tulisan ini mencoba mengupas dari aspek kesehatan, apa yang terjadi dengan otak manusia ketika sudah dipengaruhi NAPZA.

Alasan pertama kali mencoba NAPZA

Banyak  macam alasan orang untuk pertama kalinya mencicipi NAPZA. Mulai dari yang karena penasaran, karena ajakan teman, untuk bersenang-senang,  untuk meningkatkan stamina, supaya percaya diri, sampai untuk melarikan diri dari masalah hidup. Alasan ini sangat bervariasi antar individu. Sebenarnya penggunaan pertama ini tidak serta merta menyebabkan penyalahgunaan, dan tidak ada batasan tertentu sampai sebanyak apa penggunaan miras atau NAPZA bisa menyebabkan masalah kecanduan. Tidak semua pengguna miras akan berkembang menjadi pecandu alkohol, demikian pula pengguna NAPZA. Masalahnya bukan pada jumlah atau frekuensi penggunaan, tetapi pada efek obat dan alkohol didalam tubuh seseorang. Sehingga, meskipun hanya mengkonsumsi sedikit, sebagian pengguna alkohol atau NAPZA dapat berkembang menjadi pecandu dan penyalahguna obat.

Kecanduan adalah masalah di otak

Orang sering berpikir bahwa penyalahgunaan obat atau miras adalah sekedar masalah sosial atau budaya akibat iman dan moral yang lemah. Dan sebagian dari masyarakat juga yakin bahwa sebenarnya hanya perlu kesadaran dan kehendak yang kuat untuk bisa keluar dari jeratan NAPZA. Namun sebenarnya masalahnya tidaklah sesimpel itu. Mengapa? Karena masalah kecanduan dan penyalahgunaan adalah suatu proses yang mempengaruhi kerja otak. Obat dan miras dapat mempengaruhi kerja otak sehingga menghentikan kecanduan obat dan miras bukan lagi hanya masalah kemauan. Seringkali diperlukan perlakuan dan pengobatan khusus untuk membantu orang berhenti dari kecanduan dan dapat melanjutkan kehidupan yang produktif.

Apa definisi Kecanduan Obat?

drug addictionKecanduan obat adalah suatu penyakit otak kronis yang bersifat kambuhan di mana penderita akan terdorong untuk mencari obat/alkohol dan menggunakannya, meskipun mengetahui bahayanya. Kecanduan obat digolongkan sebagai penyakit otak karena penyalahgunaan obat/alkohol dapat mempengaruhi struktur dan fungsi otak. Jadi, walaupun benar bahwa keputusan pertama kali penggunaan NAPZA adalah sukarela dengan berbagai alasan di atas, tapi lama-lama ketika NAPZA makin sering digunakan, ia akan mempengaruhi otak sehingga pengguna akan kehilangan kontrol diri dan kemampuan membuat keputusan dalam hal menggunakan NAPZA, dan bahkan akan  otak akan membuat dorongan yang kuat untuk menggunakan NAPZA.

Apa yang terjadi pada otak ketika menggunakan NAPZA?

Golongan NAPZA adalah senyawa kimia yang dapat masuk dan mempengaruhi system komunikasi di otak dan dapat mengganggu aktivitas sel syaraf untuk mengirim, menerima dan memproses informasi secara normal. Ada sedikitnya dua cara di mana obat-obat dan alkohol melakukan hal ini. Yang pertama adalah mereka bertindak menyerupai senyawa alami di otak yang disebut neurotransmitter, yaitu senyawa penghantar pesan di otak. Yang kedua, obat/alkohol dapat mempengaruhi “ reward system di otak dengan meningkatkan aktivasi dari sistem reward.

Sistem reward adalah satu system di otak yang mengatur rasa senang, sehingga ketika diaktifkan kita merasa senang, dan ingin mengulang dan mengulang lagi. Peristiwa ini melibatkan mesolimbic reward pathway  yaitu jalur terdiri atas neuron dopaminergik yang berasal dari Vental Tegmental Area (VTA)   menuju ke nucleus accumbens  (NA) dan diteruskan ke otak bagian  prefrontal cortex. Sistem ini memerlukan keberadaan neurotransmitter dopamin untuk mengaktifkannya.

Reward pathway yang melibatkan jalur dopaminergik

Reward pathway yang melibatkan jalur dopaminergik

Banyak hal yang bisa mengaktifkan system reward di otak. Stimulus alami bagi system reward adalah makanan, minuman, sex, kasih sayang, semua ini menyebabkan rasa nyaman dan senang. Kita tidak pernah bosan dengan makan, minum, kasih sayang, dan selalu ingin mengulangi dan mengulang lagi untuk mendapatkannya. Obat-obat NAPZA dan alkohol juga dapat mengaktifkan system reward di otak dengan berbagai mekanisme.

Ganja dan heroin misalnya, memiliki struktur yang mirip dengan senyawa alami di otak yaitu endorphin, sehingga bisa mengaktifkan reseptornya di otak dan “mengakali” otak sehingga mengirim pesan yang abnormal ke system reward, sehingga membuat perasaan senang.  Obat lain seperti kokain dan Ecstassy, bekerja dengan cara meningkatkan pelepasan neurotransmitter dopamine dan serotonin dari ujung saraf, dan mencegah kembalinya neurotransmiter ini ke saraf. Hal ini menyebabkan peningkatan kadar neurotransmitter yang berlebih di tempat aksinya dan mengaktifkan system reward.

Hampir semua obat golongan NAPZA yang sering disalahgunakan, termasuk alkohol (dan bahkan rokok – nikotin), bekerja secara langsung maupun tidak langsung mengaktifkan system reward dengan meningkatkan ketersediaan dopamin di otak. Dopamin adalah satu jenis neurotransmitter di otak yang bekerja mengontrol gerakan, emosi, motivasi, dan perasaan senang. Stimulasi yang berlebihan pada system reward, yang normalnya adalah berespon terhadap stimulus alami  menghasilkan efek euphoria ketika menggunakan NAPZA. Reaksi ini kemudian membentuk suatu pola di otak yang mendorong orang untuk melakukan dan melakukan lagi perilaku ini (penggunaan NAPZA) untuk memperoleh kesenangan.

Sebagian besar NAPZA bekerja meningkatkan kadar dopamin otak

Sebagian besar NAPZA bekerja meningkatkan kadar dopamin otak

Jika orang tersebut terus menerus menggunakan NAPZA, maka otak akan beradaptasi terhadap keberadaan dopamin yang tinggi dengan cara mengurangi produksi dopamin atau mengurangi reseptor dopamin. Hal ini menyebabkan pengguna NAPZA berusaha untuk terus menggunakan NAPZA untuk menjaga agar fungsi dopamin kembali ke “normal”, atau berusaha menambah dosis NAPZA untuk mencapai kadar dopamin yang tinggi untuk mencapai “tingkat kesenangan” yang diinginkan. Tidak jarang pula mereka mencoba jenis NAPZA yang lain dan dicampur dengan alkohol dan aneka tambahan lain untuk mendapatkan efek kesenangan yang diharapkan.

Penggunaan yang terus menerus akan menyebabkan perubahan pada system dan sirkuit di otak. Penelitian menunjukkan bahwa pada penderita kecanduan NAPZA terjadi perubahan area di otak pada bagian yang mengatur kemampuan menilai, pengambilan keputusan, belajar dan mengingat serta control perilaku. Bersamaan dengan itu, perubahan fungsi otak ini juga mendorong pengguna untuk mencari dan menggunakan obat terus menerus, yang kita kenal dengan istilah kecanduan obat atau adiksi obat. Mereka tidak mempedulikan lagi bahayanya jika terjadi overdosis maupun efek-efeknya terhadap organ tubuh lainnya, bahkan sampai kematian pun mereka tidak pikirkan. Jika mereka tidak mendapatkan obat, tubuh mereka akan “sakaw” karena pada saat tidak mendapat obat, otak mereka akan kekurangan dopamin sehingga  mengakibatkan berbagai gejala fisik maupun psikis. Hal ini yang menyebabkan mereka terus terdorong untuk mendapatkan obat bagaimanapun caranya. Manifestasi “sakaw” dari masing-masing obat berbeda tergantung dari jenis obatnya.

Mengapa sebagian orang bisa kecanduan dan yang lain tidak?

Tidak ada faktor tunggal yang bisa memprediksi apakah seseorang akan mengalami kecanduan NAPZA atau tidak. Risiko terjadinya kecanduan dipengaruhi oleh sifat biologis orang itu sendiri, kondisi sosial ekonomi, lingkungan sosial, dan usia atau tahapan perkembangan. Semakin banyak faktor risikonya, semakin besar kemungkinan seseorang menjadi pencandu.

Faktor biologi. Tidak bisa dipungkiri, faktor genetik yang dikombinasi dengan pengaruh lingkungan, merupakan penentu dari separuh kerentanan seseorang terhadap kecanduan obat. Selain itu, jenis kelamin, etnik, dan adanya gangguan kejiwaan lain bisa mempengaruhi risiko terjadinya penyalahgunaan obat dan kecanduan

Lingkungan. Lingkungan keluarga dan teman sampai status sosial ekonomi dan kualitas hidup adalah beberapa faktor lingkungan umum yang bisa mempengaruhi kejadian kecanduan obat. Faktor lain yang khusus antara lain adalah tekanan dari teman, stress, pola asuh orangtua, dll.

Tahap perkembangan. Semakin dini usia seseorang menggunakan NAPZA untuk pertamakalinya, makin mungkin berkembang untuk menjadi kecanduan yang serius. Dan karena otak remaja itu masih dalam kondisi perkembangan, maka remaja paling berisiko untuk menjadi pencandu.

Bagaimana pengatasan kecanduan NAPZA?

Pada tahap tertentu, kecanduan NAPZA perlu mendapatkan penatalaksanaan yang tepat. Sebagian besar diawali dengan detoksifikasi dan terapi terhadap kondisi “sakaw” jika diperlukan. Detoksifikasi adalah suatu proses dimana tubuh membersihkan diri dari obat, dan perlu diatur secara khusus untuk mencegah efek-efek fisiologis akut yang mungkin terjadi ketika obat dihentikan tiba-tiba.   Proses detoksikasi kadang memerlukan obat-obat tertentu untuk mengatasi gejala-gejala putus obat yang kadang juga berbahaya bagi penderita. Gejala putus obat heroin misalnya akan diatasi dengan metadon. Gejala putus obat diazepam bisa diatasi dengan lorazepam. Tatalaksana ini harus dilakukan di bawah pengawasan dokter yang kompeten, dan dilakukan di tempat pelayanan kesehatan yang sesuai. Setelah itu, detoksifikasi harus dilanjutkan dengan suatu penilaian terhadap kondisi pasien dan tatalaksana terhadap kecanduan.  Program mengatasi kecanduan juga melibatkan terapi perilaku dan terapi lainnya yang mendukung. Hasil yang diharapkan adalah penderita dapat berhenti menyalahgunakan NAPZA, bisa bertahan bebas NAPZA dan hidup normal dengan lebih produktif.

Pencegahan adalah Kunci Utama

Dari uraian di atas, kita dapat memahami bahwa mengapa tidak mudah orang lepas dari jeratan NAPZA ketika mereka sudah terperangkap di dalamnya, karena NAPZA memang bisa mengubah kemampuan seseorang untuk berpikir dan mengambil keputusan. Namun demikian, kecanduan NAPZA adalah penyakit yang bisa dicegah. Karena itu, program pencegahan menjadi kunci utama. Perlu terus menerus dilakukan kampanye-kampanye pencegahan penyalahgunaan NAPZA untuk mengurangi semakin banyaknya kasus-kasus kecanduan NAPZA. Penelitian telah menunjukkan bahwa program pencegahan yang melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan media cukup efektif dalam mengurangi penyalahgunaan NAPZA. Meskipun banyak peristiwa dan faktor budaya mempengaruhi tren penyalahgunaan NAPZA, ketika pemuda menganggap penyalahgunaan NAPZA adalah berbahaya, diharapkan mereka mengurangi penggunaan obat mereka atau bahkan tidak mau mencoba memulainya.

Jadi, JANGAN SEKALI-SEKALI MENCOBA JIKA TIDAK INGIN TERJERAT NAPZA.. !!

 





Kaleidoskopku di 2015 dan resolusiku untuk 2016

31 12 2015

Dear kawan,
Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2015. Aku banyak hutang pada blog-ku ini yang sudah berbulan-bulan tidak terawat.. Karenanya hari ini aku putuskan harus menulis dan menyambangi blogku yang mulai merana.. Statistik blog-ku sebenarnya tidak jelek-jelek amat.. sepanjang tahun 2015 setiap harinya ada rata-rata 4000 hits, termasuk sampai hari ini. Bahkan pernah mencapai 8000-an ketika aku menulis tentang klorin dalam pembalut. Sayang banget yah kalau dibiarkan layu termakan waktu… Kali ini aku akan mengenang tahun yang tak lama lagi akan kutinggalkan.. 2015. Sebagai dokumentasi pribadi saja.

Eksistensi
Buatku tahun 2015 adalah tahun kebangkitan akan sebuah eksistensi diri. Alhamdulillah, masih banyak kawan yang mempercayaiku untuk menjadi narasumber di berbagai seminar kefarmasian. Tahun 2015 ini cukup banyak kota yang kukunjungi dalam rangka berbagi dalam seminar, antara lain : Kudus, Solo, Jember, Cirebon, Pandeglang, Bukitinggi, Semarang, Makassar, Balikpapan, Jakarta, Sukabumi, Gorontalo, Kendari dan Wonogiri. Menurut catatanku, dalam tahun 2105 kemarin ini aku menjadi narasumber pada 24 event seminar/workshop. Sedangkan untuk mengikuti even internasional/regional aku bahkan 2 kali pergi ke Bangkok dalam setahun ini. Buatku itu adalah pengalaman yang tak ternilai harganya. Reward-nya lebih dari sekedar finansial, yakni perasaan bahagia saat bertemu banyak kawan dan juga sambutan yang menyenangkan. Memang ada yang harus sedikit dikorbankan yaitu beberapa waktu libur terpaksa harus jauh dari keluarga. Tapi alhamdulillah, semua masih dalam toleransi dan still under control hehe… kan ya ngga setiap minggu..

Change in life
Bulan Juli 2015, perubahan besar dalam hidup juga terjadi pada keluargaku, khususnya dua anakku, si sulung dan si bungsu. Alhamdulillah, setelah cukup harap-harap cemas dengan hasil SNMPTN dan SBMPTN, akhirnya si sulung Afan diterima sebagai mahasiswa baru UGM di Fakultas Psikologi, sesuai dengan keinginannya. Sebuah tugas orang tua mengantarkan anak masuk ke jenjang perguruan tinggi tertunaikan sudah. Alhamdulillah.. Lalu si bungsu Hanna juga mulai masuk sekolahnya yang pertama di Kelompok Bermain (Play group) Al Azhar. Yang aku happy.. si kecil ini lain sekali dengan kakak-kakaknya.. Mungkin faktor mandiri karena sudah biasa ditinggal ibu ke kantor atau bahkan keluar kota, juga biasa melihat kakak-kakaknya sekolah… dia pede sekali…  di hari pertama sekolah sudah tidak mau ditungguin !! hehe.. hebaat oii ! Padahal dulu kakaknya yang cewek waktu TK harus ditunggu full.. bahkan aku harus ikut duduk disampingnya di kelas sampai berminggu-minggu !! Sampai ada mahasiswa yang konsultasi skripsi aku minta datang ke TK karena aku sambil menunggu si kecil sekolah..hehe… Alhamdulillah, everythings goes well… termasuk Dhika yang punya special needs juga lancar di sekolah. Pas kenaikan kelas ke kelas dua SD, ia bahkan tampil di panggung main organ tunggal…

Magister Farmasi Klinik UGM menjadi Prodi
Sebuah perubahan yang cukup signifikan juga terjadi di Fakultas. Pada bulan Maret atau April, Fakultas (Dekan) menetapkan kebijakan bahwa program Magister Farmasi Klinik yang semula adalah minat pada Prodi S2 Ilmu Farmasi mulai tahun 2015 ini “disapih” menjadi Program Studi tersendiri. Kebijakan ini cukup berimbas padaku karena kemudian aku diberi amanah menjadi Ketua Prodi Magister Farmasi Klinik. Seperti de javu saja hehe… karena ketika Program ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2001, aku juga diberi tugas menjadi pengelola. Sempat istirahat dari pengelolaan MFK pada tahun 2013-2104, tahun ini mulai bertugas lagi. Bahkan mendapat tugas yang lebih berat karena harus menyiapkan akreditasi Prodi MFK. Jadilah pada tahun 2015 ini hampir separuh tahun aku berkutat dengan penyiapan Prodi MFK dan akreditasi melalui LAMPTKes. Perjuangan masih panjang…  Bismillah….

Apoteker cilik, The comic

Prototype Komik Apoteker Cilik

Prototype Komik Apoteker Cilik

Di tahun 2015 ini aku juga punya “mainan” baru… yaitu program Pengabdian masyarakat yang didanai DIKTI tentang Apoteker Cilik. Program ini kami usulkan dengan didasari keprihatinan masih belum populernya profesi Apoteker di mata masyarakat. Kami pingin Apoteker bisa eksis sebagai salah satu tenaga kesehatan yang penting. Jika di sekolah-sekolah ada Program Dokter Kecil, mengapa tidak ada Apoteker Cilik? Bekerjasama dengan dua SD yaitu SDN Kentungan dan SDIT Luqmanul Hakim Yogya, kami memulai program ekstrakurikuler Apoteker cilik di sana, dibantu oleh adik-adik mahasiswa yang aktif dalam PIOGAMA. Salah satu keluaran yang kami anggap monumental adalah dibuatnya komik Apoteker Cilik. Saat ini baru dicetak dalam jumlah terbatas.. masih nunggu Penerbit untuk diproduksi skala komersial niih… !
Insya Allah akan menjadi program yang berkesinambungan di tahun 2016 ini…

Resolusiku utk 2016

Mungkin tidak perlu terlalu banyak janji dan rencana yah.... tapi di tahun 2016 besok ini target pribadiku adalah meng-update buku-bukuku terbitan tahun 2010 dan 2011 yang notabene sudah berusia 4-5 tahunan, sudah waktunya diupdate. Ilmu kesehatan dan pengobatan berkembang sangat cepat dan tentu harus tetap diikuti supaya bisa tetap up to date.  Tiga buku sudah selesai revisi draft dan masuk penerbit,.. semoga bisa released tahun 2016.

Target berikutnya adalah mengantarkan Prodi MFK UGM agar terkreditasi semaksimal yang kami bisa, serta menjalankan visi dan misi Prodi untuk lebih dikenal secara nasional dan regional dan menyediakan pendidikan farmasi klinik yang tebaik.

Pekerjaan kolektif lain adalah mensupport establishment Unit Uji BABE Lab Terpadu Fakultas Farmasi UGM di mana  aku menjadi Manager Teknik Bidang Klinis. Itu juga bukan pekerjaan mudah, karena banyak berinteraksi dengan pihak luar (industri, BPOM), tetapi jika sudah mapan Insya Allah akan menjadi prestise tersendiri buat Fakultas. Aku banyak sekali belajar dari kegiatan ini, dari mulai menyiapkan protokol uji, berkorespondensi dengan mitra terkait dengan perjanjian kerjasama, menyiapkan berbagai SOP dalam uji BE, berinteraksi dengan teman-teman dokter di RS UGM, berinteraksi dengan BPOM, dll.

Selain itu, pekerjaan pribadi lain yang aku targetkan adalah penelitian, di mana untuk tahun 2016 ini ada 2 proposal hibahku yang kuharap bisa diterima oleh DIKTI (amiin…), dan satu  produk obat herbal bekerjasama dengan sebuah industri farmasi ditargetkan bisa diproses lebih lanjut untuk aspek komersialnya.

Kegiatan berbagi dalam seminar Insya Allah masih jalan selama dibutuhkan… untuk tahun 2016 ini sudah ada 3 jadwal indent di bulan Februari, yakni di Ponorogo, Jogja, dan Sorong. Kegiatan mengawal penulisan artikel ilmiah populer untuk harian Tribun Jogja juga masih bakal jadi pekerjaan rutin tahun 2016 besok. Tapi maaf, aku tidak punya resolusi khusus untuk blog tercinta ini… mengalir saja menulis sesempatnya….

Secara pribadi tentu aku juga berharap untuk bisa menjadi istri dan ibu yang lebih baik lagi, dan dapat “menciptakan” surga di rumah, buat suami dan anak-anak… Amiien. Ini yang terpenting, karena dari situlah aku berasal dan untuk itulah aku ada…  Oiya, satu lagi…. turunin berat badan hehe…. baju-baju sudah mulai terasa sesak!

Bismillah, inilah kaleidoskop dan resolusiku, kawan… Manusia bisa berencana, tapi semua kita pasrahkan kepadaNya.. semoga diberi kekuatan dan kelancaran menjalani.. Amiien