My note(5): a little bit about Pharmacy in Japan

5 12 2009

Dear kawan,

Tulisan ini sebenarnya sudah aku siapkan sejak malam terakhirku di negeri sakura. Waktu itu aku menghabiskan such a lonely night di Nikko Hotel di Kansai International Airport Osaka. Yah, …. siangnya aku baru terbang dari Matsuyama ke Osaka (Itami Airport), dan menempuh lagi 70 menit perjalanan menggunakan bus limousine ke Kansai Airport untuk terbang esoknya ke Indonesia. Tapi di sana aku belum sempat upload tulisan ini di blog, karena tidak ada fasilitas internet di dalam kamar. Ada sih, tapi di lobby…. masa harus stay sampai larut malam di lobby hotel… jadi baru sempat aku upload sekarang.

Well, ini adalah catatan perjalananku yang terakhir sebelum pulang. Berakhirlah sudah kunjunganku selama 11 hari di Matsuyama memenuhi undangan Profesor Maeyama. It was wonderful journey for me…. alhamdulillah. It’s very honoured to stand and giving “lecture” in front of Japanese Pharmacological Society members…. Ngga kebayang sebelumnya, walaupun itu juga ngga hebat-hebat amat, lebih karena kebaikan hati sensei mengundangku….

Ada beberapa kegiatan yang kulakukan dalam tiga hari terakhir di sini yang kucoba dokumentasikan. Ada teman yang meminta aku menulis tentang bagaimana pelayanan farmasi di Jepang. Hm… mohon maaf, aku tidak punya banyak data tentang itu. Informasi yang kuperoleh hanya berasal dari Ehime Univ Hospital yang mungkin tidak selalu berlaku sama di seluruh Jepang. Tapi akan aku coba setahuku saja. Maklumlah, Nihon-go (bahasa Jepangku) terbatas banget, padahal banyak informasi tertulis dalam bahasa Jepang, pakai huruf kanji lagi. Jadi tidak bisa utuh menangkap informasi.

Farmasi di Ehime University Hospital

Hari Senin dan Selasa lalu, aku coba memanfaatkan waktu untuk mengunjungi Hospital Pharmacy di Ehime University Hospital. Maeyama Sensei memperkenalkan aku kepada Prof. Hiroaki Araki, Director of Hospital Pharmacy, Ehime University Hospital, pada saat acara dinner banquet Pharmacological Meeting hari Jumat yang lalu, dan kami janjian untuk bertemu. Jadilah, Senin siang kami mengunjungi ruang kerja Prof. Araki. Oya, sebelumnya aku pernah melihat bahan presentasi Prof Araki pada Asian Conference in Clinical Pharmacy di Seoul, jadi aku sudah punya gambaran tentang beliau, cuma baru kali ini bertemu. Prof Araki mengajakku menuju ke ruang-ruang pekerjaan kefarmasian.

Pekerjaan kefarmasian di RS di Jepang pada umumnya sama dengan di Indonesia. Mulai dari pengelolaan perbekalan farmasi, penyiapan obat dan distribusinya, pelayanan informasi obat dan konseling pada pasien. Hanya saja, Hospital Pharmacy pada Ehime Univ Hospital hanya melayani obat untuk pasien rawat inap saja, sedangkan pasien rawat jalan tetap mendapat pemeriksaan di RS, tetapi obatnya harus mereka peroleh di Apotek (community pharmacy). Terus terang aku masih belum begitu jelas alasan tentang hal ini, kata Prof Araki ini adalah keputusan Pemerintah dan lebih bersifat politis. Ada 2 RS pemerintah di Matsuyama yang menerapkan hal ini, dan 2 lagi RS swasta tetap melayani obat untuk in-patient maupun out-patient.

Pengelolaan perbekalan farmasi

Mesin "auto ampoule dispenser"...

Di Ehime Univ Hospital, pengelolaan perbekalan farmasi sangat dibantu oleh adanya sistem teknologi informasi yang canggih. Semua bagian di RS terhubung dengan jaringan intranet, sehingga sangat memudahkan komunikasi. Salah satunya adalah mesin penyiapan sediaan injeksi secara otomatis (automatic ampule dispenser).  Jadi, jika dokter meresepkan satu bentuk injeksi tertentu, ia akan menuliskan di komputer, dan informasi itu segera sampai di mesin automatis tadi dan menyiapkan obat yang diminta, dalam bentuk satu unit dosis. Farmasis tinggal mengecek kebenarannya sesuai dengan resep. Menurut Prof Araki, tidak semua RS memiliki mesin semacam itu, karena beliau mengembangkan sendiri mesin tersebut. Lalu setelah semua sediaan injeksi siap, mereka akan mengirimkannya ke bangsal (ward) di mana pasien berada.

Keranjang yg akan mendistribusikan obat ke ward secara computerized

Jangan dibayangkan ada nurse yang mengambil atau ada AA yang mengantar ke bangsal, obat-obat tadi diantar dengan semacam keranjang yang dijalankan dengan semacam ban berjalan. Lalu secara computerized akan diset kemana keranjang tadi harus diantarkan, baru di sana nurse akan menerima dan membagikannya sesuai dengan nama pasien. Keranjang yang sudah kosong akan dikembalikan lagi ke Farmasi menggunakan ban berjalan yang sama. Dan katanya sistem ini pun tidak semua RS memilikinya. Sebagian masih dilakukan secara manual. Wah…. apotekernya santai dong hehe…..!!

Dispensing di farmasi RS

Untuk dispensing sediaan per-oral masih sama saja dengan di Indonesia, yaitu secara manual oleh farmasis. Oya, just for your info…. di Jepang tidak mengenal adanya asisten apoteker. Jadi semua yang mengerjakan dispensing adalah apoteker. Di Ehime Univ Hospital, dengan jumlah bed sekitar 600 bed, jumlah farmasisnya adalah 27 orang plus 2 orang Director and Vice Director of Hospital Pharmacy.

Therapeutic Drug Monitoring

Seorang pharmacist sdg menejlaskan ttg mesin TDM dg metode chemiluminscent

Salah satu pelayanan farmasi yang masih sulit dilakukan di Indonesia karena keterbatasan biaya dan alatnya adalah Therapeutic Drug Monitoring (TDM). TDM di hospital ini dilakukan atas dasar permintaan dokter. Selain itu, farmasis juga dapat mengusulkan dilakukannya TDM jika mereka memandang perlu adanya pemantauan kadar obat dalam darah untuk pasien tertentu. Tentu tidak semua obat di-TDMkan. Di hospital ini beberapa obat yang hampir selalu mendapatkan pemantauan melalui TDM adalah tacrolimus, siklosporin, anti epileptic drug dan anti MRSA drug. Dari sini hasilnya akan dilaporkan kepada dokter dan digunakan menjadi dasar adjusment dosis pada terapi. O,ya…. alat untuk TDM disini udah canggih banget, boo…. alat TDX yang lama sudah nggak digunakan lagi. Sekarang mereka menggunakan mesin khusus dengan metode chemiluminescence assay, di mana pemeriksaan jadi lebih sensitif dan cepat. Dan pemeriksaannya cepet lho….. katanya dokter juga umumnya meminta hasil yang cepat, jadi mereka bisa memberikan hasil TDM pasien dalam waktu 30 menit – 1 jam setelah sampel dikirim ke farmasi !!

Konseling dan informasi obat

Pharmacist sedang memberikan konseling pada pasien di bedside

Pelayanan kefarmasian di Jepang juga sudah mulai beranjak menuju patien-oriented. Mulai sejak 3-4 tahun yang lalu, pasien diberi konseling pada saat masuk dan pada saat di rumah sakit. Aku diajak oleh salah seorang farmasis di sana untuk melihat bagaimana konseling dilakukan kepada pasien. Oya, karena keterbatasan jumlah apoteker dan juga pertimbangan uang jasa pelayanan kefarmasian, di hospital ini konseling dan sekaligus pemantauan terapi pasien dilakukan sekali seminggu untuk tiap pasien. Jadi jika dia dirawat selama 3 minggu, dia akan mendapat 3 kali konseling. Namun ada juga yang mendapat pemantauan setiap hari, terutama pada pasien-pasien yang mendapatkan antibiotik khusus seperti anti MRSA (Methicillin resistant Staphylococcus aureus), quinolon yang baru, golongan penem, dan anti fungi. Mereka akan memantau dari hasil pemeriksaan lab pasien, dan jika diperlukan mendatangi pasien untuk menanyakan efek-efek samping yang mungkin dialami pasien. Dalam hal pelayanan informasi obat, farmasis menyiapkan data base lengkap mengenai obat-obat yang dipakai di RS (sekitar 2000 item yang dipilih), sehingga dokter dengan mudah dapat memperoleh informasi yang diperlukan dengan mengklik di komputernya masing-masing jika misalnya akan menulis resep. Jika diperlukan, mereka akan menanyakan pada apoteker.

Pendidikan farmasi di Matsuyama University

Mahasiswa tingkat 4 sedang praktikum dispensing

Aku tidak bisa mengatakan secara umum tentang pendidikan farmasi di Jepang,karena aku hanya mengunjungi satu institusi saja, yaitu Matsuyama University. Matsuyama University adalah satu-satunya universitas swasta di Ehime yang memiliki pendidikan farmasi, itupun masih baru, baru sampai tahun ke empat. Secara umum terdapat perubahan sistem pendidikan di Jepang, dari yang semula hanya 4 tahun, menjadi 6 tahun, dengan penambahan muatan pada farmasi klinik. Pendidikan farmasi di Jepang juga lebih mengarah pada farmasi pelayanan. Mereka harus menjalankan PKL selama 2,5 bulan di rumah sakit dan 2,5 bulan di apotek. Isi kuliahnya sih aku kira sama saja dengan pendidikan farmasi di Indonesia. Mereka juga berlatih mereview resep, melakukan dispensing, memberikan konseling, dll.

Farewell Lunch

Menikmati sushi dan sashimi bersama Sensei dan istri di farewell lunch

Begitulah kawan, sekilas yang dapat kubagikan mengenai farmasi di Jepang. Tidak banyak, selintas saja. Bagaimanapun aku harus berterimakasih pada Maeyama Sensei yang telah mengantarku dan memperkenalkanku pada farmasis di sana, padahal beliau sendiri juga baru kenal (Prof Maeyama adalah seorang dokter).  Dan di akhir kunjunganku di Matsuyama, Maeyama Sensei dan istri sengaja menundangku untuk sekadar lunch perpisahan di sebuah restoran khusus sushi dan sashimi…..  Sebuah kunjungan yang mengesankan. Katanya sih Sensei akan mengundangku lagi tahun depan. Aku bilang, waktu yang paling asyik berkunjung ke Jepang adalah musim semi atau musim sakura, dan musim gugur seperti sekarang ini hehe…..  Mudah-mudahan masih ada kesempatan. Hontoni, iro-iro arigatou ghozaimashita….!!





Mozaik hidup di Jepang (6): Mabuk yang “berkelas”….

27 12 2008

 

minuman di Jepang

Tahun baru identik dengan pesta-pesta. Aku jadi teringat dengan pesta-pesta di Jepang dulu. Orang Jepang termasuk suka pesta juga, setidaknya orang-orang yang ada di lab-ku waktu itu. Beberapa kali aku ikut acara party di sana. Dan party buat orang Jepang tentu tidak lepas dari acara minum-minum, karena mereka memang bangsa peminum. Selain o-sake, tentu juga aneka alcoholic drink lainnya, beer, wine, etc.

 

Uniknya, pestanya orang Jepang itu seringkali harus BDD, alias bayar dewe-dewe. Tapi untungnya sih beberapa kali ikut party di sana, aku gak pernah bayar sendiri hehe……. Biasanya dibayarin lab, atau ada teman yang traktir (mungkin mereka tau keadaan keuangan perantau miskin seperti aku).

Sebagai seorang muslim, aku kadang agak repot dengan party-party demikian. Tau sendirilah…. di samping aneka minuman beralkohol tadi, kadang juga ada babi. Kalaupun ada hidangan ayam, atau daging sapi, atau kambing, kita tak tau bagaimana cara disembelihnya, sehingga tak berani jamin kehalalannya. Untungnya di sana banyak sea food. Jadi biasanya kami pilih makan sea food saja, seperti sashimi, sushi, dan aneka makanan yang berasal dari mahluk penghuni laut lainnya.

Aku pelajari bahwa kalau kita konsisten dalam bersikap, sebenarnya teman-teman Jepang sangat menghargai prinsip kita. Kalau lagi party, aku sampaikan bahwa kami tidak minum alkohol, juga tidak makan hidangan berasal dari sapi, atau ayam, atau daging lainnya. Memang kadang-kadang mereka heran, mengapa aku tidak mau minum alkohol. Sampai-sampai pada suatu party, senseiku pernah tanya, “Ikawati-san,… are you sure your husband doesnt like drinking alcohol? “ …. Apa di Indonesia tidak ada alcoholic drink? “ hehe……  Mungkin dia pikir pria Jepang itu kan suka sekali minum, masak orang Indonesia tidak. “Banyak sih, Sensei…. tapi kami Moslem people memang tidak boleh minum alkohol dan sejenisnya,” begitulah secara singkat aku jelaskan. Aku nggak bilang sih kalau di Indonesia itu banyak orang minum-minum, dan mabuk, dan mabuknya sereemm…… bisa sampe nusuk orang.

 

Aku ingat, ada satu temanku si Hayashi-kun, dia paling perhatian mencarikanku makanan-makanan yang bisa kumakan. “Ikawati-san, ini terbuat dari ikan, cobalah….! ” atau “Aku cek dulu ya, oh… bukan, itu bukan ayam! Kamu boleh makan”… begitulah perhatian dari teman-teman. Mereka bahkan ikut menjaga.

 

Nah, yang menarik terkait dengan judul tulisan ini adalah kebiasaan mabuk ketika party. Dengan berjalannya waktu pesta, tentu deh para teman-teman Jepangku (termasuk Profesorku) mulai pada jadi “drunken masterhehe….  Mukanya memerah, omongannya makin rame (yang seringnya aku gak paham, karena Nihon-go-ku terbatas)……. Tapi anehnya, mereka tetap terjaga….. apa karena sudah biasa ya?

 Yah, aku kan nggak pernah mabuk hehe…. jadi ngga tau persis sebenernya orang mabuk itu kaya gimana kejadiannya. Yang sering aku lihat di TV, atau dengar beritanya, biasanya orang mabuk disini sering bikin onar, keributan, sampai bisa bunuh orang. Tapi kalau di Jepang, yang aku lihat tuh mereka mabuk, tapi kok beda ya…… Lebih bertanggung-jawab gitu. Karena mereka sadar bahwa mereka bakal mabuk setelah party, maka biasanya mereka berangkat party dengan kendaraan umum (densha atau takushi). Tidak ada yang mau bawa kendaraan sendiri. Atau sebaliknya, jika mereka memang bawa kendaraan sendiri, maka dalam party mereka membatasi diri untuk tidak minum minuman beralkohol.

Di Indonesia, profesor mabuk minuman beralkohol kayaknya aneh, tak bermoral…. di Jepang, profesor mabuk itu biasa….  Tapi gimana ya, mabuknya tuh kelihatan lebih “berkelas” gitu lho….. hehe…..   Biasanya kalau malamnya habis mabuk, esok paginya di lab Sensei datang agak siang, “Sory, masih agak drunken nih…”. Tapi yah, siangnya sudah kerja keras lagi sampai malam, menghasilkan penelitian-penelitian berkelas juga…..

 

Tapi jangan coba-cobalah…. aku sama sekali tidak menganjurkan untuk minum-minum  loh….!!

Ini sekedar cuplikan pengamatanku di negeri Sakura dulu.





Mozaik hidup di Jepang (5): Ramalan cuaca…..

12 12 2008

Sudah masuk musim hujan, namun cuaca tidak menentu. Kadang hujan seharian, kadang cerah. Kalau lagi seperti ini, kayaknya kita butuh ramalan cuaca. Acara yang nampaknya sudah jarang dijumpai di TV kita. Jadi ingat waktu di Jepang….

Satu mata acara di TV Jepang yang aku berusaha tidak melewatkannya setiap hari adalah ramalan cuaca. Lho kok? .. Iya, suka aja. Ramalan cuaca biasanya disampaikan di akhir acara berita, baik dari NHK (TV nasional Jepang) atau berita daerah. Dan tentunya ramalan cuaca yang aku tunggu adalah ramalan cuaca khusus di daerah Ehime, tempat aku tinggal waktu itu. Mengapa?

Ramalan cuaca di Jepang boleh dibilang nyaris selalu tepat, walaupun pernah juga sedikit meleset. Aku suka memperhatikan ramalan cuaca terutama jika mulai akan pergantian musim. Biasanya yang paling kuperhatikan adalah ramalan tentang kemungkinan hujan dan suhu udara. Dengan mengetahui berapa derajat perkiraan suhu besok, aku bisa merencanakan lebih tepat baju apa yang akan kukenakan hehe…. maksudnya apakah sudah bisa pakai baju satu lapis, atau mungkin masih perlu berlapis-lapis seperti jika musim dingin. Dan apakah perlu bawa payung apa tidak.

Ehime berlokasi di pulau Shikoku yang ada di bagian selatan Jepang (di selatan pulau Honshu). Jadi iklimnya termasuk mild, tidak sedingin di Hokkaido kalau musim dingin. Suhu terendah yang pernah ku alami di Ehime “hanya” berkisar – (minus) 10 derajat. Salju sangat tipis, dan itupun tak terlalu sering. Suhu musim panas mencapai 32-34 derajat. Suhu paling nyaman adalah pada musim semi menjelang panas pada bulan April-Mei, atau pada musim gugur setelah musim panas sekitar bulan Oktober-November.

 

Satu yang menarik dari ramalan cuaca adalah ramalan cuaca pada musim panas, utamanya bulan Juli-September. Pada musim panas biasanya mulai terjadi hujan dan…. taifun atau typhoon alias angin puting beliung. Taifun di Jepang umumnya lumayan besar, jauh lebih besar dari angin puting beliung di UGM kemarin, dan diberi nomor. Ia berasal dari suatu tempat dan berjalan ke tempat lain dalam jangkauan jarak yang panjang. Ramalan cuaca akan melaporkan setiap waktu di mana taifun berada, sehingga kita bisa siap-siap apakah taifun akan melewati kota kita atau tidak. Setiap saat taifun sudah mencapai kota tertentu, pasti segera ada beritanya di dalam siaran berita. Kotaku Matsuyama pernah diramalkan akan dilewati suatu taifun, tapi alhamdulillah, taifunnya bergeser sehingga tidak sempat dilewati. Cuma dapat ekornya saja hehe….. itupun sudah sempat menghentikan jalur kereta untuk beberapa saat dan angin bertiup lumayan kencang.

 

Begitulah, sedikit kepingan hidupku di Jepang ……





Mozaik hidup di Jepang (3): Harakiri…

20 11 2008

samurai seppukuSuatu hari ketika masih tinggal di Jepang, kami dikejutkan dengan sebuah berita bahwa ada teman Indonesia yang belajar di Hiroshima meninggal karena bunuh diri. Konon kabarnya itu merupakan usaha bunuh dirinya yang ketiga dan sukses, setelah sebelumnya mencoba menggunakan cara lain dan gagal. Caranya yang berhasil itu (katanya) adalah dengan menutup semua pintu dan jendela di labnya dan membuka saluran-saluran gas, dan ia meninggal karena menghirup gas-gas tersebut. Tapi persisnya sih kami tidak tahu.

Bunuh diri? Hm… apa dia ketularan orang Jepang? Orang Jepang terkenal punya kebudayaan bunuh diri. Konon dulu para pendekar samurai melakukan harakiri (bunuh diri) untuk mempertahankan kehormatannya. Harakiri berasal dari kata hara = perut, dan kiri = memotong. Para pendekar samurai dulu melakukan bunuh diri dengan menusuk perutnya dengan samurainya. Dari pada mati terbunuh oleh musuh, lebih terhormat mati dengan tangan sendiri, begitu barangkali. Istilah harakiri sendiri tidak lagi banyak dipakai di Jepang utk menyebut bunuh diri, mereka lebih banyak menggunakan kata “seppuku”.  Bahasa Jepang yang lebih populer untuk bunuh diri secara umum adalah jisatsu.

Hal ini merupakan fenomena menarik mengingat bahwa Jepang termasuk salah satu negara maju di dunia yang menghasilkan banyak pemenang Nobel. Pada tahun 2000, angka kematian akibat bunuh diri di Jepang mencapai 25 orang per 100.000 penduduk, jauh melebihi Inggris (7,4 per 100.000) dan Amerika (12 per 100.000). Pada tahun 2007, terdapat sebanyak 30.093 kasus bunuh diri yang dilaporkan, meningkat 2,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Para “pebunuh-diri” di Jepang umumnya orang dewasa muda, dengan usia berkisar 25-39 tahun. Dan pada kisaran usia 40-54 tahun pebunuh diri didominasi oleh pria, yang diduga terkait dengan masalah kehilangan pekerjaan atau resesi ekonomi. Sedangkan pada usia remaja (15-24 th), alasan bunuh diri kadang bisa sangat sepele dan naif…. artis idolanya bunuh diri, ia ikut bunuh diri. Olala…. mengapa ya bisa terjadi demikian ?

Jika harakiri dulu dilakukan para pendekar samurai untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan, bunuh diri jaman sekarang lebih bervariasi motifnya. Motif utama antara lain adalah malu. Pernah ada pejabat tinggi Jepang yang bunuh diri karena tuduhan korupsi yang sebenarnya belum terbukti.  Daripada malu masuk penjara mungkin, lebih baik bunuh diri. Motif berikutnya adalah putus asa. Sebuah laporan terbitan British Medical Journal menyebutkan bahwa pada golongan usia 40-54 tahun, upaya bunuh diri sering terkait dengan urusan pengangguran atau resesi ekonomi. Koran Jepang Asahi Shinbun tgl 27 sept 2008 melaporkan bahwa berdasarkan laporan dari Kementrian Pertahanan, angka bunuh diri pada personil Departemen Pertahanan di Jepang mencapai 34,4 per 100.000 penduduk pada tahun fiskal 2007. Dari sekian itu, 22% kasus disebabkan karena mereka tidak bisa bayar hutang, sisanya karena kekerasan oleh seniornya, dan 50% lebih motifnya tidak diketahui.

Ada fenomena lain yang menarik dalam hal motif bunuh diri orang Jepang, yaitu sebagai ekspresi bentuk tanggung-jawab, yang diistilahkan dengan inseki-jisatsu. Bunuh diri dengan motif sebagai bentuk tanggung-jawab ini justru banyak dilakukan oleh orang-orang dengan kedudukan sosial yang tinggi, seperti direktur perusahaan, politisi, kepala sekolah, dll. yang biasanya menjadi penanggun-jawab dari suatu aktivitas besar. Kegagalan dalam mengelola perusahaan sehingga menyebabkan bangkrut misalnya, atau musibah di sekolah yang menyebabkan terjadinya kematian siswa, bisa menyebabkan direktur perusahaan atau Kepala Sekolahnya bunuh diri. Inseki-jisatsu ini juga bisa terjadi di lingkip keluarga. Sering diberitakan seorang ayah bunuh diri karena putranya tertangkap melakukan perbuatan kriminal. Di samping malu, itu adalah bentuk tanggung-jawabnya yang gagal mendidik anak sehingga anaknya melakukan tindakan kriminal. Menariknya, nampaknya tudak ada upaya-upaya pencegahan bunuh diri ini karena nampaknya dianggap hal biasa dan diterima secara sosial dan budaya di Jepang.

Modus operandi bunuh diri juga bermacam-macam. karena memang cara bunuh diri sekarang lebih bervariasi dan canggih hehe…. Ada yang terjun dari gedung tinggi (ini cukup banyak), menabrakkan diri ke kereta yang berjalan, menembak diri, dll. Sampai-sampai di stasiun KA perlu diberi detektor pencegah bunuh diri. Bandingkan dengan kasus bunuh diri di Gunung Kidul yang juga cukup banyak di Indonesia. Kebanyakan mereka bunuh diri dengan gantung diri atau minum racun serangga.. lebih kuno dan konvensional hehe…..

Yah, bunuh diri diyakini oleh para penganut agama monoteis sebagai tindakan berdosa. Tapi nampaknya orang Jepang memang tidak menganut hal ini. Aku melihatnya sebagai suatu keputus-asaan karena merasa tidak ada jalan lain yang lebih baik, mereka tidak memiliki tempat bergantung yang mereka yakini, dan tidak ada tujuan hidup yang lebih berarti. Agama bagi mereka sangat pragmatis, mana yang enak ya dipakai. Mereka bisa merayakan kelahiran bayi menurut ajaran Budha, menikah dengan cara Kristen/katolik di gereja, dan memperlakukan orang meninggal dengan ajaran Shinto. Mereka menganut politeisme dengan banyak dewa, tapi ternyata banyak dewa tidak bisa menolong mereka mengatasi kesulitan hidupnya………

Bersyukurlah yang masih meyakini adanya satu-satunya penolong utama yaitu Allah SWT, yang tak akan memberi beban melebihi kemampuan umatNya… dan akan menolong siapapun yang memohon, dan mengampuni siapapun yang bertaubat.

Ya Allah, hanya padaMu hamba menyembah, dan hanya padaMu hamba mohon pertolongan…..





Mozaik hidup di Jepang (2): Berburu “gomi”…

17 11 2008

sampah31Sistem pengelolaan sampah (bhs Jepang: gomi) di Jepang sudah sangat teratur. Di setiap kota atau daerah sudah ada jadwal pembuangan sampah. Ketika pertama kali kami masuk apartemen di Matsuyama, kami mendapat jadwal pembuangan sampah untuk setahun dalam bentuk seperti kalender. Dalam kalender itu digambarkan sampah jenis apa saja yang masuk dalam kategori sampah tertentu. Seingatku, hari Selasa dan Jumat setiap minggunya adalah jadwal membuang sampah dapur. Hari Rabu sampah plastik. Hari Kamis sampah gelas/kaca dan kaleng. Dan seterusnya, persisnya aku agak lupa. Sampah-sampah itu kami kumpulkan dalam plastik terpisah utk setiap jenisnya, dan dibuang pada jadwal yang ditentukan, yang kami letakkan di depan apartemen di tempat yang telah disediakan. Setiap hari akan ada petugas yang mengambil sampah-sampah tersebut. Rasanya nyaman bisa teratur seperti itu. Tak pernah kami lihat ada tempat pembuangan sampah yang penuh dengan aneka sampah seperti di negara kita.

Nah, yang menarik adalah… dalam setahun ada 4 kali jadwal pembuangan sampah besar. Maksudnya barang-barang besar yang dirasa tidak ingin dipakai lagi bisa dibuang pada hari itu, seperti kulkas, rice cooker, microwave, TV, sampai karpet, coverbed, dan alat-alat rumah tangga lainnya, termasuk baju, sepatu, seprei, tas, dll. Wah, buat perantau miskin dari Indonesia seperti kami, jiwa pemulung kami mulai terpanggil hehe…… Barang-barang buangan itu kebanyakan masih bagus, hanya mungkin mereka ingin memperbaharui miliknya dan me-recycle yang lama. Biasanya orang Jepang akan meletakkan barang-barang buangannya di tempat yang telah disediakan (untuk satu luasan areal tertentu ada tempat yang telah disediakan untuk membuang barangnya ) pada siang sampai sore hari. Pagi-pagi sekali nanti akan diangkut oleh petugas. Jadilah kami selalu siap berjaga-jaga jika hari memulung tiba… hehe… Malam-malam, ketika sudah tidak terlalu banyak orang, kami (saya dan suami) bersepeda menuju tempat pembuangan barang, dan memulung barang-barang yang masih bagus dan bisa dipake. Tapi jangan dikira cuma kami pemulung miskinnya lho, hehe….. ternyata orang Jepangpun ada yang suka ikut mencari barang bekas yang masih bisa dipakai. Benar-benar penghematan !! Kami pernah mendapatkan karpet yang masih bagus, microwave, vacuum cleaner, dll. Yah, lumayanlah……. bisa mengurangi pengeluaran. Sebenernya pengen juga sih memulung barang-barang dari lab, tapi kok malu… mempertaruhkan nama bangsa Indonesia je….

Tapi ketika kami kembali ke tanah air, jiwa pemulungku terpaksa harus kupendam dalam-dalam …. Kasihan nanti pemulung yang asli harus bersaing dengan kami hehe….





Belajar di negeri Hirohito dengan modal “bejo”…

12 11 2008

Beberapa hari ini aku sering ditanya tentang bagaimana caranya aku bisa belajar S3 di Jepang, dengan beasiswa apa? Bagaimana cara mendapatkan profesor yang mau menjadi supervisornya? Dan lain-lain.

 

Biar tidak perlu mengulang-ulang cerita, aku coba tuliskan lika-liku perjalananku belajar di negeri sakura, yang sungguh sebenarnya tidak terlalu istimewa… tapi siapa tau ada yang bisa mengambil pelajaran dari pengalaman ini. Mungkin agak panjang tulisannya, yang akan aku bagi-bagi dalam beberapa bagian.

Bag I : Mengapa Jepang ?

Ketika diterima menjadi dosen di UGM, salah satu keinginanku tentunya bisa belajar keluar negeri. Gayung bersambut ketika suamiku pun bercita-cita serupa, belajar ke luar negeri !! Maka tak lama setelah menikah, suamiku mencoba lebih dulu apply beberapa proposal beasiswa. Maksudku nanti, kalau suamiku sudah jelas belajar di mana, aku menyesuaikan. Ada 3 negara yang disasar waktu itu, Australia, Belgia, dan Jepang. Australia karena relatif dekat dan sudah ada profesor yang bersedia menjadi supervisor, Belgia karena dulu ia pernah training di sana, dan Jepang karena terkenal beasiswanya paling tinggi sedunia hehe……

Sebenarnya Jepang tidak terlalu menarik buatku (kecuali beasiswanya yang tinggi) karena berarti harus belajar bahasa baru lagi yang tidak pernah dipelajari sebelumnya. Tapi ternyata takdir membawaku kesana, karena setelah apply dua kali, pada kali kedua suamiku berhasil mendapatkan beasiswa dari Monbusho (Pemerintah Jepang) untuk belajar program S3. Ada hikmahnya juga bahwa suamiku baru berhasil dapat beasiswa setelah mencoba dua kali, karena jika pada kesempatan pertama ia lolos, kami yang notabene waktu itu masih pengantin baru harus hidup terpisah. Dengan baru berhasil pada kali kedua, kami masih bisa bersama sampai anak kami yang pertama lahir, tahun 1997. Ia berangkat ke Jepang ketika putra pertama kami berumur 50 hari. Selama ia di Jepang, aku mulai mengarahkan pencarianku untuk belajar di Jepang pula. Syukur bisa bersama, begitu harapanku. Atau paling tidak berdekatan kota, supaya masih mudah untuk saling bersua. Aku coba apply beberapa penawaran beasiswa, antara lain INPEX Foundation dan Hitachi Scholarship Foundation, untuk program S2. Oya, suamiku belajar di Ehime University, di kota Matsuyama, Ehime Perfecture di Pulau Shikoku. Aku ingat, ketika itu nilai 1 yen adalah 20an rupiah.

Bag 2 : Bagaimana mencari profesor sebagai supervisor?
Ada beberapa cara yang kutempuh untuk mencari profesor yang mau jadi supervisor. Hal ini perlu karena pada aplikasi proposal sholarship juga diminta melampirkan “Letter of acceptance” dari profesor yang akan membimbing kita. Katanya dengan ini akan lebih mendukung aplikasi proposal kita.

Cara pertama, karena waktu itu masih belum pe-de, aku minta tolong dosen senior yang punya kenalan dengan profesor di Jepang untuk memperkenalkan aku kepadanya. Waktu itu aku sempat dibantu Prof Lukman untuk memperkenalkan diriku dengan profesor yang beliau kenal, dan bidang yang kucari waktu itu adalah Clinical Pharmacy. Ya, sebenarnya profesornya bersedia, tapi beliau mewanti-wanti, bahwa untuk belajar Clinical Pharmacy di Jepang, aku harus fluently speak Japanese, karena dalam proses belajar nanti aku akan berinteraksi dengan pasien, dokter, dan tenaga kesehatan lain. Padahal orang Jepang belum tentu bisa berbahasa Inggris. Wah, aku jadi agak ciut.

 Cara kedua, aku searching di internet. Kebetulan Ehime University tdk memiliki Fakultas Farmasi, jadi aku mesti cari Universitas lain yang sesuai dengan bidang yang ingin aku tempuh. Jadilah aku mencari Universitas yang dekat-dekat dengan Ehime, dan ketemulah Hiroshima. Kota yang pernah dibom atom tahun 1945 dulu itu lumayan dekat dengan Ehime. Walaupun beda pulau, tapi transportasinya sangat mudah, bahkan ada juga jalan darat yang menghubungkan dua pulau besar di Jepang itu (pulau Shikoku dan Honshu), melalui jembatan Shimanami Kaido. Aku klik Hiroshime University, klik lagi Fakultas Farmasi, dan klik lagi ke bidang yang aku mau, lalu ketemulah nama satu profesor. Dengan gambling aku menge-mail Profesor tersebut dengan menyertakan CV dan menyampaikan keinginanku untuk belajar di bawah supervisinya dan aku sampaikan bahwa aku sedang akan apply sebuah scholarship dan membutuhan “Letter of Acceptance” beliau. Alhamdulillah, singkat cerita, beliau mau dan mengirimkan surat yang kubutuhkan, tinggal kemudian aku apply ke scholarship yang menawarkan waktu itu yaitu Hitachi.

Cara yang sama aku lakukan dengan profesor lain dari Universitas lain, ketika apply scholarship yang lain, dan beliau juga mau memberikan surat kesediaannya menjadi supervisor seandainya aku berhasil mendapatkan scholarship tersebut. Waktu itu aku mendapatkan profesor dari Tokushima University, yang masih satu pulau dengan Ehime. Alhamdulillah, aku gagal dalam mendapatkan dua scholarship tersebut. Dan, waktu itu aku memang belum banyak pengalaman dan wawasan, jadi ya aku menerima saja. Gagal kok alhamdulillah ? hehe….. Ya, aku beryukur karena ternyata kegagalan ini membawaku ke jalan yang lain menuju negeri Sakura. Kali ini suamiku turun tangan. Di Ehime University memang tidak ada Fakultas Farmasi, tetapi ada Fakultas Kedokteran. Dan di sana ada ilmu yang cukup dekat dengan ilmu kefarmasian yaitu Ilmu Farmakologi. Jadilah suamiku diantar oleh temannya yang sudah lama tinggal di Jepang mencoba menemui sang Profesor Farmakologi sambil membawa CV-ku. Setelah mengetahui bahwa suamiku sudah belajar di Jepang dengan beasiswa Monbusho dan setelah mempelajari CV-ku, singkat cerita beliau menerimaku untuk belajar di sana. Aku di sana diterima sebagai “foreign researcher” yang akan bekerja di labnya, dan bukan sebagai students yang harus bayar tuitition. Untuk itu nanti aku akan digaji dari Lab, yang jumlahnya tidak banyak, tapi cukuplah, karena aku toh nanti bisa hidup dari beasiswa suami.

 Bag 3: Langsung Program S3

Prof Maeyama pake sweater biru tua (duduk paling kanan), disebelahnya adalah Prof. Beaven, tamu dari Amerika saat itu. Sebelahnya lagi ada Elizabeth, mahasiswa S1 dari Swedia yang lagi magang di lab. Yang manis berkerudung putih adalah aku sendiri hehe.....

Semula aku mencari scholarship untuk program Master, karena waktu itu aku memang baru S1. Tapi ternyata di Ehime University aku malah bisa langsung program S3. Kok bisa ? Jadi ceritanya, di Fak Kedokteran Ehime Univ memang tidak ada Program S2, karena di sana dokter menyelesaikan kuliahnya selama 4 + 2 tahun, yang setara dengan program Master, jadi hanya ada program S3 untuk postgraduate-nya. Nah, untuk program S3, di Ehime Univ ada kesempatan untuk memperoleh PhD secara “by research” (tidak perlu ada kuliah, dan tidak perlu menjadi students). Syaratnya adalah memiliki period of research selama 8 tahun, risetnya nanti harus dipublikasikan secara internasional, dan sesuai aturannya, tentu harus mengikuti “entrance examination” untuk resmi masuk program S3, serta harus ikut ujian disertasi untuk mempertahankan disertasinya. Karena aku sudah resmi jadi dosen Fak Farmasi per 1 Maret 1993, dan telah melakukan kegiatan penelitian selama kurun waktu itu yang aku lampirkan dalam CV-ku, maka pada Maret 1998 (ketika aku pertamakali datang ke Ehime), aku dianggap telah “completing 5 years of research period”, sehingga aku tinggal perlu 3 tahun lagi untuk memenuhi syarat program S3 di Ehime. Inilah keberuntunganku yang pertama (alhamdulillah). Jadilah aku belajar disana, di Department of Pharmacology, Fac of Medicine, Ehime University. Profesorku, Prof Kazutaka Maeyama, sangat baik dan perhatian. Singkat cerita, alhamdulillah, aku bisa menyelesaikan risetku dengan baik, mempublikasikan beberapa publikasi internasional selama di sana dalam kurun waktu 3 tahun, dan menyelesaikan ujian disertasi dengan baik. Sehingga, aku dan suami bahkan bisa selesai dalam waktu yang bersamaan. Ia ujian disertasi bulan Pebruari, aku bulan Maret. Kami pulang ke Indonesia pada awal April 2001 menggondol gelar PhD.

 

 Bab 4: Honey moon dan hikmah di balik krismon
Keberuntunganku kedua adalah aku jadi bisa hidup bersama suami di Jepang. Padahal semula aku membayangkan bahwa mungkin aku harus hidup terpisah dari suami karena kami belajar di kota yang berbeda. Alhamdulillah, ternyata malah bisa bareng. Datang ke Jepang dijemput suami, sampai sana tinggal masuk apartemen yang sudah disiapkan, sudah tidak perlu “thingak-thinguk” lagi karena sudah ada “guide” untuk hidup sehari-hari. Malah rasanya kaya honey moon saja, karena cuma hidup berdua, sekasur berdua hehe…. Selain urusan penelitian masing-masing, kami sering gunakan waktu untuk jalan-jalan baik di dalam kota atau keluar kota, bahkan keluar pulau dan ke luar negeri. Ke luar negeri berangkat dari Jepang membawa uang yen rasanya lain lho….. hehe…. nggak terlalu berhitung kalau mau beli-beli sesuatu.

Bagaimanapun, ada harga yang harus kami bayar. Yaitu kerinduan pada anak yang aku tinggal di rumah eyangnya ketika aku harus berangkat ke Jepang. Umurnya waktu itu baru 1 tahun 2 bulan. Masih menyusu ASI. Kebayang kan, aku sampai nangis bombay…… sedih banget meninggalkan si kecil, sampai sering terbawa mimpi di awal-awal hidupku di Jepang. Setiap malam nelpon ke Indonesia hanya untuk menanyakan kabarnya.

Di sisi lain, tahun 1998, terjadi peristiwa bersejarah di tanah air, yaitu mundurnya Presiden Soeharto dan awal era reformasi. Aku hanya menyaksikan hiruk pikuk itu dari jauh, dan ketika Pak Harto menyampaikan pengunduran dirinya, aku hanya lihat dari TV di lab ditemani teman-teman satu lab. Mata uang rupiah terjun bebas, nilai yen melejit, yang dulu tahun 1997 ketika suamiku berangkat berkisar 20-21 rupiah, meningkat menjadi 60-70 rupiah. Yah, maafkan aku, teman, kalau aku seolah-olah tertawa di atas penderitaan bangsaku (ceilee..)…… soalnya aku justru mendapatkan keberuntungan berikutnya, yaitu nilai tabunganku jadi meningkat karena kami menyimpan dalam mata uang yen. Yang ketika dibawa ke tanah air rasanya jadi banyaak sekali, yang tak pernah terbayang bisa memilikinya jika kami tidak sempat berada di negeri sakura dan hanya mengandalkan gaji PNS yang takseberapa….

Bag akhir: Penutup
Nah, begitulah kisah lika-liku perjalananku selama belajar di negeri orang. Terasa sekali bahwa keberhasilanku lebih banyak karena kemurahan Allah semata, bukan karena prestasi akademik yang menjulang, tapi lebih karena keberuntungan. Orang bodoh itu biasanya kalah dengan orang pintar. Orang pintar kalah dengan orang tekun. Tapi orang pintar dan tekun seringkali kalah dengan orang beruntung hehe…….. “Bejo” kalau orang Jawa bilang. Dan aku tidak berhenti bersyukur atas  semua kesempatan yang diberikan Allah ini kepadaku. Alhamdulillah. Semoga dengan selalu bersyukur, Allah akan memberikan kenikmatan lebih banyak lagi kepada kita. Amien. Tentu aku juga berterimakasih pada berbagai pihak yang telah melancarkan program belajarku saat itu, temasuk para petinggi Fakultas waktu itu.

 

Saking terkesannya aku dengan rasa keberuntungan ini, maka ketika anak kedua kami lahir setahun setelah kami pulang ke tanah air, aku menyisipkan kata “Faza” pada namanya, yang berasal dari bahasa Arab yang artinya beruntung. Semoga itu menjadi doa baginya, untuk menjadi seorang yang selalu beruntung. Amien. Tentu bukan nama “Bejo” yang aku sematkan, karena kayaknya kurang estetis untuk nama seorang cewek. Bejowati ? ….. Hmm… kurang manis!