IP tinggi = sukses dalam pekerjaan ?

29 01 2009

toga1

Dear temans,

Sekedar cerita ringan saja……

pagi ini aku menghadiri acara wisuda pascasarjana UGM di gedung Grha Sabha Pramana memenuhi undangan sebagai Pengelola Program Magister Farmasi Klinik. Acara wisuda kali ini sedikit lain, di mana acara pengalungan samir ditiadakan. Pada wisuda-wisuda sebelumnya, para dekan akan memberikan ijazah dan Pengelola Program S2 masing-masing fakultas akan mengalungkan samir pada wisudawan/wati dari fakultasnya. Lumayan, hari ini acara berlangsung lebih efisien waktu daripada sebelumnya, karena samir sudah dipakai wisudawan pada saat upacara.

Aku mengikuti acara wisuda tadi sampai selesai. Wisudawan yang memiliki IPK tertinggi dari masing-masing fakultas menjadi perwakilan wisudawan yang langsung mendapatkan ijazah dari Rektor dan duduk di deretan depan. Sebagian besar dari mereka meraih predikat cumlaude, bahkan beberapa diantaranya mendapat nilai IPK pas-pasan, yaitu pas  : 4,00. Gile beneer…..

Aku jadi teringat IP-ku dulu…. suatu kali di akhir suatu semester, aku melaporkan pada ayahku (alm) tentang hasil belajarku (seperti kebiasaan dalam keluarga kami) dengan wajah kubuat memelas, ” Papi,….. semester ini IP saya mepet…”. Ayahku sedikit kaget dan prihatin…, ” Berapa ?”.   ” Mm….. mepet,…mepet empat,…. IPnya 3, 89″ kataku sambil senyum-senyum.  Wuaa… ayahku langsung tersenyum lega, demikian pula ibu. Dan senyum itulah yang selalu memacuku untuk memberikan yang terbaik dan menjadi kebahagiaan bagi orang tua…   Nah, sekarang pertanyaannya…… apakah IP tinggi selalu berkorelasi dengan keberhasilan dalam pekerjaan ?

Hm…. agak sulit dijawab. Untuk pekerjaan sebagai dosen kayaknya korelasinya lumayan tinggi. Tapi  belum tentu juga lho,  mereka yang ber-IP menjulang  bisa mentransfer ilmunya pada orang lain dengan lebih baik daripada yang ber-IP lebih rendah. Aku mengenal seorang sejawat yang IP-nya tidak tinggi-tinggi amat, tapi dengan kemampuan komunikasi personalnya, dia bisa sekali mengemas ilmunya dan mentransfernya kepada murid-murid atau sejawatnya dengan enak dan menyenangkan. Etos kerjanya tinggi, sehingga prestasi kerjanya pun baik. Tapi ada juga sih, yang IPnya mepet 4, tapi pendiam dan sedikit kuper, seperti pakai kacamata kuda…. sehingga kurang bersinar dalam pekerjaannya…

Tentu IP tinggi itu baik, bahkan perlu. Tapi lebih dari itu, perlu ada kemampuan-kemampuan lain yang dikembangkan di luar kemampuan kognitif. Seperti yang sering dikatakan para ahli, selain IQ (intelectual quotient), seseorang perlu punya EQ (emotional quotient), dan bahkan SQ (spiritual quotient) yang baik. Ketidakseimbangan itu bisa menyebabkan ketimpangan dalam pekerjaan maupun dalam berkehidupan.

Apalagi jika terkait dengan pekerjaan-pekerjaan kefarmasian yang harus banyak berhadapan dengan orang lain, dengan pasien, dokter, perawat, dan tenaga kesehatan, IP tinggi saja tidak cukup. Seseorang perlu punya attitude yang baik, kemampuan komunikasi, rasa empati, kemauan menolong orang, dll, yang itu  masuk pada ranah kecerdasan emosi maupun kecerdasan spiritual. Itulah yang nanti akan lebih mendukung keberhasilannya dalam berkarya di masyarakat.

Aku termasuk yang EQ-nya agak rendah nih hehe…..  mudah “ciut nyali”, kurang percaya diri, pemalu, mudah terpuruk kalau dikritik, dll. Tapi ya sekarang aku sedang belajar untuk tambah percaya diri dan berani hehe…… salah satunya dengan membuat blog ini. Termasuk hari ini, aku sedikit kurang pede dan ragu-ragu ketika akan mengenakan toga pada saat mengikuti acara wisuda tadi. Sebenarnya kemarin Prof  Sudibyo (pengelola S2 yang biasanya mendampingi Pak Dekan untuk mengalungkan samir pada wisudawan) memintaku untuk bergiliran dengan beliau mendampingi pak Dekan karena beliau ada acara. Kali ini tidak ada acara pengalungan, tapi pengelola diminta menyaksikan saja. Tentunya dengan tetap memakai toga, dan di duduk di panggung depan di belakang dekan-dekan.  Tapi tadi aku tidak jadi pake toga. Tau kenapa ?

Jangan bilang-bilang, ya, …….. aku ceritain kisah sedikit memalukan yang kualami berkaitan dengan toga ini….

Seperti yang diceritakan di awal posting ini, dalam acara wisuda program pasca sarjana, biasanya (dulu) dekan akan memberikan ijazah pada wisudawan dari fakultasnya, sedangkan pengelola program S2 akan mengalungkan samir. Di Fakultas Farmasi UGM ini ada dua Program Studi Pasca Sarjana, yaitu Program Studi Ilmu Farmasi dan Program Studi Farmasi Klinik dimana aku sekarang menjadi pengelolanya.

Suatu kali…. sekitar tahun 2006, sewaktu aku masih menjadi wakil Pengelola Program MFK, dan Ketuanya pun waktu itu masih relatif baru, yaitu Dr. Imono Argo Donatus (alm), aku pernah diutus Pak Imono mewakili beliau ke acara wisuda pasca sarjana. Beliau waktu itu juga baru pada awal masa jabatannya dan belum begitu tahu tentang tata cara wisuda S2. Karena program studi MFK sudah menjadi Program Studi sendiri, maka beliau pikir pengelolanya juga akan mengalungkan samir pada wisudawan yang berasal dari program studinya. Karenanya, aku diminta datang dengan mengenakan toga.

Demikianlah, pada hari H wisuda, dengan sedikit tergopoh-gopoh aku menuju ke Grha Sabha Pramana, dan menanyakan dimana ruang untuk mengenakan toga. Singkat cerita, karena sedikit terlambat (maklum baru pernah), aku berjalan sendiri menggunakan toga lewat jalan utara gedung menuju lantai 2. Apa yang terjadi ? Beberapa kali aku terpaksa menerima tatapan penuh tanya orang-orang yang ada di sekitar situ, dan petugas yang disana mengira aku ini wisudawati yang nyasar…. sehingga beberapa kali aku perlu menjelaskan bahwa aku ini pengelola S2 dari Fakultas Farmasi. Sudah gitu, sesampainya di tempat, ternyata aku sebenernya tidak perlu pake toga, karena dari Fakultas Farmasi sudah ada pengelola S2 yang mewakili. Uff…… bisa dibayangkan kan, betapa malunya!!   Mungkin mukaku sudah merah kayak kepiting rebuss….. Aku langsung ngacir turun, melepas toga, dan balik ke fakultas.  Terpincang-pincang lagi… karena untuk itu aku bela-belain pake sepatu berhak tinggi yang sempat membuat lecet….. uffff…!! Duh…. jadi “trauma” pake toga hehe…

Ketika aku ceritakan hal ini pada Pak Dekan sekalian apologize bahwa aku hari ini tidak mendampingi beliau pake toga karena ragu-ragu, beliau bilang bahwa maklum kalau orang saat itu mengira aku wisudawati kesasar….  hehe… soalnya wajahku masih kayak mahasiswa, dah gitu postur tubuhku imut-imut….. ” Apa perlu pake badge di dada bertuliskan Prof. Dr. ? ” kata beliau bercanda.

Yah, memang agak repot kalau penampilan kelihatan masih muda, imut lagi, hehe… banyak yang sering “under estimate”…., tapi mendinglah, daripada masih muda tapi penampilan kayak nenek-nenek……

(sory kalau ceritanya ngga matching dengan judulnya hehe……)





Gong Xi Fa Cay ….. indahnya persahabatan

25 01 2009

gxfcBesok masyarakat Tionghoa merayakan tahun baru Imlek. Tulisan kecil kali ini akupersembahkan untuk sahabatku si Along. (Haai, Long !….. kamu mesti baca tulisanku, nih…. tapi jangan ge-er ya…… hehe..), untuk mengenang dan mengapresiasi pertemanan kami selama ini.

Namanya resminya Sumeri, tapi kami biasa memanggilnya A Long (nama kecilnya). Asalnya Pontianak, anaknya manis dan baik hati, pintar dan tulus. (A Long pasti mekar nih hatinya hehe….., tapi ini beneran kok). Kami bertemu sejak bersama-sama kuliah di Jogja. Kami kuliah di kampus yang sama (Farmasi UGM), kost di tempat yang sama, bahkan sejak tingkat satu sampai lulus apoteker. Jadilah kami cukup sering bersama-sama. Dulu jamane ora enak, hampir tiap hari kami berangkat bersama ke kampus, jalan kaki dari kost-kostan, bersama satu teman lagi yang satu kost dan satu kampus yaitu Endah.

A Long adalah warga etnis Tionghoa beragama Katolik. Setiap hari Minggu atau Sabtu malam ia rajin ke gereja, sedangkan aku muslimah, berjilbab pula. Tapi kami tak pernah merasa ada masalah dalam berteman, saling toleransi, bercanda akrab. Kami kadang saling mengingatkan untuk menjalan kewajiban ibadah agama kami masing-masing. Kami saling kerjasama dalam belajar, bahkan kebetulan skripsi pun kami bersama, satu topik besar dengan pembimbing yang sama. Skripsi kami dulu tentang produksi antibiotika eritromisin dari bakteri Saccharopolyspora erythrea dengan variasi beberapa precursor. Pekerjaan semacam itu melibatkan proses fermentasi yang menuntut kami sering lembur karena harus mengambil sampel pada waktu-waktu tertentu. Teringat olehku, kadang malam-malam kami berdua jalan kaki ke PAU Bioteknologi tempat skripsiku dikerjakan untuk mengambil sampel. Pernah juga sampai harus panjat pagar. Aih…. lucu untuk dikenang. Seorang gadis berjilbab berjalan akrab dengan seorang gadis bermata sipit….. hehe, kombinasi yang menarik bukan? Dan aku menikmati persahabatan kami.

Kebetulan pula,…. A Long mendapat jodoh teman kami juga dari Farmasi UGM, yang kebetulan berasal dari kotaku Purwokerto. Aku menghadiri pula pesta perkawinannya yang diselenggarakan di Purwokerto. Kloplah… banyak hal yang tetap menjadi penyambung persahabatan kami.

Sekarang A Long tinggal di Solo, bekerja di sebuah industri farmasi terkenal. Suatu kali pernah kami sempatkan bertemu ketika kebetulan aku juga ada tugas kuliah di sebuah universitas di Solo. Ia tak banyak berubah, tawanya masih renyah… kami saling bertukar cerita tentang berbagai hal, pekerjaan, keluarga, dll. Mungkin ada satu yang berbeda….. ia makin keren dengan mobil barunya, dan sedikit ada uban di kepalanya hehe… Maklumlah, makin mapan kariernya dan sekaligus makin tambah umurnya…….

Oke, itulah sedikit kisahku tentang Along sahabat tionghoa-ku.

Selamat Tahun Baru Imlek….. ! Semoga Tahun Kerbau Tanah akan mengantar pada kesuksesan.





Farmasis klinik,… riwayatmu dulu dan eksistensimu sekarang

23 01 2009

Belum lagi sempat aku menulis sedikit pandanganku terhadap tulisan pada Blog mas Dani yang berjudul “Clinical Pharmacist make economic sense”, sudah muncul lagi tulisan berjudul “Siapa Bilang Apoteker Tidak Diperlukan?”, yang menurutku saling berkaitan…. (salut deh, Mas…  konsisten ber-posting. Aku sendiri belakangan agak kendor nih…. Maklum masih belajaran…).

Tulisan pertama agak khusus membicarakan tentang farmasis klinik. Mungkin buat temen-temen netter yang masih awam dengan istilah farmasis klinik, sedikit deh aku ceritakan. Istilah farmasi klinik mulai muncul di tahun 1960-an di Amerika, yaitu suatu penekanan pada fungsi apoteker yang bekerja langsung bersentuhan dengan pasien. Menurut ibu Koda-Kimble (salah satu perintis “gerakan” farmasi klinik, sekarang menjadi dekan pada School of Pharmacy University of California di San Francisco), praktek apoteker di sana pada saat itu (1960-an) bersifat stagnan. Pelayanan kesehatan sangat berpusat pada dokter. Kontak apoteker dengan pasien sangat minimal. Ada istilah yang digunakan beliau untuk menggambarkan lulusan farmasi pada saat itu yaitu : Over-educated, Underutilized, Apathetic, Isolated, Inferiority complex. Itu keadaan di Amerika tahun 1960-an. Lho…kok mirip seperti keadaan di Indonesia sekarang ya……. hehe.. pliss deh!… Mudah-mudahan enggak lah. Karenanya, ibu Koda-Kimble dan sejawatnya memunculkan suatu wacana baru untuk pekerjaan kefarmasian. Upaya-upaya awal yang akan dilakukan adalah:

u Focus on the Patient

Pharmaceutical centers

Patient record systems

OTC counter-prescribing

Counseling on prescription drugs

Emergence of continuing education

Therapeutic approach

Pathophysiology

Symptom management

Tapi saat itu wacana itu juga tidak mudah diterima. Mengapa? Belum ada role model!

Tapi beliau tidak mudah menyerah. Pada tahun 1965, beliau cs mengusulkan suatu proposal ke pimpinan rumah sakit sbb:

  • School will establish a staff “Drug Stations” on the hospital wards

Will relieve nurses of certain drug-related duties

Will make it possible for the physician, if he so wishes, to discuss drug usage with the pharmacist at the time the decision is being made

Will provide students with experience in applying classroom knowledge to practical aspects of drug usage in therapeutic situations

Seperti apa kesan-kesan yang muncul  ketika program ini pertama kali dilaksanakan?

Bu Koda Kimble menggambarkan sebagai berikut :

Physician confusion

Pharmacist presence on the wards

Pharmacist intrusion on drug prescribing

Dokter-dokter agak bingung, “ lho… kok apoteker masuk ke bangsal-bangsal?” Kok apoteker ikut campur urusan peresepan obat ya ?”

Nurse enthusiasm

Quick access to medicines

Pharmacist drug expertise

Tapi para perawat malah senang dan antusias, karena mereka bisa lebih cepat mendapatkan pelayanan obat, sudah siap pakai lagi, karena disiapkan oleh apotekernya. Perawat juga merasakan bahwa urusan obat memang keahliannya apoteker, jadi mereka bisa lebih focus pada perawatan pasien.

Pharmacist exhaustion

Long hours, rapidly expanding roles, new knowledge

“Continual mental pressure to perform at a very high level at all times.”

Tapi apotekernya lumayan kecapekan….. waktu kerjanya jadi lebih lama, perannya jadi bertambah dan berubah dengan cepat, perlu pengetahuan baru. Selain itu juga terdapat semacam tekanan mental juga, karena mereka mesti berada pada kondisi prima dalam pelayanan. Mesti siap setiap kali dibutuhkan.

Visitors dubious

Impressed

An “ivory tower” phenomenon

Pasien atau pengunjung masih ragu-ragu, tapi mereka terkesan. Apoteker yang semula seperti ada di “menara gading” kini mulai turun ke bumi……

Singkat cerita, setelah melalui perjuangan yang berdarah-darah, maka kini profesi apoteker mendapat tempat yang sangat layak di sana. Dan “gerakan” farmasi klinik ini makin menyebar luas ke berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Sayangnya, nampaknya wacana farmasi klinik ini belum banyak dipahami, apalagi diterima, oleh sejawat dokter. Mereka memandang apoteker tidak perlu ikut-ikut campur menemui pasien. Apalagi turut dalam proses terapi. Persis deh..kayak dokter-dokter jaman dulu di Amerika hehe…… (jadi kayaknya kita nih hidup seperti keadaan di AS 50-an tahun yang lalu…). Tapi tentunya apoteker juga harus introspeksi….   jangan berharap dokter bisa segera menerima keberadaan apoteker, kalau performa apoteker sendiri masih meragukan….. jangan-jangan apotekernya sendiri  juga belum siap berubah dan mengambil peran baru yang lebih signifikan dalam pelayanan pada pasien. Haloo, bagaimana nih sejawat ??

Nah, seperti yang sering disebut-sebut, maka filosofi pelayanan farmasi klinik adalah “pharmaceutical care” (asuhan kefarmasian). Care itu bisa berarti peduli….. artinya, seorang apoteker mesti  peduli dan penuh empati pada pasien, sehingga pasien bisa merasakan manfaat keberadaannya. Asuhan kefarmasian ini sebenarnya bisa dilaksanakan di mana-mana, di RS, apotek, atau di tempat lain. Untuk hal ini, aku punya sedikit cerita.

Kemaren, seorang mahasiswa bimbingan thesisku, bu Nurjanah namanya, datang menemuiku untuk konsultasi thesisnya. Ia mahasiswa S2 Magister Farmasi Klinik berasal dari Sulawesi Tenggara. Oya, thesisnya mengambil topik Kajian penggunaan obat antihipertensi pada pasien jantung di sebuah RS di Kendari. Waktu konsultasi thesis, sempatlah dia ngobrol tentang pengalamannya selama mengerjakan thesis. Katanya, gara-gara dia mengerjakan thesisnya, ia malah sekarang jadi laris dicari pasien untuk konsultasi obat hehe…. Ceritanya, dalam mengambil data, ia langsung mewawancarai pasien. Suatu kali ada pasien subyek penelitiannya yang mengeluhkan bahwa setelah mengkonsumsi sekian macam obat antihipertensi, kok sekarang “ayam jagonya” jadi ngga bisa berkokok lagi, alias impoten. Pasien itu menduga bahwa ada salah satu obat (kebetulan itu adalah spironolakton, suatu diuretik) yang menyebabkan impotensi tadi, dan ia pun berkonsultasi pada apoteker kita tadi, bagaimana jika ia menghentikan obat tersebut, boleh apa tidak. Bu Nurjanah lalu memeriksa macam obat-obat yang diterima pasien, dan ternyata memang ada sejenis antihipertensi golongan beta bloker yang memang sering dilaporkan menyebabkan impotensi. Beliau menyarankan kepada pasien utk berkonsultasi ke dokter, bagaimana jika mengurangi dosis obat tersebut. Apa yang terjadi ? Seminggu kemudian, sang pasien menemui ibu kita tadi dengan sumringah, dan katanya, “.. Terimakasih, bu…. saya sekarang sudah hidup lagi…” hehe……

Aku rasa, ini adalah salah satu bentuk pelayanan kefarmasian yang bisa bermanfaat bagi pasien. Aku turut bangga, teman-teman sejawat sudah mulai banyak menggunakan ilmunya untuk membantu pasien, yang pada gilirannya akan memberikan kesan positif terhadap keberadaan apoteker. Dan apoteker di Sulawesi Tenggara bolehlah dicontoh semangatnya, katanya saat ini sedang memperjuangkan untuk mendapatkan insentif dari Gubenur dengan besaran yang sama dengan dokter dan dokter gigi, tentunya setelah kinerjanya memberikan asuhan kerfarmasian dirasakan gunanya. Dan satu hal lagi… Kepala Dinas Kesehatannya apoteker loo…!

Jadi, siapa bilang apoteker tidak diperlukan lagi ?

Kaitannya dengan peranan farmasis klinik dalam menghemat biaya pengobatan pasien, aku juga punya cerita lain. Tapi kali ini berasal dari penelitian sejawat, yaitu bu Fita. Penelitiannya menjumpai bahwa ternyata banyak “unnecessary drug therapy” yang dijumpai di RS. Oya, untuk menentukan bahwa suatu obat benar-benar diperlukan pasien atau tidak, beliau bekerja sama dengan klinisi (dokter) senior untuk meng-assess, yaitu dengan mengamati kondisi medis riil pasien dan mengecek obat-obatan yang digunakan. Dan begitulah…. ternyata banyak obat yang diresepkan yang sebenernya tidak benar-benar diperlukan, dan jika itu dikonversi ke biaya, tenyata banyak biaya-biaya pemborosan yang mungkin memberatkan pasien. Kalau saja farmasi kliniknya sudah aktif, dokternya mau bekerja sama dengan apoteker dalam proses  terapi pasien, mungkin akan banyak biaya-biaya yang bisa dihemat. That’s still a dream…… I hope it will come true….

O,ya… paragraf bagian sini adalah iklan hehe…… Sebagai pengelola program Magister Farmasi Klinik UGM, kami mengundang sejawat untuk sama-sama menambah bekal ilmu dan meningkatkan ke-pede-an dengan belajar di Magister Farmasi Klinik UGM, supaya nanti bisa lebih pede dan profesional dalam menjalankan pekerjaan kefarmasiannya. Farmasis klinik, gitu loh…… !!  Keterangan lebih lanjut, klik disini hehe…..

Dah dulu yaaa……





Ginseng mabur…. berr !!

23 01 2009

Belum sampai datang kiamat tahun 2012 (kalau jadi hehe….), 14 orang telah menemui hari kiamatnya sendiri secara sia-sia di Semarang (belakangan bertambah 2 lagi) karena minum miras oplosan yang dinamakan “Ginseng mabur”. Menurut berita, komposisinya adalah : alkohol murni 90%, minuman energi, garam, bumbu penyedap, dan pewangi rasa buah-buahan. Duh, prihatin sekali mendengarnya……. begitulah penggunaan minuman beralkohol di negara kita. Nggak “berkelas” gitu loh….. hehe (lihat postingku tentang “mabuk yang berkelas”). Yang lebih mengenaskan adalah penggunanya justru orang-orang dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Mungkin itu adalah satu cara melarikan diri dari masalah-masalah hidup…. astaghfirullohal’adziim. Wah…. ya mabur tenan, menghadap sang Pencipta…

Apa sih minuman ber- alkohol itu?

Alkohol yang sering diminum, atau tepatnya etanol, adalah jenis zat kimia yang mudah terbakar dan merupakan pelarut berbagai senyawa. Di dunia farmasi ia sering dipakai sebagai pelarut obat atau sebagai obat antiseptik/desinfektan. Kalau dari efeknya, alkohol sering digolongkan sebagai “depresan sistem saraf”. Jenis minuman beralkohol ada bermacam-macam, termasuk bir, anggur (wine), dan liquor lainnya.

Mengapa orang suka minum alkohol?

Pada dosis kecil, alkohol nampaknya memang memiliki efek yang “menguntungkan”… Menghangatkan badan dan membuat orang jadi lebih berani merupakan sedikit alasan mengapa alkohol banyak digunakan dalam berbagai situasi sosial. Beberapa negara bahkan memiliki budaya minum alkohol untuk berbagai event sosial. Mungkin agak sedikit kontroversial, tetapi ada penelitian yang memaparkan adanya “kurva J” dalam hal jumlah alkohol yang dikonsumsi versus tingkat kematian. Bisa bayangin kan huruf J ? Maksudnya, peningkatan konsumsi alkohol pada level tertentu ternyata bisa mengurangi risiko kematian, tetapi sampai pada titik tertentu, peningkatan konsumsi alkohol akan meningkatkan risiko kematian.

 Jadi, katanya sih….. kalo minum alkohol dosis kecil secara rutin, bisa mengurangi risiko kematian. Mungkin itu bisa dilihat di Jepang, di mana mereka punya budaya minum sake dan nyatanya umur mereka panjang-panjang. Di Perancis misalnya, mereka juga punya budaya minum wine, dan mereka hidup sehat (katanya), yang dikenal dengan istilah “French Paradox”..  Tapi semua ini masih kontroversial…

       Tapi kalau menurut saya sih….. siapa bisa menjamin bahwa orang bisa menjaga diri untuk hanya minum sedikit alkohol saja? Yang sering terjadi adalah…minum sedikit-sedikit, tapi lama-lama pasti menjadi banyak dan akhirnya jadi kecanduan, yang justru akan merusak tubuh. Lihat saja pada kasus “Ginseng mabur”….. mungkin pada awalnya mereka hanya sekedar coba-coba, pingin “mabur” dari masalah…… tapi lama-lama pasti akan mencoba dan mencoba lagi, mungkin dengan dosis yang makin meningkat… Selain itu, perbedaan konsumsi alkohol di negara kita dengan Jepang misalnya, adalah dari alasan atau tujuannya. Di Jepang misalnya, menjamu minum sake adalah bagian dari budaya dan sopan santun dalam pergaulan. Tapi di sini minum alkhohol umumnya untuk pelarian, gagah-gagahan, dan untuk tujuan-tujuan kriminal.

Itu mungkin salah satu hikmahnya Islam melarang minum khamr atau alkohol. Toh banyak cara lain yang kurang berisiko untuk mencapai derajat kesehatan yang tinggi, daripada minum sedikit alkohol. Insya Allah kesehatan lahir dan batin. Belum lagi ekses yang ditimbulkan terhadap orang lain ketika seseorang mabuk …. bisa nabrak orang (kalau nyetir), bisa menganiaya bahkan menusuk orang…. Hii.!! Serem.

 Nah, apa sih efeknya alkohol pada jangka pendek ?

Ketika seseorang minum minuman beralkohol, alkohol akan diserap melalui lambung dan masuk ke saluran darah dan tersebar ke seluruh jaringan tubuh. Efek alkohol tergantung pada berbagai faktor, antara lain ukuran tubuh, berat badan, usia, jenis kelamin, juga jumlah alkohol yang dikonsumsi. Efek penggunaan alkohol dalam dosis kecil-sedang meliputi : pusing dan meracau (talkative), mungkin sampai mual dan muntah. Alkohol secara signifikan dapat menganggu kemampuan koordinasi dan pengambilan keputusan (judgment) yang diperlukan ketika seseorang menyetir mobil dan menjalankan peralatan mesin. Selain itu juga meningkatkan berbagai aksi agresivitas, termasuk penganiayaan dan pembunuhan.

Apa efek alkohol pada jangka panjang?

Penggunaan alkohol berat dapat menyebabkan kecanduan (adiksi). Penghentian alkohol secara tiba-tiba dapat menyebabkan gejala putus-alkohol, seperti kecemasan berat, gemetar, halusinasi, kejang-kejang, dll. Penggunaan alkohol dosis bersar dalam jangka panjang juga akan merusak banyak organ tubuh, terutama hati dan otak. Seorang wanita yang hamil dan suka minum alkohol, akan meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan “fetal alcohol syndrome” di mana bayinya mungkin akan mengalami retardasi mental dan abnormalitas fisik lain yang tidak bisa dikoreksi.

Kayaknya lebih banyak mudhorotnya deh, daripada manfaatnya. Buat yang belum terlanjur, sebaiknya jangan coba-coba memulai. Setuju??

Tabel di bawah ini adalah efek-efek yang bisa muncul dari penggunaan alkohol ketika kadar dalam darah mencapai level tertentu.

alcohol blood level (%) 

          

Effects

0,02 – 0,03

Slight euphoria, loss of shyness. No loss of coordination

0,04 – 0,06

Feeling of well-being, relaxation, lower inhibitions, sensation of warmth, euphoria. Some minor impairment of reasoning and memory, lowering of caution

0,07 – 0,09

Slight impairment of balance, speech, vision, reaction time, and hearing. Euphoria. Judgment and self control are reduced; caution, reason, and memory are impaired. It is illegal to operate a motor vehicle in some states at this level.

0,10 – 0,125

Significant impairment of motor coordination and loss of good judgment. Speech may be slurred; balance, vision, reaction time, an d hearing will be impaired. Euphoria. It is illegal to operate a motor vehicle in some states at this level.

0,13 – 0,15

Gross motor impairment and lack of physical control. Blurred vision and major loss of balance. Euphoria is reduced and dysphoria is beginning to appear.

0,16 – 0,20

Dysphoria predominates, nausea may appear. The drinker has the appearance of “sloppy drunk”

0,25

Need assistance in waking, total mental confusion. Dysphoria with nausea and some vomiting.

0,30

Loss of consciousness

³ 0,40

Onset of coma, possible death due to respiratory arrest

 

Selamat merenungkan !





Rekomendasi baru tentang AA dan DHA dalam susu formula

17 01 2009

baby1Dear temans,

Menyambung postingku sebelumnya mengenai merotasi merk susu formula, kali ini aku mau coba uraikan dua macam zat terkenal yang sering ditambahkan pada susu formula, yaitu AA dan DHA, dan rekomendasi mengenai penggunaan dua zat tersebut. Kadang penasaran kan… apaan sih AA dan DHA itu?

AA

AA adalah singkatan dari asam arachidonat. Atau ada juga yang menyingkatnya sebagai ARA. Asam arachidonat adalah salah satu jenis asam lemak omega-6, yang banyak dijumpai pada membran sel, dan merupakan senyawa yang penting dalam komunikasi antar sel dan menjadi senyawa prekursor (penyusun) bagi senyawa-senyawa penting lainnya dalam tubuh. Senyawa induknya adalah asam linoleat (LA = linoleic acid). Asam linoleat ini merupakan asam lemak tidak jenuh yang tidak bisa disintesis oleh tubuh kita, disebut asam lemak esensial, dan karenanya perlu diberikan dari luar melalui makanan. Dalam formula susu, biasanya ditambahkan asam linoleat yang sering disebut juga omega 6.  Ada beberapa merk susu yang tidak menambahkan komponen AA, tetapi menambahkan asam linoleat atau omega 6 sebagai gantinya, yang diharapkan nantinya akan diubah menjadi AA di dalam tubuh. Menurut catatanku (tahun 2007) ada beberapa merk susu yg tidak mengandung AA, tetapi mengandung omega 6, misalnya Morinaga Chil-mil, Enfamil, Promil, Lactogen, Vitalac, S-26. Silakan nanti dicek lagi kalau pas pilih-pilih susu.

DHA

DHA adalah singkatan dari docosahexaenoic acid. Senyawa ini merupakan asam lemak tak jenuh rantai panjang golongan omega-3, yang banyak dijumpai di otak dan retina mata, sehingga sangat penting untuk fungsi penglihatan. DHA dibuat dari senyawa induknya yaitu asam linolenat atau ada yang menyebutnya sebagai ALA (alpha linolenic acid). Sebelum menjadi DHA, ALA akan diubah dulu menjadi eicosapentaenoic acid (EPA). Hampir semua merk susu formula yang kucatat menambahkan pula asam linolenat atau omega-3 ini dalam komposisinya, dalam berbagai variasi kadar. Perbandingan antara omega-3 : omega-6 rata-rata 1: 8-10. Sedangkan untuk DHA, sebagian besar merk susu menambahkan DHA disamping omega-3 itu sendiri. Ada dua merk yang tercatat tidak mengandung DHA, yaitu Enfamil, S26, dan Promil.

Rekomendasi baru

Selama bertahun-tahun, diyakini bahwa bayi dapat mensintesis sendiri AA dan DHA dengan cara mengubah senyawa penyusunnya yaitu asam linoleat (LA) dan linolenat (ALA). Namun belakangan dilaporkan bahwa kecepatan konversi LA menjadi AA dan ALA menjadi DHA ternyata tidak cukup cepat untuk memenuhi kebutuhan AA dan DHA, terutama pada saat perkembangan otak bayi yang pesat.

Bayi yang menyusu ibunya, akan memperoleh AA dan DHA dari ASI. Jika dibandingkan antara bayi yang menyusu ASI dengan bayi yang minum susu formula yang tidak mengandung AA dan DHA, ternyata dijumpai bahwa dalam tubuh bayi yang minum susu formula tanpa AA/DHA, kadar AA dan DHA lebih sedikit daripada yang minum ASI, walaupun susu formulanya mengandung asam linoleat dan asam linolenat. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun bayi mungkin bisa mengubah LA dan ALA menjadi AA dan DHA, tetapi itu belum cukup memenuhi kebutuhannya. Hal ini menyebabkan berkembangnya rekomendasi yang baru-baru ini direlease oleh World Association of Perinatal Medicine (J. Perinat. Med. 2008: 36), dan bisa dilihat pada  http://www.dhababy.com/community/factsheetlandingpage.php).

Rekomendasi ini menyatakan perlunya penambahan AA dan DHA pada susu formula untuk bayi kurang dari 1 tahun, dengan kadar 0,2-0,5% dari total asam lemak, untuk menjamin perkembangan mata dan otak yang optimum. Hal ini terutama ditujukan bagi bayi yang karena sesuatu hal tidak bisa mendapatkan ASI dari ibunya.

Selain itu, beberapa hal lain yang direkomendasikan antara lain adalah :

1. Susu formula untuk bayi harus disuplementasi dengan AA dengan jumlah sedikitnya sama dengan jumlah DHA

2. EPA, jenis lain asam lemak omega-3 yang banyak dijumpai pada ikan dan minyak ikan, harus dibatasi jumlahnya untuk tidak melebihi jumlah DHA

3. Asupan makanan yang mengandung AA dan DHA harus diberikan secara kontinyu pada bayi/anak sampai umur satu tahun, hanya saja para ahli belum punya cukup informasi untuk merekomendasikan jumlahnya secara pasti

4. Wanita hamil dan menyusui harus berusaha mengkonsumsi makanan yang mengandung DHA dengan kadar sedikitnya 200 mg/hari

Nah, demikian kira-kira informasi yang terkumpul tentang AA dan DHA yang bisa dibagikan dalam posting ini.

Masih banyak lagi beberapa zat-zat tambahan yang sering dimasukkan dalam komposisi susu formula, seperti spingomyelin, fosfolipid, gangliosida, asam sialat, dll, yang kadang bikin harga susu jadi tambah mahal hehe….. Seberapa pentingkah mereka ? Yang itu nanti akan kupostingkan kemudian…. Belum sempat disusun je….

Buat para ibu yang punya bayi, semoga bermanfaat…

Postingan ini bukan untuk mendukung penggunaan susu formula ber-AA/DHA lho,….  bagaimanapun ASI is the best..!!





Menyambut “kiamat” 2012….

15 01 2009

Asli,..   tulisan kali ini agak nyeleneh dan sekedar omongan ngalor ngidul,… tapi pengen aja aku menulis tentang ini, karena kebetulan lewat di kepalaku…

Belakangan agak sedikit ramai berita/ramalan akan terjadinya kiamat pada tahun 2012. Tak kurang banyak ahli yang angkat bicara dan memberikan komentar dengan latar belakang keahlian masing-masing, dari aspek astronomi, aspek geofisika, aspek sejarah, spiritual, dll. Ada yang bilang bahwa kiamat 2012 nanti bukan merupakan kiamat sebenarnya, .. tapi akan ada suatu peristiwa besar yang menghancurkan bumi sehingga akan menyisakan hanya sekitar 40% penghuni bumi saja, dan itu merupakan seleksi sang Kuasa, di mana  yang akan tersisa adalah orang-orang yang baik-baik. Bumi akan “dimurnikan”. Hmm…. aku yang lagi lumayan pusing terlibat dalam penyusunan proposal pengembangan fakultas/universitas sampai 4-5 tahun ke depan jadi mikir…… ” Wah, ngapain ya repot-repot diskusi sampai maghrib/kadang malam dalam 2 minggu terakhir ini memikirkan masa depan universitas/fakultas kalau bentar lagi mau kiamat …. hehe….”

Tapi, terlepas percaya apa tidak dengan “ramalan” tersebut, ….. kenapa sih mesti takut dengan kiamat ? Bukankah setiap orang pasti juga akan mengalami “kiamat kecil”, ketika ia dianggap sudah cukup waktunya di dunia dan Sang Pencipta memanggilnya ? Aku jadi ingat tulisanku dulu tentang “peraturan baru” Malaikat Izroil. Kalau sudah ditetapkan, katakanlah kita hidup tinggal 4 tahunan lagi (th 2009-2012),… maka sebenernya kan itu malah memacu kita untuk jadi orang yang baik…  “Wah, waktuku tinggal sebentar nih, padahal kum kebaikanku masih sedikit,”.. kan gitu. Jadi, kalau mau percaya juga ngga rugi hehe……

Dan ini adalah salah satu yang menginspirasiku untuk jadi orang yang baik…. hehe.. Katanya, orang yang paling baik itu yang banyak manfaatnya bagi orang lain. Jadilah aku mengubah sedikit pandanganku terhadap apa-apa yang akan aku bagi untuk orang lain…. Sebelum ini, aku agak sedikit pelit memberikan file-file bahan kuliahku pada mahasiswa. Sebagai gantinya aku masih berbaik hati memberikan hard copy hand out di awal kuliah, supaya mahasiswa bisa mengikuti kuliah dengan lebih mudah. Lha, susah-susah je bikinnya, kok mau dikasihkan… Masalahnya urusan etika di sini masih agak loose…. Bisa jadi file bahan kuliah yang susah-susah dibuat, tinggal diganti namanya, terus diakui sebagai miliknya, dan digunakan untuk kuliah di tempat lain misalnya…… Hmm… nggak rela, nggak rela……

Tapi…. kayaknya aku sekarang sedikit berubah pikiran… Apa salahnya aku upload file-file kuliahku di blogku, bahkan contoh soal ujiannya sekalian…  (see : http://zulliesikawati.staff.ugm.ac.id/?page_id=98), walau mungkin belum sempat semuanya diupload. Kalau itu bermanfaat, kan itu bisa jadi (mudah-mudahan) sumber pahala buatku ….(amien). Terserahlah, apakah mereka akan berterimakasih padaku atau tidak, dan bagaimana mereka akan menggunakannya, itu bukan urusanku.. Dan kata Mario Teguh, itu tergantung bagaimana pendidikannya di rumah hehe….. dan urusannya sendiri dengan yang akan mencatat amal baik dan buruk.

Jadi, marilah kita sambut “kiamat” 2012 (entah jadi maupun tidak), dengan berbuat baik…. memberi manfaat sebanyak-banyaknya buat orang lain dengan ikhlas, apapun profesinya, dengan apapun caranya  yang kita bisa…..

See you in the Heaven (Insya Allah, Amien…..)





Merotasi merk susu formula bayi…..

15 01 2009

susuDear temans,

Uff… sudah lama ngga ngeblog nih…, pekerjaan lagi bertubi-tubi dan butuh konsentrasi, sehingga mood atau inspirasi menulis juga sedikit ngadat… (apakah sudah ada yang menanti tulisanku ? hehe… ge-er). Untungnya aku tidak menggantungkan hidupku dari menulis ya hehe… kalau lagi gak ada ide dan inspirasi, bisa-bisa nggak makan ….. Mm… kali ini aku mau share pengalaman mengenai pemilihan susu formula untuk bayi. Kemaren aku sempet belanja ke supermarket dan cari susu untuk anak, jadilah terinspirasi untuk menulis tentang ini.

Kalau kita masuk ke supermarket bagian penjualan susu formula bayi, pasti sering ditawarin mbak-mbak SPG-nya begini,”.. biasanya adik pake susu apa, bu?”.. sudah pernah mencoba ini belum, bu? ini sudah mengandung AA dan DHA, lho…. yang sangat penting untuk perkembangan anak…” bla..bla…

Kalau aku ditanya begitu, biasanya aku bilang,” susunya ganti-ganti, Mbak….” Dan nyatanya memang begitu, aku tidak fanatik terhadap satu merk susu formula untuk bayi. Memilih susu formula yang baik untuk anak memang perlu pertimbangan yang baik pula. Hal ini berangkat dari sangat bervariasinya harga susu, dari yang sekitar Rp 25.000an/kaleng 400 g sampai yang Rb 75.000an/kaleng 400 g. Satu merk pun bisa punya dua versi, versi “standard” yang lebih murah, dan versi “A plus” atau “gold” atau “platinum” atau apalah… yang harganya bisa dua kali lipat. Dengan kondisi financial yang tidak berlebihan, tentu perlu mempertimbangkan mencari susu yang “cost-effective” hehe….. Maksudnya, perlukah kita beli susu yang harganya sampai Rp 75.000an/kaleng jika efeknya tidak berbeda signifikan dengan susu yang seharga Rp 40.000an/kaleng ? Nyatanya waktu aku bayi, tidak pernah minum produk susu-susu mahal, tapi ya masih bisa survive dan ngeblog seperti sekarang ini hehe…..

Sampai-sampai aku melakukan survai kecil-kecilan. Untungnya Dhika, anak kami, tidak masalah dengan rasa susu dan ia toleran terhadap semua merk susu, kecuali ada satu merk yang kayaknya dia nggak suka dan bikin mencret. Aku sudah mencobakan semua merk susu bayi, dan mencatat semua informasi tentang komposisinya, dan tentu juga harganya. Penasaran aja, apa sih yang menyebabkan satu merk itu mahal dan merk lain murah. Apa pula bedanya komposisi satu merk susu yang versi ”standard” dan yang versi ”gold” ?

Aku jumpai bahwa komposisi bahan yang ditambahkan pada berbagai merk susu memang bervariasi. Ada yang menambahkan asam sialat (Enfamil, Enfapro, susu Bendera), yang lain menambahkan omega 9 (Vitalac 1 dan Enfamil), ada yang menambahkan fosfolipid dan spingomielin (Morinaga Platinum), FOS (Bebelac, Vitalac, Nutrilon Royal), GOS, ARA, dll., yang masing-masing dengan kadar bervariasi. Ada kandungan yang dijumpai pada setiap merk susu, yaitu asam lemak omega 3 dan omega 6. Dan walaupun hampir semua merk susu sudah menambahkan omega 3 dan omega 6 yang merupakan penyusun AA dan DHA, tetapi ada pula yang masih menambahkan AA dan DHA.

Tulisan tentang peranan AA dan DHA serta komponen lain yang ditambahkan dalam susu formula akan aku postingkan kemudian. Kali ini aku cuma mau sharing pengalaman saja…. bahwa setelah melihat berbagai merk susu yang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dengan bervariasinya komponen penyusun, aku memutuskan merotasi merk susu untuk anakku agar ia mendapatkan berbagai komponen itu, yang mungkin tidak diperoleh jika hanya menggunakan satu merk susu saja…… Aku juga merotasi merk susu dari harganya hehe…… setelah merk yang murah, ganti yang mahal dan seterusnya…

Tapi ini tergantung keadaan juga sih, karena kadang ada bayi yang ”fanatik” terhadap rasa merk susu tertentu, sehingga ketika susunya diganti ia ”merasa” dan tidak mau minum. Jadi ya terserah saja, apa mau mencoba merotasi seperti ini apa tidak….. Terus terang, aku juga belum bisa menjamin apakah merotasi merk susu ini akan lebih baik daripada menggunakan satu merk susu saja terus menerus… karena aku tidak meneliti secara ilmiah tentang hal ini. Tapi paling tidak itu akan memenuhi kebutuhan logikaku, bahwa anak akan mendapatkan lebih banyak paparan zat yang mungkin diperlukan, dan supaya ia juga bisa menerima berbagai rasa….   Juga untuk menyiasati  isi kantong yang tidak selalu penuh…..

Any idea?





Berteman dengan Diabetes……

9 01 2009

type-i-diabetesDear temans,

Tulisan ini pesanan khusus dari teman penaku masa kecil … (halo, Pandu!.. apakabar?”), ia minta supaya aku mengulas tentang diabetes. Tulisan ini aku dedikasikan pada para penderita DM dan mereka yang bertubuh besoaar…

 

Hm.. diabetes melitus (DM) atau penyakit kencing manis bukan penyakit asing bagi keluarga kami. Almarhum ayah kami dan pakdhe (kakak ayah) mengidap DM, bahkan ibupun demikian. Dan tanda-tanda penyakit ini tidak begitu khas, bahkan sering tidak nampak, antara lain sering pipis-pipis, mudah haus, mudah lapar, ngantukan, cepat lelah, yang mungkin bisa dijumpai pada penyakit lain. Sehingga ketika suatu saat aku merasa .. kok jadi sering pipis ya, ngantukan, cepat lelah aku jadi kuatir juga, dan dengan keinginan sendiri pergi ke lab untuk cek kadar gula darah. Maklumlah, unsur genetik termasuk salah satu faktor risiko utama DM. Artinya, dengan 2 orang tua yang mengidap DM, maka risikoku mengidap DM juga meningkat ketimbang mereka yang tidak punya riwayat genetik DM pada orangtuanya. Ditambah lagi usia sudah berkepala empat dengan tubuh tidak bisa dikatakan langsing (kecuali dilihat dari bulan hehe…). Namun alhamdulillah,…. situasi masih aman terkendali, alias kadar gula darahku masih dalam level normal. Pada cek terakhir, kadar gula darah puasa masih sekitar 90 mg/dl (normalnya 70 – 110 mg/dl). Jadi mungkin gejala-gejala tadi hanya perasaan subyektifku saja… mungkin karena kurang tidur, banyak minum, dll. Dan itupun hilang sendiri.

 

Apa itu DM alias kencing manis?

DM adalah suatu gangguan metabolik dalam tubuh, yang disebabkan karena kurangnya hormon insulin atau resistensi reseptor insulin, atau keduanya, sehingga kadar gula darah meningkat di atas normalnya. Insulin sendiri adalah suatu senyawa endogen yang memiliki berbagai fungsi, salah satunya adalah membantu transport glukosa dari dalam darah masuk ke dalam sel-sel tubuh yang membutuhkan. Dengan kurangnya jumlah insulin tubuh, atau kurangnya aktivitas reseptor insulin, maka glukosa yang berasal dari makanan yang kita makan akan tetap tinggal dalam darah. Darah jadi terasa manis, bahkan glukosa itu pun terbawa sampai ke urin, jadilah pipis kita manis. Makanya dikasih nama “kencing manis”.

Penyakit ini umumnya dgolongkan menjadi 2 tipe besar, yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2. DM tipe 1 adalah yang disebabkan karena kerusakan pankreas sehingga tidak bisa menghasilkan insulin sama sekali. DM tipe ini disebut juga DM tergantung insulin, karena pengobatan utamanya adalah insulin itu sendiri yang diberikan dari luar tubuh. Sedangkan DM tipe 2 adalah yang disebabkan karena “malasnya” pankreas menghasilkan insulin sehingga jumlah insulin kurang, atau kalaupun pankreasnya masih memproduksi insulin secara normal, insulinnya tidak banyak berguna karena reseptornya “ngadat” bekerja alias resisten. Untuk itu pengobatannya adalah obat-obat yang bisa memicu produksi insulin atau mengaktifkan reseptor insulin (istilahnya meningkatkan sensitivitas reseptor insulin). DM tipe 1 umumnya terjadi karena gangguan sistem imun dan diidap sejak masa kanak-kanak. Tentunya mereka akan tergantung insulin dari luar selama hidupnya, karena tubuhnya tidak menghasilkan insulin sama sekali. Untungnya jumlah DM tipe ini tidak banyak, mungkin berkisar 5-10% dari jumlah kasus DM secara total. Sedangkan DM tipe 2 lebih banyak jumlahnya, dan umumnya diidap ketika dewasa atau menjelang tua, dan terkait dengan faktor risiko lain yaitu obesitas, pola makan dan gaya hidup kurang sehat (banyak makan, kurang olahraga), dan stress (tekanan hidup). DM tipe 2 ini relatif masih bisa dikontrol dengan menggunakan obat dan mengubah gaya hidup (diet, olah raga, dll).

Ada lagi jenis DM yang khusus dijumpai pada wanita hamil, walaupun tidak semua wanita hamil akan mengalami hal ini, yang disebut DM gestasional. Umumnya seusai melahirkan, DM ini akan sembuh sendiri. Tapi perlu diwaspadai, karena kejadian DM saat hamil tentu mengandung risiko juga terhadap bayinya, sehingga perlu penanganan tersendiri yang aman bagi ibu maupun janinnya.

 

Mengapa obesitas bisa meningkatkan risiko DM ?

Peningkatan berat badan dapat menyebabkan resistensi insulin, dan seorang gendut yang non-DM memiliki derajat resistensi yang sama dengan pasien DM tipe 2 yang kurus. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pada seorang non-DM, terjadi juga penurunan sensitivitas reseptor insulin ketika Indeks Massa Tubuh (IMT)nya meningkat dari 18 kg/m2 menjadi 38 kg/m2. Peningkatan resistensi insulin ini nampaknya berkaitan erat dengan jumlah jaringan lemak dalam rongga tubuh yang disebut jaringan adiposa visceral (Visceral adipose tissue = VAT).

Jaringan adiposa visceral adalah sel-sel lemak yang berlokasi di dalam rongga perut. Sel-sel ini mewakili 20% lemak pada pria, dan 6% pada wanita. Jaringan lemak ini memiliki kecepatan lebih tinggi dalam proses peruraian lemak (lipolisis) ketimbang lemak yang ada di daerah subkutan (bawah kulit), menghasilkan peningkatan jumlah asam lemak bebas. Asam lemak bebas ini akan masuk ke sirkulasi darah dan menembus ke hati di mana mereka akan menstimulasi produksi VLDL (very low density lipoprotein), suatu kolesterol “jahat”, dan akan menyebabkan penurunan sensitivitas reseptor insulin pada jaringan perifer.

Jaringan adiposa visceral ini juga memproduksi suatu senyawa yang disebut sitokin (yaitu TNF-a) yang menyebabkan resistensi insulin.

Jadi…….. yang merasa gempal dan besar nih, perlu berupaya untuk bisa menurunkan BB, untuk menurunkan risiko terjadinya DM.

 

Bagaimana pengatasannya?

Apakah DM bisa sembuh ? Hm….. mungkin agak sulit (kecuali Allah berkehendak lain). Tapi yang bisa dilakukan adalah mengontrol agar kadar gula darah ada dalam level normal. Pengontrolan bisa dilakukan secara non-obat atau menggunakan obat. Pengontrolan kadar gula non-obat terutama ditujukan untuk DM tipe 2, sedangkan untuk DM Tipe 1 nampaknya agak sulit, karena penyebabnya bukan karena masalah pola makan dan gaya hidup. Untuk DM Tipe 1, mau nggak mau harus pakai insulin. Sedangkan untuk DM tipe 2, pilihannya bisa menggunakan insulin atau obat-obat antidiabetes oral (yang diminum).

Tujuan pengobatan adalah untuk mengurangi komplikasi mikrovaskuler dan makrovaskuler dan meningkatkan kualitas hidup, serta mengurangi angka kematian. Hal ini penting karena kadar glukosa yang tidak terkontrol akan meningkatkan risiko komplikasi mikro maupun makrovaskuler. Mikrovaskuler artinya pembuluh darah kecil. Kebayang kan…. jika kadar glukosa darah tinggi, tentu darah menjadi makin kental. Dan itu akan membuat aliran jadi lambat, bahkan mungkin akan tersumbat. Sumbatan inilah yang akan menyebabkan kematian sel-sel yang tidak memperoleh pasokan O2 dan makanan dari pembuluh darah, sehingga menyebabkan berbagai gangguan, antara lain retinopati (gangguan pada retina mata yang berangsur menyebabkan kebutaan), nefropati (gangguan ginjal), dan neuropati (gangguan persarafan). Sedangkan makrovaskuler artinya pembuluh darah besar, komplikasi DM pada makrovaskuler ini bisa berupa stroke, hipertensi, dan penyakit kardiovaskuler lainnya. Ih… sereem kan?

Nah, karena itu sangat penting untuk menjaga agar kadar gula darah selalu dalam level normal. Untuk DM tipe 2, kontrol gula darah dapat dilakukan dengan perbaikan pola makan dan OR, serta penggunaan obat. Sampai saat ini, terdapat 6 kelompok obat diabetes oral, yaitu : α-glucosidase inhibitors, biguanides, meglitinides, peroxisome proliferator-activated receptor γagonists (disebut juga golongan thiazolidinediones atau glitazones, DPP-IV inhibitors, dan sulfonilurea. Ada obat yang beraksi meningkatkan sekresi insulin seperti golongan meglitinides dan sulfonylurea (contohnya : glipizid, gliklazid, glibenklamid). Ada yang meningkatkan sensitivitas insulin seperti biguanide (contoh: metformin) dan glitazon (troglitazon, pioglitazon), dan ada pula yang memiliki mekanisme lainnya (contoh: acarbose). Obat-obat ini dapat diperoleh dengan resep dokter. Tergantung berat-ringannya DM, kadang obat ini dipakai secara tunggal, atau bisa juga kombinasi.

Selain obat DM oral, ada juga insulin, yang biasanya diberikan dalam bentuk injeksi. Insulin tersedia dalam berbagai preparat, ada yang beraksi cepat, sedang dan lambat. Jika Anda mendapatkan injeksi insulin, pastikan Anda bisa menggunakannya dan tau tempat-tempat mana saja dari tubuh yang bisa menjadi lokasi suntikan insulin. Hal ini bisa ditanyakan kepada Apoteker. Sekarang ada juga lho.. insulin dalam bentuk inhalasi (dihirup melalui hidung). Tapi mungkin belum banyak tersedia di Indonesia.

 

Berteman dengan diabetes

Kalau sudah terlanjur kena DM gimana ya? Yah…. pertama jangan sedih, tentu perlu diterima dengan lapang dada hehe.. Sangat penting untuk mendisiplinkan diri dalam pengaturan makan, olah raga dan minum obat secara teratur. Memang bukan ringan….. sebuah thesis mahasiswa yang belum lama ini aku menjadi pengujinya menemukan bahwa peningkatan pengetahuan tentang DM dan penatalaksanaannya ternyata tidak selalu berkorelasi langsung dengan kontrol kadar gula darah yang baik. Bisa diartikan bahwa… walaupun kita tau bahwa kita nggak boleh makan ini itu, tapi kadang-kadang kita tidak disiplin terhadap diri sendiri…. “alaaah… Cuma sedikit kok!, Cuma sekali ini aja kok…” yang ternyata terjadi berkali-kali… sehingga tau-tau kadar gula darah meningkat….

Jadi sekali lagi kuncinya adalah disiplin dan patuh pada pengobatan. Alhamdulillah, kadar glukosa ibuku lumayan terjaga, karena beliau rajin jalan kaki sebagai olahraganya dan patuh minum obat secara teratur. Setiap pagi, sedikitnya beliau jalan kaki keliling dusun selama satu jam. Makannya pun dijaga, padahal dulu beliau suka makanan yang manis-manis.

 

Dan sekali lagi.. disiplin. Jangan sampai jalan kaki satu jam, mampir pasar, pulang-pulang makan gudeg yang manis, atau lopis ketan dengan saus gula-jawanya yang kental hehe…..

 

Oke, semoga bermanfaat….





World Class Faculty = menghasilkan apoteker profesional?

7 01 2009

Satu paragraf tulisan mas Dani di Portal Apoteker tentang sekolah apoteker cukup menggerakkan tanganku untuk menulis (eh… mengetik). Soalnya aku lagi merasa relevan banget dengan hal ini…..

Mereka yang ada di perguruan tinggi cenderung lebih menonjolkan profesinya sebagai dosen, karena faktanya memang demikian, dan tidak ingat akan masalah masalah aktual di lapangan yang dialami oleh mantan mahasiswanya. Kalau mau jujur apoteker yang baru lulus sebenarnya belum siap untuk bekerja. Apalagi di apotek.”

Sebetulnya yang akan aku sampaikan bukan substansi apa yang ditulis dalam posting itu, tetapi sedikit bergeser ke arah pertanyaan yang menjadi judul posting ini. Betul sekali bahwa pemegang ijazah apoteker yang bekerja menjadi dosen memang lebih menonjolkan profesi dosennya, daripada apoteker. Seperti halnya pada diriku sendiri. Tapi kalau aku sih sebenernya  lebih karena merasa “minder”…. karena memang tidak praktek, sehingga memang tidak tau banyak aneka kondisi faktual di lapangan. Informasi dari lapangan lebih sering kuperoleh secara tidak langsung dengan berinteraksi dengan sejawat dalam berbagai even kegiatan.  Jadi daripada merasa diri sebagai apoteker, tapi nggak tau banyak tentang praktek kefarmasian, mendingan ngaku jadi dosen hehe….. Kalau sebagai dosen beranilah diadu hehe…. jelek-jelek gini aku pernah tiga kali memenangi grant untuk inovasi metode pembelajaran di UGM..

Nah, .. yang sedang ada dalam pikiranku adalah … aku justru agak kuatir bahwa misi yang diusung  institusi pendidikan (dalam hal ini farmasi) makin menjauh dari bumi. Tau tidak teman,…. beberapa hari ini aku sedang “bertapa” sampai-sampai tidak sempat ngeblog… karena sedang ikut menyusun sebuah proposal pengembangan fakultas yang in line dengan visi dan misi universitas, yakni menjadi World Class Research University (WCRU), atau… Universitas Riset Berkelas Dunia gitu loh…!  Fakultas Farmasi UGM juga akan menuju Fakultas yang (kalau bisa) bertaraf internasional. Impiannya adalah Fakultas Farmasi UGM akan dikenal secara internasional, memiliki kelas internasional dengan banyak foreign students, kami akan memiliki laboratorium berkelas (mendekati) internasional, menghasilkan penelitian-penelitian berkelas dunia, dengan staf edukatifnya yang recognized  di dunia (dan akhirat), dan seterusnya dan seterusnya yang meningkatkan reputasi Universitas Gadjah Mada di mata internasional.

Tapi kalau lagi baca centang-perenang masalah-masalah keprofesian farmasi di Indonesia seperti yang dipaparkan oleh sejawat pada Portal Apoteker, aku jadi bertanya sendiri… apakah pendidikan tinggi farmasi yang ada di Indonesia memang belum bisa mendidik apoteker untuk siap bekerja dan memiliki kompetensi yang diharapkan? yang punya semangat “pharmaceutical care” sehingga mau bekerja profesional walaupun belum mendapat apresiasi wajar secara finansial? memiliki etika keprofesian sehingga bermartabat di mata masyarakat dan tenaga kesehatan lainnya? Yang bisa duduk sama tinggi dan dihargai profesi lain? Kok kayaknya profesi apoteker nih nggak segera naik-naik pangkat menjadi profesi pilihan para calon mertua….. (ini adalah salah satu indikator eksistensi suatu profesi di mata masyarakat he he…)

Dengan mengejar visinya menjadi institusi pendidikan berkelas dunia, akankah signifikan menghasilkan apoteker-apoteker berkelas juga seperti yang diidamkan? Aku belum yakin. Jangan-jangan apoteker kita over-educated dalam hal tertentu, tapi tetap saja tidak siap menghadapi kondisi di lapangan? Kami yang di dunia pendidikan juga perlu introspeksi apakah apa yang diberikan selama ini sudah cukup memberikan bekal pada lulusan untuk siap bersaing di dunia kerja dan memenangkan pertarungan… 

Tapi mungkin dengan menaikkan level fakultas menjadi “Fakultas berkelas dunia (dan akhirat)”  mudah-mudahan akan lebih memberikan rasa percaya diri pada lulusannya, sehingga bisa lebih siap secara psikologis untuk memasuki dunia kerja. Syukur juga bisa diterima bekerja di negara-negara lain sebagai konsekwensi era perdagangan bebas nantinya..

Tentunya perlu ada jalinan erat antara pihak-pihak yang ada di dunia pendidikan dengan organisasi profesi supaya memiliki kesamaan pandang mengenai apa-apa yang harus dilakukan untuk mencapai kondisi eksistensi apoteker yang diharapkan. Dalam hal lain, mungkin organisasi profesi juga perlu memperbanyak upaya untuk menjalin kerjasama dengan profesi tenaga kesehatan lainnya, sehingga apa dan siapa apoteker itu benar-benar dikenali sehingga akan ditempatkan di tempat yang layak di sisinya… maksudnya di antara sesama tenaga kesehatan.

Tapi ma’aaaf….. saya juga cuma bisa nulis doang…

Dan sekarang akan masuk pertapaan lagi menyelesaikan proposal yang terpenggal…..





Secangkir kopi di awal tahun….

5 01 2009

coffee_roaster1Dear netters,

Suka minum kopi ? Hari pertama masuk kantor lagi setelah libur panjang kubuka dengan menyeruput secangkir kopi hangat…………

Aku bukan penggemar berat kopi, hanya sesekali saja minum…. Tapi judul e-mail newsletter dari Medscape yang barusan kuterima cukup menarik ”Health benefits from coffee”…. dan menginspirasi judul tulisan ini. Langsung deh aku kejar, dan aku menemukan abstrak sebuah hasil penelitian di Annals of Internal Medicines 2008; 148 (12):904-914. Judulnya : The relationship of coffee consumption with mortality”.(http://www.medscape.com/medline/abstract/18559841).

Studi ini berupa studi cohort prospektif yang merupakan pengamatan bertahun-tahun (selama 18 tahun pada pria dan 24 tahun pada wanita) yang melibatkan 41 ribu lebih pria dan 86 ribu lebih wanita sehat yang tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskuler maupun kanker. Konsumsi kopi mereka sejak th 1980 (untuk wanita) dan th 1986 (untuk pria) dicatat dan dianalisis, dihubungkan dengan kejadian kematian akibat kanker atau penyakit kardiovaskuler atau penyebab lain-lain. Konsumsi kopi dikelompokkan menjadi beberapa kategori, yaitu : < 1 cangkir/bulan, 1 cangkir/bulan – 4 cangkir/minggu, 2-3 cangkir/hari, 4-5 cangkir/hari, >=6 cangkir/hari. (Anda termasuk yang mana nih ?)……..

Hasilnya?

Ternyata ada hubungan terbalik antara banyaknya minum kopi dengan kejadian kematian akibat penyakit kardiovaskuler, dan tidak ada hubungannya dengan asupan kafein. Selain itu, tidak ada hubungan signifikan antara konsumsi kopi dengan kematian akibat kanker atau penyebab lain. Konsumsi kopi tanpa kafein nampaknya ada hubungannya dengan sedikit penurunan kematian akibat penyakit kardiovaskuler.

Nah lho….. jadi minum kopi ternyata ada manfaatnya, TAPI……. manfaat ringan minum kopi terhadap penurunan risiko penyakit kardiovaskuler masih perlu penelitian lebih lanjut.

Hm… secangkir kopi pun menemaniku menghadapi sederetan aktivitas yang sudah menanti di tahun 2009. Aktivitas rutin sebagai manusia, istri, dan ibu untuk menyiapkan si sulung yang akan menempuah UAN SD pertengahan tahun ini. Pekerjaan kantor seperti koreksi ujian, koreksi beberapa thesis dan skripsi, proyek penelitian yang menanti disentuh, persiapan kuliah semester depan (termasuk aplikasi Hibah Pengajaran STAR yang pernah kuceritakan pada posting sebelumnya), laporan kegiatan PHK internal UGM, dll. sudah antri di daftar pekerjaan. Selain itu, pekerjaan kolektif yaitu bersama-sama membangun Fakultas Farmasi UGM menuju ”Fakultas riset berkelas dunia namun tetap berpijak pada bumi Indonesia” juga tidak ringan. Mudah-mudahan upaya itu nanti bisa menghasilkan apoteker-apoteker Indonesia baru yang lebih bermutu dan lebih bermanfaat bagi masyakarat banyak. Tentu perlu banyak energi lebih dari secangkir kopi….

Anyway, marilah kita membangun negeri menjadi lebih baik di tahun ini, dengan mengawali dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, pekerjaan, profesi…. sehingga akan bersinergi membangun negeri yang gemilang !

Selamat tahun baru…