Parasetamol, seberapa amankah?

18 12 2009

Dear kawan,

Sudah dua minggu sejak posting terakhir aku belum sempat nulis lagi. Banyak deadline yang harus dikejar, sampai pusing dan keriting deeh…. ! Nah, sekarang aku sempatkan menulis sedikit. Kalau belum lama ini aku membahas tentang aspirin, maka sekarang aku coba ngerasani parasetamol alias asetaminofen. Obat yang cukup aman, tapi bagaimanapun obat adalah racun. Jadi kalau dipakai dalam dosis besar bisa jadi berbahaya juga.

Siapa yang belum kenal parasetamol? Mereka yang pernah sakit kepala atau demam, atau nyeri yang lain, pasti pernah menggunakan obat ini. Ya, obat ini tergolong obat analgetik anti piretika, yaitu penghilang rasa sakit dan penurun panas. Obat ini termasuk aman untuk berbagai keadaan, termasuk untuk anak-anak dan ibu hamil/menyusui, sepanjang dipakai dalam dosis terapinya. Dan katanya tablet parasetamol bisa untuk obat KB lho…! Masa iya?

Ada cerita lucu tentang parasetamol sebagai obat KB. Waktu itu di sebuah restoran hotel di Amsterdam, kami lagi menyantap breakfast sambil berbincang. Bersamaku ada dua profesor dari Fak Kedokteran UGM, dan satu profesor dari Fak Farmasi…. Kami berbincang berbagai hal. Aku sendiri termasuk tidak pandai ngobrol, jadi aku cuma menimpali sesekali… Kulontarkan bahwa “Sekarang parasetamol bisa sebagai obat KB, lho..”… “O,ya.. bagaimana mekanismenya?” kata salah seorang dengan antusias. “Dikempit di paha…” kataku. Dan meledaklah tawa semua… haha….. Bisa aja!! Yah, sebenarnya sih ini joke kuno di Fak Farmasi UGM, …. sudah sering dilontarkan, tapi ternyata masih saja mengundang tawa… Nah, kembali ke parasetamol… Hm, yang benar parasetamol nggak bisa jadi obat KB, tapi malah jadi “alat” bunuh diri. Nah, kalau yang ini beneran loo….. Lho, kok bisa? Katanya parasetamol termasuk obat yang aman?

Yah, meskipun aman, semua obat adalah racun jika digunakan dalam dosis besar. Karena relatif mudah diperoleh, parasetamol merupakan salah satu obat yang sering dipakai untuk bunuh diri. Pada tahun 2001, 64 pusat keracunan di AS menerima 112,809 telepon mengenai paparan parasetamol, baik secara tunggal atau dalam bentuk kombinasi. Telepon yang berhasil ditindaklanjuti melaporkan bahwa 59.087 kasus dapat ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan, dan 238 kasus menimbulkan kematian. Sebagian dari kasus kematian (43%) disebabkan karena usaha bunuh diri atau penyalahgunaan, sisanya disebabkan karena ketidaksengajaan dan biasanya karena digunakan bersama obat lain.

Apa yang terjadi jika parasetamol dikonsumsi dalam dosis besar, baik secara sengaja maupun tidak? Seberapa besar dosis parasetamol dinyatakan sebagai dosis toksik? Bagaimana mekanisme toksisitas parasetamol?

Overdosis parasetamol dan mekanisme toksisitasnya

Overdosis parasetamol dapat terjadi pada penggunaan akut maupun penggunaan berulang. Overdosis parasetamol akut dapat terjadi jika seseorang mengkonsumsi parasetamol dalam dosis besar dalam waktu 8 jam atau kurang. Kejadian toksik pada hati (hepatotoksisitas) akan terjadi pada penggunaan 7,5-10 gram dalam waktu 8 jam atau kurang. Kematian bisa terjadi (mencapai 3-4% kasus) jika parasetamol digunakan sampai 15 gram.

Pada dosis terapi (500-2 gram), 5-15% obat ini umunya dikonversi oleh enzim sitokrom P450 di hati menjadi metabolit reaktifnya, yang disebut N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI). Proses ini disebut aktivasi metabolik, dan NAPQI berperan sebagai radikal bebas yang memiliki lama hidup yang sangat singkat. Meskipun metabolisme parasetamol melalui ginjal tidak begitu berperan, jalur aktivasi metabolik ini terdapat pada ginjal dan penting secara toksikologi. Dalam keadaan normal, NAPQI akan didetoksikasi secara cepat oleh enzim glutation dari hati. Glutation mengandung gugus sulfhidril yang akan mengikat secara kovalen radikal bebas NAPQI, menghasilkan konjugat sistein. Sebagiannya lagi akan diasetilasi menjadi konjugat asam merkapturat, yang kemudian keduanya dapat diekskresikan melalui urin.

Pada paparan parasetamol overdosis, jumlah dan kecepatan pembentukan NAPQI melebih kapasitas hati dan ginjal untuk mengisi ulang cadangan glutation yang diperlukan. NAPQI kemudian menyebabkan kerusakan intraseluler diikuti nekrosis (kematian sel) hati, dan bisa juga menyebabkan kegagalan ginjal (walaupun lebih jarang kejadiannya). Suatu studi populasi terhadap metabolisme parasetamol menunjukkan bahwa proporsi populasi yang mengalami aktivasi metabolik bervariasi dari 2-20% pada subyek ras kaukasian (orang kulit putih). Orang-orang yang mengalami kanker hati dan hepatitis kronis B nampaknya memiliki kapasitas aktivasi metabolik parasetamol yang relatif tinggi (abnormal tinggi). Orang-orang yang demikian diduga memiliki ambang toksisitas parasetamol yang lebih rendah dan mungkin juga lebih rentan terhadap karsinogen dari lingkungan.

Bagaimana pengatasannya?

Saat ini, pengatasan overdosis parasetamol yang cukup terbukti ampuh adalah dengan penggunaan N-acetylcystein, baik oral atau secara intravena. Antidot (antiracun) ini mencegah kerusakan hepar akibat keracunan parasetamol dengan cara menggantikan glutation dan dengan ketersediaannya sebagai prekursor. Rekomendasi regimen dosis untuk N-asetilcysteine secara per-oral adalah dengan loading dose sebesar 140 mg/kg, diikuti dengan 70 mg/kg BB setiap 4 jam untuk 17 kali dosis, dengan total durasi terapi adalah 72 jam. 

Demikian dulu sekilas info… Semoga bermanfaat. Bagaimanapun obat adalah racun. Lebih baik mencegah penyakit daripada mengobati.