METANOL – minuman orang tolol

23 04 2010

Dear kawan,

Kalau di sebuah iklan produk minuman kesehatan/jamu ada slogan, “Orang pintar, minum…… (thiit…diblok, entar dikira iklan), maka aku akan bilang, “Orang tolol minum metanol!!”. Bagaimana tidak? Baru-baru ini diberitakan bahwa sudah lebih dari 20 orang tewas karena menenggak minuman oplosan di Salatiga, dan puluhan bahkan ratusan lainnya perlu perawatan di RS. dan disebutkan bahwa miras maut itu berisi 99% metanol. (Update berita baru September 2010: Teknisi Sukhoi dari Rusia yang mati di Makassar ternyata juga mati karena nenggak metanol murni….. olala…. Tiada Vodka, spiritus-pun jadi rupanya)..   Walah…….! Apa ya ngga mikir bahayanya? Kalau mau lebih “aman” sedikit, mending minum etanol, bukan metanol. Apa bedanya etanol dengan metanol? Tentang etanol (atau sering dikenal sebagai alkohol), sudah pernah aku bahas pada tulisan berjudul “ginseng mabur”… (silakan klik di sini). Tulisan kali ini akan difokuskan pada metanol saja.

Apa beda etanol dengan metanol?

Etanol dan metanol sebenernya masih bersaudara kandung, sama-sama golongan alkohol. Yang berbeda adalah rumus kimianya, jika etanol adalah C2H5OH, metanol berumuskan CH3OH. Dan tentu sifat-sifatnya juga ada perbedaan, walaupun juga banyak persamaannya. Etanol bisa diperoleh dari hasil fermentasi buah-buahan atau gandum, dll, dan banyak dikonsumsi sebagai minuman beralkohol seperti beer, wine, brandy, dll. Sedangkan metanol, umumnya bukan dikonsumi sebagai minuman, karena sifatnya yang lebih beracun, dan dipakai sebagai bahan bakar. Jika Anda lihat spiritus yg berwarna biru (ada yang pink ngga ya… hehe), itulah metanol. Diberi warna demikian supaya orang bisa membedakan dan tdk menggunakan secara salah.

Apa sih metanol itu?

Metanol merupakan cairan yang jernih, tidak berwarna, dan merupakan cairan yang mudah terbakar. Metanol dapat dibuat dengan mereaksikan hidrogen dengan karbon monoksida atau karbon dioksida. Sejarahnya, ia dibuat dari destilasi kayu, makanya disebut juga alkohol kayu. Metanol banyak dipakai pada industri sebagai starting material pembuatan berbagai bahan kimia, seperti formaldehid, asam asetat, metakrilat, etilen glikol, dll. Metanol juga banyak dipakai sebagai cairan pembersih kaca mobil, pembersih karburator, antibeku, toner mesin fotokopi, dan bahan bakar.

Apa bahayanya metanol bagi kesehatan?

Metanol sangat mudah diserap oleh tubuh melalui berbagai rute pemberian (oral, inhalasi, topikal, dll). Di dalam hati (liver), metanol akan dioksidasi menjadi formaldehid (formalin) dengan bantuan enzim alcohol dehydrogenase dan kemudian dimetabolisir lebih lanjut menjadi asam format oleh enzim formaldehid dehidrogenase. Perubahan dari formaldehid menjadi asam format sangat cepat, dengan waktu-paro selama 1-2 menit, sehingga tidak sampai terjadi akumulasi formaldehid dalam tubuh. Asam format selanjutnya dapat diubah menjadi 10-formiltetrahidrofolat yang dapat dimetabolisir lebih lanjut menjadi karbon dioksida sebagai upaya detoksifikasi dari tubuh. Kecepatan perubahan asam format menjadi metabolitnya tergantung ketersediaan tetrahidrofolat dalam hati. Namun demikian, waktu paruh asam format di dalam tubuh cukup panjang, yaitu sampai 20-24  jam. Asam format inilah yang akan menyebabkan berbagai efek toksik pada tubuh.

Ekskresi metanol dari tubuh relatif lambat, dengan waktu paruh (T1/2) selama 24 jam. Manusia lebih sensitif terhadap efek toksik metanol jika dibandingkan dengan hewan non primata. Keparahan toksisitas metanol lebih berkaitan dengan derajat kejadian metabolik asidosis ketimbang konsentrasi metanolnya. Hal ini karena ketoksikan metanol ditentukan oleh kecepatan pembentukan asam format dalam tubuh dan kemampuan hati untuk mendetoksifikasinya. Minum metanol, walaupun dalam jumlah sedikit, dapat berbahaya dan menyebabkan gangguan kesehatan serius, meliputi koma, kejang, dan kebutaan, bahkan kematian. Metanol juga toksik/beracun jika dihirup atau terkena mata, karena dapat merusak penglihatan.

Terdapat variasi signifikan pada manusia mengenai dosis toksik maupun dosis letal (yg menyebabkan kematian) akibat metanol. Sebuah studi menyebutkan bahwa dosis letal minimal adalah berkisar 300-1000 mg/kg BB. Ada lagi yang menyebutkan bahwa dosis letal akibat minum metanol adalah sekitar 15 ml metanol 40%. Ada lagi yang melaporkan osis letal sebesar 500 ml metanol 40%. Bayangkan deh dengan mereka yang minum metanol sampai kadar 99%  !! Minum sedikitnya 4-10 mL metanol dapat menyebabkan kebutaan permanen.

Di bawah ini dipaparkan fase-fase efek toksik yang bisa terjadi akibat paparan metanol

Fase pertama adalah Penekanan sistem saraf pusat. Dapat terjadi dalam 30 menit- 2 jam, intoksikasi dapat terjadi dalam durasi yang lebih pendek daripada intoksikasi oleh etanol

Fase kedua adalah fase laten tanpa gejala, mengikuti depresi sistem saraf pusat :Dalam 48 jam setelah diminum, pasien mungkin belum menunjukkan tanda-tanda keracunan, walaupun gejalanya mungkin berbeda secara individual.

Fase ketiga terjadi asidosis metabolik berat: pada fase ini metanol telah dimetabolisir menjadi asam format dan menyebabkan metabolik asidosis (meningkatnya keasaman darah), yang dapat menyebabkan mual, muntah, pusing, dan mungkin sudah mulai ada tanda-tanda gangguan penglihatan.

Fase keempat adalah toksisitas pada mata, diikuti dengan kebutaan, koma, dan mungkin kematian: Gangguan visual/penglihatan umumnya terjadi pada 12-48 jam setelah minum, dan range-nya bervariasi, dari mulai tidak tahan cahaya (fotofobia), kabur atau berkabut, sampai kebutaan.

Apa yang harus dilakukan jika terkena paparan metanol?

Pertama, tentu harus membersihkan dari dari paparan. Jika terkena pada kulit, segera cuci daerah yang terkena dengan air hangat dan sabun sedikitnya selama 10-15 menit.  Jika terkena paparan metanol pada mata, maka cuci mata dengan cairan pencuci mata yang umum digunakan, sedikitnya 10-15 menit.  Jika terhirup atau tertelan, segera minta bantuan kesehatan dari dokter untuk dilakukan usaha-usaha detoksifikasi. Salah satu cara detoksifikasi metanol adalah dengan menggunakan etanol dan sodium bikarbonat. Etanol memiliki afinitas (kemampuan mengikat) enzim alkohol dehidrogenase 10-20 kali lebih kuat daripada metanol, sehingga mengurangi pembentukan asam format sebagai hasil metabolisme metanol. Etanol dapat diberikan secara per-oral dengan konsentrasi sampai 40%, atau melalui intravena dengan konsentrasi 10% dalam 5% dekstrosa. Sedangkan sodium bikarbonat digunakan untuk mengurangi metabolik asidosis akibat asam format.

Nah, begitulah kira-kira informasi tentang metanol…

Apa masih ada lagi yang mau bertindak tolol dengan minum metanol ??

Semoga bermanfaat.





Science of love (2): romantic love = OCD?

18 04 2010

Dear kawan,

Ada yang sedang pedekate, atau baru jadian? Atau sudah in process for romantic relationship? Hm… pernah ngga thinking of her/him all day long..? Keingetan terus? Apa yang menyebabkannya? Tulisan ini mencoba mengupas dari sisi saintifik tentang “romantic love”, yang secara mengejutkan ternyata memiliki kemiripan dengan obsessive compulsive disorder (OCD), suatu jenis penyakit psikiatrik atau kejiwaan. Ini merupakan penjelasan lebih detail dari paparan yang pernah kutulis dulu tentang Science of love (bisa dilihat di sini). Setelah baca ini, silakan identifikasi sendiri, apakah perasaan cinta Anda masih normal dan sehat atau sudah mengarah pada penyakit jiwa… hehe.. serem ya?

Adalah normal-normal saja jika seseorang sedang in love itu saling memikirkan satu sama lain, ingin selalu bersama-sama, dan merasa nyaman jika berada berdekatan. Masalahnya adalah jika kemudian menjadi obsesif di mana seseorang memiliki dorongan untuk melakukan hal-hal yang tidak tepat dan absurd, wah…ini sudah jadi alarm tanda bahaya. Penelitian tentang cinta ini menghasilkan satu penemuan yang mengejutkan bahwa mereka yang sedang in love itu memiliki kemiripan dalam kondisi biokimia dengan penderita OCD, yakni bahwa mereka memiliki kadar serotonin yang rendah dalam darahnya. Serotonin adalah salah satu senyawa neurotransmiter di otak. Oke, sebelum lebih jauh, kita kenali dulu penyakit OCD ini….

Apa itu OCD?

OCD adalah penyakit yang menyebabkan seseorang memiliki keinginan (obsesi) dan dorongan untuk mengulang-ulang perilaku tertentu (kompulsi) berkali-kali. Kadang mereka mengetahui bahwa obsesi dan kompulsinya tidak masuk akal, tetapi mereka tidak bisa mengacuhkan atau menghentikannya. Tanpa melakukannya mereka akan merasa gelisah atau cemas. Sehingga penyakit ini digolongkan sebagai penyakit kecemasan (anxietas).

Apa itu obsesi?

Obsesi adalah suatu keinginan, bayangan dan ide yang berada dalam pikiran seseorang terus menerus. Seorang dengan OCD kadang tidak menginginkan utk memiliki pikiran2 seperti itu dan merasa terganggu, tetapi mereka tidak bisa mengontrolnya. Ada yang pikirannya datang sesekali saja dan tidak terlalu mengganggu, ada yang pikirannya datang setiap saat.

Apa itu kompulsi?

Kompulsi adalah semacam perilaku yang didorong oleh adanya keinginan itu, dan kadang perlu dilakukan berkali-kali, sehingga sering disebut sebagai “ritual”. Contohnya, seorang dengan obsesi takut terhadap kuman, maka ia akan berkali-kali mencuci tangannya dan ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukan hal itu, sampai ia yakin tidak ada kuman lagi di tangannya. Tanpa itu ia akan merasa cemas dan gelisah.

Obsesi dan kompulsi apa yang paling sering dijumpai pada penyakit OCD?

Beberapa obsesi yang sering dijumpai adalah: takut kotor atau kuman, keinginan untuk berurutan dan simetris, jijik terhadap cairan dari dalam tubuh, kuatir jika suatu pekerjaan tidak terlaksana dengan baik, ketakutan akan setan, sering berpikir tentang suara, bayangan, kata atau angka sepanjang waktu, dll. Dengan obsesi ini maka akan timbul kompulsi-kompulsi, antara lain seperti : mencuci tangan berkali-kali, menyikat gigi atau mandi berkali-kali, mengecek laci, mengunci pintu berkali-kali untuk memastikan sudah terkunci, mengulang-ulang suatu perilaku misalnya menghitung, menyusun suatu barang dengan urutan tertentu, dll. Nah….. itu sekilas tentang OCD.

Lalu kembali ke kondisi “in love”…..hmm… ada persamaannya ngga ya? Seorang yang sedang “in love” juga selalu memiliki pikiran yang konstan tentang si dia, over and over in their head, walau kadang tahu persis bahwa itu sudah tidak logis lagi. Adanya bayangan tentang si dia (obsesi) menyebabkan dorongan (kompulsi) untuk bertemu, atau kontak, atau telpon, atau SMS, berkali-kali. Iya kan? Kita sebut itu dengan “K-A-N-G-E-N”… hehe…..

Menurut para ahli, initial love feelings atau romantic love ini biasanya bersifat sementara, yang nantinya akan bergeser pada bentuk cinta yang lain yang lebih sustained.  (Untuk cinta yang lebih permanen ini, misalnya sampai ke ikatan pernikahan, ada hormon-hormon lain yang berperan, antara lain oksitosin dan vasopresin). Artinya, jika kemudian seseorang bisa menguasai dan menstabilkan perasaannya sehingga tidak terdorong untuk melakukan tindakan merusak, maka itu masih normal. Tapi jika sudah mulai menjadi obsesif dan kompulsif sehingga melakukan tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri atau orang lain, barang kali itu sudah mulai jadi “penyakit”….. dan kita bisa mengkambing hitamkan si serotonin tadi….. hehe…

Kalau begitu, bisa diobati dong dengan obat-obat yang meningkatkan kadar serotonin? Iya, menurut Helen Fisher, si peneliti cinta, penggunaan obat-obat antidepresan yang bekerja meningkatkan serotonin memang bisa mengurangi perasaan “fall in love”…..

Obsessive Love Addiction

Hm…, jadi perasaan cinta itu bisa menjadi suatu gangguan kejiwaan jika terjadi berlebihan dan merusak. Salah satu jenis love yang tidak sehat dan tergolong pada penyakit OCD adalah Obsessive Love Addiction. Apa itu?  Mungkin kita awali dulu dengan mempertanyakan arti cinta. Cieee…. !

Kata literatur nih,…. Love is a tender feeling, which is a combination of adoration, attraction, mutual respect, intimacy, sharing of core values, caring and camaraderie, that you have for a special person in your life. Setiap orang ingin dicintai. Ada yang beruntung mencintai seseorang dan mendapatkan balasan cinta yang sama, tapi ada juga yang tidak beruntung dengan mencintai tetapi bertepuk sebelah tangan. Ada yang pernah menemukannya tetapi kemudian kehilangan. Dalam keadaan seperti ini, mungkin saja seorang yang tertolak atau kehilangan cintanya tidak pernah sembuh dari rasa depresi, kesedihan, dan kemarahan yang mengikutinya. Memang, saat cinta tidak mendapat tempatnya, hidup dapat menjadi terasa berat untuk sementara, tetapi semua itu alamiah. Pada saat ini seseorang akan diuji, apakah ia dapat menjalani atau tidak. Apakah bisa mengikhlaskan kehilangan cinta itu atau akan tetap mempertahankannya. Ada yang kemudian memiliki keinginan yang tidak rasional untuk tetap memilikinya dengan segala cara. Inilah yang disebut Obsessive Love Addiction. Ini lebih karena ego yang terlukai, bukan lagi masalah hati. Jika ego mengalahkan akal sehat, cinta berubah menjadi keinginan untuk menaklukkan dan memiliki seseorang, yang kadang diikuti dengan kekerasan yang merusak. Eh, kok serem siih….!

Nah, sekarang makin paham kan….. silakan cek sendiri jenis cinta mana yang Anda punya. Namun bagaimanapun, cinta adalah anugerahNya untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia. Tentu ada bedanya cintanya orang yang mengaku berTuhan dan yang tidak berTuhan. Yang mengaku berTuhan percaya bahwa Dia menetapkan aturan-aturanNya dalam hubungan antar manusia, pria dan wanita, agar kehidupan tidak menjadi kacau balau. Dia tentu tak ingin hambaNya menderita karena cinta. Jika cinta Anda sejalan dengan aturanNya, bersyukurlah dan jagalah. Jika cinta Anda hinggap di tempat yang salah dan itu tak sesuai jalanNya, lepaskanlah. Percayalah ada jalan terbaik yang lebih membahagiakan. Selamat jatuh cinta deh…. semoga happy-happy yaaa….





Tentang Diabetes (lagi) dari Klaten

18 04 2010

Dear kawan,

nepotisme pada Seminar Ilmiah IAI Klaten.... teman satu angkatan (Farmasi UGM 87) dan sesama etnis "ngapak"

Hari Sabtu kemarin aku diundang teman sejawat IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) Cabang Klaten untuk menjadi salah satu pembicara pada Seminar Ilmiah IAI. Topiknya tentang Pelayanan Kefarmasian pada penyakit Diabetes melitus, aku sendiri kebagian topik tentang obat-obat Diabetes melitus. Seminarnya agak berbau nepotisme nih…hehe.. karena Ketua IAI Cabang Klaten yang mengundang adalah teman seangkatanku di Fak Farmasi UGM, yaitu mas Yuli Santoso (Makasih, Yul, udah diundang…).

Tulisan kali ini tidak akan membahas lagi tentang penyakit DM, karena aku sudah pernah menuliskannya di sini, tapi lebih pada cerita seputar seminar itu dan kesan-kesanku, dan cerita lain yang mungkin ngga nyambung hehe…..  Yang agak bikin surprise tuh adalah bahwa ternyata beberapa sejawat di sana mengaku sebagai pembaca setia blog ala kadarnya ini… Waduh, aku jadi merasa tersanjung (terimakasih, teman-teman). Malah ada yang menanyakan puisi cintaku yang berbau sains yang pernah kutulis duluu…. apa masih hafal atau tidak. Bagaimanapun, senang bisa ketemu dengan teman-teman sejawat di Klaten yang aktif dan heroik-heroik….

Aku kebagian menjadi pembicara pertama dan memaparkan mengenai DM dan obat-obatnya. Pembicara kedua adalah dokter Akrom yang bicara tentang Konseling pada pasien. Saat paling sulit adalah saat menjawab pertanyaan. Aduh, langsung syok hipoglikemik deh diserbu pertanyaan yang sulit-sulit…..hehe…

Salah satu pertanyaan yang aku belum bisa menjawab dengan memuaskan adalah apakah memang benar terdapat semacam “adaptasi” seseorang terhadap kadar gula darah yang tinggi, sehingga malah merasa lebih sehat dengan kadar gula sekitar 300 mg/dl, yang jelas-jelas di atas rentang normal. Apakah ada kaitannya dengan faktor genetik? Aku rasa itu memang suatu kasus spesial,  bahwa seseorang memiliki unsur-unsur yang cukup kompak (termasuk genetik) dalam tubuhnya sehingga secara bersama-sama berespon normal terhadap kadar gula darah yang tinggi, yang pada orang lain akan memberikan dampak merugikan. Aku belum yakin dan belum menemukan penjelasan yang pas untuk kasus ini. Tapi menurut dokter Akrom, bagaimanapun tetap harus diupayakan untuk mencapai target kadar gula darah ideal, yaitu kadar gula darah puasa antara 70-125 mg/dL atau gula darah sewaktu < 200 mg/dL, karena risiko tingginya kadar gula darah lebih besar, yaitu kemungkinan terjadinya komplikasi makro dan mikrovaskuler.

Karena aku juga menyinggung sedikit tentang faktor farmakogenetik yang berkontribusi terhadap respon seseorang terhadap obat, ada pula yang bertanya bagaimana memastikan apakah seseorang mengalami polimorfisme pada gen tertentu, dan juga ada yang bertanya bagaimana menyampaikan kepada pasien bahwa mereka mengalami polimorfisme genetik. Aku sampaikan bahwa adanya polimorfisme gen tidak bisa dilihat secara visual begitu saja, walaupun mungkin dapat diduga dari adanya respon yang berbeda dibandingkan dengan kondisi normal. Bisa kurang berespon terhadap suatu terapi, atau sebaliknya, terlalu responsif sampai muncul gejala toksik pada pemakaian suatu obat. Cara paling akurat tentunya adalah dengan tes genetik, yang mungkin belum banyak tersedia di Indonesia. Tetapi paling tidak, jika ada respon terapi yang menyimpang sementara semua aturan pengobatan telah dipenuhi (kepatuhan, ketepatan dosis, ketepatan pemilihan obat, dll), maka faktor genetik mungkin bisa dimunculkan sebagai dugaan penyebabnya.  Dan jika terjadi demikian, sebaiknya pasien disarankan melaporkan ke dokter untuk mendapat penyesuaian dalam pengobatannya.

Penggunaan insulin yang berganti-ganti merek juga sempat menjadi pertanyaan, apakah ada pengaruhnya. Ya, secara teoritik, jika suatu obat dengan merk A sudah teruji bioekivalensinya dengan merk B, misalnya, maka mestinya efeknya akan sama. Namun kadang masih ada faktor sugesti pasien dan faktor bahan-bahan pembawa lain yang mungkin akan mempengaruhi respon seseorang terhadap obat. Untuk itu, aku menyarankan untuk tidak mengganti-ganti merk obat, jika penggunaannya dalam waktu lama, atau malah seumur hidup seperti pada penyakit Diabetes ini, untuk menghindari pengaruh perbedaan merk obat. Dan ini juga berlaku untuk pengobatan penyakit kronis lainnya.

Pembicara kedua cukup menarik pula memaparkan bagaimana mestinya komunikasi antara apoteker dengan pasien maupun dokter penulis resep. Terasa bahwa ilmu komunikasi menjadi ilmu penting buat apoteker, dan itu perlu mendapat pertimbangan tersendiri. Tapi menurutku yang lebih penting lagi adalah “learning by doing”. Kita bisa punya banyak teori komunikasi, tetapi  jika tidak pernah mempraktekannya, hanya akan jadi omong kosong belaka. Dosen juga perlu memfasilitasi lebih banyak kepada mahasiswa untuk mendorong kemampuan berkomunikasi dan menyampaikan pendapat dengan cara yang baik. Hal yang sama, jika disampaikan dengan cara berbeda, ternyata bisa membuahkan hasil yang berbeda.

Demikian kisah kecilku di Klaten kemarin. Sebenernya sejawat dari Purwokerto juga sempat mengontakku untuk berbicara juga di acara IAI cabang Banyumas (nepotisme lagi deh…. hehe) pada hari Minggunya g 18 ini, tapi mohon maaf, aku belum bisa menyanggupi karena kesulitan teknis. Mungkin lain kali deh, kalau waktunya pas.

Akhir minggu ini aku tutup dengan penampilanku ala kadarnya di Majalah Gatra edisi khusus hari hari Kartini. Just for your info about the story behind the picture,… wah…itu motretnya puluhan kali deh, dan dilakukan dua hari dalam berbagai pose dan tempat, sampe kemringet. Kebayang deh jadinya kerja seorang foto model…. pasti gitu juga untuk mendapatkan potret terbaik yang mau ditampilkan. Yah, lumayan sih…. kerja kerasnya cukup terbayar. The picture is not too bad.. hehe.

Sekian dulu tulisan kali ini. Sampai ketemu di next posting.





Maag (baca: mah), saat lambung berulah…

14 04 2010

Dear kawan,

Tulisan ini pesanan seorang sahabat pembaca setia blog ini (hehe…..) yang katanya pernah sakit maag, dan mengamati bahwa aku belum pernah menulis tentang penyakit itu di blog ini (makasih idenya,ya…. maaf agak lama nie nulisnya…. baru sempat).

Hm…… ada yang pernah merasakan perih di perut bagian kiri atas (daerah lambung)? Mual, rasa panas di dada? Mungkin itu adalah sakit maag. Apa itu sakit maag? Kalau kita mencoba searching pada literatur berbahasa Inggris, kita tidak akan menemukan “maag disease”. Kenapa? Yaa, karena istilah “maag” berasal dari bahasa Belanda, “de maag”, yang artinya lambung (maklum, kita banyak menyerap bahasa Belanda sebagai warisan penjajah dulu). Jadi, sakit maag itu artinya sakit lambung. Hanya saja, sakit lambung yang seperti apa?

Ternyata ada beberapa istilah untuk sakit lambung ini dalam bahasa medis. Setidaknya ada dua macam, yaitu gastritis dan tukak peptik (peptic ulcer, atau stomach ulcer). Sakitnya sama-sama di lambung, gejalanya hampir-hampir mirip, tetapi derajat keparahannya sedikit berbeda.

Apa itu gastritis?

 Gastritis adalah radang/inflamasi pada lambung. Radang artinya ada cedera pada lambung yang menyebabkan sel-sel darah putih bermigrasi ke dinding lambung. Dinding lambung juga mengalami pembengkakan. Tetapi gastritis belum tentu berarti ada luka di lambung (tukak peptik).

Apa penyebabnya?

Gastritis dapat disebabkan oleh adanya infeksi, iritasi, gangguan autoimun, atau aliran balik empedu ke lambung. Infeksinya bisa disebabkan oleh bakteri atau virus, sedangkan iritasi lambung bisa disebabkan karena makanan atau obat-obatan. Beberapa obat bisa menyebabkan iritasi lambung, seperti aspirin dan obat-obat anti inflamasi non-steroid (NSAID) seperti diklofenak, piroksikam, fenilbutazon, dll. Makanan yang terlalu asam dan terlalu pedas juga bisa menyebabkan iritasi lambung buat mereka yang peka. Beberapa iritan lambung yang lain antara lain adalah: alkohol, produksi asam lambung yang berlebihan, gangguan muntah kronis, dll. Gastritis bisa terjadi secara tiba-tiba (gastritis akut), atau secara bertahap (gastritis kronis).

Apa gejalanya?

Kadang-kadang tidak ada gejala sama sekali. Namun beberapa gejala yang sering terjadi adalah : cegukan, kurang nafsu makan, mual, muntah, kadang bisa muntah dengan sedkit darah atau cairan seperti kopi, dan bisa pula terjadi warna kehitaman pada feses (tinja). Bagaimana pengobatannya? Pengobatannya bervariasi tergantung penyebab spesifiknya. Jika disebabkan karena penggunaan aspirin atau obat lain, maka hentikan obatnya. Namun pada sebagian besar kasus gastritis, menetralkan asam lambung dengan antasid atau mengurangi produksi asam lambung dengan obat-obat penekan asam lambung biasanya sangat membantu mengatasi gejala. (obat-obatnya sama dengan yang digunakan pada tukak lambung seperti yang dibahas di bawah ini).

Apa itu tukak lambung (stomach ulcer) ?

Ini termasuk jenis sakit lambung yang lebih berat dari gastritis, di mana sudah terjadi tukak atau luka pada lambung. Ada semacam lubang (erosi) pada beberapa bagian dari saluran cerna. Jenis yang paling umum adalah tukak duodenum, yaitu yang terjadi pada usus duodenum (usus 12 jari), kira-kira sekitar 12 inci setelah lambung. Tukak yang terjadi pada lambung itu sendiri disebut tukak gastrik atau tukak peptik (gastric ulcer).

Apa penyebab tukak lambung?

Penyebab langsung tukak lambung adalah adanya kerusakan pada mukosa lambung atau usus halus akibat adanya asam lambung, yang normalnya ada di dalam lambung pada proporsi tertentu. Selain itu, infeksi bakteri Helicobacter pylori juga berperan penting menyebabkan tukak lambung maupun duodenum. Bakteri ini mungkin ditularkan dari orang lain melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Pengobatan yang paling efektif adalah menggunakan antibiotika. Cedera pada permukaan mukosa lambung dan lemahnya pertahanan pada mukosa lambung juga berperan menyebabkan tukak lambung. Sekresi asam lambung yang berlebihan, faktor genetik, dan stress psikologis juga termasuk faktor yang menyebabkan terjadinya dan memberatnya tukak lambung. Sama seperti gastritis, penggunaan obat-obat seperti aspirin atau NSAID lainnya secara kronis juga menyebabkan tukak lambung.

Apa gejala-gejalanya?

Gejala utama tukak lambung adalah panas dan seperti digerogoti pada daerah lambung yang terjadi sekitar 30 min sampai 3 jam. Rasa nyerinya sering ditafsirkan spt rasa terbakar, salah cerna, atau lapar. Nyerinya umumnya terjadi di usus bagian atas, tetapi kadang dapat juga terjadi di bawah tulang dada. Pada beberapa individu, nyeri dapat terjadi segera setelah makan. Pada orang lain, nyeri mungkin tidak terjadi sampai beberapa jam setelah makan. Nyerinya kadang bisa membangunkan orang pada saat tidur malam. Gejala lainnya adalah kehilangan nafsu makan dan turun berat badan. Tapi penderita tukak duodenum mungkin malah akan naik berat badannya, karena ia akan lebih banyak makan untuk mengatasi gejala yang tidak enak di perut. Selain itu, penderita tukak peptik dapat pula mengalami muntah yang berulang, tinja berwarna kehitaman, atau darah pada tinja karena ada perdarahan di lambung, atau anemia karena kekurangan darah, dll.

Bagaimana pengobatannya?

Selain dengan obat, tentu perlu dilakukan upaya-upaya non obat seperti menjaga makanan dengan menghindari makanan yang terlalu asam atau pedas, jangan sampai perut kosong (makan dengan porsi sedikit-sedikit tetapi lebih kerap), dan jangan stress. Stress bukan merupakan kausa atau penyebab, tetapi bisa memperparah kejadian maag.

Tukak lambung yang disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori harus diobati dengan antibiotika yang harus diperoleh dengan resep dokter. Antibiotika yang sering dipakai adalah kombinasi klaritromisin dengan amoksisilin atau metronidazol, yang harus digunakan sekitar 2 minggu. Selain itu, juga dikombinasi dengan obat-obat lain yang bertujuan mengurangi produksi asam lambung, ataupun melindungi permukaan mukosa lambung dari serangan asam lambung. Beberapa obat yang digunakan untuk menetralkan asam lambung dan mengurangi produksi asam lambung antara lain adalah:

1. Antasid

Obat ini umumnya berisi Al hidroksida dan Mg hidroksida, ada juga yang berisi CaCO3 yang bersifat basa, dengan tujuan menetralkan keasaman lambung. Obatnya ada yang berupa suspensi (cairan) dan ada yang berupa tablet kunyah. Untuk obat bentuk suspensi, jangan lupa kocok dahulu sebelum diminum supaya homogen. Untuk tablet kunyah, kunyah hingga halus sebelum ditelan agar efeknya lebih cepat. Sebaiknya tidak dipakai lebih dari 2 minggu, jika nyeri masih berlanjut, periksakan ke dokter.

2. Antagonis histamin H2

Golongan berikutnya adalah yang bekerja memblok reseptor histamin. Histamin adalah senyawa dari dalam tubuh yang bisa memicu sekresi asam lambung. Jika reseptornya diblokade, maka histamin tidak bisa bekerja, dan produksi asam lambung berkurang. Contoh obatnya adalah : simetidin, ranitidin, famotidin, dan nizatidin.

3. Penghambat pompa proton

Obat ini bekerja pada pompa proton yang merupakan tempat keluarnya proton (ion H) yang akan membentuk asam lambung. Karena bekerja langsung di pompa proton, obat ini lebih poten daripada golongan antagonis H2, contohnya adalah: omeprazol, lansoprazol, dan pantoprazol. Obat-obat ini harus diperoleh dengan resep dokter.

4. Pelindung mukosa lambung dan duodenum

Ada obat yang bekerja melapisi permukaan mukosa lambung, sehingga melindunginya dari asam lambung. Contoh obatnya adalah sukralfat.

5. Analog prostaglandin

Obat ini merupakan analog prostaglandin, suatu senyawa yang dibutuhkan untuk perlindungan mukosa lambung. Obat ini menyerupai prostaglandin sehingga meningkatkan pertahanan mukosa lambung. Contohnya adalah : misoprostol.

Tukak lambung perlu mendapat penanganan yang tepat, jika tidak, dapat timbul komplikasi, seperti anemia (kurang darah) atau perforasi (lambung atau usus bocor/berlubang). Tentu akan cukup berbahaya.

Demikian, sekilas info tentang tukak lambung. Semoga bermanfaat.





Pusiiiing…… !!

11 04 2010

Siapa yang belum pernah merasakan sakit kepala atau kita sering menyebutnya pusing? Rasanya setiap orang sudah pernah sakit kepala, baik yang ringan maupun berat, dengan berbagai penyebabnya. Tapi tahukah Anda bahwa sakit kepala ada beberapa jenis? Dan masing-masing memerlukan pengobatan yang sesuai. Postingan ini akan memaparkan macam-macam sakit kepala dan obatnya.

Sakit kepala primer dan sekunder

Sakit kepala dapat digolongkan menjadi sakit kepala primer dan sekunder. Sakit kepala primer artinya sakit kepala itu sendiri yang merupakan penyakit utama, sedangkan sakit kepala sekunder adalah sakit kepala yang disebabkan oleh adanya penyakit lain, misalnya hipetensi, cedera kepala, dll. Termasuk sakit kepala primer adalah :

  • Sakit kepala tegang otot (tension-type headache)
  • Migrain
  • Sakit kepala klaster (cluster headache)

Sakit kepala tegang otot (tension type headache)

Sakit kepala tegang otot adalah jenis yang paling banyak dijumpai, dan mungkin sering kita alami. Sakit kepalanya ada di kedua belah sisi kepala, rasanya menekan, kadang terasa berat dengan nyeri tumpul yang konstan.  Bisa berada di sebelah depan, samping, atau bagian belakang kepala, tapi umumnya bilateral (kedua belah sisi). Sakit kepala jenis ini disebabkan karena adanya otot-otot sekitar kepala yang berkontraksi atau menegang. Biasanya disebabkan karena posisi tubuh yang tidak banyak bergerak, atau berada dalam satu posisi tertentu terlalu lama, atau terlalu banyak membaca, bekerja di depan komputer, terlalu banyak berpikir, dll.

Sakit kepala migrain

Migrain sering dikenal sebagai sakit kepala sebelah. Ya, sakit kepalanya memang umumnya terjadi di sebelah sisi  kepala saja. Jika tension-type headache melibatkan otot kepala, migrain melibatkan pembuluh darah sekitar kepala dalam patofisiologinya, makanya rasanya berdenyut-denyut.  Pada awalnya pembuluh darah berkontraksi (vasokonstriksi), tapi kemudian diikuti dengan pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi).  Ada tahapan-tahapan pada kejadian migrain. Secara umum terjadi seperti berikut ini:

– fase prodrome: suatu rangkaian “peringatan” sebelum terjadi serangan, yang meliputi perubahan mood, perubahan perasaan /sensasi (bau atau rasa), atau lelah dan ketegangan otot

Aura, yaitu gangguan visual yang mendahului serangan sakit kepala. Tidak semua migrain diawali dengan aura. Aura adalah gangguan penglihatan seperti melihat sinar yang berpendar, atau warna-warna yang berbaur, dsb.

Nyeri kepala: umumnya satu sisi, berdenyut-denyut, disertai mual, dan pada beberapa orang mungkin bisa sampai muntah, menjadi sensitif terhadap cahaya dan suara. Sakit kepala ini terjadi selama sekitar 4 – 72 jam.

– Berhentinya nyeri kepala: sebenarnya meskipun tidak diobati, nyeri biasanya akan menghilang dengan sendirinya, misalnya jika dibawa tidur.

Postdrome: tanda-tanda setelah migrain berakhir, seperti tidak bisa makan, tidak konsentrasi, kelelahan

Serangan migrain dapat dipicu oleh berbagai hal, antara lain adalah: panas dan cahaya berlebihan, bau-bauan menyengat, makanan tertentu, terlalu lelah, stress pikiran, faktor hormonal, dll. Pemicunya bervariasi antar indivisu. Beberapa orang akan mengalami migrain menjelang haid, misalnya, orang lain akan kena migrain jika kelelahan, dll. Migrain sebenarnya akan reda dalam sendirinya, tetapi kadang penderita tidak cukup kuat mentoleransi sakit kepalanya, apalagi jika harus tetap beraktivitas, maka diperlukan pengobatan.

Sakit kepala klaster

Sakit kepala jenis ini memang jarang terjadi, sehingga tidak begitu dikenal. Sama seperti migrain, sakit kepala jenis ini tergolong sakit kepala vaskuler, yaitu melibatkan pembuluh darah sekitar kepala. Uniknya, sakit kepala ini lebih terpusat pada sekitar salah satu mata, sampai berair.

Bagaimana pengatasannya?

Untuk semua jenis sakit kepala, jika memang tidak tertahankan, bisa diredakan dengan pereda nyeri (analgesik). Setidaknya bisa mengurangi rasa sakitnya. Macam-macam analgesik bisa digunakan, tapi analgesik yang relatif aman dan banyak dipakai adalah parasetamol, yang tersedia dalam berbagai nama paten (tentang pemilihan analgesik, bisa dilihat di sini). Namun sebelum memutuskan menggunakan obat pereda nyeri, ada baiknya melakukan tindakan-tindakan non-obat untuk meredakan sakit kepala.

Untuk tension type headache, dapat dilakukan relaksasi otot, pemijatan, perubahan posisi tidur atau duduk lebih sering sehingga tidak terpaku pada satu posisi saja, dan cara-cara lain yang sesuai. Untuk migrain, adalah penting untuk mengenali pemicunya, karena setiap penderita mungkin memiliki faktor pemicu yang berbeda-beda. Jika sudah dikenali, maka hindari agar tidak mencetuskan migrain. Jika sudah terjadi serangan migrain, hindari suara bising, cahaya dan panas yang berlebihan, dan sebaiknya dibawa tidur saja.

Khusus untuk migrain dan sakit kepala klaster, jika pereda nyeri saja tidak cukup dan nyerinya sangat mengganggu, memang diperlukan obat lain yang bisa mengkontraksi pembuluh darah sekitar kepala. Jenis obatnya adalah ergotamin dan golongan triptan (sumatriptan), yang bisa dijumpai dalam beberapa nama paten. Tetapi obat-obat ini harus diperoleh dengan resep dokter. Jika kejadiannya cukup sering, misalnya sampai 2-3 kali sebulan, mungkin perlu menggunakan obat untuk pencegahan migrain yang akan membantu mengontrol aliran darah dan aktivitas sistem saraf. Obat untuk pencegahan migrain antara lain adalah golongan beta bloker (propanolol, atenolol), antidepresan trisiklik (spt: amitriptilin, imipramin, dll). Namun obat-obat ini harus diperoleh dengan resep dokter.

Rebound headache

Ada yang perlu diperhatikan dalam hal penggunaan obat analgesik. Penggunaan yang berlebihan justru dapat memicu sakit kepala yang disebut “rebound headache”, yang menyebabkan kita ingin menggunakan obat lebih banyak lagi. Jadi semacam gejala “putus obat”, ketika efek obat habis, mendorong orang untuk minum obat dan minum obat lagi. Siklus ini bisa berkelanjutan sampai akhirnya menjadi sakit kepala kronis yang lebih berat dan lebih sering. Penggunaan analgesik yang berlebihan akan mempengaruhi pusat otak yang mengatur penghantaran rasa nyeri, sehingga menyebabkan nyeri kepala makin memburuk. Jadi sebelum terlanjur, sebaiknya jangan membiasakan mudah minum obat, walaupun sekedar pereda nyeri. Lakukan tindakan-tindakan non-obat lebih dulu. Pengatasan rebound headache adalah dengan mengurangi frekuensi minum analgesik, dan biarkan tubuh Anda beradaptasi dengan rasa nyeri sakit kepala.

Demikian sekilas tentang sakit kepala. Jika sakit kepala disebabkan karena adanya penyakit lain seperti hipertensi, gangguan metabolik, sinusitis, dll, tentu penyakit utamanya itu harus disembuhkan dahulu. Dan kalau sakit kepalanya karena pusing kebanyakan hutang, ya hutangnya dibayar dulu hehe……  Kalau pusing karena mikirin yang enggak-enggak, ya sekarang mikir yang iya-iya saja. Semoga bermanfaat.





Kapan waktu minum obat yang tepat?

3 04 2010

Dear kawan,

Kali ini aku coba sajikan tulisan ringan tentang kapan waktu minum obat yang tepat. Semoga bermanfaat.

 Untuk mendapatkan efek obat yang optimal, obat harus diminum pada waktu yang tepat. Tepat bisa terkait dengan sebelum atau sesudah makan, atau terkait dengan waktu pagi, siang, atau malam. Beberapa obat mungkin bisa diminum setiap saat tanpa mempengaruhi efeknya, sedangkan obat lain sebaiknya diminum pada saat-saat tertentu. Mengapa ada obat yang harus diminum sebelum atau sesudah makan? Pada umumnya orang berpendapat bahwa sebaiknya sebelum minum obat harus makan dulu sebagai “alas”. Tapi benarkah demikian ? Tidak, begini penjelasannya.

Obat adalah suatu senyawa kimia yang memiliki aneka sifat dan efek. Ketika obat diminum, tentu akan melewati lambung dan masuk ke dalam usus. Sebagian kecil obat diserap di lambung, dan sebagian besar adalah di usus halus yang permukaannya sangat luas. Pada dasarnya obat-obat dapat diserap dengan baik dan cepat jika tidak ada gangguan di lambung maupun usus, misalnya berupa makanan. Obat dapat berinteraksi dengan makanan. Uniknya, ada obat-obat yang penyerapannya terganggu dengan adanya makanan, ada yang justru terbantu dengan adanya makanan, dan ada yang tidak terpengaruh dengan ada/tidaknya makanan. Hal ini akan menentukan kapan sebaiknya obat diminum, sebelum atau sesudah makan. Tapi jangan salah, yang dimaksud dengan sebelum makan adalah ketika perut dalam keadaan kosong. Sedangkan sesudah makan adalah sesaat sesudah makan, ketika perut masih berisi makanan, jangan lewat dari 2 jam. Kalau lebih dari dua jam setelah makan, makanan sudah diolah dan diserap, kondisinya bisa disamakan dengan sebelum makan. Antibiotika eritromisin dan amoksisilin misalnya, dan analgetika parasetamol, akan diserap lebih baik jika tidak ada makanan, sehingga lebih baik jika diminum sebelum makan. Sedangkan obat anti epilepsi fenitoin, atau obat hipertensi propanolol misalnya, akan terbantu penyerapannya dengan adanya makanan, sehingga sebaiknya diminum sesudah makan. Selain interaksi dengan makanan secara umum, obat tertentu dapat berinteraksi secara khusus dengan senyawa tertentu dari makanan. Contoh terkenal adalah antibiotika tetrasiklin. Tetrasiklin dapat berikatan dengan senyawa kalsium membentuk senyawa yang tidak dapat diserap oleh tubuh, sehingga mengurangi efek tetrasiklin. Jadi jika tetrasiklin diminum bersama susu, atau suplemen vitamin-mineral yang mengandung kalsium, efek tetrasiklin bisa jadi berkurang. Selain tetrasiklin, ada juga antibiotika golongan kuinolon, seperti siprofloksasin, ofloksasin, yang juga bisa mengikat logam-logam bervalensi dua atau tiga, seperti kalsium, magnesium, dan aluminium. Karena itu, sebaiknya tidak minum obat ini bersama-sama dengan obat-obat yang mengandung logam2 tersebut seperti pada komposisi obat maag (antasid). Jika terpaksa harus menggunakan obat maag (antasid) bersamaan dengan antibiotika tetrasiklin atau golongan kuinolon, sebaiknya diberi selang waktu sedikitnya 2 jam.

Selain interaksinya dengan makanan, sifat suatu obat juga menentukan kapan sebaiknya obat diminum. Beberapa obat tertentu dapat mengiritasi lambung sehingga menyebabkan tukak lambung, atau memperparah sakit maag. Contoh terkenal obat yang termasuk golongan ini adalah aspirin/asetosal, kortikosteroid (deksametason, hidrokortison, dll), dan obat-obat antiradang seperti diklofenak, piroksikam, dll yang sering digunakan untuk obat rematik. Obat-obat ini harus diminum sesudah makan.

Kapan sebaiknya minum obat: pagi, siang atau sore/malam?

Waktu terbaik untuk minum obat tergantung pada jenis obatnya. Di bawah ini adalah waktu minum obat berdasarkan golongan penggunaannya.

1. Obat diabetes dan penguat jantung

Waktu yang terbaik adalah pukul 4:00 – 5:00 pagi.  Tubuh manusia paling sensitif terhadap insulin pada pukul 4-5 pagi, sehingga jika diberikan pada saat itu, efeknya paling baik, walaupun dalam dosis lebih kecil. Efek obat penguat jantung juga lebih tinggi sampai 10-20 kali pada jam tersebut dibandingkan waktu-waktu yang lain. Hal ini karena tubuh manusia juga paling sensitif terhadap digitalis. Ini secara teoritis, mungkin pada prakteknya bisa sedikit bergeser waktunya, misalnya pukul 6 pagi.

2. Obat diuretik (pelancar air seni)

Paling baik digunakan pada pukul 7 pagi. Sangat penting untuk menggunakan obat pelancar seni pada waktu yang tepat karena itu terkait dengan fungsi ginjal dan hemodinamik. Selain itu juga pada umumnya pasien dalam keadaan terjaga, sehingga tidak mengganggu waktu tidur. Obat seperti hidroklortiazid memiliki efek samping yang lebih rendah jika dipakai pada pukul 7 pagi.

3. Penurun tekanan darah (anti hipertensi)

Waktu yang paling baik adalah pada pukul 9-11 pagi. Riset menunjukkan bahwa tekanan darah mencapai angka paling tinggi pada pukul 9-11 pagi, dan paling rendah pada malam hari setelah tidur. Sehingga secara umum, sebaiknya obat antihipertensi diminum pada pagi hari. Perlu hati-hati jika obat anti hipertensi diminum malam hari karena mungkin terjadi penurunan tekanan darah yang berlebihan pada saat tidur.

4. Anti asma

 Waktu yang terbaik adalah pada pukul 3-4 sore. Hal ini karena pada saat itu produksi steroid tubuh berkurang, dan mungkin akan menyebabkan serangan asma pada malam hari. Karena itu, jika steroid dihirup sore hari, diharapkan akan mencegah serangan asma pada malamnya.

5. Anti anemia

Waktu yang paling baik adalah pukul 8 malam. Penggunaan obat anemia seperti Fe glukonat atau Fe sulfat, dll memberikan efek 3-4 kali lebih baik pada waktu itu daripada jika diberikan pada siang hari.

6. Obat penurun kolesterol

Waktu yang paling baik adalah pada pukul 7-9 malam, karena memberikan efek lebih baik.

Namun sekali lagi, paparan di atas adalah panduan umum waktu minum obat. Jika sudah ada aturan pakai dari Apotek, maka gunakan sesuai waktu yang dianjurkan. Satu hal lagi yang penting dalam waktu minum obat adalah interval minum obat.

Perhatikan interval waktu minum obat

Selain waktu minum seperti dipaparkan di atas, penting pula memperhatikan interval waktu minum obat. Maksudnya, jika obat diminta untuk diminum 2 kali sehari, maka interval waktu yang tepat adalah 12 jam. Jadi, jika obat diminum jam 7 pagi, waktu minum obat selanjutnya adalah pukul 7 malam, jangan diminum pagi dan siang. Mengapa? Ini terkait dengan ketersediaan obat di dalam tubuh. Tujuan obat diminum dua kali atau tiga kali, atau yang lain, adalah untuk menjaga agar kadar obat dalam tubuh berada dalam kisaran terapi, yaitu kadar obat yang memberikan efek menyembuhkan. Hal ini tergantung pada sifat dan jenis obatnya. Ada obat yang cepat tereliminasi dari tubuh karena memiliki waktu-paro (half life) pendek, ada yang panjang. Obat yang memiliki waktu paro pendek perlu diminum lebih kerap, sedangkan jika waktu paronya panjang bisa diminum dengan interval lebih panjang, misalnya 1 kali sehari. Nah, jika obat yang mestinya diminum 2 kali sehari diminum pagi dan siang (jarak hanya 6 jam), maka mungkin dapat menumpuk kadarnya dalam tubuh yang bisa memberikan efek tidak diinginkan, sementara interval waktu minum berikutnya menjadi terlalu panjang yang memungkinkan kadar obat dalam darah sudah minimal sehingga tidak berefek.

Demikianlah sekilas info tentang waktu minum obat untuk bisa mendapatkan hasil yang optimal dari penggunaan obat.