Apa sih Dumolid itu? Kok sampe bisa bikin artis ditangkap polisi?

6 08 2017

Dear kawan,

Lama tidak menulis lagi di blog ini. Aku repost saja tulisanku di harian Tribun hari ini untuk dokumentasi blog ini ya.. biar blog-ku juga dikunjungi hehe..  Disertai tambahan komentar dan ilustrasi untuk menambah penjelasan.

Baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan tertangkapnya pasangan artis Tora dan Mieke atas kepemilikan tablet Dumolid. Berita ini sangat cepat tersebar dengan berbagai versinya. Beberapa berita menyebutnya sebagai sebagai golongan narkotik dan menyamakannya dengan obat-obat semacam shabu atau ecstasy. Aku tidak memasalahkan aspek hukumnya, biar bapak-bapak polisi yang berwenang yang menetapkannya, tetapi akan membahas dari aspek obatnya. Tulisan ini mencoba meluruskan dan mengupas tentang Dumolid, kegunaannya, potensinya disalahgunakan dan bagaimana seharusnya memperlakukannya.

 Berisi nitrazepam

Gugus Benzene dan Diazepine menjadi kerangka obat golongan benzodiazepin

Dumolid adalah nama dagang untuk obat yang bernama nitrazepam. Selain Dumolid, obat lain yang berisi nitrazepam adalah Mogadon. Nitrazepam sendiri secara kimia adalah termasuk obat golongan benzodiazepine yang bekerja menekan system syaraf pusat. Istilah benzodiazepine berasal dari struktur kimia golongan obat ini yang memiliki gugus cincin “benzen” dan  “diazepin”. Obat ini memiliki khasiat antara lain sebagai obat penenang, obat tidur, dan anti kejang. Dalam regulasi penggolongan obat, nitrazepam (Dumolid) dan obat-obat golongan benzodiazepin tadi termasuk obat psikotropika, yaitu obat yang bisa mempengaruhi psikis/kejiwaan seseorang. Sepertinya halnya obat golongan narkotika, pengaturan peredarannya sangat ketat karena berpotensi untuk disalahgunakan.

 

Obat golongan benzodiazepine

Ada baiknya mengetahui bahwa selain Dumolid (nitrazepam), ada banyak obat lain yang tergolong obat benzodiazepine.  Jadi Nitrazepam tidak sendirian. Obat-obat lain yang tergolong benzodiazepine antara lain adalah diazepam, alprazolam, midazolam, klonazepam, estazolam, klordiazepoksid, dll, yang terdapat dalam berbagai nama dagang. Mereka berbeda dalam hal kecepatannya menimbulkan efek, berapa lama efeknya, dan tujuan obat digunakan. Beberapa yang termasuk memiliki aksi pendek adalah midazolam dan klorazepat dengan durasi 3-8 jam. Sedangkan yang beraksi sedang adalah lorazepam dan alprazolam, dengan durasi 11-20 jam. Sementara nitrazepam bersama diazepam, klonazepam dan klordiazepoksid termasuk yang memiliki aksi panjang, sampai 1-3 hari.

 Obat yang legal

Dumolid, obat keras dengan tanda lingkaran merah dan huruf K

Tidak seperti ecstasy, shabu, heroin, kokain yang sering digunakan untuk obat rekreasional (mencari kesenangan) yang bersifat illegal dan tidak untuk pengobatan, Dumolid dan obat benzodiazepine lainnya adalah obat legal yang digunakan dalam pengobatan. Obat ini bertanda lingkaran merah berisi huruf K pada kemasannya, menandakan bahwa mereka tergolong obat keras yang harus diperoleh dengan resep dokter. Gangguan penyakit yang diterapi dengan obat golongan ini antara lain adalah kecemasan, insomnia (tidak bisa tidur), kejang, gejala putus alcohol, dan untuk relaksasi otot. Penyakit-penyakit tersebut disebabkan karena aktivitas syaraf pusat yang berlebihan, karena itu memerlukan obat yang dapat menekan aktivitas system syaraf.

 Bagaimana kerjanya?

GABA receptor, tempat aksi obat benzodiazepin

Obat golongan benzodiazepin termasuk Dumolid bekerja pada reseptor GABA di sistim syaraf pusat manusia. GABA adalah suatu senyawa penghantar di otak (neurotransmitter) yang bekerja menekan system syaraf pusat sebagai penyeimbang stimulasi syaraf.  Obat-obat golongan benzodizepin bekerja meningkatkan efek GABA untuk menekan aktivitas otak/sistim syaraf pusat. Dengan demikian diperoeh efek menenangkan (sedatif), menidurkan, juga mengurangi kejang/kekakuan otot.

Apakah bisa menyebabkan kecanduan?

Ya, obat-obat psikotropika sejenis benzodiazepine ini berpotensi untuk disalahgunakan dan menyebabkan kecanduan. Efeknya yang menenangkan dan menidurkan membuatnya sering dicari orang yang mengalami masalah kecemasan atau gangguan tidur sebagai solusi tercepat. Jika penderita gangguan semacam itu pergi ke dokter, dokter akan memeriksa dan memutuskan apakah seseorang memerlukan obat atau cukup dengan tindakan-tindakan non-obat seperti psikoterapi, perubahan pola hidup, dll. Tentunya perlu dicari akar penyebab masalahnya dulu sebelum diputuskan menggunakan obat. Salah satu obat yang paling sering diresepkan adalah obat golongan benzodiazepine ini, termasuk Dumolid.

Namun demikian, banyak orang yang kemudian mencoba mendapatkan obat-obat ini secara illegal, dengan berbagai modus, tanpa indikasi medis untuk disalahgunakan. Mungkin saja ia diperoleh dari pasar gelap atau dari oknum di Apotek atau oknum yang memiliki akses terhadap obat tersebut. Karena jika diperoleh secara legal, peraturannya cukup ketat, misalnya harus pakai resep asli tidak boleh menggunakan copy resep. Copy resep hanya boleh digunakan jika memang ada obat yang belum diberikan dari resep aslinya. Apotek pun harus memberikan laporan penjualan obat psikotropika setiap bulannya ke Dinas Kesehatan.

Obat golongan benzodiazepine berpotensi menyebabkan toleransi dan kecanduan, terutama pada penggunaan yang lama.   Awalnya obat ini akan menyebabkan toleransi, yaitu diperlukan dosis yang semakin meningkat untuk mendapatkan efek yang sama. Jika semula cukup dengan 5 mg untuk mendapatkan efek, maka berikutnya diperlukan 10 mg untuk mendapatkan efek yang sama. Hal ini diduga karena reseptor GABA menjadi semakin kurang sensitive terhadap obat dan saraf makin beradaptasi dengan obat. Hal ini akan menyebabkan penderita cenderung meningkatkan dosisnya untuk mendapatkan efek yang sama, bahkan sampai mencapai dosis maksimalnya. Toleransi ini akan meningkatkan risiko  ketergantungan, di mana ketika obat dihentikan pemakaiannya, pengguna akan merasakan gejala-gejala semacam gejala putus obat (sakaw). Gejala putus obat juga dapat terjadi setelah pemberian benzodiazepine pada dosis normal yang diberikan pada jangka pendek.

Toleransi terhadap nitrazepam dapat berkembang dalam waktu 3-14 hari pada penggunaan terus menerus. Karena itu regimen pengobatannya harus diatur sependek mungkin dan sebaiknya hindari peresepan berulang. Batas toleransi pasien satu dengan yang lain bisa bervariasi sangat besar, apalagi dengan pasien yang sudah mengalami gangguan otak atau jantung dan pernafasan.

Apa efek penyalahgunaan obat benzodiazepine?

Jika dipakai pada dosis terapi sesuai kebutuhannya, sebenarnya obat-obat ini relatif aman dan memberikan efek yang diharapkan, yaitu menenangkan dan membantu tidur. Tetapi jika dosisnya makin meningkat, apalagi jika sampai over dosis, maka dapat muncul efek-efek lain akibat penekanan system syaraf pusat, seperti : bingung, nggliyeng, gangguan penglihatan, kelemahan, bicara melantur, gangguan koordinasi, susah bernafas, bahkan bisa sampai koma.

Yang menarik, gejala penyalahgunaan obat benzodiazepine secara kronis dapat menyerupai gejala-gejala yang merupakan indikasi/tujuan penggunaan obat ini pertama kali, yaitu kecemasan, tidak bisa tidur (rebound insomnia), tidak doyan makan, sakit kepala, lemas. Hal ini menyebabkan penderita cenderung mengkonsumsi lebih banyak lagi.

Gejala-gejala putus obat benzodiazepin

Hal yang sama juga dapat terjadi ketika obat tiba-tiba dihentikan, akan terjadi gejala putus obat (Sakaw). Beberapa gejala umum ketika terjadi putus obat golongan obat benzodiazepine adalah kecemasan, gangguan tidur, kekakuan otot, gelisah. Gejala lain yang lebih jarang terjadi adalah mual, lemah, mimpi buruk, gangguan koordinasi otot, dll. Dapat juga terjadi kejang akibat putus obat benzodiazepine, terutama pada mereka yang menggunakan dalam dosis tinggi , waktu lama, dan ada penggunaan obat lain yang menurunkan ambang kejang. Karena itu, sebaiknya penghentian obat benzodiazepine tidak dilakukan secara tiba-tiba, tetapi bertahap.

Bagaimana penggunaan yang tepat?

Lebih baik mencegah dari pada mengobati setelah kecanduan

Yang pasti obat ini harus digunakan di bawah pengawasan dokter. Lama penggunaan obat ini harus sependek mungkin yang tetap bisa memberikan efek terapi sesuai dengan indikasinya, tetapi tidak boleh lebih dari 4 minggu, termasuk waktu penghentiannya secara bertahap. Setelah 4 minggu, terapi sebaiknya tidak diteruskan sebelum dilakukan evaluasi terhadap kondisi pasien.  Jika memang diperlukan terapi jangka panjang, maka kebutuhan pasien harus dipantau secara reguler.

Pada dasarnya obat golongan benzodiazepine bisa membantu penderita yang membutuhkan, tetapi harus berhati-hati untuk tidak menjadi tergantung kepadanya. Lebih baik menghindari dari pada mengobati ketika sudah kecanduan.

Iklan




Persiapan obat-obatan untuk Lebaran sehat dan nyaman

20 06 2017

Contoh saja, bukan endorsment 🙂
sumber: Winda carmelita

Bulan Ramadhan sudah berjalan 3 minggu, sebagian masyarakat sudah mulai bersiap-siap menyambut tradisi Lebaran.  Mudik ke kampong halaman bertemu dengan sanak saudara menjadi ritual tahunan yang tidak ingin dilewatkan. Aneka makanan tradisi keluarga disajikan untuk melengkapi kebersamaan. Namun di balik kegembiraan Lebaran, kadang terjadi berbagai gangguan kesehatan  yang membuat acara menjadi kacau. Padahal biasanya dokter praktek dan apotek tutup. Selama gangguannya ringan, dapat di atas dengan obat-obat tanpa resep yang bisa disimpan dalam persediaan. Jika penyakitnya berat tentu harus diperiksakan ke dokter atau RS. Obat-obat apa yang perlu disiapkan selama proses lebaran supaya Lebaran kita sehat dan nyaman?

Obat-obat untuk penyakit kronis

Penyakit kronis adalah penyakit yang berjangka lama dan umumnya membutuhkan penggunaan obat jangka panjang secara rutin, seperti hipertensi, diabetes, asma, nyeri sendi, epilepsy, dll. Buat Anda yang menderita penyakit ini jangan lupa membawa obat-obat pribadinya. Periksalah persediaan obat Anda, apakah masih tersedia cukup sampai liburan lebaran dan beberapa hari setelahnya. Jika dirasa akan habis, sampaikan ke dokter saat kontrol untuk mendapatkan resepnya sebelum libur lebaran. Khusus untuk penderita asma, jangan lupa membawa obat inhaler pelega nafasnya, karena suasana mudik yang padat dan melelahkan bisa saja menjadi pemicu kekambuhan asma.

Obat-obat untuk penyakit ringan

Beberapa gangguan kesehatan ringan bisa juga terjadi selama mudik lebaran, karena itu ada baiknya juga membawa perbekalan obat-obatan yang mungkin diperlukan.

  1. Obat Pereda nyeri (analgesik)

Selama mudik atau libur lebaran, sangat mungkin terjadi gangguan nyeri, entah sakit kepala, sakit gigi, nyeri haid, atau terluka karena jatuh atau kecelakaan ringan. Obat-obat yang perlu disediakan adalah obat pereda nyeri yang dapat dibeli bebas di apotek atau toko obat, yaitu yang berisi parasetamol atau ibuprofen. Merk yang tersedia bermacam-macam, silakan pilih berdasarkan selera dan ukuran kantung anda. Pada dasarnya selama isinya dan dosisnya sama, kemanjurannya sama. Obat parasetamol dan ibuprofen dapat juga digunakan untuk penurun panas pada saat terjadi demam.  Obat ini bisa digunakan untuk berbagai jenis nyeri ringan.

  1. Obat diare

Diare termasuk gangguan yang sering dijumpai menjelang atau pada saat Lebaran, yang biasanya disebabkan karena paparan makanan yang kurang higienis, baik dalam perjalanan mudik atau pada saat Lebaran. Diare ditandai dengan peningkatan frekuensi buang air besar (BAB) disertai konsistensi tinja yang cair, sehingga dapat menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan) dan kekurangan nutrisi. Jika terjadi dehidrasi yang berat, perlu waspada karena dapat berakibat pada kematian. Dehidrasi berat dapat dilihat dari tanda-tandanya antara lain: penderita terlihat sangat mengantuk/diam saja, atau bahkan tidak sadar, matanya cekung, tidak bisa minum atau minum sangat sedikit, jika dicubit, kembalinya kulit ke keadaan normal sangat pelan (lebih dari 2 detik). Kalau seperti ini tentu harus dibawa ke UGD dan mendapat terapi cairan secepatnya menggunakan infus.

Sebagian besar diare adalah disebabkan karena virus dan dapat sembuh dengan sendirinya.  Untuk membedakan antara diare karena virus dengan diare karena bakteri secara sederhana dapat dilihat dari ada/tidaknya darah pada feses/tinja. Jika tinja diare mengandung darah, mungkin disebabkan karena bakteri, dan segeralah konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Untuk diare yg tidak berdarah, obat yang dapat disiapkan untuk diare adalah Oralit dan sediaan Zinc.

suplemen Zinc tersedia dalam bentuk tablet dan sirup

Oralit tersedia dalam beberapa merk juga, dan ada yang menyediakan dalam beberapa rasa yang enak. Pilihlah sesuai selera. Oralit berfungsi untuk mengembalikan cairan dan elektrolit yang terbuang akibat diare. Jangan lupa gunakan suplemen Zinc untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap virus. Suplemen Zinc tersedia dalam bentuk sirop untuk anak-anak, dan tablet untuk dewasa. Gunakan sampai 2 minggu sejak pertama diare. Jangan lupa perbanyak minum untuk menghindari dehidrasi.

  1. Obat mabuk jalan

Obat anti mabuk andalan

Banyak orang yang sensitif terhadap gerakan dalam perjalanan sehingga mengalami mabuk jalan. Beberapa orang bisa mengalami mabuk perjalanan jika menumpang mobil, bus, kapal, atau pesawat udara. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah mabuk jalan antara lain adalah naik kendaraan di depan dengan pandangan lurus ke depan, jangan membaca di kendaraan, menghindari bau-bauan yang memicu mual. Namun jika hal-hal demikian tidak bisa membantu, anda butuh obat mabuk jalan. Obat mabuk jalan yang tersedia di pasaran adalah golongan antihistamin. Merk yang tersedia tidak begitu banyak. Obat ini bisa mencegah mual, muntah, dan pusing akibat mabuk jalan. Antihistamin yang sering dipakai adalah dimenhidrinat (merk terkenal yang sepertinya belum banyak saingannya adalah Antimo. Thanks buat teman2 di Phapros. Bukan endorse loh hehe…. ). Obat sebaiknya diminum sebelum perjalanan dimulai. Obat ini menyebabkan mengantuk sehingga mungkin menjadi lebih nyaman karena bisa berisitirahat dalam perjalanan. Ada penelitian yang melaporkan bahwa jahe bisa mengurangi mabuk jalan, jadi bisa juga dicoba minum wedang jahe atau mengulum permen jahe, walaupun mungkin hasilnya akan bervariasi antar orang.

  1. Obat maag/lambung

Keasyikan makan makanan tertentu apalagi yang asam dan pedas pada saat Lebaran dapat juga menyebabkan sakit maag kambuh.  Maag bisa terjadi jika terjadi peningkatan produksi asam lambung. Asam lambung yang meningkat bisa menyebabkan perih di lambung, Jika gangguannya masih ringan, maka dapat digunakan obat-obat yang bisa menetralkan asam lambung atau mengurangi produksi asam lambung. Beberapa obat yang sering digunakan untuk menetralkan asam lambung dan mengurangi produksi asam lambung antara lain adalah golongan antacid dan anti histamin H2.

Obat antasid umumnya berisi Al hidroksida dan Mg hidroksida, ada juga yang berisi CaCO3 yang bersifat basa, dengan tujuan menetralkan keasaman lambung. Obatnya ada yang berupa suspensi (cairan) dan ada yang berupa tablet kunyah. Untuk obat bentuk suspensi, jangan lupa kocok dahulu sebelum diminum supaya homogen. Untuk tablet kunyah, kunyah hingga halus sebelum ditelan agar efeknya lebih cepat. Sebaiknya tidak dipakai lebih dari 2 minggu, jika nyeri masih berlanjut, periksakan ke dokter. Antasid umumnya cukup poten untuk gangguan lambung yang masih ringan.

Jika antacid kurang manjur, bisa dikombinasi dengan obat yang bisa menghentikan produksi asam lambung yaitu golongan antihistamin H2, seperti simetidin dan ranitidin. Obat ini biasanya digunakan sebelum tidur dan sebelum makan.  Jika nyeri berlanjut, periksakan ke dokter.

  1. Obat anti alergi

Alergi bisa kambuh secara tiba-tiba, entah karena makanan atau lingkungan. Pada suasana lebaran yang biasanya berbeda dari biasanya, mungkin saja kita terkena paparan pemicu alergi sehingga alergi kambuh. Untuk alergi ringan seperti gatal-gatal atau ruam, dapat digunakan obat anti histamine yang dioleskan atau diminum. Obat yang bisa disediakan antara lain adalah CTM, cetirizine atau loratadin. Dua obat terakhir dapat dibeli di Apotek dengan resep dokter.

  1. Obat-obat lain

Obat-obat lain yang perlu disiapkan antara lain minyak gosok, obat oles (sesuai dengan kebiasaan masing-masing), plester penutup luka, dan obat antiseptik untuk luka.

Tips membawa obat dalam perjalanan

  1. Siapkan dompet atau kotak khusus untuk obat-obatan.
  2. Letakkan di tempat yang mudah dicari, tetapi cukup aman dari jangkauan anak-anak
  3. Letakkan di tempat yang teduh, jangan terkena panas langsung dari matahari atau mesin kendaraan.
  4. Jika perlu, untuk masing-masing oba dimasukkan dalam kantung sendiri dan diberi tulisan identitas obat dan untuk obat apa.

 Demikian beberapa obat yang perlu disiapkan selama libur lebaran., Semoga Lebaran Anda tetap nyaman tanpa gangguan. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.





Waspadai bahayanya tembakau Gorilla : seperti ditimpa gorilla?

29 01 2017

Dear kawan,

gorilaAdakah yg pernah merasakan sensasi ditimpa gorilla? Kira-kira sama ngga ya rasanya sama ditimpa beruang? Hehe….. si gorilla sekarang lagi naik daun dan tertuduh karena orang jadi suka ditimpa gorilla dengan cara menghisap tembakau Gorilla. Tapi benarkah memang ada hubungannya sama gorilla ? kok menurutku enggak yaa… itu adalah nama merk Tembakau (yang katanya) Super, yang biasanya dihisap sebagai rokok atau cerutu. Gara-gara mau diwawancara sebuah stasiun TV tentang tembakau gorilla, jadinya aku baca-baca lagi tentang tembakau yang lagi ngetop ini. Untuk melengkapi penjelasanku di TV (yg cuma tayang beberapa menit), aku coba menuliskan lagi di Harian Tribun. Dan ini adalah versi webnya, dengan sedikit modifikasi.

Heboh Tembakau Gorilla

Belakangan ini media masa diramaikan dengan berita tentang Tembakau Gorilla.  Seorang pilot sebuah maskapai penerbangan nasional dikait-kaitkan dengan penggunaan tembakau Gorilla ketika dia kedapatan “mabuk” saat akan menerbangkan pesawat jurusan Surabaya – Jakarta. Juga baru-baru ini dikabarkan bahwa kepolisian telah menangkap sejumlah orang yang diketahui memasarkan tembakau Super Cap Gorilla lewat Instragram. Informasi di situs Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut bahwa tembakau ini dicampuri senyawa ganja sintetik. Benarkah? Artikel ini akan mengupas tentang apa itu tembakau gorilla dan bahayanya.

Isi tembakau Gorilla

Tembakau Cap Gorilla, mengandung cengkih, ekor singa, wild dagga

Tembakau Cap Gorilla, mengandung cengkih, ekor singa, wild dagga

Ada beberapa sumber informasi yang beredar di dunia maya yang menyebutkan bahwa tembakau gorilla itu berisi campuran tembakau, cengkih, daun tanaman Ekor Singa (Leonotis leonurus).  Informasi lain menyebutkan bahwa Tembakau Gorilla ini setelah dianalisis ternyata mengandung campuran ganja sintetis (senyawa yang dibuat di laboratorium), yang disemprotkan ke tembakau tersebut, yang menyebabkan efek melayang, euphoria, dll, seperti ganja.  Adapun senyawa yang dicampurkan itu adalah AB-pinaca, AB-Chminaca,  dan AB-Fubinaca, yang merupakan senyawa turunan ganja.  Bisa jadi isi tembakau Gorilla adalah 3 macam campuran di atas (tembakau, cengkih, dan daun ekor singa), bisa juga dicampur lagi dengan senyawa ganja sintetis. Artikel ini akan mengupas satu-persatu.

Tanaman Ekor Singa (Leonotis leonurus)

leonotisTanaman ini berasal dari Afrika selatan, namun bisa dijumpai juga pada daerah lainnya dengan iklim subtropis seperti Australia, Hawai, dan California. Ia merupakan tanaman semak dengan daun lebar yang bisa mencapai tinggi 2-3 m.  DI sana ia banyak tumbuh liar di bebatuan di padang rumput Afrika Selatan. Warna bunganya yang oranye terang sangat menyolok saat berbunga. Masyarakat Afrika Selatan menggunakan tanaman ini secara tradisional untuk mengobati berbagai penyakit, seperti TBC, diabetes, hepatitis, sampai diare. Beberapa penelitian melaporkan bahwa ekstrak air daun Ekor Singa memiliki efek anti radang,  penghilang rasa sakit, dan penurun kadar gula darah. Namun di samping efek-efek tersebut, tanaman ini memiliiki senyawa yang bernama leunorin, yang berefek menenangkan. Hal inilah yang menyebabkan daun dan bunga kering tanaman ini sering dipakai dengan cara dibakar dan dihisap seperti tembakau atau ganja, dan disalahgunakan sebagai obat “rekreasional”. Namun demikian, potensi memabukkan tanaman Ekor Singa ini dilaporkan lebih rendah daripada ganja, dan sering digunakan sebagai alternatif ganja karena ganja sudah dilarang. Karena itu sering disebut “wild dagga” atau semacam ganja liar.

Ganja sintetis

Tanaman ganja (Cannabis sinensis) sudah lama dikenal masyarakat sebagai tanaman yang dapat menyebabkan efek halusinasi, eforia, dll., yang menyebabkannya digolongkan sebagai senyawa terlarang karena sering disalahgunakan. Pada UU Narkotika no 35 th 2009, ganja digolongkan sebagai narkotika golongan 1, yaitu narkotika  yang  hanya  dapat digunakan  untuk  tujuan  pengembangan  ilmu pengetahuan  dan  tidak  digunakan  dalam  terapi,  serta mempunyai  potensi  sangat  tinggi  mengakibatkan ketergantungan.

Ganja mengandung beberapa senyawa aktif, antara lain yang paling penting adalah tetrahydro cannabinol (THC). THC bekerja pada reseptor kanabinoid yang menyebabkan efek-efek  menenangkan, menghilangkan rasa sakit, euphoria, halusinasi, dll. Ganja sintetis dikembangkan dengan meniru struktur kimia THC yang bekerja pada reseptor kanabinoid. Industri farmasi/kimia mengembangkan senyawa sintetis tersebut awalnya adalah untuk obat penghilang rasa sakit, seperti misalnya AB-Fubinaca yang dibuat oleh Industri Farmasi Pfizer. Namun obat-obat ini tidak pernah sampai dipasaran karena ternyata efek merugikannya ternyata lebih banyak. Senyawa-senyawa ini lebih banyak digunakan sebagai bahan peelitian. Namun demikian, orang-orang yang tidak bertanggung-jawab dapat mengedarkan dan memperolehnya untuk tujuan rekreasional dan disalahgunakan.

Apa bahayanya ganja sintetik?

ab-fubinacaObat-obat ganja sintetik seperti AB-pinaca, AB-chminaca, dan AB-fubinaca memiliki efek yang lebih poten daripada THC atau ganja alami. Demikian juga efek toksik/beracunnya lebih besar daripada ganja alami. Dibandingkan dengan ganja dan THC, efek samping yang terjadi sering jauh lebih parah,  termasuk tekanan darah tinggi, peningkatan denyut jantung, serangan jantung, agitasi, muntah, halusinasi, psikosis, dan kejang-kejang serta banyak lainnya. Enam belas kasus cedera ginjal akut akibat menggunakan ganja sintetik telah dilaporkan. Potensi yang lebih besar dan efek samping yang lebih parah dibandingkan dengan ganja ini disebabkan karena ganja sintetik ini mengikat reseptornya secara lebih kuat daripada ganja alami.   Sehingga dengan dosis yang sama dengan THC dan ganja alami sudah bisa mengaktifkan reseptor secara kuat sehingga efeknya juga lebih besar, termasuk efek sampingnya.

ab-chminacaMenurut hasil analisis BNN, tembakau Gorilla yang beredar di pasaran ternyata mengandung senyawa-senyawa tersebut. Senyawa sintetik tersebut bentuknya berupa serbuk yang kemudian dilarutkan dengan aceton atau alkohol kemudian disemprotkan pada daun-daunan tersebut, dikeringkan dan siap dikemas dalam bentuk kemasan herbal, yang dikenal sebagai Tembakau Gorilla. Sehingga menurut hemat penulis, tanpa harus dicampur dengan tanaman Ekor Singa-pun, jika tembakau biasa dicampur dengan ganja sintetik, efeknya sudah pasti bisa memabukkan sebagaimana halnya ganja. Apa hubungan efeknya dengan gorilla? Sepertinya sih tidak ada.. apalagi seperti ditimpa gorilla, yang menurut penulis tidak ada enaknya. Istilah Gorilla sendiri adalah merk dagang dari tembakau yang disebut sebagai tembakau super tersebut.

Terkait produk Tembakau Super Cap Gorilla, Badan POM telah menerbitkan Siaran Pers pada tanggal 12 Oktober 2015 dan telah dimuat di website Badan POM, dimana pada siaran pers tersebut diinformasikan bahwa hasil pengujian BNN terhadap produk Tembakau Super Cap Gorilla menunjukkan adanya kandungan senyawa kimia yaitu AB-CHMINACA yang termasuk jenis Cannabinoid Sintetis

Perlu kewaspadaan

Saat ini Tembakau Gorilla termasuk yang diawasi peredarannya karena dipastikan mengandung narkotika jenis ganja sintetik.. Sebagai bagian dari kewaspadaan dan untuk mencegah penyalahgunaan yang lebih luas, ganja sintetik seperti AB-pinaca, AB-chminaca, AB-fubinaca saat ini sudah termasuk dalam daftar senyawa narkotika Golongan 1 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan no 2 tahun 2017, sehingga peredarannya termasuk pelanggaran yang dapat diproses hukum dan dikenakan sanksi Pidana sesuai Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Masyarakat perlu mewaspadai adanya peredaran illegal tembakau Gorilla karena bisa merusak generasi muda. Jika menjumpai adanya penjualan tembakau Gorilla, sangat disarankan untuk melaporkan pada pihak yan berwajib.





Farmasi Klinik… riwayatmu dulu, dan perkembanganmu sekarang…

13 07 2016

Dear kawan,

clin farmBeberapa waktu belakangan ini muncul diskusi-diskusi hangat antara pembagian peran dokter dan apoteker. Sempat ada pula yang menyebut bahwa penyebabnya adalah “farmasi klinik”, yang membuat apoteker jadi “ikut-ikutan” berhubungan langsung dengan pasien. Bukannya apoteker itu pekerjaannya cuma ada di balik etalase obat ? begitu pendapat sebagian. Bahkan sebagian apoteker masih ada yang berpendapat bahwa Apoteker adalah tenaga kesehatan, tetapi bukan kategori jenis tenaga medis. Sehingga Apoteker tidak berhubungan langsung dengan pasien terkait dengan proses penyembuhan penyakit….

Well, tentu kesimpangsiuran pendapat ini perlu diluruskan… Dan mau tak mau perubahan paradigma apoteker menjadi berorientasi pasien harus dijelaskan lagi, yang mana kemudian dikenal dengan istilah Farmasi Klinik. Mungkin sebagian masyarakat termasuk tenaga kesehatan banyak yang masih awam dengan istilah farmasi klinik. Tulisan ini adalah re-writing tulisanku tahun 2008 yang mencoba menguraikan sejarah munculnya Farmasi Klinik, yang mulai muncul di tahun 1960-an di Amerika. Riwayat detail perkembangan farmasi klinik di Amerika dapat dilihat di sini : https://pharm.ucsf.edu/history-cp/1965-1972   di mana salah satu pioneernya adalah School of Pharmacy UCSF.

Salah satu penerus “gerakan” Farmasi Klinik di Amerika adalah ibu Koda Kimble, yang pernah menjadi Dekan pada School of Pharmacy University of California di San Francisco) pada tahun 1998 – 2012.  Menurut beliau,  praktek apoteker di Amerika pada saat itu (1960-an) bersifat stagnan. Pelayanan kesehatan sangat berpusat pada dokter. Kontak apoteker dengan pasien sangat minimal. Ada istilah yang digunakan beliau untuk menggambarkan lulusan farmasi pada saat itu yaitu : Over-educated, Underutilized, Apathetic, Isolated, Inferiority complex. Itu keadaan di Amerika tahun 1960-an. (Lho…kok mirip seperti keadaan di Indonesia sekarang ya……. hehe.. pliss deh!… Mudah-mudahan enggak lah.) Karenanya, para pioneer Farmasi Klinik saat itu memunculkan suatu wacana baru untuk pekerjaan kefarmasian. Upaya-upaya awal yang akan dilakukan adalah:

Focus on the Patient

  • Pharmaceutical centers
  • Patient record systems
  • OTC counter-prescribing
  • Counseling on prescription drugs
  • Emergence of continuing education

Therapeutic approach

Pathophysiology

Symptom management

Tapi saat itu wacana itu juga tidak mudah diterima. Mengapa? Belum ada role model!

Tapi para pioneers tersebut tidak mudah menyerah. Pada tahun 1965, farmasis di UCSF mengusulkan suatu proposal ke pimpinan rumah sakit sbb:

  • School will establish a staff “Drug Stations” on the hospital wards
  • Will relieve nurses of certain drug-related duties
  • Will make it possible for the physician, if he so wishes, to discuss drug usage with the pharmacist at the time the decision is being made
  • Will provide students with experience in applying classroom knowledge to practical aspects of drug usage in therapeutic situations

Seperti apa kesan-kesan yang muncul  ketika program ini pertama kali dilaksanakan?

Bu Koda Kimble menggambarkan sebagai berikut :

  • Physician confusion

Pharmacist presence on the wards

Pharmacist intrusion on drug prescribing

Dokter-dokter agak bingung, “ lho… kok apoteker masuk ke bangsal-bangsal?” Kok apoteker ikut campur urusan peresepan obat ya ?”

  • Nurse enthusiasm

Quick access to medicines

Pharmacist drug expertise

Tapi para perawat malah senang dan antusias, karena mereka bisa lebih cepat mendapatkan pelayanan obat, sudah siap pakai lagi, karena disiapkan oleh apotekernya. Perawat juga merasakan bahwa urusan obat memang keahliannya apoteker, jadi mereka bisa lebih focus pada perawatan pasien.

  • Pharmacist exhaustion

Long hours, rapidly expanding roles, new knowledge

“Continual mental pressure to perform at a very high level at all times.”

Tapi apotekernya lumayan kecapekan….. waktu kerjanya jadi lebih lama, perannya jadi bertambah dan berubah dengan cepat, perlu pengetahuan baru. Selain itu juga terdapat semacam tekanan mental juga, karena mereka mesti berada pada kondisi prima dalam pelayanan. Mesti siap setiap kali dibutuhkan.

  • Visitors dubious

Impressed

An “ivory tower” phenomenon

Pasien atau pengunjung masih ragu-ragu, tapi mereka terkesan. Apoteker yang semula seperti ada di “menara gading” kini mulai turun ke bumi……

Singkat cerita, setelah melalui perjuangan yang berdarah-darah, maka kini profesi apoteker mendapat tempat yang sangat layak di sana. Dan “gerakan” farmasi klinik ini makin menyebar luas ke berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Sayangnya, nampaknya wacana farmasi klinik ini belum banyak dipahami, apalagi diterima, oleh sebagian dokter. (walaupun alhamdulillah, aku mengenal beberapa dokter yang sangat kooperatif dan bisa menerima farmasi klinik).  Mereka memandang apoteker tidak perlu ikut-ikut campur menemui pasien. Apalagi turut dalam proses terapi. Persis deh..kayak dokter-dokter jaman dulu di Amerika hehe…… (jadi kayaknya kita nih hidup seperti keadaan di AS 50-an tahun yang lalu…). Tapi tentunya apoteker juga harus introspeksi….   jangan berharap dokter bisa segera menerima keberadaan apoteker, kalau performa apoteker sendiri masih meragukan….. jangan-jangan apotekernya sendiri  juga belum siap berubah dan mengambil peran baru yang lebih signifikan dalam pelayanan pada pasien. Atau sebaliknya, ada sebagian dokter menjadi gerah karena apotekernya kepedean dan kebablasan menangani pasien…  Haloo, bagaimana nih sejawat ??

Nah, seperti yang sering disebut-sebut, maka filosofi pelayanan farmasi klinik adalah “pharmaceutical care” (asuhan kefarmasian). Care itu bisa berarti peduli….. artinya, seorang apoteker mesti  peduli dan penuh empati pada pasien, sehingga pasien bisa merasakan manfaat keberadaannya. Asuhan kefarmasian ini sebenarnya bisa dilaksanakan di mana-mana, di RS, apotek, atau di tempat lain. Yang perlu dipahami adalah apoteker dan dokter memiliki kewenangan masing-masing, yang bertujuan sama mulianya yaitu untuk mendapatkan outcome terapi yang optimal bagi pasien. Perlu kehati-hatian untuk tidak sampai seperti “berebut wewenang dan berebut lahan”, karena semuanya memang memiliki persamaan sasaran yaitu  pasien. Sebaiknya bisa mengubah mindset menjadi “berbagi risiko dan tanggung-jawab” sekaligus berbagi rezeki… hehe...

Dalam hal peran apoteker bagi pasien, aku punya sedikit cerita… Suatu hari beberapa tahun lalu, seorang mahasiswa bimbingan thesisku, bu Nurjanah namanya, datang menemuiku untuk konsultasi thesisnya. Ia mahasiswa Magister Farmasi Klinik UGM yang berasal dari Sulawesi Tenggara. Oya, thesisnya mengambil topik Kajian penggunaan obat antihipertensi pada pasien jantung di sebuah RS di Kendari. Waktu konsultasi thesis, sempatlah dia ngobrol tentang pengalamannya selama mengerjakan thesis. Katanya, gara-gara dia mengerjakan thesisnya, ia malah sekarang jadi laris dicari pasien untuk konsultasi obat hehe…. Ceritanya, dalam mengambil data, ia langsung mewawancarai pasien. Suatu kali ada pasien subyek penelitiannya yang mengeluhkan bahwa setelah mengkonsumsi sekian macam obat antihipertensi, kok sekarang “ayam jagonya” jadi ngga bisa berkokok lagi, alias impoten. Pasien itu menduga bahwa ada salah satu obat  yang menyebabkan impotensi tadi, dan ia pun berkonsultasi pada apoteker kita tadi, bagaimana jika ia menghentikan obat tersebut, boleh apa tidak. Bu Nurjanah lalu memeriksa macam obat-obat yang diterima pasien, dan ternyata memang ada sejenis antihipertensi golongan beta bloker yang memang sering dilaporkan menyebabkan impotensi. Beliau menyarankan kepada pasien utk berkonsultasi ke dokter, bagaimana jika mengurangi dosis obat tersebut. Apa yang terjadi ? Seminggu kemudian, sang pasien menemui ibu kita tadi dengan sumringah, dan katanya, “Terimakasih, bu…. saya sekarang sudah hidup lagi…”   hehe……

Aku rasa, ini adalah salah satu bentuk pelayanan kefarmasian yang bisa bermanfaat bagi pasien. Aku turut bangga, teman-teman sejawat sudah mulai banyak menggunakan ilmunya untuk membantu pasien, yang pada gilirannya akan memberikan kesan positif terhadap keberadaan apoteker. Dan apoteker di Sulawesi Tenggara bolehlah dicontoh semangatnya, katanya saat ini sedang memperjuangkan untuk mendapatkan insentif dari Gubenur dengan besaran yang sama dengan dokter dan dokter gigi, tentunya setelah kinerjanya memberikan asuhan kerfarmasian dirasakan gunanya. Dan satu hal lagi… Kepala Dinas Kesehatannya apoteker loo…!  Jadi, siapa bilang apoteker tidak diperlukan lagi ?

Kaitannya dengan peranan farmasis klinik dalam menghemat biaya pengobatan pasien, aku juga punya cerita lain. Tapi kali ini berasal dari penelitian sejawat, yaitu bu Fita. Penelitiannya menjumpai bahwa ternyata banyak “unnecessary drug therapy” yang dijumpai di RS. Oya, untuk menentukan bahwa suatu obat benar-benar diperlukan pasien atau tidak, beliau bekerja sama dengan klinisi (dokter) senior untuk meng-assess, yaitu dengan mengamati kondisi medis riil pasien dan mengecek obat-obatan yang digunakan. Dan begitulah…. ternyata banyak obat yang diresepkan yang sebenernya tidak benar-benar diperlukan, dan jika itu dikonversi ke biaya, tenyata banyak biaya-biaya pemborosan yang mungkin memberatkan pasien. Kalau saja farmasi kliniknya sudah aktif, dokternya mau bekerja sama dengan apoteker dalam proses  terapi pasien, mungkin akan banyak biaya-biaya yang bisa dihemat. That’s still a dream…… I hope it will come true….

O,ya… paragraf bagian sini adalah iklan hehe…… Sebagai Ketua Program Studi Magister Farmasi Klinik UGM, kami mengundang sejawat untuk sama-sama menambah bekal ilmu dan meningkatkan ke-pede-an dengan belajar di Magister Farmasi Klinik UGM, supaya nanti bisa lebih pede dan profesional dalam menjalankan pekerjaan kefarmasiannya.  Di era akreditasi RS versi JCI, peran apoteker klinis semakin dibutuhkan. Mereka wajib turut mengases pasien sesuai dengan kompetensinya dalam hal obat. Jangan sampai kesempatan untuk berperan tadi menjadi kontraproduktif ketika apoteker salah dalam menjalankannya karena kekurangan ilmu. Farmasis klinik, gitu loh…… !!  Kita akan bersama-sama mendorong gerbong pharmaceutical care di Indonesia…  Bismillah.. semoga Allah meridhoi… Amiin





Mengapa orang bisa kecanduan NAPZA?

23 05 2016

Dear kawan,

seandainya waktu sehari bisa lebih dari 24 jam, pastilah blog ini bisa lebih terawat. Sebenarnya sedih juga membiarkannya kosong sekian lama, tapi memang akhirnya harus membuat skala prioritas untuk berbagai pekerjaam yang ada, termasuk pekerjaan domestik di rumah. Dan maaf yah... blog ini masuk di nomor buncit dari daftar prioritas…

Okay, baiklah… tidak usah mendayu-dayu… langsung saja deh kalau mau menulis hehe…. Postingan kali ini adalah re-publish dari tulisanku di Harian Tribun hari Minggu tanggal 22 Mei kemarin, dengan slight modification. Tulisan ini berangkat dari keprihatinan mengapa berita tentang jatuhnya sekian banyak korban miras masih saja terulang…. juga berita artis ini atau pejabat itu yang terlibat penggunaan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lain)… Dan tentu saja itu hanyalah fenomena gunung es di mana kasus yang sebenarnya jauh lebih banyak dari yang diberitakan. Kebetulan pula beberapa waktu yang lalu aku diundang oleh Subdit Pengawasan Prekursor, Direktorat Pengawasan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif BPOM untuk menjadi narasumber dalam sebuah pertemuan di Pontianak, di mana aku diminta berbicara tentang farmakologi dari obat-obat yang sering disalahgunakan. Dan tau tidak kawan… karena narkotika dan psikotropika sudah makin ketat pengawasannya, para abuser mencoba mencari obat-obat lain yang disalahgunakan, yaitu tramadol, haloperidol, amitriptilin, triheksifenidil dan klorpromazin. Miris bukan? Obat-obat ini sekarang digolongkan menjadi Obat-obat Tertentu (OOT) yang harus makin diperketat pengawasannya.

Mengapa sih orang susah lepas dari jeratan NAPZA ketika sudah terperangkap ke dalamnya?  Mereka mencoba menggunakan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan barang haram itu demi memenuhi kebutuhannya. Sekalinya mereka terperangkap dalam cengkeraman NAPZA, nampaknya sulit sekali untuk keluar dan hidup normal. Mengapa ya orang-orang yang jatuh dalam kubangan NAPZA seringkali kesulitan untuk menghentikan kebiasaannya walaupun tahu dampak buruknya? Itulah yang namanya “kecanduan” atau adiksi.   Tulisan ini mencoba mengupas dari aspek kesehatan, apa yang terjadi dengan otak manusia ketika sudah dipengaruhi NAPZA.

Alasan pertama kali mencoba NAPZA

Banyak  macam alasan orang untuk pertama kalinya mencicipi NAPZA. Mulai dari yang karena penasaran, karena ajakan teman, untuk bersenang-senang,  untuk meningkatkan stamina, supaya percaya diri, sampai untuk melarikan diri dari masalah hidup. Alasan ini sangat bervariasi antar individu. Sebenarnya penggunaan pertama ini tidak serta merta menyebabkan penyalahgunaan, dan tidak ada batasan tertentu sampai sebanyak apa penggunaan miras atau NAPZA bisa menyebabkan masalah kecanduan. Tidak semua pengguna miras akan berkembang menjadi pecandu alkohol, demikian pula pengguna NAPZA. Masalahnya bukan pada jumlah atau frekuensi penggunaan, tetapi pada efek obat dan alkohol didalam tubuh seseorang. Sehingga, meskipun hanya mengkonsumsi sedikit, sebagian pengguna alkohol atau NAPZA dapat berkembang menjadi pecandu dan penyalahguna obat.

Kecanduan adalah masalah di otak

Orang sering berpikir bahwa penyalahgunaan obat atau miras adalah sekedar masalah sosial atau budaya akibat iman dan moral yang lemah. Dan sebagian dari masyarakat juga yakin bahwa sebenarnya hanya perlu kesadaran dan kehendak yang kuat untuk bisa keluar dari jeratan NAPZA. Namun sebenarnya masalahnya tidaklah sesimpel itu. Mengapa? Karena masalah kecanduan dan penyalahgunaan adalah suatu proses yang mempengaruhi kerja otak. Obat dan miras dapat mempengaruhi kerja otak sehingga menghentikan kecanduan obat dan miras bukan lagi hanya masalah kemauan. Seringkali diperlukan perlakuan dan pengobatan khusus untuk membantu orang berhenti dari kecanduan dan dapat melanjutkan kehidupan yang produktif.

Apa definisi Kecanduan Obat?

drug addictionKecanduan obat adalah suatu penyakit otak kronis yang bersifat kambuhan di mana penderita akan terdorong untuk mencari obat/alkohol dan menggunakannya, meskipun mengetahui bahayanya. Kecanduan obat digolongkan sebagai penyakit otak karena penyalahgunaan obat/alkohol dapat mempengaruhi struktur dan fungsi otak. Jadi, walaupun benar bahwa keputusan pertama kali penggunaan NAPZA adalah sukarela dengan berbagai alasan di atas, tapi lama-lama ketika NAPZA makin sering digunakan, ia akan mempengaruhi otak sehingga pengguna akan kehilangan kontrol diri dan kemampuan membuat keputusan dalam hal menggunakan NAPZA, dan bahkan akan  otak akan membuat dorongan yang kuat untuk menggunakan NAPZA.

Apa yang terjadi pada otak ketika menggunakan NAPZA?

Golongan NAPZA adalah senyawa kimia yang dapat masuk dan mempengaruhi system komunikasi di otak dan dapat mengganggu aktivitas sel syaraf untuk mengirim, menerima dan memproses informasi secara normal. Ada sedikitnya dua cara di mana obat-obat dan alkohol melakukan hal ini. Yang pertama adalah mereka bertindak menyerupai senyawa alami di otak yang disebut neurotransmitter, yaitu senyawa penghantar pesan di otak. Yang kedua, obat/alkohol dapat mempengaruhi “ reward system di otak dengan meningkatkan aktivasi dari sistem reward.

Sistem reward adalah satu system di otak yang mengatur rasa senang, sehingga ketika diaktifkan kita merasa senang, dan ingin mengulang dan mengulang lagi. Peristiwa ini melibatkan mesolimbic reward pathway  yaitu jalur terdiri atas neuron dopaminergik yang berasal dari Vental Tegmental Area (VTA)   menuju ke nucleus accumbens  (NA) dan diteruskan ke otak bagian  prefrontal cortex. Sistem ini memerlukan keberadaan neurotransmitter dopamin untuk mengaktifkannya.

Reward pathway yang melibatkan jalur dopaminergik

Reward pathway yang melibatkan jalur dopaminergik

Banyak hal yang bisa mengaktifkan system reward di otak. Stimulus alami bagi system reward adalah makanan, minuman, sex, kasih sayang, semua ini menyebabkan rasa nyaman dan senang. Kita tidak pernah bosan dengan makan, minum, kasih sayang, dan selalu ingin mengulangi dan mengulang lagi untuk mendapatkannya. Obat-obat NAPZA dan alkohol juga dapat mengaktifkan system reward di otak dengan berbagai mekanisme.

Ganja dan heroin misalnya, memiliki struktur yang mirip dengan senyawa alami di otak yaitu endorphin, sehingga bisa mengaktifkan reseptornya di otak dan “mengakali” otak sehingga mengirim pesan yang abnormal ke system reward, sehingga membuat perasaan senang.  Obat lain seperti kokain dan Ecstassy, bekerja dengan cara meningkatkan pelepasan neurotransmitter dopamine dan serotonin dari ujung saraf, dan mencegah kembalinya neurotransmiter ini ke saraf. Hal ini menyebabkan peningkatan kadar neurotransmitter yang berlebih di tempat aksinya dan mengaktifkan system reward.

Hampir semua obat golongan NAPZA yang sering disalahgunakan, termasuk alkohol (dan bahkan rokok – nikotin), bekerja secara langsung maupun tidak langsung mengaktifkan system reward dengan meningkatkan ketersediaan dopamin di otak. Dopamin adalah satu jenis neurotransmitter di otak yang bekerja mengontrol gerakan, emosi, motivasi, dan perasaan senang. Stimulasi yang berlebihan pada system reward, yang normalnya adalah berespon terhadap stimulus alami  menghasilkan efek euphoria ketika menggunakan NAPZA. Reaksi ini kemudian membentuk suatu pola di otak yang mendorong orang untuk melakukan dan melakukan lagi perilaku ini (penggunaan NAPZA) untuk memperoleh kesenangan.

Sebagian besar NAPZA bekerja meningkatkan kadar dopamin otak

Sebagian besar NAPZA bekerja meningkatkan kadar dopamin otak

Jika orang tersebut terus menerus menggunakan NAPZA, maka otak akan beradaptasi terhadap keberadaan dopamin yang tinggi dengan cara mengurangi produksi dopamin atau mengurangi reseptor dopamin. Hal ini menyebabkan pengguna NAPZA berusaha untuk terus menggunakan NAPZA untuk menjaga agar fungsi dopamin kembali ke “normal”, atau berusaha menambah dosis NAPZA untuk mencapai kadar dopamin yang tinggi untuk mencapai “tingkat kesenangan” yang diinginkan. Tidak jarang pula mereka mencoba jenis NAPZA yang lain dan dicampur dengan alkohol dan aneka tambahan lain untuk mendapatkan efek kesenangan yang diharapkan.

Penggunaan yang terus menerus akan menyebabkan perubahan pada system dan sirkuit di otak. Penelitian menunjukkan bahwa pada penderita kecanduan NAPZA terjadi perubahan area di otak pada bagian yang mengatur kemampuan menilai, pengambilan keputusan, belajar dan mengingat serta control perilaku. Bersamaan dengan itu, perubahan fungsi otak ini juga mendorong pengguna untuk mencari dan menggunakan obat terus menerus, yang kita kenal dengan istilah kecanduan obat atau adiksi obat. Mereka tidak mempedulikan lagi bahayanya jika terjadi overdosis maupun efek-efeknya terhadap organ tubuh lainnya, bahkan sampai kematian pun mereka tidak pikirkan. Jika mereka tidak mendapatkan obat, tubuh mereka akan “sakaw” karena pada saat tidak mendapat obat, otak mereka akan kekurangan dopamin sehingga  mengakibatkan berbagai gejala fisik maupun psikis. Hal ini yang menyebabkan mereka terus terdorong untuk mendapatkan obat bagaimanapun caranya. Manifestasi “sakaw” dari masing-masing obat berbeda tergantung dari jenis obatnya.

Mengapa sebagian orang bisa kecanduan dan yang lain tidak?

Tidak ada faktor tunggal yang bisa memprediksi apakah seseorang akan mengalami kecanduan NAPZA atau tidak. Risiko terjadinya kecanduan dipengaruhi oleh sifat biologis orang itu sendiri, kondisi sosial ekonomi, lingkungan sosial, dan usia atau tahapan perkembangan. Semakin banyak faktor risikonya, semakin besar kemungkinan seseorang menjadi pencandu.

Faktor biologi. Tidak bisa dipungkiri, faktor genetik yang dikombinasi dengan pengaruh lingkungan, merupakan penentu dari separuh kerentanan seseorang terhadap kecanduan obat. Selain itu, jenis kelamin, etnik, dan adanya gangguan kejiwaan lain bisa mempengaruhi risiko terjadinya penyalahgunaan obat dan kecanduan

Lingkungan. Lingkungan keluarga dan teman sampai status sosial ekonomi dan kualitas hidup adalah beberapa faktor lingkungan umum yang bisa mempengaruhi kejadian kecanduan obat. Faktor lain yang khusus antara lain adalah tekanan dari teman, stress, pola asuh orangtua, dll.

Tahap perkembangan. Semakin dini usia seseorang menggunakan NAPZA untuk pertamakalinya, makin mungkin berkembang untuk menjadi kecanduan yang serius. Dan karena otak remaja itu masih dalam kondisi perkembangan, maka remaja paling berisiko untuk menjadi pencandu.

Bagaimana pengatasan kecanduan NAPZA?

Pada tahap tertentu, kecanduan NAPZA perlu mendapatkan penatalaksanaan yang tepat. Sebagian besar diawali dengan detoksifikasi dan terapi terhadap kondisi “sakaw” jika diperlukan. Detoksifikasi adalah suatu proses dimana tubuh membersihkan diri dari obat, dan perlu diatur secara khusus untuk mencegah efek-efek fisiologis akut yang mungkin terjadi ketika obat dihentikan tiba-tiba.   Proses detoksikasi kadang memerlukan obat-obat tertentu untuk mengatasi gejala-gejala putus obat yang kadang juga berbahaya bagi penderita. Gejala putus obat heroin misalnya akan diatasi dengan metadon. Gejala putus obat diazepam bisa diatasi dengan lorazepam. Tatalaksana ini harus dilakukan di bawah pengawasan dokter yang kompeten, dan dilakukan di tempat pelayanan kesehatan yang sesuai. Setelah itu, detoksifikasi harus dilanjutkan dengan suatu penilaian terhadap kondisi pasien dan tatalaksana terhadap kecanduan.  Program mengatasi kecanduan juga melibatkan terapi perilaku dan terapi lainnya yang mendukung. Hasil yang diharapkan adalah penderita dapat berhenti menyalahgunakan NAPZA, bisa bertahan bebas NAPZA dan hidup normal dengan lebih produktif.

Pencegahan adalah Kunci Utama

Dari uraian di atas, kita dapat memahami bahwa mengapa tidak mudah orang lepas dari jeratan NAPZA ketika mereka sudah terperangkap di dalamnya, karena NAPZA memang bisa mengubah kemampuan seseorang untuk berpikir dan mengambil keputusan. Namun demikian, kecanduan NAPZA adalah penyakit yang bisa dicegah. Karena itu, program pencegahan menjadi kunci utama. Perlu terus menerus dilakukan kampanye-kampanye pencegahan penyalahgunaan NAPZA untuk mengurangi semakin banyaknya kasus-kasus kecanduan NAPZA. Penelitian telah menunjukkan bahwa program pencegahan yang melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan media cukup efektif dalam mengurangi penyalahgunaan NAPZA. Meskipun banyak peristiwa dan faktor budaya mempengaruhi tren penyalahgunaan NAPZA, ketika pemuda menganggap penyalahgunaan NAPZA adalah berbahaya, diharapkan mereka mengurangi penggunaan obat mereka atau bahkan tidak mau mencoba memulainya.

Jadi, JANGAN SEKALI-SEKALI MENCOBA JIKA TIDAK INGIN TERJERAT NAPZA.. !!

 





Jangan takut (jika harus) kemoterapi…

27 09 2015

Dear kawan,

Tulisan ini aku dedikasikan pada kawan-kawanku  yang diuji Allah dengan penyakit kanker…. Baik yang sudah tiada (Ade Azka, mbak Bintang), yang masih berjuang dengan kemoterapi (mbak Lesti, bu Wara), dan yang alhamdulillah survive dari kanker (bu Aris)..  Juga untuk semua penderita kanker … Semoga bisa menginsipirasi untuk tidak takut dengan kemoterapi… Bagaimanapun ikhtiar yang benar adalah wajib, hasilnya hanya kepadaNyalah kita berserah diri…

Berbicara tentang kemoterapi, tentu tidak lepas dari masalah penyakit kanker. Dan berbicara tentang kanker, tak dipungkiri banyak orang merasa ngeri dan takut. Yah, tidak heran karena kanker termasuk salah satu penyakit yang cukup mematikan. Namun demikian, banyak pula orang-orang yang berhasil sembuh dari kanker (survivor kanker) dan bisa menjalani kehidupan dengan normal kembali. Salah satu pendukung kesembuhan pasien kanker adalah pengobatan yang tepat, di mana salah satu terapi utama kanker adalah kemoterapi. Banyak orang takut menjalani kemoterapi karena mendengar cerita tentang macam-macam efek sampingnya, padahal dengan menunda kemoterapi perkembangan kankernya akan terus berjalan. Artikel ini akan mengupas tentang apa itu kemoterapi, pentingnya untuk pengatasan kanker, efek samping dan cara pengatasannya.

Penyakit kanker

Perkembangan sel kanker

Perkembangan sel kanker

Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan abnormal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker akibat terjadinya mutasi. Dalam perkembangannya, sel-sel kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya yang disebut metastase, sehingga dapat menyebabkan kematian. Masyarakat sering kurang pas menggunakan istilah kanker dan tumor, karena tidak semua tumor adalah kanker. Tumor adalah segala benjolan tidak normal atau abnormal. Tumor dibagi dalam 2 golongan, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Kanker adalah istilah umum untuk semua jenis tumor ganas.
Kanker dapat menimpa semua orang, pada setiap bagian tubuh (termasuk darah dan limfa), dan pada semua gologan umur, namun lebih sering menimpa orang yang berusia 40 tahun. Umumnya sebelum kanker meluas atau merusak jaringan di sekitarnya, penderita tidak merasakan adanya keluhan ataupun gejala. Bila sudah ada keluhan atau gejala, biasanya penyakitnya sudah lanjut. Jenis-jenis kanker yang cukup banyak dijumpai di Indonesia adalah : kanker leher rahim (kanker serviks), kanker payudara, penyakit Trofoblas ganas, kanker kulit, kanker nasofaring, kanker paru, kanker hati, kanker kelenjar getah bening (Limfoma Malignum), kanker usus besar dan kanker darah (Leukemia).
Yayasan Kanker Indonesia mengingatkan adanya 7 gejala yang perlu diperhatikan dan diperiksakan lebih lanjut ke dokter untuk memastikan ada atau tidaknya kanker, dengan akronim WASPADA, yaitu:
1. Waktu buang air besar atau kecil ada perubahan kebiasaan atau gangguan.
2. Alat pencernaan terganggu dan susah menelan.
3. Suara serak atau batuk yang tak sembuh-sembuh
4. Payudara atau di tempat lain ada benjolan (tumor).
5. Andeng-andeng (tahi lalat) yang berubah sifatnya, menjadi semakin besar dan gatal.
6. Darah atau lendir yang abnormal keluar dari tubuh
7. Adanya koreng atau borok yang tak mau sembuh-sembuh.
Pengobatan kanker
Jika seseorang telah terdiagnosa kanker oleh dokter ahli, maka akan dilakukan tindakan pengobatan atau tindakan medis untuk menghilangkan kanker tersebut. Tindakan tersebut bisa salah satu kombinasi dari beberapa prosedur berikut, yaitu pembedahan (operasi), penyinaran (Radioterapi), pemakaian obat-obat pembunuh sel kanker (sitostatika/kemoterapi), peningkatan daya tahan tubuh (imunoterapi), pengobatan dengan hormone atau transplantasi organ. Kemoterapi merupakan salah satu prosedur penting dalam pengobatan kanker.
Apa itu kemoterapi?
Obat kemoterapi adalah obat anti kanker yang bertujuan untuk menghentikan berkembangnya sel-sel kanker, baik di tempat asalnya maupun yang mungkin sudah menyebar ke organ lain. Kemoterapi juga digunakan untuk mengurangi resiko munculnya kembali (recurrence) kanker maupun mengecilkan ukuran dari tumor/ kanker. Dengan ukuran tumor yang mengecil dari kanker maka berbagai macam gejala yang tidak enak yang dirasakan oleh pasien diharapkan juga ikut berkurang. Jika ukuran kanker mengecil, prosedur lain juga akan lebih mudah dilakukan dan tingkat keberhasilannya meningkat.
Pada umumnya, pengobatan dengan cara kemoterapi paling efektif jika menggunakan kombinasi dari beberapa jenis obat. Pemberian beberapa obat secara sekaligus, dapat meningkatkan kekuatan obat dalam membunuh sel kanker. Apa dan berapa dosis obat-obat yang akan diberikan ditentukan oleh dokter berdasarkan beberapa faktor, antara lain: umur pasien, jenis kanker, dan stadium dari kankernya. Untuk masing-masing jenis kanker ada regimen kemoterapinya sendiri.
Di bawah ini adalah daftar beberapa obat yang sering diberikan dalam regimen kemoterapi.
1. Cyclophosphamide (Cytoxan)
2. Doxorubicin (Adriamycin) atau Epirubicin (Ellence)
3. 5-fluorouracil (Adrucil)
4. Methotrexate (Rheumatrex)
5. Paclitaxel (Taxol) or Docetaxel (Taxotere)
Kapan dan bagaimana kemoterapi diberikan?

Pasien sedang menjalani kemoterapi

Pasien sedang menjalani kemoterapi

Kemoterapi yang diberikan sesudah operasi pengambilan tumor disebut adjuvant chemotherapy, atau kalau diberikan sebelum operasi dinamakan neoadjuvant chemotherapy. Beberapa obat anti-kanker ada yang diberikan secara per oral (diminum) atau disuntikkan (ke otot, bagian tubuh dimana ada jaringan lemak, atau dibawah kulit). Akan tetapi, sebagian besar obat anti kanker diberikan dengan disuntikkan melalui vena (infus). Lokasi pemberian obat obat anti-kanker ini bisa di rumah pasien, di tempat praktek dokter, atau di rumah sakit, bergantung pada tipe kemoterapi yang diberikan.
Untuk kanker yang menjalani tindakan operasi pengangkatan, kemoterapi biasanya dimulai dalam kurun waktu antara 4-12 pekan sesudah operasi pengangkatan tumor. Untuk yang tidak ada tindakan pengangkatan, kemoterapi bisa segera dimulai jika pasien sudah terdiagnosa kanker. Kemoterapi umumnya diberikan dalam siklus 21-28 hari, artinya satu tindakan kemoterapi dengan kemoterapi selanjutnya berjarak 21-28 hari. Pemberian obat kemo (anti-kanker) bisa diberikan setiap pekan atau tiga pekan sekali, dengan ‘masa istirahat’ untuk memberikan kesempatan pada tubuh untuk pulih kembali dari efek kemoterapi. Lamanya siklus pengobatan dengan kemoterapi tergantung dari jenis obat yang diberikan. Lama keseluruhan waktu pengobatan bisa bervariasi, tetapi sering sampai 3-6 bulan.

Apa saja efek samping kemo?
Obat-obat kemo bersifat tidak selektif, sehingga di samping membunuh sel kanker, ia bisa juga mempengaruhi pertumbuhan sel normal. Karena itu, kemoterapi dapat menyebabkan beberapa efek samping. Di bawah ini adalah beberapa efek samping obat kemoterapi berserta pengatasannya.
1. Mual dan muntah.
Mual dan muntah adalah efek samping yang tersering dijumpai pada penggunaan obat kemo. Mual dan muntah bisa terjadi segera setelah kemo, atau mungkin baru muncul sehari setelah kemo, atau bahkan lebih. Beberapa orang mungkin bahkan akan mual atau muntah sebelum kemo karena faktor psikologis. Untuk mengatasai hal ini, dokter biasanya akan memberikan obat anti mual/muntah (golongan anti-emetik) untuk bisa mengurangi atau mencegah rasa mual dan muntah yang bisa timbul selama pengobatan dengan kemoterapi. Obat anti emetic ada yang disertakan bersama kemoterapi dan ada yang digunakan setelah kemoterapi. Gunakan sesuai petunjuk dokter. Selain itu, makan beberapa kali dalam sehari dengan porsi yang kecil bisa membantu menolong keadaan ini.
2. Rambut rontok (alopecia atau kebotakan).
efek botakKarena sel rambut juga merupakan sel yang aktif membelah, maka ia juga menjadi sasaran obat kemoterapi. Selama pengobatan, rambut bisa saja menipis atau rontok sama sekali, bergantung pada obat anti-kanker apa yang di berikan. Alis, bulu mata dan rambut di bagian tubuh lain juga bisa rontok. Rambut akan tumbuh kembali begitu pengobatan berakhir. Rambut yang baru saja tumbuh sesudah kemoterapi selesai, biasanya mempunyai tekstur dan warna yang lain dari rambut sebelum kemoterapi.Selama pengobatan, jika rambut tidak rontok sama sekali dan hanya menipis, gunakan shampoo yang lembut, sisir yang halus dan atur pengering rambut yang digunakan pada panas yang paling rendah. Beberapa perempuan memilih untuk memotong pendek rambutnya menjelang kemoterapi, agar supaya merasa lebih baik dengan merasa mengontrol keadaan yang dihadapi. Jika memillih memakai rambut palsu (wig), kebih baik disiapkan sebelum rangkaian kemoterapi dimulai, sehingga warna dan style wig bisa disesuaikan dengan rambut asli.
3. Menopause dini (keadaan dimana menstruasi berhenti secara dini).
Banyak perempuan tidak mendapatkan menstruasi lagi selama dan sesudah kemoterapi, dan pada saat yang bersamaan timbul gejala menopause seperti rasa panas yang timbul di wajah, bagian tubuh lainnya atau seluruh tubuh (hot flashes).
Gejala lain yang timbul adalah vagina menjadi lebih kering dari biasanya.Bagi mereka yang sudah dekat dengan usia menopause (45 tahun atau lebih tua dari 45 tahun), gejala-gejala ini bisa menetap. Sementara bagi mereka yang lebih muda, gejala-gejala ini bisa hanya sementara, yang di tandai dengan kembalinya menstruasi.
4. Letih dan lemah.
Kelelahan adalah efek samping yang sangat biasa terjadi pada orang yang sedang menjalani kemoterapi. Sampaikan kepada dokter jika anda mengalami hal ini untuk bisa memastikan penyebabnya. Jika ada anemia misalnya, dokter akan menangani secara tepat. Tanyakan juga pada dokter anda apakah ada obat yang bisa menolong untuk mengurangi rasa letih. Olahraga ringan dan diet yang sehat dan seimbang akan menolong meningkatkan energy. Istirahat yang banyak dan minta anggota keluarga dan teman untuk menolong mengerjakan pekerjaan sehari-hari Anda..
5. Neutropenia dan mudah terkena infeksi.

berkurangnya neutrofil akibat kemoterapi

berkurangnya neutrofil akibat kemoterapi

Orang yang sedang menjalani kemoterapi mudah terkena infeksi karena kemoterapi mengakibatkan turunnya jumlah sel darah putih (neutrophil) dalam darah yang merupakan “pasukan” pelawan bakteri/kuman. Penurunan jumlah sel darah putih ini (disebut neutropenia) umumnya terjadi pada minggu kedua setelah kemo dan dapat dilihat dengan pemeriksaan darah. Karena itu sebaiknya hindarkan berdekatan dengan orang yang dengan sakit menular. Lebih sering mencuci tangan dengan sabun bisa mencegah infeksi. Jika terluka, segera bersihkan luka dengan air bersih/anti septik.
Jika anda mengalami tanda-tanda infeksi setelah kemoterapi seperti demam tinggi, sariawan berat, radang di mulut, batuk dan sesak, radang sinus, dll, segera sampaikan ke dokter. Jika neutropenia Anda cukup berat (neutrophil kurang dari 500 cell/ml) mungkin anda perlu dirawat di RS dan mendapatkan pengobatan khusus seperti pemberian obat golongan granulocyte colony-stimulating factors (G-CSF) seperti filgrastim untuk meningkatkan kembali jumlah neutrophil Anda. Sebelum kemoterapi berikutnya, dokter Anda akan/harus selalu minta Anda melakukan uji/tes darah di laboratorium, untuk memastikan jumlah neutrophil anda cukup tinggi sehingga aman untuk menerima kemoterapi.
6. Luka/sariawan di mulut dan tenggorokan/kerongkongan (mucositis oral)
Karena jenis sel yang ada di mulut dan tenggorokan/kerongkongan adalah jenis sel yang tumbuh, berkembang dan berganti dengan cepat, dan obat-obat kemoterapi mudah merusak sel-sel jenis ini, maka daerah mulut dan tenggorokan/kerongkongan menjadi mudah luka atau kering. Karena itu, lakukan pemeriksaan (check-up) gigi sebelum memulai kemoterapi. Selama terapi, bersihkan gigi dan gusi setiap kali selesai makan dan sebelum tidur menggunakan sikat gigi yang lunak. Penggunaan pasta gigi dengan soda dan peroksida akan sangat membantu. Hindari obat kumur berkadar alkohol tinggi. Jika pasta gigi menyebabkan rasa sakit, bisa diganti dengan berkumur dengan air garam. Perbanyak minum air putih.
7. Berat badan bertambah.
Meskipun penyebab pastinya belum jelas, sejumlah perempuan mengalami kenaikan berat badan selama kemoterapi. Makan makanan yang sehat dan bergizi akan membantu mempertahankan berat badan yang ideal.
8. Kuku yang rapuh.
Beberapa jenis obat anti-kanker dapat menyebabkan kerapuhan pada kuku jari tangan dan jari kaki. Kuku bisa mudah pecah dan rusak, bahkan terasa sakit dan lalu lepas. Seperti rambut yang rontok, masalah dengan kuku ini hanya sementara saja.
9. Diare atau sembelit
Beberapa kemoterapi bisa menyebabkan efek samping diare atau sebaliknya sembelit. Efek samping ini bisa diatasi dengan mengatur pola makan yang sesuai seperti pada kondisi tanpa kanker.

Jangan takut kemoterapi, jika bisa segerakan !!
Bagi penderita kanker, sampai saat ini kemoterapi merupakan salah satu terapi standar untuk kanker di hampir semua negara. Berbagai uji klinik sudah menunjukkan keberhasilannya. Efek samping di atas yang nampaknya merugikan ini jika dihitung jauh lebih kecil daripada manfaat kemoterapi. Jangan sampai ketakutan terhadap efek samping kemoterapi menyebabkan pasien menunda dan bahkan mencari pengobatan alternative yang belum bisa dijamin keberhasilannya. Penundaan menjalani kemoterapi hanya akan menyebabkan sel-sel kanker tumbuh semakin banyak dan ketika akan dikemo sudah masuk dalam stadium lanjut yang akan mengurangi keberhasilan kemoterapi. Sebaliknya semakin awal dilakukan kemoterapi, maka tingkat keberhasilan penyembuhan semakin besar.
Terapi lain seperti peningkatan system imun, radioterapi dan lain-lain juga bisa dilakukan secara bersamaan sesuai dengan petunjuk dokter. Memang pada akhirnya hanya kepada Tuhan yang Maha Kuasa kita serahkan hasil kesembuhannya, tetapi ikhtiar yang benar adalah suatu kewajiban manusia.

 

(dari berbagai sumber)





Cermat menggunakan suplemen kesehatan stamina pria

6 09 2015

Dear kawan,

tulisan ini adalah reposting dari tulisanku di Harian Tribun Yogya hari ini…

Baru-baru ini, tepatnya tanggal 24 Agustus 2015 yang lalu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI mengumumkan penemuannya terkait adanya berbagai suplemen kesehatan khususunya untuk stamina pria yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO).

Berdasarkan hasil pengawasan Badan POM di seluruh Indonesia dari bulan November 2014 sampai dengan Agustus 2015, ditemukan sebanyak 50 OT dan SK stamina pria mengandung BKO, dengan 25 di antaranya merupakan produk OT tidak terdaftar (ilegal). Permasalahan ini bukan hanya menjadi isu di Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia. Berdasarkan informasi melalui Post-Marketing Alert System (PMAS), sebanyak 18 OT dan SK mengandung BKO juga ditemukan di ASEAN, Australia, dan Amerika Serikat. Untuk itu, Badan POM mengeluarkan peringatan/public warning sebagaimana terlampir, dengan tujuan agar masyarakat lebih waspada dan tidak mengonsumsi OT dan SK mengandung BKO karena dapat membahayakan kesehatan.
Bahan Kimia Obat (BKO) yang teridentifikasi dicampur dalam produk OT dan SK stamina pria hasil temuan periode November 2014 hingga Agustus 2015 didominasi oleh sildenafil dan turunannya. Sildenafil sendiri merupakan obat yang diindikasikan untuk mengobati disfungsi ereksi dan hipertensi arteri pulmonal. Obat ini umum dikenal dengan nama Viagra dan paling dominan digunakan sebagai obat disfungsi ereksi pada pria. Sildenafil dan turunannya termasuk golongan obat keras yang hanya boleh digunakan sesuai petunjuk dokter. Jika digunakan secara tidak tepat, bahan kimia obat ini dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan, seperti kehilangan penglihatan dan pendengaran, stroke, serangan jantung, bahkan kematian.
Tulisan kali ini mengajak Anda mengenal sildenafil dan turunannya, dan bahayanya jika digunakan sembarangan seperti yang dicampurkan pada suplemen kesehatan stamina pria.
Riwayat penemuan sildenafil

Viagra alias Pil Biru

Viagra alias Pil Biru

Tahukah anda bahwa penemuan sildenafil (Viagra) adalah tidak sengaja? Kisahnya pada tahun 1991, Dr. Nicholas Terret dan timnya di perusahaan farmasi Pfizer sedang meneliti sildenafil (molekul UK-92, 480) sebagai obat hipertensi dan angina pektoris. Angina pektoris adalah penyakit jantung di mana terjadi penyempitan/kontraksi pembuluh darah jantung (vasokonstriksi). Namun ternyata efek sildenafil terhadap angina pektoris sangat minimal. Hasil yang didapat justru di luar dugaan. Beberapa relawan yang menggunakan sildenafil justru merasakan ereksi pada penisnya. Menurut hipotesis, ereksi merupakan efek samping sildenafil. Dari situ kemudian obat ini justru dikembangkan menjadi obat untuk mengatasi disfungsi ereksi pada pria. Kok bisa ya obat untuk jantung malah jadi obat untuk penis?

Bagaimana Viagra bisa membantu penis ereksi?
Mekanisme fisiologis ereksi pada penis pada saat ada stimulasi seksual melibatkan pelepasan suatu senyawa, yaitu oksida nitrat (NO) dari bagian penis yang disebut corpus cavernosum. NO ini akan mengaktifkan enzim guanilat siklase (GC), yang menyebabkan peningkatan senyawa siklik guanosin monofosfat (cGMP), yang selanjutnya menyebabkan pelebaran pembuluh darah di sekitar corpus cavernosum. Dengan pelebaran pembuluh darah di sekitar penis, maka darah dapat mengalir ke penis dan menyebabkan pembesaran penis. Senyawa cGMP ini bisa dirusak oleh oleh enzim yang namanya fosfodiesterase-5 (PDE5). Sildenafil bekerja menghambat enzim tersebut sehingga kadar cGMP tetap banyak dan dapat menyebabkan ereksi penis.

Mekanisme aksi Sildenafil mengatasi disfungsi ereksi

Mekanisme aksi Sildenafil mengatasi disfungsi ereksi

Belakangan diketahui bahwa enzim ini justru banyak terdapat di otot pembuluh darah penis dan paru-paru, bukan di jantung. Itulah mengapa obat ini tidak begitu efektif untuk angina pectoris (penyempitan pembuluh darah jantung), tapi justru lebih poten pengatasan untuk disfungsi ereksi dan penyempitan pembuluh darah paru-paru (hipertensi pulmonary).
Kembali ke cerita penemuan tadi, dengan adanya efek tak disangka-sangka tesebut, akhirnya pada tahun 1994, Pfizer memutuskan untuk melanjutkan uji klinik untuk lebih menggali potensi sildenafil sebagai obat disfungsi ereksi. Ian Osterloh adalah peneliti Pfizer yang amat berperan dalam penemuan sildenafil untuk indikasi disfungsi ereksi, sedangkan Peter Dunn dan Albert Wood adalah yang berjasa mensintesis sildenafil dalam bentuk pil. Sildenafil mendapat ijin FDA sejak 27 Maret 1998 dengan nama Viagra dan kini menjadi obat yang sangat laris dalam pengobatan disfungsi ereksi. Sekitar 600.000 dokter meresepkan sildenafil di 110 negara. Viagra adalah tergolong obat keras yang harus diperoleh dengan resep dokter.
Namun sayangnya dengan kepopulerannya ini, Viagra menjadi obat yang sangat banyak disalahgunakan, dan juga diedarkan secara illegal. Seperti yang disebutkan di awal tulisan ini, Viagra banyak dicampurkan dalam suplemen kesehatan stamina pria. Selain itu Viagra juga banyak dijual secara illegal di kios-kios khusus yang menawarkan “Pil Biru” atau secara online yang rawan terhadap penipuan atau pemalsuan.
Turunan sildenafil

Keluarga inhibitor PDE-5

Keluarga inhibitor PDE-5

Selain Viagra (sildenafil), ada pula turunan sildenafil yang juga sering dicampurkan dalam suplemen kesehatan stamina pria. Apa saja mereka? Mengekor kesuksesan Viagra, para ahli kemudian mengembangkan obat disfungsi ereksi yang masih satu keluarga dengan sildenafil, yaitu tadalafil (Cialis), vardenafil (Levitra), dan avanafil (Stendra). Karena masih satu golongan, mekanisme kerja mereka sama, yaitu sebagai penghambat enzim fosfodiesterase-5, sehingga mencegah degradasi siklikGMP yang berperan dalam proses ereksi penis.

Lalu apa perbedaannya dengan Viagra?
Cialis (tadalafil) bisa berada lebih lama di dalam tubuh daripada Viagra, karena memiliki waktu paruh jauh lebih panjang yaitu 17,5 jam (Viagra hanya 4 jam). Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan oleh obat untuk menjadi separuhnya. Artinya, dalam waktu 4-5 jam, kadar Viagra dalam tubuh tinggal separonya, karena separonya yang lain sudah mulai dieliminasi/dikeluarkan dari tubuh. Sedangkan Cialis, dia baru akan tinggal separonya dalam waktu 17,5 jam. Implikasinya adalah bahwa durasi aksi Cialis menjadi lebih lama, sampai kurang lebih 36 jam, dibandingkan dengan Viagra yang aksinya hanya maksimal sekitar 12 jam. Tapi tentu ada konsekwensinya juga, dengan obatnya tinggal lebih lama di dalam tubuh, maka efek samping yang mungkin dialami pasien juga akan lebih lama. Bedanya lagi, efek Viagra akan berkurang jika dikonsumsi dengan makanan yang mengandung lemak, sedangkan Cialis efeknya tidak dipengaruhi oleh adanya makanan. Efek samping khas dari tadalafil adalah nyeri otot dan nyeri punggung.
Levitra termasuk saudara Viagra, yang tergolong baru dalam pengobatan disfungsi ereksi. Waktu paruhnya sebanding dengan Viagra yaitu 4 jam. Tapi kelebihannya adalah ia lebih poten dari Viagra, sehingga bisa dipakai dalam dosis lebih kecil dari Viagra (10% dosis Viagra). Namun sama dengan Viagra, efektivitas Levitra juga dipengaruhi oleh adanya makanan dan memiliki efek samping khas yaitu gangguan penglihatan.

perbandingan Viagra Cialis dan Levitra

perbandingan Viagra Cialis dan Levitra

Avanafil (Stendra) merupakan anggota keluarga sildenafil yang terbaru, yang baru disetujui peredarannya pada tahun 2012 di Amerika. Kelebihan analafil dibandingkan pendahulunya adalah efeknya lebih cepat. Jika Viagra membutuhkan waktu 30-60 menit untuk menghasilkan efeknya, maka avanafil hanya perlu 15-30 menit. Efek samping avanafil juga lebih sedikit karena bekerja lebih spesifik pada enzim PDE5.

Apa efek samping umum sildenafil dan turunannya?
Walaupun ada efek samping spesifik untuk masing-masing obat, tetapi keluarga sildenafil/Viagra ini memiliki efek samping umum, yang meliputi : sakit kepala (10-16 %), wajah memerah dan terasa panas (5-12%), gangguan pencernaan (4-12%), hidung tersumbat (1-10%) dan nggliyeng (2-3%) dan gangguan penglihatan. Karena aksi obat ini adalah dengan melebarkan pembuluh darah, maka penggunaan berlebih bisa menurunkan tekanan darah. Sehingga, pasien hipertensi maupun gangguan jantung yang sedang menggunakan obat-obat anti hipertensi atau obat pelebar pembuluh darah seperti golongan nitrat, harus hati-hati menggunakannya, karena bisa menyebabkan tekanan darah turun drastis, syok, dan bahkan bisa berakibat pada kematian.
Hati-hati menggunakan suplemen kesehatan stamina pria
Dalam keadaaan memang diperlukan terutama untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, suplemen kesehatan stamina pria memang sangat membantu. Namun demikian, perlu berhati-hati menggunakannya. Gangguan ereksi sendiri bisa disebabkan karena kondisi kesehatan yang menurun, atau gangguan psikologis. Tentu gangguan ini perlu diatasi lebih dahulu, temasuk jika ada gangguan piskologis. Menjaga kesehatan secara umum dengan olahraga dan makanan sehat serta vitamin bisa membantu mendapatkan tubuh yang bugar. Untuk penggunaan suplemen kesehatan khusus untuk stamina pria, perlu berhati-hati memilihnya. Pilihlah merk dari industri farmasi yang sudah cukup besar yang umumnya lebih tertib dalam pembuatan produknya terkait adanya pencampuran dengan bahan kimia obat. Jika ada tanda-tanda efek samping seperti di atas, ada kemungkinan suplemen tersebut dicampur sildenafil atau turunannya.

Jika anda memiliki gangguan hipertensi atau jantung, dan sedang mengkonsumi obat-obat hipertensi atau jantung, jangan sembarangan mengkonsumsi suplemen obat kuat ini karena bisa berbahaya. Siapa yang tahu berapa kadar obat sildenafil yang dicampurkan? Siapa yang akan membatasi penggunaannya? Jangan pula mudah membeli di kios-kios kecil penjual obat kuat maupun secara online. Pembelian melalui jalur illegal rawan terhadap pemalsuan obat. Tentu sayang membuang uang banyak untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Kalau hanya sekedar membuang uang mungkin masih tidak apa, bagaimana jika sampai mengorbankan kesehatan lainnya jika terkena efek samping atau efek toksik yang tidak dikehendaki atau mendapat obat palsu yang berbahaya? Obat-obat sildenafil dan turunannya semestinya diperoleh melalui resep dokter dan digunakan dengan dosis sesuai kebutuhan. Jika memang ada gangguan fungsi ereksi secara organik, sebaiknya diperiksakan ke dokter ahlinya untuk mendapatkan penanganan yg tepat.

Demikian semoga bermanfaat..