Mencermati obat-obat alternatif untuk Covid-19

30 04 2020

Dear kawan,

Pandemi Covid-19 yang telah memakan banyak korban meninggal dunia, sementara belum ada obat yang dipastikan ampuh, membuat banyak pihak berupaya mencari obat-obat penangkal Covid-19. Industri farmasi dunia banyak yang mencoba menemukan obat-obat untuk Covid19, baik dari obat yang sudah ada, maupun membuat obat baru untuk melawan virus jahat ini, misalnya Gilead dengan remdesivir, Fuji Film dengan Favipiravir, dll. Sementara banyak industri farmasi mencari obat untuk Covid dengan cara ilmiah menggunakan uji klinik yang ketat, masyarakat Indonesia pun tak ketinggalan berkreasi dengan “menciptakan” obat-obat baru yang diklaim ampuh melawan Covid-19. Tulisan ini ingin mengajak pembaca untuk cermat dan waspada di dalam menerima informasi terkait dengan obat-obat Covid-19, apalagi jika belum ada uji yang relevan. Versi pendek dari tulisan ini sudah dimuat di web Fakultas Farmasi UGM, sedangkan tulisan di sini aku tambah dengan beberapa contoh produk-produk alternatif yang pernah diberitakan di media massa beserta sedikit ulasannya.

Proses penemuan obat

Untuk sampai ke tangan konsumen/pasien, suatu obat yang baik perlu melalui serangkaian proses. Penemuan suatu obat baru  untuk suatu penyakit bisa berangkat dari berbagai sumber. Yang pertama, obat dapat diperoleh dari modifikasi dari sebuah struktur molekul tertentu atau sintesis secara kimiawi menghasilkan suatu senyawa obat. Yang kedua, obat “baru” bisa berasal dari obat yang sudah ada, tetapi digunakan untuk penyakit yang berbeda. Dalam hal obat Covid-19, telah banyak dicoba obat-obat lama untuk mengatasi Covid-19, yang disebut sebagai drug repurposing. Misalnya klorokuin dan hidroksiklorokuin, mereka adalah obat yang sebelumnya digunakan untuk malaria dan penyakit autoimun, dan sekarang banyak diujikan secara klinik dan digunakan secara khusus untuk Covid-19.

Dalam hal obat yang sama sekali baru, obat perlu diuji lebih dahulu secara in vitro (menggunakan system di luar tubuh), atau pada in vivo (menggunakan system tubuh) pada binatang percobaan. Dalam hal mencari obat anti virus Covid-19, umumnya dilakukan dahulu uji secara in vitro menggunakan suatu sel kultur yang diinfeksi dengan virus tersebut. Jika obat baru tersebut bisa menghambat perkembangan virus atau membunuh virus corona, maka obat tersebut berpotensi untuk digunakan sebagai obat antivirus Covid-19. Namun jika secara in vitro pun tidak berefek, maka ada kemungkinan obat tersebut tidak berefek jika digunakan pada manusia.

Selain aspek kemanjuran, maka harus diperhatikan pula aspek keamanan. Jika suatu obat sangat manjur terhadap suatu penyakit tetapi menyebabkan efek samping yang berbahaya, maka calon obat tersebut tidak bisa diteruskan menjadi obat baru. Calon-calon obat tersebut perlu diujikan pada hewan dahulu untuk melihat potensi keamanannya, yang disebut dengan uji toksisitas. Jika terbukti tidak toksik, maka bisa diteruskan untuk uji selanjutnya. Untuk obat yang akan digunakan pada manusia, tentu harus dicobakan pada manusia dalam suatu uji yang disebut Uji Klinik. Uji Klinik memiliki persyaratan yang ketat untuk dapat digunakan sebagai dasar penggunaan pada manusia, antara lain adalah kriteria subyeknya, jumlah subyek ujinya, variasi kondisi subyek ujinya, parameter yang diukur, dll. Jika suatu uji klinik berhasil menunjukkan kemanjuran dan keamanan, maka obat akan didaftarkan ke badan otoritas obat yaitu Badan POM, yang bertanggung jawab menjamin keamanan dan potensi kemanjuran suatu obat. Setelah didaftarkan dan dievaluasi oleh para pakar, barulah suatu calon obat mendapat ijin edar dan dapat dipasarkan. Jadi, tidak mudah untuk suatu obat baru itu sampai di tangan konsumen, karena harus mengikuti berbagai proses.

Bagaimana dengan obat herbal atau alternatif lainnya?

Indonesia sangat kaya akan tanaman obat yang mungkin saja berpotensi untuk mengatasi Covid-19. Namun demikian, aturan dalam pengembangan obat baru dari herbal pun tentunya juga harus mengikuti kaidah ilmiah yang berlaku. Sumber obat herbal sedikit berbeda dengan obat sintetik, yaitu adanya kemungkinan berasal dari pengalaman empiris bertahun-tahun. Jamu-jamu atau ramuan tradisional Indonesia dari berbagai daerah umumnya telah memiliki pengalaman bertahun-tahun untuk suatu penyakit tertentu. Selain pengalaman empirik, ada juga sumber obat herbal yang berupa suatu inovasi baru, misalnya kulit manggis atau kulit jeruk, yang dulunya tidak digunakan masyarakat, tetapi berdasarkan penelitian ternyata memiliki manfaat obat. Obat-obat herbal ini ada yang diolah sendiri oleh masyarakat untuk dikonsumsi sendiri seperti jamu, dan ada pula yang diolah lebih modern, diformulasi dengan bahan-bahan lain dan disajikan secara modern, seperti dalam bentuk kapsul, kaplet atau sediaan lainnya, untuk dipasarkan lebih luas. Sebagian dikemas menjadi Obat Herbal Terstandar, dan diujikan secara preklinik pada hewan uji untuk dipastikan keamanan dan kemanjurannya. Jika lolos uji, obat-obat herbal ini bisa digunakan pada manusia. Jika sudah diujikan secara klinis pada manusia, dan terbukti kemanjuran dan keamanannya, maka obat herbal dapat didaftarkan sebagai Fitofarmaka.

Penemuan obat-obat alternatif untuk Covid-19

Selama masa pandemik Covid-19, bermunculan beberapa obat-obat alternatif yang diklaim dapat mengatasi penyakit COVID-19. Beberapa penggiat pengobatan alternatif sampai akademisipun seolah berlomba-lomba mencari obat alternatif yang ampuh menghadapi Covid-19. Kalau dilihat, ada beberapa obat alternatif yang dipromosikan dengan cukup gencar. Berikut beberapa di antaranya.

Beberapa waktu lalu, media massa memberitakan tentang sebuah obat herbal corona buatan tabib pengobatan alternatif dari Jawa Timur yang berbentuk cairan dalam botol. Obat ini  disebut berasal dari bahan alam dan diklaim ampuh untuk mengobati Covid-19, walaupun tidak dijelaskan herbal apa saja yang digunakan. Sempat diklaim telah mendapat pengakuan BPOM (1), namun setelah dikonfirmasi melalui layanan Halo BPOM di nomor 15005533, BPOM secara tegas mengatakan bahwa tidak ada obat tradisional penyembuh corona yang sudah resmi terdaftar (2).

Yang kedua, ramuan herbal atau jamu juga dilaporkan dibuat oleh seorang warga Solo. Sang pembuat mengaku telah menemukan ramuan herbal atau jamu yang dapat menyembuhkan pasien positif Covid-19. Ramuan berbentuk jamu itu berasal dari olahan 20 jenis empon-empon seperti jahe merah, kunir, serai hingga daun kelor. Pembuat mengakui bahwa minuman temuannya itu belum melalui uji laboratorium atau sejenisnya. Dia mengklaim sudah mencoba mengajukan ramuannya ke BPOM untuk diuji tapi ditolak. Namun demikian, yang bersangkutan meyakini bahwa jamu itu benar-benar manjur karena sudah ada tujuh pasien positif Covid-19 yang sembuh (3). Menurutnya sudah banyak pesanan, dan jamu ini diberikan secara gratis. Tidak ada informasi lebih lanjut kondisi pasien Covid-19 seperti apa yang bisa disembuhkan dengan Jamu ini. Namun jika “hanya” berasal dari empon-empon yang sudah lama digunakan secara empiris oleh masyarakat, maka mungkin jamu tersebut cukup aman, walaupun untuk kemanjurannya belum bisa dipastikan.

Temuan menarik berikutnya adalah gula antivirus dari Palembang. Seorang dari Palembang mengklaim telah menyembuhkan 10 orang pasien positif virus corona (Covid-19) melalui antivirus ciptaannya. Pasien Covid-19 tersebut berada di Jakarta dan kini telah sembuh berkat antivirus yang berupa produk gula yang diproses dengan menggunakan light technology. Disebutkan bahwa produk gula tersebut bisa memecah protein menjadi asam amino, sehingga bisa mempercepat penyembuhan pada pasien covid-19 (4). Merespon temuan tersebut,  Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) Ghufron Ali Mukti menyampaikan, segala bentuk klaim antivirus maupun obat yang mampu menyembuhkan pasien positif Korona harus dapat dibuktikan secara ilmiah. Namun hingga kini, penemu antivirus yang diklaim ampuh dan mendapat respons positif dari Gubernur Sumsel tersebut belum berkomunikasi dengan pihak Kemenristek/BRIN untuk mengajukan kajian ilmiah terhadap temuannya (5). Temuan ini cukup menarik karena jika melihat bahannya adalah seperti gula pasir biasa. Belum diketahui light technology seperti apa yang digunakan sehingga gula ini diklaim aman bagi penderita Diabetes Mellitus.

Selanjutnya, sebuah obat anti Covid-19 diklaim telah ditemukan oleh seseorang di Pontianak. Bentuknya berupa kapsul.  Namun setelah dilakukan analisis terhadap kandungan obat tersebut oleh Balai Besar POM Kota Pontianak, ditemukan bahwa obat tersebut berisi Na-diklofenak dan CTM (6). Pembuatnya menyatakan bahwa obat ini sudah lama digunakan masyarakat Kalimantan Barat sebagai obat untuk Demam Berdarah. Hal ini tentu menjadi keprihatinan tersendiri, karena jika benar demikian, Na diklofenak adalah obat anti radang yang termasuk obat keras. Penggunaan yang tidak tepat dan berlebihan berpotensi menyebabkan gangguan perdarahan lambung. Pembuat obat masih bersikeras bahwa obatnya hanya mengandung bahan herbal. Wallahu a’lam.

Demikian beberapa contoh-contoh obat-obat alternatif yang diklaim memiliki efek anti Covid-19. Dan masih banyak lagi obat-obat yang telah dan akan bermunculan dari “kreativitas” masyarakat selama pandemic Covid-19 ini. Sebagian mungkin berangkat dari keprihatinan dan niat baik akibat belum adanya obat-obat Covid-19 yang benar-benar direkomendasikan. Namun dikuatirkan ada yang memanfaatkan kepanikan masyarakat yang takut akan tertular Covid, atau bahkan sudah terinfeksi. Sebagian besar belum ada bukti ilmiahnya, dan bahkan sulit diterima oleh logika ilmiah. Adanya bukti kesembuhan yang berupa testimoni hanya pada beberapa orang masih sangat kurang untuk mendukung kemanjuran obat-obat tersebut, apalagi penyakit Covid-19 ini pada sebagian orang yang system imunnya kuat bahkan tidak memberikan gejala dan menjadi penyakit yang bisa sembuh sendiri (self limiting disease). Di sisi lain, keterlambatan masyarakat mendapatkan obat yang tepat dapat menunda kesembuhan, bahkan bisa berakibat fatal jika ternyata virus tetap bereplikasi secara cepat pada tubuh pasien. Karena itu, masyarakat perlu lebih cermat dan bijak dalam memilih produk-produk alternatif yang beredar di pasaran. Inovasi-inovasi obat baru untuk Covid-19 tentu sangat diapresiasi dan diharapkan, namun harus tetap berada pada koridor ilmiah yang dapat ditelusuri dan dibuktikan.

Tips untuk memilih obat-obat herbal atau alternatif untuk Covid-19

Berikut adalah beberapa tips untuk memilih obat-obat untuk mencegah atau mengatasi Covid-19:

  1. Gunakan obat-obat herbal yang telah terdaftar di BPOM. Jika ada produk yang mengaku telah terdaftar di BPOM dan mestinya mendapat nomor izin edar, maka  itu harus dikonfirmasi terlebih dahulu melalui situs web BPOM ( https://cekbpom.pom.go.id/) atau melalui aplikasi BPOM yang tersedia. Dapat juga menanyakan kepada Layanan Halo BPOM. Perlu diketahui bahwa produk yang diregister sebagai pangan, maka produk tersebut tidak bisa memiliki izin edar sebagai suplemen kesehatan atau bahkan obat pada saat yang sama. Jadi jika ada produk pangan yang diklaim memiliki efek pengobatan, maka itu perlu dipertanyakan.
  2. Jika ada produk yang klaimnya terlalu bombastis dan mekanismenya tidak jelas, sebaiknya tidak langsung percaya, dan tanyakan kepada ahli-ahli obat, misalnya kepada Apoteker di Apotek/RS atau di institusi Pendidikan Farmasi.
  3. Jika menjumpai promosi obat atau produk herbal yang tidak jelas kandungannya, sebaiknya berhati-hati, karena bisa jadi ada kandungan dalam produk tersebut yang dikontraindikasikan (harus dihindarkan) pada penyakit tertentu yang diidap. Tanyakan pada Apoteker dan minta saran produk yang lebih terjamin keamanannya. Pastikan bahwa produk obat yang Anda konsumsi itu jelas kandungannya dan aman.

Demikian, semoga kita semua terhindar dari penggunaan obat-obat alternative yang tidak tepat selama masa pandemi Covid-19, dan juga terhindar dari penyakit Covid-19.

Referensi:

  1. https://jatim.suara.com/read/2020/04/17/105007/herbal-corona-ningsih-tinampi-dapat-pengakuan-bpom-dijual-rp-35000
  2. https://www.ayobandung.com/read/2020/04/21/86706/bpom-sebut-obat-herbal-corona-ningsih-tinampi-belum-terdaftar
  3. https://semarang.bisnis.com/read/20200414/535/1226706/jamu-ini-diklaim-sembuhkan-tujuh-pasien-terpapar-corona
  4. https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/9K50Qq3k-antivirus-dari-sumsel-diklaim-telah-sembuhkan-10-pasien-covid-19
  5. https://www.medcom.id/pendidikan/riset-penelitian/yNLG4WWK-klaim-antivirus-dari-sumsel-harus-dibuktikan-secara-ilmiah
  6. https://www.antaranews.com/berita/1427125/bbpom-kalbar-temukan-bahan-kimia-obat-dalam-formav-d
  7. https://www.era.id/read/ZqUoRK-penemu-obat-korona-di-pontianak-terancam-pidana-10-tahun




Vanessa dan Xanax-nya

9 04 2020

Dear kawan,

Artis satu ini memang suka bikin berita. Sayangnya bukan berita menggembirakan. Kali ini tersandung kasus narkoba, di mana disebutkan bahwa Vanessa Angel menyimpan dan menggunakan Xanax tanpa hak. Jadi ingat dulu pernah juga ada artis terkenal (Tora Sudiro) yang ditangkap polisi juga karena kepemilikan tanpa hak Dumolid. Tentang Dumolid (nitrazepam) udah pernah aku bahas dulu. Sekarang kita coba bahas tentang Xanax ya. Bagian tentang Benzodiazepin dalam artikel ini tidak banyak berubah dari pembahasan tentang Dumolid, karena mereka memang masih saudaraan .. 😊

 Xanax berisi alprazolam

Gugus Benzene dan Diazepine menjadi kerangka obat golongan benzodiazepin

Xanax adalah nama dagang untuk obat yang bernama alprazolam. Alprazolam secara struktur kimia adalah termasuk obat golongan benzodiazepine yang bekerja menekan system syaraf pusat. Istilah benzodiazepine berasal dari struktur kimia golongan obat ini yang memiliki gugus cincin “benzen” dan  “diazepin”. Obat ini memiliki khasiat antara lain sebagai obat penenang, obat tidur, dan anti kejang. Dalam regulasi penggolongan obat, alprazolam (Xanax) dan obat-obat golongan benzodiazepin tadi termasuk obat psikotropika, yaitu obat yang bisa mempengaruhi psikis/kejiwaan seseorang. Sepertinya halnya obat golongan narkotika, pengaturan peredarannya sangat ketat karena berpotensi untuk disalahgunakan. Kalau melihat lika-liku kehidupan sang artis, tidak mengherankan sih kalau ia mungkin tidak bisa hidup tenang. Penuh cerita drama yang menguras emosi, sehingga membutuhkan bantuan obat penenang. Sebenarnya boleh-boleh saja menggunakan obat penenang, selama itu digunakan dengan pengawasan dokter sesuai dengan resep dokter. Tetapi walaupun itu obat legal, ketika digunakan dan diperoleh secara illegal, maka statusnya menjadi illegal, yang akhirnya harus berhadapan dengan pak polisi.

 Obat golongan benzodiazepine

Selain alprazolam, obat-obat lain yang tergolong benzodiazepine antara lain adalah diazepam, midazolam, klonazepam, estazolam, klordiazepoksid, dll, yang terdapat dalam berbagai nama dagang. Mereka berbeda dalam hal kecepatannya menimbulkan efek, berapa lama efeknya, dan tujuan obat digunakan. Beberapa yang termasuk memiliki aksi pendek adalah midazolam dan klorazepat dengan durasi 3-8 jam. Sedangkan yang beraksi sedang adalah lorazepam dan alprazolam, dengan durasi 11-20 jam. Sementara nitrazepam bersama diazepam, klonazepam dan klordiazepoksid termasuk yang memiliki aksi panjang, sampai 1-3 hari.

 Obat yang legal

Sekali lagi, tidak seperti ecstasy, shabu, heroin, kokain yang bersifat illegal dan tidak untuk pengobatan, alprazolam dan obat benzodiazepine lainnya adalah obat legal yang digunakan dalam pengobatan. Obat ini bertanda lingkaran merah berisi huruf K pada kemasannya, menandakan bahwa mereka tergolong obat keras yang harus diperoleh dengan resep dokter. Gangguan penyakit yang diterapi dengan obat golongan ini antara lain adalah kecemasan, insomnia (tidak bisa tidur), kejang, gejala putus alcohol, dan untuk relaksasi otot. Penyakit-penyakit tersebut disebabkan karena aktivitas syaraf pusat yang berlebihan, karena itu memerlukan obat yang dapat menekan aktivitas system syaraf.

 Bagaimana kerjanya?

GABA receptor, tempat aksi obat benzodiazepin

Obat golongan benzodiazepin termasuk Xanax bekerja pada reseptor GABA di sistim syaraf pusat manusia. GABA adalah suatu senyawa penghantar di otak (neurotransmitter) yang bekerja menekan system syaraf pusat sebagai penyeimbang stimulasi syaraf.  Obat-obat golongan benzodizepin bekerja meningkatkan efek GABA untuk menekan aktivitas otak/sistim syaraf pusat. Dengan demikian diperoleh efek menenangkan (sedatif), menidurkan, juga mengurangi kejang/kekakuan otot.

Apakah bisa menyebabkan kecanduan?

Ya, obat-obat psikotropika sejenis benzodiazepine ini berpotensi untuk disalahgunakan dan menyebabkan kecanduan. Efeknya yang menenangkan dan menidurkan membuatnya sering dicari orang yang mengalami masalah kecemasan atau gangguan tidur sebagai solusi tercepat. Jika penderita gangguan semacam itu pergi ke dokter, dokter akan memeriksa dan memutuskan apakah seseorang memerlukan obat atau cukup dengan tindakan-tindakan non-obat seperti psikoterapi, perubahan pola hidup, dll. Tentunya perlu dicari akar penyebab masalahnya dulu sebelum diputuskan menggunakan obat. Salah satu obat yang paling sering diresepkan adalah obat golongan benzodiazepine ini, termasuk Xanax.

Namun demikian, banyak orang yang kemudian mencoba mendapatkan obat-obat ini secara illegal, dengan berbagai modus, tanpa indikasi medis untuk disalahgunakan. Mungkin saja ia diperoleh dari pasar gelap atau dari oknum di Apotek atau oknum yang memiliki akses terhadap obat tersebut. Karena jika diperoleh secara legal, peraturannya cukup ketat, misalnya harus pakai resep asli tidak boleh menggunakan copy resep. Copy resep hanya boleh digunakan jika memang ada obat yang belum diberikan dari resep aslinya. Apotek pun harus memberikan laporan penjualan obat psikotropika setiap bulannya ke Dinas Kesehatan.

Obat golongan benzodiazepine berpotensi menyebabkan toleransi dan kecanduan, terutama pada penggunaan yang lama.   Awalnya obat ini akan menyebabkan toleransi, yaitu diperlukan dosis yang semakin meningkat untuk mendapatkan efek yang sama. Jika semula cukup dengan 5 mg untuk mendapatkan efek, maka berikutnya diperlukan 10 mg untuk mendapatkan efek yang sama. Hal ini diduga karena reseptor GABA menjadi semakin kurang sensitive terhadap obat dan saraf makin beradaptasi dengan obat. Hal ini akan menyebabkan penderita cenderung meningkatkan dosisnya untuk mendapatkan efek yang sama, bahkan sampai mencapai dosis maksimalnya. Toleransi ini akan meningkatkan risiko  ketergantungan, di mana ketika obat dihentikan pemakaiannya, pengguna akan merasakan gejala-gejala semacam gejala putus obat (sakaw). Gejala putus obat juga dapat terjadi setelah pemberian benzodiazepine pada dosis normal yang diberikan pada jangka pendek.

Toleransi terhadap alprazolam dapat berkembang dalam waktu 3-14 hari pada penggunaan terus menerus. Karena itu regimen pengobatannya harus diatur sependek mungkin dan sebaiknya hindari peresepan berulang. Batas toleransi pasien satu dengan yang lain bisa bervariasi sangat besar, apalagi dengan pasien yang sudah mengalami gangguan otak atau jantung dan pernafasan.

Apa efek penyalahgunaan obat benzodiazepine?

Jika dipakai pada dosis terapi sesuai kebutuhannya, sebenarnya obat-obat ini relatif aman dan memberikan efek yang diharapkan, yaitu menenangkan dan membantu tidur. Tetapi jika dosisnya makin meningkat, apalagi jika sampai over dosis, maka dapat muncul efek-efek lain akibat penekanan system syaraf pusat, seperti : bingung, nggliyeng, gangguan penglihatan, kelemahan, bicara melantur, gangguan koordinasi, susah bernafas, bahkan bisa sampai koma.

Yang menarik, gejala penyalahgunaan obat benzodiazepine secara kronis dapat menyerupai gejala-gejala yang merupakan indikasi/tujuan penggunaan obat ini pertama kali, yaitu kecemasan, tidak bisa tidur (rebound insomnia), tidak doyan makan, sakit kepala, lemas. Hal ini menyebabkan penderita cenderung mengkonsumsi lebih banyak lagi.

Gejala-gejala putus obat benzodiazepin

Hal yang sama juga dapat terjadi ketika obat tiba-tiba dihentikan, akan terjadi gejala putus obat (Sakaw). Beberapa gejala umum ketika terjadi putus obat golongan obat benzodiazepine adalah kecemasan, gangguan tidur, kekakuan otot, gelisah. Gejala lain yang lebih jarang terjadi adalah mual, lemah, mimpi buruk, gangguan koordinasi otot, dll. Dapat juga terjadi kejang akibat putus obat benzodiazepine, terutama pada mereka yang menggunakan dalam dosis tinggi , waktu lama, dan ada penggunaan obat lain yang menurunkan ambang kejang. Karena itu, sebaiknya penghentian obat benzodiazepine tidak dilakukan secara tiba-tiba, tetapi bertahap.

Bagaimana penggunaan yang tepat?

Lebih baik mencegah dari pada mengobati setelah kecanduan

Yang pasti obat ini harus digunakan di bawah pengawasan dokter. Lama penggunaan obat ini harus sependek mungkin yang tetap bisa memberikan efek terapi sesuai dengan indikasinya, tetapi tidak boleh lebih dari 4 minggu, termasuk waktu penghentiannya secara bertahap. Setelah 4 minggu, terapi sebaiknya tidak diteruskan sebelum dilakukan evaluasi terhadap kondisi pasien.  Jika memang diperlukan terapi jangka panjang, maka kebutuhan pasien harus dipantau secara reguler.

Pada dasarnya obat golongan benzodiazepine bisa membantu penderita yang membutuhkan, tetapi harus berhati-hati untuk tidak menjadi tergantung kepadanya. Lebih baik menghindari dari pada mengobati ketika sudah kecanduan





Mengenal si ACE2, “pintu masuk” virus corona

5 04 2020

Dear all,

Kehadiran virus corona baru SARS-CoV2 atau lebih dikenal dengan nama virus Covid-19 benar-benar banyak mengubah dunia. Hingga tulisan ini disiapkan, sudah lebih dari 1.270.000 orang terinfeksi dan virus ini telah menyebabkan lebih dari 65.000 kematian di seluruh dunia. Banyak tatanan ekonomi dunia yang menjadi porak poranda. Tetapi di sisi lain, banyak ilmu baru yang kita peroleh, tidak hanya terkait dengan penyakit, namun juga keahlian dalam penggunaan teknologi informasi, karena masa pandemi ini memaksa sebagian besar dari masyarakat dunia harus tinggal di rumah dan hanya bisa berhubungan melalui media telekomunikasi.

Ilmu baru di bidang kesehatan yang menantang adalah penemuan obat baru maupun vaksin untuk mencegah penularan virus tersebut. “Untungnya” beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2002-2003, saudara virus Covid-2019 ini pernah ada juga yang menyebabkan epidemi penyakit SARS, yaitu virus SARS-CoV, sehingga sedikit banyak kita dapat mengambil pengalaman dan pelajaran dari SARS-CoV tersebut. Salah satunya adalah bagaimana cara masuknya virus ke dalam sel tubuh manusia. Dengan memahami ini, diharapkan dapat dicari dan ditemukan obat-obat baru yang lebih spesifik untuk virus corona baru ini.

Dari pengalaman dengan virus SARS-CoV yang lalu, dilaporkan bahw virus ini memasuki sel yang diinfeksinya melalui suatu reseptor di permukaan sel yang disebut Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE2).  Apakah sebenarnya reseptor ACE2 dan peranannya dalam penyakit COVID-19? Mari kita pelajari bersama. (Catatan: tulisan ini diterbitkan juga melalui web Fakultas Farmasi UGM untuk memperluas jangkauan pembaca)

Reseptor ACE2

          Angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) adalah enzim yang menempel pada permukaan luar (membran) sel-sel di beberapa organ, seperti paru-paru, arteri, jantung, ginjal, dan usus. ACE2 bekerja mengkatalisis perubahan angiotensin II (suatu vasokonstriktor peptida) menjadi angiotensin 1-7 (suatu vasodilator). ACE2 bekerja melawan aktivitas enzim angiotensin converting enzyme (ACE) dengan mengurangi jumlah angiotensin-II dan meningkatkan Angiotensin (1-7). Angiotensin (1-7) sendiri bersifat vasodilator dan bekerja pada reseptor yang berbeda dengan Angiotensin II. (Jadi ACE dan ACE2 itu enzim yang berbeda ya, guys ….. mereka justru bekerja berlawanan dalam mengatur tekanan darah). Jalur metabolisme yang menggambarkan peran ACE dan ACE2 dapat dilihat pada Gambar 1.

Gb. 1. Jalur metabolisme angiotensin yang melibatkan ACE dan ACE2

ACE2 merupakan suatu protein membran tipe I yang menembus membran sebanyak sekali (single transmembrane), dengan bagian yang aktif secara enzimatik berada pada permukaan sel. Bagian ekstrasel ACE2 dapat dipotong dari bagian trans-membrannya oleh enzim lain yang disebut sheddase, membentuk protein yang larut dan akan masuk ke pembuluh darah untuk kemudian diekskresikan melalui urin (1).

Hubungan ACE2 dengan SARS-CoV2

         Dari kejadian epidemi SARS pada tahun 2002-2003, para peneliti telah menemukan bahwa virus SARS-CoV (penyebab SARS) dapat masuk ke dalam sel inangnya dengan berikatan dengan ACE2 sebagai reseptornya (2). Protein spike (yang berbentuk seperti paku-paku yang menancap pada permukaan) virus SARS-CoV memiliki afinitas ikatan yang kuat dengan ACE2 manusia berdasarkan studi interaksi biokimia dan analisis struktur kristal (3). Ikatan dengan reseptor ACE2 inilah yang akan membantu virus SARS-CoV masuk ke dalam sel inangnya. Jika dibandingkan, ternyata protein spike SARS-CoV2 (atau virus Covid-19) memiliki 76,5% kesamaan sekuen asam amino dengan SARS-CoV (4), dan protein spike mereka benar-benar homolog.. Hal ini artinya kedua coronavirus ini memiliki cara yang sama untuk menginfeksi sel inangnya. Yang lebih menarik adalah penemuan bahwa nampaknya virus SARS-CoV-2 dapat mengenali reseptor ACE2 manusia secara lebih efisien dari pada SARS-CoV, yang menyebabkan lebih tingginya kemampuan SARS-CoV2 untuk menular dari manusia ke manusia (5). Hal ini dibuktikan dengan sangat mudahnya virus Covid-19 ini menyebar ke seluruh dunia sampai menyebabkan pandemik dibandingkan SARS-CoV. Adapun adanya ekspresi ACE2 yang berlebihan pada manusia akan meningkatkan keparahan dari penyakit infeksi Covid-19.

Gambar 2. Ikatan protein spike virus SARS-CoV dengan reseptor ACE2 yang memfasilitasi masuknya virus ke dalam sel inangnya.

Mengapa gejala COVID-19 lebih banyak pada paru-paru dan saluran cerna?

         Menggunakan jaringan paru normal dari 8 orang donor dewasa, Zhao et al (2020) menjumpai bahwa 83% sel yang mengekspresikan ACE2 adalah sel epitel alveolus tipe II (alveolar epithelial type II/AECII) yang membuat sel-sel ini seperti menjadi reservoir virus (6). Hal ini menjelaskan mengapa gejala COVID-19 adalah pada saluran nafas dan paru-paru menjadi organ yang paling rentan terdampak virus. Diketahui juga bahwa protein ACE2 terekspresi tinggi pada sel-sel epithelial usus, yang berfungsi sebagai co-receptor bagi masuknya nutrient ke dalam usus, terutama adalah asam amino dari makanan (7). Hal ini juga menjelaskan mengapa gejala COVID-19 tidak hanya terjadi pada saluran pernafasan, tetapi juga saluran cerna. Banyak pasien yang mengalami gangguan saluran cerna seperti diare, sakit perut, dll, sebelum akhirnya terbukti positif COVID-19. Selain itu, reseptor ACE2 juga dijumpai pada sel-sel di luar paru yaitu pada jantung, ginjal, endothelium (8). Adanya ekspresi ACE2 di berbagai organ lain ini berkontribusi terhadap kejadian disfungsi multi organ (multi-organ dysfunction) yang sering dijumpai pada pasien COVID-19 yang parah.

Pengembangan Obat bertarget pada ACE2

          Dengan semakin dipahaminya peran ACE2 terhadap masuknya virus Covid-19, para ahli mencoba mengembangkan obat yang bertarget pada ACE-2. Menggunakan kultur sel dan organoid, Monteil et al, peneliti dari Karolinska Institut Swedia dan University of British Columbia (UBC) Canada saat ini sedang mengembangkan suatu human recombinant soluble angiotensin-converting enzyme 2 (hrsACE2). Dengan adanya bentuk ACE2 yg larut (soluble) sebagai protein target yang dapat berikatan dengan virus Covid-19, maka diharapkan virus yang mengikat ACE2 di permukaan sel akan berkurang, sehingga sel yang terinfeksi menjadi berkurang. Hal ini terbukti dengan hasil penelitiannya menggunakan sel Vero E6, bahwa setelah dipapar dengan hrsACE2, jumlah sel yang terinfeksi virus berkurang (9).

               Mekanisme lain obat yang bertarget pada ACE2 adalah pengikatan/perubahan pada ACE2 sehingga memberikan hambatan terhadap virus Covid-19 yang akan mengikat ACE2, sehingga juga dapat mencegah masuknya virus ke dalam sel inangnya. Sebagai contoh adalah chloroquine dan hydroxychloroquine, di mana mereka dapat menghambat glikosilasi ACE2, yang menyebabkan berkurangnya afinitas protein spike virus SARS-CoV terhadap reseptor ACE2 (10).

               Saat ini dunia masih menunggu penemuan-penemuan obat baru untuk melawan COVID-19 yang telah meluluh-lantakkan banyak negara di dunia, baik yang bertarget pada ACE2 maupun pada tahap-tahap lain kehidupan virus Covid-19.

               Sebagai catatan, obat golongan inhibitor ACE seperti kaptopril, enalapril lisinopril, dan golongan angiotensin receptor blocker (ARB) seperti valsartan, irbesartan, tidak memiliki hubungan langsung dengan enzim ACE2. Memang ada kontroversi yang berangkat dari hasil penelitian pada hewan bahwa obat-obat ACEi dan ARB dapat meningkatkan ekspresi ACE2, namun hal itu belum terbukti pada manusia. Hingga saat ini, belum ada bukti klinis bahwa penggunaan obat-obat tersebut memperparah gejala COVID-19. Karena itu, beberapa organisasi profesi terkait seperti Heart Failure Sociaty of America (HFSA), American College of Cardiology (ACC), and American Heart Association (AHA), termasuk European Society of Cardiology, merekomendasikan untuk meneruskan penggunaan obat-obat ACEI dan ARB pada pasien COVID-19 yang telah menggunakan sebelumnya, karena manfaat obat tersebut lebih besar untuk mencegah komplikasi akibat hipertensi yang tidak terkontrol (11).

Demikian sekedar tambahan wawasan mengenai ACE2 yang menjadi pintu masuk virus Covid-19. Dalam masa pandemi ini, tetap jaga kesehatan ya.. jaga jarak fisik, hindari kerumunan, gunakan masker jika ada di luar rumah (orang sehat boleh pakai masker kain), sering cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, makan makanan yang sehat, istirahat cukup, jangan stress, dan selalu bertawakkal kepada Allah SWT. Semoga virus Covid-19 segera enyah dari bumi kita. Aamiin.

Wallahu a’lam bisawab… semoga bermanfaat

Referensi

1. Patel VB, Clarke N, Wang Z, Fan D, Parajuli N, Basu R, et al. (2014). Angiotensin II induced proteolytic cleavage of myocardial ACE2 is mediated by TACE/ADAM-17: a positive feedback mechanism in the RAS. Journal of Molecular and Cellular Cardiology. 66: 167–7610.

2. Du, L., He, Y., Zhou, Y. et al. The spike protein of SARS-CoV — a target for vaccine and therapeutic development. (2009)  Nat Rev Microbiol 7, 226–236 https://doi.org/10.1038/nrmicro2090

3. Li F, Li W, Farzan M, Harrison SC (2005) Structure of SARS coronavirus Spike receptor-binding domain complexed with receptor. Science 309:1864–1868

4. Xu X, Chen P, Wang J, Feng J, Zhou H, Li X, Zhong W, Hao P (2020) Evolution of the novel coronavirus from the ongoing Wuhan outbreak and modeling of its Spike protein for risk of human transmission. Sci China Life Sci. https ://doi.org/10.1007/s1142 7-020-1637-5

5. Wan Y, Shang J, Graham R, Baric RS, Li F (2020) Receptor recognition by novel coronavirus from Wuhan: an analysis based on decade-long structural studies of SARS. J Virol. https://doi.org/10.1128/jvi.00127-20

6. Zhao Y, Zhao Z, Wang Y, Zhou Y, Ma Y, Zuo W (2020) Single-cell RNA expression profling of ACE2, the putative receptor of Wuhan COVID-19. https://doi.org/10.1101/2020.01.26.919985  

7. Hashimoto T, Perlot T, Rehman A, Trichereau J, Ishiguro H, Paolino M, Sigl V, Hanada T, Hanada R, Lipinski S, Wild B, Camargo SM, Singer D, Richter A, Kuba K, Fukamizu A, Schreiber S, Clevers H, Verrey F, Rosenstiel P, Penninger JM (2012) ACE2 links amino acid malnutrition to microbial ecology and  intestinal infammation. Nature 487(7408):477–481

8. Ding Y, He L, Zhang Q, Huang Z, Che X, Hou J, Wang H, Shen H, Qiu L, Li Z, Geng J, Cai J, Han J, Li X, Kang W, Weng D, Liang P, Jiang S (2004) Organ distribution of severe acute respiratory syndrome (SARS) associated coronavirus (SARS-CoV) in SARS patients: implications for pathogenesis and virus transmission pathways. J Pathol 203:622–630

9. https://www.cell.com/pb-assets/products/coronavirus/CELL_CELL-D-20-00739.pdf

10. Vincent MJ, Bergeron E, Benjannet S, Erickson BR, Rollin PE, Ksiazek TG, Seidah NG, Nichol ST. , 2006, Virol J. 2005 Aug 22;2:69.

11. https://www.acc.org/latest-in-cardiology/articles/2020/03/17/08/59/hfsa-acc-aha-statement-addresses-concerns-re-using-raas-antagonists-in-covid-19





Jangan sembarangan minum klorokuin, waspadai efek samping

22 03 2020

Dengan diumumkannya oleh Presiden Jokowi bahwa Pemerintah telah membeli obat untuk COVID-19 yaitu Klorokuin dan Avigan (Favipirafir), sontak banyak masyarakat menanyakan tentang obat tersebut bahkan akan membeli untuk disimpan. Obat Avigan memang tidak tersedia di Indonesia karena merupakan obat yang relative baru. Sedangkan klorokuin, memang sudah lama ada, karena ditujukan untuk pengobatan malaria dan penyakit autoimun seperti lupus atau rematoid artritis. Apotek-apotek kewalahan ditanyai tentang obat klorokuin, di sisi lain ada juga yang menjual via online. Wah, memangnya beli kacang.. ini obat keras bro ! Jangan diminum sembarangan. Yuk, kita bahas mengapa tidak boleh sembarangan mengkonsumsi klorokuin.

Apa itu klorokuin?

Klorokuin adalah obat antimalaria yang juga digunakan sebagai imunosupresan pada terapi penyakit autoimun, yang ternyata juga memiliki efek antiviral. Selama pandemi COVID-19, obat ini telah dipakai di beberapa negara sebagai salah satu terapinya, misalnya di China, Malaysia, India, dll. Secara farmakologi, obat ini memang memiliki kemampuan untuk menghambat masuknya virus ke dalam sel dengan cara berikatan dengan reseptor selular ACE2 yang merupakan “pintu masuk”-nya virus SARS-CoV. Dengan ikatannya itu maka akan menghambat ikatan virus dengan reseptornya dan mencegah masuknya virus. Selain itu, untuk virus yang sudah masuk ke dalam sel, klorokuin dengan sifat basanya juga dapat menembus sel dan menyebabkan sel bersifat basa. Sifat basa ini menghambat replikasi sel karena untuk replikasi sel diperlukan suasana lebih asam. Dengan demikian klorokuin dapat memiliki efek antiviral.

Bagaimana cara pakainya?

Menurut beberapa panduan yang diterbitkan di beberapa negara yang menggunakan klorokuin untuk COVID-19, obat ini digunakan dengan dosis 500 mg 2 kali sehari untuk pasien yang telah positif virus corona selama kurang lebih 10 hari. Obat ini harus digunakan dengan pengawasan dokter, karena obat ini juga bisa menyebabkan beberapa efek samping. Dengan pengawasan dokter maka efek samping dapat dicegah atau dikendalikan. Obat ini termasuk golongan obat keras dengan logo lingkaran merah, dan hanya boleh dibeli dengan resep dokter.

Apa efek samping klorokuin ?

Efek samping klorokuin bisa terjadi dalam waktu segera maupun jangka waktu yang lama jika klorokuin dikonsumsi. Efek sampingnya pun bisa bersifat ringan sampai berat. Beberapa efek samping ringan yang dapat terjadi dengan penggunaan klorokuin antara lain adalah : sakit kepala, kehilangan nafsu makan, diare, gangguan lambung, sakit perut, gatal, rambut rontok dan perubahan mood. Adapun efek samping berat yang bisa terjadi dan Anda sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter atau Apoteker adalah jika terjadi: penglihatan kabur, seperti melihat kilatan cahaya, gangguan penglihatan (seperti huruf hilang saat membaca, penglihatan berkabut, obyek terlihat separuh), telinga berdenging, kelemahan otot, muntah, denyut jantung tidak teratur, sampai kejang dan kesulitan bernafas (https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682318.html). Memang tidak semua efek samping ini pasti terjadi, tetapi setiap orang berisiko mengalami efek samping tersebut. Terjadinya efek samping juga dipengaruhi oleh dosis maupun berapa lama obat digunakan. 

Kapan klorokuin digunakan? Bolehkah untuk pencegahan infeksi virus?

Walaupun secara farmakologi berdasarkan uji pada kultur sel klorokuin bisa menghambat masuknya virus ke dalam sel, tetapi pada prakteknya obat ini bukanlah untuk terapi pencegahan COVID-19. Penggunaan obat harus mempertimbangkan risiko dan manfaatnya. Pada pasien dengan positif COVID-19, manfaatnya akan lebih besar daripada risikonya, karena jelas-jelas sudah ada virus SARS-CoV2 di dalam tubuh pasien, dan diharapkan obat ini bisa membantu menghentikan penggandaan virus. Adapun efek sampingnya, jika digunakan dengan pengawasan dokter serta diatur secara tepat dosis dan durasinya, dapat diminimalkan. Tetapi untuk yang masih sehat, belum ada indikasi terinfeksi virus, mulai kapan dan sampai berapa lama Anda akan menggunakan? Seberapa manfaatnya karena belum tentu ada virusnya dalam tubuh Anda ? Alih-alih bermanfaat, Anda malah akan mendapatkan risiko efek samping karena jelas-jelas obatnya sudah Anda konsumsi. Jadi masih mau ikut-ikutan latah mengkonsumsi klorokuin apalagi sampai menimbun dan menyimpan dalam jumlah banyak? Biarkan klorokuin tetap tersedia untuk pasien COVID-19 yang benar-benar membutuhkan.

Lalu bagaimana untuk mencegah infeksi virus corona?

Pada dasarnya virus dapat dieliminasi oleh sel-sel imunitas kita. Sehingga sangat dianjurkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dengan berbagai cara. Misalnya dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang, tidur cukup, olah raga cukup, berjemur di sinar matahari sekitar 15 menit  antara jam 10-13, jangan stress. Dan yang penting lagi adalah mencegah penularan virus  dengan tetap menjaga jarak aman dengan orang lain (social distancing), rajin cuci tangan (bisa dengan sabun dan air), menggunakan masker jika diperlukan, dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga kita terhindar dari infeksi virus corona.

Himbauan kepada sejawat di Apotek

Mohon teman-teman sejawat di Apotek, jika ada masyarakat yang akan beli klorokuin secara bebas tanpa resep dokter tidak perlu dilayani. Tolong bisa diedukasi bahwa klorokuin bukan untuk pencegahan COVID-19. Jika belum ada infeksi virus, risikonya akan lebih besar daripada manfaatnya.





Undang-undang Praktek Kefarmasian is urgently required !

2 02 2020

Dear all,

Udah lama bangeet ngga pernah menulis di blog saya ini. Maafkeun, yah Blog, kamu tersisihkan. Tapi dengan hiruk pikuk yg ramai di dunia kefarmasian, saya jadi ingat kamu lagi, Blog.. yg udah bertahun-tahun menemani saya mengekspresikan buah pikiran dalam tulisan. Saat ini saya akan meneruskan tulisan saya di FB kemarin, terkait isu yg sama.

Tulisan saya terkait PMK 3/2020 dan UU RS no 44 th 2009  di laman Face Book saya kemarin menyatakan bahwa “ Jadi kalau mengacu UU ini, memang harus diterima bahwa tenaga medis dan penunjang medis disebut secara terpisah dari tenaga kefarmasian. Maka mungkin dengan dasar ini, semua yang diluar tenaga medis dan penunjang medis disebut sebagai non-medis, termasuk Farmasi”. Ternyata tulisan ini mengundang “protes” sejawat yang menganggap saya menggiring opini publik utk menerima bahwa Apoteker adalah tenaga non-medis.

Hehe… wait, …  coba yuk kita belajar membaca dan menelaah dengan hati-hati, berpikir secara systematis, dan jangan mudah diprovokasi. Daripada bikin tulisan-tulisan yang membakar, saya prefer mencermati dan bicara hati-hati. Jangan sampai salah bicara, karena akan dibaca oleh banyak orang. Tentu saya berada dalam posisi bahwa Apoteker harus punya tempat dalam pelayanan kesehatan, yang disebut pelayanan kefarmasian. Apoteker juga disebut sebagai tenaga kefarmasian. Demi bisa menulis yang berdasarkan data, terpaksa deh week end ini saya liburan bersama UU RS, UU tenaga Kesehatan, dan beberapa Permenkes hehehe… karena penasaran juga.

              Ada dua UU terkait yang perlu diacu ketika membahas ini, yaitu UU ttg RS no 44 th 2009 dan UU ttg Tenaga Kesehatan no 36 th 2014. Dan satu lagi adalah keputusan Mahkamah Konstitusi no 82/PUU-XIII/2015 tentang Tenaga Medis, yang merupakan hasil uji materi terhadap UU no 36 th 2014.

  1. Sesuai dengan Keputusan Mahkamah Konstitusi tsb, tenaga medis adalah dokter dan dokter gigi, dan ini terlepas dari definisi tenaga kesehatan yang ada pada UU Nakes no 36 th 2014. Jadi jelas, Apoteker bukan tenaga medis.
  2. Menurut UU Nakes no 36/2014 pasal 11, yang termasuk tenaga kesehatan (diluar tenaga medis) adalah psikolog klinis, kebidanan, keperawatan, kefarmasian, kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, gizi, keterapian fisik, keteknisian medis, kesehatan tradisional, dan tenaga kesehatan lain. Pada ayat 6 disebutkan bahwa yg termasuk tenaga kefarmasian adalah Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian (TTK). Jadi, Apoteker adalah tenaga kesehatan, yaitu tenaga kefarmasian.
  3. Pada UU RS no 44 th 2009 pasal 12, disebutkan bahwa Persyaratan sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) yaitu Rumah Sakit harus memiliki tenaga tetap yang meliputi tenaga medis dan penunjang medis, tenaga keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga manajemen Rumah Sakit, dan tenaga nonkesehatan. Di sini muncul istilah tenaga medis dan penunjang medis, yang disebut secara terpisah dengan tenaga kefarmasian.

Apakah Apoteker adalah tenaga medis ? Tentu bukan. Nah, di sini saya memang kurang paham mengapa penggolongannya ketika dituangkan ke dalam PMK 3/2020  pasal 7 kemudian hanya menjadi 3 golongan pelayanan, yaitu : Pelayanan medik dan penunjang medik; pelayanan keperawatan dan kebidanan, dan pelayanan non-medik, dimana pelayanan farmasi dimasukkan ke dalam pelayanan non-medik. (Note: mungkin ini yg bisa ditanyakan kepada penyusun PMK 3/2020 utk klarifikasinya)

Pertanyaannya, benar tidak kalau Apoteker adalah tenaga non-medik (bukan medik) ? Benar, karena definisi tenaga medis sudah jelas. Berarti pelayanannya bisa disebut pelayanan non-medik dong? Iya kalau berdasar definisi tadi. Lha terus?

Pertanyaan berikutnya, perawat dan bidan itu tenaga medis bukan? Ya bukanlah, mereka kan bukan dokter atau dokter gigi. Lha kok pelayanan mereka tidak disebut sebagai pelayanan non-medik, padahal kan bukan tenaga medik ? Lha sejawat bidan dan perawat itu punya definisi yang jelas  tentang pelayanannya, yang dituangkan dalam Undang-Undang Keperawatan (UU no 38 th 2014)  dan Undang-undang Kebidanan (UU no 4 th 2019).

Farmasi kan punya PP 51 th 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian ? Ya memang, dan dari sinilah kemudian diturunkan beberapa PMK tentang Standar Pelayanan kefarmasian, baik utk di RS (no 72 th 2016), Apotek (no 73 th 2016), dan di Puskesmas ( no 74 th 2016). Tapi nampaknya PP dan PMK-PMK ini sebagian masih menjadi sekedar kertas putih berisi peraturan, di mana pelaksanaannya masih sangat bervariasi. Fakta kenyataannya di lapangan masih banyak praktek-praktek yg kurang ideal oleh seorang Apoteker, yang menjadikan peran Apoteker menjadi kurang terasakan. Masalah eksistensi Apoteker ini seperti masalah klasik yang masih menjadi PR besar sampai sekarang.

Nah, barangkali dengan adanya UU Kefarmasian, maka posisi Apoteker akan menjadi lebih kuat dasar hukumnya. Karena itu, situasi carut marut saat ini hendaklah dijadikan momentum utk dapat mendorong atau mempercepat ditetapkannya UU Praktek Kefarmasian yang menjadi payung hukum bagi pelayanan kefarmasian, sehingga tidak lagi disebut sebagai pelayanan non-medik. UU praktek kefarmasian harus disusun yang benar-benar mengayomi semua Apoteker dan tenaga kefarmasian, jangan justru menjadi pembatas dan pemberat. Saya paham sekali tidak mudah menyusunnya… pastinya penuh darah dan air mata …..  klo saya sih cuma bisa omong doang hehehe… Mari kita dukung dan bantu siapapun yang sedang menyiapkan/mereview Rancangan UU Praktek Kefarmasian, dengan masukan yang konstruktif dan doa 😊

Dan yang perlu dingat adalah bahwa setiap ketetapan ada konsekuensinya. Jika memang ingin dianggap professional, jangan hanya minta hak dan dihargai, tetapi tunjukkan dulu kinerja kita. Mengutip pepatah Jawa “ goleko jeneng, tembe jenang”. Menurut mbah Google Translator, jeneng = nama, jenang = sejenis makanan Jawa yg sering dihidangkan saat pesta pernikahan jawa, yg mengandung arti harta atau kekayaan. Jadi, carilah nama dulu agar dikenal. Caranya? Lakukan semua tanggung-jawab sebagai Apoteker sebaik-baiknya, orang nanti akan mengenal … oh Apoteker A itu sangat aktif dan perhatian dengan pasien.. oh Apoteker B itu sangat fasih tentang obat dan bisa diajak diskusi oleh dokter.. oh Apoteker C itu sangat baik ketika memberikan konseling, dll. Setelah dikenal (karena kinerjanya), maka pasti akan mudah mendapatkan kepercayaan, kedudukan, peran, dalam hal ini adalah mendapt “jenang”.

Begitulah, sekedar pendapat… Mohon maaf jika kurang berkenan.





Apa sih Dumolid itu? Kok sampe bisa bikin artis ditangkap polisi?

6 08 2017

Dear kawan,

Lama tidak menulis lagi di blog ini. Aku repost saja tulisanku di harian Tribun hari ini untuk dokumentasi blog ini ya.. biar blog-ku juga dikunjungi hehe..  Disertai tambahan komentar dan ilustrasi untuk menambah penjelasan.

Baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan tertangkapnya pasangan artis Tora dan Mieke atas kepemilikan tablet Dumolid. Berita ini sangat cepat tersebar dengan berbagai versinya. Beberapa berita menyebutnya sebagai sebagai golongan narkotik dan menyamakannya dengan obat-obat semacam shabu atau ecstasy. Aku tidak memasalahkan aspek hukumnya, biar bapak-bapak polisi yang berwenang yang menetapkannya, tetapi akan membahas dari aspek obatnya. Tulisan ini mencoba meluruskan dan mengupas tentang Dumolid, kegunaannya, potensinya disalahgunakan dan bagaimana seharusnya memperlakukannya.

 Berisi nitrazepam

Gugus Benzene dan Diazepine menjadi kerangka obat golongan benzodiazepin

Dumolid adalah nama dagang untuk obat yang bernama nitrazepam. Selain Dumolid, obat lain yang berisi nitrazepam adalah Mogadon. Nitrazepam sendiri secara kimia adalah termasuk obat golongan benzodiazepine yang bekerja menekan system syaraf pusat. Istilah benzodiazepine berasal dari struktur kimia golongan obat ini yang memiliki gugus cincin “benzen” dan  “diazepin”. Obat ini memiliki khasiat antara lain sebagai obat penenang, obat tidur, dan anti kejang. Dalam regulasi penggolongan obat, nitrazepam (Dumolid) dan obat-obat golongan benzodiazepin tadi termasuk obat psikotropika, yaitu obat yang bisa mempengaruhi psikis/kejiwaan seseorang. Sepertinya halnya obat golongan narkotika, pengaturan peredarannya sangat ketat karena berpotensi untuk disalahgunakan.

 

Obat golongan benzodiazepine

Ada baiknya mengetahui bahwa selain Dumolid (nitrazepam), ada banyak obat lain yang tergolong obat benzodiazepine.  Jadi Nitrazepam tidak sendirian. Obat-obat lain yang tergolong benzodiazepine antara lain adalah diazepam, alprazolam, midazolam, klonazepam, estazolam, klordiazepoksid, dll, yang terdapat dalam berbagai nama dagang. Mereka berbeda dalam hal kecepatannya menimbulkan efek, berapa lama efeknya, dan tujuan obat digunakan. Beberapa yang termasuk memiliki aksi pendek adalah midazolam dan klorazepat dengan durasi 3-8 jam. Sedangkan yang beraksi sedang adalah lorazepam dan alprazolam, dengan durasi 11-20 jam. Sementara nitrazepam bersama diazepam, klonazepam dan klordiazepoksid termasuk yang memiliki aksi panjang, sampai 1-3 hari.

 Obat yang legal

Dumolid, obat keras dengan tanda lingkaran merah dan huruf K

Tidak seperti ecstasy, shabu, heroin, kokain yang sering digunakan untuk obat rekreasional (mencari kesenangan) yang bersifat illegal dan tidak untuk pengobatan, Dumolid dan obat benzodiazepine lainnya adalah obat legal yang digunakan dalam pengobatan. Obat ini bertanda lingkaran merah berisi huruf K pada kemasannya, menandakan bahwa mereka tergolong obat keras yang harus diperoleh dengan resep dokter. Gangguan penyakit yang diterapi dengan obat golongan ini antara lain adalah kecemasan, insomnia (tidak bisa tidur), kejang, gejala putus alcohol, dan untuk relaksasi otot. Penyakit-penyakit tersebut disebabkan karena aktivitas syaraf pusat yang berlebihan, karena itu memerlukan obat yang dapat menekan aktivitas system syaraf.

 Bagaimana kerjanya?

GABA receptor, tempat aksi obat benzodiazepin

Obat golongan benzodiazepin termasuk Dumolid bekerja pada reseptor GABA di sistim syaraf pusat manusia. GABA adalah suatu senyawa penghantar di otak (neurotransmitter) yang bekerja menekan system syaraf pusat sebagai penyeimbang stimulasi syaraf.  Obat-obat golongan benzodizepin bekerja meningkatkan efek GABA untuk menekan aktivitas otak/sistim syaraf pusat. Dengan demikian diperoeh efek menenangkan (sedatif), menidurkan, juga mengurangi kejang/kekakuan otot.

Apakah bisa menyebabkan kecanduan?

Ya, obat-obat psikotropika sejenis benzodiazepine ini berpotensi untuk disalahgunakan dan menyebabkan kecanduan. Efeknya yang menenangkan dan menidurkan membuatnya sering dicari orang yang mengalami masalah kecemasan atau gangguan tidur sebagai solusi tercepat. Jika penderita gangguan semacam itu pergi ke dokter, dokter akan memeriksa dan memutuskan apakah seseorang memerlukan obat atau cukup dengan tindakan-tindakan non-obat seperti psikoterapi, perubahan pola hidup, dll. Tentunya perlu dicari akar penyebab masalahnya dulu sebelum diputuskan menggunakan obat. Salah satu obat yang paling sering diresepkan adalah obat golongan benzodiazepine ini, termasuk Dumolid.

Namun demikian, banyak orang yang kemudian mencoba mendapatkan obat-obat ini secara illegal, dengan berbagai modus, tanpa indikasi medis untuk disalahgunakan. Mungkin saja ia diperoleh dari pasar gelap atau dari oknum di Apotek atau oknum yang memiliki akses terhadap obat tersebut. Karena jika diperoleh secara legal, peraturannya cukup ketat, misalnya harus pakai resep asli tidak boleh menggunakan copy resep. Copy resep hanya boleh digunakan jika memang ada obat yang belum diberikan dari resep aslinya. Apotek pun harus memberikan laporan penjualan obat psikotropika setiap bulannya ke Dinas Kesehatan.

Obat golongan benzodiazepine berpotensi menyebabkan toleransi dan kecanduan, terutama pada penggunaan yang lama.   Awalnya obat ini akan menyebabkan toleransi, yaitu diperlukan dosis yang semakin meningkat untuk mendapatkan efek yang sama. Jika semula cukup dengan 5 mg untuk mendapatkan efek, maka berikutnya diperlukan 10 mg untuk mendapatkan efek yang sama. Hal ini diduga karena reseptor GABA menjadi semakin kurang sensitive terhadap obat dan saraf makin beradaptasi dengan obat. Hal ini akan menyebabkan penderita cenderung meningkatkan dosisnya untuk mendapatkan efek yang sama, bahkan sampai mencapai dosis maksimalnya. Toleransi ini akan meningkatkan risiko  ketergantungan, di mana ketika obat dihentikan pemakaiannya, pengguna akan merasakan gejala-gejala semacam gejala putus obat (sakaw). Gejala putus obat juga dapat terjadi setelah pemberian benzodiazepine pada dosis normal yang diberikan pada jangka pendek.

Toleransi terhadap nitrazepam dapat berkembang dalam waktu 3-14 hari pada penggunaan terus menerus. Karena itu regimen pengobatannya harus diatur sependek mungkin dan sebaiknya hindari peresepan berulang. Batas toleransi pasien satu dengan yang lain bisa bervariasi sangat besar, apalagi dengan pasien yang sudah mengalami gangguan otak atau jantung dan pernafasan.

Apa efek penyalahgunaan obat benzodiazepine?

Jika dipakai pada dosis terapi sesuai kebutuhannya, sebenarnya obat-obat ini relatif aman dan memberikan efek yang diharapkan, yaitu menenangkan dan membantu tidur. Tetapi jika dosisnya makin meningkat, apalagi jika sampai over dosis, maka dapat muncul efek-efek lain akibat penekanan system syaraf pusat, seperti : bingung, nggliyeng, gangguan penglihatan, kelemahan, bicara melantur, gangguan koordinasi, susah bernafas, bahkan bisa sampai koma.

Yang menarik, gejala penyalahgunaan obat benzodiazepine secara kronis dapat menyerupai gejala-gejala yang merupakan indikasi/tujuan penggunaan obat ini pertama kali, yaitu kecemasan, tidak bisa tidur (rebound insomnia), tidak doyan makan, sakit kepala, lemas. Hal ini menyebabkan penderita cenderung mengkonsumsi lebih banyak lagi.

Gejala-gejala putus obat benzodiazepin

Hal yang sama juga dapat terjadi ketika obat tiba-tiba dihentikan, akan terjadi gejala putus obat (Sakaw). Beberapa gejala umum ketika terjadi putus obat golongan obat benzodiazepine adalah kecemasan, gangguan tidur, kekakuan otot, gelisah. Gejala lain yang lebih jarang terjadi adalah mual, lemah, mimpi buruk, gangguan koordinasi otot, dll. Dapat juga terjadi kejang akibat putus obat benzodiazepine, terutama pada mereka yang menggunakan dalam dosis tinggi , waktu lama, dan ada penggunaan obat lain yang menurunkan ambang kejang. Karena itu, sebaiknya penghentian obat benzodiazepine tidak dilakukan secara tiba-tiba, tetapi bertahap.

Bagaimana penggunaan yang tepat?

Lebih baik mencegah dari pada mengobati setelah kecanduan

Yang pasti obat ini harus digunakan di bawah pengawasan dokter. Lama penggunaan obat ini harus sependek mungkin yang tetap bisa memberikan efek terapi sesuai dengan indikasinya, tetapi tidak boleh lebih dari 4 minggu, termasuk waktu penghentiannya secara bertahap. Setelah 4 minggu, terapi sebaiknya tidak diteruskan sebelum dilakukan evaluasi terhadap kondisi pasien.  Jika memang diperlukan terapi jangka panjang, maka kebutuhan pasien harus dipantau secara reguler.

Pada dasarnya obat golongan benzodiazepine bisa membantu penderita yang membutuhkan, tetapi harus berhati-hati untuk tidak menjadi tergantung kepadanya. Lebih baik menghindari dari pada mengobati ketika sudah kecanduan.





Persiapan obat-obatan untuk Lebaran sehat dan nyaman

20 06 2017

Contoh saja, bukan endorsment 🙂
sumber: Winda carmelita

Bulan Ramadhan sudah berjalan 3 minggu, sebagian masyarakat sudah mulai bersiap-siap menyambut tradisi Lebaran.  Mudik ke kampong halaman bertemu dengan sanak saudara menjadi ritual tahunan yang tidak ingin dilewatkan. Aneka makanan tradisi keluarga disajikan untuk melengkapi kebersamaan. Namun di balik kegembiraan Lebaran, kadang terjadi berbagai gangguan kesehatan  yang membuat acara menjadi kacau. Padahal biasanya dokter praktek dan apotek tutup. Selama gangguannya ringan, dapat di atas dengan obat-obat tanpa resep yang bisa disimpan dalam persediaan. Jika penyakitnya berat tentu harus diperiksakan ke dokter atau RS. Obat-obat apa yang perlu disiapkan selama proses lebaran supaya Lebaran kita sehat dan nyaman?

Obat-obat untuk penyakit kronis

Penyakit kronis adalah penyakit yang berjangka lama dan umumnya membutuhkan penggunaan obat jangka panjang secara rutin, seperti hipertensi, diabetes, asma, nyeri sendi, epilepsy, dll. Buat Anda yang menderita penyakit ini jangan lupa membawa obat-obat pribadinya. Periksalah persediaan obat Anda, apakah masih tersedia cukup sampai liburan lebaran dan beberapa hari setelahnya. Jika dirasa akan habis, sampaikan ke dokter saat kontrol untuk mendapatkan resepnya sebelum libur lebaran. Khusus untuk penderita asma, jangan lupa membawa obat inhaler pelega nafasnya, karena suasana mudik yang padat dan melelahkan bisa saja menjadi pemicu kekambuhan asma.

Obat-obat untuk penyakit ringan

Beberapa gangguan kesehatan ringan bisa juga terjadi selama mudik lebaran, karena itu ada baiknya juga membawa perbekalan obat-obatan yang mungkin diperlukan.

  1. Obat Pereda nyeri (analgesik)

Selama mudik atau libur lebaran, sangat mungkin terjadi gangguan nyeri, entah sakit kepala, sakit gigi, nyeri haid, atau terluka karena jatuh atau kecelakaan ringan. Obat-obat yang perlu disediakan adalah obat pereda nyeri yang dapat dibeli bebas di apotek atau toko obat, yaitu yang berisi parasetamol atau ibuprofen. Merk yang tersedia bermacam-macam, silakan pilih berdasarkan selera dan ukuran kantung anda. Pada dasarnya selama isinya dan dosisnya sama, kemanjurannya sama. Obat parasetamol dan ibuprofen dapat juga digunakan untuk penurun panas pada saat terjadi demam.  Obat ini bisa digunakan untuk berbagai jenis nyeri ringan.

  1. Obat diare

Diare termasuk gangguan yang sering dijumpai menjelang atau pada saat Lebaran, yang biasanya disebabkan karena paparan makanan yang kurang higienis, baik dalam perjalanan mudik atau pada saat Lebaran. Diare ditandai dengan peningkatan frekuensi buang air besar (BAB) disertai konsistensi tinja yang cair, sehingga dapat menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan) dan kekurangan nutrisi. Jika terjadi dehidrasi yang berat, perlu waspada karena dapat berakibat pada kematian. Dehidrasi berat dapat dilihat dari tanda-tandanya antara lain: penderita terlihat sangat mengantuk/diam saja, atau bahkan tidak sadar, matanya cekung, tidak bisa minum atau minum sangat sedikit, jika dicubit, kembalinya kulit ke keadaan normal sangat pelan (lebih dari 2 detik). Kalau seperti ini tentu harus dibawa ke UGD dan mendapat terapi cairan secepatnya menggunakan infus.

Sebagian besar diare adalah disebabkan karena virus dan dapat sembuh dengan sendirinya.  Untuk membedakan antara diare karena virus dengan diare karena bakteri secara sederhana dapat dilihat dari ada/tidaknya darah pada feses/tinja. Jika tinja diare mengandung darah, mungkin disebabkan karena bakteri, dan segeralah konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Untuk diare yg tidak berdarah, obat yang dapat disiapkan untuk diare adalah Oralit dan sediaan Zinc.

suplemen Zinc tersedia dalam bentuk tablet dan sirup

Oralit tersedia dalam beberapa merk juga, dan ada yang menyediakan dalam beberapa rasa yang enak. Pilihlah sesuai selera. Oralit berfungsi untuk mengembalikan cairan dan elektrolit yang terbuang akibat diare. Jangan lupa gunakan suplemen Zinc untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap virus. Suplemen Zinc tersedia dalam bentuk sirop untuk anak-anak, dan tablet untuk dewasa. Gunakan sampai 2 minggu sejak pertama diare. Jangan lupa perbanyak minum untuk menghindari dehidrasi.

  1. Obat mabuk jalan

Obat anti mabuk andalan

Banyak orang yang sensitif terhadap gerakan dalam perjalanan sehingga mengalami mabuk jalan. Beberapa orang bisa mengalami mabuk perjalanan jika menumpang mobil, bus, kapal, atau pesawat udara. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah mabuk jalan antara lain adalah naik kendaraan di depan dengan pandangan lurus ke depan, jangan membaca di kendaraan, menghindari bau-bauan yang memicu mual. Namun jika hal-hal demikian tidak bisa membantu, anda butuh obat mabuk jalan. Obat mabuk jalan yang tersedia di pasaran adalah golongan antihistamin. Merk yang tersedia tidak begitu banyak. Obat ini bisa mencegah mual, muntah, dan pusing akibat mabuk jalan. Antihistamin yang sering dipakai adalah dimenhidrinat (merk terkenal yang sepertinya belum banyak saingannya adalah Antimo. Thanks buat teman2 di Phapros. Bukan endorse loh hehe…. ). Obat sebaiknya diminum sebelum perjalanan dimulai. Obat ini menyebabkan mengantuk sehingga mungkin menjadi lebih nyaman karena bisa berisitirahat dalam perjalanan. Ada penelitian yang melaporkan bahwa jahe bisa mengurangi mabuk jalan, jadi bisa juga dicoba minum wedang jahe atau mengulum permen jahe, walaupun mungkin hasilnya akan bervariasi antar orang.

  1. Obat maag/lambung

Keasyikan makan makanan tertentu apalagi yang asam dan pedas pada saat Lebaran dapat juga menyebabkan sakit maag kambuh.  Maag bisa terjadi jika terjadi peningkatan produksi asam lambung. Asam lambung yang meningkat bisa menyebabkan perih di lambung, Jika gangguannya masih ringan, maka dapat digunakan obat-obat yang bisa menetralkan asam lambung atau mengurangi produksi asam lambung. Beberapa obat yang sering digunakan untuk menetralkan asam lambung dan mengurangi produksi asam lambung antara lain adalah golongan antacid dan anti histamin H2.

Obat antasid umumnya berisi Al hidroksida dan Mg hidroksida, ada juga yang berisi CaCO3 yang bersifat basa, dengan tujuan menetralkan keasaman lambung. Obatnya ada yang berupa suspensi (cairan) dan ada yang berupa tablet kunyah. Untuk obat bentuk suspensi, jangan lupa kocok dahulu sebelum diminum supaya homogen. Untuk tablet kunyah, kunyah hingga halus sebelum ditelan agar efeknya lebih cepat. Sebaiknya tidak dipakai lebih dari 2 minggu, jika nyeri masih berlanjut, periksakan ke dokter. Antasid umumnya cukup poten untuk gangguan lambung yang masih ringan.

Jika antacid kurang manjur, bisa dikombinasi dengan obat yang bisa menghentikan produksi asam lambung yaitu golongan antihistamin H2, seperti simetidin dan ranitidin. Obat ini biasanya digunakan sebelum tidur dan sebelum makan.  Jika nyeri berlanjut, periksakan ke dokter.

  1. Obat anti alergi

Alergi bisa kambuh secara tiba-tiba, entah karena makanan atau lingkungan. Pada suasana lebaran yang biasanya berbeda dari biasanya, mungkin saja kita terkena paparan pemicu alergi sehingga alergi kambuh. Untuk alergi ringan seperti gatal-gatal atau ruam, dapat digunakan obat anti histamine yang dioleskan atau diminum. Obat yang bisa disediakan antara lain adalah CTM, cetirizine atau loratadin. Dua obat terakhir dapat dibeli di Apotek dengan resep dokter.

  1. Obat-obat lain

Obat-obat lain yang perlu disiapkan antara lain minyak gosok, obat oles (sesuai dengan kebiasaan masing-masing), plester penutup luka, dan obat antiseptik untuk luka.

Tips membawa obat dalam perjalanan

  1. Siapkan dompet atau kotak khusus untuk obat-obatan.
  2. Letakkan di tempat yang mudah dicari, tetapi cukup aman dari jangkauan anak-anak
  3. Letakkan di tempat yang teduh, jangan terkena panas langsung dari matahari atau mesin kendaraan.
  4. Jika perlu, untuk masing-masing oba dimasukkan dalam kantung sendiri dan diberi tulisan identitas obat dan untuk obat apa.

 Demikian beberapa obat yang perlu disiapkan selama libur lebaran., Semoga Lebaran Anda tetap nyaman tanpa gangguan. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.





Waspadai bahayanya tembakau Gorilla : seperti ditimpa gorilla?

29 01 2017

Dear kawan,

gorilaAdakah yg pernah merasakan sensasi ditimpa gorilla? Kira-kira sama ngga ya rasanya sama ditimpa beruang? Hehe….. si gorilla sekarang lagi naik daun dan tertuduh karena orang jadi suka ditimpa gorilla dengan cara menghisap tembakau Gorilla. Tapi benarkah memang ada hubungannya sama gorilla ? kok menurutku enggak yaa… itu adalah nama merk Tembakau (yang katanya) Super, yang biasanya dihisap sebagai rokok atau cerutu. Gara-gara mau diwawancara sebuah stasiun TV tentang tembakau gorilla, jadinya aku baca-baca lagi tentang tembakau yang lagi ngetop ini. Untuk melengkapi penjelasanku di TV (yg cuma tayang beberapa menit), aku coba menuliskan lagi di Harian Tribun. Dan ini adalah versi webnya, dengan sedikit modifikasi.

Heboh Tembakau Gorilla

Belakangan ini media masa diramaikan dengan berita tentang Tembakau Gorilla.  Seorang pilot sebuah maskapai penerbangan nasional dikait-kaitkan dengan penggunaan tembakau Gorilla ketika dia kedapatan “mabuk” saat akan menerbangkan pesawat jurusan Surabaya – Jakarta. Juga baru-baru ini dikabarkan bahwa kepolisian telah menangkap sejumlah orang yang diketahui memasarkan tembakau Super Cap Gorilla lewat Instragram. Informasi di situs Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut bahwa tembakau ini dicampuri senyawa ganja sintetik. Benarkah? Artikel ini akan mengupas tentang apa itu tembakau gorilla dan bahayanya.

Isi tembakau Gorilla

Tembakau Cap Gorilla, mengandung cengkih, ekor singa, wild dagga

Tembakau Cap Gorilla, mengandung cengkih, ekor singa, wild dagga

Ada beberapa sumber informasi yang beredar di dunia maya yang menyebutkan bahwa tembakau gorilla itu berisi campuran tembakau, cengkih, daun tanaman Ekor Singa (Leonotis leonurus).  Informasi lain menyebutkan bahwa Tembakau Gorilla ini setelah dianalisis ternyata mengandung campuran ganja sintetis (senyawa yang dibuat di laboratorium), yang disemprotkan ke tembakau tersebut, yang menyebabkan efek melayang, euphoria, dll, seperti ganja.  Adapun senyawa yang dicampurkan itu adalah AB-pinaca, AB-Chminaca,  dan AB-Fubinaca, yang merupakan senyawa turunan ganja.  Bisa jadi isi tembakau Gorilla adalah 3 macam campuran di atas (tembakau, cengkih, dan daun ekor singa), bisa juga dicampur lagi dengan senyawa ganja sintetis. Artikel ini akan mengupas satu-persatu.

Tanaman Ekor Singa (Leonotis leonurus)

leonotisTanaman ini berasal dari Afrika selatan, namun bisa dijumpai juga pada daerah lainnya dengan iklim subtropis seperti Australia, Hawai, dan California. Ia merupakan tanaman semak dengan daun lebar yang bisa mencapai tinggi 2-3 m.  DI sana ia banyak tumbuh liar di bebatuan di padang rumput Afrika Selatan. Warna bunganya yang oranye terang sangat menyolok saat berbunga. Masyarakat Afrika Selatan menggunakan tanaman ini secara tradisional untuk mengobati berbagai penyakit, seperti TBC, diabetes, hepatitis, sampai diare. Beberapa penelitian melaporkan bahwa ekstrak air daun Ekor Singa memiliki efek anti radang,  penghilang rasa sakit, dan penurun kadar gula darah. Namun di samping efek-efek tersebut, tanaman ini memiliiki senyawa yang bernama leunorin, yang berefek menenangkan. Hal inilah yang menyebabkan daun dan bunga kering tanaman ini sering dipakai dengan cara dibakar dan dihisap seperti tembakau atau ganja, dan disalahgunakan sebagai obat “rekreasional”. Namun demikian, potensi memabukkan tanaman Ekor Singa ini dilaporkan lebih rendah daripada ganja, dan sering digunakan sebagai alternatif ganja karena ganja sudah dilarang. Karena itu sering disebut “wild dagga” atau semacam ganja liar.

Ganja sintetis

Tanaman ganja (Cannabis sinensis) sudah lama dikenal masyarakat sebagai tanaman yang dapat menyebabkan efek halusinasi, eforia, dll., yang menyebabkannya digolongkan sebagai senyawa terlarang karena sering disalahgunakan. Pada UU Narkotika no 35 th 2009, ganja digolongkan sebagai narkotika golongan 1, yaitu narkotika  yang  hanya  dapat digunakan  untuk  tujuan  pengembangan  ilmu pengetahuan  dan  tidak  digunakan  dalam  terapi,  serta mempunyai  potensi  sangat  tinggi  mengakibatkan ketergantungan.

Ganja mengandung beberapa senyawa aktif, antara lain yang paling penting adalah tetrahydro cannabinol (THC). THC bekerja pada reseptor kanabinoid yang menyebabkan efek-efek  menenangkan, menghilangkan rasa sakit, euphoria, halusinasi, dll. Ganja sintetis dikembangkan dengan meniru struktur kimia THC yang bekerja pada reseptor kanabinoid. Industri farmasi/kimia mengembangkan senyawa sintetis tersebut awalnya adalah untuk obat penghilang rasa sakit, seperti misalnya AB-Fubinaca yang dibuat oleh Industri Farmasi Pfizer. Namun obat-obat ini tidak pernah sampai dipasaran karena ternyata efek merugikannya ternyata lebih banyak. Senyawa-senyawa ini lebih banyak digunakan sebagai bahan peelitian. Namun demikian, orang-orang yang tidak bertanggung-jawab dapat mengedarkan dan memperolehnya untuk tujuan rekreasional dan disalahgunakan.

Apa bahayanya ganja sintetik?

ab-fubinacaObat-obat ganja sintetik seperti AB-pinaca, AB-chminaca, dan AB-fubinaca memiliki efek yang lebih poten daripada THC atau ganja alami. Demikian juga efek toksik/beracunnya lebih besar daripada ganja alami. Dibandingkan dengan ganja dan THC, efek samping yang terjadi sering jauh lebih parah,  termasuk tekanan darah tinggi, peningkatan denyut jantung, serangan jantung, agitasi, muntah, halusinasi, psikosis, dan kejang-kejang serta banyak lainnya. Enam belas kasus cedera ginjal akut akibat menggunakan ganja sintetik telah dilaporkan. Potensi yang lebih besar dan efek samping yang lebih parah dibandingkan dengan ganja ini disebabkan karena ganja sintetik ini mengikat reseptornya secara lebih kuat daripada ganja alami.   Sehingga dengan dosis yang sama dengan THC dan ganja alami sudah bisa mengaktifkan reseptor secara kuat sehingga efeknya juga lebih besar, termasuk efek sampingnya.

ab-chminacaMenurut hasil analisis BNN, tembakau Gorilla yang beredar di pasaran ternyata mengandung senyawa-senyawa tersebut. Senyawa sintetik tersebut bentuknya berupa serbuk yang kemudian dilarutkan dengan aceton atau alkohol kemudian disemprotkan pada daun-daunan tersebut, dikeringkan dan siap dikemas dalam bentuk kemasan herbal, yang dikenal sebagai Tembakau Gorilla. Sehingga menurut hemat penulis, tanpa harus dicampur dengan tanaman Ekor Singa-pun, jika tembakau biasa dicampur dengan ganja sintetik, efeknya sudah pasti bisa memabukkan sebagaimana halnya ganja. Apa hubungan efeknya dengan gorilla? Sepertinya sih tidak ada.. apalagi seperti ditimpa gorilla, yang menurut penulis tidak ada enaknya. Istilah Gorilla sendiri adalah merk dagang dari tembakau yang disebut sebagai tembakau super tersebut.

Terkait produk Tembakau Super Cap Gorilla, Badan POM telah menerbitkan Siaran Pers pada tanggal 12 Oktober 2015 dan telah dimuat di website Badan POM, dimana pada siaran pers tersebut diinformasikan bahwa hasil pengujian BNN terhadap produk Tembakau Super Cap Gorilla menunjukkan adanya kandungan senyawa kimia yaitu AB-CHMINACA yang termasuk jenis Cannabinoid Sintetis

Perlu kewaspadaan

Saat ini Tembakau Gorilla termasuk yang diawasi peredarannya karena dipastikan mengandung narkotika jenis ganja sintetik.. Sebagai bagian dari kewaspadaan dan untuk mencegah penyalahgunaan yang lebih luas, ganja sintetik seperti AB-pinaca, AB-chminaca, AB-fubinaca saat ini sudah termasuk dalam daftar senyawa narkotika Golongan 1 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan no 2 tahun 2017, sehingga peredarannya termasuk pelanggaran yang dapat diproses hukum dan dikenakan sanksi Pidana sesuai Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Masyarakat perlu mewaspadai adanya peredaran illegal tembakau Gorilla karena bisa merusak generasi muda. Jika menjumpai adanya penjualan tembakau Gorilla, sangat disarankan untuk melaporkan pada pihak yan berwajib.





Farmasi Klinik… riwayatmu dulu, dan perkembanganmu sekarang…

13 07 2016

Dear kawan,

clin farmBeberapa waktu belakangan ini muncul diskusi-diskusi hangat antara pembagian peran dokter dan apoteker. Sempat ada pula yang menyebut bahwa penyebabnya adalah “farmasi klinik”, yang membuat apoteker jadi “ikut-ikutan” berhubungan langsung dengan pasien. Bukannya apoteker itu pekerjaannya cuma ada di balik etalase obat ? begitu pendapat sebagian. Bahkan sebagian apoteker masih ada yang berpendapat bahwa Apoteker adalah tenaga kesehatan, tetapi bukan kategori jenis tenaga medis. Sehingga Apoteker tidak berhubungan langsung dengan pasien terkait dengan proses penyembuhan penyakit….

Well, tentu kesimpangsiuran pendapat ini perlu diluruskan… Dan mau tak mau perubahan paradigma apoteker menjadi berorientasi pasien harus dijelaskan lagi, yang mana kemudian dikenal dengan istilah Farmasi Klinik. Mungkin sebagian masyarakat termasuk tenaga kesehatan banyak yang masih awam dengan istilah farmasi klinik. Tulisan ini adalah re-writing tulisanku tahun 2008 yang mencoba menguraikan sejarah munculnya Farmasi Klinik, yang mulai muncul di tahun 1960-an di Amerika. Riwayat detail perkembangan farmasi klinik di Amerika dapat dilihat di sini : https://pharm.ucsf.edu/history-cp/1965-1972   di mana salah satu pioneernya adalah School of Pharmacy UCSF.

Salah satu penerus “gerakan” Farmasi Klinik di Amerika adalah ibu Koda Kimble, yang pernah menjadi Dekan pada School of Pharmacy University of California di San Francisco) pada tahun 1998 – 2012.  Menurut beliau,  praktek apoteker di Amerika pada saat itu (1960-an) bersifat stagnan. Pelayanan kesehatan sangat berpusat pada dokter. Kontak apoteker dengan pasien sangat minimal. Ada istilah yang digunakan beliau untuk menggambarkan lulusan farmasi pada saat itu yaitu : Over-educated, Underutilized, Apathetic, Isolated, Inferiority complex. Itu keadaan di Amerika tahun 1960-an. (Lho…kok mirip seperti keadaan di Indonesia sekarang ya……. hehe.. pliss deh!… Mudah-mudahan enggak lah.) Karenanya, para pioneer Farmasi Klinik saat itu memunculkan suatu wacana baru untuk pekerjaan kefarmasian. Upaya-upaya awal yang akan dilakukan adalah:

Focus on the Patient

  • Pharmaceutical centers
  • Patient record systems
  • OTC counter-prescribing
  • Counseling on prescription drugs
  • Emergence of continuing education

Therapeutic approach

Pathophysiology

Symptom management

Tapi saat itu wacana itu juga tidak mudah diterima. Mengapa? Belum ada role model!

Tapi para pioneers tersebut tidak mudah menyerah. Pada tahun 1965, farmasis di UCSF mengusulkan suatu proposal ke pimpinan rumah sakit sbb:

  • School will establish a staff “Drug Stations” on the hospital wards
  • Will relieve nurses of certain drug-related duties
  • Will make it possible for the physician, if he so wishes, to discuss drug usage with the pharmacist at the time the decision is being made
  • Will provide students with experience in applying classroom knowledge to practical aspects of drug usage in therapeutic situations

Seperti apa kesan-kesan yang muncul  ketika program ini pertama kali dilaksanakan?

Bu Koda Kimble menggambarkan sebagai berikut :

  • Physician confusion

Pharmacist presence on the wards

Pharmacist intrusion on drug prescribing

Dokter-dokter agak bingung, “ lho… kok apoteker masuk ke bangsal-bangsal?” Kok apoteker ikut campur urusan peresepan obat ya ?”

  • Nurse enthusiasm

Quick access to medicines

Pharmacist drug expertise

Tapi para perawat malah senang dan antusias, karena mereka bisa lebih cepat mendapatkan pelayanan obat, sudah siap pakai lagi, karena disiapkan oleh apotekernya. Perawat juga merasakan bahwa urusan obat memang keahliannya apoteker, jadi mereka bisa lebih focus pada perawatan pasien.

  • Pharmacist exhaustion

Long hours, rapidly expanding roles, new knowledge

“Continual mental pressure to perform at a very high level at all times.”

Tapi apotekernya lumayan kecapekan….. waktu kerjanya jadi lebih lama, perannya jadi bertambah dan berubah dengan cepat, perlu pengetahuan baru. Selain itu juga terdapat semacam tekanan mental juga, karena mereka mesti berada pada kondisi prima dalam pelayanan. Mesti siap setiap kali dibutuhkan.

  • Visitors dubious

Impressed

An “ivory tower” phenomenon

Pasien atau pengunjung masih ragu-ragu, tapi mereka terkesan. Apoteker yang semula seperti ada di “menara gading” kini mulai turun ke bumi……

Singkat cerita, setelah melalui perjuangan yang berdarah-darah, maka kini profesi apoteker mendapat tempat yang sangat layak di sana. Dan “gerakan” farmasi klinik ini makin menyebar luas ke berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Sayangnya, nampaknya wacana farmasi klinik ini belum banyak dipahami, apalagi diterima, oleh sebagian dokter. (walaupun alhamdulillah, aku mengenal beberapa dokter yang sangat kooperatif dan bisa menerima farmasi klinik).  Mereka memandang apoteker tidak perlu ikut-ikut campur menemui pasien. Apalagi turut dalam proses terapi. Persis deh..kayak dokter-dokter jaman dulu di Amerika hehe…… (jadi kayaknya kita nih hidup seperti keadaan di AS 50-an tahun yang lalu…). Tapi tentunya apoteker juga harus introspeksi….   jangan berharap dokter bisa segera menerima keberadaan apoteker, kalau performa apoteker sendiri masih meragukan….. jangan-jangan apotekernya sendiri  juga belum siap berubah dan mengambil peran baru yang lebih signifikan dalam pelayanan pada pasien. Atau sebaliknya, ada sebagian dokter menjadi gerah karena apotekernya kepedean dan kebablasan menangani pasien…  Haloo, bagaimana nih sejawat ??

Nah, seperti yang sering disebut-sebut, maka filosofi pelayanan farmasi klinik adalah “pharmaceutical care” (asuhan kefarmasian). Care itu bisa berarti peduli….. artinya, seorang apoteker mesti  peduli dan penuh empati pada pasien, sehingga pasien bisa merasakan manfaat keberadaannya. Asuhan kefarmasian ini sebenarnya bisa dilaksanakan di mana-mana, di RS, apotek, atau di tempat lain. Yang perlu dipahami adalah apoteker dan dokter memiliki kewenangan masing-masing, yang bertujuan sama mulianya yaitu untuk mendapatkan outcome terapi yang optimal bagi pasien. Perlu kehati-hatian untuk tidak sampai seperti “berebut wewenang dan berebut lahan”, karena semuanya memang memiliki persamaan sasaran yaitu  pasien. Sebaiknya bisa mengubah mindset menjadi “berbagi risiko dan tanggung-jawab” sekaligus berbagi rezeki… hehe...

Dalam hal peran apoteker bagi pasien, aku punya sedikit cerita… Suatu hari beberapa tahun lalu, seorang mahasiswa bimbingan thesisku, bu Nurjanah namanya, datang menemuiku untuk konsultasi thesisnya. Ia mahasiswa Magister Farmasi Klinik UGM yang berasal dari Sulawesi Tenggara. Oya, thesisnya mengambil topik Kajian penggunaan obat antihipertensi pada pasien jantung di sebuah RS di Kendari. Waktu konsultasi thesis, sempatlah dia ngobrol tentang pengalamannya selama mengerjakan thesis. Katanya, gara-gara dia mengerjakan thesisnya, ia malah sekarang jadi laris dicari pasien untuk konsultasi obat hehe…. Ceritanya, dalam mengambil data, ia langsung mewawancarai pasien. Suatu kali ada pasien subyek penelitiannya yang mengeluhkan bahwa setelah mengkonsumsi sekian macam obat antihipertensi, kok sekarang “ayam jagonya” jadi ngga bisa berkokok lagi, alias impoten. Pasien itu menduga bahwa ada salah satu obat  yang menyebabkan impotensi tadi, dan ia pun berkonsultasi pada apoteker kita tadi, bagaimana jika ia menghentikan obat tersebut, boleh apa tidak. Bu Nurjanah lalu memeriksa macam obat-obat yang diterima pasien, dan ternyata memang ada sejenis antihipertensi golongan beta bloker yang memang sering dilaporkan menyebabkan impotensi. Beliau menyarankan kepada pasien utk berkonsultasi ke dokter, bagaimana jika mengurangi dosis obat tersebut. Apa yang terjadi ? Seminggu kemudian, sang pasien menemui ibu kita tadi dengan sumringah, dan katanya, “Terimakasih, bu…. saya sekarang sudah hidup lagi…”   hehe……

Aku rasa, ini adalah salah satu bentuk pelayanan kefarmasian yang bisa bermanfaat bagi pasien. Aku turut bangga, teman-teman sejawat sudah mulai banyak menggunakan ilmunya untuk membantu pasien, yang pada gilirannya akan memberikan kesan positif terhadap keberadaan apoteker. Dan apoteker di Sulawesi Tenggara bolehlah dicontoh semangatnya, katanya saat ini sedang memperjuangkan untuk mendapatkan insentif dari Gubenur dengan besaran yang sama dengan dokter dan dokter gigi, tentunya setelah kinerjanya memberikan asuhan kerfarmasian dirasakan gunanya. Dan satu hal lagi… Kepala Dinas Kesehatannya apoteker loo…!  Jadi, siapa bilang apoteker tidak diperlukan lagi ?

Kaitannya dengan peranan farmasis klinik dalam menghemat biaya pengobatan pasien, aku juga punya cerita lain. Tapi kali ini berasal dari penelitian sejawat, yaitu bu Fita. Penelitiannya menjumpai bahwa ternyata banyak “unnecessary drug therapy” yang dijumpai di RS. Oya, untuk menentukan bahwa suatu obat benar-benar diperlukan pasien atau tidak, beliau bekerja sama dengan klinisi (dokter) senior untuk meng-assess, yaitu dengan mengamati kondisi medis riil pasien dan mengecek obat-obatan yang digunakan. Dan begitulah…. ternyata banyak obat yang diresepkan yang sebenernya tidak benar-benar diperlukan, dan jika itu dikonversi ke biaya, tenyata banyak biaya-biaya pemborosan yang mungkin memberatkan pasien. Kalau saja farmasi kliniknya sudah aktif, dokternya mau bekerja sama dengan apoteker dalam proses  terapi pasien, mungkin akan banyak biaya-biaya yang bisa dihemat. That’s still a dream…… I hope it will come true….

O,ya… paragraf bagian sini adalah iklan hehe…… Sebagai Ketua Program Studi Magister Farmasi Klinik UGM, kami mengundang sejawat untuk sama-sama menambah bekal ilmu dan meningkatkan ke-pede-an dengan belajar di Magister Farmasi Klinik UGM, supaya nanti bisa lebih pede dan profesional dalam menjalankan pekerjaan kefarmasiannya.  Di era akreditasi RS versi JCI, peran apoteker klinis semakin dibutuhkan. Mereka wajib turut mengases pasien sesuai dengan kompetensinya dalam hal obat. Jangan sampai kesempatan untuk berperan tadi menjadi kontraproduktif ketika apoteker salah dalam menjalankannya karena kekurangan ilmu. Farmasis klinik, gitu loh…… !!  Kita akan bersama-sama mendorong gerbong pharmaceutical care di Indonesia…  Bismillah.. semoga Allah meridhoi… Amiin





Mengapa orang bisa kecanduan NAPZA?

23 05 2016

Dear kawan,

seandainya waktu sehari bisa lebih dari 24 jam, pastilah blog ini bisa lebih terawat. Sebenarnya sedih juga membiarkannya kosong sekian lama, tapi memang akhirnya harus membuat skala prioritas untuk berbagai pekerjaam yang ada, termasuk pekerjaan domestik di rumah. Dan maaf yah... blog ini masuk di nomor buncit dari daftar prioritas…

Okay, baiklah… tidak usah mendayu-dayu… langsung saja deh kalau mau menulis hehe…. Postingan kali ini adalah re-publish dari tulisanku di Harian Tribun hari Minggu tanggal 22 Mei kemarin, dengan slight modification. Tulisan ini berangkat dari keprihatinan mengapa berita tentang jatuhnya sekian banyak korban miras masih saja terulang…. juga berita artis ini atau pejabat itu yang terlibat penggunaan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lain)… Dan tentu saja itu hanyalah fenomena gunung es di mana kasus yang sebenarnya jauh lebih banyak dari yang diberitakan. Kebetulan pula beberapa waktu yang lalu aku diundang oleh Subdit Pengawasan Prekursor, Direktorat Pengawasan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif BPOM untuk menjadi narasumber dalam sebuah pertemuan di Pontianak, di mana aku diminta berbicara tentang farmakologi dari obat-obat yang sering disalahgunakan. Dan tau tidak kawan… karena narkotika dan psikotropika sudah makin ketat pengawasannya, para abuser mencoba mencari obat-obat lain yang disalahgunakan, yaitu tramadol, haloperidol, amitriptilin, triheksifenidil dan klorpromazin. Miris bukan? Obat-obat ini sekarang digolongkan menjadi Obat-obat Tertentu (OOT) yang harus makin diperketat pengawasannya.

Mengapa sih orang susah lepas dari jeratan NAPZA ketika sudah terperangkap ke dalamnya?  Mereka mencoba menggunakan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan barang haram itu demi memenuhi kebutuhannya. Sekalinya mereka terperangkap dalam cengkeraman NAPZA, nampaknya sulit sekali untuk keluar dan hidup normal. Mengapa ya orang-orang yang jatuh dalam kubangan NAPZA seringkali kesulitan untuk menghentikan kebiasaannya walaupun tahu dampak buruknya? Itulah yang namanya “kecanduan” atau adiksi.   Tulisan ini mencoba mengupas dari aspek kesehatan, apa yang terjadi dengan otak manusia ketika sudah dipengaruhi NAPZA.

Alasan pertama kali mencoba NAPZA

Banyak  macam alasan orang untuk pertama kalinya mencicipi NAPZA. Mulai dari yang karena penasaran, karena ajakan teman, untuk bersenang-senang,  untuk meningkatkan stamina, supaya percaya diri, sampai untuk melarikan diri dari masalah hidup. Alasan ini sangat bervariasi antar individu. Sebenarnya penggunaan pertama ini tidak serta merta menyebabkan penyalahgunaan, dan tidak ada batasan tertentu sampai sebanyak apa penggunaan miras atau NAPZA bisa menyebabkan masalah kecanduan. Tidak semua pengguna miras akan berkembang menjadi pecandu alkohol, demikian pula pengguna NAPZA. Masalahnya bukan pada jumlah atau frekuensi penggunaan, tetapi pada efek obat dan alkohol didalam tubuh seseorang. Sehingga, meskipun hanya mengkonsumsi sedikit, sebagian pengguna alkohol atau NAPZA dapat berkembang menjadi pecandu dan penyalahguna obat.

Kecanduan adalah masalah di otak

Orang sering berpikir bahwa penyalahgunaan obat atau miras adalah sekedar masalah sosial atau budaya akibat iman dan moral yang lemah. Dan sebagian dari masyarakat juga yakin bahwa sebenarnya hanya perlu kesadaran dan kehendak yang kuat untuk bisa keluar dari jeratan NAPZA. Namun sebenarnya masalahnya tidaklah sesimpel itu. Mengapa? Karena masalah kecanduan dan penyalahgunaan adalah suatu proses yang mempengaruhi kerja otak. Obat dan miras dapat mempengaruhi kerja otak sehingga menghentikan kecanduan obat dan miras bukan lagi hanya masalah kemauan. Seringkali diperlukan perlakuan dan pengobatan khusus untuk membantu orang berhenti dari kecanduan dan dapat melanjutkan kehidupan yang produktif.

Apa definisi Kecanduan Obat?

drug addictionKecanduan obat adalah suatu penyakit otak kronis yang bersifat kambuhan di mana penderita akan terdorong untuk mencari obat/alkohol dan menggunakannya, meskipun mengetahui bahayanya. Kecanduan obat digolongkan sebagai penyakit otak karena penyalahgunaan obat/alkohol dapat mempengaruhi struktur dan fungsi otak. Jadi, walaupun benar bahwa keputusan pertama kali penggunaan NAPZA adalah sukarela dengan berbagai alasan di atas, tapi lama-lama ketika NAPZA makin sering digunakan, ia akan mempengaruhi otak sehingga pengguna akan kehilangan kontrol diri dan kemampuan membuat keputusan dalam hal menggunakan NAPZA, dan bahkan akan  otak akan membuat dorongan yang kuat untuk menggunakan NAPZA.

Apa yang terjadi pada otak ketika menggunakan NAPZA?

Golongan NAPZA adalah senyawa kimia yang dapat masuk dan mempengaruhi system komunikasi di otak dan dapat mengganggu aktivitas sel syaraf untuk mengirim, menerima dan memproses informasi secara normal. Ada sedikitnya dua cara di mana obat-obat dan alkohol melakukan hal ini. Yang pertama adalah mereka bertindak menyerupai senyawa alami di otak yang disebut neurotransmitter, yaitu senyawa penghantar pesan di otak. Yang kedua, obat/alkohol dapat mempengaruhi “ reward system di otak dengan meningkatkan aktivasi dari sistem reward.

Sistem reward adalah satu system di otak yang mengatur rasa senang, sehingga ketika diaktifkan kita merasa senang, dan ingin mengulang dan mengulang lagi. Peristiwa ini melibatkan mesolimbic reward pathway  yaitu jalur terdiri atas neuron dopaminergik yang berasal dari Vental Tegmental Area (VTA)   menuju ke nucleus accumbens  (NA) dan diteruskan ke otak bagian  prefrontal cortex. Sistem ini memerlukan keberadaan neurotransmitter dopamin untuk mengaktifkannya.

Reward pathway yang melibatkan jalur dopaminergik

Reward pathway yang melibatkan jalur dopaminergik

Banyak hal yang bisa mengaktifkan system reward di otak. Stimulus alami bagi system reward adalah makanan, minuman, sex, kasih sayang, semua ini menyebabkan rasa nyaman dan senang. Kita tidak pernah bosan dengan makan, minum, kasih sayang, dan selalu ingin mengulangi dan mengulang lagi untuk mendapatkannya. Obat-obat NAPZA dan alkohol juga dapat mengaktifkan system reward di otak dengan berbagai mekanisme.

Ganja dan heroin misalnya, memiliki struktur yang mirip dengan senyawa alami di otak yaitu endorphin, sehingga bisa mengaktifkan reseptornya di otak dan “mengakali” otak sehingga mengirim pesan yang abnormal ke system reward, sehingga membuat perasaan senang.  Obat lain seperti kokain dan Ecstassy, bekerja dengan cara meningkatkan pelepasan neurotransmitter dopamine dan serotonin dari ujung saraf, dan mencegah kembalinya neurotransmiter ini ke saraf. Hal ini menyebabkan peningkatan kadar neurotransmitter yang berlebih di tempat aksinya dan mengaktifkan system reward.

Hampir semua obat golongan NAPZA yang sering disalahgunakan, termasuk alkohol (dan bahkan rokok – nikotin), bekerja secara langsung maupun tidak langsung mengaktifkan system reward dengan meningkatkan ketersediaan dopamin di otak. Dopamin adalah satu jenis neurotransmitter di otak yang bekerja mengontrol gerakan, emosi, motivasi, dan perasaan senang. Stimulasi yang berlebihan pada system reward, yang normalnya adalah berespon terhadap stimulus alami  menghasilkan efek euphoria ketika menggunakan NAPZA. Reaksi ini kemudian membentuk suatu pola di otak yang mendorong orang untuk melakukan dan melakukan lagi perilaku ini (penggunaan NAPZA) untuk memperoleh kesenangan.

Sebagian besar NAPZA bekerja meningkatkan kadar dopamin otak

Sebagian besar NAPZA bekerja meningkatkan kadar dopamin otak

Jika orang tersebut terus menerus menggunakan NAPZA, maka otak akan beradaptasi terhadap keberadaan dopamin yang tinggi dengan cara mengurangi produksi dopamin atau mengurangi reseptor dopamin. Hal ini menyebabkan pengguna NAPZA berusaha untuk terus menggunakan NAPZA untuk menjaga agar fungsi dopamin kembali ke “normal”, atau berusaha menambah dosis NAPZA untuk mencapai kadar dopamin yang tinggi untuk mencapai “tingkat kesenangan” yang diinginkan. Tidak jarang pula mereka mencoba jenis NAPZA yang lain dan dicampur dengan alkohol dan aneka tambahan lain untuk mendapatkan efek kesenangan yang diharapkan.

Penggunaan yang terus menerus akan menyebabkan perubahan pada system dan sirkuit di otak. Penelitian menunjukkan bahwa pada penderita kecanduan NAPZA terjadi perubahan area di otak pada bagian yang mengatur kemampuan menilai, pengambilan keputusan, belajar dan mengingat serta control perilaku. Bersamaan dengan itu, perubahan fungsi otak ini juga mendorong pengguna untuk mencari dan menggunakan obat terus menerus, yang kita kenal dengan istilah kecanduan obat atau adiksi obat. Mereka tidak mempedulikan lagi bahayanya jika terjadi overdosis maupun efek-efeknya terhadap organ tubuh lainnya, bahkan sampai kematian pun mereka tidak pikirkan. Jika mereka tidak mendapatkan obat, tubuh mereka akan “sakaw” karena pada saat tidak mendapat obat, otak mereka akan kekurangan dopamin sehingga  mengakibatkan berbagai gejala fisik maupun psikis. Hal ini yang menyebabkan mereka terus terdorong untuk mendapatkan obat bagaimanapun caranya. Manifestasi “sakaw” dari masing-masing obat berbeda tergantung dari jenis obatnya.

Mengapa sebagian orang bisa kecanduan dan yang lain tidak?

Tidak ada faktor tunggal yang bisa memprediksi apakah seseorang akan mengalami kecanduan NAPZA atau tidak. Risiko terjadinya kecanduan dipengaruhi oleh sifat biologis orang itu sendiri, kondisi sosial ekonomi, lingkungan sosial, dan usia atau tahapan perkembangan. Semakin banyak faktor risikonya, semakin besar kemungkinan seseorang menjadi pencandu.

Faktor biologi. Tidak bisa dipungkiri, faktor genetik yang dikombinasi dengan pengaruh lingkungan, merupakan penentu dari separuh kerentanan seseorang terhadap kecanduan obat. Selain itu, jenis kelamin, etnik, dan adanya gangguan kejiwaan lain bisa mempengaruhi risiko terjadinya penyalahgunaan obat dan kecanduan

Lingkungan. Lingkungan keluarga dan teman sampai status sosial ekonomi dan kualitas hidup adalah beberapa faktor lingkungan umum yang bisa mempengaruhi kejadian kecanduan obat. Faktor lain yang khusus antara lain adalah tekanan dari teman, stress, pola asuh orangtua, dll.

Tahap perkembangan. Semakin dini usia seseorang menggunakan NAPZA untuk pertamakalinya, makin mungkin berkembang untuk menjadi kecanduan yang serius. Dan karena otak remaja itu masih dalam kondisi perkembangan, maka remaja paling berisiko untuk menjadi pencandu.

Bagaimana pengatasan kecanduan NAPZA?

Pada tahap tertentu, kecanduan NAPZA perlu mendapatkan penatalaksanaan yang tepat. Sebagian besar diawali dengan detoksifikasi dan terapi terhadap kondisi “sakaw” jika diperlukan. Detoksifikasi adalah suatu proses dimana tubuh membersihkan diri dari obat, dan perlu diatur secara khusus untuk mencegah efek-efek fisiologis akut yang mungkin terjadi ketika obat dihentikan tiba-tiba.   Proses detoksikasi kadang memerlukan obat-obat tertentu untuk mengatasi gejala-gejala putus obat yang kadang juga berbahaya bagi penderita. Gejala putus obat heroin misalnya akan diatasi dengan metadon. Gejala putus obat diazepam bisa diatasi dengan lorazepam. Tatalaksana ini harus dilakukan di bawah pengawasan dokter yang kompeten, dan dilakukan di tempat pelayanan kesehatan yang sesuai. Setelah itu, detoksifikasi harus dilanjutkan dengan suatu penilaian terhadap kondisi pasien dan tatalaksana terhadap kecanduan.  Program mengatasi kecanduan juga melibatkan terapi perilaku dan terapi lainnya yang mendukung. Hasil yang diharapkan adalah penderita dapat berhenti menyalahgunakan NAPZA, bisa bertahan bebas NAPZA dan hidup normal dengan lebih produktif.

Pencegahan adalah Kunci Utama

Dari uraian di atas, kita dapat memahami bahwa mengapa tidak mudah orang lepas dari jeratan NAPZA ketika mereka sudah terperangkap di dalamnya, karena NAPZA memang bisa mengubah kemampuan seseorang untuk berpikir dan mengambil keputusan. Namun demikian, kecanduan NAPZA adalah penyakit yang bisa dicegah. Karena itu, program pencegahan menjadi kunci utama. Perlu terus menerus dilakukan kampanye-kampanye pencegahan penyalahgunaan NAPZA untuk mengurangi semakin banyaknya kasus-kasus kecanduan NAPZA. Penelitian telah menunjukkan bahwa program pencegahan yang melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan media cukup efektif dalam mengurangi penyalahgunaan NAPZA. Meskipun banyak peristiwa dan faktor budaya mempengaruhi tren penyalahgunaan NAPZA, ketika pemuda menganggap penyalahgunaan NAPZA adalah berbahaya, diharapkan mereka mengurangi penggunaan obat mereka atau bahkan tidak mau mencoba memulainya.

Jadi, JANGAN SEKALI-SEKALI MENCOBA JIKA TIDAK INGIN TERJERAT NAPZA.. !!