Anesthesia awareness..

18 05 2010

Dear kawan,

Film Awake

Pernah nonton film “Awake” besutan Joby Harold tahun 2007? Film itu mengisahkan tentang seorang yang harus menjalani operasi transplantasi jantung di bawah pengaruh obat bius, tetapi tersadar pada saat operasi berlangsung tanpa bisa bergerak atau bicara. Serunya, dia bisa mendengar semua percakapan yang terjadi selama dia dibius, dan menjumpai bahwa dokter yang sekaligus temannya ternyata memiliki rencana buruk terhadapnya !! Pastinya seru…. tapi tulisan ini bukan bermaksud membuat resensi film itu loh……!  Tulisan kali ini agak lain dari sebelumnya, yaitu mencoba mengangkat tentang peristiwa “anesthesia awareness”, yaitu tersadarnya pasien pada saat operasi di bawah pengaruh obat bius, sehingga ia bisa menyadari apa yang terjadi selama operasi. Sebenernya tulisan ini adalah request dari seorang mahasiswa pembaca blog ini setelah nonton film “Awake”. Kayaknya menarik juga, dan aku sendiri juga jadi pengen tau. Seperti apa ya?

Anestesia umum

Pada operasi-operasi besar yang membutuhkan ketelitian, ketepatan dan waktu lama, pasien umumnya mendapat anestesi umum untuk menghilangkan kesadaran dan rasa sakit. Anestesi umum yang modern menggunakan tiga golongan obat untuk memberikan efek pembiusan, yaitu: obat yang menyebabkan tertidur dan menghapuskan memori selama operasi (obat bius), obat yang melemaskan otot untuk mencegah kontraksi otot yang tidak diinginkan selama operasi (pelemas otot), dan obat penghilang rasa sakit yang kuat (analgesik kuat) seperti obat golongan morfin. Obat pelemas otot menyebabkan pasien tidak bisa bergerak, termasuk tidak bisa bicara, atau bahkan bernafas, sehingga seringkali dibantu dengan alat bantu pernafasan.

Nah, walaupun telah diberi anestesi dengan perhitungan yang teliti dari dokter ahli anestesi, dilaporkan 1-2 dari 1000 orang mungkin mengalami “anaesthesia awareness”, yaitu tersadar selama pembiusan, dengan berbagai tingkatan. Ada yang tersadar penuh, setengah tersadar, atau hanya sedikit tersadar.

Ada beberapa bentuk kesadaran ini, antara lain:

Pasien sadar, dapat bergerak, tapi tidak merasakan sakit. Pasien semacam ini mungkin mendapatkan analgesik yang cukup, tetapi kurang cukup obat untuk melemaskan otot dan obat biusnya.

Pasien sadar, tapi tidak bisa bergerak atau berteriak, dan tidak merasakan sakit. Pasien ini mungkin mendapatkan obat analgesik dan pelemas otot dengan dosis yang cukup, tetapi kurang dalam obat biusnya.

Yang paling mengerikan buat pasien adalah jika pasien sadar, merasakan sakitnya operasi, tetapi tidak bisa bergerak atau berteriak, atau mengerjakan apapun. Ini dapat disebabkan karena kurangnya dosis analgesik dan obat biusnya, tetapi cukup mendapatkan pelemas otot. Ini  merupakan situasi yang cukup mengerikan dan kadang membuat trauma pasien terhadap operasi. Mestinya keadaan seperti ini bisa segera disadari oleh dokternya, tapi kadang2 karena pasien tidak bisa bereaksi, maka hal ini tidak disadari dan pasien akan sangat menderita. Selain itu, fungsi otak pasien yang tersadar ini umumnya abnormal karena di bawah pengaruh anestesi, dan ketambahan lagi dengan efek dari obat-obat lain, maka seringkali dapat menimbulkan efek-efek yang aneh seperti seolah-olah jatuh ke dalam neraka, merasa  jiwanya keluar dari badannya, atau merasa akan mati.  

Jiwa keluar dari tubuh?

Seorang dokter menceritakan pengalaman seorang pasiennya, wanita muda yang menjalani operasi hidung. Si pasien merasa keluar dari tubuhnya selama operasi berlangsung, bahkan bisa menceritakan dengan tepat apa yang terjadi di meja operasi. Dia melihat tubuhnya tergeletak di atas meja operasi, seolah-olah dia berdiri di luar tubuhnya dalam posisi di sisi kanan dari kaki meja operasi. Dia menyadari bahwa dia yang terbaring di atas meja operasi, tapi tidak merasa ketakutan karena menyadari bahwa ia tampaknya berdiri di luar tubuhnya. Dia melihat dokter bedah sedang mengoperasinya, tetapi  ia merasa tidak di operasi, maupun merasa sakit karena operasi. Dia melihat asisten dokter bedah. Dia melihat asisten anestesi duduk di samping mesin anestesi yang terletak di sisi kiri tubuhnya. Dan dia mengatakan bahwa dia tidak bisa melihat wajah orang-orang ini.

Apa yang terjadi dengan wanita ini sebelum, selama, dan setelah operasi nya?

Dia sepenuhnya sadar ketika dibawa ke ruang operasi, setelah itu kemudian diberi anestesi umum. Tekanan darahnya, kandungan oksigen darah, detak jantung, serta konsentrasi oksigen, karbon dioksida, asam nitrat, dan gas-gas anestesi lain terus diukur. Dia tersadar dari anestesi umum setelah menyelesaikan operasi. Dia dibawa ke ruang pemulihan setelah dia sadar sepenuhnya. Dan di sana ia menceritakan bahwa ia merasa keluar dari tubuhnya selama operasinya. Tekanan darahnya, darah konsentrasi oksigen, dan konsentrasi karbon dioksida darah tetap normal sepanjang operasi. Tidak ada hal-hal yang aneh selama operasi. Tidak ada yang melihat jiwanya berdiri di samping meja operasi. Tubuhnya tetap di atas meja operasi selama operasi. Dia tidak bisa bergerak, bernapas, atau berbicara selama operasi, karena ia telah menerima obat yang benar-benar melumpuhkan hampir semua otot tubuh, dan ia dibantu oleh ventilasi mekanis dengan mesin pernafasan.

Kebetulan, tak lama sebelum berakhirnya operasi, efek dari semua obat yang ia terima sebagian memudar, sehingga ia membuat sedikit gerakan tangan dan kaki. Lalu  asisten anestesi segera memberikan tambahan obat bius, sehingga sebenarnya tidak ada alasan untuk mengira bahwa dia tersadar saat selama operasi. Dia hanya mampu berbicara setelah dia terbangun dari anestesi umum. Pengamatan yang dilakukan selama ia “keluar dari tubuhnya” semuanya benar. Bagaimana ini bisa dijelaskan?

Diketahui bahwa semua indranya berfungsi normal, dan inilah yang bisa menjelaskan pengamatannya. Jadi begini……. Ia sepenuhnya sadar ketika dibawa ke dalam, dan keluar dari ruang operasi, sehingga ia melihat orang-orang di ruang operasi, pakaian mereka, instrumen, dan mesin anestesi di sisi kiri dari meja operasi. Dia melihat semua hal sebelum dan setelah dioperasi. Dia rupanya sempat sadar untuk waktu yang singkat pada saat efek obatnya berkurang dan ia sempat menggerakkan tangan dan kakinya seperti disebutkan di atas. Tetapi pada saat itu, otak dan seluruh tubuhnya masih dipengaruhi oleh obat bius yang diterimanya. Jadi, dia tidak merasakan sakit dari operasi yang dijalani, dan juga tidak mampu berbicara dan memberitahu orang-orang apa yang terjadi pada saat itu. Pengaruh konsentrasi rendah anestesi umum dan obat pelemas ototnya menyebabkan otot spindle-nya berfungsi abnormal. Sedikit gerakan sewaktu efek obatnya berkurang  menyebabkan otot spindel-nya menghasilkan aliran signal pada saraf sensorik yang menginfomasikan mengenai gerakan, berat dan posisinya. Otaknya yang kurang berfungsi akibat obat anestesi akan menginterpretasikan bahwa dirinya berada di luar tubuhnya, serta menghasilkan suatu halusinasi autoskopik. Ketika dia sadar, ia mampu mengingat semua pengalamannya. Apa yang seolah-olah dilihatnya ketika ia keluar dari tubuhnya sebenarnya adalah memorinya ketika ia masih sadar di ruang operasi dan belum dibius.

Ada yang pernah mengalami demikian?

Begitulah sekedar cerita….. yang aku ambil dari http://www.anesthesiaweb.org/awareness.php. Mungkin ada manfaatnya.


Aksi

Information

18 responses

2 10 2014
candra

hahahahaha

25 02 2014
alvarisi

very very god

15 08 2011
production

I am happy to be reading this article, because according to my knowlegde .. thanks for sharing
best regards

14 06 2011
ceraproduction

penjabaran yang menarik🙂

23 04 2011
polobye

kalau menurut saya filmnya memang bagus.

27 03 2011
percetakan

salam..sukses selalu

27 03 2011
aqiqah

kayanya seruw neh:)

3 03 2011
tobing

ceritanya bagus dan saya sebagai petugas kamar operasi baru menyadari kalau ada kejadian seperti itu. terimakasih atas infonya

26 08 2010
Toba Pramudia

saya baru nnton filmnya, dan tertarik dengan anesthesia awareness …
terima-kasih atas informasinya …
salam hangat dari saya …

3 06 2010
rika

saya suka film nya bu…., soalnya yg maen cakep…

wkwkkk…. gk ada hubungannya ya bu ^_^

26 05 2010
kedaiobat

anestesia, huhh! Hipnotis! salam kenal dengan apoteker baru asal jakarta bu..

disini ada tips membuat apotek, bagi apoteker baru yg butuh info.. trims

Persiapan membuka apotek baru

20 05 2010
Diah Retno W

Ya saya langganan operasi 1) usus buntu 2) Amandel 3) uci-uci (kelenjar tumbuh d leher)..pengalaman pertama dan kedua pembiusan kurang manusiawi..la hidung dibekep..tp alhamdulillah lancar dan tidak tjd spt diatas…yg pengalaman ngeri yg terakhir…tyt sy melanggar tidak puasa..lalu setengah sy hampir sadar kok ada suara gemuruh..tyt itu mesin nyedot cairan di paru2ku…betul2 sakit…jd krn bbrp kali pembiusan sy agak ‘imun’ (bener gak to?)..krn stlh itu sy dibius suntik ktk may dicabut, dokter giginya smp bingung ni kok gak mati2 rasa..pdhl bolak balik ditambah terus..hehe..tp overall alhamdulillah tidak terjd spt yg dicrtkn di atas..coss dokternya dr TNI AD..(lah apa hubungannya)..scr py hubungan dinas n baik sm bapak sy..

Jawab:
makasih buat share ceritanya, Mbak…. tapi memang pengalaman operasi orang sangat bervariasi

20 05 2010
shinichilover

Asw…

thanks 4 share, lam kenal prof!

^_^

20 05 2010
Ramona

Infonya sangat bagus bu.. Saya juga pernah nonton film ini dan memang timbul pertanyaan.. Terimaksih info yang sangat berharga ini..🙂

ramonesblog

^_^

19 05 2010
Nurul Latifah

bu, saya juga ingin berbagi kisah
ponakan saya ketika usia 2 tahun nan menjalani operasi pengangkatan hemangioma di telapak tangannya
tapi ketika operasi hampir selesai, tiba2 dia tersadar dan menangis
akhirnya segera dijahit, jadi belum tuntas
yang akibatnya sekarang sudah tumbuh lagi meskipun secara perlahan
kata dokter, dosis nya sudah tepat hanya saja otak nya sangat kuat sehingga sadar lebih cepat dari yang diperkirakan
nah, sekarang dia sudah usia 7 tahun
dia trauma dengan operasi, bahkan mendengar kata operasi aja kadang dia nangis takut hemangioma nya dioperasi lagi. apa itu juga disebut anesthesia awareness??

Jawab:
Mungkin bukan ya, kayaknya ini lebih dikarenakan efek obat anestesinya habis sebelum operasi selesai. Dia masih bisa nangis kan? Tapi jelas sekali bahwa hal ini memang bisa meninggalkan trauma buat yang pernah mengalaminya…

19 05 2010
darmanto

Bu Prof, tentang fenomena “jiwa keluar dari tubuh”
ini kisah nyata adik saya sendiri.
saat di operasi (tulang hastanya retak/patah karena membentur besi). Dia melihat semua kejadian (persis spt yg diuraikan di atas), tapi angle view-nya adalah seolah2 dia berada di atas, nempel di plafon ruang operasi, dibagian pojok. bila memory itu didapatkan suatu saat “sebelum” dan “sesudah” operasi, mengapakah dgn “gambar” dalam posisi yg demikian?
apakah memang itu benar2 “jiwa” yg keluar ? Wallahu’alam ….

Jawab:
Wallahu alam, tapi itu bisa juga suatu bentuk halusinasi…. mungkin loh..

18 05 2010
Niken Feladita Santoso

saya udah nntn film ini,,bu,,,
awalnya saya pikir film ini emang pure rekaan sutradara yang gak bs dijelaskn secara ilmiah..tapiii…setelah saya baca blog ibu..saya jadi tau apa yang sebenernya terjadi pada pasien…
terima kasih atas infonya,,ibu…^^b

18 05 2010
Afree Rauf

Ngeri juga membacanya Bu, membayangkan bgm seandaix sy mengalami hal spt itu. Sy punya pengalaman 2 kali menghadapi operasi tulang belakang. Operasi kedua yg membuat sy tak sadarkan diri di meja operasi selama 7 jam…
Tp beruntung krn tdk mengalami hal2 spt yg Ibu sampaikan ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: