Japan Trip 2016 (2): Hiroshima Peace Memorial Museum

2 12 2016

Dear kawan,

Aku lanjutkan catatan perjalanan ini dengan perjalanan hari kedua di Jepang. Sesuai rencana, hari Minggu pagi kami check out dari hotel dan persiapan menuju ke Hiroshima. Oya, karena dari Hiroshima nanti kami langsung ke Kansai untuk menginap di sana, maka untuk tidak memberati perjalanan kami mengirim koper lebih dulu ke Hotel di Kansai. Ini adalah pengalaman pertama buatku mengirim koper dari hotel ke hotel, dan alhamdulillah tidak ada kesulitan. Kebetulan aku sudah memegang voucher Hotel Nikko Kansai Airport, jadi aku bilang ke Hotel di Matsuyama untuk mengirimkan koper kami ke Hotel di Kansai. Biaya pengiriman untuk satu kopernya adalah 1500-an yen. Pihak Hotel di Matsuyama akan mengontak Hotel di Kansai untuk pengiriman koper kami.

Menunggu Superjet bersama Maeyama Sensei

Menunggu Superjet bersama Maeyama Sensei

Dan sesuai rencana pula, Maeyama Sensei menjemput kami berempat ke hotel dan mengantar kami ke Matsuyama Port. Rizal dan Verda akan langsung naik densha ke pelabuhan. Kami akan mencoba naik kapal Superjet menuju Hiroshima. Feri Superjet berangkat setiap jam. Sebetulnya kami berencana mengambil superjet jam 9, itu makanya Sensei menjemput kami jam 8 dari Hotel. Tetapi rupanya Rizal tidak bisa mendapat densha jam 7.40 dari rumahnya, sehingga kami ngga bisa mengambil feri jam 9, karena mereka baru bisa sampai port jam 9.30an. Oke deh, ngga papa, kami sih ngga buru-buru.. tapi sempat kasihan sama Sensei pagi-pagi harus jemput kami. Semalam waktu farewell party  pasti beliau tidak berani minum banyak-banyak hehe…. takut drunken dan ngga bisa driving dengan baik. Dan aku harus bersyukur karena selama study di Jepang mendapat professor yang baik hati, bahkan sampai sekarangpun, limabelas tahun setelah aku lulus S3. Ketika aku sampaikan pada Sensei bahwa kami baru akan berangkat jam 10 dan jika Sensei ada acara lain silakan jika akan pulang dulu, Sensei bersikeras menunggu di pelabuhan sampai kami berangkat, bahkan sampai melambaikan tangan saat Feri Superjet kami mulai bergerak. Istilah jawanya mau “nguntapke”Oh, ontoni arigatou gozaimasu, Sensei.

Abis turun dari Superjet di Pelabuhan Hiroshima

Abis turun dari Superjet di Pelabuhan Hiroshima

Feri Superjet membawa kami membelah lautan menuju Pelabuhan Hiroshima dalam waktu 1,5 jam. Sebetulnya ada jenis Feri lain yang lebih murah, tetapi waktu tempuhnya lebih lama, yaitu 3 jam. Jadi kami piih yang lebih cepat. Ini menjadi moda transportasi kelima yang kami coba. Alhamdulillah, karena kami orang asing dan membawa passport, kami dapat harga special menjadi separuhnya, yaitu menjadi 3850 yen per orang. Wah, lumayan bingiit. Sayangnya Rizal dan Verda walaupun orang asing tetapi tidak bawa passport maka tidak bisa dapat potongan harga. Zan nen neee…. !!

Kereta lokal dari stasiun Hiroshima menuju Peace Memorial Museum

Kereta lokal dari stasiun Hiroshima menuju Peace Memorial Museum

Cuaca hari itu tidak begitu bersahabat, karena hujan turun seharian walau tidak deras. Tapi karena ramalan cuaca di Jepang hampir selalu tepat, hal ini sudah kami prediksi sehari sebelumnya. Jadi kami mesti bawa payung. Namun demikian, rinai hujan tidaklah menyurutkan semangat kami menjelajah di tujuan utama kami yaitu Hiroshima Peace Memorial Museum, yang dikenal dengan nama museum bom atom, untuk mengenang jatuhnya bom atom di Hiroshima tanggal 6 Agustus 1945. Dari Pelabuhan Hiroshima kami naik kereta lokal menuju museum dengan ongkos 160 yen/orang.

Di depan A-Bomb Dome di Peace Memorial Park

Di depan A-Bomb Dome di Peace Memorial Park

Sebelum masuk ke Museumnya, kami mengitari lebih dahulu Hiroshima Peace Memorial Park, atau taman di sekitar museum. Di situlah setiap tahunnya pada tanggal 6 Agustus diselenggarakan Peace Memorial Ceremony. Ada satu bangunan yang sangat khas dan menjadi tempat kunjungan favorit para pendatang, yaitu A-Bomb Dome atau Genbaku Dome. A-Bomb Dome dulunya adalah Hiroshima Prefectural Industrial Promotion Hall, satu-satunya gedung yang paling dekat dengan hiposenter jatuhnya bom dan masih tersisa pada saat itu. Sisa gedung itu kemudian dikonservasi dan menjadi saksi sejarah tragedy bom atom, dan bahkan mulai tanggal 7 Desember 1996 ditambahkan dalam daftar UNESCO World Heritage.  Waktu kami datang kesana, kami berjumpa banyak rombongan anak-anak SMP dan SMA bersama gurunya yang juga berkunjung ke sana sebagai bagian dari tugas sekolahnya.

Kapsi, Tabi dan Jeksi jalan-jalan ke Hiroshima

Kapsi, Tabi dan Jeksi jalan-jalan ke Hiroshima

Si Jeksi, kapsi dan Tabi tidak lupa juga lho berpose dengan latar belakang A-bomb Dome hehehe…..  Dari taman, kami masuk ke Museumnya. Ongkos masuknya cukup murah meriah, hanya 200 yen/orang dan untuk anak SMP gratis. Karena Hannisa masih SMP, jadi tidak kena biaya masuk museum. Museum ini didirikan pada tahun 1955 untuk menjadi media edukasi dan memorabilia tentang bom atom yang meluluh-lantakkan Hiroshima dan sebagai media advokasi tentang  perdamaian dunia. Museum ini mengkoleksi berbagai pernak-pernik (baju, sepatu, jam, dan alat-alat lainnya) dari korban bom atom yang tertinggal, foto, dan benda-benda lain yang tersisa dari tragedi bom atom, untuk menggambarkan betapa horornya suasana saat itu. Ada juga gambaran korban dengan kondisi mengenaskan akibat terkena bom atom dengan tangan meleleh. Selain itu juga ada tayangan kesaksian dari korban-korban bom atom yang masih hidup hingga sekarang, di mana saat kejadian mereka berumur sekitar 20 sampai 25-an tahun. Museum serupa sekarang sudah mulai bermunculan juga di negara kita, misalnya Museum Merapi di Yogya dan Museum Tsunami di Aceh, yang kebetulan pernah aku kunjungi.

Capek mengitari museum, kami cari makan siang dan menuju stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Osaka. Rizal dan Verda akan langsung balik ke Matsuyama, dan kami mencoba berpetualang berempat menuju Kansai Osaka. Kali ini kami memang berencana menggunakan Shinkansen, kereta api super cepat Jepang. Ini moda transportasi ke enam yang kami coba di Jepang.

Di Jepang, shinkansen termasuk moda transportasi yang banyak digunakan. Di sana, ada lima jalur shinkansen utama:

Tokaido Shinkansen, ini merupakan jalur paling penting dan padat, yang menghubungkan Tokyo dan Shin-Osaka (termasuk Nagoya dan Kyoto), dioperasikan oleh JR Central.

Sanyō Shinkansen, sambungan dari Osaka ke Fukuoka (meliputi Kobe dan Hiroshima), dioperasikan oleh JR West.

Tohoku Shinkansen, jalur Tokyo ke Utara hingga paling ujung pulau, dioperasikan JR East.

Hokkaido Shinkansen, ini sambungan dari Tohoku Shinkansen, yang menghubungkan Shin-Aomori dan Hakodate Hokuto melewati Seikan Tunnel bawah laut.  Dengan kereta Shinkansen Hayabusa membuat jalur kereta ke Pulau Hokkaido semakin ringkas.

Hokuriku Shinkansen, menyambung Tokyo ke Kanazawa (semula cuma sampai Nagano.

Afan dan Hannisa di depan moncong Shinkansen

Afan dan Hannisa di depan moncong Shinkansen

Untuk jalur Tokaido, yang paling ekspress dinamakan Nozomi yaitu paling sedikit berhentinya sehingga lebih cepat sampai. Di bawahnya adalah jenis Hikari, dan terakhir yang berhenti di semua stasiun adalah jenis Kodama. Kami mengambil shinkansen Tokaido dengan jurusan Hiroshima – Shin-Osaka. Ongkos shinkansen tidak jauh berbeda dengan pesawat. Dari Hiroshima ke Shin-Osaka ongkosnya 10.440 yen/orang, dengan waktu tempuh 1,5 jam. Kami menggunakan shinkansen Nozomi yang termasuk yang paling cepat, dengan kecepatan 270-300 km/jam, yang hanya berhenti di sedikit stasiun saja, yaitu Okayama dan Shin-Kobe. Kami beli yang reserved tiket karena itu hari minggu dan kuatir tidak dapat tempat duduk. Di Jepang, untuk shinkansen maupun kereta cepat, tersedia pilihan reserved dan non-reserved. Jika kita pilih non-reserved, nanti tidak mendapatkan nomor kursi dan bisa berebutan jika kebetulan ramai, dan kalau tidak beruntung bisa saja berdiri sepanjang perjalanan. Gerbong utk reserved dan non-reserved juga berbeda. Karena kami pendatang yang baru pertama menggunakan shinkansen, bawa anak-anak pula, aku pilih yang reserved yang buatku lebih terjamin waktu dan tempatnya. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga naik shinkansen. Dulu 15 tahun yang lalu, 3 tahun di Jepang tapi tidak sempat naik shinkansen. Maklum, masa mahasiswa itu masa pengiritan.. hehe..

Senengnya nemu udon halal di Kansai Airport

Senengnya nemu udon halal di Kansai Airport

Sesampai di stasiun Shin-Osaka, kami sempat bingung untuk mencari kendaraan lanjutannya. Akhirnya setelah bertanya-tanya, kami mengambil kereta Rapid dengan reserved seat menuju Kansai, dengan ongkos 2850 yen/orang. Cukup nyaman, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam sampai di Kansai Airport. Kami bersyukur memilih hotel Nikko Kansai Airport di dekat Terminal 1  karena tempatnya nyaman, dan akses kemana-mana sangat mudah dan dekat. Hampir semua moda transportasi standar tersedia langsung dari Kansai menuju ke berbagai kota lain di Jepang. Kami berhenti di Terminal 1, lalu tinggal naik satu lantai ke lantai 2, sampailah ke depan Hotel Nikko Kansai Airport. Di hotel kami disambut dengan ramah, dan koper kami pun sudah sampai dan langsung diserahkan kepada kami. Dan karena perut sudah berontak minta diisi, setelah chek in kami langsung menuju restoran Udon halal yang ada satu lantai dengan hotel, di terminal domestik Kansai Airport.  Alhamdulillah, Kansai Airport sekarang sudah semakin moslem friendly… sudah tersedia mushola juga serta ada restoran yang menjual makanan halal. Boleh dicoba tuh !!

Demikianlah catatan perjalananku hari kedua di Hiroshima sampai Kansai. Malam itu kami istirahat dengan nyaman, dan bersiap-siap untuk berpetualang ke Kyoto esok harinya. Nantikan cerita selanjutnya yaa…


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: