Anesthesia awareness..

18 05 2010

Dear kawan,

Film Awake

Pernah nonton film “Awake” besutan Joby Harold tahun 2007? Film itu mengisahkan tentang seorang yang harus menjalani operasi transplantasi jantung di bawah pengaruh obat bius, tetapi tersadar pada saat operasi berlangsung tanpa bisa bergerak atau bicara. Serunya, dia bisa mendengar semua percakapan yang terjadi selama dia dibius, dan menjumpai bahwa dokter yang sekaligus temannya ternyata memiliki rencana buruk terhadapnya !! Pastinya seru…. tapi tulisan ini bukan bermaksud membuat resensi film itu loh……!  Tulisan kali ini agak lain dari sebelumnya, yaitu mencoba mengangkat tentang peristiwa “anesthesia awareness”, yaitu tersadarnya pasien pada saat operasi di bawah pengaruh obat bius, sehingga ia bisa menyadari apa yang terjadi selama operasi. Sebenernya tulisan ini adalah request dari seorang mahasiswa pembaca blog ini setelah nonton film “Awake”. Kayaknya menarik juga, dan aku sendiri juga jadi pengen tau. Seperti apa ya?

Anestesia umum

Pada operasi-operasi besar yang membutuhkan ketelitian, ketepatan dan waktu lama, pasien umumnya mendapat anestesi umum untuk menghilangkan kesadaran dan rasa sakit. Anestesi umum yang modern menggunakan tiga golongan obat untuk memberikan efek pembiusan, yaitu: obat yang menyebabkan tertidur dan menghapuskan memori selama operasi (obat bius), obat yang melemaskan otot untuk mencegah kontraksi otot yang tidak diinginkan selama operasi (pelemas otot), dan obat penghilang rasa sakit yang kuat (analgesik kuat) seperti obat golongan morfin. Obat pelemas otot menyebabkan pasien tidak bisa bergerak, termasuk tidak bisa bicara, atau bahkan bernafas, sehingga seringkali dibantu dengan alat bantu pernafasan.

Nah, walaupun telah diberi anestesi dengan perhitungan yang teliti dari dokter ahli anestesi, dilaporkan 1-2 dari 1000 orang mungkin mengalami “anaesthesia awareness”, yaitu tersadar selama pembiusan, dengan berbagai tingkatan. Ada yang tersadar penuh, setengah tersadar, atau hanya sedikit tersadar.

Ada beberapa bentuk kesadaran ini, antara lain:

Pasien sadar, dapat bergerak, tapi tidak merasakan sakit. Pasien semacam ini mungkin mendapatkan analgesik yang cukup, tetapi kurang cukup obat untuk melemaskan otot dan obat biusnya.

Pasien sadar, tapi tidak bisa bergerak atau berteriak, dan tidak merasakan sakit. Pasien ini mungkin mendapatkan obat analgesik dan pelemas otot dengan dosis yang cukup, tetapi kurang dalam obat biusnya.

Yang paling mengerikan buat pasien adalah jika pasien sadar, merasakan sakitnya operasi, tetapi tidak bisa bergerak atau berteriak, atau mengerjakan apapun. Ini dapat disebabkan karena kurangnya dosis analgesik dan obat biusnya, tetapi cukup mendapatkan pelemas otot. Ini  merupakan situasi yang cukup mengerikan dan kadang membuat trauma pasien terhadap operasi. Mestinya keadaan seperti ini bisa segera disadari oleh dokternya, tapi kadang2 karena pasien tidak bisa bereaksi, maka hal ini tidak disadari dan pasien akan sangat menderita. Selain itu, fungsi otak pasien yang tersadar ini umumnya abnormal karena di bawah pengaruh anestesi, dan ketambahan lagi dengan efek dari obat-obat lain, maka seringkali dapat menimbulkan efek-efek yang aneh seperti seolah-olah jatuh ke dalam neraka, merasa  jiwanya keluar dari badannya, atau merasa akan mati.  

Jiwa keluar dari tubuh?

Seorang dokter menceritakan pengalaman seorang pasiennya, wanita muda yang menjalani operasi hidung. Si pasien merasa keluar dari tubuhnya selama operasi berlangsung, bahkan bisa menceritakan dengan tepat apa yang terjadi di meja operasi. Dia melihat tubuhnya tergeletak di atas meja operasi, seolah-olah dia berdiri di luar tubuhnya dalam posisi di sisi kanan dari kaki meja operasi. Dia menyadari bahwa dia yang terbaring di atas meja operasi, tapi tidak merasa ketakutan karena menyadari bahwa ia tampaknya berdiri di luar tubuhnya. Dia melihat dokter bedah sedang mengoperasinya, tetapi  ia merasa tidak di operasi, maupun merasa sakit karena operasi. Dia melihat asisten dokter bedah. Dia melihat asisten anestesi duduk di samping mesin anestesi yang terletak di sisi kiri tubuhnya. Dan dia mengatakan bahwa dia tidak bisa melihat wajah orang-orang ini.

Apa yang terjadi dengan wanita ini sebelum, selama, dan setelah operasi nya?

Dia sepenuhnya sadar ketika dibawa ke ruang operasi, setelah itu kemudian diberi anestesi umum. Tekanan darahnya, kandungan oksigen darah, detak jantung, serta konsentrasi oksigen, karbon dioksida, asam nitrat, dan gas-gas anestesi lain terus diukur. Dia tersadar dari anestesi umum setelah menyelesaikan operasi. Dia dibawa ke ruang pemulihan setelah dia sadar sepenuhnya. Dan di sana ia menceritakan bahwa ia merasa keluar dari tubuhnya selama operasinya. Tekanan darahnya, darah konsentrasi oksigen, dan konsentrasi karbon dioksida darah tetap normal sepanjang operasi. Tidak ada hal-hal yang aneh selama operasi. Tidak ada yang melihat jiwanya berdiri di samping meja operasi. Tubuhnya tetap di atas meja operasi selama operasi. Dia tidak bisa bergerak, bernapas, atau berbicara selama operasi, karena ia telah menerima obat yang benar-benar melumpuhkan hampir semua otot tubuh, dan ia dibantu oleh ventilasi mekanis dengan mesin pernafasan.

Kebetulan, tak lama sebelum berakhirnya operasi, efek dari semua obat yang ia terima sebagian memudar, sehingga ia membuat sedikit gerakan tangan dan kaki. Lalu  asisten anestesi segera memberikan tambahan obat bius, sehingga sebenarnya tidak ada alasan untuk mengira bahwa dia tersadar saat selama operasi. Dia hanya mampu berbicara setelah dia terbangun dari anestesi umum. Pengamatan yang dilakukan selama ia “keluar dari tubuhnya” semuanya benar. Bagaimana ini bisa dijelaskan?

Diketahui bahwa semua indranya berfungsi normal, dan inilah yang bisa menjelaskan pengamatannya. Jadi begini……. Ia sepenuhnya sadar ketika dibawa ke dalam, dan keluar dari ruang operasi, sehingga ia melihat orang-orang di ruang operasi, pakaian mereka, instrumen, dan mesin anestesi di sisi kiri dari meja operasi. Dia melihat semua hal sebelum dan setelah dioperasi. Dia rupanya sempat sadar untuk waktu yang singkat pada saat efek obatnya berkurang dan ia sempat menggerakkan tangan dan kakinya seperti disebutkan di atas. Tetapi pada saat itu, otak dan seluruh tubuhnya masih dipengaruhi oleh obat bius yang diterimanya. Jadi, dia tidak merasakan sakit dari operasi yang dijalani, dan juga tidak mampu berbicara dan memberitahu orang-orang apa yang terjadi pada saat itu. Pengaruh konsentrasi rendah anestesi umum dan obat pelemas ototnya menyebabkan otot spindle-nya berfungsi abnormal. Sedikit gerakan sewaktu efek obatnya berkurang  menyebabkan otot spindel-nya menghasilkan aliran signal pada saraf sensorik yang menginfomasikan mengenai gerakan, berat dan posisinya. Otaknya yang kurang berfungsi akibat obat anestesi akan menginterpretasikan bahwa dirinya berada di luar tubuhnya, serta menghasilkan suatu halusinasi autoskopik. Ketika dia sadar, ia mampu mengingat semua pengalamannya. Apa yang seolah-olah dilihatnya ketika ia keluar dari tubuhnya sebenarnya adalah memorinya ketika ia masih sadar di ruang operasi dan belum dibius.

Ada yang pernah mengalami demikian?

Begitulah sekedar cerita….. yang aku ambil dari http://www.anesthesiaweb.org/awareness.php. Mungkin ada manfaatnya.

Iklan




Metro Pagi hari Minggu : story behind the scene…

16 05 2010

Dear kawan,

Talk show Metro Pagi 16 Mei 2010 dari layar kaca

Ada yang tidak biasa pagi ini, Minggu 16 Mei 2010 (maaf deh kalau agak lebay….hehe..), yaitu aku nongol di Metro TV, di acara Metro Pagi, untuk sebuah talk show yang membahas tentang Bahaya alkohol dan miras oplosan. Lha, ketemu berapa perkara ya, kok tiba-tiba aku bisa nongol di TV nasional? Hm…beginilah story behind the scene-nya…..

Dikontak Produser acara Metro TV

Kamis pagi, sewaktu ngecek e-mail, aku mendapat satu e-mail dari seorang yang mengaku produser Metro TV, meminta kesediaanku menjadi narasumber pada acara Metro Pagi, live, untuk topik Bahaya Miras Oplosan. Agak-agak surprised plus ge-er juga,… tapi juga ada yang lucu, karena lagi-lagi aku dipanggil “Dok”, dikira dokter. Beliau (si pengirim e-mail) minta nomer HP-ku, dan beliau pun mencantumkan nomor HPnya. Pagi itu aku SMS beliau, dan mengatakan bahwa aku ini bukan dokter, tapi apoteker, dan posisiku di Yogya, karena aku dosen Fakultas Farmasi UGM, apa tetap mau diminta jadi narasumber? Siangnya beliau menelpon, tetap meminta kesediaanku menjadi narasumber. Jadi, ceritanya beliau searching di internet untuk mencari narasumber yang sesuai dengan topik. Sebelum itu katanya beliau sudah menghubungi beberapa orang calon, tapi belum ada yang cocok. Dan akhirnya, terdamparlah beliau ke sebuah informasi tentang Buku Bahaya Alkohol yang pernah aku tulis bersama Mbak Hartati Nurwijaya. Setelah menelisik lagi, ketemulah alamat e-mailku, sehingga kemudian beliau mengontak aku. Wah,…sempet agak menimbang-nimbang juga jika harus pergi ke Jakarta. Mbak Hartati jelas ngga mungkin, karena beliau berdomisili di Yunani.

Tapi setelah aku pikir lagi, kapan lagi ada kesempatan baik seperti ini untuk berbagi secara lebih luas. Dan yang penting lagi adalah pengalaman baru yang menarik, tampil di Metro TV sebagai narasumber, aduuh…keren kan? (“lebay mode” on selama dua hari dua malam). Siapa ngga kenal Metro TV, dengan image-nya yang mencerdaskan pemirsanya. Dan bagiku ini adalah sebuah apresiasi terhadap karyaku dan aku sendiri. Dan kalau untuk seperti ini aku ngga itungan lagi deh…. ngga mikir dapat honor berapa, atau bahkan tombok berapa. Mungkin inilah yang disebut kepuasan batin, yang tak ternilai dengan uang. Kalo menurut teori Maslow, ini merupakan kebutuhan dasar kelima manusia yaitu untuk aktualisasi diri (kalii…hehehe).  Dan aku pelajari selama ini, bahwa  ketika kita berbagi, ternyata tidak ada yang berkurang, malah bertambah. Paling tidak bertambah pengalaman, tambah teman, tambah ilmu. Akhirnya aku putuskan untuk bisa datang ke Jakarta supaya bisa langsung hadir di studio Metro TV. Alhamdulillah, dapat tiket pesawat lumayan murah, sehingga tidak tombok terlalu banyak hehe…. Kadang kita perlu keluar modal sedikit, untuk mendapatkan hasil yang lebih besar. Karena acaranya pagi sekali, maka kuputuskan untuk berangkat ke Jakarta Jumat sore, menginap semalam di rumah adik, dan pulang esok harinya.

Aku cuma berpikir bahwa ternyata ada gunanya juga punya blog ini, atau menulis buku, sehingga orang bisa mengenal kita, dan mungkin akan mengundang kita dalam kegiatan tertentu yang akan memperkaya pengalaman kita. Dan pengalaman itu mahal harganya…. tidak setiap orang bisa memiliki kekayaan pengalaman, apalagi pengalaman yang unik, menarik, sekaligus bermanfaat.

Teroris mengalahkan segalanya..

Jumat sore aku berangkat ke Jakarta dilepas dengan tangisan si kecil yang kepengin ikut ibu. Hm.. sedikit dilematis, tapi akhirnya ia baik-baik saja walau masih menangis. Matahari sudah bersembunyi di peraduannya ketika burung besi yang membawaku dari Jogja mendarat mulus di Bandara Soekarno Hatta. And…poor me,…. Jakarta menyambut dengan kemacetan luar biasa di berbagai sektor malam kemarin. Butuh waktu 3 jam dari Bandara ke rumah adikku di kawasan Jati Asih Bekasi. Ya sudah, kunikmati saja sebagai bagian dari perjuangan (ceilee…), sambil kusyukuri hidupku di Yogya yang masih jauh lebih nyaman untuk urusan perjalanan. Malam itu sesampai di rumah aku langsung mandi, sholat, lalu tidur, karena besok pagi pasti harus berangkat pagi sekali, karena acara direncanakan live jam 6-7.

Benar saja, aku baru saja membuka mata ketika driver Metro TV mengirimkan pesan singkat ke HPku, bahwa dia sudah menunggu di depan rumah. Weekk .. itu baru (apa sudah?) jam 4 pagi !!  Tanpa mandi (jangan bilang-bilang penonton Metro TV ya.. hehe), aku segera bersiap-siap dan berdandan secukupnya, lalu berangkat jam 04.30. Jalanan masih sepi, apalagi kebetulan hari libur, sehingga kami sampai ke Studio Metro TV di bilangan Kedoya pada pukul 05.10an. Setelah menyempatkan sholat shubuh di Mesjid Metro TV, aku menuju lobby yang menjadi tempat shooting. Kayaknya memang pepatah berikut ini sangat pas…. “Manusia berencana, Tuhan yang menentukan”… Setelah sampai di sana, ketemu Mas Arnaz si Produsernya, aku diberitahu bahwa acara pagi ini ngga jadi ditayangkan live, karena ada berita yang dianggap lebih hot untuk diangkat, yaitu mengenai identitas teroris yang ditangkap beberapa hari sebelumnya. Yah, udahlah…..kalau sama teroris mah, aku ngalah aja….  Kecewa sih enggak, tapi mungkin ada temen-teman yang sudah terlanjur menunggu acaranya jadi kecele…. Maaf yaa. Buatku sendiri sih aku anggap sebagai blessing in disguise,…. dengan tidak tampil live, beban sedikit berkurang…. lebih santai dan tidak tegang. Karena tampil live biasanya membuka kesempatan penelpon untuk bertanya, dan seringkali sulit diprediksikan pertanyaannya. Kalau ngga bisa jawab kan agak malu juga hehehe… Dan yang lebih penting lagi, aku jadi bisa nonton sendiri acaranya di TV…!!

Shooting bersama celebrities

Host acara kali ini dua wanita cantik, yaitu Mbak Prita Laura dan Aviani Malik. Yang biasanya cuma bisa dilihat di layar kaca, kali ini bisa ketemu langsung, dari dekat lagi. Oya, ada yang lucu deh…. kata Mas Arnaz, waktu mau ketemu dengan narasumber, dia cari-cari seorang yang sudah keliatan berumur gitu. Dan dia agak kaget juga karena yang ditemui ternyata masih muda dan ngga keliatan kayak profesor blas hehe… Bahkan dokter Syailendra yang menjadi sesama narasumber juga berkomentar begitu. Dengan tas ransel di punggung, aku lebih mirip mahasiswa S2 katanya …..

Sebelum shooting, Mbak Aviani dan kami narasumber sempat berbincang-bincang tentang hal-hal yang mau ditalk-showkan nanti, sambil kami dimake-up. Tak lama, Mbak Prita menyusul dalam perbincangan, sampai kemudian sampailah pada saat shooting. Alhamdulillah, shooting berjalan lancar, dan aku ngga tegang sama sekali. Sekali lagi, topik kali ini adalah mengenai bahaya miras oplosan. Aku sudah sering membahas ini di beberapa kesempatan (di radio atau di Jogja TV, dan juga di blog ini), jadi ngga begitu masalah. Aku sih sebenernya merasa ngga begitu optimal, tapi yah…itulah yang terbaik yang bisa aku lakukan.

People power

Bagaimanapun, masalah miras oplosan memang sudah makin memiriskan. Sulitnya, peraturan yang ada masih sulit menjamah dan mencegah penjualan miras oplosan, karena mereka bisa memperoleh bahan pembuat miras oplosan dengan mudah dan bebas. Metanol atau spiritus bisa dibeli dengan bebas di warung atau toko. Alkohol (etanol) juga legal dibeli di apotek dalam bentuk larutan antiseptik. Obat-obat lain yang sering dicampurkan juga bisa dibeli bebas tanpa resep di toko obat. Jadi sulit untuk menjerat mereka di awal proses aktivitas pembuatan miras oplosan. Barulah setelah ada korban yang berjatuhan, aparat yang berwenang baru turun tangan, dan itu seringkali sudah sangat terlambat. Dan itu terus terjadi berulang kali, bergiliran di berbagai tempat di belahan bumi Indonesia kita tercinta ini. Mengapa?

Harus kita akui bahwa minum minuman beralkohol (dalam hal ini etanol, bukan miras oplosan) di beberapa daerah merupakan bagian dari kebudayaan setempat, bahkan masuk dalam ritual upacara adat atau keagamaan tertentu. Dengan label sebagai minuman tradisional, seperti ciu, tuak, brem, masyarakat kita merasa sah-sah saja membuat dan mengkonsumsinya. Itulah mengapa aktivitas konsumsi alkohol ini sulit diberantas. Okelah, kalau sekedar itu bisa dibilang masih “aman”. Tapi sekarang yang terjadi adalah bahwa tujuan minum bukan lagi sekedar sebagai bagian dari tatakrama budaya, tapi memang untuk tujuan mabuk, melarikan diri dari masalah, untuk bersenang-senang, dll, sehingga muncullah miras-miras oplosan yang ditujukan untuk meningkatkan efek memabukkannya itu (maunya,…. tapi yang lebih sering adalah efek mematikan…). Harus diakui, masyarakat kita sangat kreatif, sehingga kalau dilihat, komposisi miras oplosan sangat variatif dan suka-suka yang bikin….. ada yang dicampur obat nyamuk, minyak tiner, minuman energi, sampe duren, coklat, dll. Suatu kreativitas yang membahayakan….. Lalu bagaimana?

Kesadaran untuk menghindari konsumsi minuman keras harus datang dari diri sendiri, dengan melihat bahaya-bahaya yang bisa diakibatkan. Apapun peraturan Pemerintah, apalagi peraturan sekarang yang masih terbatas pada regulasi peredaran minuman keras, tidak akan bisa menghentikan aksi-aksi pembuatan miras oplosan ini selama masih ada konsumen yang membutuhkannya. Dalam konteks yang lebih luas, kesadaran itu harus datang secara massal dari masyarakat dan itu merupakan gerakan moral bersama, suatu people power, yang dengan sadar meminta Pemerintah mengatur lebih tegas tentang urusan miras ini, karena tumbalnya adalah generasi muda. Perlu kerjasama yang lebih baik dari berbagai komponen negeri ini, dari Dinas Kesehatan, aparat Kepolisian, LSM-LSM, Lembaga pendidikan dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi, mensosialisasikan gerakan “No way for Miras”. Begitulah kira-kira….

Demikian kawan, pengalamanku hari ini. Hari ini account Face Book-ku penuh dengan komentar terkait dengan tayangan Metro tadi pagi, yang rata-rata membesarkan hati. Ada pula sih yang menyesalkan kenapa gelar Apotekernya ngga tertulis. Wah, itu diluar kekuasaanku, dan mungkin juga ada sedikit kekurangan informasi. Terimakasih kawan-kawan atas doa dan supportnya. Support dan apresiasi kawan-kawan ini tak ternilai harganya. Kayaknya tidak cukup sampai di sini, di depan masih banyak tantangan menanti….. Bismillah…





Catatan on-air radio MQ 92,3FM (1):analgesik dan ITP

13 05 2010

Dear kawan,

...on air....

Sedikit surprised, beberapa waktu yang lalu aku ditelpon oleh radio Manajemen Qolbu (MQ) 92,3 FM untuk menjadi narasumber tetap pada acara “Sehat dan Halal”, yang on air setiap hari Kamis jam 11-12 siang. Aku sendiri kebagian jadwal 2 minggu sekali, setiap minggu kedua dan keempat. Hm… lama-lama memang asyik juga sih on air di radio, setelah sebelumnya cuma sebagai narasumber insidental di acara sejenis di Radio Trijaya FM dan Unisi FM. Ketemu berapa perkara ya, kok tiba-tiba aku diminta jadi narasumber? Hehe….. Sebenernya sih gak sengaja. Menurut informasi, acara tersebut sudah ada cukup lama, kerjasama antara radio MQFM dengan BPOM MUI Yogyakarta (kalau nggak salah). Suatu waktu, kebetulan pengasuhnya sedang ada tugas keluar kota, dan entah kenapa beliau memberikan no telponku untuk dikontak oleh Radio MQ menggantikan beliau. Dan kebetulan aku bisa, ya sudah jadilah….. Tapi aku sampaikan bahwa aku tidak berkompeten mengenai masalah fiqihnya, halal dan haram, walaupun sebagai muslim yah tau-tau dikit. Aku lebih fokus dan pede kalau diminta bicara masalah obat dan pernak-perniknya. Kesempatan pertama diikuti dengan kesempatan kedua…. (mungkin aku dianggap memenuhi harapan mereka), dan akhirnya malah “dikontrak” jadi narasumber tetap. Yah, alhamdulillah…. buatku itu sebuah kesempatan untuk berbagi informasi dan cari pengalaman dan teman.

Maka jadilah hari ini aku siaran untuk yang ketigakalinya di MQFM radio dan udah mulai familiar dengan situasinya. Tema kali ini yang kuangkat adalah tentang mewaspadai efek samping obat. Aku cari yang ringan-ringan saja yang sering dialami masyarakat sehari-hari. Kebetulan tentang ini sudah pernah aku tulis pula di blog-ku (bisa baca di sini), walau tentu dengan format yang berbeda dengan di radio. Nah, kali ini aku coba mengupas lagi dua pertanyaan saja  yang masuk,  mungkin buat kawan-kawan yang ngga sempat dengerin bisa ikut mendapatkan informasinya. Pertanyaannya kebetulan ngga begitu nyambung sih sama temanya hehe….. tapi karena cukup menarik, aku coba kupas lagi dalam tulisan ini. Oya, mohon maaf buat para penanya (terutama lewat SMS) yang ngga sempat terjawab, karena terbatasnya waktu on-air-nya. Oya lagi, ada sedikit kisah lucu, yaitu bahwa aku dipanggil “dokter” oleh penanya hehe…..Kayaknya ada sedikit miss-understanding, karena mbak host acaranya (mbak Wachidah) sempat memanggil aku “dok”, juga.  Tapi sudah aku luruskan kok, bahwa aku bukan dokter, tapi apoteker. Aku ngga punya tampang dokter deh …… and I am proud to be a pharmacist ! hehe….

Pertanyaan pertama datang dari seorang ibu, yang menanyakan tentang penggunaan suatu obat analgesik. Maaf menyebut merk, katanya anaknya sakit demam dan sakit kepala, diberi Sanmol belum sembuh, apakah boleh diberi Biogesik?

Hm… untuk hal ini aku sampaikan bahwa Sanmol dan Biogesik adalah sama-sama obat penghilang rasa sakit dan turun panas, dan bahkan isinya sama yaitu parasetamol. Jadi sebenernya mau diganti boleh, mau digunakan obat yang sebelumnya juga boleh. Mengapa obat yang pertama belum menyembuhkan? Bisa jadi dosis yang diberikan memang belum memenuhi kebutuhan, sehingga menurut aku gunakan saja obat yang sama, dan lihat hasilnya bagaimana.

Nah , dari sini ada yang ingin aku tekankan, bahwa ternyata masyarakat memang banyak yang belum tau tentang isi obat, dan lebih mengenal merk obat. Isi atau kandungan suatu komposisi obat sebenarnya bisa dilihat pada kemasannya. Coba mulai sekarang, lebih teliti melihat informasi yang ada pada kemasan obat, terutama obat bebas yang bisa dibeli sendiri. Jika masyarakat tidak tau, sangat mungkin terjadi duplikasi penggunaan obat, misalnya menggunakan dua obat dengan merk berbeda tapi sebenarnya isinya sama, seperti kasus di atas antara Sanmol dengan Biogesik. Oya, sekedar info, kadang memang nama obat memiliki sinonim, sehingga masyarakat tidak tau bahwa itu sama. Parasetamol itu sama dengan asetaminofen. Keterangan tentang beberapa nama obat yang sering dijumpai dalam obat flu, pernah pula kutulis, dan bisa baca di sini.

Hal kedua yang aku cermati adalah bahwa mungkin saja memang, seorang lebih cocok dengan merk obat tertentu ketimbang merk yang lain, padahal isinya sama. Atau seseorang merasa lebih cocok dengan obat paten ketimbang obat generik, padahal isinya juga sama. Mengapa itu bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena dua hal, yaitu karena efek sugesti dan komposisi penyusun obat yang berbeda. Sugesti bahwa ia akan sembuh dengan obat A, bukan obat B, bisa ikut berperan. Yang kedua, walaupun isi obatnya sama, misalnya sama-sama parasetamol, bahan-bahan penyusun lainnya mungkin saja berbeda karena diproduksi oleh pabrik yang berbeda. Jadi, walaupun sebenarnya perbedaannya tidak banyak dan seringkali tidak signifikan, kadang pasien ada yang memberikan respon yang berbeda.

Pertanyaan berikutnya yang cukup menarik datang dari seorang sahabat MQ (begitu istilah MQFM radio menyapa pendengarnya) yang memiliki riwayat penyakit ITP, bahkan sekarang dia sedang demam. Dia bertanya apakah penyakit ini bisa sembuh, dan bagaimana pola hidup yang sehat yang harus diterapkan.

bercak-bercak lebam pada penderita ITP

Oke, well… tentang ITP aku coba kupas sedikit ya. ITP adalah singkatan dari Idiopathic trombocytopenic purpura. Idiopatik artinya penyebab penyakitnya tidak diketahui, trombositopenic artinya berkurangnya jumlah trombosit atau platelet (suatu komponen darah yang berfungsi dalam pembekuan darah), dan purpura artinya lebam yang berlebihan. Penyakit ini termasuk penyakit gangguan imunitas, di mana sistem imun dalam tubuh beraksi berlebihan sehingga menyerang komponen tubuh sendiri, yaitu trombosit, sehingga jumlahnya kurang dari normal. Pasien dengan ITP gampang mengalami perdarahan, baik pada luka terbuka atau tertutup (menimbulkan bercak-bercak lebam kebiruan). Penyakit ini mungkin agak sulit sembuh karena sistem tubuh yang kurang normal, tapi bisa dikontrol dengan pengobatan. Biasanya dipakai prednison, suatu obat golongan steroid yang bekerja menekan sistem imun supaya tidak beraksi berlebihan.

Nah, tentunya pasien dengan riwayat ITP harus hati-hati untuk tidak melakukan tindakan-tindakan berbahaya yang bisa mencederai tubuh, karena lukanya akan sulit sembuh (perdarahan bisa lebih lama). Hindarkan obat-obat yang bisa mengencerkan darah seperti asetosal atau obat-obat golongan NSAID (anti inflamasi non steroid) seperti ibuprofen, diklofenak, piroksikam, dll. Jika demam atau nyeri, menggunakan parasetamol lebih aman. Untuk makanan, tidak ada makanan yang khusus harus dipantang atau dihindarkan. Aku sediri saat ini belum ada informasi lebih jauh mengenai makanan yang mungkin bisa meningkatkan jumlah trombosit. Jus jambu kluthuk kali ya?…. Oke, mungkin begitu dulu ya sedikit tentang ITP.

Kiranya begitu dulu catatan on air-ku kali ini. Masih banyak sih pertanyaan lain yang bisa dikupas, tapi udah capek nulis nih. Mungkin lain waktu. Malahan tadi barusan dikontak oleh Metro TV untuk jadi narasumber acara Metropagi besok Sabtu tanggal 15 Mei, jam 6-7, live, untuk topik : Bahaya Miras Oplosan. Hm… naik pangkat lah, sebelumnya cuma tampil di Jogja TV, TV lokal Jogja hehe….. sekarang coba numpang lewat di TV nasional. Mudah-mudahan dimudahkan, amien…..

sekian dulu, semoga bermanfaat.





Skin body clock

8 05 2010

Dear kawan

Wanita biasanya reseh banget urusan kulit, ditempelin berbagai krim untuk mencegah kerut-merut, menghilangkan noda, membasmi jerawat, memutihkan kulit, dll. Memang sih, kulit yang indah dan sehat  pasti jadi idaman setiap orang, tidak peduli wanita atau pria, karena itu merupakan unsur penunjang penampilan yang paling mudah terlihat. Tapi taukah kalian bahwa kulit kita punya jam biologis dan berproliferasi (membelah) lebih cepat pada waktu-waktu tertentu? Atau bahwa kulit kita cenderung lebih asam pada saat tidur malam daripada siang hari dan suhunya lebih tinggi pada sore hari daripada pagi hari? Atau bahwa kulit wanita kehilangan sekitar 25% kandungan airnya pada malam hari dibandingkan pagi atau siang? Ya… ternyata banyak fungsi kulit yang dipengaruhi oleh ritme sirkadian (Bhs latin, circa = tentang, dian = hari), yang artinya dipengaruhi ritme pergantian waktu siang dan malam. Tulisan kali ini mencoba mengupas tentang kronobiologi kulit, siapa tau bisa membantu kita untuk menjaga kulit kita lebih baik, dengan mengenal sifat-sifat dan fungsinya terkait dengan ritme sirkadian.

Kronobiologi kulit

Yang dimaksud kronobiologi adalah aktivitas/fungsi biologi yang dipengaruhi oleh waktu. Ternyata banyak fungsi kulit yang dipengaruhi oleh waktu. Pembelahan sel kulit, misalnya, bervariasi sampai 30 kali dalam waktu 24 jam, dengan kecepatan pembelahan terbesar pada tengah malam, dan paling kecil pada siang hari. Pada wanita, aliran darah, kehilangan kandungan asam amino dan  air terjadi 25% lebih tinggi pada malam hari dibandingkan dengan pagi hari atau siang. Pada mereka yang menggunakan pil kontrasepsi (pil KB), ritmenya sama, dengan kecepatan kehilangan air 10% lebih besar, sementara kandungan asam aminonya berkurang sampai 35%. Produksi minyak pada kelenjar minyak kulit terjadi dua kali lebih banyak pada tengah hari, sementara temperatur kulit lebih tinggi pada sore hari daripada pagi hari.

Penampilan kulit berbeda antara siang dan malam

Adanya ritme sirkadian ternyata juga mempengaruhi perbedaan penampilan kulit pada pagi dan malam hari, loh…. Suatu kelompok wanita Perancis yang disurvai menyatakan bahwa penampilan kulit mereka yang terbaik adalah pada pukul 10 pagi, dan berkurang pada malam hari. Kelompok wanita yang sama menjumpai bahwa efek kosmetik untuk rejuvenasi (peremajaan kulit) ternyata tergantung pada waktu pemberiannya. Pemberian pada malam hari memberikan efek yang lebih baik secara nyata, terutama pada wanita usia 25-35 tahun dan yang memiliki warna kulit terang.  Efek yang lebih baik pada malam hari inilah yang kemudian diantisipasi oleh berbagai produk kosmetika untuk memproduksi sejenis krim yang khusus dipakai malam hari. (Wah, kalau begitu aku harus lebih serius pake krim malamnya nih, hehehe….. soalnya kadang suka lupa dan malas)…

Bagaimana pengaruh ritme sirkadian pada penyakit kulit?

Selain berpengaruh terhadap fisiologis kulit, ritme sirkadian juga berpengaruh terhadap penyakit kulit. Beberapa penyakit kulit akan lebih terasa gejalanya pada waktu-waktu tertentu.

Psoriasis

lapisan kulit manusia

Psoriasis merupakan penyakit kulit kronis yang ditandai dengan pembelahan sel (proliferasi) kulit dan pengelupasan kulit secara terus-menerus pada tempat-tempat tertentu, terutama pada kulit kepala, siku, lutut, dan punggung. Kecepatan proliferasi sel kulit yang sakit terjadi lebih cepat ketimbang pada sel kulit yang sehat, dan hal ini dipengaruhi oleh ritme sirkadian. Di dalam lapisan epidermis, proliferasi sel kulit di daerah yang mengalami psoriasis  paling tinggi pada waktu malam antara pukul 21.00-03.00, dan paling sedikit pada jam 09.00 pagi. Tetapi di lapisan dermis terjadi sebaliknya, kecepatan proliferasi paling tinggi pada jam 9 pagi, dan paling rendah pada jam 3 dini hari. Aktivitas peradangan juga bervariasi, dengan aktivitas tertinggi pada malam hari, dan paling rendah pada pagi hari.

Atopic Dermatitis

Atopic dermatitis adalah penyakit kulit yang ditandai dengan kulit kering dan rasa gatal, yang gejalanya juga dipengaruhi oleh ritme sirkadian. Rasa gatal paling terasa pada sore-malam hari dan mungkin mengganggu waktu tidur malam, dan itu dipengaruhi oleh sensitivitas kulit terhadap histamin, yang aktivitas tertingginya pada malam hari.

Apa pengaruh sirkadian terhadap test kulit?

Pernah menjalani test kulit untuk alergi? Test ini ditujukan untuk mengidentifikasi macam alergi yang diderita pasien, dengan menyuntikkan sedikit ekstrak alergen di kulit, dan mengamati reaksinya. Jika ia positif alergi terhadap alergen tertentu, maka kulit akan memberikan respon berupa bentol kemerahan yang gatal sebagai reaksi alergi. Nah, ternyata hasil tes alergi ini bisa dipengaruhi oleh waktu kapan test dilakukan, loh…..!  Kulit paling kurang sensitif terhadap test alergi pada pagi hingga tengah hari, ketimbang siang hari sampai sore hari. Dengan demikian, bisa terjadi kesalahan interpretasi hasil test kulit jika dilakukan pada pagi hari. Selain itu, siklus menstruasi ternyata juga bisa mempengaruhi hasil test kulit, di mana reaktivitas kulit 25% lebih besar pada saat menstruasi, daripada saat ovulasi. Sehingga, ini bisa menjadi pertimbangan kapan dilakukan test alergi.

Tes tuberculin untuk mendiagnosa TBC juga ternyata dipengaruhi oleh waktu, di mana reaksi tuberkulin pada kulit bisa 3 kali lebih besar jika tes dilakukan pada pukul 7 pagi, ketimbang pukul 22 malam. (Siapa sih yang mau test tuberkulin jam 10 malam? hehehe…..)

Apa pengaruh ritme sirkadian terhadap pengobatan melalui kulit?

nicotine patch, untuk nicotine replacement therapy

Obat dapat diberikan melalui kulit dengan beberapa cara, antara lain dengan dioleskan (krim, salep), ditempelkan (misalnya patch yang akan melepaskan obatnya perlahan-lahan), dan disuntikkan di bawah kulit. Beberapa studi menunjukkan bahwa efek pemberian krim atau patch dapat dipengaruhi juga oleh ritme sirkadian. Berikut ini adalah beberapa contoh diantaranya. Krim lidokain (anestesi lokal utk menghilangkan rasa sakit) akan diserap oleh kulit lebih baik pada jam 16, ketimbang jam 8 pagi. Kecepatan penetrasi nikotin dari patch-nya ke dalam kulit beberapa kali lebih cepat pada jam 4 pagi, ketimbang siang hari. Efek lidokain yang diinjeksikan ke bawah kulit akan bertahan 2-3 kali lebih lama jika diinjeksikan pada pukul 15 sore, daripada jam 7 pagi atau jam 23 malam. Aktivitas krim kortikosteroid  akan lebih tinggi jika diberikan pada siang hari ketimbang pagi hari.

Oya, semua informasi ini bisa di-rechek lagi di http://www.aamcc.net/cap3.htm

So what gitu loh…?

Hm… menarik juga mengetahui bahwa fungsi-fungsi tubuh kita, dalam hal ini kulit, dipengaruhi oleh ritme sirkadian. Jadi kita bisa lebih mengoptimalkan efek suatu perlakuan terhadap kulit. Misalnya, untuk menjaga kelembaban kulit supaya ngga cepet keriput dan awet muda (ciee….), maka perlu rajin pakai krim malam yang berisi moisturizer (pelembab) karena pada malam hari penguapan air terjadi paling banyak. Beberapa jenis test kulit tertentu dan pemberian obat tertentu perlu memperhatikan waktu untuk bisa mendapatkan hasil yang optimal.

Tapi…. selain mengurusi penampilan kulit, tentu tidak kalah pentingnya memperhatikan yang ada di bawah kulit hehe….. alias hati. Loh, jauh banget ituuu…!! Hm..maksudnya, kalaupun penampilan kulit kita tidak sempurna, misalnya berjerawat, bernoda, bintik-bintik, berkerut karena sudah mulai menua, dll, jangan berkecil hati. Yang penting sudah berusaha menjaga dan merawat sebaik-baiknya. Sikap dan perilaku yang baik akan lebih berkesan dari sekedar penampilan kulitnya. Katanya, dont judge a book (only) from the cover…. hehehe….   Duh…tambah ngga nyambung deehhh…. !

Demikian sekilas info, semoga bermanfaat…





Meningitis yang membuat miris….

2 05 2010

Dear kawan,

Baru saja kemarin aku mendengar berita sedih dari seorang kawan yang kerabatnya menderita meningitis. Katanya sekarang dalam keadaan kritis dan dirawat di ICU, dan pagi ini masih harus dengan alat bantu pernafasan, karena jika kekurangan oksigen, ia akan kejang-kejang. Turut prihatin, semoga diberi kesembuhan dan pengatasan terbaik, Amien. (updated news, tanggal 11 Mei 2010, Innalillahi wa innailaihi roji’uun, kerabat yang diceritakan tadi akhirnya berpulang ke hadiratNya. Turut berduka cita yang dalam. Semoga mendapat tempat terbaik di sisiNya, dan yang ditinggalkan tabah dan ikhlas. Allah sudah mengguratkan takdirNya. Amien.)  Seorang kawan juga pernah kehilangan istri tercintanya karena meningitis. Benar-benar miris. Tulisan ini mencoba mengupas tentang meningitis dan bagaimana terapi dan pencegahannya.

Apa itu meningitis?

Meningitis adalah radang pada selaput yang melingkupi otak (selaput otak = meninge) dan korda spinalis (bagian dari sistem saraf pusat). Umumnya disebabkan oleh virus atau bakteri. Mengetahui penyebabnya apakah virus atau bakteri sangat penting, karena keparahan penyakit dan pengobatannya akan berbeda tergantung penyebabnya. Meningitis akibat virus biasanya lebih ringan dan dapat hilang sendiri tanpa treatment spesifik. Tetapi meningitis akibat bakteri umumnya sangat parah dan dapat menyebabkan kerusakan otak, hilangnya pendengaran, dan gangguan belajar. Pada meningitis akibat bakteri, sangat penting pula mengetahui macam bakteri penyebabnya, sehingga dapat dipilihkan antibiotika yang sesuai.

Sebelum tahun 1990an,  Haemophilus influenzae type b (Hib) merupakan bakteri penyebab utama meningitis bakterial. Karena itu, pada anak-anak umumnya perlu diberikan vaksinasi Hib. Adanya vaksinasi Hib ini sekarang telah banyak menurunkan jumlah kasus infeksi Hib pada selaput otak. Dan sekarang, penyebab utama meningitis adalah  Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis. Selain itu, ada pula  Listeria monocytogenes (listeria), yang dapat ditemukan di banyak tempat, misalnya dalam debu dan makanan yang terkontaminasi, seperti keju, hot dog dan daging sandwich yang mana bakteri ini berasal dari hewan lokal (peliharaan).

Apa tanda dan gejala meningitis?

Gejala meningitis awalnya agak sulit dibedakan dengan gejala flu, sehingga kadang orang sering salah mengenali. Gejala umum meningitis pada mereka yang berusia di atas 2 tahun adalah demam tinggi, sakit kepala, dan kekakuan leher. Gejala ini bisa berkembang dari beberapa jam, atau mungkin sampai 1-2 hari. Gejala lain bisa berupa mual, muntah, tidak tahan dengan cahaya terang, bingung, dan mengantuk. Pada bayi yang baru lahir atau anak-anak di bawah 2 tahun, gejala klasik seperti sakit kepala dan leher kaku seringkali agak sulit terdeteksi, karena mereka belum bisa menyampaikan keluhannya. Bayi dengan meningitis biasanya menunjukkan gejala lesu (kurang aktif), muntah, rewel, tidak mau makan, dan tidak mau bangun dari tempat tidur. Dengan berjalannya waktu dan penyakit, maka pada pasien meningitis ( di segala usia) akan timbul gejala berupa kejang-kejang.

Bagaimana diagnosa dan pengobatannya?

Diagnosis dan pengobatan secara dini sangat penting. Untuk mendiagnosis adanya bakteri penyebab meningitis, perlu dilakukan pengambilan sampel dari cairan spinal dengan cara tertentu (spinal tap). Jika bakteri penyebab telah diketahui, maka dokter akan memilihkan antibiotika yang paling sesuai untuk membunuh bakteri tersebut. Untuk pemeriksaan lebih lanjut dapat pula dengan MRI (magnetic resonance imaging) untuk melihat keadaan otak akibat infeksi tersebut, jika diperlukan.

Beberapa antibiotik yang sering diresepkan oleh dokter pada kasus meningitis yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis antara lain Cephalosporin (ceftriaxone atau cefotaxime). Sedangkan meningitis yang disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes akan diberikan Ampicillin, Vancomycin dan Carbapenem (meropenem), Chloramphenicol atau Ceftriaxone. Pengobatan lainnya adalah untuk mengatasi gejala yang timbul, misalnya sakit kepala dan demam dengan analgesik-antipiretik, kejangnya dengan diazepam atau fenitoin, dan lain sebagainya. Kadang-kadang dokter akan memberikan antibiotika walaupun belum dipastikan penyebab meningitisnya, apakah karena virus atau bakteri, karena hasil kultur cairan spinal mungkin tidak bisa diperoleh secara cepat, apalagi di RS yang fasilitasnya terbatas.

Apakah bakteri tersebut dapat menular?

Ya, beberapa jenis bakteri meningitis dapat menular. Bakteri dapat menyebar dari satu orang ke yang lain utamanya melalui kontak dengan cairan respirasi atau tenggorakan (ludah, ingus, dahak, dll), misalnya dengan batuk-batuk, bersin, atau berciuman. Untungnya, tidak ada bakteri meningitis yang dapat menular semudah penularan flu. Juga tidak mudah menular hanya dengan sekedar berdekatan dengan pasien meningitis. Namun demikian, orang yang merawat pasien meningitis dalam waktu lama dan sering ada kontak langsung dengan pasien, apalagi jika ada kontak langsung dengan cairan dari mulut pasien, maka ada resiko untuk terkena bakteri yang sama. Untuk itu, jika perlu bagi keluarganya diberikan vaksinasi.

The Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) merekomendasikan vaksinasi meningitis pada mereka berusia 11-18 tahun. Usia praremaja (11-12 th) merupakan usia terbaik sebelum dewasa untuk menerima vaksinasi meningitis. Karena kejadian meningitis dapat meningkat pada usia dewasa, mereka yang belum pernah divaksinasi meningitis disarankan mendapat vaksinasi seawal mungkin.

 Apa itu meningitis viral?

Meningitis viral adalah meningitis yang disebabkan oleh virus, dan ini merupakan jenis terbanyak dari meningitis. Meningitis viral disebut juga meningitis aseptik karena tidak ditemukan adanya bakteri dalam darah pasien. Meningitis jenis ini umumnya ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7-10 hari, dengan memperkuat daya tahan tubuh. Namun karena gejalanya mirip dengan meningitis bakterial, maka jika ada gejala-gejala serupa seperti yang disebutkan di atas, segera saja dibawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Ada beberapa jenis virus yang dapat menyebabkan meningitis viral, antara lain enterovirus (meliputi enteroviruses, coxsackieviruses, dan echoviruses), virus cacar, herpes virus (spt Epstein-Barr virus, herpes simplex viruses, dan varicella-zoster virus) virus campak, dan juga virus influenza. Namun untuk mengetahui apakah meningitis disebabkan oleh virus atau bakteri, tetap harus dilakukan uji kultur yang berasal dari cairan spinal pasien.

Pasien dengan meningitis viral umumnya tidak perlu pengobatan khusus, dan disarankan untuk istirahat total (bed rest), minum banyak cairan, dan pengobatan untuk mengatasi gejala saja, seperti analgesik antipiretik untuk mengilangkan rasa sakit (sakit kepala), dan menurunkan demam.

Apakah virus penyebab meningitis bisa menyebar?

Ya, virus-virus ini bisa menyebar dengan cara yang berbeda-beda. Enterovirus, yang merupakan virus penyebab meningitis terbanyak, paling sering tersebar melalui tinja penderita. Selain itu, virus ini dan virus lainnya seperti virus campak dan varicella-zoster juga dapat menyebar melalui kontak langsung maupun taklangsung dengan cairan pernafasan (air liur, ingus, dahak) dari pasien yang terinfeksi. Waktu yang dibutuhkan dari mulai terinfeksi virus sampai muncul gejala umumnya sekitar 3-7 hari.

Bagaimana caranya menghindari infeksi virus meningitis?

Beberapa cara di bawah ini dapat membantu menghindarkan dari infeksi virus:

1. Cuci tangan dengan baik dan sering, terutama mereka yang merawat atau berada berdekatan dengan pasien meningitis

2. Bersihkan permukaan-permukaan yang bisa terkontaminasi (misalnya handel pintu, remote TV, etc) dengan sabun dan air kemudian bilas dengan desinfektan atau cairan pemutih yang mengandung chlorine utk mencegah penyebaran virus

3. Tutupi mulut saat batuk, dengan tissue atau tangan. Jika menggunakan tissue, buang tisue ke tempat sampah, Jika menggunakan tangan, segera cuci tangan.

4. Hindarkan mencium pasien, atau berbagi gelas minuman, atau hal-hal yang mungkin menyebabkan penyebaran virus

5. Lakukan vaksinasi, ada beberapa vaksinasi yang tersedia yaitu: Haemophilus influenzae type b (Hib), – Pneumococcal conjugate vaccine (PCV7), – Pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV), dan Meningococcal conjugate vaccine (MCV4)

 Demikian sekilas info tentang meningitis. Semoga bermanfaat.





About this blog: originalitas dan sentuhan pribadi

1 05 2010

 Dear kawan,

Sudah seminggu berlalu sejak tulisanku yang terakhir di blog ini. Saat ini mestinya ada tulisan baru (kalau mau konsisten), tapi otakku sedang buntu. Tak ada ide tulisan yang cocok di hati. Lagi pengen nulis yang santai dan ngga ilmiah hehehe…… buat variasi. Mungkin banyak yang mengira aku gampang untuk menulis…., sebenarnya tidak juga. Menulis itu perlu suasana hati yang mendukung, sehingga tulisan bisa mengalir lancar. Minggu depan aku diminta menjadi pembicara dalam sebuah Lokakarya Penulisan Buku Ajar di sebuah perguruan tinggi farmasi swasta di Yogya. Sebenarnya agak ciut juga, karena aku tidak punya teori dalam menulis dan tidak pernah mengikuti pelatihan atau kursus-kursus menulis. Lebih banyak berdasarkan insting dan perasaan. Mungkin nanti lebih banyak sharing pengalaman saja bagaimana proses menulis buku yang selama ini aku lakukan. Tulisan kali ini ringan saja mengenai blog ini dan ciri khasnya.

Alhamdulillah, sejak mulai lahirnya pada Oktober 2008, blog ini masih eksis, dan sudah dikunjungi 90.000an kali. Berdasarkan statistik blog, dalam sehari ada kunjungan rata-rata 250 kali. Beberapa kawan bahkan menyatakan sebagai pembaca setia blog ini. Makasih deh…..  Apapun itu, sudah merupakan kebahagiaan tersendiri, mengingat blog ini hanyalah blog pribadi yang sederhana. Dulu ketika pertama kali membuat blog ini, rasanya pengen nulis setiap hari. Masih excited sekali. Sekarang mulai berkurang, selain didera juga oleh kesibukan macam-macam. Tapi ada yang tetap aku pertahankan dari blog ini, dan juga sebagai “argumentasi” mengapa kadang aku produktif, kadang tidak. Ciri khas yang aku pertahankan adalah originalitas dan sentuhan pribadi hehe.. Mungkin keliatan terlalu over confidence, tetapi aku tidak ingin memaksakan diri atau berambisi berlebihan mengenai blog ini. Biar mengalir apa adanya saja. Aku tidak  menyediakan banyak link ke website atau blog lain, atau tukeran link, karena nanti akan mengaburkan keberadaan blog ini. Dan kadang nggak sempat aja bikin link-nya.  Aku juga ngga mau jadi search engine yang cuma dikunjungi untuk numpang lewat…. jadi biar ajalah, apa adanya…..

Apa maksudnya dengan ciri khas originalitas dan sentuhan pribadi?

Aku cukup ketat dalam urusan originalitas, karena buatku itu adalah masalah etika. Dan mungkin karena ke-pede-anku, aku sendiri juga malu kalau tulisanku adalah jiplakan dari tulisan orang. Mendingan aku yang dijiplak deh, daripada aku yang menjiplak hehe….. (pe-de banget ya…). Kalau memang harus merujuk pada suatu tulisan seseorang, aku usahakan untuk menyebut sumbernya. Yang dimaksud menjiplak dalam hal ini adalah jika tulisan sama persis hampir lebih dari satu paragraf. Aku pernah ditanya mahasiswa ketika memberikan sebuah pelatihan menulis di forum Piogama, bagaimana caranya menghindari plagiarisme, karena kadang kita merujuk tulisan dari suatu sumber. Apalagi tulisan tentang obat dan kesehatan kan sudah banyak sekali di internet dan mudah diakses. Kalau kiatku sih…cari sumber aslinya, dari jurnal atau paper, dan aku sendiri lebih suka mengambil sumber asli yang berbahasa Inggris. Kita bisa menterjemahkan dengan gaya bahasa sendiri, sehingga tidak mungkin sama dengan tulisan orang lain, walaupun merujuk dari sumber referensi yang sama. Menterjemahkan itu tidak sama dengan menjiplak, kita bisa menyarikan suatu informasi dari suatu sumber dengan bahasa sendiri. Untuk tulisan ilmiah, sumber informasi itu harus disebutkan. Kalau untuk tulisan populer, kadang aku sebut kadang tidak, sesuai kebutuhan saja, dan ditulis dengan cara berbeda dengan tulisan ilmiah. Tentu tidak dengan maksud menyembunyikan sumbernya, tetapi untuk lebih enak dibaca saja.

Ngomong-omong tentang plagiarisme, belum lama ini kita mendengar bahwa seorang doktor lulusan ITB terlibat dalam plagiarisme kelas berat, baik dalam pembuatan makalah ilmiah maupun disertasinya, hingga ijazah doktor dan gelarnya dinyatakan tidak berlaku (http://www.itb.ac.id/files/12/20100423/pressRelease23042010.pdf).

Apa itu plagiarisme?

Menurut Merriam-Webster Online Dictionary, to “plagiarize” berarti : – mencuri idea atau kata-kata milik orang lain, menggunakan hasil karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya,  menjiplak literatur tanpa menyebutkan sumbernya, menyatakan suatu ide atau hasil karya orang lain sebagai hasil karya sendiri.

Dengan kata lain, plagiarisme adalah penipuan, yaitu dengan mencuri ide atau karya orang lain dan berkata bohong tentang hal tersebut. Beberapa hal di bawah ini dapat digolongkan plagiarisme: – mengakui hasil karya orang lain sebagai hasil karyanya sendiri, mengcopy kata-kata atau ide orang lain tanpa menyebutkan sumber (without giving credit),  tidak menuliskan quotation pada quotation marks, memberi informasi yang salah mengenai sumber quotasi (rujukan), mengubah kata-kata tapi tetap dalam struktur kalimat yang sama dari suatu sumber tanpa menyebut sumbernya.

Namun semua ini sebenarnya dapat dihindari loh, …. yaitu dengan cara mencantumkan sumber rujukannya. Hal ini terutama sangat penting pada tulisan ilmiah. Jadi jangan sampai lupa. Tentang plagiarisme bisa dilihat lagi lebih jauh pada http://www.plagiarism.org/plag_article_what_is_plagiarism.html

Oya, mencari sumber informasi yang valid dan obyektif juga tidak gampang loh…… terutama jika kita mencari informasi mengenai suatu topik yang masih menjadi pro dan kontra, semacam aspartam, MSG, dll. Apalagi jika kita mencari di internet, yang menyediakan informasi dari yang paling valid sampai informasi sampah, perlu ada ketrampilan tersendiri memilih sumber yang baik. Salah satu petunjuknya adalah siapa yang mengeluarkan informasi. Kita masih bisa mempercayai (walaupun tetap boleh mengkritisi) informasi yang berasal dari lembaga pemerintah ( dot gov), institusi pendidikan (dot edu, dot ac ), atau lembaga-lembaga lain yang kredibilitasnya cukup tinggi. Informasi dari website dengan dot com sebaiknya kita pilih dengan hati-hati, untuk tidak terjebak pada suatu informasi yang menyesatkan.

Apa yang disebut sentuhan pribadi?

Hehe….ini mah istilahku sendiri untuk memberikan sentuhan khusus di blog ini, sehingga terasa “aku banget”. Salah satu contohnya adalah penggunaan kata ganti pertama “aku”. Ini adalah satu bentuk sentuhan pribadi yang memberikan keakraban bagi pembacanya (maunya…). Dan satu hal lagi, aku menulis berdasarkan pengalaman atau peristiwa pribadi yang mendorong munculnya ide menulis. Peristiwa itu bisa suatu pertanyaan teman atau mahasiswa (tentang obat atau masalah kesehatan), hari istimewa di sekitar kita (ultah, hari Kartini, 1000 hari wafatnya ayah, turunnya SK Guru besar, dll), catatan perjalanan ke suatu tempat istimewa, atau peristiwa apapun yang berkesan. Tulisan dalam blog bisa menjadi semacam dokumentasi atau catatan harian yang suatu saat bisa dibaca lagi. Namun supaya tidak berlalu sia-sia, aku suka memuati tulisan yang kelihatannya cuma catatan harian dengan informasi yang (kuharapkan) berguna. Misalnya ketika aku menuliskan tentang Mengenang ayah, aku memasukkan informasi tentang penyakit stroke, karena kebetulan ayah menderita stroke. Ketika menulis tentang catatan perjalananku ke Kota Bharu (Malaysia), aku menyisipkan informasi mengenai farmakogenetik dan farmakogenomik, di samping cerita tentang welcome dinnernya yang nyam-nyam dan mengenyangkan. Begitulah ciri khas blog ini, sehingga kalau pas tidak ada peristiwa istimewa atau yang berkesan di hati, yah…. tidak ada ide menulis dan tidak ada tulisan hehe…… Apalagi jika hati sedang kemrungsung dikejar berbagai deadline pekerjaan, atau terjebak dalam masalah hidup yang ada saja datang silih berganti. Jadi mohon maklum. Bagaimanapun blog ini hanya sebagai tempat curahan dan ekspresi hati saja, walau tentu tidak bisa semua dicurhatkan di sini hehe…. entar ketahuan semua deh jeleknya.

Okelah, tak terasa sudah cukup banyak juga tulisan kali ini walaupun tadi berangkat dari tidak ada ide sama sekali. Ternyata membiarkan jemari kita menari di atas keyboard komputer dan membiarkan otak berkelana sejenak, membuat ide keluar dengan sendirinya hehe…..  Semoga masih ada manfaatnya.