My note(3): Hari H alias D day….

27 11 2009

Dear kawan,

Jadual presentasiku bersama 2 profesor baru Jepang di buku panduan

Hari ini adalah Hari H alias D day untuk acara Pharmacological Meeting, di mana aku diundang oleh Sensei untuk jadi pembicara, to introduce my research work. Hm… sudah aku tulis di My note (1),  bahwa dalam acara itu ada acara khusus untuk memperkenalkan profesor baru. Ada 3 profesor baru yang diminta memperkenalkan diri dan risetnya, 2 dari Jepang, dan yang ketiga adalah aku sendiri. Acara ini kayaknya baru pertama kali diadakan untuk kegiatan Pharmacological meeting semacam, yang merupakan inisiatif Maeyama Sensei sendiri yang kebetulan menjadi ketua panitianya. Acaranya dimulai dari jam 8.45 sampai jam 18.20an, tetapi jadwal bicaraku adalah jam 17.50, selama 25 menit. Jadi aku boleh datang siang-siangan kata Sensei, ngga harus mengikuti dari awal…..  Mending gitu sih, soalnya semuanya speaking Japanese, aku juga ngga mudeng….. ! Wah, bicara cuma 25 menit, heboh persiapannya berhari-hari hehe…….

Napak tilas ke Kume dan sekitarnya

Nah, karena itulah aku memutuskan untuk datang habis dhuhur saja, paginya mau bersantai dulu supaya ngga terlalu tegang. Well, kawan……hari Jumat ini cuaca cerah sekali di Shigenobu dan sekitarnya. Matahari bersinar hangat, langit biru bersih. Di tanah air teman-teman dan sanak keluarga sedang merayakan Hari Raya Idul Adha. Di Matsuyama sebenarnya juga ada sholat Ied yang dilaksanakan di Nogakubu (Fakultas Pertanian Ehime University), di mana di sana banyak mahasiswa asing yang muslim dan lokasinya juga di kota. Tapi hari ini dengan sedih aku tidak ikut sholat Ied karena tempatnya cukup jauh dari sini (Kampus Ehime University School of Medicine ada di pinggiran kota) dan agak ribet transportasinya.

Sekitar jam 10-an aku putuskan untuk refreshing sejenak dengan napak tilas ke stasiun Kume menggunakan densha (kereta). Itu adalah perjalanan yang dulu setiap hari aku lalui dalam waktu hampir 3 tahun. Ongkos kereta masih sama, 350 yen dari Kume ke Igakubu (kampus). Bicara tentang ongkos transportasi, ongkos di Matsuyama ini termasuk tinggi. Jauh lebih mahal dibandingkan Tokyo. Lho, kok bisa? Iya, … karena jumlah penduduk Matsuyama jauh lebih sedikit ketimbang Tokyo, sehingga biaya operasional yang sama dibagi dengan jumlah penduduk lebih sedikit, jatuhnya lebih mahal. Dari ujung ke ujung Matsuyama yang tidak terlalu jauh dengan densha bisa mencapai 720 yen, padahal di Tokyo dulu aku pernah muter-muter dengan densha jauh sekali cuma 180 yen. Sepanjang perjalanan kulihat banyak gedung-gedung baru bermunculan, walau masih ada yang sama dengan yang dulu.

Stasiun kecil Kume dengan densha yg biasa kunaiki

Enaknya, densha di sini selalu tepat waktu. Tepat 15 menit kemudian, aku sampai di stasiun Kume. Aku berharap ketemu bapak penjaga Setasiun yang dulu, ternyata sudah ganti. Iyalah, terakhir aku ketemu beliau 4 tahun yang lalu. Itupun rambutnya sudah putih. Suasana stasiun Kume masih seperti dulu, di dekatnya ada toko ‘second hand” yang cukup besar. Di Jepang, orang ngga malu beli barang second hand. Barangnya masih bagus-bagus. Mereka lebih menggunakan prinsip ekonomi dan ekologi. Barang yang sudah tidak ingin dipakai lagi sebaiknya “dirotasikan” pada orang lain, dengan cara dijual ke toko second hand, sehingga tidak menuh-menuhin bumi hehe….  eco-friendly. Khusus tentang urusan pembuangan sampah, aku pernah menulis dalam sebuah mozaik hidupku, bisa di-klik di sini.

Lalu aku mencoba berkeliling disekitar Kume-eki. Ada banyak perubahan. Toko 100-yen yang dulu pernah ada di dekat eki, sekarang tidak ada lagi. Apotek yang dulu ada di sebelah supa, sekarang jadi toko handuk. Lalu aku sengaja napak tilas ke supa Nitto, supa langgananku dulu untuk belanja berbagai keperluan harian. Wah, belum banyak berubah juga…. bahkan penempatan ikan dan seafood, sayuran, dll, masih sama seperti dulu. Setelah berbelanja sedikit termasuk bento untuk makan siang, aku pun kembali ke stasiun dan balik lagi ke hotel  dengan densha.

Pharmacological meeting

Inilah saatnya…  Aku berangkat dari hotel siang setelah makan siang dan sholat. Aku sengaja berangkat setelah sholat dhuhur karena sudah kebayang pasti nanti akan sulit cari tempat sholat. Mana ada mushola di gedung-gedung pertemuan di Jepang hehe….. Kali ini aku sengaja naik basu (bus), kebetulan 25 meter di dekat hotel ada basu noriba (tempat pemberhentian bus). Naik bus di sini juga nyaman, waktunya hampir selalu tepat. Tidak perlu ada kondektur, semua sudah diset otomatis mengenai harganya, dihitung dari mana naiknya dan di mana turunnya. Jadi ketika kita naik basu, kita akan mengambil kertas yang menunjukkan nomer kita. Di dalam bus di atas sopir, ada papan elektronik yang menunjukkan harga tiket untuk masing-masing nomer. Kita akan membayar sesuai dengan harga yang terpampang di papan.

Sampailah aku di gedung pertemuannya, yang tidak jauh dari stasiun kota Matsuyama-shi eki. Seminar sudah berjalan, dan aku pun bergabung. Wah…. presentasinya keren-keren. Walaupun aku ngga ngerti bahasanya, tapi aku bisa melihat isi presentasi dari gambar-gambar yang terlihat dalam slide. Wow,…. semuanya sudah ke level molekuler semua !!  Jadi agak ciut nih hehe……. Banyak hal baru dan advanced yang ditampilkan, sayangnya aku nggak begitu paham secara detail. Ada satu yang menarik perhatianku yaitu tentang pengaruh konsumsi alkohol terhadap signaling reseptor insulin. Dipaparkan dalam presentasi bahwa sel hepar yang diinkubasi dalam alkohol ternyata mengalami gangguan dalam signaling insulin, sehingga fungsi insulin terganggu. Insulin adalah hormon yang berperan dalam mengatur kadar gula darah. Seseorang yang mengalami kekurangan insulin atau fungsi insulinnya terganggu akan mengalami kenaikan kadar gula darah, menjadi penyakit diabetes. Dan setelah aku pelajari lagi pada beberapa jurnal, memang disebutkan bahwa pemakaian alkohol secara kronis, apalagi dengan dosis besar, akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit diabetes. Ada pula yang mempresentasikan tentang berkurangnya volume otak pada peminum alkohol kronis, dibandingkan yang bukan peminum. Wah, … berarti nggak salah deh aku nulis buku tentang Bahaya Alkohol bersama mbak Hartati hehe…….  Tapi herannya, walaupun mereka meneliti tentang hal itu, orang Jepang tetap saja suka minum alkohol…. terbukti nanti ketika banquet dinner malamnya, minuman yang tersedia dan untuk “kampai” adalah Asahi Beer…. !!

Hm… saat yang menegangkanku tiba, yaitu acara Lecture by 3 new professors.  Aku kebagian giliran paling belakang. Profesor pertama, Prof. Tsutsui Masato dari Univ. Ryuku, Okinawa,  memaparkan tentang penelitiannya yang banyak terkait dengan sistem NOS (nitric oxide synthase). Wah, nggak pati dhong aku…… dan agak keder juga ketika beliau menyampaikan berbagai publikasi internasionalnya ketika menyampaikan presentasinya. Semua yang disampaikan sudah uda publikasinya. Professor kedua, Prof Yamazaki Jyun,  lebih low profile… beliau professor dari Fakultas Kedokteran Gigi Fukuoka University, … memaparkan tentang peranan kanal Chlorida pada kelenjar saliva. Penelitiannya juga advanced banget, cuma ngga terlalu banyak menunjukkan publikasinya… hehe… Jadi aku merasa ada temennya.

Penampilan ala kadarnya..

Yang paling parah adalah profesor ketiga, yaitu aku sendiri. Penelitiannya kuno dan hanya menggunakan metoda-metode farmakologi klasik, seperti analgesik dan anti inflamasi, paling banter ada tambahan pengamatan histologi untuk melihat penipisan kartilage dengan suatu metode staining tertentu, menggunakan kit yang cukup mahal untuk ukuran kantong peneliti Indonesia untuk menentukan rasio penghambatan COX1/COX2 senyawa uji,  dan mengukur kadar cytokine jaringan dengan ELISA. Uwis, pol !!  Aku sampaikan bahwa for future research akan dilakukan penelusuran mekanisme molekuler dari senyawa uji. Apakah dianggap bagus atau tidak, aku tidak tau….. mau gimana lagi. Yah….. apapun itu adalah pencapaian yang bisa kita peroleh dengan keterbatasan dana dan fasilitas yang ada. Aku sendiri tentu ada semangat untuk terus meningkatkan advancement penelitian, dengan terus berupaya apply berbagai proposal  untuk bisa mengumpulkan dana riset. Juga memperluas networking di luar negeri sehingga bisa bekerja sama yang saling menguntungkan. Insya Allah.

Penutup

Acara Pharmacological meeting ditutup dengan banquet dinner. Sayangnya kameraku pas habis batere-nya, sehingga ngga bisa berfoto-foto lagi. Hidangannya Jepang banget, antara lain sashimi, sushi, dan aneka jenis lainnya. Kesempatan deh… menikmati sashimi…. enak juga makan ikan mentah di sini,  hehe…..

Begitulah ceritaku hari ini. Alhamdulillah, tugas utama sudah selesai… sekarang mau santai dulu ah.., menikmati week-end. Besok ada teman Jepang mengajak jalan ke Imabari. Minggu depan siap dengan kegiatan lain yang mudah-mudahan juga bermanfaat.





Mempopulerkan hasil penelitian: Gamavuton-0 sebagai anti rematoid artritis

10 05 2009

Dear kawan,
Beberapa hari telah berlalu sejak aku pulang dari Kelantan. Biasa lah…. berderet pekejaan sudah menunggu. Pekerjaan rutin maupun di luar rutin. Bakal ada tambahan kerjaan lagi beberapa saat ke depan…. Proposal IMHERE UGM di mana Fakultas Farmasi termasuk di dalamnya (dan aku terlibat di dalamnya pula) diterima…. Hm… bingung mau merasakan apa… hehe… lega karena kerja keras kami menyusun proposal beberapa waktu lalu sampai lembur berhari-hari ada buahnya….. tapi juga sudah kebayang beratnya pekerjaan yang harus dilakukan……. harus menyerap dana Rp 3 M untuk tiga tahun dalam berbagai aktivitas Fakultas itu tidaklah mudah.

Nah, sekarang…… teman-teman mungkin ada yang pengin tau, penelitian apa yang sebenarnya kami lakukan dan aku presentasikan kemaren di Kelantan, yang secara mengejutkan(ku) mendapatkan second winner prize for oral presentation.
Penelitian kami adalah pengembangan obat baru untuk rematoid artritis (RA) yang berasal dari modifikasi struktur kurkumin. Kurkumin sendiri adalah suatu zat warna kuning yang berasal dari tanaman Curcuma, termasuk temulawak, kunyit, kunir putih, dll. Pak Sardjiman cs dari Curcumin Research Center telah mencoba memodifikasi struktur kimia kurkumin menjadi beberapa senyawa baru. Beberapa di antaranya sudah dipatenkan di beberapa negara. Salah satunya adalah Gamavuton-0.
Nama Gamavuton-0 sendiri berasal dari kata “Gama” yang berarti Gadjah Mada (University), dan “vu” dari “Vrije Universitetit”, serta “ton” adalah senyawa dengan struktur keton. Vrije Universiteit di Belanda adalah institusi yang bekerja sama dengan Farmasi UGM dalam pengembangan struktur kurkumin ini. Nah, aku sebenarnya hanya “take a small part” dari proyek besar pengembangan kurkumin ini, dengan menguji efek farmakologinya. Dan aku memilih efek anti rematoid artritis sebagai salah satu efek yang aku teliti.
Aku mengajukan proposal pendanaan riset tentang hal ini kepada Kementrian Riset dan Teknologi Republik Indonesia untuk anggaran tahun 2007 lalu, dan alhamdulillah diterima (thanks for Kementrian Ristek for giving financial support). Kami bekerja mulai dengan mensintesis lagi senyawa ini dengan metode yang sudah ada, tetapi dengan beberapa modifikasi untuk meningkatkan rendemennya. (Thanks for Rizal dan Rozi for technical assistance, tentunya di bawah arahan Prof. Supardjan). Setelah senyawa jadi dan dipastikan kebenarannya dengan berbagai uji (KLT, jarak lebur, spektrofotometri IR, NMR, dan GC-MS), maka kemudian diuji efek farmakologinya.

Mengapa rematoid artritis (RA)?
Aku pilih RA karena ia merupakan satu bentuk peradangan/inflamasi kronis, yang memerlukan pengobatan dalam jangka panjang. Obat-obat yang sering dipakai seperti metotreksat dan penekan sistem imun yang lain memiliki efek samping yang lumayan besar. Kami mencoba mencari alternatif obat baru yang diharapkan bisa menambah khasanah dunia pengobatan.
RA sendiri adalah suatu penyakit inflamasi pada persendian yang penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun sangat erat kaitannya dengan sistem imunitas, di mana tubuh berespon berlebihan terhadap senyawa yang ada dalam tubuh sendiri. Penyakit ini ditandai dengan peradangan dan rasa nyeri di berbagai persedian, secara menyeluruh di semua bagian tubuh. Terjadi pula pengeroposan tulang rawan dan tulang keras di sekitar persendian. Pada tahap yang lebih berat, bisa terjadi deformitas bentuk tangan (perubahan bentuk, jadi pada bengkok-bengkok). Dari segi selular/molekuler, terjadi peningkatkan beberapa senyawa sitokin dalam tubuh, yang berperan terhadap kejadian RA, yang paling penting adalah sitokin tumor necrosis factor (TNF-alfa) dan interleukin-1 (IL-1). Karena itu, pada penelitian ini akan dikaji, apakah Gamavuton dapat menekan peradangan/inflamasi, apakah dapat menghambat perusakan tulang rawan, apakah dapat menekan produksi TNF alfa dan IL-1?

Cara penelitiannya bagaimana?
Kami menggunakan tikus putih sebagai hewan percobaan. Kondisi RA dibuat dengan menyuntikkan suatu antigen yang disebut Complete Freund Adjuvant . Antigen ini bisa menyebabkan inflamasi yang sifatnya kronis (bertahan lama) dan sistemik. Dua puluh satu hari setelah penyuntikan pertama, dilakukan booster dengan penyuntikan antigen kedua, untuk memperbesar respon imunnya. Setelah itu, tikus dibagi menjadi 6 kelompok, satu kelompok tidak diberi obat, satu kelompok diberi metotreksat, selebihnya diberi Gamavuton dengan berbagai dosis. Lalu diamati selama 20 hari berikutnya untuk profil inflamasi dan artritisnya, lalu setelah itu dilakukan pengambilan sampel untuk berbagai pengamatan lainnya: dengan histologi (pengecatan dengan Safranin-O) untuk mengamati penipisan tulang rawan, dan teknik Enzyme Linked-Immuno-Sorbent Assay (ELISA) untuk pengukuran kadar TNF dan IL-1 dalam jaringan sendi (thanks for Indri, Ryona, Viddy, dan Dodi for technical assistance).

Hasilnya ?
Singkat cerita, Gamavuton dapat menekan peradangan, menghambat penipisan kartilage/tulang rawan, dan menekan produksi TNF dan IL-1 dengan potensi yang bervariasi untuk setiap paramater. Namun demikian, sungguh ini memberikan harapan untuk bisa dikembangkan lebih lanjut menjadi alternatif obat baru. Uji toksisitas subkronis Gamavuton-0 sudah dilakukan (thanks for Ari dan Putra for technical assistance, di bawah arahan bu Nunung), dan ditemukan relatif tidak toksik.
O,ya……. Gamavuton juga telah diuji potensinya dalam menghambat enzim cyclooxygenase-2 (COX-2), suatu enzim yang berperan dalam proses peradangan (thanks for Gita for technical assistance). Juga dilaporkan memiliki efek anti kanker pada kultur sel Hela (sel rahim) dan T47D (sel payudara) (thanks for Rizal dan Rozi).

Begitulah, inilah yang aku presentasikan kemaren di Kelantan. Jadi itu bukan pekerjaanku sendirian, sehingga sebenarnya bukan aku saja yang menjadi winnernya. Aku hanya pengembang ide dan organisatornya, serta pelantun tembangnya hehe…….. Terimakasih untuk semua yang terlibat dalam proyek ini.
Demikian, siapa tahu ini bisa jadi inspirasi teman-teman untuk mengembangkan penelitian lainnya.