Menguak misteri pembuat gatal…

21 10 2012

Dear kawan,

Judul tulisanku kali ini agak lebay, ya….. Biarin deh… Tapi itu memang betul kok….. Sebelum misterinya terkuak, rasanya penasaran banget…..  Gini ceritanya…. Hampir sebulan terakhir ini seisi rumahku terkena serangan gatal-gatal yang misterius. Pertama, bapaknya anak-anak mengeluh kakinya sering gatal-gatal seperti ada gigitan serangga. Kadang juga tidak nampak ada bekas apa-apa, tapi rasanya gatal. Sering digaruknya sampai merah. Berikutnya anakku yang kedua, Hannisa. Dia yang paling parah… hampir di sekujur dua kakinya (dari lutut ke bawah) bentol-bentol merah, dan bahkan luka-luka bekas garukan karena tidak tahan dengan gatalnya. Asisten rumah tanggaku tak ketinggalan, lalu Dhika dan Afan, dua anak laki-lakiku. Kulit Hanna si bungsu juga banyak bintik-bintik merah gatal. Dan yang terakhir aku sendiri.

gigitan kutuSemula kami pikir karena alergi sesuatu. Bapaknya anak-anak pernah sampai memeriksakan diri ke dokter, tapi hanya diberi resep salep kortikosteroid. Tapi masak sih alergi terjadi beramai-ramai sak rumah. Jadi aku yakin ini pasti ada faktor eksternal. Tapi apaa? Bahkan ketika aku belum terserang, aku sempat bercanda pada anak-anak… “Mungkin serangganya takut sama yang cantik, jadi ibu tidak diserang.” Tapi ketika akhirnya aku ikut kena gatal-gatal, rasanya sudah tidak bisa bercanda lagi, dan berubah kesal dan pusing. Gerangan apakah ini? Apa penyebab gatal-gatal misterius ini? Aku tidak yakin kalau itu adalah nyamuk, karena di rumah kami tidak terlalu banyak nyamuk. Dan bekas gigitannya sedikit berbeda.

Anakku Hannisa yg pertama kali menyatakan pendapatnya bahwa kayaknya yang suka menggigit itu mahluk kecil sekali, dan suka melompat-lompat, karena dia pernah melihat mahluk itu di kakinya dan setelah itu kakinya jadi gatal. Semula aku masih belum percaya, karena belum melihat sendiri. Barulah ketika mahluk itu mulai muncul di kamarku dan menyebabkan gatal, aku berusaha menangkapnya. Aku minta suamiku untuk membawanya ke Fakultasnya dan minta tolong temannya yang ahli hama utk melihatnya di mikroskop.

Akhirnya,….. terkuaklah misteri mahluk pembuat gatal itu. Ia sejenis kutu, yang ukurannya kecil. Ketika kulihat hasil fotonya di mikroskop, agak seram juga. Ia punya kaki panjang berbulu, yang membuatnya pintar melompat. Tubuhnya terlihat diselimuti kulit yang keras. Terbukti agak sulit untuk di-pithes begitu saja. Dan yang bikin gatal adalah adanya semacam tanduk di kepalanya, yang kalau menancap di kulit nampaknya menyebar semacam toksin yang bikin guataal sekali.

Dari mana kira-kira dia berasal? Ketika melihatnya melalui mikroskop, teman suamiku menanyakan apakah di sekitar rumah ada hewan ternak. Ini katanya adalah kutu hewan ternak, dan karena lingkungannya kurang pas, mungkin dia menyebar ke tempat lain. Wah,… kalau memang benar begitu, nampaknya misteri ini mendekati terkuak. Kami tidak memiliki binatang piaraan. Tapi di belakang rumah kami, tepatnya dua rumah di belakang, memang adalah penjual hewan ternak.  Mereka memiliki kandang di sebelah rumah. Dan pada saat menjelang Idul Adha begini, mereka barusan kulakan kambing untuk dijual. Kambingnya kuperkirakan ada sekitar 25-an ekor.  Apa mungkin dari sana ya? Barangkali saja kambing mereka berkutu, dan kutunya terbang ke rumah kami. Apalagi suasana masih musim kemarau dan kering, sehingga mungkin banyak kutu terbang bersama angin.

Namun mungkin juga itu adalah kutu kucing. Aku baru ingat bahwa di atap rumah kami ada kucing liar yang beranak di sana. Menyebalkan sekali karena juga membuat berisik. Ketika aku search di google, bekas gatal kutu kucing mirip yang kami alami, demikian juga gambar kutunya, mirip juga.

Yah, … tapi apa yang bisa kami lakukan? Nampaknya obat semprot serangga yang biasanya untuk nyamuk dan kecoa tidak mempan. Kawan suamiku yang ahli hama itu menyarankan penggunaan minyak sereh untuk mengusir kutu tadi. Jadilah kami  berjuang dengan minyak sereh untuk mengusir atau menghindarkan dari gigitan kutu tersebut.  Untuk mengatasi gatalnya, paling aku coba oleskan Caladine untuk mengurangi garukan.

Alhamdulillah, setelah si kucing dan keluarganya pindah entah kemana (keluar sendiri dari atap rumahku) serangan kutu reda dengan sendirinya. Bekas-bekasnya gatalnya  memang masih lumayan membekas di kulit. Tidak banyak yang bisa kulakukan kecuali membiarkannya menghilang sendiri bersama waktu yang berjalan…

 

 





Mengenal efedrin, obat lama yang kita perlu waspada….

5 10 2012

Dear kawan,

Beberapa hari lalu, ada sebuah request masuk lewat blog ini, aku tulis sesuai aslinya. ” Mohon info lebih lengkap mengenai efedrin, Bu,.. krn saat ini sering kali penyalah gunaaan efedrin dilakukan oleh masyarakat, trus penggunaan puyer batuk utk anak2 yg komposisinya mgd efedrin, meskipun sebenarnya indikasi batuknya tdk disertai pilek”. Request ini cukup memancing rasa ingin tahuku, yang membawaku untuk mencari tau lebih banyak tentang efedrin, untuk kubagikan dalam blog ini. Semoga bermanfaat.

Apa itu efedrin?

Well, sebagian besar pembaca mungkin sudah kenal dengan senyawa ini.. Efedrin merupakan senyawa alkaloid yang dijumpai pada beberapa tanaman genus Ephedra. Di Cina, beberapa Traditional Chinese Medicine seperti ma huang mengandung efedrin dan pseudoefedrin. Produksi efedrin di Cina yang berasal dari tanaman Ephedra sinica cukup besar, mencapai senilai USD 13 juta, yang berasal dari 30000 ton efedra per tahunnya. Namun demikian, efedrin yang dipakai saat ini kebanyakan merupakan senyawa sintetik, karena isolasi dan ekstraksi efedrin dari Ephedra tidak lagi cost-effective karena biaya yang mahal, dan juga ada concern terhadap ketersediaan tanaman Ephedra jika dieksplorasi terus menerus.

Bagaimana struktur kimia efedrin?

Secara kimia, efedrin menunjukkan isomerisme optikal dan memiliki dua pusat kiral, sehingga menghasilkan 4 stereoisomer… Aduuh, bahasane kimia banget…. Pasangan enantiomer dengan stereokimia (1R, 2S dan 1S,2R) adalah efedrin, sedangkan yang berstereokimia (1R,2R dan 1S, 2S) adalah pseudoefedrin. Isomer yang dipasarkan sebagai efedrin adalah (–)-(1R,2S)-ephedrine. Yang menarik, dengan perbedaan stereokimia ini, efek dari efedrin dan pseudoefedrin berbeda, di mana efedrin memiliki efek yang lebih poten, termasuk juga efek samping yang lebih besar daripada pseudoefedrin. Efedrin dan pseudoefedrin keduanya masih banyak dijumpai dalam komponen obat selesma/obat flu yang ada di pasaran.

Dari struktur kimianya, efedrin merupakan suatu senyawa amina yang memiliki struktur kimia mirip dengan turunan metamfetamin dan amfetamin. Dapat dikatakan, efedrin adalah suatu amfetamin yang tersubstitusi dan merupakan analog struktural metamfetamin. Perbedaannya dengan metamfetamin hanyalah adanya struktur hidroksil (OH). Kalian tau amfetamin kan? Amfetamin adalah sejenis stimulan sistem syaraf. Turunannya yaitu metilen dioksi metamfetamin (MDMA) yang sangat ngetop sebagai ecstasy, dan metamfetamin HCl  atau shabu-shabu, merupakan obat yang sering disalahgunakan untuk nge-fly…

Karena itu, efedrin bahkan bisa menjadi bahan baku pembuatan ecstasy dengan mereaksikannya dengn suatu reduktor.

efedrin esctassy

Bagaimana mekanisme aksi efedrin?

Ephedrine adalah amina simpatomimetik yang beraksi sebagai agonis reseptor  adrenergik. Aksi utamanya adalah pada beta-adrenergik reseptor, yang merupakan bagian dari sistem saraf simpatik. Efedrin memiliki dua mekanisme aksi utama. Pertama, efedrin mengaktifkan α-reseptor dan β-reseptor pasca-sinaptik terhadap noradrenalin secara tidak selektif. Kedua, efedrin juga dapat meningkatkan pelepasan dopamin dan serotonin dari ujung saraf.

Dengan mekanisme tersebut, efedrin digunakan untuk beberapa indikasi. Pertama, efedrin dapat digunakan untuk obat asma, sebagai bronkodilator (pelega saluran nafas) karena ia bisa mengaktifkan reseptor beta adrenergik yang ada di saluran nafas. Pengobatan asma tradisional atau jaman dulu masih banyak menggunakan efedrin dalam racikannya, namun obat ini mulai banyak ditinggalkan karena efek sampingnya yang cukup besar. Sifatnya yang tidak selektif di mana dapat mengaktifkan reseptor alfa adrenergik pada pembuluh darah perifer dapat menyebabkan efek vasokonstriksi atau penciutan pembuluh darah, yang bisa berakibat naiknya tekanan darah.

Namun di sisi lain, efeknya sebagai vasokonstriktor ini juga digunakan sebagai mekanisme obat dekongestan (melegakan hidung tersumbat). Diketahui, ketika hidung tersumbat, terjadi pelebaran pembuluh darah pada pembuluh2 kapiler sekitar hidung. Karena itu, efedrin yang bersifat menciutkan pembuluh darah bisa berefek melegakan hidung tersumbat. Hal yang sama terjadi pada pseudo-efedrin. Namun karena pertimbangan keamanan, efedrin sudah jarang dipakai dalam komponen obat flu sebagai pelega hidung tersumbat. Sebaliknya, yang banyak digunakan adalah pseudoefedrin. Mekanisme aksi pseudoefedrin mirip efedrin, tapi aktivitasnya pada beta-adrenergik lebih lemah. Pseudoefedrin menunjukkan selektivitas yang lebih besar untuk reseptor adrenergik alfa yang terdapat pada mukosa hidung dan afinitas rendah pada reseptor adrenergik yang ada di sistem saraf pusat ketimbang  efedrin.

Mengapa efedrin sering disalahgunakan?

Seperti yang disampaikan dalam request tentang tulisan ini di atas, efedrin berisiko untuk disalah gunakan. Mengapa? Hal ini nampaknya terkait dengan mekanisme kedua, yaitu meningkatkan pelepasan dopamin dan serotonin. Dopamin diketahui merupakan neurotransmitter yang terlibat dalam “system reward” di otak yang menyebabkan rasa senang dan ingin mengulang berkali-kali sehingga menjadi efek ketagihan. Sedangkan serotonin juga termasuk neurotransmiter yang terlibat dalam “mood’ seseorang dan bisa membantu meningkatkan suasana hati. Dengan strukturnya yang mirip amfetamin dan metamfetamin, mudah diduga ia memiliki efek yang mirip juga sebagai stimulan walaupun berbeda kekuatannya. Efedrin banyak digunakan untuk pesta “napza” karena ia lebih murah dan dapat diperoleh dengan mudah di apotek. Seperti halnya amfetamin, efedrin juga bisa digunakan sebagai “doping” bagi atlet atau mereka yang memerlukan kerja fisik yang berat dan butuh kewaspadaan. Jika dipakai terus menerus, efedrin bisa menyebabkan efek ketergantungan.

Penggunaan efedrin yang lain?

Ternyata efedrin sering juga digunakan sebagai obat pelangsing. Kalian bisa dengan mudah mendapatkan iklan efedrin di internet sebagai obat pelangsing atau untuk body builder. Hal ini karena ia juga memiliki efek termogenik. Beberapa efek yang mendukung efedrin sebagai pelangsing adalah bahwa ia bisa meningkatkan kecepatan yang terkait dengan lipolisis (pemecahan lemak). Kedua, efedrin merupakan penekan nafsu makan, sehingga ideal untuk seseorang yang sedang diet. Ketiga, efek stimulan sarafnya menyebabkan orang merasa memiliki lebih banyak energi, sehingga walaupun asupan kalori kurang maupun banyak olahraga, mereka tidak merasa lelah.  Sebagai termogenik, efedrin digunakan dalam dosis 25-50 mg sehari, jauh lebih besar daripada yang digunakan sebagai dekongestan (di Canada, efedrin tersedia sebagai dekongestan dg kemasan tablet 8 mg). Perlu diingat, bahwa hal ini bisa meningkatkan risiko efek samping, terutama peningkatan tekanan darah.

Apa kemungkinan Efek Sampingnya?

Di samping manfaatnya, tentu saja efedrin tidak bebas dari efek samping. Karena itulah obat ini sudah tidak terlalu banyak digunakan lagi, kecuali oleh dokter-dokter yang masih mendasarkan peresepannya pada pengetahuannya di masa lalu. Beberapa kemungkinan efek sampingnya antara lain adalah:  kecemasan,  gemetar, pusing, Sakit kepala ringan, gastrointestinal distress (misalnya kram perut), insomnia, denyut jantung tidak teratur, jantung berdebar-debar, peningkatan tekanan darah, stroke,  kejang, psikosis, lekas marah dan agresi.
Dengan demikian, efedrin tidak boleh digunakan oleh siapa saja dengan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, riwayat penyakit jantung dari setiap jenis, penyakit kardiovaskular stroke atau lainnya, depresi, kecemasan, bipolar, asidosis metabolik, diabetes mellitus atau jika salah satu efek samping tercantum di atas terjadi secara berulang.

Penutup

Begitulah kawan, sekilas ulasan tentang efedrin, memenuhi request tulisan dari seorang kawan pembaca setia blog ini. Pengetahuan ini tentunya bukan digunakan untuk menyalahgunakan efedrin, tapi sebaliknya menjaga agar tidak terjadi penyalahgunaannya. Untuk resep-resep bagi anak-anak yang mengandung efedrin, aku pribadi tidak mendukungnya, jika ada sediaan yang lebih aman yaitu pseudoefedrin.

Aku mohon maaf ya, kalau masih banyak request yang belum sempat mendapatkan kesempatan ditindak-lanjuti. Mudah-mudahan masih selalu diberi kesehatan, kekuatan, dan kemauan untuk menulis….. Sampai jumpa di next posting yaa…