Rumor tentang Aspartam, is that true?

7 03 2010

Dear kawan,

struktur kimia aspartam

Kemarin aku mendapat pertanyaan dari seorang teman melalui e-mail tentang aspartam. Aku kutipkan sesuai aslinya :

Selamat malam, aku merasa penasaran atas “tumbang”nya beberapa teman yg mengkonsumsi minuman kesehatan yg ternyata menggunakan ASPARTAM. Ada kemudian muncul selebaran daftar makanan dan minuman yg menggunakan bahan tersebut. Mulai dari Extrajoss, Kiranti, dlsb. Yg menjadi pertanyaan, sampai seberapa amankah bila kita mengkonsumsinya? Adakah batasan2nya? Benarkah bisa menyebabkan pengeringan sumsum tulang belakang? Efek apa bila kita mengkonsumsi? Kiranya saya bisa mendapatkan jawaban dari anda.

(editan pd tgl 14 Januari 2014: Bahkan barusan di wall Face Book seorang kawan, tertulis statusnya : Ikatan Dokter Indonesia (IDI), menginformasikan bahwa saat ini sdg ada wabah Pengerasan Otak (Kanker Otak), Diabetes dan Pengerasan Sumsum Tulang Belakang (Mematikan sumsum tulang belakang). Untuk itu, hindarilah minuman sbb: Extra Joss, M-150, Kopi SusuGelas (Granita), Kiranti, Krating Daeng, Hemaviton, Neo Hema viton, Marimas, Segar Sari shachet, Frutillo, Pop Ice, Segar Dingin Vit.C, Okky Jelly Drink, Inaco, Gatorade, Nabati, Adem Sari, Naturade Gold, Aqua Splash Fruit. Karena ke-19 minuman tsb diatas mengandung ASPARTAME (lebih keras dr biang gula) racun yg menyebabkan diabetes, kanker otak, dan mematikan sumsum tulang. [Info: dr.H.Ismuhadi,MPH 0811323601]. Wah, berarti rumor atau hoax yang dulu beredar lagi.)

Hm,….. tidak mudah untuk segera menjawab, karena harus mencari sumber informasi yang benar-benar obyektif dan dapat dipercaya. Salah satu petunjuknya adalah jika ia berasal dari lembaga resmi Pemerintah, institusi pendidikan yang kredibel, atau jurnal2 terpercaya (walaupun tetap ada kemungkinan keliru, tapi sudah berusaha mencari data yang sevalid mungkin).

Apakah aspartam itu?

Aspartam adalah pemanis buatan yang tersusun dari 2 macam asam amino yaitu asam aspartat dan fenilalanin. Ia ditemukan pada tahun 1965 oleh James Schslatte sebagai hasil percobaan yang gagal. Asam aspartat dan fenilalanin sendiri merupakan asam amino yang menyusun protein. Khusus asam aspartat, ia juga merupakan senyawa penghantar pada sistem saraf (neurotransmiter). Aspartam, dikenal juga dengan kode E951, memiliki kadar kemanisan 200 kali daripada gula (sukrosa), dan banyak dijumpai pada produk-produk minuman dan makanan/permen rendah kalori atau sugar-free. Nama dagang aspartam sebagai pemanis buatan antara lain adalah Equal, Nutrasweet, Canderel, Tropicana Slim, dll.

Aspartam masuk pasar Amerika sejak tahun 1981 dan di Inggris pada tahun 1982, setelah kajian (review) mengenai keamanannya oleh Badan Pemerintah yang berwenang di masing-masing negara. Sebelum disetujui oleh FDA (Food and Drug Administration), semacam Badan POMnya Amerika, keamanan aspartam telah diuji melalui lebih dari 100 kajian ilmiah, baik pada manusia maupun hewan uji. Hingga saat ini, FDA belum mengubah keputusannya, dan menyetujui aspartam sebagai pemanis buatan yang aman.

Apa keunggulan aspartam?

Seperti banyak peptida lainnya, kandungan energi aspartam sangat rendah yaitu sekitar 4 kCal (17 kJ) per gram untuk menghasilkan rasa manis, sehingga kalorinya bisa diabaikan, yang menyebabkan aspartam menjadi  sangat populer untuk menghindari kalori dari gula.Hal ini menjadi jalan keluar bagi penderita Diabetes yang masih ingin mencicip makanan manis tapi tidak meningkatkan kadar gula darahnya. Di samping mempunyai energi yang sangat rendah, ia mempunyai cita rasa manis mirip gula, tanpa rasa pahit, tidak merusak gigi, menguatkan cita rasa buah-buahan pada makanan dan minuman, dapat digunakan sebagai pemanis pada makanan atau minuman pada penderita diabetes. Bahkan penggunaan aspartam sebagai pengganti gula juga merupakan alternatif bagi konsumen non-diabetes yang ingin mengurangi asupan kalori untuk menjaga/mengurangi berat badan, dengan tetap masih bisa mencicipi manisnya makanan/minuman.

Seberapa aman kah aspartam?

Kembali ke pertanyaan rekan di atas, tentang “tumbang”nya beberapa temannya yang mengkonsumsi minuman yang mengandung aspartam, aku sendiri belum begitu paham dengan maksudnya “tumbang”. Apakah terjadi secara tiba-tiba, atau karena mengkonsumsi dalam jangka waktu lama, juga bentuk “tumbang”nya seperti apa. Tapi dari segi keamanan, aku coba melihat dari bagaimana aspartam dimetabolisir oleh tubuh. Di antara semua pemanis tidak berkalori, hanya aspartam yang mengalami metabolisme. Tetapi proses pencernaan aspartam juga seperti proses pencernaan protein lain. Aspartam akan dipecah menjadi komponen dasar, dan baik aspartam maupun komponen dasarnya tidak akan terakumulasi dalam tubuh. Jadi, kembali ke pertanyaan teman di atas, sebenarnya aspartam cukup aman dipakai, karena dia dipakai dalam kadar yang sangat kecil (1% dari gula) dan akan dikeluarkan oleh tubuh. Aspartam bahkan dinyatakan aman digunakan baik untuk penderita kencing manis, wanita hamil, wanita menyusui, bahkan anak-anak.

Satu-satunya kondisi yang dikontraindikasikan bagi aspartam adalah penyakit fenilketouria. Apa itu? Dalam keadaan normal, fenilalanina (salah satu komponen aspartam) akan diubah menjadi tirosin dan dibuang dari tubuh. Pada orang yang mengalami gangguan fenilketouria, terdapat gangguan dalam proses ini. Penyakit ini diwariskan secara genetik, di mana tubuh tidak mampu menghasilkan enzim pengolah asam amino fenilalanin, sehingga menyebabkan kadar fenilalanin yang tinggi di dalam darah, yang berbahaya bagi tubuh. Timbunan fenilalanin dalam darah dapat meracuni otak dan menyebabkan keterbelakangan mental. Karena itu, aspartam dikontraindikasikan bagi penderita fenilketouria.

Apa batasan-batasannya?

Seperti halnya bahan tambahan makanan lainnya, ada dosis tertentu yang dapat diterima penggunaannya, yang sering disebut sebagai Acceptable Daily Intake, atau ADI, yaitu perkiraan jumlah bahan tambahan makanan yang dapat digunakan secara rutin (setiap hari) dengan aman. Dalam hal aspartam, angka ADI-nya adalah 40 mg per kg berat badan. Berarti sekitar 2800 mg untuk berat rata-rata orang Inggris dewasa. Dan untuk anak-anak usia 3 tahun, angka ADI-nya berkisar 600 mg. Selama belum melebihi dosis tersebut, keamanannya cukup terjaga.

Efek samping aspartam?

Banyak berita-berita di internet yang menyebutkan bahwa aspartam menyebabkan pengeringan sumsum tulang belakang dan Lupus, dan berbagai efek samping lainnya. Itu semua TIDAK BENAR. Istilah pengeringan atau pengerasan sumsum tulang belakang sendiri tidak dikenal dalam dunia medis. Apalagi dikatakan dalam beberapa sumber di internet bahwa terjadi WABAH, yang tentu ini kurang masuk akal. Wabah adalah peningkatan kejadian suatu penyakit, seperti wabah demam berdarah, wabah kolera, yang disebabkan oleh adanya peningkatan pencetus. Apalagi jika dikaitkan dengan penyebabnya adalah minuman yang mengandung aspartam… apakah ada peningkatan secara dramatis jumlah konsumsi produk minuman/makanan mengandung aspartam?… tidak ada data yang pasti.

Dalam hal Lupus, tak kurang Yayasan Lupus Amerika (Lupus Foundation of America) juga membantah bahwa ada kaitan antara penggunaan aspartam dengan Lupus. Tahun 2007, keamanan aspartam sempat dpertanyakan kembali ketika satu tim peneliti dari Italia melaporkan bahwa aspartam dapat meningkatkan risiko kanker. Namun demikian, setelah dikaji kembali oleh the European Food Safety Authority (EFSA) dan FDA (Amerika), dinyatakan bahwa belum ada perubahan rekomendasi mengenai keamanan aspartam karena data yang ada belum cukup mendukung penemuan tersebut. Artinya, aspartam tetap aman digunakan. Infonya juga bisa dilihat pada website resmi National Cancer Institute  bahwa TIDAK ADA hubungan antara kejadian kanker dengan konsumsi aspartam. Banyak kemungkinan karsinogen lain yg bisa mencetuskan kanker.  Selain itu, konsumsi minuman beraspartam kan juga tidak setiap hari, dan dosis yang digunakan relatif kecil, sehingga efek samping yang dikuatirkan sebenarnya tidak sering terjadi. Tentu ada respon individual terhadap aspartam yang mungkin terjadi pada beberapa orang, tapi itu tidak bisa digeneralisir.

Namun demikian ada baiknya untuk berhati-hati dengan tidak terlalu banyak mengkonsumsi produk-produk dengan pemanis buatan. O,ya, aku bukan penjual aspartam, tidak punya hubungan keluarga maupun bisnis dengan produsen aspartam…. :)   Yang kusampaikan sekedar apa yang kuketahui, supaya kita lebih berhati-hati menanggapi aneka berita yang beredar, dan mengajak kawan-kawan untuk bersikap kritis dan analitis. Demikian apa yang bisa disampaikan tentang aspartam, semoga bermanfaat.





Melawan mabuk perjalanan…

1 01 2010

Dear kawan,

Selamat tahun baru yaa…… Wish the best for you all…

Tulisan ini menjadi tulisan pertamaku di tahun 2010. Dan aku yakin pasti banyak yang lagi liburan dan mengisinya dengan perjalanan ke tempat wisata atau ke rumah saudara yaa… . Aku sendiri hari ini akan melakukan perjalanan ke Purwokerto nih, my home town, menjemput anak-anak yang lagi liburan di rumah eyangnya.  Sebelum berangkat aku sempatkan menulis ini sebentar.

Ngomong-ngomong tentang perjalanan, ada tuuh..yang  jadi musuh. Iya, … mabuk kendaraan atau mabuk perjalanan. Aduh, sebel banget kan kalo punya kebiasaan mabuk kendaraan alias motion sickness.

 Apa itu mabuk jalan alias motion sickness?

Kalau mengacu dari istilahnya dalam bahasa Inggris, motion = gerakan, maka mabuk jalan ini adalah suatu sickness (penyakit, gangguan) yang disebabkan oleh adanya gerakan. Penyakit ini merupakan gangguan yang terjadi pada telinga bagian dalam (labirin) yang mengatur keseimbangan, dan disebabkan karena gerakan yang berulang, seperti gerak ombak di laut, pergerakan mobil, perubahan turbulensi udara di pesawat, dll.

Mengapa gerakan bisa menyebabkan motion sickness?

Gerakan dirasakan oleh otak melalui 3 jalur pada sistem saraf, yang akan mengirim signal dari telinga bagian dalam (perasaan terhadap gerakan, percepatan, gravitasi), dari mata (penglihatan), dan jaringan lebih dalam pada permukaan tubuh manusia (yang disebut proprioceptors). Ketika tubuh digerakkan dengan sengaja, misalnya kita jalan, input dari ketiga jalur tadi akan dikoordinasikan oleh otak. Ketika terjadi gerakan yang tidak disengaja, seperti ketika mengendarai mobil, kadang otak tidak bisa mengkordinasikan ketiga input tadi dengan baik. Adanya konflik dalam koordinasi 3 input tadi diduga menyebabkan orang merasa mabuk jalan atau motion sickness, dengan gejala mual, pusing, sampai muntah. Konflik input dalam otak ini diduga melibatkan level neurotransmiter yaitu histamin, asetilkolin, dam norepinefrin. Karena itu, obat yang bekerja melawan motion sickness adalah obat yang mempengaruhi atau menormalkan lagi level neurotransmiter ini di otak.

Bagaimana pengatasan motion sickness?

Walaupun ada 3 neurotransmiter yang terlibat, tetapi saat ini obat yang paling sering dipakai untuk mengatasi mabuk jalan adalah antihistamin. Obat ini bekerja memblok reseptor histamin di otak yang berada di chemoreceptor trigger zone (CTX) yang mengkoordinasikan input2 tadi. Obat ini bisa mencegah mual, muntah, dan pusing akibat mabuk jalan. Antihistamin yang sering dipakai adalah dimenhidrinat (ada berbagai nama paten), namun demikian bisa juga digunakan obat antihistamin lainnya. Obat sebaiknya diminum sebelum perjalanan dimulai. Bisa juga sih menggunakan antimuskarinik seperti beladonna atau scopolamin, tapi ini adalah obat lama yang sudah jarang dipakai.

Bagaimana caranya mencegah atau meminimalkan motion sickness?

Jika Anda termasuk yang gampang mabuk perjalanan, ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan untuk mencegah mabuk jalan:

1. Naiklah kendaraan di bagian di mana mata Anda akan melihat gerakan yang sama dengan yang dirasakan oleh tubuh (jadi jangan duduk menghadap ke belakang misalnya, atau di samping, yang tidak searah dengan gerakan mobil). Kalau di mobil atau bus, duduklah di depan dan lihat pemandangan. Kalau di kapal, pergilah ke dek dan melihat gerakan horizon. Kalau di pesawat, duduklah dekat jendela dan melihat keluar. Juga duduklah di bagian dekat sayap, di mana gerakan terasa paling minimal.

2. Jangan membaca di perjalanan

3. Jangan melihat atau bicara dengan orang lain yang juga gampang mabuk jalan

4. Hindari bau-bauan yang kuat, makanan yang berbumbu tajam, terutama sebelum dan selama perjalanan.

5. Gunakan obat anti mabuk. Ada studi melaporkan bahwa jahe bisa mengurangi mabuk jalan, jadi bisa juga dicoba minum wedang jahe atau mengulum permen jahe, walaupun mungkin hasilnya akan bervariasi antar orang.

Demikian, selamat berjalan-jalan….

Jangan lupa oleh-olehnya yaa….





Parasetamol, seberapa amankah?

18 12 2009

Dear kawan,

Sudah dua minggu sejak posting terakhir aku belum sempat nulis lagi. Banyak deadline yang harus dikejar, sampai pusing dan keriting deeh…. ! Nah, sekarang aku sempatkan menulis sedikit. Kalau belum lama ini aku membahas tentang aspirin, maka sekarang aku coba ngerasani parasetamol alias asetaminofen. Obat yang cukup aman, tapi bagaimanapun obat adalah racun. Jadi kalau dipakai dalam dosis besar bisa jadi berbahaya juga.

Siapa yang belum kenal parasetamol? Mereka yang pernah sakit kepala atau demam, atau nyeri yang lain, pasti pernah menggunakan obat ini. Ya, obat ini tergolong obat analgetik anti piretika, yaitu penghilang rasa sakit dan penurun panas. Obat ini termasuk aman untuk berbagai keadaan, termasuk untuk anak-anak dan ibu hamil/menyusui, sepanjang dipakai dalam dosis terapinya. Dan katanya tablet parasetamol bisa untuk obat KB lho…! Masa iya?

Ada cerita lucu tentang parasetamol sebagai obat KB. Waktu itu di sebuah restoran hotel di Amsterdam, kami lagi menyantap breakfast sambil berbincang. Bersamaku ada dua profesor dari Fak Kedokteran UGM, dan satu profesor dari Fak Farmasi…. Kami berbincang berbagai hal. Aku sendiri termasuk tidak pandai ngobrol, jadi aku cuma menimpali sesekali… Kulontarkan bahwa “Sekarang parasetamol bisa sebagai obat KB, lho..”… “O,ya.. bagaimana mekanismenya?” kata salah seorang dengan antusias. “Dikempit di paha…” kataku. Dan meledaklah tawa semua… haha….. Bisa aja!! Yah, sebenarnya sih ini joke kuno di Fak Farmasi UGM, …. sudah sering dilontarkan, tapi ternyata masih saja mengundang tawa… Nah, kembali ke parasetamol… Hm, yang benar parasetamol nggak bisa jadi obat KB, tapi malah jadi “alat” bunuh diri. Nah, kalau yang ini beneran loo….. Lho, kok bisa? Katanya parasetamol termasuk obat yang aman?

Yah, meskipun aman, semua obat adalah racun jika digunakan dalam dosis besar. Karena relatif mudah diperoleh, parasetamol merupakan salah satu obat yang sering dipakai untuk bunuh diri. Pada tahun 2001, 64 pusat keracunan di AS menerima 112,809 telepon mengenai paparan parasetamol, baik secara tunggal atau dalam bentuk kombinasi. Telepon yang berhasil ditindaklanjuti melaporkan bahwa 59.087 kasus dapat ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan, dan 238 kasus menimbulkan kematian. Sebagian dari kasus kematian (43%) disebabkan karena usaha bunuh diri atau penyalahgunaan, sisanya disebabkan karena ketidaksengajaan dan biasanya karena digunakan bersama obat lain.

Apa yang terjadi jika parasetamol dikonsumsi dalam dosis besar, baik secara sengaja maupun tidak? Seberapa besar dosis parasetamol dinyatakan sebagai dosis toksik? Bagaimana mekanisme toksisitas parasetamol?

Overdosis parasetamol dan mekanisme toksisitasnya

Overdosis parasetamol dapat terjadi pada penggunaan akut maupun penggunaan berulang. Overdosis parasetamol akut dapat terjadi jika seseorang mengkonsumsi parasetamol dalam dosis besar dalam waktu 8 jam atau kurang. Kejadian toksik pada hati (hepatotoksisitas) akan terjadi pada penggunaan 7,5-10 gram dalam waktu 8 jam atau kurang. Kematian bisa terjadi (mencapai 3-4% kasus) jika parasetamol digunakan sampai 15 gram.

Pada dosis terapi (500-2 gram), 5-15% obat ini umunya dikonversi oleh enzim sitokrom P450 di hati menjadi metabolit reaktifnya, yang disebut N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI). Proses ini disebut aktivasi metabolik, dan NAPQI berperan sebagai radikal bebas yang memiliki lama hidup yang sangat singkat. Meskipun metabolisme parasetamol melalui ginjal tidak begitu berperan, jalur aktivasi metabolik ini terdapat pada ginjal dan penting secara toksikologi. Dalam keadaan normal, NAPQI akan didetoksikasi secara cepat oleh enzim glutation dari hati. Glutation mengandung gugus sulfhidril yang akan mengikat secara kovalen radikal bebas NAPQI, menghasilkan konjugat sistein. Sebagiannya lagi akan diasetilasi menjadi konjugat asam merkapturat, yang kemudian keduanya dapat diekskresikan melalui urin.

Pada paparan parasetamol overdosis, jumlah dan kecepatan pembentukan NAPQI melebih kapasitas hati dan ginjal untuk mengisi ulang cadangan glutation yang diperlukan. NAPQI kemudian menyebabkan kerusakan intraseluler diikuti nekrosis (kematian sel) hati, dan bisa juga menyebabkan kegagalan ginjal (walaupun lebih jarang kejadiannya). Suatu studi populasi terhadap metabolisme parasetamol menunjukkan bahwa proporsi populasi yang mengalami aktivasi metabolik bervariasi dari 2-20% pada subyek ras kaukasian (orang kulit putih). Orang-orang yang mengalami kanker hati dan hepatitis kronis B nampaknya memiliki kapasitas aktivasi metabolik parasetamol yang relatif tinggi (abnormal tinggi). Orang-orang yang demikian diduga memiliki ambang toksisitas parasetamol yang lebih rendah dan mungkin juga lebih rentan terhadap karsinogen dari lingkungan.

Bagaimana pengatasannya?

Saat ini, pengatasan overdosis parasetamol yang cukup terbukti ampuh adalah dengan penggunaan N-acetylcystein, baik oral atau secara intravena. Antidot (antiracun) ini mencegah kerusakan hepar akibat keracunan parasetamol dengan cara menggantikan glutation dan dengan ketersediaannya sebagai prekursor. Rekomendasi regimen dosis untuk N-asetilcysteine secara per-oral adalah dengan loading dose sebesar 140 mg/kg, diikuti dengan 70 mg/kg BB setiap 4 jam untuk 17 kali dosis, dengan total durasi terapi adalah 72 jam. 

Demikian dulu sekilas info… Semoga bermanfaat. Bagaimanapun obat adalah racun. Lebih baik mencegah penyakit daripada mengobati.





Memilih obat turun panas dan analgesik untuk anak-anak

18 11 2009

Dear kawan,

Sory nih… dah lama belum sempat nulis lagi …… Belakangan lagi banyak nongol di radio setelah debut pertama di Geronimo FM dulu hehe…. (Ceritanya bisa dibaca di sini).  Setelah di Geronimo, aku dan mbak Hartati (penulis Buku Bahaya Alkohol) diwawancara telepon oleh Farhan dari Delta FM Jakarta, dan oleh Bahana FM Jakarta. Lalu yang terakhir ini, atas kebaikan hati mas Sukir (makasih nggih…) aku dapat kesempatan ngocol di Unisi FM Yogya dan Trijaya FM Yogya. Semuanya masih terkait dengan topik bahaya alkohol, sebagai bagian dari promo buku kami dan juga kepedulian terhadap bahaya alkohol. Ternyata asyik juga tuh siaran….. bisa nih dilestarikan kalau ada yang mau ngajakin lagi…. Sayangnya yang dua siaran terakhir ngga sempet difoto-foto hehe… narsis banget!

Nah kali ini aku mau ngomongin masalah lain ya…..

Beberapa waktu lalu aku mendapat pertanyaan dari seorang pembaca blog ini, aku kutipkan sesuai aslinya :

First choice nyeri dan demam kan parasetamol. yang paling aman juga parasetamol. Tapi kenapa di obat demam untuk anak seperti bodrexin, contrexyn, inzana, isinya aspirin dan glisin semua? kalau apoteker ingin memilihkan obat demam untuk anak, pilih sirup yang isinya parasetamol atau obat2 tadi yang (diiklankan) memang untuk anak2?

Kemudian disambung oleh yang lain dengan postingan berita di Kompas seperti ini:

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebuah riset independen Retail Audit Nielsen, Indonesia Urban mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen konsumsi obat penurun demam anak di wilayah perkotaan di Indonesia adalah mengandung asam asetilsalisilat (acetyl salicylic acid). Asam asetilsalisilat adalah jenis bahan aktif yang tidak sesuai untuk konsumsi anak-anak karena diduga dapat menyebabkan sindroma Reye.

Well, kawan….. Ada apa dengan asam asetil salisilat atau asetosal? Apa benar bukan pilihan yang tepat untuk obat penurun panas atau penghilang nyeri pada anak-anak? Aku pernah menulis di blog ini tentang bagaimana memilih analgesik yang pas… (bisa dilihat di sini). Tapi tulisan itu masih agak luas, yaitu menguraikan berbagai jenis obat penghilang rasa sakit dan radang. Asetosal  termasuk obat yang banyak dipakai untuk mengatasi radang, sakit, dan demam. Nah, tulisan kali ini akan menyoroti asetosal saja, dan ada sedikit tambahan tentang parasetamol.

Bagaimana kerja asetosal sebagai obat turun panas dan penghilang nyeri (analgesik)?

Asam asetil salisilat atau asetosal banyak dijumpai dalam berbagai nama paten, salah satunya yang terkenal adalah Aspirin. Seperti halnya obat-obat analgesik yang lain, ia bekerja dengan cara menghambat sintesis prostaglandin. Prostaglandin sendiri adalah suatu senyawa dalam tubuh yang merupakan mediator nyeri dan radang/inflamasi. Ia terbentuk dari asam arakidonat pada sel-sel tubuh dengan bantuan enzim cyclooxygenase (COX). Dengan penghambatan pada enzim COX, maka prostaglandin tidak terbentuk, dan nyeri atau radang pun reda.

Prostaglandin juga merupakan senyawa yang mengganggu pengaturan suhu tubuh oleh hipotalamus sehingga menyebabkan demam. Hipotalamus sendiri merupakan bagian dari otak depan kita yang berfungsi sebagai semacam “termostat tubuh”, di mana di sana terdapat reseptor suhu yang disebut termoreseptor. Termoreseptor ini menjaga tubuh agar memiliki suhu normal, yaitu 36,5 – 37,5 derajat Celcius.

Pada keadaan tubuh sakit karena infeksi atau cedera sehingga timbul radang, dilepaskanlah prostaglandin tadi sebagai hasil metabolisme asam arakidonat. Prostaglandin akan mempengaruhi kerja dari termostat hipotalamus, di mana hipotalamus akan meningkatkan titik patokan suhu tubuh (di atas suhu normal). Adanya peningkatan titik patokan ini disebabkan karena termostat tadi menganggap bahwa suhu tubuh sekarang dibawah batas normal. Akibatnya terjadilah respon dingin/ menggigil. Adanya proses mengigil ini ditujukan utuk menghasilkan panas tubuh yang lebih banyak. Adanya perubahan suhu tubuh di atas normal karena memang “setting” hipotalamus yang mengalami gangguan oleh mekanisme di atas inilah yang disebut dengan demam. Karena itu, untuk bisa mengembalikan setting termostat menuju normal lagi, perlu menghilangkan prostaglandin tadi dengan obat-obat yang bisa menghambat sintesis prostaglandin.

 Efek samping asetosal?

Selain memiliki efek utama sebagai obat anti radang dan turun panas, asetosal memiliki beberapa efek lain sebagai efek samping.  Efek samping yang pertama adalah asetosal dapat mengencerkan darah. Kok bisa? Ya…., karena asetosal bekerja secara cukup kuat pada enzim COX-1 yang mengkatalisis pembentukan tromboksan dari platelet, suatu keping darah yang terlibat dalam proses pembekuan darah. Penghambatan sintesis tromboksan oleh asetosal menyebabkan berkurangnya efek pembekuan darah. Sehingga, asetosal bahkan dipakai sebagai obat pengencer darah pada pasien-pasien pasca stroke untuk mencegah serangan stroke akibat tersumbatnya pembuluh darah.

Apa implikasinya? Karena dia memiliki efek pengencer darah, maka tentu tidak tepat jika digunakan sebagai obat turun panas pada demam karena demam berdarah. Bayangin,… pada demam berdarah kan sudah ada risiko perdarahan karena berkurangnya trombosit, kok mau dikasih asetosal yang juga pengencer darah…. Apa ngga jadi tambah berdarah-darah tuh….. !!

Efek samping yang kedua dari asetosal atau Aspirin, dan sering menimpa anak-anak, adalah terjadinya  Sindrom Reye, suatu penyakit mematikan yang menganggu fungsi otak dan hati. Gejalanya berupa muntah tak terkendali, demam, mengigau dan tak sadar. Banyak studi telah menunjukkan adanya hubungan antara kejadian syndrome Reye pada anak-anak dengan penggunaan aspirin. Memang sih, angka kejadiannya tidak terlalu banyak, tapi sekali terjadi akibatnya sangat fatal. Sehingga, aspirin direkomendasikan untuk tidak digunakan sebagai turun panas pada anak-anak.

Efek samping asetosal yang ketiga sama dengan obat analgesik golongan AINS lainnya, adalah gangguan lambung, dan pernah dibahas di posting ini.

Hmm…. efek samping berikutnya adalah risiko kekambuhan asma bagi mereka yang punya riwayat asma. Aspirin atau asetosal termasuk salah satu analgesik yang sering dilaporkan memicu kekambuhan asma, sehingga perlu hati-hati juga untuk pasien yang punya riwayat asma.

Kekuatiran lain dari penggunaan asetosal adalah seringkali mereka ditampilkan dalam bentuk seperti permen jeruk. Okelah,…. memang tujuannya supaya anak tidak merasa sedang minum obat, karena seperti makan permen. Tapi justru bisa jadi, karena dianggap permen, anak-anak bisa minta lebih dari dosis yang seharusnya. Jika menyimpannya tidak hati-hati, anak-anak bisa cari sendiri “permen” tadi dan mengkonsumsinya tanpa sepengetahuan ortunya. Sehingga bisa dibayangkan jika asetosal dikonsumsi dalam dosis lebih dari seharusnya…..

Wah, lalu gimana dong?

Obat pilihan untuk turun panas pada anak-anak

Sampai sejauh ini, obat pilihan untuk analgesik dan antipiretik (turun panas) pada anak-anak masing dipegang oleh parasetamol. Obat ini relatif aman dari efek samping seperti yang dijumpai pada aspirin jika dipakai dalam dosis terapi yang normal. Efek sampingnya berupa gangguan hati/liver dapat terjadi hanya jika dipakai dalam dosis yang relatif besar (> 4 gram sehari). Namun perlu diketahui bahwa parasetamol tidak memiliki efek anti radang seperti aspirin atau analgesik OAINS lainnya.

Mengapa parasetamol relatif lebih aman dari efek samping?

Yups….. ada sedikit perbedaan mekanisme aksi parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik. Ternyata, selain ada enzim siklooksigenase COX-1 dan COX-2 yang mengkatalisis pembentukan prostaglandin di jaringan, ada pula COX-3, yang lebih banyak terdapat di otak dan sistem saraf pusat. Nah, parasetamol ini ternyata lebih spesifik menghambat COX-3 yang ada di otak tadi, sehingga menghambat produksi prostaglandin yang akan mengacau termostat di hipotalamus tadi. Kerja ini menghasilkan efek menurunkan demam. Selain itu, karena prostaglandin juga terlibat dalam menurunkan ambang rasa nyeri, maka penghambatan prostaglandin dapat memberikan efek anti nyeri atau analgesik. Karena spesifik pada COX-3, tidak menghambat COX-2, maka efeknya sebagai anti radang di jaringan jadi kecil. Di sisi lain, karena juga tidak menghambat COX-1, maka efeknya terhadap gangguan lambung juga kecil karena tidak mempengaruhi produksi prostaglandin jaringan yang dibutuhkan untuk melindungi mukosa lambung. Juga tidak memiliki efek mengencerkan darah. Jadilah,… parasetamol relatif aman terhadap efek samping lambung, perdarahan, asma, dan juga syndrom Reye, dan merupakan pilihan yang aman dan tepat untuk obat turun panas dan analgesik pada anak-anak.

Demikianlah kira-kira pemilihan obat analgesik dan antipiretika yang tepat untuk anak-anak. Semoga bermanfaat.





Burundanga dalam kartu nama, is that true?

19 10 2009

Dear kawan,

Di sela-sela persiapanku menuju Melbourne esok pagi, malam ini aku membaca e-mail dari seorang kawan, yang mengingatkan adanya kejadian “kartu nama beracun”…..  Wah, kalau urusannya sama obat, indera laba-labaku berdencing hehe.. kaya Spiderman aja…. Jadi penasaran dan pengen tau…..

Isi e-mail selengkapnya seperti ini:

Seorang pria menghampiri seorang wanita yang sedang mengisi bensin dan menawarkan jasanya sebagai pengecat serta memberikan kartu namanya. Wanita itu menolaknya namun menerima kartu nama tersebut karena sopan santun. Pria tersebut kemudian masuk ke sebuah mobil yang dikemudikan pria lain. Pada saat wanita itu meninggalkan Pompa Bensin, dia melihat bahwa pria tersebut juga meninggalkan pompa bensin tersebut pada saat yang bersamaan. Hampir seketika, wanita tersebut merasa pusing dan kesulitan untuk bernapas. Dia mencoba untuk membuka jendela mobil dan kemudian menyadari bahwa bau tersebut berasal dari tangannya. Tangan yang sama dengan tangan yang ia gunakan pada saat menerima kartu nama dari pria di Pom Bensin tersebut. Wanita tersebut menyadari bahwa pria di pom bensin tersebut berada tepat dibelakang mobilnya dan ia merasa harus melakukan sesuatu pada saat itu juga. Wanita itu kemudian menepi ke jalan masuk rumah yang pertama ia temui dan memencet klakson mobilnya berulang-ulang untuk meminta tolong. Laki-laki yang membuntuti wanita tersebut kemudian melarikan diri tapi wanita tersebut masih merasa sangat pusing setelah beberapa menit sampai akhirnya dia dapat bernapas dengan normal. Sepertinya ada sesuatu yang terdapat pada kartu nama tersebut yang dapat menyakitinya. Obat ini disebut dengan “Burun Danga” dan ini digunakan oleh orang yang ingin melumpuhkan korbannya untuk mencuri dari korban tersebut atau memanfaatkannya. Obat ini empat kali lipat lebih ampuh dari ate rape drug (sorry ga ketemu terjemahan yang pas) dan dapat ditransfer kepada korban dengan sebuah kartu yang sederhana. Jadi harap untuk memperhatikan hal ini dan jangan menerima kartu pada saat anda sendiri atau di jalanan. Ini juga berlaku untuk orang yang tak dikenal yang datang ke rumah anda dan memberikan kartu nama pada saat menawarkan jasa mereka. Mohon kirim e-mail ini untuk memperingati semua wanita, atau bahkan pria yang anda kenal.

Nah, segera aku mencoba mencari informasi dengan keyword ”burundanga”… terus terang itu merupakan kata asing bagiku. Ternyata aku banyak menjumpai e-mail serupa dengan berbagai versi cerita. There must be something wrong nih…… is that true??

Apakah Burundanga?

tanaman penghasil burundanga

tanaman penghasil burundanga

Burundanga adalah nama jalanan dari obat yang disebut scopolamine (skopolamin).  Skopolamin sendiri berasal dari ekstrak tanaman Datura, Brugmansia species, dan Duboisia species. Temasuk keluarga terong-terongan dengan bunga berbentuk terompet. Ia merupakan komponen aktif dari tinctura Beladona, suatu obat jaman dulu, yang sering digunakan untuk anti kram usus dan obat asma. Skopolamin pertama kali diisolasi oleh saintis Jerman. Senyawa ini bekerja sebagai antagonis reseptor asetilkolin muskarinik, dan dulu banyak dipakai secara medis untuk anti mabuk perjalanan, mual muntah, anti kram perut, dan obat asma. Ia digunakan dalam dosis kecil (satuan miligram). Jika digunakan dalam dosis yang cukup besar, ia dapat menyebabkan efek delirium, semacam bingung, disorientasi, kehilangan memori, dan halusinasi.

Bagaimana penggunaan burundanga?

Di Amerika Selatan, terutama Columbia, burundanga digunakan untuk memicu kondisi “trance” pada sebuah acara ritual setempat. Laporan bahwa obat ini digunakan untuk aktivitas kriminal pertama kali ditemui di Columbia pada tahun 1980an. Menurut sebuah artikel dari Wall Street Journal tahun 1995, sejumlah kegiatan kriminal yang menggunakan burundanga meluas pada tahun 1990an. Skenario umumnya adalah seseorang ditawari minuman yang sudah diberi serbuk skopolamin ini. Tau-tau koban dijumpai telah berjalan bermil-mil tanpa mengenal atau teringat apa-apa. Umumnya korban telah kehilangan hartanya, baik uang, perhiasan, atau mobil, dll. Selain dimasukkan dalam minuman, korban bisa juga dipaksa menghirup, atau ditaburi mukanya sehingga ia terpapar dengan senyawa tersebut. Bisa juga terjadi kejahatan seksual, di mana korban (wanita) selain dipreteli perhiasannya, juga diperkotek-kotek….

Kembali kepada e-mail tadi, apakah cerita dalam e-mail itu benar?

Benarkah burundanga memang biasa dipakai untuk kejahatan di Amerika Latin? Jawabnya ya. Wall Street Journal tahun 1995 melaporkan bahwa penggunaan burundanga untuk kriminal cukup meningkat di AS yang dilakukan oleh para imigran asal Kolumbia. Bahkan ada semacam “warning” bagi orang-orang yang akan melancong ke Kolumbia, supaya hati-hati akan adanya kejahatan dengan modus operandi penggunaan burundanga ini.

Namun ada beberapa hal yang menyebabkan cerita di atas agak meragukan……. 

serbuk burundanga

serbuk burundanga

Pertama, disebutkan bahwa wanita tadi segera mengalami pusing dan kesulitan bernafas segera setelah memegang kartu nama tersebut. Ini agak aneh, karena burundanga harus terhirup atau tertelan untuk bisa menghasilkan efek. Kalaupun melalui kontak secara topikal (lewat tangan yang memgang kartu nama), butuh waktu lama untuk bisa menghasilkan efek.

Kedua, korban disebutkan mencium bau yang berasal dari tangan yang memegang kartu nama tersebut. Ini juga agak tidak masuk akal karena burundanga itu tidak berasa dan tidak berbau.

Begitulah kawan, yang bisa kutuliskan tentang penjelasan rumor tentang burundanga……

Anyway, terimakasih atas kepedulian teman-teman yang telah menyebarkan e-mail tesebut untuk mengingatkan teman-temannya. Namun dalam beberapa hal memang perlu ada kekritisan ketika menerima suatu informasi.

Namun demikian, walaupun cerita dalam e-mail tadi meragukan, ada baiknya tetap waspada, karena kejahatan ada di mana-mana dengan berbagai modus operandinya. Tapi juga tidak usah terlalu paranoid, kita punya pelindung yang Maha Kuat…. Jika kita selalu berserah diri dan memohon, Insya Allah Dia akan melindungi kita dari kejahatan mahlukNya. Amien.





Manfaat dan risiko obat asma

9 09 2009

Dear kawan,

Apa kabar?….

Duh, maafkan aku……. lamaa sekali aku tidak nulis lagi di blog-ku ini….. Terus terang aku rindu menulis di sini, tapi entahlah, mood menulisku sedang tidak begitu bagus sebulan terakhir ini ….. Ada aja deh.. yang lagi dipikirkan dan cukup mengokupasi perhatianku..  Selain itu, sekarang lagi eranya Face Book…, jadi sebagian ekspresi sudah dimunculkan di sana, sehingga blog tidak lagi menjadi sumber penyampaian ekspresi utama lagi. Kalau dulu dikit-dikit nulis di blog, sekarang sebagian sudah “dilampiaskan” di Face book… hehe.

Tapi syukurlah, lewat Face book juga aku diberi tau oleh seorang teman, kakak kelasku SMA dulu, bahwa aku muncul di Majalah Info Obat (thanks, mbak Uti… bisa  jadi inspirasi ngisi blog..).  Sebelum itu, teman yang lain cerita bahwa aku muncul juga di Trans TV utk acara Akar Pinang…  Wah, kalau yang ini sih aku nggak merasa…. tapi mungkin saja itu rekaman waktu aku jadi moderator di Launching Ceremony-nya World Conference tg 12 Agustus kemaren.. karena kebetulan salah satu pembicaranya adalah Pak Haji Agus, pengisi acara Akar Pinang. Nampaknya itu adalah rekaman tentang beliau tetapi akunya jadi ikut terekam dan nongol di TV hehe….

Nah, daripada blog-ku ini kosong, aku tampilkan saja hasil wawancara Majalah Info Obat (Rika) denganku mengenai Manfaat dan Risiko Obat Asma. Di bawah ini adalah tulisannya……..

Manfaat dan Risiko Obat Asma

inhaler

inhaler

Bicara mengenai obat asma, tak lepas dari berbagai pilihan jenis obat yang tersedia. Mulai dari golongan obat, tujuan penggunaan, maupun bentuk sediaan. Beda golongan obat akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Efek yang berbeda akan mempengaruhi tujuan penggunaan, apakah obat digunakan untuk mencegah atau untuk mengatasi saat asma kambuh. Sedangkan bentuk sediaan mempengaruhi onset (waktu yang dibutuhkan dari obat dikonsumsi sampai obat berefek) dan efektivitas obat sehingga biasanya menyesuaikan dengan tujuan pengobatan dan kondisi pasien. Namun yang namanya obat selain memiliki manfaat, tentu tak lepas dari risiko efek samping yang ditimbulkan. Untuk mengetahui lebih jauh, Info Obat berbincang-bincang seputar manfaat dan risiko obat asma bersama Prof.Dr. Zullies Ikawati, Apt, salah satu staf pengajar di Fakultas Farmasi UGM.

Zullies memulai penjelasan mengenai obat golongan steroid. Contoh obat golongan steroid antara lain budesonide, beclometason dan deksametason. Obat lini pertama dalam terapi asma ini umum digunakan untuk tujuan pencegahan kambuhnya asma. Kendati dapat pula untuk mengatasi keadaan saat asma kambuh. Pada terapi pencegahan yang mengharuskan pasien mengkonsumsi obat secara rutin sebaiknya menggunakan bentuk sediaan inhalasi atau lebih dikenal dengan sebutan metered dose inhaler (MDI). Penggunaan inhalasi memiliki memiliki onset lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan per oral (obat diminum sehingga melewati saluran cerna). Efek samping pun bisa diminimalisir karena obat hanya bekerja di seputar saluran pernapasan. Mengenai isu gangguan pertumbuhan anak dan timbulnya osteoporosis akibat penggunaan steroid terus-menerus, Zullies menambahkan belum ada fakta selama obat asma digunakan dalam bentuk sediaan inhalasi. Selain dalam bentuk sediaan inhalasi, tetap tidak tertutup kemungkinan menerima obat golongan steroid dalam bentuk sediaan per oral. Efek samping dari obat golongan steroid antara lain meningkatkan tekanan dan kadar gula darah, sehingga penggunaan steroid pada pengidap hipertensi dan diabetes mellitus (DM) perlu mendapat perhatian khusus. Obat golongan steroid juga memiliki efek sebagai imunosupressan yang dapat menurunkan kekebalan tubuh. Sehingga sebaiknya tetap menjaga kondisi dan stamina tubuh selama penggunaannya. Sedangkan penggunaan steroid untuk ibu hamil dan menyusui cukup aman selama obat diberikan atas rekomendasi dokter. Bahkan sebelum melahirkan kerap dilakukan suntikan intravena obat golongan steroid untuk mencegah kekambuhan asma saat ibu melahirkan. Yang perlu diperhatikan adalah saat pasien menerima terapi pencegahan yang mengharuskan penggunaan steroid secara rutin. Selama terapi tubuh menerima steroid dari luar/eksogen yang mengakibatkan sistem endogen (hormon) dalam tubuh tidak memproduksi steroid. Karena itu, penggunaan steroid tidak boleh dihentikan secara tiba-tiba, dan dosis harus diturunkan perlahan untuk memberi waktu pada sistem endogen agar bisa kembali bekerja memproduksi steroid.

Untuk mengatasi serangan akut, obat golongan beta-agonist misalnya salbutamol menjadi obat lini pertama yang bekerja sebagai bronkodilator (merelaksasi bronkus). Obat golongan ini pun sudah banyak tersedia dalam bentuk inhalasi sehingga bekerja lebih efektif dalam mengatasi serangan akut. Pada keadaan darurat dimana pasien mengalami kesulitan bernapas yang parah digunakan metode pemberian obat secara nebulisasi. Nebulisasi merupakan metode semacam pengasapan obat yang diberikan pada pasien sehingga obat dapat masuk ke saluran nafas dalam kondisi sulit bernafas sekalipun. Sayangnya tidak semua sarana kesehatan memiliki alat nebulizer karena relatif mahal. Di samping penggunaan short acting, ada juga obat golongan beta-agonist yang bekerja long acting, misalnya salmeterol atau formeterol, yang memiliki onset dan durasi efek yang lebih panjang dibanding salbutamol. Biasanya untuk terapi pencegahan kambuhnya asma. Efek samping golongan beta-agonist cukup beragam seperti: tremor/gemetar pada tangan, sakit kepala, hipokalemia (kekurangan kalium), dan takikardi (percepatan denyut jantung). Namun efek samping tersebut tidak selalu terjadi tiap kali penggunaan obat. Muncul atau tidaknya efek samping tergantung kondisi klinis masing-masing individu. Apabila obat beta-agonist digunakan dalam jangka panjang dan secara berlebihan dapat menurunkan efektivitasnya. Hal ini disebabkan karena terjadinya desensitisasi reseptor obat, sehingga reseptor menjadi kurang peka. Karenanya perlu dosis yang lebih besar untuk memperoleh efek yang sama. Untuk itu dokter akan mempertimbangkan dosis yang paling tepat untuk pasien sesuai dengan keadaan klinisnya.

 Terapi obat beta-agonist terkadang dikombinasikan dengan obat golongan antikolinergik untuk mencapai efek yang lebih baik. Sama dengan beta agonis, obat golongan antikolinergik misalnya ipratropium bromida bekerja dengan merelaksasi bronkus. Umumnya digunakan untuk mengatasi serangan akut. Efek samping yang timbul antara lain: mulut kering, mengantuk, dan gangguan penglihatan. Terutama pada penggunaan inhalasi dimana pasien melakukan teknik penyemprotan yang kurang tepat. Dalam beberapa saat mata dapat menjadi kabur. Zullies menyarankan agar pasien mengetahui teknik penggunaan inhalasi yang tepat misalnya dengan bertanya pada dokter atau apoteker. Satu lagi obat yang akrab dalam terapi asma, yaitu teofilin. Teofilin tergolong obat ’tua’ dalam arti sudah digunakan untuk terapi sejak lama. Teofilin memiliki jarak dosis terapi dan dosis toksik yang sempit. Hal ini dapat membahayakan jika pasien mengkonsumsi dosis yang berlebihan. Gejala keracunan teofilin antara lain: insomnia, sakit kepala, mual, dan takikardi. Oleh sebab itu saat ini teofilin sudah banyak ditinggalkan dalam terapi asma. Namun kadang-kadang masih tetap dipakai misalnya pada keadaan darurat, teofilin diberikan dengan menyuntikkan dalam bentuk aminofilin. Pemakaian teofilin ini dipertimbangkan karena harganya yang ekonomis. Teofilin pun masih terdapat sebagai salah satu bahan aktif obat asma yang dijual bebas. Setelah mengulas berbagai jenis obat asma, Zullies menyimpulkan bahwa obat-obat asma tersebut cukup aman. “Saya sarankan untuk penggunaan inhalasi, karena efeknya lebih cepat, sesuai sasaran karena langsung ke saluran nafas, efek sampingnya pun minimal jika dibandingkan penggunaan oral sehingga cukup aman. Dan teknik penggunaan inhalasi yang tepat sangat mempengaruhi keberhasilan terapi.”, imbuh Zullies menutup perbincangan. [Rika]

Thanks for Rika. Good job!





Menumpas obesitas…..

27 06 2009

Dear kawan,

Dua mingguan tidak menulis di blog rasanya seperti punya hutang…..  pasti sudah ada yang menunggu-nunggu hehe….. Karena itulah menjelang tengah malam ini kuupayakan menulis posting ini. Seharian tadi menguji seminar thesis Magister Farmasi Klinik 5 orang sekaligus. Waduh, Sabtu-sabtu masih aja ada kerjaan….  Tapi herannya, banyak aktivitas, banyak “stress”, ….. tapi kok nggak kurus-kurus yah… hehe…. Makin bertambah usia, badan makin mekar saja. Sebuah hasil pemeriksaan yang iseng-iseng kulakukan pada sebuah salon pelangsingan tubuh menyatakan bahwa untuk ukuran tinggi badanku, berat badanku sudah kelebihan 11 kg dari berat badan ideal. Wueek..kekek..!

Tapi yah… enjoy ajaa….! Kalau terlalu kurus entar malah dikira hidup menderita atau mengalami KDRT seperti Manohara hehe…….. Manohara yang menderita aja ngga kurus-kurus. Nah, kebetulan seorang sahabatku yang sedikit gendut memintaku menulis tentang obat-obat pelangsing yang banyak dipakai di masyarakat.  Hm… boleh juga, sekalian aku bisa belajar supaya tidak tambah kegendutan. Obat-obat pelangsing umumnya dipakai untuk mereka yang mengalami obesitas (atau takut menjadi obes). Jadi kita akan start dengan mengetahui dulu tentang obesitas.

 Apa itu obesitas?

mau segendut ini?

mau segendut ini?

Secara gampang, obesitas adalah keadaan kelebihan berat badan di atas normal. Salah satu cara mengukur apakah seseorang mengalami obesitas atau tidak adalah menggunakan ukuran BMI (body mass index), yaitu menghitung berat badan dibagi tinggi dalam kuadrat ( BMI = kg/m2). Pada umumnya, seseorang dengan usia 35 tahun dinyatakan obesitas jika ia memiliki BMI sama atau lebih dari 27. Untuk mereka yang berusia < 34 tahun, skor BMI sebesar 25 sudah termasuk dinyatakan obesitas. Secara umum, BMI sebesar 30 atau lebih sudah mengindikasikan obesitas sedang sampai berat. Coba ukur BMI kalian, kawan….

 Apa yang menyebabkan obesitas?

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami obesitas, antara lain faktor genetik, lingkungan, psikologis, dll.

Faktor genetik

Obesitas umumnya cenderung bersifat menurun dalam keluarga, yang menunjukkan adanya pengaruh faktor genetik. Sebenarnya tak hanya masalah genetik, keluarga umumnya juga “menurunkan” pola makan dan gaya hidup yang bisa berkontribusi terhadap kejadian obesitas. Jika suatu orang tua membiarkan anaknya makan apa saja dan bahkan memfasilitasi anak untuk makan makanan yang enak-enak berlemak… yah… bagaimana anaknya nggak gemuk.

Faktor lingkungan

Faktor lingkungan memberikan pengaruh yang signifikan, misalnya kemudahan mendapatkan fast-food yang umumnya berkolesterol tinggi, pekerjaan yang kurang memungkinkan banyak gerakan fisik tubuh, atau lebih mengutamakan rasa makanan ketimbang faktor nutrisi di dalam memilih makanan.

Faktor psikologis

Faktor psikologis ini dapat mempengaruhi kebiasaan makan. Sebagian orang makan lebih banyak sebagai respon terhadap keadaan mood negatif seperti sedih, bosan, atau marah. Sebagian lagi mungkin mengalami gangguan makan seperti dorongan makan yang kurang terkendali (binge eating) walaupun sudah kenyang, atau kebiasaan ngemil yang sulit dihentikan. Orang-orang seperti ini sangat berisiko terhadap kegemukan, dan perlu mendapatkan perlakuan khusus, seperti konseling atau terapi psikologi lainnya.

Penyebab lain

Selain tiga faktor di atas, penyebab lain obesitas bisa berupa penyakit atau penggunaan obat tertentu. Penyakit hypotiroid, Cushing’s syndrome, dan depresi dapat memicu makan berlebihan. Beberapa obat seperti steroid dan antidepresan tertentu juga memiliki efek samping peningkatan berat badan.

Bagaimana mengatasi obesitas?

Yang pertama sekali tentu adalah pembatasan makan dan meningkatkan aktivitas fisik, sehingga asupan kalori dan penggunaannya terjadi seimbang. Namun jika ini sulit dilakukan dan tidak berhasil, maka perlu bantuan obat-obatan, yaitu obat anti obesitas.

Obat anti obesitas adalah obat-obat yang dapat menurunkan atau mengontrol berat badan. Obat-obat ini bekerja dengan mengubah proses fundamental dalam tubuh dan regulasi berat badan, dengan cara menekan nafsu makan, mempengaruhi metabolisme, atau mengurangi absorpsi makanan/kalori.

Bagaimana mekanisme aksi obat anti obesitas?

Obat-obat anti obesitas bekerja dengan beberapa mekanisme:

1. menekan nafsu makan.

2. Meningkatkan metabolisme tubuh

3. Menurunkan kemampuan tubuh untuk mengabsorpsi nutrien tertentu dari makanan, utamanya lemak, misalnya dengan cara menghambat peruraian lemak sehingga tidak dapat diserap oleh tubuh.

 Ada beberapa contoh obat anti obesitas, antara lain adalah:

1. Orlistat (Xenical)

Obat ini menggurangi penyerapan lemak di usus dengan cara menghambat enzim lipase dari pankreas. Lipase adalah enzim yang bertugas menguraikan lemak. Obat ini bisa menyebabkan feses menjadi berlemak, perut kembung, dan kontrol BAB terganggu. Tapi efek samping ini bisa dikurangi jika asupan makanan berlemak di kurangi.

 2. Sibutramin (Meridia, Reductil)

Obat ini bekerja secara sentral menekan nafsu makan, dengan mengatur ketersediaan neurotransmiter di otak, yaitu menghambat re-uptake serotonin dan norepinefrin. Namun obat ini harus digunakan secara hati-hati karena dapat meningkatkan tekanan darah, menyebabkan mulut kering, konstipasi, sakit kepala dan insomnia.

Sibutramin inilah yang sering ditambahkan oleh produsen nakal jamu pelangsing, sehingga beberapa waktu lalu pernah dilakukan penarikan 6 merk  jamu pelangsing oleh Badan POM karena dicampur dengan sibutramin. Sungguh, pencampuran jamu pelangsing dengan sibutramin ini merupakan tindakan kriminal yang sama sekali tidak memikirkan keselamatan penggunanya. Buat mereka yang memiliki gangguan penyakit kardiovaskuler tentu sangat riskan menggunakan jamu ini karena dapat meningkatkan tekanan darah dan mungkin risiko terjadinya stroke.

 Cara kerjanya hampir mirip seperti obat-obat golongan katekolamin dan turunannya. Ini mengingatkan pada salah satu obat yang cukup terkenal dan menghebohkan, yaitu fenilpropanolamin (PPA), yang juga banyak dijumpai pada komposisi obat flu. Sudah pernah aku tuliskan somewhere di blog ini bahwa di Amerika, PPA banyak dipakai sebagai pelangsing dengan dosis jauh lebih tinggi dari dosis yang dipakai untuk efek pelega hidung tersumbat. Dan ternyata, PPA ini meningkatkan risiko kejadian stroke hemoragik. Saat ini PPA tidak lagi dipakai sebagai obat pelangsing di sana.

 3. Obat-obat laksatif

Selain obat-obat di atas, obat-obat lain yang sering dipakai untuk mengurangi berat badan adalah golongan laksatif atau pencahar. Dengan melancarkan BAB (buang air besar) diharapkan berat badan juga relatif terkontrol. Banyak sediaan suplemen yang mengandung high-fiber yang ”diindikasikan” untuk melangsingkan tubuh dan dapat diperoleh secara bebas. Serat tinggi tadi diharapkan mengembang di saluran cerna dan memicu gerakan peristaltik usus sehingga akan memudahkan BAB. Walaupun mungkin berhasil, tetapi efeknya umumnya tidak terlalu signifikan. Selain sejenis fiber ini, beberapa pencahar lain juga sering dipakai sebagai pelangsing. Penggunaan pencahar sebagai pelangsing dalam waktu lama tidak disarankan karena usus akan menjadi “malas”, akan bekerja jika ada pemicunya, dan hal ini akan menjadikan semacam “ketergantungan”.

 4. Diuretik

Obat-obat diuretik (pelancar air seni) juga sering dipakai sebagai obat pelangsing. Tapi sebenarnya efeknya tidaklah signifikan dalam mengurangi berat badan. Justru penggunaannya harus diperhatikan karena dapat mengganggu keseimbangan elektrolit dalam tubuh karena banyak ion-ion tubuh yang mungkin akan terbawa melalui urin. Jika berat badannya disebabkan karena timbunan cairan, maka diuretik memang pilihan yang tepat, tetapi jika karena timbunan lemak, tentu diuretik tidak akan berefek signifikan. Umumnya teh-teh pelangsing mengandung senyawa alam yang bersifat diuretik sehingga memberikan efek kesan melangsingkan.

 5. Obat-obat herbal pelangsing

Sekarang banyak sekali ditawarkan berbagai produk herbal yang diklaim memiliki efek pelangsing. Ada yang dikatakan bekerja melarutkan lemak, atau mengurangi penyerapan lemak di usus. Salah satu herbal yang terkenal sebagai pelangsing adalah Jati Belanda. Senyawa tanin yang banyak terkandung di bagian daun, mampu mengurangi penyerapan makanan dengan cara mengendapkan mukosa protein yang ada dalam permukaan usus. Sementara itu, musilago yang berbentuk lendir bersifat sebagai pelicin. Dengan adanya musilago, absorbsi usus terhadap makanan dapat dikurangi. Hal ini yang yang menjadi alasan banyaknya daun jati belanda yang dimanfaatkan sebagai obat susut perut dan pelangsing.

Obat-obat herbal pelangsing memang lebih aman, tetapi efikasinya tentu perlu bukti-bukti penelitian lebih lanjut. Mungkin ada yang berhasil, mungkin pula tidak.

 Nah, begitulah… pilih yang mana?

Bagaimanapun menjadi langsing tentu lebih baik, tetapi jangan sampai ingin langsing tetapi malah jadi sakit karena efek samping. Jika benar-benar mengalami obesitas dan perlu pengobatan, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan terapi yang sesuai. Cara-cara lain seperti akupunktur, akupressur, boleh juga dicoba. Jika perlu dilakukan liposuction (sedot lemak), tapi tentu harus dilakukan oleh tenaga medis profesional dan pertimbangan yang cermat.

Aku sendiri.. hm…. masih agak sulit untuk menahan ngemil. Yah…. gendut-gendut dikit tak apalah, yang penting sehat…. (menghibur diri hehe…..).

Demikian, semoga bermanfaat.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 548 pengikut lainnya.