Catatan on-air radio MQ 92,3FM (1):analgesik dan ITP

13 05 2010

Dear kawan,

...on air....

Sedikit surprised, beberapa waktu yang lalu aku ditelpon oleh radio Manajemen Qolbu (MQ) 92,3 FM untuk menjadi narasumber tetap pada acara “Sehat dan Halal”, yang on air setiap hari Kamis jam 11-12 siang. Aku sendiri kebagian jadwal 2 minggu sekali, setiap minggu kedua dan keempat. Hm… lama-lama memang asyik juga sih on air di radio, setelah sebelumnya cuma sebagai narasumber insidental di acara sejenis di Radio Trijaya FM dan Unisi FM. Ketemu berapa perkara ya, kok tiba-tiba aku diminta jadi narasumber? Hehe….. Sebenernya sih gak sengaja. Menurut informasi, acara tersebut sudah ada cukup lama, kerjasama antara radio MQFM dengan BPOM MUI Yogyakarta (kalau nggak salah). Suatu waktu, kebetulan pengasuhnya sedang ada tugas keluar kota, dan entah kenapa beliau memberikan no telponku untuk dikontak oleh Radio MQ menggantikan beliau. Dan kebetulan aku bisa, ya sudah jadilah….. Tapi aku sampaikan bahwa aku tidak berkompeten mengenai masalah fiqihnya, halal dan haram, walaupun sebagai muslim yah tau-tau dikit. Aku lebih fokus dan pede kalau diminta bicara masalah obat dan pernak-perniknya. Kesempatan pertama diikuti dengan kesempatan kedua…. (mungkin aku dianggap memenuhi harapan mereka), dan akhirnya malah “dikontrak” jadi narasumber tetap. Yah, alhamdulillah…. buatku itu sebuah kesempatan untuk berbagi informasi dan cari pengalaman dan teman.

Maka jadilah hari ini aku siaran untuk yang ketigakalinya di MQFM radio dan udah mulai familiar dengan situasinya. Tema kali ini yang kuangkat adalah tentang mewaspadai efek samping obat. Aku cari yang ringan-ringan saja yang sering dialami masyarakat sehari-hari. Kebetulan tentang ini sudah pernah aku tulis pula di blog-ku (bisa baca di sini), walau tentu dengan format yang berbeda dengan di radio. Nah, kali ini aku coba mengupas lagi dua pertanyaan saja  yang masuk,  mungkin buat kawan-kawan yang ngga sempat dengerin bisa ikut mendapatkan informasinya. Pertanyaannya kebetulan ngga begitu nyambung sih sama temanya hehe….. tapi karena cukup menarik, aku coba kupas lagi dalam tulisan ini. Oya, mohon maaf buat para penanya (terutama lewat SMS) yang ngga sempat terjawab, karena terbatasnya waktu on-air-nya. Oya lagi, ada sedikit kisah lucu, yaitu bahwa aku dipanggil “dokter” oleh penanya hehe…..Kayaknya ada sedikit miss-understanding, karena mbak host acaranya (mbak Wachidah) sempat memanggil aku “dok”, juga.  Tapi sudah aku luruskan kok, bahwa aku bukan dokter, tapi apoteker. Aku ngga punya tampang dokter deh …… and I am proud to be a pharmacist ! hehe….

Pertanyaan pertama datang dari seorang ibu, yang menanyakan tentang penggunaan suatu obat analgesik. Maaf menyebut merk, katanya anaknya sakit demam dan sakit kepala, diberi Sanmol belum sembuh, apakah boleh diberi Biogesik?

Hm… untuk hal ini aku sampaikan bahwa Sanmol dan Biogesik adalah sama-sama obat penghilang rasa sakit dan turun panas, dan bahkan isinya sama yaitu parasetamol. Jadi sebenernya mau diganti boleh, mau digunakan obat yang sebelumnya juga boleh. Mengapa obat yang pertama belum menyembuhkan? Bisa jadi dosis yang diberikan memang belum memenuhi kebutuhan, sehingga menurut aku gunakan saja obat yang sama, dan lihat hasilnya bagaimana.

Nah , dari sini ada yang ingin aku tekankan, bahwa ternyata masyarakat memang banyak yang belum tau tentang isi obat, dan lebih mengenal merk obat. Isi atau kandungan suatu komposisi obat sebenarnya bisa dilihat pada kemasannya. Coba mulai sekarang, lebih teliti melihat informasi yang ada pada kemasan obat, terutama obat bebas yang bisa dibeli sendiri. Jika masyarakat tidak tau, sangat mungkin terjadi duplikasi penggunaan obat, misalnya menggunakan dua obat dengan merk berbeda tapi sebenarnya isinya sama, seperti kasus di atas antara Sanmol dengan Biogesik. Oya, sekedar info, kadang memang nama obat memiliki sinonim, sehingga masyarakat tidak tau bahwa itu sama. Parasetamol itu sama dengan asetaminofen. Keterangan tentang beberapa nama obat yang sering dijumpai dalam obat flu, pernah pula kutulis, dan bisa baca di sini.

Hal kedua yang aku cermati adalah bahwa mungkin saja memang, seorang lebih cocok dengan merk obat tertentu ketimbang merk yang lain, padahal isinya sama. Atau seseorang merasa lebih cocok dengan obat paten ketimbang obat generik, padahal isinya juga sama. Mengapa itu bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena dua hal, yaitu karena efek sugesti dan komposisi penyusun obat yang berbeda. Sugesti bahwa ia akan sembuh dengan obat A, bukan obat B, bisa ikut berperan. Yang kedua, walaupun isi obatnya sama, misalnya sama-sama parasetamol, bahan-bahan penyusun lainnya mungkin saja berbeda karena diproduksi oleh pabrik yang berbeda. Jadi, walaupun sebenarnya perbedaannya tidak banyak dan seringkali tidak signifikan, kadang pasien ada yang memberikan respon yang berbeda.

Pertanyaan berikutnya yang cukup menarik datang dari seorang sahabat MQ (begitu istilah MQFM radio menyapa pendengarnya) yang memiliki riwayat penyakit ITP, bahkan sekarang dia sedang demam. Dia bertanya apakah penyakit ini bisa sembuh, dan bagaimana pola hidup yang sehat yang harus diterapkan.

bercak-bercak lebam pada penderita ITP

Oke, well… tentang ITP aku coba kupas sedikit ya. ITP adalah singkatan dari Idiopathic trombocytopenic purpura. Idiopatik artinya penyebab penyakitnya tidak diketahui, trombositopenic artinya berkurangnya jumlah trombosit atau platelet (suatu komponen darah yang berfungsi dalam pembekuan darah), dan purpura artinya lebam yang berlebihan. Penyakit ini termasuk penyakit gangguan imunitas, di mana sistem imun dalam tubuh beraksi berlebihan sehingga menyerang komponen tubuh sendiri, yaitu trombosit, sehingga jumlahnya kurang dari normal. Pasien dengan ITP gampang mengalami perdarahan, baik pada luka terbuka atau tertutup (menimbulkan bercak-bercak lebam kebiruan). Penyakit ini mungkin agak sulit sembuh karena sistem tubuh yang kurang normal, tapi bisa dikontrol dengan pengobatan. Biasanya dipakai prednison, suatu obat golongan steroid yang bekerja menekan sistem imun supaya tidak beraksi berlebihan.

Nah, tentunya pasien dengan riwayat ITP harus hati-hati untuk tidak melakukan tindakan-tindakan berbahaya yang bisa mencederai tubuh, karena lukanya akan sulit sembuh (perdarahan bisa lebih lama). Hindarkan obat-obat yang bisa mengencerkan darah seperti asetosal atau obat-obat golongan NSAID (anti inflamasi non steroid) seperti ibuprofen, diklofenak, piroksikam, dll. Jika demam atau nyeri, menggunakan parasetamol lebih aman. Untuk makanan, tidak ada makanan yang khusus harus dipantang atau dihindarkan. Aku sediri saat ini belum ada informasi lebih jauh mengenai makanan yang mungkin bisa meningkatkan jumlah trombosit. Jus jambu kluthuk kali ya?…. Oke, mungkin begitu dulu ya sedikit tentang ITP.

Kiranya begitu dulu catatan on air-ku kali ini. Masih banyak sih pertanyaan lain yang bisa dikupas, tapi udah capek nulis nih. Mungkin lain waktu. Malahan tadi barusan dikontak oleh Metro TV untuk jadi narasumber acara Metropagi besok Sabtu tanggal 15 Mei, jam 6-7, live, untuk topik : Bahaya Miras Oplosan. Hm… naik pangkat lah, sebelumnya cuma tampil di Jogja TV, TV lokal Jogja hehe….. sekarang coba numpang lewat di TV nasional. Mudah-mudahan dimudahkan, amien…..

sekian dulu, semoga bermanfaat.


Aksi

Information

4 responses

3 08 2011
Tutun Abu Abdurahman

jadi ngerti juga tentang itp trm,penjelasannya bu…….

16 05 2010
Daril

Selamat ya bu,tampilannya bgs bgt! Cuma,metro agk aneh,yg dokter gelarny smp SpKJnya dtls,tp ibu cm prof sj,apotekernya di delete he3. Wah kami bgga dg ibu slamat ya bu skali lg

15 05 2010
dep05

Oke, ntar saya nonton Bu!
Semoga sukses!

15 05 2010
dep05

Waduh, saya tadi gak sempat nonton Metro TV soalnya gak tau, coba saya baca artikel ini dari kemarin hehehe…

Soal kurangnya wawasan masyarakat tentang isi kandungan obat itu isu yang menarik juga. Emang sih, kalau untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya mengetahui kandungan dalam suatu sediaan rasanya sulit. Mungkin karena nama-nama senyawa yang sulit diucapkan apalagi dihafal.

Salut deh buat Ibu yang sudah menjadi narasumber di berbagai acara, semoga saya kelak bisa menjadi narasumber seperti Ibu juga hehehehe… Amin….

Jawab:
Belum jadi tayang, kok, tayangnya besok pagi hari Minggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: