Japan Trip 2016 (1): Matsuyama, I’m coming (again) !

1 12 2016

Dear kawan,

Akhirnya tahun ini aku berkesempatan lagi (atau tepatnya mencari kesempatan) untuk bisa berkunjung lagi ke negara matahari terbit alias Jepang. Kali ini aku bersama lagi dengan bu Triana (seperti perjalanan sebelumnya ke Korea dan China) plus dua anakku, Afan dan Hannisa. Aku memang punya target untuk minimal sekali setahun harus pergi ke luar negeri untuk menambah pengalaman dan wawasan. Dan sebagai dosen yang pekerjaannya sak-dos dan gajinya sak-sen (tapi tetap bersyukur hehe..), tentu harus punya strategi untuk bisa berjalan-jalan dengan paket hemat tanpa mengurangi kenyamanan…  Untuk itu aku harus mengikuti conference/pertemuan ilmiah dan presentasi di sana, sehingga bisa mendapat financial support dari unirvesitas. Jepang menjadi pilihan karena kebetulan bu Triana belum pernah ke Jepang, dan anak-anakku juga penyuka makanan dan budaya Jepang. Oya, aku juga tertarik ke Matsuyama karena ingin bertemu juga dengan Maeyama Sensei (profesorku dulu) yang tahun depan akan pensiun. Kapan lagi berkesempatan ke Jepang sebelum sensei pensiun. Selain itu di Matsuyama ada Rizal dan istri yang bisa jadi guide. Oiya, tentu saja untuk anak-anak aku harus merogoh kantong pribadi agak dalam walau ada juga sumbangan dari sponsor hehe… tapi kadang kekayaan itu tidak hanya berupa tumpukan uang, tapi juga pengalaman dan pengetahuan… Jadi kekayaan kita tidak berkurang, hanya berubah bentuknya. Jadi the show must go on….!  Aku menuliskan ini sebagai dokumentasi pribadiku untuk perjalanan kali ini. Tulisan ini akan diterbitkan dalam beberapa seri biar ngga kepanjangan dan jadi ditunggu-tunggu kelanjutannya… hehe. Begitu saran salah satu pembaca setia blog ini..

Sebuah event Pharmacological Meeting di Matsuyama (kota tempat belajarku dulu) menjadi salah satu destinasinya. Setelah urusan administrasi beres, termasuk visa dan lain-lain, berangkatlah kami berempat ke Matsuyama via Osaka. Kami sudah berencana untuk mengunjungi beberapa kota selama di Jepang, biar anak-anak pada punya pengalaman baru menaiki berbagai moda transportasi di sana. Cuaca di beberapa kota yang akan kami kunjungi sudah aku cek melalui ramalan cuaca, dan nampaknya cukup nyaman, berkisar antara 12-16 derajat di siang hari. Aku tidak ingin mengulang pengalaman salah kostum di Korea hehe… pakai baju seadanya pada suhu 1 derajat… !!

Perjalanan

Yeaayy! Komik Apoteker Cilik udah sampai Kansai Osaka

Yeaayy! Komik Apoteker Cilik udah sampai Kansai Osaka

Matsuyama adalah salah satu kota di Jepang yang berlokasi di Pulau Shikoku. Tidak ada penerbangan langsung kesana dari Indonesia jadi kami harus melalui Kansai International Airport di Osaka. Kami berangkat dari Yogya melalui Denpasar pada hari Kamis malam tanggal 24 November 2016, dan sampai di Kansai Airport keesokan harinya jam 8.30 waktu setempat. Perbedaan waktu antara Jepang dan Indonesia adalah 2 jam dengan Jepang lebih cepat. Alhamdulillah, urusan imigrasi cukup lancar. Oya, aku tidak lupa membawa Komik kami Apoteker Cilik… aku ingin membawanya berjalan-jalan di Jepang hehe…  Lucu aja kami berpose di beberapa kota di Jepang dengan si Jeksi, Kapsi dan Tabi di buku.

Dari Kansai kami melanjutkan perjalanan ke Itami Airport di Osaka, sebuah Bandara utk penerbangan domestik di Jepang. Dari Kansai sebetulnya ada pesawat ke Matsuyama, tetapi jadwalnya terlalu malam. Jadi lebih baik pindah bandara. Kami naik bus dari Kansai ke Itami secara gratis karena kami punya tiket penerbangan Itami-Matsuyama dan tiket penerbangan internasional ke Kansai. Lumayan bingiit ! Perjalanan dari Kansai ke Itami memerlukan waktu 70 menit. Yang selalu aku kagumi dari transportasi di Jepang adalah ketepatan waktunya. Semuanya bisa diprediksi dengan lebih tepat. Kansai Aiport sendiri berada di sebuah pulau buatan yang khusus dibuat menjadi bandara. Hm.. Jepang, apa sih yang ngga bisa dibuat… ! O,ya, bus adalah moda transportasi kedua yang kami naiki di Jepang setelah pesawat.

Matsuyama, I’m coming again !!

Pesawat All Nippon Airlines berbaling-baling membawa kami ke Matsuyama selama kurang lebih 55 menit. Cuaca hari itu cerah sekali sampai kami bisa melihat jembatan panjang Shimanami Kaido yang membentang gagah dari Pulau Honshu ke Shikoku. Matsuyama tidak begitu banyak berubah dari sejak terakhir aku datang 2 tahun yang lalu. Kami menginap di APA Hotel dekat Matsuyama castle. Anak-anakku excited sekali megunjungi Jepang yang sebelumnya hanya di lihat di TV atau movie, dan menikmati makanan Jepang yang asli di sana. Tapi untuk urusan makanan memang harus berhati-hati memilihnya, karena tidak semua halal dimakan. Untungnya kemasan makanan Jepang cukup detail mencantumkan ingredient-nya sehingga bisa diketahui isinya. Untuk urusan ini aku mengandalkan Rizal yang sudah lama tinggal di Jepang dan bisa membaca kanji.

Di depan Okaido

Di depan Okaido

Kami naik taksi ke hotel, dan ini menjadi moda transportasi ketiga yg dicoba di Jepang. Sesampainya di Hotel dan meletakkan koper, cuaca masih cukup terang dan sayang untuk dilewatkan. Jadilah kami putuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel. Untungnya hotel kami berada di pusat kota, jadi dekat jika mau kemana-mana. Kami jalan-jalan menuju shopping arcade di Okaido dan Gintengai. Ini bukan tempat asing buatku karena dulu sekali menjadi tempat andalanku untuk sekedar cuci mata saat liburan ngelab.  Oya, kalau waktu di Korea aku salah kostum, maka kali ini aku salah sepatu…uff! Sebelum pergi sempat bingung mencari sepatu yang bisa untuk acara resmi sekaligus untuk jalan-jalan di musim gugur, dan cocok untuk kakiku yang tidak bisa dibilang jenjang…  Kriteria inklusi yang sulit bukan? Akhirnya aku memakai sepatu yang ternyata bikin sakit untuk jalan-jalan. Terpaksalah aku mesti mencari alternatifnya di Okaido.. (modus dot com untuk beli sepatu baru .. hehehe).

Toko 100-yen Daiso masih jadi andalan untuk belanja. Tapi jangan salah…. walaupun kelihatannya murah. tapi toko 100-yen itu “menipu” lho…. Karena merasa murah, tahu-tahu keranjang kita udah penuh dengan aneka belanjaan karena barang di sana unik-unik dan lucu… !!  Gludak deeh… !! Ujung-ujungnya tetap saja menguras kantong !! Saat ini kurs yen adalah 128 rupiah per 1 yen.  Tapi jangan coba-coba hitung-hitung kurs sewaktu belanja di Jepang yaa, bisa-bisa kalian stress sendiri dan kepengin balik ke Indonesia.. Jalan-jalan sore ditutup dengan makan malam kare kambing halal jualannya orang Nepal. Rasanya seperti di surga saja bisa makan daging halal di Jepang… karena tidak banyak yang menyediakan…

Scientific part

Suasana saat presentasi

Suasana saat presentasi

Sabtu pagi aku dan bu Triana dijemput Maeyama Sensei di Hotel untuk dibawa ke venue acara yaitu di Universitas Matsuyama. Peserta seminar berasal dari berbagai kota di Jepang, dan tersedia tempat untuk presentasi oral dan poster, semuanya di bidang farmakologi. Entah kenapa jadwal presentasi kami dibuat seperti sandwich…. Aku di bagian awal, jam 9.00, bahkan urutan pertama, sedangkan bu Triana kebagian pada sesi terakhir jam 15.40an. Mungkin biar kami tidak langsung menghilang yaa.. hehehe…  Baiklah, akupun menjalankan tugas presentasiku selama kurang lebih 11 menit. Ada 2 pertanyaan dari audiens yang aku terima. Presentasi-presentasi berikutnya disampaikan dalam Bahasa Jepang, tapi dalam slide-nya masih terlihat beberapa yg bisa kami pahami dan semuanya sudah di tingkat advanced. Agak kecil hati sedikit sih, tapi ga papa lah… kan ini dari developing country hehe.. maklum. Kami memilih untuk tidak membuat rambut dan lidah makin keriting dengan bahasa dan tulisan kanji, maka setelah beberapa saat kami keluar, untuk kembali lagi nanti sorenya waktu presentasi bu Triana.

Traditional Japanese Food and autumn scenery in Dogo Koen

Siang itu aku janjian untuk bertemu Kyoko-san, teman Jepangku, di stasiun Okaido. Kyoko adalah gadis Jepang dari kota Imabari (1 jam dari Matsuyama)  lulusan jurusan Bahasa Inggris, jadi dia senang berteman dengan banyak orang asing untuk mepraktekkan Bahasa Inggrisnya. Tidak banyak aku jumpai orang Jepang yang Bahasa Inggrisnya bagus. Yang banyak adalah yang Bahasa Inggrisnya beraksen Jepang bingit yang bikin jidat berkerut karena harus berpikir keras memahaminya. Singkat cerita, bertemulah kami di Okaido shopping arcade, dan destinasi pertama adalah restoran Jepang. Kali ini kami naik trem (densha) menuju Okaido dengan biaya 160 yen/orang (jauh dekat sama).  Ini adalah moda transportasi ke-empat yang dicoba.

Traditional Japanese culinary yang cantik

Traditional Japanese culinary yang cantik

Restoran Jepang ini bukan yang menjual “sekedar” ramen atau udon, tetapi makanan Jepang yg lebih tradisional. Jadilah kami masing-masing memesan 1 set, yang berisi beberapa items. Sayangnya aku lupa namanya, karena semuanya ditulis dalam huruf kanji dan lupa aku memfoto menunya. Hmm…. Sajian makanan Jepang selalu cantik dalam penampilannya. Rasanyapun enak. Makanan ini semuanya berunsur sea food dan vegetables. Jangan tanya harga ya… nanti kalian ngga doyan makan hehehe….  O,ya, di Jepang itu, walaupun kalian diajak makan oleh orang Jepang, jangan terlalu berharap dibayarin… jadi tetap saja bayar sendiri-sendiri. Betsu-betsu istilahnya…. alias BDD (bayar dhewe-dhewe)

Suasana musim gugur dalam kolase buatan Kyoko

Suasana musim gugur dalam kolase buatan Kyoko

Destinasi berikutnya siang itu adalah ke Dogo Koen (Dogo Park). Taman Dogo ini menjadi tempat favorit terutama pada musim sakura, karena banyak pohon-pohon sakura di sana. Sedangkan pada musim gugur ini semua pohon sakura menjadi gundul, tetapi sebagai gantinya adalah pohon momiji (maple) yang daunnya memerah indah. Kyoko membawa kami ke taman ini untuk menikmati keindahan momiji. Dan ini juga yang membuatku bersemangat mengajak anak-anak supaya mereka bisa menikmati suasana musim gugur yang tidak pernah dijumpai di Indonesia.

Dari Dogo park, kami berjalan menuju Dogo onsen yang tidak jauh dari situ. Tapi sayangnya tidak banyak waktu tersisa karena kami harus kembali ke tempat seminar jam 3, sementara anakku Afan juga masih punya tanggungan membuat laporan praktikum yang harus diselesaikan dan dikirimkan ke Indonesia hari itu juga. Jadilah kami berpisahan di Dogo Koen. Anak-anak balik ke hotel diantar Rizal dan Verda, Kyoko kembali ke Imabari, sementara aku dan bu Triana kembali ke venue seminar di Matsudai.

bersama Maeyama Sensei dan anak-anak dalam acara Farewel party di Hotel JAL

bersama Maeyama Sensei dan anak-anak dalam acara Farewel party di Hotel JAL

Malamnya kami diundang untuk acara farewell party dari Seminar tersebut di Hotel JAL Matsuyama. Pada acara itu diumumkan para pemenang presenter dan poster terbaik, serta penutupan acara secara resmi. Wah, pestanya terlihat sangat resmi, hampir semua yang hadir menggunakan jas dan berdasi. Tersedia aneka makanan dan minuman, tapi sayangnya tidak banyak yang bisa kami makan. Tapi cukuplah untuk memiliki pengalaman mengikuti pestanya orang Jepang buat anak-anak. Untungnya di depan hotel ada convenient store Seven Eleven, jadi kalo kelaperan bisa beli onogiri di situ hehehe…

Demikianlah cerita hari pertama di Jepang. Malamnya kami akan bersiap-siap menuju Hiroshima besok pagi. Jadi tunggu cerita selanjutnya yaa….





My note(3): Hari H alias D day….

27 11 2009

Dear kawan,

Jadual presentasiku bersama 2 profesor baru Jepang di buku panduan

Hari ini adalah Hari H alias D day untuk acara Pharmacological Meeting, di mana aku diundang oleh Sensei untuk jadi pembicara, to introduce my research work. Hm… sudah aku tulis di My note (1),  bahwa dalam acara itu ada acara khusus untuk memperkenalkan profesor baru. Ada 3 profesor baru yang diminta memperkenalkan diri dan risetnya, 2 dari Jepang, dan yang ketiga adalah aku sendiri. Acara ini kayaknya baru pertama kali diadakan untuk kegiatan Pharmacological meeting semacam, yang merupakan inisiatif Maeyama Sensei sendiri yang kebetulan menjadi ketua panitianya. Acaranya dimulai dari jam 8.45 sampai jam 18.20an, tetapi jadwal bicaraku adalah jam 17.50, selama 25 menit. Jadi aku boleh datang siang-siangan kata Sensei, ngga harus mengikuti dari awal…..  Mending gitu sih, soalnya semuanya speaking Japanese, aku juga ngga mudeng….. ! Wah, bicara cuma 25 menit, heboh persiapannya berhari-hari hehe…….

Napak tilas ke Kume dan sekitarnya

Nah, karena itulah aku memutuskan untuk datang habis dhuhur saja, paginya mau bersantai dulu supaya ngga terlalu tegang. Well, kawan……hari Jumat ini cuaca cerah sekali di Shigenobu dan sekitarnya. Matahari bersinar hangat, langit biru bersih. Di tanah air teman-teman dan sanak keluarga sedang merayakan Hari Raya Idul Adha. Di Matsuyama sebenarnya juga ada sholat Ied yang dilaksanakan di Nogakubu (Fakultas Pertanian Ehime University), di mana di sana banyak mahasiswa asing yang muslim dan lokasinya juga di kota. Tapi hari ini dengan sedih aku tidak ikut sholat Ied karena tempatnya cukup jauh dari sini (Kampus Ehime University School of Medicine ada di pinggiran kota) dan agak ribet transportasinya.

Sekitar jam 10-an aku putuskan untuk refreshing sejenak dengan napak tilas ke stasiun Kume menggunakan densha (kereta). Itu adalah perjalanan yang dulu setiap hari aku lalui dalam waktu hampir 3 tahun. Ongkos kereta masih sama, 350 yen dari Kume ke Igakubu (kampus). Bicara tentang ongkos transportasi, ongkos di Matsuyama ini termasuk tinggi. Jauh lebih mahal dibandingkan Tokyo. Lho, kok bisa? Iya, … karena jumlah penduduk Matsuyama jauh lebih sedikit ketimbang Tokyo, sehingga biaya operasional yang sama dibagi dengan jumlah penduduk lebih sedikit, jatuhnya lebih mahal. Dari ujung ke ujung Matsuyama yang tidak terlalu jauh dengan densha bisa mencapai 720 yen, padahal di Tokyo dulu aku pernah muter-muter dengan densha jauh sekali cuma 180 yen. Sepanjang perjalanan kulihat banyak gedung-gedung baru bermunculan, walau masih ada yang sama dengan yang dulu.

Stasiun kecil Kume dengan densha yg biasa kunaiki

Enaknya, densha di sini selalu tepat waktu. Tepat 15 menit kemudian, aku sampai di stasiun Kume. Aku berharap ketemu bapak penjaga Setasiun yang dulu, ternyata sudah ganti. Iyalah, terakhir aku ketemu beliau 4 tahun yang lalu. Itupun rambutnya sudah putih. Suasana stasiun Kume masih seperti dulu, di dekatnya ada toko ‘second hand” yang cukup besar. Di Jepang, orang ngga malu beli barang second hand. Barangnya masih bagus-bagus. Mereka lebih menggunakan prinsip ekonomi dan ekologi. Barang yang sudah tidak ingin dipakai lagi sebaiknya “dirotasikan” pada orang lain, dengan cara dijual ke toko second hand, sehingga tidak menuh-menuhin bumi hehe….  eco-friendly. Khusus tentang urusan pembuangan sampah, aku pernah menulis dalam sebuah mozaik hidupku, bisa di-klik di sini.

Lalu aku mencoba berkeliling disekitar Kume-eki. Ada banyak perubahan. Toko 100-yen yang dulu pernah ada di dekat eki, sekarang tidak ada lagi. Apotek yang dulu ada di sebelah supa, sekarang jadi toko handuk. Lalu aku sengaja napak tilas ke supa Nitto, supa langgananku dulu untuk belanja berbagai keperluan harian. Wah, belum banyak berubah juga…. bahkan penempatan ikan dan seafood, sayuran, dll, masih sama seperti dulu. Setelah berbelanja sedikit termasuk bento untuk makan siang, aku pun kembali ke stasiun dan balik lagi ke hotel  dengan densha.

Pharmacological meeting

Inilah saatnya…  Aku berangkat dari hotel siang setelah makan siang dan sholat. Aku sengaja berangkat setelah sholat dhuhur karena sudah kebayang pasti nanti akan sulit cari tempat sholat. Mana ada mushola di gedung-gedung pertemuan di Jepang hehe….. Kali ini aku sengaja naik basu (bus), kebetulan 25 meter di dekat hotel ada basu noriba (tempat pemberhentian bus). Naik bus di sini juga nyaman, waktunya hampir selalu tepat. Tidak perlu ada kondektur, semua sudah diset otomatis mengenai harganya, dihitung dari mana naiknya dan di mana turunnya. Jadi ketika kita naik basu, kita akan mengambil kertas yang menunjukkan nomer kita. Di dalam bus di atas sopir, ada papan elektronik yang menunjukkan harga tiket untuk masing-masing nomer. Kita akan membayar sesuai dengan harga yang terpampang di papan.

Sampailah aku di gedung pertemuannya, yang tidak jauh dari stasiun kota Matsuyama-shi eki. Seminar sudah berjalan, dan aku pun bergabung. Wah…. presentasinya keren-keren. Walaupun aku ngga ngerti bahasanya, tapi aku bisa melihat isi presentasi dari gambar-gambar yang terlihat dalam slide. Wow,…. semuanya sudah ke level molekuler semua !!  Jadi agak ciut nih hehe……. Banyak hal baru dan advanced yang ditampilkan, sayangnya aku nggak begitu paham secara detail. Ada satu yang menarik perhatianku yaitu tentang pengaruh konsumsi alkohol terhadap signaling reseptor insulin. Dipaparkan dalam presentasi bahwa sel hepar yang diinkubasi dalam alkohol ternyata mengalami gangguan dalam signaling insulin, sehingga fungsi insulin terganggu. Insulin adalah hormon yang berperan dalam mengatur kadar gula darah. Seseorang yang mengalami kekurangan insulin atau fungsi insulinnya terganggu akan mengalami kenaikan kadar gula darah, menjadi penyakit diabetes. Dan setelah aku pelajari lagi pada beberapa jurnal, memang disebutkan bahwa pemakaian alkohol secara kronis, apalagi dengan dosis besar, akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit diabetes. Ada pula yang mempresentasikan tentang berkurangnya volume otak pada peminum alkohol kronis, dibandingkan yang bukan peminum. Wah, … berarti nggak salah deh aku nulis buku tentang Bahaya Alkohol bersama mbak Hartati hehe…….  Tapi herannya, walaupun mereka meneliti tentang hal itu, orang Jepang tetap saja suka minum alkohol…. terbukti nanti ketika banquet dinner malamnya, minuman yang tersedia dan untuk “kampai” adalah Asahi Beer…. !!

Hm… saat yang menegangkanku tiba, yaitu acara Lecture by 3 new professors.  Aku kebagian giliran paling belakang. Profesor pertama, Prof. Tsutsui Masato dari Univ. Ryuku, Okinawa,  memaparkan tentang penelitiannya yang banyak terkait dengan sistem NOS (nitric oxide synthase). Wah, nggak pati dhong aku…… dan agak keder juga ketika beliau menyampaikan berbagai publikasi internasionalnya ketika menyampaikan presentasinya. Semua yang disampaikan sudah uda publikasinya. Professor kedua, Prof Yamazaki Jyun,  lebih low profile… beliau professor dari Fakultas Kedokteran Gigi Fukuoka University, … memaparkan tentang peranan kanal Chlorida pada kelenjar saliva. Penelitiannya juga advanced banget, cuma ngga terlalu banyak menunjukkan publikasinya… hehe… Jadi aku merasa ada temennya.

Penampilan ala kadarnya..

Yang paling parah adalah profesor ketiga, yaitu aku sendiri. Penelitiannya kuno dan hanya menggunakan metoda-metode farmakologi klasik, seperti analgesik dan anti inflamasi, paling banter ada tambahan pengamatan histologi untuk melihat penipisan kartilage dengan suatu metode staining tertentu, menggunakan kit yang cukup mahal untuk ukuran kantong peneliti Indonesia untuk menentukan rasio penghambatan COX1/COX2 senyawa uji,  dan mengukur kadar cytokine jaringan dengan ELISA. Uwis, pol !!  Aku sampaikan bahwa for future research akan dilakukan penelusuran mekanisme molekuler dari senyawa uji. Apakah dianggap bagus atau tidak, aku tidak tau….. mau gimana lagi. Yah….. apapun itu adalah pencapaian yang bisa kita peroleh dengan keterbatasan dana dan fasilitas yang ada. Aku sendiri tentu ada semangat untuk terus meningkatkan advancement penelitian, dengan terus berupaya apply berbagai proposal  untuk bisa mengumpulkan dana riset. Juga memperluas networking di luar negeri sehingga bisa bekerja sama yang saling menguntungkan. Insya Allah.

Penutup

Acara Pharmacological meeting ditutup dengan banquet dinner. Sayangnya kameraku pas habis batere-nya, sehingga ngga bisa berfoto-foto lagi. Hidangannya Jepang banget, antara lain sashimi, sushi, dan aneka jenis lainnya. Kesempatan deh… menikmati sashimi…. enak juga makan ikan mentah di sini,  hehe…..

Begitulah ceritaku hari ini. Alhamdulillah, tugas utama sudah selesai… sekarang mau santai dulu ah.., menikmati week-end. Besok ada teman Jepang mengajak jalan ke Imabari. Minggu depan siap dengan kegiatan lain yang mudah-mudahan juga bermanfaat.





My note (1): Japan, I’m coming (again)….

22 11 2009

Dear kawan,

Tulisan "Matsuyama" dalam huruf kanji di Stasiun

Jepang bukan negara yang terlalu asing buatku, karena sekitar 10 tahun yang lalu aku sempat tinggal selama 3 tahun (1998-2001) di sini ketika studi S3, di Matsuyama, Ehime Perfecture. Cerita tentang bagaimana aku bisa studi di sini sungguh peristiwa yang penuh keberuntungan bagiku, alhamdulillah…. dan pernah aku tulis di posting lawasku yang berjudul ‘”Belajar di negeri Hirohito dengan modal bejo” (klik di sini). Dan alhamdulillah… kali ini aku bisa menengok lagi tempat ini dalam suasana dan dengan posisi yang berbeda.

Cuaca dingin dengan suhu 10-11 derajat Celcius, gerimis, dan daun-daun yang memerah pada peralihan musim gugur ke musim dingin menyambut kedatanganku di Matsuyama hari ini. Maeyama Sensei dan istri telah menantiku di Matsuyama Airport  ketika aku tiba, lalu mengajak lunch bersama. Hm…. arigatou, Sensei……. perutku memang udah keroncongan dari tadi hehe…… Yaa,….kali ini aku akan stay selama 2 minggu memenuhi undangan Profesor Maeyama, mantan supervisorku dulu, untuk menjadi salah satu pembicara dalam Pharmacological Meeting wilayah Jepang barat-selatan. Jangan membayangkan yang keren-keren dulu deh…  Ini semacam undangan balasan kali, hehe…… karena sewaktu kami mengadakan International Conference bulan Oktober lalu (ceritanya bisa diklik di sini), aku juga mengundang beliau sebagai salah satu pembicara. Nah, kebetulan kali ini beliau kebagian jadi tuan rumah untuk menyelenggarakan semacam kegiatan tahunan pertemuan para ahli (researchers, students, professors) di bidang farmakologi. Jadilah beliau berinisiatif untuk membuat space untuk “new professor”  untuk jadi pembicara….. dan aku menjadi salah satunya. Jadi begitu aja sih ceritanya….   Kok lama amat 2 minggu ? Hm… itu pun aku sudah nawar sama sensei, sebelumnya sensei mengundang untuk selama 3 minggu. Wah, tapi kayanya agak berat ninggalin keluarga dan pekerjaan terlalu lama. Acaranya sebenernya juga cuma dua hari sih, tanggal 26-27 November.  Selebihnya aku gunakan kedatanganku kesini untuk memperluas networking, studi banding tentang pelaksanaan farmasi klinik di Ehime University Hospital, dan juga untuk menulis.

Alone, but not lonely

Perjalanan Jogja-Matsuyama kalau dihitung sejak aku keluar rumah bisa dikatakan 13 jam…. hmm, sehari penuh. Lumayan capek. Sendirian lagi….!. Ini adalah kali kedua aku pergi ke Jepang sendiri sejak selesai studi.  Kali ini aku berangkat dengan route Jogja-Denpasar-Kansai- Itami-Matsuyama. Tahun 2005 yang lalu, aku berangkat ke sini juga sendirian selama sebulan, dan sempat nangis bombay saat di pesawat saking “semedot rasaning ati” hehe…. Maklum, anakku terkecil saat itu masih 2,5 tahun. Habis ditinggal 40 hari untuk ibadah haji pada bulan Desember-Januari 2005, bulan Maret sudah harus ditinggal pergi lagi 30 hari ke Jepang. Tapi kali ini sih suasananya udah lain….. Seperti biasa, aku “mengimpor” ibuku untuk turut njagain anak-anak di rumah. Selain itu, dengan era tekonologi informasi sekarang ini, komunikasi bukan hambatan lagi.  Thanks for Face Book dan teman-teman FB yang terasa menemani walau hanya dari jauh….!! I am alone, but not feel lonely….. as I know, you’re always be with me…. eventhough from far away! Ceilee…..

Pokoknya gak boleh lepas internet deh hehe….. sewaktu transit di Denpasar selama 2 jam, masih bisa chatting juga, jadi tidak merasa sendiri. Dan sewaktu tiba di Kansai Airport, ternyata HP-ku bisa menangkap signal NTT Docomo sehingga bisa keep online. Semula aku pikir itu wifi di Airport, tapi ternyata dalam perjalanan ke Itami  naik bus limousine airport, aku tetap bisa keep online. Semula aku pikir gak bisa kirim SMS karena setahuku sistem telekomunikasinya lain, di sini pakai CDMA dan HPku pakai GSM, tapi kok ternyata bisa juga tuh…..  Hmm..aku ngga begitu mudeng tentang hal ini. Aku menggunakan salah satu provider telekomunikasi yang memang pernah aku minta untuk membuka utk penggunaan internasional.. And it works !

Cuma, nggak enaknya kalau pergi sendiri adalah ngga ada yang jadi fotografer hehe….. gak ada yang motret-motretin kita… Jadi nggak yakin nih banyak foto-foto bagus yang bisa cerita…..

Bandara Kansai

Kansai International Airport, megah dan kokoh

Burung Garuda besi yang membawaku terbang mendarat dengan mulus di Bandara International Kansai Osaka pada pukul 08.15 waktu Jepang (2 jam lebih cepat dari WIB). Bandara Internasional Kansai Osaka termasuk Bandara yang besar dan megah di Jepang. Ia berlokasi di sebuah pulau buatan yang sengaja dibuat untuk membangun bandara ini. Konstruksinya terkesan kokoh dan kuat dengan baja di mana-mana. Yang paling convenient adalah bahwa Bandara ini terhubung dengan aneka transportasi lainnya, seperti kereta, bus, kapal, dll. Seperti hari ini, aku juga harus menggunakan bus limousine menuju Itami Airport untuk penerbangan domestik ke Matsuyama. Dan sangat mudah mendapatkan kendaraan ini di sana. Berdasarkan peraturan baru Pemerintah Jepang, Bandara Internasional tidak lagi melayani penerbangan domestik, jadi aku mesti pindah bandara Itami untuk menuju Matsuyama. Perjalanan dari Kansai ke Itami memakan waktu kurang lebih 70 menit menggunakan bus. Tetapi ngomongin tentang Bandara, aku masih lebih terkesan dengan Bandara Changi di Singapore…. bener-bener hommy…. Indah dan hangat!

Pemeriksaan imigrasi lumayan lama dan antri cukup panjang. Dan ndilalah…. aku gak tau kenapa, aku termasuk yang diperiksa agak ketat, sampai tasku dibuka dan dilihat isinya. Bahkan souvenir yang aku bawa saja dibuka dan dilihatnya. Yah, ..dont worry, Saudara Tua…. aku gak bawa bom kok hehe…. Tapi ada bagusnya sih, karena tas koperku aku wrap plastik sejak di Yogya dan sekarang wrappingnya di buka oleh petugas imigrasi Bandara, aku jadi nggak perlu repot-repot buka wrappernya nanti ketika sampai Matsuyama…. hehe. Berpikir positif aja, selalu ada hikmah di balik suatu “bencana”…..

Pesawat commuter

Alhamdulillah, .. aku termasuk yang gampang tidur di mana saja hehe….. jadi aku fine-fine saja bisa tidur lumayan nyenyak di pesawat, bahkan di penerbangan Jogja-Denpasar, dan Osaka-Matsuyama yang pendek pun aku sempat terlelap. Ngomong-omong tentang pesawat,.. aku menikmati 3 jenis pesawat yang berbeda dalam perjalanan kali ini. Untuk route Jogja-Denpasar, pesawatnya ukuran sedang yang biasanya kita naiki untuk penerbangan domestik, dengan lay out 3 kursi masing-masing di bagian kiri dan kanan. Pesawat untuk route Denpasar-Osaka lebih besar lagi, dengan lay out kursi 2-4-2 untuk di kelas ekonomi. Naik pesawat ini rasanya lebih mantap aja, tidak terasa ada goncangan atau apa. Nah, yang ketiga ini yang agak mendebarkan…. dari Osaka – Matsuyama, aku naik pesawat kecil berbaling-baling dengan kapasitas 30-an penumpang, Japan Air Commuter, dengan lay out kursi 1-2, kiri dan kanan. Waduuh,… kalau yang ini aku tadi sempat agak miris juga. Apalagi cuaca tidak begitu bagus.  Pesawat lebih banyak terbang di dalam awan, jadi agak deg-degan juga karena beberapa kali seperti tergoncang. Sebelumnya aku berpikir untuk mengambil gambar dari atas pesawat. Dulu aku pernah menjalani route yang sama dengan pesawat sejenis, dan pemandangannya indah sekali dari atas. Terlihat ada jembatan panjang Shimanami Kaido yang menghubungkan pulau Honshu dan Shikoku. Tapi sayangnya saat ini cuaca tidak begitu bersahabat, sehingga pemandangan ke luar jendela berisi awan melulu… Jadi yah… gak jadi ambil gambar deh..!

 Sampai Matsuyama

Alhamdulillah, seperti ditulis di bagian atas posting ini, sampailah aku di Matsuyama dengan selamat dan disambut cuaca dingin dan gerimis. Sehabis lunch, Maeyama Sensei mengantarku ke hotel Shigenobu, yang berlokasi di dekat Ehime University School of Medicine, tempat studiku dulu. Sensei sempat mengajakku ke lab sambil menunggu waktu check in ke hotel. Hm… lab tidak banyak berubah. Sensei memberiku satu meja untuk aku nanti bisa bekerja selama di sini, plus koneksi internetnya. Semua masih terlihat sama, hanya ada sedikit perubahan pada lay out. Terbayang deh selama tiga tahun dulu berada di sini dengan berbagai suka dan dukanya… Berangkat jam 8 pagi pulang jam 8-9 malam setiap hari…  Orang Jepang memang workholic !!  Jadi ketika sampai di Indonesia lagi dan melihat jam 4 sore sudah lengang tanpa aktivitas di kampus, rasanya agak aneh….. karena di sini sampai jam 6-7 malam masih hiruk pikuk aktivitas lab hehe ……… tapi ya lama-lama biasa juga…

Matsuyama sendiri adalah ibukota Ehime Perfecture (semacam provinsi) yang berlokasi di Pulau Shikoku. Karena lokasinya yang agak selatan, iklimnya termasuk mild, tidak terlalu seekstrim seperti di Hokkaido misalnya, yang ada di Jepang utara yang selalu bersalju tebal saat winter. Seingatku dulu, di sini saat winter paling dingin ya “cuma”  sekitar minus 1 sampai minus 5 derajat Celcius. Mudah-mudahan aku gak perlu mengalami sampai sedingin itu deh…

Aku belum sempat mengeksplorasi lagi Matsuyama….. tentu sudah banyak perubahan sejak 4 tahun yang lalu aku terakhir datang kesini. Aku sudah bercita-cita mau mampir ke Kume Eki (Eki = stasiun), stasiun langgananku dulu jika berangkat ke kampus. Bapak penjaga stasiunnya masih yang dulu nggak ya? Aku juga mau cari takoyaki kesukaanku dulu yang dijual di dekat stasiun Kume hehe…… Di Jogja sekarang ada sih yang jual takoyaki, tapi itu takoyaki bo’ongan karena tidak pakai gurita di dalamnya(tako=gurita).  Aku mau jalan-jalan lagi ke Gintengai dan Okkaidoshopping arcade yang dulu sering kami kunjungi dengan bersepeda kalau hari minggu atau libur… Juga ke beberapa tempat lain yang dulu sering kami kunjungi, termasuk 100-en (hyaku-en) shop hehe… toko semua serba 100 yen..!

Well, tetapi sebelum itu semua, tentu aku harus menyelesaikan dulu bahan presentasiku untuk Pharmacological Meeting besok jumat…… Biasa deh, selalu bikinnya in the last minute hehe…… Lha kemaren belum sempat bikin selama di Indonesia.  Okey, kayaknya ceritaku hari ini cukup dulu…. aku mau istirahat dulu ah…. jaga stamina buat esok  hari.`





Mozaik hidup di Jepang (5): Ramalan cuaca…..

12 12 2008

Sudah masuk musim hujan, namun cuaca tidak menentu. Kadang hujan seharian, kadang cerah. Kalau lagi seperti ini, kayaknya kita butuh ramalan cuaca. Acara yang nampaknya sudah jarang dijumpai di TV kita. Jadi ingat waktu di Jepang….

Satu mata acara di TV Jepang yang aku berusaha tidak melewatkannya setiap hari adalah ramalan cuaca. Lho kok? .. Iya, suka aja. Ramalan cuaca biasanya disampaikan di akhir acara berita, baik dari NHK (TV nasional Jepang) atau berita daerah. Dan tentunya ramalan cuaca yang aku tunggu adalah ramalan cuaca khusus di daerah Ehime, tempat aku tinggal waktu itu. Mengapa?

Ramalan cuaca di Jepang boleh dibilang nyaris selalu tepat, walaupun pernah juga sedikit meleset. Aku suka memperhatikan ramalan cuaca terutama jika mulai akan pergantian musim. Biasanya yang paling kuperhatikan adalah ramalan tentang kemungkinan hujan dan suhu udara. Dengan mengetahui berapa derajat perkiraan suhu besok, aku bisa merencanakan lebih tepat baju apa yang akan kukenakan hehe…. maksudnya apakah sudah bisa pakai baju satu lapis, atau mungkin masih perlu berlapis-lapis seperti jika musim dingin. Dan apakah perlu bawa payung apa tidak.

Ehime berlokasi di pulau Shikoku yang ada di bagian selatan Jepang (di selatan pulau Honshu). Jadi iklimnya termasuk mild, tidak sedingin di Hokkaido kalau musim dingin. Suhu terendah yang pernah ku alami di Ehime “hanya” berkisar – (minus) 10 derajat. Salju sangat tipis, dan itupun tak terlalu sering. Suhu musim panas mencapai 32-34 derajat. Suhu paling nyaman adalah pada musim semi menjelang panas pada bulan April-Mei, atau pada musim gugur setelah musim panas sekitar bulan Oktober-November.

 

Satu yang menarik dari ramalan cuaca adalah ramalan cuaca pada musim panas, utamanya bulan Juli-September. Pada musim panas biasanya mulai terjadi hujan dan…. taifun atau typhoon alias angin puting beliung. Taifun di Jepang umumnya lumayan besar, jauh lebih besar dari angin puting beliung di UGM kemarin, dan diberi nomor. Ia berasal dari suatu tempat dan berjalan ke tempat lain dalam jangkauan jarak yang panjang. Ramalan cuaca akan melaporkan setiap waktu di mana taifun berada, sehingga kita bisa siap-siap apakah taifun akan melewati kota kita atau tidak. Setiap saat taifun sudah mencapai kota tertentu, pasti segera ada beritanya di dalam siaran berita. Kotaku Matsuyama pernah diramalkan akan dilewati suatu taifun, tapi alhamdulillah, taifunnya bergeser sehingga tidak sempat dilewati. Cuma dapat ekornya saja hehe….. itupun sudah sempat menghentikan jalur kereta untuk beberapa saat dan angin bertiup lumayan kencang.

 

Begitulah, sedikit kepingan hidupku di Jepang ……





Mozaik hidup di Jepang (2): Berburu “gomi”…

17 11 2008

sampah31Sistem pengelolaan sampah (bhs Jepang: gomi) di Jepang sudah sangat teratur. Di setiap kota atau daerah sudah ada jadwal pembuangan sampah. Ketika pertama kali kami masuk apartemen di Matsuyama, kami mendapat jadwal pembuangan sampah untuk setahun dalam bentuk seperti kalender. Dalam kalender itu digambarkan sampah jenis apa saja yang masuk dalam kategori sampah tertentu. Seingatku, hari Selasa dan Jumat setiap minggunya adalah jadwal membuang sampah dapur. Hari Rabu sampah plastik. Hari Kamis sampah gelas/kaca dan kaleng. Dan seterusnya, persisnya aku agak lupa. Sampah-sampah itu kami kumpulkan dalam plastik terpisah utk setiap jenisnya, dan dibuang pada jadwal yang ditentukan, yang kami letakkan di depan apartemen di tempat yang telah disediakan. Setiap hari akan ada petugas yang mengambil sampah-sampah tersebut. Rasanya nyaman bisa teratur seperti itu. Tak pernah kami lihat ada tempat pembuangan sampah yang penuh dengan aneka sampah seperti di negara kita.

Nah, yang menarik adalah… dalam setahun ada 4 kali jadwal pembuangan sampah besar. Maksudnya barang-barang besar yang dirasa tidak ingin dipakai lagi bisa dibuang pada hari itu, seperti kulkas, rice cooker, microwave, TV, sampai karpet, coverbed, dan alat-alat rumah tangga lainnya, termasuk baju, sepatu, seprei, tas, dll. Wah, buat perantau miskin dari Indonesia seperti kami, jiwa pemulung kami mulai terpanggil hehe…… Barang-barang buangan itu kebanyakan masih bagus, hanya mungkin mereka ingin memperbaharui miliknya dan me-recycle yang lama. Biasanya orang Jepang akan meletakkan barang-barang buangannya di tempat yang telah disediakan (untuk satu luasan areal tertentu ada tempat yang telah disediakan untuk membuang barangnya ) pada siang sampai sore hari. Pagi-pagi sekali nanti akan diangkut oleh petugas. Jadilah kami selalu siap berjaga-jaga jika hari memulung tiba… hehe… Malam-malam, ketika sudah tidak terlalu banyak orang, kami (saya dan suami) bersepeda menuju tempat pembuangan barang, dan memulung barang-barang yang masih bagus dan bisa dipake. Tapi jangan dikira cuma kami pemulung miskinnya lho, hehe….. ternyata orang Jepangpun ada yang suka ikut mencari barang bekas yang masih bisa dipakai. Benar-benar penghematan !! Kami pernah mendapatkan karpet yang masih bagus, microwave, vacuum cleaner, dll. Yah, lumayanlah……. bisa mengurangi pengeluaran. Sebenernya pengen juga sih memulung barang-barang dari lab, tapi kok malu… mempertaruhkan nama bangsa Indonesia je….

Tapi ketika kami kembali ke tanah air, jiwa pemulungku terpaksa harus kupendam dalam-dalam …. Kasihan nanti pemulung yang asli harus bersaing dengan kami hehe….