Mencermati obat-obat alternatif untuk Covid-19

30 04 2020

Dear kawan,

Pandemi Covid-19 yang telah memakan banyak korban meninggal dunia, sementara belum ada obat yang dipastikan ampuh, membuat banyak pihak berupaya mencari obat-obat penangkal Covid-19. Industri farmasi dunia banyak yang mencoba menemukan obat-obat untuk Covid19, baik dari obat yang sudah ada, maupun membuat obat baru untuk melawan virus jahat ini, misalnya Gilead dengan remdesivir, Fuji Film dengan Favipiravir, dll. Sementara banyak industri farmasi mencari obat untuk Covid dengan cara ilmiah menggunakan uji klinik yang ketat, masyarakat Indonesia pun tak ketinggalan berkreasi dengan “menciptakan” obat-obat baru yang diklaim ampuh melawan Covid-19. Tulisan ini ingin mengajak pembaca untuk cermat dan waspada di dalam menerima informasi terkait dengan obat-obat Covid-19, apalagi jika belum ada uji yang relevan. Versi pendek dari tulisan ini sudah dimuat di web Fakultas Farmasi UGM, sedangkan tulisan di sini aku tambah dengan beberapa contoh produk-produk alternatif yang pernah diberitakan di media massa beserta sedikit ulasannya.

Proses penemuan obat

Untuk sampai ke tangan konsumen/pasien, suatu obat yang baik perlu melalui serangkaian proses. Penemuan suatu obat baru  untuk suatu penyakit bisa berangkat dari berbagai sumber. Yang pertama, obat dapat diperoleh dari modifikasi dari sebuah struktur molekul tertentu atau sintesis secara kimiawi menghasilkan suatu senyawa obat. Yang kedua, obat “baru” bisa berasal dari obat yang sudah ada, tetapi digunakan untuk penyakit yang berbeda. Dalam hal obat Covid-19, telah banyak dicoba obat-obat lama untuk mengatasi Covid-19, yang disebut sebagai drug repurposing. Misalnya klorokuin dan hidroksiklorokuin, mereka adalah obat yang sebelumnya digunakan untuk malaria dan penyakit autoimun, dan sekarang banyak diujikan secara klinik dan digunakan secara khusus untuk Covid-19.

Dalam hal obat yang sama sekali baru, obat perlu diuji lebih dahulu secara in vitro (menggunakan system di luar tubuh), atau pada in vivo (menggunakan system tubuh) pada binatang percobaan. Dalam hal mencari obat anti virus Covid-19, umumnya dilakukan dahulu uji secara in vitro menggunakan suatu sel kultur yang diinfeksi dengan virus tersebut. Jika obat baru tersebut bisa menghambat perkembangan virus atau membunuh virus corona, maka obat tersebut berpotensi untuk digunakan sebagai obat antivirus Covid-19. Namun jika secara in vitro pun tidak berefek, maka ada kemungkinan obat tersebut tidak berefek jika digunakan pada manusia.

Selain aspek kemanjuran, maka harus diperhatikan pula aspek keamanan. Jika suatu obat sangat manjur terhadap suatu penyakit tetapi menyebabkan efek samping yang berbahaya, maka calon obat tersebut tidak bisa diteruskan menjadi obat baru. Calon-calon obat tersebut perlu diujikan pada hewan dahulu untuk melihat potensi keamanannya, yang disebut dengan uji toksisitas. Jika terbukti tidak toksik, maka bisa diteruskan untuk uji selanjutnya. Untuk obat yang akan digunakan pada manusia, tentu harus dicobakan pada manusia dalam suatu uji yang disebut Uji Klinik. Uji Klinik memiliki persyaratan yang ketat untuk dapat digunakan sebagai dasar penggunaan pada manusia, antara lain adalah kriteria subyeknya, jumlah subyek ujinya, variasi kondisi subyek ujinya, parameter yang diukur, dll. Jika suatu uji klinik berhasil menunjukkan kemanjuran dan keamanan, maka obat akan didaftarkan ke badan otoritas obat yaitu Badan POM, yang bertanggung jawab menjamin keamanan dan potensi kemanjuran suatu obat. Setelah didaftarkan dan dievaluasi oleh para pakar, barulah suatu calon obat mendapat ijin edar dan dapat dipasarkan. Jadi, tidak mudah untuk suatu obat baru itu sampai di tangan konsumen, karena harus mengikuti berbagai proses.

Bagaimana dengan obat herbal atau alternatif lainnya?

Indonesia sangat kaya akan tanaman obat yang mungkin saja berpotensi untuk mengatasi Covid-19. Namun demikian, aturan dalam pengembangan obat baru dari herbal pun tentunya juga harus mengikuti kaidah ilmiah yang berlaku. Sumber obat herbal sedikit berbeda dengan obat sintetik, yaitu adanya kemungkinan berasal dari pengalaman empiris bertahun-tahun. Jamu-jamu atau ramuan tradisional Indonesia dari berbagai daerah umumnya telah memiliki pengalaman bertahun-tahun untuk suatu penyakit tertentu. Selain pengalaman empirik, ada juga sumber obat herbal yang berupa suatu inovasi baru, misalnya kulit manggis atau kulit jeruk, yang dulunya tidak digunakan masyarakat, tetapi berdasarkan penelitian ternyata memiliki manfaat obat. Obat-obat herbal ini ada yang diolah sendiri oleh masyarakat untuk dikonsumsi sendiri seperti jamu, dan ada pula yang diolah lebih modern, diformulasi dengan bahan-bahan lain dan disajikan secara modern, seperti dalam bentuk kapsul, kaplet atau sediaan lainnya, untuk dipasarkan lebih luas. Sebagian dikemas menjadi Obat Herbal Terstandar, dan diujikan secara preklinik pada hewan uji untuk dipastikan keamanan dan kemanjurannya. Jika lolos uji, obat-obat herbal ini bisa digunakan pada manusia. Jika sudah diujikan secara klinis pada manusia, dan terbukti kemanjuran dan keamanannya, maka obat herbal dapat didaftarkan sebagai Fitofarmaka.

Penemuan obat-obat alternatif untuk Covid-19

Selama masa pandemik Covid-19, bermunculan beberapa obat-obat alternatif yang diklaim dapat mengatasi penyakit COVID-19. Beberapa penggiat pengobatan alternatif sampai akademisipun seolah berlomba-lomba mencari obat alternatif yang ampuh menghadapi Covid-19. Kalau dilihat, ada beberapa obat alternatif yang dipromosikan dengan cukup gencar. Berikut beberapa di antaranya.

Beberapa waktu lalu, media massa memberitakan tentang sebuah obat herbal corona buatan tabib pengobatan alternatif dari Jawa Timur yang berbentuk cairan dalam botol. Obat ini  disebut berasal dari bahan alam dan diklaim ampuh untuk mengobati Covid-19, walaupun tidak dijelaskan herbal apa saja yang digunakan. Sempat diklaim telah mendapat pengakuan BPOM (1), namun setelah dikonfirmasi melalui layanan Halo BPOM di nomor 15005533, BPOM secara tegas mengatakan bahwa tidak ada obat tradisional penyembuh corona yang sudah resmi terdaftar (2).

Yang kedua, ramuan herbal atau jamu juga dilaporkan dibuat oleh seorang warga Solo. Sang pembuat mengaku telah menemukan ramuan herbal atau jamu yang dapat menyembuhkan pasien positif Covid-19. Ramuan berbentuk jamu itu berasal dari olahan 20 jenis empon-empon seperti jahe merah, kunir, serai hingga daun kelor. Pembuat mengakui bahwa minuman temuannya itu belum melalui uji laboratorium atau sejenisnya. Dia mengklaim sudah mencoba mengajukan ramuannya ke BPOM untuk diuji tapi ditolak. Namun demikian, yang bersangkutan meyakini bahwa jamu itu benar-benar manjur karena sudah ada tujuh pasien positif Covid-19 yang sembuh (3). Menurutnya sudah banyak pesanan, dan jamu ini diberikan secara gratis. Tidak ada informasi lebih lanjut kondisi pasien Covid-19 seperti apa yang bisa disembuhkan dengan Jamu ini. Namun jika “hanya” berasal dari empon-empon yang sudah lama digunakan secara empiris oleh masyarakat, maka mungkin jamu tersebut cukup aman, walaupun untuk kemanjurannya belum bisa dipastikan.

Temuan menarik berikutnya adalah gula antivirus dari Palembang. Seorang dari Palembang mengklaim telah menyembuhkan 10 orang pasien positif virus corona (Covid-19) melalui antivirus ciptaannya. Pasien Covid-19 tersebut berada di Jakarta dan kini telah sembuh berkat antivirus yang berupa produk gula yang diproses dengan menggunakan light technology. Disebutkan bahwa produk gula tersebut bisa memecah protein menjadi asam amino, sehingga bisa mempercepat penyembuhan pada pasien covid-19 (4). Merespon temuan tersebut,  Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) Ghufron Ali Mukti menyampaikan, segala bentuk klaim antivirus maupun obat yang mampu menyembuhkan pasien positif Korona harus dapat dibuktikan secara ilmiah. Namun hingga kini, penemu antivirus yang diklaim ampuh dan mendapat respons positif dari Gubernur Sumsel tersebut belum berkomunikasi dengan pihak Kemenristek/BRIN untuk mengajukan kajian ilmiah terhadap temuannya (5). Temuan ini cukup menarik karena jika melihat bahannya adalah seperti gula pasir biasa. Belum diketahui light technology seperti apa yang digunakan sehingga gula ini diklaim aman bagi penderita Diabetes Mellitus.

Selanjutnya, sebuah obat anti Covid-19 diklaim telah ditemukan oleh seseorang di Pontianak. Bentuknya berupa kapsul.  Namun setelah dilakukan analisis terhadap kandungan obat tersebut oleh Balai Besar POM Kota Pontianak, ditemukan bahwa obat tersebut berisi Na-diklofenak dan CTM (6). Pembuatnya menyatakan bahwa obat ini sudah lama digunakan masyarakat Kalimantan Barat sebagai obat untuk Demam Berdarah. Hal ini tentu menjadi keprihatinan tersendiri, karena jika benar demikian, Na diklofenak adalah obat anti radang yang termasuk obat keras. Penggunaan yang tidak tepat dan berlebihan berpotensi menyebabkan gangguan perdarahan lambung. Pembuat obat masih bersikeras bahwa obatnya hanya mengandung bahan herbal. Wallahu a’lam.

Demikian beberapa contoh-contoh obat-obat alternatif yang diklaim memiliki efek anti Covid-19. Dan masih banyak lagi obat-obat yang telah dan akan bermunculan dari “kreativitas” masyarakat selama pandemic Covid-19 ini. Sebagian mungkin berangkat dari keprihatinan dan niat baik akibat belum adanya obat-obat Covid-19 yang benar-benar direkomendasikan. Namun dikuatirkan ada yang memanfaatkan kepanikan masyarakat yang takut akan tertular Covid, atau bahkan sudah terinfeksi. Sebagian besar belum ada bukti ilmiahnya, dan bahkan sulit diterima oleh logika ilmiah. Adanya bukti kesembuhan yang berupa testimoni hanya pada beberapa orang masih sangat kurang untuk mendukung kemanjuran obat-obat tersebut, apalagi penyakit Covid-19 ini pada sebagian orang yang system imunnya kuat bahkan tidak memberikan gejala dan menjadi penyakit yang bisa sembuh sendiri (self limiting disease). Di sisi lain, keterlambatan masyarakat mendapatkan obat yang tepat dapat menunda kesembuhan, bahkan bisa berakibat fatal jika ternyata virus tetap bereplikasi secara cepat pada tubuh pasien. Karena itu, masyarakat perlu lebih cermat dan bijak dalam memilih produk-produk alternatif yang beredar di pasaran. Inovasi-inovasi obat baru untuk Covid-19 tentu sangat diapresiasi dan diharapkan, namun harus tetap berada pada koridor ilmiah yang dapat ditelusuri dan dibuktikan.

Tips untuk memilih obat-obat herbal atau alternatif untuk Covid-19

Berikut adalah beberapa tips untuk memilih obat-obat untuk mencegah atau mengatasi Covid-19:

  1. Gunakan obat-obat herbal yang telah terdaftar di BPOM. Jika ada produk yang mengaku telah terdaftar di BPOM dan mestinya mendapat nomor izin edar, maka  itu harus dikonfirmasi terlebih dahulu melalui situs web BPOM ( https://cekbpom.pom.go.id/) atau melalui aplikasi BPOM yang tersedia. Dapat juga menanyakan kepada Layanan Halo BPOM. Perlu diketahui bahwa produk yang diregister sebagai pangan, maka produk tersebut tidak bisa memiliki izin edar sebagai suplemen kesehatan atau bahkan obat pada saat yang sama. Jadi jika ada produk pangan yang diklaim memiliki efek pengobatan, maka itu perlu dipertanyakan.
  2. Jika ada produk yang klaimnya terlalu bombastis dan mekanismenya tidak jelas, sebaiknya tidak langsung percaya, dan tanyakan kepada ahli-ahli obat, misalnya kepada Apoteker di Apotek/RS atau di institusi Pendidikan Farmasi.
  3. Jika menjumpai promosi obat atau produk herbal yang tidak jelas kandungannya, sebaiknya berhati-hati, karena bisa jadi ada kandungan dalam produk tersebut yang dikontraindikasikan (harus dihindarkan) pada penyakit tertentu yang diidap. Tanyakan pada Apoteker dan minta saran produk yang lebih terjamin keamanannya. Pastikan bahwa produk obat yang Anda konsumsi itu jelas kandungannya dan aman.

Demikian, semoga kita semua terhindar dari penggunaan obat-obat alternative yang tidak tepat selama masa pandemi Covid-19, dan juga terhindar dari penyakit Covid-19.

Referensi:

  1. https://jatim.suara.com/read/2020/04/17/105007/herbal-corona-ningsih-tinampi-dapat-pengakuan-bpom-dijual-rp-35000
  2. https://www.ayobandung.com/read/2020/04/21/86706/bpom-sebut-obat-herbal-corona-ningsih-tinampi-belum-terdaftar
  3. https://semarang.bisnis.com/read/20200414/535/1226706/jamu-ini-diklaim-sembuhkan-tujuh-pasien-terpapar-corona
  4. https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/9K50Qq3k-antivirus-dari-sumsel-diklaim-telah-sembuhkan-10-pasien-covid-19
  5. https://www.medcom.id/pendidikan/riset-penelitian/yNLG4WWK-klaim-antivirus-dari-sumsel-harus-dibuktikan-secara-ilmiah
  6. https://www.antaranews.com/berita/1427125/bbpom-kalbar-temukan-bahan-kimia-obat-dalam-formav-d
  7. https://www.era.id/read/ZqUoRK-penemu-obat-korona-di-pontianak-terancam-pidana-10-tahun




Vanessa dan Xanax-nya

9 04 2020

Dear kawan,

Artis satu ini memang suka bikin berita. Sayangnya bukan berita menggembirakan. Kali ini tersandung kasus narkoba, di mana disebutkan bahwa Vanessa Angel menyimpan dan menggunakan Xanax tanpa hak. Jadi ingat dulu pernah juga ada artis terkenal (Tora Sudiro) yang ditangkap polisi juga karena kepemilikan tanpa hak Dumolid. Tentang Dumolid (nitrazepam) udah pernah aku bahas dulu. Sekarang kita coba bahas tentang Xanax ya. Bagian tentang Benzodiazepin dalam artikel ini tidak banyak berubah dari pembahasan tentang Dumolid, karena mereka memang masih saudaraan .. 😊

 Xanax berisi alprazolam

Gugus Benzene dan Diazepine menjadi kerangka obat golongan benzodiazepin

Xanax adalah nama dagang untuk obat yang bernama alprazolam. Alprazolam secara struktur kimia adalah termasuk obat golongan benzodiazepine yang bekerja menekan system syaraf pusat. Istilah benzodiazepine berasal dari struktur kimia golongan obat ini yang memiliki gugus cincin “benzen” dan  “diazepin”. Obat ini memiliki khasiat antara lain sebagai obat penenang, obat tidur, dan anti kejang. Dalam regulasi penggolongan obat, alprazolam (Xanax) dan obat-obat golongan benzodiazepin tadi termasuk obat psikotropika, yaitu obat yang bisa mempengaruhi psikis/kejiwaan seseorang. Sepertinya halnya obat golongan narkotika, pengaturan peredarannya sangat ketat karena berpotensi untuk disalahgunakan. Kalau melihat lika-liku kehidupan sang artis, tidak mengherankan sih kalau ia mungkin tidak bisa hidup tenang. Penuh cerita drama yang menguras emosi, sehingga membutuhkan bantuan obat penenang. Sebenarnya boleh-boleh saja menggunakan obat penenang, selama itu digunakan dengan pengawasan dokter sesuai dengan resep dokter. Tetapi walaupun itu obat legal, ketika digunakan dan diperoleh secara illegal, maka statusnya menjadi illegal, yang akhirnya harus berhadapan dengan pak polisi.

 Obat golongan benzodiazepine

Selain alprazolam, obat-obat lain yang tergolong benzodiazepine antara lain adalah diazepam, midazolam, klonazepam, estazolam, klordiazepoksid, dll, yang terdapat dalam berbagai nama dagang. Mereka berbeda dalam hal kecepatannya menimbulkan efek, berapa lama efeknya, dan tujuan obat digunakan. Beberapa yang termasuk memiliki aksi pendek adalah midazolam dan klorazepat dengan durasi 3-8 jam. Sedangkan yang beraksi sedang adalah lorazepam dan alprazolam, dengan durasi 11-20 jam. Sementara nitrazepam bersama diazepam, klonazepam dan klordiazepoksid termasuk yang memiliki aksi panjang, sampai 1-3 hari.

 Obat yang legal

Sekali lagi, tidak seperti ecstasy, shabu, heroin, kokain yang bersifat illegal dan tidak untuk pengobatan, alprazolam dan obat benzodiazepine lainnya adalah obat legal yang digunakan dalam pengobatan. Obat ini bertanda lingkaran merah berisi huruf K pada kemasannya, menandakan bahwa mereka tergolong obat keras yang harus diperoleh dengan resep dokter. Gangguan penyakit yang diterapi dengan obat golongan ini antara lain adalah kecemasan, insomnia (tidak bisa tidur), kejang, gejala putus alcohol, dan untuk relaksasi otot. Penyakit-penyakit tersebut disebabkan karena aktivitas syaraf pusat yang berlebihan, karena itu memerlukan obat yang dapat menekan aktivitas system syaraf.

 Bagaimana kerjanya?

GABA receptor, tempat aksi obat benzodiazepin

Obat golongan benzodiazepin termasuk Xanax bekerja pada reseptor GABA di sistim syaraf pusat manusia. GABA adalah suatu senyawa penghantar di otak (neurotransmitter) yang bekerja menekan system syaraf pusat sebagai penyeimbang stimulasi syaraf.  Obat-obat golongan benzodizepin bekerja meningkatkan efek GABA untuk menekan aktivitas otak/sistim syaraf pusat. Dengan demikian diperoleh efek menenangkan (sedatif), menidurkan, juga mengurangi kejang/kekakuan otot.

Apakah bisa menyebabkan kecanduan?

Ya, obat-obat psikotropika sejenis benzodiazepine ini berpotensi untuk disalahgunakan dan menyebabkan kecanduan. Efeknya yang menenangkan dan menidurkan membuatnya sering dicari orang yang mengalami masalah kecemasan atau gangguan tidur sebagai solusi tercepat. Jika penderita gangguan semacam itu pergi ke dokter, dokter akan memeriksa dan memutuskan apakah seseorang memerlukan obat atau cukup dengan tindakan-tindakan non-obat seperti psikoterapi, perubahan pola hidup, dll. Tentunya perlu dicari akar penyebab masalahnya dulu sebelum diputuskan menggunakan obat. Salah satu obat yang paling sering diresepkan adalah obat golongan benzodiazepine ini, termasuk Xanax.

Namun demikian, banyak orang yang kemudian mencoba mendapatkan obat-obat ini secara illegal, dengan berbagai modus, tanpa indikasi medis untuk disalahgunakan. Mungkin saja ia diperoleh dari pasar gelap atau dari oknum di Apotek atau oknum yang memiliki akses terhadap obat tersebut. Karena jika diperoleh secara legal, peraturannya cukup ketat, misalnya harus pakai resep asli tidak boleh menggunakan copy resep. Copy resep hanya boleh digunakan jika memang ada obat yang belum diberikan dari resep aslinya. Apotek pun harus memberikan laporan penjualan obat psikotropika setiap bulannya ke Dinas Kesehatan.

Obat golongan benzodiazepine berpotensi menyebabkan toleransi dan kecanduan, terutama pada penggunaan yang lama.   Awalnya obat ini akan menyebabkan toleransi, yaitu diperlukan dosis yang semakin meningkat untuk mendapatkan efek yang sama. Jika semula cukup dengan 5 mg untuk mendapatkan efek, maka berikutnya diperlukan 10 mg untuk mendapatkan efek yang sama. Hal ini diduga karena reseptor GABA menjadi semakin kurang sensitive terhadap obat dan saraf makin beradaptasi dengan obat. Hal ini akan menyebabkan penderita cenderung meningkatkan dosisnya untuk mendapatkan efek yang sama, bahkan sampai mencapai dosis maksimalnya. Toleransi ini akan meningkatkan risiko  ketergantungan, di mana ketika obat dihentikan pemakaiannya, pengguna akan merasakan gejala-gejala semacam gejala putus obat (sakaw). Gejala putus obat juga dapat terjadi setelah pemberian benzodiazepine pada dosis normal yang diberikan pada jangka pendek.

Toleransi terhadap alprazolam dapat berkembang dalam waktu 3-14 hari pada penggunaan terus menerus. Karena itu regimen pengobatannya harus diatur sependek mungkin dan sebaiknya hindari peresepan berulang. Batas toleransi pasien satu dengan yang lain bisa bervariasi sangat besar, apalagi dengan pasien yang sudah mengalami gangguan otak atau jantung dan pernafasan.

Apa efek penyalahgunaan obat benzodiazepine?

Jika dipakai pada dosis terapi sesuai kebutuhannya, sebenarnya obat-obat ini relatif aman dan memberikan efek yang diharapkan, yaitu menenangkan dan membantu tidur. Tetapi jika dosisnya makin meningkat, apalagi jika sampai over dosis, maka dapat muncul efek-efek lain akibat penekanan system syaraf pusat, seperti : bingung, nggliyeng, gangguan penglihatan, kelemahan, bicara melantur, gangguan koordinasi, susah bernafas, bahkan bisa sampai koma.

Yang menarik, gejala penyalahgunaan obat benzodiazepine secara kronis dapat menyerupai gejala-gejala yang merupakan indikasi/tujuan penggunaan obat ini pertama kali, yaitu kecemasan, tidak bisa tidur (rebound insomnia), tidak doyan makan, sakit kepala, lemas. Hal ini menyebabkan penderita cenderung mengkonsumsi lebih banyak lagi.

Gejala-gejala putus obat benzodiazepin

Hal yang sama juga dapat terjadi ketika obat tiba-tiba dihentikan, akan terjadi gejala putus obat (Sakaw). Beberapa gejala umum ketika terjadi putus obat golongan obat benzodiazepine adalah kecemasan, gangguan tidur, kekakuan otot, gelisah. Gejala lain yang lebih jarang terjadi adalah mual, lemah, mimpi buruk, gangguan koordinasi otot, dll. Dapat juga terjadi kejang akibat putus obat benzodiazepine, terutama pada mereka yang menggunakan dalam dosis tinggi , waktu lama, dan ada penggunaan obat lain yang menurunkan ambang kejang. Karena itu, sebaiknya penghentian obat benzodiazepine tidak dilakukan secara tiba-tiba, tetapi bertahap.

Bagaimana penggunaan yang tepat?

Lebih baik mencegah dari pada mengobati setelah kecanduan

Yang pasti obat ini harus digunakan di bawah pengawasan dokter. Lama penggunaan obat ini harus sependek mungkin yang tetap bisa memberikan efek terapi sesuai dengan indikasinya, tetapi tidak boleh lebih dari 4 minggu, termasuk waktu penghentiannya secara bertahap. Setelah 4 minggu, terapi sebaiknya tidak diteruskan sebelum dilakukan evaluasi terhadap kondisi pasien.  Jika memang diperlukan terapi jangka panjang, maka kebutuhan pasien harus dipantau secara reguler.

Pada dasarnya obat golongan benzodiazepine bisa membantu penderita yang membutuhkan, tetapi harus berhati-hati untuk tidak menjadi tergantung kepadanya. Lebih baik menghindari dari pada mengobati ketika sudah kecanduan





Mengenal si ACE2, “pintu masuk” virus corona

5 04 2020

Dear all,

Kehadiran virus corona baru SARS-CoV2 atau lebih dikenal dengan nama virus Covid-19 benar-benar banyak mengubah dunia. Hingga tulisan ini disiapkan, sudah lebih dari 1.270.000 orang terinfeksi dan virus ini telah menyebabkan lebih dari 65.000 kematian di seluruh dunia. Banyak tatanan ekonomi dunia yang menjadi porak poranda. Tetapi di sisi lain, banyak ilmu baru yang kita peroleh, tidak hanya terkait dengan penyakit, namun juga keahlian dalam penggunaan teknologi informasi, karena masa pandemi ini memaksa sebagian besar dari masyarakat dunia harus tinggal di rumah dan hanya bisa berhubungan melalui media telekomunikasi.

Ilmu baru di bidang kesehatan yang menantang adalah penemuan obat baru maupun vaksin untuk mencegah penularan virus tersebut. “Untungnya” beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2002-2003, saudara virus Covid-2019 ini pernah ada juga yang menyebabkan epidemi penyakit SARS, yaitu virus SARS-CoV, sehingga sedikit banyak kita dapat mengambil pengalaman dan pelajaran dari SARS-CoV tersebut. Salah satunya adalah bagaimana cara masuknya virus ke dalam sel tubuh manusia. Dengan memahami ini, diharapkan dapat dicari dan ditemukan obat-obat baru yang lebih spesifik untuk virus corona baru ini.

Dari pengalaman dengan virus SARS-CoV yang lalu, dilaporkan bahw virus ini memasuki sel yang diinfeksinya melalui suatu reseptor di permukaan sel yang disebut Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE2).  Apakah sebenarnya reseptor ACE2 dan peranannya dalam penyakit COVID-19? Mari kita pelajari bersama. (Catatan: tulisan ini diterbitkan juga melalui web Fakultas Farmasi UGM untuk memperluas jangkauan pembaca)

Reseptor ACE2

          Angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) adalah enzim yang menempel pada permukaan luar (membran) sel-sel di beberapa organ, seperti paru-paru, arteri, jantung, ginjal, dan usus. ACE2 bekerja mengkatalisis perubahan angiotensin II (suatu vasokonstriktor peptida) menjadi angiotensin 1-7 (suatu vasodilator). ACE2 bekerja melawan aktivitas enzim angiotensin converting enzyme (ACE) dengan mengurangi jumlah angiotensin-II dan meningkatkan Angiotensin (1-7). Angiotensin (1-7) sendiri bersifat vasodilator dan bekerja pada reseptor yang berbeda dengan Angiotensin II. (Jadi ACE dan ACE2 itu enzim yang berbeda ya, guys ….. mereka justru bekerja berlawanan dalam mengatur tekanan darah). Jalur metabolisme yang menggambarkan peran ACE dan ACE2 dapat dilihat pada Gambar 1.

Gb. 1. Jalur metabolisme angiotensin yang melibatkan ACE dan ACE2

ACE2 merupakan suatu protein membran tipe I yang menembus membran sebanyak sekali (single transmembrane), dengan bagian yang aktif secara enzimatik berada pada permukaan sel. Bagian ekstrasel ACE2 dapat dipotong dari bagian trans-membrannya oleh enzim lain yang disebut sheddase, membentuk protein yang larut dan akan masuk ke pembuluh darah untuk kemudian diekskresikan melalui urin (1).

Hubungan ACE2 dengan SARS-CoV2

         Dari kejadian epidemi SARS pada tahun 2002-2003, para peneliti telah menemukan bahwa virus SARS-CoV (penyebab SARS) dapat masuk ke dalam sel inangnya dengan berikatan dengan ACE2 sebagai reseptornya (2). Protein spike (yang berbentuk seperti paku-paku yang menancap pada permukaan) virus SARS-CoV memiliki afinitas ikatan yang kuat dengan ACE2 manusia berdasarkan studi interaksi biokimia dan analisis struktur kristal (3). Ikatan dengan reseptor ACE2 inilah yang akan membantu virus SARS-CoV masuk ke dalam sel inangnya. Jika dibandingkan, ternyata protein spike SARS-CoV2 (atau virus Covid-19) memiliki 76,5% kesamaan sekuen asam amino dengan SARS-CoV (4), dan protein spike mereka benar-benar homolog.. Hal ini artinya kedua coronavirus ini memiliki cara yang sama untuk menginfeksi sel inangnya. Yang lebih menarik adalah penemuan bahwa nampaknya virus SARS-CoV-2 dapat mengenali reseptor ACE2 manusia secara lebih efisien dari pada SARS-CoV, yang menyebabkan lebih tingginya kemampuan SARS-CoV2 untuk menular dari manusia ke manusia (5). Hal ini dibuktikan dengan sangat mudahnya virus Covid-19 ini menyebar ke seluruh dunia sampai menyebabkan pandemik dibandingkan SARS-CoV. Adapun adanya ekspresi ACE2 yang berlebihan pada manusia akan meningkatkan keparahan dari penyakit infeksi Covid-19.

Gambar 2. Ikatan protein spike virus SARS-CoV dengan reseptor ACE2 yang memfasilitasi masuknya virus ke dalam sel inangnya.

Mengapa gejala COVID-19 lebih banyak pada paru-paru dan saluran cerna?

         Menggunakan jaringan paru normal dari 8 orang donor dewasa, Zhao et al (2020) menjumpai bahwa 83% sel yang mengekspresikan ACE2 adalah sel epitel alveolus tipe II (alveolar epithelial type II/AECII) yang membuat sel-sel ini seperti menjadi reservoir virus (6). Hal ini menjelaskan mengapa gejala COVID-19 adalah pada saluran nafas dan paru-paru menjadi organ yang paling rentan terdampak virus. Diketahui juga bahwa protein ACE2 terekspresi tinggi pada sel-sel epithelial usus, yang berfungsi sebagai co-receptor bagi masuknya nutrient ke dalam usus, terutama adalah asam amino dari makanan (7). Hal ini juga menjelaskan mengapa gejala COVID-19 tidak hanya terjadi pada saluran pernafasan, tetapi juga saluran cerna. Banyak pasien yang mengalami gangguan saluran cerna seperti diare, sakit perut, dll, sebelum akhirnya terbukti positif COVID-19. Selain itu, reseptor ACE2 juga dijumpai pada sel-sel di luar paru yaitu pada jantung, ginjal, endothelium (8). Adanya ekspresi ACE2 di berbagai organ lain ini berkontribusi terhadap kejadian disfungsi multi organ (multi-organ dysfunction) yang sering dijumpai pada pasien COVID-19 yang parah.

Pengembangan Obat bertarget pada ACE2

          Dengan semakin dipahaminya peran ACE2 terhadap masuknya virus Covid-19, para ahli mencoba mengembangkan obat yang bertarget pada ACE-2. Menggunakan kultur sel dan organoid, Monteil et al, peneliti dari Karolinska Institut Swedia dan University of British Columbia (UBC) Canada saat ini sedang mengembangkan suatu human recombinant soluble angiotensin-converting enzyme 2 (hrsACE2). Dengan adanya bentuk ACE2 yg larut (soluble) sebagai protein target yang dapat berikatan dengan virus Covid-19, maka diharapkan virus yang mengikat ACE2 di permukaan sel akan berkurang, sehingga sel yang terinfeksi menjadi berkurang. Hal ini terbukti dengan hasil penelitiannya menggunakan sel Vero E6, bahwa setelah dipapar dengan hrsACE2, jumlah sel yang terinfeksi virus berkurang (9).

               Mekanisme lain obat yang bertarget pada ACE2 adalah pengikatan/perubahan pada ACE2 sehingga memberikan hambatan terhadap virus Covid-19 yang akan mengikat ACE2, sehingga juga dapat mencegah masuknya virus ke dalam sel inangnya. Sebagai contoh adalah chloroquine dan hydroxychloroquine, di mana mereka dapat menghambat glikosilasi ACE2, yang menyebabkan berkurangnya afinitas protein spike virus SARS-CoV terhadap reseptor ACE2 (10).

               Saat ini dunia masih menunggu penemuan-penemuan obat baru untuk melawan COVID-19 yang telah meluluh-lantakkan banyak negara di dunia, baik yang bertarget pada ACE2 maupun pada tahap-tahap lain kehidupan virus Covid-19.

               Sebagai catatan, obat golongan inhibitor ACE seperti kaptopril, enalapril lisinopril, dan golongan angiotensin receptor blocker (ARB) seperti valsartan, irbesartan, tidak memiliki hubungan langsung dengan enzim ACE2. Memang ada kontroversi yang berangkat dari hasil penelitian pada hewan bahwa obat-obat ACEi dan ARB dapat meningkatkan ekspresi ACE2, namun hal itu belum terbukti pada manusia. Hingga saat ini, belum ada bukti klinis bahwa penggunaan obat-obat tersebut memperparah gejala COVID-19. Karena itu, beberapa organisasi profesi terkait seperti Heart Failure Sociaty of America (HFSA), American College of Cardiology (ACC), and American Heart Association (AHA), termasuk European Society of Cardiology, merekomendasikan untuk meneruskan penggunaan obat-obat ACEI dan ARB pada pasien COVID-19 yang telah menggunakan sebelumnya, karena manfaat obat tersebut lebih besar untuk mencegah komplikasi akibat hipertensi yang tidak terkontrol (11).

Demikian sekedar tambahan wawasan mengenai ACE2 yang menjadi pintu masuk virus Covid-19. Dalam masa pandemi ini, tetap jaga kesehatan ya.. jaga jarak fisik, hindari kerumunan, gunakan masker jika ada di luar rumah (orang sehat boleh pakai masker kain), sering cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, makan makanan yang sehat, istirahat cukup, jangan stress, dan selalu bertawakkal kepada Allah SWT. Semoga virus Covid-19 segera enyah dari bumi kita. Aamiin.

Wallahu a’lam bisawab… semoga bermanfaat

Referensi

1. Patel VB, Clarke N, Wang Z, Fan D, Parajuli N, Basu R, et al. (2014). Angiotensin II induced proteolytic cleavage of myocardial ACE2 is mediated by TACE/ADAM-17: a positive feedback mechanism in the RAS. Journal of Molecular and Cellular Cardiology. 66: 167–7610.

2. Du, L., He, Y., Zhou, Y. et al. The spike protein of SARS-CoV — a target for vaccine and therapeutic development. (2009)  Nat Rev Microbiol 7, 226–236 https://doi.org/10.1038/nrmicro2090

3. Li F, Li W, Farzan M, Harrison SC (2005) Structure of SARS coronavirus Spike receptor-binding domain complexed with receptor. Science 309:1864–1868

4. Xu X, Chen P, Wang J, Feng J, Zhou H, Li X, Zhong W, Hao P (2020) Evolution of the novel coronavirus from the ongoing Wuhan outbreak and modeling of its Spike protein for risk of human transmission. Sci China Life Sci. https ://doi.org/10.1007/s1142 7-020-1637-5

5. Wan Y, Shang J, Graham R, Baric RS, Li F (2020) Receptor recognition by novel coronavirus from Wuhan: an analysis based on decade-long structural studies of SARS. J Virol. https://doi.org/10.1128/jvi.00127-20

6. Zhao Y, Zhao Z, Wang Y, Zhou Y, Ma Y, Zuo W (2020) Single-cell RNA expression profling of ACE2, the putative receptor of Wuhan COVID-19. https://doi.org/10.1101/2020.01.26.919985  

7. Hashimoto T, Perlot T, Rehman A, Trichereau J, Ishiguro H, Paolino M, Sigl V, Hanada T, Hanada R, Lipinski S, Wild B, Camargo SM, Singer D, Richter A, Kuba K, Fukamizu A, Schreiber S, Clevers H, Verrey F, Rosenstiel P, Penninger JM (2012) ACE2 links amino acid malnutrition to microbial ecology and  intestinal infammation. Nature 487(7408):477–481

8. Ding Y, He L, Zhang Q, Huang Z, Che X, Hou J, Wang H, Shen H, Qiu L, Li Z, Geng J, Cai J, Han J, Li X, Kang W, Weng D, Liang P, Jiang S (2004) Organ distribution of severe acute respiratory syndrome (SARS) associated coronavirus (SARS-CoV) in SARS patients: implications for pathogenesis and virus transmission pathways. J Pathol 203:622–630

9. https://www.cell.com/pb-assets/products/coronavirus/CELL_CELL-D-20-00739.pdf

10. Vincent MJ, Bergeron E, Benjannet S, Erickson BR, Rollin PE, Ksiazek TG, Seidah NG, Nichol ST. , 2006, Virol J. 2005 Aug 22;2:69.

11. https://www.acc.org/latest-in-cardiology/articles/2020/03/17/08/59/hfsa-acc-aha-statement-addresses-concerns-re-using-raas-antagonists-in-covid-19





Jangan sembarangan minum klorokuin, waspadai efek samping

22 03 2020

Dengan diumumkannya oleh Presiden Jokowi bahwa Pemerintah telah membeli obat untuk COVID-19 yaitu Klorokuin dan Avigan (Favipirafir), sontak banyak masyarakat menanyakan tentang obat tersebut bahkan akan membeli untuk disimpan. Obat Avigan memang tidak tersedia di Indonesia karena merupakan obat yang relative baru. Sedangkan klorokuin, memang sudah lama ada, karena ditujukan untuk pengobatan malaria dan penyakit autoimun seperti lupus atau rematoid artritis. Apotek-apotek kewalahan ditanyai tentang obat klorokuin, di sisi lain ada juga yang menjual via online. Wah, memangnya beli kacang.. ini obat keras bro ! Jangan diminum sembarangan. Yuk, kita bahas mengapa tidak boleh sembarangan mengkonsumsi klorokuin.

Apa itu klorokuin?

Klorokuin adalah obat antimalaria yang juga digunakan sebagai imunosupresan pada terapi penyakit autoimun, yang ternyata juga memiliki efek antiviral. Selama pandemi COVID-19, obat ini telah dipakai di beberapa negara sebagai salah satu terapinya, misalnya di China, Malaysia, India, dll. Secara farmakologi, obat ini memang memiliki kemampuan untuk menghambat masuknya virus ke dalam sel dengan cara berikatan dengan reseptor selular ACE2 yang merupakan “pintu masuk”-nya virus SARS-CoV. Dengan ikatannya itu maka akan menghambat ikatan virus dengan reseptornya dan mencegah masuknya virus. Selain itu, untuk virus yang sudah masuk ke dalam sel, klorokuin dengan sifat basanya juga dapat menembus sel dan menyebabkan sel bersifat basa. Sifat basa ini menghambat replikasi sel karena untuk replikasi sel diperlukan suasana lebih asam. Dengan demikian klorokuin dapat memiliki efek antiviral.

Bagaimana cara pakainya?

Menurut beberapa panduan yang diterbitkan di beberapa negara yang menggunakan klorokuin untuk COVID-19, obat ini digunakan dengan dosis 500 mg 2 kali sehari untuk pasien yang telah positif virus corona selama kurang lebih 10 hari. Obat ini harus digunakan dengan pengawasan dokter, karena obat ini juga bisa menyebabkan beberapa efek samping. Dengan pengawasan dokter maka efek samping dapat dicegah atau dikendalikan. Obat ini termasuk golongan obat keras dengan logo lingkaran merah, dan hanya boleh dibeli dengan resep dokter.

Apa efek samping klorokuin ?

Efek samping klorokuin bisa terjadi dalam waktu segera maupun jangka waktu yang lama jika klorokuin dikonsumsi. Efek sampingnya pun bisa bersifat ringan sampai berat. Beberapa efek samping ringan yang dapat terjadi dengan penggunaan klorokuin antara lain adalah : sakit kepala, kehilangan nafsu makan, diare, gangguan lambung, sakit perut, gatal, rambut rontok dan perubahan mood. Adapun efek samping berat yang bisa terjadi dan Anda sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter atau Apoteker adalah jika terjadi: penglihatan kabur, seperti melihat kilatan cahaya, gangguan penglihatan (seperti huruf hilang saat membaca, penglihatan berkabut, obyek terlihat separuh), telinga berdenging, kelemahan otot, muntah, denyut jantung tidak teratur, sampai kejang dan kesulitan bernafas (https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682318.html). Memang tidak semua efek samping ini pasti terjadi, tetapi setiap orang berisiko mengalami efek samping tersebut. Terjadinya efek samping juga dipengaruhi oleh dosis maupun berapa lama obat digunakan. 

Kapan klorokuin digunakan? Bolehkah untuk pencegahan infeksi virus?

Walaupun secara farmakologi berdasarkan uji pada kultur sel klorokuin bisa menghambat masuknya virus ke dalam sel, tetapi pada prakteknya obat ini bukanlah untuk terapi pencegahan COVID-19. Penggunaan obat harus mempertimbangkan risiko dan manfaatnya. Pada pasien dengan positif COVID-19, manfaatnya akan lebih besar daripada risikonya, karena jelas-jelas sudah ada virus SARS-CoV2 di dalam tubuh pasien, dan diharapkan obat ini bisa membantu menghentikan penggandaan virus. Adapun efek sampingnya, jika digunakan dengan pengawasan dokter serta diatur secara tepat dosis dan durasinya, dapat diminimalkan. Tetapi untuk yang masih sehat, belum ada indikasi terinfeksi virus, mulai kapan dan sampai berapa lama Anda akan menggunakan? Seberapa manfaatnya karena belum tentu ada virusnya dalam tubuh Anda ? Alih-alih bermanfaat, Anda malah akan mendapatkan risiko efek samping karena jelas-jelas obatnya sudah Anda konsumsi. Jadi masih mau ikut-ikutan latah mengkonsumsi klorokuin apalagi sampai menimbun dan menyimpan dalam jumlah banyak? Biarkan klorokuin tetap tersedia untuk pasien COVID-19 yang benar-benar membutuhkan.

Lalu bagaimana untuk mencegah infeksi virus corona?

Pada dasarnya virus dapat dieliminasi oleh sel-sel imunitas kita. Sehingga sangat dianjurkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dengan berbagai cara. Misalnya dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang, tidur cukup, olah raga cukup, berjemur di sinar matahari sekitar 15 menit  antara jam 10-13, jangan stress. Dan yang penting lagi adalah mencegah penularan virus  dengan tetap menjaga jarak aman dengan orang lain (social distancing), rajin cuci tangan (bisa dengan sabun dan air), menggunakan masker jika diperlukan, dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga kita terhindar dari infeksi virus corona.

Himbauan kepada sejawat di Apotek

Mohon teman-teman sejawat di Apotek, jika ada masyarakat yang akan beli klorokuin secara bebas tanpa resep dokter tidak perlu dilayani. Tolong bisa diedukasi bahwa klorokuin bukan untuk pencegahan COVID-19. Jika belum ada infeksi virus, risikonya akan lebih besar daripada manfaatnya.





Undang-undang Praktek Kefarmasian is urgently required !

2 02 2020

Dear all,

Udah lama bangeet ngga pernah menulis di blog saya ini. Maafkeun, yah Blog, kamu tersisihkan. Tapi dengan hiruk pikuk yg ramai di dunia kefarmasian, saya jadi ingat kamu lagi, Blog.. yg udah bertahun-tahun menemani saya mengekspresikan buah pikiran dalam tulisan. Saat ini saya akan meneruskan tulisan saya di FB kemarin, terkait isu yg sama.

Tulisan saya terkait PMK 3/2020 dan UU RS no 44 th 2009  di laman Face Book saya kemarin menyatakan bahwa “ Jadi kalau mengacu UU ini, memang harus diterima bahwa tenaga medis dan penunjang medis disebut secara terpisah dari tenaga kefarmasian. Maka mungkin dengan dasar ini, semua yang diluar tenaga medis dan penunjang medis disebut sebagai non-medis, termasuk Farmasi”. Ternyata tulisan ini mengundang “protes” sejawat yang menganggap saya menggiring opini publik utk menerima bahwa Apoteker adalah tenaga non-medis.

Hehe… wait, …  coba yuk kita belajar membaca dan menelaah dengan hati-hati, berpikir secara systematis, dan jangan mudah diprovokasi. Daripada bikin tulisan-tulisan yang membakar, saya prefer mencermati dan bicara hati-hati. Jangan sampai salah bicara, karena akan dibaca oleh banyak orang. Tentu saya berada dalam posisi bahwa Apoteker harus punya tempat dalam pelayanan kesehatan, yang disebut pelayanan kefarmasian. Apoteker juga disebut sebagai tenaga kefarmasian. Demi bisa menulis yang berdasarkan data, terpaksa deh week end ini saya liburan bersama UU RS, UU tenaga Kesehatan, dan beberapa Permenkes hehehe… karena penasaran juga.

              Ada dua UU terkait yang perlu diacu ketika membahas ini, yaitu UU ttg RS no 44 th 2009 dan UU ttg Tenaga Kesehatan no 36 th 2014. Dan satu lagi adalah keputusan Mahkamah Konstitusi no 82/PUU-XIII/2015 tentang Tenaga Medis, yang merupakan hasil uji materi terhadap UU no 36 th 2014.

  1. Sesuai dengan Keputusan Mahkamah Konstitusi tsb, tenaga medis adalah dokter dan dokter gigi, dan ini terlepas dari definisi tenaga kesehatan yang ada pada UU Nakes no 36 th 2014. Jadi jelas, Apoteker bukan tenaga medis.
  2. Menurut UU Nakes no 36/2014 pasal 11, yang termasuk tenaga kesehatan (diluar tenaga medis) adalah psikolog klinis, kebidanan, keperawatan, kefarmasian, kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, gizi, keterapian fisik, keteknisian medis, kesehatan tradisional, dan tenaga kesehatan lain. Pada ayat 6 disebutkan bahwa yg termasuk tenaga kefarmasian adalah Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian (TTK). Jadi, Apoteker adalah tenaga kesehatan, yaitu tenaga kefarmasian.
  3. Pada UU RS no 44 th 2009 pasal 12, disebutkan bahwa Persyaratan sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) yaitu Rumah Sakit harus memiliki tenaga tetap yang meliputi tenaga medis dan penunjang medis, tenaga keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga manajemen Rumah Sakit, dan tenaga nonkesehatan. Di sini muncul istilah tenaga medis dan penunjang medis, yang disebut secara terpisah dengan tenaga kefarmasian.

Apakah Apoteker adalah tenaga medis ? Tentu bukan. Nah, di sini saya memang kurang paham mengapa penggolongannya ketika dituangkan ke dalam PMK 3/2020  pasal 7 kemudian hanya menjadi 3 golongan pelayanan, yaitu : Pelayanan medik dan penunjang medik; pelayanan keperawatan dan kebidanan, dan pelayanan non-medik, dimana pelayanan farmasi dimasukkan ke dalam pelayanan non-medik. (Note: mungkin ini yg bisa ditanyakan kepada penyusun PMK 3/2020 utk klarifikasinya)

Pertanyaannya, benar tidak kalau Apoteker adalah tenaga non-medik (bukan medik) ? Benar, karena definisi tenaga medis sudah jelas. Berarti pelayanannya bisa disebut pelayanan non-medik dong? Iya kalau berdasar definisi tadi. Lha terus?

Pertanyaan berikutnya, perawat dan bidan itu tenaga medis bukan? Ya bukanlah, mereka kan bukan dokter atau dokter gigi. Lha kok pelayanan mereka tidak disebut sebagai pelayanan non-medik, padahal kan bukan tenaga medik ? Lha sejawat bidan dan perawat itu punya definisi yang jelas  tentang pelayanannya, yang dituangkan dalam Undang-Undang Keperawatan (UU no 38 th 2014)  dan Undang-undang Kebidanan (UU no 4 th 2019).

Farmasi kan punya PP 51 th 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian ? Ya memang, dan dari sinilah kemudian diturunkan beberapa PMK tentang Standar Pelayanan kefarmasian, baik utk di RS (no 72 th 2016), Apotek (no 73 th 2016), dan di Puskesmas ( no 74 th 2016). Tapi nampaknya PP dan PMK-PMK ini sebagian masih menjadi sekedar kertas putih berisi peraturan, di mana pelaksanaannya masih sangat bervariasi. Fakta kenyataannya di lapangan masih banyak praktek-praktek yg kurang ideal oleh seorang Apoteker, yang menjadikan peran Apoteker menjadi kurang terasakan. Masalah eksistensi Apoteker ini seperti masalah klasik yang masih menjadi PR besar sampai sekarang.

Nah, barangkali dengan adanya UU Kefarmasian, maka posisi Apoteker akan menjadi lebih kuat dasar hukumnya. Karena itu, situasi carut marut saat ini hendaklah dijadikan momentum utk dapat mendorong atau mempercepat ditetapkannya UU Praktek Kefarmasian yang menjadi payung hukum bagi pelayanan kefarmasian, sehingga tidak lagi disebut sebagai pelayanan non-medik. UU praktek kefarmasian harus disusun yang benar-benar mengayomi semua Apoteker dan tenaga kefarmasian, jangan justru menjadi pembatas dan pemberat. Saya paham sekali tidak mudah menyusunnya… pastinya penuh darah dan air mata …..  klo saya sih cuma bisa omong doang hehehe… Mari kita dukung dan bantu siapapun yang sedang menyiapkan/mereview Rancangan UU Praktek Kefarmasian, dengan masukan yang konstruktif dan doa 😊

Dan yang perlu dingat adalah bahwa setiap ketetapan ada konsekuensinya. Jika memang ingin dianggap professional, jangan hanya minta hak dan dihargai, tetapi tunjukkan dulu kinerja kita. Mengutip pepatah Jawa “ goleko jeneng, tembe jenang”. Menurut mbah Google Translator, jeneng = nama, jenang = sejenis makanan Jawa yg sering dihidangkan saat pesta pernikahan jawa, yg mengandung arti harta atau kekayaan. Jadi, carilah nama dulu agar dikenal. Caranya? Lakukan semua tanggung-jawab sebagai Apoteker sebaik-baiknya, orang nanti akan mengenal … oh Apoteker A itu sangat aktif dan perhatian dengan pasien.. oh Apoteker B itu sangat fasih tentang obat dan bisa diajak diskusi oleh dokter.. oh Apoteker C itu sangat baik ketika memberikan konseling, dll. Setelah dikenal (karena kinerjanya), maka pasti akan mudah mendapatkan kepercayaan, kedudukan, peran, dalam hal ini adalah mendapt “jenang”.

Begitulah, sekedar pendapat… Mohon maaf jika kurang berkenan.





Selamat Datang Mahasiswa Baru Farmasi UGM di Kampus Biru

8 08 2018

Dear adik-adik mahasiswa baru Farmasi UGM,

Image result for mahasiswa baru ugm 2018

Tulisan ini saya dedikasikan untuk adik-adik yang sudah berhasil diterima menjadi mhs baru di Fakultas Farmasi UGM. Gara-garanya sebenernya karena hari ini saya diminta berbagi pengalaman kepada mhs baru, ceritanya jadi “Tokoh Insipratif” hehehe…. (lebay yah), jadi blog ini saya tulisin. Kali-kali aja ada yg kepoin blog ini hehehe….  Soalnya malu juga udah lamaaa ngga sempat nulis lagi. Padahal sebenarnya banyak hal-hal menarik yg bisa ditulis, tetapi banyak deadline lain yang menunggu…

Jadi intinya ada beberapa yg ingin saya sampaikan ke adik-adik:

1. Pertama, SELAMAT !! anda telah melampaui tahapan terberat, yaitu mengalahkan sekian ribu pesain lain yang ingin masuk ke Fakultas Farmasi UGM, yang merupakan salah satu fakultas favorit di UGM. Selalu bersyukur kepada Allah atas semua capaian yang adik-adik dapatkan, tetapi jangan menjadi lengah dan lalai

2. Kedua, ADAPTASI DIRI. Cara belajar semasa SMA sangat berbeda dengan saat kuliah, jadi adik-adik perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Apalagi yang berasal dari luar kota, harus adaptasi dengan tempat kost, teman-teman kost, dan teman-teman kuliah. But dont worry, It will be FUN !!

3. Ketiga, SEMANGAT BELAJAR, mencapai yg terbaik, untuk wujud bakti pada orang tua, rasa syukur pada Allah, dan untuk keberhasilan kalian sendiri.

4. Keempat, jangan kuatir, Bapak/ibu Dosen disini baik-baik semua hehe… semua ingin membantu adik-adik mencapai cita-cita, selama adik-adik juga mau dibantu.

 

Begitu dulu yaaa….. SELAMAT DAN SEMOGA SUKSES SEMUA..

 

 





Menikmati Eksotisme Italy..

24 09 2017

Dear kawan,

Kali ini aku mencoba mendokumentasikan perjalananku ke Italy melalui blog ini. Catatan ringan saja, tetapi bisa menjadi kenangan di kemudian hari. Yang menarik, jadwal keberangkatanku yang sudah disiapkan beberapa bulan sebelumnya hampir bersamaan dengan hiruk pikuk kehebohan akibat pil PCC yang mengggemparkan jagad kefarmasian. Sebelum berangkat aku sempat mengupload tulisan lamaku di blog (tulisan tahun 2008) tentang Somadril yang merupakan salah satu merek obat carisoprodol yang menjadi sumber kehebohan. Tak ayal tulisanku mungkin pas mendapat momentum yang tepat sehingga di-share kawan-kawan sampai ratusan kali. Dan begitulah, tak lama kemudian beberapa wartawan dari beberapa media meminta ulasanku tentang PCC. Bahkan sampai saat habis check in di Bandara Soetta pun masih melayani wawancara “on air” di radio Elshinta Jakarta. Sekarang biarlah sekarang yang berwajib yang mengurusnya, aku mau cerita tentang perjalananku ke Italy saja hehehe….

Very long trip

Perjalananku ke Italy kali ini judulnya adalah mengikuti sebuah symposium internasional yang diselenggarakan oleh Phytochemical Society of Europe (PSE) di Francavilla el Mara, Chieti, Italy. Dengan back ground penelitian di bidang farmakologi, cukup mudah bagiku untuk menyesuaikan dengan topik yang disediakan di sana, yang penting menggunakan medicinal plants sebagai salah satu sumber yang diteliti. Sekaligus ini adalah salah satu kewajibanku untuk mendapatkan luaran penelitian berupa keikutsertaan dalam seminar internasional yang aku janjikan dalam proyek penelitian RAPID (Riset Andalan Perguruan Tinggi dan Industri) yang sedang kujalankan. Sengaja aku tuliskan ini di bagian awal supaya pembaca tahu bahwa aku pergi menjalankan tugas hehehe…. walaupun tentu saja ada efek samping yang menyenangkan yaitu bisa menikmati pengalaman baru di negeri orang. Apalagi Italy terkenal sebagai negeri yang indah dan penuh dengan wisata sejarah. Begitulah, kali ini aku kembali berangkat bersama Bu Triana, partner perjalananku untuk ke empatkalinya untuk mengikuti seminar di luar negeri. Kami memang punya angan-angan, minimal setahun sekali harus bisa ikut seminar internasional di luar negeri, untuk menambah wawasan dan pengalaman…

Kami bersyukur bahwa UGM banyak menyediakan kesempatan (dan dana tentunya) untuk kegiatan diseminasi hasil penelitian ke luar negeri. Kali ini kamipun mendapatkan dana dari BPP UGM. Dan untuk bepergian seperti ini, sekarang aku lebih senang menggunakan paspor hijau karena tidak terlalu ribet menunggu surat ijin Setkab dan paspor dinas. Apalagi urusan visa juga dibiayai. Terimakasih, UGM..!! Untuk ke Italy ini aku harus mengurus visa Schengen, di mana aku harus datang sendiri ke Jakarta untuk cap jari. Setelah semua urusan dokumen beres, berangkatlah kami pada tanggal 16 September 2016 lalu.

Alhamdulillah, Komik Apoteker Cilik udah sampe Roma

Total perjalanan yang kami tempuh dari Jogja sampai ke Francavilla mencapai 30-an jam. Lumayan melelahkan, padahal kami pilih Turkish Air yang durasi perjalanannya paling pendek dan waktunya paling sesuai dengan kebutuhan. Route perjalananan kami adalah Jogja – Jakarta – Istambul – Roma – Francavilla al Mare. Oya, sesampai di Roma, kami memutuskan untuk beli data untuk internet dengan nomor Italy, agar tetap get connected dan bisa update berita dengan keluarga di rumah. Karena kalau bertahan dengan nomor Indonesia untuk sekitar 5 hari.. hadeeh, roamingnya lumayan boo…. !! Tidak lupa aku membawa Komik Apoteker Clikku dua seri untuk ikut berjalan-jalan ke Roma hehehe…

Dari Fiumicino Aeroporto di Roma menuju ke Francavilla kami menggunakan bus selama 3 jam. Beruntunglah Panitia sangat helpful, dibuatnya WA group untuk para peserta sehingga kami bisa berkomunikasi dan bertanya hal-hal yang kurang jelas, termasuk urusan transportasi. Francesco, demikian nama ketua Panitianya, menyarankan kami untuk menggunakan bus dan booking via online untuk memastikan dapat tiketnya. Jadilah kami naik Prontobus, dengan biaya 24 Euro/orang. Francavilla al Mare adalah kota kecil di pinggir pantai di bagian timur laut Italia. Perjalanan darat dari Airport ke Francavilla sungguh indah dengan pemandangan unik khas Italia. Sepanjang jalan kami melihat banyak pohon olive dan pepohonan lain yang tidak dijumpai di Indonesia. Lucunya, kami tidak pernah menjumpai sapi di padang rumput seperti di Belanda, tetapi lebih banyak kambing yang ada. Bukit-bukit sepanjang perjalanan bervariasi, dari bukit yang subur sampai dengan bukit kapur yang gundul tak berpohon tapi indah dari kejauhan. Mirip-mirip gletser dari jauh.

Di depan peta kota Pescara

Bus kami berakhir di terminal bus Pescara, kota sebelah yang lebih besar, di mana dari situ kami masih perlu naik taksi ke hotel di Francavilla. Biaya taxi dari Terminal Bus Pescara ke Francavilla adalah 20 Euro. Hmmkalo udah di negeri orang jangan suka mengkurs mata uang yaa… nanti stress sendiri hehehe…  Sampailah kami di hotel pada pukul 18-an waktu setempat, yang berbeda 6 jam, lebih lambat dari waktu di Indonesia. Mulai jetlag deh…. Suasana masih sore, tetapi badan kami adalah badan jam 11 malam… udah capek dan mengantuk. Oya, hotelnya merupakan tempat di mana symposium diselenggarakan. Kamarnya cukup lega sebenarnya, nyaman untuk tinggal. Sayangnya kurang satu hal penting… tidak ada alat pemanas air untuk memasak air panas !! Hal ini agak terasa karena dari Indonesia kami membawa bekal mie instan, bubur, oatmeal yang butuh air panas. Air panas dari tap water memang bisa diminum katanya, tapi kan kurang panas. Yah, tapi bagaimana lagi… hari pertama datang perut belum diisi. Keciaan... jauh-jauh ke Italy, makannya mie instan hehehe….

PSE Symposium

PSE Symposium sudah dimulai tgl 17 September, saat kami datang, tetapi kami baru bisa mengikuti pada hari ke 2, tgl 18 September. Dengan kebaikan hati Francesco, aku bisa me-reschedule jadwal presentasi yang semula tgl 19 September menjadi tgl 18 September, sehingga bisa selesai pada hari pertama. Symposium diikuti oleh kurang lebih 100-an peserta dari berbagai negara, terutama dari negara-negara Eropa, tetapi ada pula yang dari Mesir, Pakistan, dll., termasuk Indonesia. Alhamdulillah, tugas presentasi oral sudah kami laksanakan dengan baik sebelum lunch time.

Bersama Prof Elvira Gille dari Rumania

Di acara itu kami berkenalan dengan seorang professor dari Rumania yang sangat ramah, namanya Prof Elvira Gille.  Gile deh pokoknya hehehe… beliau baik dan suka bercerita, jadi kami merasa nyaman juga bersama beliau. Beliau menceritakan bagaimana kegiatan risetnya di Rumania dan bagaimana mendorong junior-juniornya untuk maju. Beliau sangat menghargai anak-anak muda yang berprestasi. Awalnya kami berkenalan saat lunch, karena sepertinya beliau melihat kami agak bingung memilih-milih makanan halal yang bisa kami makan. Lalu beliau mencoba jelaskan bahwa makanan ini tidak mengandung babi, bla bla bla… Anyway, thanks, Madame… walaupun sebenarnya masalahnya tidak cuma babi saja hehehe….

Excursion ke Pescara

Hari kedua acara PSE Symposium diawali dengan excursion ke Cantina Zaccagnini di Bolognano, sebuah pabrik anggur. Semula kami berpikir akan ikut excursion tersebut, tetapi setelah kami pikir-pikir lagi, sepertinya nanti di sana kami malah tidak banyak bisa ngapa-ngapain, serba ngga enak nanti kalau diminta nyicip wine dan kami menolak.. hehe.. jadi kami memutuskan untuk berpetualang sendiri. Iya, bisa dibilang “berpetualang” karena susahnya di Italy itu adalah tulisannya sebagian berbahasa Italy, udah gitu orang-orangnya juga tidak banyak yang bisa Bahasa Inggris, terutama di kota kecil macam yang kami kunjungi. Jadi memang kadang harus sedikit gambling ketika mengambil keputusan mau kemana, karena tidak mudah untuk bertanya-tanya. Akhirnya kami putuskan untuk berpetualang ke Pescara saja, kota sebelah yang lebih besar dari Francavilla. Aku mencoba searching di internet dan menemukan ada tempat bernama Ponte del Mare di Pescara. Jadilah kami naik taksi dengan tujuan Ponte del Mare.

di Jembatan Ponte del Mare, sebelah kiri terbentang kota, sebelah kanan lautan..

Ponte del Mare adalah sebuah jembatan indah sepanjang 172 m di pinggir laut yang sering dikunjungi untuk berjalan-jalan. Ada jalur untuk pejalan kaki dan pesepeda. Pemandangan sangat indah dari atas jembatan, di mana kami bisa melihat laut di sisi kanan, sementara kota dan bukit di sisi kiri.  Cuaca di Pescara dan suhunya sangat bersahabat. Dengan suhu sekitar 23-24 derajat sungguh nyaman untuk berjalan-jalan.  Turun dari jembatan kami menuju ke pusat kota menyusuri jalan-jalan yang berada di sepanjang pantai dengan pasir putihnya. Tidak banyak yang bisa kami beli di Pescara karena tidak banyak toko souvenir khusus, jadi kami lebih banyak melihat-lihat saja.

Ke Chieti

Pescara tidak begitu besar, jadi kami memutuskan pergi ke kota lain yang cukup dekat untuk melihat suasana yang lain dan mencoba naik kereta. Setelah melihat-lihat di peta serta harga tiket kereta di mesin tiket, kami memutuskan pergi ke Chieti. Waktu itu ada kereta pukul 14.30an, dengan harga tiket 1.9 Euro. Perjalanan ke Chieti kira-kira 30 menit. Sempat agak bingung ketika mau naik kereta karena kurang jelas tulisannya di jalur berapa, semuanya tertulis dalam Bahasa Italy, dan kalaupun ada pengumuman juga disampaikan dalam Bahasa Italy. Untunglah ada anak muda yang baik hati, walaupun Bahasa Inggrisnya tidak lancar, dia bahkan mengejar kami ketika kami berada pada jalur yang salah. Dia sampaikan bahwa barusan ada pengumuman bahwa kereta ke Chieti beralih di jalur 4 (padahal kami ada di jalur 2), . Alhamdulillaah…

Menu di kedai Kebab halal di Chieti

Di perjalanan menuju ke Chieti, aku coba searching lagi di intenet tempat yang bisa dikunjungi di sana, dan ketemulah tempat yang sepertinya menarik, yaitu Corso Marrucino, sepertinya semacam pusat kota begitu dengan tempat perbelanjaan. Oya… breakfast kami di hotel tadi pagi “hanya” roti, buah dan telur… ngga ada nasi goreng atau bubur ayam hehehe… Siang ini kami sudah kelaparan. Sesampai di stasiun Chieti kami keluar, dan wow… kami menemukan kedai makanan halal berupa kebab, pizza, dll. Tidak mudah mencari restoran halal di kota kecil di Italy. Maka mampirlah kami kesana mengisi perut. Alangkah nikmatnya bisa makan daging halal… Kedai itu milik orang Pakistan. Sekalian kami bertanya bagaimana caranya untuk bisa ke Corso Marrucino. Dan syukurlah karena dari stasiun itu juga ada halte bus yang jalurnya ke Corso Marrucino. Sepanjang perjalanan naik bus ke Corso Marrucino, pemandangan cukup menarik, karena Chieti ternyata kota yang berbukit-bukit, macam kota Semarang, ada kota atas dan bawah. Kota atas nampaknya merupakan kota yang lama, sedangkan di bawah adalah perluasannya. Ini terlihat dari jenis bangunan di kota atas yang berupa bangunan-bangunan kuno ala Eropa yang tinggi-tinggi dengan jalan yang sempit-sempit, sementara di kota bawah nuansanya lebih modern. Aku sempat berharap agak kurusan dikit sepulang dari Eropa karena banyak berjalan, tetapi sepertinya harapanku ini sia-sia belaka. Tetap banyak berjalan, tapi kok lemak tetap bertumpuk di badan kiri kanan… huaa….!!

Di Corso Marrucino kami berjalan berkeliling saja melihat-lihat kemegahan bangunan kuno ala Eropa. Dan waktu mau kembali ke stasiun kereta, kami kembali bingung bagaimana caranya mendapatkan tiket busnya. Alhamdulillah, secara coba-coba kami masuk ke sebuah cafeteria menanyakan apakah mereka menjual tiket bus, ternyata ada, harganya 1,2 Euro. Kamipun segera kembali ke stasiun karena akan kembali ke Pescara. Walaupun capek, tetapi senang karena kami sudah punya pengalaman baru naik kereta api di Italia hehehe… 

Mejeng di depan kereta yg ditungguin… akhirnyaa.. ketinggalan kereta !!

Nah, di sini ada pengalaman lucu. Lagi-lagi karena masalah bahasa, kami tidak begitu well informed mengenai jalur kereta yang akan kami naiki. Singkat cerita, kami membeli tiket kereta dengan jadwal jam 16.40 untuk kembali ke Pescara. Waktu itu sudah jam 16.15an. Karena petugas yang di stasiun sedang sibuk melayani orang lain, akhirnya kami sok pede menuju jalur 2 yang arahnya berkebalikan dengan kereta kami tadi siang dari Pescara. Kamipun menunggu kereta menuju Pescara di situ. Waktu ada kereta lewat dan berhenti di stasiun di jalur 1, kami tidak ingin melewatkan kesempatan berfoto dengan latar belakang kereta yang baru datang. Jepret sana jepret sini, begitulah dua orang yang memang narsis bergantian berfoto…. Setelah kereta tersebut berjalan kembali.. gludaak… barulah kami sadar bahwa itu adalah kereta jam 16.40 ke Pescara yang kami tunggu-tunggu hahahaha…… kami menunggu di jalur 2, kereta datang di jalur 1. Tapi masih ngga sadar, malah berfoto-foto….  Singkatnya kami ketinggalan kereta !!  Segera kami melihat jadwal kereta lagi, dan kereta berikutnya baru akan datang jam 17.35. Tapi untunglah ketika kami tanyakan ke petugas stasiun, tiket kami yg tadi tetap bisa dipakai walaupun untuk jam yang berbeda. Ya sudah… dinikmatin ajah…… kami masih tergeli-geli kalau ingat…

Gala Dinner

Walaupun sempat ketinggalan kereta di Chieti, alhamdulillah kami masih bisa sampai Pescara sebelum jam 18.45. Hal itu penting karena itu saatnya acara  Penutupan Symposium. Kami sempat menghadiri acaranya, dan malamnya bersiap untuk Gala Dinner yang undangannya jam 20.30. Walaupun tubuh kami sudah mulai beradaptasi dengan waktu di Italy,  tetap saja jam 20.30 itu rasanya sudah mengantuk karena di Indonesia sudah jam 02.30 pagi. Bayangin, kami baru mau makan malam jam segitu.

Hidangan pembuka Gala Dinner

Untuk Gala Dinner sedikit istimewa dibandingkan acara dinner sebelumnya, karena kali ini diiringi live music. Makanannya pun lebih banyak dan bervariasi. Tapi lagi-lagi ngga ketemu nasi hehe…. Tapi untunglah, semua makanannya adalah berbahan sea food karena memang di kota pantai, jadi kami bisa makan tanpa kuatir. Dengan model round table, kami duduk bersama peserta dari Mesir. Dinner diawali dengan makanan pembuka berupa irisan ikan salmon, udang, potongan ikan dan cumi berisi keju.  Hidangan berikutnya adalah hidangan utama, berupa pasta dengan saos carbonara ditambah potongan ikan. Berikutnya keluar lagi makanan berupa kentang yang sudah diolah dicampur bayam dibentuk seperti finger, dimasak dengan saus kepiting dberi potongan cumi. Terakhir setelah udah cukup kekenyangan, datang hidangan penutup berupa ikan yang dimasak ditambah kacang. Maaf, aku tidak tahu nama-nama makanannya… semua aneh-aneh hehehe…. Akhirnya Gala dinner yang penuh perjuangan karena ngantuk dan kenyang berakhir juga pukul 23.30-an waktu setempat.

Malam itu juga kami packing barang karena besok paginya akan berangkat ke Roma untuk pulang ke Indonesia.

Roma, the beautiful city

Di jembatan depan hotel di Fiumicino yang menghadap ke muara

Kami berangkat menuju Fiumicino  dari Pescara station pukul 7.30 pagi menggunakan Prontobus seperti saat berangkatnya. Sama seperti saat berangkat, waktu tempuhnya sekitar 3 jam untuk sampai ke Fiumicino Aeroporto. Tapi kami  berencana untuk menjelajahi Roma di hari itu sebelum balik ke Indonesia esok paginya, jadi dari Aeroporto kami naik taksi ke Hotel di Fiumicino. Oya, international airport Roma tepatnya berlokasi di Fiumicino, sebuah kota kecil di selatan Roma.  Karena belum saatnya check in, kami menitipkan barang-barang kami di hotel. Hotel di Fiumicino cukup unik, karena merupakan hotel kecil berlantai dua dengan disain konvensional. Hotelnya terletak dipinggir sungai yang berada di muara. Ada satu jembatan di depan hotel yang menghubungkan dengan sisi seberang sungai di mana kami akan naik bus ke Roma.

Ya, siang itu kami berencana menjelajahi Roma. Destinasi pertama kami adalah Colosseo Roma yang sangat bernilai historis. Ini destinasi wajib deh.… Kami mendapat info dari pelayan Tabaccheria di tempat kami membeli tiket (ketika kami bilang ingin ke Colosseo Roma), bahwa dari Fiumicino kami harus naik bus ke arah Magliana. Sesampai di terminal Magliana, nanti kami harus naik metro ke arah Colosseo. Tabaccheria adalah semacam kedai yang menjual rokok, minuman, dan pernik-pernik lainnya, termasuk tiket bus dan metro. Jadilah kami naik bus ke Magliana dan nyambung metro ke Colosseo.

Colosseo Roma

Dengan latar belakang Colosseo Roma yang kolosal dan bersejarah

Alhamdulillah, sampailah kami di stasiun metro persis di sebelah Colosseo. Colosseo, adalah sebuah bangunan besar dan bersejarah yang terletak di tengah kota Roma. Bangunan ini dibangun pada masa Kaisar Vespasian. Selesai dibangun pada 80 Masehi, bangunan ini mempunyai (kurang lebih) 50.000 tempat duduk penonton untuk menonton berbagai macam pertunjukan…seperti “gladitorial contest” dan “public spectacles”. Sebenarnya jika akan masuk Collosea, kita bisa membeli tiket dan memilih yang dengan guide atau tidak. Tetapi kami tidak punya banyak waktu di Roma, jadi memutuskan untuk tidak masuk ke dalamnya, yang paling tidak memerlukan waktu 2 jam untuk berjalan-jalan di dalamnya. Cukuplah kami udah pernah melihat sendiri bangunan yang sangat Romawi ini dan berfoto-foto di luarnya. Di samping lumayan mahal, kami juga masih ingin ke tempat lain yang tidak kalah terkenalnya di Italia, yaitu ke Vatican city.

Keluar dari Colosseo, kami mencoba naik Roma Hop-on Hop-off Sightseeing bus yang berlaku utk 12 jam dengan harga 18 Euro/orang. Ada 8 bus stop yang dimulai dari 1. Via Marsala (Termini station), 2. Santa Maria Maggiore (Basilica), 3. Colosseo (Colosseum and Ancient Rome), 4. Circo Massimo (Circus Maximus), 5. Piazza Venezia (Capitoline Museums, Pantheon), 6. Vaticano (Vatican City), 7. Fontana di Trevi (Trevi Fountain), 8. Piazza Barberini, dan kembali ke Termini.  Dengan bus ini, kita bisa berhenti di berbagai bus stop untuk turun dan melihat-lihat, dan kembali lagi naik bus berikutnya yang akan lewat setiap 15 atau 20 menit. Sepanjang perjalanan kami mendengarkan penjelasan via earphone yang dibagikan, mengenai tempat-tempat yang dilewati. Sungguh kami sangat takjub melihat kota Roma yang penuh dengan bangunan-bangunan indah, bersejarah dan kolosal. Sangat eksotis. Menyisakan peradaban yang maju beratus-ratus tahun yang lalu. Bangunan yang bersejarah masih sangat terjaga baik, sementara bangunan-bangunan tua lainnya sebagian masih digunakan untuk aktivitas, baik untuk kegiatan perdagangan atau perkantoran. Kami naik dari pemberhentian ke 3 yaitu dari Colosseo. Dan karena kepingin ke Vatican, maka kami turun di pemberhentian ke 6 yaitu Vaticano.

Bersama bu Triana di Vatican City

Vatican juga merupakan tempat yang sangat bersejarah dan terkenal karena merupakan tempat di mana Paus, pimpinan tertinggi ummat Katholik, tinggal. Kita ketahui bahwa Vatikan merupakan sebuah negara yang dikelilingi tembok di dalam kota Roma. Dengan luas area sekitar 44 hektar, dan populasi sebesar 842 jiwa, Negara Kota Vatikan merupakan negara independen terkecil di dunia, baik area maupun populasinya, yang diakui secara internasional. Uniknya, walaupun itu merupakan negara sendiri, sepertinya para wisatawan cukup mudah untuk berada di sekitarnya.  Tapi kami memang tidak masuk ke dalamnya sih…  Di Roma kami sering diingatkan untuk berhati-hati, karena di sana banyak pick pocket. Tapi alhamdulillah, selama kami di sana baik-baik saja.

Grande Moschea Roma

Setelah berfoto-foto sebentar di Vatican, kami ingin berkunjung ke Mesjid Besar Roma atau Grande Moschea Roma yang katanya merupakan Mesjid terbesar di Eropa. Sekalian kami ingin sholat di sana, karena kebetulan itu adalah waktunya sholat ashar. Kalau tidak di Masjid, tidak kebayang kami harus sholat di mana, karena tidak ada mushola berserak seperti di Indonesia hehe.. Setelah menanyakan mbah Google, kami menemukan alamat Masjid tersebut yang berlokasi di sebelah utara Roma, tepatnya di Viale della Moschea, 85. Daripada bingung naik apa dan untuk menghemat waktu, kami memutuskan naik taksi kesana dari Vatican. Kami perlu menunjukkan map kami pada sopir taksi karena takut juga dia tidak tahu, karena kami maklum mereka pasti jarang ke masjid hehehe…

Bersama Imam dan Takmir Masjid Agung Roma

Alhamdulillah, sampailah kami di Masjid Besar tersebut walaupun kami harus jalan dulu beberapa ratus meter karena jalannya hanya satu arah dan taksi tidak bisa sampai kesana. Tak apalah, yang penting udah ketemu masjid udah seneng banget. Sampai di Masjid, kami bertemu dengan Imam dan takmir Masjid tersebut yang berasal dari Mesir. Alhamdulillah, rasanya hommy sekali bisa ketemu masjid dan sholat di sana. Lalu Imam Masjid tersebut mengantarkan kami ke Masjid bagian atas, untuk memperlihatkan isi masjid yang indah. Imam Masjid menjelaskan bahwa pada saat sholat Jumat maupun pada hari-hari besar Islam, termasuk bulan Ramadhan, masjid sangat penuh dengan jamaah dan Masjid dapat menampung sekitar 40.000 jamaah. Sayangnya taman masjid nampak tidak terlalu terawat, mungkin karena cukup luas dan hanya sedikit yang bertugas di sana. Maklum, masjid ini berdiri di atas lahan seluas 30 ribu meter persegi. Luas bukaan?

Dari Masjid kami akan kembali ke Roma Termini lagi untuk pulang ke hotel. Untunglah Imam Masjid menjelaskan kepada kami rute yang harus kami tempuh. Jadi, sekitar 200 meter dari Masjid ada stasiun metro kecil, yaitu  Monte Antenne, di mana kami harus naik metro jurusan Flaminio, lalu naik kereta lagi ke Termini. Alhamdulillah, di sekitar stasiun Roma Termini kami menemukan restoran India halal setelah seharian belum makan apa-apa. Hmm… sedapnyeee….. akhirnya ketemu nasi lagi setelah beberapa hari ngga makan nasi. Dan makanannya cukup enaak…. Nasi biryani udang yang sedap…!!

Setelah bertenaga lagi, kami teringat masih punya karcis bus Hop-on Hop-off yang masih berlaku dan kami belum memutari semua pemberhentian tadi. Akhirnya kami putuskan untuk menghabiskan waktu yang tersisa untuk naik bus Hop-on Hop-off dari dekat Termini, dan berputar sampai kembali ke Termini lagi. Roma di malam hari sungguh indah dengan lampu-lampu di gedung-gedung tua. Suasana cukup ramai di jalanan ketika kami menyusuri jalan-jalan di Roma menggunakan bus Hop-on Hop-off.  Ngomong-ngomong tentang transportasi di Italy, ngga tertib-tertib amat, seperti di Indonesia hehehe…. Salah satu taksi yang kami tumpangi di Pescara, sopirnya nyetir sambil nelpon hampir sepanjang perjalanan. Taksi yang lain sopirnya nyetir sambil nonton film di smartphone-nya. Hadeehh….

Dan akhirnya, sampailah kami di ujung petualangan di Roma. Kami kembali ke Hotel di Fiumicino dekat Airport menggunakan bus, dengan rasa capek tetapi puas.

Pulang ke tanah airku Indonesia

Tanggal 21 September pagi kami bersiap menuju Fiumicino Aeroporto untuk kembali pulang ke tanah air. Alhamdulillah, setelah 3 jam perjalanan Roma – Amsterdam dan 12 jam nonstop Amsterdam – Jakarta, plus Jakarta-Jogja, sampailah aku di rumah kembali dengan selamat dan bersyukur masih diberi kesempatan mengunjungi belahan bumi lain dari ciptaan Allah. Semoga kelak masih bisa berkunjung ke belahan bumi lainnya. Amiin.