My new books in 2010…. beli yaa…

16 09 2010

Dear kawan,

Alhamdulillah, tahun ini aku punya buku baru, dua sekaligus. Kali ini buku yang ringan-ringan saja tentang obat dan kesehatan. Buat pembaca setia blog ini mungkin tidak asing dengan tulisan dalam buku itu, karena sebenarnya itu adalah kumpulan tulisan dalam blog-ku, dengan editing seperlunya. Tujuannya adalah untuk lebih memperluas jangkauan disampaikannya informasi tentang obat dan kesehatan, terutama bagi yang kurang mudah mendapatkan akses internet. Selain itu, dengan versi buku, tulisan bisa dibaca sewaktu-waktu, kapan saja, di mana saja… hehe (pinjam slogan sebuah minuman).

Bagaimana mulanya?

Suatu kali tiba-tiba aku dihubungi oleh utusan dari penerbit Kanisius, menawarkan untuk menerbitkan tulisan-tulisanku yang terserak di blog ini. Katanya, tulisanku khas gaya bahasanya, sangat personal, dan mudah dicerna… (ge-er mode on).  Hm… aku sih senang-senang saja, walaupun selama ini aku menulis lebih karena dorongan berbagi saja, tidak bermaksud komersial. Syukurlah ada yang tertarik, sehingga bisa lebih banyak orang mendapatkan manfaatnya. Tentu aku perlu lakukan editing seperlunya, karena tulisanku di blog terlalu banyak haha-hihi-nya….

Mereka bermaksud akan membuatnya dalam dua buku secara terpisah, yaitu mengenai obat dan kesehatan. Judulnya kami kompromikan. Oya, aku sempat mengusulkan judul “Cermat Mengenali Obat”, kayaknya sih rimanya pas gitu. Tapi Penerbit ternyata lebih suka menggunakan kata “Cerdas”.  Demikian pula untuk judul buku “Resep Hidup Sehat”, semula aku punya alternatif lain. Tapi mungkin penerbit punya pertimbangan sendiri, karena mereka tentu sudah melihat peluang pasar. Aku sempat perlu menambah beberapa tulisan baru karena jumlah halamannya belum mencukupi (direncanakan sekitar 100an halaman). Akhirnya setelah diproses lumayan lama (sekitar 6 bulan lengkap dengan editing, lay outing, printing, dll), alhamdulillah bukuku bisa diperoleh di berbagai toko buku terdekat (dekat mana ya? Heheh..)

Seperti apa deskripsinya?

Aku ambilkan saja dari deskripsi yang tertera di cover belakang bukunya. Deskripsi ini dibuat oleh editor dari Penerbit. Untuk buku Cerdas Mengenali Obat, tertulis seperti ini :

Buku Cerdas Mengenali Obat

Berabad-abad lamanya manusia mengenali obat sebagai salah satu solusi hidup sehat. Jika dulu manusia memanfaatkan alam untuk berobat, kini manusia menciptakan obat dengan berbagai bahan kimia. Langkah ini bukan tanpa risiko, jika tidak cermat manusia akan terjebak efek kimia dari obat yang sangat merugikan tubuh. Oleh karena itu, memilih obat harus cermat, tidak asal minum tetapi juga melihat ketepatan penggunaannya. Buku ini menyajikan informasi menarik seputar obat-obatan. Dilengkapi penjelasan tentang efek samping obat, serta risiko yang timbul akibat penyalahgunaan obat.

Miliki buku ini dan jadilah bagian dari masyarakat melek obat

Buku Resep Hidup Sehat

Sedangkan dari buku “Resep Hidup Sehat”, dituliskan seperti ini:

Pernahkah Anda mengalami sakit kepala sampai bumi yang kita pijak serasa berputar-putar?

Atau pernahkah Anda tiba-tiba gatal dan bentol di sekujur tubuh setelah menyantap udang?

Sekali dalam satu bulan, seberapa sering Anda wanita menjadi emosional, sensitif, dan marah-marah tanpa sebab?

Tahukah Anda bahwa ada cara yang aman untuk tampil cantik, putih, dan menawan?

Buku ini menyajikan tulisan-tulisan seputar kesehatan manusia: mulai dari pengenalan terhadap berbagai macam penyakit baik untuk anak, wanita, maupun lanjut usia. Disajikan pula hingga tips dan trik memilih obat.

Buku ini sangat berguna bagi Anda yang mendambakan kesehatan sejati. Ditulis dengan bahasa populer, segar, ringan, mudah dipahami, dan bermanfaat.

Pesan sponsor

Hmm…. kira-kira menarik ngga nih?…. Semoga ya, namanya juga usahaa… hehe.

Buatku sendiri memiliki buku lebih merupakan kepuasan pribadi. Kebutuhannya bukan lagi untuk kebutuhan material (ceilee…. walaupun kalau dikasih uang sih masih hijau kedip-kedip matanya), tapi kebutuhan pengakuan atau eksistensi. Happy aja kalau merasa berguna dan bermanfaat. Urusan menjadi ngetop itu efek samping belaka hehe…. dasar lebay. Yang kedua tentu tambahan pengalaman dan koneksi, atau kerennya networking. Ngetop itu bisa jadi modal networking yang baik, sekalian buat belajar, soalnya aku ini termasuk mahluk pemalu (sueer…!).  Royalty? Hm….tentu itu juga satu point penting, walau tidak terpenting untuk seorang “sok” penulis sambilan seperti aku. Jangan bandingkan dengan Andrea Hirata atau Kang Abik, dong…. yang royalty-nya tentu berjuta-juta. Royalty buku-buku ini Insya Allah akan aku sumbangkan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan. Jadi kalau Anda beli bukuku ini, kawan, …..berarti Anda akan ikut meringankan penderitaan saudara-saudara kita, di samping akan mencerdaskan diri Anda sendiri mengenai obat dan kesehatan….. Ngga rugi deeh!

Well, kiranya begitu dulu ceritaku tentang buku baruku. Kini saatnya promosi nih yang gencar…. moga-moga banyak yang mau beli. Boleh juga loh kalau ada yang mau bantu marketingnya. Kontak aku via jalur pribadi saja deh. Harganya juga sangat terjangkau loh…. Cuma 20 ribu saja. Suer. Ditunggu yaa…..

Oya, sebagai informasi : untuk pemesanan buku di luar kota, bisa dilayani per telepon di nomor (0274) 588783 ext. 314 c.p. Ibu Budi Murni, juga bisa fax di nmr (0274) 563349. Untuk pemesanan online bisa kirim email ke marketing@kanisiusmedia.com.

Iklan




Catatan kecil Lebaranku 1431 H

16 09 2010

Dear Kawan,

Akhirnya ritual tahunan Idul Fitri 1431 H sudah harus berakhir, menyisakan berbagai cerita. Saatnya kembali lagi ke dunia “nyata” keseharian di Yogya. Aneka aktivitas sudah menanti dijalani. Mudah-mudahan dengan lembaran hidup baru yang fitri. Tulisan kali ini berisi catatan kecilku tentang cerita momen lebaranku yang terserak, sekedar sebagai monumen kehidupan.

Ramadhanku

Ramadhan selalu terasa istimewa, setelah menjalani hirup pikuk dan dinamika kehidupan selama hampir setahun sejak Ramadhan tahun sebelumnya. Up and down keimanan dalam meniti kehidupan, membuat bulan Ramadhan menjadi bulan keberkahan untuk membersihkan hati dan menguatkan fondasi diri. Insya Allah menjadi lebih kuat, amien. Alhamdulillah, aktivitas ibadah selama Ramadhan berjalan lancar saja. Anak-anak genap puasanya, kecuali si bungsu yang masih 4,5 tahun. Aktivitas pekerjaan pun berjalan normal di sela-sela puasa Ramadhan, walau sempat harus bepergian ke luar Jawa. Selain itu, ada pula aktivitas “cuci gudang”…. menyeleksi lagi baju-baju yang sudah tidak dipakai lagi untuk disumbangkan kepada yang membutuhkan. Anakku si Hani sih pengennya bisa buka “bazar” sendiri seperti tahun lalu, dia jualan baju-baju pantas pakainya dengan harga “ala kadarnya”, lalu ia menikmati menerima uangnya.. hehe, walau sekedar seribu-dua ribu perak… Tapi sayangnya tahun ini tak sempat bikin bazar sendiri, jadi nitip saja ke mesjid dekat rumah. Bingkisan lebaran untuk tetangga kanan kiri yang tak mampu juga tidak lupa. Bulan Ramadhan di Yogya diakhiri dengan acara mudik Lebaran pada H minus 4. Alhamdulillah, perjalanan mudik ke Purwokerto cukup lancar.

Menjadi Upik Abu

Hari-hari di kota kelahiran menjelang Lebaran selalu juga menjadi suasana tersendiri, salah satunya adalah menjadi si Upik Abu, menggantikan asisten rumah tangga yang juga perlu bertemu keluarga dan sanak saudaranya. Kerepotan bersama si kecil sejak bangun tidur hingga tidur lagi, setrika baju-baju, menyiapkan makan anak-anak, dll, menjadi “ritual” baru menjelang lebaran. Untungnya si bungsu cukup kooperatif di rumah, alhamdulillah, yang penting disediain laptop saja untuk main game. Keluarga adik-adik juga mulai berdatangan menjadikan suasana rumah ibuku seperti barak pengungsian korban bencana alam. Tapi asyik saja siih…. anak-anak senang bermain dan bertemu sepupu-sepupunya dari jauh. Memancing ikan di kolam belakang rumah ibu menjadi salah satu kegiatan favorit mereka. Yang unik tahun ini, sepupuku membuka warnet di rumah ibuku. Wah…. anak-anak bolak-balik main ke warnet untuk main game online…. dan harus bayar. Bener-bener profesional deh sepupuku itu hehe……

Hari H Idul Fitri

Seperti tahun sebelumnya, sholat Idul Fitri kami laksanakan sekeluarga besar di Alun-alun kota Purwokerto. Untuk kali kedua anak bungsuku Dhika aku ajak sholat Ied. Aku cukup tenang karena adikku ada yg sedang berhalangan sholat, sehingga bisa aku minta tolong jagakan Dhika. Sebagai informasi, Dhika sempat “hilang” pada sholat Ied tahun lalu karena tiba-tiba ia berlari di antara orang2 sholat. Bisa dibayangkan di antara crowdednya orang sholat Ied, sulit sekali mencari sosok kecil yang berlari kian kemari. Dan…. ternyata walaupun demikian, peristiwa itu terjadi lagi! Dhika sempat “lepas” lagi berlari ke di antara kerumunan puluhan orang yang sedang berkemas selesai sholat, untungnya masih bisa ketemu lagi.

Masih sama dengan tahun sebelumnya, sehabis sholat Ied kami berziarah ke makam ayah, lalu pulang ke rumah ibu untuk sungkeman saling bermaafan dan menikmati hidangan lebaran, opor ayam, sambel goreng udang, dengan lontong atau ketupat.

Bertemu “fans” blog ini

Maap, subjudul ini agak lebay sedikit…. tapi itu beneran loh…. Ceritanya pada kesempatan lebaran kemarin, sempat pula diadakan reuni SMP Negeri 1 Purwokerto almamaterku dulu. Reuni kecil-kecilan saja, satu angkatan, tapi cukup ramai. Asyik juga ketemu teman-teman lama, sebagian masih terlihat sama seperti dulu, sebagian sudah banyak yang berubah. Yang jelas keliatan lebih makmur jika dilihat dari ukuran perutnya. Ada satu teman yang mengatakan bahwa dia termasuk pembaca setia blog ini… dan menanyakan kabar jariku (Halo, Dite.. hehehe..). Trus ada lagi deh… ketika aku berkontak ria dengan seorang teman lama yang jauh untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri, salah satu pertanyaannya adalah “ jentikmu wis mari durung?”… (translation: Jarimu udah sembuh belum?). Wah, jariku kok ngetop amat….. hm, pasti dia baca curhatku di Blog ini ketika kemarin aku menulis tentang pengalamanku mengalami “gangguan sendi”. Terus, ada lagi… kali ini kerabat yang lama juga ngga ketemu dan ngga sempat ketemu langsung, tapi hanya via telpon… dia bilang, “Aku selalu baca semua cerita Mbak Lies di blog, loh…. ngga ada yang ketinggalan. Tulisannya ringan, enak dibaca”… Wah,wah….. jadi agak tersanjung nie… mudah-mudahan saja bermanfaat buat yang membacanya, walau sekedar tulisan ala kadarnya. Rasanya seneng aja …..

Penyakit di hari Lebaran

Hari H plus 2 adalah waktunya kami berangkat ke Pekalongan, yang merupakan kota kelahiran suami. Setiap Lebaran pasti kami berkunjung ke dua kota ini, Purwokerto dan Pekalongan. Cerita tentang jalanan yang padat merayap pasti bukan hal mengejutkan lagi, walaupun bikin capek dan kesal. Bayangin, perjalanan yang biasanya hanya 3 jam, kemarin harus kami tempuh selama 6 jam. Tapi bukan kemacetan itu yang bikin prihatin. Yang lebih memprihatinkan adalah bahwa Hanisa, putriku, mengalami diare sejak pagi hari H plus 2. Tapi karena sudah direncanakan pergi, maka tetap saja ia kami ajak ke Pekalongan. Alhasil,….hm..sepanjang perjalanan kami beberapa kali harus berhenti, di masjid atau di Pom bensin, karena ia mulas dan pengen BAB. Kasian sekali. Sesampai di pekalongan, aku langsung mampir apotek untuk membeli obat. Kubelikan dia sirup Kaolin+Pektin (merk tidak perlu disebut), tablet Zink (rekomendasi baru utk diare), dan loperamid (merk tidak perlu disebut) untuk memampatkan diarenya. Oya, tak dinyana, apoteknya ternyata milik kakak angkatanku mas Makmur…jadilah dapat diskon hehhe…(makasih, Mas),  malah katanya aku mau diundang untuk ngisi acara pertemuan IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) di Pekalongan. Acara silaturahmi di Pekalongan lumayan lancar, walau Hanisa masih harus beberapa kali masuk WC pada rumah-rumah kerabat yang kami kunjungi… Untunglah, saat pulang kembali ke Purwokerto, frekuensi BABnya sudah jauh berkurang, walau sempat harus sekali mampir di masjid utk numpang BAB. Maap.

Penyakit kedua yang dijumpai pada masa lebaran kemarin dialami oleh keponakanku Vina, yakni demam. Sebenarnya sih demam ringan saja, mungkin kecapekan main atau kangen mamanya, karena mamanya harus segera balik ke tempat kerjanya di jakarta, sementara ia masih tinggal bersama eyang di Purwokerto. Tapi karena ibuku kuatir, maka dibawanya ke dokter. Ketika aku kembali ke Purwokerto dan kutanyakan bagaimana keadaannya, ibu bilang bahwa obatnya lumayan banyak. Ibu bahkan sempat mengeluarkan simpanan mortir dan stampernya untuk menggerus obat-obat tersebut supaya mudah diminum Vina. Hmm…. mau tau apa saja obatnya? Amoksisilin, Bactrim, Ambroksol, satu obat paten dengan komposisi: parasetamol-fenilpropanolamin-CTM, dan deksametason !! Maap, deh, bukan bermaksud mengintervensi wewenang dokter…. tapi menurut aku, obatnya sudah terlalu berlebihan. Aku sampaikan ke papanya Vina (adik iparku) bahwa sebenarnya ngga perlu lah ada dua macam antibiotika semacam itu (amoksisilin dan bactrim), cukup satu macam dulu, itupun kalau memang ada tanda-tanda infeksi. Lalu ambroksol untuk apa? Vina tidak batuk berdahak, paling cuma dehem-dehem saja. Vina juga tidak pilek, mengapa pula perlu sediaan yang mengandung fenilpropanolamin, suatu dekongestan hidung? Yang lebih lebay lagi… mengapa pula diberi deksametason, suatu anti radang? Menurut aku cukup dengan sirup parasetamol saja… kecuali kalau ada tanda gejalanya makin berat setelah dua-tiga hari. Untungnya papa Vina menuruti saranku. Dia belikan sirup parasetamol. Dan hasilnya……. malamnya Vina sudah baikan, demam turun, dan tak ada keluhan apa-apa lagi, walaupun tidak minum aneka macam obat tadi. Hmm…..

Sekali lagi maap loh, ini dari pendanganku saja. Dan itulah yang kadang memiriskan…. ketidaktahuan masyarakat tentang obat-obat dan kurangnya informasi dari apoteker dapat menyebabkan masyarakat kadang terpaksa mengkonsumsi obat yang tidak benar-benar diperlukannya, dan yang jelas harus membayar mahal untuk sesuatu yang tidak diperlukannnya. Masih mending kalau tidak ada efek sampingnya… coba kalau terjadi efek samping serius… siapa bertanggung-jawab?? Hal ini yang memotivasi aku untuk bisa berbagi walau sebisanya melalui blog ini atau dengan cara lain, misalnya lewat radio,… semoga informasi tentang obat bisa lebih sampai ke masyarakat.

Buku baruku terbit

Rangkaian liburan lebaran harus segera diakhiri, karena tanggal 15 September aku sudah harus aktif lagi di kampus. Kali ini persiapan akreditasi program S2 harus segera dijalani, karena kebetulan aku juga termasuk salah satu pengelola program pasca sarjana di Fakultas. Jadilah sehari sebelumnya kami sekeluarga kembali lagi ke Yogya. Anak-anak memang belum mulai sekolah, tapi mereka masih bisa menjalani sisa liburan di rumah Yogya dengan teman-teman kampung sini. Alhamdulillah, perjalanan lancar-lancar saja.

Satu hal yang menggembirakanku pasca Lebaran ini adalah kabar dari Penerbit Kanisius bahwa buku ke-empat dan ke-limaku sudah siap beredar. Hm.. sebenarnya buku sederhana saja sih, kumpulan tulisan ilmiah populerku tentang obat dan kesehatan yang terserak di blog ini yang rupanya cukup menarik salah satu penerbit untuk menerbitkannya jadi buku. Asyiknya, sekaligus jadi dua buku, yaitu berjudul” Cerdas Mengenali Obat” dan “Resep Hidup Sehat”. Doakan saja ya, kawan, semoga buku ini bisa diterima masyarakat dan bermanfaat. Pada beli yaaa…..

Demikianlah kawan, sekedar catatan lebaranku tahun ini. Mungkin tidak banyak manfaatnya, tapi paling tidak untuk dokumentasi pribadiku saja.





Mohon maaf lahir dan batin

10 09 2010

Dear kawan semua,

Pada kesempatan ini aku dan keluarga mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H”

Taqobalallahu mina wa minkum, minal aidin wal waizin, Mohon maaf lahir dan batin.

Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT, dan diampuni segala dosa kita, sehingga kita kembali kepada kefitrian.

Dan semoga Insya Allah kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan yang akan datang. Amien.

Keluarga kecilku mengucapkan Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin





Penyakit “misteriusku” : arthritis (radang sendi)

3 09 2010

Dear kawan,

Baru kali ini kusempatkan dan kuberanikan menulis lagi di blog kesayangan ini, setelah beberapa hari belakangan aku dilanda cemas. Yah, aku sempat cemas akan suatu penyakit yang “menyeramkan”.., namun alhamdulillah, terimakasih ya Allah, sekarang sudah lebih tenang, dan mudah-mudahan Allah masih melindungiku dari penyakit yang kutakutkan dan aneka marabahaya lainnya. Amien.

Alhamdulillah, sebenarnya selama ini staminaku cukup terjaga, walaupun aktivitas tiada hentinya.  Memang kuakui, aku jarang olahraga secara khusus sih, tapi aku upayakan makan yang sehat dan istirahat cukup. Kadang aku sempatkan menggunakan multivitamin  dan madu jika daya tahan sedang terasa menurun.  Apalagi semester ini load pekerjaan lagi meningkat. Dalam seminggu, ada 4 hari yang harus kuliah jam 7 pagi, dan dalam sehari ada yang harus memberi kuliah lebih dari 1 bahkan 2 mata kuliah.  Belum lagi urusan lain-lain, penelitian, bimbingan skripsi/thesis/disertasi, urusan pengelolaan program Magister, IMHERE, dll.  Tapi sebenarnya asal badan sehat saja, semua itu Insya Allah tidak masalah, karena sudah terbiasa. Kalau kelamaan bengong, jangan-jangan malah jadi sakit hehe….

Nah, hari Senin tanggal 30 Agustus lalu aku pergi ke Makasar untuk menyelesaikan urusan penelitianku yang melibatkan subyek/probandus dari Makassar. Setelah sempat tertunda beberapa kali karena Merpati “ingkar janji” alias membatalkan penerbangan, barulah aku sempat pergi hari Senin itu. Itu pun berangkatnya pada hari Minggunya, take off jam 21 malam dari Yogya. Sampai Makassar sudah menjelang tengah malam WITA. Ngga terasa capek sih… sampai sana segera istirahat setelah menyempatkan sholat trawih. Nah, gejala mulai muncul ketika bangun pagi di Makassar. Sendi-sendi tangan kiri, terutama telunjuk, terasa kaku dan sakit jika ditekuk.  Aku pikir “Ah… paling-paling karena lama tidak bergerak, jadi kaku, siang nanti pasti reda”. Aku pun beraktivitas seperti yang direncanakan di Makasar. Alhamdulillah, banyak dibantu teman-teman di Makassar (trims buat Ochank dan bu Titi yang mengantar dan menemani). Pergi ke Univ Negeri Makassar menjumpai rekan yang telah membantu mengumpulkan subyek penelitian (trims, Pak Oslan), ke Prodia Makassar menyelesaikan urusan pemeriksaan subyek, lalu ke FK Unhas menemui Prof Nasrum dan mengambil hasil ekstraksi DNA, sekaligus sempat “training” ekstraksi DNA di sana. Urusan semua berjalan lancar-lancar saja, alhamdulillah, tapi kekakuan sendiku kok belum berakhir.  Bahkan siang harinya nambah pegal dan kaku di persendian kaki dan punggung kaki. Hmm… kenapa yaa?

Malamnya aku pulang ke Jogja dengan sedikit menahan pegal, sambil berpikir-pikir kenapa. Bangun tidur di pagi hari Selasa di Yogya, kembali kaku-kaku pada jari tangan kiri, dan sekarang nambah yang kanan. Aku mulai cemas, dan berpikir jangan-jangan asam uratku tinggi (walaupun selama ini tidak pernah punya masalah dengan asam urat, dan juga tidak makan makanan yang “aneh-aneh” karena selama di Makassar aku juga tetap puasa). Tapi karena penasaran, saat sahur aku coba-coba minum  ibuprofen untuk radangnya. Bela-belain deh  jam 03.30 pagi pergi ke apotek untuk beli ibuprofen, karena tidak punya persediaan di rumah.

Hari Selasa. Aku mencoba menjalani kegiatan seperti biasa, ada kuliah, rapat, dll.  Kekakuan dan pegel (ngga terlalu sakit sih) sendiku masih terasa. Aku mulai mikir yang enggak-enggak. Hm…kok simetris yaa? Kanan dan kiri. Tangan, kaki, dan kadang seperti terasa di bahu dan lengan. Jangan-jangan……. hmm… apakah rheumatoid arthritis yaa?.  Aduhh,.. aku mulai tambah cemas. Aku kan masih relatif muda (sok muda nih ye….), wanita,….. dan itu memang mirip dengan informasi tentang prevalensi penyakit RA yang lebih banyak dijumpai pada wanita, usia produktif…  Oya, sebelum lebih jauh cerita tentang penyakitku, aku paparkan dulu ttg RA, sehingga kalian bisa tau mengapa aku cemas… (itulah susahnya, kalau tau ttg penyakit, malah jadi lebih cepat kuatir yaa…. hehe..).

Rheumatoid arthritis (RA)

Sebenernya aku pernah menulis sekilas tentang penyakit ini di Blog ini, karena aku pernah memberi materi tentang pengobatan penyakit ini di sebuah seminar di Solo tahun lalu. Tapi mungkin tak ada salahnya aku ulang lagi. Rheumatoid arthritis atau kita kenal sebagai penyakit rematik adalah gangguan sendi yang dicirikan dengan adanya inflamasi dan merupakan penyakit auto imunitas. Sistem imun di dalam tubuh gagal membedakan jaringan sendiri dengan benda asing, sehingga sistem imunnya akan menyerang jaringan tubuh sendiri, khususnya jaringan sinovial dan jaringan ikat. Penyakit ini bersifat menahun dan sistemik, dan seringkali progresif/terus berkembang. Sebagian besar pasien dengan rematik artritis ini tubuhnya membentuk antibodi yang disebut rheumatoid factor (faktor rematoid). Faktor ini menentukan agresivitas/keganasan dari penyakit.

Berbeda dengan osteoartritis (OA) yang sifatnya lebih lokal, yang umumnya hanya mempengaruhi salah satu atau sebelah saja dari sendi-sendi tubuh, RA ini bersifat sistemik, dan nyeri sendinya bersifat simetris. Hampir semua persendian bisa dipengaruhi. Selain itu, jika OA lebih mempengaruhi tulang rawan, maka RA ini mempengaruhi juga tulang keras, sehingga bisa menyebabkan jari-jari menjadi bengkok. RA yang cukup berat dapat menyebabkan disabilitas (kecacatan) bagi penderitanya, dan sangat menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Nah loo….. serem kan? Penyakit ini merupakan penyakit gangguan imunitas dan umumnya akan berlangsung seumur hidup. Untuk mengatasi ini harus digunakan obat-obat untuk menekan sistem imun agar mereka tidak bereaksi berlebihan, misalnya dengan metotreksat, sulfazalasin, prednison, dll, yang mereka juga bukan bebas dari efek samping yang berat. Makanya aku takut benar…

Back to my story…

Kembali ke ceritaku yang tadi yaa… Selasa berlalu tanpa perbaikan yang berarti. Malam Rabu aku sulit tidur, dan kecemasan meningkat. Sempet nangis juga loh…. dan memohon pada Allah, semoga dihindarkan dari penyakit yang mengerikan itu. Kata suamiku, penyakit itu adalah peringatan dari Allah supaya manusia kembali ingat dan memohon ampun atas segala kesalahannya. Semuanya itu terjadi atas ijin Allah, dan jika Allah menghendaki, akan mudah sekali juga menghilangkan penyakit itu. Asal kita memang sujud kepadaNya. Kekakuan sendi itu mungkin merepresentasikan “kekakuan” kita dalam berperilaku, atau mungkin kekakuan hati dalam menerima nasihat kebenaran. Yah, mungkin juga ya…… aku memang masih banyak salah, sering berjalan dengan semaunya sendiri, sulit menerima nasihat….. astaghfirullohal’adziim… Aku jadi lebih pasrah… dan hanya bisa berdoa semoga Allah berkenan menyembuhkan dan menjauhkan dari penyakit. Semoga dengan itu, aku akan menjadi hambaNya yang lebih sujud. Amien.

Namun bagaimanapun, aku merasa perlu untuk memeriksakan diri ke dokter, untuk memastikan penyakitku dan menghilangkan kekuatiran. Aku mencoba mengontak Dr. Nyoman Kertia, beliau ahli rematologi. Pertama aku sms beliau, menanyakan apakah masih ingat padaku, karena kami pernah bersama-sama mengisi sebuah seminar di Solo. Alhamdulillah, beliau masih ingat, bahkan bilang bahwa beliau hadir pula waktu pidato pengukuhanku. Aku jadi lebih lega. Singkat cerita, sorenya diantar suamiku, aku berkonsultasi dengan beliau di tempat prakteknya, dan kusampaikan kekuatiranku. Beliau menanyakan apakah ada gejala lain yang aku alami, seperti demam, mual, diare, atau yang lain. Dan kukatakan tidak ada, karena memang gejalanya semata-mata hanya kekakuan sendi itu. Aku bilang “ Saya kuatir, karena simetris, dok, jangan-jangan RA”… Beliau menanyakan seberapa lama waktunya dari mulai muncul gejala di tangan kiri terus ke tangan kanan, terus ke kaki. “sekitar setengah hari, Dok” kataku. “Wah, itu terlalu cepat….kalau RA tuh tidak seperti itu, biasanya sifatnya lambat,  butuh waktu sampai sebulan untuk bisa simetris gejalanya. Kalau ini sifatnya akut. ”   Bisa jadi karena virus, kata beliau. Cuma memang masih sulit diperkirakan virus apa, atau penyebabnya apa. “Periksa darah di lab saja ya, untuk memastikan,” begitu saran beliau.

Begitulah, akhirnya segera saja sepulang dari dokter aku menuju sebuah lab klinik untuk pemeriksaan darah. Pemeriksaannya cukup lengkap, mulai dari hematologi rutin, fungsi hati (SGOT, SGPT), fungsi ginjal (BUN, serum kreatinin), fungsi jantung (CK, LDH), asam urat, dan fungsi imunitas meliputi rheumatoid factor (RF, penanda rematoid) dan CRP (C-reactive Protein, penanda inflamasi).   Hasilnya bisa diambil malam itu juga sebenernya, tapi ngga sempat, jadi baru aku ambil paginya. Malamnya sampai beberapa kali aku bermimpi tentang hasil labnya hehehe…… yang terutama sekali adalah hasil tentang rheumatoid factor (RF)nya. Aku bermimpi  bahwa RF-ku negatif atau normal.

Hasilnya?

The dream comes true… (lebay banget…), alhamdulillah… semua parameter hematologi, fungsi hati, ginjal, jantung, asam urat, semua berada dalam rentang normal. Dan yang lebih penting, nilai RF-ku normal, di bawah < 8 U. Tapi memang nilai CRP-ku tinggi, yakni 24 mg/L dari yang seharusnya < dari 6 mg/L. Segera saja aku searching informasi tentang CRP. CRP adalah suatu protein yang meningkat kadarnya pada keadaan peradangan di dalam tubuh, namun memang tidak bersifat spesifik menunjukkan jenis penyakit tertentu. Semua jenis peradangan dalam tubuh, misalnya karena infeksi atau penyebab lain, dapat meningkatkan kadar CRP. Sorenya ketika konsultasi lagi dengan dokter, beliau bilang bahwa kemungkinan besar sih bukan RA, tapi memang ada peradangan sendi yang belum diketahui penyebabnya. Di sisi lain, aku merasa sudah lebih baik walaupun masih sedikit terasa kaku dan sakit jika ditekuk. Tetapi hati sudah lebih tenang. Hari itu aku sengaja tidak minum obat apa-apa untuk mengamati progres penyakitku, yang alhamdulillah mulai berkurang. Mudah-mudahan akan makin baik lagi dan recovered seperti sedia kala, Amien. Oya, dokter Nyoman ngga mau dibayar…aduh… jadi ngga enak nih. Makasih banyak, ya, Dok.

Tentang Sari dan RA-nya

Oya, … ada potongan peristiwa menarik ketika aku antri nunggu giliran dokter pada hari Kamis sore itu. Waktu itu datang seorang pasien, masih muda, wanita, dengan langkah pelan agak terpincang-pincang, terlihat lemah, duduk di salah satu bangku di ruang tunggu. Seorang di sebelahnya bertanya, “Sakit apa, Mbak?”.Rheumatoid arthritis, Bu”…. Wah, langsung deh aku tertarik untuk mengetahui lebih lanjut pengalamannya. Ketika ibu yang di sebelah mbak pasien tadi dapat giliran masuk ruang praktek, aku segera menghampiri gadis tadi dan “mewawancarainya”…hehe. Inilah hasilnya.

Jari-jari tangan Sari, sudah mulai bengkok karena RA

Namanya Sari. Usianya sekarang 29 tahun, sudah menikah 3 thn yang lalu. Ia menderita RA sejak sekitar 7-8 tahun yang lalu, katanya setelah lulus kuliah/sekolah. Gejala awalnya adalah bengkak pada lutut. Ketika pemeriksaan cukup lengkap, akhirnya ia didiagnosis RA. Sejak itu ia rutin harus berobat, sempat berobat dengan obat suntik, tapi belakangan sudah tidak lagi, cukup dengan obat minum. Pernah mendapat obat metotreksat, tapi tidak tahan efeknya. Saat ia datang ke dokter kemarin pun gara-gara ia merasa sesak nafas, yang diduganya akibat obat. Bahkan beberapa hari sebelum ini ia harus opname di RS karena rasa sesaknya itu. Selain itu, dadanya sering terasa panas. Tubuhnya kurus. Aku melihat jari-jarinya sudah mulai bengkok. Aku menanyakan bagaimana dengan kakinya. Ia bilang bahwa kakinya pun juga sudah tidak terlalu lurus lagi, sehingga ia tidak bisa normal berjalan. Ia cukup terbuka bercerita dan pasrah dengan penyakitnya. Aku malah jadi terharu, dan mencoba membesarkan hatinya bahwa ini adalah takdir yang harus diterimanya. Katanya, “ iya, Mbak… saya sih pasrah saja, dan saya ikuti semua aturan dan saran dokter untuk kesembuhan penyakit ini”.  Aku malah sempat meminta ijin untuk memotretnya, terutama tangannya, dan ia mengijinkan ( insting “wartawan”ku muncul hehe…. dengan tujuan mau ditulis di blog)… Trims, ya, Sari, atas share-nya. Semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk kesembuhanmu. Amien.

Demikianlah, kawan…

Saat aku menulis ini, kaku-kaku di jari tangan kiri dan kananku masih ada sedikit, terutama pada jari telunjuk. Dokter meresepkanku obat herbal yang berisi kurkumin. Tapi mudah-mudahan, Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja. Oya, aku katakan misterius, karena sampai sekarang aku dan dokter-pun belum tau apa penyebabnya, kok tiba-tiba ada serangan radang sendi akut ini. Namun betapapun aku masih meyakini bahwa penyakit adalah peringatan Allah kepada ummatNya, untuk kembali ke jalanNya. Semoga hamba bisa menjadi hambaMu yang lebih baik dari hari ke hari, ya Allah. Amien. Terimakasih doa teman-teman di FB yang sudah turut melegakanku. Aku menulis ini untuk berbagi saja, siapa tau ada manfaatnya.