Pidato Pengukuhan Guru Besar…. (akhirnya…)

25 02 2010

Alhamdulillah,…. setelah sekian lama berkutat mencari ide untuk menulis pidato, mencoba menyusunnya, dan

in action on the stage

menyiapkan segala ubo rampe-nya sampe tidak sempat mikirin blog ini, akhirnya hari ini terselenggaralah acara Pidato Pengukuhanku sebagai Guru Besar di bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik, yang Alhamdulillah, cukup lancar dan sukses. Aku belum sempat cerita tentang “story behind the scene” yah….. ntar aja klo udah sempat. Sekarang aku up-load dulu secara utuh isi pidato yang aku bacakan hari ini. Semoga bermanfaat…

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh 

Yang terhormat Ketua, Sekretaris, dan Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Gadjah Mada

Yang terhormat Ketua, Sekretaris, dan Anggota Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada

Yang terhormat Ketua, Sekretaris, dan Anggota Senat Akademik Universitas Gadjah Mada

Yang terhormat Rektor,  para Wakil Rektor Senior dan Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada,

Yang terhormat rekan-rekan sejawat, para dosen, mahasiswa, para tamu undangan, para sanak keluarga dan hadirin semuanya.

Salam sejahtera bagi kita semua,

Alhamdulillahirobbil alamin, puji syukur tak henti-hentinya kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia dan ijinNya, sehingga kita semua dapat hadir dalam majelis yang mulia ini.

Pada hari ini, saya akan menyampaikan pidato pengukuhan saya sebagai Guru Besar dalam Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinik, sebagai pertanggungjawaban ilmiah dan moral sebagai Guru Besar, sekaligus ungkapan terimakasih saya atas kesempatan yang diberikan almamater menekuni bidang ini sehingga mencapai tahap sekarang ini. Dalam kesempatan berbahagia ini perkenankanlah saya mengucapkan terimakasih kepada Ketua Majelis Guru Besar yang telah memberikan kehormatan pada saya untuk menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul :

PELAYANAN FARMASI KLINIK PADA ERA GENOMIK: SEBUAH TANTANGAN DAN PELUANG

Hadirin yang saya hormati,

Judul tersebut sengaja saya pilih setelah lama mengamati, mendalami dan mencoba terlibat dalam perkembangan farmasi klinik beberapa tahun terakhir, di mana saya sendiri saat ini masih menjadi pengelola Program Studi S2 Farmasi Klinik di Fakultas Farmasi UGM. Di sisi lain, era molekuler/genomik sudah menjadi warna pula dalam dunia sains kesehatan, sehingga hal ini merupakan tantangan buat farmasis atau apoteker, bukan saja mereka yang berada dalam ranah pengembangan obat, namun juga pada pelayanan kefarmasian. Jika farmasis siap menghadapinya, saya yakin era genomik bisa menjadi momentum bagi farmasis untuk lebih meningkatkan eksistensinya dengan mengambil peran lebih besar. Pada kesempatan ini saya ingin menguraikan mulai dari sejarah, perkembangan pada era sekarang, serta tantangan dan peluang dalam pelayanan kesehatan.

Profesi Farmasi di Indonesia

Tonggak sejarah munculnya profesi apoteker di Indonesia dimulai dengan didirikannya Perguruan Tinggi Farmasi di Klaten pada tahun 1946, yang kemudian menjadi Fakultas Farmasi UGM, dan di Bandung tahun 1947. Lembaga Pendidikan Tinggi Farmasi yang didirikan pada masa perang kemerdekaan ini mempunyai andil yang besar bagi perkembangan sejarah kefarmasian pada masa-masa selanjutnya. Hingga saat ini, jumlah pendidikan tinggi farmasi membengkak sangat besar, yaitu mencapai 61 perguruan tinggi farmasi (PTF), dengan perincian : 13 PTF terakreditasi A, 13 PTF terakreditasi B, 21 PTF terakreditasi C, dan sisanya belum terakreditasi (APTFI, 2009).

Dengan pesatnya perkembangan ilmu kefarmasian, maka farmasis saat ini menempati ruang lingkup pekerjaan yang makin luas. Beberapa tempat pekerjaan kefarmasian antara lain adalah di apotek, rumah sakit, lembaga pemerintahan, perguruan tinggi, lembaga penelitian, laboratorium pengujian mutu, laboratorium klinis, laboratorium forensik, berbagai jenis industri farmasi meliputi industri obat, kosmetik-kosmeseutikal, jamu, obat herbal, fitofarmaka, nutraseutikal, health food, obat veteriner dan industri vaksin, lembaga informasi obat serta badan asuransi kesehatan. Salah satu cabang ilmu/pelayanan kefarmasian adalah farmasi klinik.

Sejarah munculnya Farmasi Klinik

Istilah farmasi klinik mulai muncul pada tahun 1960an di Amerika, dengan penekanan pada fungsi farmasis yang bekerja langsung bersentuhan dengan pasien. Saat itu farmasi klinik merupakan suatu disiplin ilmu dan profesi yang relatif baru, di mana munculnya disiplin ini berawal dari ketidakpuasan atas norma praktek pelayanan kesehatan pada saat itu dan adanya kebutuhan yang meningkat terhadap tenaga kesehatan profesional yang memiliki pengetahuan komprehensif mengenai pengobatan. Gerakan munculnya farmasi klinik dimulai dari University of Michigan dan University of Kentucky pada tahun 1960-an (Miller,1981).

Pada era itu, praktek kefarmasian di Amerika bersifat stagnan. Pelayanan kesehatan sangat terpusat pada dokter, di mana kontak apoteker dengan pasien sangat minimal. Konsep farmasi klinik muncul dari sebuah konferensi tentang informasi obat pada tahun 1965 yang diselenggarakan di Carnahan House, dan didukung oleh American Society of Hospital Pharmacy (ASHP). Pada saat itu disajikan proyek percontohan yang disebut “9th floor project” yang diselenggarakan di University of California. “Perkawinan” antara pemberian informasi obat dengan pemantauan terapi pasien oleh farmasis di RS mengawali kelahiran suatu konsep baru dalam pelayanan farmasi yang oleh para anggota delegasi konferensi disebut sebagai farmasi klinik (DiPiro, 2002). Hal ini membawa implikasi terhadap perubahan kurikulum pendidikan farmasi di Amerika saat itu, menyesuaikan dengan kebutuhan akan adanya farmasis yang  memiliki keahlian klinik.

Perubahan visi pada pelayanan farmasi ini mendapat dukungan signifikan ketika Hepler dan Strand (Hepler dan Strands, 1990) pada tahun 1990 memperkenalkan istilah pharmaceutical care. Pada dekade berikutnya, kata itu menjadi semacam kata “sakti” yang dipromosikan oleh organisasi-organisasi farmasi di dunia. Istilah pharmaceutical care, yang di-Indonesia-kan menjadi “asuhan kefarmasian”, adalah suatu pelayanan yang berpusat pada pasien dan berorientasi terhadap outcome pasien. Pada model praktek pelayanan semacam ini, farmasis menjadi salah satu anggota kunci pada tim pelayanan kesehatan, dengan tanggung jawab pada outcome pengobatan.

Perkembangan peran farmasi yang berorientasi pada pasien semakin diperkuat pada tahun 2000, ketika organisasi profesi farmasis klinik Amerika American College of Clinical Pharmacy (ACCP) mempublikasikan sebuah makalah berjudul, A vision of pharmacy’s future roles, responsibilities, and manpower needs in the United States.” Untuk 10-15 tahun ke depan, ACCP menetapkan suatu visi bahwa farmasis akan menjadi penyedia pelayanan kesehatan yang akuntabel dalam terapi obat yang optimal untuk pencegahan dan penyembuhan penyakit (ACCP, 2008). Untuk mencapai visi tersebut, harus dipastikan adanya farmasis klinik yang terlatih dan mendapat pendidikan memadai.

Dalam sistem pelayanan kesehatan, farmasis klinik adalah ahli pengobatan dalam terapi. Mereka bertugas melakukan evaluasi pengobatan dan memberikan rekomendasi pengobatan, baik kepada pasien maupun tenaga kesehatan lain. Farmasis klinik merupakan sumber utama informasi ilmiah yang dapat dipercaya tentang obat dan penggunaannya, memberikan informasi terkait dengan penggunaan obat yang aman, tepat, dan cost-effective.

Konsep farmasi klinik pun kemudian berkembang di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, dengan penerapan yang bervariasi pada tiap negara berdasarkan kondisi masing-masing.

Berikut akan saya paparkan perkembangan farmasi klinik di bagian dunia yang lain, yaitu Eropa, Australia, dan Indonesia sendiri sebagai perbandingan.

Farmasi Klinik di Eropa

Gerakan farmasi klinik di Eropa mulai menggeliat dengan didirikannya European Society of Clinical Pharmacy (ESCP) pada tahun 1979 (Leufkens et al, 1997). Sejak itu terjadi perdebatan yang terus menerus mengenai tujuan, peran dan nilai tambah farmasi klinik terhadap pelayanan pasien. Pada tahun 1983, ESCP mengkompilasi dokumen pendidikan berisi persyaratan dan standar untuk keahlian dan ketrampilan seorang farmasis klinik (ESCP, 1983).  Pada tahun itu, Federation Internationale Pharmaceutique (FIP) mempublika­sikan prosiding simposium bertemakan ‘Roles and Responsibilities of the Pharmacists in Primary Health Care’ di mana berhasil disimpulkan peran klinis seorang farmasis (Breimer et al, 1983). Sejak itu, World Health Organisation (WHO) dan berbagai institusi lain mulai mengenal dan memperjuangkan farmasis sebagai tenaga pelayanan kesehatan yang strategis (Lunde dan Dukes, 1989). Pada tahun 1992, ESCP mempublikasikan “The Future of Clinical Pharmacy in Europe” yang  merefleksikan perubahan cepat tentang peran farmasi di dalam sistem pelayanan kesehatan (Bonal et al, 1993). Perubahan tersebut terjadi secara universal di berbagai negara, dan itu terkait dengan perkembangan teknologi kesehatan, ekonomi kesehatan, informatika, sosial ekonomi, dan hubungan profesional (Waldo et al, 1991).

Menurut ESCP, farmasi klinik merupakan pelayanan yang diberikan oleh apoteker di RS, apotek, perawatan di rumah, klinik, dan di manapun, dimana terjadi peresepan dan penggunaan obat. Adapun tujuan secara menyeluruh aktivitas farmasi klinik adalah meningkat­kan penggunaan obat yang tepat dan rasional, dan hal ini berarti:

  • Memaksimalkan efek pengobatan yaitu penggunaan obat yang paling efektif untuk setiap kondisi tertentu pasien.
  • Meminimalkan risiko terjadinya adverse effect, yaitu dengan cara memantau terapi dan kepatuhan pasien terhadap terapi.
  • Meminimalkan biaya pengobatan yang harus dikeluarkan oleh pasien atau pemerintah (ESCP, 2009).

Walaupun demikian, perkembangan pelayanan farmasi klinik tidaklah sama di semua negara Eropa. Inggris merupakan negara di Eropa yang paling lama menerapkan farmasi klinik. Sebagian besar penelitian tentang peran penting farmasi klinik dalam pelayanan kesehatan sebagian besar diperoleh dari pengalaman di Amerika dan Inggris.

Farmasi Klinik di Australia

Di Australia, 90% rumah sakit swasta dan 100% rumah sakit pemerintah memberikan pelayanan farmasi klinik. Organisasi profesi utama yang mewadahi farmasis yang bekerja di RS di Australia adalah The Society of Hospital Pharmacists of Australia (SHPA), yang didirikan pada tahun 1941. Pada tahun 1996, SHPA mempublikasikan Standar Pelayanan Farmasi Klinik yang menjadi referensi utama pemberian pelayanan farmasi klinik di Australia.

Komponen fundamental dari standar ini adalah pernyataan tentang tujuan farmasi klinik dan dokumentasi dari aktivitas farmasi klinik terpilih. Standar ini juga digunakan dalam pengembangan kebijakan pemerintah dalam akreditasi pelayanan farmasi klinik di Australia, dan juga sebagai standar untuk pendidikan farmasi, baik di tingkat S1 maupun pasca sarjana (DiPiro, 2002)

Hadirin yang terhormat,

Macam aktivitas farmasi klinik

Walaupun ada sedikit variasi di berbagai negara, pada prinsipnya aktivitas farmasi klinik meliputi :

1.    Pemantauan pengobatan. Hal ini dilakukan dengan menganalisis terapi, memberikan advis kepada praktisi kesehatan tentang kebenaran pengobatan, dan memberikan pelayanan kefarmasian pada pasien secara langsung

2.    Seleksi obat. Aktivitas ini dilakukan dengan bekerja sama dengan dokter dan pemegang kebijakan di bidang obat dalam penyusunan formularium obat atau daftar obat yang digunakan.

3.    Pemberian informasi obat. Farmasis bertanggug-jawab mencari informasi dan melakukan evaluasi literatur ilmiah secara kritis, dan kemudian mengatur pelayanan informasi obat untuk praktisi pelayanan kesehatan dan pasien

4.    Penyiapan dan peracikan obat. Farmasis bertugas menyiapkan dan meracik obat sesuai dengan standar dan kebutuhan pasien

5.    Penelitian dan studi penggunaan obat. Kegiatan farmasi klinik antara lain meliputi studi penggunaan obat, farmakoepidemio- logi, farmakovigilansi, dan farmakoekonomi.

6.    Therapeutic drug monitoring (TDM). Farmasi klinik bertugas menjalankan pemantauan kadar obat dalam darah pada pasien dan melihat profil farmakokinetik untuk optimasi regimen dosis obat.

7.    Uji klinik. Farmasis juga terlibat dalam perencanaan dan evaluasi obat, serta berpartisipasi dalam uji klinik.

8.    Pendidikan dan pelatihan, terkait dengan pelayanan kefarmasian.

Semua yang dipaparkan di atas adalah gambaran perkembangan profesi farmasi, khususnya farmasi klinik, yang terjadi di beberapa belahan dunia. Bagaimana dengan Indonesia?

Farmasi Klinik di Indonesia

Praktek pelayanan farmasi klinik di Indonesia relatif baru berkembang pada tahun 2000-an, dimulai dengan adanya beberapa sejawat farmasis yang belajar farmasi klinik di berbagai institusi pendidikan di luar negeri. Belum sepenuhnya penerimaan konsep farmasi klinik oleh tenaga kesehatan di RS merupakan salah satu faktor lambatnya perkembangan pelayanan farmasi klinik di Indonesia. Masih dianggap atau merupakan keganjilan jika apoteker yang semula berfungsi menyiapkan obat di Instalasi Farmasi RS, kemudian ikut masuk ke bangsal perawatan dan memantau perkembangan pengobatan pasien, apalagi jika turut memberikan rekomendasi pengobatan, seperti yang lazim terjadi di negara maju. Farmasis sendiri selama ini terkesan kurang menyakinkan untuk bisa memainkan peran dalam pengobatan. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh sejarah pendidikan farmasi yang bersifat monovalen dengan muatan sains yang masih cukup besar (sebelum tahun 2001), sementara pendidikan ke arah klinik masih sangat terbatas, sehingga menyebabkan farmasis merasa gamang berbicara tentang penyakit dan pengobatan.

Sebagai informasi, sejak tahun 2001, pendidikan farmasi di Indonesia, khususnya di UGM, telah mengakomodasi ilmu-ilmu yang diperlukan dalam pelayanan farmasi klinik, seperti patofisiologi, farmakoterapi, dll. dengan adanya minat studi Farmasi Klinik dan Komunitas.

Bersamaan dengan itu, mulai tahun 2001, berhembus angin segar dalam pelayanan kefarmasian di Indonesia. Saat itu terjadi restrukturisasi pada organisasi Departemen Kesehatan di mana dibentuk Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, dengan Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik di bawahnya, yang mengakomodasi pekerjaan kefarmasian sebagai salah satu pelayanan kesehatan utama, tidak sekedar sebagai penunjang. Menangkap peluang itu, Fakultas Farmasi UGM termasuk menjadi salah satu pioner dalam pendidikan Farmasi Klinik dengan dibukanya Program Magister Farmasi Klinik. Di sisi lain, beberapa sejawat farmasis rumah sakit di Indonesia mulai melakukan kegiatan pelayanan farmasi klinik, walaupun masih terbatas. Namun demikian, bukan berarti perkembangan farmasi klinik serta merta meningkat pesat, bahkan perkembangannya masih jauh dari harapan. Kasus Prita di sebuah RS di Tangerang yang cukup menghebohkan beberapa saat lalu merupakan salah satu cermin bahwa pelayanan kesehatan di Indonesia masih harus ditingkatkan, dan farmasis klinik mestinya bisa mengambil peran mencegah kejadian serupa.  Kiranya ke depan, perlu dilakukan upaya-upaya strategis untuk membuktikan kepada pemegang kebijakan dan masyarakat luas bahwa adanya pelayanan farmasi langsung kepada pasien akan benar-benar meningkatkan outcome terapi bagi pasien, seperti yang diharapkan ketika gerakan farmasi klinik ini dimulai. 

Manfaat farmasi klinik dalam optimasi hasil terapi 

Banyak penelitian telah membuktikan peran farmasi klinik terhadap berbagai outcome terapi pada pasien, baik dari sisi humanistik (kualitas hidup, kepuasan), sisi klinik (kontrol yang lebih baik pada penyakit kronis), dan sisi ekonomis (pengurangan biaya kesehatan). Hasil review publikasi antara tahun 1984-1995 oleh Inditz et al (1999) menyimpulkan bahwa pelayanan farmasi klinik efektif untuk mengurangi biaya pelayanan kesehatan, dan efektif dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Hal ini terutama diperoleh dengan melakukan pemantauan resep dan pelaporan efek samping obat.

Bond et al (1999) juga melaporkan bahwa pelayanan farmasi klinik dapat menurunkan angka kematian di RS secara signifikan. Terdapat perbedaan sampai 195 kematian/tahun/RS antara RS yang menjalankan aktivitas farmasi klinik dengan yang tidak. Sebuah studi lain yang dilakukan di Massachusetts General Hospital di Boston menjumpai bahwa partisipasi farmasis dalam visite (kunjungan) ke bangsal perawatan intensive care unit (ICU) dapat mengurangi sampai 66% kejadian efek samping obat yang bisa dicegah, yang disebabkan karena kesalahan dalam perintah pengobatan (Leape et al, 1999).

Dalam hal outcome klinis, misalnya pada terapi antikoagulan, pengaturan penggunaan antikoagulan yang berlebihan dengan cara melakukan pemantauan melalui telepon oleh farmasis klinik telah berhasil meningkatkan outcome klinis pasien dibandingkan dengan cara pelayanan farmasi secara tradisional (Witt dan Humphries, 2003).

Bagaimana di Indonesia? Karena setiap negara memiliki situasi berbeda dalam hal pelayanan farmasi klinik, perlu dilakukan juga pengamatan serupa terhadap dampak pelayanan farmasi terhadap peningkatan hasil terapi maupun kualitas hidup pasien. Adalah kenyataan yang tak dapat dipungkiri bahwa masih banyak terjadi masalah terkait dengan penggunaan obat (drug-related problem, DRP) di berbagai tempat pelayanan kesehatan.

Di sebuah RS di Kalimantan Timur misalnya, dijumpai 88,6% pasien diabetes mellitus mengalami DRP, dengan masalah terbanyak adalah adanya indikasi penyakit yang tidak diterapi secara memadai (Utami, 2009). Dari 52 pasien hemodialisis di sebuah RS di Jawa Timur, 90,4% mengalami DRP, dengan jenis terbanyak adalah pasien tidak menerima obat (Irawaty, 2009).  Kejadian serupa masih banyak dijumpai, misalnya DRP pada penatalaksanaan stroke (Rahajeng, 2006), penggunaan antibiotika profilaksis (Blegur, 2007), penatalaksanaan nyeri kanker (Guswita, 2007), dengan berbagai jenis DRP lainnya.

Karena itu, pelayanan farmasi klinik sebenarnya dapat mengurangi kejadian DRP tersebut, dan lebih jauh dapat mening­katkan hasil terapi pasien. Intervensi farmasis dalam hal pemberian konseling pada pasien diabetes mellitus berhasil meningkatkan hasil terapi dan kualitas hidup pasien (Ikawati et al, 2008; Hermawan, 2009). Demikian pula pada pasien hipertensi di sebuah RS di Jawa Tengah, konseling farmasis dapat meningkatkan pencapaian target tekanan darah yang diinginkan (Kusumaningjati, 2008).

Hadirin yang berbahagia,

Perkembangan dunia kesehatan di era genomik

Pada dua dekade terakhir kita menyaksikan kemajuan pemahaman baru tentang proses dasar fisiologis maupun patologis pada manusia sampai ke tingkat molekuler. Penelitian di bidang ini mendapatkan momentum dalam beberapa tahun terakhir, didorong dengan selesainya proyek genom manusia (human genome project) pada tahun 2001 (Oak Ridge National Laboratory, 2009) dan International HapMap Project (Anonim, 20091). Kemajuan teknologi telah memungkinkan identifikasi protein-protein regulator dan sistem signaling kompleks yang berperan penting dalam proses fisiologis normal maupun dalam kondisi patologis pada semua sistem organ utama. Elusidasi sekuens genom manusia dan kemajuan lain telah memberikan kesempatan untuk penemuan terobosan yang mengarahkan kepada pandangan fundamental terhadap fungsi sistem biologis, dan menciptakan kesempatan unik untuk mentranslasikan ilmu dasar menuju pengobatan secara klinis.

Kita juga menyaksikan kemajuan pemahaman ilmiah mengenai hubungan antara gen manusia dengan respon terhadap pengobatan, yang kemudian dikenal dengan istilah farmakogenetik/genomik. Istilah farmakogenetik pertama kali dikenalkan oleh Vogel pada tahun 1959 (Shin et al, 2009), dan digunakan untuk menggambarkan hasil observasi klinis mengenai perbedaan yang diwariskan dalam hal respon terhadap obat (Evan et al, 2003). Farmakogenomik merupakan aplikasi farmakogenetik, dan pada prakteknya istilah ini dapat saling dipertukarkan penggunaannya. Telah diketahui bahwa proteinlah yang beraksi sebagai enzim pemetabolisme obat, transporter, dan reseptor yang terdapat di seluruh tubuh, yang memperantarai respons tubuh terhadap obat. Variasi gen yang mengkode protein-protein ini seringkali hanya melibatkan perbedaan basa tunggal saja, yang disebut Single Nucleotide Polymorphisms (SNPs). Adanya SNP ini menyebabkan perbedaan respon tehadap obat antar-individu, dan menjelaskan mengapa obat tidak selalu efektif untuk semua pasien dan memiliki efek samping terhadap sekelompok orang tetapi tidak untuk kelompok orang lainnya (Clemerson et al, 2008).

Hingga saat ini di AS terdapat kurang lebih 50 macam obat yang telah memasukkan informasi farmakogenetik pada pelabelannya. Obat-obat ini antara lain antijamur (voriconazol), obat kardio-vaskuler dan hematologi (warfarin), antikonvulsan (karbamazepin), antikanker (azatioprin, irinotecan, trastuzumab, dan cetuximab), dan antipsikotik (atomoxetin) (Frueh et al, 2008). Informasi farmakogenetik diharapkan dapat digunakan untuk pengembangan/penemuan obat dan dalam pelayanan klinis pasien.

Dalam lingkup pelayanan klinis, informasi farmakogenetik dapat digunakan untuk memprediksi penetapan dosis obat. Jika hasil tes farmakogenetik menunjukkan adanya polimorfisme genetik yang menyebabkan penurunan aktivitas enzim pemetabolisme, maka ketersediaan obat dalam darah dapat meningkat sehingga dosis perlu diturunkan untuk mencegah kemungkinan terjadinya efek toksik. Dan sebaliknya jika aktivitas enzim meningkat. Namun tentu perlu diketahui juga bahwa faktor genetik bukanlah satu-satunya penentu respon pasien terhadap obat. Perlu dipertimbangkan pula faktor lain yang berpengaruh terhadap efek obat.

Memang, praktek klinik yang menggunakan informasi farmakogenetik masih jauh dari pelaksanaan, bahkan di negara maju sekalipun. Namun demikian, terkadang kemajuan teknologi kesehatan dapat terjadi jauh lebih cepat dari yang diperkirakan, maka bukan tidak mungkin aplikasi serupa sudah ada di depan mata. Atau, kalaupun belum dapat diaplikasikan, pengetahuan ini sangat penting untuk dapat menjelaskan berbagai fenomena dalam masalah pengobatan. Hal ini diyakini akan memberikan nilai tambah bagi farmasis dalam dunia klinik. Dalam hal aplikasi farmakogenetik, farmasis, akan memegang peran penting di masa depan. Aplikasi penemuan farmakogenetik membutuhkan pengetahuan dan pemahaman mengenai farmakodinamik dan farmakokinetik obat. Karena farmasis memahami farmakokinetik dan farmakodinamik, maka mestinya ia akan memegang peran yang signifikan dalam aplikasi farmakogenetik. Bahkan para ahli menyarankan bahwa farmasis sebaiknya memiliki akses untuk mendapatkan informasi genetik pasien untuk bisa memberikan pelayanan kefarmasian secara individual sebelum mereka menyiapkan resep (Haga dan Burke, 2008).

Namun demikian, sebelum semua itu menjadi realita, ada satu langkah yang mestinya sudah bisa dilakukan oleh farmasis klinik dalam rangka meningkatkan pelayanan kefarmasian yaitu dengan lebih memfokuskan kepada ilmu-ilmu khas kefarmasian.

Peluang farmasis di era genomik

Pada era genomik yang mengedepankan faktor genetik sebagai salah satu kontributor terhadap respon pasien terhadap obat, maka dapat dikatakan bahwa terapi dan hasilnya bersifat individual. Dengan analogi yang sama, respon terapi pada satu etnis mungkin akan berbeda dengan etnis lain, termasuk kejadian efek samping obat atau adverse drug reactions. Karena itu pada era genomik di mana terapi mengarah kepada individualisasi terapi, ada beberapa hal yang perlu dikembangkan dan ditekankan pelaksanaannya oleh farmasis (farmasis klinik), antara lain:

1. Therapeutic drug monitoring (TDM)

Istilah ini merupakan istilah khusus untuk pemantauan kadar obat dalam darah. TDM perlu dilakukan terutama untuk obat-obat dengan kisar terapi sempit, di mana peningkatan kadar sedikit saja dalam darah dapat memberikan peningkatan efek terapi yang signifikan, termasuk efek toksiknya. Beberapa obat yang memiliki kisar terapi sempit dan idealnya menjalani TDM antara lain golongan antiepilepsi (fenitoin, karbamazepin, asam valproat), antibiotika golongan aminoglikosida (gentamicin, vancomicin, kanamicin), litium, dan obat-obat anti retroviral (obat HIV) (Birkett et al, 1997).

TDM juga sangat membantu pada terapi yang kompleks dan melibatkan interaksi berbagai obat dalam tubuh pasien. Sangat mungkin satu orang pasien menerima obat hingga 10-15 macam, yang satu dengan lainnya mungkin berinteraksi secara siginifikan. Suatu  obat dapat menurunkan atau meningkatkan ketersediaan hayati obat lain dalam tubuh, baik dengan mekanisme farmakokinetika maupun farmakodinamika, sehingga TDM akan sangat berguna untuk memastikan regimen dosis obat.

Lebih lanjut, mengkombinasikan TDM dengan informasi farmakogenetik tentu akan menguntungkan pasien untuk mendapatkan regimen dosis yang tepat dan aman. Contoh obat dengan kisar terapi sempit dan polimorfisme genetik yang relevan disajikan pada tabel.

Tabel. Obat dengan kisar terapi sempit dan polimorfisme genetik yang relevan  (Bukaveckas, 2004)

Nama obat Polimorfisme genetik
Siklosporin CYP3A5 dan MDR1
Asam valproat CYP2C9 dan CYP2A6
Fenitoin CYP2C9
Karbamazepin CYP3A
Warfarin CYP2C9
Digoksin MDR1
Kuinidin CYP2D6
Teofilin CYP1A2

 Kajian cost-effectiveness tentang TDM sudah banyak dilaporkan, bahwa TDM terbukti cost-effeetive untuk penggunaan antibiotika golongan aminoglikosida, obat antiepilepsi, dan imunosupresan (Touw et al, 2007). Namun pelaksanaan TDM masih menjadi kendala di Indonesia karena berbagai alasan. Pemahaman tentang pentingnya TDM dan individualisasi dosis nampaknya masih beragam antar pelaku pelayanan kesehatan.

Sudah saatnya TDM diatur melalui kebijakan kesehatan nasional, sehingga dapat segera terealisasi, seperti yang sudah dilaksanakan di negara-negara maju. Kombinasi TDM dengan test farmakogenetik nampaknya masih jauh dari realita, namun pengetahuan dan persiapan farmasis menuju era individualisasi terapi perlu terus dikembangkan.

2. Farmakovigilans (pharmacovigilance)

Khusus untuk keamanan obat, perlu dilakukan upaya-upaya identifikasi dan pencegahan ADR dengan cara lain, misalnya dengan farmakovigilans.

Farmakovigilans merupakan cabang ilmu farmakologi yang terkait dengan deteksi, penilaian, pemahaman, dan pencegahan efek yang tidak diinginkan (adverse effects), terutama efek samping jangka pendek maupun panjang obat, produk biologis, herba, maupun obat tradisional, dengan tujuan mengidentifikasi informasi baru tentang bahaya karena obat, dan mencegah bahaya itu pada pasien (WHO, 2002).

Polimorfisme genetik, sekali lagi, merupakan salah satu sumber variasi respon obat di dalam tubuh. Dalam kaitannya dengan ADR, perhatian lebih banyak ditujukan terhadap faktor farmakokinetik, khususnya metabolisme obat (Pirmohamed dan Park, 2001). Namun demikian, variasi genetik pada target aksi obat (faktor farmakodinamik) mungkin pula berperan. Oleh sebab itu, sangat penting kita memiliki informasi kejadian ADR pada populasi khusus orang Indonesia. Pada umumnya kita selalu merujuk buku-buku teks untuk melihat signifikansi kejadian ADR, namun lupa bahwa informasi tersebut kebanyakan bersumber dari ras Kaukasia. Untuk itu perlu kiranya disusun database ADR atau efek samping khusus populasi Indonesia, mengingat Indonesia sangat kaya akan keragaman etnis, sehingga memungkinkan adanya variasi genetik dan hasil pengobatan.

Satu contoh menarik adalah penggunaan metamizol (antalgin) sebagai analgetik. Antalgin mudah dijumpai di berbagai tempat pelayanan kesehatan di Indonesia, meskipun sudah dilarang penggu­naannya di Amerika (1977), Swedia (1974), dan di beberapa negara lain termasuk Jepang, Australia, dan beberapa negara Eropa (Anonim, 20092), karena menyebabkan ADR fatal yaitu agranulositosis dan diskrasia darah (Bottiger dan Westerholm, 1973). Sementara itu di Mexico, India, Brazil, Rusia, dan di negara dunia ketiga lain, termasuk Indonesia, obat ini masih tersedia secara luas dan termasuk analgesik populer. Adanya kontroversi tentang angka prevalensi kejadian agranulositosis di berbagai negara, memunculkan dugaan kuat adanya faktor  genetik sebagai penyebab perbedaan tersebut. Karena itu perlu dilakukan kajian apakah memang terdapat perbedaan kerentanan antar berbagai ras terhadap adverse effect antalgin yang disebabkan faktor genetik, atau memang sistem pelaporan efek samping di Indonesia yang belum berjalan dengan baik sehingga belum bisa menjadi dasar penarikan suatu obat dari pasar oleh badan otoritas.

Karena itu selama pemantauan terapi, identifikasi dan pelaporan kejadian ADR menjadi penting, dan farmasis dapat mengambil peran kunci ketika menerapkan praktek farmasi klinik.

3. Pelayanan Informasi Obat dan Konseling pada Pasien

Aktivitas ini mestinya merupakan aktivitas awal seorang farmasis sebagai tenaga yang berkompeten di bidang obat. Saya ingin menekankan bahwa pada era genomik, penjelasan bagaimana aksi obat dan bagaimana proses patologis terjadi, sudah mencapai ke tingkat molekuler, terutama pada tingkat protein.  Karena itu, pengetahuan tentang mekanisme molekuler penyakit dan obat-obat baru yang makin selektif terhadap target aksi spesifik di tingkat molekuler perlu dikuasai, dengan selalu meng-update pengetahuan terkini. Hal ini akan memberikan nilai tambah bagi farmasis ketika harus memberikan pelayanan informasi obat, terutama pada sejawat tenaga kesehatan lain.

Di sisi lain, pengetahuan teknis farmasetis yang merupakan kompetensi khas farmasis harus pula dikuasai untuk bisa memberikan saran dan rekomendasi pada sejawat dalam hal penyiapan obat pasien. Tak boleh dilupakan adalah ilmu-ilmu dasar kefarmasian dalam penggunaan obat yang sangat diperlukan untuk pencerahan kepada pasien, yang semuanya ini bertujuan meningkatkan hasil terapi. Konseling tentang pengobatan kepada pasien perlu terus ditingkatkan untuk memastikan bahwa pasien dapat menggunakan obatnya dengan cara yang benar sehingga dapat dicapai hasil terapi yang optimal.

Di akhir pidato ini saya ingin menggaris bawahi bahwa profesi farmasis klinik terus berkembang dan menjadi kebutuhan, dan itu memerlukan kesiapan dan komitmen farmasis untuk terus meningkatkan kompetensi dan mengikuti semua perkembangan di bidang ilmu kesehatan hingga tingkat advanced. Hal ini akan meningkatkan percaya diri dan kepercayaan dari sejawat tenaga kesehatan, sehingga bisa memposisikan diri sebagai mitra penting dalam memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik pada pasien, dengan semangat empati dan peduli.

Upaya-upaya untuk membuktikan peran farmasis klinik dalam meningkatkan outcome terapi bagi pasien harus terus dilakukan, sehingga akan semakin membuka peluang diterimanya profesi farmasis di dalam tim pelayanan kesehatan yang langsung berhubungan dengan pasien.

Saya juga menghimbau kepada pemegang kebijakan di Departemen Kesehatan untuk lebih mengakomodasi peran farmasis dalam pelayanan kesehatan sebagai anggota tim pelayanan kesehatan yang lebih memiliki akses terhadap pemantauan pasien. Pelaksanaan farmasi klinik di berbagai negara dapat menjadi acuan, tentunya dengan tetap mendasarkan pada sistem pelayanan kesehatan yang berlaku di Indonesia.

Penutup

Hadirin yang kami hormati

Sebagai akhir dari pidato pengukuhan ini, pekenankanlah saya sekeluarga menyampaikan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah SWT atas segala karunia, rahmat, dan petunjukNya, sehingga pada hari ini saya mendapat kesempatan dan kehormatan melakukan pidato pengukuhan sebagai Guru Besar di Bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik. Sungguh semua capaian ini tak lepas dari ijin dan perkenanNya yang telah memberi kemudahan dan kelancaran saya dalam bertugas.

Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan Menteri Pendidikan Nasional yang telah mempercayai saya sebagai Guru Besar. Demikian juga kepada Rektor UGM beserta jajarannya, Pimpinan Senat Akademik dan Anggota Senat Akademik, Pimpinan dan Anggota Majelis Guru Besar UGM, yang telah menyetujui dan mengusulkan jabatan yang terhormat dan mulia ini.

Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada Dekan, Ketua dan Anggota Senat Fakultas Farmasi UGM, yang telah menyetujui dan mengusulkan pengangkatan Guru Besar ini. Kepada Kepala Bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik beserta para senior, serta seluruh sejawat dosen dan civitas akademika lainnya, yang telah banyak membantu dan bekerjasama dengan baik sehingga proses pengusulan Guru Besar dapat berjalan lancar, kami ucapkan banyak terimakasih.

Kebanggaan dan penghargaan yang tinggi saya haturkan pula pada guru-guru saya di SD Santa Maria Purwokerto, SMP Negeri 1 Purwokerto, dan SMA Negeri 1 Purwokerto yang telah membekali kami dengan ilmu sehingga kami dapat melanjutkan pendidikan tinggi.  Semoga gelar ini bisa menjadi ungkapan rasa terimakasih dari hati yang terdalam. Demikian pula kepada seluruh Bapak ibu dosen di Fakultas Famasi UGM yang telah mendidik saya sejak tahun 1987 ketika pertama kali kami diterima sebagai mahasiswa Fak Farmasi, sampai sekarang ini, hingga saya dapat mencapai jenjang akademik tertinggi. Terimakasih kami haturkan kepada Ibu Prof. Dr. Retno S. Sudibyo, MSc, Apt. Dan Prof. Dr. Umar Anggoro Jenie, MSc, Apt, dosen pembimbing skripsi saya pada waktu itu yang memperkenalkan pada dunia penelitian.

Ucapan terimakasih yang tulus saya haturkan juga kepada yang terhormat Prof. Drs. Moh Anief, Apt, Dekan pada saat itu, yang telah menawari posisi sebagai dosen kepada saya ketika saya lulus S1 pada tahun 1992. Kepada Prof Dr. A. Mursyidi, Prof Dr. Ibnu Gholib Gandjar, DEA, Apt, dan Prof Dr Marchaban, DESS Apt, selaku dekan-dekan semasa kami mulai bekerja sebagai dosen di Fakultas Farmasi UGM sejak tahun 1993, yang telah banyak mendorong dan memberi saya kesempatan untuk mengembangkan diri dan berkarya di fakultas, saya mengucapkan terimakasih yang tulus. Tak lupa, ucapan terimakasih saya sampaikan kepada Bapak Ibu dosen Bagian Farmasetika yang merupakan tempat saya bergabung ketika pertama kali diterima menjadi dosen di Fakultas, yang telah membimbing dan mengarahkan ketika awal-awal pengabdian saya. Kepada Bapak/ibu dosen Bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik yang menjadi tempat pengabdian saya berikutnya mulai tahun 2004, ucapan terimakasih tak terhingga atas dukungan dan kerjasamanya sehingga saya bisa mencapai gelar yang mulia ini. Terimakasih setulusnya saya haturkan juga kepada senior saya Prof Dr. Sismindari, Prof. Dr. Sudjadi, Prof. Dr. Subagus Wahyuono, yang menjadi “mentor” dan membuka tangannya semenjak saya pulang studi S3 sehingga saya banyak termotivasi mengajukan proposal penelitian dan aktif menjalankan penelitian hingga saat ini. Penghargaan dan ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada Profesor Kazutaka Maeyama di Ehime University Japan, yang telah membimbing saya dalam menyelesaikan program doktor di bidang Farmakologi di Department of Pharmacology Ehime University School of Medicine, Jepang, dan hingga saat ini selalu terbuka untuk bekerja sama dalam pengembangan ilmu.

Semua pencapaian ini tentu tidak lepas dari doa dan dukungan yang tak putus-putus dari orangtua tercinta kami. Untuk itu, ucapan terimakasih dan sembah bakti yang tulus saya haturkan kepada ayahanda tercinta (alm) Bp. Drs. M. Iskak, dan ibunda Isworowati, yang telah mendukung dengan segala cinta kasih dan daya upayanya sehingga saya bisa bersekolah tinggi. Kepada ayah dan ibu mertua (Alm) Bp. Harun Tjiptodiharjo dan (Alm) Ibu Sukini, kami ucapkan terimakasih yang tulus. Khusus untuk alm Ibu Sukini, walau belum pernah bertemu di dunia, terimakasih telah melahirkan seseorang yang kini menjadi pendamping terbaik saya dalam hidup berkeluarga. Ucapan terimakasih saya tujukan juga kepada semua adik-adik : Dr. Ir. Dwi Setyaningsih, Triana Nugrahenny, S.Psi, Agung Kurniawan, SE, Akt., Ridho Pamungkas, SIP., beserta suami/istri masing-masing, dan alm adik Rina Lestari, yang telah membangun persaudaraan yang penuh cinta kasih. Kepada adik-adik ipar: Edy-Nur, Endang-Bidin, Enis, Emi, dan Ening-Bahiej, terimakasih pula atas dukungannya. Terimakasih juga pada Mbak Hartini, SE dan Mbak Dessy Setyaningrum, SE, yang telah mendukung dan membantu dalam berbagai urusan sehari-hari, sehingga telah sangat mengakselerasi pencapaian kami sebagai guru besar.

Akhirnya, terimakasih tak terhingga saya sampaikan kepada suami tercinta yang telah penuh pengertian dan dukungan menghantarkan saya untuk memperoleh semua pencapaian ini: Dr. Ir. Eko Hanudin, MS., dan anak-anakku tercinta : Handy Aulia Zharfani, Hannisa Fazania Hasna, dan Handhika Azka Aunnuha. Tanpa dukungan suami dan anak-anak tercinta, tak mungkin saya mencapai derajat terhormat ini. Khusus untuk suamiku tercinta, jadilah selalu telagaku, tempat bermuara semua suka dukaku, dan menjadi tempatku merenangi kehidupan sampai akhir hayatku.

Terakhir kepada hadirin sekalian, saya sampaikan terimakasih atas kehadiran, dan kesabarannya dalam mengikuti Pidato Pengukuhan saya hari ini. Mohon maaf sekiranya terdapat hal-hal yang kurang berkenan.

Alhamdulillahirabil aalamiin

Wassalamu alaikum wr wb.

 

 

DAFTAR PUSTAKA 

American College of Clinical Pharmacy, 2008, The Definition of Clinical Pharmacy, Pharmacother, 28(6):816–817

Anonim, 20091, International HapMap Project, http://www.genome. gov/10001688, (diakses pada tanggal 10 Desember 2009)

Anonim, 20092, Metamizole, http://www.medic8.com/medicines/ Metamizole.html, diakses pada tanggal 15 Desember 2009

APTFI, 2009, Daftar Akreditasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia, http://aptfi.or.id/?cat=16 (diakses  tanggal 10 Desember 2009)

Birkett DJ, 1997, Therapeutic Drug Monitoring, Aust Prescr, 20:9-11

Blegur F, 2007, Evaluasi Penggunaan Antibiotika Profilaksis pada Luka Operasi Bersih di RSUD Prof Dr WZ Johanes Kupang periode Oktober-Desember 2004, Thesis, Magister Farmasi Klinik UGM, Yogyakarta

Bonal J, Burden M, Delporte JP, eds. 1993, The Future of clinical pharmacy in Europe.: European Society of Clinical Pharmacy, Noordwijk

Bond CA, Raehl CL, Franke T., 1999, Clinical Pharmacy Services, Pharmacist Staffing, and Drug Costs in United States Hospitals. Pharmacother, 19(12):1354–62

Breimer DD, ed., 1983, Roles and Responsibilities of the Pharmacists in Primary Health Care. Proceedings of the 42nd international congress of FIP, Copenhagen 1982, The Hague.

Bukaveckas BL, 2004, Adding Pharmacogenetics to the Clinical Laboratory: Narrow Therapeutic Index Medications as a Place to Start, Arch Pathol Lab Med, 128 (12): 1330–1333

Clemerson, JP., Payne, EK., Bissell, P., Anderson, C., 2006, Pharmacogenetics, the Next Challenge for Pharmacy?, Pharm World Sci, 28:126–130

DiPiro, TJ, 2002, Encyclopedia of Clinical Pharmacy, Dekker, hl 900

ESCP, 1983, The Clinical Pharmacist: education document, Barcelona

ESCP, 2009, What is Clinical Pharmacy, http://www.escpweb.org/ site/cms/contentViewArticle.asp?article=1712

Evans WE, McLeod HL, 2003, Pharmacogenomics—Drug Disposition, Drug Targets, and Side Effects. N Engl J Med, 348(6):538–549.

Frueh FW, Amur S, Mummaneni P, 2008, Pharmacogenomic Biomarker Information in Drug Labels Approved by the United States Food and Drug Administration: Prevalence of Related Drug Use. Pharmacother,  28:992-8.

Guswita, 2007, Evaluasi Penggunaan Analgesik Opioid pada Penanganan Nyeri Kanker Pasien Rawat Inap di RS Kanker Dharmais Jakarta selama September-November 2006, Thesis, Magister Farmasi Klinik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Haga S, Burke W, 2008, Pharmacogenetic testing: not as Simple as it Seems, Genet Med, 10(6):391-395

Hepler CD, Strand LM, 1990, Opportunities and Responsibilities in Pharmaceutical Care, Am J Hosp Pharm,  47 (3):533-543

Hermawan, A.R., 2009, Pengaruh Konseling Farmasis terhadap Hasil Terapi dan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poli Penyakit Dalam RSUD Dr Abdul Rivai Tanjung Redeb Kalimantan Timur, Thesis, Magister Farmasi Klinik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Ikawati, Z., Andayani, T.M., Dwipawestri, A.S., Kurnia, V.E., 2008, The Role of Pharmacist Counseling to Improve Clinical Outcome and Quality of Life of Diabetes Patients in Yogyakarta, presented on The 8th Asian Conference on Clinical Pharmacy, Surabaya.

Inditz MES, Artz MB, 1999, Value Added to Health by Pharmacists. Soc Sci Med, 48:647-60.

Irawaty, Y., 2009, Kajian Drug-related Problem pada Pelaksanaan Pasien Hemodialisis di RSAL dr Ramelan Surabaya, Thesis, Magister Farmasi Klinik UGM, Yogyakarta

Kusumaningjati, Y., 2008, Pengaruh Konseling Farmasi terhadap Luaran Terapetik Pasien Hipertensi di RSU Kardinah Tegal, Thesis, Magister Farmasi Klinik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Leape LL, Cullen DJ, Clapp MD, 1999, Pharmacist Participation on Physician Rounds and Adverse Drug Events in the Intensive Care Unit, JAMA; 282(3):267-70

Leufkens H, Hekster Y,  Hudson S, 1997, Scenario Analysis of the Future of Clinical Pharmacy,  Pharm World Sci, 19(4): 182-185.

Lunde I, Dukes MNG, 1989, The Role and Functions of the Community and Hospital  Pharmacist in the Health Care Systems in Europe. WHO Collaborating Centre for Clinical Pharmacology and Drug Policy Science, Groningen

Miller J, 1981, History of Clinical Pharmacy and Clinical Pharmacology, J Clin Pharmacol.  21: 195-197

Oak Ridge National Laboratory, 2009, Human Genome Project information, http: // http://www.ornl.gov/sci/techresources/

Human_Genome/home.shtml (diakses pada tanggal 10 Desember 2009).

Pirmohamed M, Park BK, 2001, Genetic Susceptibility to Adverse Drug Reactions, Trends Pharmacol Sci, 22 (6): 298

Shin J, Kayser SR, Langae TY, 2009, Pharmacogenetics: From Discovery to Patient Care, Am J Health Syst Pharm, 66(7):625-637

Utami, S., 2009, Kajian Drug-related Problem pada Pasien Diabetes Melitus yang Dirawat Inap di RSU Dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan pada Bulan Oktober-Desember 2005, Thesis, Magister Farmasi Klinik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Waldo DR, Sonnefeld ST, Lemieux JA, McKusick DR, 1999, Health Spending through 2030: Three Scenarios. Health Affair 231-42

WHO, 2002, The Importance of Pharmacovigilance: Safety Monitoring of Medicinal Product, United Kingdom

Witt, M.D.,  Humphries, TL., 2003, A Retrospective Evaluation of the Management of Excessive Anticoagulation in an Established Clinical Pharmacy Anticoagulation Service Compared to Traditional Care, J Thrombosis Thrombolysis 15(2), 113–118

Touw DJ, Neef C, Thomson AH, Vinks AA, 2007, Cost-effectiveness of Therapeutic Drug Monitoring: an Update,  EJHP Science, 13 (4): 83-91

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

 FOTO

Nama                        : Zullies Ikawati

Tempat/tg lahir         : Purwokerto, 6 Des.  1968

NIP                           : 196812061993032001

Pangkat/Gol/jabatan : Pembina/IVb/Guru Besar

e-mail     :    ikawati@yahoo.com, zullies_ikawati@ugm.ac.id

Website :    https://zulliesikawati.wordpress.com

Kantor   :    Bag Farmakologi dan Farmasi Klinik,  Fak  Farmasi UGM

Rumah   :    Jl. Kaliurang Km 6,7 Gg Sumatera E-117, Yogyakarta

Data Keluarga

Nama Suami        :    Dr. Ir. Eko Hanudin, MS

Nama anak-anak  :    1.  Handy Aulia Zharfani (Afan) 13 tahun

                                 2.  Hannisa Fazania Hasna (Hanni) 7 tahun

                                 3.  Handhika Azka Aunnuha (Dhika) 4 tahun

Riwayat Pendidikan

1982    :    Lulus SD Santa Maria Purwokerto

1984    :    Lulus SMP Negeri 1 Purwokerto

1987    :    Lulus SMA Negeri 1 Purwokerto

1992    :    Lulus S1 Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada

1993    :    Lulus Apoteker, Fakultas Farmasi Univ Gadjah Mada

2001    :    PhD in Pharmacology, Ehime Uni Sch of Medicine, Japan

Riwayat Jabatan/Pekerjaan:

1993 – skrg     :    Dosen Fakultas Farmasi UGM

2001 – skrg     :    Pengelola Magister Farmasi Klinik Fak Farmasi UGM

2007- 2009      :    Kepala Lab Farmakoterapi dan Farmasi Klinik Bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik Fak Farmasi UGM

2007 – skrg     :    Mitra Bestari  Jurnal Ilmiah Farmasi UII

2009- skrg       :    Mitra Bestari Majalah Obat Tradisional Fak Farmasi UGM

Publikasi Ilmiah (2000 – 2009, terseleksi) 

1.    Ikawati, Z., Hayashi, M., Nose, M., Maeyama, K., 2000. The lack of compound 48/80-induced contraction on isolated trachea of mast cell-deficient Ws/Ws rats in vitro: The role of connective tissue mast cells. Eur. J. Pharmacol 402, 297-306

2.    Ikawati, Z., Nose, M., Maeyama, K., 2001. Do mucosal mast cells contribute to the immediate asthma response ?. Jpn. J. Pharmacol 86, 38-46

3.    Ikawati, Z., Wahyuono, S., Maeyama, K., 2001. Screening of several Indonesian medicinal plants for their inhibitory effect on histamine release from RBL-2H3 cells. J. Ethnopharmacol. 75, 249-256

4.    Ikawati, Z., Oka, Y., Nose, M., Maeyama, K., 2001. Functional differences between the connective tissue and mucosal mast cells on the contraction of isolated rat trachea, International Sendai Histamine Symposium 2000, Sendai, Japan,  Proceeding

5.    Ikawati, Z., Sudjadi, Sismindari, Elly W., Puspitasari, D., 2003. Induction of apoptosis by protein fraction isolated from the leaves of Mirabilis jalapa L on HeLa and Raji cell-line, Oriental Pharm Exp Med, 3:151-156

6.    Ikawati Z, Sismindari, Sudjadi, 2006, Cytotoxicity against tumor cell lines of a ribosome-inactivating protein (RIP)-like protein isolated from leaves of Mirabilis jalapa L, Malay J Pharm Sci, 4(1).

7.    Ikawati Z., Supardjan, AM., Cahyaningrum, H., Inayati, Z., 2007, Anti inflammatory effect of Pentagamavunon-0 (PGV-0) and its potassium salt (K-PGV-0) on ovalbumin-induced active cutaneous anaphylactic reaction in Wistar rats, Proceeding of International Symposium on Recent Progress of Curcumin Research, Yogyakarta

8.    Nugroho, A.N., Ikawati, Z., Sardjiman, Maeyama, K., 2009. Effects of  benzylidenecyclopentanone analogues of curcumin on  histamine release from mast cells, Biol Pharm J, 32 (5)

Kegiatan Penelitian (3 tahun terakhir, sebagai Ketua Peneliti):

1.    Sintesis, aktivitas, dan toksisitas Gamavuton sebagai anti rheumatoid arthritis, Proyek Insentif Riset Terapan  Kementrian Negara Riset dan Teknologi, tahun 2007-2008

2.    Kajian interaksi farmakokinetika kombinasi ekstrak daun legundi dan rimpang temulawak dengan cetirizin dan pseudoefedrin sebagai anti alergi,  Proyek Riset Unggulan, Universitas Gadjah Mada, tahun 2008

3.    Pengembangan formula ekstrak daun legundi (Vitex trifolia L) dan rimpang temulawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb) sebagai fitofarmaka untuk anti alergi Proyek Insentif Riset Peningkatan Kapasitas Sistem Produksi, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, tahun 2009-2011

4.    Pengaruh Marmin, senyawa aktif dari Aegle marmelos Correa, terhadap sintesis dan pelepasan histamin pada sel mast, Proyek Hibah Kolaborasi Internasional, LPPM UGM, tahun 2009

5.    Pemetaan polimorfisme genetik sitokrom  P450 subtipe CYP2D6, CYP2C9, dan CYP2C19 pada populasi etnis Jawa di Indonesia,  Proyek Hibah Kompetitif Penelitian Kerjasama Internasional dalam rangka Publikasi Internasional, DP2M DIKTI, tahun 2009

Penulisan Buku :

1.    Pengantar Farmakologi Molekuler, 2006, Penerbit Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, cetak ulang tahun 2008

2.    Farmakoterapi Penyakit Sistem Pernafasan, tahun 2007, Penerbit Pustaka Adipura, Yogyakarta

3.    Bahaya Alkohol dan Cara Mencegah Kecanduannya, 2009, ditulis bersama Hartati Nurwijaya, PT Elexmedia Computindo

Penghargaan yang pernah diperoleh:

1.    Meraih ”ISFI Award” sebagai Pemenang I pada Kelompok Riset Dasar dalam kegiatan Kompetisi Hasil Riset Farmasi I “Pengembangan Obat Alami Indonesia” yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI), LIPI dan BPPT tahun 2005

2.    Penghargaan Insan Berprestasi UGM dalam rangka Dies Natalis UGM ke 57 tahun 2006 sebagai  Pengembang RPKPS terbaik

3.    Second Winner for Oral presentation in Regional Conference on Molecular Medicine di Malaysia, tahun 2009

Iklan




Lomba Pantun Bahaya Alkohol

12 01 2010

Dalam rangka melestarikan pantun dan menggerakkan kebiasaan menulis dan menciptakan pantun, kami membuka lomba Cipta Pantun Bahaya Alkohol.

Syarat dan ketentuannya:

1.Peserta tanpa batasan usia, warga negara RI dan berdomisili di dalam negeri.

2. Peserta hanya boleh mengirimkan satu pantun asli ciptaannya sendiri, dikirim melalui email ke : tatia41@gmail. com beserta nama dan alamat lengkap disertai nomor telepon yang dapat dihubungi.

3. Memberikan jawaban atas pertanyaan di bawah ini:

a.Pada halaman berapakah di dalam buku Bahaya Alkohol dan Cara Mencegah Kecanduannya ditemukan gambar wajah anak Fetal Alcohol Syndrome?

b.Ada berapa metode cara mengatasi dan mencegah kecanduan alkohol yang dibahas dalam buku ini?

4. Naskah pantun diterima paling lambat tanggal 27 Pebruari 2010.

Nama pemenang dan pantunnya akan diumumkan melalui milis dan blog buku Bahaya Alkohol pada tanggal 1 Maret 2010.

5. Hadiah pertama uang sejumlah Rp250.000.- dan tas BOJA Bags, hadiah kedua uang sejumlah Rp150.000.- dan tas BOJA Bags, hadiah ketiga uang Rp100.000.-( seratus ribu rupiah)dan tas BOJA Bags (www.trulyjava.com). Hadiah hiburan pemenang ke-4 hingga ke-10 berupa martabak bolu Golden Bell (www.martabakbolu. com)

Selamat mencipta pantun.





Liputan khusus Konser “4 DIPA” : balancing the hemisphere !

7 11 2009

Dear kawan,

Kali ini judul postingku agak heboh…. dan itu memang salah satu trik menulis, yaitu memberi judul yang “eye catching” dan bikin penasaran hehe…

Malam minggu ini ada acara lumayan langka di Fakultas Farmasi UGM, yaitu Pentas Seni dalam rangka Dies Natalis Fakultas yang ke 63. Jaman aku kuliah dulu sebenernya acara ini masih sering diselenggarakan, ada lomba penampilan seni setiap Angkatan, lomba olah raga, dll. Tapi beberapa tahun terakhir ini acara serupa sudah tidak pernah diadakan lagi, baru mulai lagi tahun ini. Nah yang akan kutulis kali ini adalah story behind the performance of “4 DIPA”… !!

Ceritanya,… mahasiswa meminta untuk ada penampilan dari dosen dalam pentas seni tersebut. Singkat cerita, bu Hilda yang dihubungi mahasiswa mencoba mengumpulkan “seniman-seniman” Fakultas untuk tampil. Mbak Hilda sendiri piawai memainkan beberapa alat musik, aku suka nyanyi walau suara pas-pasan (setidaknya ada niat dan semangat), lalu kami menghubungi Prof Lukman, gitaris di masa mudanya, dan Pak Sardjiman, sang gitaris juga. Lalu Jumat malam kami janjian untuk latihan di kampus sambil pilih-pilih lagu yang mau dimainkan. Sejak siangnya aku dan mbak Hilda coba cari-cari lagu dan liriknya lewat internet, di sela-sela menyiapkan kuliah. Ngga tanggung-tanggung, malamnya di kampus kami mencoba menyamakan persepsi dalam menyanyi dan bermusik sampai jam 22.30 malam hehe…… Tapi kok ngga terasa ngantuk yah dan waktu terasa berjalan cepat,…. padahal kalo ngerjain tugas, waduh…. baru bentar dah ngantuk!

Kami menyiapkan beberapa lagu. Pertama kami pilih lagunya Ebiet G Ade yang hampir selalu diputar di TV kalau ada bencana alam yaitu ”Berita Kepada Kawan”. Lagu-lagu Ebiet ini kita pilih karena cocok untuk akustikan. Semula sih aku pilih lagu “Untuk Kita Renungkan”…. tapi kata Pak Jimmy itu kurang populer dan kord gitarnya beliau belum familiar. Oke deh. Hm… lagu kedua sebenernya kami menyiapkan lagunya Letto, “Sebelum Cahaya”, untuk cadangan, tapi ngga jadi kami tampilkan karena waktunya dibatasin. Kami cari lagu lain yang easy listening dan kord-nya gampang…… Akhirnya kami menemukan lagu “Donna-donna”, lagu jadul banget tahun 1960-an yang dinyanyikan oleh Joan Baez, dan dipopulerkan lagi oleh penyanyi Sita RSD. Lagunya ringan dan manis. Dan lagu terakhir yang agak mendadak idenya adalah lagunya Doris Day, berjudul  “Que sera-sera”, yang di sini ngetop sebagai jingle iklan salah satu produk semen..hehe.

Hari H “Konser

Hari Sabtu pagi, kami dikejutkan oleh berita duka, wafatnya Prof Sasmito, salah seorang senior kami karena sakit. Proses wafatnya termasuk cepat, sehingga cukup mengejutkan, tetapi Insya Allah beliau wafat dengan khusnul khotimah. Amien. Jadi setelah paginya aku harus kasih kuliah selama 5 jam di Magister Farmasi Klinik, siangnya langsung takziyah. Sorenya masih harus menghadiri rapat Rumah Sakit Akademik UGM, dan menyempatkan latihan sebentar. Dan acara pentas seninya sendiri tentu harus tetap jalan, karena sudah dipersiapkan lama oleh mahasiswa. Dan itu melibatkan banyak sekali mahasiswa yang juga tampil di acara tersebut. Sedangkan penampilan dosen sebenernya hanya sebagian kecil saja dari acara tersebut. So, the show must go on…..! Dan di awal acara kami pun memanjatkan doa untuk alm Prof Sasmito semoga mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Amien.

IMG_0229-edit

Penampilan "4DIPA" ki-ka: Hilda, Zullies, Mr. Jimmy, Mr. Lucky Man

Well,…. akhirnya sampailah pada saatnya tampil. Kalau di blantika musik Indonesia ada “3 DIVA”, aku memperkenalkan group kami sebagai “4 DIPA” haha….. Istilah DIPA sendiri sebenernya bukan istilah asing buat kami para dosen, apalagi aku sendiri sekarang lagi jadi Ketua Task Force Kegiatan DIPA WCRU Fakultas, sebuah kegiatan pengembangan fakultas, dari urusan akademik, riset, dan pengembangan sumber daya manusia yang didanai dari dana DIPA UGM menuju WCRU (World Class Research University).  DIPA di sini singkatan dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaranhehe… Jadi melintas aja nama itu di kepala saking familiernya. Cuma untuk group kami, DIPA itu singkatan dari “Dosen Ikut Pasang Aksi” haha….. ide yang muncul mendadak di kamar mandi. Tapi ini bukan nama paten lho… itu nama cuma asal comot saja. Mungkin untuk konser selanjutnya (hehe…kalo ada) kami perlu cari nama baru yang lebih keren….

Formasi untuk group “4 DIPA” adalah Prof Lukman (dengan nama panggung Mr. Lucky Man) dan Dr Sardjiman (nama panggung: Mr. Jimmy) sebagai gitaris untuk lagu “Berita kepada Kawan“, Mbak Hilda sebagai gitaris pada lagu “Donna-donna“, dan lagi-lagi Prof Lukman dan Mbak Hilda playing gitar pada lagu “Que sera-sera”. Aku sendiri posisinya sebagai tukang ngocol dan vokalis dengan vokal ala kadarnya haha…  Sayangnya foto yang aku punya kurang begitu siip pencahayaannya, kalau ada yang  punya foto yang bagus-bagus aku mau lho dikasih……!!

Well… lagu pertama “Donna-donna” mengalun manis (menurut pendengaranku sendiri, ngga tau kalau menurut penonton…hehe). Jangan salah… Donna itu bukan nama orang…. lagu ini menceritakan tentang sapi yang mau disembelih….. Ini liriknya:

On a waggon bound for market there`s a calf with a mournful eye.

High above him there`s a swallow, winging swiftly through the sky.

How the winds are laughing, they laugh with all their might.

Laugh and laugh the whole day through, and half the summer`s night.

Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.

Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.

“Stop complaining!“ said the farmer, Who told you a calf to be ?

Why don`t you have wings to fly with, like the swallow so proud and free?“

Calves are easily bound and slaughtered, never knowing the reason why.

But whoever treasures freedom, like the swallow has learned to fly.

IMG_0232-crop

salah satu performance "4DIPA"

Lagu kedua “Berita kepada Kawan” agak kacau sedikit haha….. padahal waktu latihan lumayan mulus….  Kayaknya suaranya sedikit “maksa” … Tapi ngga masalah, dosen kan memang bukan penyanyi …. jadi kalau salah dikit ngga boleh protes. Tapi kayaknya sih penonton cukup terpuaskan, buktinya waktu lagu kedua berakhir para penonton berteriak “ lagii… lagii!” hehe… Padahal sebelum naik pentas kami dipesan panitia untuk nyanyi dua lagu saja karena waktunya terbatas. Namun karena permintaan penonton (dan kami sebenernya juga udah menyiapkan 3 lagu), jadilah kami menyanyi lagi… lagu “Que Sera sera”…. Hmm…. kalau boleh sih kami pengen nyanyi terus haha…. 5 lagu juga mau…

Acara pentas seni sendiri berisi aneka penampilan lain dari mahasiswa, yang kali ini bertemakan “Tribute to Koes Plus”, jadi banyak menampilkan lagu-lagu Koes Plus. Selain itu juga ada pengumuman dan pemberian hadiah berbagai lomba kreativitas mahasiswa. Sayangnya aku tidak bisa mengikuti acara sampai selesai karena si kecil Hani yang kuajak minta pulang karena dah ngantuk.

Balancing hemisphere…

Aku melihat bahwa banyak sekali mahasiswa (maupun dosen) yang punya bakat-bakat seni yang besar. Aku sendiri juga punya sedikit bakat terpendam dalam hal menyanyi… Cuma terpendamnya dalaaaaam .. sekali haha, jadi sulit digali lagi. Aku rasa harus lebih banyak acara-acara serupa untuk mengekspresikan jiwa seni ini agar mendapat penyaluran yang pas dan kondusif untuk pengembangannya. Dan buatku itu sih penting….. istilahnya adalah untuk menyeimbangkan otak kiri dan kanan hehe…. balancing right and left hemisphere,… biar hidup seseorang menjadi lebih optimal. Setelah berhari-hari berkutat dengan kuliah, praktikum, penelitian, rapat ini dan itu, yang nota bene banyak memakai “otak kiri”, maka ada saat-saat untuk menggunakan “otak kanan”nya.

left_right_brain_xp

left and right hemisphere with their function

Teori perbedaan  fungsi otak kanan dan otak kiri telah populer sejak tahun 1960. Seorang peneliti bernama Roger Sperry menemukan bahwa otak manusia terdiri dari 2 hemisfer (bagian), yaitu otak kanan dan otak kiri yang mempunyai fungsi yang berbeda. Atas jasanya ini beliau mendapat hadiah Nobel di bidang fisiologi kedokteran pada tahun 1981. Selain itu dia juga menemukan bahwa pada saat otak kanan sedang bekerja maka otak kiri cenderung lebih tenang, demikian pula sebaliknya.

Otak kanan berfungsi dalam hal persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna. Daya ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory). Bila terjadi kerusakan otak kanan misalnya pada penyakit stroke atau tumor otak, maka fungsi otak yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi misalnya. Otak kiri berfungsi dalam hal perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan dan logika. Daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). Bila terjadi kerusakan pada otak kiri maka akan terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa dan matematika. Walaupun keduanya mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi setiap individu mempunyai kecenderungan untuk mengunakan salah satu belahan yang dominan dalam menyelesaikan masalah hidup dan pekerjaan. Setiap belahan otak saling mendominasi dalam aktivitas namun keduanya terlibat dalam hampir semua proses pemikiran.

Ada baiknya jika seseorang itu seimbang untuk fungsi kedua otak ini….. Supaya tidak terlalu kaku sekali ketika menghadapi persoalan, atau sebaliknya terlalu emosional.

Penutup

Konser telah usai… tetapi telah menyisakan semangat untuk terus berlatih hehe…. siapa tau ada produser tertarik ngajak rekaman…..

Demikian saja liputan khusus konser “4DIPA”… sampai ketemu lagi di konser berikutnya (kalau ada..)….





Selebritis narsis di Geronimo 101,6 FM…..

3 11 2009

Dear kawan,

IMG_0211 crop geronimo

sehabis "on air".... (awas kelelep lho..)

Kali ini ceritaku tentang selebriti dadakan yang sedikit narsis.. hehe… yaitu pengalamanku mengisi acara di sebuah radio,  jangan diketawain yaa….. !!Hmm… suer deh, ini pengalaman pertamaku ngisi acara di radio… (Kalo  jadi narasumber di acara TV malah pernah, walau cuma TV lokal Yogya, dalam acara “UGM Berkomunikasi”). Dan ini adalah berkat usaha Mbak Hartati sebagai salah satu bentuk promo buku kami yang berjudul “Bahaya Alkohol dan cara mencegah kecanduannya”… aku sih cuma tinggal brangkat aja. Jadi ceritanya nih malam Senin kemarin aku ngisi acara sebagai bintang tamu di acara “Oh Indahnya Yogya”, yang dipandu oleh Mbak Sondy. Acaranya jam 21-22 malam di Geronimo 101,6 FM, sebuah radio ngetop di Yogya.

Persiapan

Minggu lalu aku menerima e-mail dari Mbak Tati, bahwa beliau sudah mengontak Radio Geronimo untuk bisa punya acara di sana. Salut deh Mbak Tati, .. beliau kreatif dan mencari segala upaya untuk mempromosikan buku kami. Aku sih ngikut saja. Singkat cerita, kami dikasih waktu tg 2 November ini, jam 21-22. Dan karena mbak Tati ada di Yunani, praktis aku deh yang harus berangkat mengisi acara. Hari Jumat aku dikontak mbak Sondy, host-nya, diminta mengirimkan CV dan sinopsis bukunya. Aku sendiri dengan agak-agak narsis menulis status di FB-ku supaya teman-teman mendengarkan siaran Senin malam jam 21-22 di radio Geronimo… haha…..

Hari Senin, hari H siaran, jadwalku lumayan padat sejak pagi. Ada 3 kuliah, malah semestinya 4 kuliah, tapi yang satu lupa (maaf deh, dear students). Aduh, aku mulai start grogi…. atau tepatnya agak tegang, membayangkan apa yang bakal terjadi untuk siaran malamnya. Maklum deh, baru pertama kali, jadi maklum aja… Sorenya setelah selesai kuliah terakhir, aku coba baca-baca lagi tulisanku yang pernah kutulis tentang alkohol. Aku masih belum punya gambaran mau disuruh ngomong apa nanti malam. Aku print beberapa yang kuanggap penting. Untungnya tak berapa lama Mbak Sondy kirim SMS, katanya akan mengirim outline acara nanti malam. Baguslah…, jadi aku punya pegangan…

Habis maghrib, beberapa jam sebelum siaran. Aku check e-mail dari Sondy, yang sempat tertunda karena server error, katanya. Alamaak, … jadi tambah tegang nih …. aku tulis status di FBku…” kayak nunggu ijab kabul aja” haha… Untunglah outline segera aku peroleh, dan aku pelajari bentar apa-apa yang akan dan perlu disampaikan dalam acara nanti. Salah satunya adalah pertanyaan tentang bagaimana aku bisa bekerja sama dengan Mbak Tati dalam menulis buku ini. Aku buka catatanku di blog ini, seingatku aku dulu pernah menulis tentang awal-awal aku diajak mbak Tati menulis (bisa dilihat di sini). Paling tidak aku menemukan data penting tentang sekitar kapan Mbak Tati mulai mengontak aku untuk berkolaborasi. Hmm…. ada gunanya juga nih kutulis semua yang kualami, bisa jadi dokumentasi hidup. Aku juga sempatkan lagi pelajari isi bukuku sendiri ,….. aku ingat hal-hal yang kuanggap penting. Wah, rasanya kayak mau ujian saja… haha… Selebihnya aku pasrah. Dan thanks buat teman-teman yang secara khusus mengontakku lewat FB atau YM untuk memberi semangat dan doa ….. Kayak mau maju perang saja….. !!

Selebriti on air

IMG_0217 dg Sondy geronimo

aku dan Sondy... sesama imut dilarang saling mendahului...

Aku sampai di Radio Geronimo FM sekitar jam 20.40-an. Sepanjang jalan, sambil nyetir  aku mencoba ngomong sendiri tentang alur cerita bagaimana aku bisa berkolaborasi dengan Mbak Tati. Kayak orang gila ngomong sendiri haha….!! Pas banget, ketika aku datang, Mbak Sondy juga datang. Kami ngobrol sebentar mengenai hal-hal yang mau disampaikan nantinya. Keteganganku mulai cair… lagipula mbak Sondy-nya juga ramah mengajak ngobrol. Menjelang jam 21.00, aku diajak masuk ke ruang siaran. Oya, sebelum itu, kami berusaha mengontak Mbak Tati lewat FB agar beliau juga bisa berpartisipasi dalam acara dengan cara menelpon dari Yunani.

Well, acara dimulai…. aku sudah bisa mulai santai… dasarnya aku orangnya santai dan suka juga bercanda, jadi tidak terlalu sulit mengimbangi Mbak Sondy. Malah ada yang komentar, katanya ternyata profesornya gaul juga haha….. Pertama, aku diminta menceritakan bagaimana aku bisa menulis bersama dengan mbak Tati, yang uniknya, kami sendiri bahkan belum pernah bertemu muka!! Ngomong lewat telpon juga cuma sekali. Aku ceritakan bahwa ide penulisan buku ini adalah berasal dari Mbak Tati. Beliau yang mengajak aku menulis. Aku sendiri hanyalah dosen biasa yang kebetulan suka nulis di blog, itu pun tulisan suka-suka aku. Suatu kali aku pernah aku menulis tentang Ginseng Mabur, yaitu kasus meninggalnya beberapa orang di Semarang akibat minum miras oplosan. Mungkin, secara tidak sengaja, mbak Tati menemukan namaku ketika searching di internet, lalu beliau mengontakku. What is a small world!! Kami sangat berterimakasih dengan penemu teknologi informasi canggih sekarang ini, yang memungkinkan dua orang yang berada di benua berbeda bertemu untuk menulis bersama. Dan kayaknya seperti itulah pertemuan jodoh hehe…… kayak ada chemistry-nya…. kami segera klik untuk menulis dan berbagi tugas penulisan. Tapi dari mbak Tati sendiri bahannya sudah banyak sekali, jadi sebenarnya aku lebih banyak melengkapi apa-apa yang sudah ditulis mbak Tati, terutama kalau berkaitan dengan masalah kesehatan.

Hm.. sesi-sesi berikutnya dalam siaran mengalir lancar. Sayangnya Mbak Tati tidak bisa terlalu lama bergabung lewat telepon. Yunani terlalu jauh kali yaa… jadi ada jeda antara waktu bicara dan suara yang sampai, jadi kadang suaranya tidak terdengar jelas. Apalagi ternyata paginya, Mbak Tati baru kena musibah.. kecurian laptop di rumahnya karena lupa kunci pintu ketika belanja. Wah, turut prihatin, Mbak…

Di satu sesi, Mbak Sondy memintaku menceritakan tentang kisah pecandu alkohol di berbagai belahan dunia. Di buku memang sudah dituliskan, dan itu merupakan cerita nyata yang diperoleh dari berbagai kontributor kami yang ada di berbagai negara. Terimakasih untuk para kontributor buku kami.  O,ya… ini juga salah satu kehebatan Mbak Tati sebagai penulis senior, yaitu memanfaatkan jaringan koneksinya dengan banyak teman di berbagai negara, sehingga mereka mau menyumbangkan tulisannya tentang kisah-kisah pecandu alkohol di berbagai negara, termasuk di beberapa daerah di Indonesia.   Dalam siaran kemaren, aku menekankan pada contoh kisah tragis mundurnya seorang Menteri Keuangan Jepang, Soichi Nakagawa, karena mabuk pada KTT G7 di Roma Italia pada bulan Pebruari 2009. Bukan mabuknya yang dimasalahkan, orang Jepang mah udah biasa mabuk. Tapi dengan mabuk nya itu sang Menteri tidak bisa menjawab pertanyaan pada konferensi pers dengan tepat dan itu malu-maluin banget negara Jepang. Dan itu memicu komentar yang keras di dalam negerinya, sehingga Pak Menteri memilih mengundurkan diri. Beritanya bisa dilhat di sini.

IMG_0204-crop

aku dan sang buku...

Pertanyaan yang masuk lewat SMS banyak sekali….. tapi waktunya terbatas, jadi tidak bisa semua terjawab. Maaf ya teman-teman, mudah-mudahan sudah cukup mewakili. Oya, untuk menjawab pertanyaan2 itu memang harus pandai-pandai mencari peluang untuk “ngepek buku” hehe… Alhamdulillah, diberi kelancaran. Tentu masih ada satu dua pertanyaan yang tidak memuaskan jawabannya, karena kemampuan dan ingatanku juga terbatas. Oya lagi, yang kirim pertanyaan, yang beruntung bisa dapat buku ini gratis loh…!

Aku menangkap bahwa antusiasme masyarakat ternyata cukup besar, terbukti dari banyaknya SMS yang masuk. Itu menunjukkan bahwa masalah alkohol memang masalah kita bersama, yang seperti fenomena gunung es. Banyak juga yang menanyakan bagaimana menghentikan kecanduan, karena bolak balik kembali lagi kepengin minum. Aku sampaikan bahwa ada beberapa cara mencegah kecanduan, tetapi sangat penting adalah niat dari diri sendiri. Jika tidak berhasil, bisa dilakukan terapi psikologis atau medis, yang tentunya harus dilakukan oleh orang yang kompeten di bidangnya.

Well, sudah cukup banyak contoh yang merugikan akibat penggunaan alkohol. Dan mau minum atau tidak, itu sebenarnya adalah pilihan hidup. Kalau kita sudah melihat banyaknya pengalaman buruk orang lain karena bahaya alkohol, mengapa kita harus merasakannya sendiri? Bodoh bukan? Dan kita tidak perlu berurusan dengan masalah alkohol dulu untuk membeli buku ini. Kita bisa berbagi ilmu dengan buku ini, untuk mengajak yang lain menghindari bahaya alkohol. Mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi pahala yang tiada putus. Amien.

Yah, begitulah sedikit ceritaku ketika menjadi selebritis dadakan di radio Geronimo Senin malam kemarin. Dan apa narsisnya?… aku sempat foto-foto juga yang bisa Anda lihat di posting ini…. hehe…





Rekrutmen partisipan untuk penelitian farmakogenetik

29 10 2009

Dear kawan,

snp_1

Bagaimana gen mempengaruhi efek obat

Saat ini aku sedang melakukan penelitian bersama tim untuk memetakan polimorfisme genetik pada orang Indonesia. Pemikiran yang melatarbelakangi adalah bahwa hingga saat ini belum ada publikasi mengenai peta polimorfisme genetik pada orang asli Indonesia terkait dengan berbagai gen yang mungkin terlibat dalam respon obat. Untuk itu sangat perlu kiranya dilakukan pemetaan polimorfisme genetik pada penduduk asli Indonesia, apalagi Indonesia sangat kaya dengan suku bangsa, yang sangat memungkinkan terdapatnya variasi genetik yang luas.

Pada penelitian kali ini akan dilakukan pemetaan genetik khususnya pada suku Jawa sebagai suku dengan populasi terbesar di Indonesia. Pada kesempatan penelitian berikutnya dimungkinkan untuk memetakan pola polimorfisme genetik pada berbagai suku lainnya di Indonesia. Gen yang dipilih untuk diamati kali ini adalah gen yang mengkode enzim sitokrom P450 subtipe CYP2D6, CYP2C9, dan CYP2C19, karena mereka merupakan enzim yang paling banyak dilaporkan mengalami polimorfisme dan bertanggungjawab terhadap banyak kejadian adverse drug reaction dan kegagalan terapi beberapa obat yang lazim digunakan (Nelson, et al, 1996).

Penelitian ini merupakan penelitian kerjasama yang dilakukan oleh tim Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada dengan Institute for Research in Molecular Medicine (INFORMM) Universiti Sains Malaysia.

Untuk itu dibutuhkan relawan-relawan sebagai subyek penelitian ini, dengan kriteria :

pria/wanita, usia 18-40 tahun, sehat jasmani (berdasarkan pemeriksaan kesehatan yang akan dilakukan), suku Jawa asli (bapak dan ibunya orang Jawa, kakek dan nenek dari kedua pihak juga suku Jawa), diutamakan yang tinggal di Yogya dan sekitarnya untuk kemudahan teknisnya.

Subyek/relawan akan diminta hadir pada saat dan tempat yang akan diinformasikan kemudian, lalu diambil darahnya dan diperiksa kesehatannya secara umum, untuk memastikan kondisi kesehatannya, apakah memenuhi kriteria inklusi apa tidak. Direncanakan diperlukan sekitar 200 orang subyek yang memenuhi kriteria inklusi. Buat teman-teman yang tertarik, silakan mendaftarkan diri pada saya melalui e-mail atau message via FB, atau langsung mencatatkan diri di Magister Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM Gdg Unit 3 lt 3 (contact person: Mbak Desi), atau kepada Pak Arief Rahman Hakim di bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik Fak Farmasi UGM, bisa melalui e-mail atau message via FB beliau, atau langsung mencatatkan diri di Bagian Farmakologi.

Relawan dapat apa?

Relawan yang mendaftarkan diri akan mendapatkan pemeriksaan ksehatan lengkap secara gratis, baik nanti masuk dalam kriteria kesehatan subyek atau tidak. Selain itu, ada sekedar bingkisan pelepas lelah.

Demikian, mohon bantuan dan doa restunya yaa…..

Terimakasih banyak sebelumnya..





Dibalik layar : International Conference in Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences

9 10 2009
Dear kawan,

Rasanya aku perlu menyebut kegiatan International Conference ini dalam blog-ku sebagai kegiatan penting yang perlu didokumentasikan. Alhamdulillah, kerja keras tim selama beberapa bulan sebelumnya terbayar sudah dengan sukses dan lancarnya acara, serta kesan manis yang sudah dirasakan oleh sebagian besar tamu. Sempat diawali sedikit ketegangan internal terkait dengan tempat penyelenggaraan, prediksi jumlah peserta yang sedikit meleset, melesetnya beberapa sasaran sponsor, semuanya menjadi pelajaran berharga untuk penyelenggaraan sebuah acara besar. Salutlah buat Mbak Hilda sebagai Chairman of the Committee yang sudah mengorganisir semuanya!! Aku sendiri posisinya sebagai Steering Committee….. hirarkinya lebih tinggi sedikit haha…., lebih banyak memberi masukan-masukan, menjadi pendorong, dan tentu tetap berada bersama panitia untuk berbagai persiapan. Kegiatan Conference-nya sendiri diselenggarakan di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta, hotel bintang lima gitu loh…. !!

Menyambut tetamu

Kami mengundang beberapa narasumber dari luar negeri, 5 orang dari Jepang, 2 orang Malaysia, 1 orang Italia, 1 dari Australia, dan 1 orang dari Belanda. Cukup heboh lah…! Lucunya, para narasumber itu kebanyakan adalah kenalan dari beberapa dari kami anggota Panitia. Aku sendiri misalnya, mengundang Prof. Kazutaka Maeyama dari Ehime University, supervisorku ketika aku studi S3 dulu di sana. Mbak Hilda mengundang kenalannya dari Australia, Gregory Duncan dari Monash University, Ronny si sekretaris Panitia mengundang supervisornya dulu Prof .Paolo Caliceti dari Italia. Selain itu masih ada Prof. Timmerman, Prof. Syed Azhar, Prof. Izham, dll. Jadilah semacam ada pembagian tugas untuk mengurusi tamu masing-masing, walaupun itu sebenarnya ya tamu bersama. Ya untuk kepraktisan saja.

bersama invited speakers, berdiri: Hilda, Ronny, Zullies

bersama invited speakers, berdiri: Hilda, Ronny, Zullies

Hari Sabtu aku menemani Mbak Hilda menjemput Mr Duncan di Bandara. Walaupun ada penjemputan dari hotel, kayaknya lebih menghargai jika kita menjemputnya sendiri. Wah, Mr Duncan itu tinggi banget…. aku cuma separonya haha….. jadilah kalo mau ngomong sama beliau aku harus mendongak ke atas…!!

Hari Minggunya aku jemput Maeyama Sensei dan istrinya (di Jepang, profesor diundang dengan sebutan Sensei) di bandara bersama Rizal dan Agung, yang sama-sama pernah bekerja di Lab Sensei di Ehime. Aku ajak makan siang bentar dan aku putarkan lewat UGM biar Sensei bisa melihat UGM dari dekat, lalu aku antar ke hotel. Dua malam sebelum hari H acaranya Welcome Dinner terus … hehe… mengacaukan program pelangsingan tubuh nih.

Jalannya Conference

Acara pembukaan berjalan lancar, diikuti paparan oleh plenary speakers, dan invited speakers. Isinya macam-macam lah, terlalu banyak kalo mo diceritakan di sini. Topik kefarmasian oleh invited speakers dibagi dalam dua tema besar, yaitu Advanced Pharmaceutical Sciences dan Clinical/Social Pharmacy, sehingga audiens bisa memilih mau ikut yang mana. Aku sendiri bertugas sebagai moderator dalam salah satu sesi presentasi invited speakers. Siangnya sehabis lunch, acara dilanjutkan dengan presentasi oral para peserta conference. Demikian pula pada hari kedua.

Me, Maeyama Sensei, and colleagues

Me, Maeyama Sensei, and colleagues

Yang sedikit bikin surprise buatku adalah bahwa yang dipresentasikan oleh Prof Maeyama sebagian adalah hasil penelitianku selama studi di bawah bimbingannya dulu. Dah gitu, di bagian belakang pada ucapan terimakasih (acknowledgment), dipasanglah fotoku ketika masih di sana, ditayangkan pula… Waduh, jadi agak terharu deh hehe…. (arigatou, Sensei…). Ngomong-ngomong tentang senseiku ini, aku harus bersyukur alhamdulillah memiliki beliau sebagai pembimbing dulu,… karena beliau orangnya sangat humanis, ramah, perhatian, ngga serem seperti gambaran sebagian besar profesor Jepang yang serius dan jarang senyum. Dah gitu, orangnya nyeni lagi… karena beliau hobby melukis. Malah waktu diajak ke Candi Prambanan, beliau sempat melukis sebentar di sana… wow ..kereen!!

Susunan acara conference sendiri bisa ditengok di http://farmasi.ugm.ac.id/isapps . Tapi aku ngga akan cerita tentang acaranya secara detail, garing nanti hehe….. Aku coba memotret aja sudut-sudut kecil di kegiatan ini dari perspektifku sendiri. Satu inovasi yang dikreasi dalam konferensi ini adalah sistem barcode pada pendaftaran peserta yang terkoneksi dengan web. Sistem ini dikembangkan oleh mas Parno, ahli komputer kami. Salutlah atas kerja kerasnya. Kalau dari segi substansi, materi presentasi dari peserta sungguh sangat bervariasi, dari yang agak sederhana sampai yang canggih. Satu yang menarik perhatianku, karena kebetulan aku jadi moderator pada sesi itu, adalah presentasi dari salah satu peserta dari Malaysia, yang melaporkan hasil penelitiannya bahwa coklat bisa mengurangi kecemasan. Penelitian itu dilakukan terhadap mahasiswa progam studi keperawatan di sebuah universitas di sana, judulnya : An Interventional Pilot Study: Effect Of Dark Chocolate Consumption On Anxiety Level Among Female Nursing Students. Pemberian dark chocolate ternyata bisa mengurangi tingkat kecemasan pada subyek uji, namun uji ini baru dilakukan secara terbatas pada mahasiswa wanita. Wah, boleh juga nih….. sering-sering makan coklat, biar bisa mengurangi kecemasan hehe…. tapi katanya sih masih perlu uji lebih lanjut dengan lama pemberian yang berbeda, dan macam coklat yang berbeda.

Gala Dinner dan Penutupan

bersama Maeyama Sensei dan istri

bersama Maeyama Sensei dan istri

Hari pertama ditutup dengan acara Gala Dinner yang lumayan meriah di pinggir swimming pool Hotel. Suasananya romantis hehe… dengan lampu remang-remang. Undangan yang terdiri dari semua pembicara dan sebagian peserta dan panitia memenuhi tempat acara dilangsungkan. Acara diisi dengan Batik Fashion Show dari Danar Hadi, tarian, dan penampilan dari group musik mahasiswa Farmasi. Acara fashion show sendiri adalah usulanku, terinspirasi dari acara serupa  ketika aku mengikuti Regional Conference on Moleculer Medicine di Malaysia bulan Mei 2009. Dan pentas batik ini pas benar timing-nya dengan baru saja diakuinya batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO. Jadi klop-lah! Wah…. peragawatinya tinggi-tinggi, langsing, dan cantik!! Jalannya mendongak ke atas…. kayaknya waktu latihan mereka menggendong ransel di punggung. Aku terkesan juga atas penampilan para mahasiswa, baik yang jadi MC atau pun menyanyi dan memainkan musik. Hebat dan berbakat!! Nanti kalo latihan nyanyi aku diundang dong….. haha!

Acara penutupan kami buat sedikit berbeda. Sebelum acara pembacaan pemenang presentasi terbaik dan penutupan resmi oleh Dekan, kami membuat sebuah performance khusus. Kami ingin menunjukkan bahwa orang farmasi itu juga ngga selalu melulu berpenampilan serius karena kebanyakan mikir rumus hehe…. Aku sendiri suka menyanyi, dan mbak Hilda piawai main organ. Jadilah dengan cuek dan sok pede tanpa mempertimbangkan gangguan pendengaran yang bakal dialami audiens, aku (dengan mengajak Ronny) melantunkan lagu “Love of my life” dengan iringan organ Mbak Hilda….!  Prof Timerman dari Belanda juga kami daulat untuk menyanyi, dan tak ketinggalan Prof Caliceti dari Italia. Heboh!!

"Love of my life" by Zullies and Ronny.. sorry for annoying..

"Love of my life" by Zullies and Ronny.. sorry for annoying your ear.....

 

Alhamdulillah, semua berjalan relatif lancar…  Tentu tak ada yang sempurna, mohon maaf jika ada hal-hal yang masih kurang berkenan. Sebuah pelajaran penting untuk penyelenggaraan acara besar kami peroleh. Semoga bermanfaat.

Demikian catatan kecilku mengenai conference kami.





Catatan tentang Blog dan Lebaranku tahun 2009

23 09 2009

Dear kawan,

Tak terasa hampir setahun usia blog ala-kadarnya ini, dengan jumlah  kunjungan sekitar 41 ribuan. Banyak masukan yang membangun dan memotivasiku untuk setia menulis. Katanya banyak pula yang terinspirasi oleh tulisan-tulisanku, hm…..  terimakasih atas apresiasinya.. Aku coba telisik lagi, posting pertamaku adalah tanggal 6 Oktober 2008. Hmm.. masih naif banget waktu itu…. dengan tulisan2 pendek dan mendaur ulang simpanan tulisan2ku yang tercecer di beberapa tempat… 

Tapi belakangan memang frekuensi menulisku sudah mulai berkurang. Bahkan sebulan terakhir ini hampir sama sekali tiada tulisan baru. Aku mencoba evaluasi lagi nasib malang blog-ku ini, yang jarang ku-update lagi…  Yang pertama, ada sedikit kejenuhan, .. semua hal rasanya sudah pernah kutulis. Mau nulis tentang obat, sudah banyak blog serupa. Yang kedua, aku pun makin selektif menulis…. semakin banyak yang membaca, ada semacam ‘beban’ untuk tidak menulis asal-asalan saja. Yah, walaupun pada dasarnya ini adalah blog untuk berekspresi pelepas penat, tapi tentu harus ada muatan yang bermanfaat. Yang ketiga,… belum ada lagi peristiwa2 istimewa di seputar keseharianku yang mendorongku untuk menulis..  Biasanya aku suka mencari ide tulisan dari pengamatan atau pengalaman sehari-hari yang kukombinasi dengan pengetahuan tertentu. Ada sih tentu hal-hal istimewa dalam 1-2 bulan belakangan, tapi itu terlalu pribadi dan bukan untuk konsumsi publik hehe……  Aku masih menulis, tapi untuk diriku sendiri. Aku kan harus ja-im haha…. (jaga image).  Jadi mohon maklum jika produktivitasku menulis di blog ini sedang rendah sekarang….

Kali ini aku mencoba membuat catatan kecil lebaran tahun ini, sekedar untuk dokumentasi aku sendiri… Dan catatan lebaran kali ini adalah yang pertama kubuat karena Blog ini memang baru mengalami sekali lebaran.

Era Face Book

Sekali lagi aku perlu menyebut-nyebut tentang Face Book dan harus angkat jempol dengan ide inventif penemunya untuk mengkreasi suatu media pertemanan yang sangat fenomenal abad ini. Terus terang… aku termasuk yang “tiada hari tanpa membuka Face Book” hehe… walau kadang hanya sebentar2 untuk menengok suasana hiruk pikuk di dunia maya. Face Book ini perlu kusebut karena benar-benar mewarnai suasana Ramadhan maupun Idul Fitri tahun ini bagi sebagian besar orang…..  Aku jamin!! Ada yang mengisinya dengan penuh canda-tawa, ada yang serius penuh pesan hikmah dan menggunakannya sebagai media dakwah. Termasuk aku juga yang kadang muncul ide-ide iseng dan jail untuk ditulis, namun sesekali juga menulis serius membawa pesan tertentu. Kadang berbau sentimentil pula hehe……. sesuai suasana hati. Face Book pula yang menjadi media utama mengucapkan selamat berpuasa atau selamat Idul Fitri, di samping SMS atau MMS. Kartu Lebaran jadi terasa jadul !! Pak Pos jadi berkurang pekerjaannya nih…..

Ramadhan 1430 H

Hmm, kawan…., aku merasa Ramadhanku kali ini tidak begitu optimal. Astaghfirullohal adziim. Aku tidak bisa cerita banyak… tapi pada bulan yang mestinya penuh pengendalian diri dan emosi, nampaknya aku lebih banyak gagal. Emosi masih berfluktuasi naik turun, kurang sabar, sensitif, mudah menangis, …. yah begitulah. Aku masih harus banyak berlatih.. Sampai-sampai aku berpikir, begitukah memang sifat wanita?…. Ah, mestinya tidak. Banyak wanita-wanita kuat yang berhasil menguasai diri dan mengendalikan emosinya dalam berbagai keadaan.

Apa penyebabnya? Hm…. biar jadi ranah pribadi saja hehe….  Mengapa ini kutuliskan? Aku hanya ingin memberi gambaran tentang kompleksitas manusia.  Bahwa walaupun seseorang punya daya nalar yang baik, seringkali logika kalah dengan perasaan…. sampai-sampai pernah kutulis di status FBku…. bahwa tidak mudah mengkompromikan akal dan hati.  Dan hal-hal serupa tentu akan sering kita hadapi di kemudian hari. Itu sungguh ujian hati yang berat… bagaimana untuk tetap berpegang pada bisikan kalbu yang jernih, yang  menuntun pada kebaikan. Dan aku hanyalah manusia lemah belaka…. dan nampaknya sedang berada dalam titik terlemah…

Ramadhan pun berlalu, menyisakan harapan semoga akan bertemu bulan mulia ini tahun berikutnya, dan akan menjalaninya dengan lebih baik. Amien.

Persiapan untuk lebaran

Persiapan lebaran aku lakukan ala kadarnya saja. Yang penting mengeluarkan zakat mal dan membagi bingkisan lebaran untuk tetangga kiri kanan yang kurang beruntung. Dan tidak lupa, memberi THR untuk dua asisten di rumah hehe….. Aku sendiri tak ada baju baru khusus. Beberapa saat sebelumnya sudah beberapa kali jahitkan baju yang kainnya pemberian dari teman-teman (thanks, teman-teman…). Dan sebaliknya, justru bongkar-bongkar lemari mencari baju-baju lama yang masih pantas diberikan pada yang membutuhkan. Paling cari baju untuk anak-anak, juga untuk para keponakan, karena ibuku ingin 10 cucunya memakai baju batik yang senada/seragam pada acara silaturahmi keluarga besar hehe… kaya panti asuhan saja..

Mudik Lebaran

Anak-anakku sudah mulai libur semingguan sebelum lebaran. Yang sulung malah sudah tidak sabar lagi untuk mudik ke rumah eyangnya di Purwokerto, dan secara khusus meminta eyangnya untuk menjemputnya mudik. Yah, si sulung kami memang cukup lama menghabiskan masa balitanya bersama eyangnya karena dulu dia ditinggal ketika kami (ayah ibunya) belajar di Jepang selama tiga tahun. Kebetulan ia juga kelahiran Purwokerto, jadi maklum saja jika ia merasa sangat dekat dengan eyang dan kota kelahirannya itu. Aku sendiri masih bertahan sampai hari terakhir masuk kantor, sampai sore hari.  Tapi hawanya sudah mulai hawa liburan hehe…. jadi agak santai, sambil kirim-kirim dan cek-cek e-mail dan persiapan untuk rencana benchmarking ke Australia bulan Oktober ini. Insya Allah.

Perjalanan mudik pada hari Jumat alhamdulillah berjalan lancar. Jalanan masih normal… dengan waktu tempuh Jogja-Purwokerto selama 4,5 jam dengan mobil sendiri, termasuk break untuk sholat jumatan. Sampai Purwokerto aku agak pangling dengan berbagai perubahan kota. Alun-alun yang dulu pernah jadi tempat banyak aktivitasku di masa kecil dan remaja sudah banyak berubah wajah. Pohon-pohon pinggir jalan banyak yang berkurang. Makin banyak saja bangunan-bangunan baru di sepanjang jalan menuju rumah ibuku. Hm… tiba-tiba saja aku jadi sentimentil menyusuri jalan-jalan kotaku dan mengenang semua yang pernah lewat dua puluh lima tahun yang lalu…. Lagi-lagi, Face Book tidak dilupakan….hehe… melalui mobile text via HP ku-update status FBku:… “Purwokerto, I’m coming!”….

Kerepotan lebaran

Menurutku, yang paling menikmati liburan lebaran adalah para asisten rumahtangga alias PRT. Sudah dapat THR, bebas dari pekerjaan pula. Sedangkan sang majikan gantian kerepotan mengurus segala pernak-pernik keperluan rumah. Begitu jugalah aku, terutama untuk urusan anak-anak, terutama sekali si bungsu yang baru 3,5 tahun. Wah,… aku tak pernah bisa lepas dari urusan si kecil, mulai dari bangun tidur, mandi, sarapan, nemani bermain, makan siang, tidur siang, mandi sore, makan malam, sampai tidur lagi. Terasa banget tidak mudah to be the real mother, though I am not a perfect mother. Paling lega kalau anak sudah tidur hehe…. bisa nulis-nulis seperti sekarang ini, bisa buka Face Book, cek e-mail, dll.

Adik-adikku sudah mulai pula berdatangan dengan keluarga masing-masing. Rumah ibu menjadi ramai dan mulai berantakan kayak kapal pecah. Maklum cucu-cucunya masih anak-anak yang sukanya main melulu dan belum punya rasa tanggungjawab untuk membereskan. Kerepotan bertambah saja. Tapi yah… Lebaran adalah kerepotan yang menyenangkan, dan kesenangan yang merepotkan, begitu kutulis di status FBku.

Aku sebenarnya sedang tidak ingin menulis yang sedih-sedih… tapi bagaimanapun kadang ada keprihatinan menyusup. Melihat keponakanku yang kecil-kecil sudah pandai berceloteh, aku ingat si bungsu kami Dhika yang masih terbatas percakapannya. Yah… itulah ujian kami juga, mudah-mudahan Allah akan memberikan yang terbaik bagi kami semua, Amien.

Hari Idul Fitri tiba

keluarga kecil kami di Idul Fitri

keluarga kecil kami di Idul Fitri

Alhamdulillah, hari raya telah tiba. Pagi-pagi kami sekeluarga besar berangkat bersama ke Alun-alun Purwokerto untuk sholat Ied. Kali ini untuk pertamakalinya si bungsu aku coba ajak untuk berangkat sholat Ied. Terus terang, aku agak sangsi apakah Dhika sudah bisa diajak ke acara semacam, karena Dhika memang sedikit hiperaktif dan tidak betah diam. Tapi bismillah… aku coba saja. Aku sudah siapkan mainan yang kuharap bisa membuatnya betah menunggu. Apa yang terjadi ?… Rakaat pertama berjalan dengan lancar, Dhika duduk manis di dekatku. Pada rakaat kedua, nampaknya ia mulai bosan. Tiba-tiba saja ia lari melalui lorong yang terbentuk dari jamaah sholat ied. Waduh, aku mulai tidak khusyu, tapi sempat berharap dia segera kembali. Ketika sholat selesai, Dhika tidak kembali. Wah, aku lumayan panik mencarinya. Aku sedikit berlari melewati orang-orang yang sedang mendengarkan khotbah sambil berkali-kali mohon maaf karena melewatinya untuk mencari Dhika. Sejauh mata memandang tak banyak yang bisa kulihat karena pakaian jamaah warna-warni dan sulit sekali mencari anak kecil seusia Dhika. Sambil aku memohon kepada Allah semoga Dhika ketemu, akhirnya aku menatap sosok kecil di kejauhan sedang asyik berlari kecil menyusuri pinggir alun-alun di dekat pohon beringin paling timur. Alhamdulillah, aku langsung berlari kencang, takut kehilangan sosok kecil itu. Akhirnya kutemukan dan kobopong Dhika untuk kembali ke tempat kami berkumpul. Ah,.. sungguh pengalaman yang cukup mendebarkan. Alhamdulillah, kami masih diberi kesempatan  menemukan Dhika. Dhika sungguh ujian bagi kami untuk menjaga dan merawatnya. Beri kami kekuatan ya, Allah. Amien.

Usai sholat Ied, suasana rumah cukup hiruk pikuk dengan makan opor ayam dan ketupat, sungkem dengan ibu dan saling bermaafan di antara keluarga, serta pertemuan keluarga besar RT tempat tinggal kami di Masjid dekat rumah. Ini Lebaran ketiga tanpa ayah yang telah meninggalkan kami tahun 2006 yang lalu. Kami juga sempatkan ziarah ke makam ayah untuk mendoakan beliau. Cuma ada yang sedikit menganggu, ketika kami lagi khusyu berdoa di makam ayah, keponakanku yang masih umur 3,5 tahun tiba-tiba menyanyikan lagu dengan lidah cedalnya  ”C lagi A minol D minol ke G ke C lagi….”…Lagunya Lupa-lupa Ingat-nya Band Kuburan…. Waah, ketawa deh semua…… dan berdoa harus diulang lagi.

Reuni SMA 1 Purwokerto

Setelah sehari sebelumnya kami bersilaturahmi ke Pekalongan dan kembali pada esok paginya, H +4 Idul Fitri alias tanggal 23 September diisi dengan acara Reuni SMA Negeri 1 Purwokerto Angkatan 1987 di sebuah restoran alam di dekat Baturaden. Lumayan banyak yang datang, dan kami cukup terkaget-kaget dengan penampilan beberapa teman yang banyak berubah setelah belasan tahun tidak ketemu. Ada yang jadi kelas berat, ada yang bertahan langsing, ada yang tetap awet muda, dan macam-macam lagi. Cukup seru dan heboh…!! Semoga forum ini bisa menjadi media untuk berbagi dan bertukar pikiran dan pengalaman, terutama buat kemajuan almamater tercinta.

Hm.. hari yang cukup melelahkan hari ini. Semua anggota keluargaku langsung tidur pulas lebih awal.. sehingga aku bisa bebas nulis banyak malam ini hehe……

Penutup

Demikian catatan lebaranku kali ini yang kutulis pada H+4. Pagi tadi aku sudah mendapat SMS dari Pak Dekan untuk membuat laporan singkat tentang kegiatan DIPA WCRU (World Class Research University) untuk Fakultas Farmasi di mana kebetulan aku menjadi Ketua Task Force-nya, karena akan dilaporkan dalam Pidato Dies Fakultas Senin mendatang. Artinya….. hm, liburan telah usai. Siap-siap lagi menghadapi berbagai aktivitas pasca liburan. Semoga akan menjadi hidup baru yang lebih baik…. Amien.

Selamat Idul Fitri

Mohon maaf lahir dan batin.