Mengenang Ayah

3 06 2009

Dear kawan,

photo papi 1Aku sudah pernah menulis tentang ibuku dan kekuatan doa ibuku yang menjadi salah satu sumber “kekuatanku”. Waktu itu mendekati hari Ibu. Sayangnya tidak ada hari Ayah, sehingga aku belum sempat menulis tentang ayahku, padahal ayah adalah sumber kekuatan hidupku juga. Dalam beberapa hal, peran ayah bahkan lebih daripada ibu, terutama dalam hal menopang semua kebutuhan kami sekeluarga. Dua hari yang lalu adalah peringatan seribu hari wafatnya ayah (aku baru sempat menulis sekarang). Mengenang ayah selalu membuat mataku jadi basah………

Bulan September 2006. Aku sedang dalam kesibukan dengan intensitas tinggi. Fakultas Farmasi sedang punya 3 gawe besar dalam waktu berdekatan, di mana aku terlibat secara intens di dalamnya. Yaitu Lustrum Fakultas, International Symposium on Recent Progress of Curcumin Research, dan menyambut visitasi Program Hibah Kompetisi (PHK) B. Yang terakhir itu adalah bentuk skema pendanaan dari DIKTI untuk pengembangan institusi yang harus diperebutkan secara kompetitif. Kebetulan saat itu aku menjadi Ketua Task Force dalam penyusunan proposal PHK-B.

Aku ingat benar, siang itu aku sedang rapat persiapan visitasi PHK-B, bahkan sedang bicara di forum tersebut, ketika telepon selulerku berbunyi. Hm… dari nomer telepon ibu di rumah. Aku angkat. Terdengar suara ibu terbata-bata di sana….,”..Lies,…. Papi wis ora nana…” kata itu dalam bahasa Jawa memberitakan bahwa Ayah sudah berpulang. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Aku langsung lemas. Aku sampaikan pada pertemuan itu bahwa ayahku berpulang dan aku minta ujin keluar dari forum rapat karena akan mengabari adik-adik dan suamiku. Akupun menyetir pulang dengan hati sedih dan mata berkaca. Dan sorenya kami sekeluarga segera berangkat ke Purwokerto.

Tentang Ayah

Ayah adalah sumber semangatku untuk meraih pencapaian terbaik. Aku selalu senang dengan senyum lebar ayah ketika kusampaikan hasil-hasil belajarku yang memuaskannya. Paling tidak  kerja keras ayah untuk membiayai sekolah kami sedikit “terbayar”, walau Ayah tentu tak pernah meminta balasan, dan aku pun tak kan sanggup membayar semua kasih sayang dan kerja keras Ayah untuk kami semua. Makanya aku paling gemes dan prihatin jika melihat generasi muda yang menyia-nyiakan hidupnya dengan tindakan-tindakan bodoh yang mencelakakan dirinya. Tidakkah mereka mengingat betapa orang tua membanting tulang untuk menopang hidupnya?

Ayah sangat sayang kepada kami semua anak-anaknya, bahkan kadang terkesan berlebih. Hal ini karena ayah memiliki kehidupan yang keras sejak kecil, ia yatim piatu pada usia sangat muda, dan dirawat kakak sulungnya. Beliau tak ingin anak-anaknya mengalami penderitaan dan kekurangan seperti yang dialaminya dulu.

Ayah seorang pekerja keras, pandai berpidato (beliau dulu aktivis suatu partai politik masa orde baru yang harus sering berkampanye), humoris, tapi di sisi lain beliau agak tertutup/pendiam, tak pernah mau menyusahkan keluarga. Ayahku juga pandai menyanyi lho… dan ayah juga pandai, kreatif dan inovatif. Beliau pernah mendapat penghargaan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden (Soeharto waktu itu) atas prestasinya dalam bekerja (waktu itu menjadi Camat di sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas). Ada beberapa sifat ayah yang nampaknya kuwarisi…… antara lain suka menyanyi…

Ada yang unik tentang interaksiku dengan ayah (dan ibu) dalam hal bahasa. Kami (aku dan adik-adik) berbahasa Indonesia dengan ayah, bahkan memanggilnya Papi. Sedangkan dengan ibu, aku dan adik-adik berbahasa Jawa (bahkan bukan bhs Jawa yang halus), dan memanggilnya Ibu. Itu ada ceritanya. Waktu kecil aku tinggal di sebuah kecamatan kecil tempat ayah menjadi camat. Aku tidak bisa dan tidak biasa berbahasa Indonesia. Waktu aku masuk TK di kota (kalian tahu, kawan….. ayah selalu mencarikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya, walau jauh di kota ditempuh juga), aku tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik di sekolah. Karena itu bu guru minta agar aku dilatih berbahasa Indonesia di rumah. Jadilah di rumah aku dibiasakan berbahasa Indonesia dengan ayah, bahkan memanggil beliau Papi (kalau yang ini sih karena ketularan temanku yang putranya kenalan ayah juga yang memanggil ayahnya Papi). Dan malah keterusan sampai kami dewasa….. hehe…

Kawan,

Meskipun sedih, kami mengikhlaskan kepergian ayah. (Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima semua amal baiknya semasa hidup, ayah diberi kenikmatan di alam barzah, dan Insya Allah dijauhkan dari api neraka. Amien). Ayah berpulang setelah serangan stroke-nya yang ke-empat, yang telah membuat beliau banyak kehilangan daya hidupnya. Tidak kuasa berjalan lagi, bahkan tidak bisa bicara, sangat tergantung pada orang lain, tentu rasanya berat dan sedih. Ayah sering terlihat diam saja dan melamun. Kami agak serba salah, jika hendak “menasihati” ayah untuk bersabar dan istighfar…  Betapa tidak, beliau-lah yang selama ini selalu menasihati kami… Kalau sudah begitu, kami mencoba menghibur saja dengan cerita-cerita yang menyenangkan tentang cucu-cucu, atau apalah. Kalau ayah bisa tersenyum atau tertawa, rasanya senang sekali…

Serangan stroke

Aku ingat, ayah mendapat serangan stroke-nya yang pertama pada tahun 1992. Waktu itu aku masih kuliah tingkat akhir, dan ayah masih harus wira-wiri Purwokerto – Semarang, karena beliau bertugas di Semarang, sementara keluarga masih di Purwokerto. Beliau sempat dirawat di RS selama dua mingguan. Sejak itu cukup lama terkontrol. Aku tidak ingat persis kapan serangan kedua dan ketiganya, tapi nampaknya relatif masih ringan. Ayah masih rajin jalan kaki setiap pagi. Sampai kemudian terjadi serangan terakhirnya, yang cukup berat dan  membawa beliau berpulang setelah beberapa bulan tidak berdaya.

Stroke bisa berulang

Stroke adalah gangguan pada pembuluh darah di otak yang menyebabkan sel-sel saraf kekurangan oksigen dan nutrisi dan akhirnya mati. Gangguan itu bisa penyumbatan pembuluh darah (disebut stroke iskemi) atau karena pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragi). Sudah pernah kutulis some where in my blog sedikit tentang stroke ini. Stroke yang dialami ayah adalah jenis stroke iskemi. Terjadi penyumbatan pada pembuluh darah otak sebelah kanan, sehingga menyebabkan kematian sel-sel syaraf tertentu, yang menyebabkan gangguan fungsi tubuh sebelah kiri. Manifestasi stroke bisa bervariasi satu orang dengan yang lain, tergantung saraf mana yang mengalami gangguan atau kematian.

Sekali seorang terkena stroke, ada risiko untuk terkena serangan berikutnya jika tidak dijaga dengan baik. Apalagi jika ada penyakit penyerta lain yang bisa berkontribusi meningkatkan faktor risiko, seperti hipertensi atau diabetes, seperti yang diderita ayah. Tiga penyakit ini kompak benar… sering berada bersama-sama….

Bagaimana mencegah berulangnya stroke?

Pasca pengatasan dari serangan stroke, seorang pasien umumnya perlu menjalani pengobatan seumur hidup dengan terapi yang diistilahkan sebagai terapi pemeliharaan. Selain dengan pengaturan makanan yang baik, olahraga, dan perbaikan pola hidup lain (berhenti merokok, alkohol, stress, dll), maka ada obat-obat yang harus diminum secara teratur. Obat itu biasanya ditujukan untuk menjaga darah agar tetap “encer”, dengan obat-obat pengencer darah seperti aspirin, dipiridamol, tiklopidin, atau klopidogrel. Obat ini harus digunakan secara teratur, walaupun tidak ada serangan atau tidak terasa ada keluhan apa-apa. Seringkali orang kehilangan kepatuhan minum obat ketika badan merasa enak.., padahal kelalaian minum obat itu justru berisiko menimbulkan kekambuhan.

Selain obat-obat pengencer darah, semua kondisi yang meningkatkan risiko kekambuhan juga harus dijaga, terutama tekanan darah. Umumnya pasien juga harus mengkonsumi obat-obat anti hipertensi dalam waktu lama. Jika ia terkena Diabetes juga, seperti ayah, tentu juga harus dikontrol dengan obat-obat diabetes. Kadar gula yang tinggi dalam darah dapat menyebabkan darah menjadi lebih kental. Ini berisiko untuk menyebabkan sumbatan pembuluh darah, apalagi jika faktor-faktor lain tidak terjaga.

Memang tidak mudah, terutama menjaga faktor makanan, seperti ayah. Ayah suka makan enak. Aku ingat dulu waktu aku masih SD dan SMP, aku senang sekali jika dijemput ayah, karena sepulang sekolah selalu diajak makan di restoran di depan alun-alun . Sekedar minum es kopyor atau es durian kesukaanku, dan mie bakso. Jadi walaupun ayah rajin minum obat, rajin kontrol ke dokter, tapi kadang ibu kewalahan juga jika ayah ingin makan sesuatu yang mestinya dipantangkan. Kadang ayah patuh, tapi kadang juga ingin makan makanan yang enak. Bayangkan, apa enaknya makan yang tanpa gula, tanpa garam ?…. hm….

Begitulah, kawan..

Walaupun semuanya tentu sudah digariskan Allah, tentu ada yang bisa kita ambil pelajarannya. Terutama bagi kami anak-anaknya yang “mewarisi” gen untuk penyakit hipertensi dan diabetes, perlu lebih hati-hati menjaga kesehatan. Dan selain secara fisik dengan menjaga pola makan, olahraga, dll, menjaga kesehatan itu bisa dengan menjaga perilaku keseharian, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, mengurangi dosa sebanyak-banyaknya, sehingga Allah berkenan menumpahkan rahmatNya sebanyak-banyaknya pula dan menghindarkan kita dari aneka penyakit. Dan semoga kami anak-anaknya bisa menjadi tabungan pahala untuk Ayah. Insya Allah. Amien.

Demikian tulisan in memoriam ku untuk ayah…

“Papi, saya sayang papi…… Semoga Papi berbahagia di alam barzah, dan Insya Allah kita dapat bertemu di Firdaus kelak. Amien….”

Iklan

Aksi

Information

3 responses

8 07 2010
pharus

Ayahku (1994, Agustus), Ibuku (2009, 23 Oktober), kakaku yang tertua (2010, 23 Mei) …. semuanya aku tak kuat mengingatmu, kebaikan kakaku yang menjadi Ayah kedua, menopang dan membiayai keperluan sekolah adik-adiknya.

Maafkan aku wahai kakaku, sewaktu engkau sms aku “kalo misal bsk gw mati. Dada gw sakit nh to” .. smsmu hingga kini ak simpan baik-baik semoga tidak ikut terhapus. Menyesal hatiku, kala sore istriku mengajak menengokmu yang waktu itu sakit. Ak sibuk bekerja padahal bisa aku luangkan. Magribnya berita kepergianmu untuk selamanya kudengar dari suara telpon yang masuk ke hpku. ….terdiam sesaat….

Prihatinku saat kepergianmu tak satupun anak dan isterimu menengok saat engkau seharian di kamar kala itu. Menurut tetangga kakaku telah menghembuskan nafas 1 atau 2 jam sebelum diketahui. Semoga ini membuat isterimu sadar, kepergiannya adalah tanda hilangnya penderitaan sakitnya yang tak kunjung engkau rawat layaknya kewajiban seorang isteri.
Janganlah karena beda prinsip membuat kehidupan berumah tangga membuatmu lupa.

Kini yang kulakukan mengikhlaskan semuanya, mendoakan mereka untuk diampuni segala salah dan dosa selama masa hidupnya. ALLOH ya robb ampunilah mereka semua sebagaimana mereka pernah berbuat baik kepadaku, kepada kedua orangtuanya dan kepada sesamanya.

Semua ini coretan dan perasaanku ku tuangkan dimana aku bisa menulisnya. Maafkan jika ada yang tidak berkenan … Yang terpenting janganlah lupa mengingat kematian sewaktu-waktu dia akan menghampiri kita. Hanyalah ketaqwaan kepada ALLOH, menjalankan perintahNya, menjalankan amal sesuai tuntunan Rosulullah SAW pastilah mudah kita dipertmukan di Surga. Amin……

Terima kasih buat yang mau menerima tulisanku yang sekedar mampir ini.

4 06 2009
FITRIA NUR HIDAYAH

Assalamu’alaikum Bu Zullies…

Saya FITRIA NUR HIDAYAH, mahasiswi farmasi UGM semester 4 (angkatan ’07) asli SOLO dengan ‘the spirit of java’nya…. 🙂 (Kenalan dulu ya bu’ coz katanya “ga’ kenal maka tak sayang ;p”)
Ga’ tau sejak kapan, tapi yang jelas baru-baru ini, saya termasuk salah satu “penikmat” blog ibu’… Memang ga’ salah kalo orang bilang “dunia maya tu sangat luas dan banyak kisah di dalamnya” termasuk kisah ibu’ yang bikin nie bibir tertarik 2 cm ke kanan and ke kiri =) Biasanya sich cuma jadi pembaca pasif aja, tapi saat baca artikel ibu’ yang satu ini rasanya nie tangan gatel pengen ikutan nimbrung cerita…
Alhamdulillah, bu’… saya punya ayah ibu’ yang masih komplit dan segala anugerah dari-Nya yang tak kan tergadaikan dengan uang… Saat baca artikel ibu’, saya jadi teringat ibu’ saya yang ada di solo(sama bapak saya juga tentunya –saya tidak memanggil ayah atau papi, rasanya lebih enak manggil dengan sebutan bapak:p -). Kenapa yang teringat ibu’ saya duluan??? karena tiba-tiba saja terbersit dalam benak saya dulu ketika melihat air mata ibu saya menetes di pipi beliau setelah operasi yang dijalani kakak saya, dan tidak lama kemudian, kira-kira satu minggu setelahnya- nenek saya (ibu’nya ibu’) juga menjalani operasi. Rasanya hati ini miris… tapi ga’ tau mau berbuat apa saat itu… Saat itu akhir bulan desember tahun lalu, mendekati tahun baru, dan pastinya tidak ada salju yang turun di bulan desember di Indonesia… Kakak saya dijadwalkan operasi karena ada radang di hidungnya atau sinusitis. Sinusitis merupakan peradangan yang gawat atau yang berlangsung lama (kronis) pada sinus, yaitu rongga-rongga dalam tulang yang berhubungan dengan rongga hidung (David Werner, 2000) -definisi ini bukan menggurui lho bu’ cuma pengen ngasih rujukan buku saja, pastinya ibu’ lebih mengerti tentang sinusitis- Dokter mengatakan kalau kakak harus segera di operasi karena radangnya sudah ‘kaseb’ dan ada nanah di daerah sinus yang harus segera diambil dengan jalan operasi. Alhamdulillah, operasi berjalan lancar… Namun, ada bengkak di daerah pipi kakak dan saat ibu’ melihat wajah kakak tiba-tiba saja ibu’ ke kamar mandi dan menangis (ibu’ menahan tangis, ketika di depan semua orang…. Tapi… I know that she’s so distressed… Huwa, mom luph u …) Saya emang biasa saja saat melihat kakak saya,, (kakak saya kan cowok, pasti kuat) tapi saat melihat ibu’, jadi pengen nangis juga…. Dan lebih pengen nangis lagi coz ga’ bisa berbuat apa-apa…. Mau menghibur…rasanya anegh soalnya budaya jawa yang sangat kental dalam keluarga yang harus hormat ma orang tua -kalau di rumah pake’ bahasa jawa ‘kromo’ ma bapak ibu’- … Sebenarnya menghormati bukan berarti membatasi atau menjadi tembok pemisah. Namun, saat ini saya belum bisa menghancurkan tembok itu meski kaki dan tangan ini udah pengen merobohkannya… Tidak salah kalo orang bilang “kasih ibu… kepada beta… tak terhingga sepanjang masa…hanya memberi … tak harap kembali… bagai sang surya … menyinari dunia…” He5 numpang nyanyi bu’…

Last but not least, I just wanna say to Mom Zullies (n others) that …

“we know more than we think, n worth more than we know (Anonim)”

Makasih, bu’ coz bisa ikut corat-coret di blog ibu’(panjang lagi…he5) ….. ;p

Werner, David. 2000. Apa yang Anda Kerjakan bila Tidak Ada Dokter. Yayasan Essentia Medica, Yogyakarta.

Jawab:
Halo, Fitria… boleh kok kok corat-coret di blog ini…. Ini kan mimbar bebas.. hehe…
Thanks atas ceritanya…

3 06 2009
lutfichabib

Salam Prof. Zullies…
wah… tulisan kali ini membuat saya berkaca2 dan menetes air mata (Tidak bermaksud berlebihan, pastinya saya dan semua orang bakal melewati fase ini juga… semoga bisa dijadikan gambaran bagi mereka yang masih bisa melihat kedua ortunya agar dapat memberikan yg terbaik disaat masih ada),
untuk bu Zullies, saya yakin pasti sekarang papinya dalam kondisi bahagia di alam sana, dimana ada sebuah amalan tidak pernah terputus hingga hari akhir kelak (Ilmu Bermanfaat) dilakukan putrinya yg kini jadi Professor untuk mengangkat derajat Ilmu setiap Mahasiswa2nya.
Semoga kelak bisa megikuti langkah jejak bu Zullies.
Wah bu… sepertinya tulisan ini bakal mengantarkan saya buat nengok bapak emak di kampung, sepulang dari luar kota dan kesibukan lain.
Terimakasih Bu Zullies, kami berdoa semoga Ilmu Bermanfaat ini bisa menjadikan amalan tak terputus papinya… Amin…

Jawab;
Terimakasih, mas Lutfi, atas doanya dan atensi-atensinya pada blog sederhana ini. Semoga sukses selalu dan jadi kebahagiaan bagi orang tua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: