Gado-gado

25 04 2009

Dear kawan,
Maafkan, blog-ku sudah agak lama melompong…… Dan saking lamanya tidak nulis, dan sudah ada beberapa hal yang tersimpan di kepala dan mau ditulis…. sampai bingung mau ngasih judul apa posting ini, hehe….. Akhirnya kukasih saja judul : Gado-gado…. karena isinya campuran berbagai hal..

Seminar tentang PPA
Seperti yang kuceritakan di posting sebelumnya, hari ini jadi juga aku menjadi pembicara di sebuah Seminar Regional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Farmasi UII Yogyakarta (Thanks for inviting…Besok mesti ke UII lagi untuk menjadi reviewer proposal penelitian mahasiswa. Mudah-mudahan gak bosen lihat muka saya hehe…. ). Seminarnya sendiri cukup meriah dengan sekitar 200 orang yang hadir (menurut laporan Ketua Panitianya). Sebuah inisiatif yang bagus dari mahasiswa untuk memberi respon terhadap issue yang berkembang masyarakat !! Aku sangat menghargai. Subtansi masalahnya sendiri sudah aku tulis pada posting sebelum ini, yaitu tentang maraknya lagi isu bahaya PPA (Phenylpropanolamine) yang banyak dijumpai pada komposisi obat flu. Kesimpulannya, komposisi obat flu yang mengandung PPA cukup aman dipakai, selama masyarakat mengikuti aturan yang tertera dalam kemasannya. Apalagi dosis PPA dalam obat flu yang diijinkan beredar di Indonesia maksimal 15 mg/sekali minum, jauh lebih kecil dari dosis yang dilaporkan meningkatkan risiko stroke hemoragik di AS.

Pembicara yang profesional
Menjadi pembicara yang menarik dan profesional itu tidak mudah…. Apalagi untuk aku yang pada dasarnya pemalu (dan malu-maluin)…hehe. Dan ternyata ada trik dan kiat-kiatnya, bagaimana untuk bisa menyentuh hati atau menggelorakan pendengarnya, sehingga pesan yang kita bawakan sampai kepada sasarannya. Bagaimana menggunakan vokal yang jelas, menyihir hadirin dengan kata-kata yang powerful, berbicara secara sistematis dan terstruktur, membangun image yang kuat lewat tindakan dan bahasa tubuh, bagaimana mengatasi gangguan saat di panggung, dll. Wow….. tidak gampang! Semua ini bisa dibaca pada buku Talk-inc Points yang disusun oleh Erwin Parengkuan dkk. Terimakasih untuk mas Lutfi yang menghadiahi aku buku ini tadi pagi dalam seminar hehe……. Oya, mas Lutfi ini adalah MC pada seminar tadi pagi, dan beliau adalah MC profesional (sekaligus mengaku sebagai pembaca setia blog ini hehe….). Aku jadi merasa tersanjung….

Dhika
Siangnya selesai berbicara di seminar aku menjemput Dhika di Play group-nya. Mestinya Dhika hari ini menjadi “model” untuk pelatihan terapi okupasi bagi beberapa tenaga kesehatan terkait. Awalnya Dhika asyik saja masuk dan main di ruang bermain, tetapi ketika mulai banyak orang, ia mulai merasa “terancam”, dan tidak mau masuk ke ruang bermain tempat terapi okupasi dilaksanakan. Jadi batal deh…..
Oya, alhamdulillah, Dhika sudah mulai nambah kata-kata. Sekarang sedang suka menyanyi lagu “Naik Kereta Api”… ia sudah mau menirukan beberapa kata-kata. Mudah-mudahan saja Dhika akan semakin bertambah kemampuannya dan dapat mengejar ketertinggalannya…. Mohon doanya, ya.

Obat setelan
Wah, topik bahasannya kok aneh ya… meloncat-loncat. Tapi memang itulah yang kualami hari ini. Sore sehabis mandi tak sengaja aku melongok TV, yang ternyata sedang menayangkan suatu program investigasi mengenai “kurangnya pelayanan apoteker”, yang bahkan cenderung “sembrono”. Aduuh, aku jadi langsung terhenyak…… Begitukah pandangan umum terhadap profesi apoteker? Padahal tadi pagi aku masih berjumpa dengan calon-calon apoteker yang penuh idealisme dan semangat tinggi. Salah satu kajiannya adalah maraknya penjualan obat setelan, di mana masyarakat bisa membeli secara bebas.

Wah, aku sendiri malah baru dengar istilah obat setelan. Kurang piknik nih. Yang dimaksud obat setelan adalah paket kombinasi beberapa obat yang sudah diset untuk suatu gangguan penyakit tertentu, utamanya gangguan-gangguan ringan, seperti sakit gigi, rematik, batuk pilek, dll. Di situ ditayangkan kemasan-kemasan plastik yang berisi beberapa obat berbeda untuk suatu penyakit. Misalnya untuk rematik ada piroksikam dan deksametason, untuk demam, batuk pilek ada tablet gliseril guaikolat, dekstrometorfan, CTM, dan parasetamol. Nah… masalahnya…… obat-obat itu ada yang mestinya harus dengan resep dokter.
Selain itu, dalam tayangan tadi juga menyoroti apoteker ikut-ikut mendiagnosa, yang semestinya adalah tugas dokter, demikian yang dinyatakan dalam narasi tayangan tersebut.

Well…… kalau ada apotek yang dengan mudah menjual obat yang mestinya dengan resep, tanpa informasi apa-apa dari apoteknya (apoteker atau asistennya), aku turut menyayangkan. Sungguh dilematis memang buat sejawat di lapangan. Kalau nggak seperti itu, mungkin income apotek kurang dan tak bisa hidup layak. Untungnya aku tidak pegang apotek hehe… jadi bisa ngomong begini. Tapi paling tidak, untuk mengurangi “dosa-dosa” itu, berikanlah informasi sejelas-jelasnya mengenai pemakaian obat tersebut.
Apoteker “mendiagnosa”?….
Untuk penyakit-penyakit ringan (minor illness) dan dapat menggunakan obat-obat tanpa resep (OTC) menurutku sah-sah saja. Ketika seorang datang mencari obat rematik misalnya, tentu jangan asal diambilkan obat saja, tapi sebaiknya ditanyakan mengenai riwayat penyakit pasien, apakah dia juga punya penyakit maag misalnya, atau asma, karena penggunaan obat-obat anti radang semacam piroksikam, diklofenak, dll dapat meningkatkan keparahan sakit maagnya atau asmanya. Jadi sebenarnya bukan “mendiagnosa” ya, seperti disampaikan dalam narasi tayangan di TV, tapi lebih untuk memastikan keadaan pasien sehingga apoteker bisa memilihkan obat yang tepat. Idealnya demikian…..

Narasi pada tayangan di TV seringkali kurang tepat dan cenderung tendensius, yang kadang terdengar berlebihan. Mungkin karena kurangnya pemahaman mengenai masalah sebenarnya. Istilah apoteker mendiagnosa akan menggiring pada “membuka kapak peperangan” dengan sejawat dokter, sama dengan ketika apoteker mendengar bahwa ada dokter melakukan “dispensing”. Mudah-mudahan tidak terjadi kesalahpahaman antar profesi yang semestinya justru bekerja sama demi kesembuhan pasien.

Buat sejawat apoteker di lapangan, sekarang masyarakat semakin kritis dan pintar. Bangunlah image positif bagi profesi apoteker, apalagi sekarang banyak stasiun TV yang suka mencari berita-berita sensasional, dengan kamera tersembunyi, yang kadang akan menjadi berita yang seringkali kurang proporsional dan memojokkan.
Tapi sebenarnya kalau kita kembalikan pada diri kita, untuk apa sejatinya manusia diciptakan…… apapun yang kita lakukan, pasti ada kamera yang menyorot, yaitu kamera Malaikat Roqib dan Atid… yang akan mendokumentasikan semua apa-apa yang kita lakukan, menjadi catatan amal baik dan buruk, dan menjadi laporan kepada Allah. Mengapa kita tidak berangkat dari situ untuk menjalani profesi masing-masing dengan hati nurani?

Wah, kayak gado-gado kan cerita hari ini?
Tapi gado-gado enak juga, menyehatkan……

Iklan




Fenilpropanolamin dalam komposisi obat flu, amankah?

18 04 2009

 

Dear kawan,

Barusan semalam aku mendapat telepon dari mahasiwa di sebuah institusi pendidikan farmasi swasta di Yogya, yang meminta kesediaanku menjadi pembicara dalam diskusi panel yang akan diselenggarakan, terkait dengan maraknya (lagi) masalah fenilpropanolamin dalam obat flu. Ada apa lagi nih?

Well, yang belum pernah tahu tentang fenilpropanolamin, aku beri gambaran sedikit. Phenylpropanolamin (PPA) adalah salah satu jenis obat yang sering dijumpai pada komposisi obat flu. Efeknya adalah untuk melonggarkan hidung tersumbat dengan cara menciutkan pembuluh darah di sekitar mukosa hidung, istilahnya menyebabkan vasokonstriksi perifer.

Nah… disamping sebagai dekongestan (menghilangkan sumbatan) hidung, PPA ini punya efek lain yaitu menekan nafsu makan. Sehingga, di Amerika, PPA banyak dijumpai pada diet pill untuk melangsingkan tubuh, contohnya Dexatrim dan Acutrim. Dalam pil pelangsing tersebut, PPA digunakan dalam dosis 75-150 mg/sehari. Bagaimana mekanismenya dalam menekan nafsu makan, belum diketahui secara pasti, namun diduga bekerja langsung pada sistem saraf pusat yang mengontrol pusat lapar. Sebuah penelitian melaporkan bahwa PPA menekan produksi neuropeptide Y (NPY), suatu senyawa yang memicu nafsu makan di otak.

Nah, masalahnya muncul ketika menjelang tahun 2000, sebuah studi oleh Yale University mengenai kejadian stroke hemoragik/perdarahan pada wanita, melaporkan bahwa terdapat risiko terjadinya stroke perdarahan 16 kali lebih besar pada wanita usia 18-49 tahun yang mengkonsumsi PPA sebagai obat pelangsing dibandingkan dengan yang tidak menggunakan. Maka kemudian pada 6 November 2000, FDA (Food and Drug Administration) Amerika mengumumkan permintaan kepada para perusahaan farmasi untuk menarik semua produk-produknya yang mengandung PPA dari pasar, dan mengingatkan kepada konsumen mengenai risiko yang terkait dengan penggunaan PPA.

Sontak, cukup banyak industri farmasi yang kalang kabut, termasuk di Indonesia. Silang pendapat banyak terjadi, karena dasar penarikan di AS adalah penggunaannya sebagai obat pelangsing yang nota bene dosisnya besar. Sedangkan di Indonesia, PPA banyak dijumpai pada produk obat flu dan tidak ada yang diindikasikan sebagai obat pelangsing. Dosisnya pun relatif rendah, yaitu 25-30 mg, jauh di bawah dosis untuk pelangsing di AS yang mencapai 75-150 mg sehari. Selain itu, wanita AS yang dilaporkan mengalami stroke hemoragik juga biasanya mengkonsumsi PPA secara over dosis (sampai 300-350 mg sehari). Sehingga pada saat itu, Badan POM Indonesia tidak meminta penarikan secara total, tetapi meminta produsen untuk mengurangi dosis PPA hingga menjadi 15 mg, yang ini masih relatif aman. Hal yang sama dilakukan oleh Badan Pengawasan Obat di Filipina, Australia, dan beberapa negara lain.

Mengapa PPA dapat memicu stroke perdarahan/hemoragik?

Stroke sendiri adalah suatu penyakit cerebrovaskuler (gangguan pada pembuluh darah otak) yang bisa disebabkan karena penyumbatan atau perdarahan. Stroke karena penyumbatan pembuluh darah disebut stroke iskemik, yang bisa disebabkan karena penimbunan kapur atau lemak pada dinding pembuluh darah. Penyumbatan pembuluh darah tadi akan menyebabkan saraf-saraf kekurangan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan, sehingga terjadi kematian sel saraf. Kematian sel saraf itulah yang menyebabkan terjadinya berbagai gejala stroke, seperti lumpuh, tidak bisa bicara, tidak bisa menelan, gangguan memori, dsb.

Sedangkan stroke perdarahan, disebut juga stroke hemoragik, disebabkan karena pecahnya pembuluh darah otak. Gumpalan darah di otak ini tentu akan sangat mengganggu fungsi saraf dan otak. Stroke hemoragik umumnya berakibat lebih fatal daripada stroke iskemik, bahkan bisa menyebabkan kematian. Stroke hemoragik dapat terjadi jika tekanan darah sangat tinggi, sehingga pembuluh darah tidak kuat menahannya, dan akibatnya robek.

Nah.. seperti disebutkan di atas, PPA ini bersifat vasokonstriktor, yaitu menciutkan pembuluh darah. Jika digunakan dalam dosis kecil, terjadinya vasokonstriksi tadi relatif terlokalisir, terutama di pembuluh darah tepi yang ada di mukosa hidung, sehingga memberikan efek melonggarkan hidung tersumbat. Tetapi jika dosisnya cukup tinggi, maka penciutan pembuluh darah (vasokonstriksi) terjadi secara sistemik di seluruh tubuh. Hal inilah akan menyebabkan kenaikan tekanan darah yang signifikan, sehingga dapat memacu kejadian pecahnya pembuluh darah otak alias stroke hemoragik.

 Masih amankah obat flu yang mengandung PPA?

Sempat muncul kontroversi mengenai keamanan obat flu yang mengandung PPA dan menganggap bahwa penarikan semua obat yang mengandung PPA tanpa mempertimbangkan dosisnya adalah berlebihan. Tim peneliti yang melaporkan risiko stroke pada penggunaan PPA menyatakan bahwa memang dosis berperan dalam menentukan risiko kejadian stroke. Jadi jika dipakai dalam dosis kecil seperti yang terdapat pada obat flu, sebenarnya masih aman.

Namun, jika seseorang sudah punya penyakit hipertensi atau punya riwayat hipertensi keluarga, mungkin perlu waspada untuk menggunakan obat-obat flu yang mengandung PPA. Sebagai informasi, saat ini di Indonesia banyak produsen yang mengganti PPA dengan pseudoefedrin, yang dilaporkan relatif kurang menyebabkan efek peningkatan tekanan darah.

Jadi jangan terlalu kuatir, namun juga perlu berhati-hati dalam memilih obat flu. Lihat dalam kemasannya, apakah mengandung PPA.  Jika ragu-ragu, tanyakan pada apoteker Anda.





Wanita, mahluk multi tasking….

17 04 2009

kartiniDear kawan,

Menjelang hari Kartini, kali ini aku menulis sebuah posting agak berbau gender… hehe.. mohon para pria tidak protes.

Pagi tadi aku dijadwalkan bertemu dengan seorang wanita kuat (termasuk jajaran pimpinan univesitas)  untuk sebuah urusan. Tapi ternyata ada perubahan schedule, karena mendadak beliau harus pergi ke Jakarta, untuk menemani observasi kesehatan putranya, yang memang telah lama memiliki gangguan kesehatan. Putranya bahkan sudah dua kali menjalani transplantasi ginjal. Sekali dengan ginjal ibunya, sekali dengan ginjal donor.

Yah, terpikir olehku…. begitulah kodrat seorang ibu. Betapapun sibuk dan berat pekerjaannya, tetapi urusan anak, urusan rumah tangga, adalah tetap nomor satu. Dan itulah wanita. Kalau ditanya, mana yang lebih kuat, wanita atau pria? Mana yang lebih mandiri, wanita atau pria? Hehe…… para wanita pasti akan menjawab: WANITA.

Ya, wanita adalah mahluk yang kuat dan multi-tasking. Mereka bisa memainkan banyak peran dan terbiasa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Bahkan simbah-simbah putri kita dulu yang bukan pekerja kantoran, mereka jitu dalam manajemen waktu. Mereka biasa mengerjakan beberapa pekerjaan secara simultan. Sambil merendam pakaian yang akan dicuci, mereka menyiapkan sarapan pagi. Setelah itu, menyuci, masak sambil disambi nyuapin anak, setrika baju, dll. Sudah gitu, masih harus mengurus suami pula. Dan mereka bekerja selama 24 jam. Opo ora hebat? Wanita yang bekerja pun harus berperan ganda. Jika Bapak-bapak pulang kantor bisa leyeh-leyeh, baca koran, nyruput kopi….  Ibu-ibu sepulang kantor masih harus ngurusin rumah… mandiin anak, menyiapkan makan malam, dll.

Wanita juga lebih mandiri. Terbukti lebih banyak janda-janda yang ditinggal wafat suaminya yang dapat bertahan hidup sendiri dan menghidupi anak-anaknya, ketimbang duda-duda yang bisa hidup sendiri merawat anaknya. Bener kan?

Aku sering ditanya, bagaimana caranya mengatur waktu dan kiat-kiat mencapai sukses hehe…. Aku jadi malu. Orang sering beranggapan bahwa aku tentu sangat sibuk bekerja sehingga bisa menjadi profesor dalam usia relatif muda. Ada yang tanya, kok Ibu sempat juga menerbitkan buku? Mengajar ? Penelitian? Membimbing skripsi atau thesis?  Ngeblog pula? Kapan tidurnya? Hehe…. Mungkin tidak percaya kalau aku bilang…. aku normal-normal saja, mengalir saja mengikuti aliran hidup…. masih sempat mengikuti berita infotainment, nonton Termehek-mehek, mainan Facebook atau ngeblog, jalan-jalan dengan keluarga, ngurusin tanaman di rumah, dll. Makanya kalau ditanya kiatnya apa, aku jadi bingung….

Mungkin kuncinya adalah manajemen waktu yang baik. Sebagai ibu tiga anak yang masih kecil-kecil, aku harus pandai-pandai bagi waktu. Dan bagaimanapun, tugas domestik rumah tangga, masih merupakan peran tradisional dan utama wanita. Aku sendiri merasakan, kalau urusan anak sakit, anak sekolah atau belajar mau ujian, sampai urusan baju anak atau urusan kebutuhan rumah, itu masih tugas seorang ibu. Ada satu contoh kecil, yaitu  ketika anakku yang kedua (waktu itu umur 4 tahun), masuk TK A (nol kecil). Waktu itu, dia bener-bener tidak mau ditinggal di sekolah, dan tidak mau diantar siapapun kecuali ibunya. Jadilah aku tiap pagi mengantar dan ikut “sit in” di TK, dan harus selalu di dalam kelas. Itu berlangsung hampir 3 bulan. Sementara bulan-bulan itu tugas pembimbingan skripsi juga lagi banyak, karena banyak yang mau ujian.. Jadilah aku nungguin anak di TK sambil koreksi skripsi, dan buka konsultasi skripsi di TK… Mahasiswa yang butuh konsultasi skripsi aku minta datang ke TK Masjid Kampus UGM hehe….

Terkait dengan manajemen waktu adalah membuat prioritas pekerjaan dan pendelegasian pekerjaan. Selain membuat list pekerjaan mana yang harus dikerjakan dulu dalam sehari, perlu juga melakukan pendelegasian pekerjaan. Ada pekerjaan-pekerjaan yang perlu pemikiran khusus sehingga harus dikerjakan sendiri, ada yang bisa dikerjakan oleh orang lain dimana kita yang mengarahkan. Untuk ini aku memang memiliki asisten. Alhamdulillah, terus terang aku sangat terbantu dengan asisten-asistenku ini. Pekerjaanku menjadi sangat accelerated. Di rumah, ada asisten rumah tangga alias PRT yang sudah kuanggap sebagai bagian dari keluarga. Aku sangat beruntung memilikinya yang bisa menghandle urusan rumah, terutama si kecil Dhika. Jadi dalam beberapa urusan domestik, aku mendelegasikan tugas pada mbak asisten RT-ku, misalnya untuk masak, antar Dhika sekolah, cuci-cuci dan bersih-bersih rumah. Tapi pekerjaan yang perlu pakai otak seperti menemani anak belajar dan mengoreksi hasil pekerjaannya, tentu aku lakukan sendiri. Juga pekerjaan yang menggunakan hati, seperti menemani anak-anak main, bercanda, belanja, atau apalah yang memerlukan sentuhan ibu, tentu harus kulakukan sendiri. Dan tentunya juga sentuhan untuk suami hehe……. tidak boleh didelegasikan pada siapa-siapa….

Bagaimana dengan di kantor? Alhamdulillah juga, aku memiliki asisten pribadi yang sangat membantu. Mungkin aku termasuk sedikit dosen di fakultas yang punya asisten/sekretaris pribadi yang aku hire secara khusus. Jadi untuk urusan administratif yang nota bene tidak terlalu banyak membutuhkan ilmu khusus kefarmasian, bisa dikerjakan oleh mbak asistenku, yang selain cekatan juga kreatif. Aku sangat beruntung memilikinya. Ia bahkan bisa memberi banyak ide-ide praktis yang kadang aku tidak sempat memikirkannya. Filing surat-surat penting dan nilai mahasiswa, urusan keuangan penelitian, urusan fotocopy & dan penggandaan proposal, urusan tetek bengek seperti pesan tiket kalau aku mau keluar kota/negeri, dll., sampai pengurusan kenaikan pangkat, aku banyak dibantu olehnya. Jadi aku bisa menghemat waktuku untuk memikirkan hal-hal yang lebih ilmiah atau bersifat kebijakan hehe….. Bikin proposal riset, menulis paper atau buku, meng-update bahan kuliah, baca/koreksi thesis atau skripsi, dll. Apalagi urusanku di luar “pekerjaan pribadi” juga lumayan padat…. Menjadi Kepala Lab, Asisten Wakil Dekan III, Ketua PIOGAMA, Pengelola Magister Farmasi Klinik, Ketua Task Force Kegiatan Pengembangan Fakultas (DIPA WCRU 2009), Anggota Tim Pembangunan RS UGM, …….. kebayang kan kalau gak punya asisten?

Sudah begitu saja kadang waktu rasanya tidak cukup. Aku biasa berangkat ke kantor pagi-pagi (sekalian antar anak-anak sekolah) dan pulang lewat jam kantor (sekalian jemput anak pulang sekolah). Kadang di rumah ada yang masih harus dikerjakan, dan itu aku usahakan setelah urusan rumah selesai. Biasanya malam setelah anak-anak tidur.

Hal lain yang terkait dengan manajemen waktu adalah pemanfaatan teknologi informasi, walaupun aku masih agak-agak gaptek.  Teknologi kan dibuat untuk mempermudah tugas manusia? Aku termasuk yang tidak bisa lepas dari laptop, dan kalau bisa selalu online. Jadi kalau lagi ada waktu luang, dan kebetulan ada inspirasi menulis, aku bisa manfaatkan waktu untuk menulis atau mencicil tulisan. Yahoo Messenger juga jadi alat komunikasi efektif. Jika aku sedang ada di luar kantor atau di luar kota atau bahkan di luar negeri, aku tetap bisa berkomunikasi dengan teman dosen maupun staff untuk urusan pekerjaan, bertukar file, koreksi draft surat-surat, dll.  Dengan demikian dua-tiga urusan dapat dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Sangat efisien dan accelerated!

Yah, jadi begitulah…. gak ada kiat-kiat yang istimewa bukan?

Kembali ke judul posting ini….. kayaknya itulah kelebihan wanita. Multi-tasking

Jadi jangan sepelekan wanita …..





Vitamin C tidak menyebabkan batu ginjal ?

13 04 2009

vitamin-cDear kawan,

Postingku terakhir tentang Vitamin C yang mengurangi risiko terjadinya gout telah mendapat beberapa respon. Terutama yang mempertanyakan mengenai pengaruh Vitamin C dosis tinggi terhadap ginjal. Apa tidak malah menyebabkan batu ginjal ? Aku jadi penasaran juga dan merasa bertanggungjawab untuk mengkonfirmasi mengenai hal ini. Aku terpaksa tanya-tanya mas Google, dan mendapat beberapa informasi yang aku peras dan tuangkan kembali dalam tulisan ini.

Satu informasi datang dari Orthomolecular Medicine News Service. Artikelnya sedikit lama (tahun 2005), tapi kalau melihat sumbernya sih cukup valid. Silakan cek di sini. Judulnya to the point dengan yang ingin kucari : Vitamin C does not cause kidney stones.

Isinya antara lain menyatakan bahwa tidak ada fakta ilmiah yang menyatakan vitamin C menyebabkan batu ginjal. Bahkan pada beberapa kasus, vitamin C justru bersifat kuratif (menyembuhkan). Sebuah studi berskala besar, yang melibatkan 85.557 wanita selama 14 tahun tidak menemukan fakta bahwa vitamin C menyebabkan batu ginjal. Tidak ada perbedaan signifikan antara orang yang mengkonsumsi Vit C 250 mg/sehari dengan mereka yang mengkonsumsi 1,5 g/sehari atau lebih. Studi ini merupakan kelanjutan dari studi sebelumnya pada 45.251 pria, yang menemukan bahwa dosis vitamin C di atas 1,5 g/sehari mengurangi risiko terjadinya batu ginjal.

Orang-orang yang mengalami pembentukan batu ginjal mungkin memiliki proses biokimia yang kurang normal, yang menyebabkan peningkatan produksi oksalat dari vitamin C. Jadi masalahnya bukan pada konsumsi vitamin C itu sendiri. Oksalat dapat terakumulasi membentuk batu ginjal jika berikatan dengan Kalsium membentuk Ca oksalat. Konsumsi vitamin C memang dapat meningkatkan produksi oksalat di dalam tubuh, tetapi tidak ada fakta yang menyebutkan bahwa ia meningkatkan pembentukan batu ginjal. Pada kenyataannya, penggunaan vitamin C dalam satuan gram justru dapat meningkatkan ekskresi baik oksalat maupun urat melalui ginjal. Hal ini dimungkinkan karena beberapa hal. Pertama, vitamin C cenderung mengikat kalsium, sehingga akan mengurangi jumlah kalsium yang akan membentuk Ca-oksalat (satu jenis batu ginjal). Kedua, Vitamin C bersifat diuretik, yaitu meningkatkan pengeluaran air seni. Hal ini akan mencegah terbentuknya batu ginjal. Terakhir, pembentukan batu ginjal nampaknya terjadi di sekitar pusat infeksi, padahal vitamin C ini bersifat bakterisidal (membunuh bakteri) sehingga justru akan mencegah pembentukan batu ginjal dengan cara membunuh bakteri di tempat di mana batu ginjal akan terbentuk.

Vitamin C juga dapat mencegah terjadinya jenis lain dari batu ginjal, terutama adalah batu ginjal asam urat, dan batu ginjal sistin. Postingku sebelum ini menyampaikan fakta bahwa vitamin C justru mengurangi risiko terbentuknya kristal asam urat. Batu-batu ini, termasuk juga yang terbuat dari Ca fosfat, akan terlarut dalam suasana asam vitamin C. Selain itu, urin yang asam karena mengandung asam askorbat (vit C) dapat pula melarutkan batu struvite (magnesium ammonium phosphate), yang sering terdapat pada urin yang terinfeksi. Memang pernah ada peneliti lain yang menyatakan bahwa vitamin C meningkatkan risiko terjadinya batu ginjal, tetapi dugaan ini tidak didukung fakta kuat, dan hubungan ini menjadi lemah karena vitamin C justru memiliki efek-efek yang sebaliknya.

Aku jadi ingat, pernah juga aku membimbing satu penelitian skripsi mahasiswa yang meneliti efek perasan jeruk nipis terhadap penghancuran batu ginjal secara in vitro. Dan memang secara in vitro, jeruk nipis yang notabene mengandung vitamin C dapat melarutkan batu ginjal. Tetapi memang perlu penelitian tersendiri bagaimana efeknya secara in vivo. Satu website mengenai batu ginjal bahkan secara jelas menyarankan penambahan vitamin C bagi diet orang-orang yang menderita batu ginjal, untuk tujuan melarutkan batu ginjal. Bisa dilihat pada http://www.kidneystonesremedies.com/Kidney-Stones-And-Vitamin-C.php

Demikian, mudah-mudahan tidak membingungkan.





Vitamin C, mengurangi risiko gout pada pria

9 04 2009

Halo semua,

Sudah mencontreng hari ini? Posting di hari percontrengan ini nggak ada hubungannya dengan urusan contreng-mencontreng.. Tapi kalau sendi-sendi tangan terasa linu karena gout, bisa-bisa salah mencontreng lho. Nggak ada hubungannya kan? Hehe……

Apa itu gout?

Di posting lain dalam blog ini pernah dikupas sedikit tentang gout dan pengobatannya. Gout adalah gangguan/radang sendi yang disebabkan karena tingginya kadar asam urat dalam darah akibat adanya gangguan metabolisme asam urat. Akibatnya, terbentuk kristal-kristal urat yang membuat sendi-sendi jadi linu dan neyeri. Gout lebih banyak terjadi pada pria di atas usia 40 tahun. Nah, buat yang belum terkena gout, terutama para pria, ada berita bagus nih….. Sebuah publikasi pada jurnal Archives of Internal Medicine 2009, Volume 169, Issue 5, hal 502-507, melaporkan bahwa setiap peningkatan 500 mg asupan Vit C, akan menurunkan risiko terjadinya gout pada pria sebesar 17%. Dan untuk pria yang asupan Vit Cnya sedikitnya 1500 mg/hari, risiko terjadinya gout berkurang sampai 45%. Fakta terakhir ini diperoleh dari sebuah studi prospektif yang dilakukan peneliti dari Boston University School of Medicine. Dan menurut ketua tim penelitinya, Hyon Choi, studi ini merupakan fakta prospektif pertama yang menggambarkan hubungan terbalik antara asupan Vitamin C dengan risiko terjadinya gout.

Studi secara detail

Choi dan timnya mengevaluasi intake vitamin C, baik yang berasal dari makanan maupun suplemen, pada 46.994 orang pria menggunakan kuesioner dengan interval 4 tahun, antara tahun 1986 sampai 2006. Selama studi yang memakan waktu 20 tahun tersebut, dijumpai sebanyak 1317 kasus gout. Tim peneliti ini mengkalkulasi bahwa, dibandingkan dengan pria yang asupan vitamin C-nya kurang dari 250 mg/hari, pria yang asupan Vitamin Cnya antara 500-999 mg ternyata risiko terjadinya gout berkurang 17%. Pada pria dengan asupan Vitamin C antara 1000-1499 mg/hari, risiko goutnya berkurang sampai 34 %. Sedangkan mereka yang minum Vitamin C lebih dari 1500 mg/hari, risiko goutnya berkurang lagi sampai 45%.

Bagaimana mekanismenya?

Bagaimana caranya Vitamin C bisa mencegah kejadian gout ? Tim Peneliti menyatakan bahwa vitamin C bisa mengurangi kadar asam urat dalam darah, sehingga mengurangi terbentuknya kristal urat. Hal ini karena vitamin C bersifat urikosurik, yaitu menghambat reabsorpsi asam urat oleh ginjal, sehingga meningkatkan kecepatan kerja ginjal mengekresikan asam urat melalui urin. Selain itu juga memproteksi terhadap peradangan, yang mana semua ini mengurangi risiko terjadinya gout. Efek vitamin C dalam mengurangi kadar asam urat serum juga telah banyak dipublikasikan oleh peneliti lainnya.

Penutup

Namun perlu dicatat bahwa dosis tertinggi yang masih dapat ditoleransi dengan aman oleh tubuh adalah sekitar 2000 mg/hari. Apalagi buat mereka yang memiliki riwayat gangguan lambung, vitamin C yang asam mungkin dapat menyebabkan terpicunya gangguan lambung. Untuk itu bisa dipilih vitamin C dalam bentuk ester yang tidak asam dan aman bagi lambung.

Jadi, boleh dicoba, tapi jangan lupa mempertimbangkan kondisi tubuh Anda.

Demikian, semoga bermanfaat.

 Source:

Archives of Internal Medicine 2009, Volume 169, Issue 5, Pages 502-507
“Vitamin C Intake and the Risk of Gout in Men: A Prospective Study”
Authors: H.K. Choi, X. Gao, G. Curhan




Menulis itu (tidak) gampang….

3 04 2009

 

Dear teman,

 

Malam mulai larut. Aku menengok blog-ku yang beberapa hari ini terlantar tanpa tulisan baru semenjak aku pulang dari negeri orang. Kasihaan… Wah, blog sekarang kalah dengan Face book…. Invitation untuk gabung dalam Face book datang setiap hari. Untuk Face book aku masih sempat menengok dan menulis sepatah dua patah…. Tapi blog-ku jadi merana..

Ada dua penyebabnya:

1. Tidak sempat menulis

Seminggu ditinggal, pekerjaan langsung bertumpuk. Beberapa draft thesis S2 menanti dibaca, bikin laporan benchmarking dari Belanda kemarin, review proposal penelitian, persiapan kegiatan WCRU Fakultas, dll, dll. Di rumah, anak-anak mulai ujian mid semester, perlu perhatian lebih. Maklumlah, masih belum bisa bertanggung-jawab atas dirinya sendiri. Belajar harus ditemani ibu…. Belum lagi si bungsu yang sudah lama ditinggal… Aku tak ingin kehilangan kedekatanku dengannya, dan aku sendiri yang punya kepentingan untuk menemani dia bermain…..  (Ah maafkan ibu, Nak…)

2. Tidak punya ide menulis

Dengan kepadatan acara tadi, rasanya ide menulis pun menguap… di otak sudah berderet hal yang perlu dipikir duluan…..

 

Tapi….

Aku merasa harus menulis, karena sudah lama tak ada tulisan baru. Pasti sudah banyak yang menanti…. hehe… ge-er banget. Jadilah aku menulis posting ini tentang pengalaman menulis…..

 

Menulis apa yang paling gampang?

Paling gampang adalah menulis pengalaman sendiri. Itu sama seperti kita bercerita secara lisan. Masalahnya tinggal pemilihan kata, penyusunan kalimat biar terbaca indah, juga keruntutan tulisan. Seorang pembaca blog ini pernah menanyakan, ibu kok kalau nulis begitu runtut, enak dibaca… (hehe.. jadi ge-er lagi). Apa langsung ditulis di blog, atau ditulis di tempat lain dulu? Yah, biasanya kalau ada inspirasi menulis, aku ketik dulu tulisanku di MS word. Setelah jadi dibaca lagi, dan edit sana-sini jika perlu, baru aku copy dan paste ke Blog. Itupun nanti masih bisa disunting lagi jika dianggap masih kurang sesuai.

Oya, walaupun menulis sekedar cerita, akurasi data cukup penting. Contohnya ketika aku menuliskan catatan perjalananku selama ke Groningen kemaren,  maka aku perlu menambah bacaan atau informasi lain tentang Groningen untuk melengkapi ceritaku, misalnya berapa jumlah penduduknya, berapa persis temperaturnya, dll. Bahkan penulis novel pun, yang nampaknya “hanya” cerita imajinasi, seringkali perlu survai dulu mengenai tempat di mana kisah itu di-setting, supaya data yang melengkapi cerita itu akurat.

 

Menulis apa yang paling gampang kedua?

Buatku, menulis tentang ilmu yang pernah aku pelajari itu paling gampang berikutnya. Kalau untuk aku, tentunya aku merasa gampang kalau menulis tentang obat dan pengobatan. Yang menjadi critical point-nya di sini adalah bagaimana menuliskan sesuatu itu sesuai dengan audiens pembacanya. Blog ini aku tetapkan sebagai blog pribadi dengan segmen pembaca yang luas, bukan blog khusus untuk profesi tertentu. Jadi aku perlu mengolah ilmu pengobatan  yang ilmiah itu menjadi suatu tulisan populer, tanpa meninggalkan substansi yang ingin disampaikan. Pemilihan kata dan cara penyampaian menjadi penting. Jangan lupa juga dengan tata-bahasa. Bagaimana dengan gaya bahasa? Karena ini blog-ku sendiri dengan tulisan suka-suka aku, aku memilih gaya bahasa santai dan sesekali diselipi humor (itupun kalau ada yang merasa lucu hehe….).  Tentu tidak akan sama dengan menulis untuk koran misalnya. Walaupun bahasanya ilmiah populer, sebaiknya tidak banyak haha-hihi-nya. Aku sendiri sudah lama tidak nulis di koran, keenakan nulis di blog saja, santai…. dan pasti diterbitkan hehe…

 

Menulis apa yang lebih sulit?

Agak lebih sulit lagi adalah menulis opini. Untuk menulis suatu opini, seseorang perlu wawasan yang luas, sehingga opininya itu cukup masuk akal dan berimbang. Ini tidak gampang. Seseorang juga perlu cukup responsif dan kritis terhadap suatu keadaan yang berkembang di masyarakat. Mungkin tidak sangat banyak orang yang bisa demikian. Aku termasuk yang tidak bisa.

 

Bagaimana kalau menulis cerpen atau novel?

Wah..wah… kalau yang ini butuh bakat tersendiri. Bakat mengkhayal, berimajinasi, dan menuangkannya dalam tulisan. Dulu sekali waktu SMA aku pernah menulis cerpen….. tapi cuma untuk dibaca sendiri saja hehe…. terinspirasi dengan kisah cinta semasa SMA. Ternyata susah betul menulis cerpen atau novel kalau kita memang tidak berbakat.

 

Bagaimana kalau menulis buku teks?

Menulis buku teks atau buku ajar itu rasanya lebih gampang daripada menulis novel. Kalau yang ini aku punya pengalamannya. Pertama, kita perlu bikin kerangka dulu apa yang akan kita tulis. Bab-nya apa saja, sub bab-nya apa. Lalu mengumpulkan sumber-sumber yang relevan, yang sebaiknya berasal dari literatur primer, yaitu paper-paper pada jurnal. Yang ini mungkin mirip kalau bikin skripsi atau thesis atau makalah. Tapi sangat diutamakan kita tidak sekedar menyalin atau menyadur, apalagi dari literatur tersier (baca: buku teks lain). Di sini diperlukan kemampuan mengkompilasi dan menyusun informasi dari berbagai sumber literatur menjadi suatu bacaan yang lengkap tapi runtut. Kalau sedang “in”… wah, asyik sekali menyelami berbagai bacaan dan menuliskannya kembali.

 

Bagaimana menulis buku ilmiah populer?

Ini hampir sama dengan menulis buku teks, tapi pilihan katanya mesti menggunakan bahasa orang awam.  Literatur dan akurasi data tentu sangat penting, tapi cara penulisannya tidak sama dengan buku teks yang sering harus men-sitasi referensi yang relevan. Untuk yang ini, pengalamanku adalah menulis bersama bu Hartati dari Yunani mengenai Bahaya Alkohol, dari berbagai aspeknya. Tapi yang ini belum terbit nih…. masih menanti kepastian Penerbit.

Oya,…. supaya suatu buku bisa laris di pasar, tentunya kita harus pandai-pandai memilih topik apa yang ceruk pasarnya masih dalam, alias belum banyak buku sejenis……

 

Di bagian sini aku akan sedikit berbagi mengenai pengalaman menerbitkan buku berdasarkan pengalaman pribadi. Ketika aku menyusun buku pertamaku berjudul “ Pengantar Farmakologi Molekuler” tahun 2004, aku sendiri yang jadi produsernya. Maksudnya mencetak dengan biaya sendiri, bukan melalui suatu Penerbit profesional. Pertimbangannya, pasarnya sudah jelas, yaitu mahasiswa sendiri. Dari segi keuntungan finansial, bisa lebih besar karena harga cetak dengan harga jual buku bisa selisih agak jauh. Tapi kelemahannya dengan memproduseri sendiri adalah jangkauan distribusinya sangat terbatas. Kalau kita tidak punya tenaga marketing ya bakalan sulit untuk menjangkau pasar yang luas.

Bagaimana jika kita menjual tulisan kita pada penerbit ?

Tahun 2006, setelah perbaikan di sana-sini, aku tawarkan buku tadi ke Penerbit, waktu itu adalah Gadjah Mada University Press. Jika kita tawarkan tulisan ke Penerbit, kita memang tidak perlu modal untuk pencetakan. Tapi secara finansial biasanya kita tidak banyak mendapat lebih. Dapatnya hanya royalti sesuai kesepakatan, yang berbeda antar penerbit satu dengan penerbit lainnya. Jika buku kita laris, dan sering dicetak ulang, memang hasilnya bisa lebih banyak. Tapi jika tidak, ya tidak dapat banyak. Kurang sepadan dengan capeknya menulis hehe….. Tapi keuntungannya, jalur distribusinya luas. Dalam hal ini kita mendapat keuntungan nama, menjadi lebih dikenal, karena pasarnya lebih luas. Paling tidak ada rasa tersendiri ketika masuk ke Toko Buku besar seperti Gramedia atau Toga Mas, buku tulisan kita terpampang di sana hehe…… bisa dipamerin ke anak-anak… “ Ini lho, Nak…. buku tulisan ibu…”.  Buku keduaku “Farmakoterapi Penyakit SIstem Pernafasan” aku perlakukan sama dan diterbitkan oleh Penerbit Adipura.

 

Wah, akhirnya lumayan panjang juga tulisan ini, setelah beberapa hari macet idenya. Sudah dulu ya, masih banyak yang harus dikerjakan. Dan satu PR menulisku yang belum kelar-kelar adalah menulis Pidato Pengukuhan Guru Besar…   Aduuh, yang ini benar-benar tidak gampang……. kayaknya perlu bertapa di gua Selarong dulu untuk cari inspirasi hehe….

 

Buat yang baru pemula menulis, blog merupakan sarana latihan yang baik….

Jadi cobalah….. komentar baik atau buruk itu biasa, rambut sama hitam, tapi isi kepala bisa beda hehe……

 

Salam..