Bahayanya obat herbal yang dicampur BKO, 51 produk ditarik oleh BPOM

30 11 2014

Dear kawan,

jamu-bpom-dlmTulisan ini adalah reposting tulisanku di harian Tribun Yogya hari ini. Sayangnya yang di koran tidak menampilkan daftar tabel 51 obat yang diumumkan oleh BPOM mengandung BKO karena keterbatasan space. Karena itu aku repost di sini disertai link yang bisa dibuka mengenai daftar obat herbal tersebut..

Belakangan ini jamu atau obat herbal menjadi primadona dan pilihan masyarakat sebagai alternatif pengobatan, karena dipandang aman dan harganya lebih murah. Hal ini membuat maraknya pertumbuhan industri obat tradisional dengan aneka produknya. Sayangnya, alih-alih memproduksi obat herbal yang manjur dan aman, beberapa di antara mereka berbuat curang dengan mencampurkan komponen obat herbalnya dengan obat-obat kimia, dengan tujuan agar efeknya lebih ces-pleng. Hal ini tidak dibenarkan dalam peraturan pendaftaran dan produksi obat tradisional di Indonesia. Setelah melakukan pengawasan sejak bulan November 2013 sampai Agustus 2014, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) menemukan sebanyak 51 produk Obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat (OT-BKO), dimana 42 diantaranya merupakan produk OT tidak terdaftar (ilegal). Karena itu, pada tanggal 26 November 2014 yang baru lalu, BPOM menyampaikan siaran pers mengenai beberapa produk jamu yang masuk dalam kategori tersebut dan membatalkan nomor ijin produk-produknya.  Daftar produk yang masuk kategori tersebut dapat dilihat pada tautan ini..
Berdasarkan siaran pers tersebut, diketahui bahwa obat tradisional yang dicampur dengan bahan kimia obat didominasi oleh jamu penghilang rasa sakit (pegel linu, rematik) dan herbal penambah stamina (obat kuat). Obat kimia yang paling sering dicampurkan adalah parasetamol, fenilbutason, deksametason, antalgin, sildenafil dan tadalafil sitrat. Artikel ini akan membahas bahayanya jika obat-obat kimia tersebut dicampur dalam sediaan jamu/herbal dan digunakan secara jangka panjang.
Parasetamol atau asetaminofen

metabolisme parasetamol/asetaminofen membentuk NAPQI

metabolisme parasetamol/asetaminofen membentuk NAPQI

Parasetamol adalah obat penghilang sakit (analgesik) yang sebenarnya aman jika digunakan sesuai aturannya. Obat ini banyak dijumpai pada komponen obat flu maupun sakit kepala. Jika dicampurkan ke dalam jamu, misalnya jamu pegel linu atau jamu rematik, tentu akan meningkatkan kemanjuran jamu tersebut. Jika hanya dipakai sekali dua kali memang tidak berbahaya bagi kesehatan. Tetapi masalahnya, masyarakat pada umumnya menganggap jamu itu aman dan mereka cenderung mengkonsumsi setiap hari. Jika dipakai setiap hari, maka parasetamol akan terakumulasi dalam tubuh. Pada dosis besar, parasetamol dapat merusak hati/liver menyebabkan gangguan liver. Di dalam tubuh, parasetamol akan dimetabolisir menghasilkan zat radikal bebas yang bernama N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI). Dalam keadaan normal, NAPQI akan didetoksikasi secara cepat oleh enzim glutation dari hati. Pada dosis berlebih, hati tidak mampu lagi mendetoksikasinya, dan zat radikal bebas tersebut justru dapat merusak hati.

Pet Health Care Phenylbutazone Bute Banned

Peringatan pelarangan penggunaan fenilbutazon untuk manusia

Fenilbutason
Fenilbutason juga merupakan obat penghilang sakit (analgesik) seperti parasetamol, tetapi memiliki sifat yang berbeda. Obat ini sebenarnya sudah tidak banyak digunakan lagi karena efek sampingnya yang besar. Obat ini banyak digunakan untuk binatang seperti kuda.  Di Amerika, obat ini bahkan sudah ditarik dari peredaran karena banyak obat baru yang lebih aman. Efek samping khas dari fenilbutason adalah penekanan pada sumsum tulang belakang yang berfungsi menghasilkan sel-sel darah putih, sehingga menyebabkan turunnya jumlah sel darah putih. Penurunan sel darah putih menyebabkan seseorang mudah terkena infeksi. Selain itu, fenilbutason juga menyebabkan efek samping pada lambung, karena menghambat prostaglandin yang dibutuhkan untuk perlindungan selaput lendir lambung. Penggunaan yang terus-menerus dalam bentuk jamu tentu akan memberikan efek samping yang berbahaya, bahkan bisa menyebabkan perdarahan lambung. Repotnya, pasien tidak merasakan sakit pada lambungnya karena tertutupi efek fenilbutazon sebagai penghilang rasa sakit, namun tahu-tahu mengalami anemia atau tinjanya berwarna hitam (melena) akibat mengandung darah yang sudah kering.

gastrointestinal-bleeding_3

Ilustrasi perdarahan lambung yang bisa disebabkan karena pemakaian obat kortikosteroid secara kronis

Deksametason
Deksametason adalah obat golongan kortikosteroid yang memilliki efek anti radang yang kuat. Jika digunakan sesuai aturannya, obat kortikosteroid memiliki banyak kegunaan, terutama pada penyakit-penyakit peradangan, seperti rematik, asma, alergi, dan penyakit autoimun seperti lupus, sindrom nefrotik, artritis rematoid, dll. Namun di sisi lain, efek sampingnya cukup luas, antara lain adalah meningkatkan kadar gula darah (meningkatkan resiko diabetes), keropos tulang (osteoporosis), menghambat pertumbuhan anak-anak, menyebabkan gemuk pada bagian tubuh tertentu (wajah bulat/moon face, bahu seperti berpunuk), menyebabkan garis-garis merah di perut (striae), menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena infeksi, meningkatkan resiko hipertensi karena menahan garam di dalam tubuh, menyebabkan gangguan lambung (perdarahan lambung), dll. Penggunaan obat ini tidak boleh sembarangan dan perlu pengawasan tenaga kesehatan yang berwenang. Jika digunakan sesuai aturan, tentu efek-efek samping ini dapat dikelola agar tidak membahayakan. Penghentiannya pun tidak boleh secara tiba-tiba, karena juga dapat membahayakan kesehatan. Mengapa demikian ? Karena selama penggunaan kortikosteroid dari luar, produksi hormon ini secara alami dari tubuh akan terhenti. Jika penggunaan dari luar tiba-tiba dihentikan, tubuh akan kekurangan hormon ini secara normal dan akan terjadi reaksi-reaksi yang tidak diinginkan, seperti: kadar gula darah turun, tekanan darah turun drastis dari posisi duduk ke berdiri (hipotensi ortostatik), dehidrasi (kekurangan cairan), lemah, lesu, dll. Penggunaan yang tidak terkontrol dalam bentuk jamu tentu dapat meningkatkan risiko kesehatan bagi pasien. Alih-alih sehat, malahan masuk rumah sakit akibat menggunakan jamu bercampur dengan obat kimia.

Antalgin
Antalgin adalah obat penghilang rasa sakit yang juga banyak dipakai masyarakat. Ia bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin yang berperan sebagai mediator nyeri. Hampir sama dengan fenilbutazon, efek samping antalgin yang berat adalah gangguan darah yang disebut agranulositosis, yang berarti berkurangnya jumlah sel darah putih, khususnya neutrofil granulosit. Gejala agranulositosis adalah gampang terkena infeksi, tubuh terasa lemah (tidak enak badan, lemah, pusing, sakit otot), diikuti dengan terjadinya tukak pada membran mukosa, demam dan denyut jantung meningkat.

Sildenafil dan tadalafil
Sildenafil dan tadalafil adalah obat yang digunakan untuk mengatasi gangguan ereksi pada pria. Masyarakat mengenalnya sebagai obat kuat untuk pria. Banyak jamu atau obat herbal yang ditujukan untuk meningkatkan stamina pria mengandung sildenafil sebagai campurannya. Sildenafil dan tadalafil adalah obat keras yang semestinya diperoleh dengan resep dokter. Dia bekerja dengan cara melebarkan pembuluh darah penis, sehingga aliran darah ke organ tersebut lancar, sehingga menguatkan ereksi. Tetapi jika dipakai secara berlebihan, apalagi oleh orang-orang yang sedang menggunakan obat-obat antihipertensi yang bekerja melebarkan pembuluh darah juga (vasodilator), maka akan terjadi penurunan tekanan darah secara drastis dan pasien bisa pingsan, bahkan bisa menimbulkan kematian. Efek samping lain obat ini adalah buta warna, sakit kepala, pusing, hidung tersumbat, sampai dengan sakit pada kandung kemih. Alih-alih perkasa, pasien justru bisa terkapar tidak berdaya akibat efek samping obatnya.
Hati-hati memilih produk obat herbal
Dengan paparan di atas, maka dapat dipahami bahayanya mengkonsumsi obat-obat herbal yang dicampur dengan obat kimia tanpa aturan yang benar. Apalagi masyarakat sering berpendapat bahwa jamu itu aman dan bisa digunakan dalam jangka panjang. Efek obat herbal atau jamu memang pada umumnya terjadi secara bertahap (perlahan). Jika terlalu cepat atau terlalu kuat, justru boleh dicurigai adanya campuran dengan obat kimia. Kami menghimbau masyarakat untuk berhati-hati memilih dan membeli obat herbal. Belilah di apotek atau toko obat yang dipercaya. Pilihlah obat herbal yang diproduksi oleh industri farmasi yang sudah cukup dikenal, mereka biasanya tidak berani bertindak kriminal dengan mencampurkan bahan kimia obat ke dalam produk obat herbalnya.

Iklan




Mengenal virus Ebola yang mendunia

10 11 2014

Dear kawan,

Tulisan ini adalah reposting dari tulisanku yang terbit di Harian Tribun Yogya hari minggu kemarin.

Belakangan ini berita tentang virus Ebola banyak dijumpai di media masa, baik di televisi atau suratkabar. Berita tentang adanya seorang Indonesia yang suspected (diduga) terinfeksi Ebola karena dia baru pulang dari Liberia, daerah Afrika di mana virus Ebola sedang menjadi endemik cukup mengejutkan dan menyebabkan kita perlu mengenal lebih dalam mengenai virus ini. Artikel ini mengupas tentang apa itu virus Ebola, gejala penyakit yang ditimbulkannya, bagaimana penularan dan pencegahannya, dan bagaimana pengatasannya. Memang kekuatiran tentang Ebola tidak sebesar seperti ketika berita tentang virus MERS dari Arab merebak, karena orang Indonesia yang datang dan pergi ke Benua Afrika tidaklah sebanyak jamaah haji dan umroh yang bepergian ke Arab Saudi. Namun demikian, pengetahuan dan kewaspadaan tentang virus Ebola ini harus ditingkatkan. Tidak kurang RS Sardjito Yogyakarta juga sudah menyiapkan fasilitas untuk kemungkinan merawat pasien dengan penyakit Ebola.

Apa Virus Ebola itu?
ebolaVirus Ebola adalah sejenis virus yang berasal dari keluarga Filoviridae, genus Ebolavirus. Ada 5 jenis virus Ebola yang telah teridentifikasi, yaitu: Virus Ebola (Zaire ebolavirus), Virus Sudan (Sudan ebolavirus), virus Tai Forest (Tai Forest ebolavirus), virus Bundibugyo, dan virus Reston. Virus ini dijumpai pada beberapa negara Afrika, dan pertamakali ditemukan di Kongo pada tahun 1976, di dekat sungai Ebola, yang menjadi nama virus ini. Peneliti sejauh ini menduga kuat bahwa virus ini berasal dari hewan, utamanya kelelawar.

 

Wabah virus Ebola
Tahun 2014 ini tercatat dalam sejarah sebagai tahun wabah virus Ebola terbesar, terutama di Afrika barat, dan menjangkiti puluhan orang dari berbagai negara Afrika. Sampai tanggal 29 Oktober 2014, tercatat 67 kasus dilaporkan di Kongo (negara asal virus), dan 48 diantaranya meninggal. Tiga kasus Ebola yang melibatkan 3 orang Amerika yang baru pulang dari negara Afrika menyebabkan virus Ebola menjadi perhatian seluruh negara di dunia, karena adanya kemungkinan penyebaran ke negara lain. Saat ini semua negara menyiapkan kewaspadaannya untuk mencegah masuknya virus Ebola melalui penduduknya yang baru pulang dari negara-negara Afrika, terutama di negara yang sedang terjangkit virus Ebola.

Seperti apa sih penyakit Ebola?
symptom ebolaPenyakit yang disebabkan oleh virus Ebola disebut penyakit Ebola, yang dulunya disebut demam berdarah Ebola (Ebola hemorrhagic fever). Gejala penyakit Ebola adalah demam, sakit kepala berat, nyeri otot, lemah, lelah, diare, mual, sakit perut, dan perdarahan atau lebam pada kulit. Gejala dapat muncul sejak 2 sampai 21 hari sejak terpapar virus Ebola, dengan rata-rata 8-10 hari. Virus Ebola dapat menyebabkan perdarahan dengan tingkat kematian 50%. Penyebab utama kematian karena rusaknya lapisan endothelium pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan. Kerusakan ini tidak secara langsung disebabkan oleh virus Ebola, tetapi disebabkan karena terlalu aktifnya sistem pertahanan tubuh dalam mengantisipasi keberadaan virus yang masuk ke dalam tubuh. Aktivitas sistem pertahanan yang berlebihan tersebut justru mengakibatkan rusaknya beberapa organ tubuh yang penting.Kesembuhan penyakit Ebola tergantung pada terapi suportif yang diberikan serta daya tahan tubuh pasien. Pasien yang sembuh dari penyakit Ebola akan menjadi kebal terhadap virus Ebola sedikitnya untuk 10 tahun ke depan.

Bagaimana cara penyebarannya?
Karena mahluk pembawa (host retramsisi ebolaservoir) virus Ebola alami belum teridentifikasi, maka cara bagaimana virus pertama kali muncul pada manusia pada awal wabah tidak diketahui. Namun, para ilmuwan percaya bahwa pertama kali pasien menjadi terinfeksi melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar buah atau primata (kera dan monyet). Penularan dari orang-ke-orang selanjutnya akan terjadi dan dapat menyebabkan sejumlah besar orang terinfeksi. Ketika infeksi terjadi pada manusia, virus dapat menyebar dalam beberapa cara kepada orang lain. Virus Ebola dapat menular melalui kontak langsung (melalui kulit rusak atau selaput lendir, misalnya, mata, hidung, atau mulut), dengan darah atau cairan tubuh (termasuk urin, air liur, keringat, tinja, muntah, ASI, dan air mani), atau melalui benda yang telah terkontaminasi dengan virus (seperti jarum suntik). Ebola tidak menyebar melalui udara atau air, atau pun makanan. Namun, di Afrika, Ebola dapat menyebar sebagai akibat dari penanganan daging satwa liar (binatang liar diburu untuk makanan) dan kontak dengan kelelawar yang terinfeksi. Tidak ada bukti bahwa nyamuk atau serangga lainnya dapat menularkan virus Ebola. Hanya beberapa spesies mamalia (misalnya, manusia, kelelawar, monyet, dan kera) yang bisa terinfeksi dan menyebarkan virus Ebola.

Petugas kesehatan yang merawat pasien Ebola, maupun keluarga dan teman yang kontak dengan pasien berada pada risiko tertinggi untuk tertular, karena itu harus sangat berhati-hati, menggunakan perlindungan yang memadai, seperti masker, baju khusus, sarung tangan, serta pelindung mata. Setelah seseorang pulih dari Ebola, mereka tidak bisa lagi menyebarkan virus. Namun, virus Ebola dapat ditemukan dalam air mani sampai 3 bulan. Karena itu, direkomendasikan untuk menghindari hubungan seks (termasuk oral seks) minimal 3 bulan untuk mencegah penyebaran virus Ebola.

Bagaimana pengobatannya?
Sampai saat ini belum ada obat antivirus maupun vaksin yang tersedia untuk Ebola. Penyakit Ebola diatasi sesuai dengan gejala yang muncul. Misalnya untuk demam tinggi diberi obat turun panas, untuk diarenya diberi tambahan cairan untuk mengurangi dehidrasi, untuk nyeri-nyerinya diberi analgesik/obat anti nyeri, dll. Selain itu terapi suportif harus diberikan misalnya cairan infus yang sesuai untuk menyeimbangkan elektrolit, menjaga status oksigen dan tekanan darah, dan mengatasi infeksi lain jika terjadi.
Namun beberapa peneliti dalam suatu jurnal menyebutkan bahwa melatonin, suatu hormon yang secara alami diproduksi oleh kelenjar pineal mampu mengurangi terjadinya perdarahan pada penderita penyakit Ebola. Hormon melatonin sendiri mempunyai fungsi antara lain dalam pengaturan pola tidur. Namun selain hal tersebut melatonin mempunyai efek pula sebagai penangkap radikal bebas, sehingga melatonin dapat mengurangi stress oksidatif dan inflamasi yang terjadi pada lapisan dalam dari pembuluh darah. Melatonin telah dibuktikan mampu memperbaiki permebilitas pembuluh darah dan mencegah terjadinya kebocoran plasma pada pembuluh darah. Dengan demikian akan mencegah terjadinya perdarahan. Melatonin mungkin tidak dapat mencegah atau mematikan virusnya tetapi paling tidak mampu mencegah terjadinya perdarahan sehingga memungkinkan penderita penyakit Ebola mempunyai kesempatan lebih baik untuk tetap hidup.

Sumber melatonin alami selain dari kelenjar pineal terdapat pada beberapa makanan, misalkan oatmeal, jagung manis, pisang, nanas, tomat, apel, jeruk dan stroberi. Kita dapat memperkuat pertahanan tubuh dengan mengkomsumsi makanan-makanan tersebut. Beberapa herbal yang dapat menekan respon imun, seperti sirih hijau atau sirih merah mungkin dapat pula membantu mengurangi aktivitas sistem imun agar tidak meningkat secara berlebihan.

Bagaimana pencegahannya?
Karena belum ada pengobatannya, maka pencegahan menjadi sangat penting. Usahakan untuk menghindari dulu bepergian ke negara-negara yang sedang terkena wabah Ebola seperti Liberia, Guinea, Sierra Leone (penyebaran paling luas), dan Kongo. Jika Anda harus bepergian ke daerah yang sedang terkena wabah Ebola, pastikan untuk melakukan hal berikut:
1. Jaga kebersihan, misalnya, mencuci tangan dengan sabun dan air atau pembersih tangan berdasar alkohol pembersih dan menghindari kontak dengan darah dan cairan tubuh.
2. Jangan bersentuhan dengan barang-barang yang mungkin telah kontak dengan darah atau cairan tubuh orang yang terinfeksi (seperti baju, selimut, jarum, dan peralatan medis). Termasuk barang-barang yang berasal dari mayat orang yang meninggal karena Ebola.
3. Hindari kontak dengan kelelawar dan primata non-manusia atau darah, cairan, dan daging mentah yang diolah dari hewan-hewan ini.
Setelah Anda kembali, pantau kesehatan Anda selama 21 hari dan mencari perawatan medis segera jika Anda mengalami gejala Ebola. Beritahu petugas kesehatan jika Anda memiliki kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh dari orang yang sakit Ebola. Virus ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit rusak atau selaput lendir tidak terlindungi, misalnya, mata, hidung, atau mulut.

Demikian sekilas tentang Ebola. Walaupun nampaknya jauh di Afrika sana, tetapi dengan kemajuan teknologi transportasi dan dinamika masyarakat yang mengharuskan pergi dan pulang ke dan dari luar negeri, termasuk para tenaga kerja Indonesia (TKI), maka kewaspadaan dan pengetahuan tentang penyakit Ebola ini tidak boleh diremehkan.