Cermat menggunakan suplemen kesehatan stamina pria

6 09 2015

Dear kawan,

tulisan ini adalah reposting dari tulisanku di Harian Tribun Yogya hari ini…

Baru-baru ini, tepatnya tanggal 24 Agustus 2015 yang lalu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI mengumumkan penemuannya terkait adanya berbagai suplemen kesehatan khususunya untuk stamina pria yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO).

Berdasarkan hasil pengawasan Badan POM di seluruh Indonesia dari bulan November 2014 sampai dengan Agustus 2015, ditemukan sebanyak 50 OT dan SK stamina pria mengandung BKO, dengan 25 di antaranya merupakan produk OT tidak terdaftar (ilegal). Permasalahan ini bukan hanya menjadi isu di Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia. Berdasarkan informasi melalui Post-Marketing Alert System (PMAS), sebanyak 18 OT dan SK mengandung BKO juga ditemukan di ASEAN, Australia, dan Amerika Serikat. Untuk itu, Badan POM mengeluarkan peringatan/public warning sebagaimana terlampir, dengan tujuan agar masyarakat lebih waspada dan tidak mengonsumsi OT dan SK mengandung BKO karena dapat membahayakan kesehatan.
Bahan Kimia Obat (BKO) yang teridentifikasi dicampur dalam produk OT dan SK stamina pria hasil temuan periode November 2014 hingga Agustus 2015 didominasi oleh sildenafil dan turunannya. Sildenafil sendiri merupakan obat yang diindikasikan untuk mengobati disfungsi ereksi dan hipertensi arteri pulmonal. Obat ini umum dikenal dengan nama Viagra dan paling dominan digunakan sebagai obat disfungsi ereksi pada pria. Sildenafil dan turunannya termasuk golongan obat keras yang hanya boleh digunakan sesuai petunjuk dokter. Jika digunakan secara tidak tepat, bahan kimia obat ini dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan, seperti kehilangan penglihatan dan pendengaran, stroke, serangan jantung, bahkan kematian.
Tulisan kali ini mengajak Anda mengenal sildenafil dan turunannya, dan bahayanya jika digunakan sembarangan seperti yang dicampurkan pada suplemen kesehatan stamina pria.
Riwayat penemuan sildenafil

Viagra alias Pil Biru

Viagra alias Pil Biru

Tahukah anda bahwa penemuan sildenafil (Viagra) adalah tidak sengaja? Kisahnya pada tahun 1991, Dr. Nicholas Terret dan timnya di perusahaan farmasi Pfizer sedang meneliti sildenafil (molekul UK-92, 480) sebagai obat hipertensi dan angina pektoris. Angina pektoris adalah penyakit jantung di mana terjadi penyempitan/kontraksi pembuluh darah jantung (vasokonstriksi). Namun ternyata efek sildenafil terhadap angina pektoris sangat minimal. Hasil yang didapat justru di luar dugaan. Beberapa relawan yang menggunakan sildenafil justru merasakan ereksi pada penisnya. Menurut hipotesis, ereksi merupakan efek samping sildenafil. Dari situ kemudian obat ini justru dikembangkan menjadi obat untuk mengatasi disfungsi ereksi pada pria. Kok bisa ya obat untuk jantung malah jadi obat untuk penis?

Bagaimana Viagra bisa membantu penis ereksi?
Mekanisme fisiologis ereksi pada penis pada saat ada stimulasi seksual melibatkan pelepasan suatu senyawa, yaitu oksida nitrat (NO) dari bagian penis yang disebut corpus cavernosum. NO ini akan mengaktifkan enzim guanilat siklase (GC), yang menyebabkan peningkatan senyawa siklik guanosin monofosfat (cGMP), yang selanjutnya menyebabkan pelebaran pembuluh darah di sekitar corpus cavernosum. Dengan pelebaran pembuluh darah di sekitar penis, maka darah dapat mengalir ke penis dan menyebabkan pembesaran penis. Senyawa cGMP ini bisa dirusak oleh oleh enzim yang namanya fosfodiesterase-5 (PDE5). Sildenafil bekerja menghambat enzim tersebut sehingga kadar cGMP tetap banyak dan dapat menyebabkan ereksi penis.

Mekanisme aksi Sildenafil mengatasi disfungsi ereksi

Mekanisme aksi Sildenafil mengatasi disfungsi ereksi

Belakangan diketahui bahwa enzim ini justru banyak terdapat di otot pembuluh darah penis dan paru-paru, bukan di jantung. Itulah mengapa obat ini tidak begitu efektif untuk angina pectoris (penyempitan pembuluh darah jantung), tapi justru lebih poten pengatasan untuk disfungsi ereksi dan penyempitan pembuluh darah paru-paru (hipertensi pulmonary).
Kembali ke cerita penemuan tadi, dengan adanya efek tak disangka-sangka tesebut, akhirnya pada tahun 1994, Pfizer memutuskan untuk melanjutkan uji klinik untuk lebih menggali potensi sildenafil sebagai obat disfungsi ereksi. Ian Osterloh adalah peneliti Pfizer yang amat berperan dalam penemuan sildenafil untuk indikasi disfungsi ereksi, sedangkan Peter Dunn dan Albert Wood adalah yang berjasa mensintesis sildenafil dalam bentuk pil. Sildenafil mendapat ijin FDA sejak 27 Maret 1998 dengan nama Viagra dan kini menjadi obat yang sangat laris dalam pengobatan disfungsi ereksi. Sekitar 600.000 dokter meresepkan sildenafil di 110 negara. Viagra adalah tergolong obat keras yang harus diperoleh dengan resep dokter.
Namun sayangnya dengan kepopulerannya ini, Viagra menjadi obat yang sangat banyak disalahgunakan, dan juga diedarkan secara illegal. Seperti yang disebutkan di awal tulisan ini, Viagra banyak dicampurkan dalam suplemen kesehatan stamina pria. Selain itu Viagra juga banyak dijual secara illegal di kios-kios khusus yang menawarkan “Pil Biru” atau secara online yang rawan terhadap penipuan atau pemalsuan.
Turunan sildenafil

Keluarga inhibitor PDE-5

Keluarga inhibitor PDE-5

Selain Viagra (sildenafil), ada pula turunan sildenafil yang juga sering dicampurkan dalam suplemen kesehatan stamina pria. Apa saja mereka? Mengekor kesuksesan Viagra, para ahli kemudian mengembangkan obat disfungsi ereksi yang masih satu keluarga dengan sildenafil, yaitu tadalafil (Cialis), vardenafil (Levitra), dan avanafil (Stendra). Karena masih satu golongan, mekanisme kerja mereka sama, yaitu sebagai penghambat enzim fosfodiesterase-5, sehingga mencegah degradasi siklikGMP yang berperan dalam proses ereksi penis.

Lalu apa perbedaannya dengan Viagra?
Cialis (tadalafil) bisa berada lebih lama di dalam tubuh daripada Viagra, karena memiliki waktu paruh jauh lebih panjang yaitu 17,5 jam (Viagra hanya 4 jam). Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan oleh obat untuk menjadi separuhnya. Artinya, dalam waktu 4-5 jam, kadar Viagra dalam tubuh tinggal separonya, karena separonya yang lain sudah mulai dieliminasi/dikeluarkan dari tubuh. Sedangkan Cialis, dia baru akan tinggal separonya dalam waktu 17,5 jam. Implikasinya adalah bahwa durasi aksi Cialis menjadi lebih lama, sampai kurang lebih 36 jam, dibandingkan dengan Viagra yang aksinya hanya maksimal sekitar 12 jam. Tapi tentu ada konsekwensinya juga, dengan obatnya tinggal lebih lama di dalam tubuh, maka efek samping yang mungkin dialami pasien juga akan lebih lama. Bedanya lagi, efek Viagra akan berkurang jika dikonsumsi dengan makanan yang mengandung lemak, sedangkan Cialis efeknya tidak dipengaruhi oleh adanya makanan. Efek samping khas dari tadalafil adalah nyeri otot dan nyeri punggung.
Levitra termasuk saudara Viagra, yang tergolong baru dalam pengobatan disfungsi ereksi. Waktu paruhnya sebanding dengan Viagra yaitu 4 jam. Tapi kelebihannya adalah ia lebih poten dari Viagra, sehingga bisa dipakai dalam dosis lebih kecil dari Viagra (10% dosis Viagra). Namun sama dengan Viagra, efektivitas Levitra juga dipengaruhi oleh adanya makanan dan memiliki efek samping khas yaitu gangguan penglihatan.

perbandingan Viagra Cialis dan Levitra

perbandingan Viagra Cialis dan Levitra

Avanafil (Stendra) merupakan anggota keluarga sildenafil yang terbaru, yang baru disetujui peredarannya pada tahun 2012 di Amerika. Kelebihan analafil dibandingkan pendahulunya adalah efeknya lebih cepat. Jika Viagra membutuhkan waktu 30-60 menit untuk menghasilkan efeknya, maka avanafil hanya perlu 15-30 menit. Efek samping avanafil juga lebih sedikit karena bekerja lebih spesifik pada enzim PDE5.

Apa efek samping umum sildenafil dan turunannya?
Walaupun ada efek samping spesifik untuk masing-masing obat, tetapi keluarga sildenafil/Viagra ini memiliki efek samping umum, yang meliputi : sakit kepala (10-16 %), wajah memerah dan terasa panas (5-12%), gangguan pencernaan (4-12%), hidung tersumbat (1-10%) dan nggliyeng (2-3%) dan gangguan penglihatan. Karena aksi obat ini adalah dengan melebarkan pembuluh darah, maka penggunaan berlebih bisa menurunkan tekanan darah. Sehingga, pasien hipertensi maupun gangguan jantung yang sedang menggunakan obat-obat anti hipertensi atau obat pelebar pembuluh darah seperti golongan nitrat, harus hati-hati menggunakannya, karena bisa menyebabkan tekanan darah turun drastis, syok, dan bahkan bisa berakibat pada kematian.
Hati-hati menggunakan suplemen kesehatan stamina pria
Dalam keadaaan memang diperlukan terutama untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, suplemen kesehatan stamina pria memang sangat membantu. Namun demikian, perlu berhati-hati menggunakannya. Gangguan ereksi sendiri bisa disebabkan karena kondisi kesehatan yang menurun, atau gangguan psikologis. Tentu gangguan ini perlu diatasi lebih dahulu, temasuk jika ada gangguan piskologis. Menjaga kesehatan secara umum dengan olahraga dan makanan sehat serta vitamin bisa membantu mendapatkan tubuh yang bugar. Untuk penggunaan suplemen kesehatan khusus untuk stamina pria, perlu berhati-hati memilihnya. Pilihlah merk dari industri farmasi yang sudah cukup besar yang umumnya lebih tertib dalam pembuatan produknya terkait adanya pencampuran dengan bahan kimia obat. Jika ada tanda-tanda efek samping seperti di atas, ada kemungkinan suplemen tersebut dicampur sildenafil atau turunannya.

Jika anda memiliki gangguan hipertensi atau jantung, dan sedang mengkonsumi obat-obat hipertensi atau jantung, jangan sembarangan mengkonsumsi suplemen obat kuat ini karena bisa berbahaya. Siapa yang tahu berapa kadar obat sildenafil yang dicampurkan? Siapa yang akan membatasi penggunaannya? Jangan pula mudah membeli di kios-kios kecil penjual obat kuat maupun secara online. Pembelian melalui jalur illegal rawan terhadap pemalsuan obat. Tentu sayang membuang uang banyak untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Kalau hanya sekedar membuang uang mungkin masih tidak apa, bagaimana jika sampai mengorbankan kesehatan lainnya jika terkena efek samping atau efek toksik yang tidak dikehendaki atau mendapat obat palsu yang berbahaya? Obat-obat sildenafil dan turunannya semestinya diperoleh melalui resep dokter dan digunakan dengan dosis sesuai kebutuhan. Jika memang ada gangguan fungsi ereksi secara organik, sebaiknya diperiksakan ke dokter ahlinya untuk mendapatkan penanganan yg tepat.

Demikian semoga bermanfaat..

Iklan




Bahayanya obat herbal yang dicampur BKO, 51 produk ditarik oleh BPOM

30 11 2014

Dear kawan,

jamu-bpom-dlmTulisan ini adalah reposting tulisanku di harian Tribun Yogya hari ini. Sayangnya yang di koran tidak menampilkan daftar tabel 51 obat yang diumumkan oleh BPOM mengandung BKO karena keterbatasan space. Karena itu aku repost di sini disertai link yang bisa dibuka mengenai daftar obat herbal tersebut..

Belakangan ini jamu atau obat herbal menjadi primadona dan pilihan masyarakat sebagai alternatif pengobatan, karena dipandang aman dan harganya lebih murah. Hal ini membuat maraknya pertumbuhan industri obat tradisional dengan aneka produknya. Sayangnya, alih-alih memproduksi obat herbal yang manjur dan aman, beberapa di antara mereka berbuat curang dengan mencampurkan komponen obat herbalnya dengan obat-obat kimia, dengan tujuan agar efeknya lebih ces-pleng. Hal ini tidak dibenarkan dalam peraturan pendaftaran dan produksi obat tradisional di Indonesia. Setelah melakukan pengawasan sejak bulan November 2013 sampai Agustus 2014, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) menemukan sebanyak 51 produk Obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat (OT-BKO), dimana 42 diantaranya merupakan produk OT tidak terdaftar (ilegal). Karena itu, pada tanggal 26 November 2014 yang baru lalu, BPOM menyampaikan siaran pers mengenai beberapa produk jamu yang masuk dalam kategori tersebut dan membatalkan nomor ijin produk-produknya.  Daftar produk yang masuk kategori tersebut dapat dilihat pada tautan ini..
Berdasarkan siaran pers tersebut, diketahui bahwa obat tradisional yang dicampur dengan bahan kimia obat didominasi oleh jamu penghilang rasa sakit (pegel linu, rematik) dan herbal penambah stamina (obat kuat). Obat kimia yang paling sering dicampurkan adalah parasetamol, fenilbutason, deksametason, antalgin, sildenafil dan tadalafil sitrat. Artikel ini akan membahas bahayanya jika obat-obat kimia tersebut dicampur dalam sediaan jamu/herbal dan digunakan secara jangka panjang.
Parasetamol atau asetaminofen

metabolisme parasetamol/asetaminofen membentuk NAPQI

metabolisme parasetamol/asetaminofen membentuk NAPQI

Parasetamol adalah obat penghilang sakit (analgesik) yang sebenarnya aman jika digunakan sesuai aturannya. Obat ini banyak dijumpai pada komponen obat flu maupun sakit kepala. Jika dicampurkan ke dalam jamu, misalnya jamu pegel linu atau jamu rematik, tentu akan meningkatkan kemanjuran jamu tersebut. Jika hanya dipakai sekali dua kali memang tidak berbahaya bagi kesehatan. Tetapi masalahnya, masyarakat pada umumnya menganggap jamu itu aman dan mereka cenderung mengkonsumsi setiap hari. Jika dipakai setiap hari, maka parasetamol akan terakumulasi dalam tubuh. Pada dosis besar, parasetamol dapat merusak hati/liver menyebabkan gangguan liver. Di dalam tubuh, parasetamol akan dimetabolisir menghasilkan zat radikal bebas yang bernama N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI). Dalam keadaan normal, NAPQI akan didetoksikasi secara cepat oleh enzim glutation dari hati. Pada dosis berlebih, hati tidak mampu lagi mendetoksikasinya, dan zat radikal bebas tersebut justru dapat merusak hati.

Pet Health Care Phenylbutazone Bute Banned

Peringatan pelarangan penggunaan fenilbutazon untuk manusia

Fenilbutason
Fenilbutason juga merupakan obat penghilang sakit (analgesik) seperti parasetamol, tetapi memiliki sifat yang berbeda. Obat ini sebenarnya sudah tidak banyak digunakan lagi karena efek sampingnya yang besar. Obat ini banyak digunakan untuk binatang seperti kuda.  Di Amerika, obat ini bahkan sudah ditarik dari peredaran karena banyak obat baru yang lebih aman. Efek samping khas dari fenilbutason adalah penekanan pada sumsum tulang belakang yang berfungsi menghasilkan sel-sel darah putih, sehingga menyebabkan turunnya jumlah sel darah putih. Penurunan sel darah putih menyebabkan seseorang mudah terkena infeksi. Selain itu, fenilbutason juga menyebabkan efek samping pada lambung, karena menghambat prostaglandin yang dibutuhkan untuk perlindungan selaput lendir lambung. Penggunaan yang terus-menerus dalam bentuk jamu tentu akan memberikan efek samping yang berbahaya, bahkan bisa menyebabkan perdarahan lambung. Repotnya, pasien tidak merasakan sakit pada lambungnya karena tertutupi efek fenilbutazon sebagai penghilang rasa sakit, namun tahu-tahu mengalami anemia atau tinjanya berwarna hitam (melena) akibat mengandung darah yang sudah kering.

gastrointestinal-bleeding_3

Ilustrasi perdarahan lambung yang bisa disebabkan karena pemakaian obat kortikosteroid secara kronis

Deksametason
Deksametason adalah obat golongan kortikosteroid yang memilliki efek anti radang yang kuat. Jika digunakan sesuai aturannya, obat kortikosteroid memiliki banyak kegunaan, terutama pada penyakit-penyakit peradangan, seperti rematik, asma, alergi, dan penyakit autoimun seperti lupus, sindrom nefrotik, artritis rematoid, dll. Namun di sisi lain, efek sampingnya cukup luas, antara lain adalah meningkatkan kadar gula darah (meningkatkan resiko diabetes), keropos tulang (osteoporosis), menghambat pertumbuhan anak-anak, menyebabkan gemuk pada bagian tubuh tertentu (wajah bulat/moon face, bahu seperti berpunuk), menyebabkan garis-garis merah di perut (striae), menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena infeksi, meningkatkan resiko hipertensi karena menahan garam di dalam tubuh, menyebabkan gangguan lambung (perdarahan lambung), dll. Penggunaan obat ini tidak boleh sembarangan dan perlu pengawasan tenaga kesehatan yang berwenang. Jika digunakan sesuai aturan, tentu efek-efek samping ini dapat dikelola agar tidak membahayakan. Penghentiannya pun tidak boleh secara tiba-tiba, karena juga dapat membahayakan kesehatan. Mengapa demikian ? Karena selama penggunaan kortikosteroid dari luar, produksi hormon ini secara alami dari tubuh akan terhenti. Jika penggunaan dari luar tiba-tiba dihentikan, tubuh akan kekurangan hormon ini secara normal dan akan terjadi reaksi-reaksi yang tidak diinginkan, seperti: kadar gula darah turun, tekanan darah turun drastis dari posisi duduk ke berdiri (hipotensi ortostatik), dehidrasi (kekurangan cairan), lemah, lesu, dll. Penggunaan yang tidak terkontrol dalam bentuk jamu tentu dapat meningkatkan risiko kesehatan bagi pasien. Alih-alih sehat, malahan masuk rumah sakit akibat menggunakan jamu bercampur dengan obat kimia.

Antalgin
Antalgin adalah obat penghilang rasa sakit yang juga banyak dipakai masyarakat. Ia bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin yang berperan sebagai mediator nyeri. Hampir sama dengan fenilbutazon, efek samping antalgin yang berat adalah gangguan darah yang disebut agranulositosis, yang berarti berkurangnya jumlah sel darah putih, khususnya neutrofil granulosit. Gejala agranulositosis adalah gampang terkena infeksi, tubuh terasa lemah (tidak enak badan, lemah, pusing, sakit otot), diikuti dengan terjadinya tukak pada membran mukosa, demam dan denyut jantung meningkat.

Sildenafil dan tadalafil
Sildenafil dan tadalafil adalah obat yang digunakan untuk mengatasi gangguan ereksi pada pria. Masyarakat mengenalnya sebagai obat kuat untuk pria. Banyak jamu atau obat herbal yang ditujukan untuk meningkatkan stamina pria mengandung sildenafil sebagai campurannya. Sildenafil dan tadalafil adalah obat keras yang semestinya diperoleh dengan resep dokter. Dia bekerja dengan cara melebarkan pembuluh darah penis, sehingga aliran darah ke organ tersebut lancar, sehingga menguatkan ereksi. Tetapi jika dipakai secara berlebihan, apalagi oleh orang-orang yang sedang menggunakan obat-obat antihipertensi yang bekerja melebarkan pembuluh darah juga (vasodilator), maka akan terjadi penurunan tekanan darah secara drastis dan pasien bisa pingsan, bahkan bisa menimbulkan kematian. Efek samping lain obat ini adalah buta warna, sakit kepala, pusing, hidung tersumbat, sampai dengan sakit pada kandung kemih. Alih-alih perkasa, pasien justru bisa terkapar tidak berdaya akibat efek samping obatnya.
Hati-hati memilih produk obat herbal
Dengan paparan di atas, maka dapat dipahami bahayanya mengkonsumsi obat-obat herbal yang dicampur dengan obat kimia tanpa aturan yang benar. Apalagi masyarakat sering berpendapat bahwa jamu itu aman dan bisa digunakan dalam jangka panjang. Efek obat herbal atau jamu memang pada umumnya terjadi secara bertahap (perlahan). Jika terlalu cepat atau terlalu kuat, justru boleh dicurigai adanya campuran dengan obat kimia. Kami menghimbau masyarakat untuk berhati-hati memilih dan membeli obat herbal. Belilah di apotek atau toko obat yang dipercaya. Pilihlah obat herbal yang diproduksi oleh industri farmasi yang sudah cukup dikenal, mereka biasanya tidak berani bertindak kriminal dengan mencampurkan bahan kimia obat ke dalam produk obat herbalnya.