Pernik-pernik Viagra

31 10 2008

Viagra untuk bunga yang layu?

Kali ini tulisan ringan tentang penemuan Viagra. Siapa yang tidak kenal Viagra ? Obat yang berisi sildenafil sitrat ini sangat terkenal terutama di kalangan pria yang bermasalah dengan keperkasaannya……
Tapi tahukah Anda, bahwa sebenarnya penemuan Viagra itu tidak disengaja?

Awalnya, tahun 1991, Dr. Nicholas Terret dan timnya di perusahaan farmasi Pfizer sedang meneliti sildenafil (molekul UK-92, 480) sebagai obat hipertensi dan angina pektoris. Angina pektoris adalah penyakit jantung di mana terjadi penyempitan/kontraksi pembuluh darah jantung (vasokonstriksi). Namun efek sildenafil terhadap angina pektoris ternyata sangat minimal. Hasil yang didapat justru di luar dugaan. Salah satu relawan justru merasakan ereksi pada penisnya. Menurut hipotesis, ereksi merupakan efek samping sildenafil. Jadi, tujuan semula mencari obat yang akan melebarkan pembuluh darah sekitar kardiovaskuler, malah melebarkan pembuluh darah di tempat lain hehe……

Ini nggak saru lho, tapi ilmiah…. Tahu nggak peristiwa apa yang terjadi ketika penis berereksi, dan bagaimana caranya Viagra bisa membantu mengatasi disfungsi ereksi ?

Begini ceritanya…..
Mekanisme fisiologis ereksi pada penis pada saat ada stimulasi seksual melibatkan pelepasan suatu senyawa, yaitu oksida nitrat (nitric oxide = NO), dari bagian penis yang disebut corpus cavernosum. NO ini akan mengaktifkan enzim guanilat siklase, yang menyebabkan peningkatan senyawa siklik guanosin monofosfat (cGMP), yang selanjutnya menyebabkan pelebaran pembuluh darah di sekitar corpus cavernosum, sehingga darah dapat mengalir ke penis dan menyebabkan pembesaran penis. cGMP ini bisa diuraikan/didegradasi oleh enzim yang namanya fosfodiesterase-5 (PDE5). Jadi kalau cGMPnya habis, ya jadi lemes deh ……

Nah, si Viagra ini bekerja dengan cara menghambat kerja enzim PDE5, sehingga ketika terjadi stimulasi seksual dan pelepasan NO, penghambatan terhadap PDE5 akan meningkatkan jumlah cGMP yang bertanggung-jawab terhadap ereksi penis. Viagra ini ngga ngefek jika diminum tanpa adanya stimulasi seksual. Jadi kalau minum Viagra saja, tanpa dilanjutkan dengan kegiatan seksual… ya mubazirlah….hehe

O,ya.. Viagra juga tidak direkomendasikan untuk wanita lho…
Kembali ke cerita penemuan tadi, dengan adanya efek tak disangka-sangka tesebut, akhirnya pada tahun 1994, Pfizer memutuskan untuk melanjutkan clinical trial untuk lebih menggali potensi sildenafil sebagai obat disfungsi ereksi. Ian Osterloh adalah peneliti Pfizer yang amat berperan dalam penemuan sildenafil untuk indikasi disfungsi ereksi, sedangkan Peter Dunn dan Albert Wood adalah yang berjasa mensintesis sildenafil dalam bentuk pil. Sildenafil mendapat ijin FDA sejak 27 Maret 1998 dan kini menjadi leader dalam pengobatan disfungsi ereksi. Sekitar 600.000 dokter meresepkan sildenafil di 110 negara.

Namun jangan sembarangan menggunakan Viagra. Bagaimanapun obat tak ada yang tak berefek samping. Efek samping umum Viagra antara lain sakit kepala, gangguan pencernaan, gangguan penglihatan, dll. Viagra harus digunakan dengan resep dokter, dan pasien dengan gangguan kardiovaskuler harus sangat berhati-hati menggunakan obat ini, apalagi mereka yang sedang menggunakan obat-obat vasodilator nitrat (pelebar pembuluh darah), seperti nitrogliserin atau isosorbid dinitrat. Efek pelebaran pembuluh darah ini bisa menyebabkan turunnya tekanan darah yang berlebihan.

Jadi,  sebelum memutuskan akan menggunakan obat ini, pikirkan masak-masak untung ruginya. Jangan sampai mau perkasa, malah terkapar tak berdaya hehe…

Iklan




Dokter – apoteker : cs apa vs ?

27 10 2008

Dear netters,

Apa yang Anda ketahui tentang profesi Apoteker? Tukang bikin obat? Tukang jualan obat? Atau.. barangkali Anda tidak tahu sama sekali tentang apoteker. Yah, Anda tidak salah, bahkan jika Anda tidak kenal profesi Apoteker. Sejak dulu,  Apoteker, atau Farmasis, memang dikenal sebagai pembuat obat di pabrik, atau penjual obat di apotek. Tapi sebenarnya, kebisaan apoteker tidak hanya itu. Bermula di negara maju seperti Amerika dan Inggris, pada dua dasawarsa teakhir, orientasi kegiatan farmasis/apoteker telah bergeser dari berorientasi produk menjadi berorientasi pasien. Artinya bahwa pelayanan farmasi tidak sebatas membuat atau menjual obat saja, tapi juga memastikan bahwa pasien menggunakan obatnya dengan tepat dan benar. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan informasi dan edukasi seluas-luasnya pada pasien dan masyarakat mengenai penggunaan obat yang benar. Informasi dan edukasi ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bisa di apotek, rumah sakit, lewat media massa, atau cara apa saja. Sementara itu, di rumah sakit, mulai tampil apoteker dengan “wajah baru” yaitu sebagai farmasis klinik. Yakni, apoteker yang memiliki keahlian klinik dan terlibat dalam tim kesehatan di rumah sakit untuk memantau terapi dan pengobatan pasien, guna memastikan bahwa pasien mendapatkan pengobatan yang tepat, aman dari efek samping, dan ekonomis. Di Indonesia, profesi farmasis klinik mulai menggeliat, walau masih perlu meniti jalan panjang.


Untuk itu, apoteker perlu bisa bekerja sama dengan tenaga kesehatan yang lain, termasuk dengan dokter.
Konsep kolaborasi dengan tenaga kesehatan yang lain relatif masih cukup baru bagi farmasi, dibanding bagi perawat misalnya, yang telah mengenal konsep tersebut sejak lama dan hal itu mudah ditemukan dalam berbagai literatur ilmu keperawatan. Tidak kurang di AS sendiri, hubungan antara dokter dan Apoteker belum mencapai taraf yang ideal. Usaha-usaha untuk menyakinkan dokter untuk memanfaatkan keahlian Apoteker dalam membantu memanage terapi pasien masih belum sepenuhnya berhasil. Tulisan ini mencoba menyoroti hubungan dokter-apoteker, yang mestinya jadi cs bukannya vs, kawan bukannya lawan.


Dalam sebuah publikasinya, McDonough dan Doucette (2001) mengusulkan satu model untuk Hubungan Kerja Kolaboratif antara Dokter dan Apoteker (Pharmacist-Phycisian Collaborative Working Relationship. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hubungan ini antara lain disebutkan:

a.    Karakteristik partisipan. Yang termasuk karakteristik partisipan adalah faktor demografi seperti pendidikan dan usia. Contohnya, dokter muda yang sejak awal dididik untuk dapat bekerja sama dalam tim interdisipliner mungkin akan lebih mudah menerima konsep hubungan dokter-Apoteker.

b.    Karakteristik konteks. Yang dimaksud adalah kondisi pasien, tipe praktek (apakah tunggal atau bersama), kedekatan jarak praktek, banyaknya interaksi, akan menentukan seberapa intensif hubungan yang akan terjalin.

c.    Karakteristik pertukaran. Yang termasuk di sini antara lain adalah: ketertarikan secara profesional, komunikasi yang terbuka dan dua arah, kerjasama yang seimbang, penilaian terhadap performance, konflik dan resolusinya. Semakin seimbang pertukaran antara kedua belah pihak, akan memungkinkan hubungan kolaboratif yang lebih baik.

Bagaimana memulai suatu hubungan kerjasama yang kolaboratif antara dokter dan Apoteker? Menurut McDonough dan Doucette (2001) ada 4 tahap stage hubungan.

Stage 0 : Professional awareness.
Ini adalah stage awal, di mana masing-masing profesi saling mengenal dan mengetahui. Hubungannya masih “alamiah”, hanya sebatas Apoteker menerima resep dari dokter, kemudian dispensing. Apoteker mengontak dokter jika terjadi hal-hal tidak jelas yang terkait dengan resep (dosis, nama obat, dsb), dan menjawab pertanyaan tentang infomasi obat. Tidak ada diskusi lebih lanjut apakah obat telah memberikan hasil optimal kepada pasien.
Mestinya Apoteker tidak boleh puas hanya dengan stage tersebut, walau dianggap lebih aman secara profesional. Apoteker perlu meningkatkan peranannya untuk mencapai pada stage 1.

Stage 1 : Professional recognition.
Pada awalnya, usaha untuk meningkatkan frekuensi dan kualitas hubungan dokter-Apoteker cenderung unilateral, dengan Apoteker yang harus memulai. Apoteker perlu berusaha untuk membuat dokter menjadi paham tentang apa-apa yang bisa “disumbangkan” Apoteker terhadap pelayanan pasien, misalnya menunjukkan keahliannya dalam memberikan informasi obat yang up to date, memberikan alternatif obat untuk kondisi-kondisi khusus pasien, dsb.  Dari situ dokter akan dapat membangun dasar kepercayaan dan menumbuhkan komitmen terhadap hubungan kerjasama dengan Apoteker.Pada stage ini, komunikasi sering merupakan tantangan tersendiri. Jangan sampai terjadi miskomunikasi bahwa seolah-olah Apoteker akan “mengintervensi” wewenang dokter dalam memilih obat atau akan menjadi “polisi” yang akan mengawasi pengobatan oleh dokter. Justru perlu ditekankan bahwa Apoteker adalah mitra yang akan membantu dokter sesuai dengan kewenangannya, demi tercapainya pengobatan pasien yang optimal.
Pada stage ini dapat dirumuskan mengenai bentuk kerjasama, bagaimana cara komunikasinya, bagaimana protokolnya, dan dibuat suatu kesepakatan.

Stage 2: exploration and trial.
Setelah hubungan kerjasama disepakati untuk berlanjut, masuklah pada stage ke 2. Pada stage ini partisipan (dokter dan Apoteker) akan menguji kekompakan, harapan, kepercayaan dan komitmen mereka terhadap hubungan kerjasama. Dokter mungkin akan memutuskan untuk merujuk pasien ke Apoteker untuk hal-hal yang terkait dengan obat, misalnya penyesuaian dosis dan konseling obat, dan mengevaluasi kompetensi Apoteker untuk memutuskan apakah kerjasama ini cukup bermanfaat dan dapat dilanjutkan. Sebaliknya Apoteker juga dapat menilai apakah dokter tersebut dapat diajak bekerja sama yang positif.Pada fase ini, jika harapan dokter terhadap Apoteker terpenuhi, dokter akan memberikan kepercayaan kepada Apoteker untuk meneruskan kerjasama untuk bersama-sama memberikan pelayanan yang terbaik pada pasien. Sebaliknya jika ternyata harapan masing-masing tidak terpenuhi dari adanya hubungan ini, maka hubungan kerjasama mungkin akan berakhir.
Jika dokter dan Apoteker telah melihat dan mendapatkan manfaat kerjasama mereka dari stage exploration and trial, maka mereka dapat meningkatkan dan memperluas kerjasama profesional tersebut dan sampai ke stage 3.

Stage 3: professional relationship expansion.
Pada stage ini kuncinya adalah komunikasi, pengembangan norma/aturan yang disepakati, penilaian performance, dan resolusi konflik. Pada fase ini the exchange efforts masih belum seimbang, dengan Apoteker perlu secara kontinyu mengkomunikasikan mengenai manfaat bagi pasien yang mendapat pelayanan farmasi yang tepat. Jika performance Apoteker sesuai dengan ekspektasi dokter, dokter dan Apoteker secara pelan-pelan akan memantapkan lingkup dan kedalaman saling ketergantungan (interdependence) mereka. Tujuannya adalah memelihara atau meningkatkan kualitas pertukaran sehingga hubungan profesional dapat terus dikembangkan

Stage 4: commitment to the collaborative working relationship.
Kolaborasi akan semakin mungkin terwujud jika dokter telah melihat bahwa dengan adanya kerjasama dengan Apoteker resiko praktek pelayanannya menjadi lebih kecil, dan banyak nilai tambah yang diperoleh dari kepuasan pasien. Komitmen akan lebih mungkin tercapai jika usaha dan keinginan bekerjasama dari masing-masing pihak relatif sama. Dokter akan mengandalkan pengetahuan dan keahlian Apoteker mengenai obat-obatan, sementara Apoteker akan bersandar pada informasi klinis yang diberikan oleh dokter ketika akan membantu memanage terapi pasien. Pada stage ini pertemuan tatap muka untuk mendiskusikan masalah pasien, masalah-masalah pelayanan, dan hal-hal lain harus dijadwalkan, dan bisa dikembangkan bersama tenaga kesehatan yang lain. Selain itu adanya komitmen kerjasama ini perlu diinformasikan kepada tenaga kesehatan yang lain sehingga mereka dapat turut terlibat di dalamnya.

Demikian model kolaborasi antar tenaga kesehatan, khususnya antara dokter dan Apoteker. Tentunya masih diperlukan waktu untuk bisa sampai pada tingkat yang diiinginkan. Bagi Apoteker sendiri perlu selalu meningkatkan pengetahuan dan keahlian, meng-update diri  terhadap informasi-informasi kesehatan yang sangat cepat berkembang, sehingga mendapat kepercayaan dari tenaga kesehatan lain sebagai tenaga yang berkompeten dalam hal obat dan pengobatan.

Selamat mencoba!





Menulis itu menyehatkan….

24 10 2008

Alhamdulillah, tugas Laskar Proposal sementara sudah selesai, ehm…. tinggal menunggu hasil review… (Baca posting: Brainstorming). Dan Laskar Proposal memang oye,… ketika kemarin kami submit proposal  ke Bagian Renbang UGM sesuai dengan deadline yang dipatok, yang masuk baru satu, ya dari Fakultas Farmasi Itu. Mudah-mudahan saja bisa dipertimbangkan…. paling tidak ada satu point positif : on time ! hehe..

Yang penting, aku bisa tengok-tengok lagi Blog-ku dan menulis lagi untuk refreshing.. hehe.. Biasanya kalau tidak sempat bikin tulisan baru, aku postingkan koleksi tulisanku yang pernah kutulis dulu dan masih up to date. Yah, menurut aku menulis itu menyehatkan…… Hmm, pasti ada yang komplain… “Wah, kalau nulis pembahasan thesis atau skripsi kok malah jadi pusing ?” Hehe….itu pasti salah strategi menulis….. Menulis itu mesti dinikmati. Bahkan ketika menulis sesuatu yang agak “berat” sekalipun, bisa dinikmati.

Untuk bisa nikmat, memang perlu suasana sendiri, yang tenang dan tidak kemrungsung. Sehingga kita bisa mengeksplorasi gagasan-gagasan, menikmati hal-hal baru yang kita dapatkan dan sekaligus kita berikan. Dengan menulis kita bisa mengekspresikan pikiran, pendapat, perasaan… Salah satunya melalui blog ini. Aku mempelajari bahwa ketika kita mencoba membuka hati kita dengan menulis, kita akan mendapatkan hal baru yang akan memperkaya jiwa.. Hal-hal yang sebenarnya bukan hal yang menyenangkan, ketika diangkat dalam tulisan membuat kita menjadi lebih mudah menerima, karena dengan menulis kita akan mengeksplorasi sisi-sisi lain dari sebuah peristiwa… Yang bisa kita baca berulang-ulang dan membangun mind-set baru dalam diri kita. Apalagi jika kita mendapatkan respon yang membangun dari orang lain, kita menjadi lebih terbuka bahwa  suatu peristiwa sedih itu bukan cuma milik kita sendiri.

Aku kasih contoh ya….  Aku pernah menulis tentang anak kami ketiga yang belum lancar bicara di usianya yang hampir tiga tahun, pada posting berjudul “Ujian hidup”… Suatu hal yang dulu kadang membuat aku sedih.. Tapi ketika aku mencoba membuka diri tentang hal ini, aku sendiri merasakan suatu hal baru, yaitu kepasrahan, kekuatan, dan kesabaran untuk menjalani. Alhamdulillah, sekarang perkembangannya malah lebih baik… (nanti aku postingkan sendiri utk cerita ini, karena mungkin bisa menjadi pelajaran buat yang lain). Dan satu hal lagi, aku mendapat respon dan empati dari beberapa pembaca, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan itu sangat menguatkan hati…… dan menyehatkan.

Manusia adalah mahluk sosial yang butuh berinteraksi. Mungkin tak pernah bertemu fisik, tapi kadang kita bisa merasa sangat kenal dengan seseorang karena kita sering membaca tulisannya, gagasannya, atau pengalamannya. Kita bisa belajar dari pengalaman atau ide-idenya itu. Sebaliknya, mungkin kita punya pengalaman yang bisa kita bagikan sehingga yang lain bisa mengambil pelajarannya.

Bagaimana ? berani mencoba? Bagaimana kalau menulis buku teks ?

Hehe…. itu pun bisa dinikmati. Ketika aku mencoba menulis buku pertamaku tentang “Pengantar Farmakologi Molekuler”, aku juga merasakan kenikmatan menulis, sampai lupa waktu. Aku menikmati menuangkan bacaan-bacaanku dari literatur menjadi tulisan dengan bahasaku sendiri. Menikmati ketika mendapatkan informasi baru, dan membaginya melalui tulisan. Bener deh, suerr…. Tentunya juga menikmati royaltinya ketika buku itu diterbitkan dan banyak yang beli hehe……. 

Salam





Mengenal zat aktif dalam komposisi obat selesma/flu

23 10 2008

Obat-obat flu yang beredar di pasaran sangat banyak ragam dan kombinasinya. Selama ini orang memilih obat flu lebih karena pengaruh iklan yang gencar di berbagai media, terutama televisi. Padahal, masing-masing komposisi tentunya punya tujuan pengobatan sendiri. Berikut ini adalah nama-nama zat yang sering terdapat pada obat flu dan khasiatnya. Jika Anda akan memilih obat flu, coba lihat komposisinya, panduan di bawah ini akan membantu anda dalam memilih obat sesuai kebutuhan.

 

  1. Acetaminophenum atau asetaminofen atau parasetamol
    Berkhasiat analgetika-antipiretika, maksudnya berkhasiat menghilangkan rasa nyeri atau sakit dan menurunkan panas. Senyawa obat ini juga banyak dipakai pada obat-obat turun panas untuk anak-anak. Obat flu yang mengandung asetaminofen atau parasetamol cocok digunakan untuk flu yang disertai sakit kepala atau demam
  2. Asetosal atau asam asetil-salisilat
    Khasiatnya sama dengan parasetamol, yaitu sebagai analgetika-antipiretika. Namun karena sifatnya yang sedikit asam dan efek sampingnya dapat mengiritasi lambung, tidak cocok digunakan oleh pasien yang menderita maag atau gangguan lambung. Asetosal juga memiliki efek mengencerkan darah, sehingga sebaiknya tidak dikonsumsi pada pasien dengan gangguan perdarahan, karena akan meningkatkan resiko perdarahan. Selain itu, asetosal juga dapat menyebabkan alergi pada pasien tertentu yang sensitif, sehingga sebaiknya tidak digunakan oleh penderita asma karena dapat memicu serangan asmanya.
  3. Salisilamida
    Merupakan turunan salisilat, berkhasiat analgetik juga tapi lebih lemah khasiatnya dibanding asetosal. Efek sampingnya mirip dengan asetosal, tapi lebih sering menganggu pencernaan.
  4. Fenilefrin
    Khasiatnya adalah sebagai dekongestan (menciutkan selaput lendir hidung). Senyawa obat ini digunakan untuk menghentikan pilek, karena itu cocok untuk flu yang disertai pilek. Namun, obat ini berefek menaikkan tekanan darah, karena itu harus digunakan secara hati-hati oleh penderita hipertensi.
  5. Levo-N-etilefedrin HCl atau Efedrin
    Khasiatnya adalah dekongestan dan juga dapat melonggarkan saluran nafas (bronkodilator). Perlu dipakai hati-hati pada penderita hipertensi.
  6. Phenylpropanolamin HCl atau fenilpropanolamin
    Adalah turunan efedrin, berkhasiat dekongestan juga. Obat-obat golongan ini sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada penderita hipertensi, karena dapat meningkatkan tekanan darah.
  7. Chlorpheniramin maleas atau klorfeniramin maleat atau CTM
    Obat ini berkhasiat anti histamin atau anti alergi. Zat ini hampir selalu ada di setiap komposisi obat flu untuk mengatasi kemungkinan kejadian flu karena alergi. Efek sampingnya adalah mengantuk. Jadi jangan gunakan obat ini jika sedang dalam kondisi harus berkonsentrasi tinggi (menyopir, menjalankan mesin, dll).
  8. Difenhidramin
    Obat ini juga anti alergi dan memiliki efek samping mengantuk yang kuat. Selain itu, obat ini juga berefek anti mual.
  9. Kofein
    Khasiatnya sebagai penyegar atau stimulan susunan syaraf. Beberapa obat flu menyertakan zat ini dengan tujuan supaya pasien tetap merasa segar dan tidak mengantuk..
  10. Dekstrometorfan
    Berkhasiat sebagai obat batuk untuk jenis batuk kering (antitusif). Beberapa produk obat flu menyertakan zat ini untuk flu yang disertai batuk. Obat flu yang mengandung senyawa ini cocok digunakan pada flu yang disertai batuk.
  11. Gliserilguaiakolat
    Berkhasiat sebagai obat batuk juga, tetapi untuk jenis batuk berdahak. Jika flu Anda disertai batuk berdahak, komposisi obat flu yang mengandung senaywa ini cukup tepat.

 Setelah mengetahui khasiat dari senyawa-senyawa yang terdapat pada obat flu, semoga Anda bisa memilih obat flu yang sesuai dengan kondisi Anda dengan lebih tepat.





Brainstorming : membuat badai di otak..

21 10 2008

Pagi tadi dengan beberapa kolega aku menemui seorang senior untuk brainstorming tentang hal-hal yang bisa dilakukan untuk pengembangan fakultas sekian tahun ke depan. Hm… “brainstorming”,… bener-bener membuat badai di otakku. Mumets. Tenggat waktu hanya 2 hari untuk membuat proposal. Bandung Bondowoso kalee…!! Sambil mencari ide untuk menulis proposal pengembangan fakultas, kusempatkan menengok blog-ku untuk menulis… Uff, benar-benar menggoda, pingin menulis macam-macam. Tapi, hidup harus memilih…..hmm…  aku harus konsentrasi dulu dengan tugasku. Karena itu… bye dulu…!! Sampai ketemu kalau sudah sempat nulis lagi….

(nah lho… tulisan ora penting kok ditulis hehe….  Ini terutama buat teman-teman yang setia menanti tulisanku, ceilee…. seorang sahabatku penggemar burung malah minta tulisan tentang obat untuk burungnya biar nggak loyo.. eh, salah.. biar ngga serak. Wah, itu agak sulit, je…..  mungkin butuh waktu.)





Waktu Minum Obat

21 10 2008

Ketika kita minum obat, ada obat-obat yang harus diminum sebelum makan atau sesudah makan. Pada umumnya orang berpendapat bahwa sebaiknya sebelum minum obat harus makan dulu sebagai “alas”. Tapi benarkah demikian? Dan tahukah Anda mengapa ada obat yang harus diminum sebelum atau sesudah makan?


Oba
t adalah suatu senyawa kimia yang memiliki aneka sifat dan efek. Ketika obat diminum, tentu akan melewati lambung dan masuk ke dalam usus. Sebagian kecil obat diserap di lambung, dan sebagian besar adalah di usus halus yang permukaannya sangat luas. Pada dasarnya obat-obat dapat diserap dengan baik dan cepat jika tidak ada gangguan di lambung maupun usus, misalnya berupa makanan. Obat dapat berinteraksi dengan makanan. Uniknya, ada obat-obat yang penyerapannya terganggu dengan adanya makanan, ada yang justru terbantu dengan adanya makanan, dan ada yang tidak terpengaruh dengan ada/tidaknya makanan. Hal ini akan menentukan kapan sebaiknya obat diminum, sebelum atau sesudah makan. Tapi jangan salah, yang dimaksud dengan sebelum makan adalah ketika perut dalam keadaan kosong. Sedangkan sesudah makan adalah sesaat seusdah makan, ketika perut masih berisi makanan, jangan lewat dari 2 jam. Kalau lebih dari dua jam setelah makan, makanan sudah diolah dan diserap, kondisinya bisa disamakan dengan sebelum makan. Antibiotika eritromisin dan ampisilin misalnya, dan analgetika parasetamol, akan diserap lebih baik jika tidak ada makanan, sehingga lebih baik jika diminum sebelum makan. Sedangkan obat anti epilepsi fenitoin, atau obat hipertensi propanolol misalnya, akan terbantu penyerapannya dengan adanya makanan, sehingga sebaiknya diminum sesudah makan.

Selain interaksi dengan makanan secara umum, obat tertentu dapat berinteraksi secara khusus dengan senyawa tertentu dari makanan. Contoh terkenal adalah antibiotika tetrasiklin. Tetrasiklin dapat berikatan dengan senyawa kalsium membentuk senyawa yang tidak dapat diserap oleh tubuh, sehingga mengurangi efek tetrasiklin. Jadi jika tetrasiklin diminum bersama susu, atau suplemen vitamin-mineral yang mengandung kalsium, efek tetrasiklin bisa jadi berkurang.

Selain interaksinya dengan makanan, sifat suatu obat juga menentukan kapan sebaiknya obat diminum. Beberapa obat tertentu dapat mengiritasi lambung sehingga menyebabkan tukak lambung, atau memperparah sakit maag. Contoh terkenal obat yang termasuk golongan ini adalah aspirin/asetosal, kortikosteroid (deksametason, hidrokortison, dll), dan obat-obat antiradang seperti diklofenak, piroksikam, dll yang sering digunakan untuk obat rematik. Obat-obat ini harus diminum sesudah makan untuk menghindari efeknya terhadap lambung.

Karena itu, untuk mendapatkan hasil yang optimal dari pengobatan, kenalilah obat Anda. Jangan segan bertanya pada Apoteker atau dokter.





Menikmati kegagalan : La tahzan….

20 10 2008

Tiga hari ini aku tidak sempat mengupdate blog-ku… kesibukan persiapan kuliah dan kuliah itu sendiri lumayan padat hari Jumat. Hari Sabtu dan Minggu gak sempat internetan. Ada satu kejadian yang kucatat hari Jumat kemarin… aku menjumpai sebuah kegagalan… Uff, aku gagal pada sebuah aplikasi memperebutkan suatu award di bidang sains. Kecewa? Yah sedikit, tapi segera hilang lagi. La tahzan….. jangan bersedih, begitu kata satu buku yang lagi kubaca. Terlalu banyak nikmat yang telah kita terima dibanding satu dua kegagalan yang dihadapi… Dan ini kan risiko mencoba, kalau nggak berhasil ya gagal. Aku jadi ingat, tahun 2007 lalu aku apply 5 proposal penelitian ke berbagai sumber dana yang menawarkan, dan hanya satu yang lolos. Alhamdulillah, cuma satu yang diterima…… kalo diterima semua kan malah repot sendiri hehe…. begitulah kita coba mensikapi dengan santai. Kalau award yang tadi aku ceritakan di awal posting, aku memang iseng kok…. biasalah, memanfaatkan kesempatan yang ada. Padahal dibatasi usia 40 tahun, sementara akhir tahun ini usiaku sdh 40 tahun, jadi sudah mepet betul. Jadi memang nekat, … lha yang lebih muda kan banyak, kenapa mesti pilih yang usianya mepet ? Begitu kali. Dan tentunya pencapaianku mungkin belum sampai masuk specs yang diharapkan sebagai seorang saintis muda, itu pikiran positifku. Selain itu, risetku juga mungkin belum berkontribusi banyak terhadap kebutuhan bangsa ini. Hmm……

La tahzan….. begitulah. Jangan bersedih, untuk apapun….. kalaupun kita mengalami suatu peristiwa yang sangat menyedihkan sekalipun, selalu ada hikmah di balik itu. Semua sudah tersuratkan. Kuncinya adalah bersyukur. Selalu bersyukur. Ingatlah semua kenikmatan yang pernah kita peroleh, nikmat memiliki mata yang berfungsi sempurna, nikmat memiliki kesehatan, nikmat diberi kesempatan kuliah, dan masih banyaak lagi…  Dengan bersyukur, Insya Allah Dia memberi kenikmatan lebih banyak lagi kepada kita.

La tahzan… hidup terlalu indah untuk disedihkan…..