Vaksin MMR dan autisme : kisah penipuan ilmiah?

22 01 2011

Dear kawan,

 Maap, yah…. sudah lama tidak menulis lagi di blog ini…. lagi banyak pekerjaan koreksi-koreksi ujian dan lain-lain yang perlu diprioritaskan. Lagian sedang banyak yang lagi dipikirin….. tentang hidup ini..(cieee!). Well, tapi membiarkan blog ini tanpa tulisan baru juga jadi tambahan pikiran hehe….. mungkin sudah ada yang menanti (lebaaay……)… Yah, untung aku bukan penulis beneran yang mengandalkan nafkah dari menulis… Lha, kalau lagi ngga mood gini atau ga ada ide tulisan, bisa-bisa ngga makan deh….

Kawan, sebuah newsletter yang kulanggan dari Medscape belum lama ini memberitakan tentang tuduhan bahwa informasi tentang vaksin MMR sebagai penyebab autis adalah sebuah penipuan. Sementara, seorang teman di Face Book sempat pula menanyakan masalah tentang vaksin MMR dan autisme. Jadi aku pikir topik ini pasti bermanfaat jika diangkat sebagai tulisan dalam blog ini… walaupun sempat agak enggan menuliskannya.

Aku dan Dhika-ku...

Enggan? …Yah….menulis tentang autis selalu terasa mengiris…. karena itu akan membuatku sedih dan teringat si bungsuku Dhika yang juga mengalami spektrum Autisme. Walaupun sudah kami terima dengan ikhlas sebagai bagian dari rencana Allah bagi kami, tetap saja ada saat-saat aku merasa putus asa dan berat. Yah, tapi apapun… pasti ada tujuan Allah menakdirkan ini supaya kami lebih ingat kepadaNya dan berlatih sabar dan tawakal. Well, ngga usah mellow deh….. nanti malah ga jadi nulis…

Autisme

Kita kenali dulu yang disebut autism. Autisme adalah gangguan perkembangan, di mana anak-anak dengan autisme terutama memiliki masalah berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Orangtua biasanya melihat kesulitan dalam keterampilan bahasa ketika anak mereka berumur sekitar dua tahun. Cerita tentang gangguan autism Dhika sudah pernah kutulis dua tahun yang lalu di blog ini (klik di sini). Dhika sekarang sudah 5 tahun. Ia sekarang menjalani Play group-nya 5 hari seminggu dan terapi wicara, edukasi dan okupasi masing-masing sekali dalam seminggu. Alhamdulillah, sudah banyak perkembangannya. Sekarang sedang belajar membaca.

Apa yang menyebabkan autisme?

Penyebab autisme cukup kompleks, dan ilmuwan masih mencoba untuk memahami apa penyebabnya. Para peneliti percaya bahwa faktor genetika memainkan peran  dalam menyebabkan autisme dan bahwa faktor medis atau lingkungan yang lain juga mungkin terlibat, seperti pencemaran logam berat, makanan tertentu, dll. Para peneliti juga percaya bahwa kebanyakan kasus autisme dimulai sebelum atau segera setelah lahir. Salah satu yang pernah menjadi perdebatan seru adalah vaksin MMR sebagai penyebab autism. Benarkah?

Apakah vaksin MMR itu?

Vaksin MMR Vaksin MMR (mumps, measles, dan rubella) adalah vaksin terhadap tiga penyakit yang berbeda (campak, gondong, dan rubella) melalui satu suntikan. Vaksinasi diberikan dua kali selama masa kanak-kanak, dan telah sangat berhasil menekan kejadian penyakit campak, gondok, dan rubela (campak Jerman) pada anak-anak. Sebagai gambaran, sebelum vaksin diberikan kepada anak-anak, ada sekitar 400.000 kasus campak yang dilaporkan setiap tahun di Amerika Serikat, tetapi pada tahun 1999 setelah diperkenalkan vaksin ini, hanya ada 100 kasus yang dilaporkan.

Mengapa ada kekhawatiran tentang vaksin MMR menyebabkan autisme?

Kekuatiran tentang kemungkinan vaksin MMR sebagai penyebab autism dimulai pada tahun 1998, ketika sebuah hasil penelitian yang dipublikasikan pada journal The Lancet oleh Andrew Wakefield, dkk, melaporkan adanya hubungan penggunaan vaksin MMR dengan kejadian sindrom autism. Dalam papernya Wakefield mengusulkan gagasan bahwa interaksi dengan virus bisa (1) memiliki dampak negatif pada sistem kekebalan anak; (2) menyebabkan infeksi persisten pada saluran pencernaan dan (3) pada gilirannya, dalam jangka panjang, dapat menyebabkan kerusakan otak dan mungkin autisme.

Studi itu sendiri sebenarnya hanya melibatkan 12 pasien, dan tidak pernah ada temuan lain yang mendukung atau mereplikasi temuan ini, namun karena mendapat liputan yang luas dari media, maka berita ini memicu kepanikan di antara orang tua, yang mengakibatkan jumlah vaksinasi MMR menurun drastis. Kontroversi dan debat mengenai hal ini kemudian berkembang terus hingga sekarang.

Bagaimana faktanya?

Publikasi ini menyebabkan banyak lembaga-lembaga kesehatan independen maupun Pemerintah mengkaji lagi mengenai hubungan antara vaksin MMR dengan autism. Dan setelah setelah meninjau semua studi, termasuk temuan Wakefield tadi, Institute of Medicine ( sebuah lembaga kesehatan independen non pemerintah di Amerika) telah menemukan bahwa bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa tidak ada hubungan pada tingkat populasi antara MMR dan autisme. IOM merekomendasikan penelitian lebih lanjut untuk menyelidiki kemungkinan langka ini  dan untuk memahami lebih baik penyebab autisme pada umumnya.

Publikasi Wakefield adalah “penipuan” !!

Artikel Wakefield sendiri telah dicabut publikasinya oleh pihak The Lancet pada tg 2 Februari 2010. The Lancet mengatakan bahwa dalam sejarah 186 tahun berdirinya jurnal ini, artikel Wakefield merupakan 1 dari 10-15 studi yang pernah dicabut atau ditarik kembali publikasinya. Kalian lihat, kawan…… memerlukan waktu 12 tahun bagi Lancet untuk menarik artikel Wakefield dari publikasi di jurnalnya, yang menunjukkan perlunya pengkajian yang panjang dan serius tentang kebenaran hasil temuan ini. Penarikan artikel ini mengikuti temuan General Medical Council (GMC) Inggris yang mengatakan bahwa Andrew Wakefield, MD, dan dua rekannya bertindak “tidak jujur” dan “tidak bertanggung jawab” dalam menjalankan penelitian mereka. GMC juga menemukan bahwa studi ini belum disetujui Komite Etika yang sesuai, sementara dalam artikel itu dinyatakan sudah. Juga ditemukan bahwa 12 anak yang dilaporkan adalah memang sengaja dipilih untuk penelitian ini, sementara dalam artikel disebutkan bahwa itu adalah pasien yang berturut-turut datang untuk pengobatan. Dengan ditariknya artikel ini, maka studi ini tidak  lagi dianggap sebagai bagian resmi dari literatur ilmiah.

Bagaimana kelanjutan kasus Wakefield ?

Tanggal 5 Januari 2011, jadi belum lama ini, British Medical Jurnal menerbitkan serangkaian 3 artikel dan editorial yang menuduh bahwa studi yang dipublikasikan di The Lancet pada tahun 1998 oleh Andrew Wakefield dkk yang menghubungkan antar vksinasi MMR dengan autism dan kerusakan usus/otak bukan saja sebagai  ilmu yang salah/menyesatkan,  tapi “suatu penipuan “. Menurut artikel pertama yang diterbitkan pada BMJ hari itu oleh reporter investigasi Brian Deer, peneliti Wakefield mengubah dan memalsukan catatan medis dan fakta, menyalah-interprestasikan informasi kepada keluarga, dan memperlakukan 12 anak yang terlibat secara tidak etis. Selain itu, Mr Wakefield juga menerima jasa konsultasi dari pengacara yang sedang menyusun gugatan terhadap produsen vaksin, dan banyak dari peserta penelitian merupakan rujukan dari organisasi antivaccine.

Brian Deer melakukan investigasi pertamanya terhadap artikel Wakefield pada tahun 2004 untuk Sunday Times di London dan sebuah jaringan televisi Inggris. Atas dasar temuan-nya itu, GMC’s menyelenggarakan Sidang pada tahun 2007 dan mendengar kesaksian dari 36 saksi selama jangka waktu dua setengah tahun. Dan hasilnya ? Sidang menyatakan bahwa metode penelitian Mr Wakefield tidak benar dan ia dinyatakan telah melanggar aturan dalam etika penelitian. Lima hari setelah pernyataan GMC, The Lancet mencabut artikel tersebut.

Kesimpulan?

Hingga saat ini belum ditemukan hubungan yang kuat antara vaksinasi MMR dengan kejadian autism, karena artikel yang pertama kali memunculkan kontroversi tentang ini telah dicabut dan tidak diakui kebenarannya, dan belum ada lagi publikasi ilmiah yang valid yang mendukung hal tersebut.

Bagaimanapun,…. penyebab autism masih misteri, di mana satu dengan yang lain mungkin dipicu oleh faktor yang berbeda. Dhika sendiri belum mendapat vaksin MMR, dan nyatanya ia mengalami juga. Buatku sendiri, sulit untuk memastikan penyebab pastinya, kecuali bahwa itu sudah ditetapkanNya. Sekarang yang penting adalah bagaimana untuk mengoptimalkan perkembangannya dengan berbagai upaya yang bisa dilakukan. Mohon doanya saja ya, kawan, semoga Dhika bisa tumbuh kembang dengan sempurna sebagaimana seharusnya. Menjadi anak yang sholeh dan berguna bagi semua. Amien.

Sumber : http://www.medscape.com/viewarticle/735354





Mari melangkah dengan pasti di tahun 2011…(tanpa osteoporosis)..

3 01 2011

Dear kawan,

Selamat tahun baru yaa….. Semoga tahun ini akan lebih baik dari tahun kemarin. Amien.

Tulisan ini adalah tulisan pertamaku di tahun 2011, setelah dua minggu ini ngga nulis. Maap yah, kawan….. lagi ngga mood nulis saja, di samping ada aktivitas lain yang butuh perhatian juga. Hari pertama di tahun 2011 kemarin aku lalui dengan mengisi sebuah acara Pentas Seni Mahasiswa Fakultas Farmasi mewakili korps dosen bersama teman-teman. Seru juga loh….. ! Sayangnya sempat ditingkahi hujan, namun untungnya tidak menyurutkan semangat para partisipan, baik panitia, penonton, maupun penampilnya. Bravoo!!

Oya, aku menyanyikan 3 lagu….. “Love of my life” dari Queen (ini salah satu lagu favoritku yang menyentuh banget deh..), “Nuansa Bening”-nya Keenan Nasution yang dipopulerkan lagi oleh Vidy Aldiano, dan “Aku Melangkah Lagi” punyanya Vina Panduwinata. Wah, kalau sudah nyanyi…. bisa lupa waktu deh….. Kalau ada yang mau ngundang nyanyi boleh looh…. hehe… gratis!

Langkah semakin cepat karena citaku semakin dekat

hasrat kini terungkap dalam kata-kata yang terucap

Waktu terus melaju seirama alunan lagu

Aku melangkah lagi dengan pasti!

Lagu barusan ini adalah ajakan untuk melangkah lagi dengan semangat baru di tahun 2011 ini, meninggalkan hal-hal yang ngga enak di tahun lalu, dan meneruskan hal-hal yang baik di tahun berikutnya. Nah….supaya kita bisa melangkah lebih kuat dan cepat di tahun 2011, tulang mesti yang kuat dong…… jangan sampai keropos. Karena itu, ayo kita intip sedikit informasi tentang penyakit keropos tulang alias osteoporosis dan pengobatannya.

Hehe… ngga nyambung banget ya intro-nya…. Lha wong mau nulis osteoporosis kok pake muter-muter cerita acara nyanyi segala….haha…! Yaa, itu namanya sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui….. Dan itu termasuk gaya menulis di blog ini yang kusukai… menulis dengan sentuhan pribadi, tapi mudah-mudahan tetap berisi hal-hal yang bermanfaat…..

Apa sih osteoporosis itu?

osteoporosis, tulang keropos jadi kayak spon...

Osteoporosis adalah suatu kondisi yang ditandai dengan penurunan kepadatan tulang, penurunan kekuatan dan mengakibatkan tulang rapuh. Arti osteoporosis secara harfiah adalah terjadinya keropos tulang membentuk porus-porus seperti spons. Gangguan ini melemahkan tulang dan mengakibatkan sering terjadinya patah tulang. Tulang yang normal terdiri dari protein, kolagen, dan kalsium, yang semuanya memberikan kekuatan tulang. Tulang yang terkena osteoporosis dapat patah (fraktur) karena cedera kecil yang biasanya tidak akan menyebabkan tulang patah. Fraktur tersebut bisa berupa retak/remuk, seperti pada patah tulang pinggul, atau patah (seperti pada tulang belakang). Bagian punggung, pinggul, rusuk, dan pergelangan tangan merupakan daerah umum terjadinya patah tulang akibat osteoporosis, meskipun fraktur osteoporosis dapat terjadi di hampir semua tulang rangka. Serem yaa…

Apa sih gejala dan tanda-tanda osteoporosis?

dowager hump.... bungkuk pada lansia..

Osteoporosis dapat terjadi tanpa gejala selama beberapa dekade karena osteoporosis bisa tidak menunjukkan gejala apa-apa sampai terjadinya patah tulang. Selain itu, beberapa fraktur osteoporosis dapat tidak terdeteksi selama bertahun-tahun kalau tidak menunjukkan gejala. Oleh karena itu, pasien mungkin tidak menyadari bahwa mereka mengalami osteoporosis sampai mereka menderita patah tulang yang menyakitkan. Gejala yang berhubungan dengan patah tulang osteoporosis biasanya adalah nyeri, dengan lokasi nyeri tergantung pada lokasi fraktur. Gejala osteoporosis pada pria mirip dengan gejala osteoporosis pada wanita. Fraktur tulang belakang dapat menyebabkan rasa nyeri berat yang tersebar dari punggung ke sisi tubuh. Selama bertahun-tahun, patah tulang belakang berulang dapat menyebabkan sakit punggung kronis (boyok) serta melengkungnya tulang belakang akibat “remuk”nya tulang belakang. Hal ini menyebabkan penampilan membungkuk pada punggung atas (disebut juga “dowager hump”), seperti yang sering terlihat pada wanita lansia.

Apa akibat osteoporosis?

Patah tulang osteoporosis menyebabkan rasa sakit yang cukup besar, penurunan kualitas hidup, dan kecacatan. Sampai 30% dari pasien yang menderita patah tulang pinggul akan memerlukan perawatan jangka panjang. Pada pasien lansia dapat terjadi pneumonia dan emboli paru karena bekuan darah di vena kaki dapat mengalir ke paru-paru, akibat istirahat terlalu lama setelah patah tulang pinggul. Selain itu, sekali seseorang telah mengalami patah tulang belakang akibat osteoporosis, ia berisiko sangat tinggi menderita patah tulang lainnya dalam waktu dekat (beberapa tahun berikutnya). Sekitar 20% wanita menopause yang mengalami patah tulang belakang akan menderita patah tulang belakang baru di tahun berikutnya.

Faktor apa yang menentukan kekuatan tulang?

Massa tulang (kepadatan tulang) ditentukan oleh jumlah tulang dalam struktur rangka. Umumnya, semakin tinggi kepadatan tulang, semakin kuat tulang. Kepadatan tulang sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, yang pada gilirannya kadang-kadang dimodifikasi oleh faktor lingkungan dan obat-obatan. Sebagai contoh, pria memiliki kepadatan tulang yang lebih tinggi daripada wanita, dan orang ras Afrika-Amerika memiliki kepadatan tulang yang lebih tinggi daripada ras Kaukasia (kulit putih) atau Asia. Biasanya, kepadatan tulang terakumulasi selama masa kanak-kanak dan mencapai puncaknya sekitar usia 25 tahun. Kepadatan tulang kemudian dipelihara selama sekitar 10 tahun. Setelah umur 35, baik pria maupun wanita biasanya akan kehilangan 0,3% -0,5% dari kepadatan tulang mereka per tahun sebagai bagian dari proses penuaan. Estrogen penting dalam mempertahankan kepadatan tulang pada wanita. Ketika level estrogen menurun setelah menopause, kehilangan kepadatan tulang akan terjadi semakin cepat. Selama lima sampai 10 tahun pertama setelah menopause, perempuan bisa kehilangan kepadatan tulang sampai dengan 2% -4% per tahun! Hal ini dapat mengakibatkan hilangnya sampai dengan 25% -30% dari kepadatan tulang mereka selama jangka waktu tersebut. Hilangnya tulang yang dipercepat setelah menopause merupakan penyebab utama osteoporosis pada wanita, disebut sebagai osteoporosis postmenopause.

Apa saja faktor resiko yang menyebabkan osteoporosis?

Berikut adalah faktor yang akan meningkatkan risiko osteoporosis:

• Jenis kelamin perempuan

 • ras Kaukasia atau ras Asia

• Rangka tubuh yang kecil dan tipis

 • Riwayat keluarga osteoporosis

• Mereka yang punya riwayat patah tulang sebagai orang dewasa

 • Merokok • konsumsi alkohol berlebihan

 • Kurangnya olah raga

 • Diet rendah kalsium

• Malabsorpsi (nutrisi tidak benar diserap dari sistem pencernaan)

 • tingkat estrogen rendah pada wanita (seperti terjadi pada menopause atau dengan operasi pengangkatan awal kedua ovarium)

• Rendahnya kadar testosteron pada pria (hipogonadisme)

 • Kemoterapi yang dapat menyebabkan menopause dini karena efek racun pada ovarium

• Amenore (hilangnya periode menstruasi) pada wanita muda yang terkait dengan estrogen yang rendah dan osteoporosis; amenore dapat terjadi pada wanita yang menjalani latihan yang sangat kuat dan pada wanita dengan lemak tubuh yang sangat rendah, misalnya, wanita dengan anorexia nervosa

• peradangan kronis, karena penyakit kronis seperti rheumatoid arthritis atau penyakit hati

• Imobilitas, seperti setelah stroke,

• Hipertiroidisme, suatu kondisi dimana terlalu banyak hormon tiroid dihasilkan oleh kelenjar tiroid (seperti pada penyakit Grave’s) atau terlalu banyak mengkonsumsi obat hormon tiroid

• Hiperparatiroidisme adalah penyakit dimana terdapat produksi hormon paratiroid berlebihan oleh kelenjar paratiroid, kelenjar kecil yang terletak di dekat atau di dalam kelenjar tiroid. Biasanya, hormon paratiroid mempertahankan tingkat kalsium darah dengan menghilangkan kalsium dari tulang. Pada hiperparatiroidisme yang tidak diobati, hormon paratiroid yang berlebihan dapat menyebabkan terlalu banyak kalsium yang hilang dari tulang, yang dapat menyebabkan osteoporosis.

• Kurangnya vit D, sehingga  tubuh tidak dapat menyerap jumlah yang cukup kalsium dari makanan untuk mencegah osteoporosis.

 • Penggunaan obat tertentu dapat menyebabkan osteoporosis, misalnya penggunaan jangka panjang dari heparin (obat anti pembekuan darah), obat anti kejang seperti phenytoin (Dilantin) dan fenobarbital, dan penggunaan jangka panjang kortikosteroid oral (seperti prednisone).

Apa pengobatan untuk osteoporosis, dan apakah osteoporosis dapat dicegah?

 Tujuan pengobatan osteoporosis adalah pencegahan patah tulang dengan mengurangi kehilangan tulang atau, syukur-syukur bisa meningkatkan kepadatan dan kekuatan tulang. Meskipun deteksi dini dan pengobatan tepat waktu osteoporosis secara substansial dapat mengurangi risiko patah tulang masa depan, tidak ada pengobatan yang bisa mengatasi osteoporosis dengan sempurna. Dengan kata lain, sulit untuk sepenuhnya membangun kembali tulang yang telah melemah oleh osteoporosis. Oleh karena itu, pencegahan osteoporosis adalah sama pentingnya dengan pengobatan. Berikut ini adalah pengobatan dan langkah-langkah pencegahan osteoporosis:

1. Perubahan gaya hidup, seperti berhenti merokok, membatasi asupan alkohol yang berlebihan, berolahraga secara teratur, dan mengkonsumsi makanan seimbang dengan cukup kalsium dan vitamin D.

2. Penggunaan obat-obat untuk mencegah kehilangan tulang dan meningkatkan kekuatan tulang, seperti alendronate,  risedronate, raloxifene, ibandronate, kalsitonin, zoledronate,  dan denosumab

3. Menggunakan obat yang meningkatkan pembentukan tulang seperti teriparatide.  

Di bawah ini akan dibahas beberapa agen pencegahan dan pengobatan osteoporosis yaitu suplemen Kalsium, Vit D, terapi sulih hormone estrogen,dan beberapa obat lain.

Suplemen Kalsium

Bangunan tulang yang kuat dan sehat memerlukan asupan makanan yang cukup kalsium sejak masa kecil dan remaja, baik untuk pria maupun wanita. Namun yang perlu diktehaui, bagaimanapun asupan makanan tinggi kalsium atau konsumsi suplemen kalsium saja tidak cukup untuk mengobati osteoporosis dan tidak boleh dianggap sebagai alternatif atau pengganti obat osteoporosis yang lebih poten. Asupan kalsium yang direkomendasikan oleh National Institutes of Health Consensus Conference on Osteoporosis untuk semua orang, dengan atau tanpa osteoporosis adalah:

• 800 mg / hari untuk anak-anak 1-10 tahun

• 1.000 mg / hari untuk pria, wanita premenopause, dan wanita postmenopause juga menggunakan estrogen

 • 1.200 mg / hari untuk remaja dan dewasa muda 11-24 tahun

 • 1.500 mg / hari untuk wanita menopause yang tidak menggunakan estrogen

 • 1.200 mg-1, 500 mg / hari untuk ibu hamil dan menyusui

 • Asupan harian total kalsium tidak boleh lebih 2.000 mg.

Sayangnya, survei menunjukkan bahwa rata-rata wanita mengkonsumsi kurang dari 500 mg kalsium per hari dalam makanan mereka, kurang dari jumlah yang direkomendasikan. Kalsium tambahan dapat diperoleh dengan lebih banyak  minum susu, yogurt atau keju, atau dengan mengkonsumsi suplemen maupun dari makanan yang diperkaya kalsium, seperti jus jeruk. Suplemen kalsium karbonat lebih baik digunakan dalam dosis terbagi dan diminum bersama dengan makanan, karena usus mungkin tidak dapat menyerap lebih dari 500 mg kalsium sekaligus. Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengkonsumsi suplemen kalsium 1.000 mg adalah dengan membaginya menjadi dua dosis. Demikian juga, dengan dosis 1.500 mg harus dibagi menjadi tiga dosis.

Suplemen kalsium umumnya aman dan ditoleransi dengan baik. Efek sampingnya adalah gangguan pencernaan dan sembelit. Jika sembelit dan gangguan pencernaan terjadi dengan suplemen kalsium karbonat, maka dapat digunakan kalsium sitrat. Namun perlu diketahui, bahwa obat-obat tertentu dapat mengganggu penyerapan kalsium karbonat. Contoh obat-obat tersebut antara lain adalah: inhibitor pompa proton seperti omeprazole, lansoprazole, lansoprazole, dan rabeprazole, yang sering digunakan untuk mengobati GERD (acid reflux) atau tukak lambung. Ketika obat ini yang dipakai, sebaiknya dipilih kalsium sitrat.

Suplemen Kalsium dan risiko penyakit jantung?

Kawan, baru-baru ini dalam sebuah jurnal dilaporkan bahwa konsumsi suplemen kalsium meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung, yaitu infark miokardial. (bisa dilihat di http://www.bmj.com/content/341/bmj.c3691.full). Dalam sebuah studi meta analisis dari 15 percobaan acak terkontrol, Dr Mark Bolland dari Universitas Auckland di New Zealand dan rekannya mengevaluasi pennggunaan suplemen kalsium (minimal 500 mg setiap hari) pada lebih dari 12.000 pasien berusia di atas 40 tahun. Temuan itu mengejutkan, yaitu bahwa asupan suplemen kalsium menyebabkan 30% peningkatan risiko yang signifikan untuk serangan jantung. Sebuah kecenderungan peningkatan risiko stroke dan kematian mendadak juga terlihat, namun hasil ini tidak signifikan. Diduga hal ini disebabkan karena terjadinya peningkatan penggumpalan darah dan kekakuan pembuluh darah akibat penumpukan kalsium di dinding arteri. Atas dasar temuan ini, tim peneliti ini menyatakan bahwa mengobati 1000 orang dengan kalsium selama 5 tahun akan mencegah 26 kejadian fraktur/patah tulang, tetapi menyebabkan tambahan 14 kejadian serangan jantung.

 

banyak-banyaklah makan yang mengandung kalsium

Weitt…..

tapi jangan panik dulu….. sebuah studi oleh Women’s Health menyatakan bahwa kombinasi kalsium dan vitamin D tidak berpengaruh pada serangan jantung dan stroke. Karena itu disarankan untuk mengkombinasi suplemen Kalsium dengan Vitamin D. Dan lebih bijaksana lagi jika asupan Kalsium diperoleh secara alami dari makanan, di mana hal tersebut tidak menyebabkan risiko penyakit jantung. Atau, mengkombinasi suplemen kalsium dosis rendah dengan asupan kalsium alami, jika asupan alami masih belum mencukupi.

Vitamin D

Sekali lagi, kalsium dan vitamin D adalah fondasi penting untuk menjaga kepadatan tulang dan kekuatan. Vitamin D penting dalam beberapa hal: • Vitamin D membantu penyerapan kalsium makanan dari usus. • Kurangnya vitamin D sendiri dapat menyebabkan berkurangnya kalsium-tulang (osteomalacia), yang selanjutnya melemahkan tulang dan meningkatkan risiko patah tulang. • Vitamin D, bersama dengan kalsium yang memadai (1.200 mg kalsium elemental), telah terbukti dapat meningkatkan densitas tulang dan penurunan patah tulang pada wanita menopause, tetapi tidak pada premenopause atau wanita perimenopause.

Manfaatkan sinar matahari utk memperoleh Vit D

Vitamin D dapat berasal dari diet dan kulit. Produksi vitamin D oleh kulit tergantung pada paparan sinar matahari. Bersyukurlah kita yang tinggal di negara tropis yang kaya akan sinar matahari. Jadi manfaatkanlah sinar matahari ini dengan sebaik-baiknya….  Dalam populasi yang tinggal di daerah kurang sinar matahari, vitamin D dalam diet menjadi lebih penting. Dewan Pangan dan Gizi dari Institut of Medicine telah merekomendasikan asupan vitamin D sbb:

• 800 IU / d untuk pria dan wanita berusia lebih dari 71

• 600 IU / d untuk wanita dalam kelompok usia lainnya, laki-laki, dan anak-anak

 • 400 IU / d untuk bayi di bawah 12 bulan

Tapi jika seseorang sudah memiliki osteoporosis, disarankan untuk memastikan 400 IU dua kali per hari sebagai konsumsi sehari-hari biasa, umumnya sebagai suplemen bersama obat yang diresepkan untuk osteoporosis. Tablet multivitamin rata-rata mengandung 400 IU vitamin D. Oleh karena itu, 1 sampai 2 tablet multivitamin sehari mungkin cukup untuk memenuhi jumlah vitamin D yang dibutuhkan. Atau, vitamin D juga dapat diperoleh dalam kombinasi dengan kalsium dalam bentuk tablet, seperti misalnya tablet dengan 600 mg kalsium dan 200 IU vitamin D, dan lain-lain. Namun demikian, penggunaan kronis berlebihan vitamin D plus kalsium juga tidak baik loh….! Yaitu dapat menyebabkan keracunan vitamin D, peningkatan kadar kalsium dalam darah dan urine, dan juga dapat menyebabkan batu ginjal. Karena berbagai suplemen makanan juga dapat mengandung vitamin D, penting untuk meninjau kadar vitamin D dalam suplemen diet sebelum mengkonsumsi tambahan vitamin D.

Terapi hormon (terapi hormon menopause)

Terapi hormon estrogen setelah menopause (sebelumnya disebut sebagai terapi penggantian hormon atau HRT) telah terbukti dapat mencegah keropos tulang, meningkatkan kepadatan tulang, dan mencegah patah tulang. Hal ini berguna dalam mencegah osteoporosis pada wanita menopause. Estrogen tersedia secara oral atau sebagai plester kulit. Estrogen juga tersedia dalam kombinasi dengan progesteron seperti pil. Progesteron secara rutin diberikan bersamaan dengan estrogen untuk mencegah kanker rahim yang mungkin timbul dari penggunaan estrogen saja. Wanita yang telah mengalami histerektomi (operasi pengangkatan rahim) dapat menggunakan estrogen saja karena mereka tidak lagi memiliki rahim untuk menjadi kanker. Namun, karena efek samping dari HRT, seperti peningkatan risiko serangan jantung, stroke, pembekuan darah di pembuluh darah, dan kanker payudara, HRT tidak lagi direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang dalam terapi osteoporosis. Sebaliknya, HRT digunakan jangka pendek untuk mengurangi hot flashes menopause.

Apa saja obat-obatan untuk mencegah keropos tulang ?

proses remodeling tulang, ada keseimbangan antara aksi osteoclast dan osteoblast

Saat ini, obat paling efektif untuk osteoporosis yang disetujui oleh FDA adalah agen-agen antiresorptive, yang mengurangi pemindahan kalsium dari tulang. Tulang merupakan struktur dinamis yang hidup, di mana ia terus-menerus dibangun dan diuraikan (diresorpsi). Proses pembangunan tulang dikerjakan oleh sel-sel osteoblast, dan peruraian (resorpsi) tulang dilakukan oleh sel-sel osteoclast. Proses ini merupakan bagian penting dari upaya tubuh untuk mempertahankan tingkat kalsium yang normal dalam darah dan berfungsi untuk memperbaiki retakan kecil dalam tulang yang terjadi akibat aktivitas normal sehari-hari, dan untuk memperbaiki tulang berdasarkan tegangan terjadi pada tulang. Osteoporosis terjadi ketika kecepatan resorpsi tulang melebihi kecepatan pembangunan tulang. Obat antiresorptive menghambat penguraian tulang (resorpsi), sehingga menjaga keseimbangan dalam mendukung tulang membangun kembali dan meningkatkan kepadatan tulang. Obat-obat yang termasuk agen antiresorptive antara lain adalah alendronate, risedronate, raloxifene, ibandronate, kalsitonin,  zoledronate, dan denosumab.

Oya, baru-baru ini diberitakan bahwa obat golongan bifosfonat ini katanya menyebabkan fraktur tulang juga, namun hal ini masih harus dievaluasi lebih jauh. Untuk itu FDA menyarankan penambahan label dan peringatan tentang risiko ini pada kemasan obatnya. Namun demikian, disarankan kepada pasien untuk tidak terlalu takut apalagi segera menghentikan penggunaan obat ini tanpa konsultasi dengan dokter. Informasi tentang hal ini bisa dilihat pada website berikut : http://www.medscape.com/viewarticle/730388.

Obat golongan Bisphosphonates (bifosfonat)

Obat-obat golongan bisfosfonat

Bifosfonat mengurangi risiko patah tulang pinggul, patah tulang pergelangan tangan, dan patah tulang belakang pada orang dengan osteoporosis. Alendronate (Fosamax), risedronate (Actonel), ibandronate (Boniva), dan zoledronate (Reclast) adalah termasuk obat golongan bisphosphonates. Untuk mengurangi efek samping dan untuk meningkatkan penyerapan obat, semua bifosfonat digunakan secara oral dan harus diminum pada pagi hari, pada waktu perut kosong, 30 menit sebelum sarapan, dan dengan minimal 240 ml air ( bukan jus). Hal ini meningkatkan penyerapan bifosfonat tersebut. Minum pil dengan posisi duduk atau berdiri (serta jumlah yang cukup minum cairan) dapat meminimalkan kemungkinan pil bersarang di kerongkongan, di mana ia dapat menyebabkan ulserasi dan luka dikerongkongan. Pasien juga harus tetap tegak selama minimal 30 menit setelah minum pil untuk menghindari refluks pil ke dalam kerongkongan. Makanan, kalsium, suplemen zat besi, vitamin dengan mineral, atau antasida yang mengandung kalsium, magnesium, atau aluminium dapat mengurangi penyerapan bifosfonat oral, sehingga mengakibatkan hilangnya efektivitas. Oleh karena itu, bifosfonat oral harus diminum dengan air biasa hanya di pagi hari sebelum sarapan. Juga, tidak boleh mengkonsumsi makanan atau minuman  lain selama minimal 30 menit sesudahnya.

 Alendronate adalah obat antiresorptive biphosphonate. Alendronate disetujui untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis postmenopause serta untuk osteoporosis yang disebabkan oleh obat kortikosteroid.  Alendronate telah terbukti meningkatkan densitas tulang dan mengurangi patah tulang pada tulang belakang, pinggul, dan lengan. Alendronate adalah obat osteoporosis pertama yang juga disetujui untuk meningkatkan kepadatan tulang pada laki-laki dengan osteoporosis. Salah satu efek samping dari alendronate adalah iritasi esofagus (pipa makanan yang menghubungkan mulut ke perut). Peradangan esofagus (esophagitis) dan bisul pada kerongkongan telah dilaporkan jarang dengan menggunakan alendronate.

Risedronate  merupakan obat antiresorptive bifosfonat berikutnya. Seperti alendronate, obat ini telah disetujui untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis postmenopause serta untuk osteoporosis yang disebabkan oleh obat kortikosteroid. Risedronate secara kimiawi berbeda dari alendronate dan memiliki efek samping lebih kecil dalam menyebabkan iritasi kerongkongan. Risedronate juga lebih ampuh dalam mencegah resorpsi tulang dibandingkan alendronate. Ibandronate (Boniva) Ibandronate (Boniva) adalah bifosfonat untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis postmenopause. Ini tersedia dalam formulasi untuk keduanya menggunakan oral harian dan bulanan serta untuk infus setiap tiga bulan.

Zoledronate adalah obat  antiresorptive bifosfonatyang unik, ia diberikan secara  intravena  sekali setiap tahun. Formulasi ini tampaknya memiliki kemampuan yang sangat baik untuk menguatkan tulang dan mencegah patah tulang dari kedua tulang tulang belakang dan non-tulang belakang. Dengan dosis sekali setahun jelas lebih nyaman dipakai oleh pasien. Seperti dengan semua bifosfonat, pasien yang memakai obat ini harus mengkonsumsi kalsium dan vitamin D yang memadai sebelum dan setelah infus obat untuk hasil yang optimal. Umumnya, pasien diberi acetaminophen pada hari diberikan infus dan untuk beberapa hari setelahnya, untuk mencegah nyeri sendi dan otot kecil, dan infus berlangsung sekitar 20-30 menit. Zoledronate digunakan untuk mengobati dan mencegah osteoporosis pada wanita menopause dan meningkatkan massa tulang pada pria osteoporosis. Obat ini  juga digunakan untuk mengobati dan mencegah osteoporosis yang diinduksi glukokortikoid. Zoledronate mengurangi risiko patah tulang setelah trauma patah tulang pinggul, dan tidak boleh digunakan selama atau sebelum kehamilan.

Modulator reseptor estrogen selektif (SERMs)

Raloxifene tergolong obat yang disebut modulator reseptor estrogen selektif (SERMs). SERMs bekerja seperti estrogen dalam beberapa jaringan tetapi sebagai antiestrogen dalam jaringan lain. Dengan demikian, raloxifene dapat bertindak seperti estrogen pada tulang, tapi sebagai antiestrogen pada lapisan rahim di mana efek estrogen dapat memicu kanker.

SERM pertama yang mencapai pasar adalah tamoxifen, yang menghambat efek stimulatif estrogen pada jaringan payudara. Tamoxifen telah terbukti bermanfaat pada wanita yang memiliki kanker pada satu payudara untuk mencegah kanker pada payudara kedua. Raloxifene adalah SERM kedua yang disetujui oleh FDA. Raloxifene telah disetujui untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis pada wanita menopause. Dalam sebuah studi tiga tahun yang melibatkan sekitar 600 wanita menopause, raloxifene ditemukan untuk meningkatkan densitas tulang (dan menurunkan kolesterol LDL) sementara tidak memiliki efek merugikan pada lapisan rahim (yang berarti bahwa tidak menyebabkan kanker rahim). Karena efek antiestrogen nya, efek samping yang paling umum dengan raloxifene adalah hot flashes. Sebaliknya, karena efek estrogenik nya, obat ini meningkatkan risiko penggumpalan darah, termasuk deep vein thrombosis (DVT) dan embolisme paru (bekuan darah di paru-paru). Peningkatan risiko terbesar terjadi selama empat bulan pertama penggunaan. Pasien yang memakai raloxifene harus menghindari periode lama imobilitas selama perjalanan, karena pembekuan darah lebih mudah terjadi. Risiko trombosis vena dalam dengan raloxifene mungkin sebanding dengan estrogen. Obat ini mengurangi risiko patah tulang spinal pada wanita menopause dengan osteoporosis, tapi tidak diketahui apakah ada manfaat yang sama dalam mengurangi risiko patah tulang pinggul.

Calcitonin 

Calcitonin adalah hormon yang telah disetujui oleh FDA di AS untuk mengobati osteoporosis. Calcitonis berasal dari beberapa jenis hewan, tapi  kalsitonin dari ikan salmon adalah yang paling banyak digunakan. Calcitonin dapat diberikan sebagai injeksi di bawah kulit (subkutan), ke dalam otot (intramuskuler), atau dihirup (intranasal).  Calcitonin telah terbukti untuk mencegah keropos tulang pada wanita postmenopause. Pada wanita dengan osteoporosis, kalsitonin telah terbukti meningkatkan densitas dan kekuatan tulang di tulang belakang saja. Calcitonin adalah obat antiresorptive yang lebih lemah dari bisphosphonates. Calcitonin tidak efektif dalam meningkatkan kepadatan tulang dan memperkuat tulang seperti estrogen dan agen antiresorptive lain, terutama bisphosphonates. Selain itu, ia tidak seefektif bifosfonat dalam mengurangi risiko patah tulang belakang dan belum terbukti efektif dalam mengurangi risiko patah tulang pinggul. Oleh karena itu, kalsitonin bukanlah pilihan pertama pengobatan pada wanita dengan osteoporosis. Namun demikian, kalsitonin adalah pengobatan alternatif yang bermanfaat untuk pasien yang tidak dapat mentolerir obat lain.

Teriparatide 

Teriparatide adalah versi sintetis dari hormon manusia, hormon paratiroid, yang membantu mengatur metabolisme kalsium. Tidak seperti obat lain untuk osteoporosis yang mengurangi resorpsi tulang, teriparatide mendorong pertumbuhan tulang baru. Obat ini diberikan dengan cara disuntikkan ke dalam kulit. Karena keamanan jangka panjang belum diketahui, ia hanya yang disetujui FDA untuk 24 bulan penggunaan. Obat ini diketahui dapat mengurangi fraktur tulang belakang pada wanita dengan osteoporosis, tetapi tidak diketahui apakah ada pengurangan serupa dalam risiko patah tulang pinggul.

Denosumab

Denosumab adalah obat terbaru yang disetujui untuk osteoporosis. Ia merupakan antibodi yang akan menghambat second messenger yang memainkan peran dalam memicu penipisan tulang oleh sel tulang yang bertanggung jawab untuk resorpsi tulang. Denosumab memperkuat tulang dengan meningkatkan kepadatan dan mengurangi fraktur. Obat ini diberikan dalam bentuk suntikan dua kali dalam setahun di bawah kulit. Denosumab digunakan untuk pengobatan wanita postmenopause dengan osteoporosis yang  berisiko tinggi untuk patah tulang, atau pasien yang telah gagal atau tidak toleran terhadap terapi osteoporosis lain yang tersedia. Denosumab dapat menyebabkan peningkatan risiko infeksi dan hypocalcemia.

Pencegahan osteoporosis akibat kortikosteroid jangka panjang

Pada pasien dengan penyakit tertentu, terutama penyakit system imunitas yang kadang harus menggunakan obat steroid jangka panjang yang dapat menyebabkan osteoporosis, maka perlu dilakukan upaya pencegahan terhadap efek samping tersebut. Kortikosteroid menyebabkan penurunan penyerapan kalsium dari usus, peningkatan hilangnya kalsium melalui ginjal dalam air seni, dan peningkatan hilangnya kalsium dari tulang. Untuk mencegah kehilangan tulang sedangkan pada kortikosteroid jangka panjang, pasien harus

1. mengkonsumsi kalsium yang memadai (1.000 mg setiap hari jika premenopause, 1.500 mg setiap hari jika menopause) dan asupan vitamin D, namun, kalsium sendiri atau dikombinasikan dengan vitamin D tidak dapat diandalkan untuk mencegah keropos tulang dari kortikosteroid kecuali ditambahkan obat lain;

2. mendiskusikan dengan dokter untuk penggunaan bifosfonat, seperti alendronate, risedronate, atau zoledronate, yang telah disetujui untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis akibat kortikosteroid

Demikian kawan, sedikit tentang osteoporosis, pencegahan dan pengobatannya. Semoga kita bisa mencegahnya, sehingga tulang tetap kuat dan bisa melangkah lebih pasti di tahun 2011…… (ngga nyambung lagi deeeh…..hehe)…

Note : artikel ini bersumber dari http://www.medicinenet.com/osteoporosis/article.htm dan sumber-sumber lain