My note (1): Japan, I’m coming (again)….

22 11 2009

Dear kawan,

Tulisan "Matsuyama" dalam huruf kanji di Stasiun

Jepang bukan negara yang terlalu asing buatku, karena sekitar 10 tahun yang lalu aku sempat tinggal selama 3 tahun (1998-2001) di sini ketika studi S3, di Matsuyama, Ehime Perfecture. Cerita tentang bagaimana aku bisa studi di sini sungguh peristiwa yang penuh keberuntungan bagiku, alhamdulillah…. dan pernah aku tulis di posting lawasku yang berjudul ‘”Belajar di negeri Hirohito dengan modal bejo” (klik di sini). Dan alhamdulillah… kali ini aku bisa menengok lagi tempat ini dalam suasana dan dengan posisi yang berbeda.

Cuaca dingin dengan suhu 10-11 derajat Celcius, gerimis, dan daun-daun yang memerah pada peralihan musim gugur ke musim dingin menyambut kedatanganku di Matsuyama hari ini. Maeyama Sensei dan istri telah menantiku di Matsuyama Airport  ketika aku tiba, lalu mengajak lunch bersama. Hm…. arigatou, Sensei……. perutku memang udah keroncongan dari tadi hehe…… Yaa,….kali ini aku akan stay selama 2 minggu memenuhi undangan Profesor Maeyama, mantan supervisorku dulu, untuk menjadi salah satu pembicara dalam Pharmacological Meeting wilayah Jepang barat-selatan. Jangan membayangkan yang keren-keren dulu deh…  Ini semacam undangan balasan kali, hehe…… karena sewaktu kami mengadakan International Conference bulan Oktober lalu (ceritanya bisa diklik di sini), aku juga mengundang beliau sebagai salah satu pembicara. Nah, kebetulan kali ini beliau kebagian jadi tuan rumah untuk menyelenggarakan semacam kegiatan tahunan pertemuan para ahli (researchers, students, professors) di bidang farmakologi. Jadilah beliau berinisiatif untuk membuat space untuk “new professor”  untuk jadi pembicara….. dan aku menjadi salah satunya. Jadi begitu aja sih ceritanya….   Kok lama amat 2 minggu ? Hm… itu pun aku sudah nawar sama sensei, sebelumnya sensei mengundang untuk selama 3 minggu. Wah, tapi kayanya agak berat ninggalin keluarga dan pekerjaan terlalu lama. Acaranya sebenernya juga cuma dua hari sih, tanggal 26-27 November.  Selebihnya aku gunakan kedatanganku kesini untuk memperluas networking, studi banding tentang pelaksanaan farmasi klinik di Ehime University Hospital, dan juga untuk menulis.

Alone, but not lonely

Perjalanan Jogja-Matsuyama kalau dihitung sejak aku keluar rumah bisa dikatakan 13 jam…. hmm, sehari penuh. Lumayan capek. Sendirian lagi….!. Ini adalah kali kedua aku pergi ke Jepang sendiri sejak selesai studi.  Kali ini aku berangkat dengan route Jogja-Denpasar-Kansai- Itami-Matsuyama. Tahun 2005 yang lalu, aku berangkat ke sini juga sendirian selama sebulan, dan sempat nangis bombay saat di pesawat saking “semedot rasaning ati” hehe…. Maklum, anakku terkecil saat itu masih 2,5 tahun. Habis ditinggal 40 hari untuk ibadah haji pada bulan Desember-Januari 2005, bulan Maret sudah harus ditinggal pergi lagi 30 hari ke Jepang. Tapi kali ini sih suasananya udah lain….. Seperti biasa, aku “mengimpor” ibuku untuk turut njagain anak-anak di rumah. Selain itu, dengan era tekonologi informasi sekarang ini, komunikasi bukan hambatan lagi.  Thanks for Face Book dan teman-teman FB yang terasa menemani walau hanya dari jauh….!! I am alone, but not feel lonely….. as I know, you’re always be with me…. eventhough from far away! Ceilee…..

Pokoknya gak boleh lepas internet deh hehe….. sewaktu transit di Denpasar selama 2 jam, masih bisa chatting juga, jadi tidak merasa sendiri. Dan sewaktu tiba di Kansai Airport, ternyata HP-ku bisa menangkap signal NTT Docomo sehingga bisa keep online. Semula aku pikir itu wifi di Airport, tapi ternyata dalam perjalanan ke Itami  naik bus limousine airport, aku tetap bisa keep online. Semula aku pikir gak bisa kirim SMS karena setahuku sistem telekomunikasinya lain, di sini pakai CDMA dan HPku pakai GSM, tapi kok ternyata bisa juga tuh…..  Hmm..aku ngga begitu mudeng tentang hal ini. Aku menggunakan salah satu provider telekomunikasi yang memang pernah aku minta untuk membuka utk penggunaan internasional.. And it works !

Cuma, nggak enaknya kalau pergi sendiri adalah ngga ada yang jadi fotografer hehe….. gak ada yang motret-motretin kita… Jadi nggak yakin nih banyak foto-foto bagus yang bisa cerita…..

Bandara Kansai

Kansai International Airport, megah dan kokoh

Burung Garuda besi yang membawaku terbang mendarat dengan mulus di Bandara International Kansai Osaka pada pukul 08.15 waktu Jepang (2 jam lebih cepat dari WIB). Bandara Internasional Kansai Osaka termasuk Bandara yang besar dan megah di Jepang. Ia berlokasi di sebuah pulau buatan yang sengaja dibuat untuk membangun bandara ini. Konstruksinya terkesan kokoh dan kuat dengan baja di mana-mana. Yang paling convenient adalah bahwa Bandara ini terhubung dengan aneka transportasi lainnya, seperti kereta, bus, kapal, dll. Seperti hari ini, aku juga harus menggunakan bus limousine menuju Itami Airport untuk penerbangan domestik ke Matsuyama. Dan sangat mudah mendapatkan kendaraan ini di sana. Berdasarkan peraturan baru Pemerintah Jepang, Bandara Internasional tidak lagi melayani penerbangan domestik, jadi aku mesti pindah bandara Itami untuk menuju Matsuyama. Perjalanan dari Kansai ke Itami memakan waktu kurang lebih 70 menit menggunakan bus. Tetapi ngomongin tentang Bandara, aku masih lebih terkesan dengan Bandara Changi di Singapore…. bener-bener hommy…. Indah dan hangat!

Pemeriksaan imigrasi lumayan lama dan antri cukup panjang. Dan ndilalah…. aku gak tau kenapa, aku termasuk yang diperiksa agak ketat, sampai tasku dibuka dan dilihat isinya. Bahkan souvenir yang aku bawa saja dibuka dan dilihatnya. Yah, ..dont worry, Saudara Tua…. aku gak bawa bom kok hehe…. Tapi ada bagusnya sih, karena tas koperku aku wrap plastik sejak di Yogya dan sekarang wrappingnya di buka oleh petugas imigrasi Bandara, aku jadi nggak perlu repot-repot buka wrappernya nanti ketika sampai Matsuyama…. hehe. Berpikir positif aja, selalu ada hikmah di balik suatu “bencana”…..

Pesawat commuter

Alhamdulillah, .. aku termasuk yang gampang tidur di mana saja hehe….. jadi aku fine-fine saja bisa tidur lumayan nyenyak di pesawat, bahkan di penerbangan Jogja-Denpasar, dan Osaka-Matsuyama yang pendek pun aku sempat terlelap. Ngomong-omong tentang pesawat,.. aku menikmati 3 jenis pesawat yang berbeda dalam perjalanan kali ini. Untuk route Jogja-Denpasar, pesawatnya ukuran sedang yang biasanya kita naiki untuk penerbangan domestik, dengan lay out 3 kursi masing-masing di bagian kiri dan kanan. Pesawat untuk route Denpasar-Osaka lebih besar lagi, dengan lay out kursi 2-4-2 untuk di kelas ekonomi. Naik pesawat ini rasanya lebih mantap aja, tidak terasa ada goncangan atau apa. Nah, yang ketiga ini yang agak mendebarkan…. dari Osaka – Matsuyama, aku naik pesawat kecil berbaling-baling dengan kapasitas 30-an penumpang, Japan Air Commuter, dengan lay out kursi 1-2, kiri dan kanan. Waduuh,… kalau yang ini aku tadi sempat agak miris juga. Apalagi cuaca tidak begitu bagus.  Pesawat lebih banyak terbang di dalam awan, jadi agak deg-degan juga karena beberapa kali seperti tergoncang. Sebelumnya aku berpikir untuk mengambil gambar dari atas pesawat. Dulu aku pernah menjalani route yang sama dengan pesawat sejenis, dan pemandangannya indah sekali dari atas. Terlihat ada jembatan panjang Shimanami Kaido yang menghubungkan pulau Honshu dan Shikoku. Tapi sayangnya saat ini cuaca tidak begitu bersahabat, sehingga pemandangan ke luar jendela berisi awan melulu… Jadi yah… gak jadi ambil gambar deh..!

 Sampai Matsuyama

Alhamdulillah, seperti ditulis di bagian atas posting ini, sampailah aku di Matsuyama dengan selamat dan disambut cuaca dingin dan gerimis. Sehabis lunch, Maeyama Sensei mengantarku ke hotel Shigenobu, yang berlokasi di dekat Ehime University School of Medicine, tempat studiku dulu. Sensei sempat mengajakku ke lab sambil menunggu waktu check in ke hotel. Hm… lab tidak banyak berubah. Sensei memberiku satu meja untuk aku nanti bisa bekerja selama di sini, plus koneksi internetnya. Semua masih terlihat sama, hanya ada sedikit perubahan pada lay out. Terbayang deh selama tiga tahun dulu berada di sini dengan berbagai suka dan dukanya… Berangkat jam 8 pagi pulang jam 8-9 malam setiap hari…  Orang Jepang memang workholic !!  Jadi ketika sampai di Indonesia lagi dan melihat jam 4 sore sudah lengang tanpa aktivitas di kampus, rasanya agak aneh….. karena di sini sampai jam 6-7 malam masih hiruk pikuk aktivitas lab hehe ……… tapi ya lama-lama biasa juga…

Matsuyama sendiri adalah ibukota Ehime Perfecture (semacam provinsi) yang berlokasi di Pulau Shikoku. Karena lokasinya yang agak selatan, iklimnya termasuk mild, tidak terlalu seekstrim seperti di Hokkaido misalnya, yang ada di Jepang utara yang selalu bersalju tebal saat winter. Seingatku dulu, di sini saat winter paling dingin ya “cuma”  sekitar minus 1 sampai minus 5 derajat Celcius. Mudah-mudahan aku gak perlu mengalami sampai sedingin itu deh…

Aku belum sempat mengeksplorasi lagi Matsuyama….. tentu sudah banyak perubahan sejak 4 tahun yang lalu aku terakhir datang kesini. Aku sudah bercita-cita mau mampir ke Kume Eki (Eki = stasiun), stasiun langgananku dulu jika berangkat ke kampus. Bapak penjaga stasiunnya masih yang dulu nggak ya? Aku juga mau cari takoyaki kesukaanku dulu yang dijual di dekat stasiun Kume hehe…… Di Jogja sekarang ada sih yang jual takoyaki, tapi itu takoyaki bo’ongan karena tidak pakai gurita di dalamnya(tako=gurita).  Aku mau jalan-jalan lagi ke Gintengai dan Okkaidoshopping arcade yang dulu sering kami kunjungi dengan bersepeda kalau hari minggu atau libur… Juga ke beberapa tempat lain yang dulu sering kami kunjungi, termasuk 100-en (hyaku-en) shop hehe… toko semua serba 100 yen..!

Well, tetapi sebelum itu semua, tentu aku harus menyelesaikan dulu bahan presentasiku untuk Pharmacological Meeting besok jumat…… Biasa deh, selalu bikinnya in the last minute hehe…… Lha kemaren belum sempat bikin selama di Indonesia.  Okey, kayaknya ceritaku hari ini cukup dulu…. aku mau istirahat dulu ah…. jaga stamina buat esok  hari.`





Mozaik hidup di Jepang (5): Ramalan cuaca…..

12 12 2008

Sudah masuk musim hujan, namun cuaca tidak menentu. Kadang hujan seharian, kadang cerah. Kalau lagi seperti ini, kayaknya kita butuh ramalan cuaca. Acara yang nampaknya sudah jarang dijumpai di TV kita. Jadi ingat waktu di Jepang….

Satu mata acara di TV Jepang yang aku berusaha tidak melewatkannya setiap hari adalah ramalan cuaca. Lho kok? .. Iya, suka aja. Ramalan cuaca biasanya disampaikan di akhir acara berita, baik dari NHK (TV nasional Jepang) atau berita daerah. Dan tentunya ramalan cuaca yang aku tunggu adalah ramalan cuaca khusus di daerah Ehime, tempat aku tinggal waktu itu. Mengapa?

Ramalan cuaca di Jepang boleh dibilang nyaris selalu tepat, walaupun pernah juga sedikit meleset. Aku suka memperhatikan ramalan cuaca terutama jika mulai akan pergantian musim. Biasanya yang paling kuperhatikan adalah ramalan tentang kemungkinan hujan dan suhu udara. Dengan mengetahui berapa derajat perkiraan suhu besok, aku bisa merencanakan lebih tepat baju apa yang akan kukenakan hehe…. maksudnya apakah sudah bisa pakai baju satu lapis, atau mungkin masih perlu berlapis-lapis seperti jika musim dingin. Dan apakah perlu bawa payung apa tidak.

Ehime berlokasi di pulau Shikoku yang ada di bagian selatan Jepang (di selatan pulau Honshu). Jadi iklimnya termasuk mild, tidak sedingin di Hokkaido kalau musim dingin. Suhu terendah yang pernah ku alami di Ehime “hanya” berkisar – (minus) 10 derajat. Salju sangat tipis, dan itupun tak terlalu sering. Suhu musim panas mencapai 32-34 derajat. Suhu paling nyaman adalah pada musim semi menjelang panas pada bulan April-Mei, atau pada musim gugur setelah musim panas sekitar bulan Oktober-November.

 

Satu yang menarik dari ramalan cuaca adalah ramalan cuaca pada musim panas, utamanya bulan Juli-September. Pada musim panas biasanya mulai terjadi hujan dan…. taifun atau typhoon alias angin puting beliung. Taifun di Jepang umumnya lumayan besar, jauh lebih besar dari angin puting beliung di UGM kemarin, dan diberi nomor. Ia berasal dari suatu tempat dan berjalan ke tempat lain dalam jangkauan jarak yang panjang. Ramalan cuaca akan melaporkan setiap waktu di mana taifun berada, sehingga kita bisa siap-siap apakah taifun akan melewati kota kita atau tidak. Setiap saat taifun sudah mencapai kota tertentu, pasti segera ada beritanya di dalam siaran berita. Kotaku Matsuyama pernah diramalkan akan dilewati suatu taifun, tapi alhamdulillah, taifunnya bergeser sehingga tidak sempat dilewati. Cuma dapat ekornya saja hehe….. itupun sudah sempat menghentikan jalur kereta untuk beberapa saat dan angin bertiup lumayan kencang.

 

Begitulah, sedikit kepingan hidupku di Jepang ……





Belajar di negeri Hirohito dengan modal “bejo”…

12 11 2008

Beberapa hari ini aku sering ditanya tentang bagaimana caranya aku bisa belajar S3 di Jepang, dengan beasiswa apa? Bagaimana cara mendapatkan profesor yang mau menjadi supervisornya? Dan lain-lain.

 

Biar tidak perlu mengulang-ulang cerita, aku coba tuliskan lika-liku perjalananku belajar di negeri sakura, yang sungguh sebenarnya tidak terlalu istimewa… tapi siapa tau ada yang bisa mengambil pelajaran dari pengalaman ini. Mungkin agak panjang tulisannya, yang akan aku bagi-bagi dalam beberapa bagian.

Bag I : Mengapa Jepang ?

Ketika diterima menjadi dosen di UGM, salah satu keinginanku tentunya bisa belajar keluar negeri. Gayung bersambut ketika suamiku pun bercita-cita serupa, belajar ke luar negeri !! Maka tak lama setelah menikah, suamiku mencoba lebih dulu apply beberapa proposal beasiswa. Maksudku nanti, kalau suamiku sudah jelas belajar di mana, aku menyesuaikan. Ada 3 negara yang disasar waktu itu, Australia, Belgia, dan Jepang. Australia karena relatif dekat dan sudah ada profesor yang bersedia menjadi supervisor, Belgia karena dulu ia pernah training di sana, dan Jepang karena terkenal beasiswanya paling tinggi sedunia hehe……

Sebenarnya Jepang tidak terlalu menarik buatku (kecuali beasiswanya yang tinggi) karena berarti harus belajar bahasa baru lagi yang tidak pernah dipelajari sebelumnya. Tapi ternyata takdir membawaku kesana, karena setelah apply dua kali, pada kali kedua suamiku berhasil mendapatkan beasiswa dari Monbusho (Pemerintah Jepang) untuk belajar program S3. Ada hikmahnya juga bahwa suamiku baru berhasil dapat beasiswa setelah mencoba dua kali, karena jika pada kesempatan pertama ia lolos, kami yang notabene waktu itu masih pengantin baru harus hidup terpisah. Dengan baru berhasil pada kali kedua, kami masih bisa bersama sampai anak kami yang pertama lahir, tahun 1997. Ia berangkat ke Jepang ketika putra pertama kami berumur 50 hari. Selama ia di Jepang, aku mulai mengarahkan pencarianku untuk belajar di Jepang pula. Syukur bisa bersama, begitu harapanku. Atau paling tidak berdekatan kota, supaya masih mudah untuk saling bersua. Aku coba apply beberapa penawaran beasiswa, antara lain INPEX Foundation dan Hitachi Scholarship Foundation, untuk program S2. Oya, suamiku belajar di Ehime University, di kota Matsuyama, Ehime Perfecture di Pulau Shikoku. Aku ingat, ketika itu nilai 1 yen adalah 20an rupiah.

Bag 2 : Bagaimana mencari profesor sebagai supervisor?
Ada beberapa cara yang kutempuh untuk mencari profesor yang mau jadi supervisor. Hal ini perlu karena pada aplikasi proposal sholarship juga diminta melampirkan “Letter of acceptance” dari profesor yang akan membimbing kita. Katanya dengan ini akan lebih mendukung aplikasi proposal kita.

Cara pertama, karena waktu itu masih belum pe-de, aku minta tolong dosen senior yang punya kenalan dengan profesor di Jepang untuk memperkenalkan aku kepadanya. Waktu itu aku sempat dibantu Prof Lukman untuk memperkenalkan diriku dengan profesor yang beliau kenal, dan bidang yang kucari waktu itu adalah Clinical Pharmacy. Ya, sebenarnya profesornya bersedia, tapi beliau mewanti-wanti, bahwa untuk belajar Clinical Pharmacy di Jepang, aku harus fluently speak Japanese, karena dalam proses belajar nanti aku akan berinteraksi dengan pasien, dokter, dan tenaga kesehatan lain. Padahal orang Jepang belum tentu bisa berbahasa Inggris. Wah, aku jadi agak ciut.

 Cara kedua, aku searching di internet. Kebetulan Ehime University tdk memiliki Fakultas Farmasi, jadi aku mesti cari Universitas lain yang sesuai dengan bidang yang ingin aku tempuh. Jadilah aku mencari Universitas yang dekat-dekat dengan Ehime, dan ketemulah Hiroshima. Kota yang pernah dibom atom tahun 1945 dulu itu lumayan dekat dengan Ehime. Walaupun beda pulau, tapi transportasinya sangat mudah, bahkan ada juga jalan darat yang menghubungkan dua pulau besar di Jepang itu (pulau Shikoku dan Honshu), melalui jembatan Shimanami Kaido. Aku klik Hiroshime University, klik lagi Fakultas Farmasi, dan klik lagi ke bidang yang aku mau, lalu ketemulah nama satu profesor. Dengan gambling aku menge-mail Profesor tersebut dengan menyertakan CV dan menyampaikan keinginanku untuk belajar di bawah supervisinya dan aku sampaikan bahwa aku sedang akan apply sebuah scholarship dan membutuhan “Letter of Acceptance” beliau. Alhamdulillah, singkat cerita, beliau mau dan mengirimkan surat yang kubutuhkan, tinggal kemudian aku apply ke scholarship yang menawarkan waktu itu yaitu Hitachi.

Cara yang sama aku lakukan dengan profesor lain dari Universitas lain, ketika apply scholarship yang lain, dan beliau juga mau memberikan surat kesediaannya menjadi supervisor seandainya aku berhasil mendapatkan scholarship tersebut. Waktu itu aku mendapatkan profesor dari Tokushima University, yang masih satu pulau dengan Ehime. Alhamdulillah, aku gagal dalam mendapatkan dua scholarship tersebut. Dan, waktu itu aku memang belum banyak pengalaman dan wawasan, jadi ya aku menerima saja. Gagal kok alhamdulillah ? hehe….. Ya, aku beryukur karena ternyata kegagalan ini membawaku ke jalan yang lain menuju negeri Sakura. Kali ini suamiku turun tangan. Di Ehime University memang tidak ada Fakultas Farmasi, tetapi ada Fakultas Kedokteran. Dan di sana ada ilmu yang cukup dekat dengan ilmu kefarmasian yaitu Ilmu Farmakologi. Jadilah suamiku diantar oleh temannya yang sudah lama tinggal di Jepang mencoba menemui sang Profesor Farmakologi sambil membawa CV-ku. Setelah mengetahui bahwa suamiku sudah belajar di Jepang dengan beasiswa Monbusho dan setelah mempelajari CV-ku, singkat cerita beliau menerimaku untuk belajar di sana. Aku di sana diterima sebagai “foreign researcher” yang akan bekerja di labnya, dan bukan sebagai students yang harus bayar tuitition. Untuk itu nanti aku akan digaji dari Lab, yang jumlahnya tidak banyak, tapi cukuplah, karena aku toh nanti bisa hidup dari beasiswa suami.

 Bag 3: Langsung Program S3

Prof Maeyama pake sweater biru tua (duduk paling kanan), disebelahnya adalah Prof. Beaven, tamu dari Amerika saat itu. Sebelahnya lagi ada Elizabeth, mahasiswa S1 dari Swedia yang lagi magang di lab. Yang manis berkerudung putih adalah aku sendiri hehe.....

Semula aku mencari scholarship untuk program Master, karena waktu itu aku memang baru S1. Tapi ternyata di Ehime University aku malah bisa langsung program S3. Kok bisa ? Jadi ceritanya, di Fak Kedokteran Ehime Univ memang tidak ada Program S2, karena di sana dokter menyelesaikan kuliahnya selama 4 + 2 tahun, yang setara dengan program Master, jadi hanya ada program S3 untuk postgraduate-nya. Nah, untuk program S3, di Ehime Univ ada kesempatan untuk memperoleh PhD secara “by research” (tidak perlu ada kuliah, dan tidak perlu menjadi students). Syaratnya adalah memiliki period of research selama 8 tahun, risetnya nanti harus dipublikasikan secara internasional, dan sesuai aturannya, tentu harus mengikuti “entrance examination” untuk resmi masuk program S3, serta harus ikut ujian disertasi untuk mempertahankan disertasinya. Karena aku sudah resmi jadi dosen Fak Farmasi per 1 Maret 1993, dan telah melakukan kegiatan penelitian selama kurun waktu itu yang aku lampirkan dalam CV-ku, maka pada Maret 1998 (ketika aku pertamakali datang ke Ehime), aku dianggap telah “completing 5 years of research period”, sehingga aku tinggal perlu 3 tahun lagi untuk memenuhi syarat program S3 di Ehime. Inilah keberuntunganku yang pertama (alhamdulillah). Jadilah aku belajar disana, di Department of Pharmacology, Fac of Medicine, Ehime University. Profesorku, Prof Kazutaka Maeyama, sangat baik dan perhatian. Singkat cerita, alhamdulillah, aku bisa menyelesaikan risetku dengan baik, mempublikasikan beberapa publikasi internasional selama di sana dalam kurun waktu 3 tahun, dan menyelesaikan ujian disertasi dengan baik. Sehingga, aku dan suami bahkan bisa selesai dalam waktu yang bersamaan. Ia ujian disertasi bulan Pebruari, aku bulan Maret. Kami pulang ke Indonesia pada awal April 2001 menggondol gelar PhD.

 

 Bab 4: Honey moon dan hikmah di balik krismon
Keberuntunganku kedua adalah aku jadi bisa hidup bersama suami di Jepang. Padahal semula aku membayangkan bahwa mungkin aku harus hidup terpisah dari suami karena kami belajar di kota yang berbeda. Alhamdulillah, ternyata malah bisa bareng. Datang ke Jepang dijemput suami, sampai sana tinggal masuk apartemen yang sudah disiapkan, sudah tidak perlu “thingak-thinguk” lagi karena sudah ada “guide” untuk hidup sehari-hari. Malah rasanya kaya honey moon saja, karena cuma hidup berdua, sekasur berdua hehe…. Selain urusan penelitian masing-masing, kami sering gunakan waktu untuk jalan-jalan baik di dalam kota atau keluar kota, bahkan keluar pulau dan ke luar negeri. Ke luar negeri berangkat dari Jepang membawa uang yen rasanya lain lho….. hehe…. nggak terlalu berhitung kalau mau beli-beli sesuatu.

Bagaimanapun, ada harga yang harus kami bayar. Yaitu kerinduan pada anak yang aku tinggal di rumah eyangnya ketika aku harus berangkat ke Jepang. Umurnya waktu itu baru 1 tahun 2 bulan. Masih menyusu ASI. Kebayang kan, aku sampai nangis bombay…… sedih banget meninggalkan si kecil, sampai sering terbawa mimpi di awal-awal hidupku di Jepang. Setiap malam nelpon ke Indonesia hanya untuk menanyakan kabarnya.

Di sisi lain, tahun 1998, terjadi peristiwa bersejarah di tanah air, yaitu mundurnya Presiden Soeharto dan awal era reformasi. Aku hanya menyaksikan hiruk pikuk itu dari jauh, dan ketika Pak Harto menyampaikan pengunduran dirinya, aku hanya lihat dari TV di lab ditemani teman-teman satu lab. Mata uang rupiah terjun bebas, nilai yen melejit, yang dulu tahun 1997 ketika suamiku berangkat berkisar 20-21 rupiah, meningkat menjadi 60-70 rupiah. Yah, maafkan aku, teman, kalau aku seolah-olah tertawa di atas penderitaan bangsaku (ceilee..)…… soalnya aku justru mendapatkan keberuntungan berikutnya, yaitu nilai tabunganku jadi meningkat karena kami menyimpan dalam mata uang yen. Yang ketika dibawa ke tanah air rasanya jadi banyaak sekali, yang tak pernah terbayang bisa memilikinya jika kami tidak sempat berada di negeri sakura dan hanya mengandalkan gaji PNS yang takseberapa….

Bag akhir: Penutup
Nah, begitulah kisah lika-liku perjalananku selama belajar di negeri orang. Terasa sekali bahwa keberhasilanku lebih banyak karena kemurahan Allah semata, bukan karena prestasi akademik yang menjulang, tapi lebih karena keberuntungan. Orang bodoh itu biasanya kalah dengan orang pintar. Orang pintar kalah dengan orang tekun. Tapi orang pintar dan tekun seringkali kalah dengan orang beruntung hehe…….. “Bejo” kalau orang Jawa bilang. Dan aku tidak berhenti bersyukur atas  semua kesempatan yang diberikan Allah ini kepadaku. Alhamdulillah. Semoga dengan selalu bersyukur, Allah akan memberikan kenikmatan lebih banyak lagi kepada kita. Amien. Tentu aku juga berterimakasih pada berbagai pihak yang telah melancarkan program belajarku saat itu, temasuk para petinggi Fakultas waktu itu.

 

Saking terkesannya aku dengan rasa keberuntungan ini, maka ketika anak kedua kami lahir setahun setelah kami pulang ke tanah air, aku menyisipkan kata “Faza” pada namanya, yang berasal dari bahasa Arab yang artinya beruntung. Semoga itu menjadi doa baginya, untuk menjadi seorang yang selalu beruntung. Amien. Tentu bukan nama “Bejo” yang aku sematkan, karena kayaknya kurang estetis untuk nama seorang cewek. Bejowati ? ….. Hmm… kurang manis!