Menikmati Eksotisme Italy..

24 09 2017

Dear kawan,

Kali ini aku mencoba mendokumentasikan perjalananku ke Italy melalui blog ini. Catatan ringan saja, tetapi bisa menjadi kenangan di kemudian hari. Yang menarik, jadwal keberangkatanku yang sudah disiapkan beberapa bulan sebelumnya hampir bersamaan dengan hiruk pikuk kehebohan akibat pil PCC yang mengggemparkan jagad kefarmasian. Sebelum berangkat aku sempat mengupload tulisan lamaku di blog (tulisan tahun 2008) tentang Somadril yang merupakan salah satu merek obat carisoprodol yang menjadi sumber kehebohan. Tak ayal tulisanku mungkin pas mendapat momentum yang tepat sehingga di-share kawan-kawan sampai ratusan kali. Dan begitulah, tak lama kemudian beberapa wartawan dari beberapa media meminta ulasanku tentang PCC. Bahkan sampai saat habis check in di Bandara Soetta pun masih melayani wawancara “on air” di radio Elshinta Jakarta. Sekarang biarlah sekarang yang berwajib yang mengurusnya, aku mau cerita tentang perjalananku ke Italy saja hehehe….

Very long trip

Perjalananku ke Italy kali ini judulnya adalah mengikuti sebuah symposium internasional yang diselenggarakan oleh Phytochemical Society of Europe (PSE) di Francavilla el Mara, Chieti, Italy. Dengan back ground penelitian di bidang farmakologi, cukup mudah bagiku untuk menyesuaikan dengan topik yang disediakan di sana, yang penting menggunakan medicinal plants sebagai salah satu sumber yang diteliti. Sekaligus ini adalah salah satu kewajibanku untuk mendapatkan luaran penelitian berupa keikutsertaan dalam seminar internasional yang aku janjikan dalam proyek penelitian RAPID (Riset Andalan Perguruan Tinggi dan Industri) yang sedang kujalankan. Sengaja aku tuliskan ini di bagian awal supaya pembaca tahu bahwa aku pergi menjalankan tugas hehehe…. walaupun tentu saja ada efek samping yang menyenangkan yaitu bisa menikmati pengalaman baru di negeri orang. Apalagi Italy terkenal sebagai negeri yang indah dan penuh dengan wisata sejarah. Begitulah, kali ini aku kembali berangkat bersama Bu Triana, partner perjalananku untuk ke empatkalinya untuk mengikuti seminar di luar negeri. Kami memang punya angan-angan, minimal setahun sekali harus bisa ikut seminar internasional di luar negeri, untuk menambah wawasan dan pengalaman…

Kami bersyukur bahwa UGM banyak menyediakan kesempatan (dan dana tentunya) untuk kegiatan diseminasi hasil penelitian ke luar negeri. Kali ini kamipun mendapatkan dana dari BPP UGM. Dan untuk bepergian seperti ini, sekarang aku lebih senang menggunakan paspor hijau karena tidak terlalu ribet menunggu surat ijin Setkab dan paspor dinas. Apalagi urusan visa juga dibiayai. Terimakasih, UGM..!! Untuk ke Italy ini aku harus mengurus visa Schengen, di mana aku harus datang sendiri ke Jakarta untuk cap jari. Setelah semua urusan dokumen beres, berangkatlah kami pada tanggal 16 September 2016 lalu.

Alhamdulillah, Komik Apoteker Cilik udah sampe Roma

Total perjalanan yang kami tempuh dari Jogja sampai ke Francavilla mencapai 30-an jam. Lumayan melelahkan, padahal kami pilih Turkish Air yang durasi perjalanannya paling pendek dan waktunya paling sesuai dengan kebutuhan. Route perjalananan kami adalah Jogja – Jakarta – Istambul – Roma – Francavilla al Mare. Oya, sesampai di Roma, kami memutuskan untuk beli data untuk internet dengan nomor Italy, agar tetap get connected dan bisa update berita dengan keluarga di rumah. Karena kalau bertahan dengan nomor Indonesia untuk sekitar 5 hari.. hadeeh, roamingnya lumayan boo…. !! Tidak lupa aku membawa Komik Apoteker Clikku dua seri untuk ikut berjalan-jalan ke Roma hehehe…

Dari Fiumicino Aeroporto di Roma menuju ke Francavilla kami menggunakan bus selama 3 jam. Beruntunglah Panitia sangat helpful, dibuatnya WA group untuk para peserta sehingga kami bisa berkomunikasi dan bertanya hal-hal yang kurang jelas, termasuk urusan transportasi. Francesco, demikian nama ketua Panitianya, menyarankan kami untuk menggunakan bus dan booking via online untuk memastikan dapat tiketnya. Jadilah kami naik Prontobus, dengan biaya 24 Euro/orang. Francavilla al Mare adalah kota kecil di pinggir pantai di bagian timur laut Italia. Perjalanan darat dari Airport ke Francavilla sungguh indah dengan pemandangan unik khas Italia. Sepanjang jalan kami melihat banyak pohon olive dan pepohonan lain yang tidak dijumpai di Indonesia. Lucunya, kami tidak pernah menjumpai sapi di padang rumput seperti di Belanda, tetapi lebih banyak kambing yang ada. Bukit-bukit sepanjang perjalanan bervariasi, dari bukit yang subur sampai dengan bukit kapur yang gundul tak berpohon tapi indah dari kejauhan. Mirip-mirip gletser dari jauh.

Di depan peta kota Pescara

Bus kami berakhir di terminal bus Pescara, kota sebelah yang lebih besar, di mana dari situ kami masih perlu naik taksi ke hotel di Francavilla. Biaya taxi dari Terminal Bus Pescara ke Francavilla adalah 20 Euro. Hmmkalo udah di negeri orang jangan suka mengkurs mata uang yaa… nanti stress sendiri hehehe…  Sampailah kami di hotel pada pukul 18-an waktu setempat, yang berbeda 6 jam, lebih lambat dari waktu di Indonesia. Mulai jetlag deh…. Suasana masih sore, tetapi badan kami adalah badan jam 11 malam… udah capek dan mengantuk. Oya, hotelnya merupakan tempat di mana symposium diselenggarakan. Kamarnya cukup lega sebenarnya, nyaman untuk tinggal. Sayangnya kurang satu hal penting… tidak ada alat pemanas air untuk memasak air panas !! Hal ini agak terasa karena dari Indonesia kami membawa bekal mie instan, bubur, oatmeal yang butuh air panas. Air panas dari tap water memang bisa diminum katanya, tapi kan kurang panas. Yah, tapi bagaimana lagi… hari pertama datang perut belum diisi. Keciaan... jauh-jauh ke Italy, makannya mie instan hehehe….

PSE Symposium

PSE Symposium sudah dimulai tgl 17 September, saat kami datang, tetapi kami baru bisa mengikuti pada hari ke 2, tgl 18 September. Dengan kebaikan hati Francesco, aku bisa me-reschedule jadwal presentasi yang semula tgl 19 September menjadi tgl 18 September, sehingga bisa selesai pada hari pertama. Symposium diikuti oleh kurang lebih 100-an peserta dari berbagai negara, terutama dari negara-negara Eropa, tetapi ada pula yang dari Mesir, Pakistan, dll., termasuk Indonesia. Alhamdulillah, tugas presentasi oral sudah kami laksanakan dengan baik sebelum lunch time.

Bersama Prof Elvira Gille dari Rumania

Di acara itu kami berkenalan dengan seorang professor dari Rumania yang sangat ramah, namanya Prof Elvira Gille.  Gile deh pokoknya hehehe… beliau baik dan suka bercerita, jadi kami merasa nyaman juga bersama beliau. Beliau menceritakan bagaimana kegiatan risetnya di Rumania dan bagaimana mendorong junior-juniornya untuk maju. Beliau sangat menghargai anak-anak muda yang berprestasi. Awalnya kami berkenalan saat lunch, karena sepertinya beliau melihat kami agak bingung memilih-milih makanan halal yang bisa kami makan. Lalu beliau mencoba jelaskan bahwa makanan ini tidak mengandung babi, bla bla bla… Anyway, thanks, Madame… walaupun sebenarnya masalahnya tidak cuma babi saja hehehe….

Excursion ke Pescara

Hari kedua acara PSE Symposium diawali dengan excursion ke Cantina Zaccagnini di Bolognano, sebuah pabrik anggur. Semula kami berpikir akan ikut excursion tersebut, tetapi setelah kami pikir-pikir lagi, sepertinya nanti di sana kami malah tidak banyak bisa ngapa-ngapain, serba ngga enak nanti kalau diminta nyicip wine dan kami menolak.. hehe.. jadi kami memutuskan untuk berpetualang sendiri. Iya, bisa dibilang “berpetualang” karena susahnya di Italy itu adalah tulisannya sebagian berbahasa Italy, udah gitu orang-orangnya juga tidak banyak yang bisa Bahasa Inggris, terutama di kota kecil macam yang kami kunjungi. Jadi memang kadang harus sedikit gambling ketika mengambil keputusan mau kemana, karena tidak mudah untuk bertanya-tanya. Akhirnya kami putuskan untuk berpetualang ke Pescara saja, kota sebelah yang lebih besar dari Francavilla. Aku mencoba searching di internet dan menemukan ada tempat bernama Ponte del Mare di Pescara. Jadilah kami naik taksi dengan tujuan Ponte del Mare.

di Jembatan Ponte del Mare, sebelah kiri terbentang kota, sebelah kanan lautan..

Ponte del Mare adalah sebuah jembatan indah sepanjang 172 m di pinggir laut yang sering dikunjungi untuk berjalan-jalan. Ada jalur untuk pejalan kaki dan pesepeda. Pemandangan sangat indah dari atas jembatan, di mana kami bisa melihat laut di sisi kanan, sementara kota dan bukit di sisi kiri.  Cuaca di Pescara dan suhunya sangat bersahabat. Dengan suhu sekitar 23-24 derajat sungguh nyaman untuk berjalan-jalan.  Turun dari jembatan kami menuju ke pusat kota menyusuri jalan-jalan yang berada di sepanjang pantai dengan pasir putihnya. Tidak banyak yang bisa kami beli di Pescara karena tidak banyak toko souvenir khusus, jadi kami lebih banyak melihat-lihat saja.

Ke Chieti

Pescara tidak begitu besar, jadi kami memutuskan pergi ke kota lain yang cukup dekat untuk melihat suasana yang lain dan mencoba naik kereta. Setelah melihat-lihat di peta serta harga tiket kereta di mesin tiket, kami memutuskan pergi ke Chieti. Waktu itu ada kereta pukul 14.30an, dengan harga tiket 1.9 Euro. Perjalanan ke Chieti kira-kira 30 menit. Sempat agak bingung ketika mau naik kereta karena kurang jelas tulisannya di jalur berapa, semuanya tertulis dalam Bahasa Italy, dan kalaupun ada pengumuman juga disampaikan dalam Bahasa Italy. Untunglah ada anak muda yang baik hati, walaupun Bahasa Inggrisnya tidak lancar, dia bahkan mengejar kami ketika kami berada pada jalur yang salah. Dia sampaikan bahwa barusan ada pengumuman bahwa kereta ke Chieti beralih di jalur 4 (padahal kami ada di jalur 2), . Alhamdulillaah…

Menu di kedai Kebab halal di Chieti

Di perjalanan menuju ke Chieti, aku coba searching lagi di intenet tempat yang bisa dikunjungi di sana, dan ketemulah tempat yang sepertinya menarik, yaitu Corso Marrucino, sepertinya semacam pusat kota begitu dengan tempat perbelanjaan. Oya… breakfast kami di hotel tadi pagi “hanya” roti, buah dan telur… ngga ada nasi goreng atau bubur ayam hehehe… Siang ini kami sudah kelaparan. Sesampai di stasiun Chieti kami keluar, dan wow… kami menemukan kedai makanan halal berupa kebab, pizza, dll. Tidak mudah mencari restoran halal di kota kecil di Italy. Maka mampirlah kami kesana mengisi perut. Alangkah nikmatnya bisa makan daging halal… Kedai itu milik orang Pakistan. Sekalian kami bertanya bagaimana caranya untuk bisa ke Corso Marrucino. Dan syukurlah karena dari stasiun itu juga ada halte bus yang jalurnya ke Corso Marrucino. Sepanjang perjalanan naik bus ke Corso Marrucino, pemandangan cukup menarik, karena Chieti ternyata kota yang berbukit-bukit, macam kota Semarang, ada kota atas dan bawah. Kota atas nampaknya merupakan kota yang lama, sedangkan di bawah adalah perluasannya. Ini terlihat dari jenis bangunan di kota atas yang berupa bangunan-bangunan kuno ala Eropa yang tinggi-tinggi dengan jalan yang sempit-sempit, sementara di kota bawah nuansanya lebih modern. Aku sempat berharap agak kurusan dikit sepulang dari Eropa karena banyak berjalan, tetapi sepertinya harapanku ini sia-sia belaka. Tetap banyak berjalan, tapi kok lemak tetap bertumpuk di badan kiri kanan… huaa….!!

Di Corso Marrucino kami berjalan berkeliling saja melihat-lihat kemegahan bangunan kuno ala Eropa. Dan waktu mau kembali ke stasiun kereta, kami kembali bingung bagaimana caranya mendapatkan tiket busnya. Alhamdulillah, secara coba-coba kami masuk ke sebuah cafeteria menanyakan apakah mereka menjual tiket bus, ternyata ada, harganya 1,2 Euro. Kamipun segera kembali ke stasiun karena akan kembali ke Pescara. Walaupun capek, tetapi senang karena kami sudah punya pengalaman baru naik kereta api di Italia hehehe… 

Mejeng di depan kereta yg ditungguin… akhirnyaa.. ketinggalan kereta !!

Nah, di sini ada pengalaman lucu. Lagi-lagi karena masalah bahasa, kami tidak begitu well informed mengenai jalur kereta yang akan kami naiki. Singkat cerita, kami membeli tiket kereta dengan jadwal jam 16.40 untuk kembali ke Pescara. Waktu itu sudah jam 16.15an. Karena petugas yang di stasiun sedang sibuk melayani orang lain, akhirnya kami sok pede menuju jalur 2 yang arahnya berkebalikan dengan kereta kami tadi siang dari Pescara. Kamipun menunggu kereta menuju Pescara di situ. Waktu ada kereta lewat dan berhenti di stasiun di jalur 1, kami tidak ingin melewatkan kesempatan berfoto dengan latar belakang kereta yang baru datang. Jepret sana jepret sini, begitulah dua orang yang memang narsis bergantian berfoto…. Setelah kereta tersebut berjalan kembali.. gludaak… barulah kami sadar bahwa itu adalah kereta jam 16.40 ke Pescara yang kami tunggu-tunggu hahahaha…… kami menunggu di jalur 2, kereta datang di jalur 1. Tapi masih ngga sadar, malah berfoto-foto….  Singkatnya kami ketinggalan kereta !!  Segera kami melihat jadwal kereta lagi, dan kereta berikutnya baru akan datang jam 17.35. Tapi untunglah ketika kami tanyakan ke petugas stasiun, tiket kami yg tadi tetap bisa dipakai walaupun untuk jam yang berbeda. Ya sudah… dinikmatin ajah…… kami masih tergeli-geli kalau ingat…

Gala Dinner

Walaupun sempat ketinggalan kereta di Chieti, alhamdulillah kami masih bisa sampai Pescara sebelum jam 18.45. Hal itu penting karena itu saatnya acara  Penutupan Symposium. Kami sempat menghadiri acaranya, dan malamnya bersiap untuk Gala Dinner yang undangannya jam 20.30. Walaupun tubuh kami sudah mulai beradaptasi dengan waktu di Italy,  tetap saja jam 20.30 itu rasanya sudah mengantuk karena di Indonesia sudah jam 02.30 pagi. Bayangin, kami baru mau makan malam jam segitu.

Hidangan pembuka Gala Dinner

Untuk Gala Dinner sedikit istimewa dibandingkan acara dinner sebelumnya, karena kali ini diiringi live music. Makanannya pun lebih banyak dan bervariasi. Tapi lagi-lagi ngga ketemu nasi hehe…. Tapi untunglah, semua makanannya adalah berbahan sea food karena memang di kota pantai, jadi kami bisa makan tanpa kuatir. Dengan model round table, kami duduk bersama peserta dari Mesir. Dinner diawali dengan makanan pembuka berupa irisan ikan salmon, udang, potongan ikan dan cumi berisi keju.  Hidangan berikutnya adalah hidangan utama, berupa pasta dengan saos carbonara ditambah potongan ikan. Berikutnya keluar lagi makanan berupa kentang yang sudah diolah dicampur bayam dibentuk seperti finger, dimasak dengan saus kepiting dberi potongan cumi. Terakhir setelah udah cukup kekenyangan, datang hidangan penutup berupa ikan yang dimasak ditambah kacang. Maaf, aku tidak tahu nama-nama makanannya… semua aneh-aneh hehehe…. Akhirnya Gala dinner yang penuh perjuangan karena ngantuk dan kenyang berakhir juga pukul 23.30-an waktu setempat.

Malam itu juga kami packing barang karena besok paginya akan berangkat ke Roma untuk pulang ke Indonesia.

Roma, the beautiful city

Di jembatan depan hotel di Fiumicino yang menghadap ke muara

Kami berangkat menuju Fiumicino  dari Pescara station pukul 7.30 pagi menggunakan Prontobus seperti saat berangkatnya. Sama seperti saat berangkat, waktu tempuhnya sekitar 3 jam untuk sampai ke Fiumicino Aeroporto. Tapi kami  berencana untuk menjelajahi Roma di hari itu sebelum balik ke Indonesia esok paginya, jadi dari Aeroporto kami naik taksi ke Hotel di Fiumicino. Oya, international airport Roma tepatnya berlokasi di Fiumicino, sebuah kota kecil di selatan Roma.  Karena belum saatnya check in, kami menitipkan barang-barang kami di hotel. Hotel di Fiumicino cukup unik, karena merupakan hotel kecil berlantai dua dengan disain konvensional. Hotelnya terletak dipinggir sungai yang berada di muara. Ada satu jembatan di depan hotel yang menghubungkan dengan sisi seberang sungai di mana kami akan naik bus ke Roma.

Ya, siang itu kami berencana menjelajahi Roma. Destinasi pertama kami adalah Colosseo Roma yang sangat bernilai historis. Ini destinasi wajib deh.… Kami mendapat info dari pelayan Tabaccheria di tempat kami membeli tiket (ketika kami bilang ingin ke Colosseo Roma), bahwa dari Fiumicino kami harus naik bus ke arah Magliana. Sesampai di terminal Magliana, nanti kami harus naik metro ke arah Colosseo. Tabaccheria adalah semacam kedai yang menjual rokok, minuman, dan pernik-pernik lainnya, termasuk tiket bus dan metro. Jadilah kami naik bus ke Magliana dan nyambung metro ke Colosseo.

Colosseo Roma

Dengan latar belakang Colosseo Roma yang kolosal dan bersejarah

Alhamdulillah, sampailah kami di stasiun metro persis di sebelah Colosseo. Colosseo, adalah sebuah bangunan besar dan bersejarah yang terletak di tengah kota Roma. Bangunan ini dibangun pada masa Kaisar Vespasian. Selesai dibangun pada 80 Masehi, bangunan ini mempunyai (kurang lebih) 50.000 tempat duduk penonton untuk menonton berbagai macam pertunjukan…seperti “gladitorial contest” dan “public spectacles”. Sebenarnya jika akan masuk Collosea, kita bisa membeli tiket dan memilih yang dengan guide atau tidak. Tetapi kami tidak punya banyak waktu di Roma, jadi memutuskan untuk tidak masuk ke dalamnya, yang paling tidak memerlukan waktu 2 jam untuk berjalan-jalan di dalamnya. Cukuplah kami udah pernah melihat sendiri bangunan yang sangat Romawi ini dan berfoto-foto di luarnya. Di samping lumayan mahal, kami juga masih ingin ke tempat lain yang tidak kalah terkenalnya di Italia, yaitu ke Vatican city.

Keluar dari Colosseo, kami mencoba naik Roma Hop-on Hop-off Sightseeing bus yang berlaku utk 12 jam dengan harga 18 Euro/orang. Ada 8 bus stop yang dimulai dari 1. Via Marsala (Termini station), 2. Santa Maria Maggiore (Basilica), 3. Colosseo (Colosseum and Ancient Rome), 4. Circo Massimo (Circus Maximus), 5. Piazza Venezia (Capitoline Museums, Pantheon), 6. Vaticano (Vatican City), 7. Fontana di Trevi (Trevi Fountain), 8. Piazza Barberini, dan kembali ke Termini.  Dengan bus ini, kita bisa berhenti di berbagai bus stop untuk turun dan melihat-lihat, dan kembali lagi naik bus berikutnya yang akan lewat setiap 15 atau 20 menit. Sepanjang perjalanan kami mendengarkan penjelasan via earphone yang dibagikan, mengenai tempat-tempat yang dilewati. Sungguh kami sangat takjub melihat kota Roma yang penuh dengan bangunan-bangunan indah, bersejarah dan kolosal. Sangat eksotis. Menyisakan peradaban yang maju beratus-ratus tahun yang lalu. Bangunan yang bersejarah masih sangat terjaga baik, sementara bangunan-bangunan tua lainnya sebagian masih digunakan untuk aktivitas, baik untuk kegiatan perdagangan atau perkantoran. Kami naik dari pemberhentian ke 3 yaitu dari Colosseo. Dan karena kepingin ke Vatican, maka kami turun di pemberhentian ke 6 yaitu Vaticano.

Bersama bu Triana di Vatican City

Vatican juga merupakan tempat yang sangat bersejarah dan terkenal karena merupakan tempat di mana Paus, pimpinan tertinggi ummat Katholik, tinggal. Kita ketahui bahwa Vatikan merupakan sebuah negara yang dikelilingi tembok di dalam kota Roma. Dengan luas area sekitar 44 hektar, dan populasi sebesar 842 jiwa, Negara Kota Vatikan merupakan negara independen terkecil di dunia, baik area maupun populasinya, yang diakui secara internasional. Uniknya, walaupun itu merupakan negara sendiri, sepertinya para wisatawan cukup mudah untuk berada di sekitarnya.  Tapi kami memang tidak masuk ke dalamnya sih…  Di Roma kami sering diingatkan untuk berhati-hati, karena di sana banyak pick pocket. Tapi alhamdulillah, selama kami di sana baik-baik saja.

Grande Moschea Roma

Setelah berfoto-foto sebentar di Vatican, kami ingin berkunjung ke Mesjid Besar Roma atau Grande Moschea Roma yang katanya merupakan Mesjid terbesar di Eropa. Sekalian kami ingin sholat di sana, karena kebetulan itu adalah waktunya sholat ashar. Kalau tidak di Masjid, tidak kebayang kami harus sholat di mana, karena tidak ada mushola berserak seperti di Indonesia hehe.. Setelah menanyakan mbah Google, kami menemukan alamat Masjid tersebut yang berlokasi di sebelah utara Roma, tepatnya di Viale della Moschea, 85. Daripada bingung naik apa dan untuk menghemat waktu, kami memutuskan naik taksi kesana dari Vatican. Kami perlu menunjukkan map kami pada sopir taksi karena takut juga dia tidak tahu, karena kami maklum mereka pasti jarang ke masjid hehehe…

Bersama Imam dan Takmir Masjid Agung Roma

Alhamdulillah, sampailah kami di Masjid Besar tersebut walaupun kami harus jalan dulu beberapa ratus meter karena jalannya hanya satu arah dan taksi tidak bisa sampai kesana. Tak apalah, yang penting udah ketemu masjid udah seneng banget. Sampai di Masjid, kami bertemu dengan Imam dan takmir Masjid tersebut yang berasal dari Mesir. Alhamdulillah, rasanya hommy sekali bisa ketemu masjid dan sholat di sana. Lalu Imam Masjid tersebut mengantarkan kami ke Masjid bagian atas, untuk memperlihatkan isi masjid yang indah. Imam Masjid menjelaskan bahwa pada saat sholat Jumat maupun pada hari-hari besar Islam, termasuk bulan Ramadhan, masjid sangat penuh dengan jamaah dan Masjid dapat menampung sekitar 40.000 jamaah. Sayangnya taman masjid nampak tidak terlalu terawat, mungkin karena cukup luas dan hanya sedikit yang bertugas di sana. Maklum, masjid ini berdiri di atas lahan seluas 30 ribu meter persegi. Luas bukaan?

Dari Masjid kami akan kembali ke Roma Termini lagi untuk pulang ke hotel. Untunglah Imam Masjid menjelaskan kepada kami rute yang harus kami tempuh. Jadi, sekitar 200 meter dari Masjid ada stasiun metro kecil, yaitu  Monte Antenne, di mana kami harus naik metro jurusan Flaminio, lalu naik kereta lagi ke Termini. Alhamdulillah, di sekitar stasiun Roma Termini kami menemukan restoran India halal setelah seharian belum makan apa-apa. Hmm… sedapnyeee….. akhirnya ketemu nasi lagi setelah beberapa hari ngga makan nasi. Dan makanannya cukup enaak…. Nasi biryani udang yang sedap…!!

Setelah bertenaga lagi, kami teringat masih punya karcis bus Hop-on Hop-off yang masih berlaku dan kami belum memutari semua pemberhentian tadi. Akhirnya kami putuskan untuk menghabiskan waktu yang tersisa untuk naik bus Hop-on Hop-off dari dekat Termini, dan berputar sampai kembali ke Termini lagi. Roma di malam hari sungguh indah dengan lampu-lampu di gedung-gedung tua. Suasana cukup ramai di jalanan ketika kami menyusuri jalan-jalan di Roma menggunakan bus Hop-on Hop-off.  Ngomong-ngomong tentang transportasi di Italy, ngga tertib-tertib amat, seperti di Indonesia hehehe…. Salah satu taksi yang kami tumpangi di Pescara, sopirnya nyetir sambil nelpon hampir sepanjang perjalanan. Taksi yang lain sopirnya nyetir sambil nonton film di smartphone-nya. Hadeehh….

Dan akhirnya, sampailah kami di ujung petualangan di Roma. Kami kembali ke Hotel di Fiumicino dekat Airport menggunakan bus, dengan rasa capek tetapi puas.

Pulang ke tanah airku Indonesia

Tanggal 21 September pagi kami bersiap menuju Fiumicino Aeroporto untuk kembali pulang ke tanah air. Alhamdulillah, setelah 3 jam perjalanan Roma – Amsterdam dan 12 jam nonstop Amsterdam – Jakarta, plus Jakarta-Jogja, sampailah aku di rumah kembali dengan selamat dan bersyukur masih diberi kesempatan mengunjungi belahan bumi lain dari ciptaan Allah. Semoga kelak masih bisa berkunjung ke belahan bumi lainnya. Amiin.  

Iklan




Japan Trip 2016 (2): Hiroshima Peace Memorial Museum

2 12 2016

Dear kawan,

Aku lanjutkan catatan perjalanan ini dengan perjalanan hari kedua di Jepang. Sesuai rencana, hari Minggu pagi kami check out dari hotel dan persiapan menuju ke Hiroshima. Oya, karena dari Hiroshima nanti kami langsung ke Kansai untuk menginap di sana, maka untuk tidak memberati perjalanan kami mengirim koper lebih dulu ke Hotel di Kansai. Ini adalah pengalaman pertama buatku mengirim koper dari hotel ke hotel, dan alhamdulillah tidak ada kesulitan. Kebetulan aku sudah memegang voucher Hotel Nikko Kansai Airport, jadi aku bilang ke Hotel di Matsuyama untuk mengirimkan koper kami ke Hotel di Kansai. Biaya pengiriman untuk satu kopernya adalah 1500-an yen. Pihak Hotel di Matsuyama akan mengontak Hotel di Kansai untuk pengiriman koper kami.

Menunggu Superjet bersama Maeyama Sensei

Menunggu Superjet bersama Maeyama Sensei

Dan sesuai rencana pula, Maeyama Sensei menjemput kami berempat ke hotel dan mengantar kami ke Matsuyama Port. Rizal dan Verda akan langsung naik densha ke pelabuhan. Kami akan mencoba naik kapal Superjet menuju Hiroshima. Feri Superjet berangkat setiap jam. Sebetulnya kami berencana mengambil superjet jam 9, itu makanya Sensei menjemput kami jam 8 dari Hotel. Tetapi rupanya Rizal tidak bisa mendapat densha jam 7.40 dari rumahnya, sehingga kami ngga bisa mengambil feri jam 9, karena mereka baru bisa sampai port jam 9.30an. Oke deh, ngga papa, kami sih ngga buru-buru.. tapi sempat kasihan sama Sensei pagi-pagi harus jemput kami. Semalam waktu farewell party  pasti beliau tidak berani minum banyak-banyak hehe…. takut drunken dan ngga bisa driving dengan baik. Dan aku harus bersyukur karena selama study di Jepang mendapat professor yang baik hati, bahkan sampai sekarangpun, limabelas tahun setelah aku lulus S3. Ketika aku sampaikan pada Sensei bahwa kami baru akan berangkat jam 10 dan jika Sensei ada acara lain silakan jika akan pulang dulu, Sensei bersikeras menunggu di pelabuhan sampai kami berangkat, bahkan sampai melambaikan tangan saat Feri Superjet kami mulai bergerak. Istilah jawanya mau “nguntapke”Oh, ontoni arigatou gozaimasu, Sensei.

Abis turun dari Superjet di Pelabuhan Hiroshima

Abis turun dari Superjet di Pelabuhan Hiroshima

Feri Superjet membawa kami membelah lautan menuju Pelabuhan Hiroshima dalam waktu 1,5 jam. Sebetulnya ada jenis Feri lain yang lebih murah, tetapi waktu tempuhnya lebih lama, yaitu 3 jam. Jadi kami piih yang lebih cepat. Ini menjadi moda transportasi kelima yang kami coba. Alhamdulillah, karena kami orang asing dan membawa passport, kami dapat harga special menjadi separuhnya, yaitu menjadi 3850 yen per orang. Wah, lumayan bingiit. Sayangnya Rizal dan Verda walaupun orang asing tetapi tidak bawa passport maka tidak bisa dapat potongan harga. Zan nen neee…. !!

Kereta lokal dari stasiun Hiroshima menuju Peace Memorial Museum

Kereta lokal dari stasiun Hiroshima menuju Peace Memorial Museum

Cuaca hari itu tidak begitu bersahabat, karena hujan turun seharian walau tidak deras. Tapi karena ramalan cuaca di Jepang hampir selalu tepat, hal ini sudah kami prediksi sehari sebelumnya. Jadi kami mesti bawa payung. Namun demikian, rinai hujan tidaklah menyurutkan semangat kami menjelajah di tujuan utama kami yaitu Hiroshima Peace Memorial Museum, yang dikenal dengan nama museum bom atom, untuk mengenang jatuhnya bom atom di Hiroshima tanggal 6 Agustus 1945. Dari Pelabuhan Hiroshima kami naik kereta lokal menuju museum dengan ongkos 160 yen/orang.

Di depan A-Bomb Dome di Peace Memorial Park

Di depan A-Bomb Dome di Peace Memorial Park

Sebelum masuk ke Museumnya, kami mengitari lebih dahulu Hiroshima Peace Memorial Park, atau taman di sekitar museum. Di situlah setiap tahunnya pada tanggal 6 Agustus diselenggarakan Peace Memorial Ceremony. Ada satu bangunan yang sangat khas dan menjadi tempat kunjungan favorit para pendatang, yaitu A-Bomb Dome atau Genbaku Dome. A-Bomb Dome dulunya adalah Hiroshima Prefectural Industrial Promotion Hall, satu-satunya gedung yang paling dekat dengan hiposenter jatuhnya bom dan masih tersisa pada saat itu. Sisa gedung itu kemudian dikonservasi dan menjadi saksi sejarah tragedy bom atom, dan bahkan mulai tanggal 7 Desember 1996 ditambahkan dalam daftar UNESCO World Heritage.  Waktu kami datang kesana, kami berjumpa banyak rombongan anak-anak SMP dan SMA bersama gurunya yang juga berkunjung ke sana sebagai bagian dari tugas sekolahnya.

Kapsi, Tabi dan Jeksi jalan-jalan ke Hiroshima

Kapsi, Tabi dan Jeksi jalan-jalan ke Hiroshima

Si Jeksi, kapsi dan Tabi tidak lupa juga lho berpose dengan latar belakang A-bomb Dome hehehe…..  Dari taman, kami masuk ke Museumnya. Ongkos masuknya cukup murah meriah, hanya 200 yen/orang dan untuk anak SMP gratis. Karena Hannisa masih SMP, jadi tidak kena biaya masuk museum. Museum ini didirikan pada tahun 1955 untuk menjadi media edukasi dan memorabilia tentang bom atom yang meluluh-lantakkan Hiroshima dan sebagai media advokasi tentang  perdamaian dunia. Museum ini mengkoleksi berbagai pernak-pernik (baju, sepatu, jam, dan alat-alat lainnya) dari korban bom atom yang tertinggal, foto, dan benda-benda lain yang tersisa dari tragedi bom atom, untuk menggambarkan betapa horornya suasana saat itu. Ada juga gambaran korban dengan kondisi mengenaskan akibat terkena bom atom dengan tangan meleleh. Selain itu juga ada tayangan kesaksian dari korban-korban bom atom yang masih hidup hingga sekarang, di mana saat kejadian mereka berumur sekitar 20 sampai 25-an tahun. Museum serupa sekarang sudah mulai bermunculan juga di negara kita, misalnya Museum Merapi di Yogya dan Museum Tsunami di Aceh, yang kebetulan pernah aku kunjungi.

Capek mengitari museum, kami cari makan siang dan menuju stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Osaka. Rizal dan Verda akan langsung balik ke Matsuyama, dan kami mencoba berpetualang berempat menuju Kansai Osaka. Kali ini kami memang berencana menggunakan Shinkansen, kereta api super cepat Jepang. Ini moda transportasi ke enam yang kami coba di Jepang.

Di Jepang, shinkansen termasuk moda transportasi yang banyak digunakan. Di sana, ada lima jalur shinkansen utama:

Tokaido Shinkansen, ini merupakan jalur paling penting dan padat, yang menghubungkan Tokyo dan Shin-Osaka (termasuk Nagoya dan Kyoto), dioperasikan oleh JR Central.

Sanyō Shinkansen, sambungan dari Osaka ke Fukuoka (meliputi Kobe dan Hiroshima), dioperasikan oleh JR West.

Tohoku Shinkansen, jalur Tokyo ke Utara hingga paling ujung pulau, dioperasikan JR East.

Hokkaido Shinkansen, ini sambungan dari Tohoku Shinkansen, yang menghubungkan Shin-Aomori dan Hakodate Hokuto melewati Seikan Tunnel bawah laut.  Dengan kereta Shinkansen Hayabusa membuat jalur kereta ke Pulau Hokkaido semakin ringkas.

Hokuriku Shinkansen, menyambung Tokyo ke Kanazawa (semula cuma sampai Nagano.

Afan dan Hannisa di depan moncong Shinkansen

Afan dan Hannisa di depan moncong Shinkansen

Untuk jalur Tokaido, yang paling ekspress dinamakan Nozomi yaitu paling sedikit berhentinya sehingga lebih cepat sampai. Di bawahnya adalah jenis Hikari, dan terakhir yang berhenti di semua stasiun adalah jenis Kodama. Kami mengambil shinkansen Tokaido dengan jurusan Hiroshima – Shin-Osaka. Ongkos shinkansen tidak jauh berbeda dengan pesawat. Dari Hiroshima ke Shin-Osaka ongkosnya 10.440 yen/orang, dengan waktu tempuh 1,5 jam. Kami menggunakan shinkansen Nozomi yang termasuk yang paling cepat, dengan kecepatan 270-300 km/jam, yang hanya berhenti di sedikit stasiun saja, yaitu Okayama dan Shin-Kobe. Kami beli yang reserved tiket karena itu hari minggu dan kuatir tidak dapat tempat duduk. Di Jepang, untuk shinkansen maupun kereta cepat, tersedia pilihan reserved dan non-reserved. Jika kita pilih non-reserved, nanti tidak mendapatkan nomor kursi dan bisa berebutan jika kebetulan ramai, dan kalau tidak beruntung bisa saja berdiri sepanjang perjalanan. Gerbong utk reserved dan non-reserved juga berbeda. Karena kami pendatang yang baru pertama menggunakan shinkansen, bawa anak-anak pula, aku pilih yang reserved yang buatku lebih terjamin waktu dan tempatnya. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga naik shinkansen. Dulu 15 tahun yang lalu, 3 tahun di Jepang tapi tidak sempat naik shinkansen. Maklum, masa mahasiswa itu masa pengiritan.. hehe..

Senengnya nemu udon halal di Kansai Airport

Senengnya nemu udon halal di Kansai Airport

Sesampai di stasiun Shin-Osaka, kami sempat bingung untuk mencari kendaraan lanjutannya. Akhirnya setelah bertanya-tanya, kami mengambil kereta Rapid dengan reserved seat menuju Kansai, dengan ongkos 2850 yen/orang. Cukup nyaman, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam sampai di Kansai Airport. Kami bersyukur memilih hotel Nikko Kansai Airport di dekat Terminal 1  karena tempatnya nyaman, dan akses kemana-mana sangat mudah dan dekat. Hampir semua moda transportasi standar tersedia langsung dari Kansai menuju ke berbagai kota lain di Jepang. Kami berhenti di Terminal 1, lalu tinggal naik satu lantai ke lantai 2, sampailah ke depan Hotel Nikko Kansai Airport. Di hotel kami disambut dengan ramah, dan koper kami pun sudah sampai dan langsung diserahkan kepada kami. Dan karena perut sudah berontak minta diisi, setelah chek in kami langsung menuju restoran Udon halal yang ada satu lantai dengan hotel, di terminal domestik Kansai Airport.  Alhamdulillah, Kansai Airport sekarang sudah semakin moslem friendly… sudah tersedia mushola juga serta ada restoran yang menjual makanan halal. Boleh dicoba tuh !!

Demikianlah catatan perjalananku hari kedua di Hiroshima sampai Kansai. Malam itu kami istirahat dengan nyaman, dan bersiap-siap untuk berpetualang ke Kyoto esok harinya. Nantikan cerita selanjutnya yaa…





Japan Trip 2016 (1): Matsuyama, I’m coming (again) !

1 12 2016

Dear kawan,

Akhirnya tahun ini aku berkesempatan lagi (atau tepatnya mencari kesempatan) untuk bisa berkunjung lagi ke negara matahari terbit alias Jepang. Kali ini aku bersama lagi dengan bu Triana (seperti perjalanan sebelumnya ke Korea dan China) plus dua anakku, Afan dan Hannisa. Aku memang punya target untuk minimal sekali setahun harus pergi ke luar negeri untuk menambah pengalaman dan wawasan. Dan sebagai dosen yang pekerjaannya sak-dos dan gajinya sak-sen (tapi tetap bersyukur hehe..), tentu harus punya strategi untuk bisa berjalan-jalan dengan paket hemat tanpa mengurangi kenyamanan…  Untuk itu aku harus mengikuti conference/pertemuan ilmiah dan presentasi di sana, sehingga bisa mendapat financial support dari unirvesitas. Jepang menjadi pilihan karena kebetulan bu Triana belum pernah ke Jepang, dan anak-anakku juga penyuka makanan dan budaya Jepang. Oya, aku juga tertarik ke Matsuyama karena ingin bertemu juga dengan Maeyama Sensei (profesorku dulu) yang tahun depan akan pensiun. Kapan lagi berkesempatan ke Jepang sebelum sensei pensiun. Selain itu di Matsuyama ada Rizal dan istri yang bisa jadi guide. Oiya, tentu saja untuk anak-anak aku harus merogoh kantong pribadi agak dalam walau ada juga sumbangan dari sponsor hehe… tapi kadang kekayaan itu tidak hanya berupa tumpukan uang, tapi juga pengalaman dan pengetahuan… Jadi kekayaan kita tidak berkurang, hanya berubah bentuknya. Jadi the show must go on….!  Aku menuliskan ini sebagai dokumentasi pribadiku untuk perjalanan kali ini. Tulisan ini akan diterbitkan dalam beberapa seri biar ngga kepanjangan dan jadi ditunggu-tunggu kelanjutannya… hehe. Begitu saran salah satu pembaca setia blog ini..

Sebuah event Pharmacological Meeting di Matsuyama (kota tempat belajarku dulu) menjadi salah satu destinasinya. Setelah urusan administrasi beres, termasuk visa dan lain-lain, berangkatlah kami berempat ke Matsuyama via Osaka. Kami sudah berencana untuk mengunjungi beberapa kota selama di Jepang, biar anak-anak pada punya pengalaman baru menaiki berbagai moda transportasi di sana. Cuaca di beberapa kota yang akan kami kunjungi sudah aku cek melalui ramalan cuaca, dan nampaknya cukup nyaman, berkisar antara 12-16 derajat di siang hari. Aku tidak ingin mengulang pengalaman salah kostum di Korea hehe… pakai baju seadanya pada suhu 1 derajat… !!

Perjalanan

Yeaayy! Komik Apoteker Cilik udah sampai Kansai Osaka

Yeaayy! Komik Apoteker Cilik udah sampai Kansai Osaka

Matsuyama adalah salah satu kota di Jepang yang berlokasi di Pulau Shikoku. Tidak ada penerbangan langsung kesana dari Indonesia jadi kami harus melalui Kansai International Airport di Osaka. Kami berangkat dari Yogya melalui Denpasar pada hari Kamis malam tanggal 24 November 2016, dan sampai di Kansai Airport keesokan harinya jam 8.30 waktu setempat. Perbedaan waktu antara Jepang dan Indonesia adalah 2 jam dengan Jepang lebih cepat. Alhamdulillah, urusan imigrasi cukup lancar. Oya, aku tidak lupa membawa Komik kami Apoteker Cilik… aku ingin membawanya berjalan-jalan di Jepang hehe…  Lucu aja kami berpose di beberapa kota di Jepang dengan si Jeksi, Kapsi dan Tabi di buku.

Dari Kansai kami melanjutkan perjalanan ke Itami Airport di Osaka, sebuah Bandara utk penerbangan domestik di Jepang. Dari Kansai sebetulnya ada pesawat ke Matsuyama, tetapi jadwalnya terlalu malam. Jadi lebih baik pindah bandara. Kami naik bus dari Kansai ke Itami secara gratis karena kami punya tiket penerbangan Itami-Matsuyama dan tiket penerbangan internasional ke Kansai. Lumayan bingiit ! Perjalanan dari Kansai ke Itami memerlukan waktu 70 menit. Yang selalu aku kagumi dari transportasi di Jepang adalah ketepatan waktunya. Semuanya bisa diprediksi dengan lebih tepat. Kansai Aiport sendiri berada di sebuah pulau buatan yang khusus dibuat menjadi bandara. Hm.. Jepang, apa sih yang ngga bisa dibuat… ! O,ya, bus adalah moda transportasi kedua yang kami naiki di Jepang setelah pesawat.

Matsuyama, I’m coming again !!

Pesawat All Nippon Airlines berbaling-baling membawa kami ke Matsuyama selama kurang lebih 55 menit. Cuaca hari itu cerah sekali sampai kami bisa melihat jembatan panjang Shimanami Kaido yang membentang gagah dari Pulau Honshu ke Shikoku. Matsuyama tidak begitu banyak berubah dari sejak terakhir aku datang 2 tahun yang lalu. Kami menginap di APA Hotel dekat Matsuyama castle. Anak-anakku excited sekali megunjungi Jepang yang sebelumnya hanya di lihat di TV atau movie, dan menikmati makanan Jepang yang asli di sana. Tapi untuk urusan makanan memang harus berhati-hati memilihnya, karena tidak semua halal dimakan. Untungnya kemasan makanan Jepang cukup detail mencantumkan ingredient-nya sehingga bisa diketahui isinya. Untuk urusan ini aku mengandalkan Rizal yang sudah lama tinggal di Jepang dan bisa membaca kanji.

Di depan Okaido

Di depan Okaido

Kami naik taksi ke hotel, dan ini menjadi moda transportasi ketiga yg dicoba di Jepang. Sesampainya di Hotel dan meletakkan koper, cuaca masih cukup terang dan sayang untuk dilewatkan. Jadilah kami putuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel. Untungnya hotel kami berada di pusat kota, jadi dekat jika mau kemana-mana. Kami jalan-jalan menuju shopping arcade di Okaido dan Gintengai. Ini bukan tempat asing buatku karena dulu sekali menjadi tempat andalanku untuk sekedar cuci mata saat liburan ngelab.  Oya, kalau waktu di Korea aku salah kostum, maka kali ini aku salah sepatu…uff! Sebelum pergi sempat bingung mencari sepatu yang bisa untuk acara resmi sekaligus untuk jalan-jalan di musim gugur, dan cocok untuk kakiku yang tidak bisa dibilang jenjang…  Kriteria inklusi yang sulit bukan? Akhirnya aku memakai sepatu yang ternyata bikin sakit untuk jalan-jalan. Terpaksalah aku mesti mencari alternatifnya di Okaido.. (modus dot com untuk beli sepatu baru .. hehehe).

Toko 100-yen Daiso masih jadi andalan untuk belanja. Tapi jangan salah…. walaupun kelihatannya murah. tapi toko 100-yen itu “menipu” lho…. Karena merasa murah, tahu-tahu keranjang kita udah penuh dengan aneka belanjaan karena barang di sana unik-unik dan lucu… !!  Gludak deeh… !! Ujung-ujungnya tetap saja menguras kantong !! Saat ini kurs yen adalah 128 rupiah per 1 yen.  Tapi jangan coba-coba hitung-hitung kurs sewaktu belanja di Jepang yaa, bisa-bisa kalian stress sendiri dan kepengin balik ke Indonesia.. Jalan-jalan sore ditutup dengan makan malam kare kambing halal jualannya orang Nepal. Rasanya seperti di surga saja bisa makan daging halal di Jepang… karena tidak banyak yang menyediakan…

Scientific part

Suasana saat presentasi

Suasana saat presentasi

Sabtu pagi aku dan bu Triana dijemput Maeyama Sensei di Hotel untuk dibawa ke venue acara yaitu di Universitas Matsuyama. Peserta seminar berasal dari berbagai kota di Jepang, dan tersedia tempat untuk presentasi oral dan poster, semuanya di bidang farmakologi. Entah kenapa jadwal presentasi kami dibuat seperti sandwich…. Aku di bagian awal, jam 9.00, bahkan urutan pertama, sedangkan bu Triana kebagian pada sesi terakhir jam 15.40an. Mungkin biar kami tidak langsung menghilang yaa.. hehehe…  Baiklah, akupun menjalankan tugas presentasiku selama kurang lebih 11 menit. Ada 2 pertanyaan dari audiens yang aku terima. Presentasi-presentasi berikutnya disampaikan dalam Bahasa Jepang, tapi dalam slide-nya masih terlihat beberapa yg bisa kami pahami dan semuanya sudah di tingkat advanced. Agak kecil hati sedikit sih, tapi ga papa lah… kan ini dari developing country hehe.. maklum. Kami memilih untuk tidak membuat rambut dan lidah makin keriting dengan bahasa dan tulisan kanji, maka setelah beberapa saat kami keluar, untuk kembali lagi nanti sorenya waktu presentasi bu Triana.

Traditional Japanese Food and autumn scenery in Dogo Koen

Siang itu aku janjian untuk bertemu Kyoko-san, teman Jepangku, di stasiun Okaido. Kyoko adalah gadis Jepang dari kota Imabari (1 jam dari Matsuyama)  lulusan jurusan Bahasa Inggris, jadi dia senang berteman dengan banyak orang asing untuk mepraktekkan Bahasa Inggrisnya. Tidak banyak aku jumpai orang Jepang yang Bahasa Inggrisnya bagus. Yang banyak adalah yang Bahasa Inggrisnya beraksen Jepang bingit yang bikin jidat berkerut karena harus berpikir keras memahaminya. Singkat cerita, bertemulah kami di Okaido shopping arcade, dan destinasi pertama adalah restoran Jepang. Kali ini kami naik trem (densha) menuju Okaido dengan biaya 160 yen/orang (jauh dekat sama).  Ini adalah moda transportasi ke-empat yang dicoba.

Traditional Japanese culinary yang cantik

Traditional Japanese culinary yang cantik

Restoran Jepang ini bukan yang menjual “sekedar” ramen atau udon, tetapi makanan Jepang yg lebih tradisional. Jadilah kami masing-masing memesan 1 set, yang berisi beberapa items. Sayangnya aku lupa namanya, karena semuanya ditulis dalam huruf kanji dan lupa aku memfoto menunya. Hmm…. Sajian makanan Jepang selalu cantik dalam penampilannya. Rasanyapun enak. Makanan ini semuanya berunsur sea food dan vegetables. Jangan tanya harga ya… nanti kalian ngga doyan makan hehehe….  O,ya, di Jepang itu, walaupun kalian diajak makan oleh orang Jepang, jangan terlalu berharap dibayarin… jadi tetap saja bayar sendiri-sendiri. Betsu-betsu istilahnya…. alias BDD (bayar dhewe-dhewe)

Suasana musim gugur dalam kolase buatan Kyoko

Suasana musim gugur dalam kolase buatan Kyoko

Destinasi berikutnya siang itu adalah ke Dogo Koen (Dogo Park). Taman Dogo ini menjadi tempat favorit terutama pada musim sakura, karena banyak pohon-pohon sakura di sana. Sedangkan pada musim gugur ini semua pohon sakura menjadi gundul, tetapi sebagai gantinya adalah pohon momiji (maple) yang daunnya memerah indah. Kyoko membawa kami ke taman ini untuk menikmati keindahan momiji. Dan ini juga yang membuatku bersemangat mengajak anak-anak supaya mereka bisa menikmati suasana musim gugur yang tidak pernah dijumpai di Indonesia.

Dari Dogo park, kami berjalan menuju Dogo onsen yang tidak jauh dari situ. Tapi sayangnya tidak banyak waktu tersisa karena kami harus kembali ke tempat seminar jam 3, sementara anakku Afan juga masih punya tanggungan membuat laporan praktikum yang harus diselesaikan dan dikirimkan ke Indonesia hari itu juga. Jadilah kami berpisahan di Dogo Koen. Anak-anak balik ke hotel diantar Rizal dan Verda, Kyoko kembali ke Imabari, sementara aku dan bu Triana kembali ke venue seminar di Matsudai.

bersama Maeyama Sensei dan anak-anak dalam acara Farewel party di Hotel JAL

bersama Maeyama Sensei dan anak-anak dalam acara Farewel party di Hotel JAL

Malamnya kami diundang untuk acara farewell party dari Seminar tersebut di Hotel JAL Matsuyama. Pada acara itu diumumkan para pemenang presenter dan poster terbaik, serta penutupan acara secara resmi. Wah, pestanya terlihat sangat resmi, hampir semua yang hadir menggunakan jas dan berdasi. Tersedia aneka makanan dan minuman, tapi sayangnya tidak banyak yang bisa kami makan. Tapi cukuplah untuk memiliki pengalaman mengikuti pestanya orang Jepang buat anak-anak. Untungnya di depan hotel ada convenient store Seven Eleven, jadi kalo kelaperan bisa beli onogiri di situ hehehe…

Demikianlah cerita hari pertama di Jepang. Malamnya kami akan bersiap-siap menuju Hiroshima besok pagi. Jadi tunggu cerita selanjutnya yaa….





My Note (2) : Wonderful Mt. Ishizuchi and omoshiroi Yayoi Kusama

27 10 2014

Dear kawan,
Catatan perjalananku kali ini adalah tentang kegiatanku selama week end ini. Hari Sabtu pagi aku masih menyelesaikan sedikit eksperimenku di lab, dan siangnya sudah direncanakan untuk pergi bersama Maeyama Sensei dan istri ke Gunung Ishizuchi. Hari Minggunya aku sudah janjian dengan teman Jepangku Kyoko Shibata untuk jalan-jalan di sekitar Dogo Matsuyama. Begini ceritanya….
Ke Gunung Ishizuci

Puncak gunung Ishizuchi dan warna-warni daun di musim gugur

Puncak gunung Ishizuchi dan warna-warni daun di musim gugur

Gunung Ishizuchi adalah gunung tertinggi di kawasan Jepang barat,  berlokasi di selatan Matsuyama, di antara perfecture Ehime dan Kochi. Jangan bayangkan seperti gunung Merapi yang tingginya di atas 3000 m, gunung ini “hanya” setinggi 1982 m, itu pun bukan gunung yang aktif. Dulu ketika masih kuliah, dalam perjalanan ke kampus aku sering melihatnya dari kejauhan puncaknya berselimut salju di musim dingin. Puncaknya mirip seperti ujung pedang samurai dan menjadi salah satu tempat pemujaan di Jepang dan dianggap sebagai tempat bermukimnya dewa. Kali ini aku berkesempatan ke sana bersama Maeyama Sensei dan istri, dan Rizal. Kata Sensei, aku akan bisa menikmati perubahan warna daun di musim gugur ini.

 

 

Bersama Bu Maeyama sebelum berangkat

Bersama Bu Maeyama sebelum berangkat

Kami berangkat berempat selepas dhuhur dari kampus menggunakan mobil Bu Maeyama. Bu Maeyama sendiri yang menyetir, dan cara menyetirnya halus dan enak. (aku perlu tekankan ini karena Maeyama Sensei sendiri nyetirnya kurang halus dan membuat Rizal mengalami motion sickness saat pulang hehe… ).  Beliau orangnya ramah dan penuh perhatian. Dibawakannya bekal jaket dan minuman dan snack untuk diminum di sana. Jika perjalanan jauh, beliau dan Sensei bergantian menyetir. Sepanjang perjalanan mata dimanjakan oleh pemandangan yang cantik suasana musim gugur. Yang selalu mengesankan aku jika jalan-jalan keluar kota di Jepang adalah jalan-jalan yang mulus, bersih, dan tidak jarang  jalannya menembus gunung melalui terowongan. Salah satu terowongan/tunnel yang kami lalui bahkan panjangnya 3097 m. Bayangkan susahnya ngebor gunung sepanjang itu…! Jadi perjalanan bisa lebih cepat karena seperti pakai shortcut. Ah, di Jepang itu apa yang ngga bisa dibuat… bawah laut pun digali untuk dibuat terowongan yang menghubungkan dua pulau… !!

Di Tsuchi-goya Hut, mendekati puncak gunung Ichizuchi

Melihat pemandangan sekitar puncak gunung bersama Maeyama Sensei dan ibu

Melihat pemandangan sekitar puncak gunung bersama Maeyama Sensei dan ibu

Kami parkir di sebuah parking area mendekati puncak gunung, yang disebut Tsuchi-goya Hut yg berada 1492 meter di atas permukaan laut . Dari situ perjalanan ke puncak bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 2,5 jam naik, dan 2 jam untuk turun. Tapi kami berhenti di situ saja, tidak naik ke puncak. Ga kuaat… !! Suhu di situ sekitar 14 derajat, lumayan dingin. Tau tidak.… aku sempat ketemu serombongan orang yang baru turun gunung Ishizuchi… dan itu rombongan bapak-ibu yang sudah sepuh-sepuh, tapi masih kelihatan sehat dan kuat !! Perjalanan mendaki gunung Ishizuchi sering dianggap sebagai sebuah perjalanan spiritual untuk pemujaan. Ada sebuah kuil semacam tempat peribadatan di situ, yaitu Ishizuchi shrine yang masih sering dipakai untuk upacara-upacara peribadatan.

Puncak Ishizuchi dari kejauhan... sedikit tersaput awan

Puncak Ishizuchi dari kejauhan… sedikit tersaput awan

Kami berhenti untuk sekedar minum teh dan melihat pemandangan dari atas. Beruntung cuaca cukup cerah, sehingga saat kami turun, kami sempat melihat puncak Ishizuchi yang sedikit tersaput awan. Kami sempatkan untuk mengambil gambar dengan latar belakang puncak Ishizuchi.

Menikmati serangkaian menu dengan menu utama sushi

Menikmati serangkaian menu dengan menu utama sushi

Perjalanan dari gunung ditutup dengan menikmati traditional Japanese food di sebuah restoran di Matsuyama. Kami sampai di Matsuyama hampir jam 6 sore, dan langsung meluncur ke sebuah restoran tradisional Jepang. Maeyama Sensei dan ibu mengajak kami untuk menikmati dinner di sana. Beliau tahu bahwa selama di Jepang kami tidak berani sembarang makan daging atau ayam (karena takut tidak halal karena tidak tahu cara menyembelihnya), jadi Sensei memilihkan kami makan sushi yang berisi ikan-ikan. Orang Jepang itu makan tidak hanya dengan lidahnya, tetapi juga dengan matanya… hehe.. karena itu ketika menyusun sajian untuk dimakan pasti indah dan nyeni.. Beberapa terasa agak aneh di lidah.. apalagi kalau ikan mentah. Tapi overall hmm.. oishikata… enak !! Sungguh sabtu yang berkesan… Bukan sekedar karena melihat suasana musim gugr di pegunungan yang indah, tetapi lebih pada hospitality Maeyama Sensei dan ibu yang sangat bersahabat…..

Dogo onsen dan Yayoi Kusama
Hari Minggu aku sudah janjian dengan Kyoko Shibata untuk jalan-jalan bareng. Kyoko adalah temanku orang Jepang yang suka berteman dengan orang asing. Aku mengenalnya sejak kuliah dulu di sini 14 tahun yang lalu. Kebetulan dia sarjana di bidang bahasa Inggris, jadi bahasa Inggrisnya cukup bagus. Buat aku yang tidak trampil bahasa Jepang, tentu ini sangat membantu. Tidak gampang loh mendengarkan orang Jepang berbahasa Inggris. Karena karakter konsonan mereka tidak mengenal huruf “F” dan “L”, maka pronounciation bahasa Inggris mereka kadang jadi tidak jelas, kecuali yang memang belajar dengan benar..hehe.. Sebagai contoh, ketika pertama kali aku datang ke Jepang, Sensei menjelaskan sesuatu yang aku dengar seperti kata “ Barius”…. Aku berpikir keras memahami apa yang dikatakan.. setelah agak lama barulah aku tahu bahwa yang dimaksudkan adalah “values”hadeeeh.… !! Mereka juga tidak punya vokal “E” seperti pada kata “emas”. Jadi ketika pronounce “Water”.. mereka akan menyebutnya “ Wota”.. Super menjadi supa, menyebut “color” menjadi “kara”…

Di depan Dogo Onsen yang sudah berumur ribuan tahun

Di depan Dogo Onsen yang sudah berumur ribuan tahun

Dogo onsen atau Dogo hotspring adalah tempat pemandian air panas khas Jepang yang tertua di Jepang, yakni berusia lebih dari 1000 tahun. (gila bener ya.. bisa bertahan ribuan tahun)… Di Jepang, banyak hot spring yang berasal dari air panas alami. Aku sendiri selama di Jepang belum pernah mencoba mandi air panas di onsen. Kali ini pun bukan untuk mandi, tetapi untuk melihat satu art performance di hotel Takaraso yang berlokasi di seputaran Dogo. Kebetulan saat ini sedang ada suatu penampilan seni dari seniman Jepang terkenal yang bernama Yayoi Kusama. Ia seorang disainer serbabisa yang terkenal dengan pola polkadot dan bentuk labu/pumpkin. Terus terang aku juga baru dengar sekarang ini hehe… Di Jepang itu ada saja hal-hal yang kadang tidak terbayang sebelumnya… Apa sih bagusnya pola polkadot dan labu? Tetapi ketika dijadikan suatu karya seni ternyata menarik juga…

Di kamar yag didekorasi dengan polkadot merah

Di kamar yang didekorasi dengan polkadot merah

Untuk menyaksikan hasil karyanya kami harus pesan tempat dulu dan mendapat waktu pukul 12.20 waktu setempat, bayarnya 1000 yen. Akhirnya aku dan Kyoko mendapat kesempatan masuk ke kamar yang dimaksud selama 15 menit bersama 3 orang pengunjung lain… Dan…woww... menarik dan tidak terbayang sebelumnya di kepalaku… ! Seisi kamar didekorasi dengan indah dan unik dengan pola polkadot dan pumpkin.. Tapi aku sih tidak kebayang bisa tidur di kamar hotel yang didekorasi semacam ini hehe….. Nampaknya sih seniman ini memang orangnya unik dan “gila”. Selain dekorasi kamar, ia juga mendisain baju atau T-shirt dengan motif-motif polkadot dan pumpkin yang tidak biasa… Anyway, sungguh menarik… !!

Pola polkadot dan pumpkin yg unik

Pola polkadot dan pumpkin yg unik

Salah satu ciri khas Yayoi Kusama adalah pumpkin

Salah satu ciri khas Yayoi Kusama adalah pumpkin

Selepas dari sana, Kyoko mengajakku makan siang di sebuah restoran tradisional Jepang, dan makanannya Jepang banget. Tapi jangan dikira aku ditraktir ya… kalau yang ini kami bayar sendiri-sendiri hehe.. tapi tak apalah, sudah senang bisa diajak jalan-jalan ke tempat menarik. Sorenya aku pulang naik densha ke kampus. Sayangnya aku belum sempat ketemu bapak penjaga stasiun Kume yang dulu, setiap aku lewat, beliau tidak kelihatan jadi aku belum sempatkan mampir.
Well, untuk kali ini cukup dulu ceritanya. Pekerjaan di lab menanti lagi….





My Note (1): Napak tilas ke Ehime Daigaku

24 10 2014

Dear kawan,
It is exciting time untuk menginjakkan kaki lagi ke negeri sakura, tepatnya di Ehime, tempatku belajar untuk program doktoral 14 tahun yang lalu.. Sebenarnya ini adalah kali ketiga aku berkunjung ke Ehime lagi sejak aku lulus S3 th 2001 yang lalu, yaitu tahun 2005, tahun 2009, dan kali ini. Prof Maeyama (aku menyebutnya Maeyama sensei) mengundangku tahun ini untuk visiting Ehime lagi melalui grant dari Fujii. Sebenarnya Sensei mengundangku pada bulan Juli yang lalu, tapi aku menawar untuk bulan Oktober ini. Di samping ada kesibukan lain, bulan Juli adalah bulan puasa. Berpuasa sendirian di musim panas yang siangnya lebih panjang dari malamnya di negeri orang… hadeuuuh… kalau bisa ngga usah deh… Beraat !!  🙂   Aku pilih bulan Oktober karena sudah masuk musim gugur dan hawanya sejuk….

Sampai juga ke Matsuyama
Persiapan yang terberat sebelum pergi ke Jepang bukanlah apa yang harus kukerjakan di sana, tetapi menyiapkan hati untuk meninggalkan keluarga dalam waktu sekitar 2 mingguan. Terutama si bungsu Hanna yang baru 3 tahun dan selalu lengket denganku, dan kakak si bungsu, Dhika, yang setiap hari aku antar dan jemput sekolah. Belum lagi ayahnya juga baru pergi ke Turki untuk seminar dan baru pulang di hari yang sama dengan aku berangkat.. Tapi akhirnya sampai jugalah pada hari aku harus berangkat, tgl 20 Oktober 2014.
Tangisan heboh Hanna di Bandara Adisucipto mengiringi keberangkatanku ke Osaka via Denpasar. Sempat sedih dan ngga tega.. but the show must go on. Alhamdulillah, sesampai di Denpasar aku pantau kondisi rumah via BBM, anak-anak sudah tenang… Bandara Ngurah Rai menurutku kurang begitu nyaman untuk transit jika pergi keluar negeri, karena jarak antara bandara domestik dan internasionalnya cukup jauh. Lumayan ngos-ngosan juga aku berjalan, karena aku mendarat di Ngurah Rai sudah hampir jam 23, sementara boarding time untuk perjalanan ke Osaka adalah pukul 00.30 waktu setempat. Jadi tak sempat istirahat barang sejenak karena untuk mencapai gate-nya pun butuh waktu lama meskipun sudah dibantu naik golf-car. Namun syukurlah… akhirnya sang Garuda Indonesia pun melayang membawaku ke negeri sakura dan mendarat mulus di Kansai International Airport Osaka. Bersyukur juga bahwa proses imigrasi lancar sekali padahal aku pakai paspor hijau (soalnya 5 tahun lalu koperku sempat diperiksa padahal pakai paspor biru/dinas). Si petugas sekilas membaca dokumenku dan menanyakan apakah aku baru pertama ke Jepang, “Hajimete desu ka?” Aku bilang “Iie… Nihon ni bengkyo shimashita”… (tidak, dan aku pernah belajar di sini). “Sensei desu ka?” tanyanya ramah (tumben, biasanya serem-serem). “Haik, so desu ” jawabku… dan loloslah dari imigrasi… Dari Bandara Kansai aku segera naik bus ke Itami Airport, bandara domestik di mana aku akan terbang satu kali lagi menuju Matsuyama.

Yang paling kuharapkan saat sampai di Itami Airport adalah tetap keep connected dengan keluarga. Ternyata di Kansai maupun Itami tidak semudah di Bandara Incheon Korea yang di mana-mana wifi mudah didapatkan. Di Itami, ada tertulis free wifi, tapi sayangnya ketika kucoba ada password yang harus dientry-kan. Udah gitu Blackberry-ku low batt gara-gara sebelum berangkat Jogja mati lampu dan belum sampat ngecas, dan colokan yang kubawa tidak fit dengan colokan di Jepang yang ujungnya gepeng. Sempat desperate, tetapi untungnya kemudian menemukan public computer yang terkoneksi dengan internet sekaligus berfungsi sebagai charger. Tapi ngga gratis loh... per 10 menit kita bayar 100 yen. Untungnya aku bawa recehan yen sisa perjalanan sebelumnya. Yah, yang penting bisa segera berkabar ke rumah dan mendapat kabar pula dari rumah. Alhamdulillah, anak-anak semua manis dan manut selama ibu pergi…. Akhirnya aku tetap menggunakan nomor Indosatku selama di sini setelah aku set untuk dapat paket promo selama di luar negeri karena tidak mudah ternyata mencari nomer lokal di sini untuk pemakaian short term. Pasti kena roaming deh… tapi gak papalah sudah diniati, dan itu adalah bayaran untuk tetap keep in touch dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia, untuk urusan rumah dan pekerjaan..

Yang selalu aku kagumi dari Jepang adalah industri jasanya yang nomer satu. Pelayanan sangat ramah di mana-mana. Ketika di Bandara Itami aku menanyakan pada petugas tentang password wifi yang katanya free, dan mereka tidak tahu, mereka berusaha menanyakan pada yang tahu. Ketika akhirnya tetap tidak bisa connected, mereka meminta maaf dengan ramah atas ketidaknyamanannya. Bela-belain mendatangiku di tempat dudukku untuk menyampaikannya. Juga di saat lain ketika ke toko elektronik mencari spare part alat cukur jenggot pesanan suamiku, penjaga tokonya dengan ramah dan telaten melayani sampai aku mendapatkan apa yang kubutuhkan. Dalam urusan berjualan, mereka bahkan lebih Islami dari pada pedagang yang mengaku Islam… Dengan jujur mereka akan menyebutkan bahwa barang ini kurang baik atau lebih mahal, dan mencarikan altenatif lain. Atau jika ada makanan atau buah yang sudah mendekati expired time-nya, mereka memberi harga diskon. Kebiasaan yang terakhir ini yang sering aku manfaatkan dulu ketika masih tinggal di sini… Kalau belanja kebutuhan makanan, aku datang pada sore atau malam sepulang dari kampus, jadi bisa dapat harga-harga murah dengan kualitas masih memadai hehe... Maklumlah, pelajar miskin harus pandai-pandai mengirit…

Bersama Maeyama Sensei di Matsuyama Airport

Bersama Maeyama Sensei di Matsuyama Airport

Sebuah pesawat kecil berbaling-baling membawaku dari Itami Airport ke Matsuyama. Sayangnya badanku sedang tidak begitu fit, bahu dan leher pegal-pegal sampai merambat ke kepala. Sedikit pening, jadi aku tertidur saja saat di pesawat. Sesampai di Matsuyama Airport, Maeyama Sensei dan Rizal sudah menjemput. Setelah makan udon sebentar untuk lunch, aku diantar ke Guest House di Ehime Univ School of Medicine, kampusku dulu. Tidak sangat banyak yang berubah di sepanjang perjalanan dari Airport ke kampus. Suasana musim gugur sudah mulai terasa, tetapi belum sangat berbeda. Pohon-pohon yang biasanya daunnya merah di musim gugur baru terlihat kuning. Aku masih mengingat jalan-jalan yang dulu pernah kami lalui dengan bersepeda di jaman kuliah… Beberapa masih sama, namun ada yang sudah berubah. Tapi yang paling berubah adalah kampusku sendiri. Guest house yang kutinggali adalah bangunan baru. Banyak renovasi-renovasi yang dilakukan yg mempercantik kampus.
Hari pertama di Matsuyama

Guest house tempat aku menginap, berlokasi di belakang kampus

Guest house tempat aku menginap, berlokasi di belakang kampus

Guest house tempatku menginap cukup nyaman dan lengkap. Lima tahun yang lalu ketika aku datang ke sini, aku menginap di Hotel kecil di depan kampus. Guest house atau semacam asrama ini diperuntukkan untuk mahasiswa luar kota dan juga ada kamar untuk tamu. Letaknya di bagian belakang kampus dekat stasiun. Oya, kalau aku pergi kemana-mana, yang tidak boleh lepas dari perhatian adalah toiletnya..hehe.. Bagaimanapun itu adalah salah satu hajat penting dalam kehidupan manusia. Untunglah toilet di negara-negara Asia seperti Jepang, Korea dan China yang pernah kukunjungi masih menggunakan air untuk bersih-bersih. Toilet di guest house juga bagus, ada alat penyemprot air elektrik yang harus ditekan untuk menyemburkan air, dan bisa diatur kecepatan maupun arahnya. Paling tidak enak adalah kalau ke Eropa, yang model toiletnya kering dan hanya pakai tissue… haduuh, pasti harus sangu botol buat persiapan bebersih… Untuk urusan cuci baju, di depan ruangku ada ruang umum untuk mencuci baju dengan mesin cuci ber-coin.

Ehime University School of Medicine.. dua pohon itu adalah pohon Ginkgo biloba

Ehime University School of Medicine.. dua pohon itu adalah pohon Ginkgo biloba

Pada hari pertama, rasanya kaya de javu balik ke kampus lagi.  Kampus tampak lebih cantik dengan banyak renovasi. Sayangnya musim gugur masih awal, kalau sudah menjelang musim dingin, daun pohon-pohon Ginkgo biloba di sekitar kampus akan berubah warna menjadi kuning, cantik sekali. Ketika masuk Lab (Pharmacology), sempat pangling juga. Lay out di lab juga jauh berubah. Yang surprising, Maeyama Sensei sendiri yang membereskan sebagian ruangannya dan menyiapkan meja untukku selama aku di sini.. Hadeuuh, hontoni arigatou gozaimasu, Sensei…!! Jadi ketika aku datang ke lab , aku mendapat meja di ruang Maeyama Sensei. Ada nyaman dan tidaknya … soalnya satu ruangan sama Sensei. Sungkan juga kalau pas Sensei ada aktivitas di ruangannya. Di Jepang, satu profesor membawahi satu Department/Laboratory, dan bertanggung-jawab penuh terhadap kegiatan penelitian di Lab, termasuk mencarikan dana penelitian. Semakin aktif Profesornya dan semakin banyak mahasiswanya, makin makmur lab-nya. Di Lab Maeyama Sensei ada satu associate professor dan satu assistant professor. Selebihnya adalah mahasiswa bimbingannya yang mengambil S2 atau S3.  Penelitian utama Sensei adalah tentang histamine research dan seputarnya.

Bekerja dengan kultur sel fibroblast di Lab

Bekerja dengan kultur sel fibroblast di Lab

Hari pertama itu aku mulai persiapan untuk penelitian. Oya, di sini aku mengerjakan satu penelitian sederhana untuk melihat pengaruh suatu ekstrak terhadap sintesis kolagen pada kultur sel fibroblast. Untung ada Rizal yang membantu menumbuhkan sel fibroblast sebelum aku datang, jadi bisa langsung kerja. Rizal adalah mahasiswa bimbingan skripsiku dulu yang pernah kuminta bantuannya mengerjakan satu proyek penelitian kerjasama dengan sensei di Ehime, dan akhirnya malah mendapat kesempatan S2 dan S3 di sini. Aku memang sudah mengkomunikasikan sebelumnya apa yang akan aku kerjakan selama di sini. Wah, rasanya excited sekali bisa ngelab lagi di sini, dengan kondisi lab yang lengkap dan ready for use, khususnya untuk bekerja dengan kultur sel. Hari itu aku menginkubasi sel fibroblast dengan ekstrak herbal yang aku bawa dari Indonesia, dan menunggu 48 jam.
Napak tilas ke Gintengai
Hari kedua aku masih menunggu inkubasi kultur sel, jadi punya waktu untuk jalan-jalan sebentar mencari pesanan. Oya, letak kampusku di daerah Shigenobu yang terletak di pinggir kota. Jadi kalau mau ke kota Matsuyama harus naik bus atau kereta (densha). Hari ini aku ditemani Rizal naik densha ke arah kota. Harga tiket kereta bahkan masih hampir sama seperti harga tiket 14 tahun yang lalu.. Bayangkan..!! Hanya naik sedikit, yang dulunya 450 yen sekarang jadi 475 yen. Aku masih selalu terheran-heran dengan harga di Jepang. Harga-harga hampir tidak pernah berubah berpuluh tahun. Harga o-sake bento (nasi dan lauk ikan salmon) kesukaanku harganya masih di angka 300-305 yen sejak tahun 2000 dulu. Sementara di negara kita, hampir tiap bulan tidak terasa harga beranjak naik, tau-tau sudah sekian kali lipat jika dilihat dari beberapa tahun sebelumnya.

Di shopping arcade Okkaido.. masih agak sepi karena bukan hari libur

Di shopping arcade Okkaido.. masih agak sepi karena bukan hari libur

Tempat belanja semacam shoping arcade yang terkenal di Matsuyama adalah Okkaido dan Gintengai. Di sana kita bisa jalan atau naik sepeda menyusuri pertokoan yang ada di kiri kanannya. Gintengai tidak banyak berubah dari yang terakhir aku kunjungi lima tahun yang lalu. Yang menarik di sini adalah Toko 100 yen. Ada beberapa toko 100-yen yang menjual aneka macam pernik-pernik dengan harga 100 yen. Wah, toko 100-yen ini kadang membuat nafsu belanja jadi menggila…hehe.. soalnya rasanya murah, dan banyak pernik-pernik unik yang ngga ada Indonesia.. Kreatif banget dan ngga terpikir deh di Indonesia, misalnya korok kuping dari bambu yang cantik dan nyeni bentuknya, kapas penyerap ingus yg disertai mentol untuk yg lagi pilek dan buntet, semacam penjepit untuk memperlebar rongga hidung untuk mencegah ngorok, dll… hehe... Kayaknya oleh-oleh korok kuping bagus juga buat yang pada suka ngga mau denger nasihat hahaha….. simbolik dan fungsional !!

Ujung dari Gintengai adalah Matsuyama-shi Eki atau stasiun kota Matsuyama. Selesai menyusuri Gintengai, aku pun pulang ke kampus Shigenobu menggunakan densha. Ketika tadi berangkat dan melewati stasiun Kume, aku melihat Bapak tua Penjaga Stasiun Kume ternyata masih ada. Wah, padahal 14 tahun yang lalu saja beliau sudah sepuh, entah berapa umurnya sekarang. Stasiun Kume adalah stasiun langgananku dulu jika berangkat ke kampus, karena kami dulu tinggal di sekitar Kitakume. Lima tahun yang lalu aku sengaja menjumpai beliau di stasiun Kume untuk berfoto. Tapi tadi aku belum sempat menemui beliau lagi. Ngomong-omong tentang usia orang Jepang, rata-rata usianya panjang bahkan mencapai 90-an. Di mana-mana sering kujumpai simbah-simbah sedang naik densha sendiri atau belanja di supermarket.. Ibu dari Maeyama Sensei bahkan sudah 97 tahun.. Apa ngga bingung yaa mau ngapain ….
Oke, sampai sini dulu ceritaku hari ini… besok disambung lagi kalau sudah ada cerita baru…





Catatan Perjalanan : Beijing yang amazing…

31 08 2014

Dear kawan,

Konferens yang aku ikuti

Konferens yang aku ikuti

Mungkin kalian pernah mendengar ungkapan “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China”… yah, itulah yang minggu lalu aku coba jalankan… yaitu mencari ilmu tentang kefarmasian dan ilmu pariwisata hehe…  Alhamdulillah, aku berkesempatan menjejakkan kaki ke negeri tirai bambu ini, melalui sebuah international conference yang bertajuk : ”2nd International Conference and Exhibition on Pharmacognosy, Phytochemistry & Natural Products”, tanggal 25-27 Agustus 2014, di Beijing, China. Tulisan ini adalah cerita perjalananku ke China beserta seluk beluk persiapannya… sekedar untuk dokumentasi pribadi, dan inspirasi jika ada yang ingin mencoba juga…

Keinginan menjelajah ke China sudah lama ada dalam angan-angan. Siapa yang tidak kenal Tembok Besar China yang termasuk salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia dan masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO ? Rasanya pengen sekali menginjakkan kaki ke sana suatu saat. Karena itu, aku memang sengaja mencari event seminar atau konferensi internasional yang diselenggarakan di sana, supaya bisa pergi ke sana dengan biaya seminim mungkin dari kantong sendiri hehe… sambil membawa tugas negara mendiseminasikan hasil penelitian orang Indonesia di dunia internasional.. ciee… belagu..!

A great effort to the Great Wall

Mewujudkan impian mengunjungi Tembok Besar China ternyata membutuhkan upaya yang besar juga….. yaitu diawali dengan mencari financial support untuk bisa pergi ke sana. Masalah pertama adalah kami mau pergi berdua, yaitu aku dan bu Triana, sementara support dana dari UGM menurut aturan saat itu hanya bisa untuk satu orang per fakultas. Karena itu aku harus mencari sumber lain. Akhirnya aku mencoba apply ke DIKTI untuk bantuan seminar luar negeri. Itu adalah pengalaman pertamaku untuk apply dana serupa dari DIKTI (tahun lalu aku ke Korea dengan dana dari universitas), jadi benar-benar tidak berani berharap banyak… Kalau dapat ya berangkat, kalau tidak ya sudah…. berarti belum rezekinya. Iseng-iseng berhadiah lah…

Untuk apply dana DIKTI maka yang harus disiapkan adalah acceptance letter dari Panitia seminar bahwa kita diterima untuk presentasi oral (bukan poster). Lalu ada beberapa dokumen lain yang harus diupload melalui sistem SIMLITABMAS, seperti surat pengantar dari institusi, info tentang konferens yang dituju, usulan biaya, dll. Singkat cerita, setelah apply dana tersebut, aku harus menjalani penantian cukup panjang untuk mendapatkan kepastiannya. Aku apply bulan April 2014, dan baru mendapatkan kepastian bahwa permohonanku diterima pada bulan Juni. Bayangin, lumayan mepet sekali karena setelah itu aku masih harus mengurus surat ijin perjalanan ke luar negeri dari universitas dan Sekretariat negara dan urusan exit permit yang juga tidak bisa selesai dalam waktu singkat, untuk keberangkatan bulan Agustus.

Di sisi lain, gejolak menjelang pilpres bulan Juli lalu cukup mengayun kurs rupiah tehadap dolar, jadi aku harus segera cepat mengambil keputusan untuk pembelian dan pembayaran tiket pesawatnya karena harga tiket ditetapkan dalam dolar. Aku putuskan untuk segera beli tiket pesawat, karena takut rupiah makin melemah siapapun presiden yang terpilih hehe… dan kami memutuskan untuk berangkat tanggal 24 Agustus dan kembali tanggal 29 Agustus 2014. Selain tiket pesawat Jogja-Beijing pp, kamipun memutuskan untuk segera booking Hotel melalui penyedia layanan booking hotel online yang bisa memberi harga khusus, karena kalau terlalu mepet waktu konferens harga pun bisa menjadi lebih mahal… Bener-bener banyak gambling-nya… kepastian berangkat belum ada, tapi sudah beli tiket pesawat dan booking hotel.. hehe..

Meleset dari rencana awal

Meski tiket pesawat sudah di tangan dan booking hotel sudah dibayar, namun keberangkatan masih belum bisa dipastikan karena surat ijin Setkab dan exit permit belum kami peroleh. Meskipun bisa berangkat pakai paspor hijau, tetapi waktunya sudah terlalu mepet untuk apply visa, lagipula paspor hijauku juga sudah hampir expired dan harus diperpanjang. Sebagai informasi, pengguna paspor dinas (paspor biru) tidak perlu visa untuk ke China karena sudah ada kerjasama bilateral antara Indonesia dan China dalam hal ini. Jadi kami pasrah saja, menanti takdir keberangkatan…

Di tengah ketidak-pastian untuk jadi berangkat atau tidak, aku dikejutkan oleh sepotong SMS dari Tim Analis Dana LPDP, yang menyatakan bahwa proposal penelitian RISPRO-ku lolos tahap seleksi awal dan masuk ke tahap paparan. Ketua Peneliti diharap kedatangannya di Jakarta untuk presentasi pada tanggal 26 Agustus 2014. Whatts…??!… itu kan barengan sama konferensi yang rencananya mau kami ikuti.. Aku sempat panik juga harus bagaimana dan harus segera memutuskan dalam waktu singkat. Kalau tidak jadi ke China, sayang tiketnya yg mahal itu kalau tidak terpakai. Tapi jika tidak ikut presentasi proposal, sayang juga kalau kehilangan kesempatan mendapatkan dana penelitian yang lumayan besar. Mengontak LPDP untuk negosiasi waktu juga bukan hal mudah karena telpon tidak pernah diangkat, sms tidak dibalas, email tidak direspon. Untunglah akhirnya aku memiliki ide, walau bukan ide yg menyenangkan, untuk menunda keberangkatan ke China. Yah…terpaksa tidak bisa berangkat bareng seperti rencana awal. Aku memutuskan untuk reschedule keberangkatan ke China menjadi tanggal 26 Agustus dengan konsekuensi ada tambahan biaya tiket, sementara bu Triana tetap berangkat tanggal 24 Agustus. Rencananya pagi aku ke Jakarta dulu untuk presentasi proposal, malamnya berangkat ke Beijing. Untunglah kebetulan ada penerbangan pada tanggal 26 malam. Dan tahu tidak.. pasporku beserta exit permitku baru bisa jadi pada tanggal 22 Agustus…. hadeeeh …! Almost in the last minute…

Korban modus operandi sopir taksi liar di Beijing

Akhirnya jadilah aku berangkat ke Beijing pada tgl 26 Agustus via Jakarta. Paginya aku ke Hotel Ibis dulu untuk presentasi proposal, dan sorenya berangkat ke Bandara. Setelah menanti cukup lama di bandara Soekarno Hatta sejak sekitar pukul 15:30an, berangkatlah malam itu aku sendiri membelah malam menuju Beijing, pada pukul 22:30 WIB. Tapi ada hikmahnya juga aku punya banyak waktu di bandara, karena aku bisa menyiapkan powerpoint presentasiku yang memang belum selesai karena fokusku ke konferensi terpecah dengan persiapan presentasi proposal RISPRO.

Informasi ttg conference di depan Hotel Doubletree by Hilton Beijing

Informasi ttg conference di depan Hotel Doubletree by Hilton Beijing

Perjalanan Jakarta-Beijing ditempuh dalam waktu 6 jam 46 menit. Pesawat Garuda yang kutumpangi mendarat mulus di Beijing Capitol Airport pada pukul 07.30an waktu setempat. Sesampai di Beijing, aku mencoba mencari taksi menuju hotel, dan aku sudah mendapat referensi bahwa ongkos taksi dari bandar ke Hotel Doubletree by Hilton Beijing adalah sekitar 200-250 yuan. Temanku kemarin malah kena charge 300 yuan. Ketika aku mencoba keluar dari Bandara, seperti di kota-kota di Indonesia, penumpang langsung diserbu tawaran naik taksi. Pertama ada yang menawarkan ongkos 450 yuan ke hotel, langsung saja aku tolak. Aku bilang bahwa temanku cuma bayar 200 yuan ke hotel (dalam bahasa Inggris dicampur bahasa isyarat). Repotnya di China itu tulisan hampir semuanya kanji dan tidak banyak yg bisa bahasa Inggris. Sebenarnya belakangan ada info bahwa kalau mau cari taksi yang resmi, mestinya naik satu lantai lagi di bagian departure. Tapi saat itu aku ada di bagian arrival dan tidak banyak terlihat ada taksi. Selain itu informasi di bandara cukup minim dan info itu kuketahui setelah mau pulang….

Akhirnya ada satu sopir yang ketika aku tawar 200 yuan dia setuju. Dia pun serta merta menggeret koperku dan memintaku mengikuti dia. Dengan sedikit harap-harap cemas aku ikuti dan berharap baik-baik saja. Ternyata dia parkir cukup jauh dan bukan taksi resmi. Dan harapanku tidak menjadi kenyataan, karena ketika baru berjalan beberapa puluh meter dia berhenti, dan bilang minta uang lagi untuk bayar tol 100 yuan. Aku langsung protes karena semula dia bilang 200 yuan sudah termasuk tarif tol. Tapi akhirnya aku sepakati menambah 50 yuan, dan dia minta dibayar saat itu. Ya udah, daripada ngga sampai-sampai aku pun membayar. Eh, kecurangan kedua terjadi lagi… Setelah mobil berjalan sekian puluh meter lagi, di jalan dia berhenti dan menyetop satu taksi resmi. Dia bicara ke sopirnya sambil menunjukkan informasi hotel yang kutuju, dan aku dioper ke taksi tersebut dengan dia menyerahkan sejumlah uang. “Dont worry, no more money,” katanya padaku. Untunglah sopir taksi berikutnya cukup baik orangnya, dan dengan bahasa isyarat dia bilang bahwa ongkos ke hotelku itu sebenarnya cuma sekitar 100 yuan… Hadeeh…! berarti si sopir pertama itu modusnya adalah mengambil penumpang dari bandara dengan ongkos yang lebih besar dari seharusnya, lalu dioper ke taksi resmi dengan harga biasa, dan dia mengutip kelebihannya…. Yah, sebuah pengalaman seru yang cukup berharga untuk menggunakan transportasi di Beijing… Belakangan aku mendengar cerita teman-teman yang sudah duluan datang bahwa mereka membayar ongkos taksi yang berbeda-beda untuk satu tujuan yang kira-kira jaraknya sama, tergantung pintar tidaknya menawar, karena sebagian taksi tidak mau pakai argometer.

 

Presentasi dalam seminar

Sesampai di hotel sekitar jam 9 waktu setempat, aku segera mandi dan siap-siap menuju ruang seminar. Dan alhamdulillah, presentasiku berjalan lancar-lancar saja. Konferensi diikuti oleh peserta dari berbagai negara, seperti China, Jepang, Korea, India, USA, Australia, Mesir, Russia, Saudi Arabia, Malaysia, Indonesia, Philipina, dll. Tetapi karena aku datang sudah pada hari ketiga, peserta terlihat mulai berkurang. Namun demikian, cukup banyak ilmu baru yang diperoleh dari konferensi ini yang menambah inspirasi.

 

Petualangan pertama ke Forbidden City dan Jingshan Park

Siang hari setelah makan siang, kami bersiap untuk menjelajahi Beijing berdua. Tujuan pertama adalah Forbidden city atau Kota Terlarang. Kota Terlarang, sering disebut juga dengan “Istana Terlarang”, terletak persis di tengah-tengah kota kuno Beijing dan merupakan istana kerajaan selama periode Dinasti Ming dan Dinasti Qing. Dikenal sebagai “Museum Istana”, lokasi ini memiliki luas sekitar 720,000 meter persegi, 800 bangunan dan lebih dari 8.000 ruangan. Oleh UNESCO, Kota Terlarang dikatakan merupakan koleksi struktur kayu kuno terbesar di dunia, dan terdaftar sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1987 sebagai “Istana Kerajaan Dinasti Ming dan Qing”. Lokasi istana kerajaan berada di utara dari lapangan Tiananmen dan dapat diakses dari lapangan tersebut melalui Gerbang Tiananmen.

Setelah tanya pada petugas Hotel, kami ditunjukkan untuk mengambil bus jalur 7 menuju halte terdekat dengan Kota Terlarang. Oya, untuk naik bus di Beijing, jangan lupa menukarkan uang dulu supaya memiliki recehan 1 yuan, karena ongkos naik bus jauh dekat 1 yuan. Bus yang kami tumpangi adalah bus tingkat dengan kondektur seorang wanita. Dengan bahasa isyarat kami sampaikan bahwa kami akan ke Forbidden city (kami bawa tulisan kanji yang menunjukkan tempat yang kami tuju). Wajahnya datar tanpa ekspresi ketika menunjukkan tempat kami harus turun… hadeeh… ! Dari halte tempat berhenti, kami masih harus jalan agak jauh melintasi Lapangan Tiananmen. Yang menarik, di sana banyaaak sekali orang China hehee….. ya iya laah, namanya juga di China. Iya, tapi maksudku adalah banyak sekali turis datang, dan sebagian besar berwajah China. Mungkin mereka turis domestik yang sedang berkunjung di Beijing, dan juga terbukti bahwa penduduk China banyaak sekali…

Di depan salah satu bangunan di Forbidden City

Di depan salah satu bangunan di Forbidden City

Untuk masuk ke dalam Forbidden City kami harus membeli tiket seharga 60 yuan per orang. Alhamdulillah, cuaca cerah.. dan kami pun mulai menjelajah di Kota terlarang yang cukup luas. Ada beberapa bangunan besar-besar di dalamnya, dan juga taman. Kota terlarang ini adalah istana kaisar yang dibangun pada tahun 1420. Selama sekitar 500 tahun, dari th 1420 sampai 1924, ada sebanyak 24 kaisar Cina hidup dalam istana tersebut, yaitu 14 kaisar dari Dinasti Ming, dan 10 kaisar dari Dinasti Qing. Pada tahun 1924, Jenderal China – Feng Yuxiang meluncurkan kudeta di Beijing dan mengusir kaisar Cina terakhir, yaitu Kaisar Pu Yi, dari Kota Terlarang. Kota Terlarang mulai terbuka untuk umum pada tahun 1925. Istana Kota Terlarang ini terbagi dalam dua bagian, di mana bagian selatan adalah bangunan utama di mana para Kaisar dahulu menjalankan roda pemerintahannya, sedangkan di bagian utara adalah tempat tinggal keluarga Kaisar. Sayangnya kami datang sendiri tanpa guide, sehingga tidak ada yang menjelaskan mengenai sejarah dari bangunan-bangunan yang ada di sana secara detail. Dan kamipun tidak sampai menyusuri semua bagiannya. Tapi yang penting kami sudah masuk ke sana, dan sah kalau dibilang sudah pernah ke Beijing hehe…..

Jika kami masuk dari bagian selatan, maka kami keluar melalui gate sebelah utara Forbidden city. Di depan pintu keluar sebelah utara, terdapat tempat yang tak kalah menarik yaitu Jingshan Park. Jingshan park semulanya adalah taman bagian dari Forbidden city, namun sekarang terpisah oleh jalan. Di dalamnya ada bukit buatan setinggi 45,7 meter yang dibangun pada era kaisar Yongle dari Dinasti Ming. Jingshan park terdiri dari 5 puncak, dan pada masing-masing puncak terdapat semacam pavilion.

Permaisuri Kaisar Khong dari dinasti Guan (kerajaan biskuit)

Permaisuri Kaisar Khong dari dinasti Guan (kerajaan biskuit)

Untuk masuk ke Jingshan Park, tiketnya hanya 2 yuan per orang. Semula kami pikir sekedar taman biasa, ternyata setelah mencapai puncak sangatlah indah pemandangannya. Dari atas terlihat hampir keseluruhan Forbidden city dan sebagian kota Beijing. Dan yang paling menarik adalah kesempatan memakai baju permaisuri kaisar China di salah satu pavilion Jinshan dengan membayar 25 yuan. Kamipun mencobanya…  kapan lagi bisa ke China dan tampil bak permaisuri? Hehehe…. Perjalanan menuruni puncak Jingshan park kami tempuh melalui jalan yang berbeda dari jalan naiknya… dan tidak sengaja kami ternyata melalui tempat di mana kaisar terakhir Dinasti Ming, yaitu Chongzhen gantung diri pada tahun 1644. Di situ terdapat pohon yang merupakan replika pohon tempat sang Kaisar gantung diri dan papan yg bertuliskan info tentang kisah tersebut. Hiii…serem…!

naik rickshaw

naik rickshaw

Perjalanan dari dua tempat tadi menutup petualangan hari itu, dan kami pun pulang ke hotel menggunakan bus. Tapi sempat juga kami bingung mencari halte bus yang harus kami datangi, dan itu menjadi alasan kami untuk naik rickshaw (kendaraan mirip becak yang dikayuh di depan oleh tukangnya) karena juga sudah kelelahan berjalan. Sayangnya kami sempat ketipu sama tukang rickshaw-nya…. Ongkos naik rickshaw disepakati 20 yuan, tetapi karena tidak punya uang kecil, aku bayar dengan 50 yuan. Dia kembalikan padaku 30 yuan. Belakangan baru aku ketahui bahwa dari 30 yuan uang kembaliannya, 20 yuannya adalah BUKAN uang China, tapi mirip sekali dengan uang China, sehingga tidak laku untuk beli di supermarket. Kami menyadari hal itu setelah kami mampir supermarket dan akan membayar, ternyata kasirnya bilang bahwa uangnya salah… Semula aku tidak ngeh… setelah aku amati lagi, barulah sadar bahwa uang 20-an itu ternyata bukan uang yuan, tetapi dari negara lain yang mirip sekali warnanya dengan uang yuan…. Hadeeeh, mane keteheee…… ketipu maniing….

 

 Petualangan kedua ke Ming Tombs dan Great Wall Badaling

Penerbangan ke Jakarta dari Beijing baru ada lagi pada tanggal 29 Agustus, sehingga kami ada waktu seharian setelah conference untuk menjelajahi Beijing. Kebetulan sekali kawan dari Universitas Andalas, yaitu Prof Dachrianus dan bu Ayu istrinya, juga mengikuti konferensi ini dan keluarga mereka menyewa satu travel agen untuk berkeliling Beijing. Maka jadilah kami ikut rombongan keluarga mereka yang kebetulan hari itu punya tujuan ke Great Wall. Dengan membayar 400 yuan seorang, kami bisa ikut tour sehari bersama mereka, sudah termasuk tiket masuk, lunch, dan dinner.

Bersama keluarga Prof Dachrianus di salah satu bagian Ming Tomb

Bersama keluarga Prof Dachrianus di salah satu bagian Ming Tomb

Perjalanan dimulai sekitar pukul 9 pagi waktu setempat dengan destinasi pertama adalah pusat penjualan batu giok/jade. Setelah melihat-lihat dan membeli sekadarnya, kami menuju destinasi kedua yaitu makam kaisar yang disebut Ming Tomb. Ming Tombs adalah makam kaisar-kaisar dinasti Ming. Ada sebanyak 13 tomb (makam Kaisar) yang tersebar di sekitar Beijing, dan yang kami kunjungi adalah tomb terbesar yaitu Chang Tomb. Chang Tomb merupakan makam bagi Kaisar Zhu Di dan istrinya, kaisar ketiga Dinasti Ming, yang memerintah China pada tahun 1402-1422. Arsitekturnya mirip seperti Forbidden city, dan menariknya pilar-pilar besarnya terbuat dari kayu cendana yang sangat besar dan tua. Kami masuk ke sana dan memasuki bangunan besar di dalamnya, namun sayangnya tempat penguburan kaisar di Chang Tomb tidak terbuka untuk umum, jadi kami tidak bisa melihat langsung tempat penguburannya.

Selepas dari Ming Tombs kami makan siang di sebuah restoran yang menyediakan makanan untuk muslim, sekalian sholat dhuhur. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Tembok Besar China yang sudah membuat penasaran…

Mejeng dulu di depan pintu masuk Great Wall

Mejeng dulu di depan pintu masuk Great Wall

Sampailah kami di Great Wall, sebuah bangunan yang sangat terkenal di dunia. Bangunan ini mulai dibuat pada tahun 221 sebelum Masehi pada jaman dinasti Qin. Kemudian pada dinasti Ming (th 1368 – 1644) bangunan ini diteruskan pembuatannya, ditambah dengamenara suar, menara pengintai, meriam, dan diperkuat dengan batu-batu granit. Tembok besar China bukanlah bangunan yang sambung-menyambung, tetapi terdiri dari beberapa bagian, yang panjang totalnya adalah sekitar 8.850 km. Ada sedikitnya 7 bagian yang terkenal untuk dikunjungi. Bagian (sections) yang berlokasi dekat Beijing ada 3, yaitu Badaling, Mutianyu dan dan Simatai. Selebihnya adalah Huanghuacheng, Jiankou, Gubeikou, dan Jinshanling. Masing-masing memiliki pemandangan dan keunikan tersendiri.

Jika ingin menikmati budaya dan keindahan Great Wall, dengan susunan batu bata berkelok-kelok, maka Badaling adalah pilihan pertama. Hal ini karena Badaling terkenal dengan budaya yang mengakar, pemandangan megah dan fasilitas militer yang lengkap, yang merupakan esensi dari Tembok Besar. Sebagian besar gambar Tembok besar China yang sering kita temui adalah pemandangan di Badaling. Bagian ini merupakan bagian yang paling ramai dikunjungi turis. Tapi jika kita ingin yang agak sepi dari wisatawan, maka Mutianyu adalah pilihannya. Jika ingin melihat bagian tembok besar yang lebih primitif dengan pemandangan padang gurun, maka kita sebaiknya mengunjungi Simatai dan Gubeikou. Sedangkan yang pemberani dan suka berpetualang dengan puncak curam dan pecahan batu-bata, pilihannya Huanghuacheng dan Jiankou. Puncak curam dan pecahan batu bata akan menantang keberanian dan rasa ingin tahu. Yang penting jangan lupa membawa persediaan air minum dan makanan secukupnya. Kata guide tour kami, kunjungan ke satu section Great Wall butuh satu hari. jadi karena ada 7 sections, maka butuh 7 hari di Beijing untuk bisa mengunjungi semuanya dengan puas….

Pemandangan dari salah satu menara suar.. indah sekali

Pemandangan dari salah satu menara suar.. indah sekali

Kami sendiri mengunjungi Badaling, section yang paling sering dikunjungi wisatawan… Tempatnya bersih dan terawat baik. Menaiki tangga yang lumayan tinggi dan curam untuk menuju menara suar dan menara pengintai sungguh suatu perjuangan tersendiri. Memasuki dan menyusuri Tembok Besar China mau tak mau harus mengagumi orang-orang China jaman dahulu dengan peradaban yang telah sangat tinggi ratusan tahun yang lalu. Pemandangan dari menara pengintai sangat indah. Kebetulan cuaca cukup nyaman, tidak terlalu cerah sekali, tetapi justru jadi tidak terlalu panas. Tapi kami tidak sanggup untuk lebih jauh dari satu menara suar saja… cukuplah merasa puas bisa menginjakkan kaki di sana dan mengabadikan beberapa foto. Kami berjumpa dengan banyak wisatawan dari berbagai negara… ada yang berkulit hitam, berkulit putih, dan yang berkulit sawo matang sekali seperti kami hehe…. Waktu turunnya pun kaki sedikit gemeteran karena sudah pegal …. hadeuuh….

 Ending perjalanan

Perjalanan hari ini ditutup dengan berkunjung ke toko souvenir untuk berbelanja oleh-oleh sekadarnya, melihat Stadium Olympic th 2008 dari jauh saja, dan makan malam di sebuah restoran muslim di kawasan Niujie. Kawasan ini adalah kawasan muslim di Beijing di mana terdapat Mesjid Niujie. Sayangnya aku tidak berkesempatan mengunjungi mesjidnya karena keterbatasan waktu. Alhamdulillah, kami kembali ke hotel dengan rasa syukur dan lega telah menyelesaikan misi perjalanan ke China dengan baik hehe... Cukup lengkap untuk sebuah perjalanan singkat ke Beijing karena telah mengunjungi tempat-tempat wajib di Beijing….  Malamnya kami berkemas karena esok paginya kami harus berangkat pagi untuk pulang ke Indonesia tercinta…

Demikian sedikit catatan perjalananku ke China, sekedar dokumentasi pribadi. Walaupun sempat dua kali kena tipu warganya, bagaimanapun Beijing tetap merupakan kota yang amazing, kombinasi antara sejarah dan modernitas sebagai ibu kota negara. Pengalaman mengunjungi Beijing, walau hanya singkat, telah cukup mewarnai pengalaman hidupku. Semoga masih berkesempatan mengunjungi kota-kota menarik lainnya lagi di dunia….

 

 

 





Catatan perjalanan : Perjalanan hati ke Tanah Suci..

11 05 2014

Dear kawan,

Kupenuhi panggilanMu, ya Allah..

Kupenuhi panggilanMu, ya Allah..

Sudah beberapa perjalanan keluar kota terlewatkan untuk aku tulis karena tak sempat menuliskannya, tapi untuk perjalanan kali ini aku ingin mendokumentasikannya untuk pribadi.. karena ini sebuah perjalanan yang tidak sekedar jalan-jalan melihat suasana, tetapi sebuah perjalanan religi yang penuh makna.. Yah, perjalanan ke Tanah Suci dalam ibadah umroh tentu membawa suasana hati tersendiri.. Sebuah perjalanan spiritual recharging setelah hampir 10 tahun berlalu sejak kami berhaji awal tahun 2005 yang lalu.

Keinginan untuk ibadah umroh sudah ada sejak pertengahan tahun 2013, tapi baru pada akhir bulan Januari 2014, kesempatan itu datang ketika sebuah informasi menghampiri bahwa kawan kantor suamiku akan berangkat umroh bulan April ini. Segera kami meminta informasi detail agar bisa bergabung, dan singkat cerita kebetulan masih ada space untuk dua orang dan jadilah kami bergabung bersama Koperasi Anggrek Mekar di Minomartani sebagai koordinator jamaah dari Jogja. Kami menggunakan pelayanan dari agen haji dan umroh Tisa Tour Jakarta. Setelah sempat ada pengunduran jadwal dari jadwal semula, jadilah kami berangkat pada tanggal 28 April s/d 7 Mei 2014.

Persiapan pemberangkatan

Minggu terakhir sebelum berangkat aku mulai sibuk dengan aneka persiapan, terutama terkait dengan pekerjaan. Kebetulan tanggal 28 Mei adalah tanggal deadline pengumpulan aneka proposal penelitian dan pengabdian masyarakat yang didanai oleh Dikti. Jadi lumayan berkejaran dengan waktu untuk menyiapkan aneka macam sebelum pergi. Selain urusan pekerjaan, tentu urusan perlengkapan pribadi juga disiapkan. Tidak lupa vaksinasi meningitis yang memang diwajibkan. Saat menjelang berangkat, berita mengenai wabah virus MERS (middle east respiratory syndrome) mulai merebak. Beberapa kawan mengingatkan untuk berhati-hati menjaga kesehatan terkait dengan virus MERS, dengan menyiapkan masker, vitamin C, dan obat imunostimulator. Jadilah aku juga menyiapkan masker secukupnya dan obat mengandung Echinacea. Kami sudah tidak sempat lagi vaksinasi influenza karena sudah terlalu mepet waktunya. Salah seorang sejawat senior bahkan menyarankan mengkonsumsi isoprinosine, suatu imunomodulator yang sekaligus berefek antiviral untuk berjaga-jaga. Sayangnya saran beliau baru aku terima ketika sudah transit di Jakarta, dan ketika bela-belain mencari di dua apotek terdekat dengan hotel transit, tak ada apotek yang punya obat tersebut… Ya udah, bismillah…. semoga sehat-sehat saja… Aku sempat terpikir untuk mencari lagi setelah sampai di Madinah saja (tapi ternyata ketika sampai sana juga tidak tersedia).

Long way to Madina: Pak Mintardi

Bersama Pak Mintardi di bandara Soetta

Bersama Pak Mintardi di bandara Soetta

Akhirnya setelah menunggu cukup lama sejak jam 3 pagi di bandara Soetta sambil mengurus bagasi, pembagian paspor dan boarding pass, dll, pesawat Saudia Airlines siap membawa kami menuju Madinah dengan penerbangan langsung Jakarta – Madinah. Di Bandara Soetta kami bertemu dengan jamaah umroh Tisa Tour dari kota-kota yang lain, yang semuanya berjumlah 240 jamaah. Salah satu jamaah dari Minomartani cukup menarik perhatianku.. Beliau kurus kecil dengan penampilan sederhana. Usut punya usut, beliau ternyata adalah tukang rongsok yang mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk bisa ikut umroh… Subhanallah…! sungguh pelajaran kecil yang indah tentang niat kuat seseorang yang berpadu dengan ijinNya… Pak Mintardi, begitu namanya, berupaya dengan cara menggunakan uang hasil rongsokannya untuk menyewa lahan dan ditanami buah dan sayuran.. Dari situlah ia mengumpulkan dan menabung untuk bisa ibadah umroh… Malulah kita yang diberi kelebihan materi jika kalah dengan niat kuat pak Min untuk beribadah umroh…

Perjalanan Jakarta-Madinah ditempuh dalam waktu 9 jam. Yang menarik, karena perjalanan pada siang hari dan menuju ke barat, maka waktunya menjadi siang terus dalam perjalanan. Kami berangkat pukul 8:50 WIB dan mendarat di Bandara Madinah pada pukul 14.00 waktu setempat. Yang agak kurang nyaman di pesawat Saudia Airlines adalah pengaturan tempat duduk yang kayaknya urut abjad atau entah bagaimana, sehingga antar keluarga atau pasangan suami istri bisa duduk terpisah jauh. Walau dimungkinkan untuk bertukar tempat duduk setelah di pesawat, tapi tentu itu tidak mudah jika tidak ada yang mau bertukar. Mbak dan mas pramugarinya juga kayanya agak kesal kalau penumpangnya pada seliweran di dalam pesawat mencari keluarga atau rombongannya… Tapi untunglah, ternyata penumpang di sebelahku pindah karena mau mendekati keluarganya dan ada tempat duduk yang kosong, sehingga aku bisa minta suami untuk duduk di sebelahku selama dalam perjalanan ke Madinah.. Alhamdulillah…

Madinah al munawarah : Raudhah

Suhu udara sekitar 34 derajat celcius menyambut kami di Madinah. Cuaca kering dan panas segera terasa walau sudah kami duga sebelumnya. Setelah melalui antrean panjang di imigrasi, akhirnya kami dibawa menuju hotel menggunakan bus. Oya,.. masalah antrean adalah salah satu yang harus disiapkan secara mental hehe… mau makan antre, ke toilet antre, masuk dan keluar masjid antre.. Hotel kami yaitu Al Eiman Taibah cukup nyaman dengan jarak sekitar 250 m dari masjid Nabawi.

Di masjid Nabawi menjelang dhuhur, payung terbuka menaungi

Di masjid Nabawi menjelang dhuhur, payung terbuka menaungi

Akhirnya untuk pertamakalinya di Madinah aku menginjakkan kaki di masjid Nabawi lagi untuk sholat maghrib.. (dulu pernah ke sini pada saat berhaji tahun 2005). Ada rasa haru menyeruak dan matapun membasah.. Begitu besar rasa syukurku masih diijinkanNya kembali menginjakkan kaki pada Masjid indah dan megah peninggalan Rasulullah SAW.. Masjidnya besar dan indah, dengan banyak pilar-pilar di luarnya yang pada siang hari akan terbuka menjadi payung yang menaungi dari teriknya matahari Arab. Air zam-zam melimpah di dalam gentong-gentong plastik di dalam masjid dan bisa diminum kapanpun dan berapapun.. Keutamaan masjid Nabawi adalah nilai pahalanya yang 1000 kali jika beribadah di tempat ini dibandingkan dengan di tempat lain (kecuali Masjidil Haram yang 100.000 kali). Berada bersama ribuan orang dari berbagai penjuru dunia membuat diri merasa sangat kecil tak berdaya.. Masjidnya besaar.., jika sudah masuk ke dalam harus nambah doa supaya tidak batal wudhu atau pengen pipis hehe… karena kalau batal harus keluar lumayan jauh di toilet-toilet yang ada di halaman masjid…

Di antara semua tempat di Masjid Nabawi, ada satu tempat favorit di Masjid Nabawi yang menjadi rebutan banyak orang untuk dikunjungi, yaitu Raudhah. Apa sih istimewanya? Raudhah dalam bahasa Indonesia adalah taman, yang maksudnya adalah taman Syurga atau taman Nabi. Dulunya, Raudhah merupakan ruang di antara mimbar dan kamar rasulullah SAW di dalam Masjid Nabawi. Raudhah merupakan tempat dengan luasan berukuran 22 x 15 m, bersebelahan dengan makam Nabi SAW, yang diimani sebagai tempat yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah bersabda: “Antara mimbarku dan rumahku merupakan taman dari taman-taman syurga” (HR. Al Bukhari & Muslim). Saat ini Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau, yang membedakannya dengan area masjid Nabawi yang lain yang berkarpet merah. Di sana kita bisa sholat sunnah atau berdoa.

Tidak mudah untuk mendapat giliran masuk Raudah terutama bagi wanita, karena dibatasi oleh waktu-waktu tertentu, yaitu pada pagi hari jam 8 – 10 pagi, siang sehabis dhuhur sampai jam 15, dan malam selepas isya sampai tengah malam. Itu pun harus bergiliran dengan ratusan atau bahkan ribuan jamaah yang lain, sampai-sampai petugas di Masjid Nabawi menerapkan giliran berdasarkan negara asal untuk masuk ke sana. Alhamdulillah, aku mendapatkan dua kali kesempatan masuk, sekali di waktu dhuha, sekali lagi di tengah malam. Bisa sholat dan berdoa di Raudhah, wuih..jangan tanya apa yang kurasakan…. nangis bombay deh… memohon segala macam sama Allah… Bicara tentang doa, menurutku tempat yang mustajab adalah salah satu faktor saja dari terkabulnya doa kita. Yang utama adalah iman, keyakinan, kesungguhan dan amal sholeh kita. Insya Allah, Ia akan tetap mengabulkan doa kita dari mana saja selama kita bersungguh-sungguh memohon dan meyakini kekuasaanNya.

Setelah tiga hari merasakan nikmatnya beribadah di Masjid Nabawi, akhirnya kami harus meninggalkannya untuk beralih ke Mekkah. Kami sempat juga mengunjungi beberapa tempat bersejarah di sekitar Madinah, seperti Masjid Quba dan Jabal Uhud, serta beberapa tempat menarik seperti Jabal magnet dan Kebun Kurma. Oiya, makanan di hotel enak-enak dan berselera Indonesia. Aku terpaksa gagal ber-diet karena harus jaga kesehatan …( alasan hehe…)

Mekkah Al Mukaromah : MERS

Perjalanan ke Mekkah kami mulai pada hari keempat pada siang hari selepas dhuhur. Bapak-bapak sudah diminta mengenakan kain ihrom karena kami akan langsung menuju Bir Ali untuk mengambil miqot (batas mulainya) untuk umroh. Perjalanan Mekkah – Madinah cukup melelahkan menggunakan bus selama 6 jam. Jalannya lurus dan datar, dengan pemandangan bukit-bukit batu yang tandus dipadu dengan hamparan tanah pasir. Kalau sudah begitu jadi teringat tanah air yang ijo royo-royo… alangkah bersyukurnya hidup di Indonesia yang subur makmur…

Yang menarik, sepanjang perjalanan dan termasuk di sekitar Mekkah nantinya, aku tidak menemui seekor onta-pun. Padahal mahluk yang satu ini adalah bisa dibilang simbol kota-kota di Arab. Kalau belum ketemu onta rasanya belum sampai ke Arab hehe… Yah, hal ini terkait dengan mewabahnya MERS yang disebut-sebut cukup ganas dan mematikan. Apakah MERS itu?

MERS adalah singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome (MERS), yang merupakan penyakit berupa sekumpulan gejala gangguan pernafasan akibat infeksi virus. Adanya penyakit ini pertama kali dilaporkan di Arab Saudi pada tahun 2012. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis virus korona yang dinamakan MERS-CoV. Pasien yang mengalami infeksi virus ini mengalami gangguan pernafasan yang berat/parah. Gejalanya adalah demam tinggi, batuk-batuk, dan sesak nafas. Lebih dari 30% pasien yang dipastikan terinfeksi virus ini meninggal karenanya. Karena diduga penyebarannya adalah melalui onta, maka selama di Arab kami dijauhkan dari onta. Jadi ngga bisa narsis sama onta deh….hehe… Tulisan tentang MERS telah aku sajikan tersendiri dalam satu tulisan khusus.

Masjidil Haram

Dari masjid Bir Ali untuk mengambil miqot (batas awal dimulainya ibadah umroh/haji) kami teruskan perjalanan dengan bus, dan sampai di Mekkah pada pukul 21:00 malam. Hotel Mira Ajyan menjadi tempat penginapan selama di Mekkah, yang jaraknya sekitar 300 m dari Masjidil Haram. Setelah makan malam dan beres-beres koper, pukul 23:00an kami berangkat ke Masjidil Haram untuk menjalankan ibadah umroh (thawaf, syai, dan tahallul). Kembali rasa haru tak terbendung saat memandang Masjidil Haram yang megah dengan Kabah di dalamnya.. Bersyukur sekali bisa menginjakkan kaki lagi di Baitullah.. Ibadah lengkap selesai sekitar pukul 03:00 dini hari, dilanjutkan i’tikaf sambil menunggu waktu sholat shubuh.. Hadehh… lumayan tepar juga.. entah berapa kilometer kami berjalan untuk thawaf dan sa’i, dll… tapi nikmatnya luar biasa… tenang, adem, penuh syukur dan kepasrahan… Paginya kami terkapar lelah dan ngantuk sampai saatnya dhuhur. Kembali ke Masjid lagi pada saatnya sholat. Alhamdulillah, selama di Mekkah bisa selalu sholat berjamaah di masjidil Haram. Alhamdulillah juga, bahwa selama di Mekkah kami bisa melakukan 3 kali ibadah umroh dari miqot yang berbeda-beda, yaitu Tan’im, Bir Ali, dan Hudaibiyah.

Masjidil Haram saat ini masih dalam renovasi untuk perluasan masjid. Renovasi dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu jalannya ibadah umroh maupun haji, dan diperkirakan akan selesai pada tahun 2050. Kelak direncanakan bentuk Masjidil Haram akan seperti piringan dengan kabah sebagai pusatnya. Apakah nanti masih bisa menyaksikannya… wallahu a’lam… Yang jelas jamaah harus semakin hati-hati untuk tidak nyasar hehe.. karena dengan design sekarang pun sangat mungkin jamaah nyasar dan tidak tau jalan pulang karena masjidnya sangat besar dengan pintu-pintu keluar yang mirip satu sama lain..

Di Jabal Rahmah...

Di Jabal Rahmah…

Di sekitar Mekkah kami mengunjungi museum Kabah, padang Arafah dengan Jabal Rahmah-nya, Musdalifah, dan Mina. Di Jabal Rahmah turun sebentar untuk sekedar berfoto dan berdoa. Jabal Rahmah adalah bukit di bagian timur padang Arafah dan diyakini sebagai pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka dipisahkan dan diturunkan dari syurga oleh Allah selama bertahun-tahun setelah melakukan kesalahan dengan memakan buah khuldi yang terlarang. Banyak orang meyakini bahwa tempat ini sebagai tempat suci untuk menungkapkan keinginan dan hajat mereka terkait dengan keluarga. Misalnya ingin mendapat pasangan, dikarunia anak yang sholeh dan sholehah, atau berdoa agar keluarga yang dibangun Sakinah Mawaddah Warahmah. Namun sebenarnya tidak ada tuntunan khusus dari Rasulullah mengenai hal ini.

 

Kembali ke tanah air

Setelah empat hari di Mekkah, sampailah waktunya kembali ke tanah air. Di hari terakhir di Mekkah aku masih menyelesaikan satu kali umroh (thawaf, sa’i dan tahallul) dan sholat ashar berjamaah. Rasanya lega dan bersyukur sekali bisa menjalani ibadah dengan lancar sejak dari Madinah sampai Mekkah. Kondisi kesehatan juga tetap terjaga selama di sana. Sempat kuatir juga bahwa akan kedatangan “tamu bulanan” karena sudah hampir waktunya. Tanda-tandanya sudah terasa di Madinah. Akhirnya hanya bisa berdoa saja semoga diijinkan menyelesaikan semua rangkaian ibadah utama di Mekkah tanpa halangan. Alhamdulillah, sang bulan datang pas banget di malam terakhir di Mekkah. Agak gelo sedikit karena tidak sempat maghrib, isya, dan thawaf wada (perpisahan) di Masjidil Haram, tapi sudah bersyukur sekali semua ibadah utama telah terselesaikan. Semoga diterima oleh Allah SWT. amiien…

Pukul 6 pagi esoknya kami meninggalkan Mekkah menuju Jeddah untuk kembali ke tanah air. Rasa haru untuk berpisah dengan Kabah bercampur dengan rasa rindu dengan anak-anak di rumah.. Semoga bisa kembali lain kali bersama keluarga. Sebuah pengalaman tak tergantikan. Dan aku merasakan sekali bahwa ibadah umroh dan haji ini banyak melibatkan kegiatan fisik, terutama berjalan. Karena itu kesehatan yang prima sangat penting. Buat kawan-kawan muslim yang masih muda dan kuat, apalagi jika mampu, sebaiknya segerakan untuk menjalankan ibadah haji atau umroh. Jangan terlalu berhitung dengan biayanya, Insya Allah Dia akan menggantikan dengan yang lebih baik. Amiien…

Demikian sekadar dokumentasi perjalananku ke Tanah Suci. Semoga kelak bisa kembali lagi bersama keluarga. Amiien..