Sebuah pilihan

30 05 2009

Dear kawan

 Membaca Majalah Tempo terbitan tanggal 25 Mei 2009 lalu, ada yang sedikit menggelitikku untuk angkat bicara… eh angkat pena, eh…. angkat laptop untuk memberi komentar. Yang mau kukomentari ya tulisan tentang diriku sendiri… hehe. For your info, aku sempat numpang nampang di Majalah Tempo edisi tersebut yang memang memuat laporan khusus tentang Perguruan Tinggi di Indonesia, termasuk UGM. Yang menggelitikku adalah judul tulisannya yang menurutku terlalu bombastis, yaitu “Bukan Profesor Biasa”…. Wah..wah, apa ini? Memangnya profesor yang biasa yang seperti apa? Aku memahami bahwa itu adalah “bahasa koran/majalah”, sehingga perlu agak “wah” agar menarik perhatian pembaca. Cuma aku jadi sungkan sendiri…..
Kayaknya ada yang perlu sedikit diluruskan dan ditempatkan secara proporsional mengenai status professorship ini. Tidak memandangnya terlalu hebat atau sebaliknya, tapi pas gitu loh. .. Oya, sebetulnya mengapa aku yang muncul di halaman tentang UGM, semata-mata karena kebetulan saja. Ketika Pak Dekan dikontak oleh Majalah Tempo, beliau mengarahkan kepada Wakil Dekan 3 untuk memberi keterangan, dan Pak WD3 memaparkan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan dan tentang beberapa karya mahasiswa yang menonjol. Nah dari situ, mahasiswa ditanyai siapa dosen yang bisa diprofilkan, muncullah namaku (thanks for Rosa). Hm… jadilah aku dikontak oleh wartawan Tempo tersebut untuk wawancara per telepon. Semula lewat SMS ditanyakan macam penelitian yang sudah kulakukan. Wah, kalau harus nulis lewat SMS untuk menyebut penelitian2 yang sudah dan sedang kulakukan ya jariku bisa “keju”…. jadi kuminta saja menengok di blog-ku, baru kalau ada yang ingin ditanyakan lebih lanjut bisa kontak aku lagi.

 Nah, kembali ke masalah professorship tadi, ada satu pertanyaan wartawan tersebut yang menurut aku “kurang pas” (maaf, mas wartawan). Dia tanya, “ Mengapa UGM menobatkan ibu sebagai profesor ?”…. Hm, aku bilang bahwa istilah menobatkan itu kurang pas, kesannya bahwa inisiatif menobatkan menjadi profesor adalah berasal dari UGM. Kejadiannya bukan demikian. Kalau aku boleh bilang, menjadi profesor itu pilihan hidup. Mau nggak jadi profesor juga pilihan. Orang boleh memilih, mau jadi profesor atau tidak. Banyak dosen yang lebih senior dari aku dan jauh lebih banyak prestasinya, dan layak menjadi profesor, tetapi belum menjadi profesor. Mengapa? Karena mereka belum mengajukan usulan kenaikan jabatan menjadi profesor atau guru besar. Mengapa belum? Ya mungkin ada yang tidak ingin menjadi profesor, atau terlalu low profile untuk menjadi profesor, atau malas dengan keribetan mengurus berkas-berkas usulan kenaikan pangkat yang lumayan banyak, atau masih menunggu saat yang pas menurut mereka, atau ada alasan yang lain, aku tidak tahu. Sedangkan aku sendiri, mengapa berani-beraninya mengusulkan kenaikan jabatan menjadi guru besar pada usia yang relatif muda dan belum banyak pengalaman? Yang pernah kupostingkan sebelumnya somewhere in my blog, hm…. aku bilang, bahwa aku hanya mengejar sebuah momentum, yang barangkali akan menjadi sesuatu yang istimewa dalam hidupku, yang kayaknya cukup mengesankan untuk diceritakan ke anak cucu. Kebetulan angka kreditku mencukupi. Sederhana bukan?

Jadi sebenarnya yang belum profesor pun belum tentu kapasitasnya di bawah profesor. Atau sebaliknya, juga tidak selalu yang profesor itu pasti lebih hebat dari yang belum profesor. Professorship di sini memang inisiatifnya datang dari yang bersangkutan, tentunya setelah melalui proses-proses penilaian angka kredit sesuai aturan yang berlaku. Jika dianggap cukup memenuhi syarat, UGM akan mengusulkan kepada Mendiknas untuk memberikan jabatan Guru Besar pada yang bersangkutan. Jadi bukan “UGM  menobatkan seseorang menjadi profesor”. Dan kalau aku disebut dalam tulisan itu sebagai “bukan profesor biasa”…. hm… dimana ya letak tidak biasanya? (anyway, thanks, Tempo, atas “julukannya”). Aku menjalani prosedur seperti biasa. Kalau dari segi usia.. hm… itu juga bukan luar biasa, karena inisiatif datang dari aku sendiri (yang terlalu berani)…. kebetulan saja inisiatif ini datang pada usia relatif muda.

Begitulah, sekedar untuk meluruskan saja….. soalnya terus terang aku jadi agak kikuk, jika kemudian orang berharap terlalu banyak dari yang “bukan biasa” ini, yang padahal sebenarnya biasa-biasa saja. Terimakasih pengertiannya…. mohon maaf kalau ada kata-kata yang kurang pas…

Iklan




Pelupa = tanda-tanda penyakit Alzheimer ?

30 05 2009

Dear kawan,

veer200602_fancy_Page_26_Image_0001“Apa kabar? Masih ingat saya, nggak, Mbak?”…. begitu seringkali kuterima sapaan melalui Face Book. Hm… kadang ingat, kadang ada yang sudah lupa. Maklum… sudah lama tidak pernah ketemu. Tapi ngomong-omong masalah lupa, ada yang sedang sedikit kukuatirkan akhir-akhir ini….. Rasanya makin hari makin mudah lupa…. kenapa ya? Ketika kuceritakan pada suami, dia mencandai…”berarti memang sudah pantes jadi profesor…

Dalam beberapa hari kemaren, aku sudah banyak melupakan beberapa hal penting, termasuk kuliah. Sampai malu sendiri (sory, my dear students!). Hari Kamis kemarin ada undangan untuk menghadiri pengukuhan Guru Besar Prof. dr. Sunartini, SpA(K), PhD, dari Fakultas Kedokteran. Beliau meminta kami datang mengenakan toga Guru Besar. For your info, kalau ada pengukuhan Guru Besar baru, maka para guru besar diminta hadir mengenakan toga dan duduk di bagian depan bersama anggota Majelis Guru Besar yang lain. Bu Sunartini termasuk kenalan baik karena kami berada dalam satu tim ketika acara benchmarking ke Belanda bulan Maret lalu. Jadi aku memutuskan untuk menghadiri sebagai penghargaan terhadap beliau. Salahnya…… aku lupa kalau hari Kamis pagi itu masih ada kuliah, dan akupun lupa belum menyampaikan kepada partnerku bu Woro mengenai hal ini. Pikiranku bahkan agak terlalu fokus pada rencana menghadiri acara pengukuhan. Maklum, ada rasa agak gimana gitu…. soalnya bakal bergabung dengan banyak profesor-profesor betulan dan senior dari Fakultas Kedokteran…. Rasanya kaya “uji nyali” aja….hehe…. Wah, untung bu Woro bisa dengan sigap mengawal diskusi dalam kuliah… Payah bukan?

Sehari sebelumnya, aku lupa meninggalkan mapku berisi surat-surat di ruang kuliah. Kalau jenis lupa yang seperti ini sih agak sering. Kalau yang ketlingsut adalah HP, masih agak mudah, bisa di-call. Tapi kalau barang lain… Wah, repot. Kamis sorenya, aku lupa lagi kalau masih ada kuliah. Semakin payah bukan? Soalnya rasanya kayak sudah selesai masa perkuliahan karena sudah mulai diminta bikin soal ujian… eh, ternyata masih ada kuliah sekali lagi.  Aku baru saja duduk lagi di ruangan setelah keluar sebentar menjemput anak sekolah dan sedang membuka pecel untuk makan siang ketika tiba-tiba seorang mahasiswa menelponku bahwa sudah ditunggu di ruang kuliah. Waduh, My God…! Wah ada kuliah to? Aku lupa blas ! Sory banget. Aku nggak pernah selupa ini sebelumnya……. Bungkusan pecel yang sudah kubuka dan belum sempat kunikmati lalu kutinggal dan aku berlari menuju ruang kuliah. Sore sepulang kuliah dan sedang dalam perjalanan, sekretarisku menelpon apakah aku tidak kehilangan dompet? Ternyata aku pun lupa meninggalkan dompetku di ruangan kantor. Ughhh…….. Astaghfirullohal’adziim….

Apakah karena sudah mulai overload yah…… ? Harus beralih dari satu urusan ke urusan lain dengan cepat dalam hitungan menit dalam sehari atau seminggu. Sehingga ada yang tercecer. Kayaknya aku memang mulai harus mengurangi beberapa aktivitas. Mudah-mudahan saja bukan gejala awal dari Alzheimer disease…. (amien). Apa itu Alzheimer disease?

Alzheimer disease

Penyakit ini menjadi terkenal setelah mantan Presiden AS Ronald Reagan menderita penyakit ini setelah turun dari kursi kepresidenannya. Dideskripsikan pertama kali oleh dokter Alois Alzheimer pada tahun1907, penyakit ini merupakan suatu suatu sindrom demensia (kepikunan) yang ditandai dengan penurunan ingatan dan kemampuan kognitif pasien secara progresif/cepat. Apa bedanya dengan kepikunan biasa yang biasanya dijumpai pada orang lanjut usia? Bedanya, pada Alzheimer perkembangan penyakitnya sangat cepat. Tapi memang tidak banyak orang memahami hal ini, dan seringkali penyakit ini dianggap sebagai penyakit kepikunan biasa.

Apa yang terjadi pada otak penderita Alzheimer?

Pasien umumnya mengalami penyusutan otak dan terjadi pengurangan (degenerasi) saraf secara signifikan, terutama pada saraf kolinergik. Kerusakan saraf kolinergik terjadi terutama pada daerah limbik otak (yang terlibat dlm emosi) dan korteks (yang terlibat dlm memori dan pusat pikiran/advanced reasoning center). Ini yang menyebabkan penderita mengalami penurunan ingatan dan kemampuan intelektual yang terjadi secara cepat dan mempengaruhi fungsi sosialnya.

Beberapa gejalanya diantaranya adalah:

– penurunan ingatan jangka pendek atau kemampuan belajar atau menyimpan informasi

– penurunan kemampuan berbahasa dan kesulitan menemukan kata atau kesulitan memahami pertanyaan atau petunjuk

– ketidakmampuan menggambar atau mengenal gambar dua-tiga dimensi, dll.

Berdasarkan Global Deterioration Scale, perkembangan penyakit ini dari awal sampai akhir adalah seperti tertera dalam tabel di bawah ini.

Stage Level Deskripsi
Stage 1 Normal Tidak ada perubahan fungsi kognitif
Stage 2 Pelupa Mengeluh kehilangan sesuatu atau lupa nama teman, ttp tdk mempengaruhi pekerjaan dan fungsi sosial. Umumnya mrpk bagian dari proses penuaan yg normal
Stage 3 Early confusion Ada penurunan kognisi yang menyebabkan gangguan fungsi sosial dan kerja. Anomia, kesulitan mengingat kata yang tepat dlm percakapan, dan sulit mengingat. Pasien mulai sering bingung/anxiety
Stage 4 Late confusion(early AD) Pasien tdk bisa lagi mengatur keuangan atau aktivitas rumahtangga, sulit mengingat peristiwa yg baru terjadi, mulai meninggalkan tugas yang sulit, tetapi biasanya masih menyangkal punya masalah memori
Stage 5 Early dementia(moderate AD) Pasien tidak bisa lagi bertahan tanpa bantuan orang lain. Sering terjadi disorientasi (waktu, tempat), sulit memilih pakaian, lupa kejadian masa lalu. Tetapi pasien umumnya masih menyangkal punya masalah , hanya biasanya jadi curigaan atau mudah depresi
Stage 6 Middle dementia(moderately severe AD) Pasien butuh bantuan untuk kegiatan sehari-hari (mandi, berpakaian, toileting), lupa nama keluarga, sulit menghitung mundur dari angka 10. Mulai muncul gejala agitasi, paranoid, dan delusion
Stage 7 Late dementia Pasien tidak bisa bicara jelas (mgkn cuma bergumam atau teriak), tidak bisa jalan, atau makan sendiri. Inkontinensi urin dan feses. Kesadaran bisa berkurang dan akhirnya koma.

Bagaimana terapinya?

Tentu tidak mungkin untuk membuat orang menjadi muda kembali dan mengembalikan sel-sel sarafnya untuk kembali seperti sedia kala, sehingga tujuan terapi adalah memelihara fungsi-fungsi pasien selama mungkin, menunda perkembangan penyakit, dan mengontrol gangguan/kelakuan yang tidak diinginkan. Perlu ada kerjasama yang baik dari keluarga untuk mensupport pasien, karena pada stage tertentu pasien sudah tidak bisa lagi melakukan kegiatan harian secara mandiri.

Kalau dari segi obatnya, ada beberapa obat yang bisa digunakan, yaitu :

1. Terapi pertama adalah untuk mengatasi gejala penurunan kognisi atau menunda progresivitas penyakit, disebut terapi kolinergik. Terapi ini ditujukan untuk meningkatkan kadar asetilkolin di otak dengan cara menghambat pengrusakan asetilkolin oleh enzim. Golongan obatnya disebut kolinesterase inhibitor, contoh obatnya adalah takrin, donepezil, rivastigmin, galantamin

2. Terapi kedua untuk mencegah degenerasi sel syaraf, misalnya dengan Vitamin E sebagai antioksidan kuat, dan obat yang bekerja pada reseptor glutamat, yaitu memantin. Ekstrak ginko biloba pernah disebut-sebut juga memiliki efek proteksi syaraf dan meningkatkan daya ingat. Tetapi informasi terakhir dari uji klinik tentang penggunaan ginko biloba untuk mencegah penyakit Alzheimer menunjukkan bahwa Ginko biloba tidak memberi efek signifikan. Bisa dilihat pada http://www.emaxhealth.com/1002/91/26772/ginkgo-biloba-does-not-prevent-alzheimer-039-s-disease.html. Sedangkan Vitamin E ternyata cukup efektif untuk mencegah kepikunan, seperti yang dilaporkan pada pertemuan ilmiah tahunan American Geriatrics Society (AGS) 2009. Lengkapnya dapat dicek pada http://www.medscape.com/viewarticle/702333.

Hm… mungkin aku perlu mulai minum vitamin E nih dari sekarang……

3. Terapi ketiga adalah terapi simptomatik untuk mengurangi gejala-gejala non-kognitif, seperti depresi, kecemasan, insomnia, halusinasi, dll. Untuk mengatasi gejala ini digunakan obat yang sesuai, misalnya depresi diatasi dengan antidepresan, kecemasan diatasi dengan penenang, dst.

Mengingat Allah

Ketika aku tulis di status Face Book-ku bahwa aku sekarang merasa sudah mulai pelupa, seorang sahabat nyeletuk untuk “banyak-banyak dzikir biar ingat”….. hehe… Tapi benar sekali sih….. Penyakit itu datangnya atas ijin Allah. Maka kita perlu selalu mengingatNya dan memohon untuk selalu diberi hidayah dan petunjukNya, melalui daya ingat dan daya pikir kita…. semoga tetap bekerja sesuai alamnya. Dan semoga dengan daya ingat dan daya pikir yang diberikanNya, kita bisa memanfatkannya sebanyak-banyaknya untuk kemaslahatan orang banyak. Amien.





Seminar – Vitamin C – Tengkleng Solo

24 05 2009

Dear kawan,

Kata-kata dalam judul posting ini nggak ada saling keterkaitannya sama sekali……. Apakah ada seminar mengenai Vitamin C yang terkandung dalam tengkleng Solo ? Hm….  tentu tidak, emangnya tengkleng mengandung Vit C ? Kalaupun ada mungkin sedikit sekali…… Lalu apa maksudnya? Ya, itulah yang pengalaman yang kulalui hari Sabtu lalu….

 Jadi ceritanya hari Sabtu kemarin aku diundang untuk menjadi pembicara di sebuah Seminar Nasional di Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi Surakarta. Bukan tentang Vit C dalam tengkleng, tetapi temanya cukup bombastis juga, yaitu : Kajian tentang rematik: Segala Permasalahan dan terapinya.

Jadilah, pagi-pagi jam 7 aku berangkat menyusuri jalan ringroad utara ke arah timur menuju Solo. Pagi cukup ramah dan cerah, jalanan juga belum terlalu ramai. Jam 8.30an sudah sampai di sana, disambut dengan wedang jahe hangat dan kudapan ringan sebelum acara. Aku ada dalam satu sesi bersama Dr. Nyoman Kertia (ahli rheumatology dari RS Sardjito Yogya), dan ibu Dra Titik Marminah (praktisi apoteker di Solo). Aku kebetulan dapat giliran sebagai pembicara ketiga dengan topik ”Obat-obat rematik terkini dan permasalahannya”.

Hm… jadi pembicara ketiga ada enak dan tidaknya …. enaknya beberapa hal sudah dijelaskan oleh pembicara sebelumnya, sehingga tinggal menggaris-bawahi saja. Susahnya, audiens sudah mungkin sudah cukup capek mendengarkan presentasi2 yang lumayan panjang. Sementara waktunya pun sudah menjorok siang… jadi waktunya terasa agak diburu-buru.

 Seminar berjalan lancar. Dr Nyoman cukup kocak ketika menyampaikan paparannya tentang patofisologi dari beberapa jenis penyakit artritis. Penyakit artritis itu banyak macamnya lo…. katanya bisa sampai 100 macam. Tapi yang disampaikan dalam seminar tentu tidak semuanya,…… bisa-bisa butuh tiga hari tiga malam untuk menjelaskan.  Bu Titik menyampaikan tentang tatalaksana terapi berbagai penyakit artritis, terutama pada farmasi komunitas. Aku sendiri memaparkan obat-obat rematik terkini dan permasalahnnya. Pada dasarnya, obat-obat rematik untuk osteoatritis atau gout tidak ada yang sangat baru. Untuk pengobatan rematik ini sudah pernah aku tuliskan somewhere in my blog (bisa ditengok di : https://zulliesikawati.wordpress.com/2008/11/03/pengobatan-untuk-reumatik-dan-encok/ ).

Memang ada satu-dua obat baru untuk pengobatan artritis. Perkembangan obat-obat baru dijumpai pada pengobatan rheumatoid arthritis yang merupakan penyakit persendian dan sekaligus merupakan penyakit autoimun. Obat-obat baru itu adalah golongan agen biologis,  antagonis reseptor IL-1 (anakinra) dan antibodi terhadap TNFalfa (contoh: etanercept, infliximab, dan adalimumab). Obat terbaru untuk agen biologis adalah abatacept yang menekan aktivitas sel T yangberperan dalam sistim imun, dan rituximab. Kalau dicari masalahnya, maka masalah utama untuk obat-obat ini adalah harganya yang selangit, apalagi untuk ukuran kantong kebanyakan dari kita. Satu paket untuk pemakaian dua minggu harganya Rp 6 juta. Sebulan 12 juta, setengah tahun sudah 72 juta. Bisa bayangkan sendiri…….

 Sedangkan hal yang relatif baru bagi pencegahan penyakit asam urat (hiperurisemia) adalah vitamin C,  yang pernah dilaporkan mengurangi kejadian hiperurisemia pada pria. Hal ini sudah pernah aku tuliskan di blog ini juga.

 Vitamin C dan osteoporosis?

Pada sesi tanya jawab banyak juga pertanyaan yang datang untuk ketiga pembicara. Salah satu pertanyaan menarik untukku yang agak sedikit menyimpang dari topik artritis adalah tentang Vitamin C dan efeknya menyebabkan osteoporosis. Menanggapi paparanku tentang peranan Vit C dalam menghambat hiperurisemia, penanya menceritakan bahwa ia rajin mengkonsumsi vitamin C dosis tinggi (500-1000 mg/sehari), dan ia mendengar dari temannya bahwa Vitamin C bisa menyebabkan osteoporosis. Ia menanyakan kebenaran hal itu dan bagaimana dengan kebiasaannya minum vitamin C, apakah harus dihentikan.

Aku segera searching informasi tentang ini, dan yang kutemukan cukup menarik, karena faktanya justru sebaliknya. Sebuah tulisan dari http://www.webmd.com/osteoporosis/news/20080919/vitamin-c-good-bones  menyatakan bahwa vitamin C bagus untuk tulang, terutama untuk pria usia lanjut. Hasil penelitian tentang hal ini dipublikasikan di Journal of Nutrition tahun 2008.

 Jalannya penelitian

Tucker (sang peneliti) dan team-nya mengevaluasi kepadatan tulang pada 213 pria dan 393 wanita, yang berusia 75 tahun pada saat awal penelitian, selama periode 4 tahun  dan melihat apakah ada hubungan antara intake vitamin C dengan kepadatan tulang. Partisipan pada study ini adalah juga partisipan pada study besar yang bernama Framingham Osteoporosis Study. Peneliti mengamati pada hasil quesioner tentang diet partisipan dan mengevaluasi perubahan pada densitas tulang pada tulang pinggul, tulang punggung, dan lengan setelah 4 tahun. Hasilnya?

Pria dengan intake vitamin C tertinggi mengalami pengurangan kepadatan tulang terkecil pada tulang pinggul. Hal yang sama tidak dijumpai pada wanita. Diperkirakan faktor hormonal pada wanita lah yang menyebabkan efek ini tidak dijumpai pada wanita. Efeknya menjadi paling signifikan pada kadar tertinggi, yaitu sekitar 314 mg Vit C sehari, yang berasal dari suplemen maupun makanan. Sedangkan pada mereka yang konsumsinya terendah, yaitu sekitar 106 mg/sehari, kehilangan kepadatan tulangnya mencapai 5,6 %.

Bertambah lagi deh fungsi asupan Vitamin C…  Jadi, asal tidak ada masalah dengan gangguan saluran cerna akibat keasaman vit C, silakan saja mengkonsumsi vitamin C setiap hari, baik dari makanan alami maupun suplemen. Untuk wanita memang belum terbukti efeknya dalam mempertahankan densitas tulang, tapi yang jelas tidak ada bukti bahwa ia menyebabkan osteoporosis. Apalagi jika dalam bentuk kombinasi dengan Calcium seperti yang banyak dijumpai dalam produk suplemen Vit C, tentu akan justru mnghindarkan dari osteoporosis. Selain itu, vitamin C juga banyak berperan dalam kecantikan karena membantu sintesis kolagen sehingga membuat kulit tetap kencang tidak mudah keriput…

 Menikmati Tengkleng

tengkleng Solo

tengkleng Solo

Siang seusai seminar, aku ditemui teman SMA dan ditraktir makan tengkleng, salah satu masakan khas Solo. Tengkleng dibuat dari bagian-bagian tertentu dari kambing dan dimasak mirip gulai namun lebih encer. Ketika makan, aku agak sulit mengidentifikasikan dari bagian manakah dari kambing itu yang sedang kumakan…. Tapi I don’t care about it lah….. pokoknya enak….

Pertemuanku dengan Budi, teman SMAku ini, juga sedikit unik. Terus terang, sebelum bertemu aku bahkan agak lupa ini Budi yang mana hehe…. (sory, Bud..). Ceritanya aku menulis di status Face Book-ku bahwa aku akan ke Solo. Dan kemudian datanglah comment darinya untuk mengontaknya kalau aku jadi ke Solo dan ia memberikan nomer teleponnya. Jadilah, untuk sebuah silaturahmi kawan lama yang sudah berpisah lebih dari 20 tahun… kami bertemu di warung tengkleng. Selain Budi, aku ketemu pula dengan Ebrahm dan keluarganya yang sekarang juga berdomisili di Solo.

Kawan,

malamnya ketika sudah di rumah, aku mendengar berita di TV bahwa sudah mulai suara-suara untuk mengharamkan Face Book karena katanya menjadi media untuk menyebarkan gambar porno, memfitnah, menipu, dsb. … Wah,… aku jadi tak tau mau komentar apa. Soalnya siangnya aku baru mendapat manfaat dari Face Book yang telah menyambungkan tali silaturahmi dengan teman SMA yang sudah 20-an tahun tidak ketemu, ditraktir tengkleng pula. Sama sekali jauh dari urusan negatif.  Apakah tidak berlebihan tuh? Mengapa tidak internetnya saja dilarang karena teknologi internet-lah yang memungkinkan pengiriman gambar porno, dsb-nya tadi. Face Book hanyalah tools saja….. mungkin suatu saat akan beralih ke teknologi lain yang lebih menarik. Aku bukan pendukung Face Book walaupun aku juga kerap menggunakannya. Tapi menurutku terlalu berlebihan jika sampai dilarang….  Para pengguna memang dituntut untuk bijaksana dalam menggunakannya. Kadang kalau sudah Face Book-an memang banyak yang lupa waktu, lupa tugas, dll.

Begitulah ceritaku hari ini. Tidak terlalu menarik, tapi itulah yang bisa kutuliskan….





Memilih analgesik yang pasti pas…..

21 05 2009

Dear kawan,

Ada yang belum pernah merasakan nyeri ? Pasti semua orang sudah pernah merasakan nyeri. Bisa sakit kepala, nyeri haid, nyeri punggung, rematik, dan lain-lain, sampai nyeri yang berat, seperti nyeri kanker, nyeri pasca operasi, dll. Obat anti nyeri itu namanya analgesik. Analgesik apa yang biasanya Anda gunakan ketika nyeri?  Parasetamol, aspirin, antalgin, asam mefenamat, piroksikam, meloksikam, ibuprofen, diklofenak, ketorolak,  atau yang lain? Untuk nyeri ringan sampai sedang, kita bisa menggunakan obat-obat analgesik (pereda) nyeri tanpa resep.  Untuk nyeri berat tentu memerlukan analgesik yang lebih kuat seperti analgesik golongan narkotik yang harus diperoleh dengan resep dokter. Obat analgesik mudah diperoleh di mana-mana, sampai ke warung-warung kecil di sekitar kita. Kelihatannya hanya obat sepele, tetapi jika pemilihan tidak tepat, bisa-bisa malah mendapat masalah yang tidak diinginkan.

 Seorang mahasiwa pernah berkonsultasi tentang pengalamannya menggunakan obat anti nyeri natrium diklofenak setelah dia terkena cedera sehabis olahraga. Dia mengalami reaksi obat yang disebut Stevens-Johnson syndrome, yaitu reaksi alergi berat yang ditandai dengan melepuh dan membengkaknya selaput mukosa di rongga mulut, kulit kemerahan, demam, dan beberapa gejala lain. Ini memang reaksi alergi yang sulit diprediksi sebelumnya. Aku hanya menyarankan bahwa setelah tahu dia ternyata hipersensitif terhadap golongan obat ini, maka dia harus hati-hati untuk memilih obat analgesik, jangan menggunakan obat sejenis apapun merk-nya.

 Apakah ada efek samping obat AINS yang bisa diprediksi atau lebih sering kejadiannya sehingga kita bisa menghindari penggunaannya?

Ya, ada. Obat-obat golongan anti inflamasi non-steroid (AINS) seperti yang disebut di atas umumnya memiliki efek samping pada lambung. Seorang sejawat menceritakan bahwa setelah menggunakan piroksikam, lambungnya terasa perih.

 Mengapa obat AINS menyebabkan gangguan lambung?

Obat-obat AINS bekerja dengan cara menghambat sintesis prostaglandin. Prostaglandin sendiri adalah suatu senyawa dalam tubuh yang merupakan mediator nyeri dan radang/inflamasi. Ia terbentuk dari asam arakidonat pada sel-sel tubuh dengan bantuan enzim cyclooxygenase (COX). Dengan penghambatan pada enzim COX, maka prostaglandin tidak terbentuk, dan nyeri atau radang pun reda.

Tapi kawan,….. ternyata COX ini ada dua jenis, yaitu disebut COX-1 dan COX-2. COX-1 ini selalu ada dalam tubuh kita secara normal, untuk membentuk prostaglandin yang dibutuhkan untuk proses-proses normal tubuh, antara lain memberikan efek perlindungan terhadap mukosa lambung. Sedangkan COX-2, adalah enzim yang terbentuk hanya pada saat terjadi peradangan/cedera, yang menghasilkan prostaglandin yang menjadi mediator nyeri/radang. Jadi, sebenarnya yang perlu dihambat hanyalah COX-2 saja yang berperan dalam peradangan, sedangkan COX-1 mestinya tetap dipertahankan. Tapi masalahnya, obat-obat AINS ini bekerja secara tidak selektif. Ia bisa menghambat COX-1 dan COX-2 sekaligus. Jadi ia bisa menghambat pembentukan prostaglandin pada peradangan, tetapi juga menghambat prostaglandin yang dibutuhkan untuk melindungi mukosa lambung. Akibatnya? Lambung jadi terganggu….  

 Bagaimana pengatasannya?

Untuk mengatasi efek obat AINS terhadap lambung, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, sebaiknya digunakan setelah makan untuk mengurangi efeknya terhadap lambung. Kedua, obat golongan AINS umumnya dalam bentuk bersalut selaput yang bertujuan mengurangi efeknya pada lambung, maka JANGAN DIGERUS atau DIKUNYAH. Ketiga,  jika memang menyebabkan lambung perih atau sudah ada riwayat maag atau gangguan lambung sebelumnya, bisa diiringi penggunaannya dengan obat-obat yang menjaga lambung seperti antasid, golongan H2 bloker seperti simetidin atau ranitidin, golongan penghambat pompa proton seperti omeprazol atau lansoprazol, atau dengan sukralfat.

Kekuatan efek samping obat ini terhadap lambung berbeda-beda antar satu obat dengan yang lain, maka pilihlah yang efeknya terhadap lambung paling kecil.  Adapun urutannya dari yang paling berisiko pada beberapa obat AINS terhadap lambung adalah sebagai berikut : 

NSAID Relative risk of GI complications
Indomethacin 2.25
Naproxen 1.83
Diclofenac 1.73
Piroxicam 1.66
Tenoxicam 1.43
Meloxicam 1.24
Ibuprofen 1.19

                          Sumber : http://www.medscape.com/viewarticle/537837

 Tapi sebaiknya, mereka yang sudah punya riwayat gangguan lambung menghindari penggunaan obat-obat AINS ini. Alternatif yang paling aman adalah parasetamol atau asetaminofen. Obat ini tersedia dalam berbagai merk.

 Mengapa parasetamol relatif aman terhadap lambung?

Parasetamol termasuk obat lama yang bertahan lama sebagai analgesik, karena relatif aman terhadap lambung. Juga merupakan analgesik pilihan untuk anak-anak maupun ibu hamil/menyusui. Mengapa ia sedikit beda dengan teman-temannya sesama pereda nyeri?

Ya, parasetamol memiliki sedikit perbedaan dalam target aksi obatnya. Parasetamol tidak berefek sebagai anti radang, tetapi lebih sebagai analgesik dan anti piretik (obat turun panas). Ternyata, selain COX-1 dan COX-2, ada pula COX-3. Ada peneliti yang menyatakan bahwa COX-3 adalah varian dari COX-1, yang terdistribusi di sistem saraf pusat. Dengan penghambatan terhadap COX-3 di otak/sistem saraf pusat, maka efeknya lebih terpusat dan tidak menyebabkan gangguan pada lambung. Maka buat mereka yang punya gangguan lambung, parasetamol adalah pilihan yang aman.

Tapi bukan berarti parasetamol tidak punya efek samping loo…..  Efek samping parasetamol larinya ke liver/hati. Ia bersifat toksik di hati jika digunakan dalam dosis besar. Karena itu, dosis maksimal penggunaan parasetamol adalah 4 gram/sehari atau 8 tablet @ 500 mg/sehari. Melebihi itu, akan berisiko terhadap hati.

 Efek samping AINS terhadap asma

Selain berefek samping terhadap lambung, AINS juga sering disebut-sebut bisa memicu kekambuhan asma buat mereka yang sudah punya riwayat asma. Bahkan cukup banyak pula penderita asma yang sensitif terhadap aspirin, yang terpicu kekambuhan asmanya jika minum aspirin. Kok bisa ya? Tidak begitu pasti penyebabnya, tetapi diduga hal ini berkaitan dengan dampak dari penghambatan terhadap enzim COX. Penghambatan terhadap COX akan mengarahkan metabolisme asam arakidonat ke arah jalur lipoksigenase yang menghasilkan leukotrien. Leukotrien sendiri adalah suatu senyawa yang memicu penyempitan saluran nafas (bronkokonstriksi). Karena itu, penderita dengan riwayat asma juga harus hati-hati menggunakan obat-obat AINS. Alternatif paling aman ya kembali ke parasetamol.

 Apa alternatif lainnya?

Setelah mengetahui bahwa enzim COX yang lebih berperan dalam peradangan adalah COX-2, bukan COX-1, maka para ahli berpikir untuk membuat obat yang khusus menghambat COX-2 saja. Maka muncullah obat-obat coxib, yaitu celecoxib, rofecoxib, valdecoxib, dll. Obat-obat ini sangat laris ketika pertama kali dimunculkan, karena memenuhi harapan sebagian besar pasien yang harus mengkonsumsi AINS dalam jangka waktu lama, tapi terhindar dari efek terhadap lambung.

 Apakah obat ini bebas dari efek samping?

Hm…. ternyata tidak juga tuh. Beberapa tahun setelah diluncurkan di pasar, mulai ada laporan-laporan kejadian efek samping gangguan kardiovaskular pada penggunaan obat-obat ini, yaitu terjadinya gangguan jantung iskemi atau stroke iskemi. Mengapa bisa terjadi?

Ternyata penghambatan secara selektif terhadap COX-2 juga memunculkan masalah lain. Diketahui bahwa selain prostaglandin, COX-1 juga mengkatalisis pembentukan tromboksan A2, suatu senyawa dalam tubuh yang berperan dalam pembekuan darah dan bersifat vasokonstriktor (menyebabkan penyempitan pembuluh darah). Ketika COX-1 dibiarkan tidak terhambat, maka pembentukan tromboksan jalan terus, dan ini ternyata dapat menyebabkan meningkatnya risiko terbentuknya gumpalan-gumpalan darah kecil (blood clots) yang dapat menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah. Jadilah gangguan kardiovaskuler seperti yang disebutkan di atas.

Karena itu, VIOXX (rofecoxib) yang sudah beredar di pasar, pada tahun 2004 ditarik lagi dari peredaran oleh produsennya. Sementara itu, celecoxib (Celebrex) tetap masih boleh beredar tetapi perlu ada pelabelan ulang pada kemasannya, di mana perlu dinyatakan bahwa obat ini harus digunakan secara hati-hati oleh mereka yang memiliki riwayat gangguan kardiovaskuler.

 Begitulah….. ternyata walaupun “cuma” mencari obat penghilang sakit, juga perlu ada ilmunya. Dan perlu diingat, sebaiknya obat penghilang sakit ini digunakan hanya jika perlu saja, karena obat-obat ini sifatnya adalah simtomatik, atau menghilangkan gejala. Jika penyebab sakitnya sendiri belum hilang, maka nyeri masih mungkin akan muncul kembali. Jadi misalnya sakit kepala karena banyak hutang,… maka segeralah bayar hutangnya…… analgesik tidak bisa menyelesaikan masalah Anda.

 Oke, demikianlah sekilas info.. Kalau masih bingung dalam memilih obat analgesik, belilah di Apotek, dan carilah Apotekernya untuk berkonsultasi…

Semoga bermanfaat…





My busy week

17 05 2009

Dear kawan,

Week end datang lagi…. waktu berjalan begitu cepat… Seminggu terakhir ini lumayan padat acara. Baik urusan rumah atau pekerjaan. Si sulung Afan menjalani UAN (Ujian Akhir Nasional) SD-nya pada tanggal 11-13 Mei kemaren.. Alhamdulillah… pokoknya sudah lewat deh. Anaknya sih tenang-tenang saja, ortunya yang agak stress…. Doakan saja mudah-mudahan nilainya bagus dan nanti bisa masuk SMP yang baik pula. Amien.

Hanisa, 6 tahun, anakku yang kedua, lagi pengen punya kucing. Beberapa waktu lalu di rumah ada kucing liar yang datang entah dari mana, ia senang sekali. Kucingnya pun betah di rumah. Diberinya nama Bingki. Entah dari mana ide namanya itu. Tapi lama-lama kucingnya nakal, suka naik meja makan, tiduran di mushola rumah bawa ekor kadal, dll. Uh… sebel juga. Akhirnya diputuskan untuk membuang kucing itu ke pinggir jalan agak jauh dari rumah. Hani pun menangis bombay kehilangan kucingnya….. minta dibelikan kucing baru. Akhirnya aku kasihan juga melihatnya. Tapi untuk membelikan kucing betulan yang bagus… aduuh, mikir-mikir juga. Disamping mahal, ia sendiri pasti belum mengurus dengan benar-benar… jadilah untuk latihan aku carikan kucing kampung saja. Yang penting bersih dan lucu. Thanks for kemajuan teknologi informasi jaman kini….. lewat pengumuman di Face book akhirnya Hani dapat kucing dari seorang yang berbaik hati menghibahkan kucingnya (Thanks for Mutiara)… Hm.. ia sekarang sedang asyik dengan kucingnya,…. tapi biaya piara kucing lumayan besar ya hehe……. Minta dibelikan kandang, pasir khusus, tempat makan dan minumnya, makanan khusus kucing, dll……wuaduh..!!

Dhika mulai suka menyanyi. Alhamdulillah…. memang belum jelas benar lafalnya, tapi itu bagiku sudah kemajuan yang sangat membesarkan hati…. Lagu kesukaannya adalah Kupu-kupu yang lucu dan Si kancil anak nakal. Dhika sudah enjoy di Play Groupnya. Selain sekolah, ia juga menjalani terapi edukasi, terapi wicara, dan okupasi, masing-masing sekali seminggu. Doakan saja Dhika tambah banyak kemampuannya dan dapat mengejar ketertinggalannya dibanding teman-teman seusianya. Amien.
Bapaknya? Minggu ini bapaknya juga disibukkan dengan Pelatihan Audit Mutu Akademik Internal (AMAI) UGM. Artinya? Aku mesti siap-siap jadi tukang ojek, menggantikannya menjemput anak-anak sekolah…

Pelatihan Farmasi Klinik UGM
Di pertengahan minggu aku lumayan sibuk dengan Pelatihan Farmasi Klinik. Alhamdulillah, Pelatihan Farmasi Klinik UGM yang diselenggarakan oleh Magister Farmasi Klinik gelombang kedua berjalan lancar dengan peserta dari berbagai penjuru tanah air. Aku kebagian tugas memberikan materi tentang Farmakoterapi Artritis dan Nyeri. Topik epilepsi, nyeri dan artritis cukup menarik karena banyak dijumpai di masyarakat. Kelihatannya urusan nyeri itu sepele dan hanya pakai obat pereda nyeri saja (analgesik),…. tapi memilih analgesik itu ternyata tidak boleh sembarangan. Salah satu peserta dari Bangka Belitung bertanya tentang kasus pasiennya yang mengalami nyeri artritis (nyeri sendi). Kebetulan pasiennya alergi terhadap parasetamol, padahal ia juga punya gangguan lambung sehingga tidak tahan dengan analgesik golongan NSAID. Ndilalahnya, pasien juga tidak tahan menggunakan obat lambung cimetidin. Lalu apa pilihannya? Waduh…. repot juga kan? Untuk hal ini nanti akan aku postingkan tersendiri setelah ini.

Terusterang sebenarnya aku agak grogi juga bicara di hadapan teman-teman praktisi apoteker di lapangan, yang mereka jelas lebih punya pengalaman lapangan. Sedangkan pengalamanku cuma berkutat dengan buku-buku dan komputer. Tapi, dalang kan ora kurang lakon… hehe…….. Aku sampaikan bahwa Pelatihan ini merupakan media yang sangat baik untuk berbagi antara akademisi dan praktisi di lapangan…. Aku bisa membantu “membacakan” perkembangan evidence-based medicine terkini, sebaliknya aku juga bisa dapat cerita teman-teman sejawat tentang kasus yang ada di lapangan… demikianlah, memang kenyataannya.

Oya, special thanks buat sejawatku Drs. Budi Raharjo, SPFRS, Apt, dari RS Margono Sukarjo Purwokerto yang juga menjadi pembicara di Pelatihan ini. Pak Budi ini teman satu angkatanku saat kuliah dulu. Kami bahkan mengerjakan skripsi bersama karena di bawah satu dosen pembimbing. Beliau termasuk salah satu farmasi klinik/RS yang penuh dedikasi dan semangat tinggi untuk menjalankan pelayanan kefarmasian. Sebenarnya kalau semua sejawat bisa menjalankan apapun pekerjaan, termasuk pekerjaan kefarmasian, dengan tulus, ikhlas, penuh dedikasi, pantang menyerah, dan lillahi ta’ala….. Insya Allah farmasis bisa menjadi profesi yang bermanfaat dan “rahmatan lil alamiin”….. bermanfaat bagi semua umat di muka bumi… karena siapa sih orang di muka bumi ini yang belum pernah berurusan dengan obat?

Penelitian Hibah Kolaborasi Internasional
Mungkin akan kurang jika tidak kusebutkan pula. Ditengah-tengah minggu, tepatnya hari kamis pagi, aku harus presentasi proposal Penelitian Kolaborasi Internasional. Apaan tuh? Berbahagialah mestinya para dosen dan peneliti di UGM, tahun ini banyak guyuran dana penelitian dari beberapa sumber. Tapi tentunya harus diperebutkan secara kompetitif. Alhamdulillah, proposal penelitian kami yang diajukan untuk Hibah Kolaborasi Internasional lolos seleksi awal dan diundang presentasi. Penelitian jenis ini harus punya mitra kolaborasi dengan pihak internasional. Untuk itu kami pilih Jepang dengan Ehime University di mana aku (dan Pak Agung, anggota tim riset ini) belajar untuk S3(Thank you, Sensei, for our collaboration). Topik yang akan diteliti kali ini adalah mekanisme molekuler marmin (suatu senyawa aktif yang diisolasi dari buah Maja) sebagai agen anti alergi. Mudah-mudahan saja lolos dan dapat dana…. sehingga bisa visit ke Ehime lagi barang 1-2 minggu…. hehe…

Seminar ISFI di Cilacap
Minggu kedua bulan Mei ini aku tutup dengan perjalanan ke Cilacap. Cilacap, I’m coming ! Pergi ke Cilacap serasa balik ke rumah saja, karena perjalanannya sama seperti kalau aku balik kampung di Purwokerto. Bedanya sampai di Buntu bablas ke barat, sedangkan jika ke Purwokerto belok ke utara.
Kali ini aku diundang sebagai pembicara di Seminar ISFI yang diselenggarakan PC ISFI Cilacap, dan topik yang diangkat adalah “Peranan Farmasis sebagai Care Giver pada Gangguan Saluran Cerna Atas dan Bawah”. Bravo deh, teman-teman Cilacap, seminarnya sukses besar dari segi peserta, sekitar 200-an dan itupun pakai nolak-nolak peserta karena kapasitas tempat terbatas. Pesertanya juga tidak cuma farmasis, tetapi juga perawat dan bidan. Dokter ada juga, tapi sedikit. Katanya memang masih jarang ada seminar semacam itu, jadi antusiasmenya sangat besar. Servis panitia juga oke. Pembicara disediain mobil plus sopirnya untuk pulang pergi Jogja-Cilacap. Selain aku, materi tentang gangguan saluran cerna atas dan bawah juga dibahas dari sisi fisiologinya (diberikan oleh dokter), dan sisi penatalaksanaan gizi (disampaikan oleh ahli gizi). Aku tentu kebagian membahas farmakoterapinya menggunakan obat. Farmakoterapi yang kubahas adalah untuk penyakit pencernaan seperti tukak peptik, diare/konstipasi, tifoid, dan hemoroid.

Seminar berjalan baik dengan antusiasme besar dari para peserta, dengan banyaknya pertanyaan yang masuk saat forum diskusi. Seperti biasa, aku agak grogi juga melihat peserta yang cukup melimpah. Tapi seperti biasa pula, aku biarkan diriku mengalir saja mengikuti acara… aku anggap seperti memberi kuliah pada mahasiswa sendiri hehe……
Acara berakhir pukul 16 sore, dan aku pun segera pulang menyusuri jalan menuju Jogja dengan rasa puas telah menjalankan satu tugas, yang mudah-mudahan bermanfaat. Hari Sabtu depan Insya Allah gantian akan menuju Solo untuk mengisi Seminar Nasional yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi Surakarta (USBS), dengan kajian tentang Rematik : segala permasalahan dan terapinya.
Sampai di rumah menjelang jam 21, alhamdulillah. Setelah bersih-bersih dan bercengkerama sebentar, langsung saja kusantap sajian kepiting dan udang oleh-oleh dari Cilacap… Hmm… nyam-nyam……





Pelatihan Farmasi Klinik

11 05 2009

Dear kawan,
Seminggu ini aku punya gawe nih….. bukan mau mantu hehe…. tapi mulai hari Selasa ini sampai dengan Jumat, Magister Farmasi Klinik UGM menyelenggarakan Pelatihan Farmasi Klinik. Pelatihan ini ditujukan untuk teman-teman sejawat apoteker se Indonesia, yang ingin meng-update ilmunya di bidang kefarmasian terutama yang bersentuhan dengan pasien. Pelatihan seperti ini telah diselenggarakan secara rutin setiap tahunnya, bekerja sama dengan Direktorat Farmasi Klinik dan Komunitas, Dep Kesehatan RI, sejak tahun 2002 hingga sekarang. Topiknya berganti-ganti, dari Penyakit Kardiovaskuler dan DM, Kanker, Asma, PPOK, Infeksi dan alergi pada anak-anak, dll. Topik kali ini adalah Patofisiologi dan Farmakoterapi pada penyakit Artritis dan epilepsi, dengan mengundang beberapa dokter ahli dan pakar kefarmasian terkait.

O,ya… Pelatihan yang sama untuk gelombang ketiga akan diselenggarakan pada tanggal 16-18 Juni mendatang. Yang belum ikutan dan ingin refreshing di Yogya sambil menimba ilmu, silakan bergabung. Pendaftaran bisa dilakukan via telepon ke 0274-553110 (kontak person: Mbak Desy atau Mbak Tini), atau via e-mail : mfk_ugm@yahoo.com. Informasi lengkap dapat dilihat pada website: http://mfk.farmasi.ugm.ac.id.

Posting kali ini isinya iklan ini dulu ya…… belum sempat cerita yang lain nih….





Mempopulerkan hasil penelitian: Gamavuton-0 sebagai anti rematoid artritis

10 05 2009

Dear kawan,
Beberapa hari telah berlalu sejak aku pulang dari Kelantan. Biasa lah…. berderet pekejaan sudah menunggu. Pekerjaan rutin maupun di luar rutin. Bakal ada tambahan kerjaan lagi beberapa saat ke depan…. Proposal IMHERE UGM di mana Fakultas Farmasi termasuk di dalamnya (dan aku terlibat di dalamnya pula) diterima…. Hm… bingung mau merasakan apa… hehe… lega karena kerja keras kami menyusun proposal beberapa waktu lalu sampai lembur berhari-hari ada buahnya….. tapi juga sudah kebayang beratnya pekerjaan yang harus dilakukan……. harus menyerap dana Rp 3 M untuk tiga tahun dalam berbagai aktivitas Fakultas itu tidaklah mudah.

Nah, sekarang…… teman-teman mungkin ada yang pengin tau, penelitian apa yang sebenarnya kami lakukan dan aku presentasikan kemaren di Kelantan, yang secara mengejutkan(ku) mendapatkan second winner prize for oral presentation.
Penelitian kami adalah pengembangan obat baru untuk rematoid artritis (RA) yang berasal dari modifikasi struktur kurkumin. Kurkumin sendiri adalah suatu zat warna kuning yang berasal dari tanaman Curcuma, termasuk temulawak, kunyit, kunir putih, dll. Pak Sardjiman cs dari Curcumin Research Center telah mencoba memodifikasi struktur kimia kurkumin menjadi beberapa senyawa baru. Beberapa di antaranya sudah dipatenkan di beberapa negara. Salah satunya adalah Gamavuton-0.
Nama Gamavuton-0 sendiri berasal dari kata “Gama” yang berarti Gadjah Mada (University), dan “vu” dari “Vrije Universitetit”, serta “ton” adalah senyawa dengan struktur keton. Vrije Universiteit di Belanda adalah institusi yang bekerja sama dengan Farmasi UGM dalam pengembangan struktur kurkumin ini. Nah, aku sebenarnya hanya “take a small part” dari proyek besar pengembangan kurkumin ini, dengan menguji efek farmakologinya. Dan aku memilih efek anti rematoid artritis sebagai salah satu efek yang aku teliti.
Aku mengajukan proposal pendanaan riset tentang hal ini kepada Kementrian Riset dan Teknologi Republik Indonesia untuk anggaran tahun 2007 lalu, dan alhamdulillah diterima (thanks for Kementrian Ristek for giving financial support). Kami bekerja mulai dengan mensintesis lagi senyawa ini dengan metode yang sudah ada, tetapi dengan beberapa modifikasi untuk meningkatkan rendemennya. (Thanks for Rizal dan Rozi for technical assistance, tentunya di bawah arahan Prof. Supardjan). Setelah senyawa jadi dan dipastikan kebenarannya dengan berbagai uji (KLT, jarak lebur, spektrofotometri IR, NMR, dan GC-MS), maka kemudian diuji efek farmakologinya.

Mengapa rematoid artritis (RA)?
Aku pilih RA karena ia merupakan satu bentuk peradangan/inflamasi kronis, yang memerlukan pengobatan dalam jangka panjang. Obat-obat yang sering dipakai seperti metotreksat dan penekan sistem imun yang lain memiliki efek samping yang lumayan besar. Kami mencoba mencari alternatif obat baru yang diharapkan bisa menambah khasanah dunia pengobatan.
RA sendiri adalah suatu penyakit inflamasi pada persendian yang penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun sangat erat kaitannya dengan sistem imunitas, di mana tubuh berespon berlebihan terhadap senyawa yang ada dalam tubuh sendiri. Penyakit ini ditandai dengan peradangan dan rasa nyeri di berbagai persedian, secara menyeluruh di semua bagian tubuh. Terjadi pula pengeroposan tulang rawan dan tulang keras di sekitar persendian. Pada tahap yang lebih berat, bisa terjadi deformitas bentuk tangan (perubahan bentuk, jadi pada bengkok-bengkok). Dari segi selular/molekuler, terjadi peningkatkan beberapa senyawa sitokin dalam tubuh, yang berperan terhadap kejadian RA, yang paling penting adalah sitokin tumor necrosis factor (TNF-alfa) dan interleukin-1 (IL-1). Karena itu, pada penelitian ini akan dikaji, apakah Gamavuton dapat menekan peradangan/inflamasi, apakah dapat menghambat perusakan tulang rawan, apakah dapat menekan produksi TNF alfa dan IL-1?

Cara penelitiannya bagaimana?
Kami menggunakan tikus putih sebagai hewan percobaan. Kondisi RA dibuat dengan menyuntikkan suatu antigen yang disebut Complete Freund Adjuvant . Antigen ini bisa menyebabkan inflamasi yang sifatnya kronis (bertahan lama) dan sistemik. Dua puluh satu hari setelah penyuntikan pertama, dilakukan booster dengan penyuntikan antigen kedua, untuk memperbesar respon imunnya. Setelah itu, tikus dibagi menjadi 6 kelompok, satu kelompok tidak diberi obat, satu kelompok diberi metotreksat, selebihnya diberi Gamavuton dengan berbagai dosis. Lalu diamati selama 20 hari berikutnya untuk profil inflamasi dan artritisnya, lalu setelah itu dilakukan pengambilan sampel untuk berbagai pengamatan lainnya: dengan histologi (pengecatan dengan Safranin-O) untuk mengamati penipisan tulang rawan, dan teknik Enzyme Linked-Immuno-Sorbent Assay (ELISA) untuk pengukuran kadar TNF dan IL-1 dalam jaringan sendi (thanks for Indri, Ryona, Viddy, dan Dodi for technical assistance).

Hasilnya ?
Singkat cerita, Gamavuton dapat menekan peradangan, menghambat penipisan kartilage/tulang rawan, dan menekan produksi TNF dan IL-1 dengan potensi yang bervariasi untuk setiap paramater. Namun demikian, sungguh ini memberikan harapan untuk bisa dikembangkan lebih lanjut menjadi alternatif obat baru. Uji toksisitas subkronis Gamavuton-0 sudah dilakukan (thanks for Ari dan Putra for technical assistance, di bawah arahan bu Nunung), dan ditemukan relatif tidak toksik.
O,ya……. Gamavuton juga telah diuji potensinya dalam menghambat enzim cyclooxygenase-2 (COX-2), suatu enzim yang berperan dalam proses peradangan (thanks for Gita for technical assistance). Juga dilaporkan memiliki efek anti kanker pada kultur sel Hela (sel rahim) dan T47D (sel payudara) (thanks for Rizal dan Rozi).

Begitulah, inilah yang aku presentasikan kemaren di Kelantan. Jadi itu bukan pekerjaanku sendirian, sehingga sebenarnya bukan aku saja yang menjadi winnernya. Aku hanya pengembang ide dan organisatornya, serta pelantun tembangnya hehe…….. Terimakasih untuk semua yang terlibat dalam proyek ini.
Demikian, siapa tahu ini bisa jadi inspirasi teman-teman untuk mengembangkan penelitian lainnya.