Rekrutmen partisipan untuk penelitian farmakogenetik

29 10 2009

Dear kawan,

snp_1

Bagaimana gen mempengaruhi efek obat

Saat ini aku sedang melakukan penelitian bersama tim untuk memetakan polimorfisme genetik pada orang Indonesia. Pemikiran yang melatarbelakangi adalah bahwa hingga saat ini belum ada publikasi mengenai peta polimorfisme genetik pada orang asli Indonesia terkait dengan berbagai gen yang mungkin terlibat dalam respon obat. Untuk itu sangat perlu kiranya dilakukan pemetaan polimorfisme genetik pada penduduk asli Indonesia, apalagi Indonesia sangat kaya dengan suku bangsa, yang sangat memungkinkan terdapatnya variasi genetik yang luas.

Pada penelitian kali ini akan dilakukan pemetaan genetik khususnya pada suku Jawa sebagai suku dengan populasi terbesar di Indonesia. Pada kesempatan penelitian berikutnya dimungkinkan untuk memetakan pola polimorfisme genetik pada berbagai suku lainnya di Indonesia. Gen yang dipilih untuk diamati kali ini adalah gen yang mengkode enzim sitokrom P450 subtipe CYP2D6, CYP2C9, dan CYP2C19, karena mereka merupakan enzim yang paling banyak dilaporkan mengalami polimorfisme dan bertanggungjawab terhadap banyak kejadian adverse drug reaction dan kegagalan terapi beberapa obat yang lazim digunakan (Nelson, et al, 1996).

Penelitian ini merupakan penelitian kerjasama yang dilakukan oleh tim Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada dengan Institute for Research in Molecular Medicine (INFORMM) Universiti Sains Malaysia.

Untuk itu dibutuhkan relawan-relawan sebagai subyek penelitian ini, dengan kriteria :

pria/wanita, usia 18-40 tahun, sehat jasmani (berdasarkan pemeriksaan kesehatan yang akan dilakukan), suku Jawa asli (bapak dan ibunya orang Jawa, kakek dan nenek dari kedua pihak juga suku Jawa), diutamakan yang tinggal di Yogya dan sekitarnya untuk kemudahan teknisnya.

Subyek/relawan akan diminta hadir pada saat dan tempat yang akan diinformasikan kemudian, lalu diambil darahnya dan diperiksa kesehatannya secara umum, untuk memastikan kondisi kesehatannya, apakah memenuhi kriteria inklusi apa tidak. Direncanakan diperlukan sekitar 200 orang subyek yang memenuhi kriteria inklusi. Buat teman-teman yang tertarik, silakan mendaftarkan diri pada saya melalui e-mail atau message via FB, atau langsung mencatatkan diri di Magister Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM Gdg Unit 3 lt 3 (contact person: Mbak Desi), atau kepada Pak Arief Rahman Hakim di bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik Fak Farmasi UGM, bisa melalui e-mail atau message via FB beliau, atau langsung mencatatkan diri di Bagian Farmakologi.

Relawan dapat apa?

Relawan yang mendaftarkan diri akan mendapatkan pemeriksaan ksehatan lengkap secara gratis, baik nanti masuk dalam kriteria kesehatan subyek atau tidak. Selain itu, ada sekedar bingkisan pelepas lelah.

Demikian, mohon bantuan dan doa restunya yaa…..

Terimakasih banyak sebelumnya..

Iklan




My note (3): Ballarat journey..

24 10 2009

Dear kawan,

IMG_0115-crop

Menuju Ballarat city....

Judul posting ini mengambil nama sebuah kota kecil berjarak 110 km di barat Melbourne. Sama dengan Bendigo yang aku kunjungi dua hari lalu ketika melawat ke Fakultas Farmasi La Trobe University, kota ini merupakan salah satu kota bersejarah di Australia terkait dengan penambangan emas jaman dulu. Pada tahun 1851, John Dunlop dan James Regan menemukan beberapa ons emas di sungai Canadian di daerah Ballarat, dan saat itulah dianggap sebagai awal dari sejarah perburuan emas terbesar di dunia dan telah mengubah wajah Australia….. Ballarat saat ini menjadi kota yang cukup banyak dikunjungi wisatawan, karena memiliki berbagai tempat yang menarik. Ada Eureka Center, yang menggambarkan penemuan emas jaman dulu, ada observatorium, castle, Botanical garden, dll. Nama Ballarat yang terdengar agak aneh di telinga itu adalah berasal dari bahasa Aborigin: “Balla Arat”, yang artinya istirahat (rest) atau tempat berkemah ( “camping place”).

Yah,…. setelah tiga hari bekerja keras mikirin negara (haha…..), hari Sabtu ini kami memanfaatkan waktu untuk menambah wawasan tentang Australia,.. maksudnya jalan-jalan gitu loh… hehe.. Kami dijadwalkan pergi ke Ballarat, untuk bertemu dengan kanguru dan koala…..setelah sebelumnya bertemu dengan para profesor dan doktor dari Monash dan La Trobe University..

Namun sebelum ke Ballarat, kami akan menengok Festival Indonesia dulu, sebagai bentuk kecintaan kami pada negeri kita haha…. (gayane..). Pagi-pagi jam 10an dengan dipandu oleh dik Ika, kami berjalan menuju Federation Square, sekitar 10 menit jalan kaki dari Hotel, di depan Flinder Street Station. Di sanalah tempat diselenggarakannya Festival Indonesia, yang memperagakan berbagai budaya Indonesia di sebuah panggung besar. Wah, pas sekali, kami datang pas ada Festival Indonesia. Alhamdulillah, …. cuaca sangat bersahabat. Langit biru cerah dengan suhu yang cukup hangat. Di Federation Square sudah cukup ramai. Selain orang Indonesia sendiri, banyak juga orang-orang bule lainnya yang nonton dan ikut berpartisipasi disitu. Banyak stand-stand yang menjual makanan Indonesia. Dan ternyata banyak tuh, orang Indonesia yang ada di Melbourne… baik yang tinggal untuk studi atau yang menjadi permanent resident. Melbourne nampaknya memang tempat yang nyaman untuk tinggal. Dengan banyaknya universitas di kota ini, industri pendidikan merupakan salah satu motor perekonomian di sini. Perlakuan pada orang-orang dengan multikultur cukup baik, karena sudah biasa menghadapi orang dari berbagai negara.

Hmm… Setelah sempat menikmati empek-empek Palembang dan melihat-lihat sejenak, kami pergi menuju stasiun Southern Cross  untuk naik kereta menuju Ballarat. Setelah membeli tiket ke Ballarat yang harganya 28 dolar AUD, kami berempat pun memulai perjalanan ke Ballarat yang memerlukan waktu sekitar 75 menit dari Melbourne. Perjalanan cukup asyik aja, tapi yah… hampir sama seperti perjalanan ke Bendigo. Sesekali kami menjumpai peternakan domba atau sapi dari kejauhan. Bunga-bunga yang tidak diketahui namanya bermekaran indah mewarnai musim semi… kuning, ungu, merah muda, dll…

Oya, ada yang menarik sepanjang perjalanan kami di dalam kota Melbourne menuju stasiun. Aku melihat banyak wanita-wanita muda dengan baju resmi dan indah mengenakan topi bulu atau topi bunga bergerombol di pinggir jalan beserta para pria yang berbaju resmi pula. Olala…. ternyata mereka menunggu jemputan untuk  menonton pacuan kuda. Kata dik Ika, orang sini kalau mau nonton pacuan kuda pasti pake baju dan dandan heboh…. pernah kan lihat kaya gitu di TV ?..  Ya, kebetulan memang saat ini ada Melbourne Spring Carnival…. pacuan kuda bergengsi yang diselenggarakan sekali setahun pada musim semi, dan jadi tempat taruhan orang-orang berduit kelas dunia. Hm… aneh-aneh aja ya di dunia ini….

Tempat yang dituju di Ballarat tak lain adalah Ballarat Wildlife Park, sebuah taman yang penuh dengan kanguru, dan beberapa hewan lain yang ada dalam kandang, termasuk koala, wombat, emus, dan aneka reptil. Kanguru di Ballarat Wildlife Park ini tersebar bebas di lapangan yang cukup luas. Kita boleh memberi makan langsung pada kanguru dengan makanan yang sudah disediakan. Koala tidak sebebas kanguru, karena mereka cukup sensitif dan berbahaya jika merasa terganggu. Cakarnya yang tajam bisa merobek kulit kalau ia marah, jadi ketika kami berfoto bersama koala, ada petugas yang memandu dan mengarahkan. Lumayan lama berjalan-jalan di sini, kami kembali ke Melbourne jam 4 sore waktu setempat.

Yah, lumayan capek hari ini… tetapi cukup menyenangkan. Masuk hotel lagi jam 18.30an karena harus berjalan lumayan jauh dari stasiun ke hotel, lalu kumulailah menulis posting ini dan sebentar lagi mesti siap-siap packing untuk pulang besok. Cerita tentang cari oleh-oleh di Victoria Market sengaja tidak aku tuliskan …. takut ntar pada minta oleh-oleh…hehe…. sangunya terbatas je..

See you later in the next posting from Yogyakarta….





My note (2): Ke Monash dan La Trobe University

23 10 2009

Dear kawan,

Pertama kali menginjakkan kaki ke Melbourne, kami disambut hawa yang sejuk mendekati dingin. Pesawat Airbus 380 dengan kode SQ227 yang membawa kami mendarat mulus di airport pada pukul 10 waktu setempat. Alhamdulillah…. Urusan imigrasi tidak terlalu lama, tapi yang agak lama justru menunggu bagasi datang. Keluar dari Bandara sudah jam 11 lebih, padahal kami punya janji untuk ketemu Gregory Duncan jam 12.15. Jadilah kami cuma cuci muka tanpa sempat ganti baju lagi, segera meluncur ke Faculty of Pharmacy and Pharmaceutical Science Monash University. Kami dijemput dik Ika, kolega yang sedang studi S3 di sana, jadi ngga sampai nyasar….

Tiga profesor lusuh dari UGM

Dengan pede walaupun gak mandi, kami sampai juga di Monash Uni di Parkville, dan kami sempatkan ke cafe bentar sambil menunggu waktu ketemu Greg. Aku SMS Greg bahwa kami menunggu di Primary Cafe yang ada di kampus tersebut. Tepat jam 12.15an, Greg datang menjumpai tamunya yang lusuh-lusuh ini, dan membawanya ke tempat pertemuan. Di situ, sesuai dengan pembicaraanku sebelumnya via e-mail, kami ingin melihat bagaimana pelaksanaan Journal Club untuk Evidence-based Practice, khususnya untuk mahasiswa S2 di bidang Farmasi Klinik.

Journal club EBP

For your info, evidence-based practice di dunia kefarmasian adalah adopsi dari evidence-based medicine yang berkembang di bidang kesehatan kedokteran. Maksudnya adalah bahwa praktek penatalaksanaan terapi suatu penyakit haruslah berdasarkan evidence, yaitu suatu bukti ilmiah yang sudah ditelaah dengan teliti. Biasanya berupa suatu hasil uji klinik obat tertentu, yang artinya uji pada manusia untuk memastikan efek suatu obat. Tidak bisa lagi berdasarkan pengalaman saja, atau ilmu yang sudah lewat bertahun-tahun. Farmasis atau apoteker memang tidak secara langsung memberikan pengobatan kepada pasien, namun sebagai bagian dari tim kesehatan, farmasis berhak dan berwenang memberikan saran kepada dokter mengenai pilihan pengobatannya, dan turut serta memonitor perkembangan kesehatan pasien. Itu yang terjadi di banyak negara maju. Untuk itu, apotekerpun harus selalu mengikuti perkembangan pengobatan terbaru yang berdasarkan bukti tadi. Dan untuk ini, Greg menggunakan istilah evidence-based practice untuk pharmacist.

Nah kawan,

Tidak semua publikasi tentang suatu uji klinik (yang dianggap sebagai evidence) ternyata cukup valid dan sesuai dengan situasi pasien tertentu. Untuk itu, seorang farmasis harus punya kekritisan untuk menilai validitas suatu publikasi di dalam sebuah jurnal. Itulah yang menjadi aktivitas jurnal club yang dipandu oleh Greg yang kami sempat ikuti. Semua peserta diskusi harus mempresentasikan hasil evaluasinya mengenai suatu paper tertentu yang dipilihnya sendiri dan disetujui oleh Greg.

Adapun kriteria evaluasinya adalah meliputi: 1. Kriteria validitas : Apakah hasil studinya valid? Hal ini bisa diamati dari beberapa hal, misalnya: apakah kelompok kontrol dan kelompok perlakuan memiliki prognosis yang sama, apakah ada randomisasi, apakah pasien pada kelompok perlakuan memiliki faktor prognosis yang sama dengan kelompok kontrol, dsb. 2. kriteria kepentingan: Seperti apa hasil studinya? Apakah hasilnya positif atau tidak, seberapa signifikan hasilnya, dll. 3. Kriteria aplikabilitas : Bagaimana saya bisa mengaplikasikan hasil studi ini pada pasien yang saya hadapi? Jika melihat kriteria inklusi dan ekslusi pasien, apakah hasil studi sesuai dengan pasien kita atau tidak, apakah hanya valid untuk keadaan pasien tertentu saja, dll. Contohnya, jika suatu studi klinik hanya dilakukan pada pasien yang hanya memiliki satu jenis penyakit saja, tentu tidak mudah mengaplikasikan hasil studi tersebut untuk pasien yang mengalami multiple disease.

Yah, semacam itulah…. aku rasa yang sangat penting adalah bagaimana kita tidak selalu menelan bulat-bulat (emangnya bakso..) semua informasi yang diperoleh, walaupun itu diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Perlu ada kekritisan yang didukung dengan logika berpikir yang baik, sehingga tidak salah dalam menerapkan suatu informasi untuk suatu keadaan tertentu. Lepas dari itu, yang menarik dari jurnal club ini adalah pelaksanaannya yang menggunakan teknologi teleconference. Jadi peserta jurnal club sendiri yang ada di Melbourne kemaren ada 3 orang, sedang yang 2 lagi berada di Hongkong dan New Zealand. Dan mereka bisa berinteraksi secara real time untuk berdiskusi mengenai hasil analisis masing-masing. Hm… canggih kan? Kayaknya kapan-kapan perlu diterapkan nih… hehe…

Bertemu dengan Prof Nation cs

monash

delegasi bersama Prof Stewart dan Assoc Prof Marriot

Dari ruangan jurnal Club, kami dibawa bertemu dengan Prof Peter Stewart (Deputy Dean untuk urusan Pendidikan) dan Assoc Prof. Jennifer Marriot (Director of Bachelor Program) di Faculty of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, Monash University. Kami berbincang tentang berbagai hal tentang kegiatan pendidikan di Monash, baik untuk program pasca maupun bachelor. Kami sempat dipamerin ruangan untuk Virtual Practice, di mana di ruangan itu ada 3 screen lebar yang digunakan untuk memutar film seperti keadaan suatu apotek yang sebenarnya. Student akan praktek disitu berlatih untuk melaksanakan pelayanan kefarmasian. Sebetulnya sih di UGM nggak kalahlah…. secara subtansi, mata kuliah yang diajarkan hampir sama saja. Lulusannya pun cukuplah bisa diandalkan. Yang lebih utama sebenarnya adalah setelah lulus jadi apoteker. Organisasi profesi harus cukup kuat taringnya untuk mengatur praktek pelayanan kefarmasian di lapangan, karena akademisi sudah tidak bisa menjangkau lagi hal-hal yang terjadi di luar fakultas..

Satu hal yang menarik juga adalah pendidikan Bachelor (S1) farmasi Monash juga ada yang diselenggarakan di Malaysia. Untuk tujuan lebih menginternasional, mereka membuka “cabang” Monash yang standardnya sudah ditetapkan seperti di Monash Australia.

Setelah selesai dengan Prof Stewart, kami ketemu Prof Roger Nation. Beliau Director of Center of Medicine Use and Drug Safety. Beliau lebih banyak cerita tentang riset di sana. Ada dua pusat riset utama, yaitu Monash Institute of Pharmaceutical Science (MIPS) dan Center of Medicine Use and Safety (CMUS). Dari namanya udah keliatanlah, bahwa yang satu mengkover riset-riset pengembangan obat, sedangkan satunya riset-riset tentang penggunaan obat pada manusia. Pertemuannya sampai jam 16 sore waktu setempat. Aduh… sampai sini aku agak ngantuk hehe… dan lapar. Karena sejak sarapan pagi di pesawat (sahur kali ya…) siangnya belum berisi apa-apa lagi kecuali secangkir hot chocolate di cafe tadi. Akhirnya, seusai pertemuan kami menuju hotel untuk check ini dan istirahat.

Malamnya kami diundang oleh teman-teman Indonesia yang ada di Melbourne untuk makan malam di rumah Pak Mulyoto. Pak Mulyoto adalah dosen sebuah PTN di Indonesia yang setelah menyelesaikan PhD-nya menjadi permanen residen di sini dan bekerja di Monash University. Wah, kami disuguh barbeque daging kambing yang lezat, dan aneka makanan lain… Kami berbincang sampai jam 23 malam… Oya, jangan heran ya…. jam 23 malam di sini itu bisa dibilang belum terlalu larut…. Lhah, maghribnya aja jam 20-an, Isya jam 21an….

Ke La Trobe

harvey Yaris

Bersama Dr Harvey dan Yaris putihnya di Bendigo

Hari kedua ini kami punya acara untuk berkunjung ke Fakultas Farmasi La Trobe University. Dr Ken Harvey yang aku kontak sebelumnya very kindly drove us ke Bendigo, sebuah kota kecil berjarak 2 jam dari Melbourne, di mana fakultas farmasi berada. Dr Harvey menjemput kami di hotel dengan mobil Yaris putihnya. Jalan dari Melbourne ke Bendigo sangat mulus, di samping kiri kanan dihiasi pohon-pohon pinus dan padang hijau luas. Untungnya kami datang pas musim semi, jadi banyak bunga-bunga yang bermekaran. Tapi yah…. sebenarnya perjalanannya agak membosankan sih hehe… karena daerahnya datar, tidak banyak variasinya. Aku sendiri malah terkantuk-kantuk dan sempat tertidur, gara-gara paginya minum obat flu. Yah, flu yang aku peroleh sejak sebelum berangkat ternyata masih berlanjut di Melbourne.

Bendigo merupakan kota tua bekas penambangan emas jaman dulu. Kotanya cantik dan bersih, unik dengan perpaduan gedung-gedung kuno dan gedung jaman sekarang. Tapi alamaak…. sepi benar..!! Trotoar jalan sepi tak banyak orang berlalu lalang, apalagi pedagang kaki lima kayak di Yogya heheh…. Kayaknya sih aku ngga bakalan betah tinggal di sana….

Kami disambut cukup meriah oleh Prof Ken Raymond, perintis Fakultas Farmasi di La trobe University, yang aku kontak sebelumnya, dan beberapa staf dosen lainnya. Dengan suguhan aneka sandwich dan buah, kami berbincang berbagai hal tentang pendidikan dan riset. Kami sepakat untuk menjalin kerjasama lebih lanjut dan akan mencoba bertukar informasi tentang pendidikan dan riset. Secara kebetulan, salah satu riset yang lagi dikembangkan disana adalah tentang farmakogenetik, yang sekarang lagi jadi perhatianku. Mudah-mudahan saja deh, akan ada kerjasama yang lebih riil di kemudian hari. Amien.

City “tour”

Kami sampai kembali ke Melbourne jam 4 sore waktu setempat, diantar oleh Dr Harvey. Perut lapar membawa kami ke sebuah Restoran Thai… Hm, dingin-dingin dan sedikit flu enaknya makan yang panas dan segar nih…. Jadilah sup Tom Yam sea food asli Thai kupilih untuk mengisi perut… hmm, rasanya mantaap!! Setelah balik ke hotel sejenak untuk sholat, kami bertiga janjian untuk keluar lagi jalan-jalan di sekitar kota. Jam 6 sore di sini suasananya masih seperti jam 4 sore di Indonesia. Jadi kami pun berjalan mengeksplorasi Melbourne… benar-benar jalan kaki, plus sekali naik trem yang gratisan. Sayangnya sebagian toko di Melbourne sudah tutup…. Yah, kami jalan-jalan aja menembus dingin sampai jam 9 malam sambil sesekali mampir toko yang masih buka untuk lihat-lihat… Melbourne masih ramai dengan anak-anak muda yang berjalan-jalan. Wah, bajunya macam-macam….. ada yang sesuai dengan suhu, ada juga yang melawan berani melawan cuaca hehe…. Lhah, bajunya mini tak berlengan pula, bagaimana kalau musim panas ya?

Well, itulah cerita hari pertama dan kedua di Melbourne. …





My note (1): a long way to Melbourne..

21 10 2009

Dear kawan,

Malam telah jatuh di Melbourne. Meskipun katanya ini adalah musim semi memasuki musim panas, udaranya masih dingin menusuk tulang. Siang tadi lumayan, sekitar 18-19 derajat, tapi malam ini mungkin sekitar 9-10 derajat. Yah, kali ini aku sedang berada di Melbourne (Australia) untuk sebuah kunjungan inisiasi kerjasama pendidikan dan riset, terutama utk program studi S2, seperti diamanahkan oleh Kegiatan DIPA WCRU Fakultas Farmasi UGM th 2009 ini. Aku (sebagai salah satu pengelola program S2, sekaligus Ketua task force DIPA WCRU) berangkat bersama Prof Subagus Wahyuono (Wakil Dekan 1 bidang Pendidikan dan Riset), dan Prof Lukman Hakim (PIC utk program ini).

Persiapan

Kali ini aku berperan sebagai “pengatur acara” buat Bapak-bapak tadi. Maklumlah, aku yang paling muda…biasaa, pasti kebagian dipelonco dulu hehe. Diawali dari sebuah fax untuk Prof Bagus dari Dr. Ken Harvey (La Trobe University), aku menyaut kesempatan itu untuk memperkenalkan diri sekaligus menanyakan kemungkinan kami berkunjung kesana untuk sebuah benchmarking visit dan penjajagan kerjasama. Dr Harvey cukup responsif, e-mailku segera dibalasnya, dan kami pun berkomunikasi lumayan intensif utk merencanakan kunjungan kesana. Karena di Melbourne cukup banyak Universitas, kami coba juga menjajagi universitas lain. Pilihan jatuh ke Monash University karena kebetulan ada salah satu kolega kami (dosen Farmasi) yang sedang studi PhD di sana. Aku coba searching informasi dan menemukan beberapa kontak person yang kira-kira bisa dihubungi. Jadilah aku mengontak Prof Roger Nation untuk tujuan yang sama. Kali ini agak sedikit bete, karena sewaktu aku e-mail, prof Nation sedang dalam kunjungan ke luar negeri, jadi aku harus menunggu responnya cukup lama. Tetapi alhamdulillah, tanggapan positif. Aku juga mengontak Dr Mulyoto, orang Indonesia yang jadi staf peneliti di Monash Uni, dan singkat cerita persiapan kunjungan lumayan oke. Oya, satu lagi…. sewaktu International Conference kemaren, kami mengundang Greg Duncan dari Monash juga, jadi beliau pun aku kontak dan tanggapannya sangat baik. Setelah oke semua, aku pun menyusun jadwal kunjungan.

Long way to Melbourne

Persiapan pribadi mulai dilakukan. Mengecek weather forecast, untuk memperkirakan nanti perlu bawa baju apa hehe… apakah perlu bawa baju hangat apa tidak. Lalu memberitahu anak-anak bahwa ibu akan pergi beberapa hari ke Australia. Alhamdulillah, mereka bisa mengerti, walaupun Hanisa sempat pengen ikut. Aku juga perlu “mengimpor” ibuku dari Purwokerto untuk menjaga anak-anak di rumah, seperti biasanya jika aku harus pergi ke luar kota atau luar negeri agak lama. Lebih ayem rasanya kalau ada eyangnya yang menjaga, walaupun bapaknya juga ada. Alhamdulillah, sampai sejauh ini tidak ada masalah. Si kecil Dhika mungkin belum begitu paham, namun nampaknya ia bisa merasakannya. Beberapa hari belakangan lagi lengket terus, mengikuti kemanapun aku berada di rumah… Wah, maafkan ibu, sayang…. ibu pergi sebentar ya..

Kali ini kami menggunakan maskapai penerbangan Singapore Airlines. Rute yang kami tempuh lumayan panjang, yaitu Jogja-Jakarta, Jakarta-Singapore-Melbourne. Perjalanan Jogja-Jakarta lancar-lancar saja. Kami transit agak lama di jakarta menunggu pesawat SQ yang akan membawa kami ke Singapura. Untungnya pergi bertiga, jadi ngga bete-bete amat karena ada teman bicara. Aku juga tak pernah lepas dari laptopku yang setia, sehingga masih bisa buka internet, check e-mail, buka FB, dll. Singkat cerita, sampailah kami ke Bandara Changi dengan lancar pula, pada pukul 17 waktu setempat. Perbedaan waktu Jakarta-Singapura adalah satu jam. Bandara Changi cukup nyaman disinggahi. Menurut jadwal , kami transit sekitar 4 jam di sana, karena pesawat ke Melbourne dijadwalkan terbang pukul 21.00. Untungnya pula ada free internet akses di sana, sehingga aku masih bisa berselancar di dunia maya, sekedar membuka Face Book, dan check e-mail masuk. Pukul 20 kami sudah diminta boarding. Nah,… mulailah sedikit masalah datang. Setelah beberapa lama duduk manis di pesawat dengan badan lelah dan ngantuk, pesawat ternyata tidak segera terbang. Sampai akhirnya pada pukul 21-an, diumumkan bahwa there is a minor problem dengan pesawat, sehingga perlu ada sedikit perbaikan. Kami bahkan dipersilakan turun lagi dari pesawat, kembali ke ruang tunggu. Diperkirakan pesawat akan terbang sekitar jam 23.30an, jadi delayed sekitar 2,5 jam. Uff..!

changi bunga crop

wajah lelah di sela-sela kecantikan anggrek di Changi Airport

Untungnya Bandara Changi cukup nyaman, dan indah pula. Di Terminal 2 ada satu area yang sangat cantik penuh dengan tanaman anggrek aneka jenis mengelilingi kolam ikan. Sungguh, aku salut sekali dengan Bandara Changi. Daripada bete, selain bisa internetan gratis, aku sempatin foto-foto… serasa di taman bunga deeh…!!

Akhirnya pesawat berangkat pukul 24.00. Bismillah.. Walaupun tidak begitu nyaman tidur di kursi dengan posisi duduk, akhirnya aku terlelap juga… Alhamdulillah, akhirnya pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Melbourne pada pukul 10 waktu setempat. Cerita hari pertama di melbourne aku lanjutkan di next posting, skrg aku dah ngantuk, mau bobo dulu…….





Burundanga dalam kartu nama, is that true?

19 10 2009

Dear kawan,

Di sela-sela persiapanku menuju Melbourne esok pagi, malam ini aku membaca e-mail dari seorang kawan, yang mengingatkan adanya kejadian “kartu nama beracun”…..  Wah, kalau urusannya sama obat, indera laba-labaku berdencing hehe.. kaya Spiderman aja…. Jadi penasaran dan pengen tau…..

Isi e-mail selengkapnya seperti ini:

Seorang pria menghampiri seorang wanita yang sedang mengisi bensin dan menawarkan jasanya sebagai pengecat serta memberikan kartu namanya. Wanita itu menolaknya namun menerima kartu nama tersebut karena sopan santun. Pria tersebut kemudian masuk ke sebuah mobil yang dikemudikan pria lain. Pada saat wanita itu meninggalkan Pompa Bensin, dia melihat bahwa pria tersebut juga meninggalkan pompa bensin tersebut pada saat yang bersamaan. Hampir seketika, wanita tersebut merasa pusing dan kesulitan untuk bernapas. Dia mencoba untuk membuka jendela mobil dan kemudian menyadari bahwa bau tersebut berasal dari tangannya. Tangan yang sama dengan tangan yang ia gunakan pada saat menerima kartu nama dari pria di Pom Bensin tersebut. Wanita tersebut menyadari bahwa pria di pom bensin tersebut berada tepat dibelakang mobilnya dan ia merasa harus melakukan sesuatu pada saat itu juga. Wanita itu kemudian menepi ke jalan masuk rumah yang pertama ia temui dan memencet klakson mobilnya berulang-ulang untuk meminta tolong. Laki-laki yang membuntuti wanita tersebut kemudian melarikan diri tapi wanita tersebut masih merasa sangat pusing setelah beberapa menit sampai akhirnya dia dapat bernapas dengan normal. Sepertinya ada sesuatu yang terdapat pada kartu nama tersebut yang dapat menyakitinya. Obat ini disebut dengan “Burun Danga” dan ini digunakan oleh orang yang ingin melumpuhkan korbannya untuk mencuri dari korban tersebut atau memanfaatkannya. Obat ini empat kali lipat lebih ampuh dari ate rape drug (sorry ga ketemu terjemahan yang pas) dan dapat ditransfer kepada korban dengan sebuah kartu yang sederhana. Jadi harap untuk memperhatikan hal ini dan jangan menerima kartu pada saat anda sendiri atau di jalanan. Ini juga berlaku untuk orang yang tak dikenal yang datang ke rumah anda dan memberikan kartu nama pada saat menawarkan jasa mereka. Mohon kirim e-mail ini untuk memperingati semua wanita, atau bahkan pria yang anda kenal.

Nah, segera aku mencoba mencari informasi dengan keyword ”burundanga”… terus terang itu merupakan kata asing bagiku. Ternyata aku banyak menjumpai e-mail serupa dengan berbagai versi cerita. There must be something wrong nih…… is that true??

Apakah Burundanga?

tanaman penghasil burundanga

tanaman penghasil burundanga

Burundanga adalah nama jalanan dari obat yang disebut scopolamine (skopolamin).  Skopolamin sendiri berasal dari ekstrak tanaman Datura, Brugmansia species, dan Duboisia species. Temasuk keluarga terong-terongan dengan bunga berbentuk terompet. Ia merupakan komponen aktif dari tinctura Beladona, suatu obat jaman dulu, yang sering digunakan untuk anti kram usus dan obat asma. Skopolamin pertama kali diisolasi oleh saintis Jerman. Senyawa ini bekerja sebagai antagonis reseptor asetilkolin muskarinik, dan dulu banyak dipakai secara medis untuk anti mabuk perjalanan, mual muntah, anti kram perut, dan obat asma. Ia digunakan dalam dosis kecil (satuan miligram). Jika digunakan dalam dosis yang cukup besar, ia dapat menyebabkan efek delirium, semacam bingung, disorientasi, kehilangan memori, dan halusinasi.

Bagaimana penggunaan burundanga?

Di Amerika Selatan, terutama Columbia, burundanga digunakan untuk memicu kondisi “trance” pada sebuah acara ritual setempat. Laporan bahwa obat ini digunakan untuk aktivitas kriminal pertama kali ditemui di Columbia pada tahun 1980an. Menurut sebuah artikel dari Wall Street Journal tahun 1995, sejumlah kegiatan kriminal yang menggunakan burundanga meluas pada tahun 1990an. Skenario umumnya adalah seseorang ditawari minuman yang sudah diberi serbuk skopolamin ini. Tau-tau koban dijumpai telah berjalan bermil-mil tanpa mengenal atau teringat apa-apa. Umumnya korban telah kehilangan hartanya, baik uang, perhiasan, atau mobil, dll. Selain dimasukkan dalam minuman, korban bisa juga dipaksa menghirup, atau ditaburi mukanya sehingga ia terpapar dengan senyawa tersebut. Bisa juga terjadi kejahatan seksual, di mana korban (wanita) selain dipreteli perhiasannya, juga diperkotek-kotek….

Kembali kepada e-mail tadi, apakah cerita dalam e-mail itu benar?

Benarkah burundanga memang biasa dipakai untuk kejahatan di Amerika Latin? Jawabnya ya. Wall Street Journal tahun 1995 melaporkan bahwa penggunaan burundanga untuk kriminal cukup meningkat di AS yang dilakukan oleh para imigran asal Kolumbia. Bahkan ada semacam “warning” bagi orang-orang yang akan melancong ke Kolumbia, supaya hati-hati akan adanya kejahatan dengan modus operandi penggunaan burundanga ini.

Namun ada beberapa hal yang menyebabkan cerita di atas agak meragukan……. 

serbuk burundanga

serbuk burundanga

Pertama, disebutkan bahwa wanita tadi segera mengalami pusing dan kesulitan bernafas segera setelah memegang kartu nama tersebut. Ini agak aneh, karena burundanga harus terhirup atau tertelan untuk bisa menghasilkan efek. Kalaupun melalui kontak secara topikal (lewat tangan yang memgang kartu nama), butuh waktu lama untuk bisa menghasilkan efek.

Kedua, korban disebutkan mencium bau yang berasal dari tangan yang memegang kartu nama tersebut. Ini juga agak tidak masuk akal karena burundanga itu tidak berasa dan tidak berbau.

Begitulah kawan, yang bisa kutuliskan tentang penjelasan rumor tentang burundanga……

Anyway, terimakasih atas kepedulian teman-teman yang telah menyebarkan e-mail tesebut untuk mengingatkan teman-temannya. Namun dalam beberapa hal memang perlu ada kekritisan ketika menerima suatu informasi.

Namun demikian, walaupun cerita dalam e-mail tadi meragukan, ada baiknya tetap waspada, karena kejahatan ada di mana-mana dengan berbagai modus operandinya. Tapi juga tidak usah terlalu paranoid, kita punya pelindung yang Maha Kuat…. Jika kita selalu berserah diri dan memohon, Insya Allah Dia akan melindungi kita dari kejahatan mahlukNya. Amien.





Sekilas tentang Vertigo..

14 10 2009

Dear kawan,

vertigo

vertigo

Pernah merasa bumi terasa berputar gitu? Ngliyeng mau jatuh? Hm.. alhamdulillah, aku belum pernah. Tapi sering denger teman-teman ada yang menceritakan keluhannya. Mbak Nia temanku sedang menderita Vertigo, dan menginspirasi tulisan pendek ini. Semoga cepet sembuh, Jeng….

Apakah vertigo termasuk jenis sakit kepala seperti migrain? Ternyata bukan. Vertigo adalah salah satu jenis penyakit yang ditandai dengan gangguan ilusi gerakan. Jika yang terasa berputar adalah diri sendiri, disebut vertigo subyektif. Kalau yang berputar adalah lingkungan sekitarnya, disebut vertigo obyektif.

Apa penyebab vertigo?

Vertigo disebabkan karena gangguan keseimbangan di telinga bagian dalam (alat keseimbangan, atau bagian vestibular) atau mungkin di otak. Bentuk paling sering dari vertigo adalah  Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV), yaitu adanya ilusi gerakan yang disebabkan oleh gerakan kepala secara mendadak atau gerakan kepala ke arah tertentu. Jenis seperti ini umumnya tidak berat dan dapat diatasi.

Penyebab lain dari vertigo adalah peradangan pada telinga bagian dalam (labirinitis), yang ditandai dengan kejadian vertigo yang tiba-tiba dan kadang diikuti dengan kehilangan pendengaran. Penyebab paling sering adalah infeksi viral atau bakteri. Beberapa penyakit lain juga bisa menyebabkan vertigo, seperti Meniere disease, perdarahan di otak, multiple sclerosis, cedera kepala, dan migrain.

Apa gejalanya?

Pada umumnya penderita akan merasakan sensasi gerakan seperti berputar, baik dirinya sendiri atau lingkungan yang berputar. Selain itu, kadang ada juga yang disertai gejala mual atau muntah, berkeringat, dan gerakan mata yang abnormal. Gejala ini bisa terjadi dalam satuan menit atau jam, dapat bersifat konstan atau episodik (kadang-kadang). Ada pula yang merasakan telinga berdering, gangguan penglihatan, lemah, sulit bicara, atau kesulitan berjalan.

Kapan perlu mendapatkan penanganan medis dan apa obatnya?

Semua gejala dan tanda vertigo perlu dievaluasi oleh dokter. Sebagian besar penyebab vertigo tidak berbahaya, dan pada umumnya dapat diatasi dengan pengobatan. Pilihan obatnya tergantung dari diagnosisnya (jenis vetigo) dan penyebab vertigonya. Misalnya jika terjadi infeksi bakteri pada telinga dalam, tentu butuh antibiotika. Obat-obat yang umum dipakai untuk vertigo adalah: betahistin mesylat,  meclizine hydrochloride (Antivert), diphenhydramine (Benadryl), promethazine hydrochloride (Phenergan), dan diazepam (Valium)

Terapi alternatif?

Berbagai terapi non-obat dapat dicoba untuk mengatasi vertigo, mulai dari penggunaan obat herbal, akupuntur, meditasi, yoga, pengaturan diet, tai chi, sampai terapi spiritual. Setiap orang bisa memilih mana yang lebih cocok.

Namun sekali lagi, lepas dari semua usaha secara medis maupun nonmedis, jangan lupa memohon pada Pemberi Hidup dan Kesembuhan, karena Dialah yang akan memberi kesembuhan.

Demikian semoga bermanfaat.





Dibalik layar : International Conference in Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences

9 10 2009
Dear kawan,

Rasanya aku perlu menyebut kegiatan International Conference ini dalam blog-ku sebagai kegiatan penting yang perlu didokumentasikan. Alhamdulillah, kerja keras tim selama beberapa bulan sebelumnya terbayar sudah dengan sukses dan lancarnya acara, serta kesan manis yang sudah dirasakan oleh sebagian besar tamu. Sempat diawali sedikit ketegangan internal terkait dengan tempat penyelenggaraan, prediksi jumlah peserta yang sedikit meleset, melesetnya beberapa sasaran sponsor, semuanya menjadi pelajaran berharga untuk penyelenggaraan sebuah acara besar. Salutlah buat Mbak Hilda sebagai Chairman of the Committee yang sudah mengorganisir semuanya!! Aku sendiri posisinya sebagai Steering Committee….. hirarkinya lebih tinggi sedikit haha…., lebih banyak memberi masukan-masukan, menjadi pendorong, dan tentu tetap berada bersama panitia untuk berbagai persiapan. Kegiatan Conference-nya sendiri diselenggarakan di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta, hotel bintang lima gitu loh…. !!

Menyambut tetamu

Kami mengundang beberapa narasumber dari luar negeri, 5 orang dari Jepang, 2 orang Malaysia, 1 orang Italia, 1 dari Australia, dan 1 orang dari Belanda. Cukup heboh lah…! Lucunya, para narasumber itu kebanyakan adalah kenalan dari beberapa dari kami anggota Panitia. Aku sendiri misalnya, mengundang Prof. Kazutaka Maeyama dari Ehime University, supervisorku ketika aku studi S3 dulu di sana. Mbak Hilda mengundang kenalannya dari Australia, Gregory Duncan dari Monash University, Ronny si sekretaris Panitia mengundang supervisornya dulu Prof .Paolo Caliceti dari Italia. Selain itu masih ada Prof. Timmerman, Prof. Syed Azhar, Prof. Izham, dll. Jadilah semacam ada pembagian tugas untuk mengurusi tamu masing-masing, walaupun itu sebenarnya ya tamu bersama. Ya untuk kepraktisan saja.

bersama invited speakers, berdiri: Hilda, Ronny, Zullies

bersama invited speakers, berdiri: Hilda, Ronny, Zullies

Hari Sabtu aku menemani Mbak Hilda menjemput Mr Duncan di Bandara. Walaupun ada penjemputan dari hotel, kayaknya lebih menghargai jika kita menjemputnya sendiri. Wah, Mr Duncan itu tinggi banget…. aku cuma separonya haha….. jadilah kalo mau ngomong sama beliau aku harus mendongak ke atas…!!

Hari Minggunya aku jemput Maeyama Sensei dan istrinya (di Jepang, profesor diundang dengan sebutan Sensei) di bandara bersama Rizal dan Agung, yang sama-sama pernah bekerja di Lab Sensei di Ehime. Aku ajak makan siang bentar dan aku putarkan lewat UGM biar Sensei bisa melihat UGM dari dekat, lalu aku antar ke hotel. Dua malam sebelum hari H acaranya Welcome Dinner terus … hehe… mengacaukan program pelangsingan tubuh nih.

Jalannya Conference

Acara pembukaan berjalan lancar, diikuti paparan oleh plenary speakers, dan invited speakers. Isinya macam-macam lah, terlalu banyak kalo mo diceritakan di sini. Topik kefarmasian oleh invited speakers dibagi dalam dua tema besar, yaitu Advanced Pharmaceutical Sciences dan Clinical/Social Pharmacy, sehingga audiens bisa memilih mau ikut yang mana. Aku sendiri bertugas sebagai moderator dalam salah satu sesi presentasi invited speakers. Siangnya sehabis lunch, acara dilanjutkan dengan presentasi oral para peserta conference. Demikian pula pada hari kedua.

Me, Maeyama Sensei, and colleagues

Me, Maeyama Sensei, and colleagues

Yang sedikit bikin surprise buatku adalah bahwa yang dipresentasikan oleh Prof Maeyama sebagian adalah hasil penelitianku selama studi di bawah bimbingannya dulu. Dah gitu, di bagian belakang pada ucapan terimakasih (acknowledgment), dipasanglah fotoku ketika masih di sana, ditayangkan pula… Waduh, jadi agak terharu deh hehe…. (arigatou, Sensei…). Ngomong-ngomong tentang senseiku ini, aku harus bersyukur alhamdulillah memiliki beliau sebagai pembimbing dulu,… karena beliau orangnya sangat humanis, ramah, perhatian, ngga serem seperti gambaran sebagian besar profesor Jepang yang serius dan jarang senyum. Dah gitu, orangnya nyeni lagi… karena beliau hobby melukis. Malah waktu diajak ke Candi Prambanan, beliau sempat melukis sebentar di sana… wow ..kereen!!

Susunan acara conference sendiri bisa ditengok di http://farmasi.ugm.ac.id/isapps . Tapi aku ngga akan cerita tentang acaranya secara detail, garing nanti hehe….. Aku coba memotret aja sudut-sudut kecil di kegiatan ini dari perspektifku sendiri. Satu inovasi yang dikreasi dalam konferensi ini adalah sistem barcode pada pendaftaran peserta yang terkoneksi dengan web. Sistem ini dikembangkan oleh mas Parno, ahli komputer kami. Salutlah atas kerja kerasnya. Kalau dari segi substansi, materi presentasi dari peserta sungguh sangat bervariasi, dari yang agak sederhana sampai yang canggih. Satu yang menarik perhatianku, karena kebetulan aku jadi moderator pada sesi itu, adalah presentasi dari salah satu peserta dari Malaysia, yang melaporkan hasil penelitiannya bahwa coklat bisa mengurangi kecemasan. Penelitian itu dilakukan terhadap mahasiswa progam studi keperawatan di sebuah universitas di sana, judulnya : An Interventional Pilot Study: Effect Of Dark Chocolate Consumption On Anxiety Level Among Female Nursing Students. Pemberian dark chocolate ternyata bisa mengurangi tingkat kecemasan pada subyek uji, namun uji ini baru dilakukan secara terbatas pada mahasiswa wanita. Wah, boleh juga nih….. sering-sering makan coklat, biar bisa mengurangi kecemasan hehe…. tapi katanya sih masih perlu uji lebih lanjut dengan lama pemberian yang berbeda, dan macam coklat yang berbeda.

Gala Dinner dan Penutupan

bersama Maeyama Sensei dan istri

bersama Maeyama Sensei dan istri

Hari pertama ditutup dengan acara Gala Dinner yang lumayan meriah di pinggir swimming pool Hotel. Suasananya romantis hehe… dengan lampu remang-remang. Undangan yang terdiri dari semua pembicara dan sebagian peserta dan panitia memenuhi tempat acara dilangsungkan. Acara diisi dengan Batik Fashion Show dari Danar Hadi, tarian, dan penampilan dari group musik mahasiswa Farmasi. Acara fashion show sendiri adalah usulanku, terinspirasi dari acara serupa  ketika aku mengikuti Regional Conference on Moleculer Medicine di Malaysia bulan Mei 2009. Dan pentas batik ini pas benar timing-nya dengan baru saja diakuinya batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO. Jadi klop-lah! Wah…. peragawatinya tinggi-tinggi, langsing, dan cantik!! Jalannya mendongak ke atas…. kayaknya waktu latihan mereka menggendong ransel di punggung. Aku terkesan juga atas penampilan para mahasiswa, baik yang jadi MC atau pun menyanyi dan memainkan musik. Hebat dan berbakat!! Nanti kalo latihan nyanyi aku diundang dong….. haha!

Acara penutupan kami buat sedikit berbeda. Sebelum acara pembacaan pemenang presentasi terbaik dan penutupan resmi oleh Dekan, kami membuat sebuah performance khusus. Kami ingin menunjukkan bahwa orang farmasi itu juga ngga selalu melulu berpenampilan serius karena kebanyakan mikir rumus hehe…. Aku sendiri suka menyanyi, dan mbak Hilda piawai main organ. Jadilah dengan cuek dan sok pede tanpa mempertimbangkan gangguan pendengaran yang bakal dialami audiens, aku (dengan mengajak Ronny) melantunkan lagu “Love of my life” dengan iringan organ Mbak Hilda….!  Prof Timerman dari Belanda juga kami daulat untuk menyanyi, dan tak ketinggalan Prof Caliceti dari Italia. Heboh!!

"Love of my life" by Zullies and Ronny.. sorry for annoying..

"Love of my life" by Zullies and Ronny.. sorry for annoying your ear.....

 

Alhamdulillah, semua berjalan relatif lancar…  Tentu tak ada yang sempurna, mohon maaf jika ada hal-hal yang masih kurang berkenan. Sebuah pelajaran penting untuk penyelenggaraan acara besar kami peroleh. Semoga bermanfaat.

Demikian catatan kecilku mengenai conference kami.