Jangan takut (jika harus) kemoterapi…

27 09 2015

Dear kawan,

Tulisan ini aku dedikasikan pada kawan-kawanku  yang diuji Allah dengan penyakit kanker…. Baik yang sudah tiada (Ade Azka, mbak Bintang), yang masih berjuang dengan kemoterapi (mbak Lesti, bu Wara), dan yang alhamdulillah survive dari kanker (bu Aris)..  Juga untuk semua penderita kanker … Semoga bisa menginsipirasi untuk tidak takut dengan kemoterapi… Bagaimanapun ikhtiar yang benar adalah wajib, hasilnya hanya kepadaNyalah kita berserah diri…

Berbicara tentang kemoterapi, tentu tidak lepas dari masalah penyakit kanker. Dan berbicara tentang kanker, tak dipungkiri banyak orang merasa ngeri dan takut. Yah, tidak heran karena kanker termasuk salah satu penyakit yang cukup mematikan. Namun demikian, banyak pula orang-orang yang berhasil sembuh dari kanker (survivor kanker) dan bisa menjalani kehidupan dengan normal kembali. Salah satu pendukung kesembuhan pasien kanker adalah pengobatan yang tepat, di mana salah satu terapi utama kanker adalah kemoterapi. Banyak orang takut menjalani kemoterapi karena mendengar cerita tentang macam-macam efek sampingnya, padahal dengan menunda kemoterapi perkembangan kankernya akan terus berjalan. Artikel ini akan mengupas tentang apa itu kemoterapi, pentingnya untuk pengatasan kanker, efek samping dan cara pengatasannya.

Penyakit kanker

Perkembangan sel kanker

Perkembangan sel kanker

Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan abnormal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker akibat terjadinya mutasi. Dalam perkembangannya, sel-sel kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya yang disebut metastase, sehingga dapat menyebabkan kematian. Masyarakat sering kurang pas menggunakan istilah kanker dan tumor, karena tidak semua tumor adalah kanker. Tumor adalah segala benjolan tidak normal atau abnormal. Tumor dibagi dalam 2 golongan, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Kanker adalah istilah umum untuk semua jenis tumor ganas.
Kanker dapat menimpa semua orang, pada setiap bagian tubuh (termasuk darah dan limfa), dan pada semua gologan umur, namun lebih sering menimpa orang yang berusia 40 tahun. Umumnya sebelum kanker meluas atau merusak jaringan di sekitarnya, penderita tidak merasakan adanya keluhan ataupun gejala. Bila sudah ada keluhan atau gejala, biasanya penyakitnya sudah lanjut. Jenis-jenis kanker yang cukup banyak dijumpai di Indonesia adalah : kanker leher rahim (kanker serviks), kanker payudara, penyakit Trofoblas ganas, kanker kulit, kanker nasofaring, kanker paru, kanker hati, kanker kelenjar getah bening (Limfoma Malignum), kanker usus besar dan kanker darah (Leukemia).
Yayasan Kanker Indonesia mengingatkan adanya 7 gejala yang perlu diperhatikan dan diperiksakan lebih lanjut ke dokter untuk memastikan ada atau tidaknya kanker, dengan akronim WASPADA, yaitu:
1. Waktu buang air besar atau kecil ada perubahan kebiasaan atau gangguan.
2. Alat pencernaan terganggu dan susah menelan.
3. Suara serak atau batuk yang tak sembuh-sembuh
4. Payudara atau di tempat lain ada benjolan (tumor).
5. Andeng-andeng (tahi lalat) yang berubah sifatnya, menjadi semakin besar dan gatal.
6. Darah atau lendir yang abnormal keluar dari tubuh
7. Adanya koreng atau borok yang tak mau sembuh-sembuh.
Pengobatan kanker
Jika seseorang telah terdiagnosa kanker oleh dokter ahli, maka akan dilakukan tindakan pengobatan atau tindakan medis untuk menghilangkan kanker tersebut. Tindakan tersebut bisa salah satu kombinasi dari beberapa prosedur berikut, yaitu pembedahan (operasi), penyinaran (Radioterapi), pemakaian obat-obat pembunuh sel kanker (sitostatika/kemoterapi), peningkatan daya tahan tubuh (imunoterapi), pengobatan dengan hormone atau transplantasi organ. Kemoterapi merupakan salah satu prosedur penting dalam pengobatan kanker.
Apa itu kemoterapi?
Obat kemoterapi adalah obat anti kanker yang bertujuan untuk menghentikan berkembangnya sel-sel kanker, baik di tempat asalnya maupun yang mungkin sudah menyebar ke organ lain. Kemoterapi juga digunakan untuk mengurangi resiko munculnya kembali (recurrence) kanker maupun mengecilkan ukuran dari tumor/ kanker. Dengan ukuran tumor yang mengecil dari kanker maka berbagai macam gejala yang tidak enak yang dirasakan oleh pasien diharapkan juga ikut berkurang. Jika ukuran kanker mengecil, prosedur lain juga akan lebih mudah dilakukan dan tingkat keberhasilannya meningkat.
Pada umumnya, pengobatan dengan cara kemoterapi paling efektif jika menggunakan kombinasi dari beberapa jenis obat. Pemberian beberapa obat secara sekaligus, dapat meningkatkan kekuatan obat dalam membunuh sel kanker. Apa dan berapa dosis obat-obat yang akan diberikan ditentukan oleh dokter berdasarkan beberapa faktor, antara lain: umur pasien, jenis kanker, dan stadium dari kankernya. Untuk masing-masing jenis kanker ada regimen kemoterapinya sendiri.
Di bawah ini adalah daftar beberapa obat yang sering diberikan dalam regimen kemoterapi.
1. Cyclophosphamide (Cytoxan)
2. Doxorubicin (Adriamycin) atau Epirubicin (Ellence)
3. 5-fluorouracil (Adrucil)
4. Methotrexate (Rheumatrex)
5. Paclitaxel (Taxol) or Docetaxel (Taxotere)
Kapan dan bagaimana kemoterapi diberikan?

Pasien sedang menjalani kemoterapi

Pasien sedang menjalani kemoterapi

Kemoterapi yang diberikan sesudah operasi pengambilan tumor disebut adjuvant chemotherapy, atau kalau diberikan sebelum operasi dinamakan neoadjuvant chemotherapy. Beberapa obat anti-kanker ada yang diberikan secara per oral (diminum) atau disuntikkan (ke otot, bagian tubuh dimana ada jaringan lemak, atau dibawah kulit). Akan tetapi, sebagian besar obat anti kanker diberikan dengan disuntikkan melalui vena (infus). Lokasi pemberian obat obat anti-kanker ini bisa di rumah pasien, di tempat praktek dokter, atau di rumah sakit, bergantung pada tipe kemoterapi yang diberikan.
Untuk kanker yang menjalani tindakan operasi pengangkatan, kemoterapi biasanya dimulai dalam kurun waktu antara 4-12 pekan sesudah operasi pengangkatan tumor. Untuk yang tidak ada tindakan pengangkatan, kemoterapi bisa segera dimulai jika pasien sudah terdiagnosa kanker. Kemoterapi umumnya diberikan dalam siklus 21-28 hari, artinya satu tindakan kemoterapi dengan kemoterapi selanjutnya berjarak 21-28 hari. Pemberian obat kemo (anti-kanker) bisa diberikan setiap pekan atau tiga pekan sekali, dengan ‘masa istirahat’ untuk memberikan kesempatan pada tubuh untuk pulih kembali dari efek kemoterapi. Lamanya siklus pengobatan dengan kemoterapi tergantung dari jenis obat yang diberikan. Lama keseluruhan waktu pengobatan bisa bervariasi, tetapi sering sampai 3-6 bulan.

Apa saja efek samping kemo?
Obat-obat kemo bersifat tidak selektif, sehingga di samping membunuh sel kanker, ia bisa juga mempengaruhi pertumbuhan sel normal. Karena itu, kemoterapi dapat menyebabkan beberapa efek samping. Di bawah ini adalah beberapa efek samping obat kemoterapi berserta pengatasannya.
1. Mual dan muntah.
Mual dan muntah adalah efek samping yang tersering dijumpai pada penggunaan obat kemo. Mual dan muntah bisa terjadi segera setelah kemo, atau mungkin baru muncul sehari setelah kemo, atau bahkan lebih. Beberapa orang mungkin bahkan akan mual atau muntah sebelum kemo karena faktor psikologis. Untuk mengatasai hal ini, dokter biasanya akan memberikan obat anti mual/muntah (golongan anti-emetik) untuk bisa mengurangi atau mencegah rasa mual dan muntah yang bisa timbul selama pengobatan dengan kemoterapi. Obat anti emetic ada yang disertakan bersama kemoterapi dan ada yang digunakan setelah kemoterapi. Gunakan sesuai petunjuk dokter. Selain itu, makan beberapa kali dalam sehari dengan porsi yang kecil bisa membantu menolong keadaan ini.
2. Rambut rontok (alopecia atau kebotakan).
efek botakKarena sel rambut juga merupakan sel yang aktif membelah, maka ia juga menjadi sasaran obat kemoterapi. Selama pengobatan, rambut bisa saja menipis atau rontok sama sekali, bergantung pada obat anti-kanker apa yang di berikan. Alis, bulu mata dan rambut di bagian tubuh lain juga bisa rontok. Rambut akan tumbuh kembali begitu pengobatan berakhir. Rambut yang baru saja tumbuh sesudah kemoterapi selesai, biasanya mempunyai tekstur dan warna yang lain dari rambut sebelum kemoterapi.Selama pengobatan, jika rambut tidak rontok sama sekali dan hanya menipis, gunakan shampoo yang lembut, sisir yang halus dan atur pengering rambut yang digunakan pada panas yang paling rendah. Beberapa perempuan memilih untuk memotong pendek rambutnya menjelang kemoterapi, agar supaya merasa lebih baik dengan merasa mengontrol keadaan yang dihadapi. Jika memillih memakai rambut palsu (wig), kebih baik disiapkan sebelum rangkaian kemoterapi dimulai, sehingga warna dan style wig bisa disesuaikan dengan rambut asli.
3. Menopause dini (keadaan dimana menstruasi berhenti secara dini).
Banyak perempuan tidak mendapatkan menstruasi lagi selama dan sesudah kemoterapi, dan pada saat yang bersamaan timbul gejala menopause seperti rasa panas yang timbul di wajah, bagian tubuh lainnya atau seluruh tubuh (hot flashes).
Gejala lain yang timbul adalah vagina menjadi lebih kering dari biasanya.Bagi mereka yang sudah dekat dengan usia menopause (45 tahun atau lebih tua dari 45 tahun), gejala-gejala ini bisa menetap. Sementara bagi mereka yang lebih muda, gejala-gejala ini bisa hanya sementara, yang di tandai dengan kembalinya menstruasi.
4. Letih dan lemah.
Kelelahan adalah efek samping yang sangat biasa terjadi pada orang yang sedang menjalani kemoterapi. Sampaikan kepada dokter jika anda mengalami hal ini untuk bisa memastikan penyebabnya. Jika ada anemia misalnya, dokter akan menangani secara tepat. Tanyakan juga pada dokter anda apakah ada obat yang bisa menolong untuk mengurangi rasa letih. Olahraga ringan dan diet yang sehat dan seimbang akan menolong meningkatkan energy. Istirahat yang banyak dan minta anggota keluarga dan teman untuk menolong mengerjakan pekerjaan sehari-hari Anda..
5. Neutropenia dan mudah terkena infeksi.

berkurangnya neutrofil akibat kemoterapi

berkurangnya neutrofil akibat kemoterapi

Orang yang sedang menjalani kemoterapi mudah terkena infeksi karena kemoterapi mengakibatkan turunnya jumlah sel darah putih (neutrophil) dalam darah yang merupakan “pasukan” pelawan bakteri/kuman. Penurunan jumlah sel darah putih ini (disebut neutropenia) umumnya terjadi pada minggu kedua setelah kemo dan dapat dilihat dengan pemeriksaan darah. Karena itu sebaiknya hindarkan berdekatan dengan orang yang dengan sakit menular. Lebih sering mencuci tangan dengan sabun bisa mencegah infeksi. Jika terluka, segera bersihkan luka dengan air bersih/anti septik.
Jika anda mengalami tanda-tanda infeksi setelah kemoterapi seperti demam tinggi, sariawan berat, radang di mulut, batuk dan sesak, radang sinus, dll, segera sampaikan ke dokter. Jika neutropenia Anda cukup berat (neutrophil kurang dari 500 cell/ml) mungkin anda perlu dirawat di RS dan mendapatkan pengobatan khusus seperti pemberian obat golongan granulocyte colony-stimulating factors (G-CSF) seperti filgrastim untuk meningkatkan kembali jumlah neutrophil Anda. Sebelum kemoterapi berikutnya, dokter Anda akan/harus selalu minta Anda melakukan uji/tes darah di laboratorium, untuk memastikan jumlah neutrophil anda cukup tinggi sehingga aman untuk menerima kemoterapi.
6. Luka/sariawan di mulut dan tenggorokan/kerongkongan (mucositis oral)
Karena jenis sel yang ada di mulut dan tenggorokan/kerongkongan adalah jenis sel yang tumbuh, berkembang dan berganti dengan cepat, dan obat-obat kemoterapi mudah merusak sel-sel jenis ini, maka daerah mulut dan tenggorokan/kerongkongan menjadi mudah luka atau kering. Karena itu, lakukan pemeriksaan (check-up) gigi sebelum memulai kemoterapi. Selama terapi, bersihkan gigi dan gusi setiap kali selesai makan dan sebelum tidur menggunakan sikat gigi yang lunak. Penggunaan pasta gigi dengan soda dan peroksida akan sangat membantu. Hindari obat kumur berkadar alkohol tinggi. Jika pasta gigi menyebabkan rasa sakit, bisa diganti dengan berkumur dengan air garam. Perbanyak minum air putih.
7. Berat badan bertambah.
Meskipun penyebab pastinya belum jelas, sejumlah perempuan mengalami kenaikan berat badan selama kemoterapi. Makan makanan yang sehat dan bergizi akan membantu mempertahankan berat badan yang ideal.
8. Kuku yang rapuh.
Beberapa jenis obat anti-kanker dapat menyebabkan kerapuhan pada kuku jari tangan dan jari kaki. Kuku bisa mudah pecah dan rusak, bahkan terasa sakit dan lalu lepas. Seperti rambut yang rontok, masalah dengan kuku ini hanya sementara saja.
9. Diare atau sembelit
Beberapa kemoterapi bisa menyebabkan efek samping diare atau sebaliknya sembelit. Efek samping ini bisa diatasi dengan mengatur pola makan yang sesuai seperti pada kondisi tanpa kanker.

Jangan takut kemoterapi, jika bisa segerakan !!
Bagi penderita kanker, sampai saat ini kemoterapi merupakan salah satu terapi standar untuk kanker di hampir semua negara. Berbagai uji klinik sudah menunjukkan keberhasilannya. Efek samping di atas yang nampaknya merugikan ini jika dihitung jauh lebih kecil daripada manfaat kemoterapi. Jangan sampai ketakutan terhadap efek samping kemoterapi menyebabkan pasien menunda dan bahkan mencari pengobatan alternative yang belum bisa dijamin keberhasilannya. Penundaan menjalani kemoterapi hanya akan menyebabkan sel-sel kanker tumbuh semakin banyak dan ketika akan dikemo sudah masuk dalam stadium lanjut yang akan mengurangi keberhasilan kemoterapi. Sebaliknya semakin awal dilakukan kemoterapi, maka tingkat keberhasilan penyembuhan semakin besar.
Terapi lain seperti peningkatan system imun, radioterapi dan lain-lain juga bisa dilakukan secara bersamaan sesuai dengan petunjuk dokter. Memang pada akhirnya hanya kepada Tuhan yang Maha Kuasa kita serahkan hasil kesembuhannya, tetapi ikhtiar yang benar adalah suatu kewajiban manusia.

 

(dari berbagai sumber)





Cermat menggunakan suplemen kesehatan stamina pria

6 09 2015

Dear kawan,

tulisan ini adalah reposting dari tulisanku di Harian Tribun Yogya hari ini…

Baru-baru ini, tepatnya tanggal 24 Agustus 2015 yang lalu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI mengumumkan penemuannya terkait adanya berbagai suplemen kesehatan khususunya untuk stamina pria yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO).

Berdasarkan hasil pengawasan Badan POM di seluruh Indonesia dari bulan November 2014 sampai dengan Agustus 2015, ditemukan sebanyak 50 OT dan SK stamina pria mengandung BKO, dengan 25 di antaranya merupakan produk OT tidak terdaftar (ilegal). Permasalahan ini bukan hanya menjadi isu di Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia. Berdasarkan informasi melalui Post-Marketing Alert System (PMAS), sebanyak 18 OT dan SK mengandung BKO juga ditemukan di ASEAN, Australia, dan Amerika Serikat. Untuk itu, Badan POM mengeluarkan peringatan/public warning sebagaimana terlampir, dengan tujuan agar masyarakat lebih waspada dan tidak mengonsumsi OT dan SK mengandung BKO karena dapat membahayakan kesehatan.
Bahan Kimia Obat (BKO) yang teridentifikasi dicampur dalam produk OT dan SK stamina pria hasil temuan periode November 2014 hingga Agustus 2015 didominasi oleh sildenafil dan turunannya. Sildenafil sendiri merupakan obat yang diindikasikan untuk mengobati disfungsi ereksi dan hipertensi arteri pulmonal. Obat ini umum dikenal dengan nama Viagra dan paling dominan digunakan sebagai obat disfungsi ereksi pada pria. Sildenafil dan turunannya termasuk golongan obat keras yang hanya boleh digunakan sesuai petunjuk dokter. Jika digunakan secara tidak tepat, bahan kimia obat ini dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan, seperti kehilangan penglihatan dan pendengaran, stroke, serangan jantung, bahkan kematian.
Tulisan kali ini mengajak Anda mengenal sildenafil dan turunannya, dan bahayanya jika digunakan sembarangan seperti yang dicampurkan pada suplemen kesehatan stamina pria.
Riwayat penemuan sildenafil

Viagra alias Pil Biru

Viagra alias Pil Biru

Tahukah anda bahwa penemuan sildenafil (Viagra) adalah tidak sengaja? Kisahnya pada tahun 1991, Dr. Nicholas Terret dan timnya di perusahaan farmasi Pfizer sedang meneliti sildenafil (molekul UK-92, 480) sebagai obat hipertensi dan angina pektoris. Angina pektoris adalah penyakit jantung di mana terjadi penyempitan/kontraksi pembuluh darah jantung (vasokonstriksi). Namun ternyata efek sildenafil terhadap angina pektoris sangat minimal. Hasil yang didapat justru di luar dugaan. Beberapa relawan yang menggunakan sildenafil justru merasakan ereksi pada penisnya. Menurut hipotesis, ereksi merupakan efek samping sildenafil. Dari situ kemudian obat ini justru dikembangkan menjadi obat untuk mengatasi disfungsi ereksi pada pria. Kok bisa ya obat untuk jantung malah jadi obat untuk penis?

Bagaimana Viagra bisa membantu penis ereksi?
Mekanisme fisiologis ereksi pada penis pada saat ada stimulasi seksual melibatkan pelepasan suatu senyawa, yaitu oksida nitrat (NO) dari bagian penis yang disebut corpus cavernosum. NO ini akan mengaktifkan enzim guanilat siklase (GC), yang menyebabkan peningkatan senyawa siklik guanosin monofosfat (cGMP), yang selanjutnya menyebabkan pelebaran pembuluh darah di sekitar corpus cavernosum. Dengan pelebaran pembuluh darah di sekitar penis, maka darah dapat mengalir ke penis dan menyebabkan pembesaran penis. Senyawa cGMP ini bisa dirusak oleh oleh enzim yang namanya fosfodiesterase-5 (PDE5). Sildenafil bekerja menghambat enzim tersebut sehingga kadar cGMP tetap banyak dan dapat menyebabkan ereksi penis.

Mekanisme aksi Sildenafil mengatasi disfungsi ereksi

Mekanisme aksi Sildenafil mengatasi disfungsi ereksi

Belakangan diketahui bahwa enzim ini justru banyak terdapat di otot pembuluh darah penis dan paru-paru, bukan di jantung. Itulah mengapa obat ini tidak begitu efektif untuk angina pectoris (penyempitan pembuluh darah jantung), tapi justru lebih poten pengatasan untuk disfungsi ereksi dan penyempitan pembuluh darah paru-paru (hipertensi pulmonary).
Kembali ke cerita penemuan tadi, dengan adanya efek tak disangka-sangka tesebut, akhirnya pada tahun 1994, Pfizer memutuskan untuk melanjutkan uji klinik untuk lebih menggali potensi sildenafil sebagai obat disfungsi ereksi. Ian Osterloh adalah peneliti Pfizer yang amat berperan dalam penemuan sildenafil untuk indikasi disfungsi ereksi, sedangkan Peter Dunn dan Albert Wood adalah yang berjasa mensintesis sildenafil dalam bentuk pil. Sildenafil mendapat ijin FDA sejak 27 Maret 1998 dengan nama Viagra dan kini menjadi obat yang sangat laris dalam pengobatan disfungsi ereksi. Sekitar 600.000 dokter meresepkan sildenafil di 110 negara. Viagra adalah tergolong obat keras yang harus diperoleh dengan resep dokter.
Namun sayangnya dengan kepopulerannya ini, Viagra menjadi obat yang sangat banyak disalahgunakan, dan juga diedarkan secara illegal. Seperti yang disebutkan di awal tulisan ini, Viagra banyak dicampurkan dalam suplemen kesehatan stamina pria. Selain itu Viagra juga banyak dijual secara illegal di kios-kios khusus yang menawarkan “Pil Biru” atau secara online yang rawan terhadap penipuan atau pemalsuan.
Turunan sildenafil

Keluarga inhibitor PDE-5

Keluarga inhibitor PDE-5

Selain Viagra (sildenafil), ada pula turunan sildenafil yang juga sering dicampurkan dalam suplemen kesehatan stamina pria. Apa saja mereka? Mengekor kesuksesan Viagra, para ahli kemudian mengembangkan obat disfungsi ereksi yang masih satu keluarga dengan sildenafil, yaitu tadalafil (Cialis), vardenafil (Levitra), dan avanafil (Stendra). Karena masih satu golongan, mekanisme kerja mereka sama, yaitu sebagai penghambat enzim fosfodiesterase-5, sehingga mencegah degradasi siklikGMP yang berperan dalam proses ereksi penis.

Lalu apa perbedaannya dengan Viagra?
Cialis (tadalafil) bisa berada lebih lama di dalam tubuh daripada Viagra, karena memiliki waktu paruh jauh lebih panjang yaitu 17,5 jam (Viagra hanya 4 jam). Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan oleh obat untuk menjadi separuhnya. Artinya, dalam waktu 4-5 jam, kadar Viagra dalam tubuh tinggal separonya, karena separonya yang lain sudah mulai dieliminasi/dikeluarkan dari tubuh. Sedangkan Cialis, dia baru akan tinggal separonya dalam waktu 17,5 jam. Implikasinya adalah bahwa durasi aksi Cialis menjadi lebih lama, sampai kurang lebih 36 jam, dibandingkan dengan Viagra yang aksinya hanya maksimal sekitar 12 jam. Tapi tentu ada konsekwensinya juga, dengan obatnya tinggal lebih lama di dalam tubuh, maka efek samping yang mungkin dialami pasien juga akan lebih lama. Bedanya lagi, efek Viagra akan berkurang jika dikonsumsi dengan makanan yang mengandung lemak, sedangkan Cialis efeknya tidak dipengaruhi oleh adanya makanan. Efek samping khas dari tadalafil adalah nyeri otot dan nyeri punggung.
Levitra termasuk saudara Viagra, yang tergolong baru dalam pengobatan disfungsi ereksi. Waktu paruhnya sebanding dengan Viagra yaitu 4 jam. Tapi kelebihannya adalah ia lebih poten dari Viagra, sehingga bisa dipakai dalam dosis lebih kecil dari Viagra (10% dosis Viagra). Namun sama dengan Viagra, efektivitas Levitra juga dipengaruhi oleh adanya makanan dan memiliki efek samping khas yaitu gangguan penglihatan.

perbandingan Viagra Cialis dan Levitra

perbandingan Viagra Cialis dan Levitra

Avanafil (Stendra) merupakan anggota keluarga sildenafil yang terbaru, yang baru disetujui peredarannya pada tahun 2012 di Amerika. Kelebihan analafil dibandingkan pendahulunya adalah efeknya lebih cepat. Jika Viagra membutuhkan waktu 30-60 menit untuk menghasilkan efeknya, maka avanafil hanya perlu 15-30 menit. Efek samping avanafil juga lebih sedikit karena bekerja lebih spesifik pada enzim PDE5.

Apa efek samping umum sildenafil dan turunannya?
Walaupun ada efek samping spesifik untuk masing-masing obat, tetapi keluarga sildenafil/Viagra ini memiliki efek samping umum, yang meliputi : sakit kepala (10-16 %), wajah memerah dan terasa panas (5-12%), gangguan pencernaan (4-12%), hidung tersumbat (1-10%) dan nggliyeng (2-3%) dan gangguan penglihatan. Karena aksi obat ini adalah dengan melebarkan pembuluh darah, maka penggunaan berlebih bisa menurunkan tekanan darah. Sehingga, pasien hipertensi maupun gangguan jantung yang sedang menggunakan obat-obat anti hipertensi atau obat pelebar pembuluh darah seperti golongan nitrat, harus hati-hati menggunakannya, karena bisa menyebabkan tekanan darah turun drastis, syok, dan bahkan bisa berakibat pada kematian.
Hati-hati menggunakan suplemen kesehatan stamina pria
Dalam keadaaan memang diperlukan terutama untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, suplemen kesehatan stamina pria memang sangat membantu. Namun demikian, perlu berhati-hati menggunakannya. Gangguan ereksi sendiri bisa disebabkan karena kondisi kesehatan yang menurun, atau gangguan psikologis. Tentu gangguan ini perlu diatasi lebih dahulu, temasuk jika ada gangguan piskologis. Menjaga kesehatan secara umum dengan olahraga dan makanan sehat serta vitamin bisa membantu mendapatkan tubuh yang bugar. Untuk penggunaan suplemen kesehatan khusus untuk stamina pria, perlu berhati-hati memilihnya. Pilihlah merk dari industri farmasi yang sudah cukup besar yang umumnya lebih tertib dalam pembuatan produknya terkait adanya pencampuran dengan bahan kimia obat. Jika ada tanda-tanda efek samping seperti di atas, ada kemungkinan suplemen tersebut dicampur sildenafil atau turunannya.

Jika anda memiliki gangguan hipertensi atau jantung, dan sedang mengkonsumi obat-obat hipertensi atau jantung, jangan sembarangan mengkonsumsi suplemen obat kuat ini karena bisa berbahaya. Siapa yang tahu berapa kadar obat sildenafil yang dicampurkan? Siapa yang akan membatasi penggunaannya? Jangan pula mudah membeli di kios-kios kecil penjual obat kuat maupun secara online. Pembelian melalui jalur illegal rawan terhadap pemalsuan obat. Tentu sayang membuang uang banyak untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Kalau hanya sekedar membuang uang mungkin masih tidak apa, bagaimana jika sampai mengorbankan kesehatan lainnya jika terkena efek samping atau efek toksik yang tidak dikehendaki atau mendapat obat palsu yang berbahaya? Obat-obat sildenafil dan turunannya semestinya diperoleh melalui resep dokter dan digunakan dengan dosis sesuai kebutuhan. Jika memang ada gangguan fungsi ereksi secara organik, sebaiknya diperiksakan ke dokter ahlinya untuk mendapatkan penanganan yg tepat.

Demikian semoga bermanfaat..