Mengenal Dekstrometorfan, obat batuk yang sering disalahgunakan

30 05 2014

Dear kawan,

DEXTROMETHORPHANBarusan beredar kabar bahwa mulai 30 Juni 2014, semua produk obat yang mengandung dekstrometorfan harus ditarik dari pasaran. Penarikan ini disampaikan oleh Direktur Pengawasan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Badan POM Sri Utami Ekaningtyas, pada diskusi bertajuk “Penarikan Zat Berbahan Dekstrometorfan Tunggal”, di Jakarta, Senin (26/5/2014) petang. Sebenarnya Badan Pengawas Obat dan Makanan, pada Juli 2013 telah mengeluarkan surat penarikan obat yang mengandung dekstrometorfan sediaan tunggal dari pasaran, dan memberikan waktu satu tahun kepada industri Farmasi untuk menarik produk-produknya. Nah, saat ini hampir satu tahun sejak pengumuman diedarkan, maka akhir Juni besok merupakan batas akhir penarikannya.

Apa sih dekstrometorfan itu? Seberapa membahayakan sampai harus ditarik dari peredaran padahal sudah bertahun-tahun digunakan sebagai obat batuk dan menjadi komponen obat flu yang sangat banyak beredar di pasaran?

Deskripsi Dekstrometrofan

Pertama kali diperkenalkan di pasar pada tahun 1950-an di Amerika, Dekstrometorfan (DMP) merupakan obat penekan batuk (anti tusif) yang sangat populer dan selama ini dapat diperoleh secara bebas, dan banyak dijumpai pada sediaan obat batuk maupun flu. Indikasi obat ini adalah untuk batuk kering atau batuk tidak berdahak. Dosis untuk dewasa adalah 10-20 mg secara oral setiap 4 jam atau 30 mg setiap 6-8 jam dengan dosis maksimal 120 mg/hari. Dosis anak-anak usia 6 – 12 tahun adalah 5-10 mg per-oral setiap 4 jam atau 15 mg setiap 6-8 jam dengan dosis maksimum 60 mg/hari. Untuk usia 2-6 tahun, dosisnya 2.5-5 mg per-oral setiap 4 jam atau 7.5 mg atau setiap 6-8 jam dengan dosis maksimum 30 mg/hari. Efek anti batuknya bisa bertahan 5-6 jam setelah penggunaan per-oral. Jika digunakan sesuai aturan, obat ini relatif aman, jarang menimbulkan efek samping yang berarti. Efek samping yang banyak dijumpai adalah mengantuk.

Bagaimana mekanisme kerjanya?

Dekstrometorfan (DMP) adalah suatu senyawa turunan morfin, yang memiliki nama kimia/IUPAC (+)-3-methoxy-17-methyl-(9α,13α,14α)-morphinan, suatu dekstro isomer dari levomethorphan. Senyawa ini cukup kompleks karena memiliki kemampuan untuk mengikat beberapa reseptor, sehingga juga diduga memiliki banyak efek.

Ikatan DMP pada beberapa reseptor

Ikatan DMP pada beberapa reseptor

Mekanismenya sebagai penekan batuk (anti tusif) diduga terkait dengan kemampuannya mengikat reseptor sigma-1 yang berada di dekat pusat batuk di medulla dan terlibat dalam pengaturan refleks batuk. Fungsi fisiologis reseptor sigma-1 masih banyak yang belum diketahui, tetapi aktivasi reseptor sigma-1 salah satunya memberikan efek penekanan batuk. Reseptor sigma semula diduga merupakan subtipe dari respetor opiat, namun penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa ia merupakan reseptor non-opiat, walaupun dapat diikat juga dengan beberapa senyawa turunan opiat.

Selain merupakan agonis bagi reseptor sigma, DMP adalah antagonis reseptor NMDA (N-Methyl D-aspartat) yang berada di sistem syaraf pusat. Dengan demikian efek farmakologi DMP, terutama jika pada dosis tinggi, menyerupai PCP (phencyclidine) atau ketamin yang merupakan antagonis reseptor NMDA. Antagonisme terhadap reseptor NMDA dapat menyebabkan efek euforia, antidepresan, dan efek psikosis seperti halusinasi penglihatan maupun pendengaran. Didukung dengan mudahnya didapat dan harganya yang murah, hal inilah yang menyebabkan DMP menjadi obat yang sering disalahgunakan dalam dosis tinggi. Penyalahgunaan DMP ini sudah cukup luas dan saat ini telah mencapai tahap yang mengkuatirkan, dan inilah yang “memaksa” BPOM mengumumkan penarikannya dari pasaran. Di California (USA), penyalahgunaan DMP ini marak mulai tahun 2000-an.

Apa efeknya kalau overdosis?

Penggunaan dosis tinggi DMP bukannya tanpa masalah. Selain memberikan efek behavioral, intoksikasi atau overdosis DMP dapat menyebabkan hiper-eksitabilitas, kelelahan, berkeringat, bicara kacau, hipertensi, dan mata melotot (nystagmus). Apalagi jika digunakan bersama dengan alkohol, efeknya bisa sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Demikian pula jika dipakai bersama dengan obat lain seperti dalam komposisi obat flu, jika dipakai dalam dosis 5 – 10 kali dari yang dianjurkan akan mempotensiasi dan menambah efek toksiknya.

Dalam hal efek terhadap perilaku (behavioral effects), penyalahguna DMP menggambarkan adanya 4 plateau efek yang tergantung dosis, seperti berikut:

Plateau Dose (mg) Behavioral Effects
1st 100–200 Stimulasi ringan
2nd 200–400 Euforia dan halusinasi
3rd 300– 600 Gangguan persepsi visual dan hilangnya koordinasi motorik
4th 500-1500 Dissociative sedation

 

Perlu kewaspadaan

Dengan paparan di atas sudah cukup jelas efek dekstrometorfan dan mengapa harus dibatasi penggunaannya. Dekstrometorfan tentunya masih bisa digunakan sebagai antitusif, tetapi harus diperoleh dengan resep dokter dan digunakan sesuai dosis yang direkomendasikan. Perlu kewaspadaan kita semua untuk berhati-hati dalam penggunaan dekstrometorfan di masyarakat.

Semoga bermanfaat.

 

Sumber bacaan:

http://www.who.int/medicines/areas/quality_safety/5.1Dextromethorphan_pre-review.pdf

http://physiology.elte.hu/gyakorlat/cikkek/The%20pharmacology%20of%20cough.pdf

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1574192/





Catatan perjalanan : Perjalanan hati ke Tanah Suci..

11 05 2014

Dear kawan,

Kupenuhi panggilanMu, ya Allah..

Kupenuhi panggilanMu, ya Allah..

Sudah beberapa perjalanan keluar kota terlewatkan untuk aku tulis karena tak sempat menuliskannya, tapi untuk perjalanan kali ini aku ingin mendokumentasikannya untuk pribadi.. karena ini sebuah perjalanan yang tidak sekedar jalan-jalan melihat suasana, tetapi sebuah perjalanan religi yang penuh makna.. Yah, perjalanan ke Tanah Suci dalam ibadah umroh tentu membawa suasana hati tersendiri.. Sebuah perjalanan spiritual recharging setelah hampir 10 tahun berlalu sejak kami berhaji awal tahun 2005 yang lalu.

Keinginan untuk ibadah umroh sudah ada sejak pertengahan tahun 2013, tapi baru pada akhir bulan Januari 2014, kesempatan itu datang ketika sebuah informasi menghampiri bahwa kawan kantor suamiku akan berangkat umroh bulan April ini. Segera kami meminta informasi detail agar bisa bergabung, dan singkat cerita kebetulan masih ada space untuk dua orang dan jadilah kami bergabung bersama Koperasi Anggrek Mekar di Minomartani sebagai koordinator jamaah dari Jogja. Kami menggunakan pelayanan dari agen haji dan umroh Tisa Tour Jakarta. Setelah sempat ada pengunduran jadwal dari jadwal semula, jadilah kami berangkat pada tanggal 28 April s/d 7 Mei 2014.

Persiapan pemberangkatan

Minggu terakhir sebelum berangkat aku mulai sibuk dengan aneka persiapan, terutama terkait dengan pekerjaan. Kebetulan tanggal 28 Mei adalah tanggal deadline pengumpulan aneka proposal penelitian dan pengabdian masyarakat yang didanai oleh Dikti. Jadi lumayan berkejaran dengan waktu untuk menyiapkan aneka macam sebelum pergi. Selain urusan pekerjaan, tentu urusan perlengkapan pribadi juga disiapkan. Tidak lupa vaksinasi meningitis yang memang diwajibkan. Saat menjelang berangkat, berita mengenai wabah virus MERS (middle east respiratory syndrome) mulai merebak. Beberapa kawan mengingatkan untuk berhati-hati menjaga kesehatan terkait dengan virus MERS, dengan menyiapkan masker, vitamin C, dan obat imunostimulator. Jadilah aku juga menyiapkan masker secukupnya dan obat mengandung Echinacea. Kami sudah tidak sempat lagi vaksinasi influenza karena sudah terlalu mepet waktunya. Salah seorang sejawat senior bahkan menyarankan mengkonsumsi isoprinosine, suatu imunomodulator yang sekaligus berefek antiviral untuk berjaga-jaga. Sayangnya saran beliau baru aku terima ketika sudah transit di Jakarta, dan ketika bela-belain mencari di dua apotek terdekat dengan hotel transit, tak ada apotek yang punya obat tersebut… Ya udah, bismillah…. semoga sehat-sehat saja… Aku sempat terpikir untuk mencari lagi setelah sampai di Madinah saja (tapi ternyata ketika sampai sana juga tidak tersedia).

Long way to Madina: Pak Mintardi

Bersama Pak Mintardi di bandara Soetta

Bersama Pak Mintardi di bandara Soetta

Akhirnya setelah menunggu cukup lama sejak jam 3 pagi di bandara Soetta sambil mengurus bagasi, pembagian paspor dan boarding pass, dll, pesawat Saudia Airlines siap membawa kami menuju Madinah dengan penerbangan langsung Jakarta – Madinah. Di Bandara Soetta kami bertemu dengan jamaah umroh Tisa Tour dari kota-kota yang lain, yang semuanya berjumlah 240 jamaah. Salah satu jamaah dari Minomartani cukup menarik perhatianku.. Beliau kurus kecil dengan penampilan sederhana. Usut punya usut, beliau ternyata adalah tukang rongsok yang mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk bisa ikut umroh… Subhanallah…! sungguh pelajaran kecil yang indah tentang niat kuat seseorang yang berpadu dengan ijinNya… Pak Mintardi, begitu namanya, berupaya dengan cara menggunakan uang hasil rongsokannya untuk menyewa lahan dan ditanami buah dan sayuran.. Dari situlah ia mengumpulkan dan menabung untuk bisa ibadah umroh… Malulah kita yang diberi kelebihan materi jika kalah dengan niat kuat pak Min untuk beribadah umroh…

Perjalanan Jakarta-Madinah ditempuh dalam waktu 9 jam. Yang menarik, karena perjalanan pada siang hari dan menuju ke barat, maka waktunya menjadi siang terus dalam perjalanan. Kami berangkat pukul 8:50 WIB dan mendarat di Bandara Madinah pada pukul 14.00 waktu setempat. Yang agak kurang nyaman di pesawat Saudia Airlines adalah pengaturan tempat duduk yang kayaknya urut abjad atau entah bagaimana, sehingga antar keluarga atau pasangan suami istri bisa duduk terpisah jauh. Walau dimungkinkan untuk bertukar tempat duduk setelah di pesawat, tapi tentu itu tidak mudah jika tidak ada yang mau bertukar. Mbak dan mas pramugarinya juga kayanya agak kesal kalau penumpangnya pada seliweran di dalam pesawat mencari keluarga atau rombongannya… Tapi untunglah, ternyata penumpang di sebelahku pindah karena mau mendekati keluarganya dan ada tempat duduk yang kosong, sehingga aku bisa minta suami untuk duduk di sebelahku selama dalam perjalanan ke Madinah.. Alhamdulillah…

Madinah al munawarah : Raudhah

Suhu udara sekitar 34 derajat celcius menyambut kami di Madinah. Cuaca kering dan panas segera terasa walau sudah kami duga sebelumnya. Setelah melalui antrean panjang di imigrasi, akhirnya kami dibawa menuju hotel menggunakan bus. Oya,.. masalah antrean adalah salah satu yang harus disiapkan secara mental hehe… mau makan antre, ke toilet antre, masuk dan keluar masjid antre.. Hotel kami yaitu Al Eiman Taibah cukup nyaman dengan jarak sekitar 250 m dari masjid Nabawi.

Di masjid Nabawi menjelang dhuhur, payung terbuka menaungi

Di masjid Nabawi menjelang dhuhur, payung terbuka menaungi

Akhirnya untuk pertamakalinya di Madinah aku menginjakkan kaki di masjid Nabawi lagi untuk sholat maghrib.. (dulu pernah ke sini pada saat berhaji tahun 2005). Ada rasa haru menyeruak dan matapun membasah.. Begitu besar rasa syukurku masih diijinkanNya kembali menginjakkan kaki pada Masjid indah dan megah peninggalan Rasulullah SAW.. Masjidnya besar dan indah, dengan banyak pilar-pilar di luarnya yang pada siang hari akan terbuka menjadi payung yang menaungi dari teriknya matahari Arab. Air zam-zam melimpah di dalam gentong-gentong plastik di dalam masjid dan bisa diminum kapanpun dan berapapun.. Keutamaan masjid Nabawi adalah nilai pahalanya yang 1000 kali jika beribadah di tempat ini dibandingkan dengan di tempat lain (kecuali Masjidil Haram yang 100.000 kali). Berada bersama ribuan orang dari berbagai penjuru dunia membuat diri merasa sangat kecil tak berdaya.. Masjidnya besaar.., jika sudah masuk ke dalam harus nambah doa supaya tidak batal wudhu atau pengen pipis hehe… karena kalau batal harus keluar lumayan jauh di toilet-toilet yang ada di halaman masjid…

Di antara semua tempat di Masjid Nabawi, ada satu tempat favorit di Masjid Nabawi yang menjadi rebutan banyak orang untuk dikunjungi, yaitu Raudhah. Apa sih istimewanya? Raudhah dalam bahasa Indonesia adalah taman, yang maksudnya adalah taman Syurga atau taman Nabi. Dulunya, Raudhah merupakan ruang di antara mimbar dan kamar rasulullah SAW di dalam Masjid Nabawi. Raudhah merupakan tempat dengan luasan berukuran 22 x 15 m, bersebelahan dengan makam Nabi SAW, yang diimani sebagai tempat yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah bersabda: “Antara mimbarku dan rumahku merupakan taman dari taman-taman syurga” (HR. Al Bukhari & Muslim). Saat ini Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau, yang membedakannya dengan area masjid Nabawi yang lain yang berkarpet merah. Di sana kita bisa sholat sunnah atau berdoa.

Tidak mudah untuk mendapat giliran masuk Raudah terutama bagi wanita, karena dibatasi oleh waktu-waktu tertentu, yaitu pada pagi hari jam 8 – 10 pagi, siang sehabis dhuhur sampai jam 15, dan malam selepas isya sampai tengah malam. Itu pun harus bergiliran dengan ratusan atau bahkan ribuan jamaah yang lain, sampai-sampai petugas di Masjid Nabawi menerapkan giliran berdasarkan negara asal untuk masuk ke sana. Alhamdulillah, aku mendapatkan dua kali kesempatan masuk, sekali di waktu dhuha, sekali lagi di tengah malam. Bisa sholat dan berdoa di Raudhah, wuih..jangan tanya apa yang kurasakan…. nangis bombay deh… memohon segala macam sama Allah… Bicara tentang doa, menurutku tempat yang mustajab adalah salah satu faktor saja dari terkabulnya doa kita. Yang utama adalah iman, keyakinan, kesungguhan dan amal sholeh kita. Insya Allah, Ia akan tetap mengabulkan doa kita dari mana saja selama kita bersungguh-sungguh memohon dan meyakini kekuasaanNya.

Setelah tiga hari merasakan nikmatnya beribadah di Masjid Nabawi, akhirnya kami harus meninggalkannya untuk beralih ke Mekkah. Kami sempat juga mengunjungi beberapa tempat bersejarah di sekitar Madinah, seperti Masjid Quba dan Jabal Uhud, serta beberapa tempat menarik seperti Jabal magnet dan Kebun Kurma. Oiya, makanan di hotel enak-enak dan berselera Indonesia. Aku terpaksa gagal ber-diet karena harus jaga kesehatan …( alasan hehe…)

Mekkah Al Mukaromah : MERS

Perjalanan ke Mekkah kami mulai pada hari keempat pada siang hari selepas dhuhur. Bapak-bapak sudah diminta mengenakan kain ihrom karena kami akan langsung menuju Bir Ali untuk mengambil miqot (batas mulainya) untuk umroh. Perjalanan Mekkah – Madinah cukup melelahkan menggunakan bus selama 6 jam. Jalannya lurus dan datar, dengan pemandangan bukit-bukit batu yang tandus dipadu dengan hamparan tanah pasir. Kalau sudah begitu jadi teringat tanah air yang ijo royo-royo… alangkah bersyukurnya hidup di Indonesia yang subur makmur…

Yang menarik, sepanjang perjalanan dan termasuk di sekitar Mekkah nantinya, aku tidak menemui seekor onta-pun. Padahal mahluk yang satu ini adalah bisa dibilang simbol kota-kota di Arab. Kalau belum ketemu onta rasanya belum sampai ke Arab hehe… Yah, hal ini terkait dengan mewabahnya MERS yang disebut-sebut cukup ganas dan mematikan. Apakah MERS itu?

MERS adalah singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome (MERS), yang merupakan penyakit berupa sekumpulan gejala gangguan pernafasan akibat infeksi virus. Adanya penyakit ini pertama kali dilaporkan di Arab Saudi pada tahun 2012. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis virus korona yang dinamakan MERS-CoV. Pasien yang mengalami infeksi virus ini mengalami gangguan pernafasan yang berat/parah. Gejalanya adalah demam tinggi, batuk-batuk, dan sesak nafas. Lebih dari 30% pasien yang dipastikan terinfeksi virus ini meninggal karenanya. Karena diduga penyebarannya adalah melalui onta, maka selama di Arab kami dijauhkan dari onta. Jadi ngga bisa narsis sama onta deh….hehe… Tulisan tentang MERS telah aku sajikan tersendiri dalam satu tulisan khusus.

Masjidil Haram

Dari masjid Bir Ali untuk mengambil miqot (batas awal dimulainya ibadah umroh/haji) kami teruskan perjalanan dengan bus, dan sampai di Mekkah pada pukul 21:00 malam. Hotel Mira Ajyan menjadi tempat penginapan selama di Mekkah, yang jaraknya sekitar 300 m dari Masjidil Haram. Setelah makan malam dan beres-beres koper, pukul 23:00an kami berangkat ke Masjidil Haram untuk menjalankan ibadah umroh (thawaf, syai, dan tahallul). Kembali rasa haru tak terbendung saat memandang Masjidil Haram yang megah dengan Kabah di dalamnya.. Bersyukur sekali bisa menginjakkan kaki lagi di Baitullah.. Ibadah lengkap selesai sekitar pukul 03:00 dini hari, dilanjutkan i’tikaf sambil menunggu waktu sholat shubuh.. Hadehh… lumayan tepar juga.. entah berapa kilometer kami berjalan untuk thawaf dan sa’i, dll… tapi nikmatnya luar biasa… tenang, adem, penuh syukur dan kepasrahan… Paginya kami terkapar lelah dan ngantuk sampai saatnya dhuhur. Kembali ke Masjid lagi pada saatnya sholat. Alhamdulillah, selama di Mekkah bisa selalu sholat berjamaah di masjidil Haram. Alhamdulillah juga, bahwa selama di Mekkah kami bisa melakukan 3 kali ibadah umroh dari miqot yang berbeda-beda, yaitu Tan’im, Bir Ali, dan Hudaibiyah.

Masjidil Haram saat ini masih dalam renovasi untuk perluasan masjid. Renovasi dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu jalannya ibadah umroh maupun haji, dan diperkirakan akan selesai pada tahun 2050. Kelak direncanakan bentuk Masjidil Haram akan seperti piringan dengan kabah sebagai pusatnya. Apakah nanti masih bisa menyaksikannya… wallahu a’lam… Yang jelas jamaah harus semakin hati-hati untuk tidak nyasar hehe.. karena dengan design sekarang pun sangat mungkin jamaah nyasar dan tidak tau jalan pulang karena masjidnya sangat besar dengan pintu-pintu keluar yang mirip satu sama lain..

Di Jabal Rahmah...

Di Jabal Rahmah…

Di sekitar Mekkah kami mengunjungi museum Kabah, padang Arafah dengan Jabal Rahmah-nya, Musdalifah, dan Mina. Di Jabal Rahmah turun sebentar untuk sekedar berfoto dan berdoa. Jabal Rahmah adalah bukit di bagian timur padang Arafah dan diyakini sebagai pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka dipisahkan dan diturunkan dari syurga oleh Allah selama bertahun-tahun setelah melakukan kesalahan dengan memakan buah khuldi yang terlarang. Banyak orang meyakini bahwa tempat ini sebagai tempat suci untuk menungkapkan keinginan dan hajat mereka terkait dengan keluarga. Misalnya ingin mendapat pasangan, dikarunia anak yang sholeh dan sholehah, atau berdoa agar keluarga yang dibangun Sakinah Mawaddah Warahmah. Namun sebenarnya tidak ada tuntunan khusus dari Rasulullah mengenai hal ini.

 

Kembali ke tanah air

Setelah empat hari di Mekkah, sampailah waktunya kembali ke tanah air. Di hari terakhir di Mekkah aku masih menyelesaikan satu kali umroh (thawaf, sa’i dan tahallul) dan sholat ashar berjamaah. Rasanya lega dan bersyukur sekali bisa menjalani ibadah dengan lancar sejak dari Madinah sampai Mekkah. Kondisi kesehatan juga tetap terjaga selama di sana. Sempat kuatir juga bahwa akan kedatangan “tamu bulanan” karena sudah hampir waktunya. Tanda-tandanya sudah terasa di Madinah. Akhirnya hanya bisa berdoa saja semoga diijinkan menyelesaikan semua rangkaian ibadah utama di Mekkah tanpa halangan. Alhamdulillah, sang bulan datang pas banget di malam terakhir di Mekkah. Agak gelo sedikit karena tidak sempat maghrib, isya, dan thawaf wada (perpisahan) di Masjidil Haram, tapi sudah bersyukur sekali semua ibadah utama telah terselesaikan. Semoga diterima oleh Allah SWT. amiien…

Pukul 6 pagi esoknya kami meninggalkan Mekkah menuju Jeddah untuk kembali ke tanah air. Rasa haru untuk berpisah dengan Kabah bercampur dengan rasa rindu dengan anak-anak di rumah.. Semoga bisa kembali lain kali bersama keluarga. Sebuah pengalaman tak tergantikan. Dan aku merasakan sekali bahwa ibadah umroh dan haji ini banyak melibatkan kegiatan fisik, terutama berjalan. Karena itu kesehatan yang prima sangat penting. Buat kawan-kawan muslim yang masih muda dan kuat, apalagi jika mampu, sebaiknya segerakan untuk menjalankan ibadah haji atau umroh. Jangan terlalu berhitung dengan biayanya, Insya Allah Dia akan menggantikan dengan yang lebih baik. Amiien…

Demikian sekadar dokumentasi perjalananku ke Tanah Suci. Semoga kelak bisa kembali lagi bersama keluarga. Amiien..





Wabah MERS yang bikin geger… apa dan bagaimana pencegahannya?

11 05 2014

Dear kawan,

Tulisanku hari ini di harian Tribun Yogya, aku sajikan kembali untuk kawan-kawan di blog ini. Dalam dua minggu terakhir ini, berita tentang wabah penyakit dan virus MERS menyebar cukup cepat di berbagai media masa, termasuk media sosial dan telekomunikasi, yang menyebabkan sedikit kepanikan di kalangan masyarakat. Belum lagi ditingkahi dengan berita-berita palsu (hoax) yang menyebutkan bahwa virus MERS sudah masuk ke Surabaya, bahkan Yogyakarta. Aku kebetulan berada di Arab Saudi pada kurun waktu tanggal 28 April – 6 Mei 2014 untuk menunaikan ibadah umroh, dan menjumpai bahwa situasi di sana seperti tidak terpengaruh dengan berita wabah MERS. Beribu-ribu orang dari berbagai penjuru dunia masih datang dan pergi ke Madinah dan Mekkah untuk menunaikan ibadah umroh. Kayaknya sih beritanya tidak seheboh di tanah air. Namun demikian, untuk kehati-hatian dan lebih jelasnya,  artikel kali ini akan membahas tentang apa itu wabah MERS dan virusnya, serta bagaimana pencegahannya.

Apakah MERS itu?

Virus Mers-CoV

Virus Mers-CoV

MERS adalah singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome (MERS), yang merupakan penyakit berupa sekumpulan gejala gangguan pernafasan akibat infeksi virus. Adanya penyakit ini pertama kali dilaporkan di Arab Saudi pada tahun 2012. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis virus korona yang dinamakan MERS-CoV. Pasien yang mengalami infeksi virus ini mengalami gangguan pernafasan yang berat/parah. Gejalanya adalah demam tinggi, batuk-batuk, dan sesak nafas. Lebih dari 30% pasien yang dipastikan terinfeksi virus ini dilaporkan meninggal karenanya. Sampai saat ini, semua kasus MERS yang dilaporkan terjadi pada 7 negara yang berada di semenanjung Arab, yakni Saudi Arabia, United Arab Emirates (UAE), Qatar, Oman, Jordan, Kuwait dan Yemen. Virus ini menyebar dari pasien yang terinfeksi pada orang lain melalui kontak yang dekat, terutama melalui cairan saluran nafas. Kasus pertama di Amerika dijumpai pada tanggal 2 Mei 2014, pada seorang pelancong yang berasal dari Arab Saudi. Hal ini menimbulkan kekuatiran bahwa penyakit ini telah menyebar ke berbagai negara lainnya, termasuk Indonesia. Negara kita memiliki kekuatiran tersendiri karena mempunyai jumlah jamaah umroh dan haji  terbanyak setiap tahunnya. Untuk kegiatan umroh sendiri, hampir setiap hari ada jamaah yang berasal dari Indonesia dalam jumlah cukup besar. Negara-negara lain yang telah menemui kasus MERS akibat perjalanan dari Arab Saudi antara lain adalah : Inggris, Perancis, Tunisia, Italia, Malaysia dan Amerika.

Apa gejala MERS?

Gejala MERS : demam, batuk, lemah, sesak nafas

Gejala MERS : demam, batuk, lemah, sesak nafas

Sebagian orang yang terinfeksi MERS-CoV mengalami gejala-gejala gangguan pernafasan berat, dengan demam tinggi, batuk-batuk, dan sesak nafas. Sebagian lain mungkin mengalami gejala yang ringan saja. Gejala-gejala ini mirip dengan gejala infeksi pernafasan lainnya akibat bakteri atau virus lain, sehingga untuk memastikan apakah ini MERS atau bukan, perlu dilakukan pemeriksaan terhadap spesimen atau cairan tubuh penderita apakah benar-benar mengandung virus MERS-CoV. Beberapa kasus dugan MERS di Indonesia hingga saat ini masih terbukti negatif terhadap virus MERS-CoV. Namun demikian, perlu kewaspadaan terutama pada orang-orang yang baru pulang dari Arab Saudi. Jika dalam 14 hari kepulangan mengalami gejala seperti di atas, sebaiknya segera dibawa ke RS dan diperiksakan dengan seksama.

Bagaimana penyebaran virus MERS-CoV?

Onta, sang tertuduh sementara sebagai penyebar virus MERS-CoV

Onta, sang tertuduh sementara sebagai penyebar virus MERS-CoV

Virus ini dapat menyebar dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak fisik yang dekat. Apalagi jika terkena percikan ingus atau ludah dari penderita MERS. Belum diketahui dengan pasti dari mana virus ini berasal, tetapi dugaan terkuat adalah berasal dari binatang. Selain pada manusia, ternyata virus MERS-CoV dijumpai juga pada onta-onta di Qatar, Mesir dan Saudi Arabia. Mereka terbukti positif memiliki antibodi terhadap virus MERS-CoV, yang mengindikasikan bahwa onta-onta ini pernah terinfeksi virus MERS-CoV. Baru-baru ini, ahli virologi bernama Norbert Nowotny dan Jolanta Kolodziejek dari Institute of Virology menemukan bahwa virus yang menginfeksi pasien MERS dan virus pada onta yang berasal dari daerah yang sama dengan pasien memiliki rangkaian RNA yang hampir identik. Hal ini menunjukkan bahwa virus yang sama bisa menginfeksi onta maupun manusia. Namun menarik juga penemuan bahwa RNA virus korona dari daerah yang berbeda ternyata berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada strain coronavirus MERS yang spesifik pada onta. Tapi yang jelas, jenis virus korona  tersebut dapat menginfeksi baik onta maupun manusia, dan diduga bisa menyebar dari onta ke manusia.

Bagaimana mengobati MERS?

Belum ada obat khusus untuk penyakit MERS. Namun dapat diberikan terapi pendukung/suportif dan terapi untuk mengurangi gejalanya. Misalnya demamnya diberi obat turun panas, jika sesak diberi obat pelega nafas, oksigen,  dll, disesuikan dengan kondisi pasien. Tentu saja perlu untuk memperkuat daya tahan tubuh sehingga dapat turut melawan dan mematikan virus yang menginfeksi.

Bagaimana menghindari dan mencegah MERS?

Gunakan masker yang cukup tebal dan kuat

Gunakan masker yang cukup tebal dan kuat

Untuk menghindari MERS tentunya sebaiknya tidak bepergian dahulu ke negara-negara Arab, dan tidak bersentuhan atau kontak langsung dengan penderita MERS. Namun jika hal tersebut tidak memungkinkan dan tetap harus pergi, maka dapat dilakukan upaya-upaya pencegahan. Berikut adalah tips pencegahan MERS:

1. Cuci tangan dengan sabun dan air selama minimal 20 detik, dan bantu anak-anak untuk melakukan hal yang sama. Jika tidak tersedia sabun dan air, dapat digunakan hand sanitizer yang sekarang banyak dijual di toko-toko.

2. Tutup mulut dan hidung dengan tissue jika Anda bersin atau batuk, lalu buang tissue ke tempat sampah

3. Jangan menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang kotor

4. Hindarkan kontak langsung seperti mencium, berbagi minuman, berbagi alat makan, dengan penderita

Untuk calon jamaah umroh atau haji yang akan mengikuti ibadah di tanah suci, kami sarankan:

1. Jaga kesehatan dengan makanan yang sehat. Tambahkan vitamin C dan suplemen untuk penguat sistem imun. Beberapa yang bisa dicoba antara lain isoprinosine (Immunovir atau merk lain) yang juga memiliki aktivitas anti virus, atau sediaan herbal yang mengandung Echinacea atau meniran (Phylantus niruri)

2. Jangan lupa menggunakan masker yang cukup tebal selama di sana. Siapkan lebih dari satu untuk bergantian ketika yang satu dicuci.

3. Jangan lupa cuci tangan sebelum atau sesudah makan. Siapkan hand sanitizer yang praktis untuk dibawa-bawa.

4. Sebaiknya lakukan vaksinasi influensa sebelum berangkat

5. Jangan berdekatan dengan onta. Virus MERS-CoV dijumpai paling tinggi pada cairan hidung dan mata onta. Jangan sampai terkena cairan tersebut. Selama berada di Mekah dan Madinah dalam kurun waktu tg 28 April – 6 Mei 2014, aku jarang sekali menjumpai onta yang berkeliaran. Menurut informasi, saat ini memang onta sedang dijauhkan dari pemukiman manusia di Arab Saudi. Sebelum wabah MERS, jamaah umroh sering diajak ke peternakan onta baik untuk sekedar mengambil gambarnya atau bahkan minum susu onta. Untuk kali ini hindarkan dahulu mengkonsumsi produk-produk onta. Tahan dulu keinginan narsis bersama onta hehe….

Demikian sekilas tentang wabah MERS dan virusnya, semoga tidak menjadi ketakutan yang berlebihan, namun tetap menjadi kewaspadaan untuk bisa terhindar dari wabah ini.