Ujian seorang ibu…

25 12 2009

 Dear kawan,

Sebenarnya minggu ini banyak peristiwa spesial buatku… tapi perasaanku sedang tumpul untuk memaknainya. Mungkin karena pikiran sedang agak penuh, sementara aktivitas pekerjaan tidak berkurang sedikitpun, dan sedang malas berpikir sentimentil. Kok? Iya, menulis ini pasti menjadikan aku sentimentil….. (siap-siap tissue deh). Tapi ….kayaknya kok sayang untuk melewatkannya begitu saja tanpa terdokumentasi di blog ini…. Bagaimanapun itu adalah satu mozaik dalam kehidupanku. Okelah, kau mau tau kawan… peristiwa apa saja?

Ulang tahun Dhika

Dhika sedang tiup lilin ultahnya

Tanggal 21 Desember 2009, Dhika si bungsu kami genap 4 tahun. Teringat olehku betapa leganya setelah ia lahir, dan surprised bahwa ternyata laki-laki! Karena sampai detik-detik mau melahirkan, aku masih berpikir bahwa bayiku perempuan… hehe. Dhika-ku tumbuh sehat dengan tubuh bongsor dan kulit putih, wajahnya pun menggemaskan. Tapi di balik itu semua, Allah sedang mencobai kami dengan kenyataan… bahwa Dhika tumbuh tidak sesempurna kakak-kakaknya….. Di usianya yang ke 4 ini bicaranya masih terbatas, interaksi sosial yang masih kurang dari semestinya, dan ada kecenderungan sifat autistik. Astaghfirullohaladziim…. ! Sebuah peringatan Allah yang sering membuat aku menangis di balik hingar bingar aktivitas. Kadang ada perasaan “guilty” sebagai seorang ibu. Sudahkah aku memberikan yang terbaik untuk Dhika? Sudahkah aku berusaha sekeras mungkin untuk Dhika? Aku tidak minta excuse…. sungguh tidak ringan beban yang kupanggul, untuk bisa membagi perhatian dan waktu secara cukup, dengan beban pekerjaan yang datang silih berganti. Tapi alhamdulillah, aku selalu bersyukur bahwa selalu ada kemajuan kecil Dhika, walau kadang masih berfluktuasi. Dan selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa yang telah diijinkanNya terjadi…. Sungguh sangat mudah bagi Dia untuk membalikkan peristiwa jika Dia menghendakinya. Aku yakin, selama kita memohon dan berusaha, Insya Allah Dia akan mendengarkan dan mengabulkan. Doakan ya, semoga Dhika bisa tumbuh optimal dan sempurna. Amien.

Sayangnya Play group Dhika sudah mulai libur, jadi rencana merayakan ultahnya di sekolah terpaksa dibatalkan. Aku belikan saja sekotak kue tart brownies dan lilin berangka 4, kami rayakan sederhana sekali di rumah, yakni sekedar tiup lilin. Sendiri saja dengan kakak-kakaknya. Soalnya Dhika juga belum begitu paham makna merayakan ulang tahun. Yang penting doanya, semoga Dhika selalu sehat, tambah pandai dan bisa mengejar ketertinggalannya, dan tentu menjadi anak sholeh yang berbakti pada Allah dan orang tua. Amieen.

Hari Ibu

Peristiwa berikutnya adalah hari ibu, tanggal 22 Desember 2009. Terus terang, sama sekali tidak ada yang istimewa terjadi hari itu. Hari berjalan seperti biasa sekali. Pagi mengantar Afan si sulung ke sekolah, langsung ke kampus. Di kantor kebetulan aktivitas full benar sampai sore. Sorenya sepulang kantor Hani anakku kedua menyapaku ceria, “Ibu, hari apa hari ini?…. hari Ibu kan?”….. lalu cium pipi. Sudah. Hm… sekali lagi, aku jadi mempertanyakan bagaimana peranku sebagai ibu. Ah, kayaknya masih jauuuh… sekali dari gambaran ibu yang ideal. Aku masih sering terlalu sibuk dengan urusan pekerjaanku. Aku teringat ibuku tercinta yang jauh di kampung halaman. Tahun lalu, 23 Desember, di blog ini juga, aku menulis tentang ibuku dan kekuatan doanya (klik di sini). Suerr, … tidak ada yang kuragukan sama sekali tentang peran ibuku dalam kehidupanku, dalam pencapaianku selama ini. Aku jadi teringat,… aku pernah ditanya-tanya sebagai responden penelitian seorang kandidat doktor psikologi, “Apa kiat-kiat atau hal-hal yang mendorong Anda memperoleh pencapaian seperti ini….. (profesor di usia muda)?”. Aku paling bingung kalau ditanya begini, soalnya semuanya buatku hanya mengikuti aliran air belaka. Jawabanku yang paling jujur ya… ini karena kekuatan doa ibu, dorongan ayah, dan ijin Allah. That’s all !! Aku hanya berharap, bahwa kelak anak-anakku akan mengenangku seperti aku mengenang ibuku dan semua perjuangan ibu untuk anak-anaknya. Selamat hari ibu!

Rapot anak-anak

Peristiwa ketiga adalah pengambilan rapot anak-anak, tanggal 24 Desember 2009. Sebuah peristiwa biasa, tetapi menjadi spesial juga karena itu juga mengingatkanku terhadap tugas seorang ibu. Karena ada dua anak yang harus diambil rapotnya, kami berbagi tugas. Aku ambil rapot Afan di SMP, bapaknya ambil rapot Hani di SD. Hasilnya? Yah….. alhamdulillah,… lumayan. Tidak sangat tinggi, tapi juga tidak sangat rendah. Apapun, itu adalah hasil terbaik yang sudah diupayakan oleh mereka. Sungguh, seringkali aku tergoda untuk membandingkan hasil rapotku dulu waktu SD dan SMP dengan rapot anak-anakku sekarang. Tapi aku tau persis, keadaannya sudah sangat jauuh.. berbeda. Aku tidak bisa menuntut mereka untuk menjadi sepertiku dulu.

Potongan berita di sebuah majalah anak-anak waktu itu... culun banget yah!!

Bayangin deh, .. aku dulu sampai menjadi pelajar teladan SD ke 2 tingkat propinsi Jawa Tengah hehe…. Ranking kelas tak pernah lebih dari angka 3. Demikian pula waktu SMP. Tapi saat itu kan belum ada TV swasta, belum ada Face Book, game online, dan lain-lain. Hiburanku adalah buku bacaan, dan aku suka sekali membaca. Paling aku cuma godain saja anak-anakku kalau sedang menemani mereka belajar dan harus repot-repot dulu menyuruh mereka belajar….” Wah, uti (maksudnya eyang uti mereka) pasti dulu senang sekali yaa…… ngga usah repot-repot suruh anaknya belajar, anaknya sudah belajar sendiri….”  Yah, dan kalau aku cerita begitu pada anak-anak, itu sekadar untuk memberi motivasi saja, ….. tidak bermaksud untuk membebani mereka dengan harapan terlalu besar…

Yah, … bagaimanapun, setiap anak memiliki keunikan dan kelebihan/kekurangannya sendiri. Seni menjadi orangtua adalah mengarahkan mereka untuk mengoptimalkan apa yang mereka punya, termasuk Dhika, dan itu yang masih terus harus aku pelajari… Dan semua ini adalah ujianku sebagai seorang ibu…. Ya Allah, berilah hamba kekuatan dan petunjukMu, untuk mendidik anak-anak kami sesuai dengan garisMu. Amien..

Jadi ingat puisi Kahlil Gibran yang sangat terkenal tentang anak… dan itu masih relevan…

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri

Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu

Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu Karena mereka memiliki ikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka, Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan