My note(4): My tanoshikata weekend…

29 11 2009

Dear kawan,

Alhamdulillah, tak lepas rasa syukur dan terimakasihku pada Sang Maha Sutradara yang masih memberiku kesempatan menginjakkan kaki di bumiNya yang berada di 33 derajat Lintang Utara dan 132 derajat Bujur Timur alias di Matsuyama dan menikmati keindahannya. Setelah hari Jumat kemarin sudah berjuang “habis-habisan” haha….. sekarang waktunya untuk sedikit memanjakan diri, memberi “reward” pada diri sendiri dengan jalan-jalan…..

Begitu lah, kawan…..  hari Sabtu dan Minggu ini aku melepaskan diri dari segala urusan ilmiah….. dan mencoba menikmati week-end dengan acara khusus. Kebetulan teman Jepangku, Kyoko, mengundangku untuk berkunjung ke kotanya di Imabari, yang berjarak sekitar 60 km dari Matsuyama.  Katanya ada tempat menarik untuk dikunjungi, namanya Towel Museum…. Museum Handuk!  Walah, handuk aja dibikinin museum ……

Visiting Towel Museum

Sabtu pagi yang lumayan cerah dan hangat. Aku bersiap menuju Imabari menggunakan densha (kereta). Pertama, aku harus pergi ke Matsuyama-shi Eki dulu (stasiun kota), lalu nanti naik trem ke Matsuyama JR station (stasiun yang lebih besar utk perjalanan antar kota), lalu baru ambil kereta menuju Imabari. Sebetulnya Kyoko sudah memberi tahuku, bahwa kereta tokkyu yang cepat menuju Imabari ada pada pukul 09:16. Dan sebenarnya juga, nyaman sekali bepergian dengan kendaraan umum di sini karena semua serba tepat waktu, sehingga kita bisa menghitung kapan harus berangkat dari rumah. Tapi… yah, begitulah, aku salah menghitung waktunya…. aku lupa bahwa dari eki dekat kampus ke Matsuyama-shi butuh 25 menit (aku tadi menghitungnya 15 menit). Belum lagi perjalanan dari Shi-eki ke JR eki…  Hm, jadilah aku ketinggalan kereta tokkyu yang cepat. Tapi untungnya masih ada kereta futsu (jenis yang agak lambat) padapukul 09:28. Akhirnya aku naik kereta futsu ke Imabari dengan lama perjalanan tepat 70 menit.

Ini adalah kali pertama aku pergi sendiri ke Imabari, naik kereta pula. Dulu sekali waktu masih di sini, aku pernah ke Imabari tetapi bersama rombongan menggunakan bus. Perjalanan ke Imabari cukup menarik. Kebetulan sebagian dari jalan kereta ada yang melewati pinggir laut, jadi indah sekali. Di samping kiri kanan ada pula perkebunan jeruk dengan jeruknya yang bergelantungan berwarna oranye.  Jeruk merupakan produk andalan daerah Ehime. Sampai di Imabari-eki, Kyoko sudah menanti, dan kami pun segera naik bus ke Towel Museum di Asakura, kira-kira 30 menit perjalanan, dengan harga tiket 500 yen untuk round-trip ticket.

wajah sendu (seneng duit) di antara "autumn leaves"

Sebelum masuk Towel Museum, kami sengaja menikmati taman dulu yang ada di luar Museum. Subhannallah….. tamannya indah sekali dalam suasana musim gugur. Pohon dengan daun-daun kemerahan yang hanya ada di gambar-gambar saja (karena di Indonesia ngga ada) ada di sini. Hm…. kami tidak menyia-nyiakan waktu untuk berfoto-foto di taman ini. Untung deh, datang berdua…. jadi kami bisa bergantian memotret, kadang juga minta orang lain untuk memotret kami berdua. Suasana musim gugur memang agak sendu… tapi ada keindahannya tersendiri. Ada pula bunga-bunga khusus yang memang mekar pada musim gugur ini… Aku bersyukur bisa menikmatinya. Taman ini pasti juga akan berubah nuansanya saat musim semi, karena akan banyak bunga-bunga musim semi yang bermekaran….. dan suasananya bakal romantis! hehe…

My lunch at Imabari... dengan aneka penghuni laut, sampai sak rumput-rumputnya..

Setelah puas berjalan di taman dan berfoto-foto, kami pun makan siang di restoran di lingkungan Museum. Jangan tanya harga deh…. yang jelas cukup mahal untuk ukuran kantongku. Di Yogya bisa buat makan 20 kali di kantin Fak Farmasi UGM dengan status sama kenyangnya hehe… Dan just for your info, ya….. di Jepang gak model deh traktir menraktir, kecuali ada situasi khusus, jadi walaupun makan bersama, kami bayar sendiri-sendiri.  Tapi ngga papa sih….. di sini nggak boleh terlalu menghitung-hitung hehe…. nanti nggak bakalan dapat pengalaman apa-apa. Kyoko memilih satu set makanan China, aku sendiri pilih makanan yang nggak terlihat  terlalu asing .. yaitu nasi campur sea food plus sup dan salada rumput laut yang diberi potongan gurita. Enaak…, oishii,…aku habis satu porsi.

mirip kan posenya?... itu handuk terpanjang di dunia..

Setelah makan siang, kami masuk museum handuk. Menurut Kyoko, Imabari terkenal dengan produk handuknya. Semula aku pikir handuk aja kok dijadiin museum…. tapi ternyata memang bagus sekali. Aku melihat berbagai produk yang berasal dari kapas (bahan pembuat handuk) dalam berbagai bentuk. Bahkan ada boneka-boneka binatang, baik binatang laut maupun darat, yang terbuat dari handuk/kapas yang ditata seperti di kebun binatang. Ada juga bentuk-bentuk raksasa dari ice cream, burger, popcorn, dll yang terbuat dari cotton ! Yang menarik lagi, ada handuk terpanjang di dunia yang dibentangkan di dinding sebagai hiasan dinding, dengan corak yang sangat menarik. Di sini masih boleh berfoto, jadi aku tidak sia-siakan kesempatan untuk berpose-pose di situ. Pokoke narsis banget deh…. hehe. Selain itu juga ditampilkan aneka lukisan cantik buatan pelukis terkenal Jepang dalam bentuk handuk…. Dan harganya…. jangan tanya deeh…!!  Sayangnya  isi dalam museum tidak boleh diambil gambarnya. Yah, pokoknya puas sih… bisa menyaksikan sebuah keindahan seni yang bermutu tinggi….!

di depan Shimanami Kaido...

Kami pulang pukul 14.40 dari sini menggunakan bus menuju Imabari-eki. Pengalaman naik bus menuju eki tidak kalah menariknya, karena bus ternyata mengambil route berbeda dari saat berangkat kesini, yaitu melewati suatu taman di dekat Shimanami Kaido, sebuah jembatan panjaaaang yang menghubungkan antara pulau Shikoku dan Honshu. Wah…. ini pun sebuah karya besar anak manusia. Aku ingat dulu ketika jembatan ini pertama kali dibuka tahun 2000, kebetulan kami masih di sini, dan mengikuti tour menyusuri Shimanami Kaido. Rasanya waktu itu ikut bangga gitu lho, melihat jembatan yang begitu megah di sini….!  Hm…sepotong nostalgia muncul lagi..  Arigatou, pak Supir, telah memberi aku kesempatan berfoto sebentar di depan jembatan…. hehe..

Aku pulang ke Matsuyama menggunakan kereta lagi pada jam 15:17. Wah, capek rasanya, tapi senang! Aku sempatkan sholat di kereta, kebetulan penumpang tidak begitu ramai. Sampai di Matsuyama sudah jam 16.30an, sudah mulai gelap. Maghrib di sini jatuh pada jam 17.05 sore. Sesampai shi-eki, aku sempatkan jalan dulu ke Gintengai, sebuah shopping arcade dekat eki yang dulu biasa kami kunjungi kalau senggang.  Wah, sepotong nostalgia kembali hadir…. ! Aku jalan sendiri menyusuri Gintengai sambil mencari-cari barangkali ada yang menarik untuk dibeli.. Tidak terlalu lama karena sudah capek, aku balik ke hotel naik densha dari shi-eki. Ada satu yang menarik ketika aku pulang naik densha melewati Kume-eki, ternyata Bapak penjaga stasiun yang dulu itu masih ada!! Kemaren ternyata kebetulan beliau sedang bergantian dengan yang lain.. Oh, kalau gitu, suatu saat aku mesti ke Kume-eki lagi deh menemui bapak tadi. Malamnya aku tidur nyenyak.

Ehime Kokusai Matsuri

di depan "Waroeng Indonesia"

Kokusai Matsuri artinya Festival Internasional. Yah, alhamdulillah…. ada lagi yang bisa aku saksikan di sini. Rasanya aku harus selalu bersyukur dengan keberuntungan ini…. walaupun tidak direncanakan, ada saja sesuatu yang indah yang kudapat. Jadi ingat waktu pergi ke Melbourne bulan lalu. Padahal juga cuma berkunjung sebentar, tapi ndilalah ya pas ada Festival Indonesia di Melbourne, sehingga bisa menyaksikan sesuatu yang lain dari biasa. Kali ini juga demikian, pas datang kesini,  eh.. pas ada Ehime Internasional Festival. Internasional Festival ini seperti biasanya diselenggarakan di halaman Ehime Perfectural International Center (EPIC), yang menampilkan performance dari berbagai negara yang masyarakatnya ada di sini, termasuk Indonesia. Ini juga sebuah mozaik nostalgia lagi, karena ketika kami dulu di sini 10-an tahun yang lalu juga selalu berpartisipasi dalam festival serupa. Aku pernah masak nasi goreng dan bikin lumpia, untuk dijual di stand Indonesia saat festival. Kalau sekarang sih aku sebagai tamu saja…. dan sekarang banyak temen-temen dari Indonesia yang ada di Matsuyama yang ikut meramaikan dengan aneka makanan dan penampilan.

Cuaca hari ini cukup bagus, tapi dingin dan lumayan berangin. Mungkin sekitar 8-10 derajat celcius. Herannya, ada juga penampilan-penampilan yang memakai baju terbuka, seperti tari Hawaaian, tarian latin, dan termasuk tarian Indonesia sendiri yang memang busananya sudah paten. Masak mau nari Jawa pake mantel tebal hehe…..! Salut deh !!Festivalnya sendiri sangat ramai, dan jauh lebih banyak negara yang tampil daripada di jamanku dulu. Selain itu juga ada stand-stand orang Jepang yang menjual barang second hand. Selain orang asing, banyak juga masyarakat Jepang yang datang. Dan kayaknya sih makanan Indonesia yang dijual laris manis!! Teman-teman Indonesia menampilkan fashion show tentang baju-baju adat dari beberapa daerah, dan ada yang menari.

Bapak penjaga Kume-eki

Sepulang dari Matsuri, aku naik trem menuju shopping arcade Okkaido, another shopping arcade yang dulu sering kami kunjungi, tidak jauh dari Gintengai. Aku tidak terlalu lama juga di sini, mencari-cari sesuatu yang pengen dibeli, sayangnya  tidak menemukan. Sepanjang arcade, banyak sale, tetapi kebanyakan adalah busana musim dingin. Aneka mantel tebal, jumper, kaos panjang, sepatu boot, dll.  Yah, … mana cocok dipakai di Indonesia hehe…… Sempat juga masuk ke depato (department store) besar di dekat shi-eki yaitu Takashimaya,.. eh… malah kayak orang ilang lingak-linguk ngga tau jalan… Habis aku memang jarang kesini, dan sudah banyak berubah. Selain itu aku tidak banyak waktu karena mau mengejar densha menuju pulang ke hotel.

dengan bapak penjaga stasiun Kume yang ramah...

Perjalanan ke hotelku yang nun jauh di Shigenobu melewati Kume-eki. Aku sudah berniat, nanti kalau pas Bapak penjaga stasiun itu ada, aku mau turun sebentar menemui beliau untuk say hello, lalu aku akan ambil densha 15 menit berikutnya. Nah, benar juga…….. ternyata bapak penjaga stasiunnya sekarang ada!! Langsung deh aku turun dan menemui beliau. Beliau nampak kaget tapi jelas sekali masih ingat sama aku. Kami berbincang ala kadarnya dengan bahasa Jepangku yang sepotong-sepotong.  Wah, surprised deh… beliau nampak gembira aku kunjungi! Beliau nampak makin sepuh dengan rambutnya yang memutih semua, tapi tetap ramah seperti dulu. Aku nggak tau apakah beliau ini sudah pensiun apa belum, atau mungkin diperpanjang masa tugasnya. Tapi anehnya, walaupun aku terkesan dengan keramahannya, sampai sekarang aku nggak tau nama beliau lhooo!… dan mungkin beliau juga tidak tau namaku hehe….

Suka duka bepergian

Kawan, aku sering dapat komentar dari teman-teman atau mahasiswa,”….wah, asyik ya,… ibu jalan-jalan ke luar negeri terus….. pengen deh kayak ibu!” … Hmm,…. kayaknya begitu yaa… Kebetulan memang dalam tahun ini ndilalah aku lagi agak banyak jalan keluar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang bahkan absen sama sekali dari kunjungan ke luar negeri. Kunjungan terakhirku cuma ke Malaysia tahun 2007. Tahun ini aku empat kali jalan ke luar negeri, yaitu ke Groningen Belanda (Maret), Kelantan Malaysia (Mei), Melbourne Australia (Oktober), dan sekarang ini.  Senang nggak? Yah… masing-masing ada suka dukanya tersendiri. Ada asyiknya kalau kita pergi ke tempat yang belum pernah kunjungi, jadi bisa nambah pengalaman. Tapi untuk seperti itu, enaknya ada temannya. Kalau ilang dan sendirian, repot kan? Hehe…. Kalau pergi sendiri, lebih enak kalau kita sudah pernah kenal dengan tempat itu, seperti yang aku jalani sekarang. Tapi yang jelas senanglah, bisa break sebentar dari rutinitas dan menikmati hal lain dan baru. Dengan catatan, aku pergi ke LN bukan semata-mata untuk liburan lho….. yang pasti ada “tugas negara” deh…. yang harus diemban dengan baik dulu, jalan-jalan itu adalah bonusnya….

Dukanya?…. yah, tentu ada harga yang harus dibayar… yaitu meninggalkan keluarga di rumah, terutama anak-anak. Walaupun keliatannya ceritaku penuh kegembiraan di sini, pastilah ada saat-saat dukanya, apalagi kalau dengar kabar anak-anak ada yang sakit selama aku pergi. Seperti kemarin ini, tiga hari yang lalu Dhika anakku terkecil demam agak tinggi.. Aduh, rasanya sedih (maafkan ibu, sayang…. tidak bisa mendekap saat Dhika sakit….). Tapi alhamdulillah, sekarang sudah baik semua, tinggal ada batuk sedikit. Kalau seperti itu bisanya cuma mohon pada Allah, semoga diberi kesembuhan dan kesehatan selama aku pergi. Yah, itulah salah satu dukanya kalau harus bepergian meninggalkan rumah. Yah, semoga kita selalu diberi perlindungan, kelancaran dan kemudahan di manapun berada. Amien.

Penutup

Demikian cerita week-end-ku, kawan. Oya,… tanoshikata itu artinya menyenangkan. Alhamdulillah, masih bisa menikmati semuanya. Besok start working lagi deh….. sampai ketemu next posting.





My note(3): Hari H alias D day….

27 11 2009

Dear kawan,

Jadual presentasiku bersama 2 profesor baru Jepang di buku panduan

Hari ini adalah Hari H alias D day untuk acara Pharmacological Meeting, di mana aku diundang oleh Sensei untuk jadi pembicara, to introduce my research work. Hm… sudah aku tulis di My note (1),  bahwa dalam acara itu ada acara khusus untuk memperkenalkan profesor baru. Ada 3 profesor baru yang diminta memperkenalkan diri dan risetnya, 2 dari Jepang, dan yang ketiga adalah aku sendiri. Acara ini kayaknya baru pertama kali diadakan untuk kegiatan Pharmacological meeting semacam, yang merupakan inisiatif Maeyama Sensei sendiri yang kebetulan menjadi ketua panitianya. Acaranya dimulai dari jam 8.45 sampai jam 18.20an, tetapi jadwal bicaraku adalah jam 17.50, selama 25 menit. Jadi aku boleh datang siang-siangan kata Sensei, ngga harus mengikuti dari awal…..  Mending gitu sih, soalnya semuanya speaking Japanese, aku juga ngga mudeng….. ! Wah, bicara cuma 25 menit, heboh persiapannya berhari-hari hehe…….

Napak tilas ke Kume dan sekitarnya

Nah, karena itulah aku memutuskan untuk datang habis dhuhur saja, paginya mau bersantai dulu supaya ngga terlalu tegang. Well, kawan……hari Jumat ini cuaca cerah sekali di Shigenobu dan sekitarnya. Matahari bersinar hangat, langit biru bersih. Di tanah air teman-teman dan sanak keluarga sedang merayakan Hari Raya Idul Adha. Di Matsuyama sebenarnya juga ada sholat Ied yang dilaksanakan di Nogakubu (Fakultas Pertanian Ehime University), di mana di sana banyak mahasiswa asing yang muslim dan lokasinya juga di kota. Tapi hari ini dengan sedih aku tidak ikut sholat Ied karena tempatnya cukup jauh dari sini (Kampus Ehime University School of Medicine ada di pinggiran kota) dan agak ribet transportasinya.

Sekitar jam 10-an aku putuskan untuk refreshing sejenak dengan napak tilas ke stasiun Kume menggunakan densha (kereta). Itu adalah perjalanan yang dulu setiap hari aku lalui dalam waktu hampir 3 tahun. Ongkos kereta masih sama, 350 yen dari Kume ke Igakubu (kampus). Bicara tentang ongkos transportasi, ongkos di Matsuyama ini termasuk tinggi. Jauh lebih mahal dibandingkan Tokyo. Lho, kok bisa? Iya, … karena jumlah penduduk Matsuyama jauh lebih sedikit ketimbang Tokyo, sehingga biaya operasional yang sama dibagi dengan jumlah penduduk lebih sedikit, jatuhnya lebih mahal. Dari ujung ke ujung Matsuyama yang tidak terlalu jauh dengan densha bisa mencapai 720 yen, padahal di Tokyo dulu aku pernah muter-muter dengan densha jauh sekali cuma 180 yen. Sepanjang perjalanan kulihat banyak gedung-gedung baru bermunculan, walau masih ada yang sama dengan yang dulu.

Stasiun kecil Kume dengan densha yg biasa kunaiki

Enaknya, densha di sini selalu tepat waktu. Tepat 15 menit kemudian, aku sampai di stasiun Kume. Aku berharap ketemu bapak penjaga Setasiun yang dulu, ternyata sudah ganti. Iyalah, terakhir aku ketemu beliau 4 tahun yang lalu. Itupun rambutnya sudah putih. Suasana stasiun Kume masih seperti dulu, di dekatnya ada toko ‘second hand” yang cukup besar. Di Jepang, orang ngga malu beli barang second hand. Barangnya masih bagus-bagus. Mereka lebih menggunakan prinsip ekonomi dan ekologi. Barang yang sudah tidak ingin dipakai lagi sebaiknya “dirotasikan” pada orang lain, dengan cara dijual ke toko second hand, sehingga tidak menuh-menuhin bumi hehe….  eco-friendly. Khusus tentang urusan pembuangan sampah, aku pernah menulis dalam sebuah mozaik hidupku, bisa di-klik di sini.

Lalu aku mencoba berkeliling disekitar Kume-eki. Ada banyak perubahan. Toko 100-yen yang dulu pernah ada di dekat eki, sekarang tidak ada lagi. Apotek yang dulu ada di sebelah supa, sekarang jadi toko handuk. Lalu aku sengaja napak tilas ke supa Nitto, supa langgananku dulu untuk belanja berbagai keperluan harian. Wah, belum banyak berubah juga…. bahkan penempatan ikan dan seafood, sayuran, dll, masih sama seperti dulu. Setelah berbelanja sedikit termasuk bento untuk makan siang, aku pun kembali ke stasiun dan balik lagi ke hotel  dengan densha.

Pharmacological meeting

Inilah saatnya…  Aku berangkat dari hotel siang setelah makan siang dan sholat. Aku sengaja berangkat setelah sholat dhuhur karena sudah kebayang pasti nanti akan sulit cari tempat sholat. Mana ada mushola di gedung-gedung pertemuan di Jepang hehe….. Kali ini aku sengaja naik basu (bus), kebetulan 25 meter di dekat hotel ada basu noriba (tempat pemberhentian bus). Naik bus di sini juga nyaman, waktunya hampir selalu tepat. Tidak perlu ada kondektur, semua sudah diset otomatis mengenai harganya, dihitung dari mana naiknya dan di mana turunnya. Jadi ketika kita naik basu, kita akan mengambil kertas yang menunjukkan nomer kita. Di dalam bus di atas sopir, ada papan elektronik yang menunjukkan harga tiket untuk masing-masing nomer. Kita akan membayar sesuai dengan harga yang terpampang di papan.

Sampailah aku di gedung pertemuannya, yang tidak jauh dari stasiun kota Matsuyama-shi eki. Seminar sudah berjalan, dan aku pun bergabung. Wah…. presentasinya keren-keren. Walaupun aku ngga ngerti bahasanya, tapi aku bisa melihat isi presentasi dari gambar-gambar yang terlihat dalam slide. Wow,…. semuanya sudah ke level molekuler semua !!  Jadi agak ciut nih hehe……. Banyak hal baru dan advanced yang ditampilkan, sayangnya aku nggak begitu paham secara detail. Ada satu yang menarik perhatianku yaitu tentang pengaruh konsumsi alkohol terhadap signaling reseptor insulin. Dipaparkan dalam presentasi bahwa sel hepar yang diinkubasi dalam alkohol ternyata mengalami gangguan dalam signaling insulin, sehingga fungsi insulin terganggu. Insulin adalah hormon yang berperan dalam mengatur kadar gula darah. Seseorang yang mengalami kekurangan insulin atau fungsi insulinnya terganggu akan mengalami kenaikan kadar gula darah, menjadi penyakit diabetes. Dan setelah aku pelajari lagi pada beberapa jurnal, memang disebutkan bahwa pemakaian alkohol secara kronis, apalagi dengan dosis besar, akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit diabetes. Ada pula yang mempresentasikan tentang berkurangnya volume otak pada peminum alkohol kronis, dibandingkan yang bukan peminum. Wah, … berarti nggak salah deh aku nulis buku tentang Bahaya Alkohol bersama mbak Hartati hehe…….  Tapi herannya, walaupun mereka meneliti tentang hal itu, orang Jepang tetap saja suka minum alkohol…. terbukti nanti ketika banquet dinner malamnya, minuman yang tersedia dan untuk “kampai” adalah Asahi Beer…. !!

Hm… saat yang menegangkanku tiba, yaitu acara Lecture by 3 new professors.  Aku kebagian giliran paling belakang. Profesor pertama, Prof. Tsutsui Masato dari Univ. Ryuku, Okinawa,  memaparkan tentang penelitiannya yang banyak terkait dengan sistem NOS (nitric oxide synthase). Wah, nggak pati dhong aku…… dan agak keder juga ketika beliau menyampaikan berbagai publikasi internasionalnya ketika menyampaikan presentasinya. Semua yang disampaikan sudah uda publikasinya. Professor kedua, Prof Yamazaki Jyun,  lebih low profile… beliau professor dari Fakultas Kedokteran Gigi Fukuoka University, … memaparkan tentang peranan kanal Chlorida pada kelenjar saliva. Penelitiannya juga advanced banget, cuma ngga terlalu banyak menunjukkan publikasinya… hehe… Jadi aku merasa ada temennya.

Penampilan ala kadarnya..

Yang paling parah adalah profesor ketiga, yaitu aku sendiri. Penelitiannya kuno dan hanya menggunakan metoda-metode farmakologi klasik, seperti analgesik dan anti inflamasi, paling banter ada tambahan pengamatan histologi untuk melihat penipisan kartilage dengan suatu metode staining tertentu, menggunakan kit yang cukup mahal untuk ukuran kantong peneliti Indonesia untuk menentukan rasio penghambatan COX1/COX2 senyawa uji,  dan mengukur kadar cytokine jaringan dengan ELISA. Uwis, pol !!  Aku sampaikan bahwa for future research akan dilakukan penelusuran mekanisme molekuler dari senyawa uji. Apakah dianggap bagus atau tidak, aku tidak tau….. mau gimana lagi. Yah….. apapun itu adalah pencapaian yang bisa kita peroleh dengan keterbatasan dana dan fasilitas yang ada. Aku sendiri tentu ada semangat untuk terus meningkatkan advancement penelitian, dengan terus berupaya apply berbagai proposal  untuk bisa mengumpulkan dana riset. Juga memperluas networking di luar negeri sehingga bisa bekerja sama yang saling menguntungkan. Insya Allah.

Penutup

Acara Pharmacological meeting ditutup dengan banquet dinner. Sayangnya kameraku pas habis batere-nya, sehingga ngga bisa berfoto-foto lagi. Hidangannya Jepang banget, antara lain sashimi, sushi, dan aneka jenis lainnya. Kesempatan deh… menikmati sashimi…. enak juga makan ikan mentah di sini,  hehe…..

Begitulah ceritaku hari ini. Alhamdulillah, tugas utama sudah selesai… sekarang mau santai dulu ah.., menikmati week-end. Besok ada teman Jepang mengajak jalan ke Imabari. Minggu depan siap dengan kegiatan lain yang mudah-mudahan juga bermanfaat.





My Note(2): Nostalgia on Japan life-style….

26 11 2009

Dear kawan,

Maaf, aku baru menulis lagi sejak catatan perjalanan pertamaku. Yah, …habis belum banyak yang bisa diceritakan. Empat hari pertama keberadaanku di Matsuyama ini lebih banyak diwarnai suasana nostalgia akan kehidupan di Jepang dulu walaupun belum sempat mengulang seluruhnya. Aku coba tuliskan sedikit pengalamanku beberapa hari ini, walaupun tidak ada yang terlalu istimewa…..

“Welcome party”

Menu lunch di rumah Maeyama Sensei

Hari Senin kemarin ternyata merupakan hari libur nasional di Jepang.  Kata Sensei hari itu libur Thanksgiving…. kayak model  Amerika saja. O,ya, … hari Senin itu Maeyama Sensei mengundangku ke rumahnya untuk semacam “welcome party”….  Ketika hari Minggunya mengantar ke hotel, Sensei berpesan supaya aku siap sekitar jam 11.30an, dan Sensei akan menjemputku di lab sekitar jam 11.30an. Jadilah, Senin siang aku dijemput Sensei untuk mengunjungi rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju rumah Sensei  di daerah Yunoyama,  kami melewati beberapa tempat yang sangat kuakrabi dulu, termasuk lewat di depan apartemen tempat tinggal kami dulu. Wah, belum banyak berubah!.. Jalanan yang tidak terlalu lebar dan bersih dengan lalu lintas yang tertib, rawa/kolam penampungan air di pinggir jalan yang dulu sering kulewati, pom bensin yang harganya -segitu-segitu terus dari dulu hehe…. (ngga kaya di Indonesia), dll.  Yang sedikit beda adalah Iyotetsu Kenko Rando yang sekarang berubah jadi sebuah kombini (convenient store). Sesampai di rumah Sensei, kami disambut istrinya. Bu Maeyama baik sekali, beliau tipikal wanita Jepang yang penuh pengabdian pada suami ceilee…. !! Beliau tidak bekerja, hanya mengurus rumah tangga. Beliau memasakkan beberapa masakan untuk menjamu aku, yang dia jamin… “ you can eat all…” katanya. Dia taunya aku selama di sini tidak makan daging atau ayam (aku nggak bilang bahwa  sebenernya aku sering juga makan ayam atau daging masakan sendiri, yang dagingnya aku beli di Islamic Centre yang berlabel halal). Jadi beliau masakkan aku ikan yang enak, bola-bola udang yang katanya merupakan resep dari ibunya, lalu nasi dengan campuran telur dan sayur lainnya. Ada pula semacam lumpia. Hm… oishii… (enaak)!….  Arigatou gozaimashita! Kami ber “kampai” dengan air putih hehe……., suatu ritual yang biasanya dilakukan untuk memulai acara. Orang Jepang biasanya ber-kampai dengan bir atau alcoholic drink yang lain, dengan mengacungkan gelas masing-masing ke atas sambil berteriak : “Kampaai !!” dan menyentuhkan gelas tadi ke gelas teman-teman di sebelahnya sebelum kemudian meminumnya, lalu pimpinan acara akan membuka acara secara resmi. Sayangnya aku ngga sempat foto bersama bertiga.. Lhah, gak ada yang motretin sih..! Mau minta tolong Sensei untuk motretkan, takut ngga sopan hehe…..

Change in my daily life

breakfast a la Japan

Hmm… kehidupanku akan sedikit berubah dalam beberapa hari ke depan. Selama di sini, aku diinapkan di sebuah hotel kecil di dekat kampus, namanya Shigenobu Hotel. Tempatnya cukup nyaman lah untukku….. dekat kampus, lengkap, tinggal jalan 5 menit ke lab. Yang paling penting lagi adalah ada free internet connection… Itu yang utama, karena aku tetap harus terkoneksi dengan banyak orang di tanah air, baik untuk urusan pekerjaan, pribadi,  maupun kontak dengan keluarga di rumah.  Lima tahun yang lalu ketika aku tinggal sebulan di sini, aku tinggal di guest house kampus. Aduh, agak serem kalau malam…soalnya sepi dan sendirian. Nggak ada internet lagi. Yang menarik, di hotel ini menu breakfast-nya cuma ada 2 macam, yang Japan style banget dan yang mix dengan western style. Jadi tiap pagi breakfast-nya cuma itu-itu doang berganti-ganti. Tapi lumayan sih….. daripada ngga makan hehe…..! Enak juga kok…. walau agak tidak cocok di lidah.

Yang agak repot adalah untuk makan siang dan makan malam, tentu harus cari sendiri. Hm…. tapi ini kujadikan kesempatan untuk bisa bernostalgia dengan makanan-makanan yang dulu pernah dan biasa kumakan.  Hm,… ada nori bento, sake bento, takoyaki, tempura, onigiri, ebi chou, sushi, etc.  Yang kusukai lagi adalah jus dalam kotak yang isinya campuran buah dan atau sayuran. Variasinya banyak sekali. Makanan bisa dibeli di berbagai tempat. Cuma repotnya adalah cari makanan yang halal dan enak hehe…. apalagi aku nggak bisa baca kanji. Ya udah, aku makan yang kira-kira dulu udah pasti aja kehalalannya……  kalo mleset ya,  gimana lagi. Dekat kampus ada supa (supermarket) besar namanya “Seven Star’, di sana banyak makanan siap saji, tinggal pilih. Ada juga bento-ya (toko bento) namanya “Kamadoya” yang menyediakan berbagai menu bento.

Nori bento.... harganya masih sama dengan 10 tahun yang lalu

Kesukaanku dulu adalah nori dan sake bento. Sake itu bukan sake minuman lho….. sake itu nama ikan, ikan sake, bahasa Inggrisnya ikan salmon. Sedangkan nori itu rumput laut. Lumayan murah untuk ukuran kantongku. Yang menarik adalah harganya yang tidak berubah dibandingkan 10 tahun yang lalu, bahkan lebih murah!! Dulu nori bento harganya 330 yen (termasuk pajak), sekarang malah cuma 300 yen, kayaknya  nggak pake pajak lagi. Dan makanan minuman itu harganya standar di mana-mana, temasuk di airport.

Urusan lainnya adalah cuci baju. Karena lumayan lama dan aku tentu tidak bisa bawa baju banyak-banyak, maka mesti perlu cuci baju.  Untungnya musim dingin nih, jadi baju nggak bau keringat… jadi aku ganti dua hari  sekali aja hehe… mandi juga sehari sekali saja. Aku cuci baju di sebuah self service laundry.  Mau nyuci di hotel repot cara menjemurnya karena nggak ada tempat menjemur, apalagi ada celana jeans segala, aduh… agak berat juga mencucinya. Di laundry ada beberapa mesin cuci dengan berbagai ukuran, dengan mesin pengeringnya. Cara menjalankannya pakai coin, yang berbeda2 harganya untuk masing-masing ukuran mesin. Karena cuma 6 potong, aku pilih mesin cuci terkecil. Ongkosnya 400 yen sekali jalan untuk waktu 30an menit. Lumayan…

Yang sedikit beda lagi tentang Matsuyama dengan 10-an tahun yang lalu adalah tambah banyaknya orang Indonesia yang tinggal disini. Sebagian adalah wanita Indonesia yang menikah dengan orang Jepang dan tinggal di sini. Aku sudah bertemu dengan dua diantaranya, yaitu Mbak Lilies dan Mbak Wawa (halo, mbak-mbak…..!). Wah, senang sekali bisa ketemu sama sesama orang Indonesia di sini, apalagi Mbak Lilies rumahnya dekat di daerah aku tinggal selama di sini. Sipp lah…. ngga kuatir nih kalau perlu bantuan apa-apa hehe….. ada tempat bertanya. Termasuk numpang nyuci baju haha…..!

Di meja kerjaku (sementara) di Yakurigaku

Selama tiga hari belakangan ini (Selasa sampai Kamis), aku berangkat ke lab/kampus sekitar jam 10an sampai jam 5 sore. Sebenernya sih suka-suka aku aja, mau apa, karena tidak ada kegiatan yang spesifik. Aku gunakan waktu untuk persiapan presentasi besok… dan yah… tulis-tulis yang lain, sambil chatting hehe… Pekerjaan yang kutinggal di Indonesia tentu tetap harus dipantau… Ada beberapa laporan penelitian yang harus dikumpul, dll. Jadi ceritanya kerja jarak jauh nih….

Training tentang mast cells

Hari Kamis ini, Sensei menyelenggarakan training tentang isolasi mast cells dari perut tikus (rat peritoneal mast cells) untuk student atau siapapun yang berminat, sebagai rangkaian Pharmacological Meeting besok Jumat. Jadi siang ini aku sempatkan tengok sebentar kegiatan trainingnya. Mast cells adalah suatu sel dalam tubuh yang memproduksi dan melepaskan histamin. Histamin sendiri adalah senyawa dalam tubuh yang bertanggungjawab dalam reaksi alergi, menyebabkan bentol, gatal, sesak nafas, dll. Sehingga, obat-obat alergi umumnya bekerja dengan cara menduduki reseptor histamin supaya histamin tidak bekerja. Obat-obat itu sering disebut obat anti histamin, contohnya seperti CTM, cetirizin, prometazin, loratadin, dll.

mengisolasi "rat peritoneal mast cells"..

Teknik isolasi mast cells dari perut tikus sudah pernah aku kuasai 10 tahun yang lalu, jadi yang kuikuti tadi bukan hal yang terlalu baru sih… Caranya, perut tikus diinjeksi dengan larutan saline fisiologis sekitar 10-20 mL, lalu sedikit dipijat-pijat. Lalu perut tikus dibuka, cairan yang ada di perut tadi di-aspirate sampai habis dengan pipet. Cairan yang sudah mengandung mast cells dan sel-sel lain lalu disentrifugasi dengan kecepatan dan waktu tertentu, lalu diisolasi secara bertahap menggunakan larutan Ficoll atau Pacoll, sampai diperoleh mast cells. Lalu mast cells tadi bisa kita gunakan untuk aneka experiments, misalnya untuk mencari obat-obat baru anti alergi yang bekerja menghambat pelepasan histamin. Yang belum pernah mungkin agak sulit membayangkan, tetapi sebenarnya sih gampang saja. Yang sedikit beda dengan yang kulakukan dulu adalah alat yang digunakan. Kalau dulu aku menggunakan mikroskop biasa karena cuma untuk aku sendiri, sekarang mikroskopnya dihubungkan dengan sebuah monitor, sehingga para peserta bisa melihat dengan jelas ketika mast cells dipicu untuk terdegranulasi melepaskan histaminnya.

Penutup

Well, hari ini belum ada cerita menarik lagi, dan harus menyiapkan lagi presentasiku malam ini nih….. supaya waktunya pas, tidak molor atau kurang. Hari ini aku agak sedikit lonely membayangkan hiruk pikuk Hari Raya Idul Adha di tanah air. Di sini nggak ada bau-baunya blas… bau kambing maksudnya, apalagi suara takbiran… Ahh… aku rindu!





My note (1): Japan, I’m coming (again)….

22 11 2009

Dear kawan,

Tulisan "Matsuyama" dalam huruf kanji di Stasiun

Jepang bukan negara yang terlalu asing buatku, karena sekitar 10 tahun yang lalu aku sempat tinggal selama 3 tahun (1998-2001) di sini ketika studi S3, di Matsuyama, Ehime Perfecture. Cerita tentang bagaimana aku bisa studi di sini sungguh peristiwa yang penuh keberuntungan bagiku, alhamdulillah…. dan pernah aku tulis di posting lawasku yang berjudul ‘”Belajar di negeri Hirohito dengan modal bejo” (klik di sini). Dan alhamdulillah… kali ini aku bisa menengok lagi tempat ini dalam suasana dan dengan posisi yang berbeda.

Cuaca dingin dengan suhu 10-11 derajat Celcius, gerimis, dan daun-daun yang memerah pada peralihan musim gugur ke musim dingin menyambut kedatanganku di Matsuyama hari ini. Maeyama Sensei dan istri telah menantiku di Matsuyama Airport  ketika aku tiba, lalu mengajak lunch bersama. Hm…. arigatou, Sensei……. perutku memang udah keroncongan dari tadi hehe…… Yaa,….kali ini aku akan stay selama 2 minggu memenuhi undangan Profesor Maeyama, mantan supervisorku dulu, untuk menjadi salah satu pembicara dalam Pharmacological Meeting wilayah Jepang barat-selatan. Jangan membayangkan yang keren-keren dulu deh…  Ini semacam undangan balasan kali, hehe…… karena sewaktu kami mengadakan International Conference bulan Oktober lalu (ceritanya bisa diklik di sini), aku juga mengundang beliau sebagai salah satu pembicara. Nah, kebetulan kali ini beliau kebagian jadi tuan rumah untuk menyelenggarakan semacam kegiatan tahunan pertemuan para ahli (researchers, students, professors) di bidang farmakologi. Jadilah beliau berinisiatif untuk membuat space untuk “new professor”  untuk jadi pembicara….. dan aku menjadi salah satunya. Jadi begitu aja sih ceritanya….   Kok lama amat 2 minggu ? Hm… itu pun aku sudah nawar sama sensei, sebelumnya sensei mengundang untuk selama 3 minggu. Wah, tapi kayanya agak berat ninggalin keluarga dan pekerjaan terlalu lama. Acaranya sebenernya juga cuma dua hari sih, tanggal 26-27 November.  Selebihnya aku gunakan kedatanganku kesini untuk memperluas networking, studi banding tentang pelaksanaan farmasi klinik di Ehime University Hospital, dan juga untuk menulis.

Alone, but not lonely

Perjalanan Jogja-Matsuyama kalau dihitung sejak aku keluar rumah bisa dikatakan 13 jam…. hmm, sehari penuh. Lumayan capek. Sendirian lagi….!. Ini adalah kali kedua aku pergi ke Jepang sendiri sejak selesai studi.  Kali ini aku berangkat dengan route Jogja-Denpasar-Kansai- Itami-Matsuyama. Tahun 2005 yang lalu, aku berangkat ke sini juga sendirian selama sebulan, dan sempat nangis bombay saat di pesawat saking “semedot rasaning ati” hehe…. Maklum, anakku terkecil saat itu masih 2,5 tahun. Habis ditinggal 40 hari untuk ibadah haji pada bulan Desember-Januari 2005, bulan Maret sudah harus ditinggal pergi lagi 30 hari ke Jepang. Tapi kali ini sih suasananya udah lain….. Seperti biasa, aku “mengimpor” ibuku untuk turut njagain anak-anak di rumah. Selain itu, dengan era tekonologi informasi sekarang ini, komunikasi bukan hambatan lagi.  Thanks for Face Book dan teman-teman FB yang terasa menemani walau hanya dari jauh….!! I am alone, but not feel lonely….. as I know, you’re always be with me…. eventhough from far away! Ceilee…..

Pokoknya gak boleh lepas internet deh hehe….. sewaktu transit di Denpasar selama 2 jam, masih bisa chatting juga, jadi tidak merasa sendiri. Dan sewaktu tiba di Kansai Airport, ternyata HP-ku bisa menangkap signal NTT Docomo sehingga bisa keep online. Semula aku pikir itu wifi di Airport, tapi ternyata dalam perjalanan ke Itami  naik bus limousine airport, aku tetap bisa keep online. Semula aku pikir gak bisa kirim SMS karena setahuku sistem telekomunikasinya lain, di sini pakai CDMA dan HPku pakai GSM, tapi kok ternyata bisa juga tuh…..  Hmm..aku ngga begitu mudeng tentang hal ini. Aku menggunakan salah satu provider telekomunikasi yang memang pernah aku minta untuk membuka utk penggunaan internasional.. And it works !

Cuma, nggak enaknya kalau pergi sendiri adalah ngga ada yang jadi fotografer hehe….. gak ada yang motret-motretin kita… Jadi nggak yakin nih banyak foto-foto bagus yang bisa cerita…..

Bandara Kansai

Kansai International Airport, megah dan kokoh

Burung Garuda besi yang membawaku terbang mendarat dengan mulus di Bandara International Kansai Osaka pada pukul 08.15 waktu Jepang (2 jam lebih cepat dari WIB). Bandara Internasional Kansai Osaka termasuk Bandara yang besar dan megah di Jepang. Ia berlokasi di sebuah pulau buatan yang sengaja dibuat untuk membangun bandara ini. Konstruksinya terkesan kokoh dan kuat dengan baja di mana-mana. Yang paling convenient adalah bahwa Bandara ini terhubung dengan aneka transportasi lainnya, seperti kereta, bus, kapal, dll. Seperti hari ini, aku juga harus menggunakan bus limousine menuju Itami Airport untuk penerbangan domestik ke Matsuyama. Dan sangat mudah mendapatkan kendaraan ini di sana. Berdasarkan peraturan baru Pemerintah Jepang, Bandara Internasional tidak lagi melayani penerbangan domestik, jadi aku mesti pindah bandara Itami untuk menuju Matsuyama. Perjalanan dari Kansai ke Itami memakan waktu kurang lebih 70 menit menggunakan bus. Tetapi ngomongin tentang Bandara, aku masih lebih terkesan dengan Bandara Changi di Singapore…. bener-bener hommy…. Indah dan hangat!

Pemeriksaan imigrasi lumayan lama dan antri cukup panjang. Dan ndilalah…. aku gak tau kenapa, aku termasuk yang diperiksa agak ketat, sampai tasku dibuka dan dilihat isinya. Bahkan souvenir yang aku bawa saja dibuka dan dilihatnya. Yah, ..dont worry, Saudara Tua…. aku gak bawa bom kok hehe…. Tapi ada bagusnya sih, karena tas koperku aku wrap plastik sejak di Yogya dan sekarang wrappingnya di buka oleh petugas imigrasi Bandara, aku jadi nggak perlu repot-repot buka wrappernya nanti ketika sampai Matsuyama…. hehe. Berpikir positif aja, selalu ada hikmah di balik suatu “bencana”…..

Pesawat commuter

Alhamdulillah, .. aku termasuk yang gampang tidur di mana saja hehe….. jadi aku fine-fine saja bisa tidur lumayan nyenyak di pesawat, bahkan di penerbangan Jogja-Denpasar, dan Osaka-Matsuyama yang pendek pun aku sempat terlelap. Ngomong-omong tentang pesawat,.. aku menikmati 3 jenis pesawat yang berbeda dalam perjalanan kali ini. Untuk route Jogja-Denpasar, pesawatnya ukuran sedang yang biasanya kita naiki untuk penerbangan domestik, dengan lay out 3 kursi masing-masing di bagian kiri dan kanan. Pesawat untuk route Denpasar-Osaka lebih besar lagi, dengan lay out kursi 2-4-2 untuk di kelas ekonomi. Naik pesawat ini rasanya lebih mantap aja, tidak terasa ada goncangan atau apa. Nah, yang ketiga ini yang agak mendebarkan…. dari Osaka – Matsuyama, aku naik pesawat kecil berbaling-baling dengan kapasitas 30-an penumpang, Japan Air Commuter, dengan lay out kursi 1-2, kiri dan kanan. Waduuh,… kalau yang ini aku tadi sempat agak miris juga. Apalagi cuaca tidak begitu bagus.  Pesawat lebih banyak terbang di dalam awan, jadi agak deg-degan juga karena beberapa kali seperti tergoncang. Sebelumnya aku berpikir untuk mengambil gambar dari atas pesawat. Dulu aku pernah menjalani route yang sama dengan pesawat sejenis, dan pemandangannya indah sekali dari atas. Terlihat ada jembatan panjang Shimanami Kaido yang menghubungkan pulau Honshu dan Shikoku. Tapi sayangnya saat ini cuaca tidak begitu bersahabat, sehingga pemandangan ke luar jendela berisi awan melulu… Jadi yah… gak jadi ambil gambar deh..!

 Sampai Matsuyama

Alhamdulillah, seperti ditulis di bagian atas posting ini, sampailah aku di Matsuyama dengan selamat dan disambut cuaca dingin dan gerimis. Sehabis lunch, Maeyama Sensei mengantarku ke hotel Shigenobu, yang berlokasi di dekat Ehime University School of Medicine, tempat studiku dulu. Sensei sempat mengajakku ke lab sambil menunggu waktu check in ke hotel. Hm… lab tidak banyak berubah. Sensei memberiku satu meja untuk aku nanti bisa bekerja selama di sini, plus koneksi internetnya. Semua masih terlihat sama, hanya ada sedikit perubahan pada lay out. Terbayang deh selama tiga tahun dulu berada di sini dengan berbagai suka dan dukanya… Berangkat jam 8 pagi pulang jam 8-9 malam setiap hari…  Orang Jepang memang workholic !!  Jadi ketika sampai di Indonesia lagi dan melihat jam 4 sore sudah lengang tanpa aktivitas di kampus, rasanya agak aneh….. karena di sini sampai jam 6-7 malam masih hiruk pikuk aktivitas lab hehe ……… tapi ya lama-lama biasa juga…

Matsuyama sendiri adalah ibukota Ehime Perfecture (semacam provinsi) yang berlokasi di Pulau Shikoku. Karena lokasinya yang agak selatan, iklimnya termasuk mild, tidak terlalu seekstrim seperti di Hokkaido misalnya, yang ada di Jepang utara yang selalu bersalju tebal saat winter. Seingatku dulu, di sini saat winter paling dingin ya “cuma”  sekitar minus 1 sampai minus 5 derajat Celcius. Mudah-mudahan aku gak perlu mengalami sampai sedingin itu deh…

Aku belum sempat mengeksplorasi lagi Matsuyama….. tentu sudah banyak perubahan sejak 4 tahun yang lalu aku terakhir datang kesini. Aku sudah bercita-cita mau mampir ke Kume Eki (Eki = stasiun), stasiun langgananku dulu jika berangkat ke kampus. Bapak penjaga stasiunnya masih yang dulu nggak ya? Aku juga mau cari takoyaki kesukaanku dulu yang dijual di dekat stasiun Kume hehe…… Di Jogja sekarang ada sih yang jual takoyaki, tapi itu takoyaki bo’ongan karena tidak pakai gurita di dalamnya(tako=gurita).  Aku mau jalan-jalan lagi ke Gintengai dan Okkaidoshopping arcade yang dulu sering kami kunjungi dengan bersepeda kalau hari minggu atau libur… Juga ke beberapa tempat lain yang dulu sering kami kunjungi, termasuk 100-en (hyaku-en) shop hehe… toko semua serba 100 yen..!

Well, tetapi sebelum itu semua, tentu aku harus menyelesaikan dulu bahan presentasiku untuk Pharmacological Meeting besok jumat…… Biasa deh, selalu bikinnya in the last minute hehe…… Lha kemaren belum sempat bikin selama di Indonesia.  Okey, kayaknya ceritaku hari ini cukup dulu…. aku mau istirahat dulu ah…. jaga stamina buat esok  hari.`





Memilih obat turun panas dan analgesik untuk anak-anak

18 11 2009

Dear kawan,

Sory nih… dah lama belum sempat nulis lagi …… Belakangan lagi banyak nongol di radio setelah debut pertama di Geronimo FM dulu hehe…. (Ceritanya bisa dibaca di sini).  Setelah di Geronimo, aku dan mbak Hartati (penulis Buku Bahaya Alkohol) diwawancara telepon oleh Farhan dari Delta FM Jakarta, dan oleh Bahana FM Jakarta. Lalu yang terakhir ini, atas kebaikan hati mas Sukir (makasih nggih…) aku dapat kesempatan ngocol di Unisi FM Yogya dan Trijaya FM Yogya. Semuanya masih terkait dengan topik bahaya alkohol, sebagai bagian dari promo buku kami dan juga kepedulian terhadap bahaya alkohol. Ternyata asyik juga tuh siaran….. bisa nih dilestarikan kalau ada yang mau ngajakin lagi…. Sayangnya yang dua siaran terakhir ngga sempet difoto-foto hehe… narsis banget!

Nah kali ini aku mau ngomongin masalah lain ya…..

Beberapa waktu lalu aku mendapat pertanyaan dari seorang pembaca blog ini, aku kutipkan sesuai aslinya :

First choice nyeri dan demam kan parasetamol. yang paling aman juga parasetamol. Tapi kenapa di obat demam untuk anak seperti bodrexin, contrexyn, inzana, isinya aspirin dan glisin semua? kalau apoteker ingin memilihkan obat demam untuk anak, pilih sirup yang isinya parasetamol atau obat2 tadi yang (diiklankan) memang untuk anak2?

Kemudian disambung oleh yang lain dengan postingan berita di Kompas seperti ini:

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebuah riset independen Retail Audit Nielsen, Indonesia Urban mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen konsumsi obat penurun demam anak di wilayah perkotaan di Indonesia adalah mengandung asam asetilsalisilat (acetyl salicylic acid). Asam asetilsalisilat adalah jenis bahan aktif yang tidak sesuai untuk konsumsi anak-anak karena diduga dapat menyebabkan sindroma Reye.

Well, kawan….. Ada apa dengan asam asetil salisilat atau asetosal? Apa benar bukan pilihan yang tepat untuk obat penurun panas atau penghilang nyeri pada anak-anak? Aku pernah menulis di blog ini tentang bagaimana memilih analgesik yang pas… (bisa dilihat di sini). Tapi tulisan itu masih agak luas, yaitu menguraikan berbagai jenis obat penghilang rasa sakit dan radang. Asetosal  termasuk obat yang banyak dipakai untuk mengatasi radang, sakit, dan demam. Nah, tulisan kali ini akan menyoroti asetosal saja, dan ada sedikit tambahan tentang parasetamol.

Bagaimana kerja asetosal sebagai obat turun panas dan penghilang nyeri (analgesik)?

Asam asetil salisilat atau asetosal banyak dijumpai dalam berbagai nama paten, salah satunya yang terkenal adalah Aspirin. Seperti halnya obat-obat analgesik yang lain, ia bekerja dengan cara menghambat sintesis prostaglandin. Prostaglandin sendiri adalah suatu senyawa dalam tubuh yang merupakan mediator nyeri dan radang/inflamasi. Ia terbentuk dari asam arakidonat pada sel-sel tubuh dengan bantuan enzim cyclooxygenase (COX). Dengan penghambatan pada enzim COX, maka prostaglandin tidak terbentuk, dan nyeri atau radang pun reda.

Prostaglandin juga merupakan senyawa yang mengganggu pengaturan suhu tubuh oleh hipotalamus sehingga menyebabkan demam. Hipotalamus sendiri merupakan bagian dari otak depan kita yang berfungsi sebagai semacam “termostat tubuh”, di mana di sana terdapat reseptor suhu yang disebut termoreseptor. Termoreseptor ini menjaga tubuh agar memiliki suhu normal, yaitu 36,5 – 37,5 derajat Celcius.

Pada keadaan tubuh sakit karena infeksi atau cedera sehingga timbul radang, dilepaskanlah prostaglandin tadi sebagai hasil metabolisme asam arakidonat. Prostaglandin akan mempengaruhi kerja dari termostat hipotalamus, di mana hipotalamus akan meningkatkan titik patokan suhu tubuh (di atas suhu normal). Adanya peningkatan titik patokan ini disebabkan karena termostat tadi menganggap bahwa suhu tubuh sekarang dibawah batas normal. Akibatnya terjadilah respon dingin/ menggigil. Adanya proses mengigil ini ditujukan utuk menghasilkan panas tubuh yang lebih banyak. Adanya perubahan suhu tubuh di atas normal karena memang “setting” hipotalamus yang mengalami gangguan oleh mekanisme di atas inilah yang disebut dengan demam. Karena itu, untuk bisa mengembalikan setting termostat menuju normal lagi, perlu menghilangkan prostaglandin tadi dengan obat-obat yang bisa menghambat sintesis prostaglandin.

 Efek samping asetosal?

Selain memiliki efek utama sebagai obat anti radang dan turun panas, asetosal memiliki beberapa efek lain sebagai efek samping.  Efek samping yang pertama adalah asetosal dapat mengencerkan darah. Kok bisa? Ya…., karena asetosal bekerja secara cukup kuat pada enzim COX-1 yang mengkatalisis pembentukan tromboksan dari platelet, suatu keping darah yang terlibat dalam proses pembekuan darah. Penghambatan sintesis tromboksan oleh asetosal menyebabkan berkurangnya efek pembekuan darah. Sehingga, asetosal bahkan dipakai sebagai obat pengencer darah pada pasien-pasien pasca stroke untuk mencegah serangan stroke akibat tersumbatnya pembuluh darah.

Apa implikasinya? Karena dia memiliki efek pengencer darah, maka tentu tidak tepat jika digunakan sebagai obat turun panas pada demam karena demam berdarah. Bayangin,… pada demam berdarah kan sudah ada risiko perdarahan karena berkurangnya trombosit, kok mau dikasih asetosal yang juga pengencer darah…. Apa ngga jadi tambah berdarah-darah tuh….. !!

Efek samping yang kedua dari asetosal atau Aspirin, dan sering menimpa anak-anak, adalah terjadinya  Sindrom Reye, suatu penyakit mematikan yang menganggu fungsi otak dan hati. Gejalanya berupa muntah tak terkendali, demam, mengigau dan tak sadar. Banyak studi telah menunjukkan adanya hubungan antara kejadian syndrome Reye pada anak-anak dengan penggunaan aspirin. Memang sih, angka kejadiannya tidak terlalu banyak, tapi sekali terjadi akibatnya sangat fatal. Sehingga, aspirin direkomendasikan untuk tidak digunakan sebagai turun panas pada anak-anak.

Efek samping asetosal yang ketiga sama dengan obat analgesik golongan AINS lainnya, adalah gangguan lambung, dan pernah dibahas di posting ini.

Hmm…. efek samping berikutnya adalah risiko kekambuhan asma bagi mereka yang punya riwayat asma. Aspirin atau asetosal termasuk salah satu analgesik yang sering dilaporkan memicu kekambuhan asma, sehingga perlu hati-hati juga untuk pasien yang punya riwayat asma.

Kekuatiran lain dari penggunaan asetosal adalah seringkali mereka ditampilkan dalam bentuk seperti permen jeruk. Okelah,…. memang tujuannya supaya anak tidak merasa sedang minum obat, karena seperti makan permen. Tapi justru bisa jadi, karena dianggap permen, anak-anak bisa minta lebih dari dosis yang seharusnya. Jika menyimpannya tidak hati-hati, anak-anak bisa cari sendiri “permen” tadi dan mengkonsumsinya tanpa sepengetahuan ortunya. Sehingga bisa dibayangkan jika asetosal dikonsumsi dalam dosis lebih dari seharusnya…..

Wah, lalu gimana dong?

Obat pilihan untuk turun panas pada anak-anak

Sampai sejauh ini, obat pilihan untuk analgesik dan antipiretik (turun panas) pada anak-anak masing dipegang oleh parasetamol. Obat ini relatif aman dari efek samping seperti yang dijumpai pada aspirin jika dipakai dalam dosis terapi yang normal. Efek sampingnya berupa gangguan hati/liver dapat terjadi hanya jika dipakai dalam dosis yang relatif besar (> 4 gram sehari). Namun perlu diketahui bahwa parasetamol tidak memiliki efek anti radang seperti aspirin atau analgesik OAINS lainnya.

Mengapa parasetamol relatif lebih aman dari efek samping?

Yups….. ada sedikit perbedaan mekanisme aksi parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik. Ternyata, selain ada enzim siklooksigenase COX-1 dan COX-2 yang mengkatalisis pembentukan prostaglandin di jaringan, ada pula COX-3, yang lebih banyak terdapat di otak dan sistem saraf pusat. Nah, parasetamol ini ternyata lebih spesifik menghambat COX-3 yang ada di otak tadi, sehingga menghambat produksi prostaglandin yang akan mengacau termostat di hipotalamus tadi. Kerja ini menghasilkan efek menurunkan demam. Selain itu, karena prostaglandin juga terlibat dalam menurunkan ambang rasa nyeri, maka penghambatan prostaglandin dapat memberikan efek anti nyeri atau analgesik. Karena spesifik pada COX-3, tidak menghambat COX-2, maka efeknya sebagai anti radang di jaringan jadi kecil. Di sisi lain, karena juga tidak menghambat COX-1, maka efeknya terhadap gangguan lambung juga kecil karena tidak mempengaruhi produksi prostaglandin jaringan yang dibutuhkan untuk melindungi mukosa lambung. Juga tidak memiliki efek mengencerkan darah. Jadilah,… parasetamol relatif aman terhadap efek samping lambung, perdarahan, asma, dan juga syndrom Reye, dan merupakan pilihan yang aman dan tepat untuk obat turun panas dan analgesik pada anak-anak.

Demikianlah kira-kira pemilihan obat analgesik dan antipiretika yang tepat untuk anak-anak. Semoga bermanfaat.





Liputan khusus Konser “4 DIPA” : balancing the hemisphere !

7 11 2009

Dear kawan,

Kali ini judul postingku agak heboh…. dan itu memang salah satu trik menulis, yaitu memberi judul yang “eye catching” dan bikin penasaran hehe…

Malam minggu ini ada acara lumayan langka di Fakultas Farmasi UGM, yaitu Pentas Seni dalam rangka Dies Natalis Fakultas yang ke 63. Jaman aku kuliah dulu sebenernya acara ini masih sering diselenggarakan, ada lomba penampilan seni setiap Angkatan, lomba olah raga, dll. Tapi beberapa tahun terakhir ini acara serupa sudah tidak pernah diadakan lagi, baru mulai lagi tahun ini. Nah yang akan kutulis kali ini adalah story behind the performance of “4 DIPA”… !!

Ceritanya,… mahasiswa meminta untuk ada penampilan dari dosen dalam pentas seni tersebut. Singkat cerita, bu Hilda yang dihubungi mahasiswa mencoba mengumpulkan “seniman-seniman” Fakultas untuk tampil. Mbak Hilda sendiri piawai memainkan beberapa alat musik, aku suka nyanyi walau suara pas-pasan (setidaknya ada niat dan semangat), lalu kami menghubungi Prof Lukman, gitaris di masa mudanya, dan Pak Sardjiman, sang gitaris juga. Lalu Jumat malam kami janjian untuk latihan di kampus sambil pilih-pilih lagu yang mau dimainkan. Sejak siangnya aku dan mbak Hilda coba cari-cari lagu dan liriknya lewat internet, di sela-sela menyiapkan kuliah. Ngga tanggung-tanggung, malamnya di kampus kami mencoba menyamakan persepsi dalam menyanyi dan bermusik sampai jam 22.30 malam hehe…… Tapi kok ngga terasa ngantuk yah dan waktu terasa berjalan cepat,…. padahal kalo ngerjain tugas, waduh…. baru bentar dah ngantuk!

Kami menyiapkan beberapa lagu. Pertama kami pilih lagunya Ebiet G Ade yang hampir selalu diputar di TV kalau ada bencana alam yaitu ”Berita Kepada Kawan”. Lagu-lagu Ebiet ini kita pilih karena cocok untuk akustikan. Semula sih aku pilih lagu “Untuk Kita Renungkan”…. tapi kata Pak Jimmy itu kurang populer dan kord gitarnya beliau belum familiar. Oke deh. Hm… lagu kedua sebenernya kami menyiapkan lagunya Letto, “Sebelum Cahaya”, untuk cadangan, tapi ngga jadi kami tampilkan karena waktunya dibatasin. Kami cari lagu lain yang easy listening dan kord-nya gampang…… Akhirnya kami menemukan lagu “Donna-donna”, lagu jadul banget tahun 1960-an yang dinyanyikan oleh Joan Baez, dan dipopulerkan lagi oleh penyanyi Sita RSD. Lagunya ringan dan manis. Dan lagu terakhir yang agak mendadak idenya adalah lagunya Doris Day, berjudul  “Que sera-sera”, yang di sini ngetop sebagai jingle iklan salah satu produk semen..hehe.

Hari H “Konser

Hari Sabtu pagi, kami dikejutkan oleh berita duka, wafatnya Prof Sasmito, salah seorang senior kami karena sakit. Proses wafatnya termasuk cepat, sehingga cukup mengejutkan, tetapi Insya Allah beliau wafat dengan khusnul khotimah. Amien. Jadi setelah paginya aku harus kasih kuliah selama 5 jam di Magister Farmasi Klinik, siangnya langsung takziyah. Sorenya masih harus menghadiri rapat Rumah Sakit Akademik UGM, dan menyempatkan latihan sebentar. Dan acara pentas seninya sendiri tentu harus tetap jalan, karena sudah dipersiapkan lama oleh mahasiswa. Dan itu melibatkan banyak sekali mahasiswa yang juga tampil di acara tersebut. Sedangkan penampilan dosen sebenernya hanya sebagian kecil saja dari acara tersebut. So, the show must go on…..! Dan di awal acara kami pun memanjatkan doa untuk alm Prof Sasmito semoga mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Amien.

IMG_0229-edit

Penampilan "4DIPA" ki-ka: Hilda, Zullies, Mr. Jimmy, Mr. Lucky Man

Well,…. akhirnya sampailah pada saatnya tampil. Kalau di blantika musik Indonesia ada “3 DIVA”, aku memperkenalkan group kami sebagai “4 DIPA” haha….. Istilah DIPA sendiri sebenernya bukan istilah asing buat kami para dosen, apalagi aku sendiri sekarang lagi jadi Ketua Task Force Kegiatan DIPA WCRU Fakultas, sebuah kegiatan pengembangan fakultas, dari urusan akademik, riset, dan pengembangan sumber daya manusia yang didanai dari dana DIPA UGM menuju WCRU (World Class Research University).  DIPA di sini singkatan dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaranhehe… Jadi melintas aja nama itu di kepala saking familiernya. Cuma untuk group kami, DIPA itu singkatan dari “Dosen Ikut Pasang Aksi” haha….. ide yang muncul mendadak di kamar mandi. Tapi ini bukan nama paten lho… itu nama cuma asal comot saja. Mungkin untuk konser selanjutnya (hehe…kalo ada) kami perlu cari nama baru yang lebih keren….

Formasi untuk group “4 DIPA” adalah Prof Lukman (dengan nama panggung Mr. Lucky Man) dan Dr Sardjiman (nama panggung: Mr. Jimmy) sebagai gitaris untuk lagu “Berita kepada Kawan“, Mbak Hilda sebagai gitaris pada lagu “Donna-donna“, dan lagi-lagi Prof Lukman dan Mbak Hilda playing gitar pada lagu “Que sera-sera”. Aku sendiri posisinya sebagai tukang ngocol dan vokalis dengan vokal ala kadarnya haha…  Sayangnya foto yang aku punya kurang begitu siip pencahayaannya, kalau ada yang  punya foto yang bagus-bagus aku mau lho dikasih……!!

Well… lagu pertama “Donna-donna” mengalun manis (menurut pendengaranku sendiri, ngga tau kalau menurut penonton…hehe). Jangan salah… Donna itu bukan nama orang…. lagu ini menceritakan tentang sapi yang mau disembelih….. Ini liriknya:

On a waggon bound for market there`s a calf with a mournful eye.

High above him there`s a swallow, winging swiftly through the sky.

How the winds are laughing, they laugh with all their might.

Laugh and laugh the whole day through, and half the summer`s night.

Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.

Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.

“Stop complaining!“ said the farmer, Who told you a calf to be ?

Why don`t you have wings to fly with, like the swallow so proud and free?“

Calves are easily bound and slaughtered, never knowing the reason why.

But whoever treasures freedom, like the swallow has learned to fly.

IMG_0232-crop

salah satu performance "4DIPA"

Lagu kedua “Berita kepada Kawan” agak kacau sedikit haha….. padahal waktu latihan lumayan mulus….  Kayaknya suaranya sedikit “maksa” … Tapi ngga masalah, dosen kan memang bukan penyanyi …. jadi kalau salah dikit ngga boleh protes. Tapi kayaknya sih penonton cukup terpuaskan, buktinya waktu lagu kedua berakhir para penonton berteriak “ lagii… lagii!” hehe… Padahal sebelum naik pentas kami dipesan panitia untuk nyanyi dua lagu saja karena waktunya terbatas. Namun karena permintaan penonton (dan kami sebenernya juga udah menyiapkan 3 lagu), jadilah kami menyanyi lagi… lagu “Que Sera sera”…. Hmm…. kalau boleh sih kami pengen nyanyi terus haha…. 5 lagu juga mau…

Acara pentas seni sendiri berisi aneka penampilan lain dari mahasiswa, yang kali ini bertemakan “Tribute to Koes Plus”, jadi banyak menampilkan lagu-lagu Koes Plus. Selain itu juga ada pengumuman dan pemberian hadiah berbagai lomba kreativitas mahasiswa. Sayangnya aku tidak bisa mengikuti acara sampai selesai karena si kecil Hani yang kuajak minta pulang karena dah ngantuk.

Balancing hemisphere…

Aku melihat bahwa banyak sekali mahasiswa (maupun dosen) yang punya bakat-bakat seni yang besar. Aku sendiri juga punya sedikit bakat terpendam dalam hal menyanyi… Cuma terpendamnya dalaaaaam .. sekali haha, jadi sulit digali lagi. Aku rasa harus lebih banyak acara-acara serupa untuk mengekspresikan jiwa seni ini agar mendapat penyaluran yang pas dan kondusif untuk pengembangannya. Dan buatku itu sih penting….. istilahnya adalah untuk menyeimbangkan otak kiri dan kanan hehe…. balancing right and left hemisphere,… biar hidup seseorang menjadi lebih optimal. Setelah berhari-hari berkutat dengan kuliah, praktikum, penelitian, rapat ini dan itu, yang nota bene banyak memakai “otak kiri”, maka ada saat-saat untuk menggunakan “otak kanan”nya.

left_right_brain_xp

left and right hemisphere with their function

Teori perbedaan  fungsi otak kanan dan otak kiri telah populer sejak tahun 1960. Seorang peneliti bernama Roger Sperry menemukan bahwa otak manusia terdiri dari 2 hemisfer (bagian), yaitu otak kanan dan otak kiri yang mempunyai fungsi yang berbeda. Atas jasanya ini beliau mendapat hadiah Nobel di bidang fisiologi kedokteran pada tahun 1981. Selain itu dia juga menemukan bahwa pada saat otak kanan sedang bekerja maka otak kiri cenderung lebih tenang, demikian pula sebaliknya.

Otak kanan berfungsi dalam hal persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna. Daya ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory). Bila terjadi kerusakan otak kanan misalnya pada penyakit stroke atau tumor otak, maka fungsi otak yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi misalnya. Otak kiri berfungsi dalam hal perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan dan logika. Daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). Bila terjadi kerusakan pada otak kiri maka akan terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa dan matematika. Walaupun keduanya mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi setiap individu mempunyai kecenderungan untuk mengunakan salah satu belahan yang dominan dalam menyelesaikan masalah hidup dan pekerjaan. Setiap belahan otak saling mendominasi dalam aktivitas namun keduanya terlibat dalam hampir semua proses pemikiran.

Ada baiknya jika seseorang itu seimbang untuk fungsi kedua otak ini….. Supaya tidak terlalu kaku sekali ketika menghadapi persoalan, atau sebaliknya terlalu emosional.

Penutup

Konser telah usai… tetapi telah menyisakan semangat untuk terus berlatih hehe…. siapa tau ada produser tertarik ngajak rekaman…..

Demikian saja liputan khusus konser “4DIPA”… sampai ketemu lagi di konser berikutnya (kalau ada..)….





Selebritis narsis di Geronimo 101,6 FM…..

3 11 2009

Dear kawan,

IMG_0211 crop geronimo

sehabis "on air".... (awas kelelep lho..)

Kali ini ceritaku tentang selebriti dadakan yang sedikit narsis.. hehe… yaitu pengalamanku mengisi acara di sebuah radio,  jangan diketawain yaa….. !!Hmm… suer deh, ini pengalaman pertamaku ngisi acara di radio… (Kalo  jadi narasumber di acara TV malah pernah, walau cuma TV lokal Yogya, dalam acara “UGM Berkomunikasi”). Dan ini adalah berkat usaha Mbak Hartati sebagai salah satu bentuk promo buku kami yang berjudul “Bahaya Alkohol dan cara mencegah kecanduannya”… aku sih cuma tinggal brangkat aja. Jadi ceritanya nih malam Senin kemarin aku ngisi acara sebagai bintang tamu di acara “Oh Indahnya Yogya”, yang dipandu oleh Mbak Sondy. Acaranya jam 21-22 malam di Geronimo 101,6 FM, sebuah radio ngetop di Yogya.

Persiapan

Minggu lalu aku menerima e-mail dari Mbak Tati, bahwa beliau sudah mengontak Radio Geronimo untuk bisa punya acara di sana. Salut deh Mbak Tati, .. beliau kreatif dan mencari segala upaya untuk mempromosikan buku kami. Aku sih ngikut saja. Singkat cerita, kami dikasih waktu tg 2 November ini, jam 21-22. Dan karena mbak Tati ada di Yunani, praktis aku deh yang harus berangkat mengisi acara. Hari Jumat aku dikontak mbak Sondy, host-nya, diminta mengirimkan CV dan sinopsis bukunya. Aku sendiri dengan agak-agak narsis menulis status di FB-ku supaya teman-teman mendengarkan siaran Senin malam jam 21-22 di radio Geronimo… haha…..

Hari Senin, hari H siaran, jadwalku lumayan padat sejak pagi. Ada 3 kuliah, malah semestinya 4 kuliah, tapi yang satu lupa (maaf deh, dear students). Aduh, aku mulai start grogi…. atau tepatnya agak tegang, membayangkan apa yang bakal terjadi untuk siaran malamnya. Maklum deh, baru pertama kali, jadi maklum aja… Sorenya setelah selesai kuliah terakhir, aku coba baca-baca lagi tulisanku yang pernah kutulis tentang alkohol. Aku masih belum punya gambaran mau disuruh ngomong apa nanti malam. Aku print beberapa yang kuanggap penting. Untungnya tak berapa lama Mbak Sondy kirim SMS, katanya akan mengirim outline acara nanti malam. Baguslah…, jadi aku punya pegangan…

Habis maghrib, beberapa jam sebelum siaran. Aku check e-mail dari Sondy, yang sempat tertunda karena server error, katanya. Alamaak, … jadi tambah tegang nih …. aku tulis status di FBku…” kayak nunggu ijab kabul aja” haha… Untunglah outline segera aku peroleh, dan aku pelajari bentar apa-apa yang akan dan perlu disampaikan dalam acara nanti. Salah satunya adalah pertanyaan tentang bagaimana aku bisa bekerja sama dengan Mbak Tati dalam menulis buku ini. Aku buka catatanku di blog ini, seingatku aku dulu pernah menulis tentang awal-awal aku diajak mbak Tati menulis (bisa dilihat di sini). Paling tidak aku menemukan data penting tentang sekitar kapan Mbak Tati mulai mengontak aku untuk berkolaborasi. Hmm…. ada gunanya juga nih kutulis semua yang kualami, bisa jadi dokumentasi hidup. Aku juga sempatkan lagi pelajari isi bukuku sendiri ,….. aku ingat hal-hal yang kuanggap penting. Wah, rasanya kayak mau ujian saja… haha… Selebihnya aku pasrah. Dan thanks buat teman-teman yang secara khusus mengontakku lewat FB atau YM untuk memberi semangat dan doa ….. Kayak mau maju perang saja….. !!

Selebriti on air

IMG_0217 dg Sondy geronimo

aku dan Sondy... sesama imut dilarang saling mendahului...

Aku sampai di Radio Geronimo FM sekitar jam 20.40-an. Sepanjang jalan, sambil nyetir  aku mencoba ngomong sendiri tentang alur cerita bagaimana aku bisa berkolaborasi dengan Mbak Tati. Kayak orang gila ngomong sendiri haha….!! Pas banget, ketika aku datang, Mbak Sondy juga datang. Kami ngobrol sebentar mengenai hal-hal yang mau disampaikan nantinya. Keteganganku mulai cair… lagipula mbak Sondy-nya juga ramah mengajak ngobrol. Menjelang jam 21.00, aku diajak masuk ke ruang siaran. Oya, sebelum itu, kami berusaha mengontak Mbak Tati lewat FB agar beliau juga bisa berpartisipasi dalam acara dengan cara menelpon dari Yunani.

Well, acara dimulai…. aku sudah bisa mulai santai… dasarnya aku orangnya santai dan suka juga bercanda, jadi tidak terlalu sulit mengimbangi Mbak Sondy. Malah ada yang komentar, katanya ternyata profesornya gaul juga haha….. Pertama, aku diminta menceritakan bagaimana aku bisa menulis bersama dengan mbak Tati, yang uniknya, kami sendiri bahkan belum pernah bertemu muka!! Ngomong lewat telpon juga cuma sekali. Aku ceritakan bahwa ide penulisan buku ini adalah berasal dari Mbak Tati. Beliau yang mengajak aku menulis. Aku sendiri hanyalah dosen biasa yang kebetulan suka nulis di blog, itu pun tulisan suka-suka aku. Suatu kali aku pernah aku menulis tentang Ginseng Mabur, yaitu kasus meninggalnya beberapa orang di Semarang akibat minum miras oplosan. Mungkin, secara tidak sengaja, mbak Tati menemukan namaku ketika searching di internet, lalu beliau mengontakku. What is a small world!! Kami sangat berterimakasih dengan penemu teknologi informasi canggih sekarang ini, yang memungkinkan dua orang yang berada di benua berbeda bertemu untuk menulis bersama. Dan kayaknya seperti itulah pertemuan jodoh hehe…… kayak ada chemistry-nya…. kami segera klik untuk menulis dan berbagi tugas penulisan. Tapi dari mbak Tati sendiri bahannya sudah banyak sekali, jadi sebenarnya aku lebih banyak melengkapi apa-apa yang sudah ditulis mbak Tati, terutama kalau berkaitan dengan masalah kesehatan.

Hm.. sesi-sesi berikutnya dalam siaran mengalir lancar. Sayangnya Mbak Tati tidak bisa terlalu lama bergabung lewat telepon. Yunani terlalu jauh kali yaa… jadi ada jeda antara waktu bicara dan suara yang sampai, jadi kadang suaranya tidak terdengar jelas. Apalagi ternyata paginya, Mbak Tati baru kena musibah.. kecurian laptop di rumahnya karena lupa kunci pintu ketika belanja. Wah, turut prihatin, Mbak…

Di satu sesi, Mbak Sondy memintaku menceritakan tentang kisah pecandu alkohol di berbagai belahan dunia. Di buku memang sudah dituliskan, dan itu merupakan cerita nyata yang diperoleh dari berbagai kontributor kami yang ada di berbagai negara. Terimakasih untuk para kontributor buku kami.  O,ya… ini juga salah satu kehebatan Mbak Tati sebagai penulis senior, yaitu memanfaatkan jaringan koneksinya dengan banyak teman di berbagai negara, sehingga mereka mau menyumbangkan tulisannya tentang kisah-kisah pecandu alkohol di berbagai negara, termasuk di beberapa daerah di Indonesia.   Dalam siaran kemaren, aku menekankan pada contoh kisah tragis mundurnya seorang Menteri Keuangan Jepang, Soichi Nakagawa, karena mabuk pada KTT G7 di Roma Italia pada bulan Pebruari 2009. Bukan mabuknya yang dimasalahkan, orang Jepang mah udah biasa mabuk. Tapi dengan mabuk nya itu sang Menteri tidak bisa menjawab pertanyaan pada konferensi pers dengan tepat dan itu malu-maluin banget negara Jepang. Dan itu memicu komentar yang keras di dalam negerinya, sehingga Pak Menteri memilih mengundurkan diri. Beritanya bisa dilhat di sini.

IMG_0204-crop

aku dan sang buku...

Pertanyaan yang masuk lewat SMS banyak sekali….. tapi waktunya terbatas, jadi tidak bisa semua terjawab. Maaf ya teman-teman, mudah-mudahan sudah cukup mewakili. Oya, untuk menjawab pertanyaan2 itu memang harus pandai-pandai mencari peluang untuk “ngepek buku” hehe… Alhamdulillah, diberi kelancaran. Tentu masih ada satu dua pertanyaan yang tidak memuaskan jawabannya, karena kemampuan dan ingatanku juga terbatas. Oya lagi, yang kirim pertanyaan, yang beruntung bisa dapat buku ini gratis loh…!

Aku menangkap bahwa antusiasme masyarakat ternyata cukup besar, terbukti dari banyaknya SMS yang masuk. Itu menunjukkan bahwa masalah alkohol memang masalah kita bersama, yang seperti fenomena gunung es. Banyak juga yang menanyakan bagaimana menghentikan kecanduan, karena bolak balik kembali lagi kepengin minum. Aku sampaikan bahwa ada beberapa cara mencegah kecanduan, tetapi sangat penting adalah niat dari diri sendiri. Jika tidak berhasil, bisa dilakukan terapi psikologis atau medis, yang tentunya harus dilakukan oleh orang yang kompeten di bidangnya.

Well, sudah cukup banyak contoh yang merugikan akibat penggunaan alkohol. Dan mau minum atau tidak, itu sebenarnya adalah pilihan hidup. Kalau kita sudah melihat banyaknya pengalaman buruk orang lain karena bahaya alkohol, mengapa kita harus merasakannya sendiri? Bodoh bukan? Dan kita tidak perlu berurusan dengan masalah alkohol dulu untuk membeli buku ini. Kita bisa berbagi ilmu dengan buku ini, untuk mengajak yang lain menghindari bahaya alkohol. Mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi pahala yang tiada putus. Amien.

Yah, begitulah sedikit ceritaku ketika menjadi selebritis dadakan di radio Geronimo Senin malam kemarin. Dan apa narsisnya?… aku sempat foto-foto juga yang bisa Anda lihat di posting ini…. hehe…