Metro Pagi hari Minggu : story behind the scene…

16 05 2010

Dear kawan,

Talk show Metro Pagi 16 Mei 2010 dari layar kaca

Ada yang tidak biasa pagi ini, Minggu 16 Mei 2010 (maaf deh kalau agak lebay….hehe..), yaitu aku nongol di Metro TV, di acara Metro Pagi, untuk sebuah talk show yang membahas tentang Bahaya alkohol dan miras oplosan. Lha, ketemu berapa perkara ya, kok tiba-tiba aku bisa nongol di TV nasional? Hm…beginilah story behind the scene-nya…..

Dikontak Produser acara Metro TV

Kamis pagi, sewaktu ngecek e-mail, aku mendapat satu e-mail dari seorang yang mengaku produser Metro TV, meminta kesediaanku menjadi narasumber pada acara Metro Pagi, live, untuk topik Bahaya Miras Oplosan. Agak-agak surprised plus ge-er juga,… tapi juga ada yang lucu, karena lagi-lagi aku dipanggil “Dok”, dikira dokter. Beliau (si pengirim e-mail) minta nomer HP-ku, dan beliau pun mencantumkan nomor HPnya. Pagi itu aku SMS beliau, dan mengatakan bahwa aku ini bukan dokter, tapi apoteker, dan posisiku di Yogya, karena aku dosen Fakultas Farmasi UGM, apa tetap mau diminta jadi narasumber? Siangnya beliau menelpon, tetap meminta kesediaanku menjadi narasumber. Jadi, ceritanya beliau searching di internet untuk mencari narasumber yang sesuai dengan topik. Sebelum itu katanya beliau sudah menghubungi beberapa orang calon, tapi belum ada yang cocok. Dan akhirnya, terdamparlah beliau ke sebuah informasi tentang Buku Bahaya Alkohol yang pernah aku tulis bersama Mbak Hartati Nurwijaya. Setelah menelisik lagi, ketemulah alamat e-mailku, sehingga kemudian beliau mengontak aku. Wah,…sempet agak menimbang-nimbang juga jika harus pergi ke Jakarta. Mbak Hartati jelas ngga mungkin, karena beliau berdomisili di Yunani.

Tapi setelah aku pikir lagi, kapan lagi ada kesempatan baik seperti ini untuk berbagi secara lebih luas. Dan yang penting lagi adalah pengalaman baru yang menarik, tampil di Metro TV sebagai narasumber, aduuh…keren kan? (“lebay mode” on selama dua hari dua malam). Siapa ngga kenal Metro TV, dengan image-nya yang mencerdaskan pemirsanya. Dan bagiku ini adalah sebuah apresiasi terhadap karyaku dan aku sendiri. Dan kalau untuk seperti ini aku ngga itungan lagi deh…. ngga mikir dapat honor berapa, atau bahkan tombok berapa. Mungkin inilah yang disebut kepuasan batin, yang tak ternilai dengan uang. Kalo menurut teori Maslow, ini merupakan kebutuhan dasar kelima manusia yaitu untuk aktualisasi diri (kalii…hehehe).  Dan aku pelajari selama ini, bahwa  ketika kita berbagi, ternyata tidak ada yang berkurang, malah bertambah. Paling tidak bertambah pengalaman, tambah teman, tambah ilmu. Akhirnya aku putuskan untuk bisa datang ke Jakarta supaya bisa langsung hadir di studio Metro TV. Alhamdulillah, dapat tiket pesawat lumayan murah, sehingga tidak tombok terlalu banyak hehe…. Kadang kita perlu keluar modal sedikit, untuk mendapatkan hasil yang lebih besar. Karena acaranya pagi sekali, maka kuputuskan untuk berangkat ke Jakarta Jumat sore, menginap semalam di rumah adik, dan pulang esok harinya.

Aku cuma berpikir bahwa ternyata ada gunanya juga punya blog ini, atau menulis buku, sehingga orang bisa mengenal kita, dan mungkin akan mengundang kita dalam kegiatan tertentu yang akan memperkaya pengalaman kita. Dan pengalaman itu mahal harganya…. tidak setiap orang bisa memiliki kekayaan pengalaman, apalagi pengalaman yang unik, menarik, sekaligus bermanfaat.

Teroris mengalahkan segalanya..

Jumat sore aku berangkat ke Jakarta dilepas dengan tangisan si kecil yang kepengin ikut ibu. Hm.. sedikit dilematis, tapi akhirnya ia baik-baik saja walau masih menangis. Matahari sudah bersembunyi di peraduannya ketika burung besi yang membawaku dari Jogja mendarat mulus di Bandara Soekarno Hatta. And…poor me,…. Jakarta menyambut dengan kemacetan luar biasa di berbagai sektor malam kemarin. Butuh waktu 3 jam dari Bandara ke rumah adikku di kawasan Jati Asih Bekasi. Ya sudah, kunikmati saja sebagai bagian dari perjuangan (ceilee…), sambil kusyukuri hidupku di Yogya yang masih jauh lebih nyaman untuk urusan perjalanan. Malam itu sesampai di rumah aku langsung mandi, sholat, lalu tidur, karena besok pagi pasti harus berangkat pagi sekali, karena acara direncanakan live jam 6-7.

Benar saja, aku baru saja membuka mata ketika driver Metro TV mengirimkan pesan singkat ke HPku, bahwa dia sudah menunggu di depan rumah. Weekk .. itu baru (apa sudah?) jam 4 pagi !!  Tanpa mandi (jangan bilang-bilang penonton Metro TV ya.. hehe), aku segera bersiap-siap dan berdandan secukupnya, lalu berangkat jam 04.30. Jalanan masih sepi, apalagi kebetulan hari libur, sehingga kami sampai ke Studio Metro TV di bilangan Kedoya pada pukul 05.10an. Setelah menyempatkan sholat shubuh di Mesjid Metro TV, aku menuju lobby yang menjadi tempat shooting. Kayaknya memang pepatah berikut ini sangat pas…. “Manusia berencana, Tuhan yang menentukan”… Setelah sampai di sana, ketemu Mas Arnaz si Produsernya, aku diberitahu bahwa acara pagi ini ngga jadi ditayangkan live, karena ada berita yang dianggap lebih hot untuk diangkat, yaitu mengenai identitas teroris yang ditangkap beberapa hari sebelumnya. Yah, udahlah…..kalau sama teroris mah, aku ngalah aja….  Kecewa sih enggak, tapi mungkin ada temen-teman yang sudah terlanjur menunggu acaranya jadi kecele…. Maaf yaa. Buatku sendiri sih aku anggap sebagai blessing in disguise,…. dengan tidak tampil live, beban sedikit berkurang…. lebih santai dan tidak tegang. Karena tampil live biasanya membuka kesempatan penelpon untuk bertanya, dan seringkali sulit diprediksikan pertanyaannya. Kalau ngga bisa jawab kan agak malu juga hehehe… Dan yang lebih penting lagi, aku jadi bisa nonton sendiri acaranya di TV…!!

Shooting bersama celebrities

Host acara kali ini dua wanita cantik, yaitu Mbak Prita Laura dan Aviani Malik. Yang biasanya cuma bisa dilihat di layar kaca, kali ini bisa ketemu langsung, dari dekat lagi. Oya, ada yang lucu deh…. kata Mas Arnaz, waktu mau ketemu dengan narasumber, dia cari-cari seorang yang sudah keliatan berumur gitu. Dan dia agak kaget juga karena yang ditemui ternyata masih muda dan ngga keliatan kayak profesor blas hehe… Bahkan dokter Syailendra yang menjadi sesama narasumber juga berkomentar begitu. Dengan tas ransel di punggung, aku lebih mirip mahasiswa S2 katanya …..

Sebelum shooting, Mbak Aviani dan kami narasumber sempat berbincang-bincang tentang hal-hal yang mau ditalk-showkan nanti, sambil kami dimake-up. Tak lama, Mbak Prita menyusul dalam perbincangan, sampai kemudian sampailah pada saat shooting. Alhamdulillah, shooting berjalan lancar, dan aku ngga tegang sama sekali. Sekali lagi, topik kali ini adalah mengenai bahaya miras oplosan. Aku sudah sering membahas ini di beberapa kesempatan (di radio atau di Jogja TV, dan juga di blog ini), jadi ngga begitu masalah. Aku sih sebenernya merasa ngga begitu optimal, tapi yah…itulah yang terbaik yang bisa aku lakukan.

People power

Bagaimanapun, masalah miras oplosan memang sudah makin memiriskan. Sulitnya, peraturan yang ada masih sulit menjamah dan mencegah penjualan miras oplosan, karena mereka bisa memperoleh bahan pembuat miras oplosan dengan mudah dan bebas. Metanol atau spiritus bisa dibeli dengan bebas di warung atau toko. Alkohol (etanol) juga legal dibeli di apotek dalam bentuk larutan antiseptik. Obat-obat lain yang sering dicampurkan juga bisa dibeli bebas tanpa resep di toko obat. Jadi sulit untuk menjerat mereka di awal proses aktivitas pembuatan miras oplosan. Barulah setelah ada korban yang berjatuhan, aparat yang berwenang baru turun tangan, dan itu seringkali sudah sangat terlambat. Dan itu terus terjadi berulang kali, bergiliran di berbagai tempat di belahan bumi Indonesia kita tercinta ini. Mengapa?

Harus kita akui bahwa minum minuman beralkohol (dalam hal ini etanol, bukan miras oplosan) di beberapa daerah merupakan bagian dari kebudayaan setempat, bahkan masuk dalam ritual upacara adat atau keagamaan tertentu. Dengan label sebagai minuman tradisional, seperti ciu, tuak, brem, masyarakat kita merasa sah-sah saja membuat dan mengkonsumsinya. Itulah mengapa aktivitas konsumsi alkohol ini sulit diberantas. Okelah, kalau sekedar itu bisa dibilang masih “aman”. Tapi sekarang yang terjadi adalah bahwa tujuan minum bukan lagi sekedar sebagai bagian dari tatakrama budaya, tapi memang untuk tujuan mabuk, melarikan diri dari masalah, untuk bersenang-senang, dll, sehingga muncullah miras-miras oplosan yang ditujukan untuk meningkatkan efek memabukkannya itu (maunya,…. tapi yang lebih sering adalah efek mematikan…). Harus diakui, masyarakat kita sangat kreatif, sehingga kalau dilihat, komposisi miras oplosan sangat variatif dan suka-suka yang bikin….. ada yang dicampur obat nyamuk, minyak tiner, minuman energi, sampe duren, coklat, dll. Suatu kreativitas yang membahayakan….. Lalu bagaimana?

Kesadaran untuk menghindari konsumsi minuman keras harus datang dari diri sendiri, dengan melihat bahaya-bahaya yang bisa diakibatkan. Apapun peraturan Pemerintah, apalagi peraturan sekarang yang masih terbatas pada regulasi peredaran minuman keras, tidak akan bisa menghentikan aksi-aksi pembuatan miras oplosan ini selama masih ada konsumen yang membutuhkannya. Dalam konteks yang lebih luas, kesadaran itu harus datang secara massal dari masyarakat dan itu merupakan gerakan moral bersama, suatu people power, yang dengan sadar meminta Pemerintah mengatur lebih tegas tentang urusan miras ini, karena tumbalnya adalah generasi muda. Perlu kerjasama yang lebih baik dari berbagai komponen negeri ini, dari Dinas Kesehatan, aparat Kepolisian, LSM-LSM, Lembaga pendidikan dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi, mensosialisasikan gerakan “No way for Miras”. Begitulah kira-kira….

Demikian kawan, pengalamanku hari ini. Hari ini account Face Book-ku penuh dengan komentar terkait dengan tayangan Metro tadi pagi, yang rata-rata membesarkan hati. Ada pula sih yang menyesalkan kenapa gelar Apotekernya ngga tertulis. Wah, itu diluar kekuasaanku, dan mungkin juga ada sedikit kekurangan informasi. Terimakasih kawan-kawan atas doa dan supportnya. Support dan apresiasi kawan-kawan ini tak ternilai harganya. Kayaknya tidak cukup sampai di sini, di depan masih banyak tantangan menanti….. Bismillah…





Selebritis narsis di Geronimo 101,6 FM…..

3 11 2009

Dear kawan,

IMG_0211 crop geronimo

sehabis "on air".... (awas kelelep lho..)

Kali ini ceritaku tentang selebriti dadakan yang sedikit narsis.. hehe… yaitu pengalamanku mengisi acara di sebuah radio,  jangan diketawain yaa….. !!Hmm… suer deh, ini pengalaman pertamaku ngisi acara di radio… (Kalo  jadi narasumber di acara TV malah pernah, walau cuma TV lokal Yogya, dalam acara “UGM Berkomunikasi”). Dan ini adalah berkat usaha Mbak Hartati sebagai salah satu bentuk promo buku kami yang berjudul “Bahaya Alkohol dan cara mencegah kecanduannya”… aku sih cuma tinggal brangkat aja. Jadi ceritanya nih malam Senin kemarin aku ngisi acara sebagai bintang tamu di acara “Oh Indahnya Yogya”, yang dipandu oleh Mbak Sondy. Acaranya jam 21-22 malam di Geronimo 101,6 FM, sebuah radio ngetop di Yogya.

Persiapan

Minggu lalu aku menerima e-mail dari Mbak Tati, bahwa beliau sudah mengontak Radio Geronimo untuk bisa punya acara di sana. Salut deh Mbak Tati, .. beliau kreatif dan mencari segala upaya untuk mempromosikan buku kami. Aku sih ngikut saja. Singkat cerita, kami dikasih waktu tg 2 November ini, jam 21-22. Dan karena mbak Tati ada di Yunani, praktis aku deh yang harus berangkat mengisi acara. Hari Jumat aku dikontak mbak Sondy, host-nya, diminta mengirimkan CV dan sinopsis bukunya. Aku sendiri dengan agak-agak narsis menulis status di FB-ku supaya teman-teman mendengarkan siaran Senin malam jam 21-22 di radio Geronimo… haha…..

Hari Senin, hari H siaran, jadwalku lumayan padat sejak pagi. Ada 3 kuliah, malah semestinya 4 kuliah, tapi yang satu lupa (maaf deh, dear students). Aduh, aku mulai start grogi…. atau tepatnya agak tegang, membayangkan apa yang bakal terjadi untuk siaran malamnya. Maklum deh, baru pertama kali, jadi maklum aja… Sorenya setelah selesai kuliah terakhir, aku coba baca-baca lagi tulisanku yang pernah kutulis tentang alkohol. Aku masih belum punya gambaran mau disuruh ngomong apa nanti malam. Aku print beberapa yang kuanggap penting. Untungnya tak berapa lama Mbak Sondy kirim SMS, katanya akan mengirim outline acara nanti malam. Baguslah…, jadi aku punya pegangan…

Habis maghrib, beberapa jam sebelum siaran. Aku check e-mail dari Sondy, yang sempat tertunda karena server error, katanya. Alamaak, … jadi tambah tegang nih …. aku tulis status di FBku…” kayak nunggu ijab kabul aja” haha… Untunglah outline segera aku peroleh, dan aku pelajari bentar apa-apa yang akan dan perlu disampaikan dalam acara nanti. Salah satunya adalah pertanyaan tentang bagaimana aku bisa bekerja sama dengan Mbak Tati dalam menulis buku ini. Aku buka catatanku di blog ini, seingatku aku dulu pernah menulis tentang awal-awal aku diajak mbak Tati menulis (bisa dilihat di sini). Paling tidak aku menemukan data penting tentang sekitar kapan Mbak Tati mulai mengontak aku untuk berkolaborasi. Hmm…. ada gunanya juga nih kutulis semua yang kualami, bisa jadi dokumentasi hidup. Aku juga sempatkan lagi pelajari isi bukuku sendiri ,….. aku ingat hal-hal yang kuanggap penting. Wah, rasanya kayak mau ujian saja… haha… Selebihnya aku pasrah. Dan thanks buat teman-teman yang secara khusus mengontakku lewat FB atau YM untuk memberi semangat dan doa ….. Kayak mau maju perang saja….. !!

Selebriti on air

IMG_0217 dg Sondy geronimo

aku dan Sondy... sesama imut dilarang saling mendahului...

Aku sampai di Radio Geronimo FM sekitar jam 20.40-an. Sepanjang jalan, sambil nyetir  aku mencoba ngomong sendiri tentang alur cerita bagaimana aku bisa berkolaborasi dengan Mbak Tati. Kayak orang gila ngomong sendiri haha….!! Pas banget, ketika aku datang, Mbak Sondy juga datang. Kami ngobrol sebentar mengenai hal-hal yang mau disampaikan nantinya. Keteganganku mulai cair… lagipula mbak Sondy-nya juga ramah mengajak ngobrol. Menjelang jam 21.00, aku diajak masuk ke ruang siaran. Oya, sebelum itu, kami berusaha mengontak Mbak Tati lewat FB agar beliau juga bisa berpartisipasi dalam acara dengan cara menelpon dari Yunani.

Well, acara dimulai…. aku sudah bisa mulai santai… dasarnya aku orangnya santai dan suka juga bercanda, jadi tidak terlalu sulit mengimbangi Mbak Sondy. Malah ada yang komentar, katanya ternyata profesornya gaul juga haha….. Pertama, aku diminta menceritakan bagaimana aku bisa menulis bersama dengan mbak Tati, yang uniknya, kami sendiri bahkan belum pernah bertemu muka!! Ngomong lewat telpon juga cuma sekali. Aku ceritakan bahwa ide penulisan buku ini adalah berasal dari Mbak Tati. Beliau yang mengajak aku menulis. Aku sendiri hanyalah dosen biasa yang kebetulan suka nulis di blog, itu pun tulisan suka-suka aku. Suatu kali aku pernah aku menulis tentang Ginseng Mabur, yaitu kasus meninggalnya beberapa orang di Semarang akibat minum miras oplosan. Mungkin, secara tidak sengaja, mbak Tati menemukan namaku ketika searching di internet, lalu beliau mengontakku. What is a small world!! Kami sangat berterimakasih dengan penemu teknologi informasi canggih sekarang ini, yang memungkinkan dua orang yang berada di benua berbeda bertemu untuk menulis bersama. Dan kayaknya seperti itulah pertemuan jodoh hehe…… kayak ada chemistry-nya…. kami segera klik untuk menulis dan berbagi tugas penulisan. Tapi dari mbak Tati sendiri bahannya sudah banyak sekali, jadi sebenarnya aku lebih banyak melengkapi apa-apa yang sudah ditulis mbak Tati, terutama kalau berkaitan dengan masalah kesehatan.

Hm.. sesi-sesi berikutnya dalam siaran mengalir lancar. Sayangnya Mbak Tati tidak bisa terlalu lama bergabung lewat telepon. Yunani terlalu jauh kali yaa… jadi ada jeda antara waktu bicara dan suara yang sampai, jadi kadang suaranya tidak terdengar jelas. Apalagi ternyata paginya, Mbak Tati baru kena musibah.. kecurian laptop di rumahnya karena lupa kunci pintu ketika belanja. Wah, turut prihatin, Mbak…

Di satu sesi, Mbak Sondy memintaku menceritakan tentang kisah pecandu alkohol di berbagai belahan dunia. Di buku memang sudah dituliskan, dan itu merupakan cerita nyata yang diperoleh dari berbagai kontributor kami yang ada di berbagai negara. Terimakasih untuk para kontributor buku kami.  O,ya… ini juga salah satu kehebatan Mbak Tati sebagai penulis senior, yaitu memanfaatkan jaringan koneksinya dengan banyak teman di berbagai negara, sehingga mereka mau menyumbangkan tulisannya tentang kisah-kisah pecandu alkohol di berbagai negara, termasuk di beberapa daerah di Indonesia.   Dalam siaran kemaren, aku menekankan pada contoh kisah tragis mundurnya seorang Menteri Keuangan Jepang, Soichi Nakagawa, karena mabuk pada KTT G7 di Roma Italia pada bulan Pebruari 2009. Bukan mabuknya yang dimasalahkan, orang Jepang mah udah biasa mabuk. Tapi dengan mabuk nya itu sang Menteri tidak bisa menjawab pertanyaan pada konferensi pers dengan tepat dan itu malu-maluin banget negara Jepang. Dan itu memicu komentar yang keras di dalam negerinya, sehingga Pak Menteri memilih mengundurkan diri. Beritanya bisa dilhat di sini.

IMG_0204-crop

aku dan sang buku...

Pertanyaan yang masuk lewat SMS banyak sekali….. tapi waktunya terbatas, jadi tidak bisa semua terjawab. Maaf ya teman-teman, mudah-mudahan sudah cukup mewakili. Oya, untuk menjawab pertanyaan2 itu memang harus pandai-pandai mencari peluang untuk “ngepek buku” hehe… Alhamdulillah, diberi kelancaran. Tentu masih ada satu dua pertanyaan yang tidak memuaskan jawabannya, karena kemampuan dan ingatanku juga terbatas. Oya lagi, yang kirim pertanyaan, yang beruntung bisa dapat buku ini gratis loh…!

Aku menangkap bahwa antusiasme masyarakat ternyata cukup besar, terbukti dari banyaknya SMS yang masuk. Itu menunjukkan bahwa masalah alkohol memang masalah kita bersama, yang seperti fenomena gunung es. Banyak juga yang menanyakan bagaimana menghentikan kecanduan, karena bolak balik kembali lagi kepengin minum. Aku sampaikan bahwa ada beberapa cara mencegah kecanduan, tetapi sangat penting adalah niat dari diri sendiri. Jika tidak berhasil, bisa dilakukan terapi psikologis atau medis, yang tentunya harus dilakukan oleh orang yang kompeten di bidangnya.

Well, sudah cukup banyak contoh yang merugikan akibat penggunaan alkohol. Dan mau minum atau tidak, itu sebenarnya adalah pilihan hidup. Kalau kita sudah melihat banyaknya pengalaman buruk orang lain karena bahaya alkohol, mengapa kita harus merasakannya sendiri? Bodoh bukan? Dan kita tidak perlu berurusan dengan masalah alkohol dulu untuk membeli buku ini. Kita bisa berbagi ilmu dengan buku ini, untuk mengajak yang lain menghindari bahaya alkohol. Mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi pahala yang tiada putus. Amien.

Yah, begitulah sedikit ceritaku ketika menjadi selebritis dadakan di radio Geronimo Senin malam kemarin. Dan apa narsisnya?… aku sempat foto-foto juga yang bisa Anda lihat di posting ini…. hehe…





Bahaya alkohol mengintai kita…

2 08 2009

Dear kawan….,

alcoholAku yakin pembaca blog ini sebagian besar tidak begitu “aware” dengan bahaya alkohol… Bukan karena tidak tau atau tidak pernah membaca, tapi lebih karena jarang menyentuh apa lagi meminumnya (begitu mudah-mudahan). Termasuk aku sendiri pun, kalau nggak diajak Mbak Tati (Hartati Nurwijaya) menulis buku tentang ini, aku ya hanya tau sekedarnya saja….. karena merasa tidak berkepentingan, karena nggak pernah minum, dan Insya Allah tidak akan minum.

Tapi kawan, ….

kalau kita pelajari lagi dan lihat sekeliling kita….. betapa sebenarnya alkohol dan teman-temannya (drugs, narkoba) sudah mengintai di setiap sudut kota. Alkohol adalah salah satu pintu masuk untuk mengenal drugs dan menjadi salah satu penyebab utama kriminalitas remaja dan dewasa. Fenomena kecanduan atau bahaya alkohol seperti “fenomena gunung es”, yang hanya kelihatan puncaknya saja, tapi ternyata di bawah banyak sekali kejadiannya. Berita yang muncul di koran tentang matinya secara sia-sia beberapa orang akibat menenggak miras hanyalah nol koma nol sekian persen dari jumlah kejadian sebenarnya. Hal ini didasarkan fakta bahwa sebenarnya sejarah alkohol sama panjangnya dengan sejarah peradaban manusia itu sendiri.

Ini diketahui melalui hasil penelitian para ahli arkeologi bahwa minuman alkohol muncul pertama kalinya dari zaman peradaban Mesir kuno. Dari sinilah minuman alkohol berkembang hingga kini, dan masih menjadi bagian dari peradaban manusia. Kemudian dilanjutkan dengan sejarah alkohol di zaman Yunani kuno dan Romawi kuno. Dari sejarah tadi bermunculanlah berbagai jenis minuman beralkohol di berbagai belahan bumi, masing-masing dengan kekhasan pembuatannya, yang tidak lepas dari budaya setempat. Perancis terkenal dengan winenya, Rusia dengan vodka, Jepang dengan shochu dan sake, dan masih banyak lagi daerah-daerah menghasilkan minuman beralkohol yang khas, tidak terkecuali berbagai daerah di Indonesia. Tuak, arak, brem, ciu, lapen adalah sedikit saja dari macam minuman beralkohol tradisional di Indonesia.

Sekarang dengan era globalisasi, semakin mudah pula penyebaran budaya, termasuk budaya minum alkohol. Masih “untung” mayoritas penduduk kita adalah muslim yang notabene mengharamkan alkohol, sehingga kelihatannya budaya minum alkohol belum menjadi budaya kita. Tapi bukan rahasia pula bahwa banyak mereka yang mengaku muslim, tetapi minum alkohol pun tak dipantang.

Setelah menyadari bahwa lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya, sekarang di negara-negara yang punya “budaya” minum alkohol pun sudah mulai muncul gerakan-gerakan untuk berpikir ulang untuk minum alkohol – rethinking for drinking. Sebuah website yang disponsori oleh Pemerintah Amerika Serikat dan jajarannya (http://rethinkingdrinking.niaaa.nih.gov/ ) telah mengajak masyarakatnya untuk berpikir ulang untuk minum alkohol. Karena yang banyak itu pasti dimulai dari yang sedikit. Mereka menerbitkan booklet dengan judul Rethinking drinking: Alcohol and Your Health yang dapat diperoleh secara gratis.

Nah, keprihatinan terhadap bahaya alkohol untuk para generasi penerus bangsa inilah yang menjadi dorongan kami (Mbak Tati dan saya) untuk mewujudkannya dalam buku yang sekarang dalam proses penerbitan. Dalam buku itu dipaparkan berbagai macam minuman beralkohol dari berbagai penjuru dunia dan budaya minum alkoholnya. Beberapa kisah peminum alkohol dan akibatnya juga disampaikan, demikian pula efeknya, baik secara fisik maupun psikis dalam sudut pandang kesehatan. Tentu saja beberapa cara mencegah atau mengobati kecanduan alkohol juga diuraikan dengan gamblang. Terimakasih atas semua rekan dari berbagai belahan bumi yang sudah berkontribusi untuk buku ini.

Just for your info saja……

Tahukah kalian, kawan, bahwa jenis alkohol itu ada yang hanya merupakan hasil fermentasi dan ada juga yang didestilasi setelah fermentasi? Itu yang disebut jenis beer dan spirits, di mana spirits ini kadar alkoholnya lebih tinggi yang diperoleh dari proses destilasi. Sebuah tulisan pada jurnal Alcohol terbitan Mei 2009 (Vol 43, hal 185-195) melaporkan bahwa jenis alkohol yang diminum dapat mempengaruhi keparahan dari ketergantungan alkohol dan kepatuhannya terhadap pengobatan kecanduan alkohol. Baltieri, dkk menemukan bahwa keparahan ketergantungan alkohol lebih banyak dijumpai pada peminum spirits ketimbang beer, demikian pula kepatuhan pecandu spirits terhadap pengobatan kecanduan alkohol lebih kecil ketimbang pada pecandu beer, sehingga perlu dicarikan metode yang lebih baik untuk mengatasi kecanduan spirits.

Di Indonesia, bentuk spirits ini tidak banyak dijumpai pada minuman beralkohol asli Indonesia. Tapi yang lebih memprihatinkankan adalah banyaknya minuman-minuman oplosan yang umumnya dikonsumsi masyarakat kalangan ekonomi lemah, sebagai bentuk “pelarian” dari himpitan kehidupan. Sedih sekali melihatnya. Mestinya ada upaya dari berbagai pihak untuk bisa menekan penggunaan miras ini dengan lebih sistematis, sekaligus pemberian informasi yang lebih luas mengenai bahaya alkohol. Kampanye Bahaya Alkohol ke berbagai penjuru tanah air yang memiliki korban miras tinggi merupakan salah satu upaya yang akan kami lakukan (Insya Allah) bersamaan dengan peluncuran buku ini. Siapa ya yang akan mendukung? Kami sangat terbuka untuk mendapat dukungan semua pihak, baik moril maupun materiil. Mungkin ada yang mau ngasih penginapan gratis, atau akomodasi dan transportasi, atau apalah hehe…….. Silakan kontak saya saja melalui blog ini…

Demikianlah, ini iklan untuk buku kami : “Bahaya Alkohol dan Cara Mencegah Kecanduannya” yang mudah-mudahan akan segera diterbitkan oleh PT Elex Media Computindo hehe…..  Beli yaa…..