Menulis itu katarsis…..

9 11 2016

Judul postinganku kali ini agak ngga biasanya yaa hehe.. ..Yah, kata orang membuat judul tulisan itu harus “eye catching”, biar orang tertarik membacanya…  Aku sedang teringat saja bahwa bulan ini blog ini sudah berusia 8 tahun lebih dikit. Aku memulainya bulan Oktober 2008. Ternyata sudah cukup lama juga menemani perjalanan hidupku, mendokumentasikan isi kepalaku. Aku buka lagi postingan awal, yang kadang hanya pendek-pendek saja, kadang cerita keseharian dan pengalaman, atau sekedar pendapat. Banyak cerita yang sudah kutulis, baik tulisan ringan tentang perjalanan, atau tulisan serius tentang obat dan kesehatan. Sungguh, menulis itu sebenarnya suatu katarsis…. suatu pelepasan…. bagi ide, pikiran, perasaan….  Rasanya plong kalau sudah menulis, entah itu dipublikasikan atau hanya untuk kalangan terbatas… Menulis juga mengasah untuk berpikir sistematis dengan alur logis…

Dulu waktu masih rajin menulis, aku targetkan dalam seminggu harus ada satu tulisan. Tetapi semakin kesini, tuntutanku terhadap tulisanku sendiri semakin besar. Follower dan pembaca makin banyak, aku tidak mau juga asal menulis karena nanti akan menjadi referensi pembaca. Dan ternyata untuk menulis juga butuh membaca lagi.  Jadinya malah blog-ku lama kosong tanpa tulisan…  Dan “sibuk” menjadi alasan klasik… hmm….
Makanya aku coba menulis lagi, yang ringan-ringan saja…supaya blog ini tidak kehilangan ruhnya..  dan juga sebagai katarsis…

Alhamdulillah, urusan tulis menulis, beberapa genre buku sudah aku hasilkan. Dari yang serius dan ilmiah untuk referensi kuliah macam buku Farmakologi Molekuler (yang menurutku merupakan masterpiece-ku),  buku ilmiah popular semacam Bijak Memahami Masalah Kesehatan, sampai Komik Apoteker Cilik utk anak-anak (yang cukup fenomenal)..hehe..  Tapi sebetulnya ada satu cita-cita yang belum kesampaian yaitu menulis cerita fiksi semacam cerpen atau bahkan novel. Aku selalu terkagum-kagum dengan para penulis novel dengan imajinasinya yang luar biasa, seperti Andrea Hirata dan Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik). Aku memiliki hampir semua novelnya yang selalu best seller.  Mereka bisa menulis setting cerita dengan sangat detail dan akurat sampai seolah-olah kita berada di dalamnya dan bisa membayangkannya… Ceritanya juga kadang tidak terprediksi ending-nya…. Asyik banget bacanya..

Tapi sebetulnya … ehm…. aku punya sedikit bakat sastra juga lho….. Dulu waktu SMA sering ikut lomba baca puisi.. Nulis puisi dikit-dikit juga bisa. Jadi ingat salah satu puisiku yang beraliran romantik saintifik hehe.. ini aliran puisi ciptaanku sendiri… yg kutulis di salah satu artikelku tentang Science of Love  sekitar 7 tahun yang lalu. Mau baca lagi?

Duhai separuh jiwaku,

Memandangmu, adrenalinku terpacu

Mengaktivasi saraf-saraf simpatisku..

Takikardi, salivasi terhenti…

Dopamin pun mengiringi

membuatku addiksi

tak ingin kau pergi..

Serotonin berkurang

wajahmu tak mau hilang

Catatan: Ini puisi ala dosen mata kuliah Farmakoterapi Sistem Syaraf Pusat hehe…. jadi penuh dengan neurotransmitter..

Udah dulu ah… mau fokus yang berat-berat lagi nii list to do-nya udah panjang..

Sampai ketemu di postingan lain…

sunshine-north-stairs





Menangkap Momentum : Story behind the Comic

30 09 2016

Dear kawan,

the-real-comicAda beberapa hal yang mendorongku untuk bercengkerama lagi dalam tulisan di blog ini, yang telah lama tak tersentuh. Pertama, aku ingin berbagi cerita tentang komik baruku yang ternyata secara mengejutkan cukup fenomenal di jagad kefarmasian.  Cetakan pertama sebanyak 1000 exp nyaris habis dalam waktu dua minggu setelah terbit. Alhamdulillah… Ini di luar prediksi kami.  Kedua, dan ini sebenarnya pendorong utama… seorang pembaca setia ternyata merindukan tulisan-tulisanku lagi hehe…. Dorongannya untukku menulis lagi di blog ini membuatku jadi semangat.  Katanya, menulislah pendek-pendek saja, tapi rutin, jadi bisa meluangkan waktu untuk menulis… Dan kalau pendek-pendek, pasti akan dinanti kelanjutannya oleh para pembaca setia…  Hmm.. bener juga ya… baiklah akan kucoba…

Sesuai judulnya tentang momentum… tulisan ini adalah sedikit cerita betapa kadang sesuatu itu bisa berhasil ketika mendapatkan momentum yang tepat. Yang kumaksud adalah tentang Komik Apoteker Cilik yang kami gagas… yang alhamdulillah mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat.

Program memperkenalkan tentang profesi apoteker pastinya sudah banyak digagas dan dijalankan teman-teman sejawat di berbagai daerah. Melalui kelas inspirasi, penyuluhan oleh mhs KKN, pengabdian masyarakat para apoteker, dll. Tapi entah kenapa, program Apoteker Cilik yang kami gagas justru yang tertangkap oleh media dan masyarakat, dan seolah-olah itu adalah hal baru. Itu bisa dilihat dari banyaknya pemberitaan di media suratkabar/media online tentang “Dosen UGM gagas Apoteker Cilik “. Begitu kira-kira bunyinya di media. Padahal sebenarnya itu bukanlah ide baru, hanya mungkin kemasannya saja yang berbeda. Salah satu yang menonjol adalah adanya Komik Apoteker Cilik yang kami garap secara serius, yang sebenarnya hanya merupakan salah satu alat saja dalam program Apoteker Cilik. Momentumnya adalah era teknologi informasi yang membuat kita bisa dengan mudah menyebarluaskan informasi dan gagasan… sehingga ketika kita membuat sesuatu yang biasa, mungkin bisa menjadi luar biasa ketika dilepas pada saat yang pas… Juga momentum berkumpulnya para apoteker se Indonesia di Jogja dalam rangka Pekan Ilmiah Tahunan IAI, ini juga kami incar sebagai momen launching komik… yang sayangnya saat Pameran berlangsung  komiknya malah sudah mulai habis karena banyaknya pesanan sebelumnya.

Sampel bagian dalam Komik

Sampel bagian dalam Komik

Tapi  momentum saja tentu tidak cukup..  produknya juga harus bagus. Alhamdulillah,  banyak yang menyebut komik kami enak dibaca, bahasanya mudah dipahami, dan gambarnya bagus. Kebahagiaan penulis itu adalah ketika karyanya diterima. Segala jerih lelah terbayar rasanya.

             The story behind the comic bukanlah hal yang pendek dan mudah. Pertama, kami harus meyakinkan penerbit bahwa komik ini dibutuhkan dan akan disukai masyarakat, terutama sasaran kami yaitu anak-anak. Penerbit juga melakukan studi kelayakan pasar dulu sebelum akhirnya memutuskan akan menerbitkan komik ini. Kedua, kami harus mencari illustrator yang bagus karena aku sendiri ngga bisa menggambar. Tahu tidak.. untuk mencari illustrator yang bagus, aku sampai membuat semacam audisi. Dari sekian banyak illustrator yang ikut audisi, akhirnya kami  mendapatkan satu illustrator yang cocok dengan selera kami. Semula kami berpikir bahwa sebaiknya ilustratornya punya back ground farmasi supaya lebih paham dengan konten komiknya tentang obat.  Tapi sayangnya yang punya background farmasi gambarnya tidak begitu sesuai dengan keinginan kami. Akhirnya  kami mendapatkan satu illustrator yang cocok, tanpa latar belakang farmasi. Tapi justru ada blessing in disguise….. yaitu bahwa dengan background non-farmasi justru memaksa kami untuk bisa menjelaskan  dengan bahasa yang awam, karena selama proses menggambar  illustratornya kebetulan juga banyak bertanya sehingga  kami dituntut bisa menjelaskan tentang obat dengan bahasa yang sederhana dan mudah.   Ketiga, tidak mudah membuat kalimat-kalimat pendek tapi bisa menyampaikan pesan yang diinginkan. Kesulitannya adalah keterbatasan space dalam balon-balon yang berisi kalimat… tidak boleh terlalu panjang, juga mengatur urutan balon supaya percakapan mengalir baik. Juga ada keterbatasan halaman komik sendiri secara keseluruhan supaya tidak terlalu tebal.

Over all, pembuatan komik ini sendiri sungguh suatu pengalaman unik dan berbeda… karena biasa berbicara dan menulis dengan bahasa ilmiah yang tinggi di kampus, tiba-tiba bahasanya harus dikonversi  menjadi bahasa awam, apalagi dalam bentuk komik untuk anak-anak. Terimakasih banyak untuk yang telah terlibat : bu Triana (co-author), Mas Wahyu (illustrator), Mbak Flora (editor), dan juga adik-adik mahasiswa PIOGAMA yang membantu membuat prototype-nya pada awal ide ini digulirkan. Alhamdulillah, rasanya excited banget setelah komik jadi dan ternyata banyak yang suka.  Oiya, tadinya mau dibuat langsung 3 seri lho.… tapi akhirnya Penerbit memutuskan satu seri dulu untuk uji pasar. Jika respon pasar positif terus seperti ini, insya Allah akan ada seri berikutnya… amiin.

Demikianlah sedikit saja tulisanku, memenuhi saran pembaca setiaku hehe….  Bagian penutup ini aku pakai untuk promosi saja.  Buku Komik Apoteker Cilik dengan judul “Yuk, Kenali Obat”, dengan harga Rp 35.000,- dapat diperoleh pada showroom Penerbit Kanisius, di toko-toko buku, atau bisa dipesan melalui aku sendiri.Nantinya juga bisa dipesan di PIOGAMA. Jika pesan melalui aku, silakan pesan melalui WA no 08156854012, buku akan dikirim ke alamat. Komik kami dalam dua minggu setelah terbit sudah tersebar ke pembacanya di seluruh Indonesia, mulai dari Pulau Sumatra sampai Papua. Mohon maaf bagi yang belum kebagian komik pada cetakan pertama, saat ini sudah proses cetakan kedua. Terimakasih buat yang sabar indent dan menanti kiriman. Semoga komik kami bermanfaat. Amiiin… .

Sampai ketemu di postingan lain yaa…

Thanks to my sunshine for the encouragement





Kaleidoskopku di 2015 dan resolusiku untuk 2016

31 12 2015

Dear kawan,
Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2015. Aku banyak hutang pada blog-ku ini yang sudah berbulan-bulan tidak terawat.. Karenanya hari ini aku putuskan harus menulis dan menyambangi blogku yang mulai merana.. Statistik blog-ku sebenarnya tidak jelek-jelek amat.. sepanjang tahun 2015 setiap harinya ada rata-rata 4000 hits, termasuk sampai hari ini. Bahkan pernah mencapai 8000-an ketika aku menulis tentang klorin dalam pembalut. Sayang banget yah kalau dibiarkan layu termakan waktu… Kali ini aku akan mengenang tahun yang tak lama lagi akan kutinggalkan.. 2015. Sebagai dokumentasi pribadi saja.

Eksistensi
Buatku tahun 2015 adalah tahun kebangkitan akan sebuah eksistensi diri. Alhamdulillah, masih banyak kawan yang mempercayaiku untuk menjadi narasumber di berbagai seminar kefarmasian. Tahun 2015 ini cukup banyak kota yang kukunjungi dalam rangka berbagi dalam seminar, antara lain : Kudus, Solo, Jember, Cirebon, Pandeglang, Bukitinggi, Semarang, Makassar, Balikpapan, Jakarta, Sukabumi, Gorontalo, Kendari dan Wonogiri. Menurut catatanku, dalam tahun 2105 kemarin ini aku menjadi narasumber pada 24 event seminar/workshop. Sedangkan untuk mengikuti even internasional/regional aku bahkan 2 kali pergi ke Bangkok dalam setahun ini. Buatku itu adalah pengalaman yang tak ternilai harganya. Reward-nya lebih dari sekedar finansial, yakni perasaan bahagia saat bertemu banyak kawan dan juga sambutan yang menyenangkan. Memang ada yang harus sedikit dikorbankan yaitu beberapa waktu libur terpaksa harus jauh dari keluarga. Tapi alhamdulillah, semua masih dalam toleransi dan still under control hehe… kan ya ngga setiap minggu..

Change in life
Bulan Juli 2015, perubahan besar dalam hidup juga terjadi pada keluargaku, khususnya dua anakku, si sulung dan si bungsu. Alhamdulillah, setelah cukup harap-harap cemas dengan hasil SNMPTN dan SBMPTN, akhirnya si sulung Afan diterima sebagai mahasiswa baru UGM di Fakultas Psikologi, sesuai dengan keinginannya. Sebuah tugas orang tua mengantarkan anak masuk ke jenjang perguruan tinggi tertunaikan sudah. Alhamdulillah.. Lalu si bungsu Hanna juga mulai masuk sekolahnya yang pertama di Kelompok Bermain (Play group) Al Azhar. Yang aku happy.. si kecil ini lain sekali dengan kakak-kakaknya.. Mungkin faktor mandiri karena sudah biasa ditinggal ibu ke kantor atau bahkan keluar kota, juga biasa melihat kakak-kakaknya sekolah… dia pede sekali…  di hari pertama sekolah sudah tidak mau ditungguin !! hehe.. hebaat oii ! Padahal dulu kakaknya yang cewek waktu TK harus ditunggu full.. bahkan aku harus ikut duduk disampingnya di kelas sampai berminggu-minggu !! Sampai ada mahasiswa yang konsultasi skripsi aku minta datang ke TK karena aku sambil menunggu si kecil sekolah..hehe… Alhamdulillah, everythings goes well… termasuk Dhika yang punya special needs juga lancar di sekolah. Pas kenaikan kelas ke kelas dua SD, ia bahkan tampil di panggung main organ tunggal…

Magister Farmasi Klinik UGM menjadi Prodi
Sebuah perubahan yang cukup signifikan juga terjadi di Fakultas. Pada bulan Maret atau April, Fakultas (Dekan) menetapkan kebijakan bahwa program Magister Farmasi Klinik yang semula adalah minat pada Prodi S2 Ilmu Farmasi mulai tahun 2015 ini “disapih” menjadi Program Studi tersendiri. Kebijakan ini cukup berimbas padaku karena kemudian aku diberi amanah menjadi Ketua Prodi Magister Farmasi Klinik. Seperti de javu saja hehe… karena ketika Program ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2001, aku juga diberi tugas menjadi pengelola. Sempat istirahat dari pengelolaan MFK pada tahun 2013-2104, tahun ini mulai bertugas lagi. Bahkan mendapat tugas yang lebih berat karena harus menyiapkan akreditasi Prodi MFK. Jadilah pada tahun 2015 ini hampir separuh tahun aku berkutat dengan penyiapan Prodi MFK dan akreditasi melalui LAMPTKes. Perjuangan masih panjang…  Bismillah….

Apoteker cilik, The comic

Prototype Komik Apoteker Cilik

Prototype Komik Apoteker Cilik

Di tahun 2015 ini aku juga punya “mainan” baru… yaitu program Pengabdian masyarakat yang didanai DIKTI tentang Apoteker Cilik. Program ini kami usulkan dengan didasari keprihatinan masih belum populernya profesi Apoteker di mata masyarakat. Kami pingin Apoteker bisa eksis sebagai salah satu tenaga kesehatan yang penting. Jika di sekolah-sekolah ada Program Dokter Kecil, mengapa tidak ada Apoteker Cilik? Bekerjasama dengan dua SD yaitu SDN Kentungan dan SDIT Luqmanul Hakim Yogya, kami memulai program ekstrakurikuler Apoteker cilik di sana, dibantu oleh adik-adik mahasiswa yang aktif dalam PIOGAMA. Salah satu keluaran yang kami anggap monumental adalah dibuatnya komik Apoteker Cilik. Saat ini baru dicetak dalam jumlah terbatas.. masih nunggu Penerbit untuk diproduksi skala komersial niih… !
Insya Allah akan menjadi program yang berkesinambungan di tahun 2016 ini…

Resolusiku utk 2016

Mungkin tidak perlu terlalu banyak janji dan rencana yah.... tapi di tahun 2016 besok ini target pribadiku adalah meng-update buku-bukuku terbitan tahun 2010 dan 2011 yang notabene sudah berusia 4-5 tahunan, sudah waktunya diupdate. Ilmu kesehatan dan pengobatan berkembang sangat cepat dan tentu harus tetap diikuti supaya bisa tetap up to date.  Tiga buku sudah selesai revisi draft dan masuk penerbit,.. semoga bisa released tahun 2016.

Target berikutnya adalah mengantarkan Prodi MFK UGM agar terkreditasi semaksimal yang kami bisa, serta menjalankan visi dan misi Prodi untuk lebih dikenal secara nasional dan regional dan menyediakan pendidikan farmasi klinik yang tebaik.

Pekerjaan kolektif lain adalah mensupport establishment Unit Uji BABE Lab Terpadu Fakultas Farmasi UGM di mana  aku menjadi Manager Teknik Bidang Klinis. Itu juga bukan pekerjaan mudah, karena banyak berinteraksi dengan pihak luar (industri, BPOM), tetapi jika sudah mapan Insya Allah akan menjadi prestise tersendiri buat Fakultas. Aku banyak sekali belajar dari kegiatan ini, dari mulai menyiapkan protokol uji, berkorespondensi dengan mitra terkait dengan perjanjian kerjasama, menyiapkan berbagai SOP dalam uji BE, berinteraksi dengan teman-teman dokter di RS UGM, berinteraksi dengan BPOM, dll.

Selain itu, pekerjaan pribadi lain yang aku targetkan adalah penelitian, di mana untuk tahun 2016 ini ada 2 proposal hibahku yang kuharap bisa diterima oleh DIKTI (amiin…), dan satu  produk obat herbal bekerjasama dengan sebuah industri farmasi ditargetkan bisa diproses lebih lanjut untuk aspek komersialnya.

Kegiatan berbagi dalam seminar Insya Allah masih jalan selama dibutuhkan… untuk tahun 2016 ini sudah ada 3 jadwal indent di bulan Februari, yakni di Ponorogo, Jogja, dan Sorong. Kegiatan mengawal penulisan artikel ilmiah populer untuk harian Tribun Jogja juga masih bakal jadi pekerjaan rutin tahun 2016 besok. Tapi maaf, aku tidak punya resolusi khusus untuk blog tercinta ini… mengalir saja menulis sesempatnya….

Secara pribadi tentu aku juga berharap untuk bisa menjadi istri dan ibu yang lebih baik lagi, dan dapat “menciptakan” surga di rumah, buat suami dan anak-anak… Amiien. Ini yang terpenting, karena dari situlah aku berasal dan untuk itulah aku ada…  Oiya, satu lagi…. turunin berat badan hehe…. baju-baju sudah mulai terasa sesak!

Bismillah, inilah kaleidoskop dan resolusiku, kawan… Manusia bisa berencana, tapi semua kita pasrahkan kepadaNya.. semoga diberi kekuatan dan kelancaran menjalani.. Amiien





Selalu ada blessing in disguise buat yang mau berpikir: Selamat Tahun Baru 2015

27 12 2014

Dear kawan,
Tahun 2014 hampir berlalu.. Tahun ini buatku adalah tahun yang penuh rahmat, baik yang terang maupun tersembunyi.. Bukan berarti semua berjalan mulus dan sempurna, bahkan banyak hal-hal baru dan berat.. Tapi alhamdulillah semua masih berjalan di bawah lindunganNya. Lesson learned yang kudapat adalah bahwa sesuatu yang kadang kita takutkan akan sulit dijalani, ternyata setelah harus dilalui tidak sesulit yang dibayangkan. Dan aku selalu bersyukur untuk itu karena masih diberiNya kemudahan, dan itulah memang doa yang selalu kupanjatkan. Beberapa catatan penting untukku tahun ini kudokumentasikan di sini..

Me and family year
Tahun ini lebih banyak kugunakan untuk menjalani kegiatan dan pekerjaan pribadi, karena tidak banyak terlibat lagi dalam birokrasi di kampus. Pekerjaan penelitian lumayan padat dengan beberapa proyek yang harus dikerjakan. Alhamdulillah, 2 dari manuskrip paperku sudah dipublikasi di jurnal internasional, dan 2 lagi harus aku submit ulang. Buku baruku Farmakologi Molekuler juga sudah released sekitar bulan September. Undangan-undangan dari teman-teman di seluruh Indonesia berdatangan hampir setiap bulan, dan itupun butuh pengaturan. Tahun ini aku berkunjung ke Medan, Palembang, Pontianak, Palangkaraya, Samarinda, Banjarmasin, Kendari, Makasar, dan beberapa kota lain di Jawa. Antara senang dan merasa tersanjung karena mendapat kepercayaan, sekaligus juga kadang berat harus meninggalkan anak-anak terutama si kecil Hanna yang baru berusia 2-3 tahun. Selain itu, masih pula ada kegiatan rutinitasku yang lain untuk mengajar dari S1 sampai S3, pembimbingan thesis/disertasi, dan menulis artikel-artikel kesehatan di suratkabar harian, dll.
Diantara semua momen, yang paling mengesankan tentu adalah perjuangan mencarikan Dhika, anakku yang ketiga, sekolah SD. Sebagai anak spesial, Dhika memerlukan sekolah yang sesuai dengan kebutuhannya. Dua SD sebelumnya ternyata tidak bisa menerima Dhika karena keterbatasan space. Tapi alhamdulillah, kami datang pada saat yang pas di SD INTIS (International Islam School) untuk mendaftarkan Dhika. Tinggal ada satu kursi untuk anak berkebutuhan khusus, dan kami segera saja booking tempatnya. Dan alhamdulillah, kami tidak salah pilih… dengan sistem kelas kecil (12 orang per kelas dengan 2 educators), Dhika mendapatkan perhatian yang cukup dari teman-teman dan gurunya. Yang cukup mengharukan adalah bahwa kelak teman-temannya semua sangat baik dan sayang pada Dhika di kelas, dan memahami keterbatasan Dhika.

My special son
Dhika adalah anugerah luar biasa dalam keluarga kami. Dengan keterbatasannya karena dikaruniai gangguan autisme, dia mengajari kami arti kesabaran, pengorbanan, perjuangan dan kepasrahan kepada Sang Pencipta. Dhika juga yang mengajariku kekuatan, karena Dia tidak akan memberikan beban yang tidak mampu dipikul oleh ummatNya. Sungguh aku tidak berani membayangkan sebelumnya seperti apa jika Dhika masuk SD untuk pertama kalinya nanti (yang pasti dia memang menangis keras-keras..hehe..). Belum lagi sekolahnya yang sangat jauh dari rumah. Kami harus berangkat jam berapa dari rumah, apakah Dhika bisa bangun pagi, siapa yang antar jemput Dhika jika aku tidak bisa, kasihan nanti kalau Dhika kepanasan di jalan kalau dijemput naik motor, apakah Dhika bisa mengikuti pelajaran, bagaimana terapinya, dll.
Namun alhamdulillah, ketika harus mulai dijalani… semuanya tidak sesulit yang dibayangkan. Memang tidak instan, butuh usaha dan waktu, tetapi juga tidak terlalu kesulitan. Hari pertama memang Dhika menangis dan memberontak. Aku khusus menunggunya sejak pagi sampai pulang, sambil berkenalan dengan para educatornya. Tapi alhamdulillah, hari-hari berikutnya Dhika berangsur tenang dan tidak ada masalah. Bisa bangun pagi dan segera mandi, dan aku antar ke sekolah bersama kakaknya yang juga baru masuk sekolah baru (SMP) yang tempatnya tidak begitu berjauhan. Jadilah ritme kegiatanku menjadi berubah, yakni keluar rumah jam 6:15 pagi untuk antar anak-anak sekolah. Setelah itu baru ke kampus untuk rutinitas pekerjaan yang juga butuh konsentrasi tinggi. Dan sore kembali menjemput sekolah Dhika, karena Dhika hanya mau diantar dan dijemput ibu. Sekali waktu ketika aku harus pergi keluar negeri seperti ke China dan Jepang, aku sempat bingung bagaimana harus meninggalkan Dhika. Tapi sekali lagi, alhamdulillah… semuanya dimudahkanNya.. Dhika tidak rewel dan manut sama Bapak dan pengasuh di rumah, mau diantar dan dijemput bapak atau mbak. Dhika juga mendapat pseudo-teacher yang baik dan sangat membantu. Yang aku takpernah membayangkan sebelumnya adalah bahwa Dhika juga bisa sholat dengan lancar.. hafalan suratnya sudah cukup banyak.. dan sekarang karena saking hafalnya, sholatnya suka ngebut… eit!… ga boleh ituu hehe.. Aku belajar bahwa kemajuan sekecil apapun pada Dhika, jika selalu disyukuri, akan menjadi kebahagiaan tersendiri.. Secara tidak sengaja pula aku mendapat informasi tentang tempat terapi yang bisa memenuhi keperluan Dhika, dan itu dekat sekolahnya, sehingga sangat memudahkan pelaksanaannya.. Dhika menjalani terapi sensori-integrasi, terapi wicara dan okupasi di Rumah Sahabat.

My daughter’s accident

Hasil rontgen Hannisa, patah tulang paha kiri

Hasil rontgen Hannisa, patah tulang paha kiri

Momen kedua yang takterlupakan adalah peristiwa kecelakaan Hannisa, anakku yang kedua. Siang itu ketika aku sedang bersiap akan sholat dhuhur karena sebentar lagi akan mengikuti sebuah rapat di kampus, sebuah panggilan telepon masuk ke HP-ku. “Ibu, bisa jemput Dhika tidak?” sebuah suara dari seberang sana, dari asisten rumahtanggaku yang siang itu aku minta tolong menjemput Dhika dan Hanni dari sekolah. “Lha, kamu kenapa?” jawabku. “Aku kecelakaan sama kakak Hani. Di jalan Veteran”.. Segera saja aku memacu mobilku dari kampus menuju TKP, sambil sebelumnya menjemput Dhika di sekolah. Info terakhir, mereka sudah dibawa ke RS Hidayatullah, yang kebetulan dekat dengan lokasi kecelakaan. Akupun segera menelpon suami untuk segera datang ke RS. Sesampai di RS, mereka sedang menjalani pemeriksaan rontgen… dan astgahfirullah…. tulang paha kiri Hani patah, sementara tulang selangka Irah (asisten RT-ku) pun patah ! Aku tidak bisa membayangkan kejadian kecelakaannya, tapi tentunya cukup berat jika melihat akibatnya. Tidak tahan aku melihat Hani kesakitan ketika akan dipasang spalk sementara untuk mengimobilisasi kakinya di UGD. Siang itu juga setelah dikonsulkan ke dokternya, diputuskan bahwa mereka akan menjalani operasi pemasangan pen malamnya. Saat itu juga mereka diminta untuk berpuasa untuk persiapan operasi. Perasaanku campur aduk antara sedih, cemas, dan berharap semoga semuanya akan baik-baik saja.

Tulang paha Hannisa setelah dipasang pen

Tulang paha Hannisa setelah dipasang pen

Alhamdulillah, operasi pemasangan pen keduanya berjalan lancar. Jahitannya cukup panjang, sekitar 15 cm. Saat ini Hannisa harus berjalan menggunakan kruk untuk 2-3 bulan ke depan. Betapapun berat, tetap selalu ada yang aku syukuri… Untungnya saat kecelakaan tidak kena kepala yang bisa menimbulkan cedera, untungnya segera dibawa ke RS dan mendapat penanganan, untungnya baru selesai ujian sekolah jadi tidak ada ujian yang tertinggal, untungnya lagi liburan jadi tidak banyak membolos sekolah…. dan masih banyak untung-untung yang lain. Untungnya lagi yang mengoperasi adalah dokter Adam Sp.Bedah Orthopedi yang juga berpraktek di RS Akademik UGM sehingga kami cukup kenal baik, sehingga ketika konsultasi berikutnya biayanya dikasih free hehe….( ini sih bukan yg utama, tapi cukup menghibur…) Dengan berlokasi di dekat sekolahnya, banyak teman-teman hannisa yang menjenguk di RS. Juga banyak kawan yang meluangkan waktu menengok kami.. ini sangat membesarkan hati.
Yah, tentu banyak pengorbanan dan kerugian dari kecelakaan ini… Rencana liburan yang batal, kenikmatan berjalan yang dibatasi, harus menjalani pengobatan, rehabilitasi medis, dll.. tapi alhamdulillah, Hani anak yang kuat dan tegar. Tak pernah mengeluh sedikitpun dengan kondisinya, dan ia menjalaninya dengan santai. Justru ada satu hal yang terungkap dari kecelakaan ini… yakni bahwa berdasarkan pemeriksaan sebelum operasi, kadar gula Hanni agak tinggi, sedikit di atas normal. Yah, aku bisa memaklumi karena memang Hanni agak gemuk dan suka makan. Dan kami juga punya riwayat keluarga Diabetes. Untuk memastikan lagi, maka dua minggu setelah operasi aku periksakan lagi kadar gula Hani, terutama kadar gula darah puasa (GDP) dan dua jam setelah puasa (GD pp). Kadar GDP masih lumayan tinggi (di atas 100 mg/dL), tetapi belum tergolong DM. Sementara kadar GD post prandial masih normal.  Bahkan kondisi Hani ini menambah ilmu baru buatku tentang prediabetes dan Acanthosis nigrican, sebuah bentuk hiperpigmentasi pada daerah-daerah tertentu di kulit, seperti leher, lipatan ketiak, lipatan siku, dll. Aku baru sadar bahwa warna agak gelap di leher Hani ternyata pertanda insulin yang tinggi dalam darah dan itu adalah gejala prediabetes. Kelebihan insulin akan menyebabkan sel kulit yang normal terbentuk dengan kecepatan lebih tinggi, dan sel ini mengandung melanin lebih banyak sehingga memberikan warna kulit yang gelap. Yah, apapun.. ini adalah informasi yang berharga agar nantinya bisa mengatur lagi pola makan dan aktivitasnya supaya tetap sehat dan terjauh dari penyakit DM. Aku harus lebih berdisiplin mengatur pola makannya.

Blessing in disguise = rahmat yang tersembunyi
Begitulah kawan, momen-momen utamaku tahun ini, di samping aktivitas harian yang datang silih berganti. Hidup tidak selalu mulus dan lancar, tetapi pada setiap peristiwa hidup selalu ada pelajaran dan hikmah, ada blessing in disguise/rahmat yang tersembunyi, buat yang mau memikirkannya. Semua takdir manusia telah tertulis di Lauhul mahfuz, tetapi kita tak pernah mengetahuinya sebelum itu terjadi. Dan saat belum terjadi, manusia masih bisa “memilih” sebagian takdirnya karena hidup penuh dengan pilihan-pilihan. Bisa jadi yang tertulis adalah semacam suatu rumus… “jika A, maka B… Jika C, maka D…wallauhua’lam.. Dan hasil akhirnya adalah suatu resultante dari berbagai hal..
Tetap selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa di setiap ketetapanNya, walau kelihatannya tidak menyenangkan, ada pelajaran yang baik. Bahwa kadang Allah menetapkan suatu kejadian tertentu, untuk memberikan kejadian lain yang lebih baik, yang di luar pengetahuan manusia. Dengan tahun yang baru ini, semoga menambah semangat baru untuk hidup lebih baik, move on dari keburukan dan kelalaian… menyambut kebahagiaan yang hakiki. Amiiien…
Selamat tahun baru, kawan…





Catatan Perjalanan : Beijing yang amazing…

31 08 2014

Dear kawan,

Konferens yang aku ikuti

Konferens yang aku ikuti

Mungkin kalian pernah mendengar ungkapan “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China”… yah, itulah yang minggu lalu aku coba jalankan… yaitu mencari ilmu tentang kefarmasian dan ilmu pariwisata hehe…  Alhamdulillah, aku berkesempatan menjejakkan kaki ke negeri tirai bambu ini, melalui sebuah international conference yang bertajuk : ”2nd International Conference and Exhibition on Pharmacognosy, Phytochemistry & Natural Products”, tanggal 25-27 Agustus 2014, di Beijing, China. Tulisan ini adalah cerita perjalananku ke China beserta seluk beluk persiapannya… sekedar untuk dokumentasi pribadi, dan inspirasi jika ada yang ingin mencoba juga…

Keinginan menjelajah ke China sudah lama ada dalam angan-angan. Siapa yang tidak kenal Tembok Besar China yang termasuk salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia dan masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO ? Rasanya pengen sekali menginjakkan kaki ke sana suatu saat. Karena itu, aku memang sengaja mencari event seminar atau konferensi internasional yang diselenggarakan di sana, supaya bisa pergi ke sana dengan biaya seminim mungkin dari kantong sendiri hehe… sambil membawa tugas negara mendiseminasikan hasil penelitian orang Indonesia di dunia internasional.. ciee… belagu..!

A great effort to the Great Wall

Mewujudkan impian mengunjungi Tembok Besar China ternyata membutuhkan upaya yang besar juga….. yaitu diawali dengan mencari financial support untuk bisa pergi ke sana. Masalah pertama adalah kami mau pergi berdua, yaitu aku dan bu Triana, sementara support dana dari UGM menurut aturan saat itu hanya bisa untuk satu orang per fakultas. Karena itu aku harus mencari sumber lain. Akhirnya aku mencoba apply ke DIKTI untuk bantuan seminar luar negeri. Itu adalah pengalaman pertamaku untuk apply dana serupa dari DIKTI (tahun lalu aku ke Korea dengan dana dari universitas), jadi benar-benar tidak berani berharap banyak… Kalau dapat ya berangkat, kalau tidak ya sudah…. berarti belum rezekinya. Iseng-iseng berhadiah lah…

Untuk apply dana DIKTI maka yang harus disiapkan adalah acceptance letter dari Panitia seminar bahwa kita diterima untuk presentasi oral (bukan poster). Lalu ada beberapa dokumen lain yang harus diupload melalui sistem SIMLITABMAS, seperti surat pengantar dari institusi, info tentang konferens yang dituju, usulan biaya, dll. Singkat cerita, setelah apply dana tersebut, aku harus menjalani penantian cukup panjang untuk mendapatkan kepastiannya. Aku apply bulan April 2014, dan baru mendapatkan kepastian bahwa permohonanku diterima pada bulan Juni. Bayangin, lumayan mepet sekali karena setelah itu aku masih harus mengurus surat ijin perjalanan ke luar negeri dari universitas dan Sekretariat negara dan urusan exit permit yang juga tidak bisa selesai dalam waktu singkat, untuk keberangkatan bulan Agustus.

Di sisi lain, gejolak menjelang pilpres bulan Juli lalu cukup mengayun kurs rupiah tehadap dolar, jadi aku harus segera cepat mengambil keputusan untuk pembelian dan pembayaran tiket pesawatnya karena harga tiket ditetapkan dalam dolar. Aku putuskan untuk segera beli tiket pesawat, karena takut rupiah makin melemah siapapun presiden yang terpilih hehe… dan kami memutuskan untuk berangkat tanggal 24 Agustus dan kembali tanggal 29 Agustus 2014. Selain tiket pesawat Jogja-Beijing pp, kamipun memutuskan untuk segera booking Hotel melalui penyedia layanan booking hotel online yang bisa memberi harga khusus, karena kalau terlalu mepet waktu konferens harga pun bisa menjadi lebih mahal… Bener-bener banyak gambling-nya… kepastian berangkat belum ada, tapi sudah beli tiket pesawat dan booking hotel.. hehe..

Meleset dari rencana awal

Meski tiket pesawat sudah di tangan dan booking hotel sudah dibayar, namun keberangkatan masih belum bisa dipastikan karena surat ijin Setkab dan exit permit belum kami peroleh. Meskipun bisa berangkat pakai paspor hijau, tetapi waktunya sudah terlalu mepet untuk apply visa, lagipula paspor hijauku juga sudah hampir expired dan harus diperpanjang. Sebagai informasi, pengguna paspor dinas (paspor biru) tidak perlu visa untuk ke China karena sudah ada kerjasama bilateral antara Indonesia dan China dalam hal ini. Jadi kami pasrah saja, menanti takdir keberangkatan…

Di tengah ketidak-pastian untuk jadi berangkat atau tidak, aku dikejutkan oleh sepotong SMS dari Tim Analis Dana LPDP, yang menyatakan bahwa proposal penelitian RISPRO-ku lolos tahap seleksi awal dan masuk ke tahap paparan. Ketua Peneliti diharap kedatangannya di Jakarta untuk presentasi pada tanggal 26 Agustus 2014. Whatts…??!… itu kan barengan sama konferensi yang rencananya mau kami ikuti.. Aku sempat panik juga harus bagaimana dan harus segera memutuskan dalam waktu singkat. Kalau tidak jadi ke China, sayang tiketnya yg mahal itu kalau tidak terpakai. Tapi jika tidak ikut presentasi proposal, sayang juga kalau kehilangan kesempatan mendapatkan dana penelitian yang lumayan besar. Mengontak LPDP untuk negosiasi waktu juga bukan hal mudah karena telpon tidak pernah diangkat, sms tidak dibalas, email tidak direspon. Untunglah akhirnya aku memiliki ide, walau bukan ide yg menyenangkan, untuk menunda keberangkatan ke China. Yah…terpaksa tidak bisa berangkat bareng seperti rencana awal. Aku memutuskan untuk reschedule keberangkatan ke China menjadi tanggal 26 Agustus dengan konsekuensi ada tambahan biaya tiket, sementara bu Triana tetap berangkat tanggal 24 Agustus. Rencananya pagi aku ke Jakarta dulu untuk presentasi proposal, malamnya berangkat ke Beijing. Untunglah kebetulan ada penerbangan pada tanggal 26 malam. Dan tahu tidak.. pasporku beserta exit permitku baru bisa jadi pada tanggal 22 Agustus…. hadeeeh …! Almost in the last minute…

Korban modus operandi sopir taksi liar di Beijing

Akhirnya jadilah aku berangkat ke Beijing pada tgl 26 Agustus via Jakarta. Paginya aku ke Hotel Ibis dulu untuk presentasi proposal, dan sorenya berangkat ke Bandara. Setelah menanti cukup lama di bandara Soekarno Hatta sejak sekitar pukul 15:30an, berangkatlah malam itu aku sendiri membelah malam menuju Beijing, pada pukul 22:30 WIB. Tapi ada hikmahnya juga aku punya banyak waktu di bandara, karena aku bisa menyiapkan powerpoint presentasiku yang memang belum selesai karena fokusku ke konferensi terpecah dengan persiapan presentasi proposal RISPRO.

Informasi ttg conference di depan Hotel Doubletree by Hilton Beijing

Informasi ttg conference di depan Hotel Doubletree by Hilton Beijing

Perjalanan Jakarta-Beijing ditempuh dalam waktu 6 jam 46 menit. Pesawat Garuda yang kutumpangi mendarat mulus di Beijing Capitol Airport pada pukul 07.30an waktu setempat. Sesampai di Beijing, aku mencoba mencari taksi menuju hotel, dan aku sudah mendapat referensi bahwa ongkos taksi dari bandar ke Hotel Doubletree by Hilton Beijing adalah sekitar 200-250 yuan. Temanku kemarin malah kena charge 300 yuan. Ketika aku mencoba keluar dari Bandara, seperti di kota-kota di Indonesia, penumpang langsung diserbu tawaran naik taksi. Pertama ada yang menawarkan ongkos 450 yuan ke hotel, langsung saja aku tolak. Aku bilang bahwa temanku cuma bayar 200 yuan ke hotel (dalam bahasa Inggris dicampur bahasa isyarat). Repotnya di China itu tulisan hampir semuanya kanji dan tidak banyak yg bisa bahasa Inggris. Sebenarnya belakangan ada info bahwa kalau mau cari taksi yang resmi, mestinya naik satu lantai lagi di bagian departure. Tapi saat itu aku ada di bagian arrival dan tidak banyak terlihat ada taksi. Selain itu informasi di bandara cukup minim dan info itu kuketahui setelah mau pulang….

Akhirnya ada satu sopir yang ketika aku tawar 200 yuan dia setuju. Dia pun serta merta menggeret koperku dan memintaku mengikuti dia. Dengan sedikit harap-harap cemas aku ikuti dan berharap baik-baik saja. Ternyata dia parkir cukup jauh dan bukan taksi resmi. Dan harapanku tidak menjadi kenyataan, karena ketika baru berjalan beberapa puluh meter dia berhenti, dan bilang minta uang lagi untuk bayar tol 100 yuan. Aku langsung protes karena semula dia bilang 200 yuan sudah termasuk tarif tol. Tapi akhirnya aku sepakati menambah 50 yuan, dan dia minta dibayar saat itu. Ya udah, daripada ngga sampai-sampai aku pun membayar. Eh, kecurangan kedua terjadi lagi… Setelah mobil berjalan sekian puluh meter lagi, di jalan dia berhenti dan menyetop satu taksi resmi. Dia bicara ke sopirnya sambil menunjukkan informasi hotel yang kutuju, dan aku dioper ke taksi tersebut dengan dia menyerahkan sejumlah uang. “Dont worry, no more money,” katanya padaku. Untunglah sopir taksi berikutnya cukup baik orangnya, dan dengan bahasa isyarat dia bilang bahwa ongkos ke hotelku itu sebenarnya cuma sekitar 100 yuan… Hadeeh…! berarti si sopir pertama itu modusnya adalah mengambil penumpang dari bandara dengan ongkos yang lebih besar dari seharusnya, lalu dioper ke taksi resmi dengan harga biasa, dan dia mengutip kelebihannya…. Yah, sebuah pengalaman seru yang cukup berharga untuk menggunakan transportasi di Beijing… Belakangan aku mendengar cerita teman-teman yang sudah duluan datang bahwa mereka membayar ongkos taksi yang berbeda-beda untuk satu tujuan yang kira-kira jaraknya sama, tergantung pintar tidaknya menawar, karena sebagian taksi tidak mau pakai argometer.

 

Presentasi dalam seminar

Sesampai di hotel sekitar jam 9 waktu setempat, aku segera mandi dan siap-siap menuju ruang seminar. Dan alhamdulillah, presentasiku berjalan lancar-lancar saja. Konferensi diikuti oleh peserta dari berbagai negara, seperti China, Jepang, Korea, India, USA, Australia, Mesir, Russia, Saudi Arabia, Malaysia, Indonesia, Philipina, dll. Tetapi karena aku datang sudah pada hari ketiga, peserta terlihat mulai berkurang. Namun demikian, cukup banyak ilmu baru yang diperoleh dari konferensi ini yang menambah inspirasi.

 

Petualangan pertama ke Forbidden City dan Jingshan Park

Siang hari setelah makan siang, kami bersiap untuk menjelajahi Beijing berdua. Tujuan pertama adalah Forbidden city atau Kota Terlarang. Kota Terlarang, sering disebut juga dengan “Istana Terlarang”, terletak persis di tengah-tengah kota kuno Beijing dan merupakan istana kerajaan selama periode Dinasti Ming dan Dinasti Qing. Dikenal sebagai “Museum Istana”, lokasi ini memiliki luas sekitar 720,000 meter persegi, 800 bangunan dan lebih dari 8.000 ruangan. Oleh UNESCO, Kota Terlarang dikatakan merupakan koleksi struktur kayu kuno terbesar di dunia, dan terdaftar sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1987 sebagai “Istana Kerajaan Dinasti Ming dan Qing”. Lokasi istana kerajaan berada di utara dari lapangan Tiananmen dan dapat diakses dari lapangan tersebut melalui Gerbang Tiananmen.

Setelah tanya pada petugas Hotel, kami ditunjukkan untuk mengambil bus jalur 7 menuju halte terdekat dengan Kota Terlarang. Oya, untuk naik bus di Beijing, jangan lupa menukarkan uang dulu supaya memiliki recehan 1 yuan, karena ongkos naik bus jauh dekat 1 yuan. Bus yang kami tumpangi adalah bus tingkat dengan kondektur seorang wanita. Dengan bahasa isyarat kami sampaikan bahwa kami akan ke Forbidden city (kami bawa tulisan kanji yang menunjukkan tempat yang kami tuju). Wajahnya datar tanpa ekspresi ketika menunjukkan tempat kami harus turun… hadeeh… ! Dari halte tempat berhenti, kami masih harus jalan agak jauh melintasi Lapangan Tiananmen. Yang menarik, di sana banyaaak sekali orang China hehee….. ya iya laah, namanya juga di China. Iya, tapi maksudku adalah banyak sekali turis datang, dan sebagian besar berwajah China. Mungkin mereka turis domestik yang sedang berkunjung di Beijing, dan juga terbukti bahwa penduduk China banyaak sekali…

Di depan salah satu bangunan di Forbidden City

Di depan salah satu bangunan di Forbidden City

Untuk masuk ke dalam Forbidden City kami harus membeli tiket seharga 60 yuan per orang. Alhamdulillah, cuaca cerah.. dan kami pun mulai menjelajah di Kota terlarang yang cukup luas. Ada beberapa bangunan besar-besar di dalamnya, dan juga taman. Kota terlarang ini adalah istana kaisar yang dibangun pada tahun 1420. Selama sekitar 500 tahun, dari th 1420 sampai 1924, ada sebanyak 24 kaisar Cina hidup dalam istana tersebut, yaitu 14 kaisar dari Dinasti Ming, dan 10 kaisar dari Dinasti Qing. Pada tahun 1924, Jenderal China – Feng Yuxiang meluncurkan kudeta di Beijing dan mengusir kaisar Cina terakhir, yaitu Kaisar Pu Yi, dari Kota Terlarang. Kota Terlarang mulai terbuka untuk umum pada tahun 1925. Istana Kota Terlarang ini terbagi dalam dua bagian, di mana bagian selatan adalah bangunan utama di mana para Kaisar dahulu menjalankan roda pemerintahannya, sedangkan di bagian utara adalah tempat tinggal keluarga Kaisar. Sayangnya kami datang sendiri tanpa guide, sehingga tidak ada yang menjelaskan mengenai sejarah dari bangunan-bangunan yang ada di sana secara detail. Dan kamipun tidak sampai menyusuri semua bagiannya. Tapi yang penting kami sudah masuk ke sana, dan sah kalau dibilang sudah pernah ke Beijing hehe…..

Jika kami masuk dari bagian selatan, maka kami keluar melalui gate sebelah utara Forbidden city. Di depan pintu keluar sebelah utara, terdapat tempat yang tak kalah menarik yaitu Jingshan Park. Jingshan park semulanya adalah taman bagian dari Forbidden city, namun sekarang terpisah oleh jalan. Di dalamnya ada bukit buatan setinggi 45,7 meter yang dibangun pada era kaisar Yongle dari Dinasti Ming. Jingshan park terdiri dari 5 puncak, dan pada masing-masing puncak terdapat semacam pavilion.

Permaisuri Kaisar Khong dari dinasti Guan (kerajaan biskuit)

Permaisuri Kaisar Khong dari dinasti Guan (kerajaan biskuit)

Untuk masuk ke Jingshan Park, tiketnya hanya 2 yuan per orang. Semula kami pikir sekedar taman biasa, ternyata setelah mencapai puncak sangatlah indah pemandangannya. Dari atas terlihat hampir keseluruhan Forbidden city dan sebagian kota Beijing. Dan yang paling menarik adalah kesempatan memakai baju permaisuri kaisar China di salah satu pavilion Jinshan dengan membayar 25 yuan. Kamipun mencobanya…  kapan lagi bisa ke China dan tampil bak permaisuri? Hehehe…. Perjalanan menuruni puncak Jingshan park kami tempuh melalui jalan yang berbeda dari jalan naiknya… dan tidak sengaja kami ternyata melalui tempat di mana kaisar terakhir Dinasti Ming, yaitu Chongzhen gantung diri pada tahun 1644. Di situ terdapat pohon yang merupakan replika pohon tempat sang Kaisar gantung diri dan papan yg bertuliskan info tentang kisah tersebut. Hiii…serem…!

naik rickshaw

naik rickshaw

Perjalanan dari dua tempat tadi menutup petualangan hari itu, dan kami pun pulang ke hotel menggunakan bus. Tapi sempat juga kami bingung mencari halte bus yang harus kami datangi, dan itu menjadi alasan kami untuk naik rickshaw (kendaraan mirip becak yang dikayuh di depan oleh tukangnya) karena juga sudah kelelahan berjalan. Sayangnya kami sempat ketipu sama tukang rickshaw-nya…. Ongkos naik rickshaw disepakati 20 yuan, tetapi karena tidak punya uang kecil, aku bayar dengan 50 yuan. Dia kembalikan padaku 30 yuan. Belakangan baru aku ketahui bahwa dari 30 yuan uang kembaliannya, 20 yuannya adalah BUKAN uang China, tapi mirip sekali dengan uang China, sehingga tidak laku untuk beli di supermarket. Kami menyadari hal itu setelah kami mampir supermarket dan akan membayar, ternyata kasirnya bilang bahwa uangnya salah… Semula aku tidak ngeh… setelah aku amati lagi, barulah sadar bahwa uang 20-an itu ternyata bukan uang yuan, tetapi dari negara lain yang mirip sekali warnanya dengan uang yuan…. Hadeeeh, mane keteheee…… ketipu maniing….

 

 Petualangan kedua ke Ming Tombs dan Great Wall Badaling

Penerbangan ke Jakarta dari Beijing baru ada lagi pada tanggal 29 Agustus, sehingga kami ada waktu seharian setelah conference untuk menjelajahi Beijing. Kebetulan sekali kawan dari Universitas Andalas, yaitu Prof Dachrianus dan bu Ayu istrinya, juga mengikuti konferensi ini dan keluarga mereka menyewa satu travel agen untuk berkeliling Beijing. Maka jadilah kami ikut rombongan keluarga mereka yang kebetulan hari itu punya tujuan ke Great Wall. Dengan membayar 400 yuan seorang, kami bisa ikut tour sehari bersama mereka, sudah termasuk tiket masuk, lunch, dan dinner.

Bersama keluarga Prof Dachrianus di salah satu bagian Ming Tomb

Bersama keluarga Prof Dachrianus di salah satu bagian Ming Tomb

Perjalanan dimulai sekitar pukul 9 pagi waktu setempat dengan destinasi pertama adalah pusat penjualan batu giok/jade. Setelah melihat-lihat dan membeli sekadarnya, kami menuju destinasi kedua yaitu makam kaisar yang disebut Ming Tomb. Ming Tombs adalah makam kaisar-kaisar dinasti Ming. Ada sebanyak 13 tomb (makam Kaisar) yang tersebar di sekitar Beijing, dan yang kami kunjungi adalah tomb terbesar yaitu Chang Tomb. Chang Tomb merupakan makam bagi Kaisar Zhu Di dan istrinya, kaisar ketiga Dinasti Ming, yang memerintah China pada tahun 1402-1422. Arsitekturnya mirip seperti Forbidden city, dan menariknya pilar-pilar besarnya terbuat dari kayu cendana yang sangat besar dan tua. Kami masuk ke sana dan memasuki bangunan besar di dalamnya, namun sayangnya tempat penguburan kaisar di Chang Tomb tidak terbuka untuk umum, jadi kami tidak bisa melihat langsung tempat penguburannya.

Selepas dari Ming Tombs kami makan siang di sebuah restoran yang menyediakan makanan untuk muslim, sekalian sholat dhuhur. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Tembok Besar China yang sudah membuat penasaran…

Mejeng dulu di depan pintu masuk Great Wall

Mejeng dulu di depan pintu masuk Great Wall

Sampailah kami di Great Wall, sebuah bangunan yang sangat terkenal di dunia. Bangunan ini mulai dibuat pada tahun 221 sebelum Masehi pada jaman dinasti Qin. Kemudian pada dinasti Ming (th 1368 – 1644) bangunan ini diteruskan pembuatannya, ditambah dengamenara suar, menara pengintai, meriam, dan diperkuat dengan batu-batu granit. Tembok besar China bukanlah bangunan yang sambung-menyambung, tetapi terdiri dari beberapa bagian, yang panjang totalnya adalah sekitar 8.850 km. Ada sedikitnya 7 bagian yang terkenal untuk dikunjungi. Bagian (sections) yang berlokasi dekat Beijing ada 3, yaitu Badaling, Mutianyu dan dan Simatai. Selebihnya adalah Huanghuacheng, Jiankou, Gubeikou, dan Jinshanling. Masing-masing memiliki pemandangan dan keunikan tersendiri.

Jika ingin menikmati budaya dan keindahan Great Wall, dengan susunan batu bata berkelok-kelok, maka Badaling adalah pilihan pertama. Hal ini karena Badaling terkenal dengan budaya yang mengakar, pemandangan megah dan fasilitas militer yang lengkap, yang merupakan esensi dari Tembok Besar. Sebagian besar gambar Tembok besar China yang sering kita temui adalah pemandangan di Badaling. Bagian ini merupakan bagian yang paling ramai dikunjungi turis. Tapi jika kita ingin yang agak sepi dari wisatawan, maka Mutianyu adalah pilihannya. Jika ingin melihat bagian tembok besar yang lebih primitif dengan pemandangan padang gurun, maka kita sebaiknya mengunjungi Simatai dan Gubeikou. Sedangkan yang pemberani dan suka berpetualang dengan puncak curam dan pecahan batu-bata, pilihannya Huanghuacheng dan Jiankou. Puncak curam dan pecahan batu bata akan menantang keberanian dan rasa ingin tahu. Yang penting jangan lupa membawa persediaan air minum dan makanan secukupnya. Kata guide tour kami, kunjungan ke satu section Great Wall butuh satu hari. jadi karena ada 7 sections, maka butuh 7 hari di Beijing untuk bisa mengunjungi semuanya dengan puas….

Pemandangan dari salah satu menara suar.. indah sekali

Pemandangan dari salah satu menara suar.. indah sekali

Kami sendiri mengunjungi Badaling, section yang paling sering dikunjungi wisatawan… Tempatnya bersih dan terawat baik. Menaiki tangga yang lumayan tinggi dan curam untuk menuju menara suar dan menara pengintai sungguh suatu perjuangan tersendiri. Memasuki dan menyusuri Tembok Besar China mau tak mau harus mengagumi orang-orang China jaman dahulu dengan peradaban yang telah sangat tinggi ratusan tahun yang lalu. Pemandangan dari menara pengintai sangat indah. Kebetulan cuaca cukup nyaman, tidak terlalu cerah sekali, tetapi justru jadi tidak terlalu panas. Tapi kami tidak sanggup untuk lebih jauh dari satu menara suar saja… cukuplah merasa puas bisa menginjakkan kaki di sana dan mengabadikan beberapa foto. Kami berjumpa dengan banyak wisatawan dari berbagai negara… ada yang berkulit hitam, berkulit putih, dan yang berkulit sawo matang sekali seperti kami hehe…. Waktu turunnya pun kaki sedikit gemeteran karena sudah pegal …. hadeuuh….

 Ending perjalanan

Perjalanan hari ini ditutup dengan berkunjung ke toko souvenir untuk berbelanja oleh-oleh sekadarnya, melihat Stadium Olympic th 2008 dari jauh saja, dan makan malam di sebuah restoran muslim di kawasan Niujie. Kawasan ini adalah kawasan muslim di Beijing di mana terdapat Mesjid Niujie. Sayangnya aku tidak berkesempatan mengunjungi mesjidnya karena keterbatasan waktu. Alhamdulillah, kami kembali ke hotel dengan rasa syukur dan lega telah menyelesaikan misi perjalanan ke China dengan baik hehe... Cukup lengkap untuk sebuah perjalanan singkat ke Beijing karena telah mengunjungi tempat-tempat wajib di Beijing….  Malamnya kami berkemas karena esok paginya kami harus berangkat pagi untuk pulang ke Indonesia tercinta…

Demikian sedikit catatan perjalananku ke China, sekedar dokumentasi pribadi. Walaupun sempat dua kali kena tipu warganya, bagaimanapun Beijing tetap merupakan kota yang amazing, kombinasi antara sejarah dan modernitas sebagai ibu kota negara. Pengalaman mengunjungi Beijing, walau hanya singkat, telah cukup mewarnai pengalaman hidupku. Semoga masih berkesempatan mengunjungi kota-kota menarik lainnya lagi di dunia….

 

 

 





Catatan perjalanan: Petualangan seru di Pulau Jeju

28 11 2013

Dear Kawan,

Jeju island

Jeju island

Pernah mendengar nama Pulau Jeju di Korea Selatan? Pulau ini adalah salah satu pulau terindah di dunia, dengan banyak pemandangan alam yang mempesona, dan bahkan beberapa keindahan alamnya menjadi bagian dari 7 keajaiban alam di dunia (7 wonder of nature). Beberapa film Korea mengambil alam Jeju sebagai setting dalam filmnya. Alhamdulillah, aku beruntung mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki ke sana dan menikmati keindahannya. Kesempatan ini tentu tidak datang dengan sendirinya, tetapi perlu diperjuangkan.. Sebuah even yaitu Asian Federation of Pharmaceutical Science (AFPS) Conference 2013 menjadi “kendaraan”nya. Tanpa mengikuti acara semacam konferens atau seminar dengan presentasi oral, tentu tidak akan bisa mendapatkan bantuan biaya transportasi dan akomodasi. Kalau mau berangkat dengan biaya sendiri, apalagi dengan mengajak keluarga,…hmm… berat di ongkos, boo….!!  Apa harus korupsi dulu atau merampok bank? Hehe…

Well,.. singkat cerita, setelah abstrak untuk presentasi oral diterima oleh panitia, lalu mengurus berbagai dokumen di universitas, termasuk urusan paspor dinas dan surat ijin Setkab, akhirnya berangkatlah aku ke Jeju melalui Seoul. Kami dari Fakultas Farmasi UGM berangkat bertiga, yaitu dengan Bu Triana dan Pak Kharis. Tentu tujuan mulianya adalah untuk mendiseminasikan hasil penelitian kami di even regional/internasional untuk meningkatkan rekognisi Fakultas maupun Universitas, serta bisa menyerap ilmu dari para peneliti lain di belahan bumi yang berbeda… ciee…!! Tapi yang ngga kalah penting adalah “side-effect”-nya yaitu bisa jalan-jalan menjelajahi bumi Jeju di Korea hehe….

Perjalanan

Perjalanan dari Jogja ke Jeju memakan waktu total 26 jam terhitung sejak aku keluar rumah sampai menjejakkan kaki di Pulau Jeju. Whats??!!  Selama itu kah penerbangannya?…. Tentu tidak. Rute yang kutempuh dari Jogja ke Jeju adalah Jogja – Jakarta – Incheon (Seoul) – Jeju. Lumayan panjang, dan itu salah satu alternatif yang cukup convenient. Penerbangan dengan Garuda dari Jakarta ke Seoul dijalani dengan penerbangan malam, pukul 23.30, dan mendarat sekitar pukul 08.30 waktu Seoul. Penerbangan lanjutan ke Jeju adalah pukul 19.00, jadi kami punya waktu hampir seharian di Seoul. Sebenarnya ada penerbangan yang lebih awal ke Jeju, tetapi harus pindah ke bandara domestik Gimpo. Aku sengaja memilih penerbangan yang lebih malam saja, supaya bisa memanfaatkan waktu jeda menunggu untuk melancong ke Seoul, lagipula tidak perlu pindah bandara.

Salah kostum

Yang kurang tepat aku prediksikan adalah suhu udara di Seoul yang ternyata sekitar 1 derajat Celcius. Wah, salah kostum deh… karena aku hanya bawa sweater-sweater yang ngga terlalu tebal. Setelah aku cek lagi di peta, aku baru sadar bahwa Seoul itu berada cukup utara, yakni di garis lintang 37,28 Lintang Utara, kira-kira sejajar dengan Sendai di Jepang. Jadi maklumlah kalau suhu di awal musim dingin ini cukup dingin. Selama ini yang aku cek adalah perkiraan suhu di Jeju yang katanya berkisar 8-10 derajat. Jeju berada di garis lintang 33,30 Lintang Utara, hampir sejajar dengan Matsuyama Jepang (tempat aku belajar sewaktu S3 dulu), yang cuacanya memang lebih mild. Akhirnya untuk mengatasi suhu dingin, aku pakai sweater dobel-dobel..

Petualangan pertama : Insa-dong (Seoul)

Menanti bus no 6011 menuju Anguk

Menanti bus no 6011 menuju Anguk

Kalau biasanya jika aku melakukan perjalanan keluar kota sudah ada panitia yang mengantar ke tempat-tempat menarik, perjalananku kali ini banyak unsur petualangannya hehe… Membaca peta, baca buku panduan, dan tanya-tanya orang ketika mau menuju suatu tempat, sungguh cukup menantang. Terus terang persiapanku mempelajari Korea sangat mepet karena bahkan sampai hari terakhir sebelum berangkatpun masih harus menyelesaikan berbagai pekerjaan: review paper utk jurnal, kejar deadline laporan penelitian, bikin soal-soal ujian, sampai assesmen sertifikasi dosen. (Tau nggak, aku bahkan menyelesaikan assesmen sertifikasi dosen secara online di bandara Incheon Seoul hehe… buka rahasia nih… Untungnya koneksi internet sangat bagus. Wifi ada di mana-mana). Repotnya, tulisan di sana kebanyakan pakai tulisan Korea yang kriting-kriting itu, dan juga banyak dari mereka yang tidak fasih berbahasa Inggris. Tapi ga papa deh… the show must go on hehe..!!

Setelah kami baca-baca bentar pada buku Korea Travel Guide waktu leyeh-leyeh di bandara Incheon, kami tertarik dengan deskripsi tentang Insa-dong. Disebutkan bahwa Insa-dong adalah daerah dengan traditional culture of Korea dan tempat yang tepat bagi visitors yang pertama kali datang ke Korea untuk melihat aspek tradisional Korea. Lalu kami tanya ke Tourist information center bagaimana caranya untuk pergi ke sana. Ternyata cukup mudah, yaitu dengan bus Airport Limousine nomer 6011, dan turun di Anguk bus station. Tiket seharga 10.000 won jurusan Anguk dapat dibeli di counter tiket di airport, atau langsung dibayar di bus. Akhirnya dengan pake  sweater dobel, kami (aku berdua dengan bu Triana) siap-siap menembus dinginnya Seoul menuju Insa-dong. Aku sempat terkesan dengan sistim pembayaran tiket yang ada di bus, baik selama di Seoul maupun nanti di pulau Jeju. Penumpang bisa bayar dengan berbagai cara, berupa beli tiket, atau bayar cash, pakai kartu elektronik, atau bahkan dengan smart phone yang tinggal ditempelkan pada suatu alat semacam scanner di bus. Keren deh…!

Di Insa-dong dengan latar belakang toko-toko souvenir khas Korea

Di Insa-dong dengan latar belakang toko-toko souvenir khas Korea

Suhu dingin di Insa-dong cukup menusuk tulang, tanganku sampai beku karena tidak pakai kaos tangan, tapi hal itu tidak memudarkan semangat untuk berpetualang hehe… Setelah berhenti di Anguk station dan bertanya pada beberapa orang, sampailah kami ke Insa-dong. Di Insa-dong ada jalan tidak terlalu lebar, untuk pejalan kaki, yang dipenuhi dengan toko-toko souvenir tradisional Korea, lukisan, keramik, dll, termasuk juga beberapa restoran Korea. Wah, mata kami langsung jelalatan melihat aneka souvenir… mulai dari gantungan kunci, gunting kuku, dompet, tas, lukisan, kaos, dan aneka macam souvenir khas Korea lainnya. Aku harus berupaya keras menekan nafsu belanjaku hehe… di samping sangunya tidak banyak, konferens aja belum dimulai masa udah belanja duluan…

Di halaman istana

Di halaman istana Changyeonggung

Sepulang dari Insa-dong kami melewati sebuah bangunan tradisional, yaitu istana Changyeonggung. (Aduuh… paling susah menghafalkan nama Korea. Aku selalu terbalik-balik melafalkannya.) Sebenarnya kami tidak secara sengaja ke sana, tapi kebetulan saja sambil sekalian mencari bus station untuk kembali ke Incheon Airport. Istana ini banyak dikunjungi oleh para pelancong. Yang menarik, di depan istana ada 4 orang penjaga dengan pakaian kebesarannya, yang berganti-ganti posisi pada interval waktu tertentu. Kami tidak masuk ke sana sih, sekedar melihat dari halaman depan saja. Akhirnya kami balik ke Incheon sekitar jam 5 sore. Cukup senang bisa sampai Seoul, walau cuma sampai Insa-dong. Yang cukup repot di Seoul ini adalah mencari makanan yang halal dan tempat sholat. Untuk makan siang kami mencoba pancake seafood dan sop tofu. Dan tentu saja disajikan dengan kimchi… Lama-lama aku suka juga makan kimchi, padahal waktu di Indonesia membayangkan saja tidak suka…

Hari pertama di Jeju

Hotel Ramada Plaza di kejauhan

Hotel Ramada Plaza di kejauhan

Pesawat Asiana Airlines yang membawa kami ke Jeju terbang mulus dan mendarat di Jeju Airport pada jam 20:an waktu setempat. Sesuai dengan prediksi, suhu di Jeju tidak sedingin suhu Seoul. Kami langsung naik taksi menuju hotel Ramada Plaza tempat conference akan diselenggarakan, sekaligus tempat kami menginap. Sopir taksinya cukup ramah, menanyakan kami dari mana. Yang menarik, setelah tahu kami dari Indonesia, dia sempat menanyakan tentang GDP (gross domestic product)  Indonesia. (Waduuh, maap pak Sopir, aku ngga pernah mikirin…. yang jelas pastinya jauh deh di bawah Korea Selatan hehe…) Hotelnya sendiri cukup bagus dan berlokasi di pinggir laut. Ditawarkan kamar dengan ocean view atau mountain view. Tapi aku memilih kamar dengan mountain view saja, karena harganya lebih murah. Maklum harus berhemat-hemat karena biaya hidup di Korea cukup tinggi. Malam itu kami langsung terkapar dengan pasrah karena kelelahan setelah perjalanan dan jalan-jalan cukup panjang….

Awal musim dingin di Jeju membuat agak disorientasi waktu. Jam 6:30 pagi masih terlihat gelap seperti masih malam. Akhirnya kami memutuskan sholat shubuh pada pukul 5 saja seperti di Indonesia. Hari pertama di Jeju kami terbangun agak siang setelah tidur lagi seusai sholat shubuh. Karena acara pembukaan baru akan dimulai jam 13, pagi menjelang siang kami memutuskan untuk mengeksplorasi tempat konferens sekaligus registrasi dan melihat-lihat sekitar hotel. Di area konferens untuk registrasi, kami bertemu dengan delegasi Indonesia yang lain, yaitu dari Unpad (Univ Padjajaran) dan dari UI (Universitas Indonesia). Cukup surprised juga ketika pertama kali bertemu dengan Prof Yahdiana dari UI, beliau menyapa..” Ini bu Zullies, kan.?”….hehe.. agak ngetop juga rupanya… Area konferens ada di lantai 2 hotel dan menghadap ke arah lautan sehingga pemandangan keluar terlihat cantik. Banyak panel-panel poster yang sudah mulai dipasang di lobby, sehingga kita bisa menikmati poster sambil melihat laut luas hehe…

Setelah registrasi dan melihat-lihat tempat konferens, kami keluar hotel untuk mengeksplorasi sekitar hotel. Yang penting adalah nambah beli minuman dan makanan buat makan siang.  Sampailah kami di E-mart, sebuah department store yang merupakan jaringan retail tertua dan terbesar di Korea.  Setelah cukup berkeliling, kami terdampar di sebuah toko souvenir khas Jeju. Biasalah… mata langsung jelalatan mencari berbagai barang menarik yang bisa dijadikan oleh-oleh sambil menghitung-hitung isi kantong. Beruntung penjualnya seorang wanita muda yg ramah dan bisa berbahasa Jepang. Akhirnya berbekal bahasa Jepang sepotong-potong, aku mencoba nawar dan lumayanlah… beberapa item dapat harga lebih murah dan dapat bonus..  Untuk makan siang kami agak sulit mencari makanan yang bisa dimakan, akhirnya cukuplah makan dua potong onigiri isi tuna dan mayonaise. Gitu aja sudah alhamdulillah…

AFPS Conference 2013

Jam 13 waktu setempat acara pembukaan AFPS Conference 2013 dimulai. Acaranya cukup meriah diwarnai dengan penampilan tradisional Korea berupa tarian dengan menabuh semacam genderang. Jangan dibayangkan ada snack tersedia di lobby seperti kebiasaan acara-acara seminar di Indonesia.  Tapi lumayanlah tersedia teh dan kopi yang bisa diambil self-service. Setelah pembukaan dilanjutkan dengan acara plenary lecture yang disampaikan oleh Kazuhide Inoue, PhD dari Kyushu University Japan,  yang menyampaikan tentang “ P2X4 blockers: new drugs for neuropathic pain”.  Terus terang, aku hanya bisa memahami sepotong-sepotong saja..hehe….

AFPS Conference kali ini adalah yang ketigakalinya diselenggarakan oleh Federasi Ilmuwan Farmasi Asia alias AFPS ini. AFPS conference sebelumnya diselenggarakan di Jepang dan Kuala Lumpur. Pesertanya adalah para ilmuwan/penelitia bidang kefarmasian se-Asia. Untuk konferens kali ini, terdapat 313 peserta presentasi poster dan 24 peserta presentasi oral. Adapun sesi saintifiknya terbagi dalam beberapa bidang, yaitu Physical Pharmacy & Formulation Design, Biotechnology & Drug Delivery, Drug Design & Development,  Regulatory Science & Policy, Biopharmaceutics, Pharmacokinetcs & Metabolism, Pharmaceutical Manufacturing Technology, dan Pharma convergence.  Menurut informasi, AFPS conference mendatang akan diselenggarakan di Thailand pada tahun 2016, dan di Indonesia pada tahun 2019.

Performance tradisional Korea saat opening ceremony

Performance tradisional Korea saat opening ceremony

Sesame seed coated tuna tataki eith tomato salsa and mango dressing...

Sesame seed coated tuna tataki with tomato salsa and mango dressing…

Malamnya kami mengikuti banquet dinner yang cukup meriah..  Sayangnya aku tak pernah nonton film atau memperhatikan artis/penyanyi Korea… Jadi ketika ada penampilan penyanyi Korea dalam dinner tersebut, aku ngga kenal sama sekali. Makanan pada banquet dinner semuanya unik-unik dengan nama yang tak biasa. Sebagai contoh saja, makanan pembuka adalah “Sesame Seed Coated Tuna tataki with Tomato Salsa and Mango Dressing”… Opo maneh kuwi? Hehe… Menu lainnya adalah : Curried cauliflower and potato cream soup with croutons, Garden green salad with kiwi dressing, dan Grilled beef tenderloin steak with pepper sauce. Pulang dinner rasanya kurang kenyang hehe… karena makanannya terlalu ringan-ringan… Indah di mata, tapi kurang kenyang di perut…

Petualangan kedua : Seongsan Ilchulbong peak

Seongsan Ilchulbong dilihat dari atas

Seongsan Ilchulbong dilihat dari atas

Pada malam hari pertama itu, sepulang dinner menjelang tidur, kami mencoba mempelajari Travel guide Jeju dan melihat peta, untuk mencari tempat mana yang akan kami kunjungi besok. Serius banget deh mempelajarinya, melebihi persiapan presentasinya hehe… Karena jadwal presentasi kami kebetulan sore hari, paginya akan kami gunakan untuk menjelajahi Jeju. (Salahnya Panitia kenapa membuat acara konferens di tempat yang terlalu indah, jadi pesertanya pada kabur semua hehe… maap). Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Seongsan Ilchulbong, sebuah bentukan geologis seperti kerucut dengan puncak yang cekung, yang terbentuk dari letusan hidrovolkanik di atas dasar laut dangkal, sekitar 5 ribu tahun yang lalu. Terletak di pesisir timur Pulau Jeju, tingginya sekitar 182 meter. Seongsan Ilchulbong, yang dikenal juga dengan nama “sunrise peak” ini, ditetapkan UNESCO sebagai salah satu “7 wonder of nature” di dunia.

Pagi itu kami berangkat dari hotel jam 7  menuju Jeju inter-city bus station dengan taksi dengan ongkos 4300 won. Selanjutnya kami tanya ke penjual tiket untuk bus jurusan Seongsan Ilchulbong. Syukurlah, kami segera mendapat bus jurusan nomer 700 untuk menuju Seongsan dengan harga tiket 3000 won. Semula sopir taksi yang membawa kami menawarkan untuk mengantar ke Ilchulbong dengan biaya 60.000 won pulang pergi, katanya lebih cepat daripada bus. Tapi kami kepengen berpetualang naik bus saja, karena niatnya memang ingin melihat sekeliling.  Bus membawa kami menuju Seongsan dengan menyusuri pesisir utara pulau Jeju. Pemandangan indah segera terhampar di sepanjang perjalanan, sesekali kami melihat hamparan laut biru di kejauhan. Sebenarnya cukup banyak tempat-tempat yang bisa dikunjungi sepanjang perjalanan itu, tapi dengan waktu yang terbatas, kami tidak bisa memilih terlalu banyak. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, sampailah kami di Seongsan bus station.

Setelah tengak-tengok sekeliling, akhirnya kami menemukan petunjuk jalan menuju Ilchulbong. Harga tiket masuknya 2000 won. Wow… kami langsung terpesona dengan keindahan alamnya… Sebuah jalan selebar 2 meter berundak-undak yang panjang terbentang berkelak-kelok menuju puncak kubah Ilchulbong yang bertinggi 182 meter.  Banyak wisatawan yang melancong kesana, dan tempat ini memang salah satu tempat kunjungan favorit di Jeju. Pelan-pelan kami menyusuri jalan berundak sambil sesekali berhenti kecapekan. Wah,.. terasa banget buat aku yang jarang olah raga, baru beberapa tangga sudah terengah-engah. Namun dengan semangat yang tinggi, sampai juga kami mencapai puncaknya. Apalagi pemandangan dari atas sangatlah indah… hamparan rumah, laut, bukit karang, membentuk lukisan alam yang mempesona.

Pemandangan indah terhampar dalam perjalanan ke puncak Ilchulbong

Pemandangan indah terhampar dalam perjalanan ke puncak Ilchulbong

Puncaknya sendiri hanya berupa hamparan rumput hijau, dan kami berada di salah satu sisi bibir puncaknya. Di puncak terdapat dataran yang digunakan untuk para pengunjung melihat ke arah cekungan puncak Ilchulbong maupun ke arah lain.

Cekungan puncak Ilchulbong di sebelah kiri, dan tangga untuk turun di sebelah kanan

Di pucncak Ilchulbong. Cekungan puncak Ilchulbong terlihat di sebelah kiri, dan tangga untuk turun di sebelah kanan

Perjalanan turun terasa lebih ringan, dan kami banyak mengabadikan pemandangan yang indah dari atas. Pemandangan yang komplit, karena mengandung unsur laut, bukit, dataran, langit… Subhanallah !

Pengumuman tentang performance woman diver di jeju

Pengumuman tentang performance woman diver di jeju

Yang unik lagi dari tempat ini adalah adanya penyelam-penyelam wanita di Jeju yang disebut Haenyeo. Dari tempat tadi, kami turun menuju ke laut, di mana di sana dijumpai para wanita penyelam sedang menjejerkan hasil tangkapannya berupa aneka ikan, kerang, gurita, siput laut, dll. Sayangnya kami datang bukan pada saat yang pas ketika mereka ada performance untuk diving. Untuk performance itu ada waktu-waktunya. Keunikan ini berasal dari budaya Jeju yang matrialkal, di mana para wanitalah yang bekerja mencari nafkah. Keberadaan woman diver ini memang saat ini makin berkurang karena banyak wanita Jeju yang bekerja di bidang lain, namun sebagian masih mempertahankan budaya ini, sekaligus sebagai atraksi untuk pariwisata.

Presentasi oral di AFPS Conference

Mejeng dulu sebelum presentasi

Mejeng dulu sebelum presentasi

Sekitar jam 12.30 kami segera mencari bus untuk kembali ke Jeju city karena harus segera mempersiapkan presentasi kami masing-masing. Sesampai di hotel, ganti kostum resmi, kami menuju tempat konferens berlangsung. Percaya tidak, kami bertemu dengan delegasi dari UI, dan mereka ternyata juga habis jalan-jalan ke Ilchulbong !! Jadi ngga salah kan, kalau kami jalan-jalan dulu sebelum presentasi hehe….

Presentasiku dilaksanakan di ruang Biyang Hall bersama 5 pembicara lain, yang berasal dari Korea, Jepang, China, Thailand, dan Indonesia. Presentasi berjalan lancar-lancar saja, dan aku mendapat satu pertanyaan dari audiens. Tak lama setelah sesi presentasi selesai, karena kebetulan merupakan sesi terakhir, diadakan acara penutupan. Alhamdulillah, tugas utama telah ditunaikan. Malamnya kami berpikir keras, mempelajari travel guide, membaca peta, minta tolong mbah Google, untuk merancang petualangan kami hari berikutnya hehe….

Petualangan ketiga : Jungmun dan Seogwipo area

Hari terakhir di Jeju merupakan hari yang seru. Jadwal penerbangan pesawat kami ke Incheon adalah pukul 21.05, jadi kami punya waktu hampir seharian menjelajahi jeju. Dengan berbekal peta dan buku petunjuk Jeju, kami memulai perjalanan dari Jeju inter-city bus station. Destinasi pertama yang ada dalam rencana kami adalah Taman Nasional Mt. Hallasan. Gunung Hallasan merupakan gunung tertinggi di pulau Jeju dan terletak di tengah pulau, yang merupakan UNESCO World Heritage. Gunung ini merupakan tempat wisata pendakian buat mereka yang hoby mendaki gunung, dengan jalur pendakian sekitar 10 km untuk mencapai puncak. Ada beberapa jalur pendakian yang disediakan, antara lain jalur Seongpanak, Eorimok, Yeungsil, Gwaneumsa, Eoseungsaengak, dan Donnaeko. (aduuh, susah banget ngapalin nama-nama Korea….). Akhirnya kami memilih untuk menuju Seongpanak. Dari Jeju-city, perjalanan dengan bus ke Seongpanak memerlukan waktu sekitar 30-45 menit, dengan harga tiket 2500 won.

salju di kaki gunung Hallasan

salju di kaki gunung Hallasan

Bus nomer 740 melaju membawa kami menuju Seongpanak. Wah, ternyata aku salah kostum lagi…. Ketika kami sampai Seongpanak, area di sana sudah penuh wisatawan, baik dengan bus atau kendaraan pribadi. Mereka dengan kostum jaket tebal, kaos tangan tebal, topi, dan keperluan yang komplet utk mendaki. Suhu di sana sangat dingin bahkan di beberapa tempat terdapat hamparan es/salju berwarna putih. Dengan kostum sweater walaupun sudah dobel, aku tak bisa bertahan lama di sana… tanganpun terasa beku. Dan kami memang tidak ada rencana mendaki gunung yang bisa memakan waktu berjam-jam. Akhirnya kami hanya sekedar foto-foto di sana untuk mendokumentasikan bahwa kami pernah menginjakkan kaki di sana hehehe….

Certificate di kaki gunung Hallasan

Certificate di kaki gunung Hallasan

Lumayan, dapat “certificate” bahwa kami sudah sampai di Mt Hallasan..hehe…  Certificate-nya nempel di sebuah tugu. Tidak sampai 30 menit di sana, kami memutuskan untuk melanjutkan petualangan ke tempat lain, yaitu Seogwipo. Seogwipo adalah suatu kota kecil di bagian selatan pulau Jeju, yang berarti letaknya berseberangan dengan Jeju-city yang ada di bagian utara pulau. Menurut buku travel guide, di daerah Seogwipo terdapat beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi. Jadilah kami menumpang bus lanjutan (no 740) menuju Seogwipo. Kami ditarik bayaran 2000 won untuk ke Seogwipo. Agak sedikit nekad memang, karena kami tidak tau nanti akan seperti apa, berhenti di mana, dan mau kemana. Pokoknya ngikutin aja dulu kemana bus berjalan hehe…

Perjalanan ke daerah Seogwipo cukup indah… di beberapa tempat terlihat pohon-pohon dengan daun kuning dan kemerahan, warna khas  musim gugur. Selain itu, kami juga sering menjumpai hamparan kebun jeruk dengan jeruknya yang oranye bergelantungan. Nampaknya jeruk merupakan komoditi pertanian utama di pulau Jeju. Di setiap bus station kami mencoba mencari tulisan Seogwipo di mana rencananya kami akan berhenti. Sampai akhirnya bus masuk ke daerah perkotaan dan berhenti agak lama di sebuah bus station. Tapi karena nama yang tertulis bukan Seogwipo, kami tetap duduk manis saja di bus sampai bus berjalan lagi.  Beberapa bus station terlewati, tetapi tetap saja tidak ada nama Seogwipo tujuan kami. Bingung deh harus turun di mana… Sampai kemudian bus kami terus berjalan dan terlihat meninggalkan daerah perkotaan. Kami mulai masuk lagi ke daerah yang tidak banyak rumah-rumah. Kami bahkan melewati Stadium World Cup di salah satu bagian perjalanan kami. Akhirnya aku coba mengecek lokasi kami lewat GPS (global positioning system) yang ada di hand phone-ku, dan ternyata posisi kami sudah mulai meninggakan Seogwipo-city.  Wah… berarti udah kebablasan nih… kalau gitu kami harus memutuskan destinasi berikutnya di mana kami akan turun. Segera kami buka travel guide lagi, dan kami pernah membaca bahwa di barat Seogwipo ada destinasi wisata juga yaitu Jungmun Daepo Columnar Jointed lava. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di Jungmun.

Di bus station Jungmun, kami masih bingung mau kemana. Untunglah ada sepasang bapak-ibu yang sudah agak berumur menyapa kami. “Dari Malaysia ya?” katanya.” Oh, bukan, kami dari Indonesia”. Sekalian deh aku tunjukkan gambar yang ada di buku travel guide kami, dan menanyakan jika kami kepengin kesini, bagaimana caranya. Alhamdulillah, ternyata tempat kami berhenti tidak terlalu jauh dari destinasi kami. Dia menunjukkan arah kemana kami perlu jalan, yaitu lurus kesana dan belok kiri, nanti akan sampai. Tapi kalau harus jalan sekitar 1 km…. wah, mana tahan boo… Lagian kami cuma sarapan mi kuah tadi pagi hehe… Akhirnya dengan taksi kami menuju ke Jungmun Daepo yang hanya berongkos 2800 won.

Pilar-pilar karang di Jungmun Daepo

Pilar-pilar batu karang di Jungmun Daepo yang menakjubkan

Jungmun Daepo merupakan tempat yang sangat indah di pinggir laut dengan bentukan geologis yang tidak biasa, berupa pilar-pilar batu berbentuk kubus panjang sebagai akibat pembekuan lava dari gunung yang langsung masuk ke laut ribuan tahun yang lalu. Yang menakjubkan, bekuan lava itu membentuk pilar-pilar yang berjajar rapi seperti dibuat oleh manusia membentang sepanjang 2 km berlekuk-lekuk. Subhanallah… begitulah kebesaran Sang Pencipta. Kami tidak bisa turun ke pilar-pilar batu itu tetapi ada tempat semacam gardu pandang yang didisain untuk memandang dari jauh. Sungguh tidak rugi kami bisa menyaksikan keindahan alam yang juga masuk dalam “7 wonder of nature” ini.

Setelah cukup puas di sana, kami mencari destinasi selanjutnya. Setelah membaca lagi travel guide, kami memutuskan untuk melihat Jeongbang waterfall. Dalam buku tertulis bahwa air terjun ini merupakan satu-satunya tempat di Korea Selatan di mana kita bisa melihat air terjun yang langsung jatuh ke laut. Karena tidak ada bus kesana, kami menggunakan taksi setelah berjalan sebentar ke jalan besar. Jeongbang waterfall cukup banyak dikunjungi wisatawan. Untuk menuju air terjun, kami harus menyusuri jalan berundak-undak yang menurun ke batu-batuan di dekat air terjun. Sebetulnya air terjun-nya sendiri sih menurut aku biasa saja, seperti air terjun yang ada di Indonesia juga. Tapi dengan tinggi sekitar 23 meter dan langsung jatuh ke laut itulah yang menjadi unik. Sehingga juga ada kombinasi pemandangan yang indah… air terjun, langit biru, laut, bebatuan…. sesuatu banget !

Kombinasi cantik antara air terjun, bebatuan, laut, langit dan aku sendiri di Jeongbang waterfall hehe...

Kombinasi cantik antara air terjun, bebatuan, laut, langit dan aku sendiri di Jeongbang waterfall hehe…

Setelah puas menikmati air terjun, kami memikirkan destinasi berikutnya. Ada satu tempat yang menarik nampaknya yaitu Jeju Folk Village museum. Tapi setelah kami bertanya ke Tourist Information Center, ternyata perjalanan ke sana cukup jauh dan nampaknya cukup mahal. Kami turis yang berkantong cekak ini perlu berpikir dua kali. Dan karena sudah siang serta lapar juga, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke kota yang tadi kami lewati, untuk sekedar mencari sesuatu yang bisa dimakan. Petugas information center menyarankan kami untuk naik taksi ke Jungangno rotary. Akhirnya kami naik taksi menuju daerah pusat kota, yang ternyata di dekat Jungangno rotary bus station yang tadi sudah kami lewati dan bus berhenti agak lama, tapi tidak turun karena ragu-ragu. Itulah yang namanya “blessing in disguise”…karena tidak tau harus turun di mana tadi, kami justru bisa sampai Jungmun Daepo hehe…. Kalau kami tadi berhenti di sini, mungkin ceritanya akan lain lagi….

Dua potong crabs roll dan beberapa suap chese cake plus jus tomat di cafe Paris Baguette lumayan memenuhi perut siang itu, sambil kami memikirkan tujuan berikutnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 13-an, jadi kami harus memilih yang dekat-dekat saja, karena setelah itu kami harus kembali ke Jeju-city dan bersiap-siap ke Incheon malamnya. Akhirnya pilihan jatuh ke Seokbujak Theme Park, yang nampaknya cukup menarik dan tempatnya tidak terlalu jauh.

Denah Museum Seokbujak

Denah Museum Seokbujak

Seokbujak Theme Park merupakan museum dan taman yang dipenuhi aneka tanaman, terutama adalah tanaman jeruk (tangerine). Harga tiket masuknya agak mahal, yatu 6000 won. Museum ini merepresentasikan 3 simbol di Jeju, yaitu : angin, batu, dan wanita. Batu-batuan dengan berbagai bentuk menghiasi taman dengan berbagai tanaman. Sayangnya kami datang pada akhir musim gugur, jadi tidak banyak bunga yang bermekaran seperti yang kami lihat pada foto di depan halaman museum.  Kami menyusuri taman yang penuh dengan pohon jeruk dan pohon omija (five flavour berry) yang berbuah lebat, dan taman dengan air mancur. Terdapat pula patung-patung dengan karakter khas Jeju yang menjadi symbol Jeju, yang disebut Dolhareubang, yang artinya “stone grandfather”…

Bersama Dolhareubangs

Bersama Dolhareubangs

Sayangnya lagi tidak ada guide yang bisa berbahasa Inggris, jadi kami kurang mendapat banyak informasi dari Museum ini kecuali dari apa yang dilihat. Yah, tapi cukup puaslah…  Kami tidak terlalu lama di sini karena harus segera kembali ke Jeju-city. Bagian sini menjadi agak heroik karena kami harus berjalan kaki cukup jauh menuju bus station terdekat untuk bisa mendapatkan bus ke Jeju-city. Kalau ada pengukuran lingkar betis pre and post jalan-jalan, kayaknya ada perbedaan signifikan deh….hehee….

Alhamdulillah, akhirnya kami dapat bus menuju Jeju-city, dan kami sengaja naik bus dengan nomor yang sama dengan saat berangkat (bukan sebaliknya) sehingga kami kembali ke Jeju-city dengan rute yang berbeda dengan berangkatnya karena bus berjalan melingkar. Bisa dibilang kami berpetualang melingkari Mt Hallasan, dari sisi utara, timur, selatan, ke barat, dan balik lagi ke utara… Sangat mengesankan…!!

Kembali ke kota tercinta

Kami sampai di Jeju-city pada pukul 5 sore waktu setempat. Segera kemudian menuju Ramada Hotel untuk mengambil barang yang kami titipkan di sana, dan berangkat ke Airport menggunakan taksi. Setelah lumayan lama menunggu di Jeju Airport, akhirnya pesawat Asiana Airlines membawa kami malam itu ke Incheon. Di Incheon kami menginap semalam di hotel Gogo House dekat airport yang memang biasa menerima pelancong yang menginap karena menunggu penerbangan, sehingga merekapun menyediakan service mengantar ke Airport.

Demikianlah kawan, setelah transit beberapa jam di Jakarta, akhirnya kami bisa kembali ke Yogya bertemu lagi dengan keluarga tercinta dengan segudang kenangan dan cerita, seperti yang kudokumentasikan dalam tulisan ini.





Catatan Perjalanan: A Long Way to Bumi Lorosae

25 08 2013

Dear kawan,

IMG-20130823-00482Undangan kali ini kepadaku sebagai Pemateri pada acara Sertifikasi Kompetensi Profesi Apoteker (SKPA) yang diselenggarakan PD Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Nusa Tenggara Timur (NTT) sedikit berbau nepotisme… Lho kenapa?..Ya, karena yang mengundang adalah kawanku satu angkatan kuliah dulu, yaitu Yoseph Nahak Klau, putra Timor asli yang sekarang menjadi Ketua PD IAI NTT. Whatever deh… ini kan bagian dari membangun jejaring dan (saling) memanfaatkan teman hehe… Aku sendiri senang bisa mengunjungi Kupang untuk yang pertama kalinya. Tentunya aku juga berharap kawan sejawat disini bisa memanfaatkan materi yang aku sampaikan selama SKPA. Tulisan ini adalah catatan perjalananku sebagai bagian dari dokumentasi hidup dan cerita buat anak cucu..

Good lesson: ketinggalan pesawat !!

Tiket sudah dikirim beberapa hari sebelumnya oleh Panitia. Materi seminar sudah aku siapkan dan aku kirimkan ke panitia beberapa hari sebelum acara. Anak-anak dan ayahnya sudah aku beritahu bahwa week end ini aku ngamen ke Kupang. Terutama aku juga harus menyiapkan si bungsu untuk ditinggal dua malam tiga hari bersama mbak pengasuhnya. Everything looks smooth and well… Sampailah di hari H. Pagi-pagi tgl 22 Agustus  jam 06.15 aku berangkat ke bandara diantar suami sekalian mengantar anakku sekolah. Perjalanan ke Kupang akan aku jalani dengan pesawat Garuda via Denpasar.

Pesawat Garuda yang membawaku ke Denpasar berangkat on time dari Yogya. Nah, di sini aku sudah mulai agak ceroboh nih... aku boarding paling belakangan karena keasyikan kirim-kirim e-mail saat menunggu di ruang tunggu. Untungnya ngga sampai ditinggal pesawat. Pesawat mendarat di Denpasar sekitar jam 10:15an. Bandara Ngurah Rai sedang berbenah dan direnovasi, sehingga terlihat masih agak semrawut.

Di pesawat aku ketemu kawan Pengurus Pusat IAI, Pak Nunut Rubiyanto, yang juga akan bertugas pada acara SKPA di Kupang. Nah, disini terjadilah lagi “kecerobohan” atau tepatnya “kesantaian” kedua… Boarding time untuk pesawat ke Kupang adalah pk 10.45 WITA. Tapi waktu itu kami, aku dan Nunut, malah mampir ke lounge dulu untuk sekedar minum, dan berpikir bahwa nanti kan ada panggilan masuk pesawat. Akhirnya ketika ada panggilan akhir masuk pesawat, beranjaklah kami ke gate 20.

Pesawat Garuda yg nyaris membawaku ke Surabaya

Pesawat Garuda yg nyaris membawaku ke Surabaya

Gate 20 utk pesawat menuju ke Kupang bersebelahan dengan gate 19 untuk pesawat ke Surabaya. Karena kami memang boarding belakangan, saat tiket kami di-screen barcode-nya sudah tidak banyak lagi penumpang yg menuju ke Kupang. Aku pun masuk lewat gate 20. Tapi suer…. di situ tidak ada petunjuk dan petugas yang mengarahkan atau menunjukkan harus kemana, sementara di sebelah kami melihat barisan penumpang yang masuk via gate 19. Antara jalur gate 20 dan 19 ada pembatas namun agak terbuka. Dengan pede saja aku dan Nunut mengikuti barisan penumpang yang terlihat, yang akan diangkut menggunakan bus menuju pesawat. Kamipun naik bus sampai ke pesawat Garuda dan aku bahkan sudah naik pesawat. Semuanya nampak baik-baik saja, sampai ketika aku sudah duduk sesuai dengan nomor tiket.. terdengar pengumuman ”Selamat datang pada penerbangan Garuda GA sekian sekian  menuju Surabaya”… Whattss ??!!! Ke Surabaya??? Aku kan mau ke Kupang… Buru-buru aku turun, dan Nunut kebetulan masih di luar pesawat karena menyadari lebih dulu bahwa kami salah pesawat. Nah, masalahnya di sini…. ketika terjadi kejadian tersebut, petugas yang in charge di situ tidak tanggap dan tidak segera melakukan tindakan yang seharusnya, misalnya segera kontak ke bagian pemberangkatan untuk menahan dulu pesawat ke Kupang misalnya, karena pesawat ke Kupang masih ada di bandara. Kami dibawa lagi ke gate 20 dengan mobil, tapi nampak sekali petugasnya tidak melakukan aksi yang diperlukan. Malah dikatakan bahwa pesawatnya sudah mulai jalan. Sementara yang mengherankan juga, kenapa pesawat ke Kupang tetap berangkat sementara masih ada dua penumpang yang tertinggal dan kami juga tidak dipanggil atau dikontak. Singkat cerita…kami ketinggalan pesawat, sodara-sodara !!

Aduuh,…. agak lemes dan panik juga aku, dan pastinya kecewa dan menyesal. Sempat kepikir juga.. coba kalau tadi  langsung boarding aja, ngga usah santai-santai masuk lounge pasti ngga akan kejadian seperti ini. Tapi yah… kemudian aku mencoba berpikir positif bahwa ini jalan yang diijinkanNya terjadi padaku saat ini. Kalau Allah masih ijinkan aku ikut pesawat Garuda, pasti tadi tetap bisa terbawa, karena selisih waktunya sebenarnya masih bisa kalau ada tindakan yang tepat dan cepat dari petugas, wong pesawatnya masih di bandara. Pasti ada maunya Dia mengijinkan ini terjadi. Untung juga aku bareng Nunut yang berani ngeyel. Kami menuntut Garuda untuk mengganti penerbangan kami ke Kupang, karena peristiwa tadi bukanlah semata-mata kesalahan kami, tapi karena tidak ada petunjuk yang jelas dan tindakan yang adekuat ketika terjadi peristiwa nyasar tadi. Dan kami kan juga bukan orang yang baru sekali dua naik pesawat…hehe.. Setelah cukup ngotot, akhirnya pihak Garuda mau mencarikan penerbangan pengganti. Sayangnya flight ke Kupang dengan Garuda sudah tidak ada lagi, jadi kami harus pakai maskapai lain. Setelah sempat harap-harap cemas, alhamdulillah akhirnya kami bisa mendapat penerbangan ke Kupang menggunakan Merpati, pukul 15.15 WITA. Duuh, lega banget lah… karena kan penerbangan ke Kupang frekuensinya tidak banyak.. aku sudah kuatir juga membayangkan harus menginap di bandara kalau ngga dapat pesawat.

Sungguh pengalaman yang sedikit menegangkan… tapi benar-benar menjadi pelajaran yang berharga, bahwa aku harus lebih cermat, tidak menyepelekan waktu, dan tidak segan bertanya untuk konfirmasi mengenai apa yang akan kujalani terkait dengan perjalananku seperti jurusan bus di bandara, pesawat, waktu, dan lain-lain. Untunglah kami tidak harus rugi finansial, hanya rugi waktu saja karena perjalanan jadi tertunda sekitar 4 jam.

Sampai di Bumi Lorosae

Merpati melayang mulus membawa kami menuju bumi Lorosae. Kawan-kawan di Kupang menjemput kami di Bandara El Tari Kupang. Ada Aji dan Mbak Fatmawati Blegur, yang semuanya adalah alumnus S2 dari UGM, dan mbak Fatma bahkan bimbinganku thesis ketika belajar di Magister Farmasi Klinik. Mentari sudah semburat jingga hampir terbenam ketika aku menginjakkan kakiku pertama kali di Kupang. Alhamdulillah, akhirnya….sampai juga aku ke Pulau Timor yang jauh. Tak kusangka…

Pantai indah di belakang restoran Nelayan

Pantai indah di belakang restoran Nelayan

Pagi dan siang harinya aku sempat berkeliling sebentar di kota Kupang. Kotanya berbukit-bukit di pinggir laut, dan ternyata berada di atas batu-batu karang. Tidak banyak pohon yang bisa tumbuh baik disitu. Yang menarik, ada pohon spesial yang bisa tumbuh di atas tanah berkarang, yaitu pohon gamal (Gliricidia sepium). Sayangnya aku datang pada bulan yang tidak tepat, karena saat ini pohon gamal belum berbunga. Aku hanya menjumpai satu dua pohon gamal yang mulai berbunga.  Hanya pohon dengan dahan, tanpa daun, dipenuhi bunga-bunga berwarna pink keputihan.., mirip bunga sakura. Di sepanjang jalan dari/menuju Bandara, aku melihat deratan panjang pohon gamal yang sudah tua, membentuk semacam kanopi hidup. Aku sudah bisa membayangkan betapa indahnya saat pohon gamal berbunga. Mungkin seperti musim sakura di Jepang.  Berada di Kupang aku merasa bukan seperti di Indonesia hehe…. seperti di negara empat musim saja. Kata Aji, kawan di sana, di Kupang memang ada 4 musim, yaitu musim hujan, sedikit hujan, panas, dan sedikit panas… 🙂  Saat aku datang ini termasuk sedang musim panas, jadi terlihat gersang karena rumput-rumput menjadi kering kecoklatan, pohon-pohon meranggas menggugurkan daun-daunnya. Tapi katanya pada bulan-bulan tertentu ada musim angin yang cukup kencang yang berasal dari Australia. Walau tidak sempat mampir lama-lama, aku sempat melihat keindahan pantai Kupang yang masih asri dan bersih dan tidak lupa mengabadikan keindahannya.

Acara Seminar, SKPA, dan Kuliah Pakar

Acara SKPA dan Seminar yang diselenggarakan oleh kawan-kawan IAI PD NTT pada tanggal 23-24 Agustus di Hotel T-More cukup ramai dan meriah. Di awali dengan tarian khas Timor untuk menyambut tamu, dan sambutan-sambutan yang lumayan berderet  🙂 , akhirnya acara inti dimulai. Yang menarik, aku dan beberapa tamu Pengurus IAI dan narasumber lain disambut dengan kalungan selempang khas Timor, yang itu merupakan budaya dalam menyambut kedatangan tamu. Aku memberikan materi mengenai Farmakoterapi pada Infeksi Saluran Pernafasan, meliputi common cold, sinusitis, pharyngitis, bronkitis, pneumonia, dan TB, yang menjadi bahan ujian kompetensi apoteker dalam SKPA tersebut. Bersama aku ada dokter spesialis THT yang juga menjadi narasumber. Selain materi utama, ada materi tambahan mengenai malaria dari pakar malaria di NTT. Aku sangat mengapresiasi semangat dan kerja keras panitia dan juga semangat peserta dalam mengikuti acara ini, yang dikuti oleh sekitar 170 orang peserta SKPA. Acara agak molor, tapi overall semuanya berjalan sukses dan lancar. Senang juga aku bisa bertemu beberapa kawan sealmamater, adik kelas, mantan mahasiswa, dan juga kawan-kawan baru di sini.

Bersama Pengurus IAI Pusat, IAI PD NTT, Kepala Dinkes, narasumber, dan panitia

Bersama Pengurus IAI Pusat, IAI PD NTT, Kepala Dinkes, narasumber, dan panitia

Pada tanggal 24 Agustus, sembari kawan-kawan apoteker peserta SKPA mengerjakan ujian kompetensi, aku diundang oleh STIKES Citra Husada Mandiri Kupang (CHMK)  untuk memberikan kuliah pakar. STIKES CHMK adalah salah satu sekolah tinggi bidang kesehatan di Kupang yang memiliki prodi D3 kebidanan dan S1 Keperawatan, dan rencananya (dalam proses) pendirian prodi S1 Farmasi. Ketika aku diundang kesana via Yoseph, aku agak bingung juga karena audiens-nya kan mahasiswa bukan farmasi. Akhirnya kupilih topik yang menurutku cukup pas yaitu Interprofesional education – strategi pendidikan kesehatan terkini. Aku ingin mendorong kawan-kawan yang bekerja dalam pendidikan tenaga kesehatan bahwa pendidikan antarprofesi ini sangat perlu dimulai untuk mendasari kerjasama kolaboratif  antar profesi nantinya jika sudah ada di lapangan kerja.

Aku cukup surprised ketika sampai di STIKES CHMK, ternyata peserta kuliah tamunya banyak sekali.. mereka mahasiswa Prodi S1 keperawatan dan D3 kebidanan, semua menggunakan seragam hijau. Dan mereka menyambutku dengan hangat dan meriah, pakai tepuk tangan dan berdiri, kaya menyambut menteri aja hehe…. mungkin memang budayanya gitu yaa… Ketua/Direktur STIKES CHMK Drg. Jefrey, MKes sendiri yang langsung membuka acara dan memandu diskusi acara. Dan alhamdulillah, topik yang kusampaikan mendapat sambutan dan tanggapan yang baik, karena memang pas untuk membangun mindset pendidikan antar-profesi ini. Dan STIKES adalah tempat yang tepat jika ingin memulai karena mereka merupakan institusi pendidikan kesehatan yang diatur oleh satu manajemen. Tinggal political will-nya bagaimana dari pimpinan.

Yang menarik, ketika aku tanya kepada para mahasiswa peserta kuliah pakar…. “Di antara tenaga kesehatan : dokter, perawat, apoteker, bidan, dll, mana yang levelnya paling tinggi?” … Beberapa spontan menjawab : “Dokter!”. Aku bilang “ Itu tidak tepat, semuanya selevel… hanya berbeda kewenangan dan kompetensinya dalam memberikan pelayanan kesehatan. Dan semestinya antar tenaga kesehatan saling berbagi peran dalam memberikan pelayanan kesehatan, dan tidak perlu ada arogansi salah satu profesi atau sebaliknya kurang confidence-nya profesi lain.”

Wisata kuliner

Seperti biasanya jika pas ada undangan ke luar kota, apalagi yang jauh dan beda budaya, wisata kuliner adalah bagian yang paling kusukai..hehe.. jadi harap maklum kalau ngga bisa kurus-kurus. Malam ketika pertama datang, kami diajak ke restoran Nelayan, salah satu restoran sea food yang ada di pinggir laut. Aneka makanan sea food pun dihidangkan. Yang khas di Kupang adalah tumis atau ca bunga pepaya, serta masakan ikan kuah asam.  Masakannya enaak…!! Sebelum berangkat ke Kupang, aku sudah diberi info oleh suami bahwa katanya yang paling enak itu ikan kerapu hitam bakar dan salad tuna, aku harus mencoba…. hmmm… (alhamdulillah, kedua makanan tersebut sempat aku temukan dan cicipi pada hari terakhir, siang sebelum ke bandara. Mak nyusss !!).

Ikan kerapu hitam bakar..

Ikan kerapu hitam bakar..

Malam kedua, kami dibawa dining out lagi pada restoran lainnya. Kali ini aku mencicipi ca sei. Sei adalah daging asap khas Kupang. Pokoknya kalau sudah urusan kuliner pasti deh aku cobain semua… Anakku pesan supaya dibawain ikan kerapu hitam bakar untuk oleh-oleh.. Dan alhamdulillah, dapat juga oleh-oleh pesanan itu dari Mbak Fatmawati. Terimakasih yaa….

Singing and dining

Singing and dining

Satu yang menarik adalah di kedua tempat kami makan malam, ada organ tunggal yang mengiringi penyanyi menghibur tetamu. Langsung deh, “naluri penyanyi kamar mandi”-ku timbul dan jadilah aku menyanyi beberapa lagu hehe… Di samping adalah hobby, itu sebenarnya adalah salah satu cara asyik supaya tidak kebanyakan makan dan menjadi gendut hehe… Jadi, dalam wisata kuliner, yang penting semua makanan udah dicicip, tapi tetap harus dibatasi biar tidak kebanyakan….

Kembali ke Yogya

Demikianlah catatan perjalananku ke Kupang yang cantik. Terimakasih atas keramahan dan sambutan teman-teman di Kupang. Pastinya tidak akan kapok untuk datang lagi ke Kupang suatu saat nanti. Sabtu siang aku pun meninggalkan Kupang dengan aneka kenangan manis. Kali ini aku perhatikan betul jadwal pesawat supaya tidak ketinggalan. Waktu 3 jam transit di Bandara Ngurah Rai aku habiskan di lounge sambil menyicil catatan perjalanan ini….

Kini waktunya kembali lagi ke dunia nyata dengan daftar pekerjaan yang panjang. Insya Allah bertemu lagi dalam catatan perjalanan berikutnya.. Jadwal long  journey terdekat yang sudah confirmed adalah ke Padang, Insya Allah….