Menumpas obesitas…..

27 06 2009

Dear kawan,

Dua mingguan tidak menulis di blog rasanya seperti punya hutang…..  pasti sudah ada yang menunggu-nunggu hehe….. Karena itulah menjelang tengah malam ini kuupayakan menulis posting ini. Seharian tadi menguji seminar thesis Magister Farmasi Klinik 5 orang sekaligus. Waduh, Sabtu-sabtu masih aja ada kerjaan….  Tapi herannya, banyak aktivitas, banyak “stress”, ….. tapi kok nggak kurus-kurus yah… hehe…. Makin bertambah usia, badan makin mekar saja. Sebuah hasil pemeriksaan yang iseng-iseng kulakukan pada sebuah salon pelangsingan tubuh menyatakan bahwa untuk ukuran tinggi badanku, berat badanku sudah kelebihan 11 kg dari berat badan ideal. Wueek..kekek..!

Tapi yah… enjoy ajaa….! Kalau terlalu kurus entar malah dikira hidup menderita atau mengalami KDRT seperti Manohara hehe…….. Manohara yang menderita aja ngga kurus-kurus. Nah, kebetulan seorang sahabatku yang sedikit gendut memintaku menulis tentang obat-obat pelangsing yang banyak dipakai di masyarakat.  Hm… boleh juga, sekalian aku bisa belajar supaya tidak tambah kegendutan. Obat-obat pelangsing umumnya dipakai untuk mereka yang mengalami obesitas (atau takut menjadi obes). Jadi kita akan start dengan mengetahui dulu tentang obesitas.

 Apa itu obesitas?

mau segendut ini?

mau segendut ini?

Secara gampang, obesitas adalah keadaan kelebihan berat badan di atas normal. Salah satu cara mengukur apakah seseorang mengalami obesitas atau tidak adalah menggunakan ukuran BMI (body mass index), yaitu menghitung berat badan dibagi tinggi dalam kuadrat ( BMI = kg/m2). Pada umumnya, seseorang dengan usia 35 tahun dinyatakan obesitas jika ia memiliki BMI sama atau lebih dari 27. Untuk mereka yang berusia < 34 tahun, skor BMI sebesar 25 sudah termasuk dinyatakan obesitas. Secara umum, BMI sebesar 30 atau lebih sudah mengindikasikan obesitas sedang sampai berat. Coba ukur BMI kalian, kawan….

 Apa yang menyebabkan obesitas?

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami obesitas, antara lain faktor genetik, lingkungan, psikologis, dll.

Faktor genetik

Obesitas umumnya cenderung bersifat menurun dalam keluarga, yang menunjukkan adanya pengaruh faktor genetik. Sebenarnya tak hanya masalah genetik, keluarga umumnya juga “menurunkan” pola makan dan gaya hidup yang bisa berkontribusi terhadap kejadian obesitas. Jika suatu orang tua membiarkan anaknya makan apa saja dan bahkan memfasilitasi anak untuk makan makanan yang enak-enak berlemak… yah… bagaimana anaknya nggak gemuk.

Faktor lingkungan

Faktor lingkungan memberikan pengaruh yang signifikan, misalnya kemudahan mendapatkan fast-food yang umumnya berkolesterol tinggi, pekerjaan yang kurang memungkinkan banyak gerakan fisik tubuh, atau lebih mengutamakan rasa makanan ketimbang faktor nutrisi di dalam memilih makanan.

Faktor psikologis

Faktor psikologis ini dapat mempengaruhi kebiasaan makan. Sebagian orang makan lebih banyak sebagai respon terhadap keadaan mood negatif seperti sedih, bosan, atau marah. Sebagian lagi mungkin mengalami gangguan makan seperti dorongan makan yang kurang terkendali (binge eating) walaupun sudah kenyang, atau kebiasaan ngemil yang sulit dihentikan. Orang-orang seperti ini sangat berisiko terhadap kegemukan, dan perlu mendapatkan perlakuan khusus, seperti konseling atau terapi psikologi lainnya.

Penyebab lain

Selain tiga faktor di atas, penyebab lain obesitas bisa berupa penyakit atau penggunaan obat tertentu. Penyakit hypotiroid, Cushing’s syndrome, dan depresi dapat memicu makan berlebihan. Beberapa obat seperti steroid dan antidepresan tertentu juga memiliki efek samping peningkatan berat badan.

Bagaimana mengatasi obesitas?

Yang pertama sekali tentu adalah pembatasan makan dan meningkatkan aktivitas fisik, sehingga asupan kalori dan penggunaannya terjadi seimbang. Namun jika ini sulit dilakukan dan tidak berhasil, maka perlu bantuan obat-obatan, yaitu obat anti obesitas.

Obat anti obesitas adalah obat-obat yang dapat menurunkan atau mengontrol berat badan. Obat-obat ini bekerja dengan mengubah proses fundamental dalam tubuh dan regulasi berat badan, dengan cara menekan nafsu makan, mempengaruhi metabolisme, atau mengurangi absorpsi makanan/kalori.

Bagaimana mekanisme aksi obat anti obesitas?

Obat-obat anti obesitas bekerja dengan beberapa mekanisme:

1. menekan nafsu makan.

2. Meningkatkan metabolisme tubuh

3. Menurunkan kemampuan tubuh untuk mengabsorpsi nutrien tertentu dari makanan, utamanya lemak, misalnya dengan cara menghambat peruraian lemak sehingga tidak dapat diserap oleh tubuh.

 Ada beberapa contoh obat anti obesitas, antara lain adalah:

1. Orlistat (Xenical)

Obat ini menggurangi penyerapan lemak di usus dengan cara menghambat enzim lipase dari pankreas. Lipase adalah enzim yang bertugas menguraikan lemak. Obat ini bisa menyebabkan feses menjadi berlemak, perut kembung, dan kontrol BAB terganggu. Tapi efek samping ini bisa dikurangi jika asupan makanan berlemak di kurangi.

 2. Sibutramin (Meridia, Reductil)

Obat ini bekerja secara sentral menekan nafsu makan, dengan mengatur ketersediaan neurotransmiter di otak, yaitu menghambat re-uptake serotonin dan norepinefrin. Namun obat ini harus digunakan secara hati-hati karena dapat meningkatkan tekanan darah, menyebabkan mulut kering, konstipasi, sakit kepala dan insomnia.

Sibutramin inilah yang sering ditambahkan oleh produsen nakal jamu pelangsing, sehingga beberapa waktu lalu pernah dilakukan penarikan 6 merk  jamu pelangsing oleh Badan POM karena dicampur dengan sibutramin. Sungguh, pencampuran jamu pelangsing dengan sibutramin ini merupakan tindakan kriminal yang sama sekali tidak memikirkan keselamatan penggunanya. Buat mereka yang memiliki gangguan penyakit kardiovaskuler tentu sangat riskan menggunakan jamu ini karena dapat meningkatkan tekanan darah dan mungkin risiko terjadinya stroke.

 Cara kerjanya hampir mirip seperti obat-obat golongan katekolamin dan turunannya. Ini mengingatkan pada salah satu obat yang cukup terkenal dan menghebohkan, yaitu fenilpropanolamin (PPA), yang juga banyak dijumpai pada komposisi obat flu. Sudah pernah aku tuliskan somewhere di blog ini bahwa di Amerika, PPA banyak dipakai sebagai pelangsing dengan dosis jauh lebih tinggi dari dosis yang dipakai untuk efek pelega hidung tersumbat. Dan ternyata, PPA ini meningkatkan risiko kejadian stroke hemoragik. Saat ini PPA tidak lagi dipakai sebagai obat pelangsing di sana.

 3. Obat-obat laksatif

Selain obat-obat di atas, obat-obat lain yang sering dipakai untuk mengurangi berat badan adalah golongan laksatif atau pencahar. Dengan melancarkan BAB (buang air besar) diharapkan berat badan juga relatif terkontrol. Banyak sediaan suplemen yang mengandung high-fiber yang ”diindikasikan” untuk melangsingkan tubuh dan dapat diperoleh secara bebas. Serat tinggi tadi diharapkan mengembang di saluran cerna dan memicu gerakan peristaltik usus sehingga akan memudahkan BAB. Walaupun mungkin berhasil, tetapi efeknya umumnya tidak terlalu signifikan. Selain sejenis fiber ini, beberapa pencahar lain juga sering dipakai sebagai pelangsing. Penggunaan pencahar sebagai pelangsing dalam waktu lama tidak disarankan karena usus akan menjadi “malas”, akan bekerja jika ada pemicunya, dan hal ini akan menjadikan semacam “ketergantungan”.

 4. Diuretik

Obat-obat diuretik (pelancar air seni) juga sering dipakai sebagai obat pelangsing. Tapi sebenarnya efeknya tidaklah signifikan dalam mengurangi berat badan. Justru penggunaannya harus diperhatikan karena dapat mengganggu keseimbangan elektrolit dalam tubuh karena banyak ion-ion tubuh yang mungkin akan terbawa melalui urin. Jika berat badannya disebabkan karena timbunan cairan, maka diuretik memang pilihan yang tepat, tetapi jika karena timbunan lemak, tentu diuretik tidak akan berefek signifikan. Umumnya teh-teh pelangsing mengandung senyawa alam yang bersifat diuretik sehingga memberikan efek kesan melangsingkan.

 5. Obat-obat herbal pelangsing

Sekarang banyak sekali ditawarkan berbagai produk herbal yang diklaim memiliki efek pelangsing. Ada yang dikatakan bekerja melarutkan lemak, atau mengurangi penyerapan lemak di usus. Salah satu herbal yang terkenal sebagai pelangsing adalah Jati Belanda. Senyawa tanin yang banyak terkandung di bagian daun, mampu mengurangi penyerapan makanan dengan cara mengendapkan mukosa protein yang ada dalam permukaan usus. Sementara itu, musilago yang berbentuk lendir bersifat sebagai pelicin. Dengan adanya musilago, absorbsi usus terhadap makanan dapat dikurangi. Hal ini yang yang menjadi alasan banyaknya daun jati belanda yang dimanfaatkan sebagai obat susut perut dan pelangsing.

Obat-obat herbal pelangsing memang lebih aman, tetapi efikasinya tentu perlu bukti-bukti penelitian lebih lanjut. Mungkin ada yang berhasil, mungkin pula tidak.

 Nah, begitulah… pilih yang mana?

Bagaimanapun menjadi langsing tentu lebih baik, tetapi jangan sampai ingin langsing tetapi malah jadi sakit karena efek samping. Jika benar-benar mengalami obesitas dan perlu pengobatan, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan terapi yang sesuai. Cara-cara lain seperti akupunktur, akupressur, boleh juga dicoba. Jika perlu dilakukan liposuction (sedot lemak), tapi tentu harus dilakukan oleh tenaga medis profesional dan pertimbangan yang cermat.

Aku sendiri.. hm…. masih agak sulit untuk menahan ngemil. Yah…. gendut-gendut dikit tak apalah, yang penting sehat…. (menghibur diri hehe…..).

Demikian, semoga bermanfaat.





Maap… belum sempat nulis lagi..

26 06 2009

Dear kawan,

Musim ujian akhir dan koreksi, ujian skripsi dan thesis, deadline kumpulkan nilai, additional activities di fakultas seperti IMHERE dan DIPA WCRU, revisi props penelitian, visitasi ISO 9001-2000, urusan Magister Farmasi Klinik, dan rapat-rapat lain, telah menjerat tanganku sampai-sampai tidak sempat menulis apapun di blog ini. Mohon maap… kalau mungkin sudah ada yang menanti tulisan sederhana dari tanganku hehe…. (mode Ge-er ON).

Ditunggu saja dan doakan semoga masih selalu punya semangat dan ide untuk menulis dan berbagi…

Salaam..





Asam retinoat dalam kosmetika: apa bahayanya?

14 06 2009

Dear kawan,

kosmetikBelum lama ini terdengar berita lumayan mengejutkan bahwa beberapa produk kosmetika, beberapa diantaranya cukup terkenal, ditarik dari peredaran oleh Badan POM. Sebuah tindakan yang penuh kehati-hatian terhadap adanya senyawa-senyawa pada kosmetika tersebut yang dikuatirkan dapat menyebabkan risiko kesehatan pada konsumen. Berdasarkan PUBLIC WARNING / PERINGATAN dari Badan POM Nomor : KH.00.01.43.2503 tanggal : 11 JUNI 2009, beberapa senyawa berbahaya yang dijumpai dalam kosmetika antara lain adalah :

Merkuri (Hg) / Air Raksa termasuk logam berat berbahaya, yang dalam konsentrasi kecilpun dapat bersifat racun. Pemakaian Merkuri (Hg) dapat menimbulkan berbagai hal, mulai dari perubahan warna kulit, yang akhirnya dapat menyebabkan bintik-bintik hitam pada kulit, alergi, iritasi kulit, kerusakan permanen pada susunan syaraf, otak, ginjal dan gangguan perkembangan janin bahkan paparan jangka pendek dalam dosis tinggi dapat menyebabkan muntah-muntah, diare dan kerusakan ginjal serta merupakan zat karsinogenik (menyebabkan kanker) pada manusia.

• Hidrokinon termasuk golongan obat keras yang hanya dapat digunakan berdasarkan resep dokter. Bahaya pemakaian obat keras ini tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit menjadi merah dan rasa terbakar, bercak-bercak hitam.

Asam Retinoat / Tretinoin / Retinoic Acid dapat menyebabkan kulit kering, rasa terbakar, teratogenik (cacat pada janin).

• Bahan pewarna Merah K.3 (CI 15585), Merah K.10 (Rhodamin B) dan Jingga K.1 (CI 12075) merupakan zat warna sintetis yang umumnya digunakan sebagai zat warna kertas, tekstil atau tinta. Zat warna ini merupakan zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker). Rhodamin B dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan hati.

Salah satu bahan berbahaya yang akan dikaji dalam posting ini adalah tentang asam retinoat. Menarik bahwa asam retinoat banyak dijumpai pada produk-produk pemutih kulit, salah satunya adalah produk yang cukup ngetop di Yogya, yaitu produk dari Natasha Medicated Skin Care Yogyakarta. Aduh, moga-moga aku nggak “di-Prita-kan”  nih karena menyebut nama…. Karena aku kan hanya mengutip dari edaran Badan POM. Oya, merk terkenal OLAY dan PONDS juga ada yang ditarik karena mengandung merkuri. Yang ditarik adalah OLAY Total White produk Malaysia dan PONDS Age Miracle produk Thailand/Singapore.

Hm… kembali ke asam retinoat ya, ……

Apakah asam retinoat itu?

Asam retinoat adalah bentuk asam dan bentuk aktif dari vitamin A (retinol). Disebut juga tretinoin. Asam retinoat ini sering dipakai sebagai bentuk sediaan vitamin A topikal, yang dapat diperoleh secara bebas maupun dengan resep dokter. Bahan ini sering dipakai pada preparat untuk kulit terutama untuk pengobatan jerawat, dan sekarang banyak dipakai untuk mengatasi kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari (sundamage) dan untuk pemutih.

Bagaimana Asam retinoat bekerja?

Kulit memiliki reseptor untuk asam retinoat yang disebut retinoic acid receptor (RAR) yang berlokasi di dalam sel (intraseluler). Jika asam retinoat mengikat reseptornya, maka akan mengaktifkan transkripsi gen yang akan menstimulasi replikasi dan diferensiasi sel, terutama adalah sel-sel keratin (sel sel tanduk) penyusun kulit paling luar (epidermis). Hal ini akan menyebabkan efek berkurangnya keriput dan memperbaiki sel-sel kulit yang rusak, misalnya karena paparan sinar matahari.

Mekanismenya sebagai obat jerawat belum banyak diketahui sepenuhnya, tetapi Diane Thiboutot dkk dari Pennsylvania State University College of Medicine, dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa asam retinoat ini meng-up regulasi gen untuk pembentukan protein NGAL, yang berperan dalam proses kematian (apoptosis) kelenjar sebasea, yaitu kelenjar penghasil minyak di kulit, yang umumnya terlibat pada terjadinya jerawat. Dengan kematian sel kelenjar sebasea ini, maka produksi minyak kulit berkurang dan akan mengurangi jerawat.

Asam retinoat juga sering dimasukkan dalam komposisi krim pemutih karena dipercaya memiliki efek pemutih. Efek asam retinoat ini tidak langsung melalui penghambatan pigmen melanin seperti beberapa senyawa pemutih lainnya, tetapi menurut Yoshimura cs, diduga karena terjadinya peningkatan proliferasi sel-sel keratin dan percepatan turnover epidermis (lapisan kulit paling luar), sehingga memberikan efek mencerahkan kulit.

Apa efek berbahayanya?

Hm… kayaknya baik-baik saja, ya. Bahayanya apa? Pada penggunaan topikal, asam retinoat dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit seperti terbakar, terutama buat yang berkulit sensitif. Sedangkan pada penggunaan sistemik (misalnya peroral) asam retinoat memiliki efek teratogenik, yaitu menyebabkan abnormalitas perkembangan janin dalam kandungan. Paparan yang paling kritis adalah selama 3-5 minggu kehamilan, bahkan sebelum sang ibu ketahuan hamil. Penggunaan asam retinoat ini dapat menyebabkan berbagai bentuk malformasi/kecacatan pada janin. Fakta ini diperoleh beberapa saat setelah Accutane, suatu obat jerawat berbentuk kapsul berisi isotretinoin (13-cis-retinoic acid), diperkenalkan pada bulan September tahun 1982. Diperkirakan 160 ribu wanita hamil pada saat itu menggunakannya. Antara tahun 1982-1987, kurang lebih dijumpai 900-1300 bayi yang lahir cacat, 700-1000 terjadi aborsi spontan, dan 5000-7000 janin digugurkan secara medis karena paparan Accutane. Anak-anak yang sempat dilahirkan memiliki gangguan hidrosephalus (pembesaran kepala berisi cairan), kecacatan telinga, gangguan jantung, dan penurunan intelegensia. Sejak itu Accutane digolongkan sebagai obat dengan kategori X untuk kehamilan, yaitu tidak boleh sama sekali dipakai pada wanita hamil atau yang merencanakan hamil.

Walaupun efek yang paling nyata adalah pada penggunaan sistemik, tetapi pada penggunaan topikal (dioleskan di kulit) jika dilakukan dalam jangka waktu lama juga dikuatirkan akan menyebabkan terserapnya asam retinoat ke dalam tubuh dan akan mempengaruhi janin pada pengguna yang sedang hamil.

Kalau menurut aku sendiri sih, kalau mau maksa memakai sediaan yang mengandung asam retinoat… sebenarnya boleh saja, selama tidak iritasi, tidak ada alergi, tidak sedang hamil atau merencanakan hamil, apalagi jika hanya dipakai secara topikal dalam jangka waktu pendek, dan semestinya dengan pangawasan dokter.  Lhah… kalau jerawat berderet sebesar-besar jagung, mau gimana……. ? Memang ada sih pilihan yang lain,… tapi Accutane sendiri di US masih beredar dan merupakan obat dengan resep dokter. Namun untuk kehati-hatian bagi semua, memang sudah bijaksana jika Badan POM proaktif melaksanakan tugas pengawasannya.

Demikian, semoga bermanfaat.





Science of Love

9 06 2009

Dear kawan,

falling-loveKemarin aku dapat pertanyaan menarik dari seorang mahasiswa…,” Bu, mengapa sih kalau kita ketemu dengan orang yang kita sukai, rasanya deg-degan. Faktor apa yang menyebabkan?”… Hm,,… boleh juga nih untuk bahan tulisan. Ngomong tentang cinta atau love memang nggak pernah basi. Siapa sih yang belum pernah jatuh cinta? Ternyata masalah cinta bisa asyik juga jika dikupas dari sisi sains…

Mengapa jatuh cinta?

Cinta sendiri sebenarnya adalah suatu cara manusia untuk menjaga keberlangsungan spesiesnya di muka bumi. Dengan jatuh cinta, menikah, punya anak, maka keberlangsungan hidup manusia akan terjaga. Sesederhana itu kah? Hm… tentu tidak. Manusia itu mahluk multi dimensional, jadi cinta bisa menjadi simpel atau rumit tergantung dari mana memandangnya.  Tulisan kali ini mencoba mensimplifikasi cinta dari sisi sains saja….

Ketika seseorang jatuh cinta, ternyata ada beberapa senyawa kimia di otak, yang biasa disebut neurotransmiter, dan hormon, yang turut bermain di dalamnya. Apa yang dilakukan seseorang ketika jatuh cinta? Ternyata orang jatuh cinta tidak selalu mengatakan apa yang dirasakannya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 55% orang menyatakan ketertarikannya dengan bahasa tubuh (body language), 38% menunjukkan melalui nada suaranya, dan hanya 7 % yang menunjukkan langsung dengan kata-kata. Hm… bener nggak ya?

Seorang antropolog biologi dari Rutgers University, Helen Fisher, menyatakan bahwa ada 3 tahap dalam cinta, yang disebutnya : lust, attraction, dan attachment, yang masing-masing tahap itu diatur oleh hormon dan atau senyawa kimia yang berbeda.

Tahap 1 : lust (hasrat, keinginan, desire)

Tahap ini diawali dengan ketertarikan atau gairah terhadap lawan jenis, yang dipengaruhi oleh hormon sex yaitu testosteron dan estrogen, pada pria dan wanita. Ini dimulai dari masa pubertas, di mana seseorang mulai tertarik dengan lawan jenisnya.

Tahap 2 : attraction

Tahap ini merupakan tahap yang “amazing” ketika seseorang benar-benar sedang jatuh cinta dan tidak bisa berpikir yang lain. Menurut Fisher, setidaknya ada 3 neurotransmiter yang terlibat dalam proses ini, yaitu adrenalin, serotonin, dan dopamin.

Adrenalin

Tahap awal ketika seorang jatuh cinta akan mengaktifkan semacam “fight or flight response”, yang akan meningkatkan pelepasan adrenalin dari ujung saraf. Adrenalin akan bertemu dengan reseptornya di persarafan simpatik, dan menghasilkan berbagai efek seperti percepatan denyut jantung (takikardi), aktivasi kelenjar keringat, menghambat salivasi, dll. Ini yang menyebabkan ketika seseorang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang yang ditaksirnya, ia akan berdebar-debar, berkeringat, dan mulut jadi terasa kering/kelu. Iya, nggak?

Dopamin

Helen Fisher meneliti pada pasangan yang baru saja “jadian” mengenai level neurotransmiter di otaknya dengan suatu alat pencitraan, dan menemukan tingginya kadar dopamin pada otak mereka. Dopamin adalah suatu senyawa di otak yang berperan dalam sistem “keinginan dan kesenangan” sehingga meningkatkan rasa senang. Dan efeknya hampir serupa dengan seorang yang menggunakan kokain! Kadar dopamin yang tinggi di otak diduga yang menyebabkan energi yang meluap-luap, berkurangnya kebutuhan tidur atau makan, dan perhatian yang terfokus serta perasaan senang yang indah (exquisite delight) terhadap berbagai hal kecil pada hubungan cinta mereka…. Dopamin juga merupakan neurotransmiter yang menyebabkan adiksi (ketagihan)… termasuk adiksi dalam cinta. Seperti  orang yang mengalami addiksi cocain atau ecstassy (obat yang menyebabkan penghambatan re-uptake dopamin)…… Secara neurobiologi keadaannya sama… yaitu level dopamin yang tinggi di otak…..

Tentang hal ini menurutku keadaannya mirip seperti seorang penderita bipolar yang mengalami state “hipomania” hehe…… perasaan yang elevated, energi yang meluap-luap, kreativitas yang meningkat, dll.  Aku berani jamin, orang yang lagi jatuh cinta itu pasti tidak akan merasa lelah kalaupun harus berjalan berkilo-kilometer kalau itu dijalani bersama yang lagi dicintai !! Jadi pintar bikin puisi, jadi semringah… Ya kan ? …. hehe

Serotonin

Yang terakhir adalah serotonin. Ketika jatuh cinta, kadar serotonin otak menurun. Serotonin merupakan neurotransmiter yang terlibat dalam obsesi. Turunnya level serotonin inilah yang menyebabkan mengapa ketika kita jatuh cinta, wajah si dia selalu terbayang-bayang terus di kepala…. menjadi terobsesi terhadap si dia. Dan keadaan kimia otak terkait dengan kadar serotonin pada orang yang sedang “falling in love” itu mirip dengan keadaan orang dengan gangguan Obsessive Compulsive Disorder!!  Ada obsesi atau keinginan terhadap sesuatu dan ada dorongan (kompulsi)  untuk berulang-ulang melakukan sesuatu  untuk mencapai keinginan (obsesi)-nya. Misalnya terobsesi untuk mendengar suara si dia, maka akan ada dorongan untuk menelponnya berulang-ulang, hehe…… bener kan?

Walah..walah….  dalam sudut pandang sains kesehatan…. “patofisiologi” cinta itu memang mirip patofisiologi penyakit….. Dan nyatanya memang tidak sedikit orang yang sakit fisik dan jiwa karena cinta …. hmmm….! Selain itu,  perasaan jatuh cinta itu bisa sangat mempengaruhi mood seseorang….. Kalau perasaan sedang sehati dengan dia, hidup terasa indah berbunga-bunga… Dan kalau sedang bertepuk sebelah tangan, hidup bagai kehilangan warna… Aiih!!  Dan cinta tidak memandang pangkat, jabatan, tingkat intelektual,…. karena itu fitrah manusia…

NGF (nerve growth factor)

Seorang peneliti lain, Enzo Emanuele dari University of Pavia di Italy, menemukan adanya senyawa lain yang terlibat dalam peristiwa jatuh cinta, yaitu NGF (nerve growth factor). Penemuannya itu merupakan penemuan yang pertama yang menyatakan bahwa NGF mungkin berperan penting dalam proses kimia pada orang jatuh cinta. Ia membandingkan 58 orang pria dan wanita, usia 18-31 tahun, yang baru saja jatuh cinta, dengan kelompok orang-orang yang sudah cukup lama memiliki hubungan cinta dan dengan kelompok lajang. Ia menjumpai bahwa pada kelompok orang yang sedang “falling in love” dijumpai kadar NGF dalam darah yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang sudah membina cinta lebih lama atau yang lajang, dengan perbandingan 227 unit berbanding 123 unit. Menariknya, ketika ia mengecek lagi pada orang yang sama dan masih dengan pasangan yang sama setahun kemudian, kadar NGF-nya turun mencapai kadar yang sama dengan kelompok yang sudah mantap hubungannya atau dengan yang lajang.

Tahap 3 : Attachment

Tahap ini adalah tahap ikatan yang membuat suatu pasangan bertahan untuk jangka waktu yang lama, dan bahkan untuk menikah dan punya anak. Para ilmuwan menduga bahwa ada 2 hormon utama yang lain yang terlibat dalam perasaan saling mengikat ini, yaitu oksitosin dan vasopresin.

Oxytocin – The cuddle hormone (hormon untuk menyayangi)

Oksitosin adalah salah satu hormone yang dilepaskan oleh pria maupun wanita ketika mereka berhubungan seksual, yang membuat mereka menjadi lebih dekat satu sama lain. Oksitosin juga merupakan hormone yang dilepaskan oleh sang ibu ketika proses melahirkan dan merupakan hormon pengikat kasih sayang ibu dengan anaknya.

Vasopressin

Sedangkan vasopressin adalah hormone penting lainnya yang menjaga komitmen hubungan suatu pasangan. Hormon ini juga dilepaskan setelah hubungan seksual…

Hm, menarik juga ya membicarakan cinta dari pandangan sains. Jadi ingat deh saat-saat jatuh cinta hehe….. it was amazing feeling !!

Duhai separuh jiwaku,

Memandangmu, adrenalinku terpacu

Mengaktivasi saraf-saraf simpatisku..

Takikardi, salivasi terhenti…

Dopamin pun mengiringi

membuatku addiksi

tak ingin kau pergi..

Serotonin berkurang

wajahmu tak mau hilang…

(Hehe…… ora romantis blas puisine…. )





Mengenang Ayah

3 06 2009

Dear kawan,

photo papi 1Aku sudah pernah menulis tentang ibuku dan kekuatan doa ibuku yang menjadi salah satu sumber “kekuatanku”. Waktu itu mendekati hari Ibu. Sayangnya tidak ada hari Ayah, sehingga aku belum sempat menulis tentang ayahku, padahal ayah adalah sumber kekuatan hidupku juga. Dalam beberapa hal, peran ayah bahkan lebih daripada ibu, terutama dalam hal menopang semua kebutuhan kami sekeluarga. Dua hari yang lalu adalah peringatan seribu hari wafatnya ayah (aku baru sempat menulis sekarang). Mengenang ayah selalu membuat mataku jadi basah………

Bulan September 2006. Aku sedang dalam kesibukan dengan intensitas tinggi. Fakultas Farmasi sedang punya 3 gawe besar dalam waktu berdekatan, di mana aku terlibat secara intens di dalamnya. Yaitu Lustrum Fakultas, International Symposium on Recent Progress of Curcumin Research, dan menyambut visitasi Program Hibah Kompetisi (PHK) B. Yang terakhir itu adalah bentuk skema pendanaan dari DIKTI untuk pengembangan institusi yang harus diperebutkan secara kompetitif. Kebetulan saat itu aku menjadi Ketua Task Force dalam penyusunan proposal PHK-B.

Aku ingat benar, siang itu aku sedang rapat persiapan visitasi PHK-B, bahkan sedang bicara di forum tersebut, ketika telepon selulerku berbunyi. Hm… dari nomer telepon ibu di rumah. Aku angkat. Terdengar suara ibu terbata-bata di sana….,”..Lies,…. Papi wis ora nana…” kata itu dalam bahasa Jawa memberitakan bahwa Ayah sudah berpulang. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Aku langsung lemas. Aku sampaikan pada pertemuan itu bahwa ayahku berpulang dan aku minta ujin keluar dari forum rapat karena akan mengabari adik-adik dan suamiku. Akupun menyetir pulang dengan hati sedih dan mata berkaca. Dan sorenya kami sekeluarga segera berangkat ke Purwokerto.

Tentang Ayah

Ayah adalah sumber semangatku untuk meraih pencapaian terbaik. Aku selalu senang dengan senyum lebar ayah ketika kusampaikan hasil-hasil belajarku yang memuaskannya. Paling tidak  kerja keras ayah untuk membiayai sekolah kami sedikit “terbayar”, walau Ayah tentu tak pernah meminta balasan, dan aku pun tak kan sanggup membayar semua kasih sayang dan kerja keras Ayah untuk kami semua. Makanya aku paling gemes dan prihatin jika melihat generasi muda yang menyia-nyiakan hidupnya dengan tindakan-tindakan bodoh yang mencelakakan dirinya. Tidakkah mereka mengingat betapa orang tua membanting tulang untuk menopang hidupnya?

Ayah sangat sayang kepada kami semua anak-anaknya, bahkan kadang terkesan berlebih. Hal ini karena ayah memiliki kehidupan yang keras sejak kecil, ia yatim piatu pada usia sangat muda, dan dirawat kakak sulungnya. Beliau tak ingin anak-anaknya mengalami penderitaan dan kekurangan seperti yang dialaminya dulu.

Ayah seorang pekerja keras, pandai berpidato (beliau dulu aktivis suatu partai politik masa orde baru yang harus sering berkampanye), humoris, tapi di sisi lain beliau agak tertutup/pendiam, tak pernah mau menyusahkan keluarga. Ayahku juga pandai menyanyi lho… dan ayah juga pandai, kreatif dan inovatif. Beliau pernah mendapat penghargaan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden (Soeharto waktu itu) atas prestasinya dalam bekerja (waktu itu menjadi Camat di sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas). Ada beberapa sifat ayah yang nampaknya kuwarisi…… antara lain suka menyanyi…

Ada yang unik tentang interaksiku dengan ayah (dan ibu) dalam hal bahasa. Kami (aku dan adik-adik) berbahasa Indonesia dengan ayah, bahkan memanggilnya Papi. Sedangkan dengan ibu, aku dan adik-adik berbahasa Jawa (bahkan bukan bhs Jawa yang halus), dan memanggilnya Ibu. Itu ada ceritanya. Waktu kecil aku tinggal di sebuah kecamatan kecil tempat ayah menjadi camat. Aku tidak bisa dan tidak biasa berbahasa Indonesia. Waktu aku masuk TK di kota (kalian tahu, kawan….. ayah selalu mencarikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya, walau jauh di kota ditempuh juga), aku tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik di sekolah. Karena itu bu guru minta agar aku dilatih berbahasa Indonesia di rumah. Jadilah di rumah aku dibiasakan berbahasa Indonesia dengan ayah, bahkan memanggil beliau Papi (kalau yang ini sih karena ketularan temanku yang putranya kenalan ayah juga yang memanggil ayahnya Papi). Dan malah keterusan sampai kami dewasa….. hehe…

Kawan,

Meskipun sedih, kami mengikhlaskan kepergian ayah. (Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima semua amal baiknya semasa hidup, ayah diberi kenikmatan di alam barzah, dan Insya Allah dijauhkan dari api neraka. Amien). Ayah berpulang setelah serangan stroke-nya yang ke-empat, yang telah membuat beliau banyak kehilangan daya hidupnya. Tidak kuasa berjalan lagi, bahkan tidak bisa bicara, sangat tergantung pada orang lain, tentu rasanya berat dan sedih. Ayah sering terlihat diam saja dan melamun. Kami agak serba salah, jika hendak “menasihati” ayah untuk bersabar dan istighfar…  Betapa tidak, beliau-lah yang selama ini selalu menasihati kami… Kalau sudah begitu, kami mencoba menghibur saja dengan cerita-cerita yang menyenangkan tentang cucu-cucu, atau apalah. Kalau ayah bisa tersenyum atau tertawa, rasanya senang sekali…

Serangan stroke

Aku ingat, ayah mendapat serangan stroke-nya yang pertama pada tahun 1992. Waktu itu aku masih kuliah tingkat akhir, dan ayah masih harus wira-wiri Purwokerto – Semarang, karena beliau bertugas di Semarang, sementara keluarga masih di Purwokerto. Beliau sempat dirawat di RS selama dua mingguan. Sejak itu cukup lama terkontrol. Aku tidak ingat persis kapan serangan kedua dan ketiganya, tapi nampaknya relatif masih ringan. Ayah masih rajin jalan kaki setiap pagi. Sampai kemudian terjadi serangan terakhirnya, yang cukup berat dan  membawa beliau berpulang setelah beberapa bulan tidak berdaya.

Stroke bisa berulang

Stroke adalah gangguan pada pembuluh darah di otak yang menyebabkan sel-sel saraf kekurangan oksigen dan nutrisi dan akhirnya mati. Gangguan itu bisa penyumbatan pembuluh darah (disebut stroke iskemi) atau karena pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragi). Sudah pernah kutulis some where in my blog sedikit tentang stroke ini. Stroke yang dialami ayah adalah jenis stroke iskemi. Terjadi penyumbatan pada pembuluh darah otak sebelah kanan, sehingga menyebabkan kematian sel-sel syaraf tertentu, yang menyebabkan gangguan fungsi tubuh sebelah kiri. Manifestasi stroke bisa bervariasi satu orang dengan yang lain, tergantung saraf mana yang mengalami gangguan atau kematian.

Sekali seorang terkena stroke, ada risiko untuk terkena serangan berikutnya jika tidak dijaga dengan baik. Apalagi jika ada penyakit penyerta lain yang bisa berkontribusi meningkatkan faktor risiko, seperti hipertensi atau diabetes, seperti yang diderita ayah. Tiga penyakit ini kompak benar… sering berada bersama-sama….

Bagaimana mencegah berulangnya stroke?

Pasca pengatasan dari serangan stroke, seorang pasien umumnya perlu menjalani pengobatan seumur hidup dengan terapi yang diistilahkan sebagai terapi pemeliharaan. Selain dengan pengaturan makanan yang baik, olahraga, dan perbaikan pola hidup lain (berhenti merokok, alkohol, stress, dll), maka ada obat-obat yang harus diminum secara teratur. Obat itu biasanya ditujukan untuk menjaga darah agar tetap “encer”, dengan obat-obat pengencer darah seperti aspirin, dipiridamol, tiklopidin, atau klopidogrel. Obat ini harus digunakan secara teratur, walaupun tidak ada serangan atau tidak terasa ada keluhan apa-apa. Seringkali orang kehilangan kepatuhan minum obat ketika badan merasa enak.., padahal kelalaian minum obat itu justru berisiko menimbulkan kekambuhan.

Selain obat-obat pengencer darah, semua kondisi yang meningkatkan risiko kekambuhan juga harus dijaga, terutama tekanan darah. Umumnya pasien juga harus mengkonsumi obat-obat anti hipertensi dalam waktu lama. Jika ia terkena Diabetes juga, seperti ayah, tentu juga harus dikontrol dengan obat-obat diabetes. Kadar gula yang tinggi dalam darah dapat menyebabkan darah menjadi lebih kental. Ini berisiko untuk menyebabkan sumbatan pembuluh darah, apalagi jika faktor-faktor lain tidak terjaga.

Memang tidak mudah, terutama menjaga faktor makanan, seperti ayah. Ayah suka makan enak. Aku ingat dulu waktu aku masih SD dan SMP, aku senang sekali jika dijemput ayah, karena sepulang sekolah selalu diajak makan di restoran di depan alun-alun . Sekedar minum es kopyor atau es durian kesukaanku, dan mie bakso. Jadi walaupun ayah rajin minum obat, rajin kontrol ke dokter, tapi kadang ibu kewalahan juga jika ayah ingin makan sesuatu yang mestinya dipantangkan. Kadang ayah patuh, tapi kadang juga ingin makan makanan yang enak. Bayangkan, apa enaknya makan yang tanpa gula, tanpa garam ?…. hm….

Begitulah, kawan..

Walaupun semuanya tentu sudah digariskan Allah, tentu ada yang bisa kita ambil pelajarannya. Terutama bagi kami anak-anaknya yang “mewarisi” gen untuk penyakit hipertensi dan diabetes, perlu lebih hati-hati menjaga kesehatan. Dan selain secara fisik dengan menjaga pola makan, olahraga, dll, menjaga kesehatan itu bisa dengan menjaga perilaku keseharian, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, mengurangi dosa sebanyak-banyaknya, sehingga Allah berkenan menumpahkan rahmatNya sebanyak-banyaknya pula dan menghindarkan kita dari aneka penyakit. Dan semoga kami anak-anaknya bisa menjadi tabungan pahala untuk Ayah. Insya Allah. Amien.

Demikian tulisan in memoriam ku untuk ayah…

“Papi, saya sayang papi…… Semoga Papi berbahagia di alam barzah, dan Insya Allah kita dapat bertemu di Firdaus kelak. Amien….”