Pre-menstrual syndrome

27 02 2009

pms2Dear para wanita,

Pernah merasa melankolik gitu…., gampang sedih, discouraged, nelangsa, juga emosional ? Cepet marah sama anak-anak, sensitif, kecil hati, dll… ? Semingguan yang lalu aku merasakan rasa-rasa seperti itu. Malah hari Senin lalu tiba di kantor masih agak-agak error gitu. Sampai-sampai ketika bikin kopi di kantor, sudah dikasih gula pasir, masih aku tambah dua sachet lagi pemanis buatan. Dalam pikiranku, itu sachet creamer….! Waduh, bisa dibayangkan rasanya pasti manis banget…… Tauk deh, pikiranku melayang kemana waktu itu……

Tapi rasa yang terlalu manis itu justru jadi membangunkan aku ….. “Hai, what’s wrong with you ?!” Lalu kepala yang terasa agak berat ikut mengingatkanku…..,”Wah, iya nih….. jangan-jangan lagi kena PMS ..”. (biasanya menjelang haid kepalaku suka pusing-pusing dikit).

Apa sih PMS itu?

PMS adalah singkatan dari pre-mestrual syndrome, yaitu suatu kumpulan gejala (sindrom = kumpulan gejala) yang meliputi gejala fisik, mental, dan perilaku, yang terkait erat dengan siklus menstruasi pada wanita. Secara defisini, maka gejala-gejala ini terjadi beberapa hari sebelum hari H menstruasi. Biasanya gejala ini hilang sendiri pada hari pertama atau kedua haid. Sampai 80 % wanita mungkin mengalami PMS, dan bentuknya sangat bervariasi satu dengan yang lain. Bahkan antar siklus pun bisa bervariasi gejalanya pada seseorang. Menurut penelitian, PMS lebih banyak terjadi pada wanita usia 30-49 tahun. Bahkan pada wanita yang sudah mengalami operasi pengangkatan rahim, masih juga bisa mengalami PMS jika sedikitnya satu ovarium masih ada.

Sebagian lagi, 3-8 % wanita, mungkin mengalami gangguan yang lebih berat, yang disebut premenstrual dysphoric disorder (PMDD). PMS dan PMDD tidak sama. Wanita dengan PMDD dapat mengalami depresi sampai seminggu atau lebih sebelum menndapatkan haid, Sedangkan PMS, lebih pendek durasinya, lebih ringan, dan juga gejalanya lebih ke arah fisik. Seorang bisa mengalami PMS saja, atau PMDD, atau kedua-duanya.

Apa penyebab PMS ?

PMS terjadi pada fase luteal pada siklus menstruasi. Fase ini terjadi segera setelah sebuah telur dilepaskan dari ovarium, dan terjadi mulai dari hari 14 sampai hari ke 28 pada siklus menstruasi normal (hari pertama haid dihitung sebagai hari 1). Pada fase luteal ini, hormon dari ovarium menyebabkan lapisan rahim akan menebal dan membentuk seperti sponge. Pada waktu yang sama, telur akan dilepaskan dari ovarium. Jika saat itu ada hubungan seksual, maka telur dapat bertemu sperma yang masuk, dan telur yang sudah dibuahi ini akan menempel di lapisan uterus yang sudah menebal dan spongy tadi untuk tumbuh menjadi janin. Pada saat itu, kadar hormon progesteron akan meningkat, sebaliknya estrogen mulai menurun. Jika pada masa itu tidak ada hubungan seksual yang menyebabkan pembuahan, maka lapisan rahim yang sudah siap tadi menjadi “kecewa”, ….. dan luruh, menjadi darah haid. Pergeseran keberadaan hormon dari estrogen menjadi progesteron inilah yang menyebabkan beberapa gejala PMS.

Yang pertama, para ahli percaya bahwa perubahan kadar progesteron dalam tubuh ini yang menyebabkan perubahan mood, perilaku, dan fisik pada wanita pada fase luteal ini. Progesteron berinteraksi dengan bagian tertentu otak yang terkait dengan relaksasi. Studi yang lebih baru menyatakan bahwa ada perubahan hormon dan neurotransmiter yang mungkin juga bisa menjadi penyebabnya.

Contohnya, pada seseorang itu ada hormon tertentu di sistem saraf pusat yang disebut “endorfin”. Endorfin ini hormon yang menyebabkan perasaan senang, happy mood, dan sekaligus juga membuat orang kurang sensitif terhadap nyeri (obat seperti heroin dan morfin beraksi seperti endorfin). Hormon ini dapat turun kadarnya pada fase luteal dalam siklus haid. Karenanya, pada fase luteal ini kadang wanita merasa kurang happy dan nyeri-nyeri, seperti nyeri haid atau sakit kepala.

Beberapa wanita dengan PMS juga menjadi bertambah berat badan atau sedikit membengkak. Hal ini karena terjadi penahanan air di dalam tubuh. Hormon tadi dapat mempengaruhi ginjal, yang mengatur keseimbangan air dan garam dalam tubuh. Kelebihan air dalam tubuh ini kadang juga bisa menyebabkan gejala PMS, terutama berat badan bertambah, sehingga meningkatkan persepsi negatif dan memperburuk kondisi emosi seorang wanita.

Siklus hormonal juga mempengaruhi kadar serotonin, suatu senyawa kimia di otak yang mengatur banyak fungsi, termasuk mood dan sensitivitas terhadap nyeri. Jika dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami PMS, wanita dengan PMS memiliki kadar serotonin otak yang lebh rendah pada fase luteal ini. Rendahnya kadar serotonin terkait dengan terjadinya depresi.

Teori lain yang mencoba menjelaskan PMS melibatkan prostaglandin, suatu senyawa kimia tubuh yang merupakan mediator inflamasi/radang. Prostaglandin dihasilkan di area-area dimana terjadi PMS, seperti payudara, otak, saluran reproduksi, ginjal, saluran cerna. Ia diduga berkonntribusi terhadap gejala-gejala PMS seperti kram, payudara sakit, diare, atau konstipasi/sembelit.

Apa saja sih gejala-gejala PMS?

Walaupun cukup mengganggu, gejala-gejala PMS biasanya tidak cukup berat yang sampai mengganggu kehidupan normal. Namun demikian, mungkin ada pula yang mengalami gejala yang cukup berat. Beberapa gejala PMS antara lain :

Mood :  kecemasan, nervous, perasaan berubah-ubah (mood swings), sensitif, depresi, pelupa, bingung, insomnia, dll.

– Perilaku : kepengin makan yang manis-manis, nafsu makan meningkat, mudah menangis, kurang konsentrasi, sensitif  terhadap kebisingan

– Fungsi fisik : sakit kepala, lelah, pusing/nggliyeng, berat badan meningkat, kembung, payudara membengkak, sembelit atau diare

Apa gejala PMDD ?

Gangguan premenstrual yang lebih berat adalah PMDD. Gangguan ini terdiagnosa hanya jika gejalanya cukup berat sehingga mengganggu fungsi normal seseorang. Bahkan bisa lebih berat dan menyebabkan lebih banyak problem. Seperti PMS, gejala PMDD dimulai 7-14 hari sebelum hari menstruasi, dan hilang ketika menstruasi datang. Namun tidak seperi PMS, PMDD dapat berefek serius pada wanita, dan digolongkan sebagai gangguan kesehatan mental. Seorang wanita dikatakan mengidap PMDD jika ia mengalami 5 atau lebih gejala di bawah ini pada minggu-minggu sebelum menstruasi dan hal itu terjadi dalam hampir setiap kali menstruasi setiap bulannya. Gejala-gejala itu adalah: – depresi (perasaan putus asa, tidak berguna, tidak sekedar sedih saja),  kecemasan, peralihan mood yang signifikan, marah, kehilangan interest terhadap aktivitas rutin (bekerja, sekolah, hobi),  kesulitan konsentrasi, merasa kehabisan energi, perubahan nafsu makan (jadi rakus terhadap makanan tertentu), gangguan tidur, gejala-gejala fisik : kembung, payudara bengkak, sakit kepala.

Jika gejala ini terjadi di luar siklus menstruasi, maka seseorang mungkin mengalami masalah kesehatan mental, dan perlu pemeriksaan lebih lanjut ke dokter ahlinya.

Bagaimana pengatasannya?

Di bawah ini ada beberapa cara mengurangi gejala PMS.

1. Pengaturan makan/diet : untuk mengurangi kembung dan penahanan air dalam tubuh, hindari makanan bergaram tinggi, terutama seminggu sebelum haid;  cukupi kebutuhan vitamin dan mineral , seperti : Vitamin E, vitamin B, kalsium, Magnesium (dapat diperoleh dari makanan misalnya kacang-kacangan, gandum, sayuran hijau, seafood dan daging)

2. Latihan aerobik dan relaksasi

3. Menggunakan obat.

Beberapa obat yang dapat digunakan antara lain adalah obat anti radang dan penghilang nyeri. Parasetamol dan ibuprofen, merupakan pilihan yang cukup aman untuk mengatasi nyeri haid, sakit kepala, sakit payudara, dll.  Kedua, golongan obat penenang dan anti depresan, tapi ini hanya jika sangat diperlukan, misalnya pada PMDD, dan harus diperoleh dengan resep dokter. Contohnya: diazepam (Valium), alprazolam, fluoksetin, sertralin. Ketiga, diuretik, yaitu untuk meningkatkan pengeluaran urin. Ini akan membantu mengurangi cairan tubuh sehingga mengatasi gejala PMS seperti kembung, payudara bengkak, atau peningkatan berat badan. Tapi ini pun harus diperoleh dengan resep dokter.

Nah, kawan….

tidak semua wanita mengalami PMS. Buat yang mengalami dan tidak kuat menahannya, boleh saja menggunakan obat. Tapi kalau masih merasa kuat tanpa obat, yah… nikmati sajalah… Ini kan bagian dari perjuangan seorang wanita…. Dan buat para pria, mudah-mudahan posting ini akan membuat Anda lebih memahami seluk beluk wanita di sisi Anda…..

Semoga bermanfaat.

Iklan




Selembar kertas sakti….

24 02 2009

Akhirnya selembar kertas sakti itu datang juga. Kawanku si Along pernah bercanda menyampaikan, “Nanti kau tulis di blog-mu yah….. !”.

Hmm, ….. ingatanku melayang pada saat 14-15-an tahun yang lalu. Saat aku masih mahasiswa farmasi tingkat akhir. Hampir lulus S-1. Dekan saat itu melalui Kepala Bagian, menawariku posisi untuk menjadi dosen. Dari hasil konsultasi dengan ayah (alm) dan ibu, akhirnya aku menerima tawaran beliau. Menurut ayah, pekerjaan dosen itu cocok untuk seorang wanita, karena lebih fleksibel mengatur waktunya. Bagaimanapun, wanita yang kelak berumah-tangga, tentu ada lebih banyak tuntutan untuk mengurus rumah tangganya, ketimbang pria yang memang lebih dituntut untuk bekerja mencari nafkah. Bandingkan jika harus bekerja di Industri farmasi misalnya, yang mungkin memiliki jadwal kerja yang lebih ketat, dan pada umumnya berlokasi di Jakarta, mungkin waktu untuk mengurus rumah lebih sedikit. Kalaupun bisa, harus berjumpalitan lebih keras. Appreciate buat teman-teman putri yang bisa mengatur waktu antara kerja dan rumahtangga, di sela-sela jadwal yang ketat !

Alhamdulillah, pilihanku tidak salah. Aku menikmati pekerjaan ini. Dengan bantuan dan dorongan senior-senior di fakultas, aku pun mengalir bagai air. Bak sungai, banyak kelokan-kelokan, yang memperkaya aliran airku. Pengalaman yang dipetik dari senior-senior, dorongan dan ‘encouragement’-nya, serta pengalaman-pengalaman yang kualami sendiri, akhirnya membuat sungaiku makin lebar ketika mendekati muaranya. (Terimakasih, Bapak-ibu).

Hari ini, aku menerima berita dari bagian kepegawaian fakultas, katanya….. SK-ku sebagai Guru Besar sudah turun. O,o….. jadi kertas sakti itu datang juga akhirnya. Sebelumnya seorang seniorku sempat mencandai… katanya sebenarnya SK itu sudah sampai di UGM, tapi dibalikin lagi oleh Rektor ke Mendiknas, karena SK-nya salah…. yang tertulis “Guru Besar”…. padahal aku kan kecil, dan masih “kecil”…., jadi mestinya “Guru Kecil”….. haha……

Sungaiku mencapai muaranya. Tapi muara ini bukanlah akhir perjalanan, karena airku akan masuk ke dalam lautan ilmu yang maha luas, yang justru membuatku merasa semakin kecil. Inilah tahap baru dari penyelaman di dunia ilmu tak terbatas. Mestinya mendekati muara, sungai makin lurus dan tenang (demikian kata seorang seniorku), sebagaimana seseorang semakin matang dan bijak dengan bertambahnya usia dan kekayaan pengalamannya. Namun, rentang waktu 16-17an tahun mungkin belumlah waktu yang cukup lama untuk mencapai kematangan pribadi seseorang, setidaknya demikianlah yang terjadi padaku. Apalagi dengan gelar yang cukup berat pertanggung-jawabannya. Karenanya,  jangan berharap terlalu banyak dulu, aku pun belum tahu apa yang bakal terjadi kemudian. Terus terang, sebenarnya aku belum pe-de dengan pencapaian ini. Belum mature benar. Tapi di sisi lain ada semacam “tantangan”…. “Kamu bisa!”. Syukur-syukur bisa menginspirasi teman-teman muda yang lain……

Tentu aku bersyukur kepada Allah, telah memberikan kesempatan ini. Terimakasih, ya Allah. Sungguh anugerahMu yang besar. Sayang ayah (alm) tak sempat menyaksikan, beliau tentu bahagia medengarnya. Terimakasih, Ayah-ibu, yang selalu tulus mendukung dan mendoakan. Terimakasih, suamiku tersayang dan anak-anak tercinta, atas pengertian dan dorongannya. Terimakasih Bapak ibu seniorku di fakultas, yang telah melapangkan jalan. Terimakasih semuanya yang telah membantu. (wah,… ini mestinya kusampaikan di pidato pengukuhan nih hehe…… tapi rasanya aku tidak sabar mengucapkan terimakasih ini, karena aku sungguh berhutang budi kepada semua yang telah mendorong dan membantuku selama ini. Tulisan ini adalah ungkapan penghargaan yang tinggi dan ucapan terimakasihku kepada semua yang telah membantu).

Kata suamiku, pencapaianku untuk kum (credit point) di dunia untuk urusan pekerjaan sudah pol, aku bahkan bisa melenggang tanpa kum sampai golongan IV/e nantinya. Maka sekarang, waktunya untuk tidak lupakan kejar kum untuk urusan akhirat. Mohon doa restunya dari kawan-kawan, semoga gelar ini bisa memberi manfaat bagi lebih banyak orang. Amien.





Puyer, si kambing hitam

20 02 2009

puyer

Hari Jumat ini aku working at home…. sejak kemaren Dhika demam. Pagi ini sudah mending, tapi masih sedikit anget dan lesu. Aku tak tega meninggalkannya. Untungnya hari ini tidak ada aktivitas sangat penting, cuma kuliah saja nanti sore jam 15.30an.

Ketika aku bilang pada suami, dia bilang,” Lha… adik lagi mikirin apa?”. Menurutnya, demam Dhika ada hubungannya dengan pikiran orangtuanya. Kalau pikiran ibunya lagi kusut, anaknya bisa jadi demam…..

Hm.. aku mikir apa ya? Kayaknya sih tidak ada yang terlalu memberati. Yah, tapi memang aku harus lebih slow lagi…… santai. Memang ada beberapa hal harus diselesaikan dan disiapkan. Anyway, itu sudah konsekwensinya orang kerja, jadi nggak papa.

Tapi aku jadi trenyuh ….. Dhika kelihatan happy sekali aku di rumah. Aku dipeluknya terus nggak mau lepas. Maklum, badan lagi gak enak, mungkin, jadi manja. Sekarang dia lagi tidur, jadi aku bisa nulis-nulis sedikit, dan menge-mail dan YM-an kesana kemari untuk urusan pekerjaan. Tadi aku memberinya syrup parasetamol dan syrup untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Nggak dikasih puyer ? hehe…..

Aku jadi ingat permintaan seorang kawan agar aku membahas tentang masalah puyer yang lagi heboh. Sebenernya sih sudah banyak yang membahas itu di banyak media, termasuk blog Apotekkita yang selalu menyampaikan pikiran-pikiran kritisnya. Tapi tak apalah, kali ini dengan versiku sendiri.

Puyer, ini istilah umum di masyarakat untuk bentuk sediaan serbuk obat dalam bungkusan-bungkusan kecil. Istilah dalam bidang farmasi adalah pulveres, yaitu serbuk bagi, yang dibagi-bagi dalam bungkusan-bungkusan. Aku belajar membuat sediaan pulveres di semester 3. Tentu ada tatacara pembuatannya, untuk menjamin obatnya aman. Kontroversi penggunaan puyer timbul karena kekhawatiran bahwa puyer tidak steril, berisiko dosis tidak tepat, reaksi campuran bermacam-macam obat, tidak sesuai dengan RUD (rational use of drugs) dan tidak sesuai dengan cara pembuatan obat yang baik (CPOB).

Begini kawan,….

Sediaan pulveres/puyer ini memang memungkinkan pencampuran berbagai obat dalam satu paket. Bentuk sediaan ini umumnya digunakan untuk anak-anak, yang masih sulit untuk menelan tablet atau kapsul. Mengapa dijadikan satu? Ini bertujuan untuk kepraktisan minum. Anak kecil kan susah minum obat, apalagi kalau obatnya macam-macam. Jadi lebih praktis dijadikan satu aja dalam bentuk puyer. Tetapi, bolehkah semua obat dicampur jadi satu dalam bentuk puyer ?

Tentu tidak. Pertama, masalah teknis pencampuran. Tidak semua obat  bisa kompatibel jika dijadikan satu paket. Untuk itu kami farmasis sudah mempelajari tentang inkompatibilitas obat-obat. Ada obat yang jika dicampurkan bersama membuat sediaannya jadi lembek karena adanya interaksi antar bahan. Atau warnanya berubah, dll. Jadi tentunya tidak sembarang obat bisa dicampur jadi satu puyer.

Yang kedua, masalah rasionalitas penggunaan. Nah, kalau yang ini…. memang perlu ada interaksi yang baik antara dokter sebagai penulis resep dan apoteker sebagai peracik obatnya (dispenser). Contoh gampang komposisi yang kurang rasional misalnya adalah seperti ini: antibiotika dicampur dengan obat turun panas. Mengapa? Antibiotika harus diminum sampai habis, misalnya 5 hari. Sedangkan obat turun panas cukup diminum jika perlu saja. Nah, kalau mereka digabung jadi satu puyer, maka bisa jadi obat turun panas akan diminum juga selama 5 hari barengan dengan antibiotika. Tentu ini tidak tepat. Disamping tidak diperlukan lagi, pemberian obat berlebihan juga meningkatkan risiko terjadinya efek samping atau toksisitas.

Untuk hal semacam ini, mestinya apoteker bisa menyampaikan ke pada penulis resep untuk bisa mengubah komposisi resepnya.Tinggal masalahnya, dokternya mau tidak. Apotekernya ada di tempat tidak? Apotekernya melakukan screening resep tidak? Ini baru satu contoh lho… mudah-mudahan tidak banyak kejadiannya.

Atau…. misalnya ada resep yang meminta apoteker membuat puyer dari obat-obat yang mestinya sustained-release, atau enteric coated. Obat sustained-release artinya obat tersebut sudah didisain oleh pabriknya untuk dilepaskan pelan-pelan dalam tubuh. Enteric-coated adalah sediaan yang disalut dan didisain sedemikian supaya ia nanti akan melepaskan obatnya di usus, bukan di lambung, karena mungkin obatnya bersifat mengiritasi lambung. Nah, obat bentuk kayak gini kok supaya digerus jadi puyer….. ya kan nggak bener, karena tujuan disain obat tadi tidak tercapai. Bisa jadi obat yang mestinya tidak terurai di lambung, karena digerus malah jadi mengiritasi lambung. Atau obat yang mestinya dilepas pelan-pelan jadi terlalu cepat dan kadarnya melebihi seharusnya. Nah, hal seperti ini pun mestinya bisa terbuka untuk diskusi bagi dokter penulis resep dan apoteker peracik obatnya.

Nah, yang ketiga tadi masalah kebersihan. Apoteker tentu sudah diajari untuk menjaga kebersihan mortir dan stamper untuk membuat puyer/pulveres agar tidak saling mengkontaminasi. Kalau perlu, satu apotek harus memiliki sekian banyak mortir dan stamper sesuai dengan load apoteknya. Jadi kalau masih ada puyer yang terkontaminasi, karena mortirnya gak pernah dibersihkan sebelum digunakan untuk meracik obat lain, itu pasti yang menyiapkan adalah oknum. Oknum farmasis atau asisten apoteker yang tidak menghargai profesinya sendiri. Kalau Anda mensinyalir ada apotek yang demikian, yang tinggal pindah ke apotek lain saja. Gitu aja kok repot…..

Yang keempat, masalah dosis yang tidak tepat. Apoteker juga sudah diajari untuk membagi serbuk dalam bungkusan-bungkusan supaya dosisnya seragam. Ada tata caranya. Jika itu obat keras, harus dibagi dengan penimbangan, dst. Jadi mestinya ini juga tidak perlu dikuatirkan.

Jadi menurut saya, kontroversi ini akarnya adalah human error. Puyer menjadi kambing hitam dari tenaga kesehatan yang tidak kompeten dan bertanggung-jawab dalam menjalankan tuganya. Puyernya sendiri tidak salah, selama diresepkan secara rasional, disiapkan dengan bersih dan penimbangan yang tepat. Jika katanya di banyak negara sudah mulai ditinggalkan, mungkin karena ada bentuk sediaan lain yang lebih pas untuk anak-anak. Misalnya untuk asma, bentuk inhaler lebih direkomendasikan. Tapi biasanya memang harganya lebih mahal.

Aku sendiri lebih sering memberikan bentuk sediaan sirup untuk anak-anak yang tersedia dalam bentuk tunggalnya, kecuali jika tidak tersedia di pasaran. Memang agak ribet, karena kadang harus memberikan beberapa jenis sirup secara terpisah. Tetapi menurutku lebih tepat dan sesuai keadaan si sakit. Jika suatu saat dokter meresepkan puyer untuk anakku, biasanya aku selalu cek resepnya dulu. Jika menurutku cukup pas komposisinya ya aku belikan, tapi kalau tidak, yah….. aku akan edit komposisinya sesuai kebutuhan.

Demikian lah…

Wah, Dhika sudah bangun nih…. sudah dulu ya.

Mohon doanya semoga cepet sembuh.





Memperkenalkan : PIOGAMA

17 02 2009

Dear temans,

Salah satu bentuk pengabdian profesi apoteker kepada masyarakat adalah dengan memberikan pelayanan informasi obat yang dibutuhkan. Demikianlah yang dicoba dilakukan oleh dosen-dosen Fakultas Farmasi UGM pada tahun 1997-an, dengan mendirikan suatu lembaga pelayanan informasi obat bernama PIOGAMA. Namun apa mau dikata, ketika para punggawanya pada berangkat sekolah keluar negeri, maka PIOGAMApun tiada yang mengelola.

Upaya menghidupkan lagi PIOGAMA sempat dilakukan pada tahun 2002-an, namun kurang berdaya. Sampai pada akhirnya, sekitar tahun 2004, saya diundang mahasiswa saat itu untuk memberikan materi pada sebuah acara kemahasiswaan. Acara itu berbuntut keinginan untuk menghidupkan lagi kegiatan pelayanan informasi obat, yang kali ini melibatkan aktivitas mahasiswa. Karena PIOGAMAnya belum hidup lagi, kami menggunakan nama PIO-MFK. Mengapa? Kebetulan saya sebagai Pengelola Magister Farmasi Klinik saat itu punya sedikit otoritas untuk memberdayakan sumber-sumber yang ada. Tanpa menunggu lama, buletin PIO-MFK yang pertama sebagai karya nyata PIO terbitlah pada bulan Mei 2004. Buletin ini didistribusikan cukup luas di berbagai kota di Jawa dan luar Jawa melalui apotek-apotek yang menjadi mitra. Teman-teman yang mau langganan buletin PIOGAMA boleh juga lho…….  bisa pesan melalui e-mail : pio_mfk@yahoo.com.

Pada tahun 2006, PIO-MFK mendapat legalitas dari fakultas menjadi PIOGAMA dengan saya diberi amanah menjadi Ketuanya. Alhamdulillah, penerbitan buletin masih bertahan sampai sekarang. Selain itu, kegiatan penyuluhan pada masyarakat terutama pada musim mahasiswa KKN cukup laris manis banyak permintaan.  PIOGAMA juga bekerja sama dengan majalah Anakku mensuplai tulisan-tulisan setiap bulannya. Yah… pelan-pelan berjalan, karena memang harus disambi-sambi dengan kegiatan rutin lain.

Nah, blog PIOGAMA bisa dikunjungi di http://piogama.ugm.ac.id    Belum sangat keren sih, …… tapi tentu upaya-upaya untuk berbagai ilmu tentang obat dan kesehatan melalui PIOGAMA perlu kita dukung. Mudah-mudahan akan berkembang terus….

Salam





Lagi, terapi untuk mengatasi keloid

16 02 2009

 

Dear All,

Postingku tentang keloid beberapa waktu lalu ternyata cukup mengundang beberapa pertanyaan. Ada yang langsung bertanya di blog ini, ada yang melalui Yahoo Messenger, atau e-mail. Rupanya masalah keloid banyak pula yang mengalami ya. Pertanyaannya, jika injeksi steroid tidak memberi hasil, apakah ada cara lain ?

Oke, posting kemaren memang hanya fokus pada injeksi steroid (triamsinolon asetonid) untuk mengatasi keloid. Sebenarnya ada beberapa metode terapi yang lain. Di bawah ini, secara singkat akan dipaparkan metode pengobatan lainnya. Mungkin satu orang dengan yang lain akan berbeda kecocokan dan keberhasilannya dalam terapi. Aku ambilkan sumber informasinya dari http://emedicine.medscape.com/article/1298013-overview

Tidak ada satu jenis terapi pun yang dipastikan paling efektif untuk mengatasi keloid. Cara yang paling bijaksana adalah pencegahannya. Sifat mudah membentuk keloid ini dapat diwariskan dari keluarga, sehingga pasien dengan riwayat keloid keluarga perlu hati-hati jika akan menjalani pembedahan. (Lagi-lagi warisan kok keloid ya…… mbok mobil apa rumah gitu……hehe..) . Namun jika sudah terjadi, bagaimana mengatasinya? Di bawah ini dipaparkan beberapa metode pengatasan keloid.

1. Occlusive dressings

Cara ini adalah dengan menempeli keloid dengan suatu sediaan seperti plester yang berisi silikon gel. Plester ini bisa dikenakan selama 24 jam sehari sampai selama 1 tahun. Perlu dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari dermatitis kontak atau kerusakan kulit. Penelitian menunjukkan bahwa gel silikon dapat meningkatkan suhu keloid yang dapat meningkatkan aktivitas kolagenase (enzim yang menguraikan kolagen), sehingga akan menipiskan keloid. Selain itu, adanya hidrasi pada stratum korneum dan tekanan langsung juga merupakan aksi dari gel silikon ini dalam menekan pertunbuhan keloid.

2. Compression

Kompresi atau penekanan secara mekanik diketahui merupakan bentuk terapi yang efektif juga terhadap keloid, terutama keloid yang ada di daun telinga, yang biasanya terjadi karena proses tindik telinga. Ada beberapa alat yang didisain untuk memberikan tekanan terhadap keloid agar tidak berkembang. Bentuknya bisa seperti perban yang harus diikatkan kuat-kuat sebelum keloid mungkin akan muncul, misalnya setelah pembedahan. Untuk keloid yang ada di daun telinga, bentuk alatnya lebih khusus. Tekanan yang direkomendasikan adalah 25 mmHg, namun dengan tekanan 5-15 mmHg, hasilnya pun cukup baik.

Mekanismenya tidak begitu jelas, namun adanya penurunan tekanan oksigen di bekas luka akan menurunkan metabolisme jaringan, proliferasi fibroblast, dan pembentukan kolagen. Dengan demikian, keloid tidak akan berkembang.

3. Corticosteroids

Sudah dipostingkan sebelumnya, bahwa injeksi steroid meupakan salah satu terapi pilihan  untuk mengatasi keloid. Injeksi stroid bisa merupakan terapi tunggal atau dikombinasi dengan cara lain. Pemberian injeksi steroid saja menunjukkan tingkat kesembuhan 50-100% selama 5 tahun, dan terjadi kekambuhan pada 9-50% pasien. Sedangkan jika dikombinasi dengan pembedahan (pembuangan keloid dengan operasi), tingkat kesembuhannya meningkat jadi 85-100%. Jadi setelah operasi pengambilan keloid, diteruskan dengan injeksi steroid secara berulang dengan interval 6 minggu selama 6 bulan, dan hal ini menunjukkan hasil yang baik.

4. Excisional surgery

Yaitu pembedahan kecil untuk membuang keloid. Pembedahan saja tanpa terapi lain masih memungkinkan kekambuhan berkisar 45-100%. Karena itu, operasi ini sebaiknya dikombinasi dengan terapi lain, seperti radiasi, injeksi steroid, terapi tekanan, dll.

5. Radiation

Radiasi dapat digunakan secara tunggal (monoterapi) atau dalam kombinasi dengan pembedahan untuku mencegah kekambuhan. Sebagai monoterapi, kekambuhannya bisa mencapai 100%. Jika digunakan dalam dosis besar, kesuksesannya bertambah, tetapi mungkin dapat memicu kejadian kanker 15-30 tahun kemudian.

Waktu yang paling efektif untuk memberikan terapi radiasi adalah 2 minggu setelah pembedahan, ketika fibroblast mulai berkembang biak (proliferasi). Anak-anak sebaiknya tidak diterapi dengan radiasi.

6. Cryotherapy

Cryotherapy adalah suatu metode terapi menggunakan nitrogen cair (sangat dingin) untuk merusak sel-sel keloid dan mempengaruhi pembuluh darah mikro di sekitarnya, sehingga menyebabkan sel-sel kolagen mati. Caranya adalah dengan memaparkan nitrogen cair tadi sebanyak 1-3 siklus beku masing-masing selama 10-30 detik. Terapi diulang setiap 20-30 hari. Tingkat ketidakkambuhan dengan menipisnya keloid berkisar 51-74%. Cryotherapy dikombinasi dengan injeksi steroid memberikan tingkat kesembuhan yang lebih besar, mencapai 84% pasien.

7. Laser therapy

Keuntungan dari terapi laser adalah lebih tepat, trauma jaringan minimal, sehingga bisa mengurangi reaksi radang yang berlebihan. Ada bebeapa jenis terapi laser, antara lain : flash lamp pulse-dyed laser, carbon dioxide laser, argon laser, dan Nd:YAG laser. Carbon dioxide laser dan argon laser bekerja dengan mekanisme yang mirip, yaitu dengan memicu penyusutan kolagen melalui energi panas laser). Pulse-dyed laser memicu microvascular thrombosis, sedangkan Nd:YAG laser bekerja menghambat secara selektif metabolisme dan produksi kolagen.

8. Interferon therapy

Cara terapi yang terbaru adalah dengan injeksi intralesional (ke dalam keloid) senyawa interferon (INF) yaitu INF-alpha, INF-beta, dan INF-gamma. Penelitian melaporkan bahwa interferon dapat mengurangi sintesis fibroblast (penyusun kolagen), dan meningkatkan aktivitas kolagenase. Terpai ini dilakukan segera setelah pembedahan, dengan menginjeksikan 1 juta Unit obat pada kulit sekitar tempat pembedahan. Injeksi berikutnya dapat dilakukan 1-2 minggu kemudian.

Manakah metode yang paling tepat untuk Anda? Tentu perlu dikonsultasikan dengan dokter Anda untuk memilih yang terbaik.

Semoga bermanfaat





Dibagikan, malah bertambah…

15 02 2009

Judul posting ini agak aneh, bukan…..? Posting ini kutulis jam 01.32 dini hari, setelah menyelesaikan tulisan tentang bahaya alkohol yang sedianya akan diterbitkan bersama Bu Hartati. Kenapa sih aku kayaknya semangat amat menulis? Yah…. mungkin jawabannya ada pada teka-teki yang akan kulontarkan ini….

Coba, apa jawabnya : Sesuatu apakah, yang jika dibagikan malah bertambah ? Apa hayooo ?!

Ya…betul,  jawabannya adalah ilmu. Ketika kita akan membagi ilmu, ternyata ilmu kita itu tidak akan berkurang, malah bertambah. Ketika aku akan menulis bahaya alkohol, atau menulis tentang keloid seperti posting sebelumnya, atau apalah, …… aku mesti searching dulu berbagai informasi. Dan ini akan menambah ilmu kita, kadang kita menemukan informasi baru, yang malah kita sendiri baru tahu bahwa “Oh…. ternyata begini to, … ternyata begitu to”. Dan aku sangat enjoy melakukan ini. Rasanya asyik sekali ketika kita kemudian menemukan sesuatu yang baru kita tahu. Dan ketika kita bisa membagikannya, apalagi pada yang membutuhkan, maka kita dapat bonus juga…. yaitu kepuasan batin… karena telah melakukan yang menurut kita adalah kebaikan. Syukur bisa dicatat sebagai amal baik yang berpahala. Amien.

Begitulah….

dan sekarang aku mau bobo dulu yah……





First week to school….

13 02 2009

Dear temans,

Posting kali ini cuma cerita ringan saja seputar rumah…

Alhamdulillah, akhirnya Dhika minggu lalu masuk sekolahnya yang pertama. Sebelumnya aku sempat berpikir keras mencari play group yang pas, yang bisa menerima dan mendukung perkembangannya. Akhirnya kami menemukan Klinik Idola atas informasi seorang kenalan. Di sana, muridnya hanya 6 orang termasuk Dhika, dengan guru tiga orang. Mereka semua cukup berpengalaman menghadapi anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti Dhika.

 Hari pertama Dhika masih menangis dan takut-takut. Tapi alhamdulillah, hari ke-6 ini sudah banyak kemajuannya. Mau masuk kelas sendiri, bermain dengan teman walaupun sempat berebut mainan, mau kejar-kejaran… Bicaranya sudah tambah sedikit-sedikit walau masih sangat “suka-suka”. Mudah-mudahan akan tambah baik dari hari ke hari. Amien…

Sungguh aku bersyukur dan harus berterimakasih pada asisten rumah tanggaku, yang setia membantu sudah hampir lima tahun ini. Dialah kepanjangan tanganku di rumah. Dengan load pekerjaan yang sedemikian tinggi, aku tidak bisa antar jemput sendiri ke sekolah Dhika karena waktunya juga nanggung, demikian pula ayahnya. Sekolahnya jam 8 – 10.30, sementara pagi jam 06.45 biasanya aku sudah berangkat mengantar kakak-kakaknya sekolah, dan langsung ke kantor. Pulang sudah sore. Beberapa minggu lalu bahkan kerap pulang malam ketika masih berkutat dengan proposal IMHERE. Untung sekolah Dhika tidak terlalu jauh, dan  ia enjoy pula naik motor diantar mbak-nya.

 

Teringat juga olehku the first week to school of Hannisa, anakku yang kedua (kakak Dhika). That was a difficult time for me, too. Dia malah lebih parah hehe…. aku harus sit in di kelas TK-nya hampir sebulan lebih. Bener-bener ikut duduk di kelas, dan harus terlihat olehnya. Susahnya lagi, dia maunya hanya dengan ibu, tidak ada yang lain. Dhika masih mending, mau ditungguin mbaknya. Mahasiswa yang bimbingan skripsi mesti ngalah, konsultasi skripsi di TK Masjid Kampus UGM hehe….. . Udah gitu pake ngadat lagi sekolahnya,  dan minta pindah di TK yang lain. Untunglah lama-lama dia mulai kerasan ketika pindah di TK yang baru. Dan sekarang sudah tak ada masalah lagi dengan sekolahnya, di kelas satu SD.

 

 You know, friends.. …. Kadang-kadang ada semacam guilty feeling ..….. I am not a good mother, am I ?   

Tapi apa daya. I am not superwoman, who can do a lot of things together in the same time…  Dalam bekerja juga banyak amanah harus dijalankan. Aku tak mungkin meninggalkan begitu saja tanggung-jawab yang harus dipikul dan membuat orang lain repot karenanya. Akhirnya aku hanya bisa memohon kekuatan  kepada Allah sang Maha Kuat,…. semoga aku bisa menjalankan tugas-tugasku di dunia dengan baik, sebagai ibu, sebagai istri, sebagai wanita bekerja yang juga memikul banyak amanah….. Amien…..