Ketika toilet jadi sasaran: Overactive bladder alias beser…

25 03 2011

Dear kawan,

” O genki desu ka?” begitulah orang Jepang kalau menyapa kawannya saat bertemu. Kalau diterjemahkan secara harfiah, maka itu menjadi “ Apakah Anda sehat?” Kali ini aku ingin menyapa kawan-kawan juga… “ Halo, kawan, sehat-sehat kaan?…Hm…sudah pipis berapa kali hari ini?”

Iiih… pertanyaannya kok aneh…..hehe…  Ya, tulisan kali ini adalah untuk memenuhi sebuah request dari pembaca blog ini yang lagi sering beser (alias sering pipis-pipis)….  Gangguan ini secara medis disebut Overactive Bladder (OAB). Memang bukan penyakit mematikan,… tapi menyebalkan, dan kadang memalukan…hehe..! Dan frekuensi pipis sehari bisa menjadi indikator terjadinya OAB.  Barangkali ada juga kawan lain yang sedang mengalami… Kita simak yuk!

Fungsi normal kandung kemih

Kandung kemih adalah bagian dari system uriner manusia. Setiap kali kita makan dan minum, tubuh menyerap cairan. Ginjal kemudian menyaring produk limbah dari cairan tubuh kita dan membuat urin, yang disimpan dalam kandung kemih. Kandung kemih bisa mengembang jika terisi urin, dan akan berkontraksi untuk mengosongkannya (ketika kita pipis).

Kandung kemih (bladder) akan berkontraksi ketika sudah penuh

Urusan urinasi ini melibatkan peran otak dan otot.  Ketika kandung kemih kita penuh, saraf di kandung kemih akan mengirim sinyal ke otak. Volume urin dalam kandung kemih sebanyak 300 ml sudah dapat memicu sinyal ini ke otak. Otak akan menginterpretasikan sinyal  tersebut dan menterjemahkannya sebagai perasaan “kebelet pipis”  yang akan membawa kita ke toilet itu melepaskan beban hidup tadi hehe…… Apa yang terjadi di toilet? Pada saat kita sudah siap di toilet, otak akan mengirimkan pesan ke otot kandung kemih yang disebut otot detrusor untuk berkontraksi memeras kandung kemih.  Pada saat yang sama, otak juga memberitahu otot sphincter yang mengelilingi saluran kemih untuk relaksasi sehingga kita akan melepaskan air seni dari kandung kemih…. Biasanya otot detrusor akan dalam keadaan relaksasi selama proses pengisian kandung  kemih sehingga penuh dan dan baru  akan berkontraksi pada proses pembuangan. Otak kita bisa melakukan kontrol terhadap kandung kemih sehingga kita hanya pipis saat kita menginginkannya, atau bahkan kita juga bisa menahannya jika situasi memang tidak memungkinkan untuk pipis…  (paling tidak kita bisa nahan pipis sampai kandung kemih kita berisi maksimal 600 ml urin).

Beser…kenapa tuh?

Otot bladder berkontraksi walaupun kendung kemih belum penuh, menyebabkan berkali-kali kebelet pipis..

Kalau seseorang bolak-balik pipis dalam sehari, sampai lebih dari 8 kali sehari, maka itu sudah tergolong beser dan mungkin ada sesuatu yang salah terjadi dalam system urinasi. Secara medis, keadaan ini disebut sebagai “overactive bladder (OAB)”.  OAB terjadi jika otot destrusor terlalu sering kontraksi  tanpa sengaja (involuntarily), sehingga menyebabkan perasaan “kebelet pipis”, bahkan ketika kandung kemih sebenarnya belum penuh. Dalam beberapa kasus, kadang bisa juga urin keluar tanpa sengaja. Dalam hal ini terjadi gangguan dalam kontrol terhadap urinasi.
OAB ditandai dengan beberapa gejala berikut : kebelet pipis dan peningkatan frekuensi buang air kecil (lebih dari 8 kali selama periode 24 jam,  termasuk dua kali atau lebih di malam hari). Kejadian ini bisa disertai (walaupun tidak selalu) dengan ngompol karena adanya dorongan untuk pipis yang tidak tertahan.

Umumnya kejadian OAB lebih banyak dijumpai pada wanita ketimbang pria, dan terjadi pada usia yang lebih tua, walaupun tidak tertutup kemungkinan juga terjadi pada pria muda…. (kayak yang request hehe…… pisss…!!)

Apa penyebab OAB?

Penyebab OAB tidak selalu dapat diketahui dengan jelas. Namun ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya gangguan fungsi otot detrusor sehingga menyebabkan OAB. Beberapa penyebab yang mungkin antara lain adalah : pembesaran prostat (Benign prostatic hyperplasia), kerusakan saraf yang disebabkan oleh cedera atau trauma pada panggul atau rongga perut, adanya batu pada kandung kemih, efek samping obat-obat tertentu, gangguan neurologis lain (Parkinson, stroke, multiple sclerosis, dll), dan kanker prostat. Untuk memastikan penyebabnya, tentu diperlukan pemeriksaan yang lengkap oleh dokter spesialis, seperti ahli urologi.  Lalu, tergantung pada jenis dan kemungkinan penyebab inkontinensianya, ada sejumlah tes yang bisa dilakukan, antara lain:
Urinalysis:  Contoh urin  akan dipelajari terhadap adanya darah, infeksi, atau kondisi abnormal lainnya.
USG: Suatu teknik medis untuk menentukan ukuran dan bentuk ginjal, kandung kemih, dan kelenjar prostat.
Pengukuran Post-Void Residual: Pengujian untuk menentukan apakah ada urin di kandung kemih setelah  pasien mencoba untuk mengosongkannya sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kateter atau melalui USG.
Cystoscopy:  suatu instrumen kecil dimasukkan ke dalam kandung kemih melalui uretra sehingga dokter dapat melihat bagian dalam kandung kemih.
Stress Test:  Tes ini adalah untuk mempelajari fungsi otot baik dan sfingter kandung kemih. Hal ini dapat menentukan apakah kandung kemih bisa terisi penuh dan normal.
X-Ray Test:  Hal ini bisa menentukan derajat perubahan posisi kandung kemih dan uretra selama kegiatan normal seperti batuk, mengejan, atau berkemih.

Gimana pengatasannya?

Jika terdiagnosa OAB, jangan keburu putus asa atau berkecil hati.  Jika penyebabnya telah diketahui, tentu dokter akan mengatasi berdasarkan penyebabnya. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi atau mengurangi OAB, antara lain terapi perilaku, obat dan olahraga atau kombinasi dari terapi.
1. Pelatihan kandung kemih (bladder training). Pelatihan ini dilakukan untuk membantu kandung kemih dapat menahan pipis dengan lebih baik. Misalnya pasien selalu pipis sekali setiap jam. Maka mereka diminta melatih kandung kemihnya untuk menahan pipis lebih lama, misalnya 1,5 jam, dan selanjutnya bisa diperpanjang lagi. Usahakan pula tidak minum minuman yang memicu diuresis seperti kopi, juga jangan minum banyak sebelum tidur. Tapi ingat, kita tetap harus minum sejumlah normal setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh.

2. Latihan Otot panggul atau dikenal sebagai latihan Kegel. Latihan ini dapat memperkuat otot-otot sekitar kandung kemih agar bisa menahan pipis lebih lama. Anda dapat mengencangkan otot-otot yang digunakan untuk berhenti dari buang air kecil. Tahan otot di posisi diperketat selama 4-10 detik. Selanjutnya, kendurkan otot-otot untuk lama waktu yang sama. Frekuensi latihan ini dapat ditingkatkan selama beberapa minggu.

3. Obat-obatan. Ada sejumlah obat yang bisa digunakan untuk mengobati OAB. Obat-obat ini harus diperoleh dengan resep dokter, dengan berbagai mekanismenya. Ada yang bekerja  mencegah kontraksi otot detrusor kandung kemih yang tidak diinginkan. Ada yang bekerja mengendurkan otot sehingga membantu untuk mengosongkan kandung kemih secara  lebih lengkap. Dan ada pula yang  dapat mengencangkan otot-otot kandung kemih dan uretra untuk mengurangi kebocoran.

Obat yang dipakai untuk mengobati OAB antara lain adalah obat golongan antimuskarinik (misalnya, oxybutynin klorida [Ditropan ®], tolterodine [Detrusitol ®, Detrol LA ®]) dan obat-obat baru, seperti trospium klorida (Sanctura ®), darifenacin (Enablex ®), solifenacin (Vesicare ®), dan fesoterodine fumarat (Toviaz ™).  Obat-obat ini bekerja merelaksasi  otot polos kandung kemih, mengurangi kontraksi detrusor dan sehingga mencegah “ngompol”, sering dalam waktu 2 minggu. Obat-obat ini digunakan secara per-oral, biasanya diminum sekali sehari, untuk kandung kemih terlalu aktif.

Efek samping obat golongan ini meliputi: mulut kering, sembelit, sakit kepala, penglihatan kabur, mata kering, hipertensi, mengantuk, retensi urin dan terjadi pada sekitar 20% dari mereka yang menggunakan obat ini. Obat ini harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal, hati, perut, dan masalah kencing. Karena meningkatnya risiko glaukoma sudut sempit, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis mata dulu sebelum menggunakan obat OAB. Wanita yang sedang hamil tidak boleh menggunakan obat-obatan ini tanpa konsultasi dokter.  Toviaz ™ tersedia dalam tablet extended-release. Dosis biasa obat adalah 4 mg, yang dapat ditingkatkan sampai 8 mg jika perlu.

Oxybutynin transdermal (Oxytrol ®) adalah obat OAB dalam bentuk sediaan plester yang tipis (patch) yang ditempelkan pada kulit perut atau pinggul, dua kali seminggu. Oxybutynin akan dilepaskan secara perlahan dan terus-menerus melalui kulit ke dalam aliran darah (3.9 mg/hari) dan mengurangi gejala untuk sampai 4 hari, dan memungkinkan dosis dua kali seminggu.

Pada bulan Januari 2009, oxybutynin klorida gel (Gelnique ™) mendapat persetujuan FDA untuk mengobati OAB. Gel ini diterapkan sekali sehari pada kulit paha, perut, atau bahu dan memberikan dosis konsisten oxybutynin melalui kulit selama 24 jam. Efek samping dari Gelnique termasuk reaksi kulit, mulut kering, dan infeksi saluran kemih (ISK).

 4. Pembedahan. Tindakan ini dapat memperbaiki masalah seperti sumbatankandung kemih, misalnya akibat pembesaran prostat atau batu pada kandung kemih. Hal ini juga dapat memposisikan kandung kemih sehingga tidak menabrak bagian lain tubuh, memperbesar kandung kemih, dan membuat otot lemah menjadi kuat. Dokter bedah juga dapat menanamkan suatu perangkat kecil yang menggunakan saraf untuk mengontrol kontraksi kandung kemih

Penutup

Demikian kira-kira sekilas info tentang beser atau OAB….. Sebaiknya diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosa yang pasti, terkait dengan penyebabnya, sehingga dapat dilakukan pengatasan yang sesuai. Ada baiknya juga untuk mengurangi tertawa terbahak-bahak, karena kadang itu juga memicu kontraksi kandung kemih dan menyebabkan ngompol…. Cukup senyum simpul saja dan tetap happy…. dan itu malah lebih maniiis…!

Iklan




Mengenal Kojic Acid: Sang Pencerah (kulit)…

1 03 2011

Dear kawan,

Kojic acid

Di sebuah tempat perawatan kecantikan kulit, aku pernah menanyakan bahan aktif apa yang digunakan dalam whitening cream produknya…. Aku mendapat informasi bahwa bahan aktifnya adalah kojic acid. Kebetulan beberapa waktu yang lalu, seorang kawan me-request tulisan tentang kojic acid. Keliatan seperti mahluk asing yaa……. mungkin bahkan ada yang baru pernah dengar namanya, padahal jangan-jangan telah menggunakannya melalui produk-produk krim pemutih wajah. Baiklah, aku mencoba menuliskannya sekarang…

 Apakah kojic acid itu dan kegunaannya?

Kojic acid, atau asam kojat, memiliki nama kimia 5-hydroxy-2-hydroxymethyl-4-pyrone. Asam kojic banyak digunakan sebagai bahan pemutih pada produk-produk kosmetik dengan konsentrasi penggunaan maksimum 1%. Asam ini adalah  metabolit jamur yang biasa diproduksi oleh banyak spesies Aspergillus, Acetobacter, dan Penicillium. Awalnya ditemukan di Jepang pada tahun 1990-an pada proses fermentasi beras, misalnya pada pembuatan sake. Asam ini memiliki banyak kegunaan, tidak hanya sebagai bahan dalam produk kecantikan, tetapi juga digunakan dalam masakan Jepang.

 Bagaimana ia bisa menjadi agen pemutih kulit?

Asam kojic ternyata memiliki efek sebagai inhibitor kompetitif dan reversible pada oksidase polifenol baik pada tanaman maupun hewan, yaitu menghambat tirosinase, yang mengkatalisis perubahan tirosin menjadi melanin. Asam kojic menghambat melanosis dengan cara mengganggu  pengambilan oksigen yang diperlukan untuk proses “pencoklatan’ (browning) secara enzimatik. Metode spektrofotometri dan kromatografi menunjukkan bahwa asam kojic  mampu mengurangi o-kuinon menjadi diphenols untuk mencegah terbentuknya hasil akhir yaitu pigmen melanin.  Karena itulah ia banyak digunakan sebagai agen pencerah kulit dalam preparat kosmetik dan dermatologis lainnya.  

Kegunaan lain?

Asam kojic juga memiliki sifat insektisida karena efek penghambatan pada tirosinase  serta kemampuannya untuk berinteraksi dengan o-kuinon dari katekolamin, sehingga mencegah proses sclerotization. Karena sifat penghambatannya pada berbagai oksidase, asam kojic juga telah digunakan secara komersial selama bertahun-tahun di Jepang sebagai bahan tambahan makanan, misalnya sayuran segar, kepiting, dan udang, untuk mempertahankan kesegaran mereka (antioksidan) dan menghambat perubahan warna. Selain itu, asam kojic juga digunakan sebagai  pengawet, sebagai antioksidan untuk lemak dan minyak, dan agen pengatur pertumbuhan tanaman untuk meningkatkan produksi, mempercepat pematangan, dan meningkatkan rasa manis. Asam kojic juga memiliki sifat antimikroba lemah dan aktif terhadap beberapa strain bakteri umum pada pengenceran dari 1:1.000 sampai1:2.000.

Apakah aman?

Sebagai agen pemutih kulit, asam kojic tidak bersifat karsinogenik. Namun demikian beberapa orang yang kulitnya sensitif dilaporkan mengalami semacam dermatitis kontak, sejenis alergi kulit  yang ditandai dengan  gatal  kemerahan, iritasi. Untuk itu, kadang dalam krim yang mengandung asam kojic, dapat juga ditambahkan bahan lain sebagai anti alergi yaitu kortikosteroid topikal. Asam kojic ini menjadi semakin popular dan meningkat penggunaannya karena memiliki keamanan lebih baik dari pendahulunya yaitu hidroquinon. Bagi mereka yang sensitif terhadap asam kojic tentu perlu mempertimbangkan penggunaannya.

Bagaimana penggunaannya?

Produk asam kojic paling sering digunakan untuk penggunaan topical (kulit), dalam bentuk lotion, krim, atau serum.  Dosis yang dianjurkan relatif kecil, dengan konsentrasi maksimum sebesar 1%. Namun untuk mengurangi kemungkinan efek samping, produk kosmetik pencerah kulit dapat menggunakan konsentrasi sekitar  0,2%. Selain krim, kojic acid juga dapat dijumpai dalam bentuk sabun, bahkan sediaan injeksi.  Tentu saja, kita juga harus mempertimbangkan bagaimana senyawa ini akan bereaksi dengan tubuh. Mereka yang mengalami kepekaan mungkin perlu untuk menggunakannya lebih jarang dan mengevaluasi kembali penggunaannya.

Demikian sekilas info. Semoga bermanfaat.





Rhinitis alergi

2 12 2010

Dear kawan,

Paparan alergen dapat memicu rhinitis alergi

Pernah ngga kalian bersin-bersin dengan hidung meler ketika menghirup sesuatu misalnya debu, serbuk sari, atau bulu binatang? Kemudian mungkin hidung dan mata terasa gatal? Hidung buntet? Mata berair? Kalau iya, mungkin Anda menderita rhinitis alergi. Apa itu rhinitis alergi? Tulisan di bawah ini membahas tentang rhinitis alergi.

Apa itu rhinitis alergi?

Rhinitis berasal dari kata “rhino” yang artinya hidung, dan “itis” yang artinya peradangan. Jadi rhinitis adalah gangguan peradangan pada selaput mukosa/lendir hidung. Sedangkan alergi adalah penyebabnya. Jadi rhinitis alergi adalah peradangan selaput lendir hidung karena alergi. Istilah lainnya dalam bahasa Inggris adalah “hay fever”. Apa ada rhinitis yang bukan karena alergi? Ya, ada. Rhinitis bisa juga disebabkan karena hipersensitivitas saraf-saraf di sekitar hidung, misalnya terhadap perubahan cuaca, perubahan kelembaban udara, dll. Rhinitis jenis ini disebut rhinitis vasomotor. Rhinitis jenis ini tidak mempan diobati dengan obat anti alergi.

Apa yang terjadi pada rhinitis alergi?

Rhinitis alergi diawali dengan proses alergi, di mana ketika seseorang secara tidak sengaja menghirup suatu alergen (misalnya serbuk sari bunga, debu, jamur, bulu, dll), maka tubuh akan berespon menghasilkan senyawa kimia yang disebut histamin dari sel mast. Histamin akan beraksi pada reseptornya yang berada di saluran nafas (hidung) dan sekitarnya, menyebabkan gejala-gejala seperti tersebut di atas.

Apakah rhinitis alergi bersifat menurun? Hm…. sifat alergi sendiri bersifat menurun. Tetapi jenis alergi yang diturunkan bisa bervariasi. Seorang dengan rhinitis alergi mungkin akan memiliki anak dengan alergi kulit (eksim), atau asma, atau alergi yang lain.

Bagaimana mengetahui apakah kita alergi atau tidak?

Seorang dengan riwayat alergi mungkin bisa mengidentifikasi kapan atau pada kondisi apa ia mengalami reaksi alergi. Umumnya ketika diperiksakan ke dokter, dokter akan menanyakan apakah ada riwayat alergi keluarga, macam alergi yang dialami, dan macam alergen yang diketahui. Selain itu, untuk memastikan apakah seseorang benar menderita alergi, akan disarankan pemeriksaan dengan skin test. Skin test adalah suatu uji dengan menyuntikkan di bawah kulit atau menggoreskan beberapa jenis alergen pada kulit. Biasanya dilakukan pada kulit lengan bawah atau punggung (untuk anak-anak). Kemudian diperiksa apakah pasien memberikan respon positif terhadap alergen tertentu. Dari test itu, sekaligus bisa dipastikan macam alergen yang sensitif bagi pasien. Jika dokter menentukan bahwa Anda tidak dapat menjalani tes kulit, tes darah tertentu juga dapat membantu diagnosis. Tes ini mengukur tingkat zat tertentu yang terkait dengan alergi, yang disebut imunoglobulin E (IgE). Hitung darah lengkap (Complete Blood Count), khususnya jumlah eosinofil, juga dapat membantu mengungkapkan ada-tidaknya alergi.

Apa pengobatannya?

Pengobatan terbaik adalah untuk menghindari alergen. Mungkin tidak bisa untuk sepenuhnya menghindari semua alergen yang memicu, tapi setidaknya kita dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi paparan alergen. Selain menghindari alergen, ada berbagai obat tersedia untuk mengobati rhinitis alergi. Obat mana yang diresepkan dokter tergantung pada jenis dan beratnya gejala, usia, dan apakah ada kondisi medis lain (seperti asma). Obat-obat untuk rhinitis alergi antara lain adalah:

Antihistamin

Antihistamin bekerja dengan baik untuk mengobati gejala alergi, terutama bila gejala tidak sering terjadi atau tidak berlangsung lama. Antihistamin terdapat dalam berbagai jenis dan merk, dan dapat digolongkan menjadi antihistamin generasi pertama dan kedua. Antihistamin generasi pertama contohnya CTM, prometazin, difenhidramin, mepiramin, yang bersifat sedatif (menyebabkan kantuk). Obat-obat ini bisa dibeli tanpa resep, dan dapat digunakan untuk gejala ringan sampai sedang. Pemberian obat golongan ini perlu dipertimbangkan jika pasien harus berada dalam keadaan waspada/terjaga, misalnya anak-anak yang harus belajar di sekolah, atau orang yang bekerja sebagai sopir atau menjalankan mesin, karena obat-obat ini bisa mengganggu pekerjaannya dengan sifatnya yang membuat kantuk. Antihistamin yang lebih baru, yang digolongkan generasi kedua, relatif tidak menyebabkan kantuk, atau sedikit menyebabkan kantuk. Beberapa ada yang bisa dibeli bebas, sebagian ada yang harus dibeli dengan resep dokter. Contoh obat-obat golongan ini antara lain fexofenadine, terfenadin, setirizin, loratadin, desloratadin, dll, dengan berbagai nama paten. Ada pula antihistamin dalam bentuk semprot hidung, yang berisi azelastin.

Kortikosteroid

Untuk rhinitis alergi yang berat, kadang diperlukan lebih dari antihistamin, yaitu obat golongan kortikosteroid. Kortikosteroid dalam bentuk semprotan hidung merupakan pengobatan yang paling efektif untuk rhinitis alergi. Obat ini digunakan dalam jangka panjang untuk mencegah kekambuhan, tetapi juga dapat digunakan untuk jangka waktu yang lebih singkat. Banyak merek yang tersedia, dan cukup aman untuk anak-anak dan orang dewasa.

Dekongestan

Dekongestan adalah golongan obat untuk mengatasi gejala-gejala seperti hidung tersumbat. Obat ini terdapat dalam bentuk semprotan hidung, misalnya adalah nafazolin, tetrahidrozolin, oksimetazolin, dll, tetapi sebaiknya tidak digunakan lebih dari 3 hari. Hati-hati dengan semprotan hidung yang mengandung pengawet benzalkonium klorida, karena dapat memperburuk gejala. Dekongestan oral yang bersifat sistemik juga bisa digunakan, seperti fenilefrin, pseudoefedrin, atau fenilpropanolamin.

Imunoterapi

Jika obat-obat tadi sifatnya hanya mengurangi gejala (tidak bisa menghilangkan sama sekali sifat alerginya), maka imunoterapi adalah pengobatan yang bersifat menghilangkan sifat sensitivitas tubuh terhadap alergen. Caranya, tubuh disuntik dengan larutan alergen secara teratur dengan dosis yang makin meningkat, sampai tubuh bisa beradaptasi terhadap alergen dan tidak lagi memberikan respon alergi. Namun terapi semacam ini membutuhkan komitmen yang tinggi, karena memerlukan waktu yang panjang, ketekunan menjalani terapi, dan biaya yang cukup besar.

Gitu dulu ya, kawan…. sekedar pencerahan tentang rhinitis alergi.





Penggunaan obat off-label : apa dan mengapa?

17 07 2010

Dear kawan,

Pernah dengar ngga bahwa sertralin (suatu obat anti depresan) bisa digunakan untuk mengatasi ejakulasi dini pada pria? Atau bahwa ketotifen (suatu anti histamin) sering diresepkan sebagai perangsang nafsu makan untuk anak-anak? Atau amitriptilin (suatu obat anti depresi juga) dipakai untuk mengobati nyeri neuropatik? Ini adalah contoh-contoh penggunaan off-label. Apa tuh penggunaan obat off-label?

Obat Off-label

Penggunaan obat off-label adalah penggunaan obat di luar indikasi yang disetujui oleh lembaga yang berwenang. Lembaga berwenang itu kalau di Amerika adalah Food and Drug Administration (FDA), sedangkan di Indonesia adalah Badan POM. Tetapi karena umumnya obat-obat yang masuk ke Indonesia adalah obat impor yang persetujuannya dimintakan ke FDA, maka bisa dibilang bahwa indikasi yang dimaksud adalah indikasi yang disetujui oleh FDA.

Perlu diketahui bahwa sebelum obat dipasarkan, mereka harus melalui uji klinik yang ketat, mulai dari fase 1 sampai dengan 3. Uji klinik fase 1 adalah uji pada manusia sehat, untuk memastikan keamanan obat jika dipakai oleh manusia. Uji klinik fase 2 adalah uji pada manusia dengan penyakit tertentu yang dituju oleh penggunaan obat tersebut, dalam jumlah terbatas, untuk membuktikan efek farmakologi obat tersebut. Uji klinik fase 3 adalah seperti uji klinik fase 2 dengan jumlah populasi yang luas, biasanya dilakukan secara multi center di beberapa kota/negara. Jika hasil uji klinik cukup meyakinkan bahwa obat aman dan efektif, maka produsen akan mendaftarkan pada FDA untuk disetujui penggunaannya untuk indikasi tertentu.  

Mengapa obat digunakan secara off-label?

Satu macam obat bisa  memiliki lebih dari satu macam indikasi atau tujuan penggunaan obat. Jika ada lebih dari satu indikasi, maka semua indikasi tersebut harus diujikan secara klinik dan dimintakan persetujuan pada FDA atau lembaga berwenang lain di setiap negara. Suatu uji klinik yang umumnya berbiaya besar itu biasanya ditujukan hanya untuk satu macam indikasi pada keadaan penyakit tertentu pula. Nah… seringkali,…  ada dokter yang meresepkan obat-obat untuk indikasi-indikasi yang belum diujikan secara klinik.  Itu disebut penggunaan obat off-label. Atau bisa jadi, obat mungkin sudah ada bukti-bukti klinisnya, tetapi memang tidak dimintakan approval kepada lembaga berwenang karena berbagai alasan (misalnya alasan finansial), maka penggunaannya juga dapat digolongkan penggunaan obat off-label.

Penggunaan obat-obatan off-label cukup banyak terjadi. Seperlima dari semua obat yang diresepkan di Amerika adalah bersifat off-label. Dan pada obat-obat untuk gangguan psikiatrik, penggunaan obat off-label meningkat sampai 31%.  Contohnya risperidon, yang diindikasikan sebagai obat antipsikotik untuk pengobatan penyakit skizoprenia/sakit jiwa, banyak digunakan untuk mengatasi gangguan hiperaktifitas dan gangguan pemusatan perhatian pada anak-anak, walaupun belum ada persetujuan dari FDA untuk indikasi tersebut. Selain itu, uji klinik biasanya tidak dilakukan terhadap anak-anak, sehingga diduga 50-75% dari semua obat yang diresepkan oleh dokter anak di AS adalah berupa penggunaan off-label, karena memang indikasinya untuk penggunaan pada anak-anak belum mendapat persetujuan FDA.

Mengapa dokter meresepkan obat off-label?

Bisa jadi karena obat-obat yang tersedia dan approved tidak memberikan efek yang diinginkan, sehingga dokter mencoba obat yang belum disetujui indikasinya. Beberapa alasannya antara lain adalah adanya dugaan bahwa obat dari golongan yang sama memiliki efek yang sama (walaupun belum disetujui indikasinya), adanya perluasan ke bentuk yang lebih ringan dari indikasi yang disetujui, atau perluasan pemakaian untuk kondisi tertentu yang masih terkait (misalnya montelukast untuk asma digunakan untuk Penyakit paru obstruksi kronis), dll. Atau memang dokternya ingin coba-coba walaupun belum ada bukti klinik yang mendukung.

Penggunaan obat off-label yang sering terjadi adalah pada pengobatan kanker. Sebuah studi tahun 1991 menemukan bahwa sepertiga dari semua pemberian obat untuk pasien kanker adalah off-label, dan lebih dari setengah pasien kanker menerima sedikitnya satu obat untuk indikasi off-label. Sebuah survei pada tahun 1997 terhadap sebanyak 200 dokter kanker oleh American Enterprise Institute dan American Cancer Society menemukan bahwa 60% dari mereka meresepkan obat off-label. Hal ini karena umumnya uji klinik untuk obat kanker dilakukan pada satu jenis kanker tertentu, sehingga indikasi yang disetujui adalah hanya untuk jenis kanker tertentu. Tetapi kenyataannya, dokter sering mencoba obat kanker tersebut untuk jenis kanker yang lain yang belum disetujui penggunaannya. Maka ini termasuk juga penggunaan obat off-label.

Apa saja contoh penggunaan obat off-label?

Penggunaan obat off-label sendiri ada dua jenis. Yang pertama, obat disetujui untuk mengobati penyakit tertentu, tapi kemudian digunakan untuk penyakit yang sama sekali berbeda. Misalnya amitriptilin yang disetujui sebagai anti depresi, digunakan untuk mengatasi nyeri neuropatik. Yang kedua, obat disetujui untuk pengobatan penyakit tertentu, namun kemudian diresepkan untuk keadaan yang masih terkait, tetapi di luar spesifikasi yang disetujui. Contohnya adalah Viagra, yang diindikasikan untuk mengatasi disfungsi ereksi pada pria, tetapi digunakan untuk meningkatkan gairah sexual buat pria walaupun mereka tidak mengalami impotensi atau disfungsi ereksi.

Beberapa contoh lain penggunaan obat off-label antara lain adalah:

  • Actiq (oral transmucosal fentanyl citrate), digunakan secara off-label untuk mengatasi nyeri kronis yang bukan disebabkan oleh kanker, meskipun indikasi yang disetjui oleh FDA adalah untuk nyeri kanker.
  • Carbamazepine, suatu obat anti epilepsi, banyak dipakai sebagai  mood stabilizer
  • Gabapentin, disetujui sebagai anti kejang dan neuralgia (nyeri syaraf) post herpes, banyak dipakai secara off-label untuk gangguan bipolar, tremor/gemetar, pencegah migrain, nyeri neuropatik, dll.
  • sertraline, yang disetujui sebagai anti-depressant, ternyata banyak juga diresepkan off-label sebagai pengatasan ejakulasi dini pada pria.

Golongan obat yang sering digunakan secara off-label

Dan masih banyak lagi, yang mungkin pada satu negara dengan negara lain terdapat jenis-jenis penggunaan obat off-label yang berbeda. Beberapa golongan obat populer yang sering dipakai off-label antara lain adalah obat-obat jantung, anti kejang, anti asma, anti alergi, dll. seperti tertera dalam gambar.

Apa pentingnya mengetahui ini?

Penggunaan obat off-label sah-sah saja dan seringkali bermanfaat. Bisa jadi bukti klinis tentang efikasinya sudah ada, tetapi belum dimintakan approval kepada lembaga berwenang karena berbagai alasan. Tetapi perlu diketahui juga bahwa karena obat ini digunakan di luar indikasi yang tertulis dalam label obat, maka jika obat memberikan efek yang tidak diinginkan, produsen tidak bertanggung-jawab terhadap kejadian tersebut. Kadang pasien juga tidak mendapatkan informasi yang cukup dari dokter jika dokter meresepkan obat secara off label. Dan jika terdapat penggunaan obat off-label yang tidak benar, maka tentu akan meningkatkan biaya kesehatan. Faktanya banyak penggunaan obat off-label yang memang belum didukung bukti klinis yang kuat. Lebih rugi lagi adalah bahwa obat-obat yang diresepkan secara off-label umumnya tidak dicover oleh asuransi, sehingga pasien harus membayar sendiri obat yang belum terjamin efikasi dan keamanannya.

Bagi sejawat apoteker, pengetahuan tentang obat-obat off-label sangat penting untuk memahami pengobatan seorang pasien. Jika dijumpai suatu obat yang nampaknya tidak sesuai indikasi, sebaiknya tidak serta merta menyatakan bahwa pengobatan tidak rasional (atau malah bengong karena bingung… hehe), karena bisa jadi ada bukti-bukti klinis baru mengenai penggunaan obat tersebut yang belum dimintakan persetujuan dan masih dalam tahap investigational. Sejawat apoteker perlu memperluas wawasan dan selalu meng-update pengetahuan mengenai obat-obat baru maupun bukti-bukti klinis baru yang sangat cepat perkembangannya.

Demikian sekilas info, semoga bermanfaat.





Kapan waktu minum obat yang tepat?

3 04 2010

Dear kawan,

Kali ini aku coba sajikan tulisan ringan tentang kapan waktu minum obat yang tepat. Semoga bermanfaat.

 Untuk mendapatkan efek obat yang optimal, obat harus diminum pada waktu yang tepat. Tepat bisa terkait dengan sebelum atau sesudah makan, atau terkait dengan waktu pagi, siang, atau malam. Beberapa obat mungkin bisa diminum setiap saat tanpa mempengaruhi efeknya, sedangkan obat lain sebaiknya diminum pada saat-saat tertentu. Mengapa ada obat yang harus diminum sebelum atau sesudah makan? Pada umumnya orang berpendapat bahwa sebaiknya sebelum minum obat harus makan dulu sebagai “alas”. Tapi benarkah demikian ? Tidak, begini penjelasannya.

Obat adalah suatu senyawa kimia yang memiliki aneka sifat dan efek. Ketika obat diminum, tentu akan melewati lambung dan masuk ke dalam usus. Sebagian kecil obat diserap di lambung, dan sebagian besar adalah di usus halus yang permukaannya sangat luas. Pada dasarnya obat-obat dapat diserap dengan baik dan cepat jika tidak ada gangguan di lambung maupun usus, misalnya berupa makanan. Obat dapat berinteraksi dengan makanan. Uniknya, ada obat-obat yang penyerapannya terganggu dengan adanya makanan, ada yang justru terbantu dengan adanya makanan, dan ada yang tidak terpengaruh dengan ada/tidaknya makanan. Hal ini akan menentukan kapan sebaiknya obat diminum, sebelum atau sesudah makan. Tapi jangan salah, yang dimaksud dengan sebelum makan adalah ketika perut dalam keadaan kosong. Sedangkan sesudah makan adalah sesaat sesudah makan, ketika perut masih berisi makanan, jangan lewat dari 2 jam. Kalau lebih dari dua jam setelah makan, makanan sudah diolah dan diserap, kondisinya bisa disamakan dengan sebelum makan. Antibiotika eritromisin dan amoksisilin misalnya, dan analgetika parasetamol, akan diserap lebih baik jika tidak ada makanan, sehingga lebih baik jika diminum sebelum makan. Sedangkan obat anti epilepsi fenitoin, atau obat hipertensi propanolol misalnya, akan terbantu penyerapannya dengan adanya makanan, sehingga sebaiknya diminum sesudah makan. Selain interaksi dengan makanan secara umum, obat tertentu dapat berinteraksi secara khusus dengan senyawa tertentu dari makanan. Contoh terkenal adalah antibiotika tetrasiklin. Tetrasiklin dapat berikatan dengan senyawa kalsium membentuk senyawa yang tidak dapat diserap oleh tubuh, sehingga mengurangi efek tetrasiklin. Jadi jika tetrasiklin diminum bersama susu, atau suplemen vitamin-mineral yang mengandung kalsium, efek tetrasiklin bisa jadi berkurang. Selain tetrasiklin, ada juga antibiotika golongan kuinolon, seperti siprofloksasin, ofloksasin, yang juga bisa mengikat logam-logam bervalensi dua atau tiga, seperti kalsium, magnesium, dan aluminium. Karena itu, sebaiknya tidak minum obat ini bersama-sama dengan obat-obat yang mengandung logam2 tersebut seperti pada komposisi obat maag (antasid). Jika terpaksa harus menggunakan obat maag (antasid) bersamaan dengan antibiotika tetrasiklin atau golongan kuinolon, sebaiknya diberi selang waktu sedikitnya 2 jam.

Selain interaksinya dengan makanan, sifat suatu obat juga menentukan kapan sebaiknya obat diminum. Beberapa obat tertentu dapat mengiritasi lambung sehingga menyebabkan tukak lambung, atau memperparah sakit maag. Contoh terkenal obat yang termasuk golongan ini adalah aspirin/asetosal, kortikosteroid (deksametason, hidrokortison, dll), dan obat-obat antiradang seperti diklofenak, piroksikam, dll yang sering digunakan untuk obat rematik. Obat-obat ini harus diminum sesudah makan.

Kapan sebaiknya minum obat: pagi, siang atau sore/malam?

Waktu terbaik untuk minum obat tergantung pada jenis obatnya. Di bawah ini adalah waktu minum obat berdasarkan golongan penggunaannya.

1. Obat diabetes dan penguat jantung

Waktu yang terbaik adalah pukul 4:00 – 5:00 pagi.  Tubuh manusia paling sensitif terhadap insulin pada pukul 4-5 pagi, sehingga jika diberikan pada saat itu, efeknya paling baik, walaupun dalam dosis lebih kecil. Efek obat penguat jantung juga lebih tinggi sampai 10-20 kali pada jam tersebut dibandingkan waktu-waktu yang lain. Hal ini karena tubuh manusia juga paling sensitif terhadap digitalis. Ini secara teoritis, mungkin pada prakteknya bisa sedikit bergeser waktunya, misalnya pukul 6 pagi.

2. Obat diuretik (pelancar air seni)

Paling baik digunakan pada pukul 7 pagi. Sangat penting untuk menggunakan obat pelancar seni pada waktu yang tepat karena itu terkait dengan fungsi ginjal dan hemodinamik. Selain itu juga pada umumnya pasien dalam keadaan terjaga, sehingga tidak mengganggu waktu tidur. Obat seperti hidroklortiazid memiliki efek samping yang lebih rendah jika dipakai pada pukul 7 pagi.

3. Penurun tekanan darah (anti hipertensi)

Waktu yang paling baik adalah pada pukul 9-11 pagi. Riset menunjukkan bahwa tekanan darah mencapai angka paling tinggi pada pukul 9-11 pagi, dan paling rendah pada malam hari setelah tidur. Sehingga secara umum, sebaiknya obat antihipertensi diminum pada pagi hari. Perlu hati-hati jika obat anti hipertensi diminum malam hari karena mungkin terjadi penurunan tekanan darah yang berlebihan pada saat tidur.

4. Anti asma

 Waktu yang terbaik adalah pada pukul 3-4 sore. Hal ini karena pada saat itu produksi steroid tubuh berkurang, dan mungkin akan menyebabkan serangan asma pada malam hari. Karena itu, jika steroid dihirup sore hari, diharapkan akan mencegah serangan asma pada malamnya.

5. Anti anemia

Waktu yang paling baik adalah pukul 8 malam. Penggunaan obat anemia seperti Fe glukonat atau Fe sulfat, dll memberikan efek 3-4 kali lebih baik pada waktu itu daripada jika diberikan pada siang hari.

6. Obat penurun kolesterol

Waktu yang paling baik adalah pada pukul 7-9 malam, karena memberikan efek lebih baik.

Namun sekali lagi, paparan di atas adalah panduan umum waktu minum obat. Jika sudah ada aturan pakai dari Apotek, maka gunakan sesuai waktu yang dianjurkan. Satu hal lagi yang penting dalam waktu minum obat adalah interval minum obat.

Perhatikan interval waktu minum obat

Selain waktu minum seperti dipaparkan di atas, penting pula memperhatikan interval waktu minum obat. Maksudnya, jika obat diminta untuk diminum 2 kali sehari, maka interval waktu yang tepat adalah 12 jam. Jadi, jika obat diminum jam 7 pagi, waktu minum obat selanjutnya adalah pukul 7 malam, jangan diminum pagi dan siang. Mengapa? Ini terkait dengan ketersediaan obat di dalam tubuh. Tujuan obat diminum dua kali atau tiga kali, atau yang lain, adalah untuk menjaga agar kadar obat dalam tubuh berada dalam kisaran terapi, yaitu kadar obat yang memberikan efek menyembuhkan. Hal ini tergantung pada sifat dan jenis obatnya. Ada obat yang cepat tereliminasi dari tubuh karena memiliki waktu-paro (half life) pendek, ada yang panjang. Obat yang memiliki waktu paro pendek perlu diminum lebih kerap, sedangkan jika waktu paronya panjang bisa diminum dengan interval lebih panjang, misalnya 1 kali sehari. Nah, jika obat yang mestinya diminum 2 kali sehari diminum pagi dan siang (jarak hanya 6 jam), maka mungkin dapat menumpuk kadarnya dalam tubuh yang bisa memberikan efek tidak diinginkan, sementara interval waktu minum berikutnya menjadi terlalu panjang yang memungkinkan kadar obat dalam darah sudah minimal sehingga tidak berefek.

Demikianlah sekilas info tentang waktu minum obat untuk bisa mendapatkan hasil yang optimal dari penggunaan obat.





Rumor tentang Aspartam, is that true?

7 03 2010

Dear kawan,

struktur kimia aspartam

Kemarin aku mendapat pertanyaan dari seorang teman melalui e-mail tentang aspartam. Aku kutipkan sesuai aslinya :

Selamat malam, aku merasa penasaran atas “tumbang”nya beberapa teman yg mengkonsumsi minuman kesehatan yg ternyata menggunakan ASPARTAM. Ada kemudian muncul selebaran daftar makanan dan minuman yg menggunakan bahan tersebut. Mulai dari Extrajoss, Kiranti, dlsb. Yg menjadi pertanyaan, sampai seberapa amankah bila kita mengkonsumsinya? Adakah batasan2nya? Benarkah bisa menyebabkan pengeringan sumsum tulang belakang? Efek apa bila kita mengkonsumsi? Kiranya saya bisa mendapatkan jawaban dari anda.

(editan pd tgl 14 Januari 2014: Bahkan barusan di wall Face Book seorang kawan, tertulis statusnya : Ikatan Dokter Indonesia (IDI), menginformasikan bahwa saat ini sdg ada wabah Pengerasan Otak (Kanker Otak), Diabetes dan Pengerasan Sumsum Tulang Belakang (Mematikan sumsum tulang belakang). Untuk itu, hindarilah minuman sbb: Extra Joss, M-150, Kopi SusuGelas (Granita), Kiranti, Krating Daeng, Hemaviton, Neo Hema viton, Marimas, Segar Sari shachet, Frutillo, Pop Ice, Segar Dingin Vit.C, Okky Jelly Drink, Inaco, Gatorade, Nabati, Adem Sari, Naturade Gold, Aqua Splash Fruit. Karena ke-19 minuman tsb diatas mengandung ASPARTAME (lebih keras dr biang gula) racun yg menyebabkan diabetes, kanker otak, dan mematikan sumsum tulang. [Info: dr.H.Ismuhadi,MPH 0811323601]. Wah, berarti rumor atau hoax yang dulu beredar lagi.)

Hm,….. tidak mudah untuk segera menjawab, karena harus mencari sumber informasi yang benar-benar obyektif dan dapat dipercaya. Salah satu petunjuknya adalah jika ia berasal dari lembaga resmi Pemerintah, institusi pendidikan yang kredibel, atau jurnal2 terpercaya (walaupun tetap ada kemungkinan keliru, tapi sudah berusaha mencari data yang sevalid mungkin).

Apakah aspartam itu?

Aspartam adalah pemanis buatan yang tersusun dari 2 macam asam amino yaitu asam aspartat dan fenilalanin. Ia ditemukan pada tahun 1965 oleh James Schslatte sebagai hasil percobaan yang gagal. Asam aspartat dan fenilalanin sendiri merupakan asam amino yang menyusun protein. Khusus asam aspartat, ia juga merupakan senyawa penghantar pada sistem saraf (neurotransmiter). Aspartam, dikenal juga dengan kode E951, memiliki kadar kemanisan 200 kali daripada gula (sukrosa), dan banyak dijumpai pada produk-produk minuman dan makanan/permen rendah kalori atau sugar-free. Nama dagang aspartam sebagai pemanis buatan antara lain adalah Equal, Nutrasweet, Canderel, Tropicana Slim, dll.

Aspartam masuk pasar Amerika sejak tahun 1981 dan di Inggris pada tahun 1982, setelah kajian (review) mengenai keamanannya oleh Badan Pemerintah yang berwenang di masing-masing negara. Sebelum disetujui oleh FDA (Food and Drug Administration), semacam Badan POMnya Amerika, keamanan aspartam telah diuji melalui lebih dari 100 kajian ilmiah, baik pada manusia maupun hewan uji. Hingga saat ini, FDA belum mengubah keputusannya, dan menyetujui aspartam sebagai pemanis buatan yang aman.

Apa keunggulan aspartam?

Seperti banyak peptida lainnya, kandungan energi aspartam sangat rendah yaitu sekitar 4 kCal (17 kJ) per gram untuk menghasilkan rasa manis, sehingga kalorinya bisa diabaikan, yang menyebabkan aspartam menjadi  sangat populer untuk menghindari kalori dari gula.Hal ini menjadi jalan keluar bagi penderita Diabetes yang masih ingin mencicip makanan manis tapi tidak meningkatkan kadar gula darahnya. Di samping mempunyai energi yang sangat rendah, ia mempunyai cita rasa manis mirip gula, tanpa rasa pahit, tidak merusak gigi, menguatkan cita rasa buah-buahan pada makanan dan minuman, dapat digunakan sebagai pemanis pada makanan atau minuman pada penderita diabetes. Bahkan penggunaan aspartam sebagai pengganti gula juga merupakan alternatif bagi konsumen non-diabetes yang ingin mengurangi asupan kalori untuk menjaga/mengurangi berat badan, dengan tetap masih bisa mencicipi manisnya makanan/minuman.

Seberapa aman kah aspartam?

Kembali ke pertanyaan rekan di atas, tentang “tumbang”nya beberapa temannya yang mengkonsumsi minuman yang mengandung aspartam, aku sendiri belum begitu paham dengan maksudnya “tumbang”. Apakah terjadi secara tiba-tiba, atau karena mengkonsumsi dalam jangka waktu lama, juga bentuk “tumbang”nya seperti apa. Tapi dari segi keamanan, aku coba melihat dari bagaimana aspartam dimetabolisir oleh tubuh. Di antara semua pemanis tidak berkalori, hanya aspartam yang mengalami metabolisme. Tetapi proses pencernaan aspartam juga seperti proses pencernaan protein lain. Aspartam akan dipecah menjadi komponen dasar, dan baik aspartam maupun komponen dasarnya tidak akan terakumulasi dalam tubuh. Jadi, kembali ke pertanyaan teman di atas, sebenarnya aspartam cukup aman dipakai, karena dia dipakai dalam kadar yang sangat kecil (1% dari gula) dan akan dikeluarkan oleh tubuh. Aspartam bahkan dinyatakan aman digunakan baik untuk penderita kencing manis, wanita hamil, wanita menyusui, bahkan anak-anak.

Satu-satunya kondisi yang dikontraindikasikan bagi aspartam adalah penyakit fenilketouria. Apa itu? Dalam keadaan normal, fenilalanina (salah satu komponen aspartam) akan diubah menjadi tirosin dan dibuang dari tubuh. Pada orang yang mengalami gangguan fenilketouria, terdapat gangguan dalam proses ini. Penyakit ini diwariskan secara genetik, di mana tubuh tidak mampu menghasilkan enzim pengolah asam amino fenilalanin, sehingga menyebabkan kadar fenilalanin yang tinggi di dalam darah, yang berbahaya bagi tubuh. Timbunan fenilalanin dalam darah dapat meracuni otak dan menyebabkan keterbelakangan mental. Karena itu, aspartam dikontraindikasikan bagi penderita fenilketouria.

Apa batasan-batasannya?

Seperti halnya bahan tambahan makanan lainnya, ada dosis tertentu yang dapat diterima penggunaannya, yang sering disebut sebagai Acceptable Daily Intake, atau ADI, yaitu perkiraan jumlah bahan tambahan makanan yang dapat digunakan secara rutin (setiap hari) dengan aman. Dalam hal aspartam, angka ADI-nya adalah 40 mg per kg berat badan. Berarti sekitar 2800 mg untuk berat rata-rata orang Inggris dewasa. Dan untuk anak-anak usia 3 tahun, angka ADI-nya berkisar 600 mg. Selama belum melebihi dosis tersebut, keamanannya cukup terjaga.

Efek samping aspartam?

Banyak berita-berita di internet yang menyebutkan bahwa aspartam menyebabkan pengeringan sumsum tulang belakang dan Lupus, dan berbagai efek samping lainnya. Itu semua TIDAK BENAR. Istilah pengeringan atau pengerasan sumsum tulang belakang sendiri tidak dikenal dalam dunia medis. Apalagi dikatakan dalam beberapa sumber di internet bahwa terjadi WABAH, yang tentu ini kurang masuk akal. Wabah adalah peningkatan kejadian suatu penyakit, seperti wabah demam berdarah, wabah kolera, yang disebabkan oleh adanya peningkatan pencetus. Apalagi jika dikaitkan dengan penyebabnya adalah minuman yang mengandung aspartam… apakah ada peningkatan secara dramatis jumlah konsumsi produk minuman/makanan mengandung aspartam?… tidak ada data yang pasti.

Dalam hal Lupus, tak kurang Yayasan Lupus Amerika (Lupus Foundation of America) juga membantah bahwa ada kaitan antara penggunaan aspartam dengan Lupus. Tahun 2007, keamanan aspartam sempat dpertanyakan kembali ketika satu tim peneliti dari Italia melaporkan bahwa aspartam dapat meningkatkan risiko kanker. Namun demikian, setelah dikaji kembali oleh the European Food Safety Authority (EFSA) dan FDA (Amerika), dinyatakan bahwa belum ada perubahan rekomendasi mengenai keamanan aspartam karena data yang ada belum cukup mendukung penemuan tersebut. Artinya, aspartam tetap aman digunakan. Infonya juga bisa dilihat pada website resmi National Cancer Institute  bahwa TIDAK ADA hubungan antara kejadian kanker dengan konsumsi aspartam. Banyak kemungkinan karsinogen lain yg bisa mencetuskan kanker.  Selain itu, konsumsi minuman beraspartam kan juga tidak setiap hari, dan dosis yang digunakan relatif kecil, sehingga efek samping yang dikuatirkan sebenarnya tidak sering terjadi. Tentu ada respon individual terhadap aspartam yang mungkin terjadi pada beberapa orang, tapi itu tidak bisa digeneralisir.

Namun demikian ada baiknya untuk berhati-hati dengan tidak terlalu banyak mengkonsumsi produk-produk dengan pemanis buatan. O,ya, aku bukan penjual aspartam, tidak punya hubungan keluarga maupun bisnis dengan produsen aspartam…. 🙂   Yang kusampaikan sekedar apa yang kuketahui, supaya kita lebih berhati-hati menanggapi aneka berita yang beredar, dan mengajak kawan-kawan untuk bersikap kritis dan analitis. Demikian apa yang bisa disampaikan tentang aspartam, semoga bermanfaat.





Melawan mabuk perjalanan…

1 01 2010

Dear kawan,

Selamat tahun baru yaa…… Wish the best for you all…

Tulisan ini menjadi tulisan pertamaku di tahun 2010. Dan aku yakin pasti banyak yang lagi liburan dan mengisinya dengan perjalanan ke tempat wisata atau ke rumah saudara yaa… . Aku sendiri hari ini akan melakukan perjalanan ke Purwokerto nih, my home town, menjemput anak-anak yang lagi liburan di rumah eyangnya.  Sebelum berangkat aku sempatkan menulis ini sebentar.

Ngomong-ngomong tentang perjalanan, ada tuuh..yang  jadi musuh. Iya, … mabuk kendaraan atau mabuk perjalanan. Aduh, sebel banget kan kalo punya kebiasaan mabuk kendaraan alias motion sickness.

 Apa itu mabuk jalan alias motion sickness?

Kalau mengacu dari istilahnya dalam bahasa Inggris, motion = gerakan, maka mabuk jalan ini adalah suatu sickness (penyakit, gangguan) yang disebabkan oleh adanya gerakan. Penyakit ini merupakan gangguan yang terjadi pada telinga bagian dalam (labirin) yang mengatur keseimbangan, dan disebabkan karena gerakan yang berulang, seperti gerak ombak di laut, pergerakan mobil, perubahan turbulensi udara di pesawat, dll.

Mengapa gerakan bisa menyebabkan motion sickness?

Gerakan dirasakan oleh otak melalui 3 jalur pada sistem saraf, yang akan mengirim signal dari telinga bagian dalam (perasaan terhadap gerakan, percepatan, gravitasi), dari mata (penglihatan), dan jaringan lebih dalam pada permukaan tubuh manusia (yang disebut proprioceptors). Ketika tubuh digerakkan dengan sengaja, misalnya kita jalan, input dari ketiga jalur tadi akan dikoordinasikan oleh otak. Ketika terjadi gerakan yang tidak disengaja, seperti ketika mengendarai mobil, kadang otak tidak bisa mengkordinasikan ketiga input tadi dengan baik. Adanya konflik dalam koordinasi 3 input tadi diduga menyebabkan orang merasa mabuk jalan atau motion sickness, dengan gejala mual, pusing, sampai muntah. Konflik input dalam otak ini diduga melibatkan level neurotransmiter yaitu histamin, asetilkolin, dam norepinefrin. Karena itu, obat yang bekerja melawan motion sickness adalah obat yang mempengaruhi atau menormalkan lagi level neurotransmiter ini di otak.

Bagaimana pengatasan motion sickness?

Walaupun ada 3 neurotransmiter yang terlibat, tetapi saat ini obat yang paling sering dipakai untuk mengatasi mabuk jalan adalah antihistamin. Obat ini bekerja memblok reseptor histamin di otak yang berada di chemoreceptor trigger zone (CTX) yang mengkoordinasikan input2 tadi. Obat ini bisa mencegah mual, muntah, dan pusing akibat mabuk jalan. Antihistamin yang sering dipakai adalah dimenhidrinat (ada berbagai nama paten), namun demikian bisa juga digunakan obat antihistamin lainnya. Obat sebaiknya diminum sebelum perjalanan dimulai. Bisa juga sih menggunakan antimuskarinik seperti beladonna atau scopolamin, tapi ini adalah obat lama yang sudah jarang dipakai.

Bagaimana caranya mencegah atau meminimalkan motion sickness?

Jika Anda termasuk yang gampang mabuk perjalanan, ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan untuk mencegah mabuk jalan:

1. Naiklah kendaraan di bagian di mana mata Anda akan melihat gerakan yang sama dengan yang dirasakan oleh tubuh (jadi jangan duduk menghadap ke belakang misalnya, atau di samping, yang tidak searah dengan gerakan mobil). Kalau di mobil atau bus, duduklah di depan dan lihat pemandangan. Kalau di kapal, pergilah ke dek dan melihat gerakan horizon. Kalau di pesawat, duduklah dekat jendela dan melihat keluar. Juga duduklah di bagian dekat sayap, di mana gerakan terasa paling minimal.

2. Jangan membaca di perjalanan

3. Jangan melihat atau bicara dengan orang lain yang juga gampang mabuk jalan

4. Hindari bau-bauan yang kuat, makanan yang berbumbu tajam, terutama sebelum dan selama perjalanan.

5. Gunakan obat anti mabuk. Ada studi melaporkan bahwa jahe bisa mengurangi mabuk jalan, jadi bisa juga dicoba minum wedang jahe atau mengulum permen jahe, walaupun mungkin hasilnya akan bervariasi antar orang.

Demikian, selamat berjalan-jalan….

Jangan lupa oleh-olehnya yaa….