Mengapa dekstrometorfan sering disalahgunakan?

15 03 2009

Dear kawan,

Alhamdulillah, sebuah perjalanan telah dilalui dengan selamat. Pagi tadi aku pergi ke Salatiga memenuhi undangan teman sejawat untuk memberi materi pada pertemuan Rakerda ISFI Jawa Tengah. It was nice,…. ketemu teman-teman lama dan para sejawat (senior maupun junior) yang masih penuh semangat memperjuangkan keharuman nama profesi apoteker.

Perjalanannya sendiri cukup lancar, cuaca cerah mengiringi kepergian dan kepulanganku. Kegagahan gunung Merapi dan Merbabu terlihat sangat jelas sampai ke puncaknya. Baru pertama kali lho aku melihat Merapi dengan sangat jelas dari sisi timur laut. Jalan-jalan dihiasi oleh kibaran bendera aneka parpol dan poster wajah-wajah caleg yang berharap dicontreng pada Pemilu nanti…. oh!

Acara Rakerdanya sendiri cukup ramai. Hanya saja, karena acara sedikit mundur, waktuku untuk berbicara lumayan terbatas. Tapi nggak apalah. Aku bersama sejawat Pak Partana yang ahli hukum berada pada satu sesi diskusi panel. Aku meninjau dari sisi farmakoterapi (seperti permintaan panitia), dan Pak Partana dari sisi hukumnya.

Ada satu pertanyaan dari sejawat yang terasa olehku sendiri tidak memuaskan jawabannya karena keterbatasan waktu dan ilmu. Untuk itu aku ingin mencoba mengupas lagi dalam posting ini. Sejawat Santi menceritakan bahwa penyalahgunaan Dekstrometorfan (DMP) akhir-akhir ini meningkat. Pertanyaannya, mengapa ia sering disalahgunakan?

Dekstrometorfan (DMP) adalah suatu obat penekan batuk (anti tusif) yang dapat diperoleh secara bebas, dan banyak dijumpai pada sediaan obat batuk maupun flu. Dosis dewasa adalah 15-30 mg, diminum 3-4 kali sehari. Efek anti batuknya bisa bertahan 5-6 jam setelah penggunaan per-oral. Jika digunakan sesuai aturan, jarang menimbulkan efek samping yang berarti.

Dalam seminar tadi, aku menyebut desktrometorfan adalah sejenis senyawa opiat,namun lemah. Sebagian literatur memang menyebutnya demikian. Secara kimia, DMP (D-3-methoxy-N-methyl-morphinan) adalah suatu dekstro isomer dari levomethorphan, suatu derivat morfin semisintetik. Walaupun strukturnya mirip narkotik, DMP tidak beraksi pada reseptor opiat sub tipe mu (seperti halnya morfin atau heroin), tetapi ia beraksi pada reseptor opiat subtipe sigma, sehingga efek ketergantungannya relatif kecil. Pada dosis besar, efek farmakologi DMP menyerupai PCP atau ketamin yang merupakan antagonis reseptor NMDA. DMP sering disalahgunakan karena pada dosis besar ia menyebabkan efek euforia dan halusinasi penglihatan maupun pendengaran. Intoksikasi atau overdosis DMP dapat menyebabkan hiper-eksitabilitas, kelelahan, berkeringat, bicara kacau, hipertensi, dan mata melotot (nystagmus). Apalagi jika digunakan bersama dengan alkohol, efeknya bisa sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian.

Penyalahguna DMP menggambarkan adanya 4 plateau yang tergantung dosis, seperti berikut:

 

 

Plateau

Dose (mg)

Behavioral Effects

1st

100–200

Stimulasi ringan

2nd

200–400

Euforia dan halusinasi

3rd

300– 600

Gangguan persepsi visual dan hilangnya koordinasi motorik

4th

500-1500

Dissociative sedation

 

Peran apoteker

Nah, untuk itu memang sejawat apoteker perlu mulai mewaspadai dan mengontrol ketat penggunaan obat-obat ini. Di banyak negara, penyalahgunaan DMP banyak dilaporkan, dan DMP banyak dikombinasi dengan obat-obat adiktif lain. Sampai saat ini memang belum ada regulasi yang mengatur penggunaan DMP, termasuk di Amerika. Namun dengan peningkatan penyalahgunaan DMP, lembaga berwenang di Amerika yaitu DEA (Drug Enforcement Administration) sedang mereview kemungkinan untuk melakukan kontrol terhadap penggunaan DMP. Infonya bisa ditengok pada http://www.deadiversion.usdoj.gov/drugs_concern/dextro_m/dextro_m.htm. Saya rasa kita pun harus memulainya.

Penutup

Begitulah, kawan, ….. mudah-mudahan bermanfaat. Dan kayaknya sekarang aku sedikit beralih profesi menjadi “wanita panggilan”…. hehe… Dalam bulan ini sudah ada dua undangan lagi menanti untuk menjadi pembicara di acara sejawat apoteker di Cilacap dan Solo. Buat sejawat di Salatiga, terimakasih oleh-oleh dan souvenir lukisannya… Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.





Melawan keloid dengan steroid

12 02 2009

Dear temans,

Ada yang pernah atau masih punya keloid ? itu lho…. Kulit yang menebal, biasanya terjadi pada bekas luka gores atau luka bakar. Posting kali ini mencoba membahas keloid dan pengobatannya. Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan teman kampung halamanku, mas Yuswantoro. Thanks for the idea.

 

Apa sih keloid itu?

Keloid atau jaringan parut terjadi karena tidak seimbangnya produksi protein kolagen pada proses penyembuhan luka. Pertumbuhannya melebihi yang dibutuhkan untuk menutup luka. Keloid ini bisa tumbuh terus tak terbatas, kadang ada yang gatal atau nyeri. Keloid dapat dihasilkan dari berbagai jenis luka, termasuk luka garukan, injeksi, gigitan serangga, tatoo, dll. Setiap orang dapat mengalami keloid dan keloid itu juga bisa terjadi di berbagai tempat dalam tubuh. Namun biasanya, orang yang muda dan mereka yang berkulit lebih gelap lebih mudah kena keloid, dan keloid itu lebih sering dijumpai pada bagian tertentu tubuh, seperti : mata, dada, bahu, dan punggung. Seorang yang punya keloid lebih mudah mengalami hal serupa di masa datang, karenanya ia perlu berhati-hati.

Ada jenis lain dari keloid yang disebut Hypertrophic scars. Keloid yang ini biasanya berwarna kemerahan dan lebih tebal, yang kadang terasa gatal atau nyeri. Umumnya juga terjadi pada orang muda dan berkulit lebih gelap.

 

Bagaimana pengobatannya?

Pengatasan keloid dapat dilakukan dengan menggunakan kortikosteroid injeksi untuk melunakkan dan menipiskan jaringan parut ini. Selain itu, bisa juga dilakukan dengan gel silikon, untuk mengurangi ukuran dan menghambat pertumbuhan keloid.

Salah satu jenis obat steroid yang sering dipakai untuk pengatasan keloid adalah injeksi triamsinolon asetonid (paten: Kenacort). Seperti yang pernah ditulis di posting lain dalam blog ini, kortikosteroid adalah suatu hormon yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal,yang memiliki banyak fungsi penting bagi tubuh. Triamsinolon adalah bentuk sintetik dari steroid. Dalam pengatasan keloid, efeknya bisa berlangsung beberapa minggu atau bulan.

 

Bagaimana cara pemberiannya ?

Obat ini diinjeksikan dengan alat suntik yang sesuai langsung ke dalam keloid, dan sangat sedikit yang diabsorbsi ke dalam darah. Injeksi steroid ini mungkin terasa sakit, untuk itu bisa dikurangi sakitnya dengan menempelkan es batu 10 menit sebelum injeksi dilakukan. Dosis yang direkomendasikan adalah berkisar 10-40 mg/ml.

 

Sampai kapan pengobatan diperlukan?

Injeksi dapat dilakukan berulang dengan interval 4-6 minggu sampai 6-10 bulan. Tentunya dokter akan menentukan dari hasil pengobatannya sampai kapan pengobatan harus dilakukan.

 

Apakah ada efek samping?

Efek sampingnya relatif kecil, walaupun komplikasi mungkin terjadi pada 1-5 kasus pada sekitar lokasi injeksi, meliputi : penipisan kulit, hipopigmentasi (kulit jadi memutih), dan timbul bercak merah pada kulit (telangiectasia). Jika terjadi gejala-gejala di atas, segera kontak saja dokternya untuk diberi pengatasan selanjutnya.

Namun demikian, perlu diwaspadai juga adanya efek samping sistemik yang mungkin bisa terjadi, jika obatnya terserap masuk ke dalam darah. Beberapa efek sistemik yang dapat terjadi akibat penggunaan steroid antara lain: moon face (wajah membulat seperti bulan), kadar gula meningkat, hipertensi, osteoporosis, dll. Tapi ini umumnya hanya terjadi jika steroid digunakan dalam jangka waktu lama dengan dosis cukup besar dan digunakan secara sistemik (artinya masuk ke pembuluh darah dan beredar ke seluruh tubuh). Jika hanya digunakan secara local, seperti pada keloid atau pada obat hirup seperti pada obat asma, efek samping ini dapat diminimalkan.

 

Apa alternatif lain pengobatan keloid ?

Beberapa alternatif lainnya adalah dengan kamuflase kosmetik, pembedahan, radioterapi, cryotherapy, dan laser therapy. Tentunya perlu dikonsultasikan dengan dokter bedah plastik Anda.

Nah, begitu saja sekilas info hari ini. Semoga bermanfaat.





Kronoterapi dan kronofarmakologi untuk obat kardiovaskuler

5 02 2009

Mencoba untuk konsisten menulis nih, di sela-sela kepadatan acara yang agak “nggilani” belakangan ini hehe….. Kali ini aku postingkan tentang kronoterapi untuk obat-obat kardiovaskuler.. Kali ini agak ilmiah-ilmiah dikit bahasanya….

Istilah kronoterapi dan kronofarmakologi mungkin bukan istilah sangat baru….. tapi mungkin banyak yang belum mengetahuinya. Apaan tuh ?

Istilah ini merujuk pada suatu pendekatan pemberian terapi/obat yang mempertimbangkan ritme biologis pasien. Seperti diketahui, proses dan fungsi biologis, termasuk fungsi kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) menunjukkan ritme sirkadian (perubahan aktivitas pada siang-malam, selama 24 jam). Maksudnya, fungsi-fungsi itu mengikuti ritme tubuh secara berulang. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa risiko terjadinya angina, infark miokard, dan stroke relatif lebih tinggi pada pagi hari. Hal ini dipengaruhi oleh adanya ritme sirkadian dalam hal volume plasma, tekanan darah, denyut jantung, kebutuhan oksigen oleh otot jantung, koagulasi darah, dan fungsi endokrin, serta adanya pemicu dari faktor lingkungan. Sebagai contoh, tubuh manusia akan memproduksi hormon kortisol (kortikosteroid) paling tinggi pada pagi hari dengan kadar puncak dicapai pada jam 8 pagi. Demikian pula fungsi-fungsi fisiologis lainnya, termasuk saluran pencernaan, jaringan tubuh, dan organ-organ utama lainnya termasuk metabolisme obat, juga mengikuti ritme biologis tertentu, yang mana hal ini dapat mempengaruhi keberadaan obat dalam tubuh. Dengan demikian, suatu obat yang sama dengan dosis yang sama, jika diminum pada pagi dan malam, mungkin akan memberikan efek yang sedikit berbeda, tergantung pada jenis obatnya.

Teknologi baru dalam pengembangan obat perlu memperhatikan kronoterapi, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan keamanan penggunaan obat, dengan mensinkronkan konsentrasi obat dalam 24 jam dengan ritme biologis yang terjadi pada kondisi penyakit tertentu. Sebagai contohnya, pendekatan kronoterapi pada gangguan lambung dilakukan dengan pemberian antagonis reseptor histamin-2 (seperti cimetidin, ranitidin atau famotidin) pada sore hari. Untuk penyakit asma, pemberian obat teofilin lepas lambat pada sore hari dan metilprednisolon pada pagi hari memberikan efek yang lebih menguntungkan. Pemberian obat anti hipertensi verapamil dalam bentuk sediaan lepas terkontrol sekali sehari menjelang tidur malam menghasilkan konsentrasi obat yang tinggi pada pagi hari dan siang, dan berkurang pada malam hari. Studi menunjukkan bahwa cara ini akan memberikan kontrol yang efektif terhadap tekanan darah, termasuk mencegah peningkatan tensi secara drastis di pagi hari, tanpa menyebabkan hipotensi pada malam hari. Terlebih lagi, formulasi ini juga efektif mencegah angina, terutama pada pagi hari ketika risiko terjadinya penyumbatan pembuluh darah jantung paling tinggi. Nah, di bawah ini aku cuplikkan tabel mengenai waktu optimal minum obat, terutama untuk obat-obat kardiovaskuler yang digunakan sekali sehari. Istilah-istilah di sini mungkin agak asing buat teman-teman yang awam…. tapi sesekali gak apa deh…. belajar istilah-istilah medis dan farmasi hehe….. biar jidat agak berkerut dikit… 

Optimal Dosing Time of Common Drugs Acting on Cardiovascular System

Drugs

Optimal dosing time

Patients

Calcium channel blockers

   Isradipine sustained release formulation

Evening

Hypertensive patients with chronic renal failure

   Isradipine sustained release formulation

Regardless of time

Patients with uncomplicated essential hypertension

   Nifedipine GITS

Bedtime

Patients who are non-responders to the initial 30 mg/day dose and in turn receive 60 mg/day dose or patients who want to avoid ADRs (e.g. oedema)

   Nifedipine GITS

Regardless of time

Hypertensive patients receiving 30 mg/day nifedipine GITS

   Amlodipine

Morning

Patients with mild-to-moderate essential hypertension

   Nisoldipine extended release

Morning

Patients with mild-to-moderate essential hypertension

   Cilnidipine

Bedtime

Patients with uncontrollable morning hypertension

   Verapamil extended-release (marketed as Covera-HS®)

Bedtime

Angina or hypertensive patients

   Diltiazem extended release (marketed as Cardizem LA®)

Bedtime

Angina or hypertensive patients

Angiotensin II receptor blockers

   Losartan

Uncertain

 

   Ibesartan

Regardless of time

Patients with uncomplicated, mild-to-moderate essential hypertension

   Olmesartan medoxomil

Regardless of time

Patients with uncomplicated, mild-to-moderate essential hypertension

   Valsartan

Bedtime

Non-dipper hypertensive patients

   Telmisartan

Bedtime

Non-dipper hypertensive patients

   Telmisartan

Morning

Young men with mild or moderate essential hypertension

   Candesartan cilexetil

Awakening

Patients with mild-to-moderate essential hypertension

Angiotensin-converting enzyme inhibitors

   Benazepril

Morning

Patients with primary mild-to-moderate hypertension

   Perindopril

Morning

Patients with primary mild-to-moderate hypertension

   Quinapril

Evening

Patients with primary mild-to-moderate hypertension

   Ramipril

Bedtime

Patients with primary mild-to-moderate hypertension

   Trandolapril

Bedtime

Patients with primary mild-to-moderate hypertension

   Lisinopril

Bedtime

Patients with primary mild-to-moderate hypertension

   Enalapril

Bedtime

Patients with primary mild-to-moderate hypertension

Beta-blocker

   Metoprolol succinate sustained release

Morning

Patients with hypertension, angina pectoris or heart failure

   Carvedilol

Evening

Patients who have been treated with first-line antihypertensive drugs but still had high BP in the morning

   Carvedilol phosphate extended release

Morning

Patients with heart failure, left ventricular dysfunction following myocardial infarction or hypertension

   Propranolol extended release

Bedtime

Patients with hypertension

Antihyperlipidaemic drugs

   Statins with a shorter half-life   (i.e. lovastatin, simvastatin and fluvastatin)

Evening

Patients with hypercholesterolaemia

   Statins with longer half-lives (i.e. fluvastatin   extended release, rosuvastatin and atorvastatin)

Regardless of time

Patients with hypercholesterolaemia

   Pravastatin

Evening

Patients with hypercholesterolaemia

   Atorvastatin

Evening

Patients undergoing PCI

   Ezetimibe

Morning

Patients with primary hypercholesterolaemia

   Ezetimibe/simvastatin tablet

Evening

Patients with primary hypercholesterolaemia

   Fenofibrate retard

Regardless of time

Patients with hypertriglyceridaemia

   Bezafibrate retard

Morning

Patients with hypertriglyceridaemia

   Doxazosin GITS

Morning

Patients with grade 1–2 essential hypertension

Regardless of time

Patients with benign prostatic hyperplasia

   Low-dose aspirin

Bedtime

Patients who are at risk for a cardiovascular and/or cerebrovascular event

   Isosorbide mononitrate sustained-release   formulation (e.g. Elantan LA®, IMDUR®)

Awakening

Patients with angina pectoris

Diuretics

   Indapamide, hydrochlorothiazide

Morning

Patients with essential hypertension

   Torasemide

Bedtime

Patients with essential hypertension

   Once-daily hydrochlorothiazide based   fixed-dose combination

Before 6 PM and preferably   in the morning

Patients with essential hypertension

GITS = gastrointestinal therapeutic system; ADRs = adverse drug reactions; PCI = percutaneous coronary intervention; BP = blood pressure.

Demikian, semoga bermanfaat.





Kapan waktu optimal minum aspirin untuk mencegah stroke?

3 02 2009

Sorry, my dear friends…

sudah beberapa hari tidak nulis nih….. Terlalu banyak yang harus dilakukan dalam satu waktu beberapa hari ini, traffic di otak malah jadi jam… hehe macet. Ketika membuka laptop, bingung… mana dulu yang mau dikerjakan…  Bahkan untuk refreshing ngeblog pun tidak ada daya dan idea…….

Kadang ada “guilty feeling” juga kalo lama gak ngeblog….  jangan-jangan sudah ditunggu-tunggu nih oleh para pembaca setia.. hehe… ge-er banget. Selain itu aku sering hutang jawaban atas beberapa pertanyaan yang masuk, baik via e-mail atau comment pada blog ini. Soriii …. banget deh….

Ada satu pertanyaan dari Mela, yang menanyakan : Apakah ada evidence-based yang menyatakan bahwa aspirin sebagai antiplatelet lebih efektif jika digunakan pada sore hari?

Okey, sebelum aku jawab lebih jauh, mungkin perlu aku jelaskan sedikit tentang aspirin dan antiplatelet…

Pasti kenal kan dengan Aspirin ? Aspirin telah sejak lama dikenal luas sebagai obat penghilang sakit atau analgetik. Namun berbeda dengan analgesic lain seperti parasetamol atau asam mefenamat, aspirin punya keistimewaan nih…. Yaitu pada dosis kecil bisa berfungsi mengencerkan darah. Ia bersifat sebagai anti platelet. Platelet adalah komponen dalam darah yang bertanggungjawab terhadap penggumpalan darah. Misalnya kita luka tergores pisau, maka darah yang mengucur lama-lama akan berhenti karena terjadi pembekuan atau penggumpalan darah. Bayangkan jika platelet tidak bekerja, darah akan mengucur terus tanpa henti… hii….

Nah, tapi platelet ini juga bisa bikin masalah jika ia menyebabkan penggumpalan darah di dalam pembuluh darah. Aliran darah bisa terhambat, bahkan terhenti, dan jadilah penyakit, seperti stroke atau jantung iskemik, dll. Karena itu pada pasien stroke, setelah mendapatkan perawatan, mereka pada umumnya harus mengkonsumsi aspirin sebagai anti penggunmpalan darah untuk mencegah kejadian stroke berikutnya.

Nah, pertanyaannya tadi…. Kapan sebaiknya aspirin sebagai anti platelet digunakan? Pagi atau sore hari? Adakah dukungan uji kliniknya?

Tulisan Zhu et al pada Int J Clin Pract 62 (10):1560-1571, 2008 (http://www.medscape.com/viewprogram/17815_pnt), mengenai pendekatan kronoterapi yang menentukan kapan waktu optimal untuk minum obat, termasuk aspirin, cukup menarik. Aku ambil sedikit informasi dari sana. Intinya, aspirin sebaiknya diminum pada sore hari atau menjelang tidur. DIkatakan bahwa penggunaan aspirin pada menjelang tidur memberikan profil tekanan darah yang lebih baik dan lebih efektif dalam memproteksi tubuh terhadap gangguan kardiovaskuler. Universitas Vigo di Spanyol saat ini sedang menjalankan uji klinik untuk membandingkan efek terapi aspirin jika digunakan pada saat menjelang tidur versus pada saat bangun ( http://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT00725127 ). Kita tungga aja hasilnya nanti.

 

Jadi, minum obat juga ada waktu optimalnya…… mungkin ada baiknya apoteker mempelajari lebih dalam mengenai hal ini, sehingga bisa memberikan saran lebih detail mengenai waktu minum obat kepada pasien, supaya mendapatkan hasil terapi yang optimal.





Bolehkah minum obat melebihi dosis yang dianjurkan?

29 11 2008

Dear netters,

Posting ini saya tulis dan kirim dari Makassar. Hari ini untuk pertama kalinya dalam hidup saya untuk menginjakkan kaki di Makassar. Ceritanya saya diundang untuk menjadi pembicara di sebuah seminar nasional di Fakultas Farmasi Univ Hasanuddin. Wah, naik level nih hehe…. sebelumnya cuma level Jawa Tengah dan DIY, sekarang naik jadi level nasional. Barusan dijamu makan malam menikmati seafood yang lezaaat… dan sekarang sebagai pengantar tidur saya tuliskan postingan ini.

Posting ini menanggapi pertanyaan dari seorang netter, Dedek namanya, yang bertanya seperti di bawah ini. Dan saya sengaja mengangkatnya menjadi satu topik tulisan, semoga bisa bermanfaat buat yang lain.

Tanya :(dikutip sesuai aslinya)

Klu dokter menganjur kan kita minum 1 pil tidur tp kita minum 2-3 apa kira2 efek nya?
Klu sekali2 blh gak ya minum di luar dosis,apa pengaruh nya waktu jangka pendek dan jangka panjang.
Terima kasih byk atas jawaban nya.

Jawab:

Setiap obat memiliki aturan dosis sendiri, yang mana dosis tersebut merupakan dosis terapi atau dosis yang bisa memberikan efek penyembuhan. Dosis sendiri sebenarnya bersifat individual, karena satu orang dengan yang lain mungkin akan memerlukan dosis berbeda karena kondisinya. Katakanlah orang yang mengalami gangguan ginjal atau orang yang sudah lansia sehingga fungsi ginjalnya mulai berkurang, dosis yang dibutuhkan lebih kecil daripada orang dewasa normal. Sedangkan jika penyakit seseorang cukup berat, mungkin ia memerlukan dosis lebih tinggi dari orang lainnya.

Selain dosis terapi, dikenal juga dosis toksik dan dosis letal. Dosis toksik artinya dosis yang bisa memberikan efek toksik/racun, sedangkan dosis letal adalah dosis yang bisa menyebabkan kematian. Jarak antara dosis terapi dengan dosis toksik pada setiap obat berbeda-beda, ada yang rentangnya sempit, ada yang rentangnya lebar. Rentang tadi sering diistilahkan sebagai indeks terapi. Semakin lebar indeks terapi berarti jarak antara dosis terapi dengan dosis toksik semakin lebar. Implikasinya, obat lebih aman, karena peningkatan dosis tidak segera menyebabkan gejala keracunan. Obat-obat penenang/obat tidur termasuk obat yang indeks terapinya lebar. Artinya, jika (mas/mbak) Dedek minum 2-3 butir pil tidur (yang mestinya cukup 1 butir), mungkin belum akan mengakibatkan efek toksik yang berarti. Kecuali jika menggunakan puluhan butir sekaligus, yang mungkin akan mencapai dosis toksiknya sehingga bisa keracunan, dan mungkin bahkan bisa menyebabkan kematian.

Di sisi lain, ada obat yang indeks terapinya sempit. Contohnya adalah obat jantung digoksin dan obat epilepsi fenitoin. Obat ini jika digunakan melebihi dosis yang seharusnya akan lebih cepat mencapai dosis toksiknya, sehingga bisa menyebabkan keracunan atau bahkan kematian. Contoh lain yang gampang adalah obat anti diabetes untuk menurunkan kadar gula darah. Jika mestinya cukup minum satu,  maka jika pasien minum 2 atau 3 mungkin kadar gula darahnya bisa menjadi anjlok di bawah kadar normalnya, dan pasien bisa pingsan karena syok hipoglikemi.  Karena itu harus berhati-hati menggunakan obat dengan indeks terapi sempit, jangan asal menaikkan dosisnya sendiri.

Nah, kembali ke pil tidur atau obat penenang, bagaimana jika kita menggunakan dalam jangka panjang dengan dosis yang berlebih? Obat penenang seperti Valium (diazepam), lorazepam, alprazolam, dan keluarganya dapat menyebabkan efek toleransi. Artinya, tubuh akan membutuhkan dosis yang semakin meningkat untuk mendapatkan efek yang sama. Itu nanti akan menjadi pintu masuk menuju “ketergantungan obat”. Demikian pula obat tidur seperti luminal (fenobarbital), ia juga bisa menyebabkan toleransi. Karena itu, sebaiknya obat digunakan sesuai dengan aturannya. Jika Anda merasa bahwa obat anda belum berefek dan membutuhkan peningkatan dosis, konsultasikan dulu dengan dokter. Jangan-jangan anda memerlukan obat lain yang lebih poten…

Demikian semoga bermanfaat…

Oaahhhem…. aku bisa bobo sekarang….!





Somadryl, “obat kuat” untuk wanita ??

27 11 2008

carisoprodol_2Dear kawan,

Pagi ini ada mahasiswa menghadap untuk konsultasi rencana thesisnya. Salah satu ide yang muncul adalah mengevaluasi penggunaan Somadryl di kalangan wanita PSK (Pekerja Seks Komersial) . What?! Iya, cukup menarik juga karena aku malah baru pernah dengar bahwa di Bali (kebetulan dia seorang apoteker di sebuah apotek di Denpasar), dokter sering meresepkan Somadryl untuk pasien. Apoteknya yang kecil kelarisan dengan Somadryl. Uniknya, yang sering menebus resep tersebut biasanya adalah germo, yang katanya digunakan untuk PSKnya sebagai “obat kuat” wanita. Walah, walah…. kalau pria menggunakan Viagra cs, wanita menggunakan Somadryl.

Apa sebenarnya obat Somadryl itu? (aku pun jadi penasaran… bukan pingin pake lho hehe….. tapi pingin tahu, benarkah efeknya demikian atau hanya sugesti belaka).

Obat bernama paten Somadryl ini nama generiknya adalah carisoprodol. Obat ini digolongkan sebagai obat pelemas otot yang bekerja secara sentral dan digunakan untuk mengatasi nyeri otot. Carisoprodol tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang (paling lama 2-3 minggu), karena belum ada bukti kuat mengenai efektivitasnya jangka panjang.

Efek samping obat ini meliputi beberapa bagian tubuh, antara lain sistem saraf pusat, saluran cerna, dan kardiovaskuler, meliputi : tremor, nervous, pusing, mengantuk, kegelisahan, depresi, mual, muntah, dan jantung berdebar (takikardi). Mekanisme aksi obat ini tidak begitu jelas, tetapi nampaknya mempengaruhi aktivitas saraf di medula spinalis. Metabolitnya yaitu meprobamat memilki efek penenang dan penghilang kecemasan. Melihat semua informasi tentang obat ini (silakan check lagi di http://www.rxlist.com/soma-drug.htm), aku jadi agak bingung juga efek mana yang dimanfaatkan para wanita PSK itu dalam melakukan pekerjaannya…… Mungkin efek penenang dari metabolitnya itu yang diharapkan…..

Yang jelas itu adalah contoh dari penyalahgunaan obat, di mana obat tidak digunakan sesuai dengan indikasinya. Memangnya PSK itu setiap hari selalu mengalami nyeri otot ya?…. Kasihan….! Kalaupun digunakan untuk efek penenangnya, itu pun tidak terlalu tinggi efeknya dibandingkan obat penenang lain yang memang diindikasikan untuk itu. Di satu sisi, aku merasa prihatin, karena aku yakin bahwa para PSK itu melakukan pekerjaannya tentu dengan batin tertekan. Aktivitas seksual yang tidak dari hati itu mungkin yang membuat mereka jadi merasa nyeri, atau otot-otot kewanitaannya tidak bisa relaks, sehingga mereka membutuhkan obat pelemas otot…. Mungkinkah demikian?

Atau jangan-jangan hanya sugesti saja, bahwa dengan Somadryl ini akan membuat mereka lebih “tahan atau kuat” untuk melayani konsumen yang mungkin bisa lebih dari 4 sehari ? Dan mereka menggunakan obat ini dalam jangka waktu lama selama mereka menjadi PSK. Bnayak pula yang kemudian menjadi kecanduan Somadryl. Apakah mereka tidak memikirkan efek samping apa yang mungkin dapat dialami dengan penggunaan obat sembarangan ini dalam jangka panjang? Germonya tentu ngga bakalan mikir, yang penting dapat setoran banyak….

Astaghfirullahal’adziim… berilah mereka jalan keluar yang terbaik untuk hidupnya





Mengenal vitamin lebih dekat…..

24 11 2008

ist2_6475935-vitamin-s-table-with-food-iconsIklan tentang produk multivitamin, baik untuk anak maupun dewasa sangat mudah kita temukan sehari-hari di TV. Benarkah kita memang membutuhkan aneka produk tersebut? Seberapa banyak kita memerlukan vitamin setiap harinya? Darimana kita bisa memperolehnya? Tulisan kali ini akan mengupas tentang vitamin lebih dekat.

Tidak seperti karbohidrat, lemak, atau protein; vitamin tidak menghasilkan energi (kalori), tetapi vitamin sangat vital untuk berbagai reaksi metabolisme dalam tubuh. Vitamin membantu berbagai proses kimia dalam tubuh, termasuk bagaimana mengubah makanan menjadi energi. Ada sedikitnya 13 macam vitamin yang diperlukan untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Mereka terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu vitamin yang larut dalam air (Vit B kompleks dan Vit C) dan yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K).

Vitamin larut dalam lemak : memerlukan adanya lemak untuk bisa diserap dalam tubuh dan kemudian diedarkan seluruh tubuh, dan dapat disimpan dalam (lemak) tubuh. Sedangkan vitamin yang larut dalam air lebih mudah diabsorbsi dan dikeluarkan dari dalam tubuh, dan tidak disimpan dalam tubuh.

Vitamin ditemukan hampir pada semua makanan. Untuk mendapatkan vitamin yang dibutuhkan, makanlah berbagai jenis makanan untuk menu sehari-hari. Masing-masing makanan mengandung satu atau lebih jenis vitamin tertentu dengan jumlah/kandungan yang bervariasi. Jika makanan sehari-hari kita cukup bergizi dan lengkap, tentunya kebutuhan vitamin ini sudah tercukupi, tidak perlu menambah dengan suplemen vitamin lagi, apalagi jika kita (atau anak-anak kita) juga suka minum susu, yang kebanyakan telah diperkaya dengan berbagai vitamin dan mineral. Dan jangan salah, kebanyakan vitamin juga tidak baik, bisa menyebabkan gangguan kesehatan.

Berapa banyak kebutuhan vitamin kita?
Kebutuhan harian vitamin dan mineral untuk setiap individu berbeda, tergantung pada usia dan kondisi khusus, misalnya kondisi sakit atau hamil/menyusui. Pada kondisi sakit, biasanya diperlukan tambahan vitamin, apalagi orang sakit biasanya malas makan. Informasi tentang kebutuhan vitamin dan mineral terutama sangat penting bagi ibu dan calon ibu yang sedang hamil atau merencanakan hamil. Misalnya, kelebihan vitamin A bisa meningkatkan risiko kecacatan bayi, sedangkan penambahan suplemen asam folat dalam jumlah yang tepat dapat mencegah risiko bayi lahir cacat. Di bawah ini adalah daftar nama vitamin, fungsi, sumber, dan kebutuhan hariannya.

Vitamin

Fungsi

Contoh makanan sumber vitamin

Recompriaded Dietary Allowance
(ages 25-50 years)

Vitamin A

memacu pertumbuhan dan perbaikan jaringan, pembentukan tulang,k kulit, dan rambut yang sehat. Penting untuk daya penglihatan dan integritas sistim imun.

Hati, susu, dan produk-produk susu yang diperkaya vitamin A

3330 IU (pria)
2664 IU (wanita)

Beta-carotene (Diubah menjadi Vitamin A di dalam tubuh)

Bertindak sebagai antioksidan, membantu melindungi dari penyakit kanker, katarak, dan jantung.

Wortel, ubi jalar, bayam, labu, brokoli, semangka, apricot

tidak ada RDA

Vitamin D

Membantu absorpsi kalsium, membantu membangun massa tulang dan priacegah keropos tulang. Membantu priajaga kadar kalsium dan fosfor dalam darah.

Sinar matahari, produk susu yang diperkaya dengan vit D, minyak ikan, ikan tuna, ikan salmon.

200 IU (usia 19-51)*
400 IU (usia 51-70)*
600 IU (usia 70+)*

Vitamin E

melindungi sel dari radikal bebas, bertindak sebagai antioksidan, dan membantu melindungi dari penyakit kanker, katarak, dan jantung. Dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan normal.

kacang-kacangan, biji-bijian, gandum, margarin, minyak sayur

14.9 IU (pria)
11.92 IU (wanita)

Vitamin K

Perlu untuk pembekuan darah dan kesehatan tulang.

sayuran hijau, sayuran berdaun, hati

80 mcg (pria)
65 mcg (wanita)

Vitamin B Complex

Thiamin (B1)

Penting untuk mengubah karbohidrat menjadi energi. Diperlukan untuk fungsi mormal sistim saraf dan otot, termasuk otot jantung

Biji gandum, kacang plong, biji bunga matahari

1.2 mg (pria)
1.1 mg (wanita)

Riboflavin (B2)

Membantu pembentukan sel darah merah, funsgi sistim saraf, dan pelepasan energi dari makanan. Diperlukan untuk fungsi penglihatan dan melindungi dari katarak.

Hati, susu, yoghurt, jamur, biji gandum

1.3 mg (pria)
1.1 mg (wanita)

Niacin

Memicu pelepasan energi dari makanan dan perlu untuk fungsi saraf

biji gandum, jamur, ikan tuna, salmon, ayam, daging sapi, ayam, hati, kacang

16 mg (pria)
14 mg (wanita)

Pyridoxine (B6)

Penting untuk metabolisme protein, fungsi saraf dan sistim imun. Terlibat dalam sintesis hormone dan sel darah merah

Hati, tuna, daging, bayam, pisang, kedelai, biji bunga matahari

Pria:
1.3 mg (usia 19-50)
1.7 mg (usia 51+)
Wanita:
1.3 mg (usia 19-50)
1.5 mg (usia 51+)

Asam folat

Diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan saraf dan pembentukan sel darah merah. Mengurangi risiko cacat saraf pada bayi, dan mengurangi risiko sakit jantung

sayuran hijau berdaun, jus jeruk, daging, biji bunga matahari

400 mcg

Vitamin B12

Vital untuk pembentukan darah dan system saraf yang sehat

Makanan dari organ binatang, telur, tiram

2.4 mcg

Biotin

Membantu metabolisme asam lemak dan penggunaan vitamin B

keju, kuning telur, butter kacang, hati

30 mcg*

Asam pantotenat

Membantu petumbuhan dan perkembangan tubuh .

jamur, hati, brokoli, telur (banyak makanan lain mengandung senyawa ini)

5 mg*

Vitamin C

memicu perkembangan sel, penyembuhan luka, dan daya tahan terhadap infeksi. Bertindak sebagai antioksidan, melindungi dari risiko kanker, penyakit jantung, dan katarak. Meningkatkan penyerapan zat besi.

jeruk, strawberry, tomat, brokoli, daun mustard, kobis, asparagus, kentang

60 mg

Nah, sekarang cek konsumsi makanan harian Anda, sudahkah memenuhi unsur-unsur sumber vitamin yang diperlukan? Sebelum memutuskan untuk menambah suplemen, variasikan dulu menu makan Anda, kalau perlu boleh juga traktir saya makan hehe…..

Semoga bermanfaat





Waspadai efek samping obat…

24 11 2008

alternativemedicine

Dear netters,

Anda pernah nggak, habis minum suatu obat kok ada rasa deg-degan (jantung berdebar) atau mulut rasanya kering? Atau jadi sembelit, atau sebaliknya jadi diare? Atau batuk-batuk, mual, dsb ? Jika tidak ada keluhan-keluhan semacam itu sebelum minum obat, kemungkinan besar Anda mengalami efek samping obat. Tapi memang tidak mudah untuk membedakan apakah ini suatu efek samping atau mungkin gejala suatu penyakit lain. Siapa tau kebetulan ada penyakit lain yang muncul bersamaan dengan kita minum suatu obat tertentu yang gejalanya mirip dengan efek samping suatu obat. Salah satu cara untuk menandainya adalah bahwa jika obat berhenti diminum dan gejala tadi hilang, berarti itu kemungkinan besar adalah efek samping obat. Jika obat berhenti diminum tapi keluhan masih ada, maka mungkin itu tanda adanya suatu penyakit.

Yah, memang, selain memberikan efek terapi yang diharapkan, obat juga bisa memberikan efek yang tidak diinginkan yaitu efek samping obat, atau kerennya disebut “adverse drug reaction”. Efek samping ini ada yang bisa diprediksi sebelumnya, dan ada yang tidak. Mengapa sih obat bisa memiliki efek samping?

Hampir sebagian besar obat memiliki efek samping karena jarang sekali obat yang beraksi cukup selektif pada target aksi tertentu. Suatu obat bisa bekerja pada suatu reseptor tertentu yang terdistribusi luas dalam berbagai jaringan di tubuh. Sehingga walaupun sasarannya adalah reseptor pada pembuluh darah jantung misalnya, ia bisa juga bekerja pada reseptor serupa yang ada di saluran nafas, sehingga menghasilkan efek yang tak diinginkan pada saluran nafas. Contohnya, obat anti hipertensi propanolol dapat memicu serangan sesak nafas pada pasien yang punya riwayat asma. Semakin selektif suatu obat terhadap target aksi tertentu, semakin kecil efek sampingnya. Dan itulah yang kemudian dilakukan pada ahli produsen obat untuk membuat suatu obat yang semakin poten, semakin selektif terhadap target aksi tertentu, sehingga makin kurang efek sampingnya.

Bagaimana cara mengatasi efek samping obat?
Efek samping obat bisa muncul dalam berbagai bentuk dan berbagai tingkatan. Ada yang ringan seperti mengantuk, batuk-batuk, mual, gatal-gatal, sampai yang berat seperti syok anafilaksis, gangguan dalam sistem darah, sampai kematian. Efek samping mengantuk misalnya, mungkin tidak perlu pengatasan, bahkan seringkali dimanfaatkan pasien untuk bisa istirahat. Efek samping meningkatkan nafsu makan malah kadang dimanfaatkan untuk memicu nafsu makan anak yang ngga doyan makan. Tapi efek samping yang menganggu seperti mual bahkan sampai muntah pada pasien yang menjalani kemoterapi misalnya, mau tak mau harus dicegah atau diatasi dengan obat anti mual, karena kemoterapinya itu sendiri juga tak mungkin dihentikan sebelum waktunya. Dan jika efek samping suatu obat bisa mengancam jiwa, tentu obatnya harus dihentikan dan dicarikan alternatifnya yang lebih kecil efek sampingnya. Untuk hal ini tentu harus dikonsultasikan dengan dokter penulis resepnya.

Untuk mengetahui apakah suatu gejala itu merupakan efek samping khas obat dapat dibaca pada leaflet/kemasan obat, atau dapat pula ditanyakan kepada apoteker saat membeli obat. Hampir semua obat memiliki informasi tentang efek samping yang mungkin ditimbulkannya. Yang agak susah adalah jika terjadi reaksi alergi. Hal ini sulit untuk diprediksikan sebelumnya. Tapi Anda boleh menggunakan patokan riwayat alergi keluarga, karena sifat alergi ini biasanya diwariskan (warisan kok penyakit ya… hehe… mbok rumah po tanah gitu…). Jika ada riwayat keluarga (ayah, ibu, kakak, adik, nenek, kakek) alergi terhadap obat tertentu, sebaiknya berhati-hati terhadap penggunaan obat tersebut, karena barangkali Anda juga alergi obat tersebut.

Jika Anda menemui suatu gejala-gejala tertentu yang diduga akibat efek samping obat, sebaiknya Anda konsultasikan lagi dengan dokter. Jika itu adalah obat bebas, Anda bisa konsultasikan dengan Apoteker anda. Biasanya jika gejala efek samping tersebut tidak membahayakan dan dapat ditoleransi pasien, tidak perlu ada pengatasan apa-apa. Atau jika ada, sebaiknya tanpa menggunakan obat. Keluhan sembelit, misalnya, diatasi dengan memperbanyak makanan berserat dan minum air untuk mempermudah BAB. Jika terasa mulut kering, mungkin bisa dibantu dengan mengulum permen. Sedangkan jika keluhan efek samping cukup berat dan tidak dapat ditoleransi pasien, bisa diatasi dengan pemberian obat lain untuk mengatasi efek samping, penurunan dosis obat, atau penggantian obat, yang tentunya harus sepengetahuan dokter.

Nah, selamat mencermati.





Kenali batuk dan obatnya….

22 11 2008

batukUhuk..uhukk..uhuk! Batuk nampaknya penyakit ringan, tapi kerapkali menjengkelkan. Jika batuk tadi bukan bagian dari suatu penyakit lain, misalnya TBC atau asma, batuk bisa diredakan dengan obat batuk tanpa resep. Tapi dengan banyaknya nama obat batuk yang beredar dan iklan yang gencar di televisi,  memilih obat bukan hal yang gampang.  Untuk bisa memilih dengan tepat, kita kenali dulu, yuk apa itu batuk dan apa saja jenisnya.

Batuk sebenarnya adalah refleks normal tubuh kita akibat adanya rangsangan dari selaput lendir di daerah tenggorok dan cabang tenggorok, yang bertujuan untuk membersihkan saluran pernafasan dari zat-zat asing yang menganggu. Jadi, merupakan suatu mekanisme perlindungan tubuh. Namun jika berlebihan memang jadi menjengkelkan.

Secara gampang, batuk dibedakan menjadi dua jenis, batuk kering dan batuk berdahak. Batuk kering biasanya bukan merupakan mekanisme pengeluaran zat asing, dan mungkin merupakan bagian dari penyakit lain. Batuk seperti ini tidak berguna dan harus dihentikan. Untuk ini ada obat-obat yang bekerja menekan rangsang batuk atau dikenal dengan nama antitusif. Beberapa obat yang termasuk jenis ini dan sering digunakan adalah dekstrometorfan, noskapin, dan kodein. Tetapi penggunaan noskapin dan kodein umumnya menggunakan resep dokter. Jadi jika batuk anda jenis kering, carilah obat-obat yang berisikan dekstrometorfan (baca komposisinya) atau berlabel antitusif.

Sebaliknya, batuk berdahak adalah mekanisme tubuh untuk mengeluarkan zat-zat asing dari saluran nafas, temasuk dahak. Batuk ini sebaiknya tidak ditekan, supaya zat-zat asing itu bisa dikeluarkan. Obat-obat yang bisa membantu pengeluaran dahak disebut ekspektoran. Obat-obat ini biasanya juga merangsang terjadinya batuk supaya terjadi pengeluaran dahak. Selain itu ada juga obat-obat yang bisa membantu mengencerkan dahak sehingga mudah dikeluarkan yang disebut mukolitik. Contoh obat-obat ekspektoran adalah amonium klorida, gliseril guaiakol, ipekak, dll. Sedangkan contoh obat mukolitik adalah bromheksin, asetilsisitein, dan ambroksol. Jadi, jika batuk anda berdahak, pilihlah obat-obat yang mengandung zat-zat seperti tersebut diatas.

Batuk yang disebabkan karena infeksi virus biasanya akan sembuh sendiri, tetapi batuk yang merupakan gejala infeksi pernafasan karena bakteri mungkin butuh waktu lebih lama dan memerlukan tambahan obat antibiotika. Batuk jenis ini biasanya ditandai dengan dahak yang banyak, kental dan berwarna kuning kehijauan. Kalau Anda mengalami batuk demikian tentu perlu diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Dari segi lamanya, batuk dibedakan menjadi batuk akut (< 3 minggu), batuk subakut (3-8 minggu), dan batuk kronis (> 8 minggu). Batuk akut dan subakut umumnya relative ringan dan bisa sembuh sendiri, walaupun seringkali perlu penanganan dengan obat batuk dan obat lain untuk mengurangi gejala dan menghilangkan penyebabnya. Sedangkan batuk kronis, perlu perhatian tersendiri karena batuk kronis biasanya adalah tanda atau gejala adanya penyakit lain yang lebih berat. Banyak penyakit berat yang ditandai dengan batuk kronis, misalnya asma, TBC, gangguan refluks lambung, penyakit paru obstruksi kronis, sampai kanker paru-paru. Untuk itu, batuk kronis harus diperiksakan ke dokter untuk memastikan penyebabnya dan diatasi sesuai dengan penyebabnya itu.

Nah, kembali ke obat batuk. Sebagian besar produk obat batuk mencampurkan antara zat antitusif dan ekspektoran. Agak membingungkan memang, karena kerja kedua zat tersebut dapat dikatakan berlawanan. Hal ini mungkin didasarkan pada kenyataan bahwa walaupun batuknya berdahak, tapi kerapkali juga terlalu sering dan melelahkan pasien sehingga perlu ditekan.  Namun belakangan ini sudah mulai ada trend beberapa produsen untuk memproduksi obat batuk secara terpisah, yaitu antitusif dan ekspektoran. Untuk itu sebaiknya dipilih obat batuk yang sesuai dengan jenis batuk anda. Kalau perlu belilah dua macam obat batuk tadi dan simpan di kotak obat Anda, dan gunakan sesuai dengan jenis batuknya.





Alergi dan pengobatannya

22 11 2008

allergy-skin-test1Alergi pada umumnya memang bukan penyakit mematikan, tapi sungguh menganggu dan mengurangi kualitas hidup. Ketika yang lain boleh menikmati enaknya udang goreng saus tiram, si penderita alergi terpaksa harus gigit jari karena sekali makan udang, sekujur tubuhnya akan bentol-bentol dan gatal. Udang termasuk bahan makananyang cukup sering memicu reaksi alergi bagi orang yang sensitif.

Apa sih alergi itu ? Bisakah disembuhkan ? Apa obatnya ? Tulisan ini mencoba mengupas sedikit tentang alergi dan obatnya. Alergi adalah suatu gangguan pada sistem imunitas atau kekebalan tubuh. Pada orang yang sehat, sistem imunitas berada dalam keadaan setimbang yang memberikan perlindungan maksimal terhadap gangguan benda-benda asing dari luar tubuh dan meminimalkan reaksi tubuh yang berbahaya terhadap adanya gangguan tersebut. Tetapi pada orang yang alergi, terjadi ketidakseimbangan, sehingga reaksi yang  dimunculkan oleh tubuh menjadi berlebihan, atau dengan kata lain disebut hipersensitif.  Karena itu, alergi disebut juga penyakit hipersensitivitas.

Alergen dan mekanismenya
Penyebab alergi bisa bermacam-macam dan disebut alergen. Pada kasus alergi pada saluran pernafasan, alergen bisa berupa tengu debu, kutu kucing atau anjing, jamur, dll. yang terhirup melalui udara pernafasan. Pada alergi makanan, berbagai macam makanan yang mengandung protein tinggi seringkali menjadi penyebab alergi, seperti udang, telur, atau susu. Obat atau senyawa asing bagi tubuh juga bisa menjadi alergen bagi orang yang hipersensitif. Sulitnya, ketika pertama kali alergi terjadi, seringkali kita tidak bisa dengan cepat menentukan jenis apakah sang alergen tersebut. Selain harus dengan mencermati si alergen, biasanya perlu dilakukan test alergi pada kulit untuk memastikan penyebab alerginya.

Ketika suatu alergen pertama kali masuk ke dalam tubuh kita, ia akan memicu tubuh untuk membuat antibodi yang disebut imunoglobulin E (IgE). IgE ini kemudian akan terikat pada sel mast yang banyak tersebar di bagian tubuh kita terutama pada tempat-tempat yang sering kontak dengan lingkungan seperti selaput lendir hidung, saluran nafas/bronkus, kulit, mata, mukosa usus, dll. Sel mast adalah salah satu sel tubuh manusia yang memproduksi dan bisa melepaskan suatu senyawa yang disebut histamin. Pada kondisi ini tubuh kita dikatakan “tersensitisasi”. Pada paparan alergen berikutnya, alergen akan mengikat antibodi IgE yang sudah menempel pada sel mast. Ikatan alergen dengan IgE yang menempel di sel mast ini lalu memicu pelepasan histamin, dan histamin inilah yang kemudian bekerja menyebabkan berbagai reaksi tubuh seperti gatal, bentol, bengkak, sesak nafas (pada penderita asma), batuk, dll., bahkan sampai pada reaksi yang terberat yaitu hilangnya kesadaran yang disebut syok anafilaksis. Syok anafilaksis terjadi karena histamin yang dilepaskan sedemikian banyak sehingga menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi), sehingga terjadi penurunan tekanan darah yang drastis dan menyebabkan pingsan/syok.

Mengatasi alergi
Apakah alergi bisa disembuhkan ? Pada sebagian orang mungkin bisa, ketika sistem imun bekerja semakin baik, contohnya penyakit asma alergi pada anak-anak umumnya bisa sembuh setelah mereka dewasa. Tetapi, sebagian besar penyakit alergi sulit disembuhkan kecuali dengan terapi desensitisasi. Yaitu, terapi yang membuat tubuh semakin kurang sensitif terhadap alergen dengan cara mengeksposnya terhadap alergen dengan dosis yang makin lama makin besar sampai penderita kebal terhadap alergen tersebut. Tetapi terapi ini butuh waktu lama dan cukup mahal. Cara lain yang murah adalah dengan menjauhi pemicunya.  Kalau alergi udang ya tentunya jangan makan udang. Kalau alergi debu ya jangan bermain di tempat yang berdebu dan harus menjaga kebersihan rumah. Lha, kalau sudah terlanjur muncul gejala alergi bagaimana ?

Obat-obat anti alergi yang bisa dijumpai secara bebas di apotek atau toko obat adalah golongan antihistamin. Obat ini bekerja dengan cara memblokir reseptor histamin sehingga histamin tidak bisa bekerja lagi menyebabkan reaksi-reaksi alergi. Obat ini hanya bisa menyembuhkan gejala alergi, tetapi tidak bisa menyembuhkan alergi. Artinya, walaupun sekarang sudah hilang gatal-gatalnya, tetapi jika suatu saat terjadi kontak lagi dengan alergen, maka reaksi alergi bisa timbul lagi. Obat antihistamin yang paling banyak digunakan adalah klorfeniramin maleas atau CTM (chlor tri methon). Obat ini bisa diperoleh dalam bentuk tunggal atau kombinasi dengan obat-obat lain. Pada komposisi obat flu atau obat batuk, sering sekali dijumpai adanya CTM, mungkin karena sebagian kejadian flu atau batuk dapat dipicu oleh reaksi alergi. Obat antihistamin lain adalah : prometazin, difenhidramin, dan deksklorfeniramin. Obat-obat ini termasuk antihistamin generasi pertama yang memiliki efek samping mengantuk. Karena itu, jika menggunakan obat-obat ini sebaiknya tidak mengemudi atau menjalankan mesin-mesin berat. Obat ini dapat dibeli secara bebas di apotek atau toko obat. Antihistamin generasi yang lebih baru adalah antihistamin yang tidak berefek sedatif (mengantuk), contohnya : loratadin, terfenadin, triprolidin, setirizin, dan ketotifen. Obat-obat ini biasanya harus diperoleh dengan resep dokter.

Semua obat-obat antihistamin ini aksinya mirip satu sama lain, tetapi berbeda lama aksinya. Loratadin dan terfenadin misalnya, lama aksinya lebih dari 12 jam, sehingga cukup diminum sehari sekali atau dua kali, sedangkan prometazin dan difenhidramin aksinya hanya 4-6 jam, sehingga harus diminum 3-4 kali sehari. Obat-obat antihistamin bisa diperoleh dalam bentuk tablet, sirup, atau salep. Penggunaannya disesuaikan dengan macam alerginya dan kemudahan pasien menggunakannya. Jika reaksi alerginya hanya bersifat lokal di permukaan kulit, penggunaan salep cukup efektif. Tetapi jika reaksinya luas di seluruh tubuh, penggunaan obat per-oral (yang diminum) lebih disarankan.

Yang penting, amatilah dengan seksama pada saat apa Anda mengalami reaksi alergi, sehingga Anda dapat mengenali benda apa saja yang menjadi alergen bagi tubuh Anda, dan sedapat mungkin hindarilah.

Begitulah, semoga bermanfaat.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 376 pengikut lainnya.