Metro Pagi hari Minggu : story behind the scene…

16 05 2010

Dear kawan,

Talk show Metro Pagi 16 Mei 2010 dari layar kaca

Ada yang tidak biasa pagi ini, Minggu 16 Mei 2010 (maaf deh kalau agak lebay….hehe..), yaitu aku nongol di Metro TV, di acara Metro Pagi, untuk sebuah talk show yang membahas tentang Bahaya alkohol dan miras oplosan. Lha, ketemu berapa perkara ya, kok tiba-tiba aku bisa nongol di TV nasional? Hm…beginilah story behind the scene-nya…..

Dikontak Produser acara Metro TV

Kamis pagi, sewaktu ngecek e-mail, aku mendapat satu e-mail dari seorang yang mengaku produser Metro TV, meminta kesediaanku menjadi narasumber pada acara Metro Pagi, live, untuk topik Bahaya Miras Oplosan. Agak-agak surprised plus ge-er juga,… tapi juga ada yang lucu, karena lagi-lagi aku dipanggil “Dok”, dikira dokter. Beliau (si pengirim e-mail) minta nomer HP-ku, dan beliau pun mencantumkan nomor HPnya. Pagi itu aku SMS beliau, dan mengatakan bahwa aku ini bukan dokter, tapi apoteker, dan posisiku di Yogya, karena aku dosen Fakultas Farmasi UGM, apa tetap mau diminta jadi narasumber? Siangnya beliau menelpon, tetap meminta kesediaanku menjadi narasumber. Jadi, ceritanya beliau searching di internet untuk mencari narasumber yang sesuai dengan topik. Sebelum itu katanya beliau sudah menghubungi beberapa orang calon, tapi belum ada yang cocok. Dan akhirnya, terdamparlah beliau ke sebuah informasi tentang Buku Bahaya Alkohol yang pernah aku tulis bersama Mbak Hartati Nurwijaya. Setelah menelisik lagi, ketemulah alamat e-mailku, sehingga kemudian beliau mengontak aku. Wah,…sempet agak menimbang-nimbang juga jika harus pergi ke Jakarta. Mbak Hartati jelas ngga mungkin, karena beliau berdomisili di Yunani.

Tapi setelah aku pikir lagi, kapan lagi ada kesempatan baik seperti ini untuk berbagi secara lebih luas. Dan yang penting lagi adalah pengalaman baru yang menarik, tampil di Metro TV sebagai narasumber, aduuh…keren kan? (“lebay mode” on selama dua hari dua malam). Siapa ngga kenal Metro TV, dengan image-nya yang mencerdaskan pemirsanya. Dan bagiku ini adalah sebuah apresiasi terhadap karyaku dan aku sendiri. Dan kalau untuk seperti ini aku ngga itungan lagi deh…. ngga mikir dapat honor berapa, atau bahkan tombok berapa. Mungkin inilah yang disebut kepuasan batin, yang tak ternilai dengan uang. Kalo menurut teori Maslow, ini merupakan kebutuhan dasar kelima manusia yaitu untuk aktualisasi diri (kalii…hehehe).  Dan aku pelajari selama ini, bahwa  ketika kita berbagi, ternyata tidak ada yang berkurang, malah bertambah. Paling tidak bertambah pengalaman, tambah teman, tambah ilmu. Akhirnya aku putuskan untuk bisa datang ke Jakarta supaya bisa langsung hadir di studio Metro TV. Alhamdulillah, dapat tiket pesawat lumayan murah, sehingga tidak tombok terlalu banyak hehe…. Kadang kita perlu keluar modal sedikit, untuk mendapatkan hasil yang lebih besar. Karena acaranya pagi sekali, maka kuputuskan untuk berangkat ke Jakarta Jumat sore, menginap semalam di rumah adik, dan pulang esok harinya.

Aku cuma berpikir bahwa ternyata ada gunanya juga punya blog ini, atau menulis buku, sehingga orang bisa mengenal kita, dan mungkin akan mengundang kita dalam kegiatan tertentu yang akan memperkaya pengalaman kita. Dan pengalaman itu mahal harganya…. tidak setiap orang bisa memiliki kekayaan pengalaman, apalagi pengalaman yang unik, menarik, sekaligus bermanfaat.

Teroris mengalahkan segalanya..

Jumat sore aku berangkat ke Jakarta dilepas dengan tangisan si kecil yang kepengin ikut ibu. Hm.. sedikit dilematis, tapi akhirnya ia baik-baik saja walau masih menangis. Matahari sudah bersembunyi di peraduannya ketika burung besi yang membawaku dari Jogja mendarat mulus di Bandara Soekarno Hatta. And…poor me,…. Jakarta menyambut dengan kemacetan luar biasa di berbagai sektor malam kemarin. Butuh waktu 3 jam dari Bandara ke rumah adikku di kawasan Jati Asih Bekasi. Ya sudah, kunikmati saja sebagai bagian dari perjuangan (ceilee…), sambil kusyukuri hidupku di Yogya yang masih jauh lebih nyaman untuk urusan perjalanan. Malam itu sesampai di rumah aku langsung mandi, sholat, lalu tidur, karena besok pagi pasti harus berangkat pagi sekali, karena acara direncanakan live jam 6-7.

Benar saja, aku baru saja membuka mata ketika driver Metro TV mengirimkan pesan singkat ke HPku, bahwa dia sudah menunggu di depan rumah. Weekk .. itu baru (apa sudah?) jam 4 pagi !!  Tanpa mandi (jangan bilang-bilang penonton Metro TV ya.. hehe), aku segera bersiap-siap dan berdandan secukupnya, lalu berangkat jam 04.30. Jalanan masih sepi, apalagi kebetulan hari libur, sehingga kami sampai ke Studio Metro TV di bilangan Kedoya pada pukul 05.10an. Setelah menyempatkan sholat shubuh di Mesjid Metro TV, aku menuju lobby yang menjadi tempat shooting. Kayaknya memang pepatah berikut ini sangat pas…. “Manusia berencana, Tuhan yang menentukan”… Setelah sampai di sana, ketemu Mas Arnaz si Produsernya, aku diberitahu bahwa acara pagi ini ngga jadi ditayangkan live, karena ada berita yang dianggap lebih hot untuk diangkat, yaitu mengenai identitas teroris yang ditangkap beberapa hari sebelumnya. Yah, udahlah…..kalau sama teroris mah, aku ngalah aja….  Kecewa sih enggak, tapi mungkin ada temen-teman yang sudah terlanjur menunggu acaranya jadi kecele…. Maaf yaa. Buatku sendiri sih aku anggap sebagai blessing in disguise,…. dengan tidak tampil live, beban sedikit berkurang…. lebih santai dan tidak tegang. Karena tampil live biasanya membuka kesempatan penelpon untuk bertanya, dan seringkali sulit diprediksikan pertanyaannya. Kalau ngga bisa jawab kan agak malu juga hehehe… Dan yang lebih penting lagi, aku jadi bisa nonton sendiri acaranya di TV…!!

Shooting bersama celebrities

Host acara kali ini dua wanita cantik, yaitu Mbak Prita Laura dan Aviani Malik. Yang biasanya cuma bisa dilihat di layar kaca, kali ini bisa ketemu langsung, dari dekat lagi. Oya, ada yang lucu deh…. kata Mas Arnaz, waktu mau ketemu dengan narasumber, dia cari-cari seorang yang sudah keliatan berumur gitu. Dan dia agak kaget juga karena yang ditemui ternyata masih muda dan ngga keliatan kayak profesor blas hehe… Bahkan dokter Syailendra yang menjadi sesama narasumber juga berkomentar begitu. Dengan tas ransel di punggung, aku lebih mirip mahasiswa S2 katanya …..

Sebelum shooting, Mbak Aviani dan kami narasumber sempat berbincang-bincang tentang hal-hal yang mau ditalk-showkan nanti, sambil kami dimake-up. Tak lama, Mbak Prita menyusul dalam perbincangan, sampai kemudian sampailah pada saat shooting. Alhamdulillah, shooting berjalan lancar, dan aku ngga tegang sama sekali. Sekali lagi, topik kali ini adalah mengenai bahaya miras oplosan. Aku sudah sering membahas ini di beberapa kesempatan (di radio atau di Jogja TV, dan juga di blog ini), jadi ngga begitu masalah. Aku sih sebenernya merasa ngga begitu optimal, tapi yah…itulah yang terbaik yang bisa aku lakukan.

People power

Bagaimanapun, masalah miras oplosan memang sudah makin memiriskan. Sulitnya, peraturan yang ada masih sulit menjamah dan mencegah penjualan miras oplosan, karena mereka bisa memperoleh bahan pembuat miras oplosan dengan mudah dan bebas. Metanol atau spiritus bisa dibeli dengan bebas di warung atau toko. Alkohol (etanol) juga legal dibeli di apotek dalam bentuk larutan antiseptik. Obat-obat lain yang sering dicampurkan juga bisa dibeli bebas tanpa resep di toko obat. Jadi sulit untuk menjerat mereka di awal proses aktivitas pembuatan miras oplosan. Barulah setelah ada korban yang berjatuhan, aparat yang berwenang baru turun tangan, dan itu seringkali sudah sangat terlambat. Dan itu terus terjadi berulang kali, bergiliran di berbagai tempat di belahan bumi Indonesia kita tercinta ini. Mengapa?

Harus kita akui bahwa minum minuman beralkohol (dalam hal ini etanol, bukan miras oplosan) di beberapa daerah merupakan bagian dari kebudayaan setempat, bahkan masuk dalam ritual upacara adat atau keagamaan tertentu. Dengan label sebagai minuman tradisional, seperti ciu, tuak, brem, masyarakat kita merasa sah-sah saja membuat dan mengkonsumsinya. Itulah mengapa aktivitas konsumsi alkohol ini sulit diberantas. Okelah, kalau sekedar itu bisa dibilang masih “aman”. Tapi sekarang yang terjadi adalah bahwa tujuan minum bukan lagi sekedar sebagai bagian dari tatakrama budaya, tapi memang untuk tujuan mabuk, melarikan diri dari masalah, untuk bersenang-senang, dll, sehingga muncullah miras-miras oplosan yang ditujukan untuk meningkatkan efek memabukkannya itu (maunya,…. tapi yang lebih sering adalah efek mematikan…). Harus diakui, masyarakat kita sangat kreatif, sehingga kalau dilihat, komposisi miras oplosan sangat variatif dan suka-suka yang bikin….. ada yang dicampur obat nyamuk, minyak tiner, minuman energi, sampe duren, coklat, dll. Suatu kreativitas yang membahayakan….. Lalu bagaimana?

Kesadaran untuk menghindari konsumsi minuman keras harus datang dari diri sendiri, dengan melihat bahaya-bahaya yang bisa diakibatkan. Apapun peraturan Pemerintah, apalagi peraturan sekarang yang masih terbatas pada regulasi peredaran minuman keras, tidak akan bisa menghentikan aksi-aksi pembuatan miras oplosan ini selama masih ada konsumen yang membutuhkannya. Dalam konteks yang lebih luas, kesadaran itu harus datang secara massal dari masyarakat dan itu merupakan gerakan moral bersama, suatu people power, yang dengan sadar meminta Pemerintah mengatur lebih tegas tentang urusan miras ini, karena tumbalnya adalah generasi muda. Perlu kerjasama yang lebih baik dari berbagai komponen negeri ini, dari Dinas Kesehatan, aparat Kepolisian, LSM-LSM, Lembaga pendidikan dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi, mensosialisasikan gerakan “No way for Miras”. Begitulah kira-kira….

Demikian kawan, pengalamanku hari ini. Hari ini account Face Book-ku penuh dengan komentar terkait dengan tayangan Metro tadi pagi, yang rata-rata membesarkan hati. Ada pula sih yang menyesalkan kenapa gelar Apotekernya ngga tertulis. Wah, itu diluar kekuasaanku, dan mungkin juga ada sedikit kekurangan informasi. Terimakasih kawan-kawan atas doa dan supportnya. Support dan apresiasi kawan-kawan ini tak ternilai harganya. Kayaknya tidak cukup sampai di sini, di depan masih banyak tantangan menanti….. Bismillah…


Aksi

Information

10 responses

15 06 2010
meta

bu,,salut sama ibu sdh cantik,,hebat lagi,,bu mau tanya dimana situs atau buku yg lengkap ttg interaksi obat dan cara pengatasannya?untuk PELAYANAN INFORMASI OBAT DI RUMAHSAKIT BU,,mksh sblmnya sukses selalu buat ibu

Jawab:
banyak kalau mau search di internet, salah satunya di http://www.drugs.com/drug_interactions.html
Kalau buku, bisa pake bukunya Hansten atau Stockley. Sukses selalu juga buat Anda

26 05 2010
kedaiobat

Salam,

Persiapan membuka apotek baru

Bu, mau tukeran link dgn Blog farmasi saya??

18 05 2010
Yatno

Sebagai mantan temen (eh ada gak mantan temen?) ikut senang punya temen bisa “muat” masuk TV, ditunggu “kejutan” berikutnya.
Prof yang disandang bisa mengubah “image” tuwir yang ada, semoga anggapan pikun juga bisa anda hilangkan ya he.he.he… salut ya.

Suwun-Ytn

Jawab:
Lhah wong aku sendiri juga terkejut kok, kang Yatno…. kok ya bisa “muat” masuk TV…hehe

17 05 2010
Ida Ayu Indah

Selamat Bu Prof…
Sebagai mantan murid didik ibu saya sangaaaaaaaaat bangga! Maju terus Bu Zulies…

17 05 2010
rosa ika wijayanti

aslmkm…
salut banget bu…dan bangga banget bs punya dosen seperti ibu…emang benar kalo ibu jauh dari bayangan yang namanya profesor, yg selama ini identik dengan “tua” hehe…ibu bisa menghapus image “tua” dari seorang profesor…dah gitu ibu cantik dan menarik….salut….
salam hormat
waslmkm….

Jawab:
makasih, Mbak Rosa… jadi agak geer nie..

16 05 2010
Deni

Selamat ya Prof. Walaupun karirnya terus menjulang. Prof tetap bersahaja dan rendah hati. Salut.

Salam

16 05 2010
ejajufri

Selamat Bu, “keren” bisa masuk TV (maksudnya, pengalamannya).

Saya heran dengan yg namanya miras oplosan. Miras aslinya aja udah bahaya, kok malah tambah bahaya dengan dioplos..

16 05 2010
yusmanita

Prof..congrats y..bangga bgt dg keberadaan prof di metro tv..semoga lebih menasional lagi..

Mau share sedikit bu tentang miras (sejauh pengetahuan dan pengalaman saya..) karena beberapa kali saya bersinggungan dengan hal ini sehubungan dengan pekerjaan saya di Balai POM Pontianak

peraturan tentang miras memang sangat njelimet..karena tentunya ada “konflik kepentingan” berbagai macam instansi..peraturan peredarannya ada di PEMDA dan INDAG..cuma pengawasannya ada di berbagai instansi.khusus tentang produk yang legal di balai POM, lalu bagaimana yg illegal ? sampe sekarang belum bisa tertangani secara teintegrasi..

saya, di kalbar..setiap th selalu ada korban meninggal akibat miras oplosan pada pesta adat n ditangani oleh polisi biasanya..cuma penyelesaian akhirnya hanya sampai “perdamaian”

thq..

yusmanita

16 05 2010
wiwik

Selamat Ibu..!! Iya nich miris banget liat n baca berita ttg miras akhir-akhir ini. Salah satunya lewat karya & sumbangsih njenengan semoga bisa banyak membantu. Afan, Hani n Dhika pasti bangga punya Ibu seperti njenengan. Sekali lagi selamat..!!

Jawab:
makasih, Mbak

16 05 2010
yogadhita

ass.
Iya bu,keren,tapi bahasanya dibuat seawam mungkin jadinya kekerenannya kurang,biasanya kan penonton expect professor untuk berbicara dengan bahasa planet lain…overall komunikatif dan informatif
Wass.

Ps.iya nih,apotekernya ga dicantumin metro hiks hiks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: