Kaleidoskopku di 2015 dan resolusiku untuk 2016

31 12 2015

Dear kawan,
Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2015. Aku banyak hutang pada blog-ku ini yang sudah berbulan-bulan tidak terawat.. Karenanya hari ini aku putuskan harus menulis dan menyambangi blogku yang mulai merana.. Statistik blog-ku sebenarnya tidak jelek-jelek amat.. sepanjang tahun 2015 setiap harinya ada rata-rata 4000 hits, termasuk sampai hari ini. Bahkan pernah mencapai 8000-an ketika aku menulis tentang klorin dalam pembalut. Sayang banget yah kalau dibiarkan layu termakan waktu… Kali ini aku akan mengenang tahun yang tak lama lagi akan kutinggalkan.. 2015. Sebagai dokumentasi pribadi saja.

Eksistensi
Buatku tahun 2015 adalah tahun kebangkitan akan sebuah eksistensi diri. Alhamdulillah, masih banyak kawan yang mempercayaiku untuk menjadi narasumber di berbagai seminar kefarmasian. Tahun 2015 ini cukup banyak kota yang kukunjungi dalam rangka berbagi dalam seminar, antara lain : Kudus, Solo, Jember, Cirebon, Pandeglang, Bukitinggi, Semarang, Makassar, Balikpapan, Jakarta, Sukabumi, Gorontalo, Kendari dan Wonogiri. Menurut catatanku, dalam tahun 2105 kemarin ini aku menjadi narasumber pada 24 event seminar/workshop. Sedangkan untuk mengikuti even internasional/regional aku bahkan 2 kali pergi ke Bangkok dalam setahun ini. Buatku itu adalah pengalaman yang tak ternilai harganya. Reward-nya lebih dari sekedar finansial, yakni perasaan bahagia saat bertemu banyak kawan dan juga sambutan yang menyenangkan. Memang ada yang harus sedikit dikorbankan yaitu beberapa waktu libur terpaksa harus jauh dari keluarga. Tapi alhamdulillah, semua masih dalam toleransi dan still under control hehe… kan ya ngga setiap minggu..

Change in life
Bulan Juli 2015, perubahan besar dalam hidup juga terjadi pada keluargaku, khususnya dua anakku, si sulung dan si bungsu. Alhamdulillah, setelah cukup harap-harap cemas dengan hasil SNMPTN dan SBMPTN, akhirnya si sulung Afan diterima sebagai mahasiswa baru UGM di Fakultas Psikologi, sesuai dengan keinginannya. Sebuah tugas orang tua mengantarkan anak masuk ke jenjang perguruan tinggi tertunaikan sudah. Alhamdulillah.. Lalu si bungsu Hanna juga mulai masuk sekolahnya yang pertama di Kelompok Bermain (Play group) Al Azhar. Yang aku happy.. si kecil ini lain sekali dengan kakak-kakaknya.. Mungkin faktor mandiri karena sudah biasa ditinggal ibu ke kantor atau bahkan keluar kota, juga biasa melihat kakak-kakaknya sekolah… dia pede sekali…  di hari pertama sekolah sudah tidak mau ditungguin !! hehe.. hebaat oii ! Padahal dulu kakaknya yang cewek waktu TK harus ditunggu full.. bahkan aku harus ikut duduk disampingnya di kelas sampai berminggu-minggu !! Sampai ada mahasiswa yang konsultasi skripsi aku minta datang ke TK karena aku sambil menunggu si kecil sekolah..hehe… Alhamdulillah, everythings goes well… termasuk Dhika yang punya special needs juga lancar di sekolah. Pas kenaikan kelas ke kelas dua SD, ia bahkan tampil di panggung main organ tunggal…

Magister Farmasi Klinik UGM menjadi Prodi
Sebuah perubahan yang cukup signifikan juga terjadi di Fakultas. Pada bulan Maret atau April, Fakultas (Dekan) menetapkan kebijakan bahwa program Magister Farmasi Klinik yang semula adalah minat pada Prodi S2 Ilmu Farmasi mulai tahun 2015 ini “disapih” menjadi Program Studi tersendiri. Kebijakan ini cukup berimbas padaku karena kemudian aku diberi amanah menjadi Ketua Prodi Magister Farmasi Klinik. Seperti de javu saja hehe… karena ketika Program ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2001, aku juga diberi tugas menjadi pengelola. Sempat istirahat dari pengelolaan MFK pada tahun 2013-2104, tahun ini mulai bertugas lagi. Bahkan mendapat tugas yang lebih berat karena harus menyiapkan akreditasi Prodi MFK. Jadilah pada tahun 2015 ini hampir separuh tahun aku berkutat dengan penyiapan Prodi MFK dan akreditasi melalui LAMPTKes. Perjuangan masih panjang…  Bismillah….

Apoteker cilik, The comic

Prototype Komik Apoteker Cilik

Prototype Komik Apoteker Cilik

Di tahun 2015 ini aku juga punya “mainan” baru… yaitu program Pengabdian masyarakat yang didanai DIKTI tentang Apoteker Cilik. Program ini kami usulkan dengan didasari keprihatinan masih belum populernya profesi Apoteker di mata masyarakat. Kami pingin Apoteker bisa eksis sebagai salah satu tenaga kesehatan yang penting. Jika di sekolah-sekolah ada Program Dokter Kecil, mengapa tidak ada Apoteker Cilik? Bekerjasama dengan dua SD yaitu SDN Kentungan dan SDIT Luqmanul Hakim Yogya, kami memulai program ekstrakurikuler Apoteker cilik di sana, dibantu oleh adik-adik mahasiswa yang aktif dalam PIOGAMA. Salah satu keluaran yang kami anggap monumental adalah dibuatnya komik Apoteker Cilik. Saat ini baru dicetak dalam jumlah terbatas.. masih nunggu Penerbit untuk diproduksi skala komersial niih… !
Insya Allah akan menjadi program yang berkesinambungan di tahun 2016 ini…

Resolusiku utk 2016

Mungkin tidak perlu terlalu banyak janji dan rencana yah.... tapi di tahun 2016 besok ini target pribadiku adalah meng-update buku-bukuku terbitan tahun 2010 dan 2011 yang notabene sudah berusia 4-5 tahunan, sudah waktunya diupdate. Ilmu kesehatan dan pengobatan berkembang sangat cepat dan tentu harus tetap diikuti supaya bisa tetap up to date.  Tiga buku sudah selesai revisi draft dan masuk penerbit,.. semoga bisa released tahun 2016.

Target berikutnya adalah mengantarkan Prodi MFK UGM agar terkreditasi semaksimal yang kami bisa, serta menjalankan visi dan misi Prodi untuk lebih dikenal secara nasional dan regional dan menyediakan pendidikan farmasi klinik yang tebaik.

Pekerjaan kolektif lain adalah mensupport establishment Unit Uji BABE Lab Terpadu Fakultas Farmasi UGM di mana  aku menjadi Manager Teknik Bidang Klinis. Itu juga bukan pekerjaan mudah, karena banyak berinteraksi dengan pihak luar (industri, BPOM), tetapi jika sudah mapan Insya Allah akan menjadi prestise tersendiri buat Fakultas. Aku banyak sekali belajar dari kegiatan ini, dari mulai menyiapkan protokol uji, berkorespondensi dengan mitra terkait dengan perjanjian kerjasama, menyiapkan berbagai SOP dalam uji BE, berinteraksi dengan teman-teman dokter di RS UGM, berinteraksi dengan BPOM, dll.

Selain itu, pekerjaan pribadi lain yang aku targetkan adalah penelitian, di mana untuk tahun 2016 ini ada 2 proposal hibahku yang kuharap bisa diterima oleh DIKTI (amiin…), dan satu  produk obat herbal bekerjasama dengan sebuah industri farmasi ditargetkan bisa diproses lebih lanjut untuk aspek komersialnya.

Kegiatan berbagi dalam seminar Insya Allah masih jalan selama dibutuhkan… untuk tahun 2016 ini sudah ada 3 jadwal indent di bulan Februari, yakni di Ponorogo, Jogja, dan Sorong. Kegiatan mengawal penulisan artikel ilmiah populer untuk harian Tribun Jogja juga masih bakal jadi pekerjaan rutin tahun 2016 besok. Tapi maaf, aku tidak punya resolusi khusus untuk blog tercinta ini… mengalir saja menulis sesempatnya….

Secara pribadi tentu aku juga berharap untuk bisa menjadi istri dan ibu yang lebih baik lagi, dan dapat “menciptakan” surga di rumah, buat suami dan anak-anak… Amiien. Ini yang terpenting, karena dari situlah aku berasal dan untuk itulah aku ada…  Oiya, satu lagi…. turunin berat badan hehe…. baju-baju sudah mulai terasa sesak!

Bismillah, inilah kaleidoskop dan resolusiku, kawan… Manusia bisa berencana, tapi semua kita pasrahkan kepadaNya.. semoga diberi kekuatan dan kelancaran menjalani.. Amiien





Jangan takut (jika harus) kemoterapi…

27 09 2015

Dear kawan,

Tulisan ini aku dedikasikan pada kawan-kawanku  yang diuji Allah dengan penyakit kanker…. Baik yang sudah tiada (Ade Azka, mbak Bintang), yang masih berjuang dengan kemoterapi (mbak Lesti, bu Wara), dan yang alhamdulillah survive dari kanker (bu Aris)..  Juga untuk semua penderita kanker … Semoga bisa menginsipirasi untuk tidak takut dengan kemoterapi… Bagaimanapun ikhtiar yang benar adalah wajib, hasilnya hanya kepadaNyalah kita berserah diri…

Berbicara tentang kemoterapi, tentu tidak lepas dari masalah penyakit kanker. Dan berbicara tentang kanker, tak dipungkiri banyak orang merasa ngeri dan takut. Yah, tidak heran karena kanker termasuk salah satu penyakit yang cukup mematikan. Namun demikian, banyak pula orang-orang yang berhasil sembuh dari kanker (survivor kanker) dan bisa menjalani kehidupan dengan normal kembali. Salah satu pendukung kesembuhan pasien kanker adalah pengobatan yang tepat, di mana salah satu terapi utama kanker adalah kemoterapi. Banyak orang takut menjalani kemoterapi karena mendengar cerita tentang macam-macam efek sampingnya, padahal dengan menunda kemoterapi perkembangan kankernya akan terus berjalan. Artikel ini akan mengupas tentang apa itu kemoterapi, pentingnya untuk pengatasan kanker, efek samping dan cara pengatasannya.

Penyakit kanker

Perkembangan sel kanker

Perkembangan sel kanker

Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan abnormal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker akibat terjadinya mutasi. Dalam perkembangannya, sel-sel kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya yang disebut metastase, sehingga dapat menyebabkan kematian. Masyarakat sering kurang pas menggunakan istilah kanker dan tumor, karena tidak semua tumor adalah kanker. Tumor adalah segala benjolan tidak normal atau abnormal. Tumor dibagi dalam 2 golongan, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Kanker adalah istilah umum untuk semua jenis tumor ganas.
Kanker dapat menimpa semua orang, pada setiap bagian tubuh (termasuk darah dan limfa), dan pada semua gologan umur, namun lebih sering menimpa orang yang berusia 40 tahun. Umumnya sebelum kanker meluas atau merusak jaringan di sekitarnya, penderita tidak merasakan adanya keluhan ataupun gejala. Bila sudah ada keluhan atau gejala, biasanya penyakitnya sudah lanjut. Jenis-jenis kanker yang cukup banyak dijumpai di Indonesia adalah : kanker leher rahim (kanker serviks), kanker payudara, penyakit Trofoblas ganas, kanker kulit, kanker nasofaring, kanker paru, kanker hati, kanker kelenjar getah bening (Limfoma Malignum), kanker usus besar dan kanker darah (Leukemia).
Yayasan Kanker Indonesia mengingatkan adanya 7 gejala yang perlu diperhatikan dan diperiksakan lebih lanjut ke dokter untuk memastikan ada atau tidaknya kanker, dengan akronim WASPADA, yaitu:
1. Waktu buang air besar atau kecil ada perubahan kebiasaan atau gangguan.
2. Alat pencernaan terganggu dan susah menelan.
3. Suara serak atau batuk yang tak sembuh-sembuh
4. Payudara atau di tempat lain ada benjolan (tumor).
5. Andeng-andeng (tahi lalat) yang berubah sifatnya, menjadi semakin besar dan gatal.
6. Darah atau lendir yang abnormal keluar dari tubuh
7. Adanya koreng atau borok yang tak mau sembuh-sembuh.
Pengobatan kanker
Jika seseorang telah terdiagnosa kanker oleh dokter ahli, maka akan dilakukan tindakan pengobatan atau tindakan medis untuk menghilangkan kanker tersebut. Tindakan tersebut bisa salah satu kombinasi dari beberapa prosedur berikut, yaitu pembedahan (operasi), penyinaran (Radioterapi), pemakaian obat-obat pembunuh sel kanker (sitostatika/kemoterapi), peningkatan daya tahan tubuh (imunoterapi), pengobatan dengan hormone atau transplantasi organ. Kemoterapi merupakan salah satu prosedur penting dalam pengobatan kanker.
Apa itu kemoterapi?
Obat kemoterapi adalah obat anti kanker yang bertujuan untuk menghentikan berkembangnya sel-sel kanker, baik di tempat asalnya maupun yang mungkin sudah menyebar ke organ lain. Kemoterapi juga digunakan untuk mengurangi resiko munculnya kembali (recurrence) kanker maupun mengecilkan ukuran dari tumor/ kanker. Dengan ukuran tumor yang mengecil dari kanker maka berbagai macam gejala yang tidak enak yang dirasakan oleh pasien diharapkan juga ikut berkurang. Jika ukuran kanker mengecil, prosedur lain juga akan lebih mudah dilakukan dan tingkat keberhasilannya meningkat.
Pada umumnya, pengobatan dengan cara kemoterapi paling efektif jika menggunakan kombinasi dari beberapa jenis obat. Pemberian beberapa obat secara sekaligus, dapat meningkatkan kekuatan obat dalam membunuh sel kanker. Apa dan berapa dosis obat-obat yang akan diberikan ditentukan oleh dokter berdasarkan beberapa faktor, antara lain: umur pasien, jenis kanker, dan stadium dari kankernya. Untuk masing-masing jenis kanker ada regimen kemoterapinya sendiri.
Di bawah ini adalah daftar beberapa obat yang sering diberikan dalam regimen kemoterapi.
1. Cyclophosphamide (Cytoxan)
2. Doxorubicin (Adriamycin) atau Epirubicin (Ellence)
3. 5-fluorouracil (Adrucil)
4. Methotrexate (Rheumatrex)
5. Paclitaxel (Taxol) or Docetaxel (Taxotere)
Kapan dan bagaimana kemoterapi diberikan?

Pasien sedang menjalani kemoterapi

Pasien sedang menjalani kemoterapi

Kemoterapi yang diberikan sesudah operasi pengambilan tumor disebut adjuvant chemotherapy, atau kalau diberikan sebelum operasi dinamakan neoadjuvant chemotherapy. Beberapa obat anti-kanker ada yang diberikan secara per oral (diminum) atau disuntikkan (ke otot, bagian tubuh dimana ada jaringan lemak, atau dibawah kulit). Akan tetapi, sebagian besar obat anti kanker diberikan dengan disuntikkan melalui vena (infus). Lokasi pemberian obat obat anti-kanker ini bisa di rumah pasien, di tempat praktek dokter, atau di rumah sakit, bergantung pada tipe kemoterapi yang diberikan.
Untuk kanker yang menjalani tindakan operasi pengangkatan, kemoterapi biasanya dimulai dalam kurun waktu antara 4-12 pekan sesudah operasi pengangkatan tumor. Untuk yang tidak ada tindakan pengangkatan, kemoterapi bisa segera dimulai jika pasien sudah terdiagnosa kanker. Kemoterapi umumnya diberikan dalam siklus 21-28 hari, artinya satu tindakan kemoterapi dengan kemoterapi selanjutnya berjarak 21-28 hari. Pemberian obat kemo (anti-kanker) bisa diberikan setiap pekan atau tiga pekan sekali, dengan ‘masa istirahat’ untuk memberikan kesempatan pada tubuh untuk pulih kembali dari efek kemoterapi. Lamanya siklus pengobatan dengan kemoterapi tergantung dari jenis obat yang diberikan. Lama keseluruhan waktu pengobatan bisa bervariasi, tetapi sering sampai 3-6 bulan.

Apa saja efek samping kemo?
Obat-obat kemo bersifat tidak selektif, sehingga di samping membunuh sel kanker, ia bisa juga mempengaruhi pertumbuhan sel normal. Karena itu, kemoterapi dapat menyebabkan beberapa efek samping. Di bawah ini adalah beberapa efek samping obat kemoterapi berserta pengatasannya.
1. Mual dan muntah.
Mual dan muntah adalah efek samping yang tersering dijumpai pada penggunaan obat kemo. Mual dan muntah bisa terjadi segera setelah kemo, atau mungkin baru muncul sehari setelah kemo, atau bahkan lebih. Beberapa orang mungkin bahkan akan mual atau muntah sebelum kemo karena faktor psikologis. Untuk mengatasai hal ini, dokter biasanya akan memberikan obat anti mual/muntah (golongan anti-emetik) untuk bisa mengurangi atau mencegah rasa mual dan muntah yang bisa timbul selama pengobatan dengan kemoterapi. Obat anti emetic ada yang disertakan bersama kemoterapi dan ada yang digunakan setelah kemoterapi. Gunakan sesuai petunjuk dokter. Selain itu, makan beberapa kali dalam sehari dengan porsi yang kecil bisa membantu menolong keadaan ini.
2. Rambut rontok (alopecia atau kebotakan).
efek botakKarena sel rambut juga merupakan sel yang aktif membelah, maka ia juga menjadi sasaran obat kemoterapi. Selama pengobatan, rambut bisa saja menipis atau rontok sama sekali, bergantung pada obat anti-kanker apa yang di berikan. Alis, bulu mata dan rambut di bagian tubuh lain juga bisa rontok. Rambut akan tumbuh kembali begitu pengobatan berakhir. Rambut yang baru saja tumbuh sesudah kemoterapi selesai, biasanya mempunyai tekstur dan warna yang lain dari rambut sebelum kemoterapi.Selama pengobatan, jika rambut tidak rontok sama sekali dan hanya menipis, gunakan shampoo yang lembut, sisir yang halus dan atur pengering rambut yang digunakan pada panas yang paling rendah. Beberapa perempuan memilih untuk memotong pendek rambutnya menjelang kemoterapi, agar supaya merasa lebih baik dengan merasa mengontrol keadaan yang dihadapi. Jika memillih memakai rambut palsu (wig), kebih baik disiapkan sebelum rangkaian kemoterapi dimulai, sehingga warna dan style wig bisa disesuaikan dengan rambut asli.
3. Menopause dini (keadaan dimana menstruasi berhenti secara dini).
Banyak perempuan tidak mendapatkan menstruasi lagi selama dan sesudah kemoterapi, dan pada saat yang bersamaan timbul gejala menopause seperti rasa panas yang timbul di wajah, bagian tubuh lainnya atau seluruh tubuh (hot flashes).
Gejala lain yang timbul adalah vagina menjadi lebih kering dari biasanya.Bagi mereka yang sudah dekat dengan usia menopause (45 tahun atau lebih tua dari 45 tahun), gejala-gejala ini bisa menetap. Sementara bagi mereka yang lebih muda, gejala-gejala ini bisa hanya sementara, yang di tandai dengan kembalinya menstruasi.
4. Letih dan lemah.
Kelelahan adalah efek samping yang sangat biasa terjadi pada orang yang sedang menjalani kemoterapi. Sampaikan kepada dokter jika anda mengalami hal ini untuk bisa memastikan penyebabnya. Jika ada anemia misalnya, dokter akan menangani secara tepat. Tanyakan juga pada dokter anda apakah ada obat yang bisa menolong untuk mengurangi rasa letih. Olahraga ringan dan diet yang sehat dan seimbang akan menolong meningkatkan energy. Istirahat yang banyak dan minta anggota keluarga dan teman untuk menolong mengerjakan pekerjaan sehari-hari Anda..
5. Neutropenia dan mudah terkena infeksi.

berkurangnya neutrofil akibat kemoterapi

berkurangnya neutrofil akibat kemoterapi

Orang yang sedang menjalani kemoterapi mudah terkena infeksi karena kemoterapi mengakibatkan turunnya jumlah sel darah putih (neutrophil) dalam darah yang merupakan “pasukan” pelawan bakteri/kuman. Penurunan jumlah sel darah putih ini (disebut neutropenia) umumnya terjadi pada minggu kedua setelah kemo dan dapat dilihat dengan pemeriksaan darah. Karena itu sebaiknya hindarkan berdekatan dengan orang yang dengan sakit menular. Lebih sering mencuci tangan dengan sabun bisa mencegah infeksi. Jika terluka, segera bersihkan luka dengan air bersih/anti septik.
Jika anda mengalami tanda-tanda infeksi setelah kemoterapi seperti demam tinggi, sariawan berat, radang di mulut, batuk dan sesak, radang sinus, dll, segera sampaikan ke dokter. Jika neutropenia Anda cukup berat (neutrophil kurang dari 500 cell/ml) mungkin anda perlu dirawat di RS dan mendapatkan pengobatan khusus seperti pemberian obat golongan granulocyte colony-stimulating factors (G-CSF) seperti filgrastim untuk meningkatkan kembali jumlah neutrophil Anda. Sebelum kemoterapi berikutnya, dokter Anda akan/harus selalu minta Anda melakukan uji/tes darah di laboratorium, untuk memastikan jumlah neutrophil anda cukup tinggi sehingga aman untuk menerima kemoterapi.
6. Luka/sariawan di mulut dan tenggorokan/kerongkongan (mucositis oral)
Karena jenis sel yang ada di mulut dan tenggorokan/kerongkongan adalah jenis sel yang tumbuh, berkembang dan berganti dengan cepat, dan obat-obat kemoterapi mudah merusak sel-sel jenis ini, maka daerah mulut dan tenggorokan/kerongkongan menjadi mudah luka atau kering. Karena itu, lakukan pemeriksaan (check-up) gigi sebelum memulai kemoterapi. Selama terapi, bersihkan gigi dan gusi setiap kali selesai makan dan sebelum tidur menggunakan sikat gigi yang lunak. Penggunaan pasta gigi dengan soda dan peroksida akan sangat membantu. Hindari obat kumur berkadar alkohol tinggi. Jika pasta gigi menyebabkan rasa sakit, bisa diganti dengan berkumur dengan air garam. Perbanyak minum air putih.
7. Berat badan bertambah.
Meskipun penyebab pastinya belum jelas, sejumlah perempuan mengalami kenaikan berat badan selama kemoterapi. Makan makanan yang sehat dan bergizi akan membantu mempertahankan berat badan yang ideal.
8. Kuku yang rapuh.
Beberapa jenis obat anti-kanker dapat menyebabkan kerapuhan pada kuku jari tangan dan jari kaki. Kuku bisa mudah pecah dan rusak, bahkan terasa sakit dan lalu lepas. Seperti rambut yang rontok, masalah dengan kuku ini hanya sementara saja.
9. Diare atau sembelit
Beberapa kemoterapi bisa menyebabkan efek samping diare atau sebaliknya sembelit. Efek samping ini bisa diatasi dengan mengatur pola makan yang sesuai seperti pada kondisi tanpa kanker.

Jangan takut kemoterapi, jika bisa segerakan !!
Bagi penderita kanker, sampai saat ini kemoterapi merupakan salah satu terapi standar untuk kanker di hampir semua negara. Berbagai uji klinik sudah menunjukkan keberhasilannya. Efek samping di atas yang nampaknya merugikan ini jika dihitung jauh lebih kecil daripada manfaat kemoterapi. Jangan sampai ketakutan terhadap efek samping kemoterapi menyebabkan pasien menunda dan bahkan mencari pengobatan alternative yang belum bisa dijamin keberhasilannya. Penundaan menjalani kemoterapi hanya akan menyebabkan sel-sel kanker tumbuh semakin banyak dan ketika akan dikemo sudah masuk dalam stadium lanjut yang akan mengurangi keberhasilan kemoterapi. Sebaliknya semakin awal dilakukan kemoterapi, maka tingkat keberhasilan penyembuhan semakin besar.
Terapi lain seperti peningkatan system imun, radioterapi dan lain-lain juga bisa dilakukan secara bersamaan sesuai dengan petunjuk dokter. Memang pada akhirnya hanya kepada Tuhan yang Maha Kuasa kita serahkan hasil kesembuhannya, tetapi ikhtiar yang benar adalah suatu kewajiban manusia.

 

(dari berbagai sumber)





Cermat menggunakan suplemen kesehatan stamina pria

6 09 2015

Dear kawan,

tulisan ini adalah reposting dari tulisanku di Harian Tribun Yogya hari ini…

Baru-baru ini, tepatnya tanggal 24 Agustus 2015 yang lalu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI mengumumkan penemuannya terkait adanya berbagai suplemen kesehatan khususunya untuk stamina pria yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO).

Berdasarkan hasil pengawasan Badan POM di seluruh Indonesia dari bulan November 2014 sampai dengan Agustus 2015, ditemukan sebanyak 50 OT dan SK stamina pria mengandung BKO, dengan 25 di antaranya merupakan produk OT tidak terdaftar (ilegal). Permasalahan ini bukan hanya menjadi isu di Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia. Berdasarkan informasi melalui Post-Marketing Alert System (PMAS), sebanyak 18 OT dan SK mengandung BKO juga ditemukan di ASEAN, Australia, dan Amerika Serikat. Untuk itu, Badan POM mengeluarkan peringatan/public warning sebagaimana terlampir, dengan tujuan agar masyarakat lebih waspada dan tidak mengonsumsi OT dan SK mengandung BKO karena dapat membahayakan kesehatan.
Bahan Kimia Obat (BKO) yang teridentifikasi dicampur dalam produk OT dan SK stamina pria hasil temuan periode November 2014 hingga Agustus 2015 didominasi oleh sildenafil dan turunannya. Sildenafil sendiri merupakan obat yang diindikasikan untuk mengobati disfungsi ereksi dan hipertensi arteri pulmonal. Obat ini umum dikenal dengan nama Viagra dan paling dominan digunakan sebagai obat disfungsi ereksi pada pria. Sildenafil dan turunannya termasuk golongan obat keras yang hanya boleh digunakan sesuai petunjuk dokter. Jika digunakan secara tidak tepat, bahan kimia obat ini dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan, seperti kehilangan penglihatan dan pendengaran, stroke, serangan jantung, bahkan kematian.
Tulisan kali ini mengajak Anda mengenal sildenafil dan turunannya, dan bahayanya jika digunakan sembarangan seperti yang dicampurkan pada suplemen kesehatan stamina pria.
Riwayat penemuan sildenafil

Viagra alias Pil Biru

Viagra alias Pil Biru

Tahukah anda bahwa penemuan sildenafil (Viagra) adalah tidak sengaja? Kisahnya pada tahun 1991, Dr. Nicholas Terret dan timnya di perusahaan farmasi Pfizer sedang meneliti sildenafil (molekul UK-92, 480) sebagai obat hipertensi dan angina pektoris. Angina pektoris adalah penyakit jantung di mana terjadi penyempitan/kontraksi pembuluh darah jantung (vasokonstriksi). Namun ternyata efek sildenafil terhadap angina pektoris sangat minimal. Hasil yang didapat justru di luar dugaan. Beberapa relawan yang menggunakan sildenafil justru merasakan ereksi pada penisnya. Menurut hipotesis, ereksi merupakan efek samping sildenafil. Dari situ kemudian obat ini justru dikembangkan menjadi obat untuk mengatasi disfungsi ereksi pada pria. Kok bisa ya obat untuk jantung malah jadi obat untuk penis?

Bagaimana Viagra bisa membantu penis ereksi?
Mekanisme fisiologis ereksi pada penis pada saat ada stimulasi seksual melibatkan pelepasan suatu senyawa, yaitu oksida nitrat (NO) dari bagian penis yang disebut corpus cavernosum. NO ini akan mengaktifkan enzim guanilat siklase (GC), yang menyebabkan peningkatan senyawa siklik guanosin monofosfat (cGMP), yang selanjutnya menyebabkan pelebaran pembuluh darah di sekitar corpus cavernosum. Dengan pelebaran pembuluh darah di sekitar penis, maka darah dapat mengalir ke penis dan menyebabkan pembesaran penis. Senyawa cGMP ini bisa dirusak oleh oleh enzim yang namanya fosfodiesterase-5 (PDE5). Sildenafil bekerja menghambat enzim tersebut sehingga kadar cGMP tetap banyak dan dapat menyebabkan ereksi penis.

Mekanisme aksi Sildenafil mengatasi disfungsi ereksi

Mekanisme aksi Sildenafil mengatasi disfungsi ereksi

Belakangan diketahui bahwa enzim ini justru banyak terdapat di otot pembuluh darah penis dan paru-paru, bukan di jantung. Itulah mengapa obat ini tidak begitu efektif untuk angina pectoris (penyempitan pembuluh darah jantung), tapi justru lebih poten pengatasan untuk disfungsi ereksi dan penyempitan pembuluh darah paru-paru (hipertensi pulmonary).
Kembali ke cerita penemuan tadi, dengan adanya efek tak disangka-sangka tesebut, akhirnya pada tahun 1994, Pfizer memutuskan untuk melanjutkan uji klinik untuk lebih menggali potensi sildenafil sebagai obat disfungsi ereksi. Ian Osterloh adalah peneliti Pfizer yang amat berperan dalam penemuan sildenafil untuk indikasi disfungsi ereksi, sedangkan Peter Dunn dan Albert Wood adalah yang berjasa mensintesis sildenafil dalam bentuk pil. Sildenafil mendapat ijin FDA sejak 27 Maret 1998 dengan nama Viagra dan kini menjadi obat yang sangat laris dalam pengobatan disfungsi ereksi. Sekitar 600.000 dokter meresepkan sildenafil di 110 negara. Viagra adalah tergolong obat keras yang harus diperoleh dengan resep dokter.
Namun sayangnya dengan kepopulerannya ini, Viagra menjadi obat yang sangat banyak disalahgunakan, dan juga diedarkan secara illegal. Seperti yang disebutkan di awal tulisan ini, Viagra banyak dicampurkan dalam suplemen kesehatan stamina pria. Selain itu Viagra juga banyak dijual secara illegal di kios-kios khusus yang menawarkan “Pil Biru” atau secara online yang rawan terhadap penipuan atau pemalsuan.
Turunan sildenafil

Keluarga inhibitor PDE-5

Keluarga inhibitor PDE-5

Selain Viagra (sildenafil), ada pula turunan sildenafil yang juga sering dicampurkan dalam suplemen kesehatan stamina pria. Apa saja mereka? Mengekor kesuksesan Viagra, para ahli kemudian mengembangkan obat disfungsi ereksi yang masih satu keluarga dengan sildenafil, yaitu tadalafil (Cialis), vardenafil (Levitra), dan avanafil (Stendra). Karena masih satu golongan, mekanisme kerja mereka sama, yaitu sebagai penghambat enzim fosfodiesterase-5, sehingga mencegah degradasi siklikGMP yang berperan dalam proses ereksi penis.

Lalu apa perbedaannya dengan Viagra?
Cialis (tadalafil) bisa berada lebih lama di dalam tubuh daripada Viagra, karena memiliki waktu paruh jauh lebih panjang yaitu 17,5 jam (Viagra hanya 4 jam). Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan oleh obat untuk menjadi separuhnya. Artinya, dalam waktu 4-5 jam, kadar Viagra dalam tubuh tinggal separonya, karena separonya yang lain sudah mulai dieliminasi/dikeluarkan dari tubuh. Sedangkan Cialis, dia baru akan tinggal separonya dalam waktu 17,5 jam. Implikasinya adalah bahwa durasi aksi Cialis menjadi lebih lama, sampai kurang lebih 36 jam, dibandingkan dengan Viagra yang aksinya hanya maksimal sekitar 12 jam. Tapi tentu ada konsekwensinya juga, dengan obatnya tinggal lebih lama di dalam tubuh, maka efek samping yang mungkin dialami pasien juga akan lebih lama. Bedanya lagi, efek Viagra akan berkurang jika dikonsumsi dengan makanan yang mengandung lemak, sedangkan Cialis efeknya tidak dipengaruhi oleh adanya makanan. Efek samping khas dari tadalafil adalah nyeri otot dan nyeri punggung.
Levitra termasuk saudara Viagra, yang tergolong baru dalam pengobatan disfungsi ereksi. Waktu paruhnya sebanding dengan Viagra yaitu 4 jam. Tapi kelebihannya adalah ia lebih poten dari Viagra, sehingga bisa dipakai dalam dosis lebih kecil dari Viagra (10% dosis Viagra). Namun sama dengan Viagra, efektivitas Levitra juga dipengaruhi oleh adanya makanan dan memiliki efek samping khas yaitu gangguan penglihatan.

perbandingan Viagra Cialis dan Levitra

perbandingan Viagra Cialis dan Levitra

Avanafil (Stendra) merupakan anggota keluarga sildenafil yang terbaru, yang baru disetujui peredarannya pada tahun 2012 di Amerika. Kelebihan analafil dibandingkan pendahulunya adalah efeknya lebih cepat. Jika Viagra membutuhkan waktu 30-60 menit untuk menghasilkan efeknya, maka avanafil hanya perlu 15-30 menit. Efek samping avanafil juga lebih sedikit karena bekerja lebih spesifik pada enzim PDE5.

Apa efek samping umum sildenafil dan turunannya?
Walaupun ada efek samping spesifik untuk masing-masing obat, tetapi keluarga sildenafil/Viagra ini memiliki efek samping umum, yang meliputi : sakit kepala (10-16 %), wajah memerah dan terasa panas (5-12%), gangguan pencernaan (4-12%), hidung tersumbat (1-10%) dan nggliyeng (2-3%) dan gangguan penglihatan. Karena aksi obat ini adalah dengan melebarkan pembuluh darah, maka penggunaan berlebih bisa menurunkan tekanan darah. Sehingga, pasien hipertensi maupun gangguan jantung yang sedang menggunakan obat-obat anti hipertensi atau obat pelebar pembuluh darah seperti golongan nitrat, harus hati-hati menggunakannya, karena bisa menyebabkan tekanan darah turun drastis, syok, dan bahkan bisa berakibat pada kematian.
Hati-hati menggunakan suplemen kesehatan stamina pria
Dalam keadaaan memang diperlukan terutama untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, suplemen kesehatan stamina pria memang sangat membantu. Namun demikian, perlu berhati-hati menggunakannya. Gangguan ereksi sendiri bisa disebabkan karena kondisi kesehatan yang menurun, atau gangguan psikologis. Tentu gangguan ini perlu diatasi lebih dahulu, temasuk jika ada gangguan piskologis. Menjaga kesehatan secara umum dengan olahraga dan makanan sehat serta vitamin bisa membantu mendapatkan tubuh yang bugar. Untuk penggunaan suplemen kesehatan khusus untuk stamina pria, perlu berhati-hati memilihnya. Pilihlah merk dari industri farmasi yang sudah cukup besar yang umumnya lebih tertib dalam pembuatan produknya terkait adanya pencampuran dengan bahan kimia obat. Jika ada tanda-tanda efek samping seperti di atas, ada kemungkinan suplemen tersebut dicampur sildenafil atau turunannya.

Jika anda memiliki gangguan hipertensi atau jantung, dan sedang mengkonsumi obat-obat hipertensi atau jantung, jangan sembarangan mengkonsumsi suplemen obat kuat ini karena bisa berbahaya. Siapa yang tahu berapa kadar obat sildenafil yang dicampurkan? Siapa yang akan membatasi penggunaannya? Jangan pula mudah membeli di kios-kios kecil penjual obat kuat maupun secara online. Pembelian melalui jalur illegal rawan terhadap pemalsuan obat. Tentu sayang membuang uang banyak untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Kalau hanya sekedar membuang uang mungkin masih tidak apa, bagaimana jika sampai mengorbankan kesehatan lainnya jika terkena efek samping atau efek toksik yang tidak dikehendaki atau mendapat obat palsu yang berbahaya? Obat-obat sildenafil dan turunannya semestinya diperoleh melalui resep dokter dan digunakan dengan dosis sesuai kebutuhan. Jika memang ada gangguan fungsi ereksi secara organik, sebaiknya diperiksakan ke dokter ahlinya untuk mendapatkan penanganan yg tepat.

Demikian semoga bermanfaat..





Bijak menyikapi penemuan pembalut wanita berklorin

12 07 2015

Dear kawan,

Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 7 Juli 2015, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyampaikan penemuan mereka tentang adanya berbagai merk pembalut wanita yang mengandung klorin. Sontak hal ini menghebohkan masyarakat, terutama kaum wanita, karena merk-merk yang disiarkan tersebut merupakan merk-merk terkenal dan sering mereka pakai. Apa sebenarnya senyawa klorin, mengapa bisa dijumpai pada pembalut wanita, apa dampaknya bagi kesehatan, dan cukup amankah pembalut wanita yang beredar di pasaran, begitulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang muncul di masyarakat.  Walaupun tidak kurang Dirjen Yanfar dari Kementrian Kesehatan sudah menjamin bahwa pembalut wanita yang beredar masih aman, masyarakat tidak serta merta percaya karena tidak diikuti dengan penjelasan detailnya. Apalagi sebagian masyarakat kadang ada yang skeptis dengan pernyataan Pemerintah. Tulisan ini mencoba menganalisis dan membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut, dengan harapan akan mengurangi kecemasan masyarakat.

Apa sih senyawa klorin itu ?

gas klorin

gas klorin

Klorin adalah unsur kimia dengan simbol Cl dan nomor atom 17. Unsur ini merupakan kelompok halogen dan merupakan halogen ringan kedua setelah fluor. Pada kondisi standar, klorin berupa gas berwarna kuning-hijau, di mana ia membentuk molekul diatomik (Cl2). Klorin memiliki afinitas elektron tertinggi dan elektronegativitas tertinggi ketiga dari semua elemen reaktif. Karena itulah klorin termasuk agen pengoksidasi kuat.
Senyawa klorin terdapat dalam berbagai bentuk ketika atom Cl berikatan dengan berbagai atom yang lain membentuk senyawa ionik. Ketika Cl berikatan dengan atom Natrium, jadilah NaCl, yaitu garam dapur yang kita kenal sehari-hari. Klorin dalam bentuk ion juga terdapat dalam tubuh kita, yang jika berikatan dengan atom H (hydrogen) akan menjadi HCl atau asam lambung. Jadi unsur klorin adalah unsur yang kita temui sehari-hari.

Klorin untuk pemutih

Klorin untuk pemutih

Potensi oksidasi unsur klorin yang tinggi menyebabkan ia dapat digunakan sebagai agen pemutih dan disinfektan (menghilangkan kuman). Ia juga banyak digunakan sebagai reagen penting dalam industri kimia, termasuk dalam pembuatan berbagai macam produk konsumen, seperti polyvinyl chloride, juga menjadi zat antara untuk produksi plastik dan produk akhir lainnya. Unsur klorin dalam bentuk senyawa Ca(ClO)2 alias kaporit banyak digunakan untuk pembersih dan disinfektan air di kolam renang atau air PAM. Pemutih pakaian yang sering kita pakai adalah senyawa klorin juga, dalam bentuk NaClO atau natrium hipoklorit.

Bagaimana klorin bisa dijumpai pada pembalut wanita?
Untuk menjawab ini perlu diketahui dahulu bahan pembuat pembalut wanita. Pembalut wanita dan tampon (termasuk diaper bayi) yang banyak beredar saat ini umumnya terbuat dari katun, rayon, atau campuran rayon dan kapas. Rayon terbuat dari serat selulosa yang berasal dari pulp kayu. Nah, untuk mendapatkan bahan baku rayon untuk tampon dan pembalut ini, umumnya perlu dilakukan proses pemutihan pulp kayu (bleaching) dan pemurnian. Di bawah ini ada beberapa cara pemutihan:
1. Pemutihan menggunakan gas klorin. Proses ini dapat menghasilkan dioksin sebagai produk sampingannya. Proses ini digunakan oleh pemasok bahan baku rayon untuk tampon di masa lalu. Diperlukan beberapa proses berikutnya untuk menghilangkan dioksin. Di Amerika, proses ini tidak boleh lagi digunakan oleh produsen pembalut wanita atau tampon dan sanitary napkins lainnya karena kekuatiran terbentuknya dioksin yang beracun.
2. Pemutihan dengan metode yang bebas elemen klorin (elemental chlorine-free). Pemutihan ini tidak menggunakan gas klorin, tetapi menggunakan Chlorine dioxide. Proses ini tidak menghasilkan dioksin sebagai kontaminan, sehingga sering pula disebut proses pemutihan bebas dioksin. Kalaupun ada dioksin terbentuk, itu sudah dalam kadar sangat kecil yang bisa bermakna memberikan efek. Namun pada proses ini masih memungkinkan meninggalkan trace element berupa senyawa klorat atau klorit sebagai hasil sampingnya.  (bisa dibaca di sini : http://www.epa.gov/ogwdw/mdbp/pdf/alter/chapt_4.pdf ).
3. Pemutihan dengan metode Totally chlorine free (TCF) , yaitu pemutihan menggunakan bahan non-chlorin, misalnya menggunakan hidrogen peroksida (H2O2) dan ozon atau asam perasetat. Proses ini dipastikan tidak menghasilkan senyawa dioksin sama sekali.

chloracne akibat dioksin

chloracne akibat dioksin

Sebenarnya kekuatiran utama dalam hal proses pemutihan ini adalah terbentuknya senyawa dioksin yang merupakan polutan lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan. Penelitian telah menunjukkan bahwa mereka dapat mempengaruhi sejumlah organ dan system tubuh. Setelah dioksin memasuki tubuh, mereka bertahan lama karena stabilitas kimia dan kemampuan mereka untuk diserap oleh jaringan lemak, di mana mereka kemudian disimpan dalam tubuh. Waktu paruh mereka di dalam tubuh diperkirakan 7-11 tahun. Paparan jangka pendek dioksin kadar tinggi pada manusia dapat mengakibatkan lesi kulit, seperti chloracne (sejenis jerawat akibat paparan senyawa halogen, termasuk dioksin) dan penggelapan warna kulit, dan gangguan fungsi hati. Sedangkan paparan jangka panjang menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh, perkembangan sistem saraf, sistem endokrin dan fungsi reproduksi. Paparan kronis dioksin pada hewan telah mengakibatkan beberapa jenis kanker. Yang pengen tahu lebih banyak tentang dioksin bisa baca di sini : http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs225/en/

Karena itu, sebagian besar industry pulp (termasuk yang menghasilkan bahan baku pembalut) kini beralih menggunakan metode kedua yaitu pemutihan secara elemental chlorine-free (ECF). Walaupun disebut sebagai bebas elemen klorin, tetapi sebenarnya masih menggunakan senyawa yang mengandung unsur klor yaitu Chlorine Dioxide (klorin dioksida). Cara ketiga yaitu TCF yang menggunakan ozon dan H2O2 nampaknya kurang ekonomis. Selain itu dari hasil riset beberapa universitas di Gothenburg dan Stockholm Swedia, diperoleh bahwa efek terhadap lingkungannya tidak berbeda nyata, (baca di sini : http://www.aet.org/reports/communication_resources/pamphlets/experts_final.pdf) sehingga banyak industry memilih menggunakan metode ECF. Ketika Kemenkes mengundang pada industry produsen pembalut yang dilaporkan mengandung klorin, semua menyatakan bahwa mereka menggunakan bahan baku yang diproses dengan metode ECF. Dengan demikian, klorin yang ditemukan dalam pembalut tersebut diduga merupakan trace elemen dari hasil pemutihan menggunakan Klorin dioksida pada metode ECF.

Kontroversi bentuk klorin yang ditemukan dalam pembalut
YLKI menyebutkan bahwa senyawa klorin yang ditemukan dalam pembalut adalah dalam bentuk klorin bebas, dan mereka menyebutnya adalah Cl2. Mereka menggunakan metode spektrofotometri dalam deteksinya. Hal ini kurang bisa dipastikan ketepatannya karena metode yang digunakan tidak bisa membedakan asal senyawa klorinnya, apakah senyawa hipoklorat (HClO), hipoklorit (ClO) dan gas Klorin (Cl2), semuanya akan terhitung sebagai klorin total.  Senyawa-senyawa  tersebut dapat larut dalam air, sehingga jika metodenya dengan “mengekstraksi” senyawa klorin dari pembalut sebelum ditetapkan kadarnya, kemungkinan semuanya akan terhitung. Jika mengacu pada peraturan Menteri Kesehatan RI no: 472/Menkes/PER/V/9/1996 tentang Pengamanan Bahan berbahaya bagi Kesehatan, memang disebutkan bahwa gas klorin adalah senyawa racun dan iritan yang berbahaya. Masalahnya apakah benar yang ditemukan adalah gas klorin (Cl2)? Bisa jadi memang ada gas Cl2 yang terperangkap di dalam pembalut. Tetapi karena dalam bentuk gas tentu jumlahnya sedikit karena mudah menguap. Pada air minum, kadar klorin bebas umumnya berkisar antara 0.2 – 2.0 mg/L Cl2, meskipun aturan masih memperbolehkan kadar sampai 4.0 mg/L atau 4 ppm.

Apa sih bahayanya klorin ?
Gas klorin adalah termasuk gas yang toksik/beracun, di mana ia bersifat menyebabkan iritasi dan bersifat korosif. Jika terhirup dalam jumlah tertentu tentu akan menyebabkan kerusakan pada paru-paru. Demikian pula jika tertelan, klorin dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan pada saluran pencernaan. Namun hubungan klorin dengan kejadian kanker pada manusia masih sangat sedikit dilaporkan. Sebagian melaporkan mengenai hubungan konsumsi air yang terklorinasi dengan kejadian kanker, namun bukan melalui pembalut. Environment Protection Agency (EPA) sejauh ini tidak menggolongkan klorin sebagai senyawa penyebab kanker atau karsinogen.

Seberapa bahaya klorin yang ada pada pembalut wanita?
Saat ini yang diatur mengenai batas aman klorin adalah pada air minum. Hal ini karena air minum banyak yang didisinfeksi/disterilkan menggunakan senyawa klorin, baik dalam bentuk kaporit ataupun Klorin dioksida, sehingga tentunya menghasilkan residu klorin. Selain itu klorin dalam air minum jelas-jelas masuk ke dalam tubuh sehingga bisa masuk ke semua organ tubuh. Environment Protection Agency (EPA) dan WHO mensyaratkan residu klorin maksimal pada air minum adalah 4 mg/L atau 4 ppm.  (yang pengen tau lebih banyak tentang klorat dan korit pada air minum bisa baca di sini: http://www.who.int/water_sanitation_health/dwq/chemicals/chlorateandchlorite0505.pdf). Di sisi lain, kadar klorin kurang dari 0,2 ppm akan menyebabkan fungsinya sebagai disinfektan berkurang atau hilang, sehingga air berisiko tercemar bakteri. Artinya, jika diasumsikan seorang minum air yang mengandung klorin dalam sehari 2 liter, maka kandungan klorin yang masih dipandang aman untuk kesehatan adalah 8 mg.
Mari kita bandingkan dengan temuan klorin pada pembalut oleh YLKI. Kadar tertinggi yang ditemukan pada pembalut merk tertentu adalah 54,73 ppm (anggaplah 55 ppm), yang artinya adalah 55 mg dalam 1000 gram pembalut. Jika berat satu pembalut adalah 10-20 gram, maka kandungan klorin yang ada dalam setiap pembalut adalah 0,55-1 mg. Angka yang cukup jauh di bawah batas aman yang dibolehkan jika ditakar dari klorin yang boleh dikonsumsi orang melalui air yang 8 mg. Itupun hanya bersentuhan dengan kulit, tidak terasup masuk ke dalam tubuh. Kecuali yang sensitif, mungkin akan mengalami reaksi iritasi terhadap adanya klorin tersebut.
Sebagian orang masih menanyakan kemungkinan klorin masuk ke dalam tubuh lewat vagina  melalui penguapan menjadi gas. Sebagai informasi, Agency for Toxic Substance and Disease Registry menyatakan bahwa senyawa hipoklorit dapat terdekomposisi/terurai menjadi gas klorin jika bereaksi dengan air. Namun demikian, proses dekomposisi tersebut memerlukan suhu tertentu, dimana untuk NaClO memerlukan suhu di atas 40 derajat C, sedangkan Ca(ClO)2 memerlukan suhu 100 derajat C. Jika diasumsikan residu pada pembalut itu berupa senyawa hipoklorit , maka mereka belum akan menguap pada suhu tubuh manusia yang sekitar 37 derajat C, kecuali sedang demam tinggi. Apalagi dengan kadar sekecil itu dalam pembalut, maka semakin kecil lagi yang menguap. Di sisi lain, fungsi klorin sebagai disinfektan sebenarnya justru membantu mensterilisasi pembalut dari kuman.

Jadi, apa kesimpulannya?
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pembalut wanita yang mengandung klorin dalam jumlah seperti dilaporkan oleh YLKI masih aman digunakan. Kekuatiran menyebabkan kanker bisa ditepis dengan sifat klorin yang bukan karsinogenik. Apalagi dengan jumlah yang sangat kecil yang ada dalam pembalut, dengan kemungkinan kecil menjadi gas Cl2. Jika memang yang ditemukan berupa gas Cl2, maka jumlahnya relatif kecil. Jika sebagian wanita ada yang memiliki kulit sensitif, mungkin bisa mengalami iritasi. Untuk itu, mereka perlu kiranya mempertimbangkan pemilihan pembalut yang tidak menyebabkan iritasi, misalnya yang berkadar klorin rendah. Yang kepengin kembali ke pambalut kain juga silakan saja sesuai keyakinannya. Kita tetap perlu mendukung YLKI untuk memberikan perlindungan kepada konsumen, namun kita himbau agar dikuatkan dengan aspek penjelasan secara ilmiah sehingga tidak menimbulkan keresahan masyarakat. Untuk bisa memuaskan semua pihak, memang perlu diatur kembali batas aman klorin, dioksin maupun residu lain di dalam pembalut wanita, diaper bayi, dan pampers orang tua atau yg sejenis.  Tapi terus terang sampai tulisan ini diturunkan, saya belum menemukan literatur yang relevan tentang batas aman tersebut.

Disclaimer :

Tulisan ini hanya upaya menambah informasi mengenai klorin dalam pembalut wanita, jika ada yang salah saya masih terbuka pada koreksi, tidak bermaksud mendiskreditkan siapapun, dan tidak disponsori oleh siapapun. murni dari panggilan hati…





Heboh pembuatan nata de coco dengan pupuk ZA, what’s the truth?

2 04 2015

Dear kawan,
Sebagai penggemar nata de coco, aku sedikit kaget juga ketika malam-malam mendapat SMS dari wartawan sebuah harian… “Bu, saya dari harian Tribun Yogya, bolehkah saya telpon sebentar untuk meminta pendapat terkait penemuan di Sleman, nata de coco dicampur pupuk ZA?”… Kebetulan aku belum baca/dengar berita penggrebekan sebuah industri kecil pembuat nata de coco yang katanya ilegal dan menggunakan pupuk ZA sebagai salah satu bahan tambahannya. Terus terang aku bukan ahli pengolahan bahan pangan, jadi aku harus baca-baca dulu sebentar sebelum menjawab. Aku minta wartawan menelpon lima belas menit lagi. Hmm.. seperti apa sih sebenarnya kasus ini sampai sedemikian heboh? Aku coba tulis ulasanku di sini..

Pupuk ZA

Pupuk ZA

Pupuk ZA

Pupuk ZA adalah pupuk kimia buatan yang dirancang untuk memberi tambahan hara nitrogen dan belerang bagi tanaman. Nama ZA adalah singkatan dari istilah bahasa Belanda, zwavelzure ammoniak, yang berarti amonium sulfat (NH4SO4). Wujud pupuk ini butiran kristal mirip garam dapur dan terasa asin di lidah. Jadi, isinya adalah amonium sulfat.

Pembuatan nata de coco
Cara pembuatan Nata de coco ini aku ambil dari sumber ini dan sumber lain. Nata de coco yang berbentuk padat, berwarna putih transparan, berasa manis dan bertekstur kenyal ini termasuk bahan pangan hasil penerapan bioteknologi konvensional, yang merupakan hasil fermentasi air kelapa dengan bantuan mikroba Acetobacter xylinum. Bakteri Acetobacter xylinum akan dapat membentuk serat nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah diperkaya dengan karbon dan nitrogen melalui proses yang terkontrol. Dalam kondisi demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim selulose yang dapat menyusun zat gula(glukosa) menjadi ribuan rantai serat atau selulosa. Dari jutaan mikroba yang tumbuh pada air kelapa tersebut, akan dihasilkan jutaan lembar benang-benang selulosa yang akhirnya nampak padat berwarna putih hingga transparan, yang disebut sebagai nata. Mau buat? ini bahan dan caranya…

Bahan yang diperlukan:
a. Air kelapa murni 5 liter
b. Gula putih 250 gr
c. Amonium sulfat/ZA
d. Asam cuka/ asam asetat
e. Asam nitrat
f. Bibit nata de coco (bakteri Acetobacter xylinum)

lapisan nata yang terbentuk

lapisan nata yang terbentuk

Cara Membuat:
1. Air kelapa mentah di saring, dan dimasukkan ke dalam panci stenless ukuran 5 liter di masak sampai mendidih 100 derajat celcius
2. Setelah mendidih masukkan gula putih 250 gr, ZA 0,5 gr, cuka 50 cc.
3. Campuran air kelapa yang sudah mendidih dimasukan ke dalam baki plastik yang bersih atau steril.
4. Tutuplah baki-baki tersebut dengan kertas koran steril yang sudah dijemur dengan panas matahari.
5. Baki-baki ditutup rapat dan disusun di atas rak baki secara rapi dan ditiriskan sampai dingin untuk diberi bibit nata de coco
6. Pembibitan dilakukan pada pagi hari dan hasil pembibitan ditutup kembali
6. Baki hasil pembibitan tidak boleh terganggu atau tergoyang
7. Biarkan baki pembibitan itu selama satu minggu dan jangan terganggu atau tergoyang oleh apapun.
8. Buka hasil pembibitan setelah berumur satu minggu.

Cara Panen:
1. Nata yang terbentuk diambil dan dibuang bagian yang rusak (jika ada),lalu dibersihkan dengan air (dibilas). Kemudian direndam dengan air bersih selama 1 hari.
2.Pada hari kedua rendaman diganti dengan air bersih dan direndam lagi selama 1 hari.
3.Pada hari ketiga nata dicuci bersih dan dipotong bentuk kubus (ukuran sesuai selera) kemudian direbus hingga mendidih dan air rebusan yang pertama dibuang.
4.Nata yang telah dibuang airnya tadi, kemudian direbus lagi dan ditambahkan dengan satu sendok makan asam sitrat.

Ada yang mau membuat ? nanti aku dibagi yaah…

Apa gunanya ZA dalam pembuatan nata de coco?
Seperti disebut di atas, ZA adalah untuk menambah hara nitrogen bagi tanaman. Demikian pula bakteri Azetobacter xylinum, untuk hidup dan aktivitasnya dia membutuhkan sumber nitrogen sebagai makanannya. Jadi memang dalam pembuatan nata de coco diperlukan ZA sebagai sumber nitrogen. Sebuah studi  yg dipublikasi di World J Microbiol Biotechnol (2008) (klik di sini) melaporkan bahwa ketebalan nata maksimal dapat diperoleh dengan konsentrasi optimum sukrosa sebanyak 10% dan amonium sulfat/ZA sebanyak 0,5%. Kondisi ini akan menghasilkan nata dengan kualitas yang bagus, permukaan yang halus dan tekstur kenyal. Sebetulnya ada sumber-sumber lain penghasil nitrogen, seperti bahan-bahan berprotein tinggi, tapi tentu harganya jadi mahal. Jika tidak ada ZA, bisa juga digunakan senyawa urea yang kaya akan unsur nitrogen. Tapi perlu dicatat bahwa dalam proses pembuatan nata itu pada akhir fermentasi ada proses-proses pencucian, sehingga sisa-sisa bahan yang digunakan telah dihilangkan. Jadi dalam produk natanya semestinya sudah tidak ada lagi ZA atau bahan-bahan lainnya.

Apa pengaruh ZA dalam kesehatan?
Amonium sulfat atau ZA termasuk bahan pangan yang aman menurut FDA. Bisa dilihat daftarnya di sini. Ia bisa digunakan sebagai pengatur keasaman dalam makanan, dan menguatkan adonan tepung dalam pembuatan roti. Jika tertelan atau terhirup, amonium yang terserap ke dalam tubuh akan ditransport ke hati dan di metabolisme menjadi urea, dan dibuang melalui urin. Amonium sendiri juga dijumpai dalam tubuh sebagai ion yang menjaga keseimbangan asam-basa tubuh. Sulfat-nya juga merupakan senyawa normal dalam tubuh dalam metabolisme senyawa sulfat endogen. Ia akan dibuang dalam bentuk tidak berubah atau terkonjugasi melalui urin. Tentu saja jika digunakan dalam dosis yang besar akan membahayakan kesehatan. Seberapa besar yg bisa membahayakan?
Ammonium sulfat termasuk yang memiliki toksisitas akut rendah (sumber di sini). Dosis yang bisa memberikan 50% kematian pada tikus secara per-oral (dimakan) adalah 2000-4500 mg/kg berat badan (jika dikonversi ke dosis manusia berat 70 kg adalah 22,5 gram), yang berarti cukup besar dosis untuk bisa mematikan.
Bahaya potensial lainnya antara lain :
Mata : menyebabkan iritasi
Kulit : iritasi kulit, menyebabkan kemerahan.
Tertelan : mual, muntah, diare
Terhirup : iritasi saluran nafas, batuk, sesak nafas

So, masalahnya ?
Jadi dalam hal penggunaan pupuk ZA sebagai bagian dari proses pembuatan nata de coco sebenarnya tidak salah-salah amat. Pastinya juga ada alasan ekonomis mengapa produsen menggunakan pupuk ZA (apalagi kalau yang bersubsidi hehehe...) untuk pembuatan nata de coco. Hanya saja kalau kita mendengar istilah pupuk, yang kebayang adalah barang yang kotor, tidak higienis. Gitu kok dimakan? Lha siapa bilang kita mau makan pupuk? Media juga ngawur kalau bikin headline berita… “nata de coco oplosan dengan pupuk ZA”…. sangat menyesatkan, seolah-olah nata de coco-nya dicampur sama pupuk ZA… Seolah-olah konsumen akan makan nata de coco yang dioplos dengan pupuk….

Namun satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa tentunya kualitas sediaan ZA yang ditujukan sebagai pupuk tidak sama dengan sediaan yang memang khusus untuk makanan, karena mungkin ada pencemar dan mungkin dapat memberikan efek kurang baik bagi kesehatan.. Concern yang besar perlu diarahkan terhadap kemungkinan adanya cemaran logam berat atau cemaran lain dari hasil sintesis pupuk ZA. Perlu diingat bahwa batas maksimal yg dibolehkan untuk cemaran pada pupuk tentu jauh lebih besar daripada batasan pada senyawa kimia untuk pangan (food grade), apalagi untuk obat (pharmaceutical grade).

Sebagai perbandingan, batas maksimum logam berat pada pupuk  dan pada pangan adalah sbb:
Arsen :  ≤ 10 ppm  (pupuk)  vs  ≤ 2 ppm (pangan)
Kadmium:  ≤ 10 ppm (pupuk) vs  ≤ 0,3 ppm (pangan)
Merkuri:  ≤ 1 ppm (pupuk) vs  ≤ 1 ppm (pangan)
Timbal :  ≤ 50 ppm  (pupuk) vs ≤ 2 ppm (pangan)

Dampak dari cemaran logam berat (jika ada) pada kesehatan juga sulit untuk dibuktikan segera karena umumnya jumlahnya sangat kecil dan butuh waktu lama untuk manifestasinya. Jadi perlu ada pemeriksaan terhadap cemaran, karena jika hanya mengandalkan dampaknya terhadap kesehatan, mungkin belum akan terlihat. Tapi terus terang untuk hal ini aku tidak tahu persis, dan perlu diteliti dan dikonfirmasi lebih lanjut, apakah memang dalam produk nata yg sudah jadi masih ada bahan pencemar atau bahkan sisa dari ZA-nya seperti yang dihebohkan… Kalau memang tidak ada cemaran yang dikuatirkan, atau sisa ZA-nya pada produk akhir nata de coco, ya berarti tidak ada yang perlu dimasalahkan… Masalahnya justru apakah ZA food grade tersedia di pasaran, dan berapa harganya agar bisa memproduksi secara ekonomis…

Hasilnya menunjukkan tidak ada cemaran logam berat seperti dikuatirkan

Hasilnya menunjukkan tidak ada cemaran logam berat seperti dikuatirkan

Satu kelompok petani nata de coco di Banten menghubungiku dan menunjukkan hasil ujinya terhadap produksi nata de coco-nya yang selama ini dibuat menggunakan pupuk ZA. Ini hasil uji thn 2010 sih, tapi sudah bisa memberi gambaran bahwa hasil akhir produksi nata de coco mereka bebas dari cemaran logam berat yang dikuatirkan. Dengan asumsi tidak banyak perubahan cara produksinya, dan mungkin justru makin baik peralatannya, aku menduga hasilnya di tahun 2015 ini tidak banyak berbeda. Walaupun tetap sebaiknya memang ada pengujian lagi, termasuk kandungan residu ZA jika masih ada.

Sejauh yang diketahui, belum tersedia ZA khusus pangan dengan spesifikasi tertentu. Sebenarnya menurutku Pemerintah semestinya memfasilitasi penyediaan ZA khusus pangan tersebut, dengan menaikkan sedikit “kelas” pupuk dengan proses pemurnian satu atau dua tahap lagi, dan diberi label “food grade”, dengan harga terjangkau.  Dengan begitu petani nata tidak lagi menggunakan pupuk ZA atau urea, yang memang secara persepsi memberikan kesan yang “mengerikan”… pupuk kok dicampur makanan? Dan ini pasti akan menjadi promosi buruk tentang produk pangan Indonesia ke dunia internasional.

numpang tenar sebentar

numpang tenar sebentar

Kayaknya sih kasus penggrebekan industri produsen nata de coco di Jogja lebih karena sifatnya yang ilegal/tidak berijin. yang berasal dari laporan warga… tapi entahlah, kita tunggu saja perkembangan kasusnya.  Kalau tidak terbukti membahayakan kesehatan misalnya, bisa jadi dakwaannya jadi penimbunan pupuk bersubsidi atau masalah ijinnya.. hehe.. Oya, kasus ini sempat bikin aku numpang lewat di Metro TV hehehe… dimintai pendapat tentang kasus ini… yah,  numpang tenar sebentar deh…. Tapi dasar selebriti kampung, nongolnya cuma ‘mak nyuk’, hebohnya seharian hehe…

Demikian sekedar analisisku, semoga sedikit memberi pencerahan.





Demam berdarah atau Tifus ? Waspadai gejalanya yang hampir serupa

22 03 2015

Disclaimer : ini versi koran dari tulisanku sebelumnya tentang penyakit DBD. Aku repost kembali di blog ini.

Musim hujan seperti sekarang ini merupakan musim wabah demam berdarah dengue (DBD). Beberapa daerah di Yogya dilaporkan menjadi daerah endemik sehingga warga harus meningkatkan kewaspadaannya. Banyaknya genangan air yang menjadi tempat bertelurnya nyamuk Aedes Aegepti menyebabkan mereka mudah berkembang biak. Minggu lalu penulis baru saja menjadi salah satu korban sang nyamuk demam berdarah, bahkan harus rawat inap beberapa hari di RS. Namun yang menarik, ternyata gejala demam berdarah tidak selalu spesifik sampai penulis tidak menyadarinya, dan tahu-tahu trombosit sudah tinggal 64 ribu (dari normalnya 150 – 450 ribu). Gejalanya hampir-hampir seperti gejala tifus. Tulisan ini mencoba mengupas tentang penyakit demam berdarah dengue dan tifus, gejala demam berdarah dan apa bedanya dengan tifus, serta bagaimana pengatasannya.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit Demam Berdarah Dengue atau disingkat DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti betina. Nyamuk berkaki belang-belang putih ini umumnya menggigit manusia di siang hari. Virus dengue terdiri dari empat jenis (strain), yakni dengue tipe 1, 2, 3 dan 4. Namun tipe yang dominan di Indonesia adalah tipe 3. Virus dengue menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan sistem pembekuan darah sehingga mengakibatkan perdarahan, yang jika parah dapat menimbulkan kematian. Setelah nyamuk ini menggigit dan menularkan virus dengue, masa inkubasinya sekitar 3-14 hari, setelah masa inkubasi, penderita akan mengalami demam tinggi.
Apa gejalanya?
Gejala penyakit DBD sering tidak terduga. Namun secara umum, penyakit ini memiliki ciri seperti panas tinggi, pusing, bahkan muntah darah. Namun sayangnya, gejala yang sama sering ditemukan pada penyakit lain. Beberapa gejala yang khas dari penyakit DBD antara lain:
1. Mendadak panas tinggi selama 2 – 7 hari, tampak lemah lesu suhu badan antara 38ºC sampai 40ºC atau lebih.
2. Tampak bintik-bintik merah pada kulit dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang
3. Kadang-kadang perdarahan di hidung ( mimisan)
4. Mungkin terjadi muntah darah atau berak darah
5. Tes Torniquet positif
6. Bila sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin berkeringat
7. Hematemesis atau melena (muntah atau berak darah)

Ini adalah gejala-gejala yang sering kita baca-baca di tulisan-tulisan tentang demam berdarah, terutama yang terjadi pada anak-anak. Namun demikian, yang penulis alami agak jauh berbeda, dan bahkan lebih mirip dengan tifus. Kemungkinan besar memang ini adalah gejala-gejala pada orang dewasa yang secara daya tahan tubuh lebih kuat daripada anak-anak. Gejala-gejala yang penulis alami adalah:
1. Badan pegal-pegal dan kepala pusing
2. Tidak ada demam tinggi, hanya badan terasa hangat saja
3. Tidak nafsu makan, jika makan lidah terasa pahit
4. Berkeringat dingin, dan sering berkeringat bahkan di ruangan ber-AC
5. Rasa lemah, mudah lelah
6. Perut terasa mual
7. Ada sedikit batuk-batuk kering
Gejala-gejala ini penulis alami hampir 6 hari dan semula penulis kira semacam sakit flu/selesma biasa. Ketika penulis berkonsultasi ke dokter dan dirujuk untuk pemeriksaan laboratorium, baru ketahuan hasilnya bahwa trombosit sudah tinggal 64 ribu, dari normalnya 150-450 ribu. Dan setelah dibawa ke RS dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, tegaklah diagnosa demam berdarah.

Bagaimana dengan sakit tifus dan gejalanya ?
Jika DBD disebabkan oleh virus dengue, penyakit tifus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang bernama Salmonella typhi. Bakteri ini akan berkembang cepat pada tempat-tempat yang kotor. Penyebarannya dibantu oleh serangga-serangga pembawa bakteri, seperti lalat atau serangga lainnya. Jika lalat pembawa bakteri ini hinggap di makanan atau minuman yang mengandung bakteri ini, lalu kita memakan atau meminumnya, maka bisa menyebabkan terkena tifus.
Gejala tifus antara lain adalah:
1. Pada awalnya demam tak begitu tinggi dan akan terus naik hingga mencapai lebih dari 38 derajat Celcius.
2. Pada malam hari, suhu tubuh akan meningkat dan akan kembali turun pada pagi harinya.
3. Sakit perut, mual, dan muntah
4. Lidah berwarna putih/kotor
5. Rasa lemah lesu, badan menggigil, sakit kepala
6. Urin berwarna agak kecoklatan
7. Denyut nadi melambat
8. Nyeri otot, badan pegal-pegal
9. Hilang nafsu makan

Apa beda gejala yang khas antara DBD dengan tifus?
Sebenarnya yang paling khas bedanya adalah pola demamnya. Pada penderita DBD, gejala panas tinggi terjadi secara mendadak. Gejala lainnya adalah tampak bintik-bintik merah pada kulit, dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang. Sedangkan pada tifus, penyakit ini memiliki pola panas yang berbeda. Untuk penderita tifus, biasanya panas timbul pada sore dan malam hari. Pagi menjelang siang sudah mulai turun, lalu sore harinya kembali panas. Tifus juga mengenai saluran cerna, jadi selain ada gejala demam tinggi juga masalah di saluran pencernaan. Ciri khas lain demam dengue adalah pada hari kelima biasanya demamnya turun.Tapi hati-hati, walaupun demamnya turun tapi bukan berarti semakin baik. Ini merupakan fase yang berbahaya karena merupakan fase kritis. Sementara pada pasien tifus demam yang turun artinya penyakitnya makin baik.

Demam pada DBD mempunyai siklus demam yang khas disebut siklus demam pelana kuda. Ciri-ciri demam DBD atau demam pelana kuda :
Hari 1-3 Fase Demam Tinggi
Demam mendadak tinggi dan disertai sakit kepala hebat, sakit di belakang mata, badan ngilu dan nyeri, serta mual/muntah, terkadang disertai bercak merah di kulit (tidak selalu).
Hari 4-5 Fase Kritis
Fase demam turun drastis dan sering mengecoh seolah terjadi kesembuhan. Namun inilah fase kritis kemungkinan terjadinya “Dengue Shock Syndrome”
Hari 6-7 Fase Masa Penyembuhan
Fase demam kembali tinggi sebagai bagian dari reaksi tahap penyembuhan.

Hal terpenting yang harus dilakukan adalah pada hari ketiga (Fase Demam Tinggi) sebelum terjadinya pola pelana, penderita sudah diperiksakan ke dokter untuk memastikan kemungkinan DBD. Bila menunggu terjadinya pola pelana yang biasanya terjadi pada hari kelima, maka kadang sudah terlambat untuk ditangani.
Pada Fase Kritis, kejadian syok/dengue syok syndrome dipercepat oleh dehidrasi (kekurangan cairan). Kondisi ini dapat terjadi karena trombosit turun yang mengakibatkan kelainan pada pembuluh darah. Karena darah bocor, maka kebanyakan kasus kematian penderita DBD adalah akibat dari pendarahan yang berlanjut dari kondisi syok tersebut. Namun bila penanganannya cepat dan benar maka diharapkan masuk pada Fase Masa Penyembuhan.

Harus cek laboratorium
Karena gejala kadang tidak sangat khas seperti yang penulis alami (tidak demam tinggi), maka pemastian diagnosanya tetap harus didasarkan pada pemeriksaan laboratorium. Pada Demam dengue, ciri khasnya adalah dengan turunnya jumlah trombosit, suatu komponen darah yang bekerja untuk pembekuan darah. Karena itulah kalau jumlahnya turun dapat menyebabkan risiko perdarahan. Trombosit yang menurun, biasanya kurang sari 100.000/ul umumnya mengindikasikan adanya demam berdarah. Jika terjadi panas tinggi 3 hari berturut-turut, sebaiknya diperiksakan ke dokter dan dilakukan pemeriksaan laboratorium terhadap jumlah trombosit dan hematokrit. Selain itu, untuk memastikan diagnosa infeksi virus dengue dapat dilakuan pemeriksaan lain, seperti IgG/IgM Dengue dan NS1 Ag Dengue.
Pemeriksaan IgG/IgM Dengue adalah untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap virus dengue. Ada dua antibodi yang dideteksi yaitu Imunoglobulin G dan Imunoglobulin M, dua jenis antibodi ini muncul sebagai respon tubuh terhadap masuknya virus ke dalam tubuh penderita. Imunoglobulin G akan muncul sekitar hari ke-4 dari awal infeksi dan akan bertahan hingga enam bulan pasca infeksi. Karena itu, antibodi ini menunjukkan kalau seseorang pernah terserang infeksi virus dengue, setidaknya dalam enam bulan terakhir. Imunoglobulin M juga diproduksi sekitar hari ke-4 dari infeksi dengue, tetapi antibodi jenis ini lebih cepat hilang dari tubuh. Adanya Imunoglobulin M dalam tubuh seseorang menandakan adanya infeksi akut dengue atau dengan kata lain menunjukkan kalau penderita sedang terkena infeksi virus dengue. Sensitivitas dan spesifitas pemeriksaan ini cukup tinggi dalam menentukan adanya infeksi virus dengue.
Namun demikian, pemeriksaan IgG/IgM anti dengue tidak bisa mendeteksi virus dengue secara dini. Karena yang diperiksa adalah antibodi terhadap virus dengue dan antibodi yang baru muncul hari keempat pasca infeksi, maka pemeriksaan ini seringkali tidak dapat mendeteksi infeksi virus dengue pada penderita yang mengalami gejala panas hari ke-0 hingga hari ke-4.

Nah baru-baru ini telah dikembangkan pemeriksaan NS1 Ag, yaitu pemeriksaan yang mendeteksi bagian tubuh virus dengue sendiri. Karena mendeteksi bagian tubuh virus dan tidak menunggu respon tubuh terhadap infeksi maka pemeriksaan ini dilakukan paling baik saat panas hari ke-0 hingga hari ke -4, karena itulah pemeriksaan ini dapat mendeteksi infeksi virus dengue bahkan sebelum terjadi penurunan trombosit. Setelah hari keempat kadar NS1 antigen ini mulai menurun dan akan hilang setelah hari ke-9 infeksi. Angka sensitivitas dan spesifisitasnya pun juga tinggi. Bila ada hasil NS1 yang positif menunjukkan kalau seseorang ‘hampir pasti’ terkena infeksi virus dengue. Sedangkan kalau hasil NS1 Ag dengue menunjukkan hasil negatif tidak menghilangkan kemungkinan infeksi virus dengue dan masih perlu dilakukan observasi serta pemeriksaan lanjutan. Ini terjadi karena untuk mendeteksi virus dengue diperlukan kadar yang cukup dari jumlah virus dengue yang beredar, sedangkan pada fase awal mungkin belum terbentuk cukup banyak virus dengue tetapi apabila pengambilan dilakukan setelah munculnya antibodi maka kadar virus dengue akan menurun.

Pada pemeriksaan tifus akan dilakukan dengan tes Widal. Tes ini bisa mengetahui apakah Anda terkena tifus atau tidak. Tes yang dilakukan adalah apakah pada darah mengandung bakteri Salmonella typhi atau tidak. Selain itu, tes juga bisa dilakukan dengan memeriksa tinja. Di tinja penderita tifus akan mengandung bakteri Salmonella typhi.

Bagaimana pengobatannya?
Jika tanda-tanda DBD di atas telah ditemukan, maka langkah terpenting dari pengobatannya adalah terapi suportif. Pertolongan pertama yang dapat diberikan untuk penderita adalah memberi minum sebanyak-banyaknya. Dapat berupa air masak yang dibubuhi garam oralit atau gula, susu, air kelapa, jus buah-buahan atau air teh. Untuk demamnya diberi obat penurun panas parasetamol, jika mual diberi obat anti mual. Terapi utama untuk DBD adalah terapi cairan untuk mengganti kehilangan cairan plasma akibat kebocoran pembuluh darah dan (jika ada) perdarahan. Pasien dengan demam dengue ringan dengan penurunan trombosit yang tidak telalu banyak (masih di atas 100.000) dengan gejala tanpa komplikasi dapat dirawat di rumah. Pasien perlu banyak minum dengan cairan yang mengandung elektrolit. Pasien dengan kondisi yang lebih berat harus dirawat di RS untuk mendapatkan pengawasan yang ketat, karena perkembangan penyakitnya seringkali sulit diprediksikan. Pasien mendapat cairan infus, misalnya NaCl fisiologis atau Ringer Laktat.
Sedangkan untuk tifus, selain harus istirahat total untuk mempercepat penyembuhan, pengaturan makanan yang sesuai dengan tingkat keparahan pasien (pantang sayuran dengan serta kasar), perlu diberikan antibiotik untuk membunuh bakterinya. Obat-obat pilihan pertama adalah kloramfenikol, ampisilin/amoksisilin dan kotrimoksasol. Obat pilihan kedua adalah sefalosporin generasi III. Obat-obat pilihan ketiga adalah meropenem, azithromisin dan fluorokuinolon. Obat-obat ini umumnya diresepkan untuk 14 hari. Penderita tifus yang berat disarankan dirawat di RS.
Penutup
Demikian, semoga dengan tulisan ini pembaca akan lebih waspada jika mengalami demam tinggi dan gejala-gejala lain, sehingga segera mendapatkan pemastian diagnosa dan penanganan yang tepat. Demam tinggi yang tidak turun dalam tiga hari perlu mendapatkan kewaspadaan, apalagi jika ada faktor lingkungan yang mendukung, baik untuk DBD maupun tifus.





Terkapar oleh si Dengue: Waspadai, gejala tidak selalu spesifik…!

16 03 2015

Dear kawan, Sebuah peristiwa tak terduga menghampiriku beberapa hari yang lalu…. aku terkapar tak berdaya dengan selang infus di tangan… gara-gara ulah si virus Dengue. Yang menarik, gejala-nya bener-bener tidak spesifik, sehingga aku nyaris “kecolongan”. Untuk meningkatkan kewaspadaan, aku coba share pengalamanku berurusan dengan si Dengue ini… semoga bermanfaat.

Kronologi gejala : pegel dan meriang

Hari Rabu, tanggal 4 Februari 2015. Sore itu aku masih cukup sehat dan semangat pada penutupan acara workshop Good Clinical Practice yang kami selenggarakan di Hotel Harper Yogyakarta. Satu-satunya keluhanku adalah sedikit batuk-batuk, yang aku duga karena flu. Namun malamnya seluruh badan terasa pegal-pegal dan sedikit pusing. Aku pikir flu biasa dan minum parasetamol saja, walaupun tidak begitu membantu.

Hari Kamis pagi masih tidak begitu fit, badan pegal dan kepala pusing. Namun karena harus memberi kuliah pagi di prodi S2, aku berangkat pagi-pagi setelah pamit agak terlambat. Seusai memberi kuliah selama kurang lebih 2 x 2 SKS, badanku serasa menggigil. Nggreges, bahasa Jawanya. Menggigil dan lemas. Akhirnya aku putuskan pulang saja dan istirahat di rumah. Seharian itu aku berbaring karena tidak enak badan. Badan sedikit hangat saja, tidak sampai demam tinggi. Yang paling terasakan adalah pegel-pegel dan pusing. Aku nambah asupan vitamin C saja, imunostimulan, dan minum obat flu. Hari Jumat. Badan masih tidak terasa fit. Karena ada rapat pagi, aku tetap masuk kantor. Mulai tidak doyan makan dan ada sedikit rasa mual. Aku sampai beli biskuit untuk ngemil di kantor agar perut tidak kosong,”Yang penting ada yang masuk, sedikit-sedikit tapi kerap,” begitu pikiranku. Setiap kali makan rasanya hanya dominan asin dan pahit. Kayaknya tasty buds-ku juga eror dan tidak berfungsi baik, terutama pencecap rasa manis. Aku masih belum ngeh… aku pikir masuk angin biasa. Sampai-sampai minta dikeroki juga oleh asisten rumahku… Hadeeh, bahaya ya.. bayangin.. trombosit dah lagi turun mungkin, malah dikerok sampe merah-merah…hehe... untungnya ngga kenapa-napa…

Hari Sabtu. Badan masih berasa pegal dan agak pusing, parasetamol tidak banyak membantu. Nafsu makan masih hilang. Sampai aku harus membayangkan makanan-makanan paling enak yang ingin kumakan… tetapi tetap saja tidak menggugah selera makan. Sepulang belanja di pasar, aku beli bubur ayam yang kayanya cukup menarik… Tapi hanya kumakan dua sendok, setelah itu malas makan lagi. Akhirnya aku mencoba ibuprofen untuk pegal dan pusingku. Ajaibnya, dalam waktu satu jam setelah minum obat… pegal dan pusing langsung lenyap. Catat, ini “bahaya’ yang kedua ya… NSAID dan aspirin bukanlah pilihan yang tepat untuk demam berdarah, karena bisa meningkatkan risiko perdarahan. Tapi alhamdulillah, aku masih baik-baik saja.. mungkin saat itu trombositku masih belum terlalu turun.

Hari Minggu. Nafsu makan masih ancur-ancuran. Tersiksa sekali, karena lapar, tapi ngga ada makanan yang bisa masuk. Bela-belain suami ngajak ke McDonald untuk menikmati big breakfast yang enaak.. eh, sampai sana aku cuma pesan pancake dengan sirup maple, itu saja cuma habis satu saja. Aku sengaja pilih makanan manis karena makanan yang asin akan terasa lebih asin.. Hari itu gejala yang terasa adalah badan keluar keringat dingin terus. Bahkan di kamar ber-AC, badan keringatan terus. Habis mandi, badan keringatan lagi. Rasanya juga lemah dan cepet capek. Tapi pegel dan pusingnya sudah tidak terasa, sehingga kupikir aku akan segera membaik.

Hari Senin. Badan masih tidak fit, nafsu makan belum pulih, namun aku masih percaya diri akan membaik. Pagi itu masih masuk kantor karena ada rapat. Ada beberapa mahasiswa yg datang untuk konsultasi skripsi dan thesis. Untungnya tidak ada jadwal kuliah, karena ternyata aku merasakan bahwa baru bicara sebentar sudah merasa capek. Badanku juga berkeringat terus. Siang setelah jemput anak sekolah, aku pulang dan istirahat lagi di rumah. Aku hanya bisa berdoa saja semoga diberikan kesembuhan dan petunjuk menuju kesembuhan.

Hari Selasa. Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, aku putuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Ilmuku udah mentok hehe.. aku baca-baca bahwa keringat dingin kemungkinan disebabkan oleh berbagai hal. Selasa pagi aku ke Gadjah Mada Medical Center untuk periksa dokter. Siapa tahu tensiku drop atau kadar gulaku turun. Dokter merujukku untuk pemeriksaan laboratotium, diantaranya adalah pemeriksaan darah lengkap dan pemeriksaan Widal (untuk typhus). Aku sempat menduga bahwa aku terkena typhus, walaupun juga gejala ke arah perut tidak ada sama-sekali, kecuali mual ringan saja. Selasa siang itu kondisiku makin terasa ngga fit. Setelah jemput sekolah anak, aku langsung pulang sambil menunggu hasil pemeriksaan lab yang katanya akan dikirim via e-mail.

Hasil Labku awal di GMC. Trombosit tinggal 64 ribu.

Hasil Labku awal di GMC. Trombosit tinggal 64 ribu.

Begitulah, jam 14an ada e-mail masuk lewat HP-ku… dan ..ya ampyuun…. ternyata trombositku sudah di angka 64 ribu dari yang seharusnya 150-450 ribu, sementara test widal-ku negatif semua. Alhamdulillah, inilah petunjuk Allah… bahwa penyebab badanku meriang-meriang selama ini adalah karena proses turunnya trombosit dan aksi virus di tubuhku. Ngga mengira sama sekali… !! Sorenya langsung aku minta diantar ke RS JIH untuk konsultasi dokter dari hasil lab yang kuperoleh. Dan benarlah.. dokter menyarankan untuk langsung opname saja karena aku perlu mendapatkan terapi cairan melalui infus. Saat akan dipasang infus, aku sekalian diambil sampel darah untuk pemeriksaan.

IgG anti dengue positif

IgG anti dengue positif

Dan benarlah, ternyata memang terbukti Anti dengue IgG-ku positif, yang memastikan bahwa aku memang terinfeksi virus Dengue. IgM negatif karena mungkin infeksinya sudah berlalu cukup lama sehingga sudah tidak terdeteksi lagi. Di sisi lain fungsi hatiku juga terganggu, yang ditunjukkan dengan peningkatan level AST dan AST di atas normal. Aku mencoba lagi baca-baca teori-nya tentang Demam Berdarah. Yang menarik, gejala khas DBD ternyata tidak semua kualami.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Menurut terorinya, penyakit Demam Berdarah Dengue atau disingkat DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk berkaki belang-belang putih ini umumnya menggigit manusia di siang hari. Virus dengue terdiri dari empat jenis (strain), yakni dengue tipe 1, 2, 3 dan 4. Namun tipe yang dominan di Indonesia adalah tipe 3.

Apa gejala spesifiknya?

Secara umum, penyakit ini memiliki ciri seperti panas tinggi, pusing, bahkan muntah darah. Beberapa gejala lain yang khas dari penyakit DBD antara lain: 1. Mendadak panas tinggi selama 2 – 7 hari, tampak lemah lesu suhu badan antara 38ºC sampai 40ºC atau lebih. 2. Tampak bintik-bintik merah pada kulit dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang. 3. Kadang-kadang perdarahan di hidung ( mimisan). 4. Mungkin terjadi muntah darah atau berak darah 5. Tes Torniquet positif 7. Bila sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin Berkeringat 8. Hematemesis atau melena (muntah darah dan tinja berdarah) Gejala di atas nampaknya memang gejala khas yang banyak dijumpai pada DBD pada anak-anak. Sementara yang aku alami tidak khas, bisa jadi karena terjadi pada orang dewasa dengan daya tahan yang sudah cukup kuat. Justru gejala-gejalanya lebih mirip ke typhus ketimbang DBD. Dokter yang merawatku juga bilang bahwa memang sekarang mulai ada kecenderungan kejadian DBD pada orang dewasa, sementara pada beberapa dekade lalu panyakit ini lebih banyak dijumpai pada anak-anak. Dan kayaknya nyamuknya juga sudah makin canggih hehe... daya terbangnya sudah lebih tinggi daripada dulu… Ngga lagi cuma berani sama anak-anak, … profesor aja dia gigit hehehe…

Apa bedanya dengan gejala typhus?

Gejala DBD sering agak mirip dengan typhus. Penyakit tifus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang bernama Salmonella typhi. Bakteri ini akan berkembang cepat pada tempat-tempat yang kotor. Penyebarannya dibantu oleh serangga-serangga pembawa bakteri, seperti lalat atau serangga lainnya. Jika lalat pembawa bakteri ini hinggap di makanan atau minuman yang mengandung bakteri ini, lalu kita memakan atau meminumnya, maka bisa menyebabkan terkena tifus. Gejala tifus antara lain adalah: 1. Pada awalnya demam tak begitu tinggi dan akan terus naik hingga mencapai lebih dari 38 derajat Celcius. 2. Pada malam hari, suhu tubuh akan meningkat dan akan kembali turun pada pagi harinya. 3. Sakit perut, mual, dan muntah 4. Lidah berwarna putih 5. Rasa lemah lesu 6. Urin berwarna agak kecoklatan 5. Denyut nadi melambat

Apa beda gejalanya  yang khas ?

Sebenarnya yang paling khas bedanya adalah pola demamnya. Pada penderita DBD, gejala panas tinggi umumnya terjadi secara mendadak. Gejala lainnya yang umum adalah tampak bintik-bintik merah pada kulit, dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang. Sedangkan pada tifus, penyakit ini memiliki pola panas yang berbeda. Untuk penderita tifus, biasanya panas timbul pada sore dan malam hari. Pagi menjelang siang sudah mulai turun, lalu sore harinya kembali panas. Tifus juga mengenai saluran cerna, jadi selain ada gejala demam tinggi juga masalah di saluran pencernaan. Ciri khas lain demam dengue adalah pada hari kelima biasanya demamnya turun.Tapi hati-hati, demamnya turun tapi bukan semakin baik. Ini justru merupakan fase yang berbahaya. Sementara pada pasien tifus demam yang turun artinya penyakitnya makin baik.

Harus cek laboratorium

Namun demikian, karena gejala kadang tidak sangat khas seperti yang aku alami (tidak demam tinggi), maka pemastian diagnosanya tetap harus didasarkan pada pemeriksaan laboratorium. Pada Demam dengue, ciri khasnya adalah dengan turunnya jumlah trombosit, suatu komponen darah yang bekerja untuk pembekuan darah. Karena itulah kalau jumlahnya turun dapat menyebabkan risiko perdarahan. Trombosit yang menurun, jika kurang dari 100.000/ul umumnya mengindikasikan adanya demam berdarah. Jika demam berdarah pada satu hari belum bisa diketahui karena jumlah trombosit masih normal, maka periksalah ke dokter lagi jika masih demam untuk memeriksa apakah darah mengandung virus dengue atau tidak. Ada semacam pemeriksaan terhadap adanya virus Dengue dalam tubuh, untuk lebih memastikan diagnosanya. Untuk yang masih awal, bisa dilakukan pemeriksaan NS1 antigen. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan terhadap hematokrit, di mana kenaikan hematokrit di atas 20% mengindikasikan juga adanya kebocoran pembuluh darah. Pada pemeriksaan tifus akan dilakukan dengan tes widal. Tes ini bisa mengetahui apakah Anda terkena tifus atau tidak. Tes yang dilakukan adalah apakah pada darah mengandung bakteri Salmonella typhi atau tidak. Selain itu, tes juga bisa dilakukan dengan memeriksa tinja. Di tinja penderita tifus akan mengandung bakteri Salmonella typhi.

Bagaimana pengobatannya?

Pada dasarnya terapi Demam berdarah bersifat suportif, tidak ada terapi khusus. Untuk demamnya diberi obat penurun panas parasetamol, jika mual diberi obat anti mual. Terapi utama untuk DBD adalah terapi cairan untuk mengganti kehilangan cairan plasma akibat kebocoran pembuluh darah dan (jika ada) perdarahan . Pasien dengan demam dengue ringan dengan penurunan trombosit yang tidak telalu banyak (masih di atas 100rb) dengan gejala tanpa komplikasi dapat dirawat di rumah. Pasien perlu banyak minum dengan cairan yang mengandung elektrolit. Pasien dengan kondisi yang lebih berat harus dirawat di RS untuk mendapatkan pengawasan yang ketat, karena perkembangan penyakitnya seringkali sulit diprediksikan. Pasien mendapat cairan infus, misalnya NaCl fisiologis atau Ringer Laktat.

Akhir cerita

Alhamdulillah, setelah dirawat selama dua hari dua malam, akhirnya hari Kamis pagi hasil pemeriksaan trombositku menunjukkan perbaikan, sudah mencapai angka 102 ribu. Obat-obat yang aku peroleh di RS hanyalah terapi cairan saja, dan sekali aku minum domperidon karena agak mual. Sempat diresepkan injeksi Medixon dan Acran (ranitidin), tetapi aku menolak karena menurutku tidak diperlukan untuk kondisiku saat kemarin. Hari Kamis sore aku sudah dibolehkan keluar rumah sakit.

Memenuhi undangan kawan-kawan Cirebon hari Sabtu

Memenuhi undangan kawan-kawan Cirebon hari Sabtu

Oya, perhatian dan doa teman-teman tentu sangat membesarkan hati, baik yang sempat menengok maupun yang mendoakan dari jauh. Terimakasih sekali ya.. Banyak juga saran yang masuk terkait penggunaan angkak merah, sari kurma dan minum yang banyak. Adapula yang membawakan angkak merah, dan dengan senang hati aku minum. Aku belum tau persis bagaimana clinical evidence-nya, tetapi pengalaman pribadiku menunjukkan bahwa angkak ini sangat membantu meningkatkan jumlah trombosit. Hari Jumat pagi aku periksa lab lagi dan trombositku sudah di angka 179 ribu, alhamdulillah… Aku cukup tenang walaupun badan masih agak lemah, karena malamnya aku harus berangkat menempuh malam menuju Cirebon. Sabtu pagi aku sudah dijadwalkan mengisi seminar IAI PC Cirebon. Alhamdulillah, perjalanan lancar dan aku dikuatkan untuk memenuhi amanah tersebut. Malamnya aku pulang dengan selamat dan hari Minggu benar-benar take a full rest.

Demikian sekedar berbagi pengalaman dihajar oleh si Dengue.. Bulan-bulan musim hujan seperti ini harus lebih waspada lagi…








Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 685 pengikut lainnya