Mengenali asma dan terapinya

14 03 2009

Dear kawan,

Jumat petang kemaren sepulang kantor, aku mendapat laporan bahwa Hanni (6,5 tahun), anak kedua kami, sejak pulang sekolah batuk-batuk terus. Hanni memang sudah beberapa hari batuk, tapi tidak terlalu kerap sih, aku hanya memberinya obat-obat batuk biasa. Waktu kutengok ke kamar, ia memang mengeluh, tenggorokannya rasanya nggak enak, seperti ada sesuatunya, katanya. Napasnya juga agak berat, pendek-pendek, bahkan terdengar sedikit mengi. Hanni belum pernah seperti ini sebelumnya, tapi aku duga ia mungkin mengalami semacam serangan asma. Walaupun belum pernah seperti ini sebelumnya, aku tidak terlalu heran jika ia mengalaminya, soalnya kakaknya, Afan (12 th), juga punya riwayat asma ringan. Yah… keluarga kami dari garis keturunanku memang punya “bakat” alergi… hehe… (bakat kok alergi…. mbok bakat seni atau bisnis gitu lho…). Segera setelah sholat maghrib, kami bawa Hanni ke dokter anak langganan kami. Tanpa stetoskop-pun dokter sudah bisa mendengar suara wheezing dari pernafasannya yang menandakan adanya obstruksi pernafasan. Beliau menyarankan untuk “diasap” saja. “Diasap” adalah istilah untuk memberikan obat melalui nebulizer, karena obatnya nanti akan berbentuk seperti “asap” yang dihirup menggunakan semacam masker. Demikianlah, Hanni diasap dengan Combivent untuk satu dosis, dan alhamdulillah… setelah itu dia nampak sudah lega lagi. Selanjutnya dokter meresepkan beberapa obat untuk diminum di rumah. Ada yang berbentuk puyer, dan aku lihat komposisinya masih OK, hehe…. jadi ya aku belikan saja (tidak perlu takut dengan puyer… hehe).

Apakah penyakit asma itu?

Asma merupakan salah satu penyakit saluran nafas yang banyak dijumpai, baik pada anak-anak maupun dewasa. Kata asma (asthma) berasal dari bahasa Yunani yang berarti “terengah-engah”. Lebih dari 200 tahun yang lalu, Hippocrates menggunakan istilah asma untuk menggambarkan kejadian pernafasan yang pendek-pendek (shortness of breath). Sejak itu istilah asma sering digunakan untuk menggambarkan gangguan apa saja yang terkait dengan kesulitan bernafas, termasuk ada istilah asma kardiak dan asma bronkial.

Menurut National Asthma Education and Prevention Program (NAEPP) pada National Institute of Health (NIH) Amerika, asma (dalam hal ini asma bronkial) didefinisikan sebagai penyakit radang/inflamasi kronik pada paru, yang dikarakterisir oleh adanya :

(1) penyumbatan saluran nafas yang bersifat reversible (dapat balik), baik secara spontan maupun dengan pengobatan,

(2) peradangan pada jalan nafas, dan

(3) peningkatan respon jalan nafas terhadap berbagai rangsangan (hiper- responsivitas) (NAEPP, 1997).

Asma merupakan penyakit yang manifestasinya sangat bervariasi. Sekelompok pasien mungkin bebas dari serangan dalam jangka waktu lama dan hanya mengalami gejala jika mereka berolahraga atau terpapar alergen atau terinfeksi virus pada saluran pernafasannya. Pasien lain mungkin mengalami gejala yang terus-menerus atau serangan akut yang sering. Pola gejalanya juga berbeda antar satu pasien dengan pasien lainnya. Misalnya, seorang pasien mungkin mengalami batuk hanya pada malam hari, sedangkan pasien lain mengalami gejala dada sesak dan bersin-bersin baik siang maupun malam. Selain itu, dalam satu pasien sendiri, pola, frekuensi, dan intensitas gejala bisa bervariasi antar waktu ke waktu.

Separo dari semua kasus asma berkembang sejak masa kanak-kanak, sedangkan sepertiganya pada masa dewasa sebelum umur 40 tahun. Namun demikian, asma dapat dimulai pada segala usia, mempengaruhi pria dan wanita tanpa kecuali, dan bisa terjadi pada setiap orang pada segala etnis.

Apa penyebab asma?

Asma yang yang terjadi pada anak-anak sangat erat kaitannya dengan alergi. Kurang lebih 80% pasien asma memiliki riwayat alergi. Asma yang muncul pada saat dewasa dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti : adanya sinusitis, polip hidung, sensitivitas terhadap aspirin atau obat-obat anti-inflamasi non steroid (AINS), atau mendapatkan picuan di tempat kerja. Di tempat-tempat kerja tertentu yang banyak terdapat agen-agen yang dapat terhirup seperti debu, bulu binatang, dll, banyak dijumpai orang yang menderita asma, yang disebut occupational asthma, yaitu asma yang disebabkan karena pekerjaan. Kelompok dengan resiko terbesar terhadap perkembangan asma adalah anak-anak yang mengidap alergi dan memiliki keluarga dengan riwayat asma. Banyak faktor yang dapat meningkatkan keparahan asma. Beberapa di antaranya adalah rinitis yang tidak diobati atau sinusitis, gangguan refluks gastroesofagal, sensitivitas terhadap aspirin, pemaparan terhadap senyawa sulfit atau obat golongan beta bloker, dan influenza, faktor mekanik, dan faktor psikis (misalnya stress).

Seperti apa terapinya ?

Karena manifestasi klinis asma bervariasi, ada yang ringan, sedang dan berat, maka pengobatannya harus disesuaikan dengan berat ringannya asma. Asma ringan mungkin cukup diobati pada saat serangan, tidak perlu terapi jangka panjang, sedangkan asma yang sedang sampai berat perlu dikontrol dengan pengobatan jangka panjang untuk mencegah serangan berikutnya. Secara umum, terapi bisa dilakukan secara non obat (non-farmakologi) dan dengan obat.

Terapi non-farmakologi

Terapi non-farmakologi meliputi 2 komponen utama, yaitu edukasi pada pasien atau yang merawat mengenai berbagai hal tentang asma, dan kontrol terhadap faktor-faktor pemicu serangan. Berbagai pemicu serangan antara lain adalah debu, polusi, merokok, olah raga, perubahan temperatur secara ekstrim, dll., termasuk penyakit-penyakit yang sering mempengaruhi kejadian asma, seperti rinitis, sinusitis, gastro esophagal refluks disease (GERD), dan infeksi virus. Untuk memastikan macam alergen pemicu serangan pasien, maka direkomendasikan untuk mengetahui riwayat kesehatan pasien serta uji kulit (skin test). Jika penyebab serangan sudah diidentifikasi, pasien perlu diedukasi mengenai berbagai cara mencegah dan mengatasi diri dalam serangan asma. Edukasi kepada pasien juga meliputi pengetahuan tentang patogenesis asma, bagaimana mengenal pemicu asmanya dan mengenal tanda-tanda awal keparahan gejala, cara penggunaan obat yang tepat, dan bagaimana memonitor fungsi paru-parunya. Selain itu juga dapat dilakukan fisioterapi napas (senam asma), vibrasi dan atau perkusi toraks, dan batuk yang efisien.

Terapi farmakologi

Asma merupakan penyakit kronis, sehingga membutuhkan pengobatan yang perlu dilakukan secara teratur untuk mencegah kekambuhan. Berdasarkan penggunaannya, maka obat asma terbagi dalam dua golongan yaitu pengobatan jangka panjang untuk mengontrol gejala asma, dan pengobatan cepat (quick-relief medication) untuk mengatasi serangan akut asma. Beberapa obat yang digunakan untuk pengobatan jangka panjang antara lain inhalasi steroid, beta2 agonis aksi panjang, sodium kromoglikat atau kromolin, nedokromil, modifier leukotrien, dan golongan metil ksantin. Sedangkan untuk pengobatan cepat sering digunakan suatu bronkodilator (beta2 agonis aksi cepat, antikolinergik, metilksantin), dan kortikosteroid oral (sistemik).

Obat-obat asma dapat dijumpai dalam bentuk oral, larutan nebulizer, dan metered-dose inhaler (MDI). Contoh obat yang digunakan untuk terapi jangka panjang adalah inhalasi kombinasi budesonide dan formoterol (contoh: Symbicort), kombinasi salmeterol dan flutikason (contoh : Seretide), dan budesonide tunggal (contoh: Pulmicort). Obat ini aman dipakai jangka panjang untuk mengontrol asma yang berat. Obat lain yang diindikasikan untuk pencegahan asma adalah ketotifen (suatu anti alergi), teofilin lepas lambat, dan sodium kromoglikat/nedokromil.

Sedangkan obat untuk melegakan serangan asma yang perlu aksi cepat adalah salbutamol, terbutalin, dan ipratropium bromide. Salbutamol merupakan beta agonis aksi cepat, dan banyak dijumpai dalam berbagai bentuk sediaan. Ada yang berbentuk tablet, sirup, atau inhalasi. Untuk mengatasi serangan asma, obat ini merupakan pilihan pertama. Salbutamol kadang dikombinasikan dengan ipratriopium bromide (contoh: Combivent) dalam bentuk inhalasi, yang di awal posting ini aku ceritakan untuk ”mengasap” Hanni. Injeksi aminofilin juga masih cukup banyak dipakai di RS untuk mengatasi serangan asma akut yang memerlukan aksi segera.

Idealnya, obat-obat untuk asma diberikan secara inhalasi, artinya dihirup. Bentuknya bisa suatu aerosol atau serbuk kering. Sekarang telah banyak berbagai merk obat inhalasi untuk asma. Bentuk inhalasi dapat diberikan menggunakan nebulizer (seperti yang aku ceritakan di awal posting ini), atau dengan menggunakan sediaan metered-dose inhaler (MDI).

Penggunaan MDI memerlukan teknik tersendiri, di mana diperlukan koordinasi yang pas antara tangan menekan dan mulut menghirup obat. Untuk itu, jika Anda mendapatkan obat bentuk ini, pastikan Anda benar menggunakannya. Tanyakan apoteker untuk cara penggunaan yang benar. Kalau salah menggunakan, maka tujuan terapi mungkin tidak tercapai. Sediaan ini masih agak mahal bagi kalangan masyarakat tertentu. Sehingga tidak heran juga jika sebagian masyarakat lebih memilih bentuk sediaan yang diminum. Ada beberapa merk obat bebas terbatas yang ditujukan untuk asma (Bricasma, Neo Napacin, Brondilex, Nitrasma, dll). Umumnya mereka berisi kombinasi teofilin dan efedrin. Secara teori dari  evidence-based medicine, teofilin dan efedrin bukanlah pilihan pertama untuk melegakan asma. Tetapi boleh saja digunakan selama Anda memang mendapatkan manfaat dari obat ini. Jika tidak, pastikan keparahan asmanya melalui pemeriksaan yang tepat oleh dokter, dan gunakan obat-obat yang diresepkan.

Tulisan lebih rinci tentang asma dan penyakit pernafasan lainnya dapat dijumpai di buku Farmakoterapi Sistem Pernafasan terbitan Penerbit Pustaka Adipura tahun 2007. Silakan beli, berarti Anda menghargai karya apoteker, yaitu diriku sendiri hehe……..

Semoga bermanfaat….


Aksi

Information

15 responses

25 11 2015
BundaCello

Assalamualaikum bunda..
Aku mau sharing, aku 23th asma aku lumayan nyiksa banget, waktu itu dikasih resep untuk nebu 6cc nacl, 1ampul ventolin, 60tetes bisolvon plus 1 ampul pulmicort..
Pertannyaan aku, apa perlu kalau sdh pakai pulmicort ditambah ventolin?
Makasih.. Wass

Jawab:
Jika sedang serangan akut asma, yang diutamakan adalah melonggarkan saluran nafas, dan itu biasanya justru menggunakan ventolin yang berisi obat salbutamol untuk melonggarkan saluran nafas. Pemberian tambahan Pulmicort bisa membantu mempercepat penyembuhan karena bisa mengurangi peradangan saluran nafas. Sedangkan untuk terapi pengontrol, cukup digunakan Pulmicort yang digunakan setiap hari.

6 11 2015
dedy

Aq udh pakai inheler merk birotec,ada alat nebulizer biasa pke ventolin nebulezer untuk cairannya,tapi tetap saja asma saya kambuh setiap 4-5 jam saja,tolong dong jenis obat apa yang tepat buat asma saya….tersiksa bangat setiap kambuh

Jawab:
Tolong dipastikan cara menggunakan inhaler atau nebulizernya apakah sudah tepat..
Berotec berisi fenoterol yang dipakai pada saat serangan asma. Kalau asma anda sering kambuh,mungkin sudah diperlukan terapi pengontrol yang berisi steroid inhalasi kombinasi dengan bronkodilator aksi panjang. Obat ini harus digunakan secara rutin dan teratur untuk mencegah kekambuhan asma. Diskusikan dengan dokter untuk menggunakan obat tersebut. Contoh merk yang tersedia adalah Seretide dan Symbicort. Selain itu, pastikan juga anda benar cara menggunakannya.

11 03 2015
joan pap

alo bu. trims sharingnya sgt bermanfaat
tapi ada ngga obat larutan nebulizer yang seperti inhalasi steroid ? trims

4 02 2015
laela

ass wr wb…
Senang sekali sy dpt menemukan blog ini.Anak pertama sy usia 4th 9 bln,bb 20 kg menderita asma.Blm lama ini batuk dpt resep racikan meptin11/15 tab mini+intrizin 4 mg diminum pagi+mlm.putri k2 sy 1th 7bln,bb 9.7kg dpt resep meptin 3/8 tab mini+intifen 7/16 tab.sudah sesuaikah
dosis u/ anak2 sy? krn setiap kali dtg ke dsa ini slalu dpt obat yg +/- sm komposisinya.Sblmnya sy pernah ke dsa lain dpt resep inhalasi ventolin 1ampul+pulmicort 1ampul+NaCl 2.5ml,apakah ini sesuai? smntr mnrt dsa yg pertama sy sebut tdk perlu inhalasi selama pemberian obat minum msh memungkinkan.Trus trg sy ingin meminimalisir obat jk mmg dg inhalasi lbh baik.
Terimakasih atas jawaban ibu,slm kenal n terima kasih sekali lg dg tulisan2 ibu.

Jawab:
Dear Ibu Laela,
dalam pengobatan asma, ada yang bersifat sebagai pelega, dan sebagai pengontrol. Pelega adalah obat yg diberikan pada saat kena serangan asma, sedangkan pengontrol bersifat mencegah serangan. Jika serangannya cukup sering, lebih dari 2 kali seminggu, maka perlu mendapat obat pengontrol. Karena obat pengontrol harus dipakai dalam jangka lumayan lama, maka bentuk inhalasi merupakan pilihan, karena efek sampingnya lebih kecil dengan sifatnya yang lebih terlokalisir. Namun kesulitannya terapi inhalasi adalah caranya yg membutuhkan teknik khusus, terutama jika berbentuk inhaler. Sedangkan bentuk nebulisasi (seperti yg diberikan oleh DSA yg kedua) biasanya diberikan dengan alat khusus di praktek dokter atau RS. Anak-anak kadang masih sulit menggunakan inhalasi. Jika tdk terlalu kerap serangannya dan masih sulit menggunakan inhalasi, terapi oral (obat minum) masih dimungkinkan asal dosisnya sesuai. Obat minum memang lebih mudah dan murah, tapi jika jangka panjang efeknya memang lebih besar.

1 04 2014
yulianasitumorang

bu, saya ada asma sejak kelas 2sd, sekarang saya sdh 28th, bbrp bulan terakhir ini setelah saya melahirkan dgn normal asma saya sering kambuh, saya biasa pakai ventolin inheler krn katanya aman utk ibu menyusui, tapi bbrp hari ini ventolin serasa tdk mempan sewaktu asma saya datang, saya berobat diberi obat cefat,cortidex,epexol,dan salbutamol.bagaimana supaya asma saya meringan dan jarang kambuh, karena saya sangat terganggu beraktifitas nya.tks sebelumnya

jawab:
Ibu Yuli, coba konsultasikan ke dokter. kemungkinan ibu sudah memerlukan terapi pengontrol, yang harus digunakan secara teratur. Biasanya bentuk inhalasi steroid. Coba nanti jika sudah mendapatkan obatnya, ibu gunakan secara teratur. Hal ini akan mengurangi kekambuhan asmanya.

6 05 2013
mengobati asma

saya sangat menyukai post ini,,,, salam kenal, saya dari 4lifesistemimun.com…..

salam sahabat kesehatan….

15 11 2012
yesmin

Terimakasih ibu atas jawaban yg ibu berikan telah memberikan ketenangan dihati saya… Oh ya bu, takaran obat diatas berdasarkan resep dokter sejak pertama kali anak saya dinyatakan asma sekitar 8bln yg lalu…sampai sekarang saya msh pakai takaran yg itu bu..
Senang rasanya bisa konsultasi dengan ibu
Terimakasih atas semuanya ya bu..

jawab:
sama-sama, Mbak… semoga putranya tetap terkontrol asmanya dan jarang kambuh lagi ya

11 11 2012
yesmin

Assalamualaikum..

Saya senang sekali membaca tulisan2 ibu zullies dimana menambah wawasan kita ttg penyakit dan obat2an..
Ibu, anak saya juga penderita asma sejak 8 bulan yg lalu, selama ini setiap mulai batuk2 saya akan minum kan anti alergi ozen 2hcl atau dinebulasi dengan ventolin dg takaran 1,5mg + larutan nacl 1mg,atau dg bisolvon larutan sebanyak 30tetes…pengobatan memakai salah satu obat diatas..tp tidak pernah memakai secara bersamaan. Dan selama ini kalau sdh diobati dgn cara diatas pasti asma / batuknya lamgsung berhenti.

Yg jadi pertanyaan saya bu,
1. apakah pengobatan diatas sudah tepat takaran nya untuk anak umur 4,6 tahun? Karena tiap hari kambuhnya, saya bingung pencetusnya apa? Masalahnya lingkungan rmh sdh dikondisikan untuk penderita asma,tdk α∂a̲̅ binatang dan karpet lg.
2. Apakah bahaya/ efek samping dr pengobatan secara trs menerus utk perkembangan anak2?
Demikian Bu, terimakasih klo ibu bersedia memberi pencerahan untuk saya.

jawab:
terimakasih, bu, sudah mau membaca tulisan saya. Anda mendapat takaran obat itu pertama kali darimana? apakah berdasarkan resep dokter? Saya kira takarannya sudah sesuai. Dosis Ventolin nebulisasi utk anak di bawah 5 tahun bisa sampai 2,5 mg. Jika sudah cukup dengan 1,5 mg, ya dipakai dosis itu saja. Memang agak sulit mengira-ira pencetusnya. Apakah sudah dicoba test kulit (skin test) utk memastikan alergen penyebabnya? jika belum, saya kira bisa dicoba skin test, supaya bisa mengidentifikasi secara lebih pasti alergen pencetus asmanya.
Untuk efek samping, jika digunakan secara inhalasi relatif lebih kecil efeknya. Memang harus disadari bahwa tidak ada obat yg bebas efek samping. Tapi jika dipakai dengan tepat, dan itu memang benar dperlukan dan keuntungannya melebihi efek sampingnya, ya obat sebaiknya digunakan.
Demikian ibu, semoga bermanfaat

24 06 2012
Hadi Al-kayyis

Bapak saya sering kambuh asmanya, biasanya pada malam hari lebih parah….padahal udara bersih pada waktu itu. kok masih kumat yaa?
Gimana cara pengobatannya ?

jawab:
Mungkin sudah perlu memakai obat secara teratur untuk mencegah kekambuhan. Cobalah konsultasikan ke dokter dan minta diresepkan inhalasi yang sesuai.

22 04 2012
simon jordan

saya senbuh,,asma,,berkat obat pengontrol….di apotik banyak salam

16 02 2012
Shelly

Ibu,thanks infonya saya pengguan obat MDI dan baru berjalan setengah bulan setelah saya terserang asma di usia 30 tahun

22 01 2010
yos4multisoft

Anak saya ( 3 tahun/perempuan ) dalam 2 bulan lebih ini, mengalami batuk ( kalau tidak salah pertama kali batuk bulan november an ) dan kadang disertai pilek.

Sudah pernah ke dokter, agak berkurang, kemudian batuk lagi trus saya bawa ke dokter lagi, kadang 2 atau 3 hari sudah tidak batuk, tapi kemudian hari berikutnya batuk lagi. Memang jarak antar batuk ke batuk berikutnya bervariasi, kadang 1 jam , kadang set jam, atau kadang set hari. Dan kalau saya perhatikan suaranya ( kalau berteriak ) tidak sejernih dulu, agak sedikit parau. Tapi kalau berbicara biasa, memang tidak kelihatan

Kira-kira 3/4 hari lalu, pada saat tidur malam hari gelisah, dan beberapa kali disertai batuk, dan menjelang pagi hari, sekitar jam set 5an, jadi pilek.

Analisa dokter juga agak berbeda, ada yg bilang radang saluran pernafasan, ada juga yg bilang alergi ( meskipun tidak diketahui apa alergennya ). Kemudian kemarin saya bawa ke dokter khusus paru. Dan menurut pemeriksaannya ( dengan stetoskop dan juga dengan menimbang resep2 yg saya bawa dari dokter2 sebelumnya ), anak saya kemungkinan besar alergi, dan setelah dites alergi ( dengan alat seperti kawat panjang yg diujungnya ada seperti sensor berbentuk parabola berdiameter sekitar 4/5 cm) ada beberapa alergen yg memicunya, al. debu, dingin, msg ( penguat rasa ), serat sari rumput.

Kemudian saya diberi resep yg kalua saya tanyakan ke apotik, ada yg untuk batuk, pelega nafas, dan juga anti alergi dan salah satunya adalah ‘seretide 50 inhaler’. Pertanyaan saya :

1. Apakah sudah perlu, anak saya menggunakan itu, karena sepertinya, napasnya baik2 saja ( sepenglihatan saya ) . Juga saya dengar, obat itu untuk orang yg asma,
nah apakah anak saya sudah termasuk mengidap asma ( karena keluarga saya dan istri tidak punya riwayat asma ).
2. Apakah, kalau saya tidak gunakan ( meskipun saya sudah terlanjur beli, harganya 235rb) itu berbahaya buat anak saya, karena saya kasian, karena kuatir dengan efek sampingnya.

Flashback sedikit : *** Dulu waktu anak saya berusia sekitar 2 bulan sampai 1 tahun, napasnya ( kalau tidur ) berbunyi ‘grok-grok’. Sudah pernah saya tanyakan ke dokter, katanya itu normal, dan nantinya akan hilang sendiri. kemudian waktu terkena batuk ( di usia 1 tahun ) pernah diberi obat saditen ( botol kecil, yg susah ngluarin isinya ). Dan itu diberikan kurang lebih 6 bulan.
Sedikit tambahan, kalau saya perhatikan dalam 3 tahun ini ( sejak umur 1 tahun ), sepertinya pada bulan oktober/November, anak saya terkena batuk atau pilek. ***

Tolong tanggapannya ya…
Terima kasih

Yos.

Jawab:
saya jawab secara singkat saja, ya…. ada kemungkinan putra Anda mengidap alergi, dalam bentuk asma. Asma umumnya terkait dengan adanya alergi, yaitu alergi pada saluran pernafasan. Apakah ada riwayat alergi pada keluarga? kadang asma bisa muncul pada keluarga yang memiliki riwayat alergi, walaupun tidak ada yang asma.
Asma sendiri sifatnya kambuhan, yaitu muncul jika ada pemicu. Jika tidak telalu kerap, obat tadi cukup diberikan jika sesak saja. Tapi jika asmanya relatif berat (sering kambuh sesaknya), memang perlu diberikan secara rutin. Bentuk sediaan inhaler relatif aman, kok, tdk perlu terlalu kuatir tentang efek sampingnya. Bisa dibandingkan bagaimana jika napas putra Anda sesak, kan lebih berat keadaannya.
Sementara begitu dulu ya…
semoga bermanfaat
Salam

21 11 2009
Druffie

Puskesmas Mojoagung :: Tapi jangan hanya dijadikan sebagai “ajang bisnis saja” hanya mengambil keuntungan diatas penderitan orang lain. tetapi harus benar banar ditangani dengan baik dan tuntas, namun kalo sudah ada kata “Bisni” biasanya sudah gawat !! Hmmmm… semoga saja tidak terjadi di Puskesmas & Rumah Sakit yang lain, yang hanya menjadikan pasien sebagai “ajang bisnis”

15 03 2009
Teguh IW

Mbak, wong sudah tahu penyakitnya, kok nggak diobati dhewe?….

Jawab:
hehe… ya jelas sudah. Tapi untuk nebulizernya memang nggak punya, dan anaknya yang pengin dibawa ke dokter…. Kayaknya ada faktor sugesti juga, kalau dibawa ke dokter mesti sembuh. Sebenarnya ketika lihat resepnya ya obat-obatnya sama dengan yang saya berikan sendiri…

14 03 2009
Puskesmas Mojoagung

Artikelnya bagus dan sangat membantu😀 . Makasih ya…
Sedikit info, karena terjadinya global warming yang membuat cuaca jadi tidak menentu dan peningkatan polusi udara sehingga jumlah penderita asma jadi meningkat. (http://www.scidev.net/en/news/global-warming-increases-asthma.html)
Peningkatan jumlah penderita asma ini jelas saja meningkatkan pemakaian alat nebulizer di Puskesmas Mojoagung. Karena terlalu sering dipakai (3-10 kali perhari) akhirnya 2 alat kami sampai rusak dan harus membeli baru. Mungkin begitu juga yang dialami oleh rumah sakit yang lain.
Masalahnya para penderita asma ini tidak bisa menghindari pemicu yang berasal dari faktor cuaca, misalnya siang sangat panas dan malam mendadak sangat dingin dan lembab, atau sering mendadak hujan.
Tapi hal ini juga bisa menjadi peluang bisnis yang potensial bagi produsen obat asma berikut produsen alat nebulizer. Ya gak ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: