My Note (2) : Wonderful Mt. Ishizuchi and omoshiroi Yayoi Kusama

27 10 2014

Dear kawan,
Catatan perjalananku kali ini adalah tentang kegiatanku selama week end ini. Hari Sabtu pagi aku masih menyelesaikan sedikit eksperimenku di lab, dan siangnya sudah direncanakan untuk pergi bersama Maeyama Sensei dan istri ke Gunung Ishizuchi. Hari Minggunya aku sudah janjian dengan teman Jepangku Kyoko Shibata untuk jalan-jalan di sekitar Dogo Matsuyama. Begini ceritanya….
Ke Gunung Ishizuci

Puncak gunung Ishizuchi dan warna-warni daun di musim gugur

Puncak gunung Ishizuchi dan warna-warni daun di musim gugur

Gunung Ishizuchi adalah gunung tertinggi di kawasan Jepang barat,  berlokasi di selatan Matsuyama, di antara perfecture Ehime dan Kochi. Jangan bayangkan seperti gunung Merapi yang tingginya di atas 3000 m, gunung ini “hanya” setinggi 1982 m, itu pun bukan gunung yang aktif. Dulu ketika masih kuliah, dalam perjalanan ke kampus aku sering melihatnya dari kejauhan puncaknya berselimut salju di musim dingin. Puncaknya mirip seperti ujung pedang samurai dan menjadi salah satu tempat pemujaan di Jepang dan dianggap sebagai tempat bermukimnya dewa. Kali ini aku berkesempatan ke sana bersama Maeyama Sensei dan istri, dan Rizal. Kata Sensei, aku akan bisa menikmati perubahan warna daun di musim gugur ini.

 

 

Bersama Bu Maeyama sebelum berangkat

Bersama Bu Maeyama sebelum berangkat

Kami berangkat berempat selepas dhuhur dari kampus menggunakan mobil Bu Maeyama. Bu Maeyama sendiri yang menyetir, dan cara menyetirnya halus dan enak. (aku perlu tekankan ini karena Maeyama Sensei sendiri nyetirnya kurang halus dan membuat Rizal mengalami motion sickness saat pulang hehe… ).  Beliau orangnya ramah dan penuh perhatian. Dibawakannya bekal jaket dan minuman dan snack untuk diminum di sana. Jika perjalanan jauh, beliau dan Sensei bergantian menyetir. Sepanjang perjalanan mata dimanjakan oleh pemandangan yang cantik suasana musim gugur. Yang selalu mengesankan aku jika jalan-jalan keluar kota di Jepang adalah jalan-jalan yang mulus, bersih, dan tidak jarang  jalannya menembus gunung melalui terowongan. Salah satu terowongan/tunnel yang kami lalui bahkan panjangnya 3097 m. Bayangkan susahnya ngebor gunung sepanjang itu…! Jadi perjalanan bisa lebih cepat karena seperti pakai shortcut. Ah, di Jepang itu apa yang ngga bisa dibuat… bawah laut pun digali untuk dibuat terowongan yang menghubungkan dua pulau… !!

Di Tsuchi-goya Hut, mendekati puncak gunung Ichizuchi

Melihat pemandangan sekitar puncak gunung bersama Maeyama Sensei dan ibu

Melihat pemandangan sekitar puncak gunung bersama Maeyama Sensei dan ibu

Kami parkir di sebuah parking area mendekati puncak gunung, yang disebut Tsuchi-goya Hut yg berada 1492 meter di atas permukaan laut . Dari situ perjalanan ke puncak bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 2,5 jam naik, dan 2 jam untuk turun. Tapi kami berhenti di situ saja, tidak naik ke puncak. Ga kuaat… !! Suhu di situ sekitar 14 derajat, lumayan dingin. Tau tidak.… aku sempat ketemu serombongan orang yang baru turun gunung Ishizuchi… dan itu rombongan bapak-ibu yang sudah sepuh-sepuh, tapi masih kelihatan sehat dan kuat !! Perjalanan mendaki gunung Ishizuchi sering dianggap sebagai sebuah perjalanan spiritual untuk pemujaan. Ada sebuah kuil semacam tempat peribadatan di situ, yaitu Ishizuchi shrine yang masih sering dipakai untuk upacara-upacara peribadatan.

Puncak Ishizuchi dari kejauhan... sedikit tersaput awan

Puncak Ishizuchi dari kejauhan… sedikit tersaput awan

Kami berhenti untuk sekedar minum teh dan melihat pemandangan dari atas. Beruntung cuaca cukup cerah, sehingga saat kami turun, kami sempat melihat puncak Ishizuchi yang sedikit tersaput awan. Kami sempatkan untuk mengambil gambar dengan latar belakang puncak Ishizuchi.

Menikmati serangkaian menu dengan menu utama sushi

Menikmati serangkaian menu dengan menu utama sushi

Perjalanan dari gunung ditutup dengan menikmati traditional Japanese food di sebuah restoran di Matsuyama. Kami sampai di Matsuyama hampir jam 6 sore, dan langsung meluncur ke sebuah restoran tradisional Jepang. Maeyama Sensei dan ibu mengajak kami untuk menikmati dinner di sana. Beliau tahu bahwa selama di Jepang kami tidak berani sembarang makan daging atau ayam (karena takut tidak halal karena tidak tahu cara menyembelihnya), jadi Sensei memilihkan kami makan sushi yang berisi ikan-ikan. Orang Jepang itu makan tidak hanya dengan lidahnya, tetapi juga dengan matanya… hehe.. karena itu ketika menyusun sajian untuk dimakan pasti indah dan nyeni.. Beberapa terasa agak aneh di lidah.. apalagi kalau ikan mentah. Tapi overall hmm.. oishikata… enak !! Sungguh sabtu yang berkesan… Bukan sekedar karena melihat suasana musim gugr di pegunungan yang indah, tetapi lebih pada hospitality Maeyama Sensei dan ibu yang sangat bersahabat…..

Dogo onsen dan Yayoi Kusama
Hari Minggu aku sudah janjian dengan Kyoko Shibata untuk jalan-jalan bareng. Kyoko adalah temanku orang Jepang yang suka berteman dengan orang asing. Aku mengenalnya sejak kuliah dulu di sini 14 tahun yang lalu. Kebetulan dia sarjana di bidang bahasa Inggris, jadi bahasa Inggrisnya cukup bagus. Buat aku yang tidak trampil bahasa Jepang, tentu ini sangat membantu. Tidak gampang loh mendengarkan orang Jepang berbahasa Inggris. Karena karakter konsonan mereka tidak mengenal huruf “F” dan “L”, maka pronounciation bahasa Inggris mereka kadang jadi tidak jelas, kecuali yang memang belajar dengan benar..hehe.. Sebagai contoh, ketika pertama kali aku datang ke Jepang, Sensei menjelaskan sesuatu yang aku dengar seperti kata “ Barius”…. Aku berpikir keras memahami apa yang dikatakan.. setelah agak lama barulah aku tahu bahwa yang dimaksudkan adalah “values”hadeeeh.… !! Mereka juga tidak punya vokal “E” seperti pada kata “emas”. Jadi ketika pronounce “Water”.. mereka akan menyebutnya “ Wota”.. Super menjadi supa, menyebut “color” menjadi “kara”…

Di depan Dogo Onsen yang sudah berumur ribuan tahun

Di depan Dogo Onsen yang sudah berumur ribuan tahun

Dogo onsen atau Dogo hotspring adalah tempat pemandian air panas khas Jepang yang tertua di Jepang, yakni berusia lebih dari 1000 tahun. (gila bener ya.. bisa bertahan ribuan tahun)… Di Jepang, banyak hot spring yang berasal dari air panas alami. Aku sendiri selama di Jepang belum pernah mencoba mandi air panas di onsen. Kali ini pun bukan untuk mandi, tetapi untuk melihat satu art performance di hotel Takaraso yang berlokasi di seputaran Dogo. Kebetulan saat ini sedang ada suatu penampilan seni dari seniman Jepang terkenal yang bernama Yayoi Kusama. Ia seorang disainer serbabisa yang terkenal dengan pola polkadot dan bentuk labu/pumpkin. Terus terang aku juga baru dengar sekarang ini hehe… Di Jepang itu ada saja hal-hal yang kadang tidak terbayang sebelumnya… Apa sih bagusnya pola polkadot dan labu? Tetapi ketika dijadikan suatu karya seni ternyata menarik juga…

Di kamar yag didekorasi dengan polkadot merah

Di kamar yang didekorasi dengan polkadot merah

Untuk menyaksikan hasil karyanya kami harus pesan tempat dulu dan mendapat waktu pukul 12.20 waktu setempat, bayarnya 1000 yen. Akhirnya aku dan Kyoko mendapat kesempatan masuk ke kamar yang dimaksud selama 15 menit bersama 3 orang pengunjung lain… Dan…woww... menarik dan tidak terbayang sebelumnya di kepalaku… ! Seisi kamar didekorasi dengan indah dan unik dengan pola polkadot dan pumpkin.. Tapi aku sih tidak kebayang bisa tidur di kamar hotel yang didekorasi semacam ini hehe….. Nampaknya sih seniman ini memang orangnya unik dan “gila”. Selain dekorasi kamar, ia juga mendisain baju atau T-shirt dengan motif-motif polkadot dan pumpkin yang tidak biasa… Anyway, sungguh menarik… !!

Pola polkadot dan pumpkin yg unik

Pola polkadot dan pumpkin yg unik

Salah satu ciri khas Yayoi Kusama adalah pumpkin

Salah satu ciri khas Yayoi Kusama adalah pumpkin

Selepas dari sana, Kyoko mengajakku makan siang di sebuah restoran tradisional Jepang, dan makanannya Jepang banget. Tapi jangan dikira aku ditraktir ya… kalau yang ini kami bayar sendiri-sendiri hehe.. tapi tak apalah, sudah senang bisa diajak jalan-jalan ke tempat menarik. Sorenya aku pulang naik densha ke kampus. Sayangnya aku belum sempat ketemu bapak penjaga stasiun Kume yang dulu, setiap aku lewat, beliau tidak kelihatan jadi aku belum sempatkan mampir.
Well, untuk kali ini cukup dulu ceritanya. Pekerjaan di lab menanti lagi….

Iklan




My Note (1): Napak tilas ke Ehime Daigaku

24 10 2014

Dear kawan,
It is exciting time untuk menginjakkan kaki lagi ke negeri sakura, tepatnya di Ehime, tempatku belajar untuk program doktoral 14 tahun yang lalu.. Sebenarnya ini adalah kali ketiga aku berkunjung ke Ehime lagi sejak aku lulus S3 th 2001 yang lalu, yaitu tahun 2005, tahun 2009, dan kali ini. Prof Maeyama (aku menyebutnya Maeyama sensei) mengundangku tahun ini untuk visiting Ehime lagi melalui grant dari Fujii. Sebenarnya Sensei mengundangku pada bulan Juli yang lalu, tapi aku menawar untuk bulan Oktober ini. Di samping ada kesibukan lain, bulan Juli adalah bulan puasa. Berpuasa sendirian di musim panas yang siangnya lebih panjang dari malamnya di negeri orang… hadeuuuh… kalau bisa ngga usah deh… Beraat !!  🙂   Aku pilih bulan Oktober karena sudah masuk musim gugur dan hawanya sejuk….

Sampai juga ke Matsuyama
Persiapan yang terberat sebelum pergi ke Jepang bukanlah apa yang harus kukerjakan di sana, tetapi menyiapkan hati untuk meninggalkan keluarga dalam waktu sekitar 2 mingguan. Terutama si bungsu Hanna yang baru 3 tahun dan selalu lengket denganku, dan kakak si bungsu, Dhika, yang setiap hari aku antar dan jemput sekolah. Belum lagi ayahnya juga baru pergi ke Turki untuk seminar dan baru pulang di hari yang sama dengan aku berangkat.. Tapi akhirnya sampai jugalah pada hari aku harus berangkat, tgl 20 Oktober 2014.
Tangisan heboh Hanna di Bandara Adisucipto mengiringi keberangkatanku ke Osaka via Denpasar. Sempat sedih dan ngga tega.. but the show must go on. Alhamdulillah, sesampai di Denpasar aku pantau kondisi rumah via BBM, anak-anak sudah tenang… Bandara Ngurah Rai menurutku kurang begitu nyaman untuk transit jika pergi keluar negeri, karena jarak antara bandara domestik dan internasionalnya cukup jauh. Lumayan ngos-ngosan juga aku berjalan, karena aku mendarat di Ngurah Rai sudah hampir jam 23, sementara boarding time untuk perjalanan ke Osaka adalah pukul 00.30 waktu setempat. Jadi tak sempat istirahat barang sejenak karena untuk mencapai gate-nya pun butuh waktu lama meskipun sudah dibantu naik golf-car. Namun syukurlah… akhirnya sang Garuda Indonesia pun melayang membawaku ke negeri sakura dan mendarat mulus di Kansai International Airport Osaka. Bersyukur juga bahwa proses imigrasi lancar sekali padahal aku pakai paspor hijau (soalnya 5 tahun lalu koperku sempat diperiksa padahal pakai paspor biru/dinas). Si petugas sekilas membaca dokumenku dan menanyakan apakah aku baru pertama ke Jepang, “Hajimete desu ka?” Aku bilang “Iie… Nihon ni bengkyo shimashita”… (tidak, dan aku pernah belajar di sini). “Sensei desu ka?” tanyanya ramah (tumben, biasanya serem-serem). “Haik, so desu ” jawabku… dan loloslah dari imigrasi… Dari Bandara Kansai aku segera naik bus ke Itami Airport, bandara domestik di mana aku akan terbang satu kali lagi menuju Matsuyama.

Yang paling kuharapkan saat sampai di Itami Airport adalah tetap keep connected dengan keluarga. Ternyata di Kansai maupun Itami tidak semudah di Bandara Incheon Korea yang di mana-mana wifi mudah didapatkan. Di Itami, ada tertulis free wifi, tapi sayangnya ketika kucoba ada password yang harus dientry-kan. Udah gitu Blackberry-ku low batt gara-gara sebelum berangkat Jogja mati lampu dan belum sampat ngecas, dan colokan yang kubawa tidak fit dengan colokan di Jepang yang ujungnya gepeng. Sempat desperate, tetapi untungnya kemudian menemukan public computer yang terkoneksi dengan internet sekaligus berfungsi sebagai charger. Tapi ngga gratis loh... per 10 menit kita bayar 100 yen. Untungnya aku bawa recehan yen sisa perjalanan sebelumnya. Yah, yang penting bisa segera berkabar ke rumah dan mendapat kabar pula dari rumah. Alhamdulillah, anak-anak semua manis dan manut selama ibu pergi…. Akhirnya aku tetap menggunakan nomor Indosatku selama di sini setelah aku set untuk dapat paket promo selama di luar negeri karena tidak mudah ternyata mencari nomer lokal di sini untuk pemakaian short term. Pasti kena roaming deh… tapi gak papalah sudah diniati, dan itu adalah bayaran untuk tetap keep in touch dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia, untuk urusan rumah dan pekerjaan..

Yang selalu aku kagumi dari Jepang adalah industri jasanya yang nomer satu. Pelayanan sangat ramah di mana-mana. Ketika di Bandara Itami aku menanyakan pada petugas tentang password wifi yang katanya free, dan mereka tidak tahu, mereka berusaha menanyakan pada yang tahu. Ketika akhirnya tetap tidak bisa connected, mereka meminta maaf dengan ramah atas ketidaknyamanannya. Bela-belain mendatangiku di tempat dudukku untuk menyampaikannya. Juga di saat lain ketika ke toko elektronik mencari spare part alat cukur jenggot pesanan suamiku, penjaga tokonya dengan ramah dan telaten melayani sampai aku mendapatkan apa yang kubutuhkan. Dalam urusan berjualan, mereka bahkan lebih Islami dari pada pedagang yang mengaku Islam… Dengan jujur mereka akan menyebutkan bahwa barang ini kurang baik atau lebih mahal, dan mencarikan altenatif lain. Atau jika ada makanan atau buah yang sudah mendekati expired time-nya, mereka memberi harga diskon. Kebiasaan yang terakhir ini yang sering aku manfaatkan dulu ketika masih tinggal di sini… Kalau belanja kebutuhan makanan, aku datang pada sore atau malam sepulang dari kampus, jadi bisa dapat harga-harga murah dengan kualitas masih memadai hehe... Maklumlah, pelajar miskin harus pandai-pandai mengirit…

Bersama Maeyama Sensei di Matsuyama Airport

Bersama Maeyama Sensei di Matsuyama Airport

Sebuah pesawat kecil berbaling-baling membawaku dari Itami Airport ke Matsuyama. Sayangnya badanku sedang tidak begitu fit, bahu dan leher pegal-pegal sampai merambat ke kepala. Sedikit pening, jadi aku tertidur saja saat di pesawat. Sesampai di Matsuyama Airport, Maeyama Sensei dan Rizal sudah menjemput. Setelah makan udon sebentar untuk lunch, aku diantar ke Guest House di Ehime Univ School of Medicine, kampusku dulu. Tidak sangat banyak yang berubah di sepanjang perjalanan dari Airport ke kampus. Suasana musim gugur sudah mulai terasa, tetapi belum sangat berbeda. Pohon-pohon yang biasanya daunnya merah di musim gugur baru terlihat kuning. Aku masih mengingat jalan-jalan yang dulu pernah kami lalui dengan bersepeda di jaman kuliah… Beberapa masih sama, namun ada yang sudah berubah. Tapi yang paling berubah adalah kampusku sendiri. Guest house yang kutinggali adalah bangunan baru. Banyak renovasi-renovasi yang dilakukan yg mempercantik kampus.
Hari pertama di Matsuyama

Guest house tempat aku menginap, berlokasi di belakang kampus

Guest house tempat aku menginap, berlokasi di belakang kampus

Guest house tempatku menginap cukup nyaman dan lengkap. Lima tahun yang lalu ketika aku datang ke sini, aku menginap di Hotel kecil di depan kampus. Guest house atau semacam asrama ini diperuntukkan untuk mahasiswa luar kota dan juga ada kamar untuk tamu. Letaknya di bagian belakang kampus dekat stasiun. Oya, kalau aku pergi kemana-mana, yang tidak boleh lepas dari perhatian adalah toiletnya..hehe.. Bagaimanapun itu adalah salah satu hajat penting dalam kehidupan manusia. Untunglah toilet di negara-negara Asia seperti Jepang, Korea dan China yang pernah kukunjungi masih menggunakan air untuk bersih-bersih. Toilet di guest house juga bagus, ada alat penyemprot air elektrik yang harus ditekan untuk menyemburkan air, dan bisa diatur kecepatan maupun arahnya. Paling tidak enak adalah kalau ke Eropa, yang model toiletnya kering dan hanya pakai tissue… haduuh, pasti harus sangu botol buat persiapan bebersih… Untuk urusan cuci baju, di depan ruangku ada ruang umum untuk mencuci baju dengan mesin cuci ber-coin.

Ehime University School of Medicine.. dua pohon itu adalah pohon Ginkgo biloba

Ehime University School of Medicine.. dua pohon itu adalah pohon Ginkgo biloba

Pada hari pertama, rasanya kaya de javu balik ke kampus lagi.  Kampus tampak lebih cantik dengan banyak renovasi. Sayangnya musim gugur masih awal, kalau sudah menjelang musim dingin, daun pohon-pohon Ginkgo biloba di sekitar kampus akan berubah warna menjadi kuning, cantik sekali. Ketika masuk Lab (Pharmacology), sempat pangling juga. Lay out di lab juga jauh berubah. Yang surprising, Maeyama Sensei sendiri yang membereskan sebagian ruangannya dan menyiapkan meja untukku selama aku di sini.. Hadeuuh, hontoni arigatou gozaimasu, Sensei…!! Jadi ketika aku datang ke lab , aku mendapat meja di ruang Maeyama Sensei. Ada nyaman dan tidaknya … soalnya satu ruangan sama Sensei. Sungkan juga kalau pas Sensei ada aktivitas di ruangannya. Di Jepang, satu profesor membawahi satu Department/Laboratory, dan bertanggung-jawab penuh terhadap kegiatan penelitian di Lab, termasuk mencarikan dana penelitian. Semakin aktif Profesornya dan semakin banyak mahasiswanya, makin makmur lab-nya. Di Lab Maeyama Sensei ada satu associate professor dan satu assistant professor. Selebihnya adalah mahasiswa bimbingannya yang mengambil S2 atau S3.  Penelitian utama Sensei adalah tentang histamine research dan seputarnya.

Bekerja dengan kultur sel fibroblast di Lab

Bekerja dengan kultur sel fibroblast di Lab

Hari pertama itu aku mulai persiapan untuk penelitian. Oya, di sini aku mengerjakan satu penelitian sederhana untuk melihat pengaruh suatu ekstrak terhadap sintesis kolagen pada kultur sel fibroblast. Untung ada Rizal yang membantu menumbuhkan sel fibroblast sebelum aku datang, jadi bisa langsung kerja. Rizal adalah mahasiswa bimbingan skripsiku dulu yang pernah kuminta bantuannya mengerjakan satu proyek penelitian kerjasama dengan sensei di Ehime, dan akhirnya malah mendapat kesempatan S2 dan S3 di sini. Aku memang sudah mengkomunikasikan sebelumnya apa yang akan aku kerjakan selama di sini. Wah, rasanya excited sekali bisa ngelab lagi di sini, dengan kondisi lab yang lengkap dan ready for use, khususnya untuk bekerja dengan kultur sel. Hari itu aku menginkubasi sel fibroblast dengan ekstrak herbal yang aku bawa dari Indonesia, dan menunggu 48 jam.
Napak tilas ke Gintengai
Hari kedua aku masih menunggu inkubasi kultur sel, jadi punya waktu untuk jalan-jalan sebentar mencari pesanan. Oya, letak kampusku di daerah Shigenobu yang terletak di pinggir kota. Jadi kalau mau ke kota Matsuyama harus naik bus atau kereta (densha). Hari ini aku ditemani Rizal naik densha ke arah kota. Harga tiket kereta bahkan masih hampir sama seperti harga tiket 14 tahun yang lalu.. Bayangkan..!! Hanya naik sedikit, yang dulunya 450 yen sekarang jadi 475 yen. Aku masih selalu terheran-heran dengan harga di Jepang. Harga-harga hampir tidak pernah berubah berpuluh tahun. Harga o-sake bento (nasi dan lauk ikan salmon) kesukaanku harganya masih di angka 300-305 yen sejak tahun 2000 dulu. Sementara di negara kita, hampir tiap bulan tidak terasa harga beranjak naik, tau-tau sudah sekian kali lipat jika dilihat dari beberapa tahun sebelumnya.

Di shopping arcade Okkaido.. masih agak sepi karena bukan hari libur

Di shopping arcade Okkaido.. masih agak sepi karena bukan hari libur

Tempat belanja semacam shoping arcade yang terkenal di Matsuyama adalah Okkaido dan Gintengai. Di sana kita bisa jalan atau naik sepeda menyusuri pertokoan yang ada di kiri kanannya. Gintengai tidak banyak berubah dari yang terakhir aku kunjungi lima tahun yang lalu. Yang menarik di sini adalah Toko 100 yen. Ada beberapa toko 100-yen yang menjual aneka macam pernik-pernik dengan harga 100 yen. Wah, toko 100-yen ini kadang membuat nafsu belanja jadi menggila…hehe.. soalnya rasanya murah, dan banyak pernik-pernik unik yang ngga ada Indonesia.. Kreatif banget dan ngga terpikir deh di Indonesia, misalnya korok kuping dari bambu yang cantik dan nyeni bentuknya, kapas penyerap ingus yg disertai mentol untuk yg lagi pilek dan buntet, semacam penjepit untuk memperlebar rongga hidung untuk mencegah ngorok, dll… hehe... Kayaknya oleh-oleh korok kuping bagus juga buat yang pada suka ngga mau denger nasihat hahaha….. simbolik dan fungsional !!

Ujung dari Gintengai adalah Matsuyama-shi Eki atau stasiun kota Matsuyama. Selesai menyusuri Gintengai, aku pun pulang ke kampus Shigenobu menggunakan densha. Ketika tadi berangkat dan melewati stasiun Kume, aku melihat Bapak tua Penjaga Stasiun Kume ternyata masih ada. Wah, padahal 14 tahun yang lalu saja beliau sudah sepuh, entah berapa umurnya sekarang. Stasiun Kume adalah stasiun langgananku dulu jika berangkat ke kampus, karena kami dulu tinggal di sekitar Kitakume. Lima tahun yang lalu aku sengaja menjumpai beliau di stasiun Kume untuk berfoto. Tapi tadi aku belum sempat menemui beliau lagi. Ngomong-omong tentang usia orang Jepang, rata-rata usianya panjang bahkan mencapai 90-an. Di mana-mana sering kujumpai simbah-simbah sedang naik densha sendiri atau belanja di supermarket.. Ibu dari Maeyama Sensei bahkan sudah 97 tahun.. Apa ngga bingung yaa mau ngapain ….
Oke, sampai sini dulu ceritaku hari ini… besok disambung lagi kalau sudah ada cerita baru…





Hati-hati menggunakan antibiotika agar tidak terjadi resistensi bakteri

5 10 2014

Dear kawan,

ini reposting tulisanku di Harian Tribun hari ini…. satu halaman penuh loh.. 🙂

Baru-baru ini, dalam sebuah kesempatan Ibu Menteri Kesehatan dr. Nafsiah Mboi meminta kepada Apoteker untuk tidak sembarangan memberikan atau menjual antibiotik tanpa resep dokter, karena penggunaan antibiotika yang tidak tepat dapat memicu terjadinya resistensi bakteri. Sebuah himbauan yang simpatik, tetapi Penulis berpendapat bahwa masalah resistensi bakteri tidak hanya melibatkan peran apoteker sebagai penyedia obat, tetapi juga ada dua faktor utama yang lain, yaitu pola peresepan oleh dokter yang tidak selalu tepat dan perilaku pasien sendiri yang salah dalam menggunakan antibiotika. Tulisan kali ini lebih ditujukan kepada masyarakat luas untuk lebih mengenali bakteri, obat-obat antibiotika dan cara penggunaannya yang tepat, sehingga dapat turut mencegah terjadinya risiko resistensi bakteri. Lebih mudah mengedukasi masyarakat, daripada mengingatkan dokter yang pintar-pintar hehe….

Apakah bakteri itu?

Macam-macam bakteri

Macam-macam bakteri

Bakteri adalah organisme yang sangat kecil dan berukuran mikron, yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop, sehingga disebut juga mikroorganisme. Mikroorganisme sendiri ada bermacam-macam jenisnya, antara lain adalah virus, jamur, parasit, termasuk bakteri. Bakteri dapat dijumpai di hampir semua tempat, seperti tanah, air, udara, hidup bersama dengan organisme lain (ber-simbiosis), bahkan dalam tubuh manusia. Sebagian dari mereka bersifat merugikan dan dikenal sebagai penyebab infeksi dan penyakit pada manusia, sedangkan sebagian lain ada yang bermanfaat misalnya di bidang pangan, pengobatan dan industri. Bakteri yang menyebabkan penyakit pada manusia, maupun pada hewan dan tumbuhan, disebut bakteri patogen. Beberapa contoh bakteri patogen dan penyakit yang ditimbulkannya adalah seperti di bawah ini:
No. Nama bakteri Penyakit yang ditimbulkan
1. Salmonella typhi :  Tifus
2. Shigella dysenteriae : Disentri basiler
3. Vibrio cholera : Kolera
4. Haemophilus influenza : Influensa
5. Diplococcus pneumoniae : Pneumonia (radang paru-paru)
6. Mycobacterium tuberculosis : TBC paru-paru
7. Clostridium tetani : Tetanus
8. Neiseria meningitis : Meningitis (radang selaput otak)
9. Neiseria gonorrhoeae : Gonorrhaeae (kencing nanah)
10. Treponema pallidum : Sifilis atau Lues atau raja singa
11. Mycobacterium leprae : Lepra (kusta)
12. Treponema pertenue : Puru atau patek

Bakteri masih dapat terbagi lagi berdasarkan kemampuannya mengikat pewarna Gram, sehingga ada yang digolongkan sebagai bakteri Gram negatif dan Gram positif. Kemampuannya mengikat pewarna Gram ini ditentukan oleh perbedaan struktur dinding sel bakteri. Perbedaan ini dapat menyebabkan perbedaan sensitivitas bakteri terhadap jenis antibiotika golongan tertentu. Ada antibiotika yang lebih poten terhadap bakteri Gram negatif daripada positif, atau sebaliknya, atau bisa membunuh dua-duanya.

Antibiotika dan macamnya
antibioticsGolongan obat yang bisa membunuh bakteri disebut dengan golongan obat antibiotika. Terdapat sedikitnya 4 golongan antibiotika berdasarkan mekanisme kerjanya dalam membunuh bakteri, yaitu:
1. Yang bekerja menghambat pembentukan dinding sel bakteri, contoh : golongan Penisilin dan Sefalosporin, misalnya amoksisilin, ampisilin, sefotaksim, sefiksim, seftriakson
2. Yang bekerja menghambat tanskripsi dan replikasi DNA bakteri, contoh: golongan kuinolon (siprofloksasin), rifampisin, aktinomisin
3. Yang bekerja menghambat sintesis protein bakteri, contohnya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin), aminoglikosida, tetrasiklin, kloramfenikol, dll
4. mengantagonis asam folat yg diperlukan untuk pertumbuhan bakteri, contohnya : golongan sulfa

Dari sini dapat diketahui bahwa macam antibiotika itu cukup banyak, dan masing-masing memiliki spesifikasi dan potensi terhadap jenis bakteri tertentu. Ketika seorang pasien didiagnosa terkena infeksi bakteri, maka dokter akan memilihkan antibotika yang sesuai dengan kondisi pasien (jenis penyakit, macam bakteri penginfeksi, sensitivitas kuman terhadap antibotika).

Mengapa bakteri bisa resisten/kebal terhadap antibiotika?

Proses berkembangnya bakteri yg resisten

Proses berkembangnya bakteri yg resisten

Yang dimaksud dengan resistensi bakteri adalah kondisi ketika suatu strain bakteri menjadi resisten (kebal) terhadap antibiotik. Resistensi ini berkembang secara alami melalui mutasi yang terjadi secara perlahan dan acak dan juga bisa disebabkan oleh pemakaian obat antibiotik yang tidak tepat sebagai adaptasi bakteri terhadap tekanan lingkungan. Setelah gen resisten dihasilkan, bakteri kemudian dapat mentransfer informasi genetik secara horisontal (antar individu) dengan pertukaran plasmid. Mereka kemudian akan mewariskan sifat itu kepada keturunannya, yang akan menjadi generasi resisten. Bakteri bisa memiliki beberapa gen resistensi, sehingga disebut bakteri multiresisten atau “superbug”. Resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia. Resistensi bakteri memang seperti tidak terasakan secara langsung akibatnya oleh pasien, namun baru akan terasakan dampaknya ketika seseorang terinfeksi dan tidak sembuh-sembuh setelah diberi antibiotika. Hal ini bisa terjadi jika pasien tersebut terinfeksi oleh bakteri yang resisten antibiotik, sehingga pengobatannya menjadi lebih sulit dan harus menggunakan obat yang lebih kuat dan lebih mahal dengan lebih banyak efek samping. Jika kejadian ini terakumulasi dalam sekelompok masyarakat, maka biaya kesehatan menjadi sangat meningkat.

Seperti apa penggunaan antibiotika yang tidak tepat?
Walaupun hubungan langsungnya tidak sangat jelas, tetapi banyak laporan menunjukkan bahwa ada hubungan antara penggunaan antibiotika yang tidak tepat dengan kejadian resistensi bakteri. Bakteri adalah organisme yang memiliki daya adaptasi yang tinggi, sehingga resistensi terhadap antibiotika bisa merupakan respon bakteri terhadap lingkungannya, termasuk terhadap paparan antibiotika. Alih-alih terbunuh, sebagian dari mereka justru berkembang menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut. Beberapa contoh penggunaan antibiotika yang tidak tepat dan memicu resistensi antibiotik adalah :
1. Penggunaan antibiotik berlebihan
Antibiotika tidak bisa membunuh virus. Beberapa penyakit yang sering kita jumpai seperti flu, batuk, diare, sebagian besar disebabkan oleh virus. Namun seringkali dokter meresepkan atau juga pasien berinisiatif untuk menggunakan antibiotik. Semestinya antibiotik hanya diperlukan bila flu dan pilek sudah ditumpangi infeksi sekunder oleh bakteri, dan itu dapat terlihat dari adanya tanda-tanda infeksi. Penggunaan yang tidak tepat seperti ini bisa menyebabkan bakteri yang semula “lemah” akan ber-evolusi menjadi bakteri yang “kuat” dan resisten.
2. Penggunaan antibiotik yang terputus/tidak habis
Sering terjadi pasien menghentikan penggunaan antibiotika jika sudah merasa sembuh, padahal penggunaan antibiotika seharusnya dilakukan sampai jangka waktu tertentu, misalnya 5 hari atau 7 hari. Antibiotik harus habis diminum walaupun sudah merasa nyaman. Penggunaan yg tidak habis akan membunuh bakteri yang sensitif saja, dan meninggalkan bakteri yang masih “kuat’. Selanjutnya bakteri yang masih hidup menjadi resisten/kebal dan berkembang biak, dan memerlukan antibiotik yang lebih kuat (dan biasanya lebih mahal) ketika mengalami infeksi berikutnya.

Bagaimana seharusnya?

stop penggunaan antibiotika berlebihan

stop penggunaan antibiotika berlebihan

Mengetahui hal ini maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menekan kejadian resistensi bakteri:
1. Dokter sebaiknya lebih berhati-hati dalam meresepkan antibiotika, jangan terlalu mudah meresepkan antibiotika untuk penyakit-penyakit yang lebih banyak disebabkan oleh virus. Hal ini yang kemudian sering ditiru oleh masyarakat, di mana ketika merasakan sakit yang diduga sama, dan karena dulu pernah mendapatkan resep antibiotika, maka masyarakat mencoba mengobati sendiri dengan antibiotika.

2. Tenaga kesehatan selain dokter seperti bidan, perawat, mantri, juga semestinya tidak mudah memberikan antibiotika kepada pasien.

3. Apoteker lebih berhati-hati memberikan/menjual antibiotika. Jangan memberikan/menjual antibiotika sembarangan tanpa resep dokter. Jangan gantungkan rezeki Anda di sini, Insya Allah ada sumber lain yang lebih bermaslahat bagi masyarakat. Jika menyiapkan resep antibiotika untuk pasien, sebaiknya berikan edukasi secukupnya mengenai cara penggunaan obatnya yang tepat, misalnya : harus habis, dll.
4. Masyarakat/pasien sebaiknya tidak mudah pula mengobati diri sendiri dengan antibiotika. Karena penyakit yang nampaknya sama, belum tentu demikian, sehingga sebaiknya mendapatkan diagnosa yang tepat dari dokter. Apotek menjual antibiotika tanpa resep karena ada permintaan pasien. Rangkaian proses ini perlu diputuskan. Jangan mudah apalagi memaksa membeli antibiotik di Apotek tanpa resep dokter. Jangan menggunakan antibiotik pada penyakit-penyakit ringan akibat virus seperti flu, batuk, pilek, diare.
5. Dokter dan apoteker sebagai sesama tenaga kesehatan perlu meningkatkan komunikasi yang lebih efektif terkait dengan penggunaan antibiotika. Apoteker lebih memahami mengenai antibiotik dan indikasinya, sementara dokter juga terbuka untuk diingatkan jika meresepkan antibiotika secara kurang rasional.

Demikian, semoga bermanfaat….