Farmakogenomik dari Makassar…

30 03 2010

Dear kawan,

seusai presentasi

Dua minggu sudah blog ala kadarnya ini kosong tanpa tulisan baru. Maap deh….. banyak yang harus dikerjakan dalam dua minggu belakangan. Yaa…. dalam dua minggu ke belakang aku sedang jadi “wanita panggilan” nie……. dipanggil (diundang) untuk mengisi seminar dan pelatihan.  Untuk itu mesti menyiapkan dua materi yang jauh berbeda, yaitu materi Pelatihan untuk SDM Rumah Sakit Akademik UGM dan materi untuk seminar di Makassar, di samping tugas rutin lainnya.

Yah, …… begitulah, … ceritanya untuk yang kedua kalinya aku mendapat kehormatan untuk mengisi sebuah seminar di Makassar. Terimakasih, teman-teman Makasar !!  Jadi agak ge-er deh….karena katanya banyak fans di sana hehehe… (bercanda)! Tulisan kali ini sekedar catatan perjalanan ke Makassar… dan beberapa hal lain yang melintas di kepala.

Makassar, I’m coming again!

Kali ini Merpati tak ingkar janji.. Pukul 06.00 WIB pesawat Merpati yang membawa kami (aku dan suami) lepas landas menuju Makassar nun jauh di sana. Cuaca cerah. Perjalanan lancar tak kurang suatu apa. Setelah terbang selama 1 jam 50 menit, pesawatpun mendarat mulus di Makassar. Singkat cerita, setelah check in di hotel yang berlokasi di tepi pantai Losari, kami dibawa ke Unhas untuk makan siang bersama tamu-tamu lainnya yang kebetulan menghadiri Pengukuhan Guru Besar beberapa dosen Fakultas Farmasi Unhas.  Siangnya aku dijadwalkan memberikan kuliah umum tentang Farmasi Klinik di hadapan mahasiswa tingkat apoteker Fak Farmasi Universitas Hasanuddin.

Tidak terasa, dua jam aku memberi kuliah tentang pelayanan Farmasi Klinik di hadapan para mahasiswa. Suasana sedikit panas tak terasa karena banyak respon dan pertanyaan yang muncul sehingga diskusi berjalan menarik. Ada yang berkomentar bahwa Farmasi Klinik baru bisa berjalan jika pihak Manajemen RS memberi  kesempatan.  Ya, memang betul…… Tapi menurut aku pendekatannya harus dua arah….. “top down” dan “bottom up”. Artinya pihak farmasis harus bergerak, dan manajemen akan memberikan kesempatan. Memang untuk mencapai kondisi ideal yang diharapkan memerlukan effort yang luar biasa. Apoteker atau farmasis sebagai tenaga kesehatan yang “baru” akan berkiprah pada pelayanan berorientasi pasien perlu menunjukkan dulu performanya agar pimpinan RS bisa melihat signifikansi dari kontribusinya terhadap pelayanan kesehatan. Jika kita berharap-harap mendapat posisi (apalagi imbalan jasa pelayanan), sementara kita belum memberikan makna apa-apa buat kepentingan pasien,….. non sense saja untuk berharap mendapatkan penghargaan yang sepadan. Meminjam kata-kata pada sebuah iklan, “ Kesan pertama begitu menggoda….. selanjutnya terserah Anda”…… Maka apoteker atau farmasis harus bisa memberikan kesan yang menggoda para pimpinan RS atau phak-pihak berwenang bahwa mereka layak mendapat kesempatan untuk berperan lebih banyak dalam pelayanan kesehatan, utamanya dalam penatalaksanaan terapi pasien.

Trans Studio dan baronang

Selepas memberi kuliah umum, sejawat dari Makassar yang alumnus Magister Farmasi Klinik, Bu Tati, menjamu kami berjalan-jalan ke Trans Studio. Katanya kalau ke Makassar belum mengunjungi tempat ini belum lengkap! Trans Studio adalah semacam tempat hiburan, utamanya untuk anak-anak, dalam sebuah bangunan namun dibuat seolah-olah ada di alam bebas. Wah, sayangnya tidak bersama anak-anak…. jadi rasanya kurang seru saja. Tapi paling tidak kami sudah pernah cuci mata kesana, mudah-mudahan lain kali ada kesempatan bersama keluarga berkunjung lagi.

Malamnya kami dijamu dengan aneka makanan khas Makassar yang berupa aneka ikan, termasuk ikan baronang yang besaaar. Hmm…nyam-nyam deh. Diawali dengan otak-otak sebagai makanan pembuka, muncul aneka sea food, termasuk udang dan cumi. Ada pula sup Tom Yam segar. Malamnya kami tidur pulas kekenyangan…

Pendekatan genomik untuk diagnosis dan terapi

Sampailah ke hari H seminar, di mana aku diminta menjadi salah satu pembicara. Tema besarnya kali ini adalah “Pendekatan genomik dalam diagnosis dan terapi klinik”. Kurasa temanya cukup visioner, karena  memang itulah yang bakal dihadapi di masa depan di dunia kesehatan. Walaupun kelihatannya masih jauh dari aplikasi, tetapi wawasan dan pengetahuan menuju era individualisasi terapi harus disiapkan. Ada 4 pembicara, yang berbicara tentang terapi gen, farmakogenomik, dan pendekatan genomik pada penyakit. Aku sendiri berbicara tentang Pendekatan genomik pada penyakit Diabetes mellitus (DM).

Seperti apa pendekatan genomik pada DM?

Diketahui bahwa penyakit DM dapat digolongkan menjadi DM Tipe 1 dan Tipe 2. DM tipe satu adalah DM yang tergantung insulin di mana sel beta pankreas sama sekali tidak menghasilkan insulin, sehingga pasien tergantung pada pasokan insulin dari luar. Sedangkan DM tipe 2 adalah DM di mana pasien masih bisa memproduksi insulin tetapi sedikit/kurang, atau kalaupun bisa, terjadi resistensi pada reseptor insulin sehingga fungsi insulin berkurang. Pada DM tipe 2 ini masih dapat diatasi dengan pemberian obat-obat antidiabetes yang memicu produksi insulin atau meningkatkan sensitivitas reseptor insulin.

DM tipe 1 terutama disebabkan karena gangguan autoimunitas, di mana tubuh berespon berlebihan terhadap antigen yang berasal dari tubuh sendiri. Secara genetik, ada gen-gen tertentu yang merupakan gen penentu kejadian DM Tipe 1, yaitu gen yang menyandi  major histocompatibility complex (MHC) Class II, suatu protein permukaan sel yang akan mempresentasikan antigen terhadap sel limfosit T. Adanya defect atau kecacatan pada gen yang menjadi MHC Class II sehingga menyebabkan kekurangan asam amino aspartat pada posisi 57 ternyata menyebabkan menyimpangnya fungsi MHC Class II sehingga menyebabkan kerentanan terhadap kejadian DM Tipe 1. Hal ini bisa dikoreksi dengan mengganti gen yang cacat tadi dengan terapi gen. Terapi gen untuk DM tipe 1 hingga saat ini baru ditingkat penelitian menggunakan hewan uji, belum sampai ke manusia.

Sempat pula disoroti bahwa bagaimanapun perlu ada rambu-rambu terkait dengan terapi gen, meliputi rambu-rambu etika, moral dan agama. Jangan sampai suatu masa orang dengan mudah mengubah warna kulit, tinggi badan, bentuk mata, dll, dengan mengganti gen-gen tertentu dengan gen yang diinginkan. Tentu akan menyalahi kodrat penciptaan dari Sang Pencipta, yang mungkin akan berdampak pada dekadensi nilai etika dan agama.

Nah, untuk DM tipe 2, berbeda lagi gen-gen yang berperan dalam kejadian penyakitnya. Namanya macem-macem deh….. salah satunya adalah KCNJ11 dan ABCC8, yang menyandi reseptor sulfonil urea yang berupa kanal ion K. Sulfonil urea adalah golongan antidiabetes, contohnya obat glibenklamid, glipizid, gliklazid, dll. Orang yang mengalami polimorfisme genetik pada gen tersebut ternyata menyebabkan kanal K cenderung akan membuka terus, yang menyebabkan pelepasan insulin terhambat. Nah, pada pasien yang demikian itu, penggunaan obat golongan sulfonil urea tidak memberikan efek yang diharapkan. Itu adalah salah satu contoh kejadian farmakogenomik, di mana respon seseorang terhadap obat bisa bervariasi karena adanya pengaruh perbedaan genetik.

Obat-obat diabetes lain ternyata juga demikian, di mana adanya polimorfisme genetik pada gen-gen yang menyandi protein2 yang terlibat dalam aksi obat tersebut, dapat menyebabkan perbedaan respon secara individual.

Jadi, di masa depan di mana eranya adalah individualisasi terapi, pemberian obat mesti disesuaikan dengan keadaan pasien, termasuk pola genetiknya. Seorang dengan polimorfisme genetik pada gen KCNJ11 dan ABCC8 seperti yang dipaparkan di atas, tentu tidak tepat mendapatkan terapi obat golongan sulfonil urea karena efeknya tidak bisa diharapkan, dan dapat dipilihkan obat yang lain.

Balik Yogya

Alhamdulillah, tugas di Makassar sudah dikerjakan sebisanya. Mudah-mudahan bermanfaat. Dan lagi-lagi, Merpati tidak ingkar janji. Kami take off dari Bandara Hasanuddin Makassar pada pukul 18.30an dan tiba kembali dengan selamat di Yogya. Tugas lain-lain sudah menanti, termasuk menulis calon buku berikutnya dan tugas rutin lainnya.

Iklan




Musibah Luka Bakar : pertolongan pertama

14 03 2010

Dear kawan,

Hari ini ada musibah kecil di rumah, tapi sempat bikin panik dan sedih. Dan tambah sedihnya lagi adalah karena itu akibat kelalaianku. Aduuh, maafkan ibu, nak….

Ya, tadi siang kaki putriku Hanisa (7 tahun) tersiram minyak panas. Ceritanya tadi aku mau menggoreng lauk untuk Afan (kakaknya) makan siang. Tapi dasar pelupa,… ketika kompor sudah kunyalakan dengan wajan berisi minyak, sambil nunggu minyak jadi panas, aku sempatkan nengok laptopku yang masih terbuka, karena sedang hiruk pikuk juga menyiapkan bahan untuk mengisi Pelatihan untuk SDM Hospital Akademik UGM hari Jumat depan. Sekalinya nengok laptop, terus lupa deh….. tau-tau Hanisa teriak-teriak. Dan ya Allaaah….. dapur sudah berasap, wajan sudah ada di lantai dengan minyak tumpah, dan sebagian minyak panas ternyata menyiram kakinya. Rupanya ia akan menjadi pahlawan kami siang tadi…  Ketika melihat dapur berasap, dia pergi ke dapur dan mematikan kompor. Katanya wajannya sudah berapi, dan ia ambil untuk menyelamatkan dari kebakaran. Dan yah…….ia kepanasan dan wajan pun jatuh. Ya Allaaah, … bisa dibayangkan tadi perasaanku, antara menyesal, bersalah, sekaligus panik…. Langsung nggak bisa mikir, dan segera ganti baju dan kularikan ke dokter terdekat. Ndilalah, bapaknya juga sedang ada tugas di luar kota.

Bener deh, karena panik aku ngga bisa mikir harus diapakan tadi. Aku cuma menyiramnya dengan air dingin sebentar, langsung berpikir membawanya ke dokter. Bagian yang terkena lumayan luas, di daerah punggung kaki dekat jari-jari, yang lebih parah terutama di kaki sebelah kiri. Saat ini Hanisa sedang bobo, maka aku sempatkan menulis ini sebentar untuk berbagi pengalaman, mungkin ada manfaatnya. Tadi Dokter membersihkan lukanya dengan Rivanol, lalu meresepkan salep Burnazin (maaf nyebut merk) yang memang untuk luka bakar dan mencegah infeksi. Dokter menyarankan untuk jangan sampai kotor dan terinfeksi. Yang sedih, ia menangis merintih-rintih kesakitan… aduh, rasanya jadi tambah nggreges.. Karena itu, dokter juga meresepkan analgesik (parasetamol) dan penenang (diazepam) supaya tidak terlalu sakit dan bisa istirahat. Sepulang dari dokter, aku kompres sedikit luka bakarnya dengan Rivanol biar terasa dingin, lalu aku salepkan obat yang diperoleh tadi. Analgesik dan penenangnya pun aku minumkan. Diazepam separuh tablet rupanya tidak cukup menenangkan dan membuatnya tidur karena kesakitan. Setengah jam dia masih merintih-rintih, sampai akhirnya kutambah setengah tablet lagi.

Setelah dia tidur, kucoba searching informasi tentang pengobatan luka bakar dan tips untuk pertolongan pertama pada musibah luka bakar (kena minyak panas, air panas, knalpot, dll). Yang yah,… sayangnya karena panik, sebagian tadi tidak aku lakukan.

Ada beberapa informasi yang bisa dibagikan:

1. Dinginkan dengan air mengalir! Logikanya, luka bakar kan panas (karena terkena benda panas). Air yang mengalir (dari keran atau dispenser air minum) bisa menetralisir kulit yang terkena panas itu. Caranya, anggota tubuh yang terkena luka bakar dialiri air mengalir sekitar 10-20 menit terus menerus, hingga rasa nyeri akibat luka itu berkurang. (dari: http://tianarief.multiply.com/journal/item/1293).  Selain itu juga untuk mencegah meluasnya kerusakan akibat luka bakar.

2. Dapat dilakukan kompres dengan susu. Rendam daerah luka dengan susu selama 15 menit atau lebih. Bila kesulitan merendam, bisa menggunakan handuk yang telah dibasahi susu untuk menutup daerah yang terbakar. Lemak yang terdapat dalam susu akan menyejukan daerah yang terbakar dan mempercepat penyembuhan. Yang ini sih tadi tidak aku lakukan.

3. Cairan lidah buaya juga bisa mempercepat penyembuhan luka bakar dan meredakan nyeri dengan rasanya yang dingin. Madu juga bisa digunakan. Mungkin nanti bisa dicoba setelah 2-3 hari.

4. Beberapa alternatif salep yang bisa digunakan untuk perawatan luka bakar, antara lain: Burnazin (yang sekarang dipakai Hanisa), Bioplacenton, Darzyn (hampir sama dengan Burnazin), dan satu lagi andalan ibuku adalah Nutrimoist (produk CNI).

5. Dokter tadi juga menyarankan untuk banyak minum vitamin C untuk mempercepat proses penyembuhan luka. Oya, bagaimana dengan odol atau kecap yang sering kita dengar untuk pertolongan pertama pada luka bakar?

• Diolesi pasta gigi: tidak disarankan. Alasannya, pasta gigi memang terasa dingin di kulit, karena mengandung mentol. Tapi jika dioleskan pada kulit yang terkena luka bakar, pori-pori kulit akan tertutup pasta gigi itu. Saat diobati, paramedis di rumah sakit akan kesulitan untuk membersihkan luka, guna mencegah infeksi.

• Diolesi kecap atau minyak rem: tidak disarankan. Kecap dan minyak rem memang cairan yang bersifat mendinginkan. Tapi tahukah anda, berapa banyak kandungan bahan kimia di dalamnya? Tentu sangat berbahaya, dan bisa memperlambat proses penyembuhan luka, bahkan memperparah.

• Diolesi salep Bioplacenton atau salep untuk luka bakar lainnya: dibolehkan. (dari: http://tianarief.multiply.com/journal/item/1293)

Demikian sekilas saja, sekedar berbagi pengalaman. Mudah-mudahan tidak ada yang perlu mengalami lagi, dan mohon doanya semoga Hanisa cepat sembuh. Amien.





Rumor tentang Aspartam, is that true?

7 03 2010

Dear kawan,

struktur kimia aspartam

Kemarin aku mendapat pertanyaan dari seorang teman melalui e-mail tentang aspartam. Aku kutipkan sesuai aslinya :

Selamat malam, aku merasa penasaran atas “tumbang”nya beberapa teman yg mengkonsumsi minuman kesehatan yg ternyata menggunakan ASPARTAM. Ada kemudian muncul selebaran daftar makanan dan minuman yg menggunakan bahan tersebut. Mulai dari Extrajoss, Kiranti, dlsb. Yg menjadi pertanyaan, sampai seberapa amankah bila kita mengkonsumsinya? Adakah batasan2nya? Benarkah bisa menyebabkan pengeringan sumsum tulang belakang? Efek apa bila kita mengkonsumsi? Kiranya saya bisa mendapatkan jawaban dari anda.

(editan pd tgl 14 Januari 2014: Bahkan barusan di wall Face Book seorang kawan, tertulis statusnya : Ikatan Dokter Indonesia (IDI), menginformasikan bahwa saat ini sdg ada wabah Pengerasan Otak (Kanker Otak), Diabetes dan Pengerasan Sumsum Tulang Belakang (Mematikan sumsum tulang belakang). Untuk itu, hindarilah minuman sbb: Extra Joss, M-150, Kopi SusuGelas (Granita), Kiranti, Krating Daeng, Hemaviton, Neo Hema viton, Marimas, Segar Sari shachet, Frutillo, Pop Ice, Segar Dingin Vit.C, Okky Jelly Drink, Inaco, Gatorade, Nabati, Adem Sari, Naturade Gold, Aqua Splash Fruit. Karena ke-19 minuman tsb diatas mengandung ASPARTAME (lebih keras dr biang gula) racun yg menyebabkan diabetes, kanker otak, dan mematikan sumsum tulang. [Info: dr.H.Ismuhadi,MPH 0811323601]. Wah, berarti rumor atau hoax yang dulu beredar lagi.)

Hm,….. tidak mudah untuk segera menjawab, karena harus mencari sumber informasi yang benar-benar obyektif dan dapat dipercaya. Salah satu petunjuknya adalah jika ia berasal dari lembaga resmi Pemerintah, institusi pendidikan yang kredibel, atau jurnal2 terpercaya (walaupun tetap ada kemungkinan keliru, tapi sudah berusaha mencari data yang sevalid mungkin).

Apakah aspartam itu?

Aspartam adalah pemanis buatan yang tersusun dari 2 macam asam amino yaitu asam aspartat dan fenilalanin. Ia ditemukan pada tahun 1965 oleh James Schslatte sebagai hasil percobaan yang gagal. Asam aspartat dan fenilalanin sendiri merupakan asam amino yang menyusun protein. Khusus asam aspartat, ia juga merupakan senyawa penghantar pada sistem saraf (neurotransmiter). Aspartam, dikenal juga dengan kode E951, memiliki kadar kemanisan 200 kali daripada gula (sukrosa), dan banyak dijumpai pada produk-produk minuman dan makanan/permen rendah kalori atau sugar-free. Nama dagang aspartam sebagai pemanis buatan antara lain adalah Equal, Nutrasweet, Canderel, Tropicana Slim, dll.

Aspartam masuk pasar Amerika sejak tahun 1981 dan di Inggris pada tahun 1982, setelah kajian (review) mengenai keamanannya oleh Badan Pemerintah yang berwenang di masing-masing negara. Sebelum disetujui oleh FDA (Food and Drug Administration), semacam Badan POMnya Amerika, keamanan aspartam telah diuji melalui lebih dari 100 kajian ilmiah, baik pada manusia maupun hewan uji. Hingga saat ini, FDA belum mengubah keputusannya, dan menyetujui aspartam sebagai pemanis buatan yang aman.

Apa keunggulan aspartam?

Seperti banyak peptida lainnya, kandungan energi aspartam sangat rendah yaitu sekitar 4 kCal (17 kJ) per gram untuk menghasilkan rasa manis, sehingga kalorinya bisa diabaikan, yang menyebabkan aspartam menjadi  sangat populer untuk menghindari kalori dari gula.Hal ini menjadi jalan keluar bagi penderita Diabetes yang masih ingin mencicip makanan manis tapi tidak meningkatkan kadar gula darahnya. Di samping mempunyai energi yang sangat rendah, ia mempunyai cita rasa manis mirip gula, tanpa rasa pahit, tidak merusak gigi, menguatkan cita rasa buah-buahan pada makanan dan minuman, dapat digunakan sebagai pemanis pada makanan atau minuman pada penderita diabetes. Bahkan penggunaan aspartam sebagai pengganti gula juga merupakan alternatif bagi konsumen non-diabetes yang ingin mengurangi asupan kalori untuk menjaga/mengurangi berat badan, dengan tetap masih bisa mencicipi manisnya makanan/minuman.

Seberapa aman kah aspartam?

Kembali ke pertanyaan rekan di atas, tentang “tumbang”nya beberapa temannya yang mengkonsumsi minuman yang mengandung aspartam, aku sendiri belum begitu paham dengan maksudnya “tumbang”. Apakah terjadi secara tiba-tiba, atau karena mengkonsumsi dalam jangka waktu lama, juga bentuk “tumbang”nya seperti apa. Tapi dari segi keamanan, aku coba melihat dari bagaimana aspartam dimetabolisir oleh tubuh. Di antara semua pemanis tidak berkalori, hanya aspartam yang mengalami metabolisme. Tetapi proses pencernaan aspartam juga seperti proses pencernaan protein lain. Aspartam akan dipecah menjadi komponen dasar, dan baik aspartam maupun komponen dasarnya tidak akan terakumulasi dalam tubuh. Jadi, kembali ke pertanyaan teman di atas, sebenarnya aspartam cukup aman dipakai, karena dia dipakai dalam kadar yang sangat kecil (1% dari gula) dan akan dikeluarkan oleh tubuh. Aspartam bahkan dinyatakan aman digunakan baik untuk penderita kencing manis, wanita hamil, wanita menyusui, bahkan anak-anak.

Satu-satunya kondisi yang dikontraindikasikan bagi aspartam adalah penyakit fenilketouria. Apa itu? Dalam keadaan normal, fenilalanina (salah satu komponen aspartam) akan diubah menjadi tirosin dan dibuang dari tubuh. Pada orang yang mengalami gangguan fenilketouria, terdapat gangguan dalam proses ini. Penyakit ini diwariskan secara genetik, di mana tubuh tidak mampu menghasilkan enzim pengolah asam amino fenilalanin, sehingga menyebabkan kadar fenilalanin yang tinggi di dalam darah, yang berbahaya bagi tubuh. Timbunan fenilalanin dalam darah dapat meracuni otak dan menyebabkan keterbelakangan mental. Karena itu, aspartam dikontraindikasikan bagi penderita fenilketouria.

Apa batasan-batasannya?

Seperti halnya bahan tambahan makanan lainnya, ada dosis tertentu yang dapat diterima penggunaannya, yang sering disebut sebagai Acceptable Daily Intake, atau ADI, yaitu perkiraan jumlah bahan tambahan makanan yang dapat digunakan secara rutin (setiap hari) dengan aman. Dalam hal aspartam, angka ADI-nya adalah 40 mg per kg berat badan. Berarti sekitar 2800 mg untuk berat rata-rata orang Inggris dewasa. Dan untuk anak-anak usia 3 tahun, angka ADI-nya berkisar 600 mg. Selama belum melebihi dosis tersebut, keamanannya cukup terjaga.

Efek samping aspartam?

Banyak berita-berita di internet yang menyebutkan bahwa aspartam menyebabkan pengeringan sumsum tulang belakang dan Lupus, dan berbagai efek samping lainnya. Itu semua TIDAK BENAR. Istilah pengeringan atau pengerasan sumsum tulang belakang sendiri tidak dikenal dalam dunia medis. Apalagi dikatakan dalam beberapa sumber di internet bahwa terjadi WABAH, yang tentu ini kurang masuk akal. Wabah adalah peningkatan kejadian suatu penyakit, seperti wabah demam berdarah, wabah kolera, yang disebabkan oleh adanya peningkatan pencetus. Apalagi jika dikaitkan dengan penyebabnya adalah minuman yang mengandung aspartam… apakah ada peningkatan secara dramatis jumlah konsumsi produk minuman/makanan mengandung aspartam?… tidak ada data yang pasti.

Dalam hal Lupus, tak kurang Yayasan Lupus Amerika (Lupus Foundation of America) juga membantah bahwa ada kaitan antara penggunaan aspartam dengan Lupus. Tahun 2007, keamanan aspartam sempat dpertanyakan kembali ketika satu tim peneliti dari Italia melaporkan bahwa aspartam dapat meningkatkan risiko kanker. Namun demikian, setelah dikaji kembali oleh the European Food Safety Authority (EFSA) dan FDA (Amerika), dinyatakan bahwa belum ada perubahan rekomendasi mengenai keamanan aspartam karena data yang ada belum cukup mendukung penemuan tersebut. Artinya, aspartam tetap aman digunakan. Infonya juga bisa dilihat pada website resmi National Cancer Institute  bahwa TIDAK ADA hubungan antara kejadian kanker dengan konsumsi aspartam. Banyak kemungkinan karsinogen lain yg bisa mencetuskan kanker.  Selain itu, konsumsi minuman beraspartam kan juga tidak setiap hari, dan dosis yang digunakan relatif kecil, sehingga efek samping yang dikuatirkan sebenarnya tidak sering terjadi. Tentu ada respon individual terhadap aspartam yang mungkin terjadi pada beberapa orang, tapi itu tidak bisa digeneralisir.

Namun demikian ada baiknya untuk berhati-hati dengan tidak terlalu banyak mengkonsumsi produk-produk dengan pemanis buatan. O,ya, aku bukan penjual aspartam, tidak punya hubungan keluarga maupun bisnis dengan produsen aspartam…. 🙂   Yang kusampaikan sekedar apa yang kuketahui, supaya kita lebih berhati-hati menanggapi aneka berita yang beredar, dan mengajak kawan-kawan untuk bersikap kritis dan analitis. Demikian apa yang bisa disampaikan tentang aspartam, semoga bermanfaat.





Berbagi (lagi) di radio Trijaya FM Yogyakarta

5 03 2010

Dear kawan,

in action...

Maaf lama tidak menyapa….. sedang kehilangan mood menulis saja…. padahal banyak loh, yang bisa ditulis. Sekarang malah kepengin nulis cerpen deh…. tapi bingung mulainya dari mana hehe…. Daripada blog kosong melompong, aku mo cerita saja tentang sedikit aktivitasku beberapa hari lalu, yaitu menemani mas Sukir jadi narasumber pada acara “Healthy Talk” di radio Trijaya FM tanggal 3 Maret yang lalu. Acara itu sendiri merupakan acara rutin setiap Rabu malam, yang digawangi oleh Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Yogyakarta. Hm… asyik juga sih. Kali ini tidak ada topik khusus yang dibicarakan (dulu pernah khusus tentang bahaya alkohol), tapi yang pasti seputar obat dan kesehatan. Jadi datang ke studio masih blong deh…. tidak ada persiapan apa-apa. Acara bergulir secara alami saja, dengan banyaknya pertanyaan mengenai pemakaian obat. Aku sempat bawakan buku souvenir pada acara Pidato Pengukuhanku sebagai hadiah buat mereka yang tanya dalam acara tersebut.

Aku coba ulas lagi deh, beberapa pertanyaan yang sempat ditanyakan dan masih aku ingat.

1. Anak saya sering minum obat triheksifenidil (THF). Sebenarnya obat apakah itu, dan apakah itu temasuk golongan narkotika?

Hm… sebenernya tidak begitu jelas dari pertanyaannya berapa umur si anak dan bagaimana ia bisa memperoleh obat tersebut. Namun, triheksifenidil termasuk obat keras (harus dengan resep dokter) dan termasuk yang sering disalah gunakan, sehingga Apotek diminta melaporkan juga pemakaian obat THF ini secara rutin kepada Dinas Kesehatan, disamping obat golongan narkotika dan psikotropika lain. THF sebenarnya adalah golongan antikolinergik (bukan termasuk narkotika) yang sering dipakai untuk pengatasan penyakit Parkinson. Tau penyakit Parkinson kan? Itu loh… yang tangannya gemeteran, langkah kaku, tidak bisa jalan cepat, dll. Itu penyakitnya mantan petinju legendaris Muhamad Ali. Obat ini ternyata memang memiliki efek euforia (kesenangan semu), menyerupai narkotika. Mungkin itu sebabnya mengapa sering disalahgunakan sebagai obat “rekreasional”.Tentu apoteker di apotek maupun masyarakat perlu waspada jika ada penggunaan THF di masyarakat yang tidak sesuai dengan indikasi (tujuan pengobatannya).

2. Apakah boleh minum vitamin secara rutin?

Tentang vitamin pernah dibahas dalam blog ini, dan pada dasarnya vitamin itu memang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah kecil, Sebaiknya diperoleh secara alami dari makanan (sayur, buah, dan laukpauk), namun dalam keadaan tertentu seperti sakit, banyak aktivitas, mungkin membutuhkan lebih banyak, sehingga bisa diasup dari suplemen vitamin.

3. Ayah saya hobby minum obat. Setiap sakit kepala, sedikit aja langsung minum obat. Sekarang nampaknya ada gejala alergi obat, tapi belum tau yang mana. Bagaimana solusinya?

…. Lucu deh.. hobby kok minum obat. Sebaiknya kita jangan terlalu mudah minum obat. Pertama kali, lakukan dulu upaya-upaya non obat (tergantung penyakitnya), seperti olah raga, pengaturan makanan, dll. Untuk sakit kepala, jika termasuk jenis sakit kepala tegang otot, sebaiknya dicoba dulu relaksasi otot, pemijatan, perubahan posisi tidur, dll, yang relevan. Obat sakit kepala itu jika digunakan terlalu banyak juga akan memicu sakit kepala baru yang disebut “rebound headache”, jadi baiknya dikurangi penggunaannya. Jika sakit kepalanya kronis, perlu diperiksakan lebih lanjut untukmemastikan penyebabnya. Nah, untuk alerginya, perlu dicoba untuk menghentikan suatu obat tertentu dan mengamati apakah reaksi alergi terjadi atau tidak. Jika tidak bisa mengidentifikasikan macam obat yang menyebabkan alergi, bisa dilakukan skin test (tes kulit) untu memastikan alergennya.

Kawan,

Pertanyaannya sih sebenernya banyak, tapi sudah lupa. Mungkin ada baiknya untuk mendokumentasikan semua pertanyaan dan jawabannya, dan bisa jadi satu buku lagi deh….

Sementara gitu dulu ya…… Mudah-mudahan bermanfaat.